Pengaruh rasio polivinil pirolidon K30 Kitosan dalam sistem dispersi padat ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) terhadap disolusi kurkumin

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PENGARUH RASIO POLIVINIL PIROLIDON K30 / KITOSAN DALAM
SISTEM DISPERSI PADAT EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma
xanthorrhiza Roxb.) TERHADAP DISOLUSI KURKUMIN

HALAMAN JUDUL
SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.)
Program Studi Farmasi

Oleh:
Marcellina Dwinanda Dewanti
NIM: 138114084

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2017

i

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING

ii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

HALAMAN PENGESAHAN

iii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya ini dipersembahkan untuk:
Tuhan Yesus Kristus yang selalu memberikan kekuatan untukku
Papa Alm. Benedictus Syaiful Agung
Mama Caecilia Sri Haryanti,
Papa Andreas Dharsono
Kakak Fransiskus Xaverius Denny Pradana
Sahabat-sahabat
Dan Alamamater tercinta Universitas Sanata Dharma

iv

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

v

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

vi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PRAKATA
Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat, rahmat,
kasih karunia dan penyertaan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penelitian dan skripsi yang berjudul “PENGARUH RASIO POLIVINIL
PIROLIDON K30 / KITOSAN DALAM SISTEM DISPERSI PADAT
EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) TERHADAP
DISOLUSI KURKUMIN” dengan baik.
Skripsi ini disusun dengan tujuan memenuhi salah satu syarat memperoleh
gelar Sarjana Farmasi sebagai mahasiswa program studi Farmasi Universitas
Sanata Dharma. Penyelesaian skripsi ini tentunya tidak lepas dari bantuan
berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu,
penulis hendak mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Aris Widayati, M.Sc., Ph.D., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
2. Dr. Dewi Setyaningsih, M.Sc., Apt. selaku dosen pembimbing atas
segala kesabaran dalam membimbing, memberi masukan, saran dan
motivasi kepada penulis.
3. Dr. Dewi Setyaningsih, M.Sc., Apt. atas pembiayaan proyek penelitian
ini sehingga penelitian ini dapat berjalan dengan lancar.
4. Beti Pudyastuti, M.Sc., Apt. selaku dosen penguji skripsi yang telah
memberikan saran dan masukan yang membangun untuk penelitian ini.
5. Dr. Yustina Sri Hartini, M.Si., Apt. selaku dosen penguji skripsi yang
telah memberikan saran dan masukan yang membangun untuk
penelitian ini.
6. Dr.rer.nat. Yosi Bayu Murti, M.Si., Apt. atas bantuan pemberian baku
kurkumin yang digunakan dalam penelitian ini.
7. Dr.rer.nat. Ronny Martien, M.Si. atas bantuan pemberian bahan
kitosan yang digunakan dalam penelitian ini.
8. Bapak Bimo, Bapak Musrifin dan Bapak Wagiran selaku laboran atas
segala bantuan dan dukungan yang diberikan selama penelitian.

vii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

9. Mama Caecilia Sri Haryanti, Papa Alm. Benedictus Syaiful Agung,
Papa Andreas Dharsono, Kakak Fransiskus Xaverius Denny Pradana
yang selalu memberikan motivasi, doa, semangat dan kekuatan dalam
menjalani skripsi.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Maka
dengan kerendahan hati, penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang
membangun dari semua pihak sehingga dapat membuat karya ini menjadi lebih
baik. Akhir kata, penulis berharap semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi
semua pihak.

Yogyakarta, 7 Juni 2017

Penulis

viii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PENGARUH RASIO POLIVINIL PIROLIDON K30 / KITOSAN DALAM
SISTEM DISPERSI PADAT EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma
xanthorrhiza Roxb.) TERHADAP DISOLUSI KURKUMIN
Marcellina Dwinanda Dewanti
Fakultas Farmasi
Universitas Sanata Dharma, Kampus III Paingan, Maguwoharjo, Depok, Sleman,
Yogyakarta, Indonesia 55282
Telp. (0274) 883037, Fax. (0274) 886529
marcellinadd7@gmail.com

ABSTRAK
Kurkumin merupakan salah satu kandungan temulawak (Curcuma
xanthorrhiza Roxb.) yang dapat digunakan sebagai antioksidan, anti inflamasi,
antimikroba, dan hepatoprotektor. Kurkumin termasuk dalam obat
Biopharmaceutics Classification System (BCS) kelas II, yaitu memiliki kelarutan
yang rendah namun memiliki permeabilitas yang tinggi. Disolusi merupakan ratelimiting step dalam bioavailabilitas oral kurkumin. Dispersi padat merupakan
salah satu upaya peningkatan disolusi suatu obat sehingga dapat meningkatkan
bioavailabilitas. Pembawa yang digunakan pada penelitian ini adalah kombinasi
polivinil pirolidon (PVP) K30 dan kitosan. Kedua pembawa ini akan menjerat
obat dalam matriks polimer larut air sehingga dapat mencegah proses kristalisasi
dan meningkatkan pembasahan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui
pengaruh rasio polimer pembawa terhadap disolusi kurkumin.
Dispersi padat kurkumin-PVP K30-kitosan mengandung drug load ekstrak
temulawak pada sebesar 6,25%. Dispersi padat dibuat dengan metode solvent
evaporation. Karakterisasi dispersi padat yang dilakukan adalah uji kelarutan, uji
drug load dan uji disolusi. Pengukuran kadar kurkumin dilakukan dengan
spektrofotometer UV-Vis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelarutan dispersi padat meningkat
5-10x lipat dibandingkan dengan campuran fisik. Nilai disolusi efisiensi pada
dispersi padat lebih tinggi secara signifikan (p value < 0,05) dibandingkan pada
campuran fisik. Rasio pembawa PVP K30 berbanding lurus dengan laju disolusi.
Dispersi padat formula E dengan rasio kitosan terhadap PVP K30 sebesar 0,5:1
menunjukkan nilai disolusi efisiensi yang paling tinggi yaitu 62,91±0,40%.
Kata kunci: kurkumin, PVP K30, kitosan, disolusi efisiensi, dispersi padat.

ix

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DISSOLUTION CURCUMIN BASED ON THE RATIO OF POLYVINYL
PIRROLIDONE K30 / CHITOSAN IN THE SOLID DISPERSION
SYSTEM EXTRACTS OF TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb.)
Marcellina Dwinanda Dewanti
Fakultas Farmasi
Universitas Sanata Dharma, Kampus III Paingan, Maguwoharjo, Depok, Sleman,
Yogyakarta, Indonesia 55282
Telp. (0274) 883037, Fax. (0274) 886529
marcellinadd7@gmail.com

