Pengertian dan Peranan Sterilisasi Dalam

Pengertian dan Peranan Sterilisasi Dalam Mikrobiologi

  Sterilisasi adalah proses pemanasan yang dilakukan untuk mematikan semua bentuk organisme . Suatu benda yang steril, dipandang dari sudutmikrobiologi, artinya bebas dari mikroorganisme hidup yang tidak diinginkan. Suatu bendaatau substansi hanya dapat steril atau tidak sreril tidak akan mungkin setengah steril atauhampir steril (Pelozar, 1988). Sedangkan menurut Fardiaz, sterilisasi yaitu suatu prosesuntuk membunuh semua jasad renik yang ada, sehingga jika ditumbuhkan didalam suatumedium tidak ada lagi jasad renik yang dapat berkembang biak (Fardiaz, 1992).Peranan sterilisasi pada bidang mikrobiologi diantaranya adalah untuk mencegah pencemaran organisme luar, untuk mempertahankan keadaan aseptis, sedangkan pada pembuatan makanan dan obat-obatan, sterilisasi berfungsi untuk menjamin keamananterhadap pencemaran oleh mikroorganisme (Gupte, 1990).Sterilisasi dalam mikrobiologi adalah suatu proses untuk mematikan semuaorganisme yang terdapat pada atau didalam sutu benda. ketika melakukan pemindahan biakkan bakteri secara aseptik. Di dalam pengamatan tentang mikrobiologi, sterilisasimerupakan bagian yang sangat penting atau merupakan suatu keharusan, baik pada alatmaupun media. Hal ini penting karena jika alat atau media tidak steril, akan sulitmenentukan apakah mikroba merupakan akibat dari percobaan yang dilakukan ataumerupakan kontaminan. Bekerja di laboratorium mikrobiologi mengandung risiko yangtidak kecil. Setiap saat harus selalu berasumsi bahwa setiap mikroorganisme adalah potensial patogen dan harus berhati-hati agar tidak terinfeksi oleh bakteri tersebut.Sterilisasi ini sangat penting dilakukan untuk keselamatan kerja saat melakukan penelitianyang bersangkutan dengan mikrobiologi. Ada tiga cara utama yang umum dipakai dalam sterilisasi yaitu penggunaan panas, penggunaan bahan kimia, dan penyaringan (filtrasi). Bila panas digunakan bersama – sama dengan uap air maka disebut sterilisasi panas lembab atau sterilisasi basah, bila tanpa kelembaban maka disebut sterilisasi panas kering atau sterilisasi kering. Sedangkan sterilisasi kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan gas atau radiasi. Pemilihan metode didasdarkan pada sifat bahan yang akan disterilkan (Hadioetomo, R. S., 1985). Macam-macam sterilisasi yang dapat digunakan :

  1. Sterilisasi panas dengan tekana atau sterilisasi uap (autoklaf). Pada saat melakukan sterilisasi uap, kita sebenarnya memapakan uap jenuh pada tekanan tertentu selama waktu dan suhu tertentu pada suatu objek, sehingga terjadi pelepasan energi laen uap yang mengakibatkan denaturasi atau koagulasi protein sel. Sterilisasi demikian merupakan sterilisasi paling efektif dan ideal karena :

  a. Uap merupakan pembawa (carrier) energy tertanal paling efektif dan semua lapisan pelindung luar mikroorganisme dapat dilunakan, sehingga memungkinkan terjadinya koagulasi.

  b. Macam-macam sterilisasi yang dapat digunakan :

  1. Sterilisasi panas dengan tekana atau sterilisasi uap (autoklaf). Pada saat melakukan sterilisasi uap, kita sebenarnya memapakan uap jenuh pada tekanan tertentu selama waktu dan suhu tertentu pada suatu objek, sehingga terjadi pelepasan energi laen uap yang mengakibatkan denaturasi atau koagulasi protein sel. Sterilisasi demikian merupakan sterilisasi paling efektif dan ideal karena : a. Uap merupakan pembawa (carrier) energy tertanal paling efektif dan semua lapisan pelindung luar mikroorganisme dapat dilunakan, sehingga memungkinkan terjadinya koagulasi.

  b. Bersifat nontosik, mudah diperoleh dan relatife mudah dikontrol.

  o

  Penggunaan autoklaf ini harus dengan suhu 121 C selama 15 menit. Factor-faktor yang mempengaruhi sterilisasi uap ada 3 yaitu : waktu, suhu dan kelembaban.(Stefanus. 2006).

  2. Sterilisasi panas kering (Oven) Proses sterilisasi panas kering terjadi melalui mekanisme konduksi panas. Panas akan diabsurpsi oleh permukaan luar alat yang disterilkan, lalu merambat ke bagian dalam permukaan sampai akhirnya suhu untuk sterilisasi tercapai. Sterilisasi panas kering biasanya digunakan untuk alat-alat atau bahan dengan uap tidak dapat penetrasi secara mudah atau untuk peralatan yang terbuat dari kaca. Pada sterilisasi panas kering, pembunuhan mikroorganisme terjadi melalui mikanisme oksidasi sampai-sampai terjadinya koagulasi protein sel. Karena panas dan kering kurang efektif dalam membunuh mikroba dari autoklaf, maka sterilisasi memerlukan temperature yang lebih tinggi dan waktu yang lebih panjang.

