Kekerasan rumah tangga terhadap anak dalam prespektif islam

KEKERASAN RUMAH TANGGA TERHADAP ANAK
DALAM PRESPEKTIF ISLAM

STUDI KASUS DESA GANDARIA
KECAMATAN MEKAR BARU
TANGERANG BANTEN

Oleh:

Lia Yuliana
NIM:203033202176

JURUSAN SOSIOLOGI AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA
1427 H - 2008 M

KEKERASAN RUMAH TANGGA TERHADAP ANAK
DALAM PRESPEKTIF ISLAM
STUDI KASUS DESA GANDARIA
KECAMATAN MEKAR BARU
TANGERANG BANTEN

SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana S.Sos

Oleh:
Lia Yuliana
NIM:203033202176

Di Bawah Bimbingan

Dra. Hj. Hermawati. MA
NIP: 150227408

JURUSAN SOSIOLOGI AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1427H / 2008 M

i

LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Skripsi ini berjudul “KEKERASAN RUMAH TANGGA TERHADAP ANAK
DALAM

PRESPEKTIF

ISLAM”

telah

diujikan

dalam

sidang

munaqasah

FakultasUshuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
pada tanggal 17 Juni 2008, Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gelar sarjana program strata satu (S1) pada jurusan Sosiologi Agama.
Jakarta 17 Juni 2008

SIDANG MUNAQASYAH
Ketua Merangkap Anggota

Ketua Merangkap Anggota

Drs. Harun Rasyid, M.Ag
NIP. 19600902 198703 1 001

Drs. Rofqi Mukhtar, MA
NIP. 19690822 199703 1 002

Penguji I

Penguji II

Dr. Masri Mansor, MA
NIP. 19621006 199903 1 002

Dra. Ida Rosyidah, MA
NIP. 19630616 199003 2 002

Pembimbing

Dra. Hermawati, MA
NIP. 19541226 198603 2 002

ii

KАТА PENGANTAR
Вismillahirrahmanirrahim
Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah SWT., atas
selesainya skripsi ini, tak ada alasan untuk penulis kecuali mengucapkan syukur
atas ridho dan rahmat-Nya. Berkat-Nya lah skripsi ini ada.
Skripsi ini hanya merupakan coretan kecil dalam setiap bagian
kehidupanpun merupakan tantangan bagi penulis, di saat pengajuan judul hingga
selesainya skripsi ini selalu saja banyak yang menyepelekan dan mengganjal.
Penulis tertarik kepada seputar masalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Terhadap Anak. Di samping merupakan bidang bahasan sesuai jurusan, juga
merupakan bahasan yang tak kunjung selesai di negara kita ini. Berbagai kasus
timbul tenggelam hanya karena permainan segelintir 'Orang Yang Tidak
Berprikemanusiaan'. Ketidakadilan penguasa inilah yang menggelitik nalar
penulis untuk mengambil Studi Kasus Kekerasan Anak Dalam Rumah Tangga
dalam pelanggaran HAM di Indonesia.
Penulis merasa sedih ketika anak di bawah umur ataupun pada saat mereka
lahir selalu tertindas dan selalu terlantarkan akibat banyak yang terjadi kekerasan
dalam rumah tangga, oleh karena itu pemerintahan yang selalu mementingkan
perut mereka sendiri. Penyelesaian itu belum juga muncul sampai saat ini,
meskipun, Susilo Bambang Yudhoyono dan Yusuf Kalla berkuasa 3 tahun.
Bahkan, malah memperburuk Indonesia setelah kebijakannya menaikkan harga
BBM, adanya penggusuran, korupsi merajalela padahal KPK sudah diberikan gaji
dari rakyat selangit, pengangguran merata. Intinya tidak ada mengalami
perubahan yang signifikan dari semua usaha yang di lakukan oleh negara untuk
rakyatnya hingga saat ini.sehingga banyak sekali terjadi kekerasan dalam rumah
tangga di Indonesia dan semakin berkepanjangan dan terus menerus ada disetiap
rumah tangga.
Keberadaan penulis sebagai bagian dari mahasiswa adalah menjadi tujuan utama
penyusunan skripsi ini. Terus terang skripsi ini belum lengkap memuat data dan
informasi mutakhir, oleh karena itu karya yang sederhana dan belum sempurna ini

iii

semoga menjadi wadah inspirasi, khususnya bagi penulis dan umumnya kepada
semua mahasiswa Sosiologi Agama. Semoga siapapun yang membacanya tidak
pernah rnerasa puas sehingga terus-menerus membaca dan membaca untuk
memperdalam mengenai pergulatan Kekerasan Anak Dalam Rumah Tangga
melalui karya-karya lain. Namun, bukan juga dengan karya ini penulis tidak bisa
melanjutkan pertualangan pendidikan setelah 10 semester penulis merenung.
Masih ada hari ini dan hari esok untuk sergera-berjuang-bersama Melalui coretan
ini penulis banyak mengucapkan terima kasih kepada:
1. Orang tua kami yang tercinta Bарак Antajaya (Alm) dan Ibu Aminah terima

kasih atas segala pengorbanan yang ibu dan bapak berikan, semoga Allah
selalu memberikan rahmat dan karunianya serta senantiasa Melimpahkan kasih
sayang ditengah-tengah keluarga kita, ibu skripsi ini Lia Persembahkan
Sebagai Sembah Baktiku.
2. Kakak Lia tersayang Kang Dudun, Kang Mahfud, Kang Juli, Teh Aan, dan

buat kakak ipar lia teh Salsah, bang Faisal Khalid Tarigan, terimaksih atas
dukungan moril dan materil, semangat dan doa sampai saat ini. alhamdulilah
masili diberikan kesehatan dan tegar dalam menyelesikan skripsi ini., dan
Keponakan Lia, Dara Abdilah, Faqih Tadarus Dan Bintang Muharnad Faan
Tariqan, keluguan dan kelucuan kalianlah yang menghilangkan dahaga dan
penatnya tugas-tugas kuliah.
3. Drs.H.Harun Rasyid M.A., selaku Dekan Program Ekstensi Fakultas

Ushuluddin dan Filsafat. Makasih раk motivasinya.
4. Jamilah M.Ag., Selaku Sekjur yang tidak pernah bosan menerima keluhan

kami.
5. Drs. Ramlan A.Gani. M.Ag., Selaku Dosen Penasehat Program Ekstensi

Fakultas Ushuluddin dan Filsafat.
6. Dra.Hj. Hermawati MA selaku pembimbing skripsi, terimakasih untuk setiap

keramahan dan kesabaran selama proses penyusunan skripsi ini, yang selalu
memberikan semangat buat penulis juga untuk kritik dan sarannya, tanpa itu
semua skripsi tidak akan pernah selesai, penulis ucapkan banyak (10 kali)
terima kasih.

iv

7. Seluruh Civitas Akademik Ushuluddin, dosen-dosen yang telah mengajar

kami, tunduk hormat kami sampaikan atas perjuanganya dalam mengajar
kami.
8. Kepada Ka Seto Mulyadi, Ifdal Kasim serta kawan-kawan di Komnas HAM,

