LAPORAN PRAKTIKUM ILMU USAHATANI 2014

LAPORAN PRAKTIKUM
ILMU USAHATANI
Analisis Usahatani Padi sawah dan Bengkoang di Desa Datar dan Kedung Malang

Di susun oleh :
Anggie Fitriani
1304020030

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2016

DAFTAR ISI
Daftar isi ................................................................................................................. 1
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang ....................................................................................................... 2
Tujuan .................................................................................................................... 4
Manfaat .................................................................................................................. 4
BAB II HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil ....................................................................................................................... 5

Pembahasan .......................................................................................................... 12
BAB III PENUTUP
Kesimpulan .......................................................................................................... 16
Saran ..................................................................................................................... 16
Daftar Pustaka ...................................................................................................... 17
Lampiran .............................................................................................................. xx

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Indonesia adalah Negara agraris yang sebagaian besar penduduknya terdiri
dari dari petani sehingga sektor pertanian memegang peranan penting. Sektor
pertanian sebagai sumber kehidupan bagi sebagian besar penduduk terutama bagi
mereka yang memiliki mata pencaharian utama sebagai petani. Selain itu sektor
pertanian, salah satu hal penting yang harus diperhatikan sebagai penyedia pangan
bagi masyarakat. Peningkatan produksi yang harus seimbang dengan laju
pertumbuhan penduduk dapat dicapai melalui peningkatan pengelolaan usahatani
secara intensif. Oleh karena itu, pengetahuan tentang cara pengusahaan suatu
usahatani mutlak dibutuhkan agar dapat meningkatkan produktifitas serta dapat
meningkatkan pendapatan sehingga kesejahteraan petani dapat meningkat.

Secara garis besar, besarnya pendapatan usahatani diperhitungkan dari
pengurangan besarnya penerimaan dengan besarnya biaya usahatani tersebut.
Penerimaan suatu usahatani akan dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti luasnya
usahatani, jenis dan harga komoditi usahatani yang diusahakan, sedang besarnya
biaya suatu usahatani akan dipengaruhi oleh topografi, struktur tanah, jenis dan
varietas komoditi yang diusahakan, teknis budidaya serta tingkat teknologi yang
digunakan.
Padi merupakan salah satu komoditi yang mempunyai prospek pengembangan
guna menambah pendapatan para petani. Hal tersebut dapat memberi motivasi
tersendiri bagi petani untuk lebih mengembangkan dan meningkatkan produksinya
dengan tujuan agar pada saat panen usaha memperoleh hasil penjualan tinggi guna
memenuhi kebutuhannya. Namun kadang kala dalam kenyataan tidak sesuai dengan
apa yang diharapkan. Ketika panen tiba, hasil melimpah tetapi harga mendadak turun,
dan lebih parah lagi jika hasil produksi yang telah di prediksikan jauh melenceng dari
jumlah produksi yang dihasilkan, produksi minim, harga rendah dan tidak menentu
membuat petani padi kadang merasa kecewa bahkan patah semangat untuk tetap
megembangkan usaha pertaniannya. Hal ini disebabkan karena setiap kegiatan

pengolahan sawah mutlak petani mengeluarkan biaya untuk kegiatan produksi, mulai
dari pengadaan bibit, pupuk, pengolahan, pestisida dan biaya lainnya yang tidak

