Kekerasan rumah tangga terhadap anak dalam prespektif islam

(1)

KEKERASAN RUMAH TANGGA TERHADAP ANAK

DALAM PRESPEKTIF ISLAM

STUDI KASUS DESA GANDARIA

KECAMATAN MEKAR BARU

TANGERANG BANTEN

Oleh:

Lia Yuliana

NIM:203033202176

JURUSAN SOSIOLOGI AGAMA

FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1427 H - 2008 M


(2)

KEKERASAN RUMAH TANGGA TERHADAP ANAK DALAM PRESPEKTIF ISLAM

STUDI KASUS DESA GANDARIA KECAMATAN MEKAR BARU

TANGERANG BANTEN

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana S.Sos

Oleh: Lia Yuliana NIM:203033202176

Di Bawah Bimbingan

Dra. Hj. Hermawati. MA NIP: 150227408

JURUSAN SOSIOLOGI AGAMA FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA


(3)

LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Skripsi ini berjudul “KEKERASAN RUMAH TANGGA TERHADAP ANAK DALAM PRESPEKTIF ISLAM” telah diujikan dalam sidang munaqasah FakultasUshuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 17 Juni 2008, Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana program strata satu (S1) pada jurusan Sosiologi Agama.

Jakarta 17 Juni 2008

SIDANG MUNAQASYAH

Ketua Merangkap Anggota Ketua Merangkap Anggota

Drs. Harun Rasyid, M.Ag Drs. Rofqi Mukhtar, MA

NIP. 19600902 198703 1 001 NIP. 19690822 199703 1 002

Penguji I Penguji II

Dr. Masri Mansor, MA Dra. Ida Rosyidah, MA

NIP. 19621006 199903 1 002 NIP. 19630616 199003 2 002

Pembimbing

Dra. Hermawati, MA NIP. 19541226 198603 2 002


(4)

KАТА PENGANTAR Вismillahirrahmanirrahim

Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah SWT., atas selesainya skripsi ini, tak ada alasan untuk penulis kecuali mengucapkan syukur atas ridho dan rahmat-Nya. Berkat-Nya lah skripsi ini ada.

Skripsi ini hanya merupakan coretan kecil dalam setiap bagian kehidupanpun merupakan tantangan bagi penulis, di saat pengajuan judul hingga selesainya skripsi ini selalu saja banyak yang menyepelekan dan mengganjal. Penulis tertarik kepada seputar masalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga Terhadap Anak. Di samping merupakan bidang bahasan sesuai jurusan, juga merupakan bahasan yang tak kunjung selesai di negara kita ini. Berbagai kasus timbul tenggelam hanya karena permainan segelintir 'Orang Yang Tidak Berprikemanusiaan'. Ketidakadilan penguasa inilah yang menggelitik nalar penulis untuk mengambil Studi Kasus Kekerasan Anak Dalam Rumah Tangga dalam pelanggaran HAM di Indonesia.

Penulis merasa sedih ketika anak di bawah umur ataupun pada saat mereka lahir selalu tertindas dan selalu terlantarkan akibat banyak yang terjadi kekerasan dalam rumah tangga, oleh karena itu pemerintahan yang selalu mementingkan perut mereka sendiri. Penyelesaian itu belum juga muncul sampai saat ini, meskipun, Susilo Bambang Yudhoyono dan Yusuf Kalla berkuasa 3 tahun. Bahkan, malah memperburuk Indonesia setelah kebijakannya menaikkan harga BBM, adanya penggusuran, korupsi merajalela padahal KPK sudah diberikan gaji dari rakyat selangit, pengangguran merata. Intinya tidak ada mengalami perubahan yang signifikan dari semua usaha yang di lakukan oleh negara untuk rakyatnya hingga saat ini.sehingga banyak sekali terjadi kekerasan dalam rumah tangga di Indonesia dan semakin berkepanjangan dan terus menerus ada disetiap rumah tangga.

Keberadaan penulis sebagai bagian dari mahasiswa adalah menjadi tujuan utama penyusunan skripsi ini. Terus terang skripsi ini belum lengkap memuat data dan informasi mutakhir, oleh karena itu karya yang sederhana dan belum sempurna ini


(5)

semoga menjadi wadah inspirasi, khususnya bagi penulis dan umumnya kepada semua mahasiswa Sosiologi Agama. Semoga siapapun yang membacanya tidak pernah rnerasa puas sehingga terus-menerus membaca dan membaca untuk memperdalam mengenai pergulatan Kekerasan Anak Dalam Rumah Tangga melalui karya-karya lain. Namun, bukan juga dengan karya ini penulis tidak bisa melanjutkan pertualangan pendidikan setelah 10 semester penulis merenung. Masih ada hari ini dan hari esok untuk sergera-berjuang-bersama Melalui coretan ini penulis banyak mengucapkan terima kasih kepada:

1. Orang tua kami yang tercinta Bарак Antajaya (Alm) dan Ibu Aminah terima

kasih atas segala pengorbanan yang ibu dan bapak berikan, semoga Allah selalu memberikan rahmat dan karunianya serta senantiasa Melimpahkan kasih sayang ditengah-tengah keluarga kita, ibu skripsi ini Lia Persembahkan Sebagai Sembah Baktiku.

2. Kakak Lia tersayang Kang Dudun, Kang Mahfud, Kang Juli, Teh Aan, dan

buat kakak ipar lia teh Salsah, bang Faisal Khalid Tarigan, terimaksih atas dukungan moril dan materil, semangat dan doa sampai saat ini. alhamdulilah masili diberikan kesehatan dan tegar dalam menyelesikan skripsi ini., dan Keponakan Lia, Dara Abdilah, Faqih Tadarus Dan Bintang Muharnad Faan Tariqan, keluguan dan kelucuan kalianlah yang menghilangkan dahaga dan penatnya tugas-tugas kuliah.

3. Drs.H.Harun Rasyid M.A., selaku Dekan Program Ekstensi Fakultas

Ushuluddin dan Filsafat. Makasih раk motivasinya.

4. Jamilah M.Ag., Selaku Sekjur yang tidak pernah bosan menerima keluhan

kami.

5. Drs. Ramlan A.Gani. M.Ag., Selaku Dosen Penasehat Program Ekstensi

Fakultas Ushuluddin dan Filsafat.

6. Dra.Hj. Hermawati MA selaku pembimbing skripsi, terimakasih untuk setiap

keramahan dan kesabaran selama proses penyusunan skripsi ini, yang selalu memberikan semangat buat penulis juga untuk kritik dan sarannya, tanpa itu semua skripsi tidak akan pernah selesai, penulis ucapkan banyak (10 kali) terima kasih.


(6)

7. Seluruh Civitas Akademik Ushuluddin, dosen-dosen yang telah mengajar kami, tunduk hormat kami sampaikan atas perjuanganya dalam mengajar kami.

8. Kepada Ka Seto Mulyadi, Ifdal Kasim serta kawan-kawan di Komnas HAM,

YLBHI dan LBHI, terima kasih sedalam-dalamnya, Tanpa semuanya skripsi ini pasti ditolak terus oleh dosenku.

Teman-teman lia, Pada Waktu SMU Nur El Falah, Yang teras memberikan semangat, Umi, Yani, gembul, Gendut, Irey Afri, Ridwan, Ambon, danbuat si manis Nurul Cute, pesannya jangan putusin silaturahmi, sama lia. terima kasih semuanya 10. Kepada Kawan-Kawan Sosiologi Agama, Pemikiran Politik Islam:Hajami, Eva, Canda, Nur Ajijah, Yayah, Farida Warid, Suhadi, Ajat, Syukur, Margono, Engkos Markos tak lupa pula anak-anak Tafsir Hadis yang terus berjuang memberikan semangat kepada penulis Kepada semua pihak yang membantu penulis, namun tidak tercantum di sini, khususnya kepada semua

teman-teman, untaian maaf dan terima kasih tidak lupa penulis

sampaikan.Terakhir, semoga skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan ini bermanfaat (amiin) dan segala masukan, kritik dan saran terhadap skripsi ini penulis nantikan dan harapkan

Ciputat, Semanggi 11/25 21 Maret 2008


(7)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... v

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Metodologi Penelitian ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Kekerasan Rumah Tangga Terhadap Anak ... 16

B. Bentuk-bentuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga ... 22

C. Sebab-sebab Timbulnya Kekerasan Dalam Rumah Tangga ... 25

BAB III PANDANGAN ISLAM MENYIKAPI KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA A. Tuntunan Islam Bagi Orang Tua Dalam Mendidik Anak ... 30

1. Menanamkan Ketauhidan ... 30

2. Mengajarkan Agama ... 31

3. Mendidik Anak... 31

4. Mendidik Kejujuran dan Keadilan ... 33

5. Memberi Contoh keteladaban yang Baik ... 33

6. Perhatian Terhadap Anak-anak di Rumah ... 34

B. Anak dan harta Adalah Ujian ... 34

C. Perlakukan Kekerasan Terhadap Anak di Dalam Islam ... 36

1. Membunuh Anak ... 36


(8)

BAB IV GAMBARAN UMUM PELAKU DAN KORBAN KEKERASAN TERHADAP ANAK DALAM RUMAH TANGGA

A. Identitas Keluarga Korban ... 39

B. Identitas Pelaku Tindak Kekerasan Terhadap Anak ... 43

C. Identitas Korban Kekerasan Terhadap Anak ... 45

BAB V ANALISA KEKERASAN RUMAH TANGGA TERHADAP ANAK

A. Faktor yang Menyebabkan Kekerasan di dalam Rumah Tangga

Terhadap Anak ... 48

B. Respon Masyarakat dan Keluarga Yang Ada di Desa Gandaria

Mengenai Kekerasan Rumah Tangga Terhadap Anak ... 51

C. Kondisi Anak yang Terkena Kekerasan Dalam Rumah Tangga 54

D. Solusi-solusi Memeecahkan Masalah Kekerasan yang Terjadi

Dalam Keluarga ... 57

BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan ... 62 B. Saran ... 63


(9)

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Ketegangan maupun konflik yang terjadi dalam lingkup domestik atau rumah

tangga merupakan suatu hal yang biasa dan lumrah terjadi. Seperti adanya perbedaan

pendapat, pertengkaran dan perdebatan dalam rumah tangga. Akan tetapi jika konflik

tersebut berlanjut dan terus berlangsung maka akan berkembang menjadi tindakan

kekerasan yang selanjutnya akan terjadi sebuah kekerasan domestik. Jika dirunut

dalam sejarah kekerasan dalam keluarga sejak manusia sudah ada di bumi seiring

dengan pertumbuhan peradaban manusia. Akan tetapi bentuk-bentuk KDRT berjalan

sesuai dengan dinamika dalam rumah tangga. Bentuk KDRT pada masyarakat

tradisional berbeda dengan KDRT pada masyarakat modem dewasa ini. Begitu juga

dengan bentuk KDRT pada masyarakat desa berbeda, walaupun ada persamaan . Oleh

karena itu, kasus-kasus KDRT dalam masyarakat tentu berbeda-beda dan bersifatnya

unik.

