Tugas individu ekbang kemiskinan. docx

Tingkat Kemiskinan Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan

Di susun Oleh :
Atria
C1A011089

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Universitas Jenderal Soedirman
Fakultas Ekonomi
2013

Ghita

Mayasari

KATA PENGANTAR

Segala puji kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat serta karunianya makalah
Tingkat Kemiskinan Di Daerah Kabupaten banjar Kaliman Selatan dapat terselesaikan, guna
memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Pembangunan II.
Makalah ini akan membahas mengenai kemiskinan, khusunya daerah Kabupaten Banjar

kalimantan selatan. Dengan melihat indikator-indikator kemiskinan yang digunakan di Indonesia,
penulis akan menganalisis tingkat kemiskinan di daerah tersebut. Kemiskinan memang salah satu
masalah pembangunan yang masih menjadi momok di setiap negara. Sehingga pembahasan masalah
kemiskinan akan selalu menjadi topik yang hangat untuk di bahas
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman yang sudah menjadi inspirasi
penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini mungkin terdapat banyak kesalahan dan kekurangan, yang
dikarenakan penulis masih berada dalam proses belajar dan belum memiliki wawasan yang luas. Oleh
karena itu penulis mengucapkan maaf jika ada kesalahan dan kekurangan kata. Semoga isi dari
makalh ini dapat bermanfaaat untuk siapa saja yang membacanya, amin.

April 2013
penulis

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Kemiskinan merupakan salah satu masalah pembangunan yang masih banyak terjadi di seluruh
negara belahan dunia, meskipun dengan rasio yang beragam. Angka kemiskinan negara maju memang
jauh berbeda dengan negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia.

Masyarakat miskin atau dapat di sebut tidak punya, memiliki kemampuan yang terbatas dalam
pemenuhan kebutuhan dasar. Kesulitan tersebut mengakibatkan kondisi fisik dan kesehatan yang
buruk serta produktivitas kerja yang rendah. Selain itu, kemiskinan menyebabkan adanya disparitas
golongan manusia antara yang punya dan tidak punya. Hal ini menyebabkan dapat terjadinya
kecemburuan sosial, bahkan tindakan kriminalitas.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini memang memperlihatkan hasil yang positif, tetapi
masalh kemiskinan masih menjadi masalah utama yang harus di atasi. Meskipun sebuah negara
mempunyai pendapatan per kapita yang tinggi, tetapi jika ketimpangan pendapatannya juga tinggi,
ada kemungkinan negara tersebut juga akan menghadapi masalh kemiskinan, sama peliknya dengan
masalah kemikinan di negara berpendapatn per kapita rendah (Abul Hakim,2010:217). Dapat di
simpulkan bahwa sebagian kasus kemiskinan secara tidak langsung diakibatan oleh disparitas
distribusi pendapatan. Oleh karena itu pemerintah berupaya menanggulangi masalah kemiskinan ini
dengan bantuan secara langsung, dengan memberikan bantuan langsung tunai atau jaminan kesehatan
(jamkesmas/jamkesda) dan bantuan secara tidak langsung yang di harpkan dapat mengurangi
kemiskinan, yaitu dengan menerapkan pajak progresif untuk pemerataan distribusi pendapatan yang
pada akhirnya akan mengurangi tingkat kemiskinan.
Kemiskinan dapat di definisikan dengan dua pendekatan, kemisikinan absolut dan kemiskinan
relatif. Kemiskinan absolut adalah kondisi seseorang (atau keluarga) yang pendapatannya kurang dari
pendapatan yang bisa mencukupi berbagai kebutuhan dasar berupa makanan, pakaian, perumahan (di
beberapa negara ditambah dengan kebutuhan khas setempat). Definisi kemiskinan absolut juga

bervariasi menurut standar hidup antar waktu dan antar daerah. Sementara kemiskinan relatif bersifat
kondisional, biasanya membandingkan pendapat sekelompok orang dengan pendapat kelompok yang
lain dalam masyarakat.
1.
2.
3.
4.
5.