terduga.
Selain padi, bengkoang juga salah satu komoditi holtikultura yang mempunyai
prosepek penambahan pendapat para petani. Umbi tanaman bengkuang biasa
dimanfaatkan sebagai buah atau bagian dari beberapa jenis masakan seperti rujak,
asinan atau dimakan segar. Umbi bengkuang mengandung agen pemutih (whitening
agent) yang dapat memutihkan dan menghilangkan tanda hitam dan pigmentasi di
kulit. Bengkuang mengandung vitamin C dan senyawa fenol yang dapat berfungsi
sebagai sumber antioksidan bagi tubuh. Selain itu, budidaya bengkoang juga mudah
tidak perlu banyak pemeliharaannya.
Untuk memperoleh pendapatan yang memuaskan petani, maka petani dituntut
kecermatannya dalam mempelajari perkembangan harga sebagai solusi dalam
menentukan pilihan, apakah ia memutuskan untuk menjual atau menahan hasil
produksinya. Namun bagi petani yang secara umumnya menggantungkan hidupnya
dari bertani, maka mereka senantiasa tidak memiliki kemampuan untuk menahan hasil
panen kecuali sekedar untuk konsumsi sehari-hari dan membayar biaya produksi yang
telah dikeluarkan.
Untuk itu pada mata kuliah ilmu usaha tani, kami melakukan wawancara
kepada petani padi sawah di desa Datar dan petani bengkoang di desa Kedung Malang
kecamatan Sumbang kabupaten Banyumas mengenai biaya yang dikeluarkan pada
saat awal produksi hingga pendapatan setelah panen serta bagaimana pemasarannya.


B. TUJUAN
Menganalisis pendapatan usahatani padi dan bengkoang di desa Datar dan
Kedung Malang kecamatan Sumbang kabupaten Banyumas.

C. MANFAAT
Mengetahui pendapatan petani padi dan bengkoang di desa Datar dan Kedung
Malang kecematan Sumbang kabupaten Banyumas.

BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL
1. Data serta perhitungan usahatani padi sawah oleh seorang petani di desa
Kedung Malang kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas

Status tanah
Nama

Digarap Sendiri


Blok / Persil

Milik (Ha)

a. Blok 1

0,28
Jumlah

0, 28

Pola penggunaan tanah
Nama
Blok / Persil
Blok 1

MT - 1

MT - 2


MT - 3

Padi

Palawija

Padi

1. Biaya Variabel
Biaya Sarana Produksi
Penggunaan per lahan

Besar biaya per lahan

(Kg/ml)

(Rp)

Blok 1


Blok 1

20

180.000

Urea

60

135.000

Poska

25

50.000

Pestisida (Matador)


1

55.0000

1x

360.000

Jenis Saprodi

Benih / Bibit
Pupuk



Sewa alat

Jumlah

Rp. 780.000


Biaya Tenaga Kerja Luar Keluarga
Jumlah HOK

Upah per HOK

Jumlah Biaya

(Wanglan 1)

(Rp)

(Rp)

Jenis Kegiatan
t

h

j


(Blok 1)

(Blok 1)

-

-

-

-

-

1

1

8


50.000

50.000

Tanam

-

-

-

-

-

Pemupukan

-

-

-

-

-

Pemeliharaan

-

-

-

-

-

Panen

5

1

8

50.000

250.000

Pasca Panen

1

2

8

50.000

50.000

Jumlah

7

4

24

Rp. 150.000

Rp. 350.000

Persemaian
Pengolahan
Tanah :
(cangkul, bajak,
traktor, garu)

Penyerapan Tenaga Kerja (HKO) = (t + h + j)
8
dimana 8 = standar jam kerja per-hari.

 Penyerapan Tenaga Kerja :

+

+

= 4,375

4,374 jika dibulatkan menjadi 4 orang tenaga kerja.

 Jumlah biaya :
Biaya sarana produks i

+

Biaya tenaga kerja luar keluarga

Rp. 780.000

+

Rp. 350.000

2. Biaya Tetap
Biaya Penyusutan Alat
B
Jumlah
Jenis Alat
(unit)

iaya
pen
yusu
tan
alat
=
Nilai
Beli

Nilai sisa

=

Harga Beli

Rp. 1.130.000

Umur

Nilai Sisa

persatuan

Ekonomis

(Rp)

(Rp/unit)

(Tahun)

Cangkul

1

50.000

20.000

5

Sprayer

1

250.000

50.000

5

Sabit

1

15.000

5.000

5

1.

Cangkul

=

2.

Sprayer

=

3.

