BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Hernia Inguinalis - ADE WEGI PAMBUDI BAB II

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Hernia Inguinalis Hernia inguinalis lateralis adalah hernia yang melalui anulus inguinalis

  internus yang terletak di sebelah lateral vasa epigastrika inferior, menyusuri kanalis inguinalis dan keluar ke rongga perut melalui anulus inguinalis eksternus (Mansjoer, 2000).

  Hernia adalah penonjolan sebuah organ, jaringan atau struktur melewati dinding rongga yang secara normal memang berisi bagian-bagian tersebut (Nettina, 2001).

  Hernia inguinalis adalah suatu penonjolan yang terjadi pada kanalis inguinalis akibat masuknya viscara (organ internal abdonan) abdomen melalui kanalis inguinalis lateral (Syamsuhidajat, 2004).

  Menurut (Nada, 2007) Hernia adalah protusi (penonjolan) ruas organ , isi organ ataupun jaringan melalui bagian lemah dari dindingrongga yang bersangkutan atau lubang abnormal.

  Kesimpulan dari beberapa pengertian di atas hernia inguinalis lateralis adalah penonjolan organ infra abdomen melalui lubang anulus inguinalis dextra, karena bagian dinding rongga abdomen sebelah kanan yang terjadi karena didapat atau jugs congenital.

B. Anatomi dan Fisiologi 1.

  Anatomi Hernia

Gambar 2.1 gambar hernia inguinalis

  Hernia terdiri dari 3 unsur yaitu kantong hernia yang terdiri dari peritonium, isi hernia yang biasanya terdiri dari usus, omentum, kadang berisi organ ekstraperitoneal seperti ovarium, appendiks divertikel dan buli- buli. Unsur terakhir adalah struktur yang menutupi kantong hernia yang dapat berupa kulit (skrotum) umbilikus atau organ-organ lain misalnya paru dan sebagainya (Martini, H, 2001).

2. Fisiologi Menurut preace (2002).

  a.

  Krista illika berfungsi sebagai penopang seikum dan sebelah depan menyentuh kolon desendes.

  b.

  Mukulus obliges externus abdominus fungsinya adalah mengencangkan dan melindunngi organ intra abdomen. c.

  Saluran ingunialis atau lingkaran ingunialis berfungsi sbagai tempat berjalan tali mani (funukulus spermatikus) pada pria dan ligamen bundar dari uterus pada wanita dan juga beberapa urat saraf dan pembuluh darah.

  d.

  Liena alba atau garis putih berfungsi memisahkan otot relatus abdominus.

  e.

  Tembuk lubang dalam atau internal berfungsi sebagai tempat pada fosia otot tranfersal dimana tali mani masuk melintasi salura ingunial, tembuk lubang tepi atau external adalah tempat di dalam abdominal oblik external dimana tali mani muncul atau turun ke lipat paha atau masuk skrotum.

  f.

  Vena safena magma yang panjang fungsinya untuk mengalirkan darah kotor dari seluruh tubuh ke jantung.

C. Macam - macam hernia 1.

  Hernia Inguinalis / Congenital Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomali kongenital atau karena sebab yang didapat. Lebih banyak pada pria ketimbang pada wanita. Faktor yang dipandang berperan kausal adalah adanya prosesus vaginalis yang terbuka, peninggian tekanan di dalam rongga perut (karena kehamilan, batuk kronis, pekerjaan mengangkat benda berat, mengejan pada saat defekasi dan miksi misalnya akibat hipertropi prostat) dan kelemahan otot dinding perut karena usia. Adanya prosesus vaginalis yang paten bukan merupakan penyebab tunggal terjadinya hernia tetapi diperlukan faktorlain seperti anulus ingu inalis yang cukup besar. Tekanan intra abdominal yang meninggi secara kronik seperti batuk kronik, hipertropi prostat, konstipasi dan ansietas sering disertai hernia inguinalis.

