Permasalahan dalam Perencanaan Wilayah dalam

Permasalahan dalam Perencanaan Wilayah dan Kota:
Memaksimalkan Kualitas Pelayanan Umum Transportasi Melalui Busway Kick
(Studi Kasus DKI Jakarta)
Ilham Nurhakim/135060600111034
Kelas A
Pendahuluan
Memaksimalkan pelayanan umum adalah salah satu tuntutan perkembangan
pembangunan di Indonesia. Melalui otonomi daerah, masyarakat mengharapkan adanya
peningkatan kualitas pelayanan umum. Sebagaimana hakikat desentralisasi dinyatakan oleh
Hoessein (2002) adalah otonomisasi suatu masyarakat dalam wilayah tertentu. Pada otonomi
daerah, urusan manajemen pelayanan menjadi kewenangan daerah pemerintah sehingga akan
mendekatkan jarak antara pemberi pelayanan dan yang dilayani. Namun pada faktanya,
pelayanan umum yang masyarakat terima masih sering mengecewakan sehingga masih perlu
adanya upaya memaksimalkan kualitas pelayanan umum. Sesuai dengan Rencana Umum Tata
Ruang (RUTR) tahun 2005 untuk transportasi di Jakarta, pelayanan umum khususnya pada
bidang transportasi adalah bentuk upaya pengurangan kemacetan lalu lintas. Dengan
memaksimalkan pelayanan umum khususnya pada bidang transportasi artinya kita juga telah
mengupayakan untuk menekan ketergantungan terhadap kendaraan pribadi yang berdampak
pada berkurangnya kemacetan di wilayah ibu kota.
Perkembangan pembangunan di Indonesia khususnya DKI Jakarta makin meningkat
seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk baik alami maupun hasil dari urbanisasi. Hal
tersebut menimbulkan banyak permasalahan pelayanan umum seperti transportasi. Kepadatan
penduduk di DKI Jakarta mempunyai dampak langsung terhadap arus lalu lintas yang berimplikasi
pada kemacetan di hampir seluruh kawasan ibu kota. Salah satu penyebab dari kemacetan
tersebut adalah ketergantungan masyarakat terhadap penggunaan kendaraan pribadi. Masyarakat
menilai bahwa kendaraan pribadi lebih memberikan kenyamanan dan ketepatan waktu bila
dibandingkan dengan kendaraan umum.
Kecenderungan masyarakat untuk menggunakan kendaraan pribadi akan diperparah lagi
oleh kebijakan pemerintah pusat tahun 2013 mengenai mobil murah atau LCGC (Low Cost Green
Car). Konsep dari kebijakan tersebut adalah mobil dengan harga yang terjangkau dan ramah
lingkungan, namun konsep tersebut malah diprediksi akan menambah masalah kemacetan ibu
kota. Keterjangkauan harga yang ditawarkan oleh konsep LCGC akan meningkatkan daya beli
masyarakat ekonomi menengah untuk membeli mobil ataupun beralih dari yang semula
menggunakan motor menjadi menggunakan mobil. Dengan semakin banyaknya masyarakat yang
tertarik untuk membeli mobil murah, maka populasi kendaraan bermotor di ibu kota pun akan
meningkat dan menambah parah masalah kemacetan.
Maka dari itu, harus ada yang mendorong masyarakat untuk dapat beralih dari
menggunakan kendaraan pribadi menjadi menggunakan alat transportasi masal agar kemacetan
di ibu kota dapat terurai. Hal tersebut sejalan dengan bentuk Rencana Umum Tata Ruang (RUTR)
tahun 2005 untuk transportasi di Jakarta yang bersangkutan dengan pengurangan kemacetan lalu
lintas. Dalam RUTR tersebut diterangkan bahwa salah satu bentuk dari pengurangan kemacetan
lalu lintas adalah dengan Mendorong pemakaian angkutan umum dan menganjurkan dikuranginya
pemakaian angkutan (kendaraan) pribadi. Upaya-upaya untuk mendorong penggunaan alat
transportasi umum adalah dengan cara memaksimalkan pelayanan umum untuk transportasi
masal seperti busway. Alat transportasi yang telah beroperasi tersebut masih dapat dimaksimalkan
fungsinya dengan berbagai macam cara. Apabila pelayanan umum untuk transportasi massal
seperti busway dapat berhasil dioperasikan secara maksimal, mengurai kemacetan ibu kota
adalah cita-cita yang sangat realistis.
Di dalam tulisan ini, penulis mencoba menjelaskan alternatif solusi bagi kemacetan di DKI
Jakarta dengan cara memaksimalkan pelayanan umum transportasi. Melalui konsep busway kick,
penulis akan menerangkan bagaimana konsep tersebut dapat dijadikan solusi dalam membantu
upaya sterilisasi jalur khusus busway sehingga alat transportasi umum tersebut dapat
dimaksimalkan. Pembuaatan tulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi penulis,
akademisi, dan masyarakat sebagai bahan bacaan yang berkualitas.