Sabit

=

.



�ℎ �

.

Umur Ekonomis
= 6.000

.



.

�ℎ �

.



Total biaya penyusutan

.

�ℎ �

= 40.000
= 4.000
= Rp. 6.000 + Rp. 40.000 + Rp. 4.000
= Rp. 50.000

Total Biaya tetap
No.
1.

Biaya Tetap

Rp

Penyusutan alat

50.000
Jumlah

Total cost
 Sehingga didapatkan Total Cost :
Biaya Variabel

+

Biaya Tetap

Rp. 1.130.000

+

Rp. 50.000

=

Rp. 1.180.000

Nilai Produksi Usahatani
Nilai produksi

50.000

Rata-rata
Nama

LLG (Ha)

produksi
(Kg)

Harga
(Rp/Kg)

Nilai
Produksi
(Rp)

Blok 1

0,28

2000

4.000

8.000.000

Jumlah

0, 28

2000

4.000

8.000.000

Menghitung Pendapatan Usahatani :
π = TR –TC
Pendapatan pada suatu usahatani merupakan total penerimaan dikurangi dengan total
biaya yang dikeluarkan dalam mengusahakan suatu usahatani.
Dimana :
π

= Pendapatan

TR

= Total Penerimaan

TC

= Total Biaya

Sehingga Pendapatan Bapak Tarmeja dalam 1 kali musim tanam pada blok/persil
yang dimilikinya sebesar :
Rp. 8.000.000

-

Rp. 1.180.000 =

Rp. 6.280.000,-

2. Data serta perhitungan usahatani holtikultura (Bengkoang) oleh seorang petani
di desa Datar kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas

Status tanah

Nama

Digarap Sendiri

Blok / Persil

Milik (Ha)

Blok 1

0,035

Jumlah

0,035

Pola penggunaan tanah
Nama

MT - 1

MT - 2

MT - 3

Bengkoang

Palawija

Palawija

Blok / Persil
Blok 1

3. Biaya Variabel
Biaya Sarana Produksi
Penggunaan

Besar biaya

per lahan

per lahan

(Kg/ml)

(Rp)

Benih / Bibit

-

-

Pupuk

-

-

Sewa alat

-

-

Jenis Saprodi

-

Jumlah

Biaya Tenaga Kerja Luar Keluarga
Jumlah HOK

Upah per HOK

Jumlah Biaya

Blok 1

(Rp)

(Rp)

Jenis Kegiatan

Persemaian

t

h

j

Blok 1

Blok 1

-

-

-

-

-

Pengolahan Tanah :
-

-

-

-

-

Tanam

-

-

-

-

-

Pemupukan

-

-

-

-

-

Pemeliharaan

-

-

-

-

-

Panen

-

-

-

-

-

(cangkul, bajak,
traktor, garu)

 Jumlah biaya variabel:
Biaya sarana produksi
Rp. 0

+
+

Biaya tenaga kerja luar keluarga

Rp. 0 =

0

4. Biaya Tetap
Biaya Penyusutan Alat

B Jenis Alat
i
a
y Cangkul
a
Sabit

Jumlah
(unit)

Harga Beli
persatuan
(Rp/unit)

(Rp)

Umur
Ekonomis
(Tahun)

1

50.000

20.000

5

1

15.000

5.000

5

p
enyusutan alat = Nilai Beli – Nilai sisa
Umur Ekonomis

1.

Cangkul

= 50.000 - 20.000
5 tahun

3.

Sabit

= 30.000 - 10.000 = 4.000
5 tahun

Total biaya penyusutan

Nilai Sisa

= 6.000

= Rp. 6.000 + Rp. 4.000

= Rp. 10.000
Total Biaya tetap
No.

Biaya Tetap

1.

Rp

Penyusutan alat

10.000
Jumlah

10.000

Total cost
 Sehingga didapatkan Total Cost :
Biaya Variabel

+

Rp. 0

Rp. 10.000

+

Biaya Tetap
=

Rp. 10.000

Nilai Produksi dan Pendapatan
Uaraian

Satuan (Ha/Rp)

Tebasan
a. Luas

0,035 Ha

b. Nilai

Rp. 1.000.000

Total nilai produksi

Rp. 1.000.000

Total biaya

Rp. 0

Total biaya tenaga kerja

Rp. 0

Pendapatan bersih

Rp. 1.000.000

Sehingga Pendapatan Bapak Suwarno dalam 1 kali musim tanam pada blok yang
dimilikinya sebesar Rp. 1.000.000,-

B. PEMBAHASAN
Praktikum ini dilaksanakan dengan mengambil data primer dengan responden
petani penggarap dengan menggunakan alat pengumpul data berupa daftar pertanyaan
(quesioner) yang ditanyakan kepada responden langsung di desa Datar dan Kedung
Malang, kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas. Metode yang digunakan adalah
dengan metode survei yaitu dengan cara pendekatan mempergunakan teknik tertentu
yang biasanya banyak digunakan pada penelitian-penelitian usahatani.
Dari hasil praktikum tersebut terlihat bahwa usahatani yang dilakukan oleh
masyarakat petani di Indonesia masih belum memberikan pendapatan yang maksimal.
Hal tersebut terjadi karena masyarakat petani masih belum dapat menguasai teknikteknik budidaya yang baik dan benar terlebih lagi para masyarakat petani masih
belum sadar atau belum banyak yang mempelajari tentang analisis usahatani dimana
mereka masih menggunakan perkiraan saja antara biaya yang dikeluarkan dengan
pendapatan yang dihasilkan. Padahal dengan mereka mengetahui atau mempelajari
analisis usahatani maka mereka akan dapat memanagemen usahataninya dengan lebih
baik lagi dan tentunya akan menghasilkan profit yang maksimal.
Usahatani padi sawah pada praktikum kali ini menunjukan penghasilan cukup
besar, terlihat dari satu kali musim tanam petani mendapatkan keuntungan bersih
sebesar Rp. 6.280.000.

pendapatan tersebut dipeoleh dari perhitungan Total

Penerimaan dikurangi Total Biaya dan menghasilkan keuntungan tersebut.
Penerimaan adalah hasil perkalian jumlah produk total dengan satuan harga jual,
sedangkan pengeluaran atau biaya yang dimaksudkan sebagai nilai penggunaan
sarana

produksi

dan

lain-lain

yang

dikeluarkan

pada

proses

produksi

tersebut. Produksi berkaitan dengan penerimaan dan biaya produksi, penerimaan
tersebut diterima petani karena masih harus dikurangi dengan biaya produksi yaitu
keseluruhan biaya yang dipakai dalam proses produksi tersebut. Pendapatan
usahatani, dapat dibagi menjadi dua pengertian, yaitu :
1. pendapatan kotor, yaitu seluruh pendapatan yang diperoleh petani dalam usahatani
selama satu tahun yang dapat diperhitungkan dari hasil penjualan atau pertukaran
hasil produksi yang dinilai dalam rupiah berdasarkan harga per satuan berat pada
saat pemungutan hasil.
2. pendapatan bersih, yaitu seluruh pendapatan yang diperoleh petani dalam satu
tahun dikurangi dengan biaya produksi selama proses produksi. Biaya produksi
meliputi biaya riil tenaga kerja dan biaya riil sarana produksi.
Selanjutnya pada usahatani Bengkoang dengan luas lahan yang minim, petani
dengan mengeluarkan biaya produksi dengan jumlah minim juga mendapatkan hasil
bersih sebesar Rp. 1.000.000. Kelemahan dari usahatani bengkoang ini adalah
menggunakan sistem tebasan. Dari tinjauan bahasa, tebasan adalah pembelian hasil
tanaman sebelum dipetik. Dalam praktik, tebasan dilakukan, biasanya oleh tengkulak,
dengan cara membeli hasil pertanian atau perkebunan sebelum masa penen.
Pengertian membeli dalam hal ini bisa diartikan dua hal. Pertama , tengkulak benarbenar melakukan transaksi jual-beli dengan petani pada saat biji tanaman atau buah
dari pohon sudah tampak tetapi belum layak panen. Setelah transaksi, tengkulak tidak
langsung memanen biji atau buah tersebut, melainkan menunggu hingga biji atau
buah sudah layak panen. Dan pada saat itulah tengkulak baru mengambil biji atau
buah yang sudah dibelinya. Contoh kasus: seorang tengkulak mendatangi petani pada

saat tanaman padi sudah mengeluarkan bulirnya tetapi belum berisi, atau sudah berisi
tetapi belum cukup keras untuk bisa dipanen. Setelah bernegosiasi akhirnya tengkulak
dan petani sepakat untuk mengadakan transaki jual-beli tanaman padi seluas sekian
hektar dengan harga sekian juta rupiah. Dengan atau tanpa diucapkan dalam transaksi,
kedua belah pihak telah memiliki kesepahaman bahwa padi baru diambil si tengkulak
setelah layak panen. Kesepahaman ini muncul karena tradisi atau karena harga yang
disepakati mengindikasikan bahwa si tengkulak memang bermaksud membeli gabah
dan bukan batang padi (jawa:dami). Kedua, tengkulak membeli dengan menyerahkan
sejumlah uang sebagai uang muka (jawa:panjer). Jika kelak barang jadi diambil maka
uang yang diserahkan diperhitungkan sebagai bagian dari pembayaran, dan jika tidak
jadi diambil, maka uang itu hangus. Panjer dalam hal ini berfungsi sebagai pengikat
bagi si petani, dalam pengertian bahwa si petani tidak boleh menjual hasil panennya
kepada orang lain. Hal tersebut membuat petani yang belum mengetahui jumlah
sebenarnya produksi jagungnya tersebut apabila ternyata produksinya melebihi dari
harga yang sudah disepakati dengan tengkulak maka jelas petani tersebut sangatlah
rugi besar.

BAB III
KESIMPULAN
A. KESIMPULAN
Kesimpulan praktikum yang telah dilakukan adalah pada usahatani padi sawah di Desa
Kedung Malang pendapatan mencapai Rp. 6.280.000 satu kali musim tanam. Sedangkan pada
usahatani holtikulur bengkoang dengan sistem tebasan, petani tersebut mendapatkan
keuntungan bersih sebesar Rp. 1.000.000.

B. SARAN
Masyarakat petani yang tentunya sebgai manager usahatani miliknya sendiri
seharusnya lebih dapat memahami cara menganalisi usahatani dan sebaiknya penyuluhan
pertanian tidak hanya tentang teknik pembudidayaan saja tetapi juga perlu dilkakukannya
penyuluhan tentang bagaimana petani memanagemen usahataninya atau dengan diadakan
pelatihan analisis usahatani, sehingga petani akan dapat memaksimalkan pendapatan yang
akan diperolehnya. Serta bagi mahasiswa sebelum melakukan praktikum ilmu usahatani ini
sebaiknya dibekali dengan teknik-teknik mengambil data secara primer sehingga data yang
diperoleh akan lebih valid.

DFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Analisis Usahatabu Padi Sawah Kelurahan Kemumu Kecamatan Arma Jaya
Bengkulu Utara. https://teteto.wordpress.com/2012/09/17/laporan-hasil-kegiatananalisa-usaha-tani-di-desa-tejosari/. 5 Juni 2016 (06:03).
Samosir, K.F., Limbong, G., Sinaga, R., Novasari, H., dan Putri, E.Y. 2015. Analisis
Usahatabu Padi Sawah Kelurahan Kemumu Kecamatan Arma Jaya Bengkulu
Utara.https://www.academia.edu/13411286/Laporan_Praktikum_Ilmu_Usahatani. 5
Juni 2016 (05:58).