1.2. Rumusan masalah
Apa definisi dari kemiskinan?
Bagaimana perhitungan angka kemiskinan?
Apa yang menyebabkan kemiskinan terjadi?
Bagaimana pemerintah menanggulangi kemiskinan yang terjadi?
Bagaimana angka kemiskinan di daerah kabupaten banjar kalimantan selatan?

1.3. Tujuan penulisan
1. Mengetahui definisi kemiskinan, agar mempunyai persamaan persepsi dan kesamaan sudut
pandang dalam melihat kemiskinan
2. Mengetahui bagaimana perhitungan kemiskinan yang di gunakan di Indonesia

3. Mengetahui penyebab-penyebab terjadinya kemiskinan
4. Mengetahui penanggulangan yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi kemiskinan
5. Mengetahui angka kemiskinan yang ada di kabupaten banjar kalimantan selatan

II. PEMBAHASAN
II.1.
Pengertian Kemiskinan dan Indikator Kemiskinan
II.1.1. Pengertian kemiskinan
Pandangan para ahli mengenai kemiskina memang memiliki persepsi yang berbeda. Berikut ini
merupakan beberapa pendapat ahli mengenai kemiskinan.
BAPPENAS (1993) mendefisnisikan keimiskinan sebagai situasi serba kekurangan yang terjadi
bukan karena kehendak oleh si miskin, melainkan karena keadaan yang tidak dapat dihindari dengan
kekuatan yang ada padanya. Definisi secara umum yang lazim dipakai dalam perhitungan dan kajiankajian akademik adalah pengertian kemiskinan yang diperkenalkan oleh Bank Dunia yaitu sebagai
ketidakmampuan mencapai standar hidup minimum (Word Bank, 1990).
Scott menerangkan (Usman, 2006) bahwa kemiskinan setidaknya memiliki kondisi-kondisi
yang pada umumnya didekati (1) dari segi pendapatan dalam bentuk uang ditambah dengan
keuntungan-keuntungan non material yang diterima oleh seseorang sehingga secara luas kemiskinan
meliputi kekurangan atau tidak memiliki pendidikan, keadaan kesehatan yang buruk atau kekurangan
transportasi yang dibutuhkan oleh masyarakat; (2) kadang-kadang didefinisikan dari segi kepemilikan
aset yakni tanah, rumah, peralatan, uang, emas, kredit dan lain-lain; (3) kemiskinan non-materi

meliputi berbagai macam kebebasan, hak untuk memperoleh pekerjaan yang layak, hak atas rumah
tangga dan kehidupan yang layak.
United Nations Development Program (UNDP) mendefinisikan kemiskinan sebagai
ketidakmampuan untuk memperluas pilihan-pilihan dalam hidup, antara lain dengan memasukkan
penilaian “tidak adanya partisipasi dalam pengambilan keputusan publik” sebagai salah satu indikator
kemiskinan (Cahyat 2004).
II.1.2. Indikator kemiskinan
Kemiskinan memiliki tolak ukur atau indikator tersendiri. Indikator kemiskinan yang sering
digunakan adalah indikator oleh Bank dunia, dan Indonesia sendiri menggunakan indikator yang di
tetapkan oleh BPS.




Indikator kemiskinan oleh bank dunia :
World Bank membuat garis kemiskinan absolut US$ 1 dan US$ 2 PPP (purchasing power
parity/paritas daya beli) per hari (bukan nilai tukar US$ resmi) dengan tujuan untuk
membandingkan angka kemiskinan antar negara/wilayah dan perkembangannya menurut
waktu untuk menilai kemajuan yang dicapai dalam memerangi kemiskinan di tingkat global
/internasional. Angka konversi PPP adalah banyaknya rupiah yang dikeluarkan untuk

