Studi Deskriptif Mengenai Sense of Community pada Anggota Keluarga Mahasiswa Psikologi se-Bandung Raya (Kemapsibaraya).

(1)

v

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran mengenai Sense of Community pada anggota Kemapsibaraya, dengan jumlah responden sebanyak 102 orang yang dijaring dengan menggunakan teknik purposive sampling.

Untuk mengukur Sense of Community pada anggota Kemapsibaraya, digunakan alat ukur Sense of Community Index 2 yang telah dibuat oleh McMillan and Chavis (1986) dan diadaptasi oleh Dwipangga Prahmatyo Putra (Fakultas Psikologi, Universitas Jenderal Achmad Yani, 2016) yang kemudian dimodifikasi oleh peneliti yang meliputi 4 elemen Sense of Community yang terdiri dari elemen membership, influence, integration and fulfillment of needs dan shared emotional connection. Berdasarkan uji validitas dengan menggunakan rumus pearson dan reliabilitas dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach, diperoleh 67 item yang valid dan 4 item yang tidak valid dari kuesioner Sense of Community dengan nilai validitas antara -0.351 – 0.836 dan reliabilitas 0.975. Hasil dari alat ukur tersebut didapatkan 2 kategori yaitu kuat dan lemah.

Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini menyatakan bahwa kategori Sense of Community yang paling dominan pada anggota Kemapsibaraya adalah kategori kuat sebesar 91,18%. Dari hasil tersebut, dapat dikatakan bahwa anggota Kemapsibaraya terhadap kelompok memiliki keyakinan bersama dan kebutuhan para anggota dapat dicapai melalui komitmen mereka untuk bersama. Peneliti menyarankan untuk lebih lanjut dilakukan penelitian dengan sampel yang lebih bervariatif serta melibatkan data penunjang yang lebih mendalam agar dapat menjadi bahan acuan untuk menentukan faktor-faktor dari Sense of Community.


(2)

vi

ABSTRACT

This research is doing with purpose to know about Sense of Community representation to Kemapsibaraya's member. There is 102 respondent choosen with purposive sampling technic.

To measure the Sense of Community to Kemapsibaraya member, researchers used measure instrument Sense of Community Index 2 by McMillan and Chavis (1986) and has been adapted by Dwipangga Prahmatyo Putra (2016, Psychology Faculty, Jenderal Achmad Yani University) who modified this instrument into 4 element Sense of Community consists of element membership, influence, integration, and fulfillment of needs and shared emotional connection. Based on validity test using pearson formula and reliability by Alpha Cronbach, obtained 67 valid item and 4 invalid item from Sense of Community Questionnaire with validity score between -0.351 - 0.836 and reliability 0.975. From this measure instrument result, obtained 2 category namely strong and weak.

Conclusion from this research is reveal that the most dominant Sense of Community Category to Kemapsibaraya's member is strong category with 91,18%. From this result, we can say that Kemapsibaraya member convince to stick together with other members and can fulfilled anything with their commitment. Researchers suggest to do more research with more variative sample and lots of supporting data in order to determine the factors from Sense of Community.


(3)

vii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

PRAKATA ... ii

ABSTRAK ... v

ABSTRACT ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR BAGAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 7

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian ... 7

1.3.1 Maksud Penelitian ... 7

1.3.2 Tujuan Penelitian ... 7

1.4 Kegunaan Penelitian ... 8

1.4.1 Kegunaan Teoritis ... 8

1.4.2 Kegunaan Praktis ... 8

1.5 Kerangka Pikir ... 8


(4)

viii

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 15

2.1 Komunitas ... 15

2.2 Sense of Community ... 17

2.2.1 Definisi Sense of Community ... 17

2.2.2 Elemen – elemen dari Sense of Community ... 19

2.2.2.1 Membership ... 19

2.2.2.1.1 Bounderies ... 19

2.2.2.1.2 Emotional Safety ... 20

2.2.2.1.3 Sense of Belonging and Identification ... 20

2.2.2.1.4 Personal Investment ... 21

2.2.2.1.5 Common Symbol System ... 21

2.2.2.2 Influence ... 22

2.2.2.3 Integration and Fulfillment of Needs ... 23

2.2.2.4 Shared Emotional Connection ... 25

2.2.2.4.1 Contact Hypothesis ... 25

2.2.2.4.2 Quality of Interaction ... 26

2.2.2.4.3 Closure to Events ... 26

2.2.2.4.4 Shared Valent Event Hypothesis ... 26

2.2.2.4.5 Investment ... 26

2.2.2.4.6 Effect of Honor and Humilitation on Community Members ... 27

2.2.2.4.7 Spiritual Bound ... 27

2.3 Dinamika Elemen – elemen Sense of Community ... 28


(5)

ix

BAB III METODE PENELITIAN ... 31

3.1 Rancangan dan Prosedur Penelitian ... 31

3.2 Bagan Prosedur Penelitian ... 31

3.3 Variabel Penelitian dan Definisi Oprasional ... 32

3.3.1 Variabel Penelitian ... 32

3.3.2 Definisi Konseptual ... 32

3.3.3 Definisi Oprasional ... 32

3.4 Alat Ukur ... 33

3.4.1 Alat Ukur Sense of Community ... 33

3.4.2 Kisi – Kisi alat Ukur Sense of Community ... 34

3.4.3 Data Pribadi ... 35

3.4.4 Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ... 36

3.4.4.1 Validitas ... 36

3.4.4.2 Reliabilitas ... 37

3.5 Populasi dan Teknik Penarikan Sampel... 38

3.5.1 Populasi Sasaran ... 38

3.5.2 Karakteristik Sampel ... 38

3.5.3 Teknik Penarikan Sampel ... 38

3.6 Teknik Analisa Data ... 38

3.6.1 Sistem penilaian ... 39

3.6.2 Kategorisasi Elemen – elemen Sense of Community ... 40

3.6.2.1 Kategorisasi Elemen Membership ... 40


(6)

x

3.6.2.3 Kategorisasi Elemen Integration and Fulfillment of Needs ... 41

3.6.2.4 Kategorisasi Elemen Shared Emotional Connection ... 42

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 43

4.1 Gambaran Sampel Penelitian ... 43

4.1.1 Gambaran Responden berdasarkan Jenis Kelamin ... 43

4.1.2 Gambaran Responden berdasarkan Angkatan Kemapsibaraya ... 44

4.2 Hasil Penelitian ... 44

4.2.1 Gambaran Sense of Community pada Anggota Komunitas Kemapsibaraya .... 44

4.2.2 Gambaran Penelitian berdasarkan Data Tabulasi Silang antara Sense of Community dengan elemen – elemen ... 45

4.2.2.1 Tabulasi silang antara Sense of Community dengan Elemen Membership... 45

4.2.2.2 Tabulasi silang antara Sense of Community dengan Elemen Influence .. 45

4.2.2.3 Tabulasi silang antara Sense of Community dengan Elemen Integration and Fulfillment of Needs ... 46

4.2.2.4 Tabulasi silang antara Sense of Community dengan Elemen Shared Emotional Connection ... 47

4.3 Pembahasan ... 47

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 53

5.1 Kesimpulan ... 54

5.2 Saran ... 55


(7)

