Peranan Hubungan Masyarakat (Humas) Mpr Ri Dalam Mensosialisasikan Empat Pilar Bangsa Tahun 2014

PERANAN HUBUNGAN MASYARAKAT (HUMAS) MPR RI
DALAM MENSOSIALISASIKAN EMPAT PILAR BANGSA
TAHUN 2014

Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi
untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar
Sarjana Komunikasi Islam (S. Kom. I)

Oleh
Mochammad Kahfi
NIM 1110051000174

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1436 H/ 2014 M

ABSTRAK
Mochammad Kahfi
Peran Hubungan Masyarakat (Humas) MPR RI Dalam Mensosialisasikan
Empat Pilar Bangsa Tahun 2014
Biro Hubungan Masyarakat (Humas) MPR RI adalah Biro Humas
Pemerintahan yang ruang lingkup tugasnya sangat besar mengingat MPR RI adalah
lembaga tinggi negara, pemegang dan pelaksana kedaulatan rakyat. Biro Humas MPR
RI mempunyai peran penting dalam melakukan pemberitaan dan pengolahan data dan
informasi, baik dari luar maupun dari dalam lingkungan MPR RI. Jadi, Biro Humas
MPR sangat vital keberadaannya, tanpa Biro Humas MPR RI, akan sulit melakukan
pendekatan kepada publik internal dan eksternal.
Berdasarkan pemaparan latar belakang diatas, maka peneliti melakukan
penelitian pada rumusan masalah penelitian yaitu bagaimana peran Humas MPR RI
dalam mensosialisasikan Empat Pilar Bangsa tahun 2014? Kemudian apa saja
kegiatan Humas MPR RI dalam mensosialisasikan Empat Pilar Bangsa tahun 2014?
Adapun teori yang digunakan adalah teori peranan Humas Cutlip, Center dan
Broom. Teori ini digunakan sebagai alat pembedah dalam pembahasan peran Humas
MPR RI, apakah Humas MPR RI berhasil atas metode yang digunakan, untuk
menyebarluaskan paham Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara.
Dalam penelitian ini peneliti meneliti tentang peran Humas MPR dan
bagaimana kegiatannya dalam mensosialisasikan Empat Pilar Bangsa tahun 2014.
Jenis Penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif analisis. Sedangkan,
metode yang dipergunakan adalah kualitatif, yang mendeskripsikan bagaimana
penerapan Peran Humas MPR RI Dalam Mensosialisasikan Empat Pilar Bangsa
Tahun 2014.
Setelah melakukan penelitian dan menganalisis, peneliti menemukan beberapa
temuan, antara lain adalah sebagai penghubung antara MPR RI dengan publiknya,
membina hubungan yang positif dan saling menguntungkan dengan pihak publiknya,
menjadi pendukung dalam fungsi manajemen MPR RI dan berupaya menciptakan
citra bagi MPR RI. Dari penelitian yang kemudian dijabarkan dan dianalisis, dapat
ditarik kesimpulan bahwa Humas MPR RI mempunyai peranan yang penting dalam
mensosialisasikan Empat Pilar Bangsa.

Kata kunci: Sosialisasi, Humas, Pilar Bangsa, Kualitatif dan Deskriptif Analisis.

i

KATA PENGANTAR
‫بسم اه الرَحمن الرَحيم‬

Alhamdulillaahirabbil’aalamiin, puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang
telah melimpahkan ridho, rahmat dan karunianya kepada penulis sehingga penulis
dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Peran Hubungan Masyarakat (Humas)
MPR RI Dalam Mensosialisasikan Empat Pilar Bangsa Tahun 2014” sebagai bagian
dari tugas penulis sebagai akademisi di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi
khususnya di program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Tak lupa pula shalawat dan salam di atas Nabi pelita alam, yang tak pernah
henti dan selalu tercurahkan kepada junjungan Nabiyyul Musthofa Muhammad SAW
yang telah membawa umat manusia dari zaman kegelapan ilmu hingga zaman yang
penuh ilmu pengetahuan sampai saat ini.
Terselesaikannya skripsi ini tidak lepas dari dukungan dan bantuan dari
berbagai pihak yang selama ini telah banyak sekali membantu penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini sampai akhir. Sebagai bentuk penghargaan yang tak
terhingga kepada seluruh pihak yang telah banyak membantu penulis dalam
merampungkan skripsi ini, maka izinkanlah penulis mengungkapkan ucapan
terimakasih yang sebanyak-banyaknya kepada Ayahanda (Sofyan dan Alm. H.
Nanang Ahmad) dan kedua Ibunda (Titin Tarwiyah dan Ina Sugiyanti) tercinta, yang
telah memberikan kasih sayang dan perhatian mu yang tak terhingga, sepanjang
waktu, pengorbanan mu yang tak terkira, dan terima kasih atas pendidikan yang Ayah
ii

dan Mamah berikan dari kecil hingga dewasa, tersusunnya skripsi ini berkat motivasi
dan do’a Ayah dan Mamah. Terima kasih atas semuanya. Selanjutnya, pada
kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1.

Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta, Bapak Dr. H. Arief Subhan, MA., Bapak Suparto Ph.D, ME.d. selaku
Wakil Dekan Bidang Akademik, Bapak Drs. Jumroni, M.Si. selaku Wakil Dekan
Bidang Administrasi Umum, Bapak Dr. H. Sunandar, M.Ag. selaku Wakil Dekan
Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama.

2.

Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu
Komunikasi, Bapak Rachmat Baihaky, MA. dan Sekretaris Jurusan KPI Ibu Fita
Fathurokhmah, M.Si. yang membantu penulis dalam menjalankan proses
birokrasi yang ada, serta Bapak Fatoni yang telah banyak membantu penulis
dalam hal birokrasi untuk menempuh ujian skripsi ini.

3.

Bapak Drs. Wahidin Saputra, M.A. selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah
banyak meluangkan waktu, membimbing penulis dalam membuat skripsi yang
baik dan benar.

4.

Ibu Dra. Hj. Jundah, MA. selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah
memberikan arahan kepada penulis, Terima Kasih.

5.

Seluruh Dosen dan Staf Tata Usaha Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, atas segala pengetahuan dan pengalaman
berharga sehingga penulis bisa menyelesaikan studi di UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
iii

6.

Seluruh Staf Perpustakaan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi dan
Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah membantu
penulis untuk mencari bahan referensi penelitian ini.

7.

Bapak Drs. Yana Indrawan, M.Si. selaku Kepala Biro Hubungan Masyarakat
MPR RI, Bapak Agip Munandar, S.H., M.H. selaku Kabag Keanggotaan dan
Kepegawaian MPR RI, dan Mba Christy yang membantu dan menghubungkan
penulis ke Biro Hubungan Masyarakat MPR RI hingga bisa menyelesaikan
skripsi ini. Terima kasih.

8.

