Korelasi Antara Bentuk Wajah dan Bentuk Gigi Insisivus Sentral Maksila pada Etnis Tionghoa Usia 18 - 25 Tahun.

(1)

iv ABSTRAK

KORELASI ANTARA BENTUK WAJAH DAN BENTUK GIGI INSISIVUS SENTRAL MAKSILA PADA ETNIS TIONGHOA USIA 18 – 25 TAHUN

Latar Belakang. Bentuk gigi merupakan hal yang esensial untuk estetika. Sisi estetik harus ditangani seperti menangani penyebab dan pengobatan pada suatu kasus. Dalam menangani setiap kasus dalam kedokteran gigi khususnya di bidang prosthodontik, seperti pemilihan gigi artifisial pada gigi anterior yang akan sangat berpengaruh pada aspek estetika dan juga aspek pengunyahan.

Tujuan Penelitian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi bentuk wajah dengan bentuk gigi insisivus sentral maksila pada laki-laki dan perempuan dewasa etnis Tionghoa usia 18-25 tahun dalam hal ini menitik beratkan pada pembuatan pontik pada gigi tiruan cekat.

Metode Penelitian. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik. Desain metode yang digunakan adalah metode cross-sectional. Metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah purposive sampling. Data yang diukur adalah korelasi dari bentuk gigi dan bentuk wajah dengan metode visual. Analisis data menggunakan uji statistik Chi-square. Kemaknaan ditentukan berdasarkan nilai p < 0,05.

Hasil Penelitian. Hasil Chi Square Test pada derajat kepercayaan 95% menunjukkan bahwa secara statistik tidak terdapat hubungan bermakna antara bentuk wajah dengan bentuk gigi insisivus sentral maksila dengan nilai p > 0,05 atau 0,102 > 0,05.

Kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah terdapat korelasi antara bentuk wajah dan bentuk gigi insisivus sentral maksila pada mahasiswa etnis Tionghoa pada usia 18-25 tahun.

Saran. Saran untuk penelitian selanjutnya adalah dilakukan penelitian pada etnis lain atau penelitian dilakukan pada jenis kelamin yang lebih spesifik seperti pada laki-laki atau perempuan saja dan jumlah sampel dapat ditambahkan.


(2)

v ABSTRACT

CORRELATION BETWEEN SHAPE OF FACE AND SHAPE OF MAXILLARY CENTRAL INCISOR IN CHINESE ETHNIC AGED 18-25

YEARS

Background. Tooth shape is an essential aspects for aesthetics. Aesthetic side should be handled like the causes and treatment of the case. In addressing each case in particular in the field of dentistry focusing in phrostodontik, such as the selection of artificial teeth on anterior teeth which will greatly affect the aesthetic aspects and aspects of mastication.

Research purposes. The aim of this study was to determine the correlation face shape with the shape of the maxillary central incisor in men and women aged 18-25 years ethnic Chinese in this case focused on the manufacture of the fixed denture which is pontic.

Research methods. This research is descriptive analytic. Design method used is a cross-sectional method. The method used for this research is purposive sampling. The measured data is the correlation of tooth shape and facial features with the visual method. Analysis of data using statistical test Chi-square. Significance is determined by the value of p <0.05.

Research result. Chi square test results at the 95% confidence level showed that there was no statistically significant correlation between facial shape with the shape of the maxillary central incisor with a value of p> 0.05 or 0.102> 0.05. Conclusion. Results of this research is there a correlation between face shape and form of the maxillary central incisor on ethnic Chinese students at the age of 18-25 years.

Suggestion. Suggestions for further research is carried out research on other ethnic or research done on gender more specific as to men or women only and the number of samples can be added.


(3)

vi DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... ... i

LEMBAR PERSETUJUAN... ... ii

SURAT PERNYATAAN... ... iii

ABSTRAK ... ... iv

ABSTRACT ... ... v

KATA PENGANTAR ... ... vi

DAFTAR ISI ... ... viii

DAFTAR TABEL ... ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... ... xvi

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah ... ... 1

1.2.Identifikasi Masalah ... ... 4

1.3.Tujuan Penelitian ... ... 4

1.4.Manfaat Penelitian ... ... 5

1.5.Kerangka Pemikiran ... ... 5

1.6.Metodologi ... ... 8


(4)

vii BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Titik pada Permukaan Skeletal... ... 10

2.2. Pengukuran Bentuk Wajah dan Gigi ... ... 14

2.3. Estetika ... ... 19

2.3.1. Kosmetik pada Kedokteran Gigi... ... 20

2.3.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Estetik Gigi ... ... 20

2.3.2.1. Bentuk Gigi ... ... 20

2.3.2.2. Ukuran Gigi ... ... 25

2.3.2.3. Warna Gigi ... ... 26

2.3.2.4. Posisi Gigi ... ... 28

2.3.2.5. Visibilitas Gigi ... ... 28

2.3.2.6. Simetri ... ... 29

2.3.2.7. Estetika Gingival ... ... 30

2.4. Gigi Tiruan ... ... 30

2.4.1. Gigi Tiruan Cekat ... ... 30

2.4.2. Gigi Tiruan Lepasan ... ... 32

2.5. Retainer ... ... 33

2.6. Pontik ... ... 34

2.6.1. Fungsi dan Syarat Pemilihan Pontik ... ... 34

2.6.1. Jenis Pontik yang Berhubungan dengan Estetik ... ... 36

BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1. Bahan dan Subjek Penelitian ... ... 38