  Secara patofisiologi hernia inguinalis adalah prolaps sebagian usus ke dalam anulus inguinalis di atas kantong skrotum, disebabkan oleh kelemahan atau kegagalan menutup yang bersifat kongenital. Hernia inkarserata terjadi bila usus yang prolaps itu menyebabkan konstraksi suplai darah ke kantong skrotum, kemudian akan mengalami nyeri dan gelala- gejala obstruksi usus (perut kembung, nyeri kolik abdomen, tidak ada flatus, tidak ada feces, muntah)

  Kelemahan otot dinding perut antara lain terjadi akibat kerusakan nilioinguinalis dan niliofemoralis setelah apendiktomi. Processus vaginalis peritoneum persisten Testis tidak samapi scrotum, sehingga processus tetap Terbuka Penurunan baru terjadi 1-2 hari sebelum kelahiran, sehingga processus belum sempat menutupdan pada waktu dilahirkan masih tetap terbuka predileksi tempat: sisi kanan karena testis kanan mengalami desensus setelah kiri terlebih dahulu. Dapat timbul pada masa bayi atau sesudah dewasa. Hernia indirect pada bayi berhubungan dengan criptocismus dan hidrocele.

2. Hernia Femoralis

  Umumnya dijumpai pada wanita tua, kejadian pada perempuan kira-kira 4 kali laki-laki. Pintu masuk hernia femoralis adalah anulus femoralis. Secara patofisiologis peninggian tekanan intra abdominal akan mendorong lemak pre peritoneal ke dalam kanalis femoralis yang akan menjadi pembuka jalan terjadinya hernia. Faktor penyebab lainnya adalah kehamilan multipara, obesitas dan degenerasi jaringan ikat karena usia lanjut. Ada factor predisposisi Kelemahan struktur aponeurosis dan fascia tranversa Pada orang tua karena degenerasi/atropi Tekanan intra abdomen meningkat Pekerjaan mengangkat benda-benda berat Batuk kronik Gangguan BAB, missal struktur ani, feses keras Gangguan BAK, mis: BPH, veskolitiasis Sering melahirkan: hernia femoralis (karisyogya, 2011).

D. Etiologi

  Menurut (Sachdeva, 2000) Hernia Inguinalis / Congenital Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomali kongenital atau karena sebab yang didapat. Lebih banyak pada pria ketimbang pada wanita. Faktor yang dipandang berperan kausal adalah adanya prosesus vaginalis yang terbuka, peninggian tekanan di dalam rongga perut (karena kehamilan, batuk kronis, pekerjaan mengangkat benda berat, mengejan pada saat defekasi dan miksi misalnya akibat hipertropi prostat) dan kelemahan otot dinding perut karena usia. Adanya prosesus vaginalis yang paten bukan merupakan penyebab tunggal terjadinya hernia tetapi diperlukan faktor lain seperti anulus inguinalis yang cukup besar. Tekanan intraabdominal yang meninggi secara kronik seperti batuk kronik, hipertropi prostat, konstipasi dan ansietas sering disertai hernia inguinalis. Secara patofisiologi hernia inguinalis adalah prolaps sebagian usus ke dalam anulus inguinalis di atas kantong skrotum, disebabkan oleh kelemahan atau kegagalan menutup yang bersifat kongenital. Hernia inkarserata terjadi bila usus yang prolaps itu menyebabkan konstriksi suplai darah ke kantong skrotum, kemudian akan mengalami nyeri dan gelala-gejala obstruksi usus, yaitu perut kembung, nyeri kolik abdomen, tidak ada flatus, tidak ada feces, muntah.

  Penyebab lain yang memungkinkan terjadinya hernia adalah: a.

  Hernia inguinalis indirect, terjadi pada suatu kantong kongenital sisa dan prosesus vaginalis.

  b.

  Kerja otot yang terlalu kuat.

  c.

  Mengangkat beban yang berat.

  d.

  Batuk kronik.

  e.

  Mengejan sewaktu miksi dan defekasi.

  f.

  Peregangan otot abdomen karena meningkatkan tekanan intra abdomen (TIA) seperti: obesitas dan kehamilan.

  Indikasi pelaksanaan operasi adalah pada semua jenis hernia, hal ini dikarenakan penggunaan tindakan konservatif hanya terbatas pada herniaumbilikalis pada anak sebelum usia dua tahun dan pada hernia ventralis. Tindakan operasi dilakukan pada hernia yang telah mengalami stadium lanjut yaitu; 1)

  Mengisi kantong scrotum 2) Dapat menimbulkan nyeri epigastrik karena turunnya mesentrium. 3) Kanalis inguinalis luas pada hernia tipe ireponibilis.