  (Stefanus. 2006) 3. Sterilisasi, Tyndllisasi. Metode ini berupa mendidihkan medium dengan uap dengan beberapa menit saja. Sehabis didiamkan satu hari, selama itu spora-spora sempat tumbuh menjadi bakteri vegetative. Maka medium tersebut dididihkan lagi selama beberapa menit. Akhirnya pada hari ketiga, medium tersebut dididihkan lagi, sekali lagi. Dengan jalan demikian ini diperoleh medium yang steril dan zat-zat organik yang terkandung didalamnya tidak mengalami banyak perubahan seperti halnya pada cara yang dilakukan oleh spallanzani (1729-1799).(Dwidjoseputro. 2005)

  4. Sterilisasi dengan penyaringan (Filtrasi).

  Medium disaring dengan saringan porselin atau dengan tanah diatom. Dengan jalan ini, maka zat-zat organik tidak akan mengalami penguraian sama sekali. Hanya sayang, virus tak dapat terpisah dengan penyaringan semacam ini. Oleh karena itu, sehabis penyaringan, medium masih perlu dipanaskan dengan autoclave meskipun tidak selama 15 menit dengan teperatur

  o

  121

  C. penyaringan dapat dilakukan juga dengan saringan yang dibuat dari asbes. Saringan dibuang setelah dipakai, sedangkan saringan porselin terlalu mahal untuk dibuang dan terlalu sulit dibersihkan.(Dwidjoseputro. 2005) Ada tiga cara utma yang umum dipakai dalam sterilisasi yaitu penggunaan panas penggunaan bahan kimia dan penyaringan(filtrasi). Bila panas digunakan bersama-sama dengan uap air maka disebut sterilisasi panas lembab atau sterilisasi basah bila tanpa kelembaban maka disebut sterilisasi panas kering atau sterilisasi kering. Dipihak lain sterilisasi kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan gas atau radiasi.(Hadiotomo. 1985) Bersifat nontosik, mudah diperoleh dan relatife mudah dikontrol.

  o

  Penggunaan autoklaf ini harus dengan suhu 121 C selama 15 menit. Factor-faktor yang mempengaruhi sterilisasi uap ada 3 yaitu : waktu, suhu dan kelembaban.(Stefanus. 2006).

  2. Sterilisasi panas kering (Oven) Proses sterilisasi panas kering terjadi melalui mekanisme konduksi panas. Panas akan diabsurpsi oleh permukaan luar alat yang disterilkan, lalu merambat ke bagian dalam permukaan sampai akhirnya suhu untuk sterilisasi tercapai. Sterilisasi panas kering biasanya digunakan untuk alat-alat atau bahan dengan uap tidak dapat penetrasi secara mudah atau untuk peralatan yang terbuat dari kaca. Pada sterilisasi panas kering, pembunuhan mikroorganisme terjadi melalui mikanisme oksidasi sampai-sampai terjadinya koagulasi protein sel. Karena panas dan kering kurang efektif dalam membunuh mikroba dari autoklaf, maka sterilisasi memerlukan temperature yang lebih tinggi dan waktu yang lebih panjang.

  (Stefanus. 2006) 3. Sterilisasi, Tyndllisasi. Metode ini berupa mendidihkan medium dengan uap dengan beberapa menit saja. Sehabis didiamkan satu hari, selama itu spora-spora sempat tumbuh menjadi bakteri vegetative. Maka medium tersebut dididihkan lagi selama beberapa menit. Akhirnya pada hari ketiga, medium tersebut dididihkan lagi, sekali lagi. Dengan jalan demikian ini diperoleh medium yang steril dan zat-zat organik yang terkandung didalamnya tidak mengalami banyak perubahan seperti halnya pada cara yang dilakukan oleh spallanzani (1729-1799).(Dwidjoseputro. 2005)

  4. Sterilisasi dengan penyaringan (Filtrasi).

  Medium disaring dengan saringan porselin atau dengan tanah diatom. Dengan jalan ini, maka zat-zat organik tidak akan mengalami penguraian sama sekali. Hanya sayang, virus tak dapat terpisah dengan penyaringan semacam ini. Oleh karena itu, sehabis penyaringan, medium ini lebih murah dan lebih mudah penggunaannya daripada parselin. Saringan asbes dapat dibuang setelah dipakai, sedangkan saringan porselin terlalu mahal untuk dibuang dan terlalu sulit dibersihkan.(Dwidjoseputro. 2005) Ada tiga cara utma yang umum dipakai dalam sterilisasi yaitu penggunaan panas penggunaan bahan kimia dan penyaringan(filtrasi). Bila panas digunakan bersama-sama dengan uap air maka disebut sterilisasi panas lembab atau sterilisasi basah bila tanpa kelembaban maka disebut sterilisasi panas kering atau sterilisasi kering. Dipihak lain sterilisasi kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan gas atau radiasi.(Hadiotomo. 1985) Dalam ilmu kimia, molaritas (disingkat M) salah satu ukuran konsentrasi larutan. Molaritas suatu larutan menyatakan jumlah mol suatu zat per liter larutan. Misalnya 1.0 liter larutan mengandung 0.5 mol senyawa X, maka larutan ini disebut larutan 0.5 molar (0.5 M). Umumnya konsentrasi larutan berair encer dinyatakan dalam satuan molar. Keuntungan menggunakan satuan molar adalah kemudahan perhitungan dalam stoikiometri, karena konsentrasi dinyatakan dalam jumlah mol (sebanding dengan jumlah partikel yang sebenarnya). Kerugian dari penggunaan satuan ini adalah ketidaktepatan dalam pengukuran volum. Selain itu, volum suatu cairan berubah sesuai temperatur, sehingga molaritas larutan dapat berubah tanpa menambahkan atau mengurangi zat apapun. Selain itu, pada larutan yang tidak begitu encer, volume molar dari zat itu sendiri merupakan fungsi dari konsentrasi, sehingga hubungan molaritas-konsentrasi tidaklah linear. (smankha, 2011)

   adalah alat yang digunakan untuk mensterilkan peralatan dan

  perlengkapan dengan menundukkan material untuk uap tekanan tinggi jenuh pada 121 ° C selama sekitar 15-20 menit, tergantung pada ukuran beban dan isi. Alat ini diciptakan oleh Charles Chamberland di 1879, meskipun prekursor yang dikenal sebagai digester uap diciptakan oleh Denis Papin pada tahun 1679. Nama ini berasal dari bahasa Yunani auto-, pada akhirnya berarti diri, dan Latin yang berarti Clavis kunci-perangkat self-locking.