(5)

viii

3.1.1. Alat Penelitian ... ... 38

3.1.2. Bahan Penelitian... ... 38

3.2. Subyek Sampel ... ... 39

3.2.1. Kriteria Inklusi ... ... 39

3.2.2. Kriteria Ekslusi... ... 39

3.3. Metode Penelitian... ... 40

3.3.1. Desain Penelitian ... ... 40

3.3.2. Variabel Penelitian ... ... 41

3.3.3. Definisi Operasional Variabel ... ... 41

3.3.4. Perhitungan Besar Sampel ... ... 44

3.3.5. Cara Pengambilan Sampel ... ... 45

3.4. Prosedur Kerja ... ... 45

3.5. Pelaksanaan Penelitian ... ... 47

3.6. Metode Analisis Data ... ... 50

3.6.1. Kriteria Uji ... ... 50

3.7. Aspek Etik Penelitian ... ... 50

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian ... ... 51

4.1.1. Karateristik Subjek Penelitian Berdasarkan Hasil Metode William ... 51

4.1.2.Hubungan Bentuk Wajah dengan Bentuk Gigi Insisivus Sentral Maksila... ... 52


(6)

ix

4.2. Pembahasan ... ... 53

BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1. Simpulan ... ... 57

5.2. Saran ... ... 57

DAFTAR PUSTAKA ... ... 58

LAMPIRAN ... ... 60


(7)

x

DAFTAR TABEL

No. Tabel Teks

Halaman

Tabel 4.1. Hubungan Bentuk Wajah dengan Bentuk Gigi Insisivus Sentral

Maksila ... 51 Tabel 4.2. Karakteristik Subjek Penelitian Berdasarkan Hasil Metode William ... 53


(8)

xi

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Teks

Halaman

Gambar 2.1. Perbatasan Anatomi Wajah dari Sisi Anterior ... 10

Gambar 2.2. Perbatasan Anatomi Wajah dari Sisi Lateral... 12

Gambar 2.3. Penelusuran Garis Bentuk / Outline Wajah... 14

Gambar 2.4 Penelusuran Garis Bentuk / Outline Gigi Insisivus Sentral Maksila . 15 Gambar 2.5. Bentuk Wajah yang Akan Diklasifikasikan oleh Metode Visual dan William ... .16

Gambar 2.6. Bentuk Gigi dengan Klasifikasi Metode Visual ... .17

Gambar 2.7. Cara / Teknik Analisa Gigi dengan Metode William ... .17

Gambar 2.8. Menandai Garis Bentuk / Outline Gigi dengan Perangkat Lunak ... .18

Gambar 2.9. Menandai Garis Bentuk / Outline Wajah dengan Perangkat Lunak 18 Gambar 2.10. Korelasi Antara Garis Bentuk / Outline Wajah dan Gigi ... 19

Gambar 2.11. Membagi Garis Bentuk / Outline Menjadi 4 Bagian... 19

Gambar 2.12. Golden Proportion pada Gigi Anterior Maksila ... 22

Gambar 2.13. Bentuk Gigi Perempuan ... 23

Gambar 2.14. Bentuk Gigi Laki-laki... 23

Gambar 2.15. Gambaran Gigi Insisivus Sentral Maksila pada Individu yang Masih Muda ... 24

Gambar 2.16. Gambaran Gigi Insisivus Sentral Maksila pada Individu yang Sudah Tua ... 24


(9)

xii

Gambar 2.17. Pengukuran Mesio-Distal Insisivus Sentral Maksila dengan

Menggunakan Kaliper ... 25

Gambar 2.18. Pengukuran Insiso-Servikal Insisivus Sentral Maksila dengan Menggunakan Kaliper ... 26

Gambar 2.19. Mahkota Jaket dengan Bahan Porselen ... 31

Gambar 2.20. Mahkota Pasak dan Bagian-bagiannya ... 31

Gambar 2.21. Mahkota dan Jembatan pada Gigi Posterior ... 32

Gambar 2.22. Gigi Tiruan Lengkap ... 33

Gambar 2.23. Gigi Tiruan Sebagian Lepasan ... 33

Gambar 2.24. Retainer pada Mahkota dan Jembatan ... 34

Gambar 2.25. Syarat Pemilihan Pontik ... 35

Gambar 2.26. Skema Ovate Pontik ... 37


(10)

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Alat dan Bahan Penelitian ... 80

