Index of /ProdukHukum/kehutanan B U K U

B U K U:
REKALKULASI PENUTUPAN LAHAN INDONESIA TAHUN 2005

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr.wb.
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
penyusunan buku Rekalkulasi Sumber Daya Hutan Indonesia Tahun 2005 yang menampilkan Penutupan
Lahan pada Kawasan Hutan dan Areal Penggunaan Lain berdasarkan penafsiran citra Landsat 7 ETM+
liputan tahun 2002/2003 untuk seluruh wilayah Indonesia.
Buku Rekalkulasi Penutupan Lahan Indonesia Tahun 2005 merupakan pembaharuan hasil rekalkulasi
sumber daya hutan pada tahun 2003. Pada edisi tahun 2005 ini, rekalkulasi penutupan lahan Indonesia
disajikan dalam 31 provinsi termasuk Provinsi Sulawesi Barat. Beberapa penyempurnaan juga telah
dilakukan, antara lain pada visualisasi hasil perhitungan dalam bentuk grafik serta penyajian data
pendukung.
Data dan informasi yang tersaji dalam buku ini merupakan basis data penutupan lahan yang dapat diolah
lebih lanjut sesuai dengan kebutuhan pengguna. Diharapkan data dan informasi penutupan lahan di dalam
dan di luar kawasan hutan dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam pembangunan
baik secara regional maupun nasional serta dapat mendukung perencanaan pembangunan wilayah yang
terintegrasi sebagai satu kesatuan ekosistem.
Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi pembangunan kehutanan dengan memperhatikan berbagai
komitmen tentang pembangunan kehutanan yang mengacu pada Resource Base Management.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Jakarta,

Oktober 2005

Dr. Ir. BOEN M. PURNAMA, MSc
NIP. 080 037 272

ABSTRAK
Penutupan lahan pada kawasan hutan, terutama yang terkait dengan tutupan hutan berubah dengan cepat
dan sangat dinamis. Kondisi hutan yang semakin menurun dan berkurang luasnya telah menyebabkan laju
pengurangan hutan pada kawasan hutan mencapai angka ± 2,84 juta ha/tahun pada periode 1997 – 2000
atau ± 8,5 juta ha selama 3 tahun. Tingginya tekanan terhadap keberadaan hutan telah mendorong
dilakukannya monitoring sumber daya hutan secara periodik dengan interval waktu 3 tahunan. Diharapkan
dari hasil monitoring dapat diketahui: 1) Kondisi hutan Indonesia terkini sebagai bahan pendukung dalam
perencanaan pembangunan kehutanan di masa yang akan datang; 2) Laju perubahan penutupan hutan
sebagai bahan monitoring dan pengawasan terhadap pengelolaan hutan yang telah dilaksanakan; 3)
Kecenderungan perubahannya di masa yang akan datang sehingga dapat diantisipasi perubahan ke arah
yang tidak diinginkan.
Rekalkulasi atau penghitungan ulang telah dilakukan terhadap kawasan hutan seluruh Indonesia
berdasarkan data digital penutupan lahan skala 1:250.000 hasil penafsiran citra landsat 7 ETM+ liputan
tahun 2002/2003. Rekalkulasi dilakukan terhadap keberadaan dan luas tutupan lahan berhutan pada
kawasan hutan, baik pada kawasan hutan yang memiliki fungsi konservasi, lindung maupun produksi dan
Areal Penggunaan Lain di seluruh Indonesia.
Hasil rekalkulasi menunjukkan bahwa lahan berhutan terdapat pada: 1) Hutan lindung seluas 22,10 juta ha
(23,53 %); 2) Hutan konservasi seluas 14,37 juta ha
(15,29 %); 3) Hutan produksi seluas 49,49 juta ha
(52,70 %) dan 4) Areal penggunaan lain seluas 7,96 juta ha (8,47 %). Persentase dihitung terhadap luas
lahan berhutan seluruh Indonesia seluas 93,92 juta ha.

Perubahan penutupan lahan hasil penafsiran citra Landsat 7 ETM+ liputan tahun 1999/2000 terhadap liputan
tahun 2002/2003 yang diperlihatkan oleh persentase penutupan lahan terhadap luas total daratan Indonesia
untuk masing-masing liputan, menunjukkan peningkatan persentase penutupan lahan berhutan pada
sebagian besar pulau kecuali Sumatera dan Kalimantan. Namun peningkatan persentase lahan berhutan
selain dapat disebabkan oleh adanya kegiatan reforestasi juga karena bertambahnya data baru yang dapat
diamati .

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang masih memiliki hutan tropis terluas setelah Brazil dan Zaire. Keberadaan
hutan tropis Indonesia menjadi sangat penting, karena merupakan bagian dari paru-paru dunia. Oleh karena
itu banyak negara maju merasa berkepentingan untuk menyelamatkan hutan tropis yang masih tersisa dari
kerusakan, melalui berbagai kerjasama dan bantuan pendanaan kegiatan untuk mempertahankan dan
meningkatkan luas tutupan hutan.
Hutan sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang dianugerahkan kepada bangsa ini, untuk dikelola bagi
sebesar-besar kemakmuran rakyat yang berkeadilan dan berkelanjutan dengan menjamin luasan yang cukup
dan sebaran yang proporsional, sehingga dapat memberikan manfaat ekologi, sosial dan ekonomi secara
simultan, optimal dan berkesinambungan bagi generasi sekarang maupun generasi mendatang,
sebagaimana diamanatkan pada pasal 3 UU tentang Kehutanan No. 41 tahun 1999.
Untuk mewujudkan optimalisasi manfaat hutan, pemerintah telah menetapkan dan mempertahankan
kecukupan luas kawasan hutan secara proporsional dan penutupan hutan untuk setiap daerah aliran sungai
dan atau pulau, yaitu minimal 30 % (tiga puluh persen), seperti dituangkan pada pasal 18 UU
No. 41
tahun 1999. Kawasan hutan dimaksud kemudian dideliniasi sesuai dengan fungsinya, yaitu sebagai hutan
konservasi, lindung atau produksi.
Sementara itu penutupan lahan pada kawasan hutan, terutama yang terkait dengan tutupan hutan sangat
dinamis dan berubah dengan cepat dimana kondisi hutan semakin menurun dan berkurang luasnya.
Berdasarkan data yang ada, luas hutan selama periode 1985 – 1997 untuk tiga pulau besar (Sumatera,
Kalimantan dan Sulawesi) telah berkurang seluas ± 1,6 juta ha/tahun. Sedangkan perhitungan untuk lima
pulau besar, yaitu Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan Maluku menunjukkan luas penutupan hutan
telah berkurang seluas ± 1,8 juta ha/tahun, atau lebih dari 21 juta ha selama kurun waktu tersebut yang
setara dengan luas Pulau Jawa. Untuk periode 1997 – 2000 laju pengurangan hutan di dalam kawasan hutan
mencapai angka ± 2,84 juta ha/tahun atau ± 8,5 juta ha selama 3 tahun.
Beberapa kegiatan yang ditengarai sebagai penyebab pengurangan luas hutan adalah konversi kawasan
hutan untuk tujuan pembangunan sektor lain misalnya untuk perkebunan dan transmigrasi; pencurian kayu
atau penebangan liar (illegal logging); perambahan dan okupasi lahan serta kebakaran hutan.
Tingginya tekanan terhadap keberadaan hutan telah mendorong dilakukannya monitoring sumber daya hutan
secara periodik dengan interval waktu 3 tahunan. Diharapkan dari hasil monitoring dapat diketahui: 1. kondisi
hutan Indonesia terkini sebagai bahan pendukung dalam perencanaan pembangunan kehutanan di masa
yang akan datang; 2. laju perubahan penutupan hutan sebagai bahan monitoring dan pengawasan terhadap
pengelolaan hutan yang telah dilaksanakan; 3. kecenderungan perubahannya di masa yang akan datang
sehingga dapat diantisipasi perubahan ke arah yang tidak diinginkan.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka dilakukan rekalkulasi atau penghitungan ulang terhadap
keberadaan dan luas tutupan lahan berhutan dan tidak berhutan pada kawasan hutan dan areal penggunaan
lain. Penghitungan ulang penutupan lahan Indonesia dilakukan berdasarkan hasil penafsiran citra Landsat 7
ETM+ liputan tahun 2002/2003.

B.

Tujuan

Tujuan dilakukan rekalkulasi sumberdaya hutan adalah untuk menyajikan data kondisi penutupan lahan
terbaru pada kawasan hutan (hutan konservasi, hutan lindung dan hutan produksi) dan areal penggunaan
lain sebagai bahan dalam penyelenggaraan pengelolaan hutan secara lestari (Sustainable Forest
Management), mulai dari aspek perencanaan sampai pada pemantauan dan evaluasi.

C.

Sasaran

Tersedianya data dan informasi penutupan lahan Indonesia terkini, meliputi luas dan sebarannya (peta) pada
Hutan Konservasi, Hutan Lindung, dan Hutan Produksi serta Areal Penggunaan Lain.

D.

Ruang Lingkup

Penutupan lahan pada 31 provinsi di seluruh Indonesia, baik pada Kawasan Hutan maupun Areal
Penggunaan Lain yang dirinci ke dalam 23 kelas jenis penutupan hutan, kelompok hutan dan non hutan serta
kondisi hutan (primer dan sekunder).

BAB II
METODOLOGI
A.

Sumber Data

Data yang digunakan dalam rekalkulasi sumberdaya hutan adalah data digital yang tersedia pada Pusat
Inventarisai dan Perpetaan Kehutanan Badan Planologi Kehutanan pada tingkat ketelitian skala 1:250.000.
Data tersebut meliputi:
1. Data digital penutupan lahan hasil penafsiran citra Landsat 7 ETM+ liputan tahun 2002/2003.
Penutupan lahan diklasifikasi menjadi 23 klas, yaitu sebagai berikut:
a. Hutan;
1. Hutan lahan kering primer
2. Hutan lahan kering sekunder
3. Hutan rawa primer
4. Hutan rawa sekunder
5. Hutan mangrove primer
6. Hutan mangrove sekunder
7. Hutan tanaman
b. Non Hutan;
1. Semak/Belukar
2. Belukar rawa
3. Savana
4. Perkebunan
5. Pertanian lahan kering
6. Pertanian lahan kering dan Semak
7. Transmigrasi
8. Sawah
9. Tambak
10. Tanah Terbuka
11. Pertambangan
12. Pemukiman
13. Rawa
14. Airport
15. Tidak Ada Data;

16. Awan
17. Tidak Ada Data
2. Data digital kawasan hutan bersumber dari Peta Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan untuk 24
provinsi (Tahun 1999-2004) termasuk didalamnya 5 provinsi yang merupakan hasil pemekaran wilayah
(Provinsi Banten, Bangka Belitung, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku Utara), sedangkan untuk Provinsi
Sumatera Utara, Riau dan Kalimantan Tengah bersumber dari Peta Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK).
Penutupan lahan disajikan pada kawasan hutan dan areal penggunaan lain. Kawasan Hutan berdasarkan
fungsinya terdiri dari Hutan Lindung, Hutan Konservasi (KSA-KPA dan Taman Buru), Hutan Produksi (Hutan
Produksi Tetap (HP), Hutan Produksi Terbatas (HPT), Hutan Produksi yang dapat dikonversi (HPK)).
B. Analisa dan Penyajian Data
Rekalkulasi sumber daya hutan dilaksanakan melalui analisa data penutupan lahan pada kawasan hutan
provinsi dengan menggunakan teknologi Sistem Informasi Geografis. Tahapan rekalkulasi adalah sebagai
berikut :
1. Penyiapan data digital kawasan hutan dan penutupan lahan provinsi,
2. Overlay data digital penutupan lahan dengan data kawasan hutan,
3. Penghitungan luas penutupan lahan pada setiap kawasan hutan. Dalam penghitungan luas
menggunakan spesifikasi: proyeksi yang digunakan adalah Mercator, spheroid WGS 84, angka luas
dibulatkan kedalam ribu ha (belum memperhatikan tubuh air: danau dan sungai besar).
4. Penyajian luas penutupan lahan dalam bentuk peta, diagram dan tabel.
Proses selengkapnya disajikan pada Bagan 1.
Gambar 1. Bagan Alur Proses Rekalkulasi Sumberdaya Hutan

BAB III
HASIL REKALKULASI PENUTUPAN LAHAN
A.

Rekalkulasi pada Penutupan Lahan Indonesia

Salah satu hasil rekalkulasi penutupan lahan Indonesia berdasarkan data digital hasil penafsiran citra landsat
7 ETM+ liputan tahun 2002/2003 berupa peta penutupan lahan Indonesia tahun 2003 yang tersaji pada
Gambar 2.

Sumber : Data Digital Penutupan Lahan Hasil Penafsiran Citra Landsat 7 ETM+ Liputan Tahun 2002/2003

Gambar 2. Peta Penutupan Lahan Indonesia Tahun 2003
Kalkulasi penutupan lahan dilakukan terhadap seluruh daratan Indonesia seluas 187,9 juta ha pada 7
kelompok pulau besar atau 31 provinsi, yang terdiri dari kawasan hutan seluas 133,57 juta ha atau 71,1 %
dan Areal Penggunaan Lain (APL) seluas 54,34 juta ha atau 28,9 % (Tabel III.1). Persentase dihitung
terhadap luas seluruh daratan Indonesia (187,9 juta ha). Hasil rekalkulasi penutupan lahan selengkapnya
adalah:
1. Luas penutupan lahan berhutan adalah 93,92 juta ha atau 49,9 %, non hutan seluas 83,21 juta ha atau
44,3 % dan tidak teramati karena tertutup awan atau tidak tersedia data seluas 10,73 juta ha atau 5,7 %.
(Tabel III.1 dan Gambar 3).