  

yang banyak digunakan dalam mikrobiologi, kedokteran, tato, tindik, ilmu

  kedokteran hewan, mikologi, kedokteran gigi, perawatan kaki dan fabrikasi prosthetics. Mereka bervariasi dalam ukuran dan fungsi tergantung pada media yang akan disterilkan.

  Beban khas termasuk laboratorium gelas, instrumen bedah, limbah medis, peralatan pasangan pasien, tempat tidur hewan kandang, dan kaldu lysogeny. pembuangan dan sterilisasi bahan limbah, seperti limbah rumah sakit patogen. Mesin dalam kategori ini sebagian besar beroperasi di bawah prinsip yang sama seperti otoklaf konvensional dalam bahwa mereka mampu menetralisir agen berpotensi menular dengan memanfaatkan uap bertekanan dan air superheated.

  Sterilisasi panas dengan tekanan atau sterilisasi uap (autoklaf).Pada saat melakukan sterilisasi uap, kita sebenarnya memapakan uap jenuh padatekanan tertentu selama waktu dan suhu tertentu pada suatu objek, sehingga terjadi pelepasan energi laen uap yang mengakibatkan denaturasi atau koagulasi protein sel.Sterilisasi demikian merupakan sterilisasi paling efektif dan ideal karena uap merupakan pembawa ( carrier ) energi tertanal paling efektif dan semua lapisan pelindung luar mikroorganisme dapat dilunakan, sehingga memungkinkan terjadinya koagulasi, selain itu bersifat nontosik, mudah diperoleh dan relatif mudah dikontrol. (Stefanus, 2006). Danmenurut Sumarsih (2010), Sterilisasi menggunakan autoklaf merupakan cara yang paling baik karena uap air panas dengan tekanan tinggi menyebabkan penetrasi uap air ke dalamsel-sel mikroba menjadi optimal sehingga langsung mematikan mikroba.Cara Penggunaan Autoklaf adalah:1. Banyaknya air dalam autoklaf dicek terlebih dahulu. Jika air kurang dari batas yangditentukan, maka dapat ditambah air sampai batas tersebut. Menggunakan air hasildestilasi, untuk menghindari terbentuknya kerak dan karat.2. Peralatan dan bahan dimasukkan biasanya dimasukan keranjang.3. Autoklaf ditutup dengan rapat lalu kencangkan baut pengaman agar tidak ada uap yangkeluar dari bibir autoklaf. Klep pengaman jangan dikencangkan terlebih dahulu.4.Nyalakan autoklaf, diatur timer dengan waktu minimal 15 menit pada suhu 121 o C5.Tunggu sampai air mendidih sehingga uapnya memenuhi kompartemen autoklaf danterdesak keluar dari klep pengaman. Kemudian klep pengaman ditutup (dikencangkan) dan tunggu sampai selesai. Penghitungan waktu 15’ dimulai sejak tekanan mencapai 2 atm.6.Jika alarm tanda selesai berbunyi, maka tunggu tekanan dalam kompartemen turunhingga sama dengan tekanan udara di lingkungan (jarum pada preisure gauge menunjuk ke angka nol). Kemudian klep-klep pengaman dibuka dan keluarkan isi autoklaf denganhati-hati. b. Sterilisasi panas kering (Oven)Proses sterilisasi panas kering terjadi melalui mekanisme konduksi panas. Panas akandiabsorpsi oleh permukaan luar alat yang disterilkan, lalu merambat ke bagian dalam permukaan sampai akhirnya suhu untuk sterilisasi tercapai. Sterilisasi panas kering biasanya digunakan untuk alat-alat atau bahan dengan uap tidak dapat penetrasi secaramudah atau untuk peralatan yang terbuat dari kaca. Pada sterilisasi panas kering, pembunuhan mikroorganisme terjadi melalui mekanisme oksidasi sampai-sampaiterjadinya koagulasi protein sel. Karena panas dan kering kurang efektif dalam membunuhmikroba dari autoklaf, maka sterilisasi memerlukan suhu yang lebih tinggi dan waktu yanglebih panjang (Stefanus. 2006).c.

  Sterilisasi Tyndllisasi.Metode ini dilakukan dengan cara mendidihkan medium dengan uap beberapa menitsaja. Setelah didiamkan satu hari, spora-spora tumbuh menjadi bakteri vegetatif. Makamedium tersebut dididihkan lagi selama beberapa menit. Akhirnya pada hari ketiga,medium tersebut dididihkan sekali lagi. Dengan jalan demikian ini diperoleh medium yangsteril dan zat-zat organik yang terkandung didalamnya tidak mengalami banyak perubahanseperti halnya pada cara yang dilakukan oleh spallanzani (1729-1799) (Dwidjoseputro.2005)d. Sterilisasi dengan penyaringan (Filtrasi).Medium disaring dengan saringan porselin atau dengan tanah diatom. Dengan jalanini, maka zat-zat organik tidak akan mengalami penguraian sama sekali. Hanya sayang,virus tak dapat terpisah dengan penyaringan semacam ini. Oleh karena itu, sehabis penyaringan, medium masih perlu dipanaskan dengan autoclave meskipun tidak selama 15menit dengan teperatur 121 o