YLBHI dan LBHI, terima kasih sedalam-dalamnya, Tanpa semuanya skripsi
ini pasti ditolak terus oleh dosenku.
Teman-teman lia, Pada Waktu SMU Nur El Falah, Yang teras memberikan
semangat, Umi, Yani, gembul, Gendut, Irey Afri, Ridwan, Ambon, danbuat si
manis Nurul Cute, pesannya jangan putusin silaturahmi, sama lia. terima kasih
semuanya 10. Kepada Kawan-Kawan Sosiologi Agama, Pemikiran Politik
Islam:Hajami, Eva, Canda, Nur Ajijah, Yayah, Farida Warid, Suhadi, Ajat,
Syukur, Margono, Engkos Markos tak lupa pula anak-anak Tafsir Hadis yang
terus berjuang memberikan semangat kepada penulis Kepada semua pihak yang
membantu penulis, namun tidak tercantum di sini, khususnya kepada semua
teman-teman,

untaian

maaf

dan

terima

kasih

tidak

lupa

penulis

sampaikan.Terakhir, semoga skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan ini
bermanfaat (amiin) dan segala masukan, kritik dan saran terhadap skripsi ini
penulis nantikan dan harapkan

Ciputat, Semanggi 11/25
21 Maret 2008
Lia Yuliana

v

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................

ii

DAFTAR ISI ................................................................................................

v

BAB I

BAB II

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ..........................................................

1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah.......................................

5

C. Tujuan Penelitian ....................................................................

6

D. Metodologi Penelitian .............................................................

7

TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Kekerasan Rumah Tangga Terhadap Anak ............

16

B. Bentuk-bentuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga ....................

22

C. Sebab-sebab Timbulnya Kekerasan Dalam Rumah Tangga .....

25

BAB III PANDANGAN ISLAM MENYIKAPI KEKERASAN DALAM
RUMAH TANGGA
A. Tuntunan Islam Bagi Orang Tua Dalam Mendidik Anak .........

30

1. Menanamkan Ketauhidan ..................................................

30

2. Mengajarkan Agama .........................................................

31

3. Mendidik Anak..................................................................

31

4. Mendidik Kejujuran dan Keadilan .....................................

33

5. Memberi Contoh keteladaban yang Baik ...........................

33

6. Perhatian Terhadap Anak-anak di Rumah ..........................

34

B. Anak dan harta Adalah Ujian ..................................................

34

C. Perlakukan Kekerasan Terhadap Anak di Dalam Islam ............

36

1. Membunuh Anak ...............................................................

36

2. Perbedaan Pemberian Kepada Anak-anak ..........................

37

vi

BAB IV GAMBARAN UMUM PELAKU DAN KORBAN KEKERASAN
TERHADAP ANAK DALAM RUMAH TANGGA

BAB V

A. Identitas Keluarga Korban .......................................................

39

B. Identitas Pelaku Tindak Kekerasan Terhadap Anak .................

43

C. Identitas Korban Kekerasan Terhadap Anak ............................

45

ANALISA KEKERASAN RUMAH TANGGA TERHADAP
ANAK
A. Faktor yang Menyebabkan Kekerasan di dalam Rumah Tangga
Terhadap Anak ........................................................................

48

B. Respon Masyarakat dan Keluarga Yang Ada di Desa Gandaria
Mengenai Kekerasan Rumah Tangga Terhadap Anak .............

51

C. Kondisi Anak yang Terkena Kekerasan Dalam Rumah Tangga

54

D. Solusi-solusi Memeecahkan Masalah Kekerasan yang Terjadi
Dalam Keluarga ......................................................................

57

BAB VI PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................

62

B. Saran ......................................................................................

63

DAFTAR PUSTAKA

vii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ketegangan maupun konflik yang terjadi dalam lingkup domestik atau rumah
tangga merupakan suatu hal yang biasa dan lumrah terjadi. Seperti adanya perbedaan
pendapat, pertengkaran dan perdebatan dalam rumah tangga. Akan tetapi jika konflik
tersebut berlanjut dan terus berlangsung maka akan berkembang menjadi tindakan
kekerasan yang selanjutnya akan terjadi sebuah kekerasan domestik. Jika dirunut
dalam sejarah kekerasan dalam keluarga sejak manusia sudah ada di bumi seiring
dengan pertumbuhan peradaban manusia. Akan tetapi bentuk-bentuk KDRT berjalan
sesuai dengan dinamika dalam rumah tangga. Bentuk KDRT pada masyarakat
tradisional berbeda dengan KDRT pada masyarakat modem dewasa ini. Begitu juga
dengan bentuk KDRT pada masyarakat desa berbeda, walaupun ada persamaan . Oleh
karena itu, kasus-kasus KDRT dalam masyarakat tentu berbeda-beda dan bersifatnya
unik.
Tayangan kekerasan dalam lingkup rumah tangga dengan mudah dapat
ditemukan baik pada media elektronik, misalnya televisi dan radio maupun media
cetak, misalnya koran, tabloid dan majalah. Dengan rajin media masa memberitakan
kepada publik kejadian-kejadian seputar kekerasan dalam lingkup keluarga, yang
kadang-kadang mengabaikan etikajumalistik. Akan tetapi terlepas dan itu semua
(etika jurnalistik), kekerasaan khususnya dalam lingkup keluarga dapat terjadi di

1

1

mana saja dan kapan saja serta terhadap siapa saja. Bahkan KDRT tidak mengenal
usia, pendidikan dan status sosial.
Konsep kekerasan menurut Maggie Human adalah bentuk dari pemerkosaan,
pemukulan, insect, pelecehan seks dan pornografi1. Secara lebih gamblang deklarasi
PBB tahun 1993, mendefinisikan kekerasan terhadap anak sebagai bentuk tindakan
kekerasan gender yang bisa berakibat kesengsaraan atau penderitaan anak secara
fisik, seksual dan psikologis termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan dan
perampasan kernerdekan secara sewenang-wenang baik yang terjadi di ranah
domestik maupun publik. Sementara itu, menurut John Galtung2, kekerasan adalah
suatu kelakuan yang menyebabkan realitas aktual seseorang ada di bawah realitas
potensialnya. Artinya, ada sebuah situasi yang menyebabkan segi kemampuan atau
potensi individu menjadi tidak muncul. 3
Mengacu kepada definisi di atas, kekerasan merupakan perbuatan di luar
batas-batas kemanusiaan. Hak-hak kemerdekaan baik secara fisik maupun psikis
(perasaan superioritas

yang dimanivestasikan dalam sikap suka memaksa

keangkuhan) terenggut oleh arogansi hegemoni pihak lain (pengaruh kekuasaan suatu
negara terhadap negara lain). Kekerasan hanya akan melahirkan kesengsaraan,
bahkan tidak jarang menimbulkan kematian. Sudah banyak temuan penelitian yang

1

Maggie Human, The Didictionary Of Faminist Theory, Exekter: BPCC, 1989 dalam laporan
penelitian “Kekerasan Terhadapa Perempuan Daiam Keluarga”: analisa kasus pada beberapa
keluarga di wilayah ciputat. Kerjasama PSW lAIN Syarif Hidayatullah dengan Mc Gill Proiect
(Jakarta: PSW dan Mc Gill Project, 2007, ) h.7
2
Windu, Marsana, Kekuasaan dan Kekerasan Menuru John Galtung (Yogyakarta: 1992), h.8
3
Elli Nur Yayati, Kekerasan Terhadap Istri Dalam Ruamah Tangga, (Yogyakarta: Rifka
Annisa Womwens Crisis Center, 1999) h.27