Gambar 3. Diagram Penutupan Lahan Indonesia Tahun 2003
2. Penutupan lahan pada kawasan hutan sebesar 71,1 % atau 133,48 juta ha, 45,7 % atau 85,96 juta ha
masih berhutan, 20,8 % atau 39,09 juta ha merupakan lahan tidak berhutan (non hutan) dan selebihnya 4,5
% atau 8,52 juta ha tidak teramati karena awan dan tidak ada data (Tabel III.1). Persentase dihitung
terhadap luas seluruh daratan Indonesia (187,9 juta ha).
Tabel III.1 Penutupan Lahan Indonesia (Ribu Ha)

Gambar 4. Diagram Penutupan Lahan Indonesia Di Dalam Dan Di Luar Kawasan Hutan
3. Penyebaran penutupan lahan berhutan untuk total kawasan hutan dan areal penggunaan lain menurut
kelompok pulau besar, yang terluas terdapat di Pulau Papua yaitu seluas 31,73 juta ha atau 33,8 % dari
luasan total lahan berhutan 93,92 juta ha, dan Kalimantan seluas 25,44 juta ha atau 27,1 %, sedangkan yang
terkecil adalah pada Pulau Bali dan Nusa Tenggara seluas 1,41 juta ha atau 1,5 %. Pulau-pulau yang lain
memiliki luas penutupan lahan hutan kurang dari 15 %. Data selengkapnya tersaji pada Tabel III.2.
Tabel III.2 Penutupan Lahan Berhutan pada 7 Kelompok Pulau Besar

Gambar 5. Diagram Penutupan Lahan Berhutan pada 7 Kelompok Pulau Besar
4. Penyebaran penutupan lahan berhutan pada kawasan hutan seluruh Indonesia adalah 14,37 juta ha atau
15,29 % terdapat pada kawasan hutan konservasi, 22,10 juta ha atau 23,53 % pada kawasan hutan lindung
dan 49,50 juta ha atau 52,70 % pada kawasan hutan produksi. Lahan behutan pada Areal Penggunaan Lain
seluas 7,96 juta ha atau 8,47 % (Tabel III.3). Persentase dihitung terhadap luas total lahan berhutan
Indonesia seluas 93,92 juta ha.
Tabel III.3 Penyebaran Penutupan Lahan Berhutan di Indonesia

Gambar 6. Diagram Penutupan Lahan Berhutan Indonesia Di Dalam dan Di Luar Kawasan Hutan

5. Kondisi kawasan hutan dapat dikelompokkan atas hutan primer, hutan sekunder dan hutan tanaman
(Tabel III.4). Pada penutupan lahan berhutan seluas 93,92 juta ha, 44,77 juta ha atau 47,7 % merupakan
hutan primer, 45,15 juta ha atau 48,1 % merupakan hutan sekunder dan selebihnya merupakan hutan
tanaman, yaitu seluas 4 juta ha (4,3 %). Kondisi hutan primer terluas pada hutan lindung, sedangkan hutan
sekunder umumnya terdapat pada hutan produksi, dan sebagian pada hutan lindung. Kondisi hutan pada
areal penggunaan lain sebagian besar merupakan hutan sekunder. Hutan tanaman banyak terdapat pada
hutan produksi.
Tabel III.4 Kondisi Penutupan Lahan Berhutan

Gambar 7. Diagram Kondisi Penutupan Lahan Berhutan
Luas penutupan lahan berdasarkan kondisi hutan per fungsi kawasan hutan untuk masing-masing provinsi
disajikan pada lampiran 1. Sedangkan kondisi penutupan lahan berdasarkan 23 klas penutupan beserta
peta per provinsi untuk 31 provinsi disajikan secara lengkap pada Lampiran 2.

B.

Rekalkulasi pada Kawasan Hutan Konservasi (KSA-KPA)

Penutupan lahan pada kawasan hutan konservasi meliputi penutupan lahan di kawasan suaka alam,
kawasan pelestarian alam dan taman buru.
Berdasarkan hasil penghitungan luas penutupan lahan pada hutan konservasi per provinsi pada Tabel III.5,
terlihat bahwa :

a.

Provinsi-provinsi yang memiliki lahan berhutan lebih dari 80 % terhadap luas total kawasan hutan
konservasi wilayahnya, terdapat di Pulau Sumatera (Provinsi N.A Darussalam: 89,2 % atau 734,3 ribu ha
dari luasan 823,2 ribu ha, Sumatera Utara: 88 % atau 237,6 ribu ha dari luasan 269,9 ribu ha, Riau: 88,5 %
atau 325,2 ribu ha dari luasan 367,6 ribu ha, Bengkulu: 87,6 % atau 399,8 ribu ha dari luasan 456,5 ribu ha),
Pulau Jawa (Jawa Timur 83,6 % atau 191,4 ribu ha dari luasan 228,8 ribu ha) dan Pulau Sulawesi (Provinsi
Gorontalo: 88 % atau 170,8 ribu ha dari luasan 194,1 ribu ha, Sulawesi Tengah: 81,7 % atau 495,8 ribu ha
dari luasan 607,1 ribu ha, Sulawesi Utara: 81,4 % atau 201,7 ribu ha dari luasan 247,9 ribu ha).

b.
Provinsi-provinsi yang memiliki lahan berhutan berkisar 50 - 80 % terhadap luas total kawasan hutan
konservasi wilayahnya terdapat di Pulau Sumatera (Provinsi Sumatera Barat: 79 % atau 608,5 ribu ha dari
luasan 770,6 ribu ha, Jambi: 59 % atau 418,4 ribu ha dari luasan 709,7 ribu ha), Pulau Jawa (Provinsi Jawa
Barat: 74,5 % atau 98,6 ribu ha dari luasan 132,3 ribu ha, Banten: 73,9 % atau 61,6 ribu ha dari luasan 83,4
ribu ha), Pulau Sulawesi (Provinsi Sulawesi Selatan: 75,3 % atau 97,4 ribu ha dari luasan 129,4 ribu ha),
Pulau Bali dan Nusatenggara (Provinsi Bali: 71,5 % atau 17,1 ribu ha dari luasan 23,9 ribu ha dan seluruh
provinsi di Pulau Kalimantan, Pulau Maluku dan Maluku Utara serta Papua.
c.

Provinsi-provinsi yang memiliki lahan berhutan kisaran 25 - 50 % terdapat di Pulau Sumatera
(Provinsi Sumatera Selatan: 48,7 %, Lampung: 35,9 %), Pulau Jawa (Provinsi DIY: 43,4 %, Jawa Tengah: 31
%), Pulau Sulawesi (Provinsi Sulawesi Tenggara: 43,3 %), Pulau Bali dan Nusatenggara (Provinsi NTT:
44,8 %, NTB: 31,7 %).

d.

