STUDI PENGGUNAAN SPIRONOLAKTON PADA PASIEN SIROSIS DENGAN ASITES (Penelitian Di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sirosis hati merupakan suatu kondisi dimana jaringan hati yang normal
digantikan oleh jaringan parut (fibrosis) yang terbentuk melalui proses bertahap.
Jaringan parut ini mempengaruhi struktur normal dan regenerasi sel-sel hati. Selsel hati menjadi rusak dan mati sehingga secara bertahap hati akan kehilangan
fungsinya. Istilah sirosis diberikan pertama kali oleh Laennec tahun 1819, yang
berasal dari kata kirrhos yang berarti kuning oranye (orange yellow), karena
terjadinya perubahan warna pada nodul-nodul hati yang terbentuk. Tapi pada
akhirnya tidak diartikan sebagai pengerasan (Lindseth, 2006). Secara anatomis
sirosis hati ialah terjadinya fibrosis yang sudah meluas dengan terbentuknya
nodul-nodul pada semua bagian hati, dan terjadinya fibrosis tidak hanya pada
lobus saja. Menurut Gall, sirosis ialah penyakit hati kronis dimana terjadi
kerusakan sel hati yang terus menerus dan terjadi regenerasi noduler serta
poliferasi jaringan ikat yang difus untuk menahan terjadinya nekrose parenkhim
atau timbulnya inflamasi (Sherlock, 2002).
Di Amerika Serikat terdapat 35.000 kematian per tahun akibat sirosis dan
penyakit hati lain. Sirosis bertanggung jawab terhadap 1,2% seluruh kematian
yang terjadi di Amerika Serikat dan juga merupakan penyebab kematian utama
yang kesembilan di Amerika Serikat. Banyak pasien yang meninggal pada dekade
keempat atau kelima kehidupan mereka akibat penyakit ini (Kusumobroto, 2007).
Kematian akibat sirosis telah meningkat dari 6 per 100.000 penduduk pada
tahun 1993 menjadi 12,7 per 100.000 penduduk di tahun 2000. Sekitar 4% dari
populasi umum memiliki fungsi hati yang abnormal atau memiliki penyakit hati.
Dan sekitar 10-20% dari mereka menderita tiga penyakit hati kronis (penyakit non
alkohol lemak hati, penyakit hati alkoholik, dan hepatitis C kronis) serta sirosis
makin berkembang selama 10-20 tahun (Moore & Aithal, 2006).
Di Indonesia sendiri prevalensi sirosis hati belum ada, hanya ada laporan dari
beberapa pusat pendidikan saja. Di RS Sardjito Yogyakarta jumlah pasien yang
dirawat di bagian Penyakit Dalam dalam kurun waktu 1 tahun berkisar 4,1%, di
1

2

Medan dalam kurun waktu 4 tahun dijumpai 819 (4%) dari seluruh pasien di
bagian Penyakit Dalam (Nurjanah, 2009).
Manifestasi klinis dari sirosis hati diantaranya adalah hipertensi portal, GI
(Gastro Intestinal) bleeding, asites, Spontaneous Bacterial Peritonitis (SBP),
hepatorenal syndrome, dan ensefalophaty hepatic. Dari banyaknya manifestasi
klinis dari sirosis hati, untuk asites sendiri awalnya berasal dari hipertensi portal.
Biasanya hubungan antara hipertensi portal yang diperoleh dari frekuensi dan
banyaknya komplikasi, menggambarkan sebab awal dari kematian pada pasien
sirosis hepatis dengan asites. Yang dimaksud dengan hipertensi portal sendiri
adalah peningkatan tekanan di vena porta. Tekanan vena porta normal adalah 3
mmHg. Pada hipertensi portal, darah yang dalam keadaan normal mengalir ke hati
melalui vena porta, mulai melewatkan hati untuk mencari rute-rute alternatif
dengan resistensi yang lebih rendah. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya
pembuluh-pembuluh kolateral dari vena porta. Selain itu, sirkulasi kolateral yang
terbentuk sering tidak dapat menangani peningkatan aliran darah sehingga
terbentuklah third spacing. Third spacing terjadi ketika terlalu banyak cairan
yang berpindah dari intravascular ke dalam interstitial. Sehingga terjadi pengisian
cairan pada rongga ketiga atau pada rongga lain yang berada disekitarnya. Third
spacing mengacu kepada cairan, terutama air yang difiltrasi dari plasma, yang
tertimbun di bagian-bagian tubuh selain di dalam sel atau di sistem vaskular.
Salah satunya akan terbentuk asites (Berzigotti et al., 2013). Hampir 85% dari
semua kasus asites, secara umum disebabkan oleh sirosis hepatik (Richert et al.,
2009).
Asites adalah keadaan patologis berupa terkumpulnya cairan dalam rongga
peritoneal abdomen. Asites biasanya merupakan tanda dari proses penyakit kronis
yang mungkin sebelumnya bersifat subklinis. Asites secara klinis dikelompokkan
menjadi eksudatif dan transudatif. Asites eksudatif memiliki kandungan protein
tinggi dan terjadi pada peradangan (biasanya infektif, misalnya TB) atau proses
keganasan. Asites transudatif terjadi pada sirosis akibat hipertensi portal dan
perubahan bersihan (clearance) natrium ginjal. Kontriksi perikardium dan
sindrom nefrotik juga bisa menyebabkan asites transudatif (Davey, 2006).
Penimbunan cairan asites merupakan suatu patofisiologis yang kompleks dengan

