TEOLOGI PERJANJIAN LAMA PAK RISSON 10 RE

TEOLOGI PERJANJIAN LAMA

TEOLOGI SAKRAMEN PL

OLEH :
SAHALA HALOMOAN SIBORO
NIM : 1001064
MATA KULIAH : TEOLOGIA PL I
DOSEN : RISSON S. MANIK, M.Th

SEKOLAH TINGGI THEOLOGIA PAULUS MEDAN
T/A 2014

PENGERTIAN SAKRAMEN
Dari bahasa Latin scramentum, berarti 'sumpah', seperti yang dilakukan anak muda yang
bergabung dengan angkatan darat Romawi. Sudah pada zaman gubernur Plinius (112 M) istilah sakramen
digunakan untuk upacara keagamaan Kristen. Plinius salah mengerti, menganggap sakramen Kristen itu
sumpah untuk tidak melakukan kejahatan. Terjemahan Alkitab Latin, Vulgata, menerjemahkan kata
Yunani mysterion dengan sacramentum, yang menyebabkan baptisan dan Perjamuan Kudus menjadi
sakramen yang dimaksud. Oleh Gereja Abad Pertengahan ditambahkan upacara keagamaan lain pada
pengertian sakramen itu, tetapi Gereja Reformasi membatasinya pada dua sakramen yang jelas disebutkan
dalam PB (Mat. 28:19, dan 1Kor. 11:23-25). Petunjuk alkitabiah untuk upacara-upacara lain tidaklah
jelas. Biasa dianggap orang bahwa baptisan di gereja itu sejajar dengan upacara penerimaan sebagai
anggota umat Allah di PL (sunat) dan Perjamuan Kudus berhubungan dengan perayaan penebusan dalam
PL ( Paskah).
Kata 'sakramen' (Latin sacramentum) dalam arti teknis teologis, bila digunakan untuk melukiskan
upacara-upacara tertentu dari iman Kristen, termasuk ke dalam masa perkembangan doktrin pada kurun
waktu yg jauh kemudian sesudah zaman PB. Kitab Vulgata di beberapa bagiannya menggunakan kata ini
untuk menerjemahkan Yunani musterion (Ef 5:32; Kol 1:27; 1 Tim 3:16; Why 1:20; 17:7), namun yg
lebih biasa dipakai ialah musterium. Penggunaannya secara gerejawi pada waktu yg lebih dini, yakni
sacramentum, dipakai dalam arti luas untuk sembarang upacara atau hal yg lebih sakral.
Dalam kehidupan sehari-hari kata itu digunakan dalam dua cara: (1) sebagai ikrar atau jaminan yg
diserahkan kepada 'orang kepercayaan yg terjamin menjaga kerahasiaan', oleh pihak-pihak yg terlibat
dalam masalah tuntutan hukum dan diperuntukkan bagi tujuan suci; (2) sebagai sumpah tentara Romawi
kepada kaisar, dan kemudian untuk sumpah apa saja. Gagasan-gagasan ini kemudian digabungkan untuk
menghasilkan konsep upacara suci keagamaan yg merupakan janji atau tanda. Penerimaan upacara suci
itu mencakup pengikraran sumpah kesetiaan, dan ini dalam perjalanan waktu mengarah ke pembatasan
kata 'sakramen' kepada dua upacara lembaga ilahi yg utama, yaitu Baptisan dan Perjamuan Kudus.
Penggunaan yg lebih luas berlangsung terus berabad-abad lamanya. Hugo St. Victor (abad 12) dapat
berbicara tentang 30 macam sakramen, tapi Petrus Lombardus pada zaman yg sama memperkirakan 7
saja. Perkiraan yg terakhir secara resmi diterima oleh gereja Roma.
Definisi umum tentang sakramen yg diterima oleh gereja Reformasi dan Roma Katolik, ialah
bahwa sakramen merupakan tanda lahiriah yg nampak, ditetapkan oleh Kristus, menyatakan dan
menjanjikan suatu berkat rohani. Definisi tersebut banyak dipengaruhi oleh ajaran dan bahasa Agustinus,
yg menulis tentang bentuk yg nampak yg mengandung keserupaan dengan hal yg tak nampak.

Jika kepada 'unsur' ini, atau bentuk yg nampak itu, perkataan lembaga Kristus ditambahkan, suatu
sakramen telah dibuat, sehingga sakramen dapat disebut sebagai 'firman yg nampak' (lih Augustine,
Tracts on the Gospel of John. 80, Epis. 98, Con. Faustum 19. 16, Serm. 272). Kewajiban untuk terus
melaksanakan upacara-upacara sakramental tergantung pada: (1) pelembagaannya oleh Kristus; (2)
perintah yg dinyatakan-Nya untuk terus melaksanakannya; (3) penggunaannya yg hakiki sebagai lambang
tindakan Allah yg integral dengan pernyataan Injil. Hanya ada dua upacara wajib bagi semua orang
Kristen dalam cara ini. Tidak ada petunjuk alkitabiah untuk melayankan apa yg disebut upacara-upacara
sakramental lainnya (yaitu Konfirmasi, Penahbisan, Pernikahan, Penitentia, Pemberian Minyak Suci
Terakhir) kedudukan yg sama dengan Baptisan dan Perjamuan Kudus, yg sejak semula dikaitkan bersama
pemberitaan Injil dan kehidupan gereja (Kis 2:41, 42; bnd 1 Kor 10:1-4). Kedua sakramen itu dikaitkan
dengan sunat dan paskah, upacara-upacara wajib dalam PL (Kol 2:11; 1 Kor 5:7; 11:26).
Kehidupan Kristen sejak semula dan seterusnya juga dikaitkan dengan peringatan-peringatan
sakramental (Kis 2:38; 1 Kor 11:26). Beberapa dari pelajaran yg terdalam tentang kesucian dan
kesempurnaan adalah implisit dalam apa yg dikatakan Alkitab tentang kewajiban-kewajiban sakramental
Kristen (Rm 6:1-3; 1 Kor 12:13; Ef 4:5). Acuan-acuan tentang sakramen mungkin mendasari banyak
bagian Alkitab, walaupun tidak secara eksplisit disebut (mis Yoh 3: 6; Ibr 10:22; Yoh 19:34). Amanat
Agung Tuhan yg bangkit kepada para murid, untuk pergi ke segenap bangsa memberitakan Injil, secara
khusus memerintahkan pelayanan baptisan dan jelas mengimplikasikan penyelenggaraan perjamuan
kudus (Mat 28:19, 20). Kristus berjanji akan menyertai pengikut-Nya hingga kesudahan zaman. Pekerjaan
untuk apa para murid dipanggil-Nya, termasuk pelayanan sakramen, tidak akan digenapi sebelum waktu
itu. Paulus juga tidak ragu-ragu bahwa perjamuan kudus harus diteruskan, sebagai pemberitaan akan
kematian Kristus hingga Dia datang kembali (1 Kor 11:26). Benar bahwa Matius dan Markus tidak
mencatat perintah 'lakukan ini untuk mengingat Aku', tapi bukti dari apa yg dilakukan oleh gereja purba
(Kis 2:42; 20:7; 1 Kor 10:16; 11:26) cukup kuat.
Dampak sakramen tergantung kepada pelembagaan dan amanat Kristus. Unsur-unsur yg
digunakan itu pada dirinya tidaklah mempunyai kekuatan; penggunaannya yg disertai kesetiaan itulah yg
menentukan. Karena melalui sakramen manusia dibawa pada persekutuan dengan Kristus dalam kematian
dan kebangkitan-Nya (Rm 6:3; 1 Kor 10:16). Pengampunan (Kis 2:38), penyucian (Kis 22:16; bnd Ef
5:26), dan gairah spiritual (Kol 2:12) dihubungkan dengan baptisan. Partisipasi dalam tubuh dan darah
Kristus terjadi melalui perjamuan kudus (1 Kor 10:16; 11:27). Baptisan dan cawan dihubungkan dalam
ajaran Tuhan Yesus ketika Ia berbicara tentang kematian-Nya, dan dalam pikiran gereja ketika menaati
secara khidmat kewajiban-kewajiban itu (Mrk 10:38, 39; 1 Kor 10:1-5).

Sakramen merupakan upacara perjanjian: 'Cawan ini adalah perjanjian yg baru' (Luk 22:20; 1 Kor
11:25). Kita dibaptiskan 'ke dalam Nama' (Mat 28:19). Perjanjian yg baru itu dimulai dengan korban
kematian Kristus (bnd Kel 24:8; Yer 31:31, 32). Berkatnya disampaikan Allah melalui firman dan janjiNya di dalam Injil dan sakramen-Nya. Ada bukti yg jelas bahwa pada zaman para rasul banyak orang
menerima berkat lewat penyelenggaraan sakramen yg disertai pemberitaan firman (Kis 2:38 dab). Adalah
firman dan janji Injil yg menyertai pelayanan itu yg memberikan makna dan dampak kepada upacara.
Mereka yg hanya menerima baptisan Yohanes, dibaptis lagi 'dalam Nama Tuhan Yesus' (Kis 19:1-7).
Mungkin juga bahwa beberapa orang menerima sakramen tanpa memperoleh keuntungan spiritual (Kis
8:12, 21; 1 Kor 11:27; 10:5-12). Dalam kasus Kornelius dan seisi rumahnya (Kis 10:44-48), kita
mendapat contoh tentang orang-orang yg memperoleh karunia yg dimeteraikan dengan baptisan sebelum
mereka menerima sakramen. Namun demikian mereka masih tetap menerima sakramen sebagai memberi
keuntungan dan sebagai kewajiban.
Dalam PB tidak terdapat kesan adanya pertentangan antara penerapan sakramen dan spiritualitas.
Jika diterima dengan benar, maka sakramen itu memberikan berkat kepada orang percaya. Tapi berkat ini
tidak terbatas kepada penerapan sakramen. Dan bila berkat disampaikan melalui sakramen, itu juga tidak
berarti bahwa pemberian berkat itu bertentangan dengan penekanan Alkitab yg kuat akan iman dan
kesalehan. Jika dilakukan sesuai prinsip-prinsip yg ditetapkan dalam Alkitab, sakramen itu secara terusmenerus mengingatkan kita kepada dasar agung dari penyelamatan kita, yaitu kematian dan kebangkitan
Kristus. Dan mengingatkan kita akan kewajiban-kewajiban kita untuk berjalan sebaik-baiknya pada
panggilan kita. BAPTISAN; PERJAMUAN KUDUS.

PERJAMUAN KUDUS DALAM PERJANJIAN LAMA
Dalam PL tidak ditemukan istilah Perjamuan Kudus namun peristiwa Perjamuan Kudus
memiliki berakar dalam peristiwa paskah dalam PL. R.P. Martin menuliskan dalam artikelnya ’Perjamuan
Kudus’, ahli Yahudi (terutama Billerbeck dan Dalman) mengatakan kegiatan Perjamuan Kudus itu sama
dengan kegiatan pada perayaan Paskah diadakan.
Kata Paskah berasal dari kata pesakh (Ibr. ‫פפססח‬, dari kata ‫ פפססח‬yang artinya melewati). Paskah
merupakan pesta tahunan Yahudi yang diadakan pada tanggal 14 bulan Nisan, memperingati peristiwaperistiwa penyelamatan pada keluaran dari Mesir. Pada peristiwa itu, bangsa Israel berada dalam
perbudakan Mesir. Pada malam hari ketika TUHAN menjatuhkan tulah yang ke-10 kepada orang Mesir,
serta adanya kejadian akan kematian anak sulung. Ketika TUHAN melewati Mesir, maka anak sulung
Mesir dan anak sulung Israel yang tidak menempatkan darah anak domba di tiang pintu rumahnya akan
mati. Malam itu merupakan suatu malam yang sangat mengerikan bagi kedua bangsa itu.