Pulau Jawa merupakan pulau yang memiliki provinsi dengan penutupan lahan hutan paling kecil
yaitu provinsi DKI Jakarta seluas 100 ha (20,6 % dari luasan 400 ha). Sedangkan provinsi yang tidak
memiliki kawasan hutan konservasi adalah Provinsi Bangka Belitung (Pulau Sumatera).
Data penutupan lahan di kawasan hutan konservasi selengkapnya disajikan pada Tabel III.5 berikut ini :
Tabel III.5 Luas Penutupan Lahan pada Kawasan Hutan Konservasi per Provinsi (Ribu Ha)

Hutan Konservasi terdiri dari: Kawasan Suaka Alam (KSA), yang meliputi Cagar Alam dan Suaka
Margasatwa; Kawasan Pelestarian Alam (KPA) yang meliputi Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan
Taman Wisata Alam; serta Taman Buru. Masing-masing kawasan memiliki karakteristik yang berbeda
sehingga pengelolaannya pun akan berbeda pula. Kondisi penutupan lahan pada masing-masing kawasan
konservasi merupakan bahan pertimbangan dalam penyusunan rencana pengelolaannya.

C.

Rekalkulasi pada Kawasan Hutan Lindung (HL)

Berdasarkan hasil penghitungan luas penutupan lahan pada hutan lindung per provinsi pada Tabel III.6,
terlihat bahwa :

0.

Provinsi Kalimantan Tengah memiliki lahan berhutan terluas di dalam kawasan hutan lindungnya
yaitu 95,5 % atau 797,1 ribu ha dari luasan 834,7 ribu ha. Sedangkan provinsi-provinsi yang memiliki lahan
berhutan ≥ 80 % selain Provinsi Kalimantan Tengah yaitu Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (84,5 % atau
1,57 juta ha dari luasan 1,86 juta ha), Jawa Timur (85,3 % atau 300,3 ribu ha dari luasan 351,9 ribu ha),
Kalimantan Barat (80 % atau 1,84 juta ha dari luasan 2,30 juta ha), Kalimantan Timur (83,5 % atau 2,33 juta
ha dari luasan 2,79 juta ha), Gorontalo (80,7 % atau 139,0 ribu ha dari luasan 172,3 ribu ha), Sulawesi

Tengah (85,5 % atau 1,14 juta ha dari luasan 1,34 juta ha) dan Papua (83,1 % atau 7,59 juta ha dari luasan
9,15 juta ha).

1.

Provinsi-provinsi yang memiliki lahan berhutan pada kawasan hutan lindungnya berkisar 50 – 80 %
terdapat di Pulau Sumatera (Provinsi Riau: 65,6 % atau 254,2 ribu ha dari luasan 387,4 ribu ha, Sumatera
Barat: 59,4 % atau 556,9 ribu ha dari luasan 938,2 ribu ha, Bengkulu: 70,6 % atau 173,6 ribu ha dari luasan
245,9 ribu ha, Jambi: 70,1 % atau 121,5 ribu ha dari luasan 173,3 ribu ha), Pulau Jawa (Provinsi Banten:
60,8 % atau 18,2 ribu ha dari luasan 30 ribu ha, DKI Jakarta: 65,5 % atau 78 ha dari luasan 119 ha, Jawa
Barat: 56,6 % atau 164,7 ribu ha dari luasan 290,9 ribu ha, Jawa Tengah: 63,2 % atau 47,1 ribu ha dari
luasan 74,6 ribu ha), Pulau Kalimantan (Provinsi Kalimantan Selatan: 75,3 % atau 367,8 ribu ha dari luasan
488,8 ribu ha), Pulau Sulawesi (Provinsi Sulawesi Utara: 52,2 % atau 95,6 ribu ha dari luasan 183,0 ribu ha,
Sulawesi Tenggara: 65 % atau 701,9 ribu ha dari luasan 1,08 juta ha, Sulawesi Barat: 76 % atau 512,9 ribu
ha dari luasan 675,3 ribu ha, Sulawesi Selatan: 53,6 % atau 704,8 ribu ha dari luasan 1,31 juta ha), Pulau
Bali dan Nusatenggara (Provinsi NTB: 54,4 % atau 261,2 ribu ha dari luasan 480,4 ribu ha, NTT: 51,5 %
atau 358,2 ribu ha dari luasan 695,3 ribu ha), Provinsi Maluku (59,9 % atau 381,0 ribu ha dari luasan 635,7
ribu ha) dan Provinsi Maluku Utara (76,7 % atau 551,3 ribu ha dari luasan 719,1 ribu ha.

2.

Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung, DI Yogyakarta dan Bali
memiliki lahan berhutan di kawasan hutan lindungnya kurang dari 50 %. Provinsi Lampung memiliki lahan
berhutan terkecil yaitu 13,9 % atau 44,4 ribu ha dari luasan 318,1 ribu ha.

3.

Data penutupan lahan pada kawasan hutan lindung selengkapnya disajikan pada Tabel III.6 berikut

ini :
Tabel III.6 Luas Penutupan Lahan pada Kawasan Hutan Lindung per Provinsi (Ribu Ha)

Untuk Provinsi DKI Jakarta dengan luasan lahan berhutan yang minim memerlukan peran kawasan lindung
setempat yaitu sempadan sungai, danau dan jalur hijau serta pembangunan hutan kota sebagai upaya
konservasi dan pengatur tata air untuk wilayah tersebut.
Hutan lindung merupakan kawasan yang memiliki fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk
mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, memelihara kesuburan tanah dan mencegah
intrusi air laut. Di sisi lain pertambahan penduduk telah menyebabkan meningkatnya tekanan terhadap
kawasan hutan, khususnya hutan lindung, untuk memenuhi kebutuhan akan lahan garapan bagi masyarakat
sekitar hutan. Terbukanya penutupan lahan berhutan pada hutan lindung akibat penebangan liar dan alih
guna lahan menjadi lahan pertanian telah menyebabkan berbagai bencana erosi dan tanah longsor,
timbulnya kekeringan pada saat musim kemarau dan banjir pada saat musim hujan, seperti yang terjadi
dalam beberapa tahun terakhir ini. Untuk mencegah terbukanya penutupan lahan berhutan di hutan lindung,
pemanfaatan kawasan hutan lindung yang sesuai dengan daya dukung kawasan dapat dilakukan dengan
mempertahankan jenis kayu-kayuan penghasil produk hasil hutan bukan kayu dan tanaman budidaya bagi

masyarakat. Dengan demikian dapat mengakomodir kepentingan fungsi tata air hutan lindung dan sebagai
sumber penghasilan bagi masyarakat sekitar hutan.

D.

Rekalkulasi pada Kawasan Hutan Produksi

Penutupan lahan pada kawasan hutan produksi terdiri dari penutupan lahan di Hutan Produksi Tetap (HP),
Hutan Produksi Terbatas (HPT) dan Hutan Produksi yang dapat di-Konversi (HPK).

0.