3

melibatkan berbagai faktor dan mekanisme pembentuknya, yaitu berdasarkan teori
Under Filling, teori Over Flow, dan teori Vasodilatasi arteri perifer (Akil, 2007).
Untuk memperbaiki kondisi asites dan menekan komplikasi asites agar tidak
menimbulkan komplikasi lain yaitu dengan cara melakukan manajemen terapi
dengan melakukan diet natrium, pemberian diuretik serta pemberian albumin.
Penggunaan diuretik untuk pengobatan asites digunakan sejak tahun 1940.
Banyak macam diuretik telah dievaluasi selama bertahun-tahun tetapi dalam
praktek di Inggris hanya terbatas pada spironolakton, amilorid, furosemid, dan
bumetadin. Dalam pemilihan diuretik pada pengobatan awal asites karena sirosis
yaitu menggunakan spironolakton. Spironolakton adalah antagonis aldosteron
yang bertindak terutama pada tubulus distal untuk meningkatkan natriuresis dan
hemat kalium. Apabila dengan dosis maksimal diuresisnya belum tercapai maka
dapat dikombinasikan dengan furosemid (Moore & Aithal, 2006).
Kebanyakan pasien dengan penyakit hati tingkat lanjut memiliki kadar
aldosteron tinggi dalam sirkulasinya. Peningkatan tekanan portal, asites,
penurunan volume intravaskuler, dan berkurangnya perfusi ginjal dapat
menyebabkan terjadinya aktivasi Renin Angiotensin Aldosterone System (RAAS).
Pedoman (American Association for the Study of Liver Diseases) AASLD
menganjurkan untuk menggunakan spironolakton sebagai diuretik awal pilihan
pertama untuk asites (Tasnif & Hebert, 2011).
Spironolakton harus diberikan diawal terapi diuretik dengan dosis 100mg per
hari dan pemberian dosis selanjutnya selisih 100mg tiap 7 hari sampai 400mg per
hari. Dosis diuretik harus disesuaikan untuk mencapai pengurangan berat badan
0,5kg per hari pada pasien tanpa pembengkakan di kaki dan sekitar 1,0kg per hari
pada pasien dengan pembengkakan di kaki. Dosis tinggi diuretik pada pasien
tanpa pembengkakan di kaki dapat mengakibatkan komplikasi serta hiponatremi
atau azotemia. Telah dikemukakan bahwa untuk pasien dengan asites ringan
sampai moderat yang hadir untuk pertama kalinya, rejimen yang disebutkan di
atas harus diikuti, tapi untuk pasien dengan asites resisten atau asites berulang,
kombinasi dari spironolakton dan furosemid (100mg dan 40mg) harus dimulai
sejak awal. Kelebihan dari spironolakton adalah spironolakton merupakan diuretik
yang hemat kalium sehingga dapat mengurangi terjadinya hipokalemia, tetapi

4

spironolakton juga memiliki kekurangan yaitu jika tidak dikombinasikan dengan
furosemid yang merupakan diuretik kuat tidak bisa mencapai pengurangan
volume cairan asites dengan cepat, serta harus hati-hati akan terjadinya
hiperkalemi.

Diuretik

dapat

menyebabkan

ketidakseimbangan

elektrolit,

furosemid dapat menyebabkan hipokalemia, spironolakton dapat menginduksi
hiperkalemia karena efek hemat kaliumnya, dan kedua diuretik tersebut dapat
menyebabkan hiponatremia. Oleh karena itu, furosemid harus dihentikan jika
kalium serum < 3mmol/L, dan spironolakton harus dihentikan jika kalium serum
> 6mmol/L. Jika natrium serum < 120mmol/L, tidak ada diuretik yang harus
diberikan. Diuretik juga harus dihentikan jika ada komplikasi diinduksi diuretik
lain seperti gagal ginjal, memburuknya ensefalopati hepatik, atau kram otot yang
parah (Madan & Mehta, 2011).
Berdasarkan data di atas, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
pola penggunaan spironolakton pada pasien sirosis dengan asites, sehingga dapat
mencapai efek terapetik yang maksimal. Penelitian ini dilakukan di RSU Dr.
Saiful Anwar karena rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit umum yang
sudah diakui pemerintah, terakreditasi dan RSU rujukan terbanyak di kota
Malang.

1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana profil penggunaan spironolakton pada pasien sirosis dengan asites
di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang?

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1

Tujuan Umum
Mengetahui profil penggunaan obat pada pasien sirosis hati dengan
asites untuk mendapatkan profil pengobatan yang rasional dan efektif.

1.3.2

Tujuan Khusus
1) Mengetahui dan mengidentifikasi profil penggunaan spironolakton
pada pasien sirosis hati dengan asites di RSU Dr. Saiful Anwar
Malang.

5

2) Mengkaji hubungan terapi spironolakton terkait dosis yang diberikan,
rute pemberian, frekuensi pemberian, interval pemberian, dan lama
pemberian yang dikaitkan dengan data klinik di RSU Dr. Saiful
Anwar Malang.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1

Bagi Pasien
1) Membantu

mengetahui

pengelolaan

sikap

dan

perilaku

penderita

dalam

penyakitnya menjadi lebih baik agar diperoleh efek

terapi yang diinginkan.

1.4.2

Bagi Peneliti
1) Mengetahui penatalaksanaan tentang farmakologi pada pasien sirosis
hati dengan asites sehingga farmasis dapat memberikan asuhan
kefarmasian dan bekerjasama dengan profesi kesehatan lain.
2) Melalui penelitian ini, hasilnya dapat menjadi sumber informasi
kepada para praktisi kesehatan dan masyarakat umum serta dapat
digunakan sebagai acuan untuk melakukan penelitian lanjutan dengan
variabel yang berbeda.

1.4.3

Bagi Rumah Sakit
1) Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan baik bagi
klinis maupun farmasis terutama pada pelayanan farmasi klinik dan
merekomendasikan penggunaan obat di RSU Dr. Saiful Anwar
Malang.
2) Diharapkan dapat memberikan gambaran tentang profil pengobatan
spironolakton pada pasien sirosis hati dengan asites sehingga tercapai
terapi yang aman dan efektif.

1.4.4

Bagi Institusi Pendidikan
1) Sebagai dokumentasi atau referensi dalam penggunaan spironolakton
bagi pasien sirosis hati dengan asites.

SKRIPSI

IVONE SATRIANING HERDIRIANTI

STUDI PENGGUNAAN SPIRONOLAKTON
PADA PASIEN SIROSIS
DENGAN ASITES
(Penelitian Di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)

PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2014

i

Lembar Pengesahan

STUDI PENGGUNAAN SPIRONOLAKTON PADA
PASIEN SIROSIS DENGAN ASITES
(Penelitian Di Rumah Sakit Umum
Dr. Saiful Anwar Malang)

SKRIPSI

Dibuat Untuk Memenuhi Syarat Mencapai Gelar Sarjana Farmasi pada
Program Studi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Malang
2014

Oleh:

IVONE SATRIANING HERDIRIANTI
201010410311105

Disetujui oleh:

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. Didik Hasmono, M. S., Apt.

Dra. Lilik Yusetyani, Apt., Sp. FRS

NIP 195809111986011001

NIP 114.0704.0450

ii

Lembar Pengujian

STUDI PENGGUNAAN SPIRONOLAKTON PADA
PASIEN SIROSIS DENGAN ASITES
(Penelitian Di Rumah Sakit Umum
Dr. Saiful Anwar Malang)

SKRIPSI

Telah diuji dan dipertahankan didepan tim penguji
pada tanggal 14 Juni 2014

Oleh:

IVONE SATRIANING HERDIRIANTI
201010410311105

Tim Penguji

Penguji I

Penguji II

Drs. Didik Hasmono.,M.S.,Apt.

Dra. Lilik Yusetyani.,Apt.,Sp.FRS

NIP 195809111986011001

NIP 114.0704.0450

Penguji III

Penguji IV

Hidajah Rachmawati, S.Si.,Apt.,Sp.FRS
NIDN 0713127102

iii

Nailis Syifa’, S.Farm., M.Sc.,Apt.
NIDN 0727118602

KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrohim
Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh
Puji syukur tercurahkan kepada Allah SWT, Tuhan semesta alam karena
berkat, rahmad dan ridhonya, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
STUDI PENGGUNAAN SPIRONOLAKTON PADA PASIEN SIROSIS
DENGAN ASITES (Penelitian di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar
Malang).
Skripsi ini diajukan untuk memenuhi syarat untuk mencapai gelar Sarjana
Farmasi pada Program Studi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas
Muhammadiyah Malang. Dalam penyusunan skripsi ini penulis tidak terlepas dari
peranan pembimbing dan bantuan dari seluruh pihak. Oleh karena itu, dengan
segala kerendahan hati, penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1.

Allah SWT, Tuhan semesta alam yang memberikan rahmat, hidayah, serta
nikmatNya kepada umatNya, Rosulullah SAW yang sudah menuntun kita
menuju jalan yang lurus.

2.

Bapak Yoyok Bekti P, M. Kep., Sp. Kom., selaku Dekan Fakultas Ilmu
Kesehatan serta Ibu Nailis Syifa’, S. Farm., M. Sc., Apt., selaku Ketua
Program Studi Farmasi UMM yang telah memberi motivasi dan
kesempatan penulis belajar di Program Studi Farmasi Universitas
Muhammadiyah Malang.

3.

dr Budi Rahayu MPH selaku Direktur RSU Dr. Saiful Anwar Malang
beserta jajarannya serta staf pengawai RMK yang telah memberikan
kesempatan pada penulis untuk melakukan penelitian.

4.

Bapak Drs. Didik Hasmono,M.S.,Apt., dan ibu Dra. Lilik Yusetyani, Apt.,
Sp. FRS, selaku Dosen Pembimbing I dan II, Ibu Hidajah Rachmawati,
S.Si., Apt., Sp. FRS selaku dosen wali dan penguji I serta ibu Nailis Syifa’,
S.Farm., M.Sc.,Apt., selaku Dosen Penguji II, terimakasih atas waktunya
untuk membimbing dan memberi pengarahan pada skripsi ini.

5.

Untuk semua Dosen serta anggota Tata Usaha Farmasi Universitas
Muhamadiyah Malang terimakasih untuk ilmunya, serta kepada Ibu Sendy

iv

Lia Yunita, S. Farm., Apt., selaku Dosen penanggung jawab skripsi yang
telah membantu menyelesaikan persyaratan ujian skripsi.
6.