Lampiran 2 Dokumentasi Penelitian ... 83

Lampiran 3 Hasil Data Penelitian ... 85

Lampiran 4 Hasil Analisis Statistik ... 93


(11)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Senyum adalah kunci percaya diri pada seseorang. Seseorang merasa percaya diri atau tidak melalui bentuk gigi dan bentuk senyuman. Penting bagi dokter gigi untuk meningkatkan kesehatan oral dan mempertimbangkan sisi estetik. Seorang dokter gigi harus dapat menangani sisi estetik seperti menangani penyebab dan pengobatan pada suatu kasus. Dalam menangani setiap kasus di bidang kedokteran gigi khususnya di bidang prosthodontik, seperti pemilihan gigi artifisial pada gigi anterior yang akan sangat berpengaruh pada aspek estetika dan fonetik.1,2

Korelasi antara gigi dengan wajah dapat dilihat dari bentuk, ras, dan jenis kelamin seseorang. Seperti pada penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa gigi pada seseorang yang berusia muda mempunyai bentuk yang lebih runcing dengan sudut insisal yang masih bersudut, dengan posisi gigi insisivus yang berada pada posisi yang selaras dengan gigi insisivus lateral dan gigi kaninusnya. Sebaliknya pada orang dewasa atau orang lanjut usia sudut insisal yang akan mengalami perubahan bentuk karena pemakaian dan atrisi. Hal ini biasanya disertai juga dengan perubahan posisi gigi seperti adanya celah di antara gigi. Setiap individu mempunyai bentuk gigi dan wajah yang berbeda, keadaan ini dapat dilihat dari kultur daerah, negara dan demografi dari negara tersebut, serta jenis kelamin. Pada perempuan bentuk gigi dan wajah lebih melengkung dan


(12)

2

berliku. Sedangkan pada laki-laki, lebih kaku dengan sudut yang lebih jelas. Adanya istilah “morphopsyhcology” adalah proses untuk menterjemahkan jenis kelamin terhadap bentuk gigi.3

Menurut teori Frush and Fisher gigi perempuan lebih membulat dan lebih halus permukaannya, sehingga bentuk gigi menjadi lebih oval serta mempunyai sudut yang membulat. Sebaliknya pada laki-laki lebih memperlihatkan kekuatan, ketegasan bentuk dan kekasaran pada permukaan, sehingga bentuk gigi terlihat lebih kubus. Pada intinya didapatkan bahwa bentuk gigi laki-laki lebih besar daripada pada perempuan.4

Bentuk gigi juga berbeda pada sertiap ras baik pada ras kaukasian, kulit putih, dan asia yang ditentukan menggunakan analisis lebar, panjang, serta rasio lebar dan panjang pada suatu gigi. Pada ras kaukasian yang dianalisis oleh Sterrett et al (2002) pada ras kaukasian didapatkan rasio panjang dan lebar dari gigi anterior maksila adalah 0,81.Pada populasi ras barat, didapatkan rasio yang tidak teratur dengan variasi gigi yan tidak teratur. Pada penelitian Brisman (2004) didapatkan rasio gigi anterior maksila pada ras barat adalah sebesar 0,75. 6 Di sisi lain didapatkan pada ras Asia, rasio pada gigi insisivus sentral maksila adalah 0,72 ± 1,24. 2,5

Penelitian yang dilakukan oleh peneliti ini bertujuan untuk melihat adanya korelasi antara bentuk wajah dengan bentuk gigi insisivus sentral atas maksila. Kebanyakan pasien yang memerlukan perawatan prosthodontik mengutamakan segi estetik, seperti pembentukan pontik pada mahkota dan jembatan pada gigi anterior. Terdapat beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa adanya


(13)

3

ketidakselarasan bentuk pontik pada mahkota dan jembatan anterior maksila terhadap bentuk wajah seseorang. Ditinjau dari segi estetik, didapatkan adanya ketidaklarasan antara bentuk pontik dengan bentuk wajah dari segi bentuk, penempatan dan ukuran. Gigi anterior tidak memerlukan pertahanan untuk menahan beban yang berat seperti pada gigi belakang, oleh sebab itu dalam hal pembuatan pontik pada mahkota dan jembatan anterior maksila, beberapa kriteria yang harus dipenuhi yaitu ukuran, bentuk, dan warna. Menurut teori dentogenik, bentuk luar dari gigi anterior dapat dilihat dari bentuk wajah pasien.7

Pada beberapa kasus, penelitian terhadap korelasi ini telah dilakukan penelitian oleh Leon william (1914) dan terbukti bahwa adanya korelasi antara bentuk wajah dengan bentuk gigi anterior dimana bentuk gigi insisivus sentral maksila adalah bentuk wajah yang di rotasikan.Adanya pada pemilihan gigi, kebanyakan pasien mendapatkan hasil yang kurang memuaskan karena ketidaktersediaknya pilihan gigi yang sesuai dengan keinginan ataupun dengan bentuk gigi yang hilang sebelumnya sehingga terlihat tidak natural. Akan tetapi hal ini terjadi karena adanya kehilangan gigi yang disebabkan oleh ekstraksi sebelumnya ataupun pilihan bentuk gigi artifisial yang terbatas. Berdasarkan teori William, yang telah diterapkan pada beberapa penelitian sebelumnya tentang korelasi antara bentuk wajah yang di lihat dari sisi yang berlawanan dengan cara menempatkan bagian servikal di sisi atas dan bagian insisal yang berada di sisi bawah, dikaitkan dengan bentuk insisivus sentral maksila. Pada penelitian terbaru dinyatakan bahwa dengan meneliti secara klinis korelasi antara insisivus sentral maksila dengan bentuk wajah pada pria dan wanita di populasi India, telah disimpulkan bahwa