  C. Penyaringan dapat dilakukan juga dengan saringan yangdibuat dari asbes. Saringan ini lebih murah dan lebih mudah penggunaannya daripada parselin. Saringan asbes dapat dibuang setelah dipakai, sedangkan saringan porselin terlalumahal untuk dibuang dan terlalu sulit dibersihkan.(Dwidjoseputro. 2005)e. Bahan-bahan perkecualian yang tidak dapat

  disterilisasi dengan panas

  Bahan-bahan yang tidak dapat disterilisasi dengan panas adalah bahan-bahan yang mudah berinteraksi dengan panas baik panas basah maupun kering yang dapat menyebabkan kerusakan baik secara fisik, perubahan struktur, perubahan aktifitas, penurunan kadar dan sebagainya. Beberapa contoh bahan yang tidak dapat disterilisasi dengan panas :

  a. Gula : Jika suhu sterilisasi diatas titik lebur atau titik leleh gula, maka struktur dari gula tersebut akan terurai dan kemungkinan membentuk caramel akan semakin besar.

  b. Vitamin dan asam amino : vitamin dan asam amino rentan mengalami degradasi jika terlalu lama terpapar panas melebihi batas.

  c. Enzim : beberapa enzim akan mengalami inaktifasi jika terkena panas, misalnya sitokinin zeatin riboside.

  d. Minyak : minyak dapat mengalami penguraian (saturasi) akibat panas berlebih. o

  e. Dan bahan-bahan lain yang tidak stabil jika disterilisasi pada suhu panas basah (± 120 o C) dan kering (± 180

  C).

  

Metode sterilisasi dengan metode filtrasi Sterilisasi dengan filtrasi tidak merusak mikroorganisme tetapi menghilangkan mikroorganisme dengan cara memisahkan. Hal ini digunakan untuk klarifikasi dan sterilisasi cairan dan gas karena mampu mencegah bagian dari partikel yang dapat hidup dan tidak dapat hidup.

  Filter membran dengan ukuran pori antara 0,2 – 0,45 m biasanya digunakan untuk menghilangkan partikel dari larutan yang tidak dapat di autoklaf. Metode ini digunakan untuk menghilangkan mikroba dari cairan yang labil terhadap panas seperti serum, larutan antibiotic, larutan gula, larutan urea. Berbagai aplikasi metode sterilisasi dengan filtrasi termasuk juga digunakan untuk menghilangkan bakteri dari bahan-bahan pada media kultur, mempersiapkan suspense virus dan fag yang bebas bakteri, mengukur ukuran dari virus, memisahkan racun dari filtrate kultur, menghitung bakteri, mengklarifikasi cairan dan memurnikan cairan hydatid. Filtrasi dibantu dengan menggunakan salah satu tekanan positif atau negatif pada pompa vakum. Filter tertua ini terbuat dari gerabah atau asbes yang disebut sebagai depth filters.

  Mekanismeutamafiltrasiadalahpenyaringan, adsorpsi dan penjebakan dalam matriks pada bahan yang disaring. Tingkatan sterilisasi dengan penyaringan digunakan dalam perlakuan untuk suntikan yang sensitive terhadap panas dan larutan untuk mata, produk biologi dan udara dan gas lainnya untuk pasokan kedaerah aseptik. Filtrasi juga digunakan dalam industri sebagai bagian dari sistem ventilasi pada fermentor, sentrifus, autoklaf dan pengering beku. Membran Filter digunakan untuk pengujian sterilitas.

  Penerapan Filtrasi untuk Sterilisasi Gas HEPA (High Efficiency Particulate Air) filter dapat menghilangkan hingga 99,97% partikel dengan diameter >0,3 mikrometer. Udara pertama kali melewati prefilters untuk menghilangkan partikel yang lebih besar dan kemudian melewati filter HEPA. Kinerja filter HEPA dipantau oleh perbedaan tekanan dan pengukuran tingkat aliran udara.

  Ada dua jenis filter yang digunakan dalams terilisasi filtrasi, yaitu :

  a. Depth filters: Terdiri dari bahan berserat atau granular yang dikemas untuk membentuk saluran twisted dari dimensi menit. Mereka terbuat dari tanah diatom, tanpa glasir b. Membran filters: Berikut adalah membran berpori sekitar 0,1 mm, terbuat dari selulosa asetat, selulosa nitrat, polikarbonat, dan fluoride polyvinylidene, atau beberapa bahan sinteti slainnya. Material membran. Bahan didukung dengan bingkai dan diadakan di pemegang khusus. Cairan yang dibuat untuk mentransfer membran dengan tekanan positif atau negatif atau dengan sentrifugasi.

  Penerapan Filtrasi untuk Sterilisasi Cairan Membranfilter dari diameter pori 0,22 mikrometer merupakan nominal yang umum digunakan, namun filter sinter digunakan untuk cairan korosif, cairan kental dan pelarut organik. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja filter adalah penurunan nilai titer, yang merupakan rasio dari jumlah organism menantang filter dalam kondisi persyaratan untuk jumlah organism menembus itu. Faktor lainnya adalah kedalaman membran, dengan sendirinya dan ketidakjujuran dari saluran.