ABSTRACT
Curcumin is one substance of temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.)
which can be used as an antioxidant, anti-inflammatory, antimicrobial, and
hepatoprotector. Curcumin belongs to the class II drug of Biopharmaceutics
Classification System (BCS) which has a low solubility and high membrane
permeability. Dissolution is a rate-limiting step in curcumin's oral bioavailability.
Solid dispersion is an effort for increasing the dissolution of a drug to produce
high oral bioavailability. The carrier used in this study was a combination of
polyvinyl pyrrolidone (PVP) K30 and chitosan. Both carriers will trap the drug in
water soluble complex to prevent the crystallization and increase wettability. The
aim of this research is to know the effect of polymer ratio to curcumin dissolution.
The solid dispersion of kurkumin-PVP K30-chitosan contains 6.25% drug
load of temulawak extract. Solid dispersion is prepared by solvent evaporation
method. The solid dispersion characterization performed is solubility test, drug
load test and dissolution test. Curcumin measured by UV-Vis spectrophotometer.
The results of solid dispersion solubility test was increased 5-10 times
compared to physical mixture. The dissolution efficiency solid dispersion was
significantly higher (p value < 0.05) than physical mixture. The results showed
that the carrier ratio of PVP K30 was directly proportional to the dissolution rate.
The solid dispersion of formula E with 0,5:1 ratio of chitosan to PVP K30 showed
highest dissolution efficiency value of 62.91 ± 0.40%.
Keywords: curcumin, PVP K30, chitosan, dissolution efficiency, solid
dispersion.

x

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................ i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ..................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................ iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................................ iv
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................................. v
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI .................................................. vi
PRAKATA ............................................................................................................ vii
ABSTRAK ............................................................................................................. ix
ABSTRACT ............................................................................................................ x
DAFTAR ISI .......................................................................................................... xi
DAFTAR TABEL ................................................................................................ xiii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................... xv
PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
METODE PENELITIAN ........................................................................................ 3
Alat dan Bahan .................................................................................................... 3
Pembuatan Kurva Baku Kurkumin ..................................................................... 3
Verifikasi Metode Analisis .................................................................................. 4
Formula Dispersi Padat Ekstrak Temulawak-PVP K30-Kitosan ........................ 4
Pembuatan Dispersi Padat Ekstrak Temulawak-PVP K30-Kitosan .................... 5
Pembuatan Serbuk Campuran Fisik Ekstrak Temulawak-PVP K30-Kitosan ..... 5
Uji Kelarutan ....................................................................................................... 5
Uji Drug Load ..................................................................................................... 6
xi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Uji Disolusi.......................................................................................................... 6
Analisis Hasil ...................................................................................................... 6
HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................................... 7
Verifikasi Metode ................................................................................................ 7
Uji Kelarutan ....................................................................................................... 9
Uji Drug Load ................................................................................................... 11
Uji Disolusi........................................................................................................ 11
KESIMPULAN ..................................................................................................... 15
SARAN ................................................................................................................. 15
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 16
BIOGRAFI PENULIS .......................................................................................... 43

xii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR TABEL

Tabel I. Formula dispersi padat dan campuran fisik ............................................... 5
Tabel II. Perhitungan parameter akurasi dan presisi (n=3) ..................................... 9
Tabel III. Hasil uji kelarutan (n=3) ....................................................................... 10
Tabel IV. Hasil % recovery drug load (n=3) ........................................................ 11

xiii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Kurva hubungan antara konsentrasi dengan absorbansi ....................... 8
Gambar 2. Perbandingan hasil uji kelarutan dispersi padat dan campuran fisik .... 9
Gambar 3. Perbandingan % terdisolusi dan perbandingan DE180 DP dan CF....... 13

xiv

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Certificate of Analysis (CoA) ekstrak temulawak ............................... 19
Lampiran 2. Certificate of Analysis (CoA) kitosan ................................................... 20
Lampiran 3. Penentuan panjang gelombang maksimum .......................................... 21
Lampiran 4. Kurva baku metanol................................................................................. 25
Lampiran 6. Kurva baku buffer fosfat ......................................................................... 26
Lampiran 7. Summary output regression statistics kurva baku buffer fosfat ......... 26
Lampiran 8. Verifikasi metode analisis: akurasi dan presisi .................................... 27
Lampiran 9. Formula dispersi padat ekstrak temulawak-PVP K30-kitosan .......... 28
Lampiran 10. Penimbangan pembuatan dispersi padat dan campuran fisik........... 28
Lampiran 11. Perhitungan rendemen ........................................................................... 28
Lampiran 12. Statistika hasil uji kelarutan ................................................................. 29
Lampiran 13. Penimbangan kapsul untuk uji disolusi............................................... 33
Lampiran 14. Contoh hasil uji disolusi DP dan CF ................................................... 34
Lampiran 15. Perhitungan AUC dan DE .................................................................... 34
Lampiran 16. Contoh hasil perhitungan AUC dan DE ............................................. 35
Lampiran 17. Statistika hasil DE180 DP dan CF ......................................................... 36
Lampiran 18. Hasil pembuatan DP dan CF ................................................................ 40
Lampiran 19. Dokumentasi uji kelarutan .................................................................... 41
Lampiran 20. Dokumentasi uji drug load ................................................................... 41
Lampiran 21. Dokumentasi uji disolusi ...................................................................... 41
Lampiran 22. Dokumentasi pembuatan DP kurkumin-PVP K30-kitosan .............. 42

xv

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PENDAHULUAN
Rimpang temulawak sering digunakan dalam pengobatan tradisional di
berbagai negara karena mengandung kurkumin. Kurkumin dalam rimpang
temulawak memiliki aktifitas farmakologis sebagai antioksidan (Masuda et al.,
1992), anti inflamasi (Ozaki, 1990), antimikroba (Helen et al., 2012), dan
hepatoprotektif (Lin et al., 1995). Kurkumin merupakan senyawa yang tergolong
dalam BCS (Biopharmaceutical Classification System) kelas II di mana obat-obat
dalam golongan ini memiliki kelarutan yang rendah pada air namun memiliki
permeabilitas membran yang tinggi. Jantarat (2013) melaporkan kelarutan
kurkumin pada cairan fisiologis tubuh sangat rendah yaitu 11 ng/mL.
Keterbatasan kelarutan dalam air menjadi tantangan tersendiri dalam penggunaan
kurkumin sebagai bahan obat dimana kelarutan yang rendah akan menghasilkan
absorpsi dan bioavailavilitas yang rendah. Konsentrasi kurkumin pada pengujian
in vivo dalam plasma sangat rendah meskipun telah menunjukkan aktivitas yang
baik pada uji in vitro. Konsentrasi kurkumin dalam plasma mencapai nanomolar
meskipun dengan pemberian dosis yang tinggi yaitu 10-12 gram/hari (Lee et al.,
2014)
Disolusi merupakan rate-limiting step dalam absorpsi obat di saluran
pencernaan dari bentuk sediaan padat yang mengandung zat aktif sukar larut di air
(Marı, Margarit, and Salcedo, 2002). Beberapa metode yang digunakan untuk
meningkatkan disolusi obat antara lain dengan pembuatan liposom, microspheres,
nanopartikel (Kesarwani and Gupta, 2013), namun metode tersebut memiliki
tantangan dalam proses scale-up karena memerlukan biaya yang tinggi dari bahan
maupun instrumentasi yang digunakan (Desai, Date, and Patravale, 2012).
Metode lain yang dapat digunakan untuk meningkatkan disolusi obat adalah
pembuatan dispersi padat (Leuner and Dressman, 2000). Dispersi padat
didefinisikan sebagai terdispersinya satu atau lebih bahan aktif hidrofobik di
dalam pembawa hidrofilik dalam bentuk padat. Kelebihan dispersi padat yaitu
dapat