Tayangan kekerasan dalam lingkup rumah tangga dengan mudah dapat

ditemukan baik pada media elektronik, misalnya televisi dan radio maupun media

cetak, misalnya koran, tabloid dan majalah. Dengan rajin media masa memberitakan

kepada publik kejadian-kejadian seputar kekerasan dalam lingkup keluarga, yang

kadang-kadang mengabaikan etikajumalistik. Akan tetapi terlepas dan itu semua

(etika jurnalistik), kekerasaan khususnya dalam lingkup keluarga dapat terjadi di


(10)

mana saja dan kapan saja serta terhadap siapa saja. Bahkan KDRT tidak mengenal

usia, pendidikan dan status sosial.

Konsep kekerasan menurut Maggie Human adalah bentuk dari pemerkosaan,

pemukulan, insect, pelecehan seks dan pornografi

1

. Secara lebih gamblang deklarasi

PBB tahun 1993, mendefinisikan kekerasan terhadap anak sebagai bentuk tindakan

kekerasan gender yang bisa berakibat kesengsaraan atau penderitaan anak secara

fisik, seksual dan psikologis termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan dan

perampasan kernerdekan secara sewenang-wenang baik yang terjadi di ranah

domestik maupun publik. Sementara itu, menurut John Galtung

2

, kekerasan adalah

suatu kelakuan yang menyebabkan realitas aktual seseorang ada di bawah realitas

potensialnya. Artinya, ada sebuah situasi yang menyebabkan segi kemampuan atau

potensi individu menjadi tidak muncul.

3

Mengacu kepada definisi di atas, kekerasan merupakan perbuatan di luar

batas-batas kemanusiaan. Hak-hak kemerdekaan baik secara fisik maupun psikis

(perasaan superioritas yang dimanivestasikan dalam sikap suka memaksa

keangkuhan) terenggut oleh arogansi hegemoni pihak lain (pengaruh kekuasaan suatu

negara terhadap negara lain). Kekerasan hanya akan melahirkan kesengsaraan,

bahkan tidak jarang menimbulkan kematian. Sudah banyak temuan penelitian yang

1

Maggie Human, The Didictionary Of Faminist Theory, Exekter: BPCC, 1989 dalam laporan penelitian “Kekerasan Terhadapa Perempuan Daiam Keluarga”: analisa kasus pada beberapa keluarga di wilayah ciputat. Kerjasama PSW lAIN Syarif Hidayatullah dengan Mc Gill Proiect (Jakarta: PSW dan Mc Gill Project, 2007, ) h.7

2

Windu, Marsana, Kekuasaan dan Kekerasan Menuru John Galtung (Yogyakarta: 1992), h.8

3

Elli Nur Yayati, Kekerasan Terhadap Istri Dalam Ruamah Tangga, (Yogyakarta: Rifka Annisa Womwens Crisis Center, 1999) h.27


(11)

dilakukan oleh masyarakat, misalnya kelompok akademis, lembaga swadaya

masyarakat (LSM) dan investigasi media yang mengungkapkan kekerasan dalam

lingkup keluarga khususnya kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh orang

tuanya. Kekerasan pada dasamya bisa terjadi sudah ada kapan saja dan oleh siapa

saja. Kekerasan ini bisa saja terjadi di tengah keramaian, baik itu di pasar maupun di

tempat yang sunyi. Akan tetapi, sangat mengherankan apabila kekerasan itu terjadi

dalam sebuah rumah tangga yang seharusnya di dalam rumah tersebut sebagai tempat

curahan kasih sayang antara anak dan orang tuanya. Dan kebanyakan kekerasan ini

dilakukan oleh orang yang terdekat dan sudah dikenal baik oleh korbannya.

Banyak faktor yang menyebebkan terjadinya kekerasan dalam lingkup

keluarga. Di samping faktor penyebabnya sangat beragam bentuk kekerasanpun

berbeda-beda. Bahkan pada kasus-kasus tertentu sangat unik. Walaupun secara umum

kekerasan dalarn lingkup keluarga mempunyai kesamaan.

Faktor penyebab kekerasan dalam keluarga, misalnya dalam sebuah keluarga

sering terjadi pertengkaran yang akhirnya meningkat pada kekerasan fisik maupun

psikis biasanya faktor yang paling dominan sebagal pemicu tindakan kekerasan

tersebut adalah karena faktor ekonomi, di mana faktor ini sangat rentan fungsinya

dalam keluarga.

Kekerasan dalarn rumah tangga adalah perbuatan yang dilakukan seseorang

atau beberapa orang terhadap orang lain, mungkin berakibat kesengsaraan atau

penderitaan secara fisik, seksual dan psikologis, termasuk pula ancaman perbuatan

tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan seseorang secara


(12)

sewenang-wenang atau adanya penekanan secara ekonomis, yang terjadi di dalam rumah tangga.

Kekerasan dalam rumah tangga atau dalam istilah lainnya kekerasan domestik adalah

kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga.

Secara spesifik kekerasan terhadap anak berarti segala bentuk kekerasan yang

berdasarkan akibatnya berupa kerusakan, penderitaan fisik, non fisik, seksual,

psikologis pada anak termasuk disini tindakan pemukulan dan ancaman, dan

perbuatan semacam itu, seperti pemaksaan atau perampasan yang semena-mena atas

kemerdekaan, baik yang terjadinya di tempat umum atau bahkan dalam kehidupan

pribadi seseorang.

4

Sangat jelas bahwa kekerasan dalam lingkup keluarga dilakukan oleh orang

tua terhadap anaknya dimana proses konstruksi gender dalam struktur sosial sangat

mempengaruhinya. Kalau memang kekerasan terhadap anak diakibatkan oleh

faktor-faktor yang mendorong terjadi kekerasan tersebut dapat dihilangkan karena posisi

laki-laki dan perempuan adalah setara dalam struktur sosial.

Kekerasan dalam rumah tangga dapat menimpa siapa saja, ibu, bapak, suami,

istri, anak, bahkan pembantu rumah tangga, akan tetapi korban kekerasan dalam

rumah tangga adalah anak. Biasanya hal mi terjadi jika hubungan antara korban dan

pelaku tidak setara. Lazimnya si pealaku kekerasan mempunyai status kekuasan yang

lebih besar, baik dan segi ekonomi, kekuasaan fisik maupun status sioal dalam

4

Laporan Penelitian, Kekerasan Terhadap Perempuan Dalam Keluarga: Analisis kasus pada beberapa keluaraga di wilayah ciputat, kerjasama PSW lAIN Syarif Hidayatullah dengan Mc Gill Project (Jakarta: PSW dan Mc Gill Project, 2000) h.12


(13)

keluarga. Karena posisi khusus yang dimilikinya tersebut, maka pelaku kerap kali

memaksakan kehendaknya untuk diikuti oleh orang lain. Dan demi mencapai

keinginannyá tersebut, pelaku kekerasan akan menggunakan segala cara bahkan tidak

segan-segân untuk melukai korban.

5

Kekerasan terhadap anak dalam keluarga tidak berdiri sendri. Pola alokasi dan

hubungan kekuasaan suami istri mempengaruhi tindakan kekuasan. Kekuasaan yag

dimaksud adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar sesuai

dengan tindakan yang dikehendakinya.

6

Sehubungan dengan uraian di atas maka kekerasan dalam rumah tangga yang

dilakukan oleh ibu dan bapak kepada anaknya menarik untuk diteliti meskipun sudah

banyak penelitian dengan tema-tema yang serupa, namun penelitian ini bertujuan

untuk memperolah atau mendapatkan informasi mengenai KDRT sebagai refleksi

perbedaan antara laki-laki terhadap perempuan sehingga mendorong pembentukan

kekerasan terhadap anak dalam keluarga.

B. Pembatasan Dan Perumusan Masalah

Mengingat dan melihatan permasalahan yang dihadapi dalam penelitian, serta

waktu yang sangat terbatas maka penelitian yang perlu dilakukan secara spesifik

adalah untuk menjelaskaan, bagaimana kekerasan terhadap anak yang dilakukan o!eh

5

Farha, Ciciek, Ihtiar Mengatasi Kekerasan Dalam Rumah Tangga: Be/ajar Dan Kehidupan Rasululah Smv (Jakarta: Lembaga Kajian Agama dan Gender, 1999) h. 34

6

Soerjono Soekanto, Sosiologi suatu penganlar, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persadan: 2003) h. •1


(14)

orang tuanya secara spesifik. Analisa tersebut akan kami uraikan sebagai berikut:

1.

Faktor-Faktor apa yang menyebabkan kekerasan terhadap anak dalam rumah

tangga?

2.

Bagaimana bentuk-bentuk kekerasan terhadap anak dalam rumah tangga.

3.

Bagaimana kekerasan dalam rumah tangga menurut agama Islam?

4.

Bagaimanakah dampak terhadap anak (korban) kekerasan dalam rumah

tangga?

C.

Tujuan Penelitian

Atas dasar latar belakang masalah di atas, maka tujuan penelitian ini secara

spesifik adalah:

1.

Untuk menemukan faktor-faktor apa yang menyebabkan kekerasan terhadap

anak yang terjadi dalam rumah tangga.

2.

Untuk mengetahui bentuk-bentuk kekerasan terhadap anak dalam rumah tangga.

3.

Untuk memahami dampak tindakan kekerasan terhadap anak dalam rumah

tangga.

4.

Untuk mengetahui akibat kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak

(korban).

Adapun manfaat tulisan ini diharapkan kepada anak-anak baik korban maupun

tidak, dapat memahami secara jelas bagaimana bentuk kekerasan tersebut dan tidak

lagi berdiam diri untuk melakukan tindakan untuk mencegahnya, dan diharapkan


(15)

pula tulisan ini dapat dijadikan referensi bagi penulisan selanjutnya. Bagi anak yang

menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga agar dapat komperatif dalam

meneyelesaikan masalah tersebut. Sedangkan bagi pelaku supaya menjadi

“Peringatan” dan “Pengetahuan” supaya tidak terjebak atau terjerumus pada

kekerasan dalam rumaha tangga

D. Metode Penelitian

a.

Penelitian Ilmiah

Penelitian ini dilakukan di desa gandaria RT. 01 RW O2 kecamatan Mekar

Baru Tanggerang Banten. Pemilihan dan penetapan lokasi ini dengan beberapa

pertimbangan. Pertama, kasus KDRT terhadap anak di tempat tersebut sering terjadi.

Berdasarkan informasi yang berkembang pada masyarakat setempat. KDRT dengan

mudah dapat ditemukan pada beberapa keluarga rumah tangga.

Kedua, dinamika

startifikasi sosial masyarakat setempat sering heterogen (atas, menengah dan bawah).

Ketiga, sebagai orang yang dibesarkan dilokasi penelitian, peneliti ingin

menyumbangkan pemikiran untuk membantu menyelesaikan KDRT khususnya pada

anak, keempat, lokasi penelitian mudah dijangkau oleh peneliti, sehingga keakraban

peneliti dengan subjek penelitian mudah terjalin dengan balik.

7

b.

Teknik Pengumpulan Data

Ilmu Pengetahuan mulai dengan obeservasi dan selalu harus kembali kepada

7

Prof. Dr. S. Nasution, M.A, Met ode Research penelitian ilmiah (Jakarta: Bumi aksara, 1995),h. 106


(16)

observasi untuk mengetahui kebenaran ilmu itu. Observasi dilakukan untuk

memperoleh informasi tentang kelakukan manusia seperti terjadi dalam kenyataan,

dengan observasi dapat kita peroleh gambaran yang lebih jelas tentang kehidupan

sosial, yang sukar dengan metode lain. Observasi juga dilakukan bila belum banyak

keterangan dimiliki tentang masalah yang kita selidiki. Observasi diperlukan untuk

menjajakinya dan berfungsi sebagai eksplorasi. Dari hasil ini kita dapat memperoleh

gambaran yang.