Pembahasan
Untuk mengurai kemacetan di ibu kota dengan memaksimalkan pelayanan umum untuk
transportasi masal seperti busway dapat ditempuh dengan berbagai macam cara, salah satunya
adalah sterilisasi jalur busway. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), definisi dari kata
sterilisasi adalah perlakuan untuk menjadikan suatu bahan atau benda bebas dari
mikroorganisme. Namun dalam konteks transportasi, sterilisasi yang dimaksud adalah proses
“pembebasan” jalan dari kendaraan tertentu. Maka, sterilisasi jalur busway dapat didefinisikan
sebagai proses pembebasan jalan dengan cara melarang kendaraan selain busway untuk
mengguanakan jalur khusus busway. Namun perlu ditekankan bahwa tujuan dari mekanisme
tersebut bukanlah hanya untuk melengangkan jalur khusus busway tetapi untuk memberikan
kualitas pelayanan umum yang lebih baik kepada masyarakat ibu kota.
Disamping upaya-upaya Pemerintah Provinsi DKI
Jakarta bersama Polda Metro Jaya untuk menyosialisasikan
denda maksimal Rp 1.000.000,00 untuk kendaraan roda
empat dan Rp 500.000,00 untuk kendaraan roda dua yang
melanggar jalur khusus busway pada tahun 2013 ini, upaya
sterilisasi pun dapat ditempuh dengan konsep baru yaitu
“busway kick”. Konsep tersebut melibatkan partisipasi
masyarakat sebagai pengguna busway untuk secara
langsung terlibat dalam pelaksanaan dan pengawasan.
Busway kick bisa diartikan sebagai wujud dari bentuk
kekesalan masyarakat terhadap penyerobot jalur yang tidak
taat aturan. Aksi tersebut bisa dimaknai sebagai bentuk
protes masyarakat terhadap masyarakat lainnya yang tidak
patuh terhadap peraturan. Aksi ini muncul karena memang
ada kecenderungan bahwa sanksi hukum tidak meberikan
efek jera terhadap pelanggar maka diharapkan sanksi sosial
dapat lebih efektif untuk menekan angka pelanggaran
dibandingkan dengan sanksi hukum.
Jalur yang akan disterilisasi
Busway Kick pertama kali diperkenalkan oleh
Muhammad Daivi (62), awalnya aksi tersebut ia lakukan pada
tanggal 9 November 2013 lalu di Halte Kramat Sentiong,
Koridor 5 (Kampung Melayu Ancol) karena kesal terhadap
perilaku pengendara yang menyerobot jalur khusus busway
dapat melenggang dengan seenaknya sementara pengguna
busway harus menunggu lama karena bus tersendat oleh
kendaraan yang menyerobot. Aksi busway kick dilakukan
dengan cara mengeluarkan kaki ke arah kendaraan yang
Muhammad Daivi memegang brosur Busway Kick
memasuki jalur khusus melalui shelter busway. Selain
mengengeluarkan kaki, pelaku aksi ini juga mengeluarkan jempol ke bawah, ke arah pengendara.
Aksi yang digagas oleh Daivi ini perlu mendapat dukungan dari semua pihak dari mulai pemerintah
provinsi, dinas perhubungan dan juga kepolisian. Dengan masyarakat khususnya pengguna
busway sebagai aktor utama aksi tersebut, diharapkan hukuman yang diberikan kepada
penyerobot jalan akan lebih efektif karena datang dari masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu,
peran serta simpatisan sangat berpengaruh dalam aksi tersebut.
Perlu di buat langkah-langkah yang tepat untuk mendapatkan simpatisan sebanyak
mungkin agar aksi kick busway tersebut dapat berfungsi secara maksimal. Antara lain melaui
sosialisasi, sosialisasi digunakan untuk memberikan masyarakat informasi tentang apa tujuan dan
manfaat dari aksi tersebut dan juga termasuk didalamnya adalah bagaimana cara melalukukan
aksi tersebut. Informasi-informasi tersebut tidak hanya disebarkan melalui sosialisasi saja, tetapi
juga melalui brosur-brosur yang disebar disetiap koridor busway. Brosur dapat menjadi sarana
penyebaran informasi tambahan mengenai aksi kick busway tadi untuk memastikan setiap
masyarakat pengguna busway mengetahui aksi tersebut. Langkah selanjutnya adalah pemerintah
provinsi, dinas perhubungan, ataupun kepolisian perlu meberikan timbal balik terhadap
masyarakat yang ikut serta dalam aksi tersebut. Timbal balik ini dilakukan karena kick busway ikut
serta membantu program pemerintah tahun 2013 yang tengah menggalakan sterilisasi jalur

busway. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dapat memberikan penghargaan kepada mereka yang
mempunyai peran aktif sebagai agen aksi kick busway dengan gelar kehormatan atau juga dengan
cara mengumpulkan point reward setiap kali mereka melakukan aksi yang nantinya dapat
ditukarkan dengan voucher belanja, voucher tempat rekreasi, ataupun voucher tempat makan.