membeli sejumlah kebutuhan barang dan jasa dimana jumlah yang sama tersebut dapat dibeli
sebesar US$ 1 di Amerika Serikat. Angka konversi ini dihitung berdasarkan harga dan
kuantitas di masing-masing negara yang dikumpulkan dalam suatu survei yang biasanya
dilakukan setiap lima tahun. Garis kemiskinan PPP disesuaikan antar waktu dengan angka
inflasi relatif, yaitu menggunakan angka indeks harga konsumen.
Indikator kemiskinan oleh BPS:
1. Sumber Data
Sumber data utama yang dipakai adalah data SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi
Nasional). Sebagai informasi tambahan, digunakan hasil survei SKPD (Survei Paket

Komoditi Kebutuhan Dasar) yang digunakan untuk memperkirakan proporsi dari
pengeluaran masing-masing komoditi pokok non makanan.
2. Metode
Metode yang digunakan adalah menghitung garis kemiskinan (GK) yang terdiri dari dua
komponen, yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non-Makanan
(GKNM), sebagai berikut:
GK = GKM + GKNM
Penghitungan Garis Kemiskinan dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan
pedesaan. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita
per bulan di bawah Garis Kemiskinan.

Garis kemiskinan makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum
makanan yang disetarakan dengan 2.100 kilokalori perkapita per hari. Patokan ini mengacu
pada hasil Widyakarya Pangan dan Gizi 1978. Paket komoditi kebutuhan dasar makanan
diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu,
sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, dll). Ke-52 jenis komoditi ini
merupakan komoditi-komoditi yang paling banyak dikonsumsi oleh penduduk miskin. Jumlah
pengeluaran untuk 52 komoditi ini sekitar 70 persen dari total pengeluaran orang miskin.
Garis kemiskinan non-makanan (GKNM) adalah kebutuhabn minimum untuk perumahan,
sandang, pendidikan, dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar non-makanan diwakili
oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di pedesaan.
3. Teknik Penghitungan Garis Kemiskinan
Tahap pertama adalah menentukan penduduk referensi, yaitu 20 persen penduduk yang berada
di atas Garis Kemiskinan Sementara, yaitu garis kemiskinan periode lalu yang di-inflate
dengan inflasi umum (IHK). Dari penduduk referensi ini kemudian dihitung Garis
Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM).
Garis Kemiskinan Makanan adalah jumlah nilai pengeluaran dari 52 komoditi dasar makanan
yang riil dikonsumdi penduduk referensi dan kemudian disetarakan dengan nilai energi 2.100
kilokalori perkapita per hari. Penyetaraan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan
dilakukan dengan menghitung harga rata-rata kalori dari ke-52 komoditi tersebut. Selanjutnya
GKM tersebut disetarakan dengan 2.100 kilokalori dengan cara mengalikan 2.100 terhadap

harga implisit rata-rata kalori.
Garis Kemiskinan Non-Makanan merupakan penjumlahan nilai kebutuhan minimum dari
komoditi-komoditi non-makanan terpilih yang meliputi perumahan, sandang, pendidikan, dan
kesehatan. Nilai kebutuhan minimum per komoditi/sub-kelompok non-makanan dihitung
dengan menggunakan suatu rasio pengeluaran komoditi /sub-kelompok tersebut terhadap total
pengeluaran komoditi/sub-kelompok yang tercatat dalan data Susenas modul konsumsi. Rasio
tersebut dihitung dari hasil Survei Paket Komoditi Kebutuhan Dasar 2004 (SPKKD 2004),
yang dilakukan untuk mengumpulkan data pengeluaran konsumsi rumahtangga per komoditi
non-makanan yang lebih rinci dibandingkan data Susenas modul konsumsi.
Garis Kemiskinan merupakan penjumlahan dari Garis Kemiskinan Makanan dan Garis
Kemiskinan Non-Makanan. Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per
bulan di bawah Garis Kemiskinan dikategorikan sebagai penduduk miskin.
4. Indikator Kemiskinan

Berdasarkan pendekatan kebutuhan dasar, ada 3 indikator kemiskinan yang digunakan.
Pertama, Head Count Index (HCI-P0), yaitu persentase penduduk yang berada di bawah garis
kemiskinan (GK).
Kedua, Indeks Kedalaman Kemiskinan (Poverty Gap Index-P1) yang merupakan rata-rata
kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan.
Semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk dari garis

kemiskinan.
Ketiga, Indeks Keparahan Kemiskinan (Poverty Severity Index- P2) yang memberikan
gambaran mengenai penyebaran pengeluaran di antara penduduk miskin. Semakin tinggi nilai
indeks, semakin tinggi ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin.
II.2.

Angka kemiskinan di kab banjar kalsel

II.2.1. Angka kemiskinan provinsi kalimantan selatan
Kalimantan selatan merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang mengalami perkembangan
yang pesat tiap tahunnya. Namun, tetap saja kemiskinan masih menjadi masalah ekonomi pertama
yang perlu mendapatkan perhatian. Berdasarkan data BPS provinsi kalimantan selatan, selama periode
satu tahun antara 2010-2011, jumlah penduduk miskin di Kalimantan Selatan mengalami kenaikan
sebanyak 12.660 orang. Penduduk miskin di Kalimantan Selatan keadaan Maret 2011 tercatat
sebanyak 194.623 orang (5,29 persen). Sedangkan pada periode yang sama setahun yang lalu,
penduduk miskin di Kalimantan Selatan tercatat sebanyak 181.963 orang jiwa (5,21 persen).
Dengan memperhatikan berbagai indikator ekonomi yang berkaitan erat dengan tingkat
kemiskinan, maka kenaikan jumlah penduduk miskin selama periode Maret 2010 – Maret 2011, salah
satu penyebabnya adalah kenaikan harga barang-barang komoditi yang berhubungan dengan
penghitungan kemiskinan. IHK di Kalimantan Selatan naik sebesar 7,95 persen selama periode

tersebut. Angka ini berada diatas angka IHK Nasional yaitu 6,64 persen.

Banyak sedikitnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh Garis Kemiskinan. Penduduk
miskin suatu wilayah adalah penduduk yang rata-rata pengeluaran perkapita perbulan di bawah Garis
Kemiskinan di wilayah tersebut. Semakin tinggi Garis Kemiskinan, semakin banyak penduduk yang
digolongkan sebagai penduduk miskin. Selama Maret 2010 –Maret 2011, Garis Kemiskinan (GK) di
Kalimantan Selatan mengalami kenaikan sebesar 13,13persen. Pada Maret 2010 GK Kalimantan

Selatan adalah Rp.210.850,- perkapita perbulan, sedangkan pada Maret 2011 naik menjadi
Rp.238.535,- perkapita perbulan.
II.2.2. Angka kemiskinan Kabupaten Banjar
Kabupaten Banjar adalah salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Ibu kota
kabupaten ini terletak di Martapura. Kabupaten ini memiliki luas wilayah ± 4.688 km² dan
berpenduduk sebanyak 506.204 jiwa (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010). Kabupaten Banjar
termasuk dalam calon Wilayah Metropolitan Banjar Bakula. Motto daerah ini adalah "Barakat" yang
artinya "Berkah" (bahasa Banjar).
Kabupaten Banjar terbagi menjadi 19 kecamatan, yaitu:
1. Aluh Aluh

8. Martapura


15. Simpang Empat

2. Aranio

9. Martapura Barat

16. Sungai Pinang

3. Astambul

10. Martapura Timur

17. Sungai Tabuk

4. Beruntung Baru

11. Mataraman

18. Telaga Bauntung

5. Gambut

12. Paramasan

19. Tatah Makmur

6. Karang Intan

13. Pengaron

7. Kertak Hanyar

14. Sambung Makmur

20.
21.

22. Sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani dari perkebunan karet
yang rata-rata adalah kebun perseorangan. Selain itu perkebunan jeruk menjadi penopang
hidup sebagian masyarakat yang merupakan produk unggulan dari Kecamatan Astambul.
Keberadaan perusahaan lokal, nasional dan asing yang bergerak dibidang Tambang Batubara
turut memberikan andil besar terhadap perekonomian di Kabupaten Banjar.
23. Tambang Batubara di kabupaten ini dikelola oleh perusahaan seperti PT. Pamapersada
Nusantara, PT. Kalimantan Prima Persada, PT. Pinang Coal Indonesia dan lain-lain yang
diawasi oleh Perusahaan Daerah (PD. Baramarta).
24. Kabupaten banjar termasuk daerah yang mengalami peningkatan yang baik, karena upaya
pengurangan angka kemiskinannya dapat terlihat menonjol dari kabupaten yang lain. Dapat
dilihat pada tabel dibawah :
25.

26. Pada tabel diatas terlihat bahwa kabupaten banjar mengalami penurunan tingkat kemiskinan
selama periode 2009-2011. Pada tahun 2009 jumlah penduduk miskin 18.177 jiwa dan di
tahun 2011 mengalami penurunan menjadi 16.438 jiwa. Hal ini di karenakan adanya upaya
dari pemerintah daerah kabupaten banjar yang getol dalam menanggulangi masalah
kemiskinan. Menurut berita di media massa 09(11) 2012, tingkat kemiskinan kabupaten
banjar 3.34% atau terendah dari 13 kabupaten lain di provinsi kalimantan selatan. tingkat
kemiskinan paling rendah, kabupaten berpenduduk 506 ribu jiwa itu, juga rendah dalam
angka pengangguran yakni 4,67 persen dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang
mencapai 70,94 persen.
27. Hal ini merupakan kabar positif dan angin segar agar pemerintah terus berupaya
menanggulangi kemiskinan di daerah kabupaten banjar. Meskipun begitu tetap saja masih ada
hambatan yang menjadi penghambat upaya tersebut. Pembahasan selanjutnya akan di bahas
mengenai faktor-faktor terjadinya kemiskinan, yang tentunya menjadi penghambat bagi upaya
pemerintah.
II.2.3. Faktor-faktor terjadinya kemiskinan

28. Menurut Suryadiningrat (2003), kemiskinan pada hakikatnya disebabkan oleh kurangnya
komitmen manusia terhadap norma dan nilai-nilai kebenaran ajaran agama, kejujuran dan
keadilan. Hal ini mengakibatkan terjadinya penganiayaan manusia terhadap diri sendiri dan
orang lain. Penganiayaan manusia terhadap diri sendiri tercermin dari adanya : 1) keengganan
bekerja dan berusaha, 2) kebodohan, 3) motivasi rendah, 4) tidak memiliki rencana jangka
panjang, 5) budaya kemiskinan dan 6) pemahaman keliru terhadap kemiskinan. Sedangkan
penganiayaan terhadap orang lain terlihat dari ketidakmampuan seseorang bekerja dan
berusaha akibat : 1) Ketidakpedulian orang mampu kepada orang yang memerlukan atau
orang tidak mampu dan 2) kebijakan yang tidak memihak kepada orang miskin.
29. Menurut Kartasasmita dalam Rahmawati (2006), kondisi kemiskinan dapat disebabkan oleh
sekurang-kurangnya empat penyebab, yaitu :
30. 1. Rendahnya taraf pendidikan dimana taraf pendidikan yang rendah mengakibatkan
kemampuan pengembangan diri terbatas dan menyebabkan sempitnya lapangan kerja yang
dapat dimasuki. Taraf pendidikan yang rendah juga membatasi kemampuan untuk mencari
dan memanfaatkan peluang.
31. 2. Rendahnya derajat kesehatan Taraf kesehatan dan gizi yang rendah menyebabkan
rendahnya daya tahan fisik, daya pikir dan prakarsa.
32. 3. Terbatasnya lapangan kerja Keadaan kemiskinan karena kondisi pendidikan dan kesehatan
diperberat oleh terbatasnya lapangan pekerjaan. Selama ada lapangan kerja atau kegiatan
usaha, selama itu pula ada harapan untuk memutuskan lingkaran kemiskinan itu.
33. 4. Kondisi keterisolasian Banyak penduduk miskin secara ekonomi tidak berdaya karenan
terpencil dan terisolasi. Mereka hidup terpencil sehingga sulit atau tidak dapat terjangkau oleh
pelayanan pendidikan, kesehatan dan gerak kemajuan yang dinikmati masyarakat lainnya.
34. Menurut Todaro (1998) bahwa tinggi rendahnya tingkat kemiskinan tergantung pada dua
faktor yakni tingkat pendapatan nasional rata-rata dan lebar sempitnya kesenjangan dalam
distribusi pendapatan. Pendapatan nasional diperoleh dari faktor-faktor yang digunakan
dimana faktor-faktor produksi merupakan faktor input yang digunakan perusahaan atau
industri di dalam menghasilkan suatu output.
II.2.4. Upaya Penanggulangan Kemiskinan
35. Pemerintah kabupaten banjar sangat gigih dalam penanggulangan kemiskinan. Hal ini di
buktikan dengan adanya penurunan tingkat kemiskinan di kabpuaten banjar selama periode
2009-2011.
36. Berikut berbagai upaya yang dilakukan pemda kab. Banjar untuk menanggulangi
kemiskinan :
1.

Pembentukan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Kabupaten Banjar di ketuai
DR. H.A. Fauzan Saleh, M.Ag (Wakil Bupati Banjar). Pada 20 februari 2013 lalu di adakan rapat
sekretariat TKPK, dalam kesempatan itu beliau menyampaikan beberapa point tentang
pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan diantaranya adalah :
37. 
Sebelum melangkah kedepan atau melanjutkan pelaksanaan kegiatan program
penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Banjar, agar menata terlebih dahulu

dapur/kesekretariatan TKPK agar dapat menghimpun data-data kemiskinan yang lebih akurat
dan tersimpan dengan baik.
38. 
Fungsi dapur/sekretariat TKPK adalah untuk memperkuat kelembagaan, membangun
jaringan agar klaster-klaster dapat terdata dengan bagus dan yang lebih utama menyimpan
data hasil verifikasi maupun Data Taskin PPLs 2011 yang sudah diberikan oleh TNP2K.
39. 
Dengan adanya ruangan Sekretariat TKPK yang baru agar semua fasilitas yang
diperlukan segera disiapkan guna kelancaran operasional dan kenyamanan dalam bekerja.
2.

Pembentukan program PKH sebagai upaya membangun sistem perlindungan sosial kepada
masyarakat miskin.
40.
PKH sendiri merupakan program lintas Kementerian dan Lembaga, yang diantaranya adalah
dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Departemen Sosial, Departemen Kesehatan,
Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Agama, Departemen Komunikasi dan lnformatika, dan
Badan Pusat Statistik.oleh karena itulah BAPPEDA kab. Banjar melalui bidang sosial dan budaya
dimana sebagai pengkoordinir TKPK tingkat daerah kabupaten Banjar.
41.
42.
43.
44.
45.
3. Dana CSR untuk menanggulangi kemiskinan
46.
Tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) di Kalimantan Selatan disarankan untuk
menanggulangi kemiskinan di provinsi tersebut. Saran tersebut dari Wakil Ketua Komisi IV bidang
Kesra DPRD Kalsel H Budiman Mustafa. Pendekatan tersebut bisa dengan cara menyampaikan data
masyarakat miskin secara terinci dari kabupaten/kota se Kalsel, guna memudahkan perusahaan yang
ingin memberikan bantuan melalui program CSR.
47.
Upaya-upaya di atas merupakan beberapa upaya yang di lakukan pemerintah kabupaten
banjar untuk menanggulangi pemerintah. Upaya tersebut mendapatkan apresiasi dari BAPENAS
terhadap kebijakan penanggulangan kemiskinan di kabupaten banjar. Kerja keras Kabupaten banjar
dalam menekan angka kemiskinan membuat kabupaten ini menempati peringkat ketiga terendah
penduduk miskin secara nasional setelah DKI jakarta dan Bali pada tahun 2011. Upaya
penanggulangan kemiskinan daerah semakin dipercepat pada tahun 2007. Dimana Pak Bupati Sultan
H Khairul Saleh menggagas perlu ada survei pemetaan penduduk dan wilayah kemiskinan. Bekerja
sama dengan BPS kita berhasil memiliki data peta kemiskinan yang menjadi bahan bagi usaha
penanggulangan kemiskinan. Kemudian, lanjutnya, pada tahun 2009 dibentuk Tim Koordinasi
Penanggulangan Kemiskinan daerah diketuai Wakil Bupati Dr H Fauzan Saleh dan pengurus lain
Sekda dan Kepala Bappeda. Usaha penanggulangan kemiskinan semakin dipertajam daerah dengan
merangkul Lembaga Penelitian Unlam yang melakukan survei dan analisa bersama untuk mengejar
target penurunan angka kemiskinan.
48.
49.
50.
51.

52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62.
63.
III. PENUTUP
III.1.
Kesimpulan
64. BAPPENAS (1993) mendefisnisikan keimiskinan sebagai situasi serba kekurangan yang
terjadi bukan karena kehendak oleh si miskin, melainkan karena keadaan yang tidak dapat dihindari
dengan kekuatan yang ada padanya. Banyak sedikitnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi
oleh Garis Kemiskinan. Penduduk miskin suatu wilayah adalah penduduk yang rata-rata pengeluaran
perkapita perbulan di bawah Garis Kemiskinan di wilayah tersebut. Semakin tinggi Garis
Kemiskinan, semakin banyak penduduk yang digolongkan sebagai penduduk miskin. Selama Maret
2010 –Maret 2011, Garis Kemiskinan (GK) di Kalimantan Selatan mengalami kenaikan sebesar
13,13persen. Pada Maret 2010 GK Kalimantan Selatan adalah Rp.210.850,- perkapita perbulan,
sedangkan pada Maret 2011 naik menjadi Rp.238.535,- perkapita perbulan.
65. kabupaten banjar mengalami penurunan tingkat kemiskinan selama periode 2009-2011. Pada
tahun 2009 jumlah penduduk miskin 18.177 jiwa dan di tahun 2011 mengalami penurunan menjadi
16.438 jiwa. tingkat kemiskinan kabupaten banjar 3.34% atau terendah dari 13 kabupaten lain di
provinsi kalimantan selatan. tingkat kemiskinan paling rendah, kabupaten berpenduduk 506 ribu jiwa
itu, juga rendah dalam angka pengangguran yakni 4,67 persen dan Indeks Pembangunan Manusia
(IPM) yang mencapai 70,94 persen.
66. Upaya Penanggulangan Kemiskinan Pemerintah kabupaten banjar adalah Pembentukan Tim
Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK), Pembentukan program PKH sebagai upaya
membangun sistem perlindungan sosial kepada masyarakat miskin, dan Dana CSR untuk
menanggulangi kemiskinan
67. Upaya penanggulangan kemiskinan memang menjadi tanggung jawab bersama. Kabupaten
banjar menjadi contoh yang baik ketika semua pejabat, instansi, masyarakat dan perangkat pemerintah
daerah saling bekerja sama maka akan menghasilkan hasil yang baik dan memuaskan serta
membanggakan masyarakat di daerah itu sendiri.

III.2.