2

dilakukan oleh masyarakat, misalnya kelompok akademis, lembaga swadaya
masyarakat (LSM) dan investigasi media yang mengungkapkan kekerasan dalam
lingkup keluarga khususnya kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh orang
tuanya. Kekerasan pada dasamya bisa terjadi sudah ada kapan saja dan oleh siapa
saja. Kekerasan ini bisa saja terjadi di tengah keramaian, baik itu di pasar maupun di
tempat yang sunyi. Akan tetapi, sangat mengherankan apabila kekerasan itu terjadi
dalam sebuah rumah tangga yang seharusnya di dalam rumah tersebut sebagai tempat
curahan kasih sayang antara anak dan orang tuanya. Dan kebanyakan kekerasan ini
dilakukan oleh orang yang terdekat dan sudah dikenal baik oleh korbannya.
Banyak faktor yang menyebebkan terjadinya kekerasan dalam lingkup
keluarga. Di samping faktor penyebabnya sangat beragam bentuk kekerasanpun
berbeda-beda. Bahkan pada kasus-kasus tertentu sangat unik. Walaupun secara umum
kekerasan dalarn lingkup keluarga mempunyai kesamaan.
Faktor penyebab kekerasan dalam keluarga, misalnya dalam sebuah keluarga
sering terjadi pertengkaran yang akhirnya meningkat pada kekerasan fisik maupun
psikis biasanya faktor yang paling dominan sebagal pemicu tindakan kekerasan
tersebut adalah karena faktor ekonomi, di mana faktor ini sangat rentan fungsinya
dalam keluarga.
Kekerasan dalarn rumah tangga adalah perbuatan yang dilakukan seseorang
atau beberapa orang terhadap orang lain, mungkin berakibat kesengsaraan atau
penderitaan secara fisik, seksual dan psikologis, termasuk pula ancaman perbuatan
tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan seseorang secara sewenang-

3

wenang atau adanya penekanan secara ekonomis, yang terjadi di dalam rumah tangga.
Kekerasan dalam rumah tangga atau dalam istilah lainnya kekerasan domestik adalah
kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga.
Secara spesifik kekerasan terhadap anak berarti segala bentuk kekerasan yang
berdasarkan akibatnya berupa kerusakan, penderitaan fisik, non fisik, seksual,
psikologis pada anak termasuk disini tindakan pemukulan dan ancaman, dan
perbuatan semacam itu, seperti pemaksaan atau perampasan yang semena-mena atas
kemerdekaan, baik yang terjadinya di tempat umum atau bahkan dalam kehidupan
pribadi seseorang. 4
Sangat jelas bahwa kekerasan dalam lingkup keluarga dilakukan oleh orang
tua terhadap anaknya dimana proses konstruksi gender dalam struktur sosial sangat
mempengaruhinya. Kalau memang kekerasan terhadap anak diakibatkan oleh faktorfaktor yang mendorong terjadi kekerasan tersebut dapat dihilangkan karena posisi
laki-laki dan perempuan adalah setara dalam struktur sosial.
Kekerasan dalam rumah tangga dapat menimpa siapa saja, ibu, bapak, suami,
istri, anak, bahkan pembantu rumah tangga, akan tetapi korban kekerasan dalam
rumah tangga adalah anak. Biasanya hal mi terjadi jika hubungan antara korban dan
pelaku tidak setara. Lazimnya si pealaku kekerasan mempunyai status kekuasan yang
lebih besar, baik dan segi ekonomi, kekuasaan fisik maupun status sioal dalam

4

Laporan Penelitian, Kekerasan Terhadap Perempuan Dalam Keluarga: Analisis kasus pada
beberapa keluaraga di wilayah ciputat, kerjasama PSW lAIN Syarif Hidayatullah dengan Mc Gill
Project (Jakarta: PSW dan Mc Gill Project, 2000) h.12

4

keluarga. Karena posisi khusus yang dimilikinya tersebut, maka pelaku kerap kali
memaksakan kehendaknya untuk diikuti oleh orang lain. Dan demi mencapai
keinginannyá tersebut, pelaku kekerasan akan menggunakan segala cara bahkan tidak
segan-segân untuk melukai korban.5
Kekerasan terhadap anak dalam keluarga tidak berdiri sendri. Pola alokasi dan
hubungan kekuasaan suami istri mempengaruhi tindakan kekuasan. Kekuasaan yag
dimaksud adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar sesuai
dengan tindakan yang dikehendakinya. 6
Sehubungan dengan uraian di atas maka kekerasan dalam rumah tangga yang
dilakukan oleh ibu dan bapak kepada anaknya menarik untuk diteliti meskipun sudah
banyak penelitian dengan tema-tema yang serupa, namun penelitian ini bertujuan
untuk memperolah atau mendapatkan informasi mengenai KDRT sebagai refleksi
perbedaan antara laki-laki terhadap perempuan sehingga mendorong pembentukan
kekerasan terhadap anak dalam keluarga.

B. Pembatasan Dan Perumusan Masalah
Mengingat dan melihatan permasalahan yang dihadapi dalam penelitian, serta
waktu yang sangat terbatas maka penelitian yang perlu dilakukan secara spesifik
adalah untuk menjelaskaan, bagaimana kekerasan terhadap anak yang dilakukan o!eh

5

Farha, Ciciek, Ihtiar Mengatasi Kekerasan Dalam Rumah Tangga: Be/ajar Dan Kehidupan
Rasululah Smv (Jakarta: Lembaga Kajian Agama dan Gender, 1999) h. 34
6
Soerjono Soekanto, Sosiologi suatu penganlar, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persadan: 2003)
h. •1

5

orang tuanya secara spesifik. Analisa tersebut akan kami uraikan sebagai berikut:
1. Faktor-Faktor apa yang menyebabkan kekerasan terhadap anak dalam rumah
tangga?
2. Bagaimana bentuk-bentuk kekerasan terhadap anak dalam rumah tangga.
3. Bagaimana kekerasan dalam rumah tangga menurut agama Islam?
4. Bagaimanakah dampak terhadap anak (korban) kekerasan dalam rumah
tangga?

C. Tujuan Penelitian
Atas dasar latar belakang masalah di atas, maka tujuan penelitian ini secara
spesifik adalah:
1.

Untuk menemukan faktor-faktor apa yang menyebabkan kekerasan terhadap
anak yang terjadi dalam rumah tangga.

2.

Untuk mengetahui bentuk-bentuk kekerasan terhadap anak dalam rumah tangga.

3.

Untuk memahami dampak tindakan kekerasan terhadap anak dalam rumah
tangga.

4.