(14)

4

didapatkan adanya antisipasi yang dapat membantu pemilihan bentuk gigi artifisial pada pria dan wanita yang merupakan pasien edentolus pada etnis Indian Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai korelasi bentuk wajah dengan gigi insisivus sentral maksila sebagai pedoman pada pembuatan pontik mahkota dan jembatan anterior maksila.1,2,8,9,10

1.2Identifikasi Masalah

Apakah terdapat korelasi antara bentuk wajah dengan gigi insisivus sentral maksila.

1.3Maksud dan Tujuan Penelitian

Maksud dan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi antara bentuk wajah dengan bentuk gigi insisivus sentral maksila pada laki-laki dan perempuan dewasa etnis Tionghoa usia 18-25 tahun. Pedoman bagi dokter gigi dalam mempersiapkan bahan pontik pada mahkota dan jembatan anterior maksila yang sesuai dengan bentuk wajah sehingga dapat meningkatkan estetik.


(15)

5

1.4Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Praktis

Manfaat praktis dari penelitian ini adalah untuk masyarakat yang ingin menggunakan gigi tiruan agar lebih mudah memilih gigi tiruan yang sesuai dengan bentuk wajahnya agar dicapainya hasil yang estetik. Manfaat praktis yang didapatkan oleh dokter gigi adalah mendapatkan kemudahan untuk menentukan bentuk gigi yang sesuai dengan estetik.

1.4.2 Manfaat Akademis

Manfaat akademis dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi serta sebagai pertimbangan para dokter gigi dalam membentuk pontik pada mahkota dan jembatan anterior maksila dan juga memilih jenis dan bentuk gigi artifisial gigi insisivus sentral maksila pada pasien yang kehilangan gigi insisivus sentral maksila baik laki-laki dan perempuan.

1.5Kerangka Pemikiran dan Hipotesis 1.5.1 Kerangka Pemikiran

Bentuk dan ukuran gigi anterior maksila sangat penting dalam hal menentukan estetik, begitu juga dengan posisinya sehingga akan tercapai hasil yang harmonis dengan penampilan wajah secara keseluruhan. Faktor yang sangat mempengaruhi keselarasan antara gigi dengan wajah dapat dilihat dari bentuk, ukuran, dan susunan gigi anterior maksila, terutama gigi insisivus sentral.


(16)

6

Bentuk gigi insisivus telah dikaji oleh banyak penelitian. Penelitian yang sangat terkemuka adalah yang dilakukan oleh Williams serta Frush dan Fisher. William menyatakan dalam teorinya bahwa bentuk insisivus sentral maksila mempunyai korelasi dengan bentuk wajah yang dilihat dari sisi yang berlawanan. Di sisi lain Frush and Fisher mengemukakan bahwa jenis kelamin, umur, dan kepribadian akan menentukan beberapa variasi bentuk dari gigi anterior.3

Pada metode William, adanya pembagian metode dalam bentuk wajah yang diklasifikasikan sebagai wajah persegi, lancip, dan ovoid. Pada penelitian William juga didapatkan bahwa adanya klasifikasi yang didapatkan dari menaruh diagram dengan garis yang perpendikular dari garis luar yang telah di jiplak atau dibentuk untuk melihat bentuk gigi, dan gigi setiap kuadrannya diklasifikasikan William yaitu gigi insisivus yang berbentuk persegi, lancip, dan ovoid. 8,11

Konsep dari Frush dan Fisher menggambarkan tentang adanya dominasi insisivus sentral dan kekuatannya seiring dengan berjalannya waktu. Pada kasus dimana kekuatan gigi pasien akan berkurang yang disebabkan karena adanya faktor lokal ataupun faktor sistemik yang mengganggu, usia dental biasanya akan lebih tua daripada usia kronologis atau usia yang sebenarnya. Adanya bukti yang bertolak belakang adalah apabila gigi mempunyai bentuk yang tajam pada sudut insisal, embrasur insisal yang tegas, menunjukan usia dental yang lebih muda. Teori lain yang dikemukakan adalah adanya korelasi bentuk gigi dengan bentuk skeletal dan jaringan lunak, tetapi teori ini sulit untuk dibuktikan. Bentuk dari gigi secara genetik sudah ditentukan dan sedapat mungkin seorang prostodontis dapat


(17)