mereduksi

ukuran

partikel,

meningkatkan

pembasahan

partikel,

mempertahankan bentuk amorf obat (Dhirendra et al., 2009) dan memungkinkan

1

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

untuk scale-up (Leuner and Dressman, 2000). Pembuatan dispersi padat dapat
dilakukan dengan beberapa metode yaitu metode pelarut, metode pelelehan, dan
metode pelelehan-pelarut (Chiou and Riegelman, 1971).
Kapoor et al. (2012) menjelaskan bahwa peningkatan profil disolusi dapat
dilakukan dengan pembuatan ternary solid dispersion. Kedua polimer yang
digunakan dapat mempercepat disolusi dengan meningkatkan pembasahan dan
kelarutan obat, serta mencegah kristalisasi (Khatry, Sood, and Arora, 2013).
Polivinil pirolidon (PVP) dapat meningkatkan pembasahan obat sehingga dapat
meningkatkan laju disolusi (Leuner and Dressman, 2000). Disolusi dispersi padat
kurkumin-PVP K30 meningkat baik pada perbandingan 1:7 dan perbandingan
1:10. Pada menit ke 30, % terdisolusi dispersi padat kurkumin-PVP K30
mencapai 90% sedangkan % terdisolusi kurkumin tunggal kurang dari 0.5%
(Paradkar et al., 2004). Al-Obaidi et al. (2011) melaporkan bahwa dispersi padat
biner grisefulvin dengan PVP mengalami kristalisasi setelah hari ketujuh,
sehingga diperlukan penambahan polimer yang dapat mencegah kristalisasi.
Kitosan dapat meningkatkan kelarutan dan bioavailabilitas obat. Kitosan
memiliki rantai panjang sehingga dapat menghambat mobilitas molekuler dan
menurunkan kemungkinan kristalisasi. Penelitian dispersi padat telmisartan
dengan pembawa kitosan menunjukkan bahwa kitosan dapat membentuk formasi
kompleks larut air. Kelarutan telmisartan mencapai 12,4 g/ml pada rasio obat
dengan kitosan 1:9, sedangkan kelarutan telmisartan sebelumnya pada air adalah
0,0λ g/ml. Namun, % terdisolusi yang dihasilkan setelah menit 30 hanya 34%
(Zhong et al., 2013). Kombinasi kitosan dan PVP K30 dalam dispersi padat
diharapkan dapat meningkatkan laju disolusi dan mencegah kristalisasi.
Berdasarkan beberapa penelitian di atas, peneliti bertujuan mengetahui pengaruh
rasio kombinasi pembawa yaitu kitosan dan PVP K30 terhadap karakteristik
sistem dispersi padat ekstrak temulawak. Variabel bebas dalam penelitian ini
adalah variasi rasio PVP K30 dan kitosan, sedangkan variabel tergantung adalah
drug load, efisiensi disolusi, dan kelarutan.

2

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

METODE PENELITIAN
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat-alat gelas (Iwaki),
timbangan analitik (Mettler Toledo), hotplate magnetic stirrer (Wilten & Co),
rotary evaporator (Buchii), labu alas bulat (Duran Schott), oven vacuum
(Brouwer), pompa vacuum (Gast Doa-P504-BN), mortir dan stamper, ayakan
nomor mesh 50, dry box (DB 38-28), dissolution tester tipe dayung (Guoming
RC-6D), makropipet (Socorex), mikropipet (Socorex), centrifuge (Gemmy PLC05), spektrofotometer UV-visibel (Shimadzu UV-800), pH meter (pH 3310 SET2
include SenTix 41), vortex (Scientific, Inc G-56E), shaker (Innova 2100),
microtube (Eppendorf).
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah standar baku kurkumin
(diisolasi oleh Dr.rer.nat. Yosi Bayu Murti, M.Si., Apt.), ekstrak temulawak
terstandar (PT. Phytochemindo Reksa) yang mengandung kurkuminoid minimal
sebesar 15,06%, polivinil pirolidon (PVP) K30 (Bufa), kitosan (N&R), etanol
96%, akuades, asam sitrat (Merck), sodium dihydrogen phosphate dihydrate
(Merck), Sodium lauryl sulfate (Merck), metanol p.a (Merck), cangkang kapsul
nomor 00 (Kapsulindo Nusantara).
Pembuatan Kurva Baku Kurkumin
1. Pembuatan Larutan Stok Kurkumin (1 mg/ml)
Standar kurkumin ditimbang seksama sebanyak 1,0 mg dan dilarutkan dengan
1 ml metanol p.a dalam microtube, kemudian divortex hingga larut.
2. Pembuatan Larutan Intermediet Kurkumin (10 µg/ml)
Larutan stok kurkumin diambil sebanyak 0,1 ml kemudian dimasukkan dalam
labu ukur 10,0 ml dan diencerkan dengan metanol p.a hingga batas tanda.
3. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum ( maks)
Larutan intermediet kurkumin diambil sebanyak 0,25 ml; 1,5 ml dan 3 ml,
masing-masing diencerkan dengan dapar fosfat pH 6,0 yang mengandung
sodium lauryl sulfate 0,5% (medium disolusi) pada labu ukur 10,0 ml hingga
batas tanda, kemudian dilakukan scanning pada panjang gelombang 400-600
nm dan didapatkan panjang gelombang maksimum 431 nm. Penentuan

3

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

panjang gelombang maksimum juga dilakukan dengan pelarut metanol dan
didapatkan panjang gelombang maksimum 425 nm.
4. Pembuatan Kurva Baku Medium Disolusi
Larutan intermediet kurkumin diambil hingga didapat konsentrasi 0,011;
0,022; 0,043; 0,086; 0,172; 0,215; 0,431; 0,538; 1,074; 2,153; 3,229; 4,306;
5,382; 6,458 µg/mL. Larutan tersebut diukur absorbansinya pada panjang
gelombang 431 nm. Persamaan kurva baku diperoleh dengan perhitungan
regresi linear.
5. Pembuatan Kurva Baku Metanol
Larutan intermediet kurkumin diambil hingga didapat konsentrasi 0,532;
1,064; 2,127; 3,191; 4,254; 5,318 µg/mL. Larutan tersebut diukur
absorbansinya pada panjang gelombang 425 nm. Persamaan kurva baku
diperoleh dengan perhitungan regresi linear.
Verifikasi Metode Analisis
1. Penetapan Parameter Linearitas pada Pelarut Medium Disolusi
Larutan seri dibuat dengan konsentrasi 0,011; 0,022; 0,043; 0,086; 0,172;
0,215; 0,431; 0,538; 1,074; 2,153; 3,229; 4,306; 5,382; 6,458 µg/mL dengan
replikasi tiga kali. Serapan diukur pada panjang gelombang 431 nm kemudian
ditentukan nilai r.
2. Penetapan Akurasi dan Presisi pada Pelarut Medium Disolusi
Larutan seri dibuat dengan konsentrasi 0,538; 3,229; 5,382 µg/mL dengan
replikasi tiga kali. Serapan diukur pada panjang gelombang maksimum
kemudian dihitung nilai % recovery dan CV.
Formula Dispersi Padat Ekstrak Temulawak-PVP K30-Kitosan
Formula dispersi padat (DP) dan campuran fisik (CF) mengandung drug
load ekstrak temulawak sebesar 6,25% (Tabel I). Rasio kitosan:PVP K30 pada
formula A adalah 2:1, formula B adalah 1,3:1, formula C adalah 1:1, formula D
adalah 0,7:1, dan formula E adalah 0,5:1. Perbedaan rasio PVP K30 dan kitosan
mengacu pada penelitian DP Paradkar et al. (2004) yang melaporkan rasio obat
dengan polimer tertinggi untuk meningkatkan disolusi adalah 1:10, sedangkan