Untuk mengetahui akibat

kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak

(korban).
Adapun manfaat tulisan ini diharapkan kepada anak-anak baik korban maupun
tidak, dapat memahami secara jelas bagaimana bentuk kekerasan tersebut dan tidak
lagi berdiam diri untuk melakukan tindakan untuk mencegahnya, dan diharapkan

6

pula tulisan ini dapat dijadikan referensi bagi penulisan selanjutnya. Bagi anak yang
menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga agar dapat komperatif dalam
meneyelesaikan masalah tersebut. Sedangkan bagi pelaku supaya menjadi
“Peringatan” dan “Pengetahuan” supaya tidak terjebak atau terjerumus pada
kekerasan dalam rumaha tangga

D. Metode Penelitian
a. Penelitian Ilmiah
Penelitian ini dilakukan di desa gandaria RT. 01 RW O2 kecamatan Mekar
Baru Tanggerang Banten. Pemilihan dan penetapan lokasi ini dengan beberapa
pertimbangan. Pertama, kasus KDRT terhadap anak di tempat tersebut sering terjadi.
Berdasarkan informasi yang berkembang pada masyarakat setempat. KDRT dengan
mudah dapat ditemukan pada beberapa keluarga rumah tangga. Kedua, dinamika
startifikasi sosial masyarakat setempat sering heterogen (atas, menengah dan bawah).
Ketiga, sebagai orang yang dibesarkan dilokasi penelitian, peneliti ingin
menyumbangkan pemikiran untuk membantu menyelesaikan KDRT khususnya pada
anak, keempat, lokasi penelitian mudah dijangkau oleh peneliti, sehingga keakraban
peneliti dengan subjek penelitian mudah terjalin dengan balik.7
b. Teknik Pengumpulan Data
Ilmu Pengetahuan mulai dengan obeservasi dan selalu harus kembali kepada

7

Prof. Dr. S. Nasution, M.A, Met ode Research penelitian ilmiah (Jakarta: Bumi aksara,
1995),h. 106

7

observasi untuk mengetahui kebenaran ilmu itu. Observasi dilakukan untuk
memperoleh informasi tentang kelakukan manusia seperti terjadi dalam kenyataan,
dengan observasi dapat kita peroleh gambaran yang lebih jelas tentang kehidupan
sosial, yang sukar dengan metode lain. Observasi juga dilakukan bila belum banyak
keterangan dimiliki tentang masalah yang kita selidiki. Observasi diperlukan untuk
menjajakinya dan berfungsi sebagai eksplorasi. Dari hasil ini kita dapat memperoleh
gambaran yang.
Lebih jelas tentang masalahnya dan mungkin petunjuk-petunjuk tentang cara
memecahkanya. Dengan observasi sebagai alat pengukur dan dimaksudkan observasi
yang dilakukan sistematis bukan observasi sambil-sambilan atau bukan secara
kebetulan saja. Dalam observasi ini diusahakan mengamati keadaan yang wajar dan
yang sebenarnya tanpa usaha yang sengaja untuk mempengaruhi, mengatur atau
rnemanipulasinya.
Mengadakan observasi menurut kenyataan, melukisnya dengan kata-kata
secara cermat dan tepat yang diamati, mencatatnya dan kemudian mengolahnya
dalam rangka masalah yang diteliti secara ilmiah bukanlah pekerjaan yang mudah
selalu di persoalkan hingga manakah basil pengamatan itu valid dan reliable serta
hingga manakah objek pengamatan itu representative bagi gejala yang bersamaan.
Seseorang peneliti harus melatih dirinya untuk melakukan pengamatan.
Banyak yang dapat kita amati di dunia sekitar kita dimanapun kita berada. Ada halhal yang kita amati, ada juga yang luput dari pengamatan. Apa yang kita amati
berlainan dengan yang diamati orang lain, karena itu kita adakan seleksi tentang apa
yang kita amati menurut keinginan, latar belakang minat serta luas dan dalam

8

pengetahuan kita tentang sesuatu. Sering kita amati hal-hal yang aneh, yang menarik
perhatian, seperti benda baru yang aneh, akan tetapi bukan gejala sosial yang
berkenaan dengan interaksi sosial, pola kekuasaan, perbedaan satatus dan peranan
dan sebagainya.
c. Indepth Interview.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif (qualitative approach), sesuai
dengan tujuan yang ingin dicapai, penelitian ini mengunakan pendekatan studi kasus,
yaitu suatu proses pengkajian dan pengumpulan data secara mendalam dan detail
terhadap seputar kejadian kusus sebagai “kasus”8 kasus yang ditelaah secara
mendalam dalam penelitian ini adalah kekerasan dalam rumah tangga khususnya
terhadap anak.
Studi kasus adalah studi mikro (menyoroti satu atau bebereapa kasus), juga
merupakan strategi penelitian yang bersifat multi-metode.9 Berkaitan dengan strategi
multi-metode dalam menjaring data, studi kasus akan memadukan pengamatan,
wawancara dan analisa dokumen.10 Hal senada dipertegas oleh Merriam (1998 ) dan
Yin (1989 ) dalam Creswell (1995). Studi kasus sebagai strategi untuk menggali
entitas atau fenomena tunggal (kasus) yang dibatasi oleh waktu dan aktifitas (suatu
program, pristiwa, proses, kelembagaan atau kelompok sosial ) dan mendapatkan
informasi yang detail dengan menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data

8

S Misbeth, J. dan J. Watt, Studi Kasus Sebuah Panduan praktiis (Jakarta: Gramedia: Widia
Sarana Indonesia. 1994) .47
9
Sitorus, Penelitian Kualitatatif Suatu perkenalan; (Bogor: Kelompok Dokumentasi Ilmu
Sosial, Jurusan limu-Ilmu Sosial dan Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor,
1998) h. 16
10
Sitorus, I’eneliiian Kualitatif Suatu Perkenalan; h.17

9

selama periode waktu yang berkelanjutan.11 Kekerasan yang dialami oleh beberapa
keluarga khususnya terhadap anak adalahpristiwa yang terjadi dalam masyarakat
yang merupakan fakta sosial. Studi kasus penelitian ini hanya mengugkap dan
menganalisis beberapa pristiwa kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak.
Dalam memilih subjek penelitian harus benar-benar tertuju kepada yang
pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga atau informan informasi dan
masyarakat atau organisasi yang menangani kekerasan dalam rumah tangga tersebut,
peneliti mula-mula mengumpulkan seluruh konsep yang digunakan dalam penelitian,
kemudian menentukan subjek penelitian. Dalam menentukan jumlah subjek
penelitian atau dalam istilah penelitian kuantitatif dikenal dengan sempel-sempel
penelitian kualitalif berbeda dengan penelitian kuantitatif (pengukuran/jumlah).
Penelitian kualitatif (penjabaran/penguraian) tidak bermaksud untuk mengambarkan
karakteristik populasi, melainkan Iebih terfokus kepada representasi terhadap
fenomena sosial. Maka dalam prosedur menentukan jumlah sampling atau informan
yang terpenting adalah bagaimana menentukan informan kunci (key informan) atau
situasi sosial tertentu yang sarat informasi sesuai dengan fokus penelitian.
Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan yang

terjun Iangsung ke

lapangan dan mencari subjek yang telah di ketahui (Field Work) yang mengunakan
metode kualitatif, yaitu suatu penelitian yang ada hakikatnya mengamati orang dalam
lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan

11

Cresswell. J.W, Research Desain Qua! it at jf and Quantitative Apprpoachess. Thousand,
oaks, London, New delhi: SAGE, Publications, 1995) h. 17