Karena pada malam itu mereka menghadapi pemusnahan bersama-sama di Mesir. Peristiwa
malam itu juga suatu peristiwa pengharapan dimana mereka berharap TUHAN Allah melewatkan mereka
dari penderitaan perbudakan Mesir (lih. Kel. 11-13).
Menurut Th. C. Vriezen, dapat diduga bahwa dalam perayaan tersebut kelompok-kelompok
Yahwistis di tanah Kanaan, perayaan Paskah itu kemudian dikaitkan dengan fase pertama perayaan
musim gugur, yaitu perayaan Matsoth, yang jatuh pada waktu yang sama dengan perayaan Paskah.
Keluaran dari Mesir mula-mula diperingati dalam konteks perayaan peternakan kuno sehingga beberapa
ritus kuno yang terkait dalam perayaan peternakan kuno itu dipertahankan dalam Yahwisme. Misalnya,
ada kebiasaan menyembelih seekor anak domba dan melumurkan darahnya pada ambang pintu kemah di
tanah Kanaan. Unsur yang terpenting dalam perayaan Matsoth ialah memakan roti tidak beragi. Oleh
karena itu unsur tersebut dilekatkan pada legenda-legenda Paskah.
Ch. Barth menuliskan penyembelihan seekor domba yang tadinya merupakan upacara kaum
gembala pada malam bulan purnama yang pertama di musim semi untuk melindungi kawanan dombanya
terhadap kuasa-kuasa jahat yang sekarang didasarkan pada peristiwa pada malam keluaran. Pemusnah
dalam Kel. 12: 23 bukanlah roh-roh jahat atau kuasa jahat, melainkan YHWH sendiri yang mengancam.
Bukan hanya kawanan domba sajalah yang terancam melainkan juga anak-anak sulung orang Israel,
bahkan segenap umat Israel menghadapi pemusnahan bersama-sama di Mesir. Adat makan tidak beragi
itu pun tadinya mempunyai arti yang lain. Masyarakat tani di bagian-bagian Kanaan yang subur, biasanya
mentahbiskan buah-buah sulung dari panen yang baru mulai dengan satu upacara. Kemudian
persembahan roti dipersembahkan dengan ucapan syukur dan dimakan dalam keadaan asli. Peristiwa
inilah yang dikaitkan pada peristiwa keluaran. Mengapa tidak beragi? Cerita D dan P hanya menyebutkan
perintah Allah melalui Musa, namun Y mengetahui bahwa roti itu tidak sempat diragi karena mereka
diusir dari Mesir dan tidak dapat berlambat-lambat (12:39). Kedua upacara kuno itu, disatukan menjadi
upacara pada masa raya Paskah, dengan pelepasan umat Israel dari Mesir sebagai dasarnya dan isinya
yang sebenarnya.

SAKRAMEN PERTOBATAN DALAM PERJANJIAN LAMA
Kata Ibrani syuv berarti berputar, berbalik kembali. Hal itu mengacu pada tindakan berbalik dari
dosa kepada Allah. Dalam Perjanjian Lama, kata yang dipakai untuk pertobatan adalah “kembalilah” (Yer
3:14), “berbalik” (Mzm 78:34), dan “bertobat” (Yer 18:8). Perjanjian Lama jarang sekali mencatat
pertobatan individual (Mzm 51:14) tetapi menubuatkan pertobatan ‘segala ujung bumi’ kepada Allah
(Mzm 22:28). Kalau seluruh bangsa ingin kembali damai dan sejahtera, mereka harus bertobat.

Pertobatan itu bisa merupakan pertobatan yang diungkapkan dalam bentuk tanda atau pun acara
kultis, seperti berkumpul untuk mengaku dosa (Ezr 9:13; Neh 9:36-37), berpuasa (Neh 9:1; Yl 1:14),
mengenakan kain kabung (Neh 9:1; Yl 1:13), duduk di atas abu atau menaburkan abu di kepala (Yer 6:26;
Yun 3:6), dan menyampaikan korban bakaran (Im 16:1-19).
Perjanjian Lama menekankan bahwa cakupan pertobatan melebihi duka-cita penyesalan dan
perubahan tingkah laku lahiriah. Dalam keadaan apa pun, pertobatan yang sungguh kepada Allah
mencakup perendahan diri batiniah, perubahan hati yang sungguh, dan benar-benar merindukan Yahweh
(Ul 4:29; 30:2,10; Yes 6:9; Yer 24:7), disertai pengenalan yang jelas dan baru akan Diri-Nya dan jalanNya (Yer 24:7; bdk. 2 Raj 5:15; 2 Taw 33:13). Pertobatan batin ini harus juga berdampak sosial, “Bukan
Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan
melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap
kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang
miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia
pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” (Yes 58:6-7). Namun, akhirnya
seluruh pertobatan itu adalah karunia Allah. Allah menganugerahkan hati yang murni dan baru sehingga
orang mau bertobat (bdk. Mzm 51:12; Yer 31:33).

ABRAHAM MENERIMA SAKRAMEN PERJANJIAN LAMA
Abraham duduk di depan kemahnya di bawah sebuah pohon besar di tepi jalan. Ia ada
dalam doa. Ia sering duduk menanti demikian guna menunjukkan keramah-tamahan kepada para
pengelana. Sementara berdoa, ia mengarahkan matanya ke surga dan melihat, seperti dalam suatu
berkas matahari, suatu penampakan dari Allah yang memaklumkan kepadanya kedatangan tiga
laki-laki putih. Abraham bangkit dan mengurbankan seekor anak domba di altar; di depannya
aku melihat ia berlutut dalam ekstasi memohon Penebusan umat manusia. Altar berada di sebelah
kanan pohon besar itu dalam sebuah kemah yang terbuka di bagian puncaknya. Agak jauh
terdapat sebuah kemah kedua di mana bejana-bejana dan perkakas-perkakas lain untuk kurban
disimpan. Ke sinilah Abraham biasa tinggal ketika mengawasi para gembala yang tinggal di
sekitar sana. Agak jauh lagi, dan di seberang sisi jalan, adalah kemah Sara dan rumah tangganya.
Kaum perempuan senantiasa tinggal terpisah. Kurban Abraham hampir selesai kala ia melihat
ketiga malaikat muncul di jalan besar. Mereka datang dengan jubah berikat, satu sesudah yang
lain, dengan suatu jarak di antara mereka. Abraham bergegas keluar menyongsong mereka.

Dengan membungkuk dalam-dalam di hadapan Allah, ia menyampaikan salam kepada
mereka, dan menghantar mereka ke kemah altar. Di sini mereka menurunkan jubah mereka dan
memerintahkan Abraham untuk berlutut. Aku melihat hal-hal mengagumkan yang sekarang
terjadi atas Abraham melalui pelayanan para malaikat. Abraham ada dalam ekstasi, dan semua
tindakan berlangsung cepat, sebagaimana biasa dalam keadaan demikian. Aku mendengar
malaikat pertama memaklumkan kepada Abraham sementara ia berlutut bahwa Allah akan
membangkitkan dari keturunannya seorang gadis tanpa dosa, tanpa cela, yang sementara tetap
seorang perawan tanpa noda, akan menjadi Bunda Penebus, dan bahwa sekarang Abraham akan
meneima apa yang dihilangkan Adam karena dosa. Kemudian malaikat memberinya sepotong
roti yang bercahaya dan menyuruhnya minum suatu cairan yang kemilau dari sebuah cawan
kecil. Sesudah itu malaikat memberkati Abraham dengan tangan kanannya membuat suatu garis
lurus dari dahi Abraham ke bawah lalu dari kiri dan dari kanan bahu masing-masing turun ke
bawah dada, di mana ketiga garis berkat bersatu. Kemudian dengan kedua tangan malaikat
mendekatkan sesuatu seperti suatu awan kecil bercahaya ke dada Abraham. Aku melihat awan itu
masuk ke dalam Abraham, dan aku merasa seolah ia menerima Sakramen Mahakudus.
Malaikat kedua mengatakan kepada Abraham bahwa sebelum meninggal ia harus
menyampaikan Misteri Berkat ini kepada anak sulung Sara, dengan cara yang sama ia sendiri
telah menerimanya. Ia juga memberitahukan kepada Abraham bahwa cucunya kelak, Yakub,
akan menjadi bapa dari duabelas putera darimana duabelas suku akan berasal. Malaikat juga
mengatakan bahwa Berkat ini akan diambil dari Yakub; tetapi sesudah Yakub menjadi suatu
bangsa, Berkat akan dipulihkan kembali dan ditempatkan dalam Tabut Perjanjian sebagai Yang
Kudus yang menjadi milik segenap bangsa. Berkat itu akan menjadi milik mereka sepanjang
mereka sujud dalam doa. Malaikat menjelaskan bahwa, karena kejahatan manusia, Misteri akan
dipindahkan dari Tabut dan dipercayakan kepada para Patriark dan bahwa pada akhirnya Berkat
akan diserahkan kepada seorang laki-laki yang akan menjadi ayah dari Perawan Terjanji. Aku
mendengar juga dalam janji ini bahwa melalui enam nabi perempuan dan melalui gambargambar bintang, telah dimaklumkan kepda kaum kafir bahwa Penebusan dunia akan terlaksana
melalui seorang perawan.Semua ini dinyatakan kepada Abraham dalam penglihatan, dan ia
melihat sang Perawan muncul di langit, seorang malaikat melayang-layang di sebelah kanan
sang Perawan dan menyentuh bibirnya dengan sebatang ranting.