4

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

rasio terendah obat dengan polimer mengacu pada penelitian DP telmisartankitosan oleh Zhong et al. (2013) yaitu 1:5.
Tabel I. Formula dispersi padat dan campuran fisik

A

B

Formula ( ⁄ )
C

D

E

Ekstrak Temulawak

5

5

5

5

5

Kitosan

50

43,75

37,5

32,25

25

PVP K30

25

32,25

37,5

43,75

50

Rasio kitosan:PVP K30

2:1

1,3:1

1:1

0,7:1

0,5:1

Bahan

Pembuatan Dispersi Padat Ekstrak Temulawak-PVP K30-Kitosan
Ekstrak temulawak dilarutkan dengan etanol menggunakan magnetic
stirrer kemudian dicampur dengan PVP K30 yang telah dilarutkan dalam etanol.
Kitosan dilarutkan dengan larutan asam sitrat dalam akuades, kemudian
dicampurkan dengan larutan ekstrak temulawak-PVP K30. Pelarut dihilangkan
dengan menggunakan rotary evaporator dan pengeringan dilanjutkan dengan
oven vakum. Dispersi padat kering diayak dengan ayakan nomor mesh 50. Serbuk
dispersi padat ditimbang sebanyak 500 mg dan dimasukkan dalam cangkang
kapsul 00.
Pembuatan Serbuk Campuran Fisik Ekstrak Temulawak-PVP K30-Kitosan
Ekstrak temulawak, PVP K30, kitosan dan asam sitrat ditimbang dan
dicampur hingga homogen. Serbuk campuran fisik kemudian diayak dengan
ayakan nomor mesh 50, ditimbang sebanyak 500 mg kemudian dimasukkan
dalam cangkang kapsul 00.
Uji Kelarutan
Dispersi padat dan campuran fisik berlebih dilarutkan dengan 25 ml dapar
fosfat pH 6,0 tanpa sodium lauryl sulfate (SLS). Suspensi yang terbentuk
dimasukkan dalam wadah tertutup dan dilakukan pengadukan dengan shaker
pada kecepatan 75 rpm selama 48 jam. Hasil yang didapat disaring dengan kertas

5

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

saring Whatmann nomor 1 dan filtrat diukur dengan spektrofotometer UV-Vis
pada panjang gelombang 431 nm.
Uji Drug Load
Dispersi padat dan campuran fisik ditimbang seksama dan dilarutkan
dengan metanol p.a hingga diperoleh konsentrasi 1 mg/mL dan dilakukan 3 kali
replikasi. Larutan tersebut divortex dan diukur dengan spektrofotometer UV-Vis
pada panjang gelombang 425 nm.
Uji Disolusi
Uji disolusi dilakukan 3 kali replikasi menggunakan alat disolusi tipe
dayung. Suhu medium disolusi (500 mL dapar fosfat pH 6,0 yang mengandung
SLS sebanyak 0,5%) yang digunakan adalah 37 ± 0,5C dengan kecepatan putar
75 rpm. Medium disolusi diambil 1 ml pada menit ke 10, 15, 30, 45, 60, 90, 120,
150 dan 180. Setiap pengambilan cuplikan, medium digantikan dengan volume
yang sama dan medium yang sama. Cuplikan disolusi sebanyak 1 mL dicentrifuge
pada kecepatan 6000 rpm dalam waktu 5 menit, kemudian diencerkan dalam labu
ukur 5 mL. Kadar kurkumin diukur dengan spektrofotometer UV-Vis pada
panjang gelombang 431 nm.
Analisis Hasil
Hasil uji kelarutan dan uji disolusi dianalisis dengan menggunakan
software Realstatistic pada Microsoft Excel. Uji Saphiro-Wilk digunakan untuk
mengetahui normalitas data. Perbedaan hasil DE180 antar formula dispersi padat
diuji dengan Kruskal-Wallis, sedangkan perbedaan hasil DE180 dispersi padat
dengan campuran fisik tiap formula diuji dengan Mann-Whitney. Hasil uji
kelarutan antar dispersi padat dilakukan dengan Kruskal-Wallis. Hasil uji
kelarutan dispersi padat dengan campuran fisik tiap formula diuji dengan MannWhitney.

6

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

HASIL DAN PEMBAHASAN
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh rasio PVP K30 dan
kitosan dalam sistem dispersi padat (DP) terhadap disolusi kurkumin pada ekstrak
temulawak. Penelitian ini menggunakan 5 formula dengan perbedaan rasio PVP
K30 dan kitosan sebagai pembawa dalam DP. Metode pembuatan DP yang
digunakan adalah solvent evaporation, yaitu bahan obat dilarutkan dalam pelarut
organik yang sesuai kemudian pelarut dihilangkan dengan rotavapor. Kelebihan
metode ini adalah bahan obat dan pembawa terhindar dari dekomposisi akibat
suhu (Kapoor et al. 2012). Penelitian ini menggunakan 5 formula campuran fisik
(CF) dengan rasio yang sama seperti kelima formula DP. Hal ini bertujuan untuk
membandingkan apakah pembuatan dispersi padat dapat meningkatkan disolusi
kurkumin dibandingkan dengan CF.
Verifikasi Metode
Panjang gelombang maksimum kurkumin yang didapatkan adalah 425 nm
untuk pelarut metanol, sedangkan untuk medium disolusi adalah 431 nm.
Perbedaan panjang gelombang disebabkan adanya pergeseran panjang gelombang
ke arah yang lebih besar atau biasa disebut dengan pergeseran batokromik.
Pergeseran ini dapat disebabkan karena adanya penambahan ikatan konjugasi
(Kumar 2006). Beberapa parameter yang digunakan dalam verifikasi metode ini
adalah linearitas, akurasi dan presisi. Linearitas pada metode analisis adalah
kemampuan metode untuk mendapatkan hasil yang berbanding lurus dengan
konsentrasi analit dalam sampel (ICH, 2014). Parameter linearitas ditunjukkan
dengan nilai koefisien korelasi (r), yaitu korelasi hubungan antara konsentrasi
dengan absorbansi (Gandjar dan Rohman, 2012). Linearitas ditentukan dengan 14
seri konsentrasi 0,011; 0,022; 0,043; 0,086; 0,172; 0,215; 0,431; 0,538; 1,074;
2,153; 3,229; 4,306; 5,382; 6,458 µg/mL dan didapatkan persamaan kurva baku
medium disolusi y = 0,13070x + 0,0015 dengan nilai r sebesar 0,9981 (Gambar
1). Berdasarkan AOAC (2002), linearitas metode dapat diterima bila nilai r ≥ 0,λλ
maka linearitas metode dalam penelitian ini dapat diterima.