7

mengikuti bentuk gigi pasien yang sebelumnya dimana dapat dinilai dari anggota keluarga yang lain apabila pasien tersebut sudah tidak memiliki gigi geligi.12-14 Gigi-geligi lainnya apabila dilihat dari segi estetika terlihat adanya beberapa variasi dan nuansa yang diperlihatkan oleh masing-masing individu. Secara umum, tidak didapatkan adanya satu aspek pun yang dapat menyamakan gigi dengan gigi sebelumnya secara total dan sangat presisi dalam hal dimensi dan bentuk yang sangat sesuai. Akan tetapi, klinisi dapat mengusahakan konsep penelitian yang disertai dengan pengalaman dan observasi yang diiringi dengan keinginan pasien agar dapat diperoleh hasil gigi insisivus maksila yang dapat memuaskan dari segi fungsional dan estetika.3

Manusia terbagi menjadi beberapa etnis yang tersebat luas di berbagai belahan dunia, diantaranya Kaukasoid, Negroid, Mongoloid, Australoid. Selain itu ada juga yang membaginya menjadi beberapa etnis yang berbeda-beda di setiap belahan dunia, diantaranya etnis Tionghoa yang paling mendominasi di Asia. Bentuk wajah dari etnis Tionghoa pada umumnya terdapat ciri-ciri seperti warna kulit kuning hingga coklat muda, rambut kaku berwarna coklat tua sampai hitam, muka lebih sempit, kepala lebih lonjong dan sempit dengan dahi tegak, dan sedikit melengkung.14 Ukuran lebar mesiodistal gigi juga ditentukan oleh variasi ras, genetik, lingkungan.

Penelitian yang dikemukakan oleh Fadli Khamis (2004) diperoleh rata-rata lebar mesiodistal insisivus sentral maksila pada etnis Melayu pada laki-laki adalah 8,70 mm sementara pada perempuan 8,30 mm. Hasil penelitian pada populasi etnis Tionghoa diperoleh nilai rata-rata pada laki-laki 8,78 mm dan pada


(18)

8

perempuan 8,45 mm. Didapatkan kesimpulan dari penelitian tersebut bahwa diameter lebar mesiodistal gigi pada laki-laki lebih lebar daripada perempuan sebesar 2,2%.13

Adanya hubungan yang telah diteliti oleh beberapa peneliti sebelunya bahwa adanya korelasi antara bentuk wajah dan bentuk gigi insisivus sentral maksila yang dapat membantu dalam pembuatan bentuk pontik pada jembatan anterior pada gigi tiruan cekat dari segi bentuk dan estetik serta dapat membantu dalam hal penyusunan dari gigi tersebut pada pengunyahan, maka korelasi bentuk wajah dengan bentuk gigi insisivus sentral maksila sangat memerlukan perhatian khususnya pada ras Tionghoa.

1.5.2 Hipotesis

Terdapat korelasi antara bentuk wajah dan bentuk gigi insisivus sentral maksila.

1.6Metodologi

Penelitian ini bersifat deskriptif analitik. Desain metode yang digunakan adalah metode cross-sectional. Metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah purposive sampling. Data yang diukur adalah korelasi dari bentuk gigi dan bentuk wajah dengan metode visual. Analisis data menggunakan uji statistik Chi-square. Kemaknaan ditentukan berdasarkan nilai p < 0,05.


(19)

9

1.7 Waktu dan Tempat Penelitian

Tempat : Penelitian ini dilakukan di lingkungan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Kristen Maranatha, Bandung, Jawa Barat, Indonesia


(20)

57 BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan

Tidak terdapat korelasi antara bentuk wajah dengan gigi insisivus sentral maksila.

5.2. Saran

Saran untuk penelitian selanjutnya adalah melakukan penelitian pada etnis lain atau pada jenis kelamin yang lebih spesifik seperti pada laki-laki atau perempuan saja dan penambahan jumlah sampel. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi ilmu kedokteran gigi khususnya pada bidang prosthodontik.


(21)

58

DAFTAR PUSTAKA

1. Pavankumar R. Koralakunte and Dhanyakumar H. Budihal. A Clinical study to evaluate the correlation between maxillary central incisor tooth form and face form in an Indian population. Journal of Oral Science, Vol. 54, No. 3, 273-278

2. Ji-Eun Ku, Jong-So Yang and Kwi-Dug Yun,. A morphometric analysis of maxillary central incisor on the basis of facial appearance in Korea. J Adv Phrostodont. Feb 2012, 4(1) : 13-17

3. Ahmad. Anterior dental aesthetics:Dental perspective. British Dental Journal 199, 135-141

4. Frush JP, Fisher RD. Introduction to dentogenic restorations. J Prostet Dent 1955 ; 5 . 586-595

5. Qualtrough AJ, Burke FJ. A look at dental aesthetics. Quintessence Int 1994; 25 : 7-14

6. Brisman AS. Esthetics : a comparison of dentists’ and patients’ concepts. J Am Dent Assoc. 100 : 345-352

7. Deepak Nallaswarny. Vancouver, Textbook of Phrostodontics

8. Bell RA. The geometric theory of selection of artificial teeth : J Am Dent Assoc 97, 637-640

9. Snellen PN, Jagger DC, Harrison A. Computer generated study of the correlation between tooth, face, arch form, and palatal contour. J Prostetic Dent 80, 163-168

10.Hasanreisoglu U, Berksun S, Aras K, Arslan I. An analysis of maxillary anterior teeth : facial and dental proportions. J Prosthent Dent 94, 530-538

11.Varjao FM, Nogueira SS, Russi S, Arioli Filho JN. Correlation between maksillary central insicor form and face form in 4 racial groups. Quinstessence Int 37, 767-771

12.Housemm, Loop JL. Forrum and colour harmony in Dental Art. Whittier, Calf : mm House.