Bapak Budi Muliawan, SH, MH selaku Kasubbag Hubungan Antarlembaga
MPR RI, Bapak Agus Subagyo, S.S., M.IR. selaku Kepala Bagian Pemberitaan
dan Hubungan Antalembaga MPR RI, Bapak Hendrasto Setiawan, S.IP dan
Bapak Wasinton Saragih, juga Mas Ramos Diaz, Mba Alinda Maharani dan Mba
Mellisa Syafri yang telah meluangkan banyak waktunya dalam membantu
penulisan skripsi ini.

9.

Sayyid Al Habib Hasan bin Ja’far Assegaf sebagai orang tua dan Murabbi Ruh
yang selama ini mengasihi, menyayangi, mendo’akan dan memberikan ilmu
kepada penulis dalam senang maupun susah, mata’anallah bituli hayat. Semoga
dipanjangkan umurnya dalam keberkahan Allah SWT dan Nabi Besar
Muhammad SAW.

10. Adik-adik saya tersayang, Mochammad Rizky dan Mochammad Azka Zahirul
Sofyan yang selama ini menjadi penyemangat dan motivator saya untuk segera
menyelesaikan skripsi ini.
iv

11. Para sahabat dan teman-teman KPI F angkatan 2010, Sendy Darlis Alditya,
Muhammad Fahmi Al Manshuri, Muhammad Yusra Nuryazmi dan Rendy
Adityawarman, Aris Suyitno, Daniella Putri Islamy, Icha Khairnunnisa,
Pambayun Menur Syta, dan teman-teman lain yang tidak bisa saya sebutkan
namanya satu per satu yang telah banyak memberikan keceriaan dan kenangan
indah selama belajar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan selalu memberikan
kebahagiaan, kesenangan dan keceriaan, serta mau berbagi kesedihan dan
kesusahannya selama 4 tahun ini. Dukungan dan motivasi dari kalian sangatlah
penting untuk saya. May the odds be ever in our favor!!!
12. Teman-teman dari KKN Aksi 2013, Terima kasih untuk kekompakan dan suka
dukanya selama di Kampung Melayu Barat, Teluk Naga.
Pada akhirnya penulis hanya dapat mengucapkan terimakasih yang sebesarbesarnya, hanya ucapan inilah yang dapat penulis berikan, semoga Allah SWT dapat
membalas semua kebaikan yang telah diberikan dan menjadi amal shaleh disisi-Nya.
Dengan segala kerendahan hati.

Jakarta, 22 November 2014

Penulis

v

DAFTAR ISI

ABSTRAK ......................................................................................................

i

KATA PENGANTAR ....................................................................................

ii

DAFTAR ISI ...................................................................................................

vi

BAB I

PENDAHULUAN
A.
B.
C.
D.
E.
F.

BAB II

Latar Belakang Masalah .....................................................
Pembatasan dan Perumusan Masalah.................................
Tujuan dan Manfaat Penelitian ..........................................
Metodologi Penelitian ........................................................
Tinjauan Pustaka ................................................................
Sistematika Penulisan ........................................................

1
8
8
9
12
13

LANDASAN TEORI
A. Pengertian Peran.................................................................
B. Humas
1. Pengertian Humas ........................................................
2. Fungsi Humas ..............................................................
C. Macam-macam Humas
1. Humas Pemerintahan .............................................
2. Humas Perusahaan/ Bisnis .....................................
3. Humas Non Government Organization..................

15

D. Peran Humas ......................................................................
E. Kegiatan Humas .................................................................
F. Sosialisasi
1. Definisi Sosialisasi .......................................................
2. Jenis Sosialisasi ............................................................

24
26

vi

17
21
22
22
23

27
29

BAB III

GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN
A. Humas MPR RI ..................................................................
B. Tujuan Sosialisasi Empat Pilar Bangsa ..............................

BAB IV

TEMUAN DAN ANALISIS DATA
A. Peran Humas MPR RI ........................................................
B. Kegiatan Humas MPR RI...................................................

BAB V

32
39

43
53

PENUTUP
A. Kesimpulan ........................................................................
B. Saran ...................................................................................

60
61

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................

63

LAMPIRAN-LAMPIRAN

vii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kegiatan menyampaikan pesan bisa dengan berbagai cara, tergantung kepada
siapa kita menyampaikan pesan tersebut. Dalam hal ini, Biro Hubungan Masyarakat
(Humas) MPR RI memiliki tugas penting dalam membantu Pimpinan MPR RI dalam
mensosialisasikan nilai-nilai luhur bangsa kepada seluruh masyarakat Indonesia
secara merata agar rasa cinta tanah air terus berkobar dalam diri setiap individu.
Kegiatan Humas memiliki keterkaitan dengan ilmu komunikasi karena
keduanya merupakan satu kesatuan yang utuh dan mata rantai yang menunjang
kegiatan Humas. Karena Humas merupakan metode ilmu komunikasi sebagai salah
satu kegiatan yang mempunyai kaitan kepentingan dengan suatu organisasi1.
Kegiatan sosialisasi sangat penting karena saat ini masih banyak
penyelenggara negara dan kelompok masyarakat yang belum memahami dan
mengerti tentang nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Peneliti sendiri sebelumnya
tidak mengetahui apa itu Empat Pilar Bangsa. Ketika peneliti kerja lepas di salah satu
media online swasta, barulah peneliti tahu apa itu Empat Pilar Bangsa. Setelah itu
peneliti langsung tertark dan berniat untuk membuat penelitian tentang sosialisasi
Humas MPR tentang Empat Pilar Bangsa ini. Peneliti ingin mengetahui seperti apa
1

Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 1999), cet, ke-XII, h. 131Rosdakarya, 1999), cet, ke-XII, h. 131.

1

2

kegiatan sosialisasi Humas MPR tentang Empat Pilar Bangsa dan bagaimana peran
Humas MPR RI dalam mensosialisasikan Empat Pilar Bangsa.
Selain itu banyak masukan dan harapan dari masyarakat bahwa sosialisasi
yang telah dilakukan memang sudah sangat efektif namun belum menjangkau seluruh
masyarakat, sehingga MPR harus terus melakukan sosialisasi dengan jangkauan yang
lebih luas yang diharapkan akan banyak masyarakat yang paham terhadap nilai-nilai
luhur bangsa. Untuk mendukung tugas dan wewenang tersebut, Biro Hubungan
Masyarakat, Sekretariat Jenderal MPR RI ditugaskan untuk menyelenggarakan
kegiatan sosialisasi Empat Pilar kehidupan bernegara melalui media massa.
Humas MPR dalam memasyarakatkan UUD 1945 memunculkan banyak
gagasan. Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara ini adalah istilah yang digagas oleh
Alm. Bapak Taufiq Kiemas sewaktu masih menjabat sebagai ketua MPR RI. Wakil
Ketua MPR RI, Farhan Hamid, mengatakan bahwa Pak Taufiq memunculkan istilah
itu yang didapat dari dialog dengan teman-teman anggota dewan. Ketika suatu pagi
Beliau mengobrol, muncullah istilah “Empat Pilar Berbangsa Dan Bernegara” itu2.
Menurut analisis penulis, secara social marketing ini lebih ke pendekatan mencari
sebuah istilah yang mudah didengar, mudah dipahami dan tidak berbelit-belit.
Dibandingkan dengan istilah memasyarakatkan UUD RI 1945 yang begitu panjang.

