alih fungsi lahan pertanian

Alih Fungsi Lahan Pertanian Ke Industri
Sama dengan Menjajah Negeri Sendiri

Sebuah pabrik mencemari udara dan air di sekitar lahan pertanian
Mediatataruang.com-Dengan julukan Negara agraris yang dijunjungnya, tentu saja
Indonesia memiliki banyak sekali potensi pertanian atau perkebunan yang bisa dijadikan
sumber perekonomian Negara. Akan tetapi, seiring berkembangnya sistem perekonomian
serta meningkatnya jumlah penduduk, maka kebutuhan lahan untuk kepentingan dalam
bidang selain pertanian semakin meningkat pula.
Berdasarkan data statistik tahun 2014, luas lahan pertanian di Indonesia mencapai angka 41.5
juta Hektar. Dari jumlah tersebut, dapat dibagi menjadi tiga kategori yakni hortikultura 567
ribu hektar, tanaman pangan 19 juta hektar, dan terakhir tanaman perkebunan sebesar 22 juta
hektar. Bahkan Kepala Badan Karantina Kementerian Pertanian Banun Harpini mengatakan,
luas lahan pertanian baku di Indonesia saat ini hanya tinggal 11 juta hektare saja. Jumlah
tersebut, terus menyusut setiap tahunnya.
pengaruh alih fungsi lahan pertanian menjadi penggunaan non pertanian terhadap sosial
ekonomi masyarakat meliputi pendapatan, penyerapan tenaga kerja, kepadatan penduduk dan
mata pencaharian.
Peningkatan pembangunan di berbagai sektor tidak terlepas dari kebutuhan akan lahan
sementara luas lahan yang tersedia jumlahnya terbatas. Oleh karena itu terjadi pengalihan
lahan-lahan pertanian ke penggunaan lahan non pertanian.

Saat ini penggunaan lahan untuk industri dan perumahan mengalami kenaikan. Pengalihan
lahan pertanian tersebut tentu berpengaruh terhadap aspek sosial ekonomi masyarakat
terutama pendapatan, kesempatan kerja, kepadatan penduduk dan mata pencaharian.
Alih fungsi lahan pertanian berpengaruh terhadap pendapatan masyarakat sejalan dengan
munculnya berbagai aktifitas ekonomi yang membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.
Berikut beberapa dampak alih fungsi lahan pertanian :
1. Menurunnya produksi pangan nasional
Akibat lahan pertanian yang semakin sedikit, maka hasil produksi juga akan terganggu.
Dalam skala besar, stabilitas pangan nasional juga akan sulit tercapai. Mengingat jumlah
penduduk yang semakin meningkat tiap tahunnya sehingga kebutuhan pangan juga
bertambah, namun lahan pertanian justru semakin berkurang.
2. Mengancam keseimbangan ekosistem
Dengan berbagai keanekaragaman populasi di dalamnya, sawah atau lahan-lahan pertanian
lainnya merupakan ekosistem alami bagi beberapa binatang. Sehingga jika lahan tersebut
mengalami perubahan fungsi, binatang-binatang tersebut akan kehilangan tempat tinggal dan
bisa mengganggu ke permukiman warga. Selain itu, adanya lahan pertanian juga membuat air
hujan termanfaatkan dengan baik sehingga mengurangi resiko penyebab banjir saat musim
penghujan.
3. Sarana prasarana pertanian menjadi tidak terpakai
Untuk membantu peningkatan produk pertanian, pemerintah telah menganggarkan biaya
untuk membangun sarana dan prasarana pertanian. Dalam sistem pengairan misalnya, akan
banyak kita jumpai proyek-proyek berbagai jenis jenis irigasi dari pemerintah, mulai dari
membangun bendungan, membangun drainase, serta infrastruktur lain yang ditujukan untuk
pertanian. Sehingga jika lahan pertanian tersebut beralih fungsi, maka sarana dan prasarana
tersebut menjadi tidak terpakai lagi.
4. Banyak buruh tani kehilangan pekerjaan
Buruh tani adalah orang-orang yang tidak mempunyai lahan pertanian melainkan
menawarkan tenaga mereka untuk mengolah lahan orang lain yang butuh tenaga. Sehingga
jika lahan pertanian beralih fungsi dan menjadi semakin sedikit, maka buruh-buruh tani
tersebut terancam akan kehilangan mata pencaharian mereka.
5. Harga pangan semakin mahal
Ketika produksi hasil pertanian semakin menurun, tentu saja bahan-bahan pangan di pasaran
akan semakin sulit dijumpai. Hal ini tentu saja akan dimanfaatkan sebaik mungkin bagi para
produsen maupun pedagang untuk memperoleh keuntungan besar. Maka tidak heran jika
kemudian harga-harga pangan tersebut menjadi mahal
6. Tingginya angka urbanisasi

Sebagian besar kawasan pertanian terletak di daerah pedesaan. Sehingga ketika terjadi alih
fungsi lahan pertanian yang mengakibatkan lapangan pekerjaan bagi sebagian orang tertutup,
maka yang terjadi selanjutnya adalah angka urbanisasi meningkat. Orang-orang dari desa
akan berbondong-bondong pergi ke kota dengan harapan mendapat pekerjaan yang lebih
layak. Padahal bisa jadi setelah sampai di kota keadaan mereka tidak berubah karena
persaingan semakin ketat.

Faktor Pendorong terjadinya Alih Lahan Pertanian
Sejak dahulu, jumlah lahan pertanian Indonesia sendiri cenderung menurun dari tahun ke
tahun akibat adanya alih fungsi lahan menjadi non-pertanian. Alih fungsi atau konversi lahan
didefinisikan sebagai berubahnya fungsi awal lahan menjadi fungsi lainnya baik dari
sebagian maupun keseluruhan lahan akibat adanya faktor-faktor tertentu.
Berikut ialah faktor-faktor pendorong terjadinya alih fungsi lahan pertanian :


Pertumbuhan penduduk yang pesat

Dengan jumlah daratan yang tetap, namun jumlah penduduk yang terus meningkat, tentu
dapat menyebabkan berbagai dampak bagi lingkungan tempat tinggal mereka. Salah satunya
yakni adanya alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian guna memenuhi
berbagai kebutuhan hidup yang juga meningkat.


Kenaikan kebutuhan masyarakat untuk permukiman

Adanya pertumbuhan demografi tentu saja juga menuntut kebutuhan-kebutuhan dasar
termasuk tempat tinggal. Ketika lahan di daerah permukiman sudah tidak lagi mencukupi
kebutuhan yang diminta, maka konversi lahan pertanian menjadi kawasan rumah menjadi
pilihan sebagai salah satu solusi permasalahan tersebut.



Tingginya biaya penyelenggaraan pertanian

Untuk mengolah sawah atau lahan pertanian dari lapisan tanah agar mendapatkan hasil yang
optimal tentu saja membutuhkan modal yang tidak sedikit, belum lagi jika barang-barang
pertanian tersebut mengalami kenaikan seperti pada saat naiknya harga bahan bakar minyak,
maka harganya bisa melambung menjadi dua kali lipat. Kenaikan harga pupuk, benih
pertanian, biaya irigasi, hingga harga sewa tenaga petani membuat para pemilik sawah
mempertimbangkan untuk menjual sawah mereka atau mengalihkan fungsi lahan menjadi
bangunan atau tempat wirausaha.


Menurunnya harga jual produk-produk pertanian

Selain membutuhkan modal yang lumayan, para petani juga harus siap menerima resiko lain,
yakni hasil panen yang tidak baik atau bahkan gagal panen. Dimana harga jual produk
pertaniannya menjadi sangat rendah atau malah tidak laku di pasaran. Jika hal ini terjadi
maka petani akan menderita kerugian yang tidak sedikit pula. Tantangan lain ialah adanya
penurunan harga hasil pertaniannya karena faktor-faktor tertentu.


Kurangnya minat generasi muda untuk mengelola lahan pertanian

Anggapan masyarakat, khususnya para generasi muda mengenai sektor pertanian masih
belum sepopuler bidang-bidang usaha yang lain. Para pemuda misalnya, ketika ditanya
mengenai cita-cita mereka, maka hampir bisa dipastikan akan menyebutkan berbagai profesi
lain selain menjadi petani. Meski tidak sedikit juga masyarakat yang telah menjadi petani
sukses, namun profesi petani saat ini memang masih sering dianggap sebagai profesi yang
berada pada kelas menengah ke bawah, sehingga cenderung dihindari oleh para generasi
muda. Dan sebagai akibatnya, para orang tua yang mempunyai sawah atau lahan pertanian
akan menjual lahannya kepada orang lain. Sedangkan bagi mereka yang mewariskan kepada
anaknya yang tidak berminat mengelola sawah, maka besar kemungkinan lahan tersebut akan
mengalami alih fungsi.


Pergantian ke sektor yang dianggap lebih menjanjikan

Seiring berkembangnya pengetahuan, teknologi, serta bertambahnya wawasan para pemilik
lahan pertanian, maka tidak sedikit dari mereka yang sengaja mengalihkan fungsi lahan
pertanian ke sektor usaha lain. Dengan harapan perekonomian dapat semakin meningkat,
mereka mulai mendirikan tempat-tempat industri, peternakan, serta tempat usaha lain di atas
lahan pertaniannya.


Lemahnya regulasi pengendalian alih fungsi lahan

Yakni ketidaktegasan peraturan pemerintah maupun pejabat mengenai pengendalian fungsi
lahan. Ketidaktegasan tersebut diantaranya meliputi kekuatan hukum, ketegasan penegak
hukum, dan sanksi pelanggaran. Peran serta para pengguna lahan, baik adat dan masyarakat
masih bersifat ad hoc (tidak permanen/insidental) dan tetap diperlukan penguatan dalam
penerapan aturan, hal ini dikarenakan kurang rincinya kebijakan-kebijakan pengaman yang
telah ada. (Uwo-)

Sawah beralih jadi perumahan atau
industri mengancam ketahanan pangan
Sri Lestari Wartawan BBC Indonesia


29 Agustus 2017



Bagikan artikel ini dengan Facebook



Bagikan artikel ini dengan Twitter



Bagikan artikel ini dengan Messenger



Bagikan artikel ini dengan Email



Kirim

Alih fungsi lahan pertanian terus terjadi menjadi kawasan perkebunan, industri dan
perumahan. Meski telah memiliki UU yang mengatur larangan alih fungsi lahan pertanian
sejak beberapa tahun lalu, saat ini kurang dari separuh kabupaten/kota menindaklanjutinya.
Aba Kumbara, petani, tengah berjalan di pematang sawah di Kampung caringin, Desa
Sukamakmur, Cikarang Utara. Dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya merawat tanaman
yang mulai ditumbuhi bulir-bulir padi.
Bersama dengan puluhan petani, Aba mengelola lahan seluas lebih dari 400 hektar dan masih
mempertahankannya meski sudah banyak lahan pertanian yang beralih menjadi perumahan.
Aba mengatakan masih mendapatkan keuntungan dari pertanian walaupun sedikit, menjadi
alasan utama dalam mempertahankan sawahnya. Dia bisa memahami para petani yang
melepas lahan miliknya karena kebutuhan biaya untuk perawatan dan penghasilan yang tak
seimbang.

"Biasanya pertama kondisi tanah kurang bagus, juga udah ga seimbang antara pengolahan
tanah sampai dengan hasil panen dengan biaya udah ga sama, dengan pupuk dan obat-obatan
makin mahal , petani itu banyak menjual karena kebutuhan hidup, taraf kehidupannya
semakin menurun," kata Aba.
Sejak awal 1990an, pembangunan kawasan perumahan dan industri yang meningkat di
kawasan Kabupaten Bekasi- terutama Cikarang - yang menyebabkan lahan pertanian semakin
menyusut.

'Lahan abadi'
Data Dinas Kabupaten Bekasi lahan pertanian menyusut sekitar 1.500 hektar per tahun, pada
2014 masih ada 52.000 hektar, sementara pada 2017 ini jumlahnya berkurang menjadi
48.000. Lahan-lahan pertanian ini beralih menjadi kawasan perumahan ataupun industri.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi Abdullah Karim mengatakan tengah berupaya
untuk menghentikan laju peralihan lahan pertanian menjadi perumahan ataupun industri.
Karim menyebutkan tengah menyusun rancangan peraturan daerah atau raperda Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan atau LP2B, yang ditargetkan selesai pada akhir tahun ini.
"Dalam raperda ini kita batasi lahan abadi yang tidak boleh dialih fungsi dari lahan pertanian
itu kita batasi 33 hektar, jadi itu yang dipertahankan melalui regulasi Sudah ditentukan di 13
kecamatan paling banyak itu Desa Perbayuran, Sukawangi, Sukatani," jelas Karim.
Karim mengatakan para petani yang lahanya masuk dalam kawasan lahan pertanian pangan
berkelanjutan akan diberikan kompensasi.
"Rencananya akan ada kompensasi untuk petani pemilik sawah, berupa bantuan lebih banyak,
lantas dari segi pajak PBB mungkin ada pengurangan ada insentif untuk para petani," kata
dia.
Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi memastikan raperda sudah melewati proses kajian
akademik, pemetaan dan sedang dalam tahap pembahasan.
Petani di Cikarang, Aba menyambut baik rencana penetapan ini, tetapi penentuan lahan harus
dengan kajian yang akurat dan juga petani harus diberi kompensasi.
"Ada lahan hijau dan kuning, kalau bisa dipertahankan untuk lahan hijau karena layak untuk
daerah pertanian untuk swasembada pangan, kalau diubah dalam perda untuk menjadi daerah
kuning bisa untuk permukiman," jelas Aba.
Dia pun berharap kompensasi berupa benih, pupuk bersubsidi ditingkatkan untuk para petani
yang sawahnya masuk dalam daftar lahan pertanian yang tak boleh dialihfungsikan.
"Selain itu aliran irigasi juga harus diperbaiki agar hasil panen padinya lebih bagus lagi,"
ungkap Aba.

Perlindungan sulit diterapkan
Tak hanya kabupaten Bekasi tetapi di daerah yang menjadi lumbung pangan seperti
Karawang dan Subang. Data Kementerian Pertanian menunjukkan luas lahan sawah 44%
berada di Pulau Jawa memiliki luas lahan sawah 3,4 juta hektar, dari total persawahan di
Indonesia mencapai 7,74 hektar.
Meski perlindungan lahan pertanian telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 41 tahun
2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dan sejumlah aturan
turunannya telah diterbitkan pada 2012 lalu, tetapi dalam pelaksanaannya masih menemui
hambatan.
"Baru sekitar 215 dari 600an kabupaten/kota yang menetapkan, itu pun kita harus ketat
memperhatikannya karena persepsi daerah berbeda-beda tentang lahan pertanian yang
berkelanjutan, ini yang harus dikawal, "jelas Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana
Pertanian Pending Dadih Permana.
Dadih juga mengatakan seringkali yang menghambat pelaksanaan lahan pertanian
berkelanjutan ini karena adanya perbedaan persepsi antar pejabat di daerah. "Karena dinas
pertanian itu perangkatnya bupati seringkali dinas pertanian tidak maksimal memberikan
masukan, walaupun ini merupakan amanat undang-undang," jelas Dadih.

Dosen Institut Pertanian Bogor IPB Dwi Andreas Santosa memperkirakan lahan pertanian di
Pulau Jawa yang paling banyak beralih fungsi, dan pemeirntah daerah tidak terlalu

memperhatikan UU tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dalam
menyusun tata ruangnya.
"Kenyataan di daerah-daerah kemudian mereka dalam proses penyusunan RT RW dan proses
lain terkait dengan tanah tidak terlalu memperhatikan UU itu kalau lahan sawah dibiarkan
jadi lahan sawah dan pertanian otomatis pemasukan PAD (Pendapatan Asli Daerah) kan tidak
begitu besar," jelas Dwi.
Dengan mengalihkan lahan pertanian menjadi permukiman dan industri akan lebih
mendatangkan keuntungan bagi pemasukan daerah, terutama dari sektor pajak.

Cetak lahan pertanian baru
Dwi menyebutkan kajian terhadap data BPS pada 2003-2013 menunjukkan 508.000 hektar
lahan pangan telah berpindah kepemilikan.
"Di daerah dari yang ada 500 ribu katakanlah produktivitas sekiar 3 juta ton gabah kering
panen per musim, atau 1,5 juta ton beras," jelas Dwi.
Untuk mengimbangi laju alih fungsi lahan pertanian dan mendukung swasembada pangan,
pemerintah juga melakukan pencetakkan sawah baru.
"132 ribu yang tercetak memang telah dimanfaatkan oleh masyarakat, tapi namanya cetak
sawah baru tentu kondisinya tidak sama dengan sawah yang lama," jelas Dadih.
Pemerintah menargetkan pencetakan sawah baru mencapai 144.613 hektar

Alih Fungsi Lahan Persawahan ke
Perumahan Terus Terjadi
Januari
09
/ 2017
05:50 WIB
Oleh : Newswire
Share this post :





Alih fungsi lahan koservasi dan persawahan ke lahan perumahan dan kawasan industri
sampai sekarang masih terus terjadi di seluruh Indonesia, khususnya di kota-kota besar. Bisnis
Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah secara terbuka mengakui bahwa konversi atau alih
fungsi lahan koservasi dan persawahan ke lahan perumahan dan kawasan industri sampai
sekarang masih terus terjadi di seluruh Indonesia, khususnya di kota-kota besar.
Demikian penegasan Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution dalam pernyataan
pers di Jakarta, Minggu (8/1/2017), ketika melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten
Sidoarjo (6/1) bersama Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki
Hadimuljono dan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara.
"Kota-kota besar itu antara lain Tangerang, Bekasi dan Sidoarjo," katanya.
Darmin berharap semua kepada daerah se-Indonesia mematuhi peraturan perencanaan tata
ruang wilayah yang telah ditetapkan.
"Kita tidak jauh dari swasembada pangan. Untuk itu, menjamin ketersediaan air menjadi
sangat penting. Jaga hulu dan hilir, kendalikan alih fungsi lahan irigasi (sawah
berkelanjutan)," tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sidoarjo Saiful Ilah menyampaikan kondisi infrastruktur
sumber daya air di Sidorajo yang membutuhkan dukungan rehabilitasi jaringan irigasi.

Hal itu karena Kabupaten Sidoarjo ditunjuk pemerintah sebagai lumbung pangan nasional.
Selain itu, Bupati Sidoarjo juga meminta bantuan anggaran untuk penanganan banjir di
Kabupaten Sidoarjo.
Dia juga menyampaikan terima kasihnya karena Menteri PUPR dan rombongan sudah
melihat langsung kondisi Bendung Pajaran yang merupakan akses dari dua jalur yakni Kanal
Mangetan dan Kanal Porong.
Menurut Bupati Sidoarjo ada beberapa program yang harus dilakukan ke depan, antara lain
rehabilitasi irigasi Delta Brantas secara menyeluruh dan pembangunan "long storage" di
Sungai Kalimati yang tembus ke Kanal Porong dan ada sudetan menuju Kalimati.
Ia menjelaskan untuk rehabilitasi irigasi Delta Brantas sudah diusulkan dan sekarang masuk
dalam daftar pembangunan jangka panjang.
Menanggapi hal tersebut, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan bahwa tahun ini
dan tahun berikutnya, pemerintah sudah mencanangkan untuk program rehabilitasi irigasi
Delta Brantas.
"Akan kami benahi. Untuk 22 ribu hektar lahan irigasi, 18 ribu merupakan tanggung jawab
kami di pemerintah pusat. Tahun ini, pemerintah memang memprogramkan rehabilitasi," kata
Basuki.
Sumber : ANTARA

Alih Fungsi Lahan Pertanian Terbesar di
Jawa Barat
Posted on 05/10/2016 by LAHANINDUSTRI

Selain dianugerahi pemandangan alam yang indah, Jawa Barat juga diberkahi tanah yang
subur. Banyak hasil pertanian yang berasal dari sana. Beragam jenis pangan, seperti beras,
jagung, sayur-sayuran dan buah-buahan banyak dihasilkan diberbagai wilayah di Jawa Barat.
Namun sayang, berkah dari kesuburan tanahnya kini mulai terkikis oleh arus industri dan
pariwisata yang secara massive merambah diberbagai wilayah di Jawa Barat.

Lumbung Padi Terusik Industri
Tentu hal ini amat disayangkan. Karena ditengah gencarnya pemerintah menggerakkan
program ketahanan pangan, justru banyak lahan pertanian yang telah beralih fungsi. Dari
lahan produktif subur menjadi lahan industri dan perumahan.
Hal ini menjadi perhatian khusus dari Anggota Komisi IV DPR RI, Ono Surono, yang
menyatakan bahwa setiap tahunnya, alih fungsi lahan pertanian produktