LBM 3 SKN SGD 15

  STEP 1 1. Penelitian kebijakan= proses penyelenggaraan penelitian untuk mendukung kebijakan.

  Fungsinya untuk mengambil kebijakan. Digunakan untuk mengetahui bagaimana mengambil langkah kebijaakan.

  2. Registrasi kematian= pencatatankematian meliputi waktu, sebab, dan tempat kepada instansi yang terkait melalui RT/RW di kelurahan tersebut

  3. SWOT= singkatan dari Strength, Weakness, Opportunity, Treath.

  Cara untuk menganalisis dari faktor internal (S dan W) dan eksternal (O dan T) STEP 2

  1. Apa definisi dari penelitian kebijakan dan apa saja variabel-variabel yang mempengaruhi?

  2. Bagaimana karakteristik penelitian kebijakan?

  3. Apa tujuan dari kebijakan kesehatan?

  4. Mengapa harus ada kebijkan kesehatan?

  5. Bagaimana cara menyusun kebijakan kesehatan?

  6. Apa saja macam-macam kebijakan kesehatan?

  7. Apa saja strategi kebijakan permenkes saat ini?

  8. Apa manfaat dari analisis SWOT?

  9. Bagaimana teknik menganalisis SWOT?

  10. Bagaimana sistem registrasi kematian yang baik dan benar? STEP 3

  1. Apa definisi dari penelitian kebijakan dan apa saja variabel-variabel yang mempengaruhi? Penelitian untuk mendukung kebijakanuntuk membantu pengambilan kebijakan dalam memecahkan masalahdengan jalan menyediakan rekomendasi, dimana hasil penelitiannya mampu diterapkan dalam rangka memecahkan masalah. Variabel: a. Independent (masalah kebijakan) apa saja kebijakan, bagaimana menerbitkan, untuk siapa kebijakan tersebut, bagaimana mendistribusikan kebijakan ke masyarakat kecil. faktor budaya (stigma masyarakat dai suatu penyakit, ex: desa x tentang imunisasi dikatakan haram karena mengandung babi), faktor situasional (Suatu daerah membangun RS, daerah tsb ada bencanamaka pembangunan RS tertunda), faktor struktural (berhubungan politikperpecahan dalam masalah politik).

  b. Dependent (keampuan kebijakan menstruktur proses)peramalan kebijakan, evaluasi kebijakan Contoh:

  2. Apa saja indikator kesehatan masyarakat? Menurut kemenkes depkes 2010 ada 3:

  1. Derajat kesehatan : Mortaitas (AKI, AKB, angka harapan hidup bayi) ,Morbiditas(penyakit menular), peningkatan gizi

  2. Hasil antara

  3. Proses dan masukan

  3. Bagaimana karakteristik penelitian kebijakan? Memiliki fokus multidimensional - Bersifat induktif- empirikberbasis dari data, bukan teori, dimulai dari data yang - diolah dan dianalisis Berorientasi ke depandengan memperhatikan kejadian sebelumnya - Berorientasi kepada permintaan pemangku kepentinganharus sesuai dengan - kebutuhan dan permintaan daari pembuat kebijakan tersebut Melahirkan rumusan yang meyakinkanbisa menjelaskan nilai kebijakan tersebut - sehingga bisa diterima di masyarakat.

  4. Apa tujuan dari kebijakan kesehatan?

  Definisi: peraturan tertulis / keputusan formal dari pemerintah untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Tujuan: Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal masyarakat melalui upaya kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan dan meningkatkan kesehatan promotif, preventif, kuratif (penyembuhan pnyakit), rehabilitatif (pemulihan kesehatan). Untuk meningkatkan tarah hidup masyarakat.

  5. Mengapa harus ada kebijkan kesehatan?

  • Kesehatan bagian penting perekonomiankesehatan dapat meningkatkan perekonomian Lebih tinggi derjatnya dari masalah lainkesembuhan vs kematian - Dipengaruhi keputusan yang tidak ada kaitannya dengan kesehatan, cth: lintas - sektor, spt: tata kota supaya bebas polusi. Dengan kebijakan kesehatan menyelesaikan masalah kesehatan utama, cth: - menurunkan angka kejadian polio dengan adanya imunisasi polio.