Lebih jelas tentang masalahnya dan mungkin petunjuk-petunjuk tentang cara

memecahkanya. Dengan observasi sebagai alat pengukur dan dimaksudkan observasi

yang dilakukan sistematis bukan observasi sambil-sambilan atau bukan secara

kebetulan saja. Dalam observasi ini diusahakan mengamati keadaan yang wajar dan

yang sebenarnya tanpa usaha yang sengaja untuk mempengaruhi, mengatur atau

rnemanipulasinya.

Mengadakan observasi menurut kenyataan, melukisnya dengan kata-kata

secara cermat dan tepat yang diamati, mencatatnya dan kemudian mengolahnya

dalam rangka masalah yang diteliti secara ilmiah bukanlah pekerjaan yang mudah

selalu di persoalkan hingga manakah basil pengamatan itu valid dan reliable serta

hingga manakah objek pengamatan itu representative bagi gejala yang bersamaan.

Seseorang peneliti harus melatih dirinya untuk melakukan pengamatan.

Banyak yang dapat kita amati di dunia sekitar kita dimanapun kita berada. Ada

hal-hal yang kita amati, ada juga yang luput dari pengamatan. Apa yang kita amati

berlainan dengan yang diamati orang lain, karena itu kita adakan seleksi tentang apa

yang kita amati menurut keinginan, latar belakang minat serta luas dan dalam


(17)

pengetahuan kita tentang sesuatu. Sering kita amati hal-hal yang aneh, yang menarik

perhatian, seperti benda baru yang aneh, akan tetapi bukan gejala sosial yang

berkenaan dengan interaksi sosial, pola kekuasaan, perbedaan satatus dan peranan

dan sebagainya.

c.

Indepth Interview.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif (qualitative approach), sesuai

dengan tujuan yang ingin dicapai, penelitian ini mengunakan pendekatan studi kasus,

yaitu suatu proses pengkajian dan pengumpulan data secara mendalam dan detail

terhadap seputar kejadian kusus sebagai “kasus”

8

kasus yang ditelaah secara

mendalam dalam penelitian ini adalah kekerasan dalam rumah tangga khususnya

terhadap anak.

Studi kasus adalah studi mikro (menyoroti satu atau bebereapa kasus), juga

merupakan strategi penelitian yang bersifat multi-metode.

9

Berkaitan dengan strategi

multi-metode dalam menjaring data, studi kasus akan memadukan pengamatan,

wawancara dan analisa dokumen.

10

Hal senada dipertegas oleh Merriam (1998 ) dan

Yin (1989 ) dalam Creswell (1995). Studi kasus sebagai strategi untuk menggali

entitas atau fenomena tunggal (kasus) yang dibatasi oleh waktu dan aktifitas (suatu

program, pristiwa, proses, kelembagaan atau kelompok sosial ) dan mendapatkan

informasi yang detail dengan menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data

8

S Misbeth, J. dan J. Watt, Studi Kasus Sebuah Panduan praktiis (Jakarta: Gramedia: Widia Sarana Indonesia. 1994) .47

9

Sitorus, Penelitian Kualitatatif Suatu perkenalan; (Bogor: Kelompok Dokumentasi Ilmu Sosial, Jurusan limu-Ilmu Sosial dan Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, 1998) h. 16

10


(18)

selama periode waktu yang berkelanjutan.

11

Kekerasan yang dialami oleh beberapa

keluarga khususnya terhadap anak adalahpristiwa yang terjadi dalam masyarakat

yang merupakan fakta sosial. Studi kasus penelitian ini hanya mengugkap dan

menganalisis beberapa pristiwa kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak.

Dalam memilih subjek penelitian harus benar-benar tertuju kepada yang

pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga atau informan informasi dan

masyarakat atau organisasi yang menangani kekerasan dalam rumah tangga tersebut,

peneliti mula-mula mengumpulkan seluruh konsep yang digunakan dalam penelitian,

kemudian menentukan subjek penelitian. Dalam menentukan jumlah subjek

penelitian atau dalam istilah penelitian kuantitatif dikenal dengan sempel-sempel

penelitian kualitalif berbeda dengan penelitian kuantitatif (pengukuran/jumlah).

Penelitian kualitatif (penjabaran/penguraian) tidak bermaksud untuk mengambarkan

karakteristik populasi, melainkan Iebih terfokus kepada representasi terhadap

fenomena sosial. Maka dalam prosedur menentukan jumlah sampling atau informan

yang terpenting adalah bagaimana menentukan informan kunci (key informan) atau

situasi sosial tertentu yang sarat informasi sesuai dengan fokus penelitian.

Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan yang terjun Iangsung ke

lapangan dan mencari subjek yang telah di ketahui

(Field Work)

yang mengunakan

metode kualitatif, yaitu suatu penelitian yang ada hakikatnya mengamati orang dalam

lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan

11

Cresswell. J.W, Research Desain Qua! it at jf and Quantitative Apprpoachess. Thousand, oaks, London, New delhi: SAGE, Publications, 1995) h. 17


(19)

tafsir mereka tentang dunia sekitarnya.

12

pemilihan pendekatan ini dianggap tapat

karena peneliti ingin meneliti permasalahan ini dalam seting alamiahnya dan

berusaha untuk memaknai dan menafsirkan fenomena yang ada berdasarkan apa yang

dirasakan oleh para informan.

Dengan mengunakan pendekatan kualitatif, peneliti berharap bisa

mendapatkan pemahaman yang mendalam dan murni tentang fenomena yang diteliti

dan ini tidak mungkin diperoleh jika mengunakan pendekatan kuantitatif.

d.

Wawancara

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam (bertatap

muka langsung dengan korban Indept Interview).

13

Wawancara tersebut dilakukan

secara terstruktur dan lepas. Teknik ini diharapkan dapat membuka tabir dan

mendalami hakikat peristiwa. Kekerasan terhadap anak dalam rumah tangga sebagai

subjek penelitian. Teknik-teknik penelitian diatas digunakan untuk mengumpulkan

data primer, dimana jenis data tersebut merupakan data studi kasus. Studi kasus

pendekatan yang bertujuan untuk mempertahankan keutuhan (wholeness) dan subjek,

artinya data yang dikumpulkan dalam studi kasus keseluruhan yang terintegrasi.

14

Pengumpulan data Primer terhadap informan kunci dilakukan dengan teknik

snow ball (bola salju), yaitu meminta kepada informan untuk memeperkenalkan

kepada informan lainnya hingga peneliti memperoleh keseluruhan pandangan

12

Nasution. S, Metode Penelitian Naturalistik,, Kualitatjf, (bandung: tarsono, 1998 ), h.3 1

13

Denzin, N.K , Interpretatjf Biography: Qualitative Research Method (London, SAGE Publications, 1989) h. 51

14

Vrenbergt, J, Methode dan Tehnik Penelitian Masyarakat, (Jakarta PT Gramedia, 1978), h. 32


(20)

penelitian. Setelah dapat izin penelitian dan pemerintah setempat, peneliti melakukan

pendekatan kepada subjek penelitian.

Nama informan tidak peneliti cantumkan sesuai namanya, akan tetapi hanya

dalam bentuk inisial. Hal ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Walaupun para informan tidak keberatan namanya dicantumkan dengan Iengkap, dan

kemudian cara memilih Informan 15 responden.

e.

Teknik Analisa Data

Data Primer yang telah dikumpulkan dari hasil penelitian dianalisa dengan

menggunkan metode data kualitatif, yang dimulai sejak hari pertama peneliti

melakukan penelitian. Analisis data terdiri dan tiga alur yang terjadi secara

bersamaan, yaltu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau

verifikasi sebagai sesuatu yang jalin-menjalin pada saat sebelum, selama, dan sesudah

pengumpulan data dalam bentuk yang sejajar untuk membangun wawasan umum

yang disebut “analisis”.

15

15

Pertama,

redukasi data diartikan sebagai proses

pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan

Transformasi data “langsung” “ yang muneul dari catatan- catatan tertulis

dilapangan, berupa catatan harian lapangan. Peneliti menyunting seluruh informasi

untuk melihat kelengkapan data, lalu menganalisisnya sesuai dengan penelitian dan

menyusunnya sesuai dengan urutan kejadian. Misalnya, peneliti menyunting data

tindakan kekerasan yang dialami oleh anak kaitanya dengan kronologis konflik dalam

15

Milks, M.B dan Huberman, Analisis data kualiitatif (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1992), h 14


(21)

rumah tangga secara berurutan mengklafikasikan data yang sudah ada kepada

bagian-bagiannya.

Kedua,

penyajian data dimaksudkan untuk menyusun sekumpulan

informasi yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan. Penyajian data

merupakan sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan

adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Data disajikan dalam

bentuk teks naratif.

Agar data yang disajikan dalam bentuk teks naratif tidak tidak

terpencar-pencar dan lompat-lompat, peneliti menyajiakan data dalam bentuk matriks dan

bagian sesuai dengan sub-sub topik penelitian. Penyajian data seperti ini bertujuan

untuk mempermudah dalam memahami dan menganalisis kekerasan dalam rumah

tangga terhadap anak

Ketiga,

penarikan kesimpulan. Dalam penarikan kesimpulan

dilakukan verifikasi (pemeriksaan tentang keberanaran laporan) selama penelitian

berlangsung dengan menghubungkan semua kejadian sosial yang ditemukan di

lapangan.

Pengambilan kesimpulan adalah proses, dimana peneilti dan permulaan

pengumpulan data telah membuat kesimpulan secara longgar, tetapi terbuka dan

sekeptis (ragu-ragu

atau

kurang percaya), kemudian meminjam istilah Gloser dan

Straus yang dikutip oleh Miles dan Guberman- meningkat menjadi lebih rinci dan

mengakar, dengan kokoh. Kesimpulan sementara tersebut di diskusikan kepada

informan kunci.

16

. para informan (anak) diminta untuk menginterpretasikan

16

Cresswel, LW, Research Desain Qua1i:at~f and Quanhitat~f Approaches, Kekerasan Dalam Rumah Tangga Yang Terjadi Di Dunia ( Jakarta: Gramedia Pustaka 1999) h. 34


(22)

kesimpulan sementara baik sesuai maupun tidak sesuai. Jika interpretasi diungkapkan

menunjukkan kesesuaian, maka temuan tersebut akan menjadi kesimpulan tetap

peneliti. Namun jika interpretasi masih menunjukkan ketidak sesuaian, maka peneliti

akan melakukan kegiatan mencari data, menganalisa dan merumuskan kesimpulan

kembali. Hal ini dilakuakan untuk mendapatkan data dan kesimpulan yang shahih.