xi

5.2.2 Saran Praktis ... 56

DAFTAR PUSTAKA ... 57

DAFTAR RUJUKAN ... 58

LAMPIRAN ... L-1

- Lampiran 1 Kemapsibaraya ... L-2 - Lampiran 2 Kisi-kisi Data Pribadi dan Data Penunjang ... L-6 - Lampiran 3 Kisi-kisi Kuesioner ... L-7 - Lampiran 4 Kuesioner ... L-21 - Lampiran 5 Validitas ... L-30 - Lampiran 6 Reliabilitas Alat Ukur ... L-33 - Lampiran 7 Crosstab ... L-34


(8)

xii

DAFTAR TABEL

3.1 Sistem Penilaian Alat Ukur Sense of Community ... 34

3.2 Kisi – kisi Kuesioner Sense of Community ... 34

3.3 Try Out Alat Ukur Sense of Community ... 37

3.4 Norma Ideal Alat Ukur Sense of Community ... 40

3.5 Norma Ideal Elemen Membership ... 40

3.6 Norma Ideal Elemen Influence ... 41

3.7 Norma Ideal Elemen Integration and Fulfillment of Needs ... 42

3.8 Norma Ideal Elemen Shared Emotional Connection ... 42

4.1 Gambaran Responden berdasarkan Jenis Kelamin ... 43

4.2 Gambaran Responden berdasarkan Angkatan Kemapsibaraya ... 44

4.3 Gambaraan Sense of Community pada Anggota Kemapsibaraya ... 44

4.4 Tabulasi Silang antara Sense of Community dengan Elemen Membership ... 45

4.5 Tabulasi Silang antara Sense of Community dengan Elemen Influence ... 45

4.6 Tabulasi Silang antara Sense of Community dengan Elemen Integration and Fulfillment of Needs ... 46

4.7 Tabulasi Silang antara Sense of Community dengan Elemen Shared Emotional Connection ... 47


(9)

xiii

DAFTAR BAGAN

1.1 Kerangka Pikir ... 13 3.1 Prosedur Penelitian ... 31


(10)

1

Universitas Kristen Maranatha BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pada masa ini perguruan tinggi berperan penting dalam persiapan individu untuk masuk kedalam dunia pekerjaan mahasiswa dituntut untuk selalu belajar meningkatkan kemampuan hardskill yang dimilikinya. Hardskill di sini bukan hanya sebatas kemampuan intelektual, namun juga keterampilan lain, seperti pemprograman. Mahasiswa benar-benar harus terus belajar. Ia bukan hanya belajar ilmu pada bidangnya saja, namun juga belajar dan mengembangkan kemampuannya yang lain. untuk itu perguruan tinggi tidak hanya mengedepankan bidang akademis namun juga perlu mengembangkan kemampuan softskill yang dimiliki oleh mahasiswa. Soft skill dapat dikatagorikan menjadi kehidupan sosial, komunikasi, tutur bahasa, kebiasan, keramahan dan optimasi. Untuk mendapatkan keahlian-keahlian tersebut, mahasiswa harus mempunyai minat terhadap organisasi serta aktif di dalamnya yang dapat mengembangkan kemampuan mereka dalam berkomunikasi, bekerja sama dan mengambil keputusan melalui sebuah pemecahan masalah untuk mencapai tujuan bersama (suaramahasiswa). Begitu pula dengan perguruan tinggi yang berada di Bandung, mereka tidak hanya mengembangkan kemampuan akademik saja namun juga kemampuan softskill pada mahasiswa. Softskill dapat dikembangkan dalam berbagai cara yaitu seperti belajar menghargai dan mendengarkan orang lain, berkomunikasi dengan baik, jelas dan benar, bergabung dalam organisasi, unit kegiatan mahasiswa atau komunitas kemahasiswaan. Salah satu pengembangan softskill mahasiswa yaitu bergabung dalam organisasi, unit kegiatan kemahasiswaan atau komunitas kemahasiswaan, dapat diikuti pada tingkat jurusan, fakultas dan universitas di masing-masing perguruan tinggi hingga tingkat se-Bandung Raya bahkan Nasional. Sedangkan tujuan mahasiswa mengikuti kegiatan diluar kampus adalah


(11)

2

Universitas Kristen Maranatha dapat bertemu dengan orang – orang baru yang memberikan kita kesempatan dan inspirasi, menyiapkan mental menghadapi tekanan dan bijaksana dalam menghadapi masalah, belajar menjadi pemimpin yang bijaksana, belajar manajemen waktu dan perencanaan, juga dapat menerima sudut pandang yang berbeda, berkompetisi dan berkomitmen di dalam kelompok.

Perguruan tinggi di Bandung memiliki beberapa organisasi, unit kegiatan mahasiswa atau komunitas kemahasiswaan yang mengakomodasi mahasiswanya untuk dapat bergabung di dalam kampusnya, dan banyak juga mahasiswa yang mengikuti organisasi atau komunitas kemahasiswaan di luar kampus. Salah satu komunitas yang berada di luar kampus adalah Kemapsibaraya, Kemapsibaraya yang merupakan Keluarga mahasiswa psikologi se-bandung raya adalah salah satu komunitas kemahasiswaan yang mewadahi mahasiswa fakultas psikologi se-bandung raya. Walaupun komunitas ini belum lama terbentuk, Kemapsibaraya memiliki struktur organisasi dan jadwal kegiatan serta anggota yang banyak.

Kemapsibaraya berdiri pada tahun 2008, diawali dengan kebersamaan mahasiswa psikologi yang hanya beranggotakan 5 orang dari universitas yaitu dari Universitas Kristen Maranatha, Universitas Padjajaran, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Jendral Achamad Yani dan Universitas Islam Bandung untuk membuat sebuah wadah dari mahasiswa fakultas psikologi se-Bandung Raya yang memiliki minat dan tujuan. Walaupun sempat mengalami vacum dan baru aktif kembali pada tahun 2013. Komunitas tersebut terus berkembang hingga sampai saat ini yang sudah berjumlah mencapai 150 orang yang terdiri dari 8 universitas yaitu Universitas Kristen Maranatha, Universitas Padjajaran, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Jendral Achamad Yani, Universitas Islam Bandung, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Universitas Nasional PASIM dan Universitas Informatika dan Bisnis.