10

tafsir mereka tentang dunia sekitarnya.12 pemilihan pendekatan ini dianggap tapat
karena peneliti ingin meneliti permasalahan ini dalam seting alamiahnya dan
berusaha untuk memaknai dan menafsirkan fenomena yang ada berdasarkan apa yang
dirasakan oleh para informan.
Dengan

mengunakan

pendekatan

kualitatif,

peneliti

berharap

bisa

mendapatkan pemahaman yang mendalam dan murni tentang fenomena yang diteliti
dan ini tidak mungkin diperoleh jika mengunakan pendekatan kuantitatif.
d. Wawancara
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam (bertatap
muka langsung dengan korban Indept Interview).13 Wawancara tersebut dilakukan
secara terstruktur dan lepas. Teknik ini diharapkan dapat membuka tabir dan
mendalami hakikat peristiwa. Kekerasan terhadap anak dalam rumah tangga sebagai
subjek penelitian. Teknik-teknik penelitian diatas digunakan untuk mengumpulkan
data primer, dimana jenis data tersebut merupakan data studi kasus. Studi kasus
pendekatan yang bertujuan untuk mempertahankan keutuhan (wholeness) dan subjek,
artinya data yang dikumpulkan dalam studi kasus keseluruhan yang terintegrasi. 14
Pengumpulan data Primer terhadap informan kunci dilakukan dengan teknik
snow ball (bola salju), yaitu meminta kepada informan untuk memeperkenalkan
kepada informan lainnya hingga peneliti memperoleh keseluruhan pandangan
12

Nasution. S, Metode Penelitian Naturalistik,, Kualitatjf, (bandung: tarsono, 1998 ), h.3 1
Denzin, N.K , Interpretatjf Biography: Qualitative Research Method (London, SAGE
Publications, 1989) h. 51
14
Vrenbergt, J, Methode dan Tehnik Penelitian Masyarakat, (Jakarta PT Gramedia, 1978), h.
32
13

11

penelitian. Setelah dapat izin penelitian dan pemerintah setempat, peneliti melakukan
pendekatan kepada subjek penelitian.
Nama informan tidak peneliti cantumkan sesuai namanya, akan tetapi hanya
dalam bentuk inisial. Hal ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Walaupun para informan tidak keberatan namanya dicantumkan dengan Iengkap, dan
kemudian cara memilih Informan 15 responden.
e. Teknik Analisa Data
Data Primer yang telah dikumpulkan dari hasil penelitian dianalisa dengan
menggunkan metode data kualitatif, yang dimulai sejak hari pertama peneliti
melakukan penelitian. Analisis data terdiri dan tiga alur yang terjadi secara
bersamaan, yaltu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau
verifikasi sebagai sesuatu yang jalin-menjalin pada saat sebelum, selama, dan sesudah
pengumpulan data dalam bentuk yang sejajar untuk membangun wawasan umum
yang disebut “analisis”. 15 15 Pertama, redukasi data diartikan sebagai proses
pemilihan,

pemusatan perhatian

Transformasi data “langsung”

pada

penyederhanaan,

pengabstrakan,

dan

“ yang muneul dari catatan- catatan tertulis

dilapangan, berupa catatan harian lapangan. Peneliti menyunting seluruh informasi
untuk melihat kelengkapan data, lalu menganalisisnya sesuai dengan penelitian dan
menyusunnya sesuai dengan urutan kejadian. Misalnya, peneliti menyunting data
tindakan kekerasan yang dialami oleh anak kaitanya dengan kronologis konflik dalam

15

Milks, M.B dan Huberman, Analisis data kualiitatif (Jakarta: Universitas Indonesia Press,
1992), h 14

12

rumah tangga secara berurutan mengklafikasikan data yang sudah ada kepada bagianbagiannya. Kedua, penyajian data dimaksudkan untuk menyusun sekumpulan
informasi yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan. Penyajian data
merupakan sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan
adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Data disajikan dalam
bentuk teks naratif.
Agar data yang disajikan dalam bentuk teks naratif tidak tidak terpencarpencar dan lompat-lompat, peneliti menyajiakan data dalam bentuk matriks dan
bagian sesuai dengan sub-sub topik penelitian. Penyajian data seperti ini bertujuan
untuk mempermudah dalam memahami dan menganalisis kekerasan dalam rumah
tangga terhadap anak Ketiga, penarikan kesimpulan. Dalam penarikan kesimpulan
dilakukan verifikasi (pemeriksaan tentang keberanaran laporan) selama penelitian
berlangsung dengan menghubungkan semua kejadian sosial yang ditemukan di
lapangan.
Pengambilan kesimpulan adalah proses, dimana peneilti dan permulaan
pengumpulan data telah membuat kesimpulan secara longgar, tetapi terbuka dan
sekeptis (ragu-ragu atau kurang percaya), kemudian meminjam istilah Gloser dan
Straus yang dikutip oleh Miles dan Guberman- meningkat menjadi lebih rinci dan
mengakar, dengan kokoh. Kesimpulan sementara tersebut di diskusikan kepada
informan kunci. 16. para informan (anak) diminta untuk menginterpretasikan

16

Cresswel, LW, Research Desain Qua1i:at~f and Quanhitat~f Approaches, Kekerasan
Dalam Rumah Tangga Yang Terjadi Di Dunia ( Jakarta: Gramedia Pustaka 1999) h. 34

13

kesimpulan sementara baik sesuai maupun tidak sesuai. Jika interpretasi diungkapkan
menunjukkan kesesuaian, maka temuan tersebut akan menjadi kesimpulan tetap
peneliti. Namun jika interpretasi masih menunjukkan ketidak sesuaian, maka peneliti
akan melakukan kegiatan mencari data, menganalisa dan merumuskan kesimpulan
kembali. Hal ini dilakuakan untuk mendapatkan data dan kesimpulan yang shahih.
Akan tetapi karena keterbatasan waktu yang dimilki oleh penulis dan sulitnya
menemui pelaku (orang tua), maka dalam penelitian ini penulis hanya menfokuskan
kepada korban (anak).
f.

Sistematika Penulisan
Penulisan skripsi ini disusun menjadi beberapa bab, dan setiap bab dibagi lagi ke

dalam Sub Bab, dengan perincian sebagai berikut:
BAB I : pendahuluan terdiri dari Latar Belakang, pembatasan dan Perumusan
Masalah, Tujuan Penelitian, Metode Penelitian, Sistematika Penulisan. BAB II : Tinjauan
Pustaka terdiri dari, Pengertian kekerasan rumah Tangga terhadap anak, Bentuk-bentuk
kekerasan terhadap anak dalam rumah tangga, Sebab-sebab timbulnya kekerasan terhadap
anak dalam rumah tangga, Solusi islam dalam megatasi kekerasan terhadap anak dalam
rumah tangga. BAB III: Pandangan Islam menyikapi kekerasan dalam rumah tangga. Terdiri
dari tuntunan Islam bagi orang tua dalam mendidik anak, anak dan harta adalah ujian,
perlakuan kekerasan terhadap anak dalam islam. BAB IV : Gambaran Umum terdiri dari,
Pelaku Dan Korban Kekerasan Terhadap Anak Dalam Rumah Tangga, Identitas keluarga
korban, Identitas pelaku tindak kekerasan terhadap anak, Identitas korban kekerasan terhadap
anak BAB V : Analisa Kekerasan Rumah Tangga Terhadap Anak terdiri dan, faktor-faktor

14

yang menyebabkan kekerasan rumah tangga terhadap anak, respon masyarakat I keluarga
yang ada di desa gandaria, mengenai kekerasan rumah tangga terliadap anak, kondisi fisik
anak yang terkena korban kekerasan dalam rumah tangga BAB VI : Penutup Terdiri Dan,
Kesimpulan, dan Saran-Saran.

15

16

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Kekerasan Rumah Tangga Terhadap Anak
Menurut John Galtung, kekerasan adalah suatu perlakuan yang menyebabkan realitas
aktual seseorang ada dibawah realitas potensial.17 Artinya ada sebuah situasi yang
menyebabkan segi kemampuan atau potensi individu menjadi tidak muncul. Sedangkan
menurut Soetandoyo Wigiusubroto, kekerasan adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh
seseorang atau sejumlah orang yang berposisi lebih lemah bersama kekuatanya, entah fisik
maupun non fisik yang superior dengan kesengajaan untuk menimbulkan derita di pihak yang
tengah menjadi objek kekerasan tersebut 18.
Dalam defenisi tersebut, konsep kekerasan di lakukan oleh yang superior dan di
lakukan dengan sengaja sehingga menimbulkan kerugian, mengacu kepada konsep kekerasan
yang digagas oleh beberapa ilmuwan di atas, paling tidak ada empat hal yang menjadi ukuran
dasar kekerasan, yaitu: (1) ada pihak yang dirugikan; (2) ada unsur kesengajaan; (3) pelaku
kekerasan merasa superior; (4) adanya kerusakan semua bentuk kekerasan, baik verbal
maupun non verbal, dapat dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang lain, sehingga
dapat menyebabkan efek negatif secara emosional dan psikologis terhadap orang lain yang
menjadi tujuannya atau sasarannya.

17

Windu Warsan, Kekuasaan dan Kekerasan M enurut Thon Galt ung, (Yogyakart a: Pust aka
Pelajar, 1992).h.20
18
Soet ondoyo Wigiusubrot o, Islam dan Konst ruk di Seksualit as, Kerjasama PSW, lAIN
Yogyakart a The Foundat ion dan Pust aka Pelajar ( Yogyakarta: Pust aka Pelajar, 2002). h. 18

16

17

Perbuatan yang memiliki aroma kekerasan yang dilakukan oleh siapa pun hanya akan
melahirkan kesengsaraan pihak lain emosional dan psikologis terhadap orang lain yang
menjadi tujuannya atau sasarannya. Perbuatan yang memiliki kekerasan yang dilakukan oleh
siapa pun hanya akan melahirkan kesengsaran pihâk lain. Perilaku kekerasan dapat terjadi di
mana saja, di tempat umum (publik), di sekolah, di kantor dan di rumah, bahkan di tempat
yang seolah-olah tidak mungkin terjadi kekerasan. Kekerasan dalam rumah tangga tentu
berbeda dengan kekerasan di tempat-tempat lain, baik itu pelaku. faktor-faktor penyebab,
proses pembentukan kekerasan, bentuk-bentuk kekerasan maupun intensitasnya.
Pada tataran ideal, perkawinan adalah jendela penyatuan kasih dan sayang atas dasar
cinta. Ketika dua pasangan manusia memasuki jenjang perkawinan, rasanya tidak mungkin
bahkan secara ekstrim mustahil kasih dan sayang dengan dasar cinta direnggut atau diporakporandakan oleh kekerasan.
Tidak jarang keluarga yang pada awalnya (ketika perkawinan) terbentuk dengan
kasih dan sayang berujung dengan kekerasan bahkan kematian pada salah satu pasangannya.
Ternyata bahtera perkawinan sekali pun tidak luput dari “virus” kekerasan. Kekerasan dalam
rumah tangga adalah kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga di mana biasanya yang
berjenis kelamin Laki-laki (suami) menganiaya secara verbal maupun fisik pada yang
berjenis kelamin perempuan atau anak-anak.19
Sedangkan yang termasuk dalam lingkup rumah tangga antara lain, suami, istri,
orang tua dan anak-anak, orang-orang yang mempunyai hubungan darah, orang-orang yang
19

Laporan Penelian “ Kekerasan Terhadap Perempuan Dalam Keluarga” Analisis Kasus Pada

Beberapa Keluarga Di Wilayah Ciput at , Kerjasama PSW

lAIN Syarif Hidayat ullah dengan M e Gill

Project , (Jakart a: PSW IAIN Syarif Hidayat ullah dengan M e Gill Pmjec t 2000) h 14

18

bekerja membantu kehidupan rumah dan orang yang hidup bersama dengan korban atau
mereka yang pernah atau masih tinggal bersama. Dalam suatu keluarga, siapa pun dapat
menjadi objek sasaran kekerasan. Berdasarkan temuan-temuan penelitian, pelaku kekerasan
dalam rumah tangga biasanya mengarah kepada yang berjenis kelamin (Biologis) lakilaki.
Berdasarkan laporan penelitian tersebut, laki-laki menjadi “tertuduh atau terdakwa” sebagai
pelaku kekerasan yang terjadi dalam masyarakat dan rumah tangga.
Kaum feminis mendefinisikan kekerasan terhadap perempuan sebagai setiap tindakan
kekerasan verbal maupun fisik, pemaksaan atau ancaman nyawa yang dirasakan pada seorang
perempuan apakah masih anak-anak atau sudah dewasa yang menyebabkan kerugian fisik
atau psikologis, penghinaan (perampasan kekerasan) dan yang melanggengkan subordinasi
perempuan.20 Pada definisi terakhir ini, kekerasan menekankan pada aspek fisik dan psikis
dan posisi perempuan sebagai pihak subordinat. Jika diruntut dalam sejarahnya, memang
kekerasan itu ada sejak lakI-laki dan perempuan ada di muka bumi, sehingga pada definisi
tersebut seolah-olah subordinasi perempuan sudah sejak lama terbentuk.
Sedangkan menurut Achmad Chusairi mengutip dari Anne Gant (1991), kekerasan
yang sangat berat sebagai pola perilaku menyerang (assaultive) danmemaksa (coersive),
dilakukan oleh orang secara fisik, seksual, psikologis. Dan pemukulan dan pemaksaan secara
ekonomi, yang dilakukan oleh orang dewasa kepada pasangan intimnya. 21 Kekerasan rumah
tangga adalah suatu bentuk kekerasan yang tenjadi di lingkup rumah tangga di mana
hubungan antara pelaku dan korban ada dalam ikatan rumah tangga atau perkawinan dan
20

YLBHI, Jurnal Perempuan untuk Pence rahan dan Kesejaht eraan, Hent ikan Kekerasan

Perempuan( Jakart a: Yayasan Jurnal Perempuan,2002 ) h. 49
21

Achmad Chusairi, Kekerasan Terhadap Ist ri dan Ket idakadilan Gender. (Jakart a :