13.WJ Muchinson D F, Broome J C. Estethics : Patient perception of dental atractiveness, J Prosthodont; 5 : 166-171

14.MacArthur DR. Are anterior replacement teeth too small? , J prosthet Dent, 1978;57 : 462-465

15.Prof. DR. Alo Liliweri, M.S. Communication and Culture, Prasangka dan Konflik. Lintas Budaya Masyarakat Multikultur.

16.Maya Vinothini. Correlation between facial form and tooth form in Indian population. IOSR : Journal of Dental and Medical Sciences (IOSR-JDMS) 17.Sadler, T.W. Langman’s Medical Embriology. Jakarta: EGC, 1997

Kedokteran EGC.

18.Keith L. Moore, T.V.N Persaud. The Developing Human: Clinically Oriented Embriology; with the Collaboration of Mark G. Torchia – 8th ed. Philadelphia, 2008 Saunders Elsevier Inc.


(22)

59

19.Frank, H, Netter, M.D. Interactive Atlas of Human Anatomy. Ciba Medical Education & Publication.

20.Antonio Nanci, PhD 2013. Ten Cate’s Oral Histology, Development, Structure and Function 8th ed. 2008 Mosby, Inc, Elsevier Inc.

21.Daniel S. Wibowo, Widjaya Paryana.. Anatomy of Human Body. Singapore: Elsevier, Graha Ilmu Publishing.

22.Drake R.L., Vogl W., Mitchell A.W.L. Gray’s Anatomy for Students. 1st ed. New York: Elsevier Churchill Livingston. p158, 178.

23.Agus. Departemen Konservasi Gigi. FKG, Universitas Erlangga. Restorasi Estetik dan Kosmetik. Journal dept.Konservasi gigi. P.2,8

24.David L.Husei. Where is the Ethic in Aestethic Dentistry?, British Dental Journal 192, 356 (2002)

25.Barclay, C.W, Walmsley, A.D., Fixed and Removable Prosthodontics, Churchill Livingstone, USA. h. 115-116

26.Rosentiel SF, Land MF, Fujimoto J. Contemporary Fixed Ptosthodontics. 4th ed. St. Louis, Mosby Inc. p. 513-520, 530-535

27.Fabiana Mansur Varjao,DDS,MS,PhD, Sergio Sualdini Nogueira, DDS, MS, PhD, Sergio Russi, DDS, MS, PhD, Joao Neudenir Arioli Filho, DDS,MS, PhD; Correlation between Maxillary Central Incisor Form and Face Form in 4 Racial Groups. Quitenssence international journal ; 37: 767-771.

28.Academy of Prosthodontics, The Glossary of Prosthodontic Terms, 7thed., Mosby Inc., Universitas Michigan.

29.McDevitt, M. J., Masticatory System Disorders, in Newman, M. G., Takei, H. H., Klokkevold, P. R. (ed.): Carranza’s Clinical Periodontology, 10th edition, Saunders Elsevier, St. Louis, p. 480, 482-483.

30.Jubhari EH. Upaya untuk mengurangi preparasi gigi : Fung shell bridge. Jurnal Kedokteran Gigi Dentofasial; 6(1):27-9.

31.Sophia DM, Firman D, dan Adenan A. Jembatan adhesif dengan retensi teknik anyaman pada bagian pelekatan kerangka logam. Dalam buku Dari Bandung untuk khazanah ilmu kedokteran gigi. Kumpulan makalah temu ilmiah kedokteran gigi (TIKEGI). Bandung: Lembaga Studi Kesehatan Indonesia; 2000. p. 31-9.

32.Prajitno HR. Ilmu Geligi Tiruan Jembatan. Pengantar Dasar dan Rancangan Pembuatan. Cetakan II. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1994. p. 147-53.

33.Simon JF, Gartrell RG, and Grogono A. Improved retention of acid etched fixed partial dentures: A longitudinal study. The Journal of Prosthetic Dentistry; 68: 611-15.

34.Dale BG, Aschheim KW. Esthetic Dentistry A Clinical Approach to Techniques and Materials. Philadelphia: Lea & Febiger;. p. 151-62.