2

Dikutip dari Rekaman Siaran Dialog Interaktif RRI tanggal 2 September 2013, Litbang
Hubungan Antar Lembaga MPR RI

3

Pemilihan nilai-nilai luhur bangsa ini sesuai dengan kewajiban Anggota MPR
sebagaimana diatur dalam Keputusan MPR Nomor 1/MPR/2010 tentang
Peraturan Tata Tertib MPR Pasal12 yaitu antara lain harus memegang teguh
dan melaksanakan Pancasila, melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 dan menaati peraturan perundang-undangan,
memasyarakatkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, serta memperkukuh dan memelihara kerukunan
nasional serta menjaga keutuhan negara Kesatuan Republik Indonesia dalam
semangat Bhinneka Tunggal Ika.3
A. Pilar Pancasila
Pancasila merupakan ideologi dan dasar negara. Dalam pembukaan UUD
1945 alinea keempat terdapat rumusan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.
Rumusan Pancasila tersebut mengikat seluruh lembaga negara tanpa terkecuali.
Pancasila harus dilaksanakan oleh rakyat Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Setiap sila Pancasila merupakan satu kesatuan yang integral, yang saling
mengandaikan dan saling mengunci.
B. Pilar Undang-Undang Dasar 1945

UUD 1945 adalah konstitusi negara. Konstitusi adalah hukum dasar yang
dijadikan pegangan dalam penyelenggaraan suatu negara. Konstitusi dapat berupa
hukum dasar yang tertulis yang biasa disebut Undang Undang Dasar, dan dapat juga
tidak tertulis4. Oleh karena itu menurut penulis, dalam negara yang menganut paham
konstitusional tidak ada satu pun penyelenggara negara dan masyarakat yang tidak
berlandaskan konstitusi.
3

Sekretariat Jenderal MPR RI, Tanya Jawab Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan
Bernegara, (Jakarta: Sekretaris Jenderal, 2013), h. 1
4
Pimpinan MPR dan Tim Kerja Sosialisasi MPR Periode 2009-2014, op. cit. h. 117

4

Dalam penyusunan undang-undang dasar, nilai-nilai dan norma dasar yang
hidup dalam masyarakat dan dalam praktek penyelenggaraan negara turut
mempengaruhi perumusan pada naskah. Dengan demikian, suasana
kebatinan yang menjadi latar belakang filosofis, sosiologis, politis, dan
historis perumusan yuridis suatu ketentuan undang-undang dasar perlu
dipahami dengan seksama, untuk dapat mengerti dengan sebaik-baiknya
ketentuan yang terdapat pada pasal-pasal undang-undang dasar.5
C. Pilar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
Dalam rapat BPUPKI yang membahas rancangan UUD, permasalahan
bentuk negara menjadi salah satu pembahasan yang diperdebatkan secara serius.
Usulan bentuk negara yang muncul pada waktu itu yaitu negara kesatuan dan negara
federal. Namun kemudian disepakati bentuk negara Indonesia adalah negara
kesatuan.

Hal tersebut sebagaimana yang tertera dalam Pasal 1 ayat (1) UndangUndang Dasar 1945. Pilihan BPUPKI ini kemudian sepakat dan tidak lagi diganti
ketika pada 18 Agustus 1945 PPKI menetapkan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai
Undang-Undang Dasar Negara Republlik Indonesia Tahun 19456.

D. Pilar Bhinneka Tunggal Ika
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika diungkapkan pertama kali oleh Empu
Tantular yang ditulis dalam Kitab Sutasoma pada abad XIV di masa Kerajaan
Majapahit. Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan bentuk negara yang
5

Jimly Asshiddiqie, Format Kelembagaan Negara dan Pergeseran Kekuasaan Dalam UUD
1945, (Yogyakarta: UII Press, 2005)
6
Pimpinan MPR dan Tim Kerja Sosialisasi MPR Periode 2009-2014, h. 157

5

dipilih sebagai komitmen bersama. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah
pilihan yang tepat untuk mewadahi kemajemukan bangsa kita yang terdiri dari ribuan
pulau maka dari itu negara kita disebut negara maritim.
Dalam kitab tersebut Empu Tantular menulis “Rwaneka dhatu winuwus
Buddha Wisma, Bhinneki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng
Jinatwakalawan Siwatatwa tunggal, Bhinneka tunggal ika tan hana dharma
mangrwa” (Bahwa agama Buddha dan Siwa (Hindu) merupakan zat yang
berbeda, tetapi nilai-nilai kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal.
Terpecah belah, tetapi satu jua, artinya tak ada dharma yang mendua, satu
itu, tak ada pengabdian yang mendua).7
Etika Kehidupan Berbangsa merupakan rumusan yang bersumber dari
ajaran agama, khususnya yang bersifat universal, dan nilai-nilai luhur budaya bangsa
yang tercermin dalam Pancasila sebagai acuan dasar dalam berpikir, bersikap dan
bertingkah laku dalam kehidupan berbangsa8. Penulis melihat bahwa krisis
kepercayaan yang dialami pemerintah Indonesia oleh masyarakat harus dihilangkan.
Rasa kebangsaan dan cinta tanah air tidak bertentangan dengan prinsipprinsip agama Islam. Sejalan dengan ayat-ayat Al Qur'an dan Hadits lainnya. Banyak
ayat-ayat Al Qur'an yang menganjurkan kita untuk mencintai tanah air atau negeri
kita. Allah SWT telah berfirman didalam Al-Qur’an:

7

Sigit Suhandi, Bhinneka Tunggal Ika Maha Karya Persembahan Mpu Tantular, (Jakarta:
PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 2009), h. 195
8
Sekretariat Jenderal MPR RI, Ketetapan Majelis Permusyawaratan Republik Indonesia
Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa, (Jakarta: Sekretariat Jenderal MPR RI,
2013), h. 195.

6

“Dan (ingatlah), tatkala Ibrahim berkata (berdoa): "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri
ini (Mekkah), negeri yang aman, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan (yaitu)
terhadap orang-orang yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari
kemudian”. Allah berfirman: "Dan barangsiapa yang ingkar maka Aku menyenangnyenangkannya sementara, kemudian Aku memasukkannya ke dalam adzab neraka
dan itulah seburuk-buruk tempat kembali". (QS. Al-Baqarah: 126)9

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini
(Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada
menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35)10
Dari ayat diatas, bisa kita lihat bahwa Nabiyullah Ibrahim AS berdo’a untuk
tanah airnya agar selalu menjadi negeri yang aman dan sentosa, rakyatnya selalu
dilimpahkan rezeki dan mereka semua beriman kepada Allah SWT dan hari akhir. Ini
menunjukkan Nabiyullah Ibrahim AS adalah seseorang yang begitu mendalam
cintanya akan tanah airnya. Para Nabiyullah senantiasa mencintai negeri yang
didiaminya. Sebab jika negerinya rusak, penduduknya juga yang akan menderita.