Papa Purwanto, Mama Sri Hardiyah, dan adek Helmy tercinta, yang tiada
hentinya memotivasi dalam segala hal, dengan sabar mendoakan untuk
kebaikan dan kesuksesan, serta selalu berusaha mengajarkan pantang
menyerah dan selalu bersyukur. Terima kasih banyak atas didikan dan
kerja keras agar bahagia serta mendapatkan ilmu yang bemanfaat.

7.

Sahabat seperjuangan sirosisku Titin Ghemuol, Esty Icee, Mbak Destry,
Hilma Bebe, Lilis, Enis, Yuni, dan Isty. Sahabat yg jadi saudaraku Titin
Ghemuol, Bunda Febrina, Esty Ichee, Mifta, Uyunk, Raisa, Yesha, Bebe,
Dinar, dan Laras, terima kasih atas kebersamaan, bantuan, motivasi,
semangat serta kerja samanya sehingga skripsi ini dapat terwujud.

8.

Lek Tanti, Om Dedy, Dek Alvien, dan Dek Alex, terima kasih atas
kesempatan menjadi bagian keluarga Kertoraharjo 67 Malang.

9.

My Future Tom Mulyadi, terima kasih buat motivasi, semangat, bantuan,
waktu, doa, kesabaran, dan kasih sayangnya sehingga skripsi ini dapat
selesai tepat waktu.

10. Untuk teman-teman Farmasi UMM 2010 dan semua pihak yang belum
disebutkan namanya, penulis mohon maaf dan terimakasih yang sebesarbesarnya. Semua keberhasilan ini tak luput dari bantuan dan doa yang
telah kalian semua berikan.
Penulis tidak mampu membalas jasa yang telah diberikan. Semoga amal
baik semua pihak mendapat imbalan dari Allah SWT. Penulis menyadari bahwa
skripsi ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan saran
dan kritik yang membangun dari pembaca demi kebaikan skripsi ini. Semoga
penulisan skripsi ini dapat berguna bagi penelitian berikutnya. Amiin.
Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh
Malang, 14 Juni 2014
Penyusun,

(Ivone Satrianing Herdirianti)

v

RINGKASAN
STUDI PENGGUNAAN SPIRONOLAKTON PADA PASIEN
SIROSIS DENGAN ASITES
(Penelitian di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)
Sirosis hati merupakan suatu kondisi dimana jaringan hati yang normal
digantikan oleh jaringan parut (fibrosis) yang terbentuk melalui proses bertahap.
Jaringan parut ini mempengaruhi struktur normal dan regenerasi sel-sel hati. Selsel hati menjadi rusak dan mati sehingga secara bertahap hati akan kehilangan
fungsinya. Kematian akibat sirosis telah meningkat dari 6 per 100.000 penduduk
pada tahun 1993 menjadi 12,7 per 100.000 penduduk di tahun 2000.
Hampir 85% sirosis hepatik menyebabkan asites. Asites adalah keadaan
patologis berupa terkumpulnya cairan dalam rongga peritoneal abdomen. Terapi
utama untuk asites yaitu menggunakan diuretik. Diuretik yang disarankan untuk
pengobatan awal asites adalah Spironolakton. Jika pemberian Spironolakton tidak
dapat mencapai pengurangan cairan asites yang diharapkan, maka ditambahkan
dengan Furosemid.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengidentifikasi
profil penggunaan spironolakton pada pasien sirosis hati dengan asites di RSU Dr.
Saiful Anwar Malang. serta mengkaji hubungan terapi spironolakton terkait dosis
yang diberikan, rute pemberian, frekuensi pemberian, interval pemberian, dan
lama pemberian yang dikaitkan dengan data klinik di RSU Dr. Saiful Anwar
Malang. Cara pengolahan data pada penelitian ini yaitu dengan melakukan
rekapitulasi pasien sirosis dengan asites pada Rekam Medik Kesehatan (RMK).
Penelitian ini merupakan penelitian observasional. Rancangan penelitian ini
bersifat deskriptif yaitu berupa studi retrospektif dengan metode consecutive
sampling (pengambilan sampel berdasarkan waktu). Kriteria inklusi meliputi
pasien dengan diagnosis sirosis dengan asites di Rumah Sakit Umum Dr.Saiful
Anwar Malang, dengan data Rekam Medik Kesehatan (RMK) meliputi data terapi
spironolakton dan obat lain yang menyertai periode Januari-Desember 2013.
Hasil penelitian ini didapatkan 67 data RMK sebagai populasi, 61 pasien
yang mendapatkan terapi spironolakton, dan data yang memenuhi kriteria inklusi
sebanyak 52 pasien yaitu 75% pasien laki-laki dan 25% pasien perempuan.pasien
laki-laki lebih banyak dari pada perempuan karena bisa dipengaruhi oleh
lifestylenya yaitu merokok dan konsumsi alkohol. Penelitian di Italia pada tahun
1985-1999 didapatkan kasus sirosis dengan kelompok usia terbanyak pada 40-65
tahun. Profil terapi pada pasien sirosis hati dengan asites adalah terapi diuretik,
beta blocker, antibiotik, antibleeding, laxansia, dan transfusi albumin. Pemberian
terapi diuretik pada pasien sirosis dengan asites rawat inap yaitu 6% pengguna
spironolakton tunggal, dan 94% pengguna spironolakton kombinasi dengan
furosemid Penggunaan spironolakton dilakukan melalui rute oral dengan dosis
terbanyak (1x100mg)/po sebanyak 52%. Peran spironolakton sebagai diuretik
adalah mengurangi cairan asites yang berada di rongga peritoneal. Lama
perawatan pasien sirosis dengan asites dapat dipengaruhi oleh banyaknya
komplikasi. Spironolakton menjadi pilihan terapi awal untuk pasien sirosis dengan
asites. Penggunaan dosis, rute pemberian, interval pemberian, serta lama
pemberian spironolakton yang diberikan pada pasien sirosis dengan asites rawat
inap di RSU Dr. Saiful Anwar sudah sesuai menurut guideline yang ada.
vi

ABSTRACT
DRUG UTILIZATION STUDY OF SPIRONOLACTONE
IN PATIENT WITH CIRRHOSIS ASCITES
(Research at Hospital of Dr. Saiful Anwar Malang)
Background: Ascites is the one clinical manifestation of cirrhosis. Ascites is a
pathologic state of fluid accumulation in the abdominal peritoneal cavity. Ascites
current therapies aimed at reducing the existing fluid in the peritoneal cavity using
a diuretic, for example Spironolactone is a antagonis aldosteron.
Objectives: The study aims to determine patterns of spironolactone utilization in
patient cirrhosis with ascites and to examine the relationship spironolactone
therapy related to the dose, route of administration, frequency of administration,
duration and timing of administration associated with clinical data at the Hospital
of Dr. Saiful Anwar Malang.
Methods: The study is a retrospective observational with consecutive sampling
method in cirrhosis with ascites patients from January to december 2013.
Result & Conclusion: This study showed there were 3 patients (6%) received
spironolactone. 49 patients (94%) received combination of spironolactonefurosemide. Spironolactone used by oral administration dominated with
(1x100mg/day) as 27 patients (52%). The use of spironolactone dose, route of
administration, interval of administration, and duration of administration that
given in cirrhosis with ascites patients in inpatient Dr. Saiful Anwar was
appropriate according to some existing guidelines.
Key words:

Spironolactone, Ascites, Cirrhosis, Inpatients

vii

ABSTRAK
STUDI PENGGUNAAN SPIRONOLAKTON PADA
PASIEN SIROSIS DENGAN ASITES
(Penelitian Di Rumah Sakit Umum
Dr. Saiful Anwar Malang)

Latar Belakang: Asites merupakan salah satu manifestasi klinis dari sirosis.
Asites adalah keadaan patologis berupa terkumpulnya cairan dalam rongga
peritoneal abdomen. Terapi asites saat ini ditujukan untuk mengurangi cairan yang
ada pada rongga peritoneum dengan menggunakan diuretik, yaitu spironolakton
yang merupakan antagonis aldosteron.
Tujuan: untuk mengetahui pola penggunaan spironolakton pada pasien sirosis
dengan asites di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang dan mengkaji hubungan terapi
spironolakton terkait dosis yang diberikan, rute pemberian, frekuensi pemberian,
interval pemberian, dan lama pemberian yang dikaitkan dengan data klinik di
RSUD Dr. Saiful Anwar Malang.
Metode: Penelitian ini bersifat observational yaitu berupa studi retrospektif
dengan metode consecutive sampling pada pasien sirosis dengan asites periode
Januari sampai dengan Desember 2013.
Hasil & Kesimpulan: Penggunaan spironolakton tunggal sebanyak 3 pasien
(6%). Penggunaan spironolakton yang dikombinasikan dengan furosemid
sebanyak 49 pasien (94%). Penggunaan spironolakton yang paling dominan yaitu
spironolakton peroral dengan dosis 1x100mg/hari sebanyak 27 pasien (52%).
Penggunaan dosis, rute pemberian, interval pemberian, frekuensi pemberian, serta
lama pemberian spironolakton yang diberikan pada pasien sirosis hati dengan
asites di instalasi rawat inap RSUD Dr. Saiful Anwar Malang sudah sesuai dengan
beberapa jurnal dan guideline yang ada.
Kata Kunci: Spironolakton, Asites, Sirosis, Rawat Inap

viii

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL............................................................................................ i
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................ ii
LEMBAR PENGUJIAN ....................................................................................iii
KATA PENGANTAR ....................................................................................... iv
RINGKASAN .................................................................................................... vi
ABSTRAK ........................................................................................................ vii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... ix
DAFTAR TABEL ............................................................................................. xii
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................xiii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xiv
DAFTAR SINGKATAN .................................................................................. xv
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................. 4
1.3 Tujuan Penelitian .............................................................................. 4
1.3.1 Tujuan Umum ......................................................................... 4
1.3.2 Tujuan Khusus......................................................................... 4
1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................ 5
1.4.1 Bagi Pasien .............................................................................. 5
1.4.2 Bagi Peneliti ............................................................................ 5
1.4.3 Bagi Rumah Sakit.................................................................... 5
1.4.4 Bagi Institusi Pendidikan ........................................................ 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA......................................................................... 6
2.1 Tinjauan Tentang Organ Hati ........................................................... 6
2.1.1 Anatomi hati ............................................................................ 6
2.1.2 Tinjauan Penyakit hati ............................................................. 7
2.2 Tinjauan Tentang Sirosis Hepatik ..................................................... 7
2.2.1 Definisi Sirosis Hepatik .......................................................... 7
2.2.2 Epidemologi ............................................................................ 8
2.2.3 Etiologi .................................................................................... 9
2.2.4 Patogenesis ............................................................................ 11
ix

2.2.5 Patologi.................................................................................. 12
2.2.6 Penatalaksanaan pada Sirosis Hepatik .................................. 13
2.3 Tinjauan Tentang Asites.................................................................. 15
2.3.1 Definisi Asites ....................................................................... 15
2.3.2 Etiologi .................................................................................. 15
2.3.3 Patogenesis ............................................................................ 15
2.3.4 Patologi.................................................................................. 18
2.3.5 Penatalaksanaan Asites ......................................................... 19
2.3.5.1 Terapi Non Farmakologi ........................................... 19
2.3.5.2 Terapi Farmakologi .................................................. 19
2.4 Manifestasi Klinik dan Data Laboratorium ..................................... 20
2.5 Tinjauan Tentang Diuretik yang Digunakan pada Pasien Sirosis
dengan Asites .................................................................................. 22
2.5.1 Macam Diuretik..................................................................... 22
5.2.2 Interaksi Obat ........................................................................ 26
5.2.3 Pemilihan Diuretik ................................................................ 26
2.6 Tinjauan Tentang Spironolakton ..................................................... 26
BAB III KERANGKA KONSEPTUAL .......................................................... 29
KERANGKA OPERASIONAL ........................................................ 30
BAB IV METODE PENELITIAN ................................................................... 31
4.1 Rancangan Penelitian .................................................................... 31
4.2 Populasi dan Sampel ..................................................................... 31
4.2.1 Populasi ................................................................................. 31
4.2.2 Sampel................................................................................... 31
4.2.3 Kriteria Data Inklusi ............................................................. 31
4.2.4 Kriteria Data Eksklusi ........................................................... 31
4.3 Bahan Penelitian ........................................................................... 32
4.4 Instrumen Penelitian ..................................................................... 32
4.5 Tempat dan Waktu Penelitian ....................................................... 32
4.6 Definisi Operasional ..................................................................... 32
4.7 Metode Pengumpulan Data ........................................................... 33
4.8 Analisa Data .................................................................................. 34
BAB V HASIL .................................................................................................. 35
5.1 Data Demografi Pasien ................................................................. 36
x

5.1.1 Jenis Kelamin Pasien ............................................................. 36
5.1.2 Usia Pasien ............................................................................ 36
5.1.3 Status Pasien.......................................................................... 37
5.2 Manifestasi Klinis Pasien Sirosis Hati .......................................... 37
5.3 Diagnosis Penyerta Pasien Sirosis dengan Asites ......................... 38
5.4 Penggunaan Spironolakton pada Pasien Sirosis dengan Asites .... 39
5.4.1 Pola Penggunaan Spironolakton............................................ 39
5.4.2 Switch Dosis Penggunaan Spironolakton .............................. 40
5.5 Distribusi dan Pola Terapi Selain Spironolakton Pasien Sirosis .. 40
5.6 Lama Pasien Masuk Rumah Sakit (MRS) ................................... 41
5.7 Kondisi Pasien Keluar Rumah Sakir (KRS) ................................. 41
5.8 Profil Pasien Sirosis dengan Asites dengan Kondisi KRS
Meninggal ..................................................................................... 42
BAB VI PEMBAHASAN ................................................................................. 43
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 56
7.1 Kesimpulan ................................................................................... 56
7.2 Saran ............................................................................................. 56
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 57

xi

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

II.1 Klasifikasi menurut Kriteria Child Pugh .................................................... 13
II.2 Grade asites dan terapi yang disarankan .................................................... 14
II.3 Golongan Diuretik ...................................................................................... 23
II.4 Diuretik yang Digunakan pada Sirosis Hepatik ......................................... 25
V.1 Jenis Kelamin Pasien Sirosis dengan Asites .............................................. 36
V.2 Usia Pasien Sirosis dengan Asites .............................................................. 36
V.3 Status Pasien Sirosis dengan Asites ........................................................... 37
V.4 Manifestasi Klinis Sirosis dengan Asites ................................................... 37
V.5 Diagnosis Penyerta Sirosis dengan Asites ................................................. 38
V.6 Pola Penggunaan Terapi Spironolaskton.................................................... 39
V.7 Switch Dosis Penggunaan Terapi Spironolaskton ...................................... 40
V.8 Terapi Utama Pasien Sirosis dengan Asites ............................................... 40
V.9 Profil Pasien Sirosis dengan Asites dengan Kondisi KRS Meninggal....... 42

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

2.1 Anatomi dan Struktur Hati ............................................................................ 7
2.2 Sirosis Hati .................................................................................................... 8
2.3 Patogenesis Sirosis ...................................................................................... 11
2.4 Teori Proses Patofisiologi Asites ................................................................ 17
2.5 Patogenesis Asites ....................................................................................... 18
2.6 Struktur Kimia Spironolakton ..................................................................... 28
2.7 Tempat Kerja Spironolakton ....................................................................... 28
3.1Kerangka Konseptual ................................................................................... 29
3.2 Kerangka Operasional ................................................................................. 30
5.1 Skema Inklusi dan Eksklusi Penelitian pada Pasien Sirosis dengan Asites 35
5.2 Lama MRS Pasien Sirosis dengan Asites ................................................... 41
5.3 Kondisi KRS Pasien Sirosis dengan Asites.................................................42

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

Halaman

1. Daftar Riwayat Hidup…………………………… .................................. 60
2. Surat Pernyataan………………………………....................................... 61
3. Surat Penghadapan Penelitian .................................................................. 62
4. Keterangan Kelayakan Etik...................................................................... 63
5. Daftar Nilai Normal Data Klinik dan Data Laboratorium ....................... 64
6. Lembar Pengumpul Data Pasien Sirosis dengan Asites di Instalasi
Rawat Inap RSUD Dr. Saiful Anwar Malang .......................................... 66
7. Data Induk Pasien Sirosis dengan Asites di Instalasi Rawat Inap RSUD
Dr. Saiful Anwar Malang ......................................................................... 79

xiv

DAFTAR SINGKATAN

AASLD

: American Association for the Study of Liver Diseases

ACE Inhibitor : Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor
ADH

: Antidiuretic Hormone

ALT/SGPT

: Alanine aminotransferase

ARB

: Angiotensin Receptor Blocker

AST/SGOT

: Asparte aminotransferase

BUN

: Blood Urea Nitrogen

Cl

: Clorida

CT-Scan

: Computed Tomography Scan

dL

: desiliter

EASL

: European Association for the Study of Liver

ET-1

: Endothelin-1

Fe

: Fero

GALL

: Gallbladder

GCS

: Glasgow Coma Scale

GGT

: Gamma Glutamil Transpeptdase

GI

: Gastro Intestinal

Hb

: Hemoglobin

HBs Ag

: Hepatitis B surface Antigen

HBV

: Hepatitis B Virus

HCV

: Hepatitis C Virus

HE

: Hepatic Ensepalophaty

HM

: Hematemesis Melena

IGF-1

: Insulin Like Growth Factor 1

INR

: Internasional Normalization Ratio

Kg

: kilogram

KRS

: Keluar Rumah Sakit

L

: Liter

LPD

: Lembar Pengumpulan Data

MELD

: Model for End stage Liver Disease

mg

: miligram

Mmol

: milimol
xv

MRS

: Masuk Rumah Sakit

Na

: Natrium

NAFLD

: Non Alcoholic Fatty Liver Disease

NO

: Nitrit oxide

NSAID

: Non Steroidal Anti Inflammatory Drugs

PDGF

: Platelet Derived Growth Factor

pH

: angkat Hidrogen atau power of Hydrogen

RAAS

: Renin Angiotensin Aldosterone System

RMK

: Rekam Medik Kesehatan

ROS

: Reactive Oxygen Species

RR

: Respiratory Rate

RS

: Rumah Sakit

RSU

: Rumah Sakit Umum

SBP

: Spontaneous bacterial peritonitis

TB

: Tuberculosis

TGF

: Transforming Growth Factor

USG

: Ultrasonografi

xvi

DAFTAR PUSTAKA
Akil, H.A.M., 2007. Asites. Dalam: H. Ali Sulaiman, H. Nurul Akbar, Laurentius
A, Lesmana, H.M. Sjaifoellah Noer. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.
Jakarta: Jayabadi. Halaman 365-369
Arroyo V. 2008. Review Articel: Albumin in the Treatment of Liver Disease New
Feature of a Classical Treatment. Aliment Pharmacol 2002; 16 (suppl.5): 15
Aru S. 2006. Ilmu Penyakit Dalam Jilid I ed. IV. Jakarta: Pusat Penerbitan IPD
FKUI
Berzigotti, A., Seijo, S., Reverter, E., Bosch, J. 2013. Assessing Portal
Hypertension in Liver Disease. (Access Oktober 2013). Expert Reviews
Gastroenterol Hepatol 7 (2). Page 141 – 155
Biecker, Erwin. 2010. Diagnosis and Therapy of Ascites in Liver Cirrhosis.
(Access September 2013). World Journal of Gastroenterology. 2011 March
14; 17(10): 1237-1248
Camilleri M. 2006. Clinical Gastroenterology and Hepatology 2006;4: 14281433
Chung, R.T., Polsosky. 2008. Cirrhosis and Its Complications. In: Braunwald, E.,
Fauci, A.S., Hauser, S.L., Kasper, D., Jameson, L., Loscalzo, J., Editors.
Harrison’s Principle of Internal Medicine 17th ed. New York: McGraw
Hill
Cipolle, R.J., Strand, L.M., and Moley, P.C., 2007. Pharmaceutical Care
Practice: The Clinician’s Guide 2nd ed. New York: McGraw Hill
Corwin, Elizabeth, J., 2001. Patofisiologi. Jakarta: EGC. Halaman 573
Depkes RI. 2010
Drs. H T Bahdar Johan, Apt., M. Pharm. 2013. Pengawasan Obat Tradisional
Kosmetik dan Produk Komplemen. Deputi bidang Pengawasan
European Association for the Study of the Liver. 2010. EASL Clinical Practice
Guidelines on the Management of Ascites, Spontaneous Bacterial
Peritonitis, and Hepatorenal Syndrome in Cirrhosis. Journal of
Hepatology Vol. 53. Page 397-417
Fauci, K. Braundwald. 2008. Cirrhosis and Complications. Harrison’s Internal
Medecine 17th edition. The Mc. Grow-Hill Companies
Hadi, Sujono. 2002. Gastroenterologi. Bandung: P.T. Alumni. Halaman 613
57