  Jenis filter adalah:

  1. Filter gerabah : Filter ini terbuat dari tanah diatom atau porselin. Filter ini biasanya dipanggang ke dalam bentuk lilin . Berbagai jenis filter gerabah adalah: a. Pasteur - Chamberland filter: Lilin filter ini berasal dari Perancis dan terbuat dari porselen

  ( pasir dan kaolin ) . Filter yang sama dari Inggris adalah Doulton. Filter Chamberland dibuat dengan berbagai porositas , yang dinilai sebagai L1 , L1A , L2 , L3 , L5 , L7 , L9 dan L11 . Filter Doulton adalah P2 , P5 dan P11 .

  b. Berkefeld filter: ini terbuat dari Kieselguhr , sebuah fosil tanah diatom yang ditemukan di Jerman. Filter ini tersedia dalam tiga kelas tergantung pada porositasnya (ukuran pori), mereka adalah V (veil) , N (normal) dan W (wenig). Kualitas filterkelas V diperiksa menggunakan kultur suspensi Serrtiamarcescens ( 0,75 µm ).

  c. Mandler filter: Filter ini dari Amerika terbuat dari kieselguhr, asbes dan plester dari Paris .

  2. Filter Asbes : filter ini terbuat dari chrysotilejenis asbes, bahankimia yang tersusun darimagnesium silikat. Mereka ditekan untuk membentuk disc, yang akan digunakan hanya sekali. Disk ini ditahan dalamujung logam, yang disterilkan dengan autoklaf .

  3. Sinter filter glass : ini terbuat dari kaca tanah halus yang cukupmenyatu untuk membuat partikelkecilmenempel satu sama lain. Mereka biasanya tersedia dalam bentuk disk

  µm. Mereka dicuci dalam air yang mengalir secara terbalik arah dan dibersihkan dengan H 2 SO 4 hangat terkonsentrasi dan disterilkan dengan autoklaf.

  4. Membran filter: filter ini terbuat dari berbagai bahan polimer seperti selulosa nitrat, selulosa diasetat, polikarbonat dan polyester. Membran jenis tua, disebut gradocol (dinilai colloidion) membran tersusun dari selulosa nitrat. Membran Gradocol memiliki pori rata- rata diameter 3 - 10 µm. Yang baru terdiri dari selulosa diasetat. Membran ini memiliki pori diameter mulai dari 0,015 µm sampai 12 µm. Filter ini disterilkan dengan autoklaf. Filter membrandilakukan dengan duacara, membranporikapilermemilikipori-pori yang dihasilkan oleh radiasi sementara labirin membran pori diproduksi oleh penguapan pelarut paksa dari ester selulosa.

  Kelemahandepth filter adalah migrasi bahan saringan kedalam filtrat, penyerapan atau retensi volume tertentu cairan dengan filter, ukuran pori yang tidak pasti dan virus dan Mycoplasma bisa melewatinya. Keuntungan filter membran adalah porositas diketahui, tidak ada retensi cairan, dapat digunakan kembali setelah autoclaving dan kompatibel dengan banyak bahan kimia. Namun, filter membran memuat kapasitas sedikit dan rapuh.

  Oven sterilisasi ini termasuk . Sering digunakan di

  Dunia Medis oleh Dokter. Oven Sterilisasi ini bisa disebut juga Oven udara panas merupakan listrik perangkat yang digunakan dalam sterilisasi . Oven menggunakan panas kering untuk mensterilkan artikel. Umumnya, mereka dapat dioperasikan 50-300 ° C (122-572 ° F).

  Ada termostat mengendalikan suhu. Ini dikontrol secara digital untuk menjaga suhu . Insulasi ganda berdinding mereka menjaga panas dalam dan melestarikan energi , lapisan dalam menjadi konduktor miskin dan lapisan luar yang metalik. Ada juga ruang udara yang penuh di antara untuk membantu isolasi . Sebuah kipas udara beredar membantu dalam distribusi seragam panas. Ini dilengkapi dengan baki wire mesh disesuaikan disepuh atau aluminium nampan dan mungkin memiliki sebuah on / off saklar rocker, serta indikator dan kontrol untuk suhu dan waktu tahan. Kapasitas dari oven bervariasi. Daya kebutuhan pasokan bervariasi dari satu negara ke negara, tergantung pada tegangan dan frekuensi ( hertz ) yang digunakan. Suhu kaset sensitif atau perangkat lain seperti mereka yang menggunakan spora bakteri dapat digunakan untuk bekerja sebagai kontrol, untuk menguji keampuhan dari perangkat di setiap siklus. http://www.alatkesehatan.info/laboratorium/oven-sterilisasi/

  http://www.alatkesehatan.info/laboratorium/oven-sterilisasi/ http://wahyurelly.blogspot.com/2013/11/metode-sterilisasi-bahan-termolabil-dan.html

  

  Normalitas menyatakan jumlah mol ekivalen zat terlarut dalam 1 liter larutan. Untuk asam, 1 mol ekivalennya sebanding dengan 1 mol ion H+. Untuk basa, 1 mol ekivalennya sebanding dengan 1 mol ion OH-. Pada reaksi netralisasi asam dan basa H+ + OH- H2O yaitu masa ekivalen dari asam adalah setara dengan fraksi massa molekul yang dapat memberika satu buah H+ untuk melakukan reaksi netralisasi (dengan kata lain, massa ekuivalen setara dengan massa molekul dibagi jumlah H+ yang dapat dihasilkan). Gram ekivalen merupakan jumlah massa zat yang dibutuhkan untuk mereaksikan 1 mol H+. Massa ekivalen suatu basa adalah setara dengan fraksi massa molekul yang dapat memberikan 1 OH- atau dapat bereaksi dengan 1 H+. (smankha, 2011)