Visi Kemapsibaraya adalah Konsisten (kontribusi, sinergi, eksistensi) menebar manfaat, diharapkan para anggota dapat mampu berkontribusi di dalam Kemapsibaraya,


(12)

3

Universitas Kristen Maranatha mengikuti setiap kegiatan Kemapsibaraya, dapat berkontribusi diluar Kemapsibaraya seperti kegiatan pengabdian masyarakat, dan dapat bisa sinergi antar anggota dan juga bekerjasama dengan pihak eksternal. Sedangkan, misi didalam Kemapsibaraya adalah meningkatkan peran serta anggota Kemapsibaraya untuk aktif berkontribusi dalam komunitas, memberikan kontribusi nyata ke masyarakat sesuai dengan kebutuhannya berdasarkan Ilmu Psikologi, menjalin hubungan dan kerjasama dengan pihak yang berkepentingan, mewujudkan sistem yang andal (dapat dipercaya), dan memfasilitasi anggota Kemapsibaraya untuk mengembangkan potensi diri. Budaya yang terbentuk di Kemapsibaraya ini adalah kekeluargaan, kekeluargaan disini tidak ada senioritas didalam Kemapsibaraya serta meninggalkan sejenak almamater dari masing-masing universitas selama dalam kegiatan bersama Kemapsibaraya.

Didalam Kemapsibaraya terdapat berbagai macam kegitan yang diaadakan setiap tahunnya yang memiliki rentang waktu yang berbeda setiap bulannya, yaitu seperti gathering antar anggota yang bertujuan untuk saling mengenal dan mendekatkan diri satu sama lain, selain itu juga ada kegiatan olahraga yang diadakan untuk anggota Kemapsibaraya sendiri, olahraga disini seperti pertandingan antar anggota yang bertujuan untuk saling mendekati anggota satu sama lain. Adapula kegiatan aksi sosial yang diadakan setiap tahunnya yaitu seperti bermain dengan anak panti asuhan, rumah belajar dan dengan anak jalanan. Kegiatan lainnya ada kajian tentang ilmu psikologi dengan menggunakan film, yaitu anggota berkumpul bersama untuk menonton film dan kemudian mengkaji isi film tersebut menggunakan ilmu psikologi yang telah dipelajari.

Ketua umum Kemapsibaraya mengatakan bahwa ada beberapa anggota yang masih melanggar peraturan-peraturan yang sudah ditentukan, seperti kehadiran para pengurus saat kumpul kecil untuk diadakannya rapat dan para anggota yang tidak hadir saat kumpul besar, serta keterlambatan kehadiran para anggota di tiap rapat yang membuat waktu rapat menjadi


(13)

4

Universitas Kristen Maranatha mundur. Ketua umum pun merasakan bahwa peraturan yang ditetapkan di Kemapsibaraya atas keterlambatan dan ketidak hadiran dirasa belum efektif dengan berbasis kekeluargaan. Sedangkan peraturan – peraturan yang telah dibuat tersebut sesuai dengan kesepakatan bersama ketika melakukan Kongres, dan peraturan tersebut berfungsi untuk mencapai tujuan anggota dan pencapaian visi Kemapsibaraya. Ketua umum mengatakan bahwa budaya yang dikembangkan oleh Kemapsibaraya adalah kekeluargaan, maksudnya kekeluargaan ini tidak ada senioritas dan meninggalkan sejenak almamater masing-masing dari tiap universitas.

Terlihat adanya perbedaan yang antara anggota dalam relasi, juga wawasan tentang psikologi sebelum dan sesudah mengenali satu sama lain di kemapsibaraya antar mahasiswa universitas satu dengan yang lainnya. Perbedaan ini terlihat dari bagaimana masing-masing anggota berinteraksi satu sama lainnya melalui media sosial, kebersamaan yang dimunculkannya dalam waktu luang diluar kegiatan kemapsibaraya, serta kedekatan yang terlihat berbeda. Ketika disela waktu rapat terlihat anggota memiliki kebebasan berekspresi seperti bergurau ketika mengungkapkan pendapat dan mendengarakan cerita dari teman-teman yang lainya, mereka pun saling membutuhkan satu sama lain yang terlihat ketika mereka dalam suatu program kerja dan ada salah satu dari anggota mereka mengalami kendala, anggota yang lain saling membantu dan akhirnya program kerja tersebut dapat berjalan dengan lancar.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan pada 20 anggota Kempasibaraya tidak semua memberikan kontribusi atau pengaruh kepada Kemapsibaraya, bahkan ketika di sosialisasikan mengenai pengadaan rapat atau kumpul, sebagian anggota tidak memberi respon dan tidak menghadiri. Ada pula 6 anggota yang merasa canggung ketika bertemu dengan anggota lainya dan belum merasakan rasa memiliki dan menjadi bagian dalam Kemapsibaraya.


(14)

5

Universitas Kristen Maranatha Rasa dimana anggota menjadi bagian di suatu komunitas inilah yang yang disebut dengan sense of community. Menurut McMillan & Chavis (1986, p.9), Sense of community merupakan suatu perasaan bahwa anggota merasa menjadi bagian dari komunitas, memiliki arti terhadap anggota lainnya dan terhadap kelompok serta memiliki keyakinan bersama bahwa kebutuhan para anggota dapat dicapai melalui komitmen mereka untuk bersama. Sense of community merupakan salah satu hal yang ikut menentukan keberlangsungan hidup suatu komunitas. Oleh karena itu bagi suatu komunitas penting untuk mengembankan sense of community dari anggotanya terhadap komunitas tersebut. Sense of community yang tinggi berperan dalam menghasilkan kerjasama yang baik diantara anggota (Wenger, 1998 dalam Huffakir and Lai). Apabila anggota didalam komunitas memiliki sense of community yang rendah maka anggota tersebut tidak akan mempunyai perasaan menjadi bagian dari komunitas, tidak memiliki arti terhadap anggota lainnya dan terhadap kelompok serta tidak memiliki keyakinan bersama bahwa kebutuhan pada anggota dapat dicapai melalui komitmen bersama, dan sense of community yang rendah akan menghasilkan kerja sama yang tidak baik antar anggota

Peneliti melakukan survey pada 20 anggota Kemapsibaraya, berdasarkan survey yang dilakukan, maka diperoleh sebanyak 100% anggota merasa bahwa mereka adalah bagian dalam Kemapsibaraya karena mereka merasa menjadi bagian dari anggota Kemapsibaraya, mereka juga telah mengikuti rangkaian kaderisasi dan merasa diterima didalam Kemapsibaraya, seperti mendapatkan baju dan pin Kemapsibaraya yang melambangkan bahwa mereka adalah bagian dari Kemapsibaraya.