Akan tetapi karena keterbatasan waktu yang dimilki oleh penulis dan sulitnya

menemui pelaku (orang tua), maka dalam penelitian ini penulis hanya menfokuskan

kepada korban (anak).

f. Sistematika Penulisan

Penulisan skripsi ini disusun menjadi beberapa bab, dan setiap bab dibagi lagi ke dalam Sub Bab, dengan perincian sebagai berikut:

BAB I : pendahuluan terdiri dari Latar Belakang, pembatasan dan Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Metode Penelitian, Sistematika Penulisan. BAB II : Tinjauan Pustaka terdiri dari, Pengertian kekerasan rumah Tangga terhadap anak, Bentuk-bentuk kekerasan terhadap anak dalam rumah tangga, Sebab-sebab timbulnya kekerasan terhadap anak dalam rumah tangga, Solusi islam dalam megatasi kekerasan terhadap anak dalam rumah tangga. BAB III: Pandangan Islam menyikapi kekerasan dalam rumah tangga. Terdiri dari tuntunan Islam bagi orang tua dalam mendidik anak, anak dan harta adalah ujian, perlakuan kekerasan terhadap anak dalam islam. BAB IV : Gambaran Umum terdiri dari, Pelaku Dan Korban Kekerasan Terhadap Anak Dalam Rumah Tangga, Identitas keluarga korban, Identitas pelaku tindak kekerasan terhadap anak, Identitas korban kekerasan terhadap anak BAB V : Analisa Kekerasan Rumah Tangga Terhadap Anak terdiri dan, faktor-faktor


(23)

yang menyebabkan kekerasan rumah tangga terhadap anak, respon masyarakat I keluarga yang ada di desa gandaria, mengenai kekerasan rumah tangga terliadap anak, kondisi fisik anak yang terkena korban kekerasan dalam rumah tangga BAB VI : Penutup Terdiri Dan, Kesimpulan, dan Saran-Saran.


(24)

(25)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Kekerasan Rumah Tangga Terhadap Anak

Menurut John Galtung, kekerasan adalah suatu perlakuan yang menyebabkan realitas

aktual seseorang ada dibawah realitas potensial.17 Artinya ada sebuah situasi yang

menyebabkan segi kemampuan atau potensi individu menjadi tidak muncul. Sedangkan menurut Soetandoyo Wigiusubroto, kekerasan adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sejumlah orang yang berposisi lebih lemah bersama kekuatanya, entah fisik maupun non fisik yang superior dengan kesengajaan untuk menimbulkan derita di pihak yang

tengah menjadi objek kekerasan tersebut18.

Dalam defenisi tersebut, konsep kekerasan di lakukan oleh yang superior dan di lakukan dengan sengaja sehingga menimbulkan kerugian, mengacu kepada konsep kekerasan yang digagas oleh beberapa ilmuwan di atas, paling tidak ada empat hal yang menjadi ukuran dasar kekerasan, yaitu: (1) ada pihak yang dirugikan; (2) ada unsur kesengajaan; (3) pelaku kekerasan merasa superior; (4) adanya kerusakan semua bentuk kekerasan, baik verbal maupun non verbal, dapat dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang lain, sehingga dapat menyebabkan efek negatif secara emosional dan psikologis terhadap orang lain yang menjadi tujuannya atau sasarannya.

17

Windu Warsan, Kekuasaan dan Kekerasan M enurut Thon Galt ung, (Yogyakart a: Pust aka Pelajar, 1992).h.20

18

Soet ondoyo Wigiusubrot o, Islam dan Konst ruk di Seksualit as, Kerjasam a PSW, lAIN Yogyakart a The Foundat ion dan Pust aka Pelajar ( Yogyakarta: Pust aka Pelajar, 2002). h. 18


(26)

Perbuatan yang memiliki aroma kekerasan yang dilakukan oleh siapa pun hanya akan melahirkan kesengsaraan pihak lain emosional dan psikologis terhadap orang lain yang menjadi tujuannya atau sasarannya. Perbuatan yang memiliki kekerasan yang dilakukan oleh siapa pun hanya akan melahirkan kesengsaran pihâk lain. Perilaku kekerasan dapat terjadi di mana saja, di tempat umum (publik), di sekolah, di kantor dan di rumah, bahkan di tempat yang seolah-olah tidak mungkin terjadi kekerasan. Kekerasan dalam rumah tangga tentu berbeda dengan kekerasan di tempat-tempat lain, baik itu pelaku. faktor-faktor penyebab, proses pembentukan kekerasan, bentuk-bentuk kekerasan maupun intensitasnya.

Pada tataran ideal, perkawinan adalah jendela penyatuan kasih dan sayang atas dasar cinta. Ketika dua pasangan manusia memasuki jenjang perkawinan, rasanya tidak mungkin bahkan secara ekstrim mustahil kasih dan sayang dengan dasar cinta direnggut atau diporak-porandakan oleh kekerasan.

Tidak jarang keluarga yang pada awalnya (ketika perkawinan) terbentuk dengan kasih dan sayang berujung dengan kekerasan bahkan kematian pada salah satu pasangannya. Ternyata bahtera perkawinan sekali pun tidak luput dari “virus” kekerasan. Kekerasan dalam rumah tangga adalah kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga di mana biasanya yang berjenis kelamin Laki-laki (suami) menganiaya secara verbal maupun fisik pada yang

berjenis kelamin perempuan atau anak-anak.19

Sedangkan yang termasuk dalam lingkup rumah tangga antara lain, suami, istri, orang tua dan anak-anak, orang-orang yang mempunyai hubungan darah, orang-orang yang

19

Laporan Penelian “ Kekerasan Terhadap Perempuan Dalam Keluarga” Analisis Kasus Pada Beberapa Keluarga Di Wilayah Ciput at , Kerjasam a PSW lAIN Syarif Hidayat ullah dengan M e Gill Project , (Jakart a: PSW IAIN Syarif Hidayat ullah dengan M e Gill Pmjec t 2000) h 14


(27)

bekerja membantu kehidupan rumah dan orang yang hidup bersama dengan korban atau mereka yang pernah atau masih tinggal bersama. Dalam suatu keluarga, siapa pun dapat menjadi objek sasaran kekerasan. Berdasarkan temuan-temuan penelitian, pelaku kekerasan dalam rumah tangga biasanya mengarah kepada yang berjenis kelamin (Biologis) lakilaki. Berdasarkan laporan penelitian tersebut, laki-laki menjadi “tertuduh atau terdakwa” sebagai pelaku kekerasan yang terjadi dalam masyarakat dan rumah tangga.

Kaum feminis mendefinisikan kekerasan terhadap perempuan sebagai setiap tindakan kekerasan verbal maupun fisik, pemaksaan atau ancaman nyawa yang dirasakan pada seorang perempuan apakah masih anak-anak atau sudah dewasa yang menyebabkan kerugian fisik atau psikologis, penghinaan (perampasan kekerasan) dan yang melanggengkan subordinasi

perempuan.20 Pada definisi terakhir ini, kekerasan menekankan pada aspek fisik dan psikis

dan posisi perempuan sebagai pihak subordinat. Jika diruntut dalam sejarahnya, memang kekerasan itu ada sejak lakI-laki dan perempuan ada di muka bumi, sehingga pada definisi tersebut seolah-olah subordinasi perempuan sudah sejak lama terbentuk.

Sedangkan menurut Achmad Chusairi mengutip dari Anne Gant (1991), kekerasan

yang sangat berat sebagai pola perilaku menyerang (assaultive) danmemaksa (coersive),

dilakukan oleh orang secara fisik, seksual, psikologis. Dan pemukulan dan pemaksaan secara

ekonomi, yang dilakukan oleh orang dewasa kepada pasangan intimnya.21 Kekerasan rumah

tangga adalah suatu bentuk kekerasan yang tenjadi di lingkup rumah tangga di mana hubungan antara pelaku dan korban ada dalam ikatan rumah tangga atau perkawinan dan

20

YLBHI, Jurnal Perempuan untuk Pence rahan dan Kesejaht eraan, Hent ikan Kekerasan Perempuan( Jakart a: Yayasan Jurnal Perem puan,2002 ) h. 49

21

Achm ad Chusairi, Kekerasan Terhadap Ist ri dan Ket idakadilan Gender. (Jakart a : Param adina, 1997) h. 25


(28)

tidak dalam hubungan pekerjaan.22 Berdasarkan dua defenisi yang diutarakan oleh Ganl dan yang dimuat Harian Republika. mengisyaratkan bahwa kekerasan dalam rumah tangga adalah dalam posisi hubungan ketidakadilan gender, bukan karena faktor perbedaan biologis antara laki-laki (suami) dan perempuan (istri). Merujuk pada Deklarasi PBB pada tahun 1993 . sebagaimana sudah dijelaskan di atas kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan seseorang atau beberapa orang terhadap orang lain yang berakibat atau mungkin berakibat kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual dan atau psikologis, termasuk ancaman perbuatan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang atau

penekanan secara ekonomis yang terjadi di dalam ruang lingkup rumah tangga.23 Berdasarkan

definisi tersebut, maka lingkup kekerasan meliputi kekerasan fisik, psikologis, psikis, seksual dan ekonomi. Begitu luas lingkup kekerasan, sehingga dalam kondisi tertentu dalam kehidupan masyarakat khususnya dalam keluarga. tidak sadar bahwa interaksi sosial mereka bernuansa kekerasan.

Bahkan bagi masyarakat tertentu bukan dianggap sebagai kekerasan. Yang menjadi sasaran kekerasan dalam keluarga biasanya perempuan dan anak (istri). Memang mungkin saja laki-laki (suami) di dalam rumah tangga menjadi korban kekerasan, akan tetapi berdasarkan laporan Gelles dan Cornell- sebagaimana dikutip oleh Pusat Studi Wanita lAIN

dan Me Gill Project tahun 2000, menunjukkan hampir semua kasus kekerasan yang sangat berat dialami perempuan, terbukti lewat luka-luka yang diderita para istri, dan anak-anak, bila

22

Harian Republika, Kekerasan dari M ana Datangnya,. Jum at 12 M aret 2004.h. 13 23

Laporan Penelitian “ Kekerasan Terhadap Perempuan dalam Keluarga: Analisis Kasus Pada Beberapa Keluarga di Wilayah Ciput at , Keijasam a PSW lAIN Syarif Hidayat ullah Jakart a.


(29)

ada satu dua kasus laki-laki teraniaya itu biasanva disebabkan oleh bela diri dari pihak perempuan.

Istilah kekerasan terhadap perempuan (istri) berarti segala bentuk kekerasan yang

berdasarkan gender atau yang disebut pula dengan “gender based violence” yang akibatnya

berupa kerusakan atau penderitaan fisik, non fisik. seksual, psikologis pada perempuan termasuk tindakan pemukulan dan ancaman-ancaman, paksaan atau perampasan yang semena-mena atas kemerdekaan, baik yang terjadi di tempat umum atau di dalam lingkungan

kehidupan pribadi seseorang.24 Kata kekerasan memang mengingatkan kita pada sebuah

situasi yang kasar, menyakitkan dan adanva ketidak harmonisan dalam hubungan antara seseorang dengan orang lain serta dapat menimbulkan efek yang negatif. Namun kebanyakan orang, hanya memahami kekerasan sebagai bentuk perilaku fisik yang kasar, keras, penuh dengan kekejaman yang dapat menimbulkan perilaku yang ofensif (menekan), padahal konsep kekerasan memiliki makna yang luas. Sedangkan menurut Undang-Undang No.23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, KDRT di definisikan setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual. psikologis, dan atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan

kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.25.