Paramadina, 1997) h. 25

19

tidak dalam hubungan pekerjaan. 22 Berdasarkan dua defenisi yang diutarakan oleh Ganl dan
yang dimuat Harian Republika. mengisyaratkan bahwa kekerasan dalam rumah tangga adalah
dalam posisi hubungan ketidakadilan gender, bukan karena faktor perbedaan biologis antara
laki-laki (suami) dan perempuan (istri). Merujuk pada Deklarasi PBB pada tahun 1993 .
sebagaimana sudah dijelaskan di atas kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan
seseorang atau beberapa orang terhadap orang lain yang berakibat atau mungkin berakibat
kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual dan atau psikologis, termasuk ancaman
perbuatan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang atau
penekanan secara ekonomis yang terjadi di dalam ruang lingkup rumah tangga.23 Berdasarkan
definisi tersebut, maka lingkup kekerasan meliputi kekerasan fisik, psikologis, psikis, seksual
dan ekonomi. Begitu luas lingkup kekerasan, sehingga dalam kondisi tertentu dalam
kehidupan masyarakat khususnya dalam keluarga. tidak sadar bahwa interaksi sosial mereka
bernuansa kekerasan.
Bahkan bagi masyarakat tertentu bukan dianggap sebagai kekerasan. Yang menjadi
sasaran kekerasan dalam keluarga biasanya perempuan dan anak (istri). Memang mungkin
saja laki-laki (suami) di dalam rumah tangga menjadi korban kekerasan, akan tetapi
berdasarkan laporan Gelles dan Cornell- sebagaimana dikutip oleh Pusat Studi Wanita lAIN
dan Me Gill Project tahun 2000, menunjukkan hampir semua kasus kekerasan yang sangat
berat dialami perempuan, terbukti lewat luka-luka yang diderita para istri, dan anak-anak, bila

22

Harian Republika, Kekerasan dari M ana Datangnya,. Jumat 12 M aret 2004.h. 13

23

Laporan Penelitian “ Kekerasan Terhadap Perempuan dalam Keluarga: Analisis Kasus Pada

Beberapa Keluarga di Wilayah Ciput at , Keijasama PSW lAIN Syarif Hidayat ullah Jakart a.

20

ada satu dua kasus laki-laki teraniaya itu biasanva disebabkan oleh bela diri dari pihak
perempuan.
Istilah kekerasan terhadap perempuan (istri) berarti segala bentuk kekerasan yang
berdasarkan gender atau yang disebut pula dengan “gender based violence” yang akibatnya
berupa kerusakan atau penderitaan fisik, non fisik. seksual, psikologis pada perempuan
termasuk tindakan pemukulan dan ancaman-ancaman, paksaan atau perampasan yang
semena-mena atas kemerdekaan, baik yang terjadi di tempat umum atau di dalam lingkungan
kehidupan pribadi seseorang. 24 Kata kekerasan memang mengingatkan kita pada sebuah
situasi yang kasar, menyakitkan dan adanva ketidak harmonisan dalam hubungan antara
seseorang dengan orang lain serta dapat menimbulkan efek yang negatif. Namun kebanyakan
orang, hanya memahami kekerasan sebagai bentuk perilaku fisik yang kasar, keras, penuh
dengan kekejaman yang dapat menimbulkan perilaku yang ofensif (menekan), padahal
konsep kekerasan memiliki makna yang luas. Sedangkan menurut Undang-Undang No.23
tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, KDRT di definisikan
setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya
kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual. psikologis, dan atau penelantaran rumah
tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan
kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.25.
Yang termasuk lingkup rumah tangga menurut undang-undang tersebut adalah suami.
Istri, anak, orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan suami. Istri. anak dan

24

LBH AFIK, Landasan Aksiidan Deklarasi Beijing Mengutip Dari Deklarasi Penghapusan
Kekerasan Terhadap Perempuan Pasar, (Jakarta: Forum Kumunikasi LSM Perenpuan dan APIK), h. 88
25

UU Republik Indonesia nomor 23 t ahun 2004 Tent ang Penghapusan Kekerasan Dalam

Rumah Tangga” (Jakart a: BP. Panca Usalia, 2004), h. 41

21

orang yang bekerja membantu rumah tangga. Dengan lahirnya Undang-Undang No. 23 tahun
2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. tindakan kekerasan dalam
rumah tangga bisa terus ditekan. Dengan aturan ini pula kini perempuan bisa menempuh jalur
hukum bila mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Sehingga KDRT tidak terjadi lagi
dalam negeri tercinta ini.
Di Indonesia prcsentasi angka kekerasan terhadap perempuan dan anak mengalami
peningkatan dalam tiga tahun terakhir. Bila pada tahun 2001 hanya tercatat 1.253 kasus saja .
maka tahun 2003 angka meningkat menjadi 5.406 kasus. Dan angka tersebut hampir
separuhnya adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).26 Angka tersebut hanyalah untuk
kasus yang dilaporkan. Sedangkan kasus-kasus yang hanya disimpan di bawah bantal bisa
jadi jauh lebih besar. Karena korban KDRT lebih memilih untuk diam dikarenakan apabila
mereka membuka kasus sama saja dengan Membuka aib sendiri Berdasarkan temuan data
terbaru (2004), kasus KDRT jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Lembaga
Bantuan Hukum (LBH) APIK Jakarta melaporkan sepanjang tahun 2004 telah menerima
pengaduan sebanyak 389 kasus tindakan kekerasan dalam rumah tangga dengan korban
perempuan dan anak-anak, angka-angka tersebut naik sekitar 38,9 persen dibanding tahun
lalu ( 2003 ).27
Jika angka kekerasan khususnya KDRT semakin hari semakin meningkat sebagaimana yang dilaporkan oleh harian Republika, maka sepatutnya kita untuk menelaah
lebih jauh kenapa ini bisa terjadi demikian. Kontrol sosial dari seluruh lapisan masyarakat
26

Republika, St op Kekerasan Terhadap Perempuan, Jakarta Jum’at . 25 Juni 2004, Tulisan

27

Republika, Jika Ada Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Jakart a ,M inggu, 23 Januari 2005.h.

Pert ama
1

22

dan pemerintah, tentu merupakan usaha-usaha mengurangi bahkan menghapuskan kekerasan
terhadap perempuan yang harus lebih digiatkan. Ketika kekerasan terhadap perempuan itu
terjadi, maka hanya satu kata “hentikan”.

B.Bentuk-Bentuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Secara spesifik bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak tertuang
dalam Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan Declaration on the
Elimination of Violence Against Women), yang diadopsi Majelis PBB Tahun 1993, pada
pasal 2 sebagai berikut : (1) tindakan kekerasan secara fisik, seksual, psikologis yang terjadi
dalam keluarga, termasuk pemukulan, penyalahgunaan seksual atas anak-anak perempuan
dalam rumah tangga, kekerasan yang berhubungan dengan masa kawin (mahar), perusakan
alat kelamin perempuan, praktek-praktek kekejaman tradisional lain terhadap perempuan di
luar hubungan suami-istri, serta kekerasan yang berhubungan dengan eksploitasi.