  6. Bagaimana cara menyusun kebijakan kesehatan? Identifikasi masalah dan isu - Perumusan kebijakan - Pelaksanaan kebijakan -

  • Evaluasi kebijakan

  7. Apa saja macam-macam kebijakan kesehatan?

  1. Kebijakan program promosi kesehatan dan pembberdayaan masyarakat

  2. Kebijakan program lingkungan sehat

  3. Kebijakan program upaa kesehatan

  4. Kebijakan program pelayanan kesehatan

  5. Kebijakan program upaya kesehatan perorangan

  6. Kebijakan program pencegahan pemberantasan penyakit

  7. Kebijakan program perbaikan gizi masyarakat

  8. Kebijakan program sumber daya kesehatan

  9. Kebijakan program kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan

  10. Kebijakan program penelitian dan pengembangan kesehatan

  8. Apa saja strategi kebijakan permenkes saat ini?

  1. Pembanguanan nasional berwawasan kesehatan 2. Pemberdayaan masyarakat dan daerah strategi melibatkan masyarakat.

  3. Pengembangan upaya dan pembiayaan kesehatan

  4. Pengembangan dan pemberdayaan SDM kesehatan

  5. Penanggulangan keadaan darurat kesehatan

  9. Apa manfaat dari analisis SWOT? Untuk mendapatkan info dari analisis situasi dan memisahkannya dalam pokok - persoalan internal dan eksternal

  • Menjelaskan info tersebut brindikasi sesuatu yang akan membantu untuk mencapai tujuan / indikasi rintangan Untuk kerangka / panduan sistematis dalam diskusi untuk membahas, konndisi - alternatif dasar yang jadi pertimbangan.

  10. Bagaimana teknik menganalisis SWOT? Misi

  analisi SWOTuntuk memformulasikan strategi yang mendukung misi. Analisis internal analisis eksternal Strength Opportunity

  Weakness Threat

  Strategi yang baik strategi yang mendukung misi o Mengeksploitasi peluang dan kekuatan o Menetralisir ancaman o Menghindari kelemahan

  S W O SO WO T TS TW Kriteria Hasil: O > T  suatu peluang yang ideal T > O  peluang yang terancam

  11. Bagaimana sistem registrasi kematian yang baik dan benar?

  12. Apa latar belakang pencatatan registrasi kematian dan apa manfaatnya?

  1. UU no. 36 tahun 2009 untuk menyelnggarakan upaya kesehatan

  2. Perencanaan dan evaluasi program belum memiliki data penyebab kematian

  3. SIK dukungan lintas sekto

  4. UU no.23 tahun 2006 dalam kependudukan

  5. Info kesehatan belum sampai di SIK

  6. Peraturan bersama mendagri dari menkes RI No. 15 tahun 2016

  7. SKT/SURKESNAS/MENKES/03/i/2010

  8. Underreporting sampai 90%

  13. Apa saja kebijakan kemenkes mengenai registrasi kematian saat ini? Apakah selaraas dengan ksehatan nasional & SDGs?

  14. Jelaskan analisis penelitian kebijakan selain analisis SWOT Sasbel: Paham masalah kesmas

  Penelitian /analisis kebijakan kes Analisis SWOT STEP 4 Masalah

  Analisis SWOT Penelitian kebijakan evaluasi Kebijakan  faktor yang mempengaruhi

  STEP 7

  1. Apa definisi dari penelitian kebijakan dan apa saja variabel-variabel yang mempengaruhi? Definisi penelitian kebijakan: Sebagai proses penyelenggaraan penelitian untuk mendukung kebijakan atau analisis terhadap masalah sosial untuk membantu mengambil kebijakan memecahkan masalah dengan cara menyediakan rekomendasi ada tindakan atau tingkah laku yang pragmatis.

  (Sudarwan Danim. Pengantar Studi Penelitian Kebijakan) Faktor yang mempengaruhi kebijakan:

  : Faktor yang tidak permanen atau khusus yang dapat berdampak o Faktor situasional pada kebijakan (contoh: kekeringan)

  : bagian dari masyarakat yang relatif tidak berubah (misal: sistem o Faktor struktural politik)

  : Faktor yang dapat berpengaruh seperti hierarki, gender, stigma o Faktor budaya terhadap penyakit tertentu

  : faktor ini menyebabkan meningkatnya o Faktor internasional atau eksogen ketergantungan antar negara dan mempengaruhi kemandirian dan kerja sama internasional dalam kesehatan.

  (Buse K. Kerangka Kebijakan Kesehatan)

  2. Apa saja indikator kesehatan masyarakat?

  INDIKATOR TARGET HASIL KET 2010

  MORTALITAS

  1. Angka kematian bayi per 1.000

  40

  14 kelahiran hidup

  2. Angka kemtian balita per 1.000

  58

  16 kelahiran hidup

  3. Angka kematian ibu per 150 (10) 22 dari 6500 100.000 kelahiran hidup kelahiran hidup

  4. Angka Harapan hidup waktu

  67.9

  62 lahir Di daerah perkotaan terdapat lima masalah kesehatan masyarakat (Surjadi, 1999) yaitu:

  1. Masalah kesehatan karena kemiskinan dan lingkungan Masalah ini ditandai dengan tingginya:

  a. Penyakit saluran napas yang disebabkan terutama oleh polusi udara di dalam dan luar rumah. Ini terjadi antara lain karena pemakaian bahan bakar berpolusi tinggi, kurangnya ruang hijau kota, buruknya ventilasi udara dalam rumah karena kepadatan dalam rumah yang tinggi, kurangnya ventilasi dapur, pemakaian bahan bakar berpolusi tinggi untuk memasak dan pembakaran sampah yang tidak terangkut terutama di perkampungan kumuh.

  b. Penyakit saluran pencernaan, seperti diare dan typhoid karena air minum yang kurang memenuhi syarat kesehatan dan kurangnya fasilitas untuk buang air besar yang memenuhi syarat kesehatan terutama bagi penduduk di perkampungan kumuh kota.

  c. Penyakit kurang gizi dan anemia karena mahalnya harga bahan pangan yang bergizi dan ketidaktahuan penduduk.

  2. Masalah kesehatan yang berkaitan dengan industrialisasi termasuk pariwisata, makanan dan perilaku Masalah ini ditandai dengan meningkatnya:

  a. Penyakit yang berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan kerja termasuk kecelakaan di pabrik dan rumah tangga. Ini berkaitan dengan rendahnya perhatian terhadap keselamatan kerja, dan meningkatnya sektor informal yang biasanya merupakan industri rumah tangga, termasuk dalam kelompok ini adalah masalah kesehatan pekerja anak.

  b. Penyakit infeksi saluran pencernaan seperti: penyakit diare, typhoid dan penyakit kelebihan gizi/kegemukan, yang disebabkan kebiasaan jajan di semua lapisan masyarakat, dan makanan yang penyiapannya kurang higenis.

  c. Meningkatnya penyakit kronis seperti: diabetes melitus, hipertensi dan penyakit jantung, yang berkaitan dengan kebiasaan makan dengan kadar garam tinggi dan lemak tinggi, kebiasaan hidup tidak sehat dan aktivitas fisik yang kurang, yang tidak hanya dialami golongan sosial ekonomi tinggi dan menengah tetapi juga golongan sosial ekonomi lemah.

  d. Meningkatnya masalah yang berkaitan dengan perilaku seks bebas seperti: kehamilan pada usia muda, kehamilan yang tidak dikehendaki, masalah penyakit menular karena hubungan seks dan AIDS.

  e. Meningkatnya kecelakaan di jalan karena kurangnya disiplin mengemudi dalam menggunakan jalan, terutama jalan bebas hambatan, sebaliknya peningkatan kepadatan hunian, rumah bertingkat dengan kurangnya sarana bermain bagi anak, meningkatkan kecelakaan rumah tangga.

  3. Masalah kesehatan yang berkaitan dengan keadaan psikososial keluarga dan individu Meningkatnya masalah kesehatan mental seperti stress, ketergantungan obat, kekerasan dan lain-lain. Masalah kesehatan mental itu antara lain berkaitan dengan: a. Proses penggusuran karena pembangunan kota.

  b. Menurunnya ikatan kekeluargaan, kurang eratnya hubungan orang tua dan

  anak, kaum migran yang terpaksa hidup tanpa dukungan kerabatnya, kepadatan pemukiman yang tinggi tidak ada ruang hijau yang dapat dipakai untuk bersantai, kecenderungan tinggal berpindah-pindah sesuai dengan tempat pekerjaan.