Dinas Pembinaan Mental TNI AD, Al Qur’an Terjemah Indonesia, (Jakarta: PT. Sari
Agung, 1997), cet- XI, h. 35.
10
Dinas Pembinaan Mental TNI AD, Al Qur’an Terjemah Indonesia, h. 483
9

7

Allah SWT begitu memuliakan tanah air dan negeri sehingga menjadikannya
sebagai nama satu surah, yaitu surah Al Balad (Negeri). Walaupun tafsir dari ayat
tersebut adalah Mekkah, namun yang dimaksud bukan sekedar Mekkah saja,
melainkan seluruh negeri.

“Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah)” (QS. Al-Balad: 1)11

“Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan
berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara
negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada
malam hari dan siang hari dengan dengan aman.” (QS. Saba’: 18)12

Dari latar belakang masalah dan contoh yang ada, kiranya penulis merasa
butuh terpanggil untuk mengkaji permasalahan ini, dan juga sebagai diskursus dan
wacana intelektual demi membuka jendela pengetahuan, koleksi pemikiran, dan
kecerdasan kepribadian yang kemudian penulis tuangkan dalam sebuah karya ilmiah

11
12

Dinas Pembinaan Mental TNI AD, Al Qur’an Terjemah Indonesia, h. 1243
Dinas Pembinaan Mental TNI AD, Al Qur’an Terjemah Indonesia, h. 846

8

dengan judul “Peranan Hubungan Masyarakat (Humas) MPR RI Dalam
Mensosialisasikan Empat Pilar Bangsa Tahun 2014.”
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Agar pembahasan ini terfokus pada satu permasalahan maka penulis
membatasi kajian ini pada peranan Humas MPR RI dalam mensosialisasikan Empat
Pilar Bangsa. Adapun perumusan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana peran Humas MPR RI dalam mensosialisasikan Empat Pilar
Bangsa?
2. Apa kegiatan Humas MPR RI dalam mensosialisasikan Empat Pilar Bangsa?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a) Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana Humas MPR RI
membuat formula serta langkah-langkah yang tepat untuk kemudian lebih bisa
mensosialisasikan Empat Pilar Bangsa untuk menanamkan rasa nasionalis berbangsa
dan bernegara tetap berkembang sebagaimana yang diharapkan.
b) Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui peran Humas MPR RI dalam mensosialisasikan
Empat Pilar Bangsa dalam membangun rasa nasionalis berbangsa dan
bernegara.

9

2. Untuk mengetahui aktifitas dan kegiatan Humas MPR RI dalam upaya
mensosialisasikan Empat Pilar Bangsa.
2. Manfaat Penelitian
a) Manfaat Teoritis
Kegiatan penelitian ini merupakan stimulus dan kesempatan bagi penulis
untuk mengeksplorasi lebih jauh materi-materi yang didapatkan di bangku
perkuliahan yang kemudian diaktualisasikan dalam sebuah tulisan ilmiah yang
mudah-mudahan bisa menambah pengetahuan serta wawasan untuk mempelajari
langsung langkah dan peran Humas dalam membangun rasa nasionalis berbangsa dan
bernegara. Serta untuk menambah wawasan mengenai konsep-konsep yang dikemas
tentang peran dan langkah dalam membentuk dan membangun citra baik
pemerintahan, serta sebagai referensi kepustakaan di bidang ilmu komunikasi massa,
khususnya media cetak.
b) Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan menjadi masukan dan wacana ideal khususnya
untuk penulis dan umumnya untuk masyarakat luas yang menggeluti di bidang
komunikasi yang kemudian direalisasikan dalam bentuk tindakan yang konkret dari
konsep dan wacana yang disajikan.
D. Metodologi Penelitian
1. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan deskriptif analisis. Sedangkan
metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Yang merupakan

10

prosedur sebagai penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata
tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati13.
Menurut Jalaludin Rahmat, metode penelitian deskriptif analisis bertujuan
mengumpulkan informasi aktual secara rinci yang melukiskan gejala yang ada,
mengidentifikasi masalah atau

memberikan kondisi dan menentukan apa yang

dilakukan orang lain dalam menghadapi masalah yang sama dan belajar dari
pengalaman mereka untuk menetapkan rencana dan keputusan pada waktu yang akan
datang.14
2. Subjek dan Objek Penelitian
Adapun yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah Humas MPR RI.
Kemudian yang menjadi objek penelitian ini meliputi Peranan Humas MPR RI dalam
mensosialisasikan Empat Pilar Bangsa.
3. Teknik Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data ini penulis menggunakan beberapa teknik sebagai
berikut:
a. Observasi
Dalam hal ini peneliti mendatangi sekaligus magang di MPR RI Bagian
Pemberitaan dan Hubungan Antarlembaga, Biro Hubungan Masyarakat, untuk

13

Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,

2004), h. 3
14

Jalaludin Rahmat, Metode Penelitian Komunikasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2006), cet, ke-XIII, h. 25

11

memperoleh data-data mengenai peran Humas MPR RI dalam mensosialisasikan
Empat Pilar Bangsa yang dilakukan selama sebulan pada 1 - 31 September 2014.
b. Dokumentasi
Peneliti mengambil dan mengumpulkan data berdasarkan tulisan-tulisan
berbentuk catatan dari hasil wawancara, buku-buku dan dokumen-dokumen internal
Biro Hubungan Masyarakat dan Antar Lembaga MPR RI yang diberikan secara
langsung. Kemudian peneliti menggunakan analisa deksriptif. Dengan tujuan setelah
data-data terkumpul, kemudian penulis menjabarkan dengan memberikan analisaanalisa untuk kemudian diambil kesimpulan akhir.
c. Wawancara
Wawancara adalah proses tanya jawab dalam penelitian yang langsung
secara lisan, di mana dua atau lebih bertatap muka mendengarkan secara langsung
informasi-inforrnasi atau keterangan.15 Peneliti meawawancarai Bapak Drs. Yana
Indrawan, M. Si selaku Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Bapak Agus
Subagyo, S.S., M.I.R. selaku Kepala Bagian Pemberitaan dan Hubungan
Antarlembaga, Biro Hubungan Masyarakat. Peneliti mewawancarai beberapa
responden tersebut karena menurut peneliti mereka dapat memberikan informasi
ataupun data yang dibutuhkan oleh peneliti.