Hutan Produksi Tetap (HP)

Berdasarkan hasil penghitungan luas penutupan lahan pada hutan produksi tetap per provinsi pada Tabel
III.7, terlihat bahwa :

a.
Provinsi Papua memiliki lahan berhutan terluas yaitu 81,3 % atau 8,09 juta ha dari
luasan 9,95 juta ha. Sedangkan provinsi yang memiliki lahan berhutan berkisar antara 50 – 80 % terdapat di
Pulau Sumatera (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam: 61,4 % atau 396,5 ribu ha dari luasan 645,5 ribu ha,
Riau: 63,8 % atau 1,16 juta ha dari luasan 1,82 juta ha, Sumatera Barat: 64,9 % atau 274,9 ribu ha dari
luasan 423,8 ribu ha, Bengkulu: 54 % atau 20,5 ribu ha dari luasan 38,0 ribu ha), Pulau Jawa (Provinsi Jawa
Tengah: 69,6 % atau 331,0 ribu ha dari luasan 475,6 ribu ha, DI Yogyakarta: 69,9 % atau 8,8 ribu ha dari
luasan 12,6 ribu ha, Jawa Timur: 76,8 % atau 647,5 ribu ha dari luasan 842,6 ribu ha), Pulau Kalimantan
(Provinsi Kalimantan Tengah; 54,9 % atau 3,29 juta ha dari luasan 5,99 juta ha), Pulau Sulawesi (Provinsi
Sulawesi Utara: 51,5 % atau 34,2 ribu ha dari luasan 66,4 ribu ha, Gorontalo: 61,9 % atau 61,5 ribu ha dari
luasan 99,4 ribu ha, Sulawesi Tengah: 67,8 % atau 315,9 ribu ha dari luasan 465,9 ribu ha , Sulawesi Barat:
66,3 % atau 42,7 ribu ha dari luasan 64,4 ribu ha), Provinsi NTT (54 % atau 169,4 ribu ha dari luasan 313,8
ribu ha) dan Provinsi Maluku Utara (60,8 % atau 323,4 ribu ha dari luasan 531,5 ribu ha).
b.
Provinsi yang memiliki lahan berhutan kurang dari 50 % yaitu Provinsi Sumatera
Utara, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Kalimantan Barat,
Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Bali, NTB dan Maluku.
c.

Provinsi yang memiliki lahan berhutan kurang dari 5 % yaitu Lampung (4,9 % atau
8,2 ribu ha dari luasan 169,9 ribu ha), DKI Jakarta (2,8 % atau 6 ha dari 200 ha) dan Bali (4,5 % atau 100 ha
dari luasan 2,1 ribu ha).
Data penutupan lahan pada kawasan hutan produksi tetap, selengkapnya disajikan pada Tabel III.7 berikut
ini :
Tabel III.7 Luas Penutupan Lahan pada Kawasan Hutan Produksi Tetap per Provinsi (Ribu Ha)

Kawasan hutan produksi tetap umumnya diperuntukkan bagi pemanfaatan hasil hutan kayu. Dari 31 provinsi
di seluruh Indonesia, 16 provinsi diantaranya memiliki penutupan lahan berhutan di hutan produksi tetap
lebih dari 50 %.
Kondisi Hutan Produksi Tetap didominasi oleh jenis hutan sekunder kecuali pulau Papua yang masih
memiliki hutan primer cukup luas. Hutan sekunder di Pulau Sumatera meliputi 2,56 juta ha sedangkan hutan
primernya hanya 142,7 ribu ha. Pulau Jawa memiliki hutan tanaman yang terluas dibandingkan dengan
pulau-pulau lainnya (antara lain tanaman jati dan pinus, sesuai kelas perusahaan yang dikelola oleh Perum
Perhutani). Pulau Bali, Sulawesi dan Papua memiliki hutan tanaman yang relatif sedikit dibandingkan dengan
hutan tanaman di pulau lainnya. Oleh karena itu, kegiatan hutan tanaman di wilayah tersebut dapat lebih
dikembangkan guna meningkatkan pasokan kayu untuk memenuhi kebutuhan industri kehutanan.

1.

Hutan Produksi Terbatas (HPT)

Berdasarkan hasil penghitungan luas penutupan lahan pada hutan produksi terbatas per provinsi pada Tabel
III.8, terlihat bahwa :

a.
Provinsi Kalimantan Tengah memiliki lahan berhutan terluas sebesar 88 % atau
2,97 juta ha dari luasan 3,38 juta ha. Provinsi-provinsi lain yang memiliki lahan berhutan lebih dari 80 %
adalah provinsi Gorontalo (81,1 % atau 285,7 ribu ha dari luasan 352,4 ribu ha), Sulawesi Tengah (83,7 %
atau 1,19 juta ha dari luasan 1,42 juta ha) dan Papua (87,2 % atau 3,21 juta ha dari luasan 3,68 juta ha).
b.

Provinsi-provinsi yang memiliki lahan berhutan berkisar antara 50-80 % untuk Pulau
Sumatera adalah: Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 50,9 % (19,2 ribu ha dari luasan 37,7 ribu ha), Riau
55,1 % (1,28 juta ha dari luasan 2,33 juta ha), Sumatera Barat 61,2 % (136,6 ribu ha dari luasan 223,3 ribu
ha), Bengkulu 55,8 % (103,6 ribu ha dari luasan 185,5 ribu ha), Jambi 60,2 % (181,1 ribu ha dari luasan
301,0 ribu ha). Di Pulau Jawa adalah: Jawa Tengah 57,9 % atau 68,3 ribu ha dari luasan 117,8 ribu ha), dan
di Kalimantan adalah: Kalimantan Barat 62,5 % (1,5 juta ha dari luasan 2,41 juta ha), Kalimantan Timur 77,7
% (4,02 juta ha dari luasan 5,17 juta ha), Kalimantan Selatan 68,5 % (90,8 ribu ha dari luasan 132,6 ribu ha).
Di Pulau Sulawesi adalah: Sulawesi Utara 64,3 % (140,2 ribu ha dari luasan 218,1 ribu ha), Sulawesi
Tenggara 68,1 % (314,6 ribu ha dari luasan 462,2 ribu ha), Sulawesi Barat 76,2 % (275,7 ribu ha dari luasan
361,6 ribu ha). Provinsi lainnya adalah: NTB 56,4 % (157,0 ribu ha dari luasan 278,2 ribu ha), Maluku 65 %
(604,9 ribu ha dari luasan 929,9 ribu ha), Maluku Utara 70,6 % (468,3 ribu ha dari luasan 663,3 ribu ha).

c.

Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Sulawesi Selatan
dan Bali memiliki lahan berhutan kurang dari 50 %. Sedangkan Provinsi Lampung memiliki lahan berhutan
dengan persentase terkecil yaitu 14,1 % atau 5 ribu ha dari luasan 35,3 ribu ha.

d.