  4. Masalah kesehatan pada kelompok tertentu seperti anak jalanan, pekerja sektor informal, pekerja seks komersial, petugas kebersihan kota, remaja kota, dan kelompok usia lanjut. Salah satu masalah kota adalah adanya kelompok tertentu yang cukup banyak terdapat di kota dibandingkan daerah pedesaan. Yaitu kelompok pekerja tertentu yang mempunyai masalah kesehatan yang berkaitan dengan profesi mereka seperti misalnya anak jalanan, pekerja seks komersial, petugas kebersihan, pemulung dan lain-lain yang masing-masing merupakan komunitas khusus di kota dan merupakan bagian dari sistem kehidupan kota yang nyata, akan tetapi sering dianggap tidak ada atau terlupakan, masalah kesehatan kelompok ini merupakan masalah tersendiri yang perlu diatasi. Pada masa kini terjadi peningkatan penduduk usia remaja yang berumur 15 - 24 tahun dan orang tua, kelompok ini membutuhkan upaya kesehatan yang berkaitan dengan masalah kesehatan remaja dan masalah kesehatan usia lanjut. Masalah kesehatan remaja meliputi masalah ketergantungan obat, masalah trauma terutama karena kecelakaan lalu lintas karena penggunaan kendaraan oleh para remaja, masalah yang berkaitan dengan perilaku seks seperti misalnya penyakit menular karena hubungan seks, kehamilan pada usia remaja yang seringkali tidak dikehendaki (Unwanted pregnancy), dan masalah lainnya yang berkaitan dengan masalah kesehatan mental seperti kenakalan remaja, tawuran remaja, kekerasan dan bunuh diri, kelainan perilaku makan bagi remaja puteri dan lain-lain. Masalah kesehatan usia lanjut meliputi masalah penyakit kronis, kelainan mental karena perasaan tersingkir dan kurang ada pekerjaan dan reaksi penggunaan obat yang berlebihan.

  5. Masalah kesehatan yang berkaitan dengan terjadinya krisis karena bencana banjir, kebakaran, gempa dan lain-lain.

  Di kota adanya konsentrasi penduduk dalam lokasi tertentu seperti perkampungan kumuh, perkantoran, pusat industri dan lain-lain, membutuhkan kesiapsiagaan untuk melakukan tindakan pencegahan dan pertolongan dengan segera bila terjadi bencana seperti misalnya banjir, kebakaran, gempa, keracunan makan dan lain-lain, yang kesemuanya itu membutuhkan pendekatan kesehatan yang amat berbeda dengan keadaan biasa. Selain lima hal di atas diketahui bahwa di perkotaan terjadi beban ganda masalah kesehatan karena adanya penyakit menular seperti diare, penyakit saluran napas, demam berdarah, pada saat yang sama terjadi peningkatan penyakit jantung, tekanan darah tinggi, penyakit degenerasi, jiwa dan lain-lain. Hal ini dapat di lihat dengan jelas dari gambaran penyakit utama di daerah perkotaan Indonesia dan negara berkembang lainnya.

  Indikator derajat kesehatan

  • -angka-angka kematian utama seperti :

  o angka kematian umum o angka kematian bayi o angka kematian balita o angka kematian ibu bersalin o umur harapan hidup sejak lahir

  • -angka-angka kesakitan dan penyebab kematian :

  o pola penyakit utama dan kecendrungannya o penyakit-penyakit utama penyebab kematian

  • -status gizi masyarakat :

  o kekurangan energi dan protein o kekurangan vit A o gangguan akibat kekurangan iodium (GAKI) o anemia gizi

  (Administrasi Kesehatan, Budioro)

  3. Bagaimana karakteristik penelitian kebijakan? Karakteristik:

  a. Memiliki focus multidimensional  harus menjangkau seluruh variable yang terkait dengan permasalahn yang sedang dirancang penelitiannya, harus terkait dengan gagasan/ide pengembangan sebagai upaya melakukan perubahan-perubahan sosial.

  b. Bersifat induktif-empirik  berbasis data, bukan teori. Tidak dimulai dari rumusan hipotesis, Data penelitian harus diolah dengan menghitung frekuensi dan distribusi frekuensi, data penelitian kebijakan harus diolah dan dianalisis dengan berbagai model analisis dari analisis kecenderungan, ketergantungan dan ramalan.

  c. Berorientasi kedepan dengan memperhatikan kejadian sebelumnya

  d. Berorientasi kepada permintaan pemangku kepentingan  harus sesuai dengan hasil assessment terhadap kebutuhan dan permintaan target grup dari kebijakannya itu

  e. Melahirkan rumusan yang meyakinkan dengan menjelaskan nilai lebih dari kebijakannya itu sehingga masyarakat dapat menerima karena rasionalismenya.

  (Sudarwan Danim. Pengantar Studi Penelitian Kebijakan)

  4. Apa tujuan dari kebijakan kesehatan? Terselenggaranya pembangunan kesehatan yang berdaya guna dan berhasil guna untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya melalui usaha promotif, preventif, rehabilitative, dan kuratif secara menyeluruh terpadu dan berkesinambungan.

  (Depkes RI. Rencana Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010)

  5. Mengapa harus ada kebijkan kesehatan?

  • - Sektor kesehatan merupakan bagian penting perekonomian di berbagai Negara
  • - Kesehatan mempunyai posisi yang lebih istimewa dibanding dengan masalah sosial

  yang lainnya

  • - Kesehatan dapat dipengaruhi oleh sejumlah keputusan yang tidak ada kaitannya

  dengan pelayanan kesehatan (misal: kemiskinan, polusi)

  • - Memberi arahan dalam pemilihan teknologi kesehatan

  (Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD)

  6. Bagaimana cara menyusun kebijakan kesehatan? Proses mengacu kepada cara bagaimana kebijakan dimulai, dikembangkan atau disusun, dinegosiasi, dikomunikasikan, dilaksanakan dan dievaluasi. Pendekatan yang paling sering digunakan untuk memahami proses kebijakan adalah dengan menggunakan apa yang disebut ‘tahapan heuristiks’ (Sabatier dan Jenkins Smith ‐ 1993). Yang dimaksud disini adalah membagi proses kebijakan menjadi serangkaian tahapan sebagai alat teoritis, suatu model dan tidak selalu menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi didunia nyata. Namun, serangkaian tahapan ini membantu untuk memahami penyusunan kebijakan dalam tahapan tahapan yang berbeda: ‐

  • Identifikasi masalah dan isu: menemukan bagaimana isu – isu yang ada dapat masuk ke dalam agenda kebijakan, mengapa isu – isu yang lain justru tidak pernah dibicara>Perumusan kebijakan: menemukan siapa saja yang terlibat dalam perumusan kebijakan, bagaimana kebijakan dihasilkan, disetujui, dan dikomunikasi>Pelaksanaan Kebijakan: tahap ini yang paling sering diacuhkan dan sering dianggap sebagai bagian yang terpisah dari kedua tahap yang pertama. Namun, tahap ini yang diperdebatkan sebagai tahap yang paling penting dalam penyusunan kebijakan sebab bila kebijakan tidak dilaksanakan, atau diubah selama dalam pelaksanaan, sesuatu yang salah mungkin terjadi – dan hasil kebijakan tidak seperti yang diharap
  • Evaluasi kebijakan: temukan apa yang terjadi pada saat kebijakan dilaksanakan,

  bagaimana pengawasannya, apakah tujuannya tercapai dan apakah terjadi akibat yang tidak diharapkan. Tahapan ini merupakan saat dimana kebijakan dapat diubah atau dibatalkan serta kebijakan yang baru ditetapkan. )

  Menurut Dunn proses kebijakan publik terdiri dari lima tahapan yaitu sebagai berikut :

  a. Penyusunan agenda (agenda seting), yakni suatu proses agar suatu masalah bias mendapat perhatian dari pemerintah.

  b. Formulasi kebijakan (policy formulation), yakni suatu proses perumusan pilihan-pilihan atau alternatif pemecahan masalah oleh pemerintah.

  c. Penentuan kebijakan (policy adoption), yakni suatu proses dimana pemerintah menetapkan alternatif kebijakan apakah sesuai dengan kriteria yang harus dipenuhi, menentukan siapa pelaksana kebijakan tersebut, dan bagaimana proses atau strategi pelaksanaan kebijakan tersebut.

  d. Implementasi kebijakan (policy implementation), yaitu suatu proses untuk melaksanakan kebijakan supaya mencapai hasil, pada tahap ini perlu adanya dukungan sumberdaya dan penyusunan organisasi pelaksana kebijakan.

  e.

  Evaluasi kebijakan (policy evaluation), yakni suatu proses untuk memonitor dan menilai hasil atau kinerja kebijakan.

  (Subarsono, 2005)

  7. Apa saja macam-macam kebijakan kesehatan?

  8. Apa saja strategi kebijakan permenkes saat ini? Strategi Pembangunan Kesehatan Untuk mencapai tujuan dan sasaran pembangunan kesehatan, maka strategi pembangunan kesehatan yang akan ditempuh sampai tahun 2015 adalah: a. Pembangunan Nasional Berwawasan Kesehatan

  Untuk terselenggaranya pembangunan nasional berwawasan kesehatan, perlu dilaksanakan kegiatan advokasi, sosialisasi, orientasi, kampanye dan pelatihan, sehingga semua pelaku pembangunan nasional (stakeholders) memahami dan mampu melaksanakan pembangunan nasional berwawasan kesehatan. Selain itu perlu pula dilakukan penjabaran lebih lanjut dari pembangunan nasional berwawasan kesehatan, sehingga benar-benar dapat dilaksanakan dan diukur tingkat pencapaian dan dampak yang dihasilkan.

  b. Pemberdayaan Masyarakat dan Daerah Peran masyarakat dalam pembangunan kesehatan semakin penting. Masalah kesehatan perlu diatasi oleh masyarakat sendiri dan pemerintah. Selain itu, banyak permasalahan kesehatan yang wewenang dan tanggung jawabnya berada di luar sektor kesehatan. Untuk itu perlu adanya kemitraan antar berbagai pelaku pembangunan kesehatan. Pemberdayaan masyarakat pada hakekatnya adalah melibatkan masyarakat untuk aktif dalam pengabdian masyarakat (to serve), aktif dalam pelaksanaan advokasi kesehatan (to advocate), dan aktif dalam mengkritisi pelaksanaan upaya kesehatan (to watch).

  c. Pengembangan Upaya dan Pembiayaan Kesehatan Pengembangan pelayanan atau upaya kesehatan, yang mencakup upaya kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan perorangan diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat (client oriented), dan dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, berkelanjutan, merata, terjangkau, berjenjang, profesional, dan bermutu.

  Pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin perlu mendapatkan pengutamaan. Penyelenggaraan upaya kesehatan diutamakan pada upaya pencegahan dan peningkatan kesehatan, tanpa mengabaikan upaya pengobatan dan pemulihan kesehatan. Penyelenggaraan upaya kesehatan dilakukan dengan prinsip kemitraan antara pemerintah, masyarakat, dan swasta.

  d. Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan Pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat tidak akan terwujud apabila tidak didukung oleh sumber daya manusia kesehatan yang mencukupi jumlahnya, dan profesional, yaitu sumber daya manusia kesehatan yang mengikuti perkembangan IPTEK, menerapkan nilai-nilai moral dan etika profesi yang tinggi. Semua tenaga kesehatan dituntut untuk selalu menjunjung tinggi sumpah dan kode etik profesi. Dalam pelaksanaan strategi ini dilakukan perencanaan kebutuhan dan penentuan standar kompetensi tenaga kesehatan, pengadaan tenaga kesehatan, dan pendayagunaan tenaga kesehatan serta pembinaan dan pengawasan sumber daya manusia kesehatan. Upaya pengadaan tenaga kesehatan dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan di Indonesia dalam era desentralisasi dan globalisasi. Upaya pengadaan ini dilakukan melalui pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan SDM Kesehatan. Pendayagunaan tenaga kesehatan antara lain meliputi: distribusi tenaga kesehatan secara merata dan peningkatan karier dari tenaga kesehatan tersebut. Pembinaan dan pengawasan tenaga kesehatan dilakukan melalui peningkatan komitmen dan legislasi yang meliputi antara lain sertifikasi, uji kompetensi, registrasi, dan perijinan (licensing) tenaga kesehatan. Disamping itu, penting dilakukan upaya untuk pemenuhan hak-hak tenaga kesehatan.

  e. Penanggulangan Keadaan Darurat Kesehatan Keadaan darurat kesehatan dapat terjadi karena bencana, baik bencana alam maupun bencana karena ulah manusia, termasuk konflik sosial. Keadaan darurat kesehatan akan mengakibatkan dampak yang luas, tidak saja pada kehidupan masyarakat di daerah bencana, namun juga pada kehidupan bangsa dan negara. Oleh karenanya penanggulangan keadaan darurat kesehatan yang mencakup upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan, dilakukan secara komprehensif, mitigasi serta didukung kerjasama lintas sektor dan peran aktif masyarakat.