15

Chalid Narbuko dan Abu Ahmad, Metodologi Penelitian, (Jakata: PT Bumi Aksara, 1997),
cet, ke-I, h. 83

12

4. Waktu dan Tempat Penelitian
Tempat penelitian dilakukan di kantor MPR RI Bagian Pemberitaan dan
Hubungan Antarlembaga, Biro Hubungan Masyarakat selama satu bulan, yaitu 1-31
September 2014 penelitian ini selesai dilaksanakan. Tempat penelitian adalah di Jl.
Jend. Gatot Subroto No. 6 Jakarta – 10270.
5. Teknik Analisis Data
Analisis data kualitatif menurut Bogdan dan Biklen yang dikutip dari buku
Metodologi Penelitian Kualitatif karangan Moleong adalah upaya yang dilakukan
dengan jalan bekerja dengan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat
dikelola, mensistensikannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang
penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada
orang lain.16
E. Tinjauan Pustaka
Sebelum melakukan penelitian ini, penulis melakukan observasi terhadap
hasil penelitian lain yang mempunyai kemiripan dengan penelitian yang akan penulis
lakukan. Hal ini penulis temukan pada hasil penelitian dari saudara Anwar (Jurusan
Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN
Syarif Hidayatullah 2009 M) yang berjudul Peran Public Relations Radar Banten
Dalam Membangun Citra Perusahaan. Dengan tujuan untuk meyakinkan bahwa
penulisan skripsi ini bukan merupakan hasil plagiat dari skripsi sebelumnya.
16

h. 186

Lexy J. Moleong, Metodelogi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009)

13

Perbedaan antara penelitian saya dan saudara Anwar adalah di peran Humas, yaitu
antara Humas pemerintah dan Humas swasta.
F. Sistematika Penulisan
Sistematika dalam penulisan ini akan diuraikan sebagai berikut:
BAB I:

Bab ini merupakan bab pendahuluan. Dalam bab ini akan memaparkan
mengenai latar belakang masalah, batasan dan rumusan masalah,
tujuan dan manfaat penelitian, penjelasan mengenai metode penelitian,
lokasi penelitian, subjek dan objek penelitian, teknik pengumpulan
data yang berupa observasi, dokumentasi, wawancara, waktu dan
tempat penelitian dan teknik analisis data. Kemudian tertera juga
tinjauan pustaka dan sistematika penulisan.

BAB II:

Dalam bab ini akan diuraikan landasan-landasan teori yang akan
digunakan dalam penelitian ini, pertama konseptualisasi mengenai
pengertian

peran.

Kedua,

konseptualisasi

mengenai

Humas;

(pengertian Humas, fungsi Humas dan Humas pemerintahan). Ketiga
konseptualisasi mengenai peran Humas. Keempat, konseptualisasi dari
aktivitas

Humas. Kelima konseptualisasi

mengenai

sosialisasi

(pengertian sosialisasi dan jenis sosialisasi).
BAB III:

Dalam bab ini penulis akan menjabarkan gambaran umum Humas
MPR RI, tim kerja sosialisasi MPR periode tahun 2009-2014 berkaitan

14

dengan judul penulis, kemudian penulis juga menuliskan tujuan
sosialisasi Empat Pilar Bangsa MPR RI.
BAB IV:

Dalam bab ini penulis menguraikan hasil observasi yang telah
diperoleh, mulai dari data-data, kemudian hasil wawancara. Kemudian
analisis data dari sumber-sumber yang telah penulis peroleh dalam
lokasi penelitian. Lalu penulis mengaplikasikan teori yang ada dengan
hasil yang didapatkan selama penelitian.

BAB V:

Dalam bab ini merupakan bagian penutup dari skripsi ini, disajikan
kesimpulan-kesimpulan serta saran-saran yang relevan dengan hasil
penelitian yang telah dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Peranan
Peranan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata “peran”
artinya adalah beberapa tingkah laku yang diharapkan dimiliki oleh orang yang
berkedudukan dimasyarakat dan harus dilaksanakan1. Sedangkan “peranan” adalah
tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau pun sesuatu yang terutama dalam
terjadinya sesuatu hal atau peristiwa.
Kemudian menurut Gross, Mason dan Mc. Eachern, sebagaimana yang
dikutip oleh David Berry, mereka mendefinisikan peran sebagai seperangkat harapanharapan yang dikenakan pada individu yang menempati kedudukan sosial tertentu.2
Harapan tersebut masih menurut Berry, merupakan imbangan dari norma-norma
sosial, oleh karena itu dapat dikatakan peranan-peranan itu ditentukan oleh normanorma didalam masyarakat. Artinya seseorang diwajibkan untuk menentukan hal-hal
yang diharapkan oleh masyarakat di dalam pekerjaan dan dalam pekerjaan-pekerjaan
lainnya.

1

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai
Pustaka. 1998), h. 322.
2

David Berry, Pokok-Pokok Pikiran Dalam Sosiologi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995)
Ed. 1., cet, ke-III, h. 99.

15

16

Di dalam peranan terdapat dua macam harapan, yaitu harapan-harapan dari
masyarakat terhadap pemegang peran dan harapan-harapan yang dimiliki oleh
pemegang peran terhadap masyarakat atau terhadap orang-orang yang berhubungan
dengannya dalam menjalankan kewajiban-kewajibannya3. Dari sini penulis melihat
bahwa masyarakat memang berharap agar tujuan dari sosialisasi Empat Pilar Bangsa
ini sampai kepada mereka, sehingga mereka paham akan nilai-nilai luhur bangsa
untuk dipraktekan. Selanjutnya harapan dari pemegang peran yaitu disini Humas
MPR yang berharap yaitu ketika masyarakat telah mendapatkan sosialisasi, mereka
langsung mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, atau mengajarkan lagi
kepada yang lain sehingga paham ini bisa sampai ke segala penjuru.
Peran memiliki tugas utama sebagai fungsi dari suatu organisasi tertentu.
Peran menjadi bermakna ketika dikaitkan dengan orang lain dan komunitas sosial
atau politik. Peran adalah kombinasi antara posisi dan pengaruh. Harapan-harapan
tersebut masih menurut David Berry, merupakan imbangan dari norma-norma sosial,
oleh karena itu dapat dikatakan peranan-peranan itu ditentukan oleh norma-norma di
dalam masyarakat, artinya seseorang diwajibkan untuk melakukan hal-hal yang
diharapkan oleh masyarakat di dalam pekerjaannya dan dalam pekerjaan-pekerjaan
lainnya.
Setiap orang pasti mempunyai peran, baik dalam keluarga, masyarakat,
organisasi maupun institusi. Baik secara interaksi, tingkah laku dan lain sebagainya.

3

David Berry, Pokok-Pokok Pikiran Dalam Sosiologi, h. 101

17

Humas MPR RI mengambil peranan sebagai penyambung antara Pimpinan dan
anggota MPR dengan publiknya.
Peran tidak dapat dipisahkan dengan status (kedudukan), walaupun keduanya
berbeda, akan tetapi saling berhubungan erat antara satu dengan yang lainnya, karena
yang satu tergantung pada yang lain dan sebaliknya. Peran diibaratkan seperti dua sisi
mata uang yang berbeda, akan tetapi kelekatannya sangat terasa sekali. Seseorang
dikatakan berperan atau memiliki peranan karena dia (orang tersebut) mempunyai
status dalam masyarakat, walaupun kedudukan itu berbeda antara satu orang dengan
orang lain, akan tetapi masing-masing dirinya berperan sesuai dengan statusnya.
Dari penjelasan tersebut maka dapat penulis simpulkan bahwa yang dimaksud
dengan peran merupakan seperangkat tindakan, perbuatan, atau pekerjaan yang
diharapkan dilakukan oleh seseorang karena kedudukannya di dalam status tertentu
dalam suatu masyarakat atau lingkungan di mana dia berada untuk mencapai suatu
tujuan tertentu. Dengan kata lain, sebuah peran berkaitan dengan fungsi, tugas, dan
status seseorang dalam suatu masyarakat.
B. Humas
1. Pengertian Humas
Salah satu alat dalam komunikasi yang digunakan oleh instansi pemerintah
untuk membantu menciptakan dan saling memelihara alur komunikasi serta
kerjasama suatu perusahaan dengan publiknya agar program-program yang telah
direncanakan dapat tercapai adalah dengan menggunakan prakstisi Humas.

18

Humas mempunyai dua pengertian, yaitu Humas sebagai “method of
communication” dan Humas sebagai “state of being” 4. Menurut analisa penulis, yang
di maksud dalam pengertian method of communication yaitu rangkaian metode
komunikasi atau sistem kegiatan, dimana metode kegiatan berkomunikasi Humas
harus mempunyai ciri khas, itulah yang dimaksud dengan metode komunikasi.
Kemudian penulis juga menilai bahwa Humas dalam pengertian state of being adalah
pelaksanaan kegiatan berkomunikasi tersebut sehingga terstruktur, massif dan
melembaga.

Dalam pengertian sebagai metode komunikasi menurut Rosady Ruslan,
penulis melihat ada makna bahwa setiap pemimpin dari suatu organisasi baik besar
atau kecil, dapat melaksanakan Humas5. Kegiatan komunikasi yang khas akan
mempunyai ciri-ciri yaitu komunikasi yang dilaksanakan berlangsung dua arah secara
timbal balik, artinya ada respon atau efek dari komunikan ketika komunikator
menjalankan tugasnya.
Kemudian ciri selanjutnya, kegiatan yang dilakukan terdiri dari penyebaran
informasi, pelaksanaan persuasi dan pengkajian opini publik, artinya Humas
memberikan sesuatu yang bermanfaat, bernilai dan bersifat mengajak kepada
komunikan. Dari situ kemudian masyarakat bisa memberikan pendapat mengenai
informasi-informasi yang dikemukakan Humas.

4

Onong Uchjana Effendy, Human Relations dan Public Relations. (Bandung: CV Mandar
Maju, 1993), cet, ke-viii, h. 94
5
Onong Uchjana Effendy, Human Relations dan Public Relations, h. 95.

19

Ciri selanjutnya adalah tujuan yang dicapai adalah tujuan organisasi itu
sendiri, artinya tujuan yang diinginkan Humas dalam bersosialisasi adalah tujuan dari
organisasi tempat Humas bernanung, bukan tujuan pribadi Humas.
Ciri berikutnya, sasaran yang dituju adalah publik di dalam dan publik di luar
organisasi, artinya Humas bukan hanya berkonsentrasi penuh bekerja untuk ekstern,
melainkan intern juga harus diperhatikan. Ini sangat penting dibina, karena apabila
hubungan dalam organisasi saja tidak bisa dijalin, bagaimana Humas bisa
bersosialisasi ke masyarakat.
Kemudian ciri terakhir metode komunikasi Humas yang khas menurut Rosady
Ruslan adalah efek yang diharapkan adalah terjadinya hubungan yang harmonis
antara organisasi dengan publik. Dimana ini juga merupakan salah satu tugas penting
Humas, yaitu menciptakan citra baik di masyarakat.
Humas menurut para ahli seperti contohnya Howard Bonham, Vice Chairman,
American National Red Cross adalah adalah suatu seni untuk menciptakan pengertian
publik yang lebih baik, yang dapat memperdalam kepercayaan publik terhadap
seseorang atau organisasi6. Seni seperti yang kita tahu adalah sebuah keindahan.
Keindahan antara hubungan yang terjalin baik antara suatu organisasi dengan
masyarakat.
Kemudian Humas menurut Frank Jefkins adalah sesuatu yang merangkum
keseluruhan komunikasi yang terencana, baik itu kedalam maupun keluar, antara
6

Rosady Ruslan, Kiat dan Strategi Kampanye Public Relations, (Jakarta, Raja Grafindo
Persada, 1997), h 25

20

suatu organisasi dengan semua khalayaknya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan
spesifik yang berlandaskan pada saling pengertian7. Penulis menganalisa bahwa
maksud Frank Jefkins disini adalah seorang Humas sudah pasti memiliki persiapan
yang matang dan tersusun rapi sebelum dia menjalankan tugasnya untuk
bersosialisasi.
Dr. Rex Harlow dalam bukunya berjudul A Model for Public Relations
Education for Professional Practices yang diterbitkan oleh International Public
Relations Application (IPRA) 1978, menyatakan bahwa definisi Humas adalah:
Fungsi manajemen yang khas dan mendukung pembinaan, pemeliharaan jalur
bersama antara organisasi dengan publiknya, menyangkut aktivitas
komunikasi, pengertian dan penerimaan kerja sama; melibatkan manajemen
dalam menghadapi persoalan/permasalahan, membantu manajemen untuk
mampu menanggapi opini public; mendukung manajemen dalam mengikuti
dan memanfaatkan perubahan secara efektif; bertindak sebagai system
peringatan dini dalam mengantisipasi kecenderungan penggunaan penelitian
serta teknik komunikasi yang sehat dan etis sebagaimana sarana utama8.
Pengertian Humas diatas dianggap yang paling sempurna diantara semua
pengertian Humas yang ada. Dengan demikian, Humas memang menunjang fungsi
manajemen dalam suatu kegiatan organisasi dan lembaga yang bersifat umum untuk
mengerahkan orang-orang yang terlibat di dalamnya, untuk menuju sasaran dan
tujuan yang ingin dicapai. Dan untuk menunjang kegiatan manajemen itu harus
dilakukan dengan komunikasi.

7
8

Jefkins, Frank, Public Relations, (Jakarta: Erlangga, 2003), h. 8-9.
Onong Uchjana Effendy, Human Relations dan Public Relations, h. 16

21

2. Fungsi Humas
Fungsi utama Humas adalah menumbuhkan dan mengembangkan hubungan
baik antarlembaga (organisasi) dengan publiknya, internal maupun eksternal dalam
rangka menanamkan pengertian, menumbuhkan motivasi dan partisipasi publik
dalam upaya menciptakan iklim pendapat (opini publik) yang menguntungkan
lembaga organisasi9. Seperti yang telah penulis teliti sebelumnya, bahwa Humas
harus bisa membina hubungan yang ada di dalam maupun di luar organisasi demi
kepentingan dan kompaknya organisasi itu sendiri.
Fungsi atau peranan Humas adalah harapan publik terhadap apa yang
seharusnya dilakukan oleh Humas sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang
Humas. Jadi, Humas dikatakan berfungsi apabila dia mampu melakukan tugas dan
kewajibannya dengan baik, berguna atau tidak dalam menunjang tujuan perusahaan
dan menjamin kepentingan publik10. Artinya Humas harus bisa menyeimbangkan
antara hubungan ke dalam dan ke luar. Sehingga organisasi tersebut sehat di dalam
dan baik di luar.
Secara garis besar fungsi dari Humas adalah memelihara komunikasi yang
harmonis antara perusahaan dengan publiknya, melayani kepentingan publik dengan
baik dan memelihara perilaku dan moralitas perusahaan dengan baik.

9

Firsan Nova, Crisis Public Relations: Bagaimana PR Menangani Krisis Perusahaan,
(Jakarta: Grasindo, 2009), h. 38
10
Rachmat Kriyantono, Public Relations Writing, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group,
2008), h. 21

22

C. Macam-macam Humas
1. Humas Pemerintahan (Government Public Relations)
Keberadaan unit kehumasan di sebuah lembaga/instansi pemerintah
merupakan

keharusan

secara

fungsional

dan

operasional

dalam

upaya

menyebarluaskan atau untuk mempublikasikan tentang suatu kegiatan atau aktivitas
instansi bersangkutan yang ditujukan baik untuk hubungan masyarakat ke dalam,
maupun kepada masyarakat luar pada umumnya11.
Humas Pemerintahan berfungsi sebagai pengelola informasi dan opini publik
yang muncul dari masyarakat karena rakyat dalam pemerintahan ikut serta
mengawasi jalannya pemerintahan yang apabila tidak sesuai dengan aspirasi rakyat,
rakyat akan cepat mengkritiknya. Humas melakukan penyebaran informasi mengenai
kebijakan pemerintah yang disebarluaskan, sedangkan opini publik dikaji dan diteliti
seefektif mungkin untuk keperluan dan pengambilan keputusan dan penentuan
kebijakan selanjutnya.12
2. Humas Perusahaan/ Bisnis
Humas Perusahaan dengan manajemennya pada umumnya berusaha
memperoleh peningkatan pada segi profit atau keuntungan finansial. Selain itu,
Humas Perusahaan harus pintar dalam menyusun strategi untuk meningkatkan citra
dan reputasi perusahaan, terutama dewasa ini yang semakin banyak persaingan.
11

Onong Uchjana Effendy, Human Relations dan Public Relations. h. 341
Onong Uchjana Effendy, Hubungan Masyarakat: Suatu Studi Komunikasi, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2006), h. 37.
12

23

Humas perusahaan biasanya didefinisikan sebagai pengelolaan reputasi perusahaan
secara keseluruhan atau disebut juga citra perusahaan13.
3. Humas Non Government Organization (Third Sector)
Non Government Organization (NGO) atau yang lebih kita kenal dengan
LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh
perorangan ataupun sekelompok orang yang secara sukarela yang memberikan
pelayanan kepada masyarakat umum tanpa bertujuan untuk memperoleh keuntungan
dari kegiatannya.14
Tugas Humas dalam NGO antara lain mengembangkan kepercayaan
masyarakat terhadap organisasi. Humas sektor ini menyebarluaskan mengenai profil
organisasi, visi misi dan tujuan organisasi agar publik tertarik dan kemudian
memberikan kepercayaan masyarakat terhadap organisasi tersebut yang kemudian
dapat meningkatkan citra pada organisasi tersebut. Menyediakan media komunikasi
yang tepat antara publik dengan organisasi. Media komunikasi merupakan sarana
dalam berkomunikasi. Humas dalam NGO berperan untuk memberikan sumbangan
terhadap suksesnya organisasi dengan melaksanakan hubungan dengan pihak lain
seperti melakukan kerja sama demi terlaksananya tujuan dari berdirinya NGO
tersebut dan melakukan publikasi dan advertising.15

13

Anne Gregory, Public Relations dalam Praktik, (Jakarta: Erlangga, 2004), h. 58.
http://soloraya.net/peran-humas-dalam-dunia-ngo.html
15
Sam Black & Melvin L. Sharpe, Ilmu Hubungan Masyarakat Praktis, (Jakarta: PT.
Intermasa, 1988), h. 187-188.
14

24

D. Peran Humas
Secara garis besarnya Humas mempunyai peran ganda: yaitu fungsi keluar
memberikan informasi atau pesan-pesan sesuai dengan tujuan dan kebijaksanaan
instansi/lembaga kepada masyarakat sebagai khalayak sasaran, sedangkan ke dalam
wajib menyerap reaksi, aspirasi atau opini khalayak tersebut diserasikan demi
kepentingan instansinya atau tujuan bersama.
Peranan umum Humas dalam manajemen suatu organisasi itu terlihat dengan
adanya beberapa aktivitas pokok kehumasan, yaitu mengevaluasi sikap atau opini
publik, artinya Humas harus bisa mengkoreksi apa yang kurang dalam pelaksanaan
sosialisasi dan membaca situasi dalam setiap menjalankan tugas di masyarakat.
Kemudian mengidentifikasi kebijakan dan prosedur organisasi/ perusahaan
dengan kepentingan publiknya. Humas dalam terjun ke masyarakat harus bisa
membedakan mana yang benar-benar kebijakan pemerintah, dan mana kepentingan
masyarakat yang sedang dihadapi. Karena seringkali kepentingan masyarakat jauh
lebih banyak dari kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.
Selanjutnya merencanakan dan melaksanakan penggiatan aktivitas Humas.
Sebelum melaksanakan tugasnya, Humas harus memiliki rencana matang. Konten apa
saja yang akan diberikan kepada masyarakat nanti. Jika hal ini sudah dilakukan, maka
kemungkinan besar pesan yang ingin disampaikan akan tepat sasaran.Pada umumnya
manajemen Humas berperan untuk melakukan beberapa tahapan-tahapan diantaranya

25

Perencanaan

(planning),

Pengorganisasian

(organizing),

Pengkomunikasian

(communicating), Pengawasan (controlling) dan Penilaian (evaluating).
Penulis mengerti bahwa Peran Humas menurut Cutlip dan Center dan dalam
buku Rosady Ruslan (2008 : 26) pada intinya adalah sebagai Communicator,
penghubung antara organisasi atau lembaga yang diwakili dengan publiknya. Dari
uraian tersebut dijelaskan Humas berperan sebagai perwakilan perusahaan dalam
melakukan komunikasi dengan publik internal dan eksternal. 16

Kemudian membina Relationship, yaitu berupaya membina hubungan yang
positif dan saling menguntungkan dengan pihak publiknya. Dalam hal ini Humas
berperan dalam melakukan pendekatan hubungan baik dengan publik.
Lalu Peranan back up management, yakni sebagai pendukung dalam fungsi
manajemen organisasi atau perusahaan. Humas memiliki peranan sebagai pendukung
organisasi yang selalu sigap dalam menjalankan tugas dari atasan/ perusahaan.
Dan selanjutnya adalah membentuk corporate image, artinya peranan Humas
berupaya menciptakan citra bagi organisasi atau lembaganya. Dalam hal ini Humas
berperan menjaga dan menciptakan citra yang positif terhadap perusahaan dimata
publik.

16

Rosady Ruslan, Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi: Konsepsi dan
Aplikasi. (Jakarta: RajaGrafindo Persada. 2008), h. 20.

26

E. Kegiatan Humas
Kegiatan Humas dimaksudkan untuk menciptakan suatu pengertian, sikap,
dan tanggapan yang lebih baik dari khalayak terhadap produk, tindakan, atau suatu
organisasi secara keseluruhan. Proses penciptaannya itulah yang disebut sebagai
proses transfer17. Kegiatan Humas menurut peneliti adalah aplikasi nyata dari
persiapan dan kebijakan sebuah organisasi dalam mewujudkan keinginannya yang
secara persuasif dilakukan, karena akan ada efek setelah dilakukannya kegiatan ini.
No. Posisi Negatif

Proses
Transfer

Posisi Positif

1.

Permusuhan (Hostility)

Simpati (Sympathy)

2.

Prasangka (Prejudice)

Penerimaan (Acceptance)

3.

Ketidakpedulian (Apathy)

Berminat (Interest)

4.

Ketidaktahuan (Ignorance)

Pemahaman (Knowledge)

Situasi Negatif

Situasi Positif
Tabel 2.1 Proses Transfer dalam Humas18

Kemudian, berdasarkan ciri khas kegiatan Humas tersebut, menurut pakar
Humas Internasional, Cutlip & Centre, and Canfield (1982) 19 fungsi Humas adalah
menunjang aktivitas utama manajemen dalam mencapai tujuan bersama (fungsi
melekat pada manajemen lembaga/ organisasi), membina hubungan yang harmonis

17

Linggar Anggoro, M, Teori dan Profesi KeHumasan Serta Aplikasinya di Indonesia,
(Jakarta: Bumi Aksara, 2005), h. 12
18
Rosady Ruslan, Kiat dan Strategi Kampanye Public Relations, , h 20
19
Bertrand R. Canfield, Public Relations, Principles and Problems, dikutip oleh Roland E.
Wolseley & Laurence R. Campbell, Third Edition, Exploring Journalism, Prentice-Hall, Inc.,
Englewood Cliffs, N.J., 1959, hal. 468.

27

antara badan/organisasi dengan publiknya yang merupakan khalayak sasaran,
mengidentifikasi segala sesuatu yang berkaitan dengan opini, persepsi dan tanggapan
masyarakat terhadap badan/organisasi yang diwakilinya, atau sebaliknya, melayani
keinginan publiknya dan memberikan sumbang saran kepada pimpinan manajemen
demi tujuan dan manfaat bersama dan menciptakan komunikasi dua arah timbal balik,
dan mengatur arus informasi, publikasi serta pesan dari badan/organisasi ke
publiknya/sebaliknya, demi tercapainya citra positif bagi kedua belah pihak.
F. Sosialisasi
1. Definisi Sosialisasi
Menurut Kamus Besar Bahasa

Indonesia, sosialisasi adalah upaya

memasyarakatkan sesuatu sehingga dikenal, dipahami, dihayati oleh masyarakat20.
Penulis beranggapan bahwa sosialisasi diartikan sebagai sebuah proses seumur hidup
bagaimana seorang individu mempelajari kebiasaan-kebiasaan yang meliputi caracara hidup, nilai-nilai, dan norma-norma sosial yang terdapat dalam masyarakat agar
dapat diterima oleh masyarakatnya.
Kemudian Peter Berger (1978) mendefinisikan sosialisasi sebagai “a process
by which a child learns to be a participant member of society” atau proses melalui di
mana seorang anak belajar menjadi seorang anggota dalam masyarakat (Berger,

20

Tim Penyusun Kamus Pusat, Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ke-3 Cet1. (Jakarta:
Balai Pustaka,2001), h.1085.

28

1978:116)21. Maksudnya adalah seseorang yang berusaha untuk mengetahui sesuatu
yang belum diketahuinya. Dimana disitu dia berada di tengah orang-orang yang akan
berinteraksi padanya dengan memberikan sejumlah informasi.
Ada juga yang berpendapat bahwa sosialisasi adalah usaha untuk mengubah
milik perseorangan menjadi milik publik (milik negara), proses belajar seorang
anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat
dilingkungannya.

Pendapat

lain

mengemukakan

sosialisasi

adalah

upaya

memasyarakatkan sesuatu sehingga menjadi dikenal, dipahami, dihayati oleh
masyarakat (pemasyarakatan).
Sosialisasi merupakan proses belajar mengajar mengenai pola-pola tindakan
interaksi dalam masyarakat sesuai dengan peran dan status sosial yang dijalankan
masing-masing. Dengan proses itu, individu akan mengetahui dan menjalankan hak
dan kewajibannya berdasarkan peran status masing-masing dan kebudayaan suatu
masyarakat22. Dengan begitu, jelaslah bahwa sosialisasi adalah proses berbaur,
mencari tahu, member tahu dan interaksi antara satu orang dengan orang lainnya.
Sementara itu, beberapa ahli mengemukakan pendapatnya tentang pengertian
sosialisasi. Diantaranya Charlotte Buhler, yang mengatakan sosialisasi adalah proses
yang membantu individu-individu belajar dan menyesuaikan diri, bagaimana cara
hidup dan berpikir kelompoknya agar ia dapat berperan dan berfungsi dengan

21

Kamanto Sunarto, Pengantar Sosiologi, (Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi
Universitas Indoensia, 2004) h. 21.
22
http://www.zonasiswa.com/2014/07/pengertian-sosialisasi.html

29

kelompoknya. Artinya adalah individu tersebut akan beradaptasi untuk memiliki
posisi atau kedudukan agar mendapat pengakuan dari orang-orang disekitar.
Menurut Peter Berger dan Paul B. Horton, sosialisasi adalah suatu proses
dimana seseorang menghayati serta memahami norma-norma dalam masyarakat
tempat tinggalnya sehingga akan membentuk kepribadiannya. Artinya adalah orang
tersebut mendapatkan stimulus agar mempelajari kebiasaan-kebiasaan apa yang ada
di lingkungan tempat tinggalnya yang kemudian akan membuatnya memiliki jati diri.
Kemudian Soerjono Soekanto berpendapat, sosialisasi adalah suatu proses
mengkomunikasikan kebudayaan kepada warga masyarakat yang baru. Artinya disini
adalah interaksi aktif dari seorang pribumi kepada orang pendatang, agar dapat
menyesuaikan

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

98 2962 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 756 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

34 653 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 424 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 579 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 973 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 888 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 540 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 797 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 959 23