  Pada hernia reponibilis dan ireponibilis dilakukan tindakan bedah karena ditakutkan terjadinya komplikasi, sedangkan bila telah terjadi strangulasi tindakan bedah harus dilakukan secepat mungkin sebelum terjadinya nekrosis usus(Sachdeva,1998 dan Mansjoer,2000).

  Menurut Natadidjaja (2002) , penyebab hernia inguinalis adalah : 1)

  Tempat lemah pada dinding abdomen (kongenital, pada tempat- tempat penetrasi anatomik atau tempat-tempat insisi).

  2) Tekanan intraabdominal meningkat (batuk, mengedan, obstruksi)

  3) Kelemahan otot-otot akibat obesitas dan lain-lain

  4) Menurut Black and janis dkk (2002), penyebab hernia inguinalis adalah: a.

  Kelemahan otot dinding abdomen.

  1) Kelemahan jaringan. 2) Adanya daerah yang luas diligamen inguinal. 3) Trauma.

  b.

  Peningkatan tekanan intra abdominal 1) Obesitas. 2)

  Mengangkat benda berat 3)

  Konstipasi, dari faktor mengejan pada saat proses buang air besar.

  4) Kehamilan

  5) Batuk kronik

  6) Hipertropi prostate c.

  Faktor resiko: kelainan congenital

E. Tanda dan Gejala

  Menurut Natadidjaja (2002), tanda dan gejala hernia adalah : 1.

  Penonjolan di daerah inguinal 2. Nyeri pada benjolan/bila terjadi strangulasi.

  3. Obstruksi usus yang ditandai dengan muntah, nyeri abdomen seperti kram dan distensi abdomen.

  4. Terdengar bising usus pada benjolan 5.

  Kembung 6. Perubahan pola eliminasi BAB 7. Gelisah 8. Dehidrasi 9. Hernia biasanya terjadi/tampak di atas area yang terkena pada saat pasien berdiri atau mendorong.

  Menurut Mansjoer, A (2000) pada umumnya pasien mengatakan turun berok, burut atau kelingsir atau mengatakan adanya benjolan di selangkangan/kemaluan. Benjolan tersebut bisa mengecil atau menghilang pada waktu tidur, bila menangis, mengejan atau mengangkat benda berat atau bila posisi pasien berdiridapat timbul kembali. Bila telah terjadi komplikasi dapat ditemukan nyeri. Keadaan umum pasien biasanya baik. Bila benjolan tidak nampak, pasien dapat disuruh mengejan dengan menutup mulut dalam keadaan berdiri. Bila ada hernia maka akan tampak benjolan. Bila memang sudah tampak benjolan, harus diperiksa apakah benjolan tersebut dapat dimasukkan kembali. Pasien diminta berbaring, bernafas dengan mulut untuk mengurangi tekanan intra abdominal, lalu skrotum diangkat perlahan-lahan. Diagnosis pasti hernia pada umumnya sudah dapat ditegakkan dengan pemeriksaan klinis yang teliti. Keadaan cincin hernia juga perlu di periksa.

  Melalui skrotum jari telunjuk dimasukkan ke internus. Pada keadaan normal jari tangan tidak dapat masuk. Pasien diminta mengejan dan merasakan apakah ada massa yang menyentuh jari tangan. Bila massa tersebut menyentuh ujung jari maka itu adalah hernia inguinalis lateralis, sedangkan bila menyentuh sisi jari maka diagnosisnya adalah hernia inguinalis medialis.

F. Klasifikasi Hernia

  Menurut Syamsuhidjayat dan Jong (2004) klasifikasi hernia adalah sebagai berikut : a.

  Macam-macam hernia menurut terlihat atau tidaknya 1.

  Hernia internal Tonjolan usus tanpa kantong hernia melalui lubang dalam rongga perut (tidak terlihat dari luar).

2. Hernia eksternal

  Tonjolan menonjol keluar dari rongga abdomen melalui dinding abdomen (terlihat dari luar).

  b.

  Macam-macam hernia menurut penyebabnya 1)

  Hernia kongenital Hernia yang disebabkan karena kelemahan dinding otot abdomen yang bersumber dari lahir atau bawaan.

  2) Hernia traumatik atau didapat

  Hernia yang disebabkan karena adanya trauma seperti peningkatan tekanan intra abdominal (batuk kronis, sering mengejan dan mengangkat benda berat). 3)

  Hernia insisionalis Hernia yang disebabkan karena dinding abdomen lemah akibat sayatan atau pembedahan sebelumnya, seperti post laparatomi dan prostatektomi.

  c.

  Macam-macam hernia menurut sifatnya 1)

  Hernia responibilis Bila isi hernia dapat keluar masuk usus keluar jika berdiri atau mengejan dan masuk lagi jika berbaring atau duduk masuk tidak ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus. 2)

  Hernia Irreponibilis Bila isi hernia berada didalam kantong hernia dan terjepit cincin hernia sehingga tidak dapat masuk kembali ke dalam rongga abdomen. 3)

  Hernia incarserata atau strangula Bila isi hernia berada didalam kantong hernia dan terjepit cincin hernia sehingga tidak dapat masuk kembali ke dalam rongga abdomen, dapat disertai gangren pasase akibat peredaran darah terganggu.

  d.

  Macam-macam hernia menurut lokasinya 1)

  Hernia opigastrika

  Hernia yang keluar defek di linea alba umbilikus dan procesus xipoideus.

  2) Hernia umbilikalis

  Hernia keluar melalui umbilikus akibat peningkatan tekanan intraabdomen.

  3) Hernia inguinalis

  Penonjolan organ intraabdomen melalui lubang amulus inguinalis, karena bagian lemah dari dinding rongga abdomen yang terjadi karena didapat atau juga kongenital. 4)

  Hernia skrotalis Hernia inguinalis lateralis yang mencapai skrotum.

  5) Hernia femoralis

  Batang usus masuk melalui cincin femoral ke dalam kanalis femoralis.

G. Patofisiologi

  Hernia berkembang ketika intra abdominal mengalami pertumbuhan tekanan seperti tekanan pada saat mengangkat sesuatu yang berat, pada saat buang air besar atau batuk yang kuat atau bersin dan perpindahan bagian usus kedaerah otot abdominal, tekanan yang berlebihan pada daerah abdominal itu tentu saja akan menyebabkan suatu kelemahan mungkin disebabkan dinding abdominal yang tipis atau tidak cukup kuatnya pada daerah tersebut dimana kondisi itu ada sejak atau terjadi dari proses perkembangan yang cukup lama, pembedahan abdominal dan kegemukan. Pertama-tama terjadi kerusakan yang sangat kecil pada dinding abdominal, kemudian terjadi hernia. Karena organ- organ selalu selalu saja melakukan pekerjaan yang berat dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sehingga terjadilah penonjolan dan mengakibatkan kerusakan yang sangat parah.sehingga akhirnya menyebabkan kantung yang terdapat dalam perut menjadi atau mengalami kelemahan jika suplai darah terganggu maka berbahaya dan dapat menyebabkan ganggren (Oswari, E. 2000).

  Hernia inguinalis dapat terjadi karena kongenital atau karena sebab yang didapat. Insiden hernia meningkat dengan bertambahnya umur karena meningkatnya penyakit yang meninggikan tekanan intra abdomen dan jaringan penunjang berkurang kekuatannya. Dalam keadaan relaksasi otot dinding perut, bagian yang membatasi anulus internus turut kendur. Pada keadaan ini tekanan intra abdomen tidak tinggi dan kanalis inguinalis berjalan lebih vertikal. Bila otot dinding perut berkontraksi kanalis inguinalis berjalan lebih transversal dan anulus inguinalis tertutup sehingga dapat mencegah masuknya usus ke dalam kanalis inguinalis. Pada orang dewasa kanalis tersebut sudah tertutup, tetapi karena kelemahan daerah tersebut maka akan sering menimbulkan hernia yang disebabkan keadaan peningkatan tekanan intra abdomen (Nettina, 2001).

  Menurut Mansjoer, A (2000) kanalis inguinalis adalah kanal yang normal pada fetus. Pada bulan ke-8 kehamilan, terjadi desensus testis melalui kanal tersebut. Penurunan testis tersebut akan menarik peritoneum ke daerah skrotum sehingga terjadi penonjolan peritoneum yang disebut dengan prosesus vaginalis peritonei. Pada bayi yang sudah lahir, umumnya prosesus ini telah mengalami obliterasi sehingga isi rongga perut tidak dapat melalui kanalis tersebut. Namun beberapa hal, seringkali kanalis tidak menutup. Karena testis kiri turun terlebih dahulu, maka kanalis inguinalis kanan lebih sering terbuka. Bila kanalis kiri terbuka maka biasanya yang kanan juga terbuka. Dalam keadaan normal, kanalis yang terbuka ini akan menutup pada usia 2 bulan. Bila prosesus terbuka terus (karena tidak mengalami obliterasi), akan timbul hernia inguinalis lateralis kongenital. Pada orang tua kanalis tersebut telah menutup. Namun karena merupakan lokus minoris resistensie, maka pada keadaan yang menyebabkan tekanan intraabdominal meningkat, kanal tersebut dapat terbuka kembali dan timbul hernia inguinalis lateralis akuisita. Keadaan yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan intraabdominal adalah kehamilan, batuk kronis, pekerjaan mengangkat benda berat, mengejan pada saat defekasi dan mengejan pada saat miksi misalnya hipertrofi prostat.

H. Pemeriksaan penunjang

  Menurut Mansjoer, A (2000) pemeriksaan penunjang pada hernia adalah : 1.

  Sinar X abdomen menunjukkan abnormalnya kadar gas dalam usus/obstruksi usus.

  2. Hitung darah lengkap dan serum elektrolit dapat menunjukkan hemokonsentrasi (peningkatan hemotokrit), peningkatan sel darah putih (Leukosit : >10.000– 18.000/mm3) dan ketidak seimbangan elektrolit.

I. Komplikasi

  Menurut Mansjoer, A (2000) komplikasi pada hernia adalah :

  1. Terjadi perlengketan antara isi hernia dengan dinding kantong hernia sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali. Keadaan ini disebut hernia inguinalis irreponibilis. Pada keadaan ini belum ada gangguan penyaluran isi usus. Isi hernia yang tersering menyebabkan keadaan irreponibilis adalh omentum, karena mudah melekat pada dinding hernia dan isinya dapat menjadi lebih besar karena infiltrasi lemak. Usus besar lebih sering menyebabkan irreponibilis daripada usus halus.

  2. Terjadi penekanan terhadap cincin hernia akibat makin banyaknya usus yang masuk. Keadaan ini menyebabkan gangguan aliran isi usus diikuti dengan gangguan vaskuler (proses strangulasi). Keadaan ini disebut hernia inguinalis strangulata.Pada keadaan strangulata akan timbul gejala illeus, yaitu perut kembung, muntah dan obstipasi. Pada strangulasi nyeri yang timbul lebih hebat dan kontinyu, daerah benjolan menjadi merah dan pasien menjadi gelisah.

  J. Penatalaksanaan umum a.

  Menurut Mansjoer, A, (2000) penatalaksanaan medis pada hernia yaitu : 1.

  Herniaplasty : memperkecil anulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang.

  2. Herniatomy : pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya, kantong dibuka dan isi hernia dibebas kalau ada perlekatan, kemudian direposisi, kantong hernia dijahit ikat setinggi lalu dipotong.

  3. Herniorraphy : mengembalikan isi kantong hernia ke dalam abdomen dan menutup celah yang terbuka dengan menjahit pertemuan transversus internus dan muskulus ablikus internus abdominus ke ligamen inguinal.

  b.

  Sedangkan penatalaksanaan Keperawatan yaitu : 1.

  Istirahat di tempat tidur dan menaikkan bagian kaki, hernia ditekan secara perlahan menuju abdomen (reposisi), selanjutnya gunakan alat penyokong.

  2. Jika suatu operasi daya putih isi hernia diragukan, diberikan kompres hangat dan setelah 5 menit di evaluasi kembali.

  3. Celana penyangga 4.

  Istirahat baring 5. Pengobatan dengan pemberian obat penawar nyeri, misalnya asetaminofen, antibiotic untuk membasmi infeksi, dan obat pelunak tinja untuk mencegah sembelit.

  6. Diet cairan sampai saluran gastrointestinal berfungsi lagi, kemudian makan dengan gizi seimbang dan tinggi protein untuk mempercepat sembelit dan mengedan selama BAB, hindari kopi kopi, teh, coklat, cola, minuman beralkohol yang dapat memperburuk gejala-gejala.