  (Syafrudin, SKM. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Trans Info Media, 2009)

  9. Apa manfaat dari analisis SWOT?  Untuk melakukan perencanaan dalam upaya mengantisipasi masa depan dengan melakukan pengkajian bedasarkan pengalaman masa lampau, ditopang sumber daya dan kemampuan yang miliki saat ini yang akan diproyeksikan kemasa depan.

   Untuk menganalisis kesempatan/peluang dan kekuatan dalam membuat rencana jangka panjang.  Untuk mengatasi ancaman dan kelemahan yang mempunyai kecendrungan menghasilkan rencana jangka pendek, yaitu rencana untuk perbaikan.  Untuk mengidentifikasi Faktor eksternal (O dan S) dan Faktor Internal (S da W)

  (Pengantar Administrasi Kesehatan Edisi Ketiga, Azrul Azwar)

  10. Bagaimana teknik menganalisis SWOT? Unsur-unsur

  • - Strength  dapat dioptimalkan untuk mencapai tujuan
  • - Weakness  kekurangan yang jika diatasi dapat digunakan untuk mencapai tujuan
  • - Opportunity  peluang yang bersifat positif yang dapat dimanfaatkan
  • - Threat  kendala yang bersifat negatif dan jika diatasi dapat digunakan untuk

  mencapai tujuan

  a. Internal : Kekuatan

  

  berbagai kelebihan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu organisasi, yang apabila dapat dimanfaatkan akan berperan besar tidak hanya dalam memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi, tetapi juga dalam mencapai tujuan yang dimiliki oleh organisasi. Kelemahan  berbagai kekurangan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu organisasi yang apabila berhasil diatasi akan berperan besar tidak hanya dalam memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi tetapi juga dalam mencapai tujuan yang dimiliki oleh suatu organisasi.

  b. Eksternal : Kesempatan

  

  peluang yang bersifat positif yang dihadapi oleh suatu organisasi yang apabila dapat dimanfaatkan akan besar peranannya dalam mencapai tujuan organisasi.

  

  Hambatan kendala yang bersifat negatif yang dihadapi oleh suatu organisasi yang apabila berhasil diatasi akan besar peranannya dalam mencapai tujuan organisasi.

  (Pengantar Administrasi Kesehatan Edisi Ketiga, Azrul Azwar)

  11. Bagaimana sistem registrasi kematian yang baik dan benar? Kebijakan masalah kesehatan:

  a. Pogram promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat (ada KIE, dan pengembangan kesehatan bersumber masyarakat dan generasi muda, meningkatkan pendidikan kesehatan terhadap masyarakat)

  b. Kebijakan lingkungan sehat (penyediaan air bersih dan saniasi dasar, pengembangan wilayah sehat) c. Kebijakan program upaya kesehatan (pelayanan kesehatan penduduk miskin di puskesmas, pengadaan peralatan dan pembkalan kesehatan ermasuk obat generik) d. Kebijakn program pelayanan kesehatan

  e. Kebijakan program upaa kesehatan perorangan: ada pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin kelas III di RS. Perbaikan sarana dan prasarana RS.

  f. Kebijakan program pencegahan dan pemberantasan penyakit (pencegahan dan pennggulangan faktor risiko, peningkatan imunisasi, penemuan dan tatalaksana penderita, peningkatan survilens epidemiologi, peningkatan KIE pencegahan dan pemberantasan penyakit.

  Kebijakan terkait SDG’s

  12. Apa latar belakang pencatatan registrasi kematian dan apa manfaatnya?

  13. Apa saja kebijakan kemenkes mengenai registrasi kematian saat ini? Apakah selaras dengan kesehatan nasional & SDGs?


Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

76 1813 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 472 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 426 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 255 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 377 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 555 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 490 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

10 315 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 484 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 568 23