35.O’Sullivan M. Fixed Prosthodontics in Dental Practice. London:


(1)

7

mengikuti bentuk gigi pasien yang sebelumnya dimana dapat dinilai dari anggota keluarga yang lain apabila pasien tersebut sudah tidak memiliki gigi geligi.12-14 Gigi-geligi lainnya apabila dilihat dari segi estetika terlihat adanya beberapa variasi dan nuansa yang diperlihatkan oleh masing-masing individu. Secara umum, tidak didapatkan adanya satu aspek pun yang dapat menyamakan gigi dengan gigi sebelumnya secara total dan sangat presisi dalam hal dimensi dan bentuk yang sangat sesuai. Akan tetapi, klinisi dapat mengusahakan konsep penelitian yang disertai dengan pengalaman dan observasi yang diiringi dengan keinginan pasien agar dapat diperoleh hasil gigi insisivus maksila yang dapat memuaskan dari segi fungsional dan estetika.3

Manusia terbagi menjadi beberapa etnis yang tersebat luas di berbagai belahan dunia, diantaranya Kaukasoid, Negroid, Mongoloid, Australoid. Selain itu ada juga yang membaginya menjadi beberapa etnis yang berbeda-beda di setiap belahan dunia, diantaranya etnis Tionghoa yang paling mendominasi di Asia. Bentuk wajah dari etnis Tionghoa pada umumnya terdapat ciri-ciri seperti warna kulit kuning hingga coklat muda, rambut kaku berwarna coklat tua sampai hitam, muka lebih sempit, kepala lebih lonjong dan sempit dengan dahi tegak, dan sedikit melengkung.14 Ukuran lebar mesiodistal gigi juga ditentukan oleh variasi ras, genetik, lingkungan.

Penelitian yang dikemukakan oleh Fadli Khamis (2004) diperoleh rata-rata lebar mesiodistal insisivus sentral maksila pada etnis Melayu pada laki-laki adalah 8,70 mm sementara pada perempuan 8,30 mm. Hasil penelitian pada populasi etnis Tionghoa diperoleh nilai rata-rata pada laki-laki 8,78 mm dan pada


(2)

perempuan 8,45 mm. Didapatkan kesimpulan dari penelitian tersebut bahwa diameter lebar mesiodistal gigi pada laki-laki lebih lebar daripada perempuan sebesar 2,2%.13

Adanya hubungan yang telah diteliti oleh beberapa peneliti sebelunya bahwa adanya korelasi antara bentuk wajah dan bentuk gigi insisivus sentral maksila yang dapat membantu dalam pembuatan bentuk pontik pada jembatan anterior pada gigi tiruan cekat dari segi bentuk dan estetik serta dapat membantu dalam hal penyusunan dari gigi tersebut pada pengunyahan, maka korelasi bentuk wajah dengan bentuk gigi insisivus sentral maksila sangat memerlukan perhatian khususnya pada ras Tionghoa.

1.5.2 Hipotesis

Terdapat korelasi antara bentuk wajah dan bentuk gigi insisivus sentral maksila.

1.6Metodologi

Penelitian ini bersifat deskriptif analitik. Desain metode yang digunakan adalah metode cross-sectional. Metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah purposive sampling. Data yang diukur adalah korelasi dari bentuk gigi dan bentuk wajah dengan metode visual. Analisis data menggunakan uji statistik Chi-square. Kemaknaan ditentukan berdasarkan nilai p < 0,05.


(3)

9

1.7 Waktu dan Tempat Penelitian

Tempat : Penelitian ini dilakukan di lingkungan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Kristen Maranatha, Bandung, Jawa Barat, Indonesia


(4)

57 BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan

Tidak terdapat korelasi antara bentuk wajah dengan gigi insisivus sentral maksila.

5.2. Saran

Saran untuk penelitian selanjutnya adalah melakukan penelitian pada etnis lain atau pada jenis kelamin yang lebih spesifik seperti pada laki-laki atau perempuan saja dan penambahan jumlah sampel. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi ilmu kedokteran gigi khususnya pada bidang prosthodontik.


(5)

58

DAFTAR PUSTAKA

1. Pavankumar R. Koralakunte and Dhanyakumar H. Budihal. A Clinical study to evaluate the correlation between maxillary central incisor tooth form and face form in an Indian population. Journal of Oral Science, Vol. 54, No. 3, 273-278

2. Ji-Eun Ku, Jong-So Yang and Kwi-Dug Yun,. A morphometric analysis of maxillary central incisor on the basis of facial appearance in Korea. J Adv Phrostodont. Feb 2012, 4(1) : 13-17

3. Ahmad. Anterior dental aesthetics:Dental perspective. British Dental Journal 199, 135-141

4. Frush JP, Fisher RD. Introduction to dentogenic restorations. J Prostet Dent 1955 ; 5 . 586-595

5. Qualtrough AJ, Burke FJ. A look at dental aesthetics. Quintessence Int 1994; 25 : 7-14

6. Brisman AS. Esthetics : a comparison of dentists’ and patients’ concepts. J Am Dent Assoc. 100 : 345-352

7. Deepak Nallaswarny. Vancouver, Textbook of Phrostodontics

8. Bell RA. The geometric theory of selection of artificial teeth : J Am Dent Assoc 97, 637-640

9. Snellen PN, Jagger DC, Harrison A. Computer generated study of the correlation between tooth, face, arch form, and palatal contour. J Prostetic Dent 80, 163-168