Sebanyak 70% anggota merasakan keberkaitan antar anggota dan merasa ingin melakukan perubahan dan perkembangan bagi Kemapsibaraya. Sedangkan 30% anggota lainnya merasa bahwa Kemapsibaraya bukan prioritas mereka, dan tidak sedikit dari mereka


(15)

6

Universitas Kristen Maranatha lebih memprioritaskan kepentingan diluar Kemapsibaraya, baik dari segi organisasi maupun bukan.

Sebanyak 80% anggota merasakan kebutuhan – kebutuhan yang diharapkan tercapai ketika bergabung dengan Kemapsibaraya seperti mendapatkan pengalaman, relasi yang luas, dan info – info mengenai psikologi ataupun masalah umum lainnya. Sedangkan pada 20% anggota lainnya yang merasa bahwa tanpa harus bergabung dalam Kemapsibaraya pun mereka dapat memenuhi kebutuhan tersebut dan masih merasa tidak ada perbedaan antara anggota Kemapsibaraya dengan bukan anggota Kemapsibaraya.

Sebanyak 70%, anggota yang memiliki komitmen dan kepercayaan bahwa para anggota telah dan akan berbagi sejarah, tempat, waktu bersama serta pengalaman yang sama. Namun walaupun merasa diterima didalam Kemapsibaraya, 30% anggota lainnya tidak merasa percaya dan nyaman untuk berbagi cerita secara mendalam dan juga merasa tidak perlu untuk berbagi cerita secara mendalam, hanya beberapa anggota saja yang dapat saling berbagi cerita secara mendalam. Melalui hasil survey pada 20 anggota dalam kegiatan Kemapsibaraya kebanyakan anggota merasa menjadi bagian dari Kemapsibaraya dan cukup terpenuhi kebutuhannya mengenai minat dalam organisasi di Kemapsibaraya, namun tidak semua anggota merasakan hal yang sama. Ada yang kurang terpenuhi sehingga ada nilai minus dalam Kemapsibaraya yaitu seperti merasa tidak memiliki prioritas pada Kemapsibaraya dan merasa kurang nyaman untuk berbagi cerita secara mendalam. Hal tersebut memiliki pengaruh terhadap suatu perasaan bahwa anggota merasa tidak menjadi bagian dari komunitas, tidak memiliki arti terhadap anggota lainnya dan terhadap kelompok serta tidak memiliki keyakinan bersama bahwa kebutuhan para anggota dapat dicapai melalui komitmen mereka untuk bersama. Setiap tahunnya peningkatan jumlah anggota Kemapsibaraya tidak sebanyak seperti sebelumnya namun Kemapsibaraya ini tetap bertahan menjadi wadah dari mahasiswa fakultas psikologi se-bandung raya. Selain bertahan,


(16)

7

Universitas Kristen Maranatha Kemapsibaraya ini juga sudah semakin lebih didengar dan sudah mulai diminta untuk bekerjasama dengan pihak luar.

Dengan melihat fenomena mengenai perilaku sense of community pada anggota Keluarga Mahasiswa Psikologi Se-Bandung Raya (Kemapsibaraya) untuk pengembangan komunitas agar keberlangsungan komunitas lebih panjang, maka peneliti tertarik ingin meneliti lebih lanjut mengenai Studi Deskriptif mengenai Sense of Community pada Anggota Keluarga Mahasiswa Psikologi Se-Bandung Raya (Kemapsibaraya).

1.2 Identifikasi Masalah

Dari penelitian ini ingin mengetahui bagaimana gambaran Sense of Community pada anggota Keluarga Mahasiswa Psikologi Se-Bandung Raya (Kemapsibaraya).

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian

1.3.1 Maksud Penelitian

Maksud dan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai Sense of Community pada anggota Keluarga Mahasiswa Psikologi Se-Bandung Raya (Kemapsibaraya).

1.3.2 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tentang Sense of Community pada anggota Keluarga Mahasiswa Psikologi Se-Bandung Raya (Kemapsibaraya) melalui elemen – elemennya yaitu membership, influence, integration and fulfillment of needs, and shared emotional connection.


(17)

8

Universitas Kristen Maranatha

1.4 Kegunaan Penelitian

1.4.1 Kegunaan Teoritis

1. Penelitian ini dapat memberikan informasi tambahan untuk Ilmu Psikologi Sosial khususnya mengenai Sense of Community.

2. Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi peneliti lain yang ingin meneliti variable Sense of Community.

1.4.2 Kegunaan Praktis

1. Penelitian ini dapat dijadikan bahan evaluasi dan masukan bagi pengurus komunitas sebagai acuan membuat kegiatan sehingga anggota dalam komunitas dapat mengembangkan Sense of Community dan komunitas dapat mempertahankan eksistensinya.

2. Peneliti ini juga diharapkan memberi sumbangan informasi pada anggota Kemapsibaraya dan organisasi mahasiswa lainnya mengenai pentingnya menumbuhkan atau meningkatkan Sense of Community untuk pengembangan komunitas.

1.5 Kerangka Pikir

Kemapsibaraya (Keluarga mahasiswa psikologi se-bandung raya) adalah salah satu komunitas kemahasiswaan yang mewadahi mahasiswa fakultas psikologi se-Bandung Raya. Kemapsibaraya memiliki struktur organisasi yang sudah tersusun dari mulai Ketua kemapsibaraya hingga staff masing – masing bidang kegiatan, kegiatan yang terdapat pada Kemapsibaraya seperti kegiatan kaderisasi, gathering, aksi sosial, pengabdian masyarakat, seminar, kegiatan olahraga dan lain – lain yang sudah dijalankan dengan baik, Kemapsibaraya memiliki anggota yang sangat banyak yaitu mencapai 150 orang walaupun dapat dikatakan bahwa komunitas ini belum lama aktif yaitu pada tahun 2013. Komunitas ini terus berkembang hingga sampai saat ini yang


(18)

9

Universitas Kristen Maranatha terdiri dari 8 universitas yaitu Universitas Kristen Maranatha, Universitas Padjajaran, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Jendral Achamad Yani, Universitas Islam Bandung, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Universitas Nasional PASIM dan Universitas Informatika dan Bisnis.

Menurut McMillan and Chavis (1986) Sense of community merupakan suatu perasaan bahwa anggota merasa menjadi bagian dari komunitas, memiliki arti terhadap anggota lainnya dan terhadap kelompok serta memiliki keyakinan bersama bahwa kebutuhan para anggota dapat dicapai melalui komitmen mereka untuk bersama. Sense of community merupakan salah satu hal yang ikut menentukan keberlangsungan hidup suatu komunitas. Oleh karena itu bagi suatu komunitas penting untuk mengembankan sense of community dari anggotanya terhadap komunitas tersebut. Sense of community yang tinggi berperan dalam menghasilkan kerjasama yang baik diantara anggota (Wenger, 1998 dalam Huffakir and Lai). Rasa dimana anggota menjadi bagian di suatu organisasi inilah yang yang disebut dengan sense of community. Apabila anggota di dalam komunitas memiliki sense of community yang rendah maka anggota tersebut tidak akan mempunyai perasaan menjadi bagian dari komunitas, tidak memiliki arti terhadap anggota lainnya dan terhadap kelompok serta tidak memiliki keyakinan bersama bahwa kebutuhan pada anggota dapat dicapai melalui komitmen bersama, dan sense of community yang rendah akan menghasilkan kerja sama yang tidak baik antar anggota

Dalam penelitian yang dilakukan oleh David W. McMillan and David M. Chavis (1986, p.9) terdapat 4 elemen yang dapat mendefinisikan sense of community yaitu membership, influence, integration and fulfillment of needs, and shared emotional connection. Pada elemen pertama Membership, yaitu sebuah perasaan dimana seseorang menjadi bagian dari suatu komunitas yang dia ikuti. Pada elemen


(19)

10

Universitas Kristen Maranatha membership ini terdapat lima atribut yaitu boundaries, emotional safety, sense of belonging and identification, personal investment, dan common symbol system. Boundaries sendiri berfungsi menjelaskan mana yang merupakan anggota dan bukan anggota. Bounderies ini dibantu oleh common symbol system untuk mengindikasi anggota dengan menggunakan simbol sebagai ritual, upacara, bentuk ucapan ataupun pakaian. Melalui boundaries yang jelas anggota merasakan perlindungan terhadap intimasi mereka sehingga menumbuhkan emotional safety. Emotional safety merupakan kesediaan anggota untuk mengungkapkan perasaan yang sebenarnya. Ketika anggota merasa aman dan nyaman untuk bercerita mengenai perasaannya maka sense of belonging and identification yang merupakan harapan dan kepercayaan bahwa individu termasuk dan diterima dalam komunitas, maka personal investment yang kemudian merupakan rasa nyaman dan memiliki kedekatan dengan sesama anggota membuatnya memberikan perhatian dan waktu untuk berkomunikasi.

Sense of belonging and identification dan emotional safety kemudian akan mengarahkan anggota untuk personal investment bagaimana anggota memberi andil untuk komunitas baik waktu, tenaga, atau uang. Kemasibaraya dalam berkegiatan seringkali memakai pakaian khusus Kemapsibaraya (common symbol system). Oleh karena itu disetiap acara Kemapsibaraya baik anggota maupun non anggota mengetahui mana yang merupakan anggota Kemapsibaraya ataupun bukan (boundaries). Mengetahui mana yang sesama anggota Kemapsibaraya membuat anggota lebih nyaman dalam bercerita dan berbagi mengenai hal secara bebas dan tidak ada rasa kaku (emotional safety). Melalui berbagi dan bercerita dengan nyaman tersebut membuat anggota merasa memiliki tempat dan menjadi bagian dari Kemapsibaraya (sense of belonging and identification). Anggota Kemapsibaraya yang


(20)

11

Universitas Kristen Maranatha merasakan kenyamanan dan memiliki kedekatan dengan sesama anggota membuatnya memberikan perhatian dan waktu untuk berkomunikasi (personal investment).

Elemen kedua ada Influence, yaitu merupakan perasaan keberartian dalam membuat perubahan bagi kelompok dan juga bahwa kelompok memiliki arti bagi anggotanya. Anggota dalam grup diharapkan dapat memiliki kekuasaan untuk mempengaruhi apa yang dilakukan grup dan grup kepada anggota diharapkan dapat memberikan kekuasaan agar dapat mempengaruhi apa yang akan dilakukan grup. Kesatuan grup bergantung pada pengaruh anggota dalam grup tersebut dan sebaliknya. Pada saat Kemapsibaraya ada acara yang berhubungan dengan angkatan masing – masing maupun secara keseluruhan angkatan, individu akan mengingatkan anggota lain untuk turut serta dalam kegiatan tersebut, seperti ketika acara internal maupun eksternal untuk turut mendukung dalam acara tersebut. Melalui pengurus, anggota dapat mengajukan atau mengumpulkan ide dan memberikan informasi kepada anggota lain bila ada acara atau kegiatan internal maupun eksternal.

Elemen ketiga Integration and fulfillment of needs, yaitu perasaan bahwa kebutuhan-kebutuhan anggota dapat dipenuhi dari sumber daya yang diterima melalui keanggotaan mereka dalam kelompok, dari pengertian tersebut menunjukan bahwa hubungan komunitas harus dirasakan bermanfaat oleh para anggotanya agar anggota tetap bergabung dalam sebuah komunitas atau organisasi. Anggota biasanya mendapat info – info baru khususnya mengenai psikologi dan organisasi dengan cepat karena Kemapsibaraya memberikan ruang berbagi sehingga yang mendapat info lebih dahulu dapat memberi tahu kepada anggota lainnya. Hal saling berbagi ini membuat rasa keingintahuan mereka khususnya mengenai psikologi dan organisasi dapat terpenuhi. Selain itu anggota jadi memiliki tempat untuk menyalurkan ide dan melakukan aktifitas yang positif disela waktu mereka.


(21)

12

Universitas Kristen Maranatha Elemen keempat Shared emotional connection, yaitu merupakan komitmen dan kepercayaan bahwa para anggota telah dan akan berbagi sejarah, tempat, waktu bersama serta pengalaman yang sama. Pada Shared Emotional Connection terdapat tujuh atribut penting dari yaitu Contact hypothesis, Quality of interaction, Closure to events, Shared valent event hypothesis, Investment, Effect of honor and humilitation on community members dan Spiritual bond. Dilihat dari segi Shared Emotional Connection, maka komunitas yang memiliki Sense of community yang tinggi adalah komunitas yang menawarkan cara-cara berinteraksi positif, menawarkan kejadian penting untuk dibagi serta cara untuk menyelesaikannya secara positif, memberikan kesempatan untuk menghargai anggota, memberikan kesempatan untuk berinvestasi dalam komunitas serta kesempatan untuk mengalami ikatan spiritual antar anggota.

Dengan uraian diatas maka dapat dilihat ketika semua elemen dirasakan dan dialami oleh anggota komunitas dihayati terpenuhi maka akan menghasilkan derajat sense of community yang tinggi. Sementara apabila semua elemen yang dirasakan dan dialami oleh anggota komunitas dihayati tidak terpenuhi dapat menghasilkan sense of community yang lemah.