Data penutupan lahan pada kawasan hutan produksi terbatas, selengkapnya
disajikan pada Tabel III.8 berikut ini :
Tabel III.8 Luas Penutupan Lahan pada Kawasan Hutan Produksi Terbatas per Provinsi (Ribu Ha

Kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) merupakan cadangan potensi kayu dan sumber benih permudaan
alam. Dari hasil rekalkulasi sumberdaya hutan pada seluruh provinsi, sebagian besar provinsi memiliki lahan
berhutan kurang dari 80 % dengan penutupan hutan sekunder yang lebih luas dibandingkan hutan
primernya. Hanya 4 provinsi yang memiliki lahan berhutan yang lebih dari 80 % yaitu Kalimantan Tengah,
Gorontalo, Sulawesi Tengah dan Papua.
Pada hutan produksi terbatas, pulau Sumatera dan Jawa memiliki hutan tanaman yang relatif lebih luas
dibandingkan pulau-pulau lainnya. Upaya regenerasi jenis-jenis kayu unggulan dan langka penting untuk
dipertimbangkan dalam rangka pengembangan hutan tanaman dan mempertahankan keanekaragaman jenis
flora endemik yang ada di Indonesia.

2.

Hutan Produksi yang dapat di-Konversi (HPK)

Berdasarkan hasil penghitungan luas penutupan lahan pada hutan produksi yang dapat dikonversi per
provinsi pada Tabel III.9, terlihat bahwa :

a.

Tidak seluruh provinsi memiliki kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi.
Provinsi NA. Darussalam, Bengkulu, Jambi, Bangka Belitung, Lampung, Kalimantan Timur, Bali, NTB dan
seluruh provinsi di Pulau Jawa tidak memiliki kawasan HPK.

b.

Provinsi yang memiliki lahan berhutan lebih dari 70 % adalah Provinsi Sulawesi
Tengah (73,9 % atau 201,2 ribu ha dari luasan 272,2 ribu ha) dan Papua (75,9 % atau 6,66 juta ha dari
luasan 8,78 juta ha).

c.
Provinsi yang memiliki lahan berhutan berkisar antara 50 – 70 % adalah Provinsi
Sumatera Barat (52,1 % atau 93,2 ribu ha dari luasan 178,9 ribu ha), Kalimantan Barat (57,1 % atau 287,9
ribu ha dari luasan 504,3 ribu ha) dan Sulawesi Utara (61,3 % atau 9,4 ribu ha dari luasan 15,3 ribu ha).
d.

Provinsi-provinsi yang memiliki lahan berhutan kurang dari 50 % adalah Provinsi
Sumatera Utara (16,6 % atau 59,7 ribu ha dari luasan 360,4 ribu ha), Riau (21,3 % atau 982,6 ribu ha dari
luasan 4,61 juta ha), Sumatera Selatan (1,2 % atau 7,1 ribu ha dari luasan 590,5 ribu ha), Kalimantan
Tengah (31% atau 1,34 juta ha dari luasan 4,32 juta ha), Kalimantan Selatan (20,3 % atau 40,4 ribu ha dari
luasan 199,3 ribu ha), Gorontalo (45,7 % atau 9,3 ribu ha dari luasan 21,5 ribu ha), Sulawesi Tenggara (22,3
% atau 38,7 ribu ha dari luasan 173,6 ribu ha), Sulawesi Barat (32,1 % atau 25,9 ribu ha dari luasan 80,7 ribu
ha), Sulawesi Selatan (44,3 % atau 10,1 ribu ha dari luasan 22,7 ribu ha), NTT (13 % atau 14,9 ribu ha dari
luasan 114,3 ribu ha), Maluku (36,4 % atau 597,3 ribu ha dari luasan 1,64 juta ha) dan Maluku Utara (36,7 %
atau 313 ribu ha dari luasan 853,5 ribu ha).

e.

Provinsi Sumatera Selatan memiliki lahan berhutan terkecil seluas 7,1 ribu ha atau
1,2 % dari luasan 590,5 ribu ha.

f.

Provinsi yang memiliki luas kawasan HPK relatif kecil dibandingkan provinsi lainnya
adalah Provinsi Sulawesi Utara seluas 15,3 ribu ha dengan penutupan berhutan sebesar 61,3 %.
Data penutupan lahan pada kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi selengkapnya disajikan pada
Tabel III.9 berikut ini :
Tabel III.9 Luas Penutupan Lahan pada Kawasan Hutan Produksi Yang Dapat Di-Konversi per
Provinsi (Ribu Ha)

Hutan Produksi yang dapat di-Konversi (HPK) adalah kawasan hutan di luar hutan tetap dan tidak setiap
provinsi memiliki HPK. Umumnya kawasan HPK diperuntukkan bagi kegiatan transmigrasi dan perkebunan,
dengan alternatif pelepasan kawasan menjadi kawasan Non Hutan Negara atau Areal Penggunaan Lain
(APL).
Pelaksanaan kegiatan transmigrasi dan perkebunan yang belum dilaksanakan sesuai ketentuan dapat
mengakibatkan timbulnya okupasi areal oleh masyarakat setempat. Oleh karena itu, perlu adanya upaya
penyempurnaan pelaksanaan pengelolaan kawasan hutan yang dapat dikonversi, terutama dalam hal
regulasi proses pelepasan kawasan hutan untuk penggunaan non kehutanan, sehingga kegiatan
pemanfaatan kawasan tersebut dapat memberikan jaminan sumber daya alam dan keberlangsungan
pengusahaannya.

E.

Rekalkulasi pada Areal Penggunaan Lain

Berdasarkan hasil penghitungan luas penutupan lahan pada areal penggunaan lain per provinsi pada Tabel
III.10, terlihat bahwa :

0.

Provinsi yang memiliki lahan berhutan lebih dari 30 % adalah Provinsi Kalimantan Timur (34 % atau
1,64 juta ha dari luasan 4,81 juta ha), Sulawesi Tengah (33,2 % atau 641,3 ribu ha dari luasan 1,93 juta ha),
NTT (34,5 % atau 1,07 juta ha dari luasan 3,10 juta ha) dan Papua (57,8 % atau 625,6 ribu ha dari luasan
1,08 juta ha).

1.
Provinsi-provinsi yang memiliki lahan berhutan berkisar antara 10-30% di Pulau Sumatera adalah
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (17,3 % atau 392,2 ribu ha dari luasan 2,26 juta ha), Sumatera Barat
(11,6 % atau 191,3 ribu ha dari luasan 1,64 juta ha), di Pulau Jawa adalah: Jawa Timur (12,1 % atau 419
ribu ha dari luasan 3,46 juta ha). Di Kalimantan adalah: Kalimantan Barat (16,7 % atau 942,4 ribu ha dari
luasan 5,64 juta ha), Kalimantan Tengah (15,8 % atau 10,2 ribu ha dari luasan 64,6 ribu ha), Kalimantan
Selatan (10,4 % atau 198,4 ribu ha dari luasan 1,91 juta ha). Di Pulau Sulawesi adalah: Gorontalo (12,9 %
atau 44,9 ribu ha dari luasan 348,8 ribu ha), Sulawesi Tenggara (11,3 % atau 123,4 ribu ha dari luasan 1,09
juta ha), Sulawesi Barat (10,5 % atau 51,9 ribu ha dari luasan 496,4 ribu ha). Provinsi lainnya adalah: NTB
(22,7 % atau 210,4 ribu ha dari luasan 925,1 ribu ha), Maluku (24,9 % atau 92,3 ribu ha dari luasan 370,5
ribu ha) dan Maluku Utara (25,6 % atau 83,7 ribu ha dari luasan 326,6 ribu ha).
2.

Provinsi Lampung (0,5 % atau 11,3 ribu ha dari luasan 2,43 juta ha) dan DKI Jakarta (0,1 % atau 100
ha dari luasan 70 ribu ha) merupakan provinsi dengan luasan lahan berhutan kurang dari 1 %.

3.
Provinsi Kalimantan Tengah memiliki luas kawasan areal penggunaan lain terkecil seluas 64,6 ribu
ha dengan lahan berhutan sebesar 15,8 % atau 10,2 ribu ha dari luasan 64,6 ribu ha.
Data penutupan lahan pada areal penggunaan lain selengkapnya disajikan pada Tabel III.10 berikut ini :
Tabel III.10 Luas Penutupan Lahan pada Areal Penggunaan Lain (APL) Per Provinsi (Ribu Ha)

Dari total Areal Penggunaan Lain seluas 54.34 juta ha, seluas 7.96 juta ha atau 14,6 % merupakan
penutupan berhutan. Penutupan lahan berhutan di APL didominasi oleh penutupan hutan sekunder seluas
5,79 juta ha. Keberadaan hutan primer pada APL seluas 1,06 juta ha memerlukan kecermatan dalam
pengelolaannya yaitu dalam hal penataan batas dan pemanfaatannya, karena merupakan aset yang penting
sebagai sistem penyangga kehidupan di tengah maraknya penebangan di dalam kawasan hutan. Areal ini
juga dapat dicadangkan sebagai kawasan hutan negara sebagai alternatif pengganti peran fungsi hutan dari
kawasan hutan yang telah terdegradasi. Sebagai contoh, hutan primer di APL pada Provinsi Kalimantan
Timur yang meliputi 295,9 ribu ha, sementara kerusakan hutan akibat penebangan liar dan kebakaran hutan
terus bertambah.

F.

Perbandingan Persentase Luas Penutupan Lahan Indonesia Tahun 2000 dan 2003

Penafsiran penutupan lahan Indonesia dengan menggunakan citra landsat 7 ETM+ telah dilakukan
berdasarkan liputan tahun 1999/2000 dan tahun 2002/2003. Untuk mengetahui perubahan penutupan lahan
antara tahun 1999/2000 sampai tahun 2002/2003, pada Tabel III.11 berikut disajikan perbandingan luas
penutupan lahan berdasarkan citra landsat liputan tahun 1999/2000 dan liputan tahun 2002/2003 dalam
bentuk persentase terhadap luas total daratan Indonesia.

Tabel III.11 Perbandingan Persentase Luas Penutupan Lahan Tahun 2000 dan Tahun 2003

Pada tabel di atas terlihat persentase penutupan lahan berhutan di dalam kawasan hutan bertambah untuk
Pulau Jawa, Bali, Sulawesi, Maluku dan Papua. Sedangkan Pulau Sumatera dan Kalimantan mengalami
pengurangan penutupan lahan berhutan. Bertambahnya penutupan berhutan belum tentu disebabkan oleh
adanya reforestasi atau penghutanan kembali, karena persentase Tidak Ada Data umumnya juga
berkurang. Hal ini berarti di tahun 2003 ada data baru yang dapat diamati, dimana pada pengamatan tahun
2000 tertutup awan atau tidak tersedia data sedangkan di tahun 2003 teramati berupa penutupan berhutan.
Kecuali untuk kawasan hutan di Pulau Jawa, peningkatan persentase lahan berhutan (dari 14,0 % menjadi
16,2 %) diiringi dengan pengurangan lahan non hutan (dari 8,9 % menjadi 6,7 %), dengan persentase yang
tetap untuk Tidak Ada Data (0,5 %). Untuk Pulau Sulawesi peningkatan persentase lahan berhutan
dibarengi dengan peningkatan lahan non hutan, sedangkan persentase Tidak Ada Data berkurang, sehingga
dapat diduga selain reforestasi juga dapat disebabkan oleh adanya data yang baru diketahui.
Perubahan penutupan lahan untuk APL memiliki kecenderungan perubahan yang sama dengan kawasan
hutan, kecuali APL di Pulau Sulawesi mengalami penurunan persentase penutupan lahan berhutan,
sementara non hutan meningkat dan Tidak Ada Data berkurang. Sedangkan di Papua luas berhutan di APL
relative tetap walaupun non hutan meningkat dan Tidak ada Data menurun.
Kondisi penutupan lahan bersifat dinamis dan berubah dengan cepat. Dalam perkembangannya selama
tahun 2000 sampai dengan 2003, terjadi perubahan penutupan lahan pada kawasan hutan khususnya pada
kawasan hutan produksi. Pada hutan produksi yang terkait dengan HPH terjadi pengurangan jumlah HPH
yang cukup signifikan yang berdampak pada berkurangnya perubahan lahan hutan menjadi lahan non hutan.
Jumlah HPH pada tahun 2000 sebanyak 362 unit dengan total luas 39,16 juta ha, sedangkan pada tahun

2003 berkurang menjadi 267 unit dengan total luas 27,80 juta ha. Untuk hutan produksi kaitannya dengan
pembangunan HTI juga terjadi perubahan penutupan lahan yang berdampak pada penambahan lahan
berhutan. Sepanjang tahun 2000 sampai dengan 2002, total realisasi penanaman HTI seluruh Indonesia
adalah seluas 268.297 ha . Namun realisasi penanaman HTI dalam kurun waktu 2000 – 2003 ini pada citra
satelit dengan resolusi sedang akan tampak sebagai lahan terbuka sampai semak/belukar.
Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, pada tahun 2000
sebaran kawasan konservasi daratan di Indonesia sebanyak 356 unit dengan luas total 17,85 juta ha. Pada
tahun 2003 mengalami peningkatan luas kawasan konservasi daratan menjadi 447 unit dengan luas total
21,51 juta ha dan menjadi seluas 4,73 juta ha (39 unit) pada kawasan konservasi laut. Dengan
meningkatnya luas kawasan konservasi diharapkan dapat menekan laju deforestasi/ degradasi hutan.
Kegiatan pelepasan kawasan untuk kegiatan perkebunan dan transmigrasi serta penggunaan kawasan untuk
kuasa pertambangan juga berpengaruh terhadap dinamika kondisi penutupan lahan. Sampai dengan tahun
2000, kawasan hutan seluas 4,56 juta ha telah dilepaskan untuk digunakan bagi kegiatan perkebunan dan
transmigrasi. Adanya moratorium (penghentian sementara) pelepasan kawasan hutan untuk kegiatan
perkebunan pada tahun 2000 menyebabkan tidak ada lagi pelepasan kawasan hutan untuk kegiatan
perkebunan sampai dengan tahun 2003 . Akan tetapi moratorium ini hanya berlaku bagi permohonan baru,
sedangkan proses permohonan yang sudah berjalan tetap dilanjutkan walaupun sampai tahun 2003 belum
ada realisasi pelepasan kawasan hutan. Demikian pula untuk kegiatan transmigrasi, dari 1997 sampai
dengan Agustus 2005 tidak ada SK Pelepasan Kawasan Hutan yang diterbitkan.
Kawasan hutan yang telah dipinjampakaikan untuk kegiatan non kehutanan sampai dengan Maret 2005
adalah seluas 76.975,14 ha, dan seluas 76.962,08 ha diantaranya digunakan untuk kegiatan pertambangan
terbuka antara lain batubara, emas dmp (dan mineral pengikutnya), serta pengeboran panasbumi (Pusat
Pengukuhan dan Penatagunaan Kawasan Hutan). Kegiatan pertambangan terbuka, termasuk sarana
pendukungnya seperti jalan, base camp, dan lainnya, menjadi salah satu sebab terbukanya tutupan hutan
menjadi tidak berhutan.
Realisasi tahun 2003 tidak dimasukkan dalam perhitungan untuk menghindari over estimate, karena data
citra landsat yang digunakan merupakan hasil akuisisi dari tanggal 2 Februari 2002 sampai 31 Mei 2003,
sedangkan penanaman HTI umumnya dilaksanakan pada musim hujan di akhir tahun. (Sumber data realisasi
hutan tanaman: Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan).
Berdasarkan surat Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 603/MENHUTBUN-VIII/2000 tanggal 22 Mei
2000