Yang termasuk lingkup rumah tangga menurut undang-undang tersebut adalah suami.

Istri, anak, orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan suami. Istri. anak dan

24

LBH AFIK, Landasan Aksiidan Deklarasi Beijing Mengutip Dari Deklarasi Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan Pasar, (Jakarta: Forum Kumunikasi LSM Perenpuan dan APIK), h. 88

25

UU Republik Indonesia nom or 23 t ahun 2004 Tent ang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga” (Jakart a: BP. Panca Usalia, 2004), h. 41


(30)

orang yang bekerja membantu rumah tangga. Dengan lahirnya Undang-Undang No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. tindakan kekerasan dalam rumah tangga bisa terus ditekan. Dengan aturan ini pula kini perempuan bisa menempuh jalur hukum bila mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Sehingga KDRT tidak terjadi lagi dalam negeri tercinta ini.

Di Indonesia prcsentasi angka kekerasan terhadap perempuan dan anak mengalami peningkatan dalam tiga tahun terakhir. Bila pada tahun 2001 hanya tercatat 1.253 kasus saja .

maka tahun 2003 angka meningkat menjadi 5.406 kasus. Dan angka tersebut hampir

separuhnya adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).26 Angka tersebut hanyalah untuk

kasus yang dilaporkan. Sedangkan kasus-kasus yang hanya disimpan di bawah bantal bisa jadi jauh lebih besar. Karena korban KDRT lebih memilih untuk diam dikarenakan apabila mereka membuka kasus sama saja dengan Membuka aib sendiri Berdasarkan temuan data terbaru (2004), kasus KDRT jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) APIK Jakarta melaporkan sepanjang tahun 2004 telah menerima pengaduan sebanyak 389 kasus tindakan kekerasan dalam rumah tangga dengan korban perempuan dan anak-anak, angka-angka tersebut naik sekitar 38,9 persen dibanding tahun lalu ( 2003 ).27

Jika angka kekerasan khususnya KDRT semakin hari semakin meningkat -sebagaimana yang dilaporkan oleh harian Republika, maka sepatutnya kita untuk menelaah lebih jauh kenapa ini bisa terjadi demikian. Kontrol sosial dari seluruh lapisan masyarakat

26

Republika, St op Kekerasan Terhadap Perempuan, Jakarta Jum ’at . 25 Juni 2004, Tulisan Pert am a

27

Republika, Jika Ada Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Jakart a ,M inggu, 23 Januari 2005.h. 1


(31)

dan pemerintah, tentu merupakan usaha-usaha mengurangi bahkan menghapuskan kekerasan terhadap perempuan yang harus lebih digiatkan. Ketika kekerasan terhadap perempuan itu terjadi, maka hanya satu kata “hentikan”.

B.Bentuk-Bentuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Secara spesifik bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak tertuang

dalam Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan Declaration on the

Elimination of Violence Against Women), yang diadopsi Majelis PBB Tahun 1993, pada pasal 2 sebagai berikut : (1) tindakan kekerasan secara fisik, seksual, psikologis yang terjadi dalam keluarga, termasuk pemukulan, penyalahgunaan seksual atas anak-anak perempuan dalam rumah tangga, kekerasan yang berhubungan dengan masa kawin (mahar), perusakan alat kelamin perempuan, praktek-praktek kekejaman tradisional lain terhadap perempuan di luar hubungan suami-istri, serta kekerasan yang berhubungan dengan eksploitasi. (2) kekerasan secara fisik, seksual, dan psikologis yang terjadi dalam masyarakat luas termasuk perkosaan, penyalahgunaan seksual, pelecehan dan ancaman seksual di tempat kerja, dalam lembaga-lembaga pendidikan dan sebagainya. (3) kekerasan secara fisik, seksual dan

psikologis yang dilakukan atau dibenarkan oleh negara.28

Bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan dalam Declaration on the Elimination

of Violence Against Women yang diadopsi Majelis PBB Tahun 1993 memiliki lingkup yang cukup luas. Kekerasan tidak hanya pada fisik, tetapi juga non fisik yang meliputi kekerasan psikis atau psikologis, pengekangan akses interaksi sosial. Dan jenis kekerasan lain yang

28

Fathul Djannah dkk. Kekerasan Terhadap Istri. (Yogyakarta: Lkis dan CIDA-ICIHEF Jakarta dan Pusat Study Wanita IAIN Sumatra Utara, 2003), h. 17


(32)

“dibenarkan” oleh Negara.29 Lingkup kategori kekerasan tersebut tentu bertujuan untuk mengurangi bahkan menghilangkan kekerasan terhadap perempuan di muka bumi.

Sedangkan Magdalena Sitonis mengelompokan kekerasan menjadi 4 bentuk, (1)

kekerasan secara fisik (physical abuse) misalnya, mulai dari menjambak, memukul,

menampar, menggigit, sampai memotong akses untuk menjaga kesehatan. (2) kekerasan

psikologis (psychological & emotional abuse), misalnya menanamkan perasaan takut melalui

intimidasi, mengancam akan menyakiti menculik, menyekap, ingkar janji, dan merusak

hubungan orang tua dan saudara. (3) kekerasan secara ekonomi (economic abuse) misalnya

membuat tergantung secara ekonomi, melakukan kontrol terhadap penghasilan dan

sebagainya. (4) kekerasan seksual (seksual abuse) misalnya memaksakan dan mendesakkan

hubungan seks seperti melakukan penganiayaan memaksa menjadi pelacur. memaksa seks dengan orang lain dan sebagainya. Kekerasan bukan hanya kekerasan fisik saja seperti pemukulan atau tendangan, akan tetapi dapat berbentuk sangat halus dan tidak dapat di lihat dengan kasat mata seperti kecaman, kata-kata yang meremehkan dan sebagainya. Bahkan bahasa tubuh yang mempunyai makna mendiskriminasikan, menghina, menyepelekan atau makna lain yang berarti kebencian adalah termasuk kekerasan. Paling tidak terdapat lima kategori bentuk kekerasan dalam rumah tangga yaitu, fisik, emosional atau psikologis,

seksual, ekonomi dan sosial.30

Kekerasan fisik biasanya dapat berakibat langsung dan dapat di lihat dengan kasat mata, seperti adanya memar di tubuh atau goresan luka. Sedangkan kekerasan emosional atau psikologis tidak dapat menimbulkan akibat langsung, namun dampaknya bisa membuat si

29

. Fathul Djannah dkk. Kekerasan Terhadap Istri. H. 17

30

Juliani Wahjana, Artikel diakses tanggal (22 Desember 2000) http: www. NL Ranesi html Kekerasan Perempuan dan Komnas HAM Bagian Kedua h. 2


(33)

korban merasa trauma dan putus asa apabila kejadian tersebut berlangsung secara berulang kali. Kekerasan emosional seperti penggunaan kata-kata kasar yang sifatnya merendahkan atau mencemoohkan, misalnya “membanding-bandingkan” istri dengan orang lain dan mengatakan bahwa istri tidak “becus” dalam menjalankan tugasnya dan sebagainya.

C. Sebab-Sebab Timbulnya Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Terdapat beragam argumentasi yang berkembang pada para ahli menyangkut dengan terjadinya sumber kekerasan terhadap istri. Menurut Achmad Chusairi, kekerasan terhadap istri pada rumah tangga disebabkan oleh adanya dominasi sumber ekonomi keluarga, memiliki persoalan psikis di mana trauma masa kccil dan tinggal dalam Iingkungan dengan

penuh kekerasan.31 Perempuan yang tidak memiliki kemandirian ekonomi maka ia sangat

tergantung pada suaminya. Ketergantungan secara ekonomi menyebabkan suami merasa berkuasa dan melakukan kesewenang-wenangan, salah satu bentuknya adalah kekerasan terhadap istri. Sebagaimana sudah dijelaskan di atas (dalam latar belakang masalah), hubungan antara gender (perbedaan laki-laki dan perempuan dalam kultural yang dikontruksi susunan secara sosial) dan kekuasaan diidentifikasikan dengan “siapa memiliki”, “siapa memutuskan” dan “siapa mendominasi” diantara kedua kategori identitas gender. Kekuasaan akses terhadap sumber ekonomi menjadi kekuatan tersendiri baik skala makro (negara) maupun mikro (rumah tangga) mendorong ke ruang kekuasaan. Atau dengan kata lain, “siapa yang mempunyai sumber ekonomi, maka ia berkuasa”. Dalam rumah tangga, biasanya yang mempunyai sumber ekonomi adalah suami, sehingga pada gilirannya ia berkuasa.

31

Ahmad Chusari, Kekerasan Terhadap Istri dan Ketidak Adilan Gender (Jakarta: Paramadina, 1997), h. 54


(34)

Adanya dua respons yang membuktikan adanya pihak yang dikuasai dan menguasai, yaitu respons dalam bentuk resistensi (ketahanan) dan berlanjut mendorong penindasan. Pada posisi inilah seorang istri akan menjadi sasaran kekerasan suami, terutama apabila tidak terjadi keseimbangan baru yang disepakati oleh semua pihak yang terlibat, maka terjadilah

perubahan sistem kekuasaan32. Suami yang memiliki persoalan psikis, baik tekanan pekerjaan

maupun persoalan pribadi di luar rumah. Persoalan psikis itu mengakibatkan stres yang berujung pada tindakan kekerasan suami terhadap istri.

Di samping itu, kekerasan yang dilakukan oleh suami hasil ingatan tentang kekerasan yang di alaminya pada masa kanak-kanak. Suami yang melakukan kekerasan terhadap istrinya adalah mereka yang pernah menerima perlakuan kekerasan di masa kecilnya baik oleh orang tuanya maupun lingkungannya. Trauma masa kecil itu kemudian di ulang kapada

istrinya sebagai semacam dendam atas pengalaman yang menyakitkan.33

Penjelasan di atas tidak mencukupi kita untuk menjelaskan fakta KDRT yang sangat kasuistik, apalagi konteks Indonesia yang sangat pluralistik. Para ahli lainnya menyimpulkan, dari penelitian mereka, bahwa kekerasan suami terhadap istri juga ditemukan pada keluarga di mana istri juga sama-sama memiliki penghasilan dan suami yang sehat secara psikis serta tinggal di lingkungan normal. Oleh karena itu, faktor-faktor penyebab kekerasan dalam keluarga yang dilakukan oleh suami terhadap istri sangat tergantung pada subjek penelitiannya. Sehingga apa pun kesimpulannya, tidak dapat digeneralisasi, walaupun memang ada persamaan-persamaannya.

32

Ibid. h. 55.

33


(35)

Kekerasan terhadap perempuan merupakan masalah universal yang melewati batas-batas negara dan budaya. Studi yang dilakukan di 90 komunitas yang berada di dunia menunjukan pola tertentu dalam insiden kekerasan terhadap perempuan khususnya istri,

menurut studi tersebut terdapat empat faktor terjadinya kekerasan.34(I) ketimpangan ekonomi

antara perempuan dan laki-laki. (2) penggunaan kekerasan sebagai jalan keluar suatu konflik. (3) otoritas (kekuasaan) dan kontrol laki-laki dalam pengambilan keputusan. (4) hambatan-hambatan bagi perempuan untuk meninggalkan setting keluarga. faktor-faktor yang sering kali tertutup oleh mitos-mitos. Misalnva dominasi laki-laki merupakan indikasi (petuniuk) kejantanan terhadap perempuan. Sedangkan para ilmuwan antropologi. menyatakan bahwa kekerasan terbadap perempuan merupakan fungsi dari norma-norma sosial yang telah terkonstruksi yang menempatkan laki-laki pada posisi dominan dan perempuan pada posisi yang tersubordinasi. Sebagai studi antropologi. sah-sah saja menyatakan demikian. akan tetapi sasaran tersebut bukan satu-satunva pemicu kekerasan dalam rumah tangga.