(2)

kekerasan secara fisik, seksual, dan psikologis yang terjadi dalam masyarakat luas termasuk
perkosaan, penyalahgunaan seksual, pelecehan dan ancaman seksual di tempat kerja, dalam
lembaga-lembaga pendidikan dan sebagainya. (3) kekerasan secara fisik, seksual dan
psikologis yang dilakukan atau dibenarkan oleh negara.28
Bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan dalam Declaration on the Elimination
of Violence Against Women yang diadopsi Majelis PBB Tahun 1993 memiliki lingkup yang
cukup luas. Kekerasan tidak hanya pada fisik, tetapi juga non fisik yang meliputi kekerasan
psikis atau psikologis, pengekangan akses interaksi sosial. Dan jenis kekerasan lain yang

28

Fathul Djannah dkk. Kekerasan Terhadap Istri. (Yogyakarta: Lkis dan CIDA-ICIHEF
Jakarta dan Pusat Study Wanita IAIN Sumatra Utara, 2003), h. 17

23

“dibenarkan” oleh Negara. 29 Lingkup kategori kekerasan tersebut tentu bertujuan untuk
mengurangi bahkan menghilangkan kekerasan terhadap perempuan di muka bumi.
Sedangkan Magdalena Sitonis mengelompokan kekerasan menjadi 4 bentuk, (1)
kekerasan secara fisik (physical abuse) misalnya, mulai dari menjambak, memukul,
menampar, menggigit, sampai memotong akses untuk menjaga kesehatan. (2) kekerasan
psikologis (psychological & emotional abuse), misalnya menanamkan perasaan takut melalui
intimidasi, mengancam akan menyakiti menculik, menyekap, ingkar janji, dan merusak
hubungan orang tua dan saudara. (3) kekerasan secara ekonomi (economic abuse) misalnya
membuat tergantung secara ekonomi, melakukan kontrol terhadap penghasilan dan
sebagainya. (4) kekerasan seksual (seksual abuse) misalnya memaksakan dan mendesakkan
hubungan seks seperti melakukan penganiayaan memaksa menjadi pelacur. memaksa seks
dengan orang lain dan sebagainya. Kekerasan bukan hanya kekerasan fisik saja seperti
pemukulan atau tendangan, akan tetapi dapat berbentuk sangat halus dan tidak dapat di lihat
dengan kasat mata seperti kecaman, kata-kata yang meremehkan dan sebagainya. Bahkan
bahasa tubuh yang mempunyai makna mendiskriminasikan, menghina, menyepelekan atau
makna lain yang berarti kebencian adalah termasuk kekerasan. Paling tidak terdapat lima
kategori bentuk kekerasan dalam rumah tangga yaitu, fisik, emosional atau psikologis,
seksual, ekonomi dan sosial.30
Kekerasan fisik biasanya dapat berakibat langsung dan dapat di lihat dengan kasat
mata, seperti adanya memar di tubuh atau goresan luka. Sedangkan kekerasan emosional atau
psikologis tidak dapat menimbulkan akibat langsung, namun dampaknya bisa membuat si

29

. Fathul Djannah dkk. Kekerasan Terhadap Istri. H. 17

30

Juliani Wahjana, Artikel diakses tanggal (22 Desember 2000) http: www. NL Ranesi html
Kekerasan Perempuan dan Komnas HAM Bagian Kedua h. 2

24

korban merasa trauma dan putus asa apabila kejadian tersebut berlangsung secara berulang
kali. Kekerasan emosional seperti penggunaan kata-kata kasar yang sifatnya merendahkan
atau mencemoohkan, misalnya “membanding-bandingkan”

istri dengan orang lain dan

mengatakan bahwa istri tidak “becus” dalam menjalankan tugasnya dan sebagainya.

C. Sebab-Sebab Timbulnya Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Terdapat beragam argumentasi yang berkembang pada para ahli menyangkut dengan
terjadinya sumber kekerasan terhadap istri. Menurut Achmad Chusairi, kekerasan terhadap
istri pada rumah tangga disebabkan oleh adanya dominasi sumber ekonomi keluarga,
memiliki persoalan psikis di mana trauma masa kccil dan tinggal dalam Iingkungan dengan
penuh kekerasan.31 Perempuan yang tidak memiliki kemandirian ekonomi maka ia sangat
tergantung pada suaminya. Ketergantungan secara ekonomi menyebabkan suami merasa
berkuasa dan melakukan kesewenang-wenangan, salah satu bentuknya adalah kekerasan
terhadap istri. Sebagaimana sudah dijelaskan di atas (dalam latar belakang masalah),
hubungan antara gender (perbedaan laki-laki dan perempuan dalam kultural yang dikontruksi
susunan secara sosial) dan kekuasaan diidentifikasikan dengan “siapa memiliki”, “siapa
memutuskan” dan “siapa mendominasi” diantara kedua kategori identitas gender. Kekuasaan
akses terhadap sumber ekonomi menjadi kekuatan tersendiri baik skala makro (negara)
maupun mikro (rumah tangga) mendorong ke ruang kekuasaan. Atau dengan kata lain,
“siapa yang mempunyai sumber ekonomi, maka ia berkuasa”. Dalam rumah tangga, biasanya
yang mempunyai sumber ekonomi adalah suami, sehingga pada gilirannya ia berkuasa.

31

Ahmad Chusari, Kekerasan Terhadap Istri dan Ketidak Adilan Gender (Jakarta:
Paramadina, 1997), h. 54

25

Adanya dua respons yang membuktikan adanya pihak yang dikuasai dan menguasai,
yaitu respons dalam bentuk resistensi (ketahanan) dan berlanjut mendorong penindasan. Pada
posisi inilah seorang istri akan menjadi sasaran kekerasan suami, terutama apabila tidak
terjadi keseimbangan baru yang disepakati oleh semua pihak yang terlibat, maka terjadilah
perubahan sistem kekuasaan32. Suami yang memiliki persoalan psikis, baik tekanan pekerjaan
maupun persoalan pribadi di luar rumah. Persoalan psikis itu mengakibatkan stres yang
berujung pada tindakan kekerasan suami terhadap istri.
Di samping itu, kekerasan yang dilakukan oleh suami hasil ingatan tentang kekerasan
yang di alaminya pada masa kanak-kanak. Suami yang melakukan kekerasan terhadap
istrinya adalah mereka yang pernah menerima perlakuan kekerasan di masa kecilnya baik
oleh orang tuanya maupun lingkungannya. Trauma masa kecil itu kemudian di ulang kapada
istrinya sebagai semacam dendam atas pengalaman yang menyakitkan. 33
Penjelasan di atas tidak mencukupi kita untuk menjelaskan fakta KDRT yang sangat
kasuistik, apalagi konteks Indonesia yang sangat pluralistik. Para ahli lainnya menyimpulkan,
dari penelitian mereka, bahwa kekerasan suami terhadap istri juga ditemukan pada keluarga
di mana istri juga sama-sama memiliki penghasilan dan suami yang sehat secara psikis serta
tinggal di lingkungan normal. Oleh karena itu, faktor-faktor penyebab kekerasan dalam
keluarga yang dilakukan oleh suami terhadap istri sangat tergantung pada subjek
penelitiannya. Sehingga apa pun kesimpulannya, tidak dapat digeneralisasi, walaupun
memang ada persamaan-persamaannya.

32
33

Ibid. h. 55.
Ibid h . 57

26

Kekerasan ter

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

59 1234 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 346 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 285 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

4 197 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 268 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 363 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

18 331 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

6 190 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

11 343 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

18 385 23