BAB IV
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
A.

Kesimpulan

1.

Berdasarkan hasil penafsiran citra landsat 7 ETM+ liputan tahun 2002/2003 Indonesia
memiliki kawasan hutan seluas 133,57 juta ha (71,1 %) dan areal penggunaan lain seluas 54,34 juta (28,9
%). Persentase dihitung terhadap luas seluruh daratan Indonesia (187,9 juta ha).

2.

Berdasarkan hasil rekalkulasi penutupan lahan pada kawasan hutan dan areal penggunaan
lain, terdapat lahan berhutan seluas 93,92 juta ha atau 49,9 % dari luas daratan Indonesia, lahan tidak
berhutan seluas 83,21 juta ha (44,3 %) dan tidak teramati karena tertutup awan seluas 10,73 juta ha (5,7 %).

3.

Di dalam kawasan hutan terdapat lahan berhutan seluas 85,96 juta ha atau 45,7 % dari luas
daratan Indonesia (187,9 juta ha), lahan tidak berhutan (non hutan) seluas 39,09 juta ha atau 20,8 % dan
selebihnya 8,52 juta ha atau 4,5 % tidak teramati (tertutup awan atau tidak tersedia data citra).

4.

Hasil rekalkulasi menunjukkan total penutupan lahan berhutan untuk seluruh Indonesia pada
hutan konservasi seluas 14,37 juta ha (72,3 % dari luas total hutan konservasi 19,88 juta ha); hutan lindung
seluas 22,10 juta ha (73,5 % dari luas total hutan lindung 30,05 juta ha); hutan produksi tetap seluas 20,62
juta ha (58,5 % dari luas total hutan produksi tetap 35,26 juta ha); hutan produksi terbatas seluas 18,18 juta
ha (70,9 % dari luas total hutan produksi terbatas 25,66 juta ha); hutan produksi yang dapat dikonversi
seluas 10,69 juta ha (47 % dari luas total hutan produksi yang dapat dikonversi 22,73 juta ha) dan areal
penggunaan lain seluas 7,96 juta ha (14,6 % dari luas total areal penggunaan lain 54,34 juta ha).

5.

Perbandingan antara hasil penafsiran citra landsat 7 ETM+ liputan tahun 1999/2000 dengan
tahun 2002/2003 berdasarkan persentase penutupan lahan terhadap total luas daratan Indonesia, umumnya
terjadi peningkatan penutupan lahan berhutan baik di dalam kawasan hutan maupun APL. Perubahan ini
selain disertai oleh penurunan penutupan non hutan juga berkurangnya persentase Tidak Ada Data,
sehingga penambahan lahan berhutan dapat disebabkan oleh kegiatan reforestasi dan tersedianya data baru
yang dapat diamati.

B.

Saran dan Rekomendasi

1.

Sebagai bahan pertimbangan pembangunan kehutanan yang berorientasi Resource Base
Management, data dan informasi hasil rekalkulasi penutupan lahan pada kawasan hutan perlu terus
disempurnakan, antara lain dengan data batas kawasan hutan yang lebih akurat dan lebih mendekati kondisi
di lapangan.

2.
Guna meningkatkan akurasi data perubahan penutupan lahan, perlu segera dilakukan
penyesuaian data dasar yang digunakan, sehingga perubahan penutupan lahan baik dalam angka maupun
peta dapat disajikan.
3.

Secara bertahap perlu dilakukan penyusunan basis data spasial terpadu mulai dari di tingkat
pusat, provinsi dan kabupaten/kota dalam satu system. Karena perubahan beberapa data lebih mudah
diakses dari level provinsi atau kabupaten/kota (seperti misalnya pemekaran wilayah), maka pemutakhiran
data dapat dilakukan dengan lebih cepat.

DAFTAR PUSTAKA
Anonimous, 2000. Statistik Kehutanan 2000. Departemen Kehutanan.
Anonimous, 2003. Statistik Kehutanan 2003. Departemen Kehutanan.
Anonimous, 2004. Data Strategis Kehutanan 2004. Departemen Kehutanan.


Dokumen yang terkait

Analisis Komparasi Internet Financial Local Government Reporting Pada Website Resmi Kabupaten dan Kota di Jawa Timur The Comparison Analysis of Internet Financial Local Government Reporting on Official Website of Regency and City in East Java

19 790 7

Analisis Komposisi Struktur Modal Pada PT Bank Syariah Mandiri (The Analysis of Capital Structure Composition at PT Bank Syariah Mandiri)

22 283 6

Hubungan antara Kondisi Psikologis dengan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Kelas IX Kelompok Belajar Paket B Rukun Sentosa Kabupaten Lamongan Tahun Pelajaran 2012-2013

12 152 5

An Analysis of illocutionary acts in Sherlock Holmes movie

26 142 96

Improping student's reading comprehension of descriptive text through textual teaching and learning (CTL)

8 135 133

Teaching speaking through the role play (an experiment study at the second grade of MTS al-Sa'adah Pd. Aren)

6 117 55

Enriching students vocabulary by using word cards ( a classroom action research at second grade of marketing program class XI.2 SMK Nusantara, Ciputat South Tangerang

11 126 101

The Effectiveness of Computer-Assisted Language Learning in Teaching Past Tense to the Tenth Grade Students of SMAN 5 Tangerang Selatan

4 91 138

Analysis On Students'Structure Competence In Complex Sentences : A Case Study at 2nd Year class of SMU TRIGUNA

8 97 53

The correlation between listening skill and pronunciation accuracy : a case study in the firt year of smk vocation higt school pupita bangsa ciputat school year 2005-2006

9 123 37

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

69 1617 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 416 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 376 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

8 236 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 345 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 487 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 428 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 276 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

13 446 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 510 23