  K. Pathway Sumber : Mansjoer( 2000 ), Sjamsuhidajat & de jong (1997) Wilkinson (2002). Riwayat pembedahan Keterbatasan gerak

  L. Fokus Intervensi

  Menurut Dongoes (2000) a.

  Gangguan rasa nyaman (nyeri) sehubungan dengan kompresi syaraf, prosedur bedah.

  Kriteria hasil: 1) Melaporkan nyeri hilang dan terkontrol. 2)

  Mengungkapkan metode yang memberi penghilangan.\ 3) Mendemonstrasikan penggunaan intervensi terapeutik. Intervensi: 1)

  Kaji adanya keluhan nyeri, catat lokasi lamanya serangan, faktor pencetus atau yang memperberat Rasional:Membantu menentukan pilihan intervensi dan memberikan dasar untuk perbandingan dan evaluasi terhadap terapy.

  2) Pertahankan tirah baring selama fase akut letakkan pasien pada posisi semi fowler dengan tulang spinal, pinggang dan lutut dalam keadaan fleksi atau posisi terlentang dengan atau tanpa meninggikan kepala 10-30 derajat.

  Rasional:Tirah baring dalam posisi yang nyaman memungkinkan pasien untuk menurunkan spasme otot menurunkan penekanan pada bagian tubuh tertentu. 3)

  Batasi aktivitas selama fase akut sesuai dengan kebutuhan Rasional:Menurunkan gaya gravitasi dan gerak yang dapat menghilangkan spasme otot dan menurunkan edema dan tekanan.

  4) Instruksikan pada pasien untuk melakukan teknik relaksasi atau visualisasi

  Rasional:Memfokuskan perhatian klien membantu menurunkan tegangan otot dan meningkatkan proses penyembuhan.

  5) Kolaborasi dalam pemberian therapy

  Rasional : Intervensi cepat dan mempercepat proses penyembuhan b. Koping individu tidak efektif (ansietas) sehubungan dengan krisis situasional, perubahan status kesehatan.

  Kriteria hasil:

1) Tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang.

  2) Mengkaji situasi terbaru dengan akurat mendemonstrasikan ketrampilan pemecahan masalah.

  Intervensi: 1)

  Kaji tingkat ansietas klien, tentukan bagaimana pasien menangani masalahnya sebelumnya dan sekarang Rasional:Mengidentifikasi keterampilan untuk mengatasi keadaannya sekarang.

  2) Berikan informasi yang akurat

  Rasional: Memungkinkan pasien untuk membuat keputusan yang didasarkan pada pengetahuannya.

  3) Berikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan masalah yang dihadapinya

  Rasional:Kebanyakan pasien mengalami permasalahan yang perlu diungkapkan dan diberi respon.

  4) Catat perilaku dari orang terdekat atau keluarga yang meningkatkan peran sakit pasien

  Rasional:Orang terdekat mungkin secara tidak sadar memungkinkan pasien untuk mempertahankan ketergantungannya.

  c.

  Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri, spasme otot.

  Kriteria hasil: Pemahaman tentang situasi atau faktor resiko dan aturan pengobatan individual.

  Intervensi: 1.

  Berikan tindakan pengamanan sesuai indikasi dengan situasi yang spesifik Rasional:Tergantung pada bagian tubuh yang terkena, jenis prosedur yang kurang hati-hati akan meningkatkan kerusakan.

  2. Catat respon emosi atau perilaku pada saat immobilisasi, berikan aktivitas yang disesuaikan dengan pasien Rasional:Immobilitas yang dipaksakan dapat memperbesar kegelisahan, peka terhadap rangsang.

  3. Bantu pasien dalam melakukan aktivitas ambulasi progresif Rasional:Keterbatasan aktivitas tergantung pada kondisi dan berkembang sesuai dengan toleransi.

  4. Ikuti aktivitas atau prosedur dengan periode istirahat

  Rasional:Meningkatkan penyembuhan dan membentuk kekuatan otot.

  5. Berikan atau Bantu pasien untuk melakukan latihan rentang gerak aktif, pasif Rasional:Memperkuat otot abdomen dan fleksor tulang belakang, memperbaiki mekanika tubuh.