7

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Kurva Baku Kurkumin dalam Medium
Disolusi

Absorbansi

1
0.8

y = 0.1307x + 0.0015
R² = 0.9963

0.6
0.4
0.2
0
0

2

4

Konsentrasi (µg/mL)

6

8

Gambar 1. Kurva hubungan antara konsentrasi dengan absorbansi (n=3)

Akurasi pada metode analisis menunjukkan kedekatan antara nilai yang
didapat dari metode tersebut dengan nilai sebenarnya (ICH, 2014). Parameter
akurasi umumnya ditunjukkan dengan nilai perolehan kembali (% recovery).
Pengukuran akurasi dilakukan pada 3 tingkat konsentrasi yaitu 0,538; 3,229;
5,382 µg/mL dengan 3 replikasi pada masing-masing tingkat. Hasil perolehan
kembali (%) berkisar antara 98,84-108,26% (Tabel II). Berdasarkan AOAC
(2016), nilai perolehan kembali yang ditetapkan adalah 80-110%, maka dapat
dikatakan bahwa parameter akurasi pada penelitian ini telah sesuai.
Presisi pada metode analisis menunjukkan kedekatan antara serangkaian
pengukuran yang didapat dari beberapa pencuplikan pada sampel yang homogen.
Parameter presisi umumnya ditunjukkan dengan nilai koefisien variasi dari
serangkaian pengukuran (ICH, 2014). Berdasarkan AOAC (2016), nilai CV yang
ditetapkan adalah dibawah 11%, maka metode analisis ini presisi karena memiliki
nilai CV 0,83-2,42% (Tabel II). Berdasarkan verifikasi metode yang telah
dilakukan, dapat dikatakan bahwa metode analisis pada penelitian ini valid.

8

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Tabel II. Perhitungan parameter akurasi dan presisi (n=3)

Konsentrasi
teoritis (µg/mL)
0,54

3,23

5,38

Konsentrasi yang
didapat (µg/mL)
0,53
0,54
0,53
3,29
3,35
3,42
5,58
5,82
5,83

Perolehan
kembali (%)
98,84
100,26
98,84
102,01
103,67
105,80
103,71
108,11
108,26

CV
(%)
0,83

1,83

2,42

Uji Kelarutan
Uji ini dilakukan untuk membandingkan kelarutan antara DP dengan CF.
Kelarutan yang dihasilkan pada formula DP A meningkat 9,8 kali dibandingkan
dengan kelarutan CF A, kelarutan DP B meningkat 10 kali dibandingkan dengan
CF B, kelarutan DP C meningkat 7 kali dibandingkan dengan CF C, kelarutan DP
D meningkat 5,9 kali dibandingkan dengan CF D, dan kelarutan DP E meningkat
5,1 kali dibandingkan dengan CF E (Tabel III).

Perbandingan Hasil Uji Kelarutan Dispersi Padat
dan Campuran Fisik

Konsentrasi (µg/mL)

DP

CF

*

2.00

1.70
1.31

1.50
1.08

1.01
1.00

0.79

0.50
0.08

0.15

0.10

0.22

0.33

0.00
Formula A
(2:1)

Formula B
(1,3:1)

Formula C
(1:1)

Formula D
(0,7:1)

Formula E
(0,5:1)

Gambar 2. Perbandingan hasil kelarutan dispersi padat dan campuran fisik (n=3),
*Uji kelarutan antara DP D dan DP E berbeda secara signifikan (p value = 0,025)

9

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Signifikansi perbedaan kelarutan DP dibandingkan CF pada formula A, B,
C, D dan E dianalisis dengan uji Mann-Whitney dan menunjukkan perbedaan
secara signifikan dengan p value 0,025 (p value < 0,05) seperti terlihat pada
Gambar 2. Pembuatan DP dapat membantu mereduksi ukuran partikel dari
kurkumin

sehingga

luas

kontak

permukaan

kurkumin

meningkat

dan

menghasilkan kelarutan yang lebih tinggi dibandingkan dengan CF. Perbedaan
peningkatan kelarutan tidak hanya terjadi pada DP dan CF, melainkan terjadi juga
pada antar formula DP yang diuji dengan Kruskal-Wallis dan menunjukkan p
value 0,011 (p value < 0,05). Rasio polimer yang digunakan pada kelima formula
DP menunjukkan perbedaan yang signifikan dimana kelarutan akan berbanding
lurus dengan rasio PVP K30. Peningkatan kelarutan kurkumin terjadi karena PVP
K30 berperan dalam pembentukan kompleks larut air dengan kurkumin (Sethia
and Squillante, 2004).

Tabel III. Hasil uji kelarutan (n=3)

SAMPEL
CF A
(2:1)
CF B
(1,3:1)
CF C
(1:1)
CF D
(0,7:1)
CF E
(0,5:1)

̅ ± SD
(µg/mL)
0,08 ±
0,05

CV
SAMPEL
(%)
57,14
DP A
(2:1)

0,10 ±
0,02

19,11

0,15 ±
0,01

7,58

0,22 ±
0,05

24,08

0,33 ±
0,06

17,39

DP B
(1,3:1)
DP C
(1:1)
DP D
(0,7:1)
DP E
(0,5:1)

10

̅ ± SD
(µg/mL)
0,79 ±
0,02

CV
(%)
3,12

Peningkatan
kelarutan
9,8 kali

1,00 ±
0,10

10,10

10 kali

1,08 ±
0,09

7,92

7 kali

1,31 ±
0.02

1,69

5,9 kali

1,70 ±
0,01

0,78

5,1 kali

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Uji Drug Load
Uji drug load bertujuan untuk mengetahui jumlah kandungan kurkumin
dalam sampel serta mengetahui adanya kehilangan kandungan kurkumin selama
proses preparasi. % Recovery dapat digunakan untuk membuktikan apakah ada
kehilangan selama proses preparasi DP maupun CF. Hasil % recovery yang
diperoleh pada pembuatan DP dan CF berkisar antara 90-102% (Tabel IV). Hasil
yang didapatkan menunjukkan bahwa sampel telah homogen dan % recovery
telah memenuhi. Hasil % recovery yang tidak tepat 100% dapat disebabkan oleh
hilangnya kandungan kurkumin selama proses pembuatan. Chignell et al. (1994)
menyatakan bahwa fotodegradasi pada kurkumin dapat menyebabkan rendahnya
pembacaan absorbansi sehingga kadar terukur kurkumin menurun.