  Natrium hidroksida (NaOH), juga dikenal sebagai soda kaustik atau sodium hidroksida, adalah sejenis basa logam kaustik. Larutan baku natriumhidroksida tak dapat dibuat langsung dengan menimbang NaOH yang telah dihitung, karena basa itu selalu menarik air dan karbondioksida dari udara. Lebih-lebih karbonat yang terbentuk itu sangat mengganggu penitaran dengan PP. Oleh karena itu harus dibuat dahulu “lindi minyak menurut Sorensen". Yaitu larutan NaOH 50 %, misalnya 100 gram NaOH padat ditambahkan sedikit demi sedikit Kedalam 100 gram air yang berada dalam piala gelas Pyrex sambil diaduk dengan pengaduk kaca. Hati-hati dalam larutan hidroksida sepekat ini, natrium karbonat tak akan larut dan setelah dua tiga hari kotoran terendap. Yang kita gunakan adalah larutan jernih bagian atas, yaitu NaOH yang tidak mengandung karbonat. Karena larutan basa lambat laun akan memakan kaca, lindi minyak harus disimpan dalam botol yang dilapisi parafin dinding dalamnya. (ridwan, 2012) Kepekatan lindi minyak adalah lebih kurang 19 N, Untuk menetapkan N NaOH secara kasar dapat ditera dulu berat jenisnya dengan menggunakan Boumemater, untuk melihat kenormalan NaOH dapat dilihat pada table hubungan berat jenis dengan Normalitas. Kemudian kita hitung berapa ml lindi yang diperlukan untuk 1 liter NaOH 0,1 N, dengan menggunakan rumus V1N1 = V2N2. Jumlah ml itu diukur dengan gelas ukur atau ditimbang dengan neraca kasar, dimasuk¬un kedalam labu ukur 1 liter dan air suling hingga tanda garis dan larutan NaOH siap untuk ditetapkan kenormalannya dengan larutan baku asam oksa¬lat, KH-Phtalat dan sebagainya.(ridwan, 2012)

  Kegiatan Praktikum Kimia Dasar Materi 1 dimulai pada pukul 15.00 WIB – 16.40 WIB, pada hari Senin, tanggal 18 Maret 2013. Dilaksanakan di laboratorium Jurusan Budi Daya Pertanian, Fakultas Pertanian,Universitas Palangka Raya.

  Adapun alat yang digunakan dalam praktikum kimia dasar dengan materi pengenalan alat meliputi : gelas arloji, timbangan analitik, labu ukur, pipet volum, pipet ukur, beaker glass, buret, erlenmeyer, corong, crus porselin, dan mortar.

  b. Bahan Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum kimia dasar dengan materi pengenalan alat meliputi : AgNO3, HCl, H2SO4, NaOH, Indikator PP, Indikator MO dan KMO4.

  3.3. Pembuatan Larutan Baku NaOH 0,1 N

  • Menghitung berat molekul NaOH, berat molekul NaOh (dalam gram) tersebut sebagai dasar untuk membuat larutan baku 1 N setelah melarutkannya dalam aquades 1 L.
  • Menghitung berapa gram NaOH yang diperlukan untuk membuat konsentrasi NaOH 0,1 N

  3.4. Prosedur Kerja - Menyiapkan beberapa peralatan.

  • Menggambar alat-alat tersebut.
  • Menulis spesifikasi dan fungsinya. Dari definisi tersebut di atas jelas bahwa indikator adalah “variabel yang dapat digunakan untuk mengevaluasi keadaan atau status dan memungkinkan dilakukannya pengukuran terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu” (Buku Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota - Kepmenkes RI 2004). Dari definisi tersebut di atas jelas bahwa indikator adalah “variabel yang dapat digunakan untuk mengevaluasi keadaan atau status dan memungkinkan dilakukannya pengukuran terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu” (Buku Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota - Kepmenkes RI 2004). Larutan dapat di definisikan sebagai campuran homogen dari dua zat atau lebih yang terdispers sebagai molekul ataupun ion yang komposisinya dapat bervariasi. Disebut homogen karena komposisi dari larutan begitu seragam ( satu fase) sehingga tidak dapat diamati bagian – bagian komponen penyusunnya meskipun dengan mikroskop ultra. Dalam campuran heterogen permukaan – permukaan tertentu dapat diamati antara fase – fase yang terpisah. Suatu larutan terdiri dari dua komponen yang penting. Biasanya salah satu komponen yang mengandung jumlah zat terbanyak disebut sebagai pelarut ( solven ). Sedangkan komponen lainnya yang mengandung jumlah tak sedikit disebut zat terlarut

  (solut). Kedua komponen dalam larutan dapat sebagai pelarut atau zat terlarut tergantung komposisinya. Misalnya dalam alkohol 70 % ( 70:30 ), maka alkohol merupakan pelarut dan air sebagai zat terlarut. Sedangkan dalam keadaan yang sukar ditentukan seperti alkohol 50 % ( 50:50 ), karena jumlah kedua zat dalam larutan sama, maka baik alkohol maupun air dapat dianggap pelarut atau zat terlarut. Untuk campuran zat padat dalam air seperti sirup 60 % ( 60:40 ), kabanyakan orang memilih air sebagai pelarut karena air tetap mempertahankan