Fathul Djannah dkk, menggolongkan faktor-faktor yang menimbulkan dominasi suami terhadap istri menjadi duá faktor, pertama faktor eksternal; kedua faktor internal35 Dan dua faktor tersebut, Fathul Djannah dkk, menyimpulkan bahwa secara keseluruhan terdapat sedikitnya enam faktor yang menyebabkan dominasi suami terhadap istri, yaitu ; (1) fakta bahwa laki-laki dan perempuan tidak dioposisikan setara dalam masyarakat. (2) masyarakat masih membenarkan anak laki-laki dengan didikan yang bertumpukan pada kekuatan fisik, yaitu untuk menumbuhkan keyakinan bahwa mereka harus kuat berani serta tidak toleran. (3) budaya yang mengkondisikan perempuan atau istri tergantung kepada

34

Juliani Wahjana. Artikel diakses tanggal 22 Desember 2000. Dari http www. NI Ranesi html Kekerasan Perempuan dan Komnas HAM Bagian Kedua h. 2.

35

Saparinah Sadeli, Beberapa Catatan Tentang Kekerasan Terhadap Perempuan di Indonesia Jakarta: 2000. H. 4.


(36)

laki atau suami, khususnya secara ekonomi. (4) adanya persepsi tentang kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga yang di anggap harus ditutup karena tenmasuk privasi suami istri

dan bukan merupakan permasalahan sosial. (5) adanya pemahaman yang keliru terhadap

ajaran agama tentang penghormatan pada posisi suami, tentang aturan mendidik istri dan tentang ajaran kepatuhan istri terhadap suami. (6) kondisi kepribadian dan psikologis suami yang tidak stabil (labil).

Bila diperhatikan secara mendalam, penjelasan di atas yang disampaikan oleh para ilmuwan, perbedaan (laki-laki dan perempuan secara sosial (gender) menduduki peran yang sangat besar dalam menyumbang KDRT. Untuk merespons cara pandang tersebut, dalam dua dekade terakhir lahirlah kelompok feminis yang secara khusus menyoroti kedudukan perempuan dalam masyarakat. Feminis berupaya menggugat kemapanan patriarkhi dan berbagai bentuk stereotip gender lainnya yang berkembang luas dalam masyarakat. Kaum feminisme menyatakan bahwa semua manusia, laki-laki dan perempuan, diciptakan seimbang

dan serasi dan mestinya tidak terjadi penindasan antara satu dengan yang lainnya.36

Perjuangan kaum feminisme tidak henti-hentinya memperjuangkan kesetaraan Gender, sehingga pada akhirnya tidak terjadi lagi dominasi laki-laki dan perempuan khususnya dalam rumah tangga. Berdasarkan penjelasan di atas, penyebab kekerasan terhadap perempuan (istri) bersumber dari dominasi laki-laki terhadap perempuan (istri).

Dominasi laki-laki tethadap perempuan dibentuk oleh beberapa hal, antara lain: (1) Akses terhadap sumber ekonomi. (2) Tafsir teologi yang bias jender. (3) Kontruksi sosial yang mendudukan laki-laki lebih tinggi daripada perempuan (faktor budaya). (4) Fakta bahwa

laki-laki dan perempuan tidak diposisikan setara dalam masyarakat. (5) Masyarakat masih

36


(37)

membenarkan anak laki-laki dengan didikan yang bertumpukan pada kekuatan fisik. (6) Adanya persepsi tentang kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga yang di anggap harus ditutup karena termasuk privasi suami istri dan bukan merupakan permasalahan sosial. (7) Adanya pemahaman yang keliru terhadap ajaran agama tentang penghormatan pada posisi suami, tentang aturan mendidik istri dan tentang ajaran kepatuhan istri terhadap suami. (8) Kondisi kepribadian dan psikologis suami yang tidak stabil (labil).

Posisi suami yang menempati atas (dominasi) pada akhirnya pola kekuasaan dalam rumah tangga tidak proporsional. Suami mempunyai kekuasaan, sementara istri tersubordinasi. Kesenjangan dominasi yang timpang dalam rumah tangga mengakibatkan

kekerasan yang dilakukan oleh suami terhadap istri.37

BAB III

PANDANGAN ISLAM MENYIKAPI KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

A. Tuntunan Islam Bagi Orang Tua Dalam Mendidik Anak

Mendidik anak dengan akhlak yang terpuji adalah kewajiban setiap orang tua.

Rasul SAW menyebut hal itu merupakan pemberian orang tua kepada anaknya yang

sangat mahal harganya. Seperti sabda Rasulullah SAW:

“Tidak ada pemberian orang tua kepada anaknya yang lebih mahal nilainya

dari pada mendidik akhlak karimah”. (.H.R. Bukhari).

37

. Jamhari Ismatu Ropi “ Citra Perempuan Dalam Islam Pandangan Ormas Keagamaan”.


(38)

Adapun hal-hal yang sangat perlu lagi penting untuk diterapkan dalam

mendidik anak-anak, di antaranya adalah:

1.

Menanamkan Ketauhidan

Yang pertama kali dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anak, adalah

menanamkan ketauhidan sedini mungkin dalam kehidupan sang anak. Tentu saja

orang tua diharapkan dapat menerapkan ajarannya tersebut sesuai dengan tingkat usia

si anak, sehingga apa yang mereka ajarkan dapat diterima si anak dengan baik.

Nilai keesaan Allah SWT hendaklah senantiasa ditanamkan pada hati anak,

sehingga hal itu menjadi satu keyakinan yang menggumpal kokoh, teguh dan kuat

dalam sanubarinya semenjak anak masih kecil. Sabda Rasulullah :

“Ajarilah anak-anak kecilmu kalimah: La ilaha illallah sewaktu mulai bicara,

dan tuntunlah mereka untuk membaca kalimat tauhid tersebut sewaktu menghadapi

kematian”. ( H.R. Hakim).

2.

Mengajarkan Agama

Mengajarkan agama pada anak hendaklah disampaikan dengan cara yang

membuat anak menjadi tertarik. Dari ketertarikannya tersebut akan menyebabkan

anak akan mudah menangkap dan memahami pelajaran yang diberikan kepadanya.

3.

Mendidik Akhlak

Pendidikan akhlak yang diberikan kedua orang tua kepada anak-anaknya,

sesungguhnya merupakan sesuatu yang sangat penting lagi berharga. Bahkan Rasul

SAW telah menegaskan, bahwa tidak ada pemberian orangtua yang paling berharga

kepada anaknya daripada pendidikan akhlak mulia.


(39)

Mendidik akhlak untuk anak sesungguhnya merupakan kewajiban mutlak

orang tua terhadap anaknya serta menjadi hak penuh sang anak dari orang tuanya, hal

itu sesuai dengan jawaban yang diberikan Rasulullah SAW ketika beliau mendapat

pertanyaan para sahabat. Pada suatu ketika para sahabat mengajukan pertanyaan

kepada Rasulullah: “Ya Rasulullah, kami telah mengetahui hak orangtua, kemudian

apakah hak kami padanya?” Jawab Rasulullah: “Hendaklah orangtua memberikan

nama yang bagus, dan mendidik dengan baik,” (H.R.Baihaqi)

Beberapa etika yang seharusnya diterapkan pada pendidikan akhlak anak, di

antaranya adalah:

a)

Senantiasa membaca Basmalah sebelum memulai sesuatu pekerjaan

dan mengucapkan Hamdalah setelah mengahiri sesuatu pekerjaan itu.

b)

Senantiasa menggunakan tangan kanan dalam meleksanakan berbagai

kegiatan atau aktifitas yang baik, semisal: memberi, mengambil,

makan, minum dan menulis serta berbagai aktifitas yang baik lainnya.

c)

Membiasakan anak untuk berdoa sebelum dan sesudah melakukan

sesuatu kegiatan.

d)

Membiasakan anak untuk selalu membaca serta mempelajari Al

Qur’an yang terus bertahap sesuai dengan tingkat usianya.

e)

Membiasakan anak untuk selalu mengucapkan salam, baik sebelum

berangkat atau keluar dari rumah serta pula ketika hendak masuk ke

dalam rumah dan juga ketika bertemu dengan sesama anak muslim.


(40)

f)

Membiasakan anak untuk diam ketika ayat-ayat Al Qur’an

diperdengarkan dan adzan dikumandangkan.

g)

Mendidik Shalat

Pendidikan orang tua untuk anak-anaknya sejak anak-anak tersebut kecil agar

mengerjakan shalat merupakan suatu kewajiban yang mesti ditunaikan oleh orang tua.

Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada sekalian kaum muslimin yang

mengaku umat beliau SAW, agar memerintahkan anak-anak muslim untuk

melaksanakan shalat ketika anak-anak itu berumur tujuh tahun.

Sabda Rasulullah SAW: “Perintahkan anak-anakmu untuk melaksanakan

shalat ketika berumur tujuh tahun dan pukullah mereka untuk melakukan shalat

ketika berumur sepuluh tahun serta pisahkan masing-masing dari tempat tidur

mereka (anak laki-laki dan perempuan). (H.R. Ahmad dan Abu Dawud).

4.

Mendidik Kejujuran dan keadilan.

Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimanapun juga. Islam sangat

menganjurkan kepada setiap pemeluknya untuk senantiasa bersikap jujur atau

mengatakan sesuatu scara jujur walaupunberat atau pahit resikonya.

Orang tua yang saleh tentu akan senantiasa membiasakan anak-anaknya untuk

berlaku jujur, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Dan yang paling penting,

orang tua hendaknya member contoh akan kejujuran yang dimintanya untuk

dilaksanakan oleh anak-anaknya. Kebohongan dari orang tua, meski hanya bergurau


(41)

sifatnya, akan menunjukan bahwa orang tua tersebut adalah pembohong dan tidak

jujur sifatnya.

Perhatikan wasiat Rasulullah SAW berkut ini:

“Barangsiapa berkata:

Ambillah, kepada anaknya, kemudian tidak memberikan apa-apa kepadanya, maka

hal itu termasuk tindak kebohongan.(H.R. Ahmad)

5.

Memberi Contoh keteladanan yang baik

Anak-anak akan belajar langsung dari hal-hal yang dilihatnya, didengarnya

dan juga dirasakannya secara langsung. Pengarahan yang diberikan orang tua yang

hanya berdasarkan nasehat, petuah atau hal-hal yang lainnya yang berdasarkan lisan

semata, akan sangat tidak berhasil guna jika tidak diikuti oleh tindakan yang nyata

dari orang tua.

6.

Perhatian terhadap Anak-anak di Rumah

Di dalam rumah keluarga muslim setiap anak seharusnya mendapat perhatian

yang lebih dari kedua orang tuanya, agar segala tindak-tanduknya senantiasa dapat

dikontrol.