Implikasi

68. kemiskinan memang menjadi masalah ekonomi yang selalu ada di setiap negara.
Penanggulangan kemiskinan yang baik ketika semua aparat pemerintahan dari bawah hingga
atas, masyarakat, dan mahasiswa mampu berkomitmen untuk mengentaskan kemiskinan.
Niat itu memang penting dan menjadi modal utama. Mungkin kabupaten banjar sudah
berhasil mengurangi angka kemiskinan di kabupatennya, tetapi tidak semua kabupaten bisa
melakukannya. Oleh karena itu hal yang sebaiknya di lakukan :
1. Pemerintah kabupaten banjar harus melakukan transfering ke kabupaten lain, agar kabupaten
lain bisa mengikuti jejak langkah kabupaten banjar dalam penanggulangan kemiskinan.
2. Menjaga komitmen dan jangan terlalu cepat merasa puas, karena kemiskinan memiliki
banyak faktor penyebab, dan jika salah melangkah mungkin akan menciptakan lagi faktor
kemiskinan lainnya.
3. Kemiskinan memang salah satu dari masalah ekonomi, tetapi di harapkan pemerintah tidak
hanya memperhatikan masalah kemiskinan saja. Pengurangan kemiskinan yang tidak di
barengi dengan peningkatan kesejahteraan itu sama saja tidak berarti apa-apa.
4. Perlu adanya peningkatan taraf pendidikan dan kesehatan karena bidang ini merupakan
bidang yang mempengaruhi tingkat kemiskinan juga.
69.
IV. DAFTAR PUSTAKA
70.
71. Hakim,Abdul,2010,Ekonomi Pembangunan,Ekonisia:
Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.
72. BPS Provinsi Kalimantan Selatan, Data-data
http://kalsel.bps.go.id. Di akses tanggal 4 April 2013.

Kampus

Fakultas

kemiskinan

tahun

Ekonomi
2009-2011,

73. Hanafi,Imam,2012, kemiskinan banjar terendah di kalsel, http://www.antarkalsel.com .di
akses tanggal 30 Maret 2013.
74. Maskuriah,Ulil,2012, kemiskinan tanggung jawab bersama, http://www.antarkalsel.com, di
akses tanggal 30 Maret 2013.
75. Zainuddin,Hasan,2012, CSR buat tanggulangi kemsikinan, http://www.antarkalsel.com, di
akses tangal 30 maret 2013
76. Bappeda
Kab.
Banjar,
Rapat
Sekretariat
TKPK
http://bappeda.banjarkab.go.id, di akses tanggal 30 Maret 2013.

Kabupaten

Banjar,

77. Humas Bappeda Kab. Banjar, Rapat Koordinasi Tim PKH Kabupaten Banjar,
http://humas.banjarkab.go.id, di akses tanggal 30 Maret 2013.
78. Humas Bappeda Kab. Banjar, Kabupaten Banjar Bahas Program Kemiskinan
,http://humas.banjarkab.go.id, di akses tanggal 30 Maret 2013.
79. Humas Kab. Banjar, Bappenas Apresiasi Kebijakan Kemiskinan Bupati Banjar ,
http://humas.banjarkab.go.id, di akses tanggal 30 Maret 2013.

80. BPS Provinsi Kalimantan Selatan,Berita Resmi Statistik Kondisi kemiskinan provinsi
Kalimantan Selatan Maret 2010 – Maret 2011, di akses tanggal 4 April 2013.
81. Wikipedia, Kabupaten Banjar, http://id.wikipedia.org, di akses tanggal 4 April 2013
82. Ryzmelinda,2012, Pengertian Kemiskinan Menurut beberapa Ahli,http://ryzmelindaryzmelinda.blogspot.com, diakses tanggal 30 Maret 2013.
83. http://www.psychologymania.com, 2013, Definisi Kemiskinan, di akses tanggal 4 April 2013
84. Nurhayati,Maruti, 2007, Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Kemiskinan di Jawa Barat, skripsi: Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB.
85.

Tingkat