Aksi Busway Kick Wali Kota, Wakil Wali Kota, dan Masyarakat DKI Jakarta

Kualitas pelayanan transportasi umum yang baik dan berkualitas akan mendorong
masyarakat DKI Jakarta untuk meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih menggunakan
transportasi massal. Dampaknya, kemacetan ibu kota yang telah bertahun-tahun menjadi masalah
dapat terurai. Upaya sterilisasi melaui aksi busway kick itu sendiri, bertujuan untuk meningkatkan
kualitas pelayanan umum khususnya transportasi massal. Hal tersebut adalah salah satu bentuk
upaya memaksimalkan pelayanan umum untuk menunjang aktivitas masyarakat dan juga bentuk
implementasi dari Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) tahun 2005 untuk transportasi di Jakarta
yang bersangkutan dengan pengurangan kemacetan lalu lintas. Dengan demikian, ruas-ruas
utama ibu kota tidak akan lagi dipadati oleh kendaraan pribadi melainkan transportasi massal yang
baik dan berkualitas untuk masyarakat.
Kesimpulan
Pelayanan umum adalah kebutuhan bagi masyarakat untuk menunjang aktivitasnya seharihari. Karena itu, kualitas dari pelayanan umum akan memberikan banyak dampak pada kehidupan
masyarakat itu sendiri. Dengan kualitas pelayanan umum yang baik, maka kerterdukungannya
terhadap aktivitas masyarakat pun akan maksimal. Disamping itu, kualitas pelayanan yang prima
akan mendorong produktivitas masyarakat sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi
dan juga kesejahteraan masyarakat. Pelayanan umum meliputi banyak aspek dalam kehidupan
dan termasuk didalamnya adalah kebutuhan manusia untuk berpindah dari satu tempat ke tempat
yang lain untuk pemenuhan kebutuhannya. Kegiatan tersebut akan efektif dan efisien bila
dilakukan dengan alat transportasi massal yang mampu mengangkut banyak orang untuk
berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, contohnya transportasi massal seperti busway.
Pemerintah dan masyarakat perlu memaksimalkan fungsi dari Busway guna mempermudah
aktifitas tersebut, salah satunya adalah dengan upaya sterilisasi jalur khusus busway.
Keberhasilan pelaksanaan sterilisasi jalur busway lewat busway kick akan menimbulkan
ketimpangan antara jalur utama dengan jalur khusus busway. Pada jalur utama kendaraan akan
menumpuk dan menimbulkan kemacetan sedangkan pada jalur khusus busway yang telah
disterilisasi busway akan lancar beroperasi. Momentum tersebut dapat dimanfaatkan oleh
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mempromosikan transportasi massal sebagai salah satu
pelayanan umum yang dapat menjawab masalah kemacetan ibu kota. Disamping itu, masyarakat
yang aktivitasnya terhambat akibat dampak dari sterilisasi akan mulai mempertimbangkan untuk
beralih menggunakan transportasi umum khusunya busway. Dengan kecenderungan positif
tersebut, pemerintah provinisi tidak perlu khawatir terhadap kebijakan pemerintah tentang mobil
murah yang justru diprediksi akan memperparah kemacetan ibu kota. Masyarakat akan dengan
sendirinya menilai bahwa penggunaan kendaraan pribadi justru akan mendatangkan banyak
kerugian terutama waktu bila dibandingkan dengan kendaraan umum (transportasi massal). Akan
banyak masyarakat yang beralih menggunakan alat transportasi massal dan hal tersebut
merupakan stimulus untuk membangun infrastruktur yang lebih baik untuk meningkatkan
pelayanan umum kepada masyarakat.

Daftar Pustaka

Murdyastuti, Anastasia. 2003. Strategi Meningkatkan Kualitas Pelayanan Publik. Jurnal Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik
Utomo, Sad Dian. 2008. Penanganan Pengaduan Masyarakat Mengenai Pelayanan Publik. Jurnal
Ilmu Administrasi dan Organisasi hal 161-167
Detik.com. 2013. Diperoleh tanggal 15 November 2013 di http://search.detik.com/search?
query=busway+kick
Kompas.com. 2013. Diperoleh tanggal 15 November 2013 di http://search.kompas.com/fq/?
page=2&q=Busway+kick&short=time&lipsus=None&ret=10

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Permasalahan dalam Perencanaan Wilayah dalam