58

Hirlan. 2006. Asites. In: Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata, M.,
Setiati, S., Prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta Pusat: Pusat Penerbitan
FKUI. Halaman 449 – 450
Hoan TT, Kiraha R. 2008. Obat-Obat Penting. Jakarta. Gramedia
Hun, Ke-Qin and Bruce, A., Runyon. 2005. Ascites and Spontaneous Bacterial
Paritonitis. In: Friedman, L.S., Keeffe, K.B., Handbook of Liver Disease
snd ed. London: Elsevier Inc. Page 149 – 155
Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia. 2009. ISO Volume 44. Jakarta: PT ISFI
Penerbitan. Halaman 232-235
Kusumobroto, Hernomo, O., 2007. Sirosis Hati. In: Sulaiman, H.A., Akbar, H.N.,
Lesmana, L.A., Noer, H.M.S., Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta:
Jayaabadi. Halaman 335
Lindseth, Glenda, N., 2006. Gangguan Hati, Kandung Empedu, dan Pankreas.
In: Price, Sylvia, A., Wilson, Lorraine, M., (Eds). Patofisiologi: Konsep
Klinis Proses-Proses Penyakit edisi 6: Alih Bahasa Brahm, U., Pendit, et
al; Editor Edisi Bahasa Indonesia, Huriawat Hartanto, et al. Jakarta: EGC.
Halaman 472 – 493
Lippa, V.R., & Nguyen, T., 2006. Liver Disease. In: SJ. McPhee, Ganong, W.F.,
Lippa, V.R. (eds). The Pathophysiologi of Disease: An Introducing to
Clinical Medicine 5th ed. New York: McGraw Hill. Page 388 – 429
Madan, K., Mehta, A., 2011. Management of Renal Failure and Ascites in
Patients with Cirrhosis. (Access September 2013). International Journal of
Hepatology. Volume 2011, Article ID 790232, 7 pages
Moore, K.P., Aithal, G.P., 2006. Guidelines on the Management of Ascites In
Cirrhosis. (Access September 2013). Ascites in Cirrhosis
Mubin H. 2008. Panduan Praktis Ilmu Penyakit Dalam: Diagnosis dan Terapi
Edisi 2. Jakarta: EGC. Halaman 328-330
Nurjanah S., 2006. Sirosis Hati. In: Sudoyo A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I.,
Simadibrata, M., Setiati, S., Prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta Pusat:
Pusat Penerbitan FKUI
Pagana, Kathleen D., & Pagana, Thimothy J. 2002. Manual of Diagnostic and
Laboratory Test 2nd. New York: Mosby Inc.
Paldosky, D.K., Isselbacher, K.J., Braunwald, E., Martin, J.B., Fauci, A.S.,
Kasper, L.K., Harisson: Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta:
EGC. Halaman 1665-1675

59

Price SA, Wilson LM. 1995. Patofisiologi I edisi 4. Halaman 445-449
Richert, A., Raines, D., Lopez, Fred, A., 2009. New Onset Ascites Secondary to
Cirrhosis. Journal of the Lousiana State Medical Society. Volume 161.
Page 9-13
Sachdeva, P.D., et al, 2010. Drug Utilization Studies-Scope and Future
Perspectives. International Journal on Pharmaceutical and Biological
Research. Vol 1 (1). Pp 11-17
Sari W, Indrawati L, OG Djing. 2008. Care Yourself Hepatitis. Jakarta: Penebar
Plus
Setiawan, P.B., 2007. Recent Advences in the Management of Heart Failure in
Liver Cirrhosis Patient. Dalam: Soebagijo Adi, Askandar Tjokropra Wiro,
Sutjahjo, A., Nasronudin, Irwanadi, C., Soeroso, J., Pranoto, A. (2007).
Naskah Lengkap Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan XXII Ilmu Penyakit
Dalam. Halaman 582 – 586
Sherlock, S., Dooley. (2002). Ascites. In: Disease of the Liver and Biliary
System. Editors: Sherlock S., Dooley J., 10th ed. Blackwell Scence. Inc
USA
Siswandono, Soekardjo B. 2008. Kimia Medisinal Edisi 2. Surabaya: Pusat
Penerbitan dan Percetakan Unair (AUP). Halaman 217-219
Sutadi SM. 2003. Sirosis Hepatis. USU digital Library
Tansif, Y.O. and Hebert M.F., 2009. Complication of End-Stage Liver Disease.
In: Koda-Kimble, M.A., Young, L. Y:Alldredge, B.K., Corelli, R. L.,
Guglielmo, B. J., Kradjan, W. A., Williams, B.R. Applie Therapeutics: The
Clinical Use of Drugs, 9th Edition. Lippincott Williams & Wilkins
Tjay T.H., K. Rahardja. 2002. Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan dan
Efek-Efek Sampingnya Edisi kelima cetakan I. Jakarta: Penerbit PT. Elex
Media Komputindo Kelompok Gramedia
Widjojo J. 2003. Doppler Hepatobilier. Dalam: Ultra Sonografi Kedokteran.
Bandung: Gemini. Halaman: 184-201
Wolf, David C. 2010. Definition, Epidemiology, and Etiologi of Cirrhosis. New
York
Yasar O, Tansif & Mery F, Hebert. 2011. End Stage Liver Disease.
Yogiantoro M. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi V. Jakarta:
Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI

Dokumen yang terkait

Dokumen baru