10.Hasanreisoglu U, Berksun S, Aras K, Arslan I. An analysis of maxillary anterior teeth : facial and dental proportions. J Prosthent Dent 94, 530-538

11.Varjao FM, Nogueira SS, Russi S, Arioli Filho JN. Correlation between maksillary central insicor form and face form in 4 racial groups. Quinstessence Int 37, 767-771

12.Housemm, Loop JL. Forrum and colour harmony in Dental Art. Whittier, Calf : mm House.

13.WJ Muchinson D F, Broome J C. Estethics : Patient perception of dental atractiveness, J Prosthodont; 5 : 166-171

14.MacArthur DR. Are anterior replacement teeth too small? , J prosthet Dent, 1978;57 : 462-465

15.Prof. DR. Alo Liliweri, M.S. Communication and Culture, Prasangka dan Konflik. Lintas Budaya Masyarakat Multikultur.

16.Maya Vinothini. Correlation between facial form and tooth form in Indian population. IOSR : Journal of Dental and Medical Sciences (IOSR-JDMS) 17.Sadler, T.W. Langman’s Medical Embriology. Jakarta: EGC, 1997

Kedokteran EGC.

18.Keith L. Moore, T.V.N Persaud. The Developing Human: Clinically Oriented Embriology; with the Collaboration of Mark G. Torchia – 8th ed. Philadelphia, 2008 Saunders Elsevier Inc.


(6)

19.Frank, H, Netter, M.D. Interactive Atlas of Human Anatomy. Ciba Medical Education & Publication.

20.Antonio Nanci, PhD 2013. Ten Cate’s Oral Histology, Development, Structure and Function 8th ed. 2008 Mosby, Inc, Elsevier Inc.

21.Daniel S. Wibowo, Widjaya Paryana.. Anatomy of Human Body. Singapore: Elsevier, Graha Ilmu Publishing.

22.Drake R.L., Vogl W., Mitchell A.W.L. Gray’s Anatomy for Students. 1st ed. New York: Elsevier Churchill Livingston. p158, 178.

23.Agus. Departemen Konservasi Gigi. FKG, Universitas Erlangga. Restorasi Estetik dan Kosmetik. Journal dept.Konservasi gigi. P.2,8

24.David L.Husei. Where is the Ethic in Aestethic Dentistry?, British Dental Journal 192, 356 (2002)

25.Barclay, C.W, Walmsley, A.D., Fixed and Removable Prosthodontics, Churchill Livingstone, USA. h. 115-116

26.Rosentiel SF, Land MF, Fujimoto J. Contemporary Fixed Ptosthodontics. 4th ed. St. Louis, Mosby Inc. p. 513-520, 530-535

27.Fabiana Mansur Varjao,DDS,MS,PhD, Sergio Sualdini Nogueira, DDS, MS, PhD, Sergio Russi, DDS, MS, PhD, Joao Neudenir Arioli Filho, DDS,MS, PhD; Correlation between Maxillary Central Incisor Form and Face Form in 4 Racial Groups. Quitenssence international journal ; 37: 767-771.

28.Academy of Prosthodontics, The Glossary of Prosthodontic Terms, 7thed., Mosby Inc., Universitas Michigan.

29.McDevitt, M. J., Masticatory System Disorders, in Newman, M. G., Takei, H. H., Klokkevold, P. R. (ed.): Carranza’s Clinical Periodontology, 10th edition, Saunders Elsevier, St. Louis, p. 480, 482-483.

30.Jubhari EH. Upaya untuk mengurangi preparasi gigi : Fung shell bridge. Jurnal Kedokteran Gigi Dentofasial; 6(1):27-9.

31.Sophia DM, Firman D, dan Adenan A. Jembatan adhesif dengan retensi teknik anyaman pada bagian pelekatan kerangka logam. Dalam buku Dari Bandung untuk khazanah ilmu kedokteran gigi. Kumpulan makalah temu ilmiah kedokteran gigi (TIKEGI). Bandung: Lembaga Studi Kesehatan Indonesia; 2000. p. 31-9.

32.Prajitno HR. Ilmu Geligi Tiruan Jembatan. Pengantar Dasar dan Rancangan Pembuatan. Cetakan II. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1994. p. 147-53.

33.Simon JF, Gartrell RG, and Grogono A. Improved retention of acid etched fixed partial dentures: A longitudinal study. The Journal of Prosthetic Dentistry; 68: 611-15.

34.Dale BG, Aschheim KW. Esthetic Dentistry A Clinical Approach to Techniques and Materials. Philadelphia: Lea & Febiger;. p. 151-62.

35. O’Sullivan M. Fixed Prosthodontics in Dental Practice. London: Quintessence Publishing Co. Ltd;. p. 129-37.