(22)

13

Universitas Kristen Maranatha Bagan 1.1 Kerangka Pikir

Kuat

Anggota Keluarga Mahasiswa Psikologi

Se – Bandung Raya

Sense of Community

Lemah

Elemen :

1. Membership

2. Influence

3. Integration and Fulfilment of Needs


(23)

14

Universitas Kristen Maranatha

1.6 Asumsi

1) Keberlangsungan komunitas Kemapsibaraya berkaitan pada Sense of Community dari setiap anggotanya

2) Sense of Community anggota Kemapsibaraya diketahui melalui penghayatan empat elemen yaitu Membership, Influence, Integration and Fulfilment dan Shared Emotional Connection.


(24)

53

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan melalui pengolahan data mengenai Sense of Community pada anggota Kemapsibaraya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

a) Sense of Community pada komunitas Kemapsibaraya sebagian besar berada pada kategori

kuat. Hal ini menggambarkan bahwa anggota komunitas Kemapsibaraya memiliki pengahayatan yang kuat terhadap setiap elemen yang membentuk Sense of Community. b) Elemen terkuat pada Sense of Community pada komunitas Kemapsibaraya adalah elemen

Shared Emotional Connection. Elemen ini menggambarkan komitmen dan kepercayaan bahwa para anggota telah dan akan berbagi sejarah, tempat, waktu bersama serta pengalaman yang sama.

c) Hasil dari elemen Influence pada Sense of Community pada anggota Kemapsibaraya tidak berbeda jauh antara kategori kuat dan kategori lemah, namun hasil yang diperoleh masih cenderung pada kategori kuat.

d) Elemen terlemah pada Sense of Community pada komunitas Kemapsibaraya adalah

membership dan influence. Elemen ini menggambarkan bahwa anggota tidak cukup kuat

menghayati dirinya sebagai anggota dalam komunitas dan kurang menghayati dirinya memiliki peran mempengaruhu dan dipengaruhi oleh komunitas. Mereka tidak merasakan bahwa dirinya memiliki pengaruh terhadap keberlangsungan komunitas


(25)

54

e) Hasil yang diperoleh dalam Sense of Community pada anggota Kemapsibaraya berjenis kelamin laki – laki memiliki Sense of Community yang kuat, namun tidak berbeda jauh dengan hasil pada anggota komunitas kemapsibaraya yang berjenis kelamin perempuan. f) Hasil yang diperoleh dalam Sense of Community pada anggota Kemapsibaraya angkatan 1

memiliki Sense of Community yang kuat, namun tidak berbeda jauh dengan hasil pada anggota komunitas kemapsibaraya angkatan 2.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan melalui pengolahan data mengenai Sense of Community pada komunitas Kemapsibaraya, maka peneliti mengajukan

5.2.1 Saran Teoritis

1. Elemen – elemen pada Sense of Community yang paling kuat dan menunjang bagi komunitas Kemapsibaraya adalah elemen membership, shared emotional connection dan integration and fulfillment of need.

2. Data yang dapat menunjang Sense of Community pada komunitas Kemapsibaraya adalah jenis kelamin dan angkatan Kemapsibaraya.

3. Disarankan pada peneliti selanjutnya untuk memperluas cakupan penelitian dengan dibandingkan dengan teori lain, sehingga dalam penelitian Sense of Community selanjutnya hasil yang diperoleh dapat terjaring lebih dalam mengenai Sense of Community.


(26)

55

5.2.4 Saran Praktis

1. Berdasarkan hasil yang diperoleh pada anggota Kemapsibaraya sebagian besar elemen – elemen Sense of Community berada pada kategori kuat, disarankan untuk pengurus dan anggota tetap mempertahankan elemen-elemen Sense of Community pada lingkungan komunitas Kemapsibaraya.

2. Kepada anggota Kemapsibaraya disarankan untuk dapat lebih berbaur dan berperan aktif dalam setiap kegiatan agar lebih saling mengenal sesama anggota lainnya. 3. Disarankan kepada pengurus Kemapsibaraya untuk lebih aktif mengajak anggota ikut


(27)

STUDI DESKRIPTIF MENGENAI SENSE OF COMMUNITY PADA

ANGGOTA KELUARGA MAHASISWA PSIKOLOGI SE-BANDUNG

RAYA (KEMAPSIBARAYA)

SKRIPSI

Diajukan untuk menempuh sidang sarjana pada Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung

Oleh :

Darina Qoidanti Hasna NRP : 1230046

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA BANDUNG


(28)

ii PRAKATA

Segala puji, hormat dan syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas penyertaan dan kasih setiaNya yang luar biasa kepada peneliti sehingga dapat menyelesaikan tugas ini.

Proposal penelitian ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Usulan Penelitian pada Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha dengan mengambil judul

STUDI DESKRIPTIF MENGENAI SENSE OF COMMUNITY PADA ANGGOTA

KELUARGA MAHASISWA PSIKOLOGI SE-BANDUNG RAYA (KEMAPSIBARAYA). Dalam penyusunan proposal ini, peneliti sangat menyadari bahwa hasil yang diperoleh masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, peneliti sangat mengharapkan kritik dan saran pembaca demi mengembangkan penelitian ini di masa yang akan datang.

Pada kesempatan ini, peneliti mengucapkan terimakasih yang sebesar – besarnya kepada : 1. DR. O. Irene P. Edwina, M.Si.,Psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas

Kristen Maranatha.

2. DR. Jacqueline M. Tj., M.Si., Psikolog selaku dosen pembimbing utama yang telah menyediakan waktu, tenaga, pikiran serta memberikan motivasi bagi peneliti selama penyusunan penelitian ini.

3. Lisa Imelia., M.Psi., Psikolog selaku dosen pembimbing pendamping yang telah menyediakan waktu, tenaga, pikiran serta memberikan motivasi bagi peneliti selama penyusunan penelitian ini.

4. Issara Rizkya selaku Ketua Kemapsibaraya angkatan 2, Mufqi Aulia Rahman selaku Ketua Kemapsibaraya angkatan 3, Putri A selaku Wakil Ketua Kemapsibaraya


(29)

iii

angkatan 3 dan seluruh anggota Kemapsibaraya selaku pemberi informasi untuk survey awal dalam penulisan latar belakang masalah pada penelitian ini.

5. Seluruh anggota Kemapsibaraya yang menjadi responden dalam penelitian ini.

6. Dwipangga Prahmatyo, Agrista S Sandy, Anjar Kartaputra dan M.Ramdhani yang turut membantu peneliti memberikan masukan selama proses pengerjaan penelitian mengenai Sense of Community.

7. Hendro Nuswantoro dan Noor Hadi Pramonowati selaku orangtua peneliti yang selalu memberikan dukungan moril, semangat, dukungan doa kepada peneliti.

8. Aulia Nur Ariswari dan Riski Anugrah selaku adik peneliti yang selalu memberikan dukungan moril, semangat, dukungan doa kepada peneliti.

9. Sahabat – sahabat peneliti yaitu Agustina Emelia, Claudy Purnama, Marsha Grasiani H.P, Alia Sulistyanti, Asyiah Shahar Banu, Bella Meisya Putri, Lani Dwiyana Putrid, Rehania Mustopa dan Siska Nurjanah yang selalu mendengarkan kesulitan peneliti, memberikan saran, meluangkan waktu untuk menemani dan memberikan doa serta semangat untuk peneliti selama proses pengerjaan penelitian ini.

10. Teman – teman seperjuangan yaitu Dwi Komala Sari, Lidya Arderiana, Nida Adila dan Stephanie C yang turut membantu dan memberikan dukungan kepada peneliti selama proses pengerjaan penelitian ini.

11. Partner penulis yaitu Taufik Iman Cahyadi yang selalu mendoakan, mengerti dan memahami peneliti, mendengarkan berbagai keluh kesah dalam pengerjaan penelitian ini, serta meluangkan waktu untuk menemani dan membantu peneliti selama proses pengerjaan penelitian ini. Terimakasih membuat bahagia peneliti dengan segala caranya tersendiri.


(30)

iv

12. Teman-teman mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha angkatan 2012 yang juga berjuang, terima kasih atas bantuan dan dukungannya selama ini kepada peneliti.

Akhir kata, peneliti berharap penelitian ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan segala pihak yang terlibat di dalam penelitian ini.

Bandung, Mei 2017


(31)

57

Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR PUSTAKA

Bret, Kloos., Jean, Hill.,Elizabeth, Thomas., Abraham, Wendersman., Maurice, J.Eloas., & James, H.Dalton. (2012). Community Psychology Linking Individals and Communities 3rd Edition, 184 – 185. Wadsworth Cengage Learning.

Chavis, D.M., Hogge, J.H., McMillan, D.W., & Wandersman, A (1986). Sense of Community

Through Brunswick’s lens: a first look. Journal of Community Psychology.

Chavis, D.M., Pretty, G (1999). Sense of community: Advances in measurement and application. Journal of community psychology, 27 (6), 635-642.

Dalton, James H and Maurice J. Elias, Abraham Wandersman. (2007) Community Psychology: Linking Individuals and Communities, 2nd edition, USA: Thomson Wadsworth.

Friedenberg, Lisa. 1995. Psychological testing: Design, analysis, and use. Massachusetts: Allyn & Bacon.

Gerungan, DR. W.A. 2010. Psikologi sosial. Bandung : PT. Refika Aditama.

Kaplan, R. M. & Saccuzzo. 2005. Psychological testing: Principles, application, and issues (6thed). Belmont: Thomson Wadsworth.

Kumar, R. (2009). Research methodology : a step-by-step guide for beginners. London: Sage Publication.

Manii, Phillip A. 1978. Community Psychology: Concepts and Applications. New York: The Free Press.

McMillan.D. Chavis,D.M. (1986). Sense of Community: definition and theory. American Journal of Community Psychology.

Nazir, Mohammad. 2003. Metode penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia.

Silalahi, Ulber. Drs., MA. (1999). Metode dan Metode Penelitian. Bandung: Bina Budhaya. Silalahi, Ulber. Drs., MA. (2006). Metode Penelitian Sosial. Bandung: UNPAR Press. Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Tedjo Reksoatmajo. (2007). Statistika, untuk Psikologi dan Pendidikan. Bandung: PT Refika Aditama.


(32)

58

Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR RUJUKAN

Akhmat Fauzi. 2014. Implementasi kemampuan hard skill,soft skill dan intrepreneurship

mahasiswa dalam menghadapi AEC (online). (http://suaramahasiswa.com, diakses 15 maret 2017).

Ayu. 2015. 5 cara untuk meningkatkan soft skill (online). (http://www.isigood.com, diakses 15 maret 2017)

Chavis, DM., Lee, K.S., & Acosta J.D. 2008. Sense of Community index 2 (SCI_2): Background, instrument, and scoring instructions. Online).

(http://www.senseofcommuntiy.com/files/sense %20of%20Community%%20Index 2(SCI_2).pdf)

Dwipangga, P.P. 2016. Suatu penelitian mengenai sense of community anggota Klub L10 SQUAD chapter Bandung (Skripsi). Fakultas Psikologi Universitas Jenderal Achmad Yani: Bandung.

Junita, D. 2015. Suatu penelitian mengenai sense of community pada komunitas Cassiopeia Pecinta TVXQ di Bandung (Skripsi). Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha: Bandung.

McMillan & Chavis. Sense of Community: A definition and theory. (Online). (http://www.drdavidmcmillan.com/article_1/)

McMillan, David W and David M. Chavis. 1986. Sense of community: A Definition and Theory (Journal of Community Psychology vol. 14, 1986). http://www.spokane.wsu.edu. Vanover Ansley, 2014. The impact of sense of community on business unit work performance.

(http://scholarship.rollins.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1013&context=honors) Wright, S.P. 2004. Psychological Sense of Community: Theory of McMillan and Chavis (1986).

http://www.wright-house.com.

Yanita, 2009. Review Indeks Sense of Community dalam Komunitas Online : SEAL Online Game (online). (http://thesis.binus.ac.id/doc/Bab2/Bab%202_09-153.pdf)


(1)

STUDI DESKRIPTIF MENGENAI SENSE OF COMMUNITY PADA

ANGGOTA KELUARGA MAHASISWA PSIKOLOGI SE-BANDUNG

RAYA (KEMAPSIBARAYA)

SKRIPSI

Diajukan untuk menempuh sidang sarjana pada Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung

Oleh :

Darina Qoidanti Hasna NRP : 1230046

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA BANDUNG


(2)

ii

PRAKATA

Segala puji, hormat dan syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas penyertaan dan kasih setiaNya yang luar biasa kepada peneliti sehingga dapat menyelesaikan tugas ini.

Proposal penelitian ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Usulan Penelitian pada Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha dengan mengambil judul STUDI DESKRIPTIF MENGENAI SENSE OF COMMUNITY PADA ANGGOTA KELUARGA MAHASISWA PSIKOLOGI SE-BANDUNG RAYA (KEMAPSIBARAYA). Dalam penyusunan proposal ini, peneliti sangat menyadari bahwa hasil yang diperoleh masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, peneliti sangat mengharapkan kritik dan saran pembaca demi mengembangkan penelitian ini di masa yang akan datang.

Pada kesempatan ini, peneliti mengucapkan terimakasih yang sebesar – besarnya kepada : 1. DR. O. Irene P. Edwina, M.Si.,Psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas

Kristen Maranatha.