  Pada umumnya larutan yang dimaksud adalah campuran yang berbentuk cair, meskipun ada juga yang berfase gas maupun padat. Larutan yang berbentuk gas adalah udara yang merupakan campuran dari berbagai jenis gas seperti nitrogen dan oksigen. Sedangkan yang berbentuk padat adalah emas 22 karat yang merupakan campuran homogen dari emas dengan perak atau logam lain. Dua senyawa dapat bercampur ( miscible ) lebih mudah bila gaya tarik antara molekul solut dan pelarut semakin besar. Besarnya gaya tarik ini ditentukan oleh jenis ikatan pada masing-masing molekul. Bila gaya tarik antara molekulnya termasuk dalam kelompok yang sama ( misalnya : air dan etanol ), maka keduanya akan saling melarutkan. Sedangkan bila kekuatan gaya tarik antara molekulnya berbeda jenisnya ( misalnya : air dan heksana ), maka tidak saling melarutkan. Kelarutan adalah jumlah zat terlarut yang dapat larut dalam sejumlah pelarut pada suhu tertentu sampai membentuk larutan jenuh. Kelarutan suatu zat dapat ditentukan dengan menimbang zat yang akan ditentukan kelarutannya kemudian dilarutkan, misalnya dalam 100 ml pelarut. Jumlah zat yang ditimbang harus diperkirakan dapat membentuk larutan lewat jenuh yang ditandai masih terdapat zat yang tidak larut didasar wadah setelah dilakukaan pengocokan dan didiamkan. Setelah terjadi kesetimbangan antara zat padat yang terlarut dan yang tidak larut lalu disaring dan ditimbang selisih berat awal dan berat padatan yang tidak larut merupakan kelarutan zat tersebut dalam 100 ml pelarut. Larutan jenuh adalah larutan yang telah mengandung zat terlarut dalam jumlah maksimal, sehingga tidak dapat ditambahkan lagi zat terlarut. Pada keadaan ini terjadi kesetimbangan antara solut yang larut dan yang tak larut atau kecepatan pelarutan sama dengan kecepatan pengendapan. Larutan tak jenuh ( unsaturated ) adalah suatu larutan yang mengandung jumlah solut lebih sedikit ( encer ) daripada larutan jenuhnya. Sedangkan larutan lewat jenuh (super saturated ), mengandung solut lebih banyak ( pekat ) daripada yang ada dalam larutan jenuhnya pada suhu yang sama.

  Suatu larutan dengan konsentrasi lebih tinggi dapat dijadikan larutan yang konsentrasinya rendah, dengan menambahkan pelarut. Selama penambahan pelarut jumlah zat terlarut tidak berubah, tetapi hanya mengurangi perbandingan zat terlarut dengan pelarut. Pengenceran sering dilakukan di laboratorium untuk mendapatkan larutan yang konsentrasinya lebih rendah. Satuan konsentrasi yang biasanya diencerkan adalah molar, Suatu larutan dikatakan ideal jika didasarkan pada kekutan relatif dari gaya tarik antara molekul solut dan solvennya masing – masing. Dalam suatu larutan ideal, sifat komponen yang satu akan mempengaruhi sifat komponen lainnya, sehingga sifat – sifat fisik larutan yang dihasilkan seperti titik uap, titik didih, dan titik beku adalah rata – rata dari sifat kedua komponennya murni. Larutan ideal sendiri sebenarnya hanya bersifat hipotesis. Karena larutan adalah campuran molekul ( atom atau ion dalam beberapa hal ), biasanya molekul- molekul pelarut agak berjauhan dalam larutan dibanding dalam pelarut murni.

  • Jenis-jenis larutan

  Unsur terpenting yang menentukan keadaan bahan dalam larutan adalah pelarut. Komponen yang jumlahnya lebih sedikit dinamakan zat terlarut ( solute ). Larutan yang menggunakan air sebagai pelarut dinamakan larutan dalam air atau aquades. Larutan yang mengandung zat terlarut dalam jumlah banyak dinamakan larutan pekat. Jika jumlah zat terlarut sedikit, larutan dinamakan larutan encer. Istilah larutan biasanya mengandung arti pelarut cair dengan cairan, padatan atau gas sebagai zat yang terlarut. Tiga contoh larutan dalam keadaan cair ialah : o Bensin : Campuran sejumlah hidrokarbon cair o Air laut : Larutan berair dari natrium klorida dan padatan ion lainnya.

  2

  o Air Karbonat : Larutan berair dari CO Campuran zat-zat yang homogeny disebut larutan, yang memiliki komposisi merata atau serba sama diseluruh bagian volumenya. Suatu larutan mengandung satu zat terlarut atau lebih dari satu pelarut. Zat terlarut merupakan komponen yang jumlahnya sedikit, seadangkan pelarut adalah komponen yang terdapat dalam jumlah yang banyak (Achmad, 1996 : 1).

  Jika dua zat yang berbeda dimasukkan dalam suatu wadah ada tiga kemungkinan, yaitu bereaksi, bercampur, dan tidak bercampur. Jika bereaksi akan menghasilkan zat baru yang sifatnya berbeda dari zat semula. Dua zat dapat bercampur bila ada interaksi antara partikelnya. Interaksi itu ditentukan oleh wujud dan sifat zatnya. Oleh sebab itu, campuran dapat dibagi atas gas

  • – gas, gas
  • – padat, cair
  • – cair, cair
  • >– padat, dan padat

  Bila dua atau lebih zat yang tidak bereaksi dicampur, campuran yang terjadi ada 3 kemungkinan, yaitu campuran kasar, disperse kolid, dan larutan sejati. Dua jenis campuran yang pertama bersifat heterogen dan dapat dipisahkan seacara mekanis. Sedang larutan yang bersifat homogeny dan tidak dapat dipisahkan secara mekanis. Atas dasar ini campuran larutan didefinisikan sebagai campuran homogeny antara dua zat atau lebih. Keadaan Fisika larutan dapat berupa gas, cair, atau padat dengan perbandingan yang berubah-ubah pada jarak yang luas (Sukardjo, 1997 : 141) Ada dua komponen yang penting dalam suatu larutan yaitu pelarut dan zat yang dilarutkan dalam pelarut tersebut. Zat yang dilarutkan itu disebut zat terlarut