Malaikat ketiga menubuatkan kelahiran Ishak kepada Abraham. Aku melihat Abraham
begitu penuh sukacita atas Perawan Suci yang dijanjikan dan penglihatan yang dianugerahkan
kepadanya mengenai Santa Perawan hingga ia tak memikirkan Ishak, dan aku pikir janji yang
sama ini membuat perintah yang ia terima kemudian untuk mengurbankan Ishak menjadi mudah
baginya. Sesudah percakapan suci ini, aku melihat pertama-tama jamuan bagi para malaikat dan
kemudian tertawanya Sara. Aku melihat Abraham menyertai para malaikat dalam keberangkatan
mereka, dan aku mendengarnya memohon bagi Sodom.
Ketika Abraham bangun dari ekstasi, ia menghantar para malaikat ke bawah pohon dan
menempatkan bangku-bangku tanpa sandaran sekelilingnya. Para malaikat duduk, dan ia
membasuh kaki mereka. Lalu Abraham bergegas ke rumah Sara untuk menyuruhnya menyiapkan
hidangan bagi tamu-tamunya. Sara melakukannya dan, dengan berkerudung, ia menghantarnya
separuh perjalanan kepada mereka. Seusai bersantap, Abraham menemani para malaikat
beberapa jauhnya dalam perjalanan mereka. Pada waktu itulah Sara mendengar mereka berbicara
kepada Abraham mengenai kelahiran seorang putera. Ia mendekati mereka dari balik tirai kemah.
Sara tertawa. Aku melihat banyak burung-burung merpati sejinak ayam-ayam betina di depan
kemah-kemah. Perjamuan itu terdiri dari burung-burung sejenis, roti-roti bundar dan madu.
Abraham pada waktu keberangkatannya dari Kasdim telah menerima Misteri Berkat dari
seorang malaikat, tetapi Berkat diberikan kepadanya secara terselubung dan lebih seperti ikrar
akan kegenapan janji bahwa ia akan menjadi bapa dari suatu bangsa yang tak terhitung
banyaknya. Akan tetapi, sekarang Misteri dibangkitkan dalam dirinya oleh para malaikat, dan ia
mendapat penerangan mengenainya.

KEPUSTAKAAN ( REFRENSI )

1. Martasudjita, E. Sakramen-sakramen Gereja: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral.
Yogyakarta: Kanisius, 2003.
2. J.D. Douglas et al., (ed.), Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, jilid I (judul asli: The New Bible
Dictionary), diterjemahkan oleh Yayasan Komunikasi Bina Kasih (Jakarta:Yayasan Komunikasi
Bina Kasih, 1992), hlm. 486.
3. O. C Quick, The Christian Sacraments, 1932; G Bornkamm, TDNT 4, hlm 826 dst; J Jeremias,
The Eucharistic Words of Jesus, 1955; W. F Flemington, The New Testament Doctrine of
Baptism, 1957; AN Stibbs, Sacrament, Sacrifice and Eucharist, 1961; G. R Beasley Murray,
Baptism in the New Testament, 1962; J. I Packer (red.), Eucharistic Sacrifice, 1962; D Cairns, In
Remembrance of Me, 1967. RJC/S/HAO.
4. Kamus Alkitab: Panduan dasar ke dalam kitab-kitab, tema, tempat, tokoh, dan istilah Alkitabiah,
Jakarta: BPK-GM.
5. Perjamuan Tuhan: Studi Mengenai Paskah dan Perjamuan Kudus Bertolak dari Penafsiran dan
Teologi Alkitabiah, Jakarta: BPK-GM.Hentz Otto, 2005
6. Theological Dictionary of The New Testament, vol. II, Grand Rapid, Michigan: W.M.B. Eermans
Publishing Company.
7. (Ulirich Beyer, Materi Kuliah Teologi Biblika II, 25 Januari 2008).
8. C.J. Den Heyer, Perjamuan Tuhan: Studi Mengenai Paskah dan Perjamuan Kudus Bertolak dari
Penafsiran dan Teologi Alkitabiah, Ny. S.L. Tobing-Karohadiprojo (penerjemah), (Jakarta: BPKGM, 1997), 39-40.
9. R.P. Martin: Perjamuan Kudus dalam buku J.D.Douglas (peny) Ensiklopedi Alkitab Masa Kini,
jilid II, (Jakarta: YKBK/OFM, 2004), 247.
10.Social Network, Http :// www.teologisacramenPL.co.id

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

TEOLOGI PERJANJIAN LAMA PAK RISSON 10 RE