Seorang kepala keluarga yang lepas kendali dalam mengawasi kelakuan

anak-anaknya hingga mereka melakukan maksiat, maka kelak di akhirat kepada rumah

tangga tersebut akan mendapat dua tuntutan, yakni tuntutan dari anak-anaknya yang

semasa hidup mereka tidak mendapat pengawasan yang baik dan tuntutan dari Allah

SWT perihal tanggung jawab yang diembannya selama ia hidup.

Oleh kerenanya, sebagai pemimpin dimana setiap gerak-gerik maupun

tindak-tanduknya senantiasa menuntutnya untuk dapat dipertanggung jawabkan kelak di


(42)

hadapan Allah SWT, sudah seharusnya ia melakukan pengawasan dan perhatian

anak-anaknya tersebut.

38

B.

Anak Dan Harta Adalah Ujian

“Sesungguhnya harta benda dan anak-anakmu adalah merupakan ujian, dan

di sisi Allah ada pahala yang besar” (At-Taghabun 15).

Surat yang lain juga menerangkan:

Yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman? Janganlah harta-benda dan

anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan siapa-siapa yang berbuat

demikian, itulah orang-orang yang menderita kerugian”. (Al-Munafiqun 9).

38

Abdullah, Ilham., “Kado Buat Mempelai ‘Membentuk Keluarga Sakinah, Mawaddah, Warahmah’. Penerbit Absolut: Yogyakarta 2003, h. 515-550


(43)

Di antara sekian banyak rahmat karunia Allah yang dilimpahkanNya kepada

hambaNya terdapatlah dua macam nikmat yang amat disukai, didambakan dan

diperebutkan oleh manusia selama hayatnya.

Yang pertama adalah nikmat harta benda atau kekayaan, dan yang kedua

nikmat berkeluarga. Hidup berkeluarga adalah merupakan sunnatullah yang harus

dijalani oleh umat manusia. Betapa juga banyaknya harta kekayaan yang dimiliki

oleh seseorang disertai lagi oleh pangkat atau kedudukan yang tinggi dan kemewahan

yang melimpah ruah, namun kedudukan ini akan terasa kosong dan hampa, jika orang

yang bersangkutan tidak mempunyai keluarga atau anak-anak untuk penawar hati

pelibur lara.

Sepasang suami istri yang sudah lama menikah tetapi tidak memperoleh

keturunan, akan selalu merasa kesepian. Mereka rela membuka kalung dari leher,

menjual gelang dan cincin, mengeluarkan biaya berapapun juga besarnya untuk

berobat ke sana ke mari, agar mereka mendapatkan anak. Bila sudah mempunyai

anak, mereka rela pula mengorbankan apa saja demi cinta kasih terhadap anaknya,

sehingga kadang-kadang mereka lupa kepada kesenangan dirinya sendiri. Bagi

sepasang suami istri, tidak ada gunung yang tinggi untuk didaki, lembah yang curam

untuk dituruni, demi cinta untuk keluarganya.

Dengan ayat itu Allah SWT memperingatkan kepada kita bahwa kedua

nikmat itu adalah ujian yang amat berat. Dari itu janganlah kita sampai terbawa


(44)

hanyut sehingga lupa kepada Allah pemberi nikmat, lupa bersukur dan beribadah,

lupa kepada diri sendiri siapa kita ini yang sebenarnya.

39

C.

Perlakuan Kekerasan Terhadap Anak Di dalam Islam

1.

Membunuh Anak.

Anak mempunyai hak hidup. Ayah dan ibu tidak boleh merenggut hidupnya si

anak, baik dengan membunuh ataupun dengan menanam hidup-hidup, sebagaimana

yang biasa di lakukan orang-orang arab di zaman jahiliyah. Ketentuan ini berlaku

untuk anak laki-laki maupun wanita. Firman Allah:

Yang artinya : “Janganlah kamu membunuh anak-anakmu lantaran takut

kelapan, kamilah yang akan memberikan rezekikepada mereka maupun kamu,

sesungguhnya membunuh mereka suatu dosa yang besar”. (al. Isra: 31)

Dalam surat berikut juga menjelaskan:

Yang artainya “ Dan apabila diperiksa anak perempuan yang di tanam

hidup-hidup. Sebab dosa apakah dia dibunuh?”. (At-Takwir: 8-9)

39

Sulaiman, H. Zainuddin., “Anak dan Harta adalah Ujian” Buku Bunga Rampai Ajaran Islam 10, Jakarta Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia 1986, h. 188


(45)

Kerena dorongan untuk berbuat yang mungkar ini ada kalanya soal ekonomi,

misalnya karena takut kelaparan dan kemiskinan, atau alas an non ekonomis,

misalnya karena takut tercela kalau si anak itu kebetulan perempuan, maka Islam

mengharamkan perbuatan biadab ini dengan sangat keras sekali. Sebab perbuatan

seperti itu dapat memutuskan kekeluargaan dan menyebabkan permusuhan.

2.

Perbedaan Pemberian Kepada Anak-anak.

Seoarang ayah harus menyamakan antara anak-anaknya dalam permberian,

sehingga dengan demikian mereka akan berbuat baik kepada ayah dengan sama.

Di samping itu seorang ayah dilarang mengistimewakan pemberiannya

kepada salah seorang diantara mereka tanpa ada suatu kepentingan yang sangat.

Sebab yang demikian itu akan menjengkelkan hati yang lain. Dan akan mengobarkan

api permusuhan dan kebencian sesame merka. Ibu dalam hal ini sama dengan ayah..

Rasulullah s.a.w bersabda sebagai berikut:

“Berlaku adillah kamu terhadap

anak-anakmu.’ 3 kali” {HR. Ahmad, Nasai dan Abu Daud.}.

40

40


(46)

(47)

BAB IV

GAMBARAN UMUM PELAKU DAN KORBAN KEKERASAN TERHADAP

ANAK DALAM RUMAH TANGGA

A.

Identitas Keluarga Korban

Gambaran Identitas korban kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak

sangat penting diketahui. Hal ini untuk melihat sejauh mana perbedaan dan

persamaan identitas pada masing-masing kasus berangkat dari pengetahuan identitas

masing-masing kasus, penelitian akan semakin utuh dalam menjelaskan kekerasan

dalam rumah tangga terhadap anak kasusunya, pada tabel 3 di bawah ini dijelaskan

identitas keluarga korban pada masing-masing rumah tangga.

Tabel 1. Identitas Keluaraga Korban

Informan Agama Etnis Jumlah Anak

Kasus 1 Islam Betawi 2 orang laki-laki

Kasus 2 Islam Sunda 1 Orang anak Perempuan

Kasus 3 Islam Betawi 2 Orang Anak Perempuan

Kasus 4 Islam Jawa 1 Orang Anak Laki-laki

Kasus 5 Islam Jawa 1 Orang Anak Perempuan


(48)

Berdasakan karakteristik agama, pelaku dan korban kekerasan semuanya

beragama Islam. Sejak lahir mereka sudah memeluk agama Islam. Para orang tua

mereka semuanya, menganut agama Islam jadi memeluk agama Islam berdasarkan

keturunan. Sedangakan berdasarkan etnis pelaku dan korban dari etnis dan

berbeda-beda. Pada etnis betawi, sunda, jawa, masing-masing ada yang menjadi pelaku tindak

kekerasan rumah tangga terhadap anak dan sekaligus korban kekerasan rumah tangga.

Atas dasar tersebut walapun dalam penelitian ini hanya tiga etnis yang menjadi

subjek penelitian yaitu: Betawi, Sunda dan Jawa, kekerasan dalam rumah tangga

terhadap anak dapat terjadi setiap hari di setiap etnis apapun.

Karateristik keluarga berdasarkan jumlah anak yang terkena kekerasan dalam

rumah tangga berbeda-beda, ada yang dua orang di setiap etnis misalnya pada kasus

ketiga terjadi pula tindak kekerasan. Hal serupa juga terjadi pada keluarga yang

memiliki satu orang anak misalnya pada kasus pertama memiliki dua orang anak.

Berdasakan fakta tersebut , hal ini menunjukan bahwa pelaku dan korban kekerasan

anak dalam rumah tangga dapat menimpa setiap keluarga yang memiliki jumlah anak

yang berbeda-beda anak laki-laki maupun perempuan. oleh karena itu jumlah anak

dalam keluarga tidak dapat mengerem tindakan kekerasan terhadap anak dalam

rumah tangga.

41

Karena sistem perlindungan untuk anak masih lemah dan advokasi masalah

41

Tangerang 10 Februari 2008, Komnas HAM Dan Perlindungan Anak Dalam Rumah Tangga Dan Masyarakat, Riset, Wawancara, Kekerasan Dalam Rumah Tangga Di Desa Gandaria Rt5 Kecamatan Mekar Baru Tangerang Banten 2008.


(49)

tersebut seolah jalan ditempat, maka kita perlu berpikir kreatif. Antara lain, kita perlu

memanfaatkan pengalaman dan pengetahuan para pelaku kekerasan untuk

memberikan pendidikan masyarakat. Kiat ini tentunya akan menuai kontroversi. Bagi

saya pelaku kekerasan terhadap anak adalah orang-orang yang sering kali tidak

mampu mengatasi nasibnya sendiri untuk menjadi warga masyarakat yang baik.

Mereka, sebagaimana kriminal yang lain juga. Dalam perjalanan hidupnya

kemungkinan besar pernah menjadi korban. Pada saat itu tak seorangpun datang

untuk menolong mereka sehingga mereka tumbuh dan berkembang dengan keyakinan

bahwa kemalangan itu dan segala kekerasaan yang diterimanya memang menjadi

bagian dan hidupnya.

Bantuan sosial-psikologis terhadap pelaku kekerasan dalam persoalan KDRT,

seharusnya menjadi bagian integral dalam prevensi primer dan sekunder. Melalui

bantuan seperti itu, kita mencegab mereka mengulang tindakannya. Selain itu,

beberapa di antaranya mungkin dapat diberdayakan untuk keluar dari stigmatisasi

masyarakat dan siksaan batinnya untuk membantu orang lain agar tidak melakukan

kekerasan pada anak. Mereka adalah sumber yang dapat dipercaya karena mereka

pernah dalam keadaan emosional dan mental yang menjadikan mereka tidak lebih

baik dari binatang. Mereka adalah manusia-manusia yang pernah bersentuhan dengan

bagian yang paling gelap dan sifat kemanusiaan mereka. Jika pengalaman mereka

dapat direkonstruksi menjadi energi positif untuk mengatasi masalah yang amat

kompleks dan sulit ini, bukankah ini jauh lebih baik dari pada tenggelam dalam

lingkaran setan hukuman dan kekerasan. Jika rasa bersalah atau kemarahan yang ada


(50)

pada pelaku kekerasan dapat kita kemas ulang menjadi kepedulian dan tanggung

jawab, yang Iebih dari cukup dari kekejamannya. Bersamaan dengan itu, kita jelas

harus membangun sistem perlindungan yang betul-betul Mari kita renungkan

bersama.

42

.

Berkat dan anugerah Tuhan yang dititipkan kepada kita. Dan semestinya

negara dalam tanggung jawabnya secara politis dan yuridis yang diamanatkan

konstitusi dasar, tidak membiarkan dan menyerahkan begitu saja tanggung jawab

perlindungan, pemenuhan, dan penghormatan hak anak terhadap masyarakat dan

keluarga. Sementara negara masih enggan menempatkan posisi anak-anak dalam

kebijakan pembangunan sejajar dengan isu politik dan ekonomi. Kebijakan-kebijakan

pemerintah dalam menjawab derita anak-anak, khususnya anak yang membutuhkan

perlindungan khusus, sering kali menempatkan anak sebagai persoalan domestic

43

.

Padahal Persoalannya bukan menyangkut kondisi saat ini saja yang

menyakitkan, tetapi juga penderitaan anak yang menjadi korban kekerasan itu kerap

berkepanjangan. Ada yang menderita tekanan fisik dan cacat, juga ada yang terbawa

sepanjang hidupnya yang menjelma menjadi trauma. Anak-anak yang menjadi korban

kekerasan akan mengalami nasa ketidaksadaran dan konflik batin yang hebat.Dalam

kompleksitas kehidupan sosial, bisa dipastikan ada banyak hal yang mempengaruhi

terjadi berbagai bentuk dan jenis kekerasan pada anak-anak. Di satu sisi ada yang

berkaitan dengan budaya, yang kemudian memunculkan istilah budaya kekerasan, di

42

Hasan Hanafi. “ Agama Kekerasan Dan Islam Kontemporer”. Jakarta: Jendela, 2001. H. 7.

43

LBH. Apik Lembaga Bantuan Hukum , Perlindungan Anak Sebagai Upaya Menghapus Tindak Kekerasan Atas Anak . Jakarta: LBH 2004. H.1


(1)

(2)

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Bagi yang sering dilecehkan kemungkinan besar menjadi pribadi yang kurang percaya diri, minder, peragu, dan bergantung pada orang lain. Anak yang kerap menerima tindak kekerasan secara fisik berupa hukuman ketika dewasa bisa tumbuh menjadi pribadi yang agresif dan suka melakukan kekerasan. Dan bagaimanakah pemerintah menaggulangi kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak yang menyebabkan anak jadi cacat mental dan mereka mendapat contoh kekerasan di masa kecilnya sehingga pola dan cara hidup mereka akan dijalani dengan kekerasan pula, bukan dialog atau diskusi.

Jika kita masih menganggap anak-anak merupakan generasi masa depan bangsa, marilah sejak sekarang kita hentikan kekerasan terhadap mereka, baik yang ringan maupun berat. Seringan apapun jenis kekerasan yang dilakukan tetaplah sebuah kekerasan yang bisa berdampak terhadap perkembangan anak-anak kita. Anak-anak tersebut mempunyai hak disayangi, memperoleh pendidikan yang baik, dihidupi secara layak, berkreasi, kebebasan, bahkan hak untuk “nakal”.

Butuh penyadaran pada masyarakat luas untuk menghindarkan tindakan kekerasan fisik, psikologis, ekonomi, dan sosial terhadap anak. Kita telah memiliki UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak untuk menjamin anak-anak di seluruh Tanah Air memperoleh perlakuan yang layak. Meski harus diakui tidak mudah, perlu dibentuk norma sosial dan budaya baru yang bersifat melindungi serta menghormati anak-anak. sekecil apapun tindak kekerasan terhadap anak harus mendapat perhatian dan masyarakat.


(3)

B. Saran

Bisa dengan cara saling mengingatkan atau kalau tidak, melapor ke polisi, penegakan hukum yang buruk sehingga kasus-kasus kekerasan, termasuk kekerasan pada anak tidak ditangani sebagaimana mestinya harus diperbaiki. Ada beberapa langkah yang bisa ditempuh untuk menekan atau bahkan menghilangkan kasus-kasus kekerasan terhadap anak:

Pertama, mensosialisasikan tindakan-tindakan yang tergolong sebagai kekerasan terhadap anak beserta peraturan-peraturannya. Caranya dengan menyebar stiker atau melakukan penyuluhan Iangsung kepada masyarakat bekerja sama lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang peduli pada anak-anak. Dalam konteks ini peran media massa baik cetak maupun elektronik cukup penting. Liputannya diharapkan tidak hanya mengutamakan nilal berita.

Namun lebih dan itu juga perlu mempertimbangkan misi memerangi kekerasan terhadap anak, sehingga tidak mengedepankan hal-hal yang tragis atau bombastis, hak-hak korban tindak kekerasan mesti dilindungi dan dihormati. khususnya jika berupa kekerasan seksual kategori berat. Kedua, memberi dorongan kepada para korban kekerasan untuk melaporkan kasus yang menimpanya kepada pihak berwajib. Di sinilah LSM-LSM, media massa, dan kelompok-kelompok masyarakat yang peduli pada anak-anak memegang peran amat penting.

Selain kasusnya dilaporkan, para korban perlu ditampung, didukung, dan direhabilitasi kondisi fisik serta kejiwaannya. Bekerja sama dengan pemerintah dan instansi


(4)

terkait perlu didirikan rumah penampungan bagi korban kekerasan terhadap anak hingga ke daerah-daerah.Ketiga, para penegak hukum harus lebih serius menindak lanjuti laporan-laporan kasus kekerasan terhadap anak hingga tuntas. Bukan hanya pada kekerasan yang termasuk kategori berat, melainkan juga yang ringan dan mungkin dianggap sebagai kewajaran oleh sebagian orang. Para pelakunya diproses dan diberi hukuman yang setimpal. Langkah tersebut diharapkan menjadi semacam shock theraphy sehingga orang akan berpikir ulang untuk melakukan. Memang tidak segampang membalikkan telapak tangan untuk mewujudkan suatu masyarakat yang mau melindungi dan menghormati anak-anak. Butuh proses dan waktu serta kerja keras karena hal tersebut berhubungan erat dengan persoalan norma sosial dan budaya yang sudah mengakar kuat di masyarakat. Empat serangkai, yakni pemerintah-penegak hukum-LSM-media massa mesti bahu membahu dan terus bekerja sama untuk mewujudkan itu. Jika kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan terhadap perempuan telah memperoleh perhatian selayaknya, kini saatnya kekerasan terhadap anak juga demikian.

Pada masa depan kita menginginkan tidak lagi ada orang tua atau guru mengbukum anak atau muridnya dengan cara apapun walau beralasan untuk mendisiplinkan, memperbaiki perilaku, dan sebagainya.

Ada cara-cara “menghukum” yang lebih mendidik dan manusiawi tanpa mencederai fisik atau kejiwaan si anak yang bisa berdampak sangat panjang. Bagi pelaku kekerasan terhadap anak kategori berat, antara lain memperdagangkan, melacurkan, dan menganiaya hingga luka parah atau bahkan meninggal, tak ada pilihan lain kecuali dihukum berat.


(5)

DAFTAR PUSTAKA

Arya Winata Gede,

Hak Asasi Manusia Dalam Relitas,

Refika Aditama. LBH Afik,

Komnas HAM Penlindungan Perempuan, Jakarta 2005). Cet, I

Ciciek, Farha,

Ihtiar mengatasi kekeracan dalam rumah tangga: belajar don

kehidupan rasululah saw

(Jakarta: lembaga kajian agama dan gender, 1999),

Cet, I

Fayumi,Badriyamah,

Halaqah Islam Mengkaji Perempuan HAM dan Perempuan,

(Ushul Press UN Jakarta), 2004, Cet. 1

Hasan, Muhamad, Tolhah ,

Islam Dan Masalah Sumber Daya Manusia’Lantabora

Press, 2003, h.

35

Fluberman, Mules, M.B

~alisis data ~aliwtj/

(Jakarta: universitas indonesia press,

1992), Cet. 1

Human, Maggie

the dictionary of faminist theory, exekter~

BPCC, 1989 dalam

laporan penelitian

,kekerasan terhadapa perempuan dalam keluai’ga,:

analisa

kasus pada beberapa keluarga di wilayah ciputat. Kerjasama PSW LAIN

Syarif Hidayatullah dengan Mc Gill Project (Jakarta: PSW dan Mc Gill

Project, 2007.

Ismatu Ropi, Jam~$ri

Citra Perempuan Dalam Islam, Pandangan O~rmas

Keagamaan

,IKAPI, 2003.Cet. I

Irvan, Alek,

Perisai Peren~puan Kesepakatan

Perundingan Dalam

Perdagangan Perempuan~,

LBH Afik 1999.Cet. 2

Jamainan, Pratimarti Uning’

Aksebilitas Bagi Penyandang Cacat Mental Dan Fisik

Sebagai Perwujudan Perlindzmgan HAM’

(Jakarta ,Repika Aditama 2005),

Cet. I

J. Watt,.Misbeth, J

Studi kasus sebuah panduan prakiis

(Jakarta: gramedia: widia

sarana indonesia. 1994). Cet. I

J.W, Cresswell.

Research Desain Qualitat~f and Quantitative Apprpoachess.

(

Thousand, oaks, London, New Delhi: SAGE, Publications,

1995)

Cet.I

J, Vrenbergt,

Methode don Tehnik Penelitian Masyaraka:,

(Jakarta PT Gramedia,

1978). Cet. 2


(6)

Laporan Penelitian,

kekrasan i’erhadap perempuan dalam keluarga

analisis kasus

pada bebrapa keluaraga di wilayah ciputat, kerjasama PSW lAIN Syarif

Hidayatullah dengan Mc Gill Project (Jakarta: PSW dan Mc Gill Project,

2000). Cet. I

Laporan Penelitian,

kekerasan terhadapperempuan dalam keluarga:

analisis kasus

pada bebrapa keiuaraga di wilayah Tanggerang Dan Lbh Afik 2000),Cet. I

Marsana, Windu, K

ekuasaan dan Kecerdasan Menurut John galtung

(Yogyakarta:

1992). Cet, 1

Muladi

SB. Hak Asasi Manusia Dalam Prespekt?fHukum ‘Dan asyarakat,(Jakarta

Retika Adilama, 2005).Cet. 1

Nasution, M.A, Prof. Dr. S.

Metode Research (penelitian Karya ilmiah)

(Jakarta:

bumi aksara),

1995.

Cet; I

Naqiyah, Najlah,

Otomi Daerah Perempuan Dan Perdagangan Perempüan Di

Indonesia

(Jakarta, Ikapi 2005).Cet. 1

Soekanto,.Soeijono,

Sosiologi SUaZU pengantar,

(Jakarta: PT. Raja Grafindo

Persada, 2003), Cet. I

Sitorus,

penelitian kualiiatif Suatu perkenalan,

(bogor: kelompok dokumentasi ilmu

sosial, jurusan ilmu-ilmu sosial dan ekonomi pertanian. Fakultas pertanian

institepertanian bogor, 1998). Cet. 1Www, Google’

Peran Perempuan Dalam

Keluarga Dan Masyarakat Dalam lslam

‘ YLBHI, LBI-H, Di Akses Tanggal

26 Januari 2008.com

Yayati, Elli Nur,

kekerasan terhadap istri,

(yogyakarta: rifka annisa womwens cnsis

center, 1999) Cet 1

Topik Kekerasan Rumah tangga Terhadap Anak (KDART) Metode

Pangumpulan

Data: Wawancara Dan Pengamatan Penelitian Lia Yuliana Lokasi Tangerang

Banten Tanggal: 4 Maret 2008 Sumber Korban Kekerasan anak dalam rumah

tangga


Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23