Tabel IV. Hasil % recovery drug load (n=3)

Sampel
DP A
(2:1)
DP B
(1,3:1)
DP C
(1:1)
DP D
(0,7:1)
DP E
(0,5:1)

̅ ± SD
(µg/mL)
96,57 ± 1,40

CV
(%)
1,45

100,08 ± 1,33 1,33
94,28 ± 0,61

0,65

101,51 ± 2,23 2,20
98,45 ± 3,52

3,58

Sampel
CF A
(2:1)
CF B
(1,3:1)
CF C
(1:1)
CF D
(0,7:1)
CF E
(0,5:1)

̅ ± SD
(µg/mL)
90,79 ± 6,04

CV
(%)
6,66

98,98 ± 5,42

5,48

99,58 ± 3,11

3,12

99,96 ± 2,25

2,25

100,05 ± 3,47

3,48

Uji Disolusi
Pengujian disolusi dilakukan dalam medium disolusi dapar fosfat pH 6,0
dengan kandungan SLS 0,5%. Penggunaan dapar fosfat pH 6,0 mengacu pada
penelitian Wang et al. (1997) yang melaporkan bahwa pH 6,0 merupakan pH di
mana kurkumin paling stabil. British Pharmacopeia (2011) menyarankan
penggunaan surfaktan dalam pengujian disolusi obat yang sukar larut dalam air.
Penggunaan SLS sebagai surfaktan dalam medium disolusi bertujuan untuk
mengkondisikan medium disolusi seperti pada fisiologis manusia yang

11

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

mengandung garam empedu di saluran gastrointestinal (Gurusamy et al., 2006).
Penggunaan konsentrasi SLS dalam medium disolusi ini mengacu pada penelitian
Rahman et al. (2009) yang mengatakan bahwa kandungan SLS 0,5% dalam dapar
fosfat merupakan kandungan surfaktan yang paling efektif.
Pada penelitian ini waktu yang dibutuhkan untuk penetrasi air ke dalam
kapsul kurang lebih 3 menit dan pengujian dilakukan hingga menit ke 180 karena
pada menit ke 180 kurva hasil disolusi telah menunjukkan perbedaan. Pada menit
ke 180 serbuk dispersi padat maupun campuran fisik belum seluruhnya terlarut
karena kandungan kitosan dalam kapsul dapat membentuk hydrogel sehingga
penetrasi air terhalang. Mekanisme penghalangan penetrasi air ini menyebabkan
kitosan sering digunakan sebagai eksipien dalam sediaan controlled release
(Vermeulen, 2012). Hasil % terdisolusi kurkumin (Gambar 3) pada DP lebih
tinggi dibandingkan CF dengan hasil % disolusi tertinggi pada DP formula E
(0,5:1) yaitu 62,91%, kemudian diikuti dengan formula D (0,7:1), formula C
(1:1), formula B (1,3:1) dan formula A (2:1). Sama dengan DP, CF formula E
(0,5:1) menghasilkan % terdisolusi kurkumin yang paling tinggi kemudian diikuti
dengan formula CF D (0,7:1); C (1:1); B (1,3:1); dan A (2:1).
Dissolution Efficiency (DE) adalah perbandingan luas di bawah kurva
disolusi dengan luas segiempat seratus persen zat aktif larut dalam medium pada
saat tertentu. Keuntungan penggunaan DE adalah dapat digunakan untuk
membandingkan disolusi antar formula dan dapat menunjukkan hasil yang identik
dengan data uji in vivo (Fudholi, 2013). Pada penelitian ini, DE180 digunakan
untuk membandingkan DP dengan CF. Rata-rata DE180 pada DP A (2:1) sampai
DP E (0,5:1) berturut-turut adalah 31,7; 34,9; 37,3; 60,2; 62,9 % sedangkan DE180
pada CF A (2:1) sampai E (0,5:1) berturut-turut adalah 10,7; 14,4; 14,8; 16,6; 19,3
%. Dengan demikian DE180 yang dihasilkan pada tiap formula DP meningkat bila
dibandingkan dengan CF. Signifikansi peningkatan dianalisis dengan MannWhitney dan didapatkan hasil perbedaan yang signifikan dimana masing-masing
memiliki p value 0,025 (p value < 0,05). Pembuatan DP memiliki nilai DE180 yang
lebih tinggi bila dibandingkan CF karena DP dapat mengecilkan ukuran partikel,
meningkatkan pembasahan dan kemampuan dispersi, mempertahankan bentuk

12

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

amorf obat, serta mengurangi agregasi dan aglomerasi kurkumin (Kapoor et al.
2012).

*

Gambar 3. (a) perbandingan % terdisolusi DP A dengan CF A, (b) perbandingan %
terdisolusi DP B dengan CF B, (c) perbandingan % terdisolusi DP C dengan CF C,
(d) perbandingan % terdisolusi DP D dengan CF D, (e) perbandingan % terdisolusi
DP E dengan CF E, (f) perbandingan DE180 DP dan CF (n=10)
*hasil DE180 antara DP D dan DP E tidak berbeda secara signifikan (p value = 0,25)

Hasil DE180 antar formula DP juga mengalami perbedaan, di mana DP A
memiliki DE180 yang terendah sedangkan DP E memiliki DE180 yang tertinggi.
Perbedaan hasil DE180 antar formula DP dianalisis dengan Kruskal-Wallis dan
didapatkan p value 0,012 yang artinya berbeda secara signifikan (p value < 0,05).
DP E memiliki nilai DE180 paling tinggi karena memiliki rasio PVP K30 yang
paling besar. PVP K30 memiliki kelarutan yang baik dalam air dan dapat
meningkatkan pembasahan bahan yang terdispersi, dengan meningkatkan
13

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

pembasahan maka PVP K30 dapat meningkatkan laju disolusi (Leuner and
Dressman, 2000). PVP K30 kurang baik bila digunakan sebagai pembawa tunggal
dalam DP biner meskipun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa disolusi
meningkat dengan peningkatan kandungan PVP K30. Al-Obaidi et al. (2011)
melaporkan bahwa DP biner grisefulvin dengan PVP mengalami kristalisasi
setelah hari ketujuh. Hal ini disebabkan kurangnya interaksi non-kovalen yang
terbentuk antara obat dan polimer karena jumlah hydrogen bond donor (HBD)
pada kurkumin maupun PVP sedikit. Penambahan polimer kedua yang memiliki
jumlah HBD dalam jumlah yang banyak dapat mempertahankan ikatan yang
terbentuk. Menurut Zhong et al., (2013) penambahan kitosan sebagai pembawa
dalam DP dapat mempertahankan bentuk amorf dan mencegah terjadinya
kristalisasi.
Peningkatan disolusi dispersi padat pada penelitian ini dapat dijelaskan
melalui rumus Noyes-Whitney berikut ini:
....................................(1)
Keterangan:
dM

: kecepatan disolusi (massa/waktu)

D

: koefisien difusi zat terlarut dalam larutan

S

: luas permukaan padatan yang terpejan

h

: tebal lapisan difusi

Cs

: konsentrasi senyawa dalam larutan jenuh pada permukaan padatan

C

: konsentrasi zat terlarut dalam larutan bulk pada waktu t
(Sinko, 2006).
Pembuatan DP dapat meningkatkan disolusi dengan cara menurunkan

ukuran partikel sehingga luas permukaan atau nilai S meningkat, maka dari itu DP
dapat menghasilkan disolusi yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan CF.
Kitosan dalam formula ini akan mencegah kristalisasi, di mana dispersi padat
bentuk amorf memiliki nilai Cs yang lebih tinggi dibandingkan bentuk kristal.
PVP K30 yang terkandung dalam formula dapat meningkatkan pembasahan
sehingga nilai Cs juga meningkat.