  (solute). Larutan yang menggunakan air sebagai pelarut dinamakai larutan dalam air. Larutan yang mengandung zat terlarut dalam jumlah yang banyak dinamakan larutan pekat. Jika jumlah zat terlarut sedikit, larutan dinamakan cairan dengan cairan, padatan atau gas sebagai zat yang terlarut. Larutan dapat berupa padat dan gas, karena molekul-molekul gas berpisah jauh, molekul-molekul dalam campuran gas berbaur secara acak, semua gas ada;ah larutan, contoh terbaik larutan adalah udara (Karyadi, 1994 : 51) Alat dan Bahan Alat Alat Jumlah Gelas Beaker 100 mL Gelas Beaker 250 mL

  Pengaduk stainless Neraca Ohaus Pipet Tetes Gelas Ukur 25 mL Kaca Arloji

  1

  1

  2

  1

  1

  1

  1 Bahan Bahan Larutan KOH 2 M Kristal NaCl Murni Aquades Prosedur Kerja

  II.           Dasar Teori            

  Larutan didefinisikan sebagai campuran yang homogen antara 2 macam zat ataupun lebih. Larutan terdiri dari pelarut dan zat terlarut. Umumnya zat terlarut jumlahnya lebih sedikit dibanding pelarut.

  Pengenceran pada prinsipnya hanya menambahkan pelarut saja, sehingga jumlah mol zat terlarut sebelum pengenceran sama dengan jumlah mol zat terlarut sesudah pengenceran. Dengan kata lain jumlah mmol zat terlarut sebelum pengenceran sama dengan jumlah mmol zat terlarut sesudah penegenceran atau jumlah gram zat terlarut sebelum pengenceran sama dengan jumlah gr zat terlarut sesudah pengenceran.

  Rumus sederhana pengenceran sebagai berikut :

M

  2 V

  2 M1 = Molaritas larutan sebelum pelarutan

  V1 =  Volume larutan sebelum pelarutan M2 = Molaritas larutan sesudah pelarutan V2 = Volume Molaritas larutan sesudah pelarutan            

       Daftar Pustaka

  DAFTAR PUSTAKA Achmad, Hiskia. 1996. Penuntun Belajar Kimia Dasar Kimia Larutan. Bandung: Citra Aditya Bakti.

  Charles. W Keenan, dkk. 1979. Kimia untuk Universitas. Jakarta: Erlangga. Karelius, S. Si, M. Sc, dkk. 2010. Penuntun Kimia Dasar II. Palangka Raya: Program Studi Pendidikan Kimia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

  Oktoby. W David, dkk. 1998. Prinsip-Prinsip Kimia Modern. Jakarta: Erlangga. Rosenberg. L Jerome, Ph. D. 1985. Teori dan Soal-Soal Kimia Dasar. Jakarta: Erlangga. Sunarya, Yayan. 2002. Kimia Dasar II Berdasarkan Prinsip-Prinsip Kimia Terkini. Bandung: Alkemi Grafisindo Press.

  DAFTAR PUSTAKA Achmad, Hiskia. 1996. Penuntun Belajar Kimia Dasar Kimia Larutan. Bandung: Citra Aditya Bakti.

  Charles. W Keenan, dkk. 1979. Kimia untuk Universitas. Jakarta: Erlangga. Karelius, S. Si, M. Sc, dkk. 2010. Penuntun Kimia Dasar II. Palangka Raya: Program Studi

  Oktoby. W David, dkk. 1998. Prinsip-Prinsip Kimia Modern. Jakarta: Erlangga. Rosenberg. L Jerome, Ph. D. 1985. Teori dan Soal-Soal Kimia Dasar. Jakarta: Erlangga. Sunarya, Yayan. 2002. Kimia Dasar II Berdasarkan Prinsip-Prinsip Kimia Terkini. Bandung: Alkemi Grafisindo Press.

  Konsentrasi didefinisikan sebagai jumlah zat terlarut dalam setiap satuan larutan atau pelarut. Pada umumnya konsentrasi dinyatakan dalam satuan fisik, misalnya satuan berat atau satuan volumeatau dalam satuan kimia, misalnya mol, massa rumus, dan ekivalen.

  b) Persen berat per volum (% W/V), biasanya digunakan larutan dalam air yang sangat encer dari zat padat. Misalnya, untuk membuat 5% (W/V), AgNO , 5 gram AgNO dilarutkan

  3

  3

  dalam air kemudian diencerkan sampai tepat 100 mL. Larutan NaOH 10% (W/V), mengandung 10 gram NaOH dalam 100 mL larutan.

  Persen berat sangat bermanfaat dan sering digunakan karena tidak tergantung pada temperatur. Konsentrasi larutan yang biasanya dijumpai dalam perdagangan sering dinyatakan dalam persen berat.

  c) Persen volume (% v/v) menyatakan mL zat terlarut dalam 100 mL pelarut.

  d) Parts Per Million dan Parts Per Billion Parts Per Million (ppm) menyatakan mg zat terlarut dalam 1 kg atau 1 liter larutan. Jika larutan sangat encer digunakan satuan konsentrasi Parts Per Million, ppm (bagian per sejuta), dan Parts Per Billion, ppb (bagian per milliard). Satu ppm ekivalen dengan 1 mg zat terlarut dalam 1 L larutan. Satu ppb 1 mg zat terlarut per 1 larutan.

  Parts Per Million, ppm, part per billion, ppb, adalah satuan yang mirip persen bera5t. Jika persen berat gram zat terlarut per 100 gram larutan, ppm gram zat terlarut per sejuta gram larutan dan ppb zat terlarut per milliard gram larutan.

  e) Kemolaran (M) menyatakan mol zat5 terlarut dalam 1 liter larutan atau jumlah milimol dalam 1 mL larutan.

  • 1

  Jika massa M adalah massa molar (g mol ), f) Fraksi Mol (X) nenyatakan mol zat terlarut per mol total.


Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

76 1813 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 472 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 426 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 255 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 377 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 555 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 490 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

10 315 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 484 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 568 23