2. DR. Jacqueline M. Tj., M.Si., Psikolog selaku dosen pembimbing utama yang telah menyediakan waktu, tenaga, pikiran serta memberikan motivasi bagi peneliti selama penyusunan penelitian ini.

3. Lisa Imelia., M.Psi., Psikolog selaku dosen pembimbing pendamping yang telah menyediakan waktu, tenaga, pikiran serta memberikan motivasi bagi peneliti selama penyusunan penelitian ini.

4. Issara Rizkya selaku Ketua Kemapsibaraya angkatan 2, Mufqi Aulia Rahman selaku Ketua Kemapsibaraya angkatan 3, Putri A selaku Wakil Ketua Kemapsibaraya


(3)

angkatan 3 dan seluruh anggota Kemapsibaraya selaku pemberi informasi untuk survey awal dalam penulisan latar belakang masalah pada penelitian ini.

5. Seluruh anggota Kemapsibaraya yang menjadi responden dalam penelitian ini.

6. Dwipangga Prahmatyo, Agrista S Sandy, Anjar Kartaputra dan M.Ramdhani yang turut membantu peneliti memberikan masukan selama proses pengerjaan penelitian mengenai Sense of Community.

7. Hendro Nuswantoro dan Noor Hadi Pramonowati selaku orangtua peneliti yang selalu memberikan dukungan moril, semangat, dukungan doa kepada peneliti.

8. Aulia Nur Ariswari dan Riski Anugrah selaku adik peneliti yang selalu memberikan dukungan moril, semangat, dukungan doa kepada peneliti.

9. Sahabat – sahabat peneliti yaitu Agustina Emelia, Claudy Purnama, Marsha Grasiani H.P, Alia Sulistyanti, Asyiah Shahar Banu, Bella Meisya Putri, Lani Dwiyana Putrid, Rehania Mustopa dan Siska Nurjanah yang selalu mendengarkan kesulitan peneliti, memberikan saran, meluangkan waktu untuk menemani dan memberikan doa serta semangat untuk peneliti selama proses pengerjaan penelitian ini.

10. Teman – teman seperjuangan yaitu Dwi Komala Sari, Lidya Arderiana, Nida Adila dan Stephanie C yang turut membantu dan memberikan dukungan kepada peneliti selama proses pengerjaan penelitian ini.

11. Partner penulis yaitu Taufik Iman Cahyadi yang selalu mendoakan, mengerti dan memahami peneliti, mendengarkan berbagai keluh kesah dalam pengerjaan penelitian ini, serta meluangkan waktu untuk menemani dan membantu peneliti selama proses pengerjaan penelitian ini. Terimakasih membuat bahagia peneliti dengan segala caranya tersendiri.


(4)

iv

12. Teman-teman mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha angkatan 2012 yang juga berjuang, terima kasih atas bantuan dan dukungannya selama ini kepada peneliti.

Akhir kata, peneliti berharap penelitian ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan segala pihak yang terlibat di dalam penelitian ini.

Bandung, Mei 2017


(5)

DAFTAR PUSTAKA

Bret, Kloos., Jean, Hill.,Elizabeth, Thomas., Abraham, Wendersman., Maurice, J.Eloas., & James, H.Dalton. (2012). Community Psychology Linking Individals and Communities 3rd Edition, 184 – 185. Wadsworth Cengage Learning.

Chavis, D.M., Hogge, J.H., McMillan, D.W., & Wandersman, A (1986). Sense of Community

Through Brunswick’s lens: a first look. Journal of Community Psychology.

Chavis, D.M., Pretty, G (1999). Sense of community: Advances in measurement and application. Journal of community psychology, 27 (6), 635-642.

Dalton, James H and Maurice J. Elias, Abraham Wandersman. (2007) Community Psychology: Linking Individuals and Communities, 2nd edition, USA: Thomson Wadsworth.

Friedenberg, Lisa. 1995. Psychological testing: Design, analysis, and use. Massachusetts: Allyn & Bacon.

Gerungan, DR. W.A. 2010. Psikologi sosial. Bandung : PT. Refika Aditama.

Kaplan, R. M. & Saccuzzo. 2005. Psychological testing: Principles, application, and issues (6thed). Belmont: Thomson Wadsworth.

Kumar, R. (2009). Research methodology : a step-by-step guide for beginners. London: Sage Publication.

Manii, Phillip A. 1978. Community Psychology: Concepts and Applications. New York: The Free Press.

McMillan.D. Chavis,D.M. (1986). Sense of Community: definition and theory. American Journal of Community Psychology.

Nazir, Mohammad. 2003. Metode penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia.

Silalahi, Ulber. Drs., MA. (1999). Metode dan Metode Penelitian. Bandung: Bina Budhaya. Silalahi, Ulber. Drs., MA. (2006). Metode Penelitian Sosial. Bandung: UNPAR Press. Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Tedjo Reksoatmajo. (2007). Statistika, untuk Psikologi dan Pendidikan. Bandung: PT Refika Aditama.


(6)

58

Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR RUJUKAN

Akhmat Fauzi. 2014. Implementasi kemampuan hard skill,soft skill dan intrepreneurship

mahasiswa dalam menghadapi AEC (online). (http://suaramahasiswa.com, diakses 15 maret 2017).

Ayu. 2015. 5 cara untuk meningkatkan soft skill (online). (http://www.isigood.com, diakses 15 maret 2017)

Chavis, DM., Lee, K.S., & Acosta J.D. 2008. Sense of Community index 2 (SCI_2): Background, instrument, and scoring instructions. Online).

(http://www.senseofcommuntiy.com/files/sense %20of%20Community%%20Index 2(SCI_2).pdf)

Dwipangga, P.P. 2016. Suatu penelitian mengenai sense of community anggota Klub L10 SQUAD chapter Bandung (Skripsi). Fakultas Psikologi Universitas Jenderal Achmad Yani: Bandung.

Junita, D. 2015. Suatu penelitian mengenai sense of community pada komunitas Cassiopeia Pecinta TVXQ di Bandung (Skripsi). Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha: Bandung.

McMillan & Chavis. Sense of Community: A definition and theory. (Online). (http://www.drdavidmcmillan.com/article_1/)

McMillan, David W and David M. Chavis. 1986. Sense of community: A Definition and Theory (Journal of Community Psychology vol. 14, 1986). http://www.spokane.wsu.edu. Vanover Ansley, 2014. The impact of sense of community on business unit work performance.

(http://scholarship.rollins.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1013&context=honors) Wright, S.P. 2004. Psychological Sense of Community: Theory of McMillan and Chavis (1986).

http://www.wright-house.com.

Yanita, 2009. Review Indeks Sense of Community dalam Komunitas Online : SEAL Online Game (online). (http://thesis.binus.ac.id/doc/Bab2/Bab%202_09-153.pdf)