14

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

KESIMPULAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi PVP K30 dan kitosan
dalam dispersi padat dapat meningkatkan disolusi kurkumin dibandingkan dengan
campuran fisik. Perbedaan secara signifikan terlihat pada DE180 antar formula
dispersi padat dengan p value 0,025 (p value < 0,05). Dispersi padat formula E
dengan rasio PVP K30 terhadap kitosan 1:0,5 menunjukkan nilai DE180
62,9±0,40%. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa
semakin besar jumlah PVP K30 dalam formula dispersi padat maka disolusi
kurkumin semakin meningkat.

SARAN
Penimbangan bahan maupun sampel pengujian sebaiknya dilakukan pada
ruangan dengan dehumidifier karena PVP K30 memiliki sifat higroskopis dan
memungkinkan terjadinya kristalisasi. Perlu dilakukan karakterisasi dispersi padat
lain seperti Spektroskopi Infrared (IR) untuk mengetahui interaksi antara
kurkumin dengan kedua polimer, Differential Scanning Calorimetry (DSC) untuk
mengetahui karakterisasi sampel berdasarkan energi transisi, X-Ray Diffraction
Analysis (XRD) untuk karakterisasi struktur kristal, Scanning Electron
Microscopy (SEM) untuk mengetahui distribusi ukuran partikel, dan uji aktivitas
sediaan.

15

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR PUSTAKA
Al-Obaidi, H., Ke, P., Brocchini, S., and Buckton, G., 2011. Characterization and
Stability of Ternary Solid Dispersions with PVP and PHPMA. International
Journal of Pharmaceutics, 419 (1-2), 20–27.
AOAC, 2002, AOAC Guidelines for Single Laboratory Validation of Chemical
Methods for Dietary Supplements and Botanicals
AOAC, 2016, Appendix F: Guidelines for Standard Method Performance
Requirements.
British Pharmacopeia, 2011, British Pharmaopeia, The British Pharmacopeia
Commission, London
Chignell, C.F., Bilski, P., Reszka, K.J., Motten, A.G., Sil, R.H., and Dahl, T.A.,
1994. Spectral and Photochemical Properties of Curcumin. Photochemistry
and Photobiology, 59 (3), 295–302.
Chiou, W.L. and Riegelman, S., 1971. Pharmaceutical Applications of Solid
Dispersion Systems. Journal of Pharmaceutical Sciences, 60 (9), 1281–
1302.
Desai, P.P., Date, A.A., and Patravale, V.B., 2012. Overcoming Poor Oral
Bioavailability Using Nanoparticle Formulations - Opportunities and
Limitations. Drug Discovery Today: Technologies, 9 (2), e87–e95.
Dhirendra, K., Lewis, S., Udupa, N., and Atin, K., 2009. Solid Dispersions: A
Review, 22 (2), 234–246.
Fudholi, A., 2013, Disolusi dan Pelepasan in Vitro, Pustaka Pelajar, Yogyakarta,
137-143.
Gurusamy, S., Kumar, V., Nath, D., and Mishra, 2006. Preparation,
Characterization and in Vitro Dissolution Studies of Solid Systems of
Valdecoxib with Chitosan. Chemical Pharmaceutical Bulletin, 54 (8),
1102–1106.
Helen, M., Gomathy, K.S., Jayasree, S., Nizzy, A.M., Rajagopal, B., and Jeeva,
S., 2012. Phytochemical Characterization and Antimicrobial Activity of
Curcuma. Asian Pacific Journal of Tropical Biomedicine, 2 (2), S637–S640.

16

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

ICH, 2014, Validation of Analytical Procedures: Text and Methodology, USA.
Jantarat, C., 2013. Bioavailability Enhancement Techniques of Herbal Medicine :
a Case Example of Curcumin. International Journal of Pharmacy and
Pharmaceutical Sciences, 5 (1), 493–500.
Kapoor, B., Kaur, R., Kour, S., Behl, H., and Kour, S., 2012. Solid Dispersion: An
Evolutionary Approach for Solubility Enhancement of Poorly Water
Soluble Drugs. International Journal of Recent Advances in Pharmaceutical
Research, 2 (2), 1–16.
Kesarwani, K. and Gupta, R., 2013. Bioavailability Enhancers of Herbal Origin:
An overview. Asian Pacific Journal of Tropical Biomedicine, 3 (4), 253–
266.
Khatry, S., Sood, N., and Arora, S., 2013. Surface Solid Dispersion – A Review.
International Journal of Pharmaceutical Sciences and Nanotechnology, 6
(1), 1915–1924.
Kumar, S., 2006. Spectroscopy of Organic Compounds. Dept. of Chemistry, 66,
1–36.
Lee, W.-H., Loo, C.-Y., Young, P.M., Traini, D., Mason, R.S., and Rohanizadeh,
R., 2014. Recent Advances in Curcumin Nanoformulation for Cancer
Therapy. Expert Opinion on Drug Delivery, 11 (8), 1183–201.
Leuner, C. and Dressman, J., 2000. Improving Drug Solubility for Oral Delivery
Using Solid Dispersions. European Journal of Pharmaceutics and
Biopharmaceutics

:

Official

Journal

of

Arbeitsgemeinschaft

für

Pharmazeutische Verfahrenstechnik e.V, 50 (1), 47–60.
Lin, S.C., Lin, C.C., Lin, Y.H., Supriyatna, S., and Teng, C.W., 1995. Protective
and Therapeutic Effects of Curcuma xanthorrhiza on Hepatotoxin-induced
Liver Damage. American Journal of Chinese Medicine, 23 (3-4), 243–254.
Marı, M.T., Margarit, M.V., and Salcedo, G.E., 2002. Characterization and
Solubility

Study

of

Solid

Dispersions

Polyvinylpyrrolidone. Il Farmaco, 57, 723–727.

17

of

Flunarizine

and

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Masuda, T., Isobe, J., Jitoe, A., and Nakatani, N., 1992. Antioxidative
Curcuminoids from Rhizomes of Curcuma xanthorrhiza. Phytochemistry, 31
(10), 3645–3647.
Ozaki, Y., 1990. Antiinflamatory Effect of Curcuma xanthorrhiza Roxb. and Its
Active Principles. Chemical Pharmaceutical Bulletin, 38 (4), 1045–1048.
Paradkar, A., Ambike, A.A., Jadhav, B.K., and Mahadik, K.R., 2004.
Characterization of Curcumin-PVP Solid Dispersion Obtained by Spray
Drying. International Journal of Pharmaceutics, 271 (1-2), 281–286.
Rahman, S., Telny, T., Ravi, T., and Kuppusamy, S., 2009. Role of Surfactant and
pH in Dissolution of Curcumin. Indian Journal of Pharmaceutical Sciences,
71 (2), 139.
Rohman, A., 2012. Analysis of Curcuminoids in Food and Pharmaceutical
Products. International Food Research Journal, 19 (1), 19–27.
Sethia, S. and Squillante, E., 2004. Solid Dispersion of Carbamazepine in PVP
K30 by Conventional Solvent Evaporation and Supercritical Methods.
International Journal of Pharmaceutics, 272 (1-2), 1–10.
Sinko, P.J., 2006, Martin Farmasi Fisika dan Ilmu Farmasetika, edisi 5, Penerbit
Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 423-445.
Vermeulen, L., 2012. Obtaining Chitosan Microspheres on Superhydrophobic
Surfaces for Controlled Release of 5-Fluorouracil.
Wang, Y.J., Pan, M.H., Cheng, A.L., Lin, L.I., Ho, Y.S., Hsieh, C.Y., et al., 1997.
Stability of Curcumin in Buffer Solutions and Characterization of Its
Degradation Products. Journal of Pharmaceutical and Biomedical Analysis,
15 (12), 1867–1876.
Zhong, L., Zhu, X., Luo, X., and Su, W., 2013. Dissolution Properties and
Physical Characterization of Telmisartan-Chitosan Solid Dispersions
Prepared by Mechanochemical Activation. AAPS PharmSciTech, 14 (2),
541–50.

18

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

LAMPIRAN
Lampiran 1. Certificate of Analysis (CoA) ekstrak temulawak

19

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 2. Certificate of Analysis (CoA) kitosan

20

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 3. Penentuan panjang gelombang maksimum
a. Hasil overlay spectrum scanning panjang gelombang maksimum

21

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

b. Scanning panjang gelombang maksimum pada konsentrasi rendah
(0,5382 µg/mL)

22

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

c. Scanning panjang gelombang maksimum konsentrasi sedang (3,2292
µg/mL)

23

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

d. Scanning panjang gelombang maksimum konsentrasi tinggi (6,4584
µg/mL)

24

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 4. Kurva baku metanol

Kurva Baku Kurkumin dalam Metanol

Absorbansi

1
0.8
0.6
y = 0.1591x - 0.006
R² = 0.9973

0.4
0.2
0
0

2
4
Konsentrasi (µg/mL)

6

Keterangan:
a : 0,006
b : 0,1591
r : 0,997998
y : 0,1591x – 0,006

Lampiran 5. Summary output regression statistics untuk kurva baku metanol

25

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 6. Kurva baku buffer fosfat
Kurva Baku Kurkumin dalam Medium Disolusi

Absorbansi

1
0.8
0.6
y = 0.1307x + 0.0015
R² = 0.9963
R = 0.9981

0.4
0.2
0
0

2
4
6
Konsentrasi (µg/mL)

8

Keterangan:
a : 0,0015
b : 0,13070
r : 0,997998
y : 0,13070x + 0.0015
Lampiran 7. Summary output regression statistics untuk kurva baku buffer
fosfat

26

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 8. Verifikasi metode analisis: akurasi dan presisi

27

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 9. Formula dispersi padat ekstrak temulawak-PVP K30-kitosan

A

B

Formula ( ⁄ )
C

D

E

(2:1)

(1,3:1)

(1:1)

(0,7:1)

(0,5:1)

Kurkumin

5

5

5

5

5

Kitosan

50

43.75

37.5

32.25

25

PVP K30

25

32.25

37.5

43.75

50

Bahan

Lampiran 10. Penimbangan pembuatan dispersi padat dan campuran fisik
a. Dispersi padat
Bahan
Formula (gram)
A
B
C
D
E
Ekstrak temulawak
0,251
0,251
0,252
0,251
0,255
Kitosan
2,504
2,187
1,875
1,613
1,249
PVP K 30
1,255
1,612
1,877
2,192
2,506
Asam sitrat
4,013
3,998
4,000
4,000
4,000
b. Campuran fisik
Bahan
Ekstrak temulawak
Kitosan
PVP K 30
Asam sitrat

A
0,250
2,510
1,255
4,006

B
0,250
2,180
1,612
4,000

Formula (gram)
C
D
0,252
0,249
1,874
1,613
1,875
2,188
4,002
3,999

E
0,251
1,247
2,499
3,996

Lampiran 11. Perhitungan rendemen
% rendemen =
Formula
A
B
C
D
E

Berat yang diperoleh (g)
6.982
6.721
6.840
6.333
5.977

28

Berat teoritis (g)
8.023
8.048
8.004
8.056
8.01

% rendemen
87.025
83.511
85.457
78.612
74.619

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 12. Statistika hasil uji kelarutan
a. Uji normalitas hasil kelarutan DP dengan CF (shapiro-wilk)

Data yang didapat tidak terdistribusi normal, maka dilanjutkan dengan uji
mann-whitney

29

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

b. Signifikansi hasil uji kelarutan DP A dengan CF A (mann-whitney)

c. Signifikansi hasil uji kelarutan DP B dengan CF B (mann-whitney)

30

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

d. Signifikansi hasil uji kelarutan DP C dengan CF C (mann-whitney)

e. Signifikansi hasil uji kelarutan DP D dengan CF D (mann-whitney)

31

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

f. Signifikansi hasil uji kelarutan DP E dengan CF E (mann-whitney)

g. Uji normalitas hasil uji kelarutan antar formula DP (shapiro-wilk)

Data yang didapat terdistribusi normal, maka dilanjutkan dengan uji
Levene Test

32

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

h. Signifikansi hasil uji kelarutan antar formula DP (Kruskal-Wallis)

Levene Test menunjukkan p value 0,027, artinya data tidak homogen
karena p value < 0,05. Analisis data dilakukan dengan Kruskal-Wallis.
Perbedaan hasil uji kelarutan antar formula DP adalah signifikan (P
value < 0,05)
Lampiran 13. Penimbangan kapsul untuk uji disolusi
a. Dispersi padat
Formula
A
B
C
(2:1)
(1,3:1)
(1:1)
Replikasi 1
501
503
502
Replikasi 2
501
504
502
Replikasi 3
501
501
502
Rata-rata
501,00
502,67
502,00
b. Campuran fisik
Formula
A
(2:1)
Replikasi 1
501
Replikasi 2
499
Replikasi 3
501
Rata-rata
500,33

B
(1,3:1)
502
499
500
500,33

33

C
(1:1)
500
498
499
499,00

D
(0,7:1)
504
502
502
502,67

E
(0,5:1)
505
507
505
505,67

D
(0,7:1)
502
501
502
501,67

E
(0,5:1)
501
504
502
502.33

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 14. Contoh hasil uji

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

58 1234 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 346 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 285 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

4 197 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 268 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 363 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

18 331 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

6 190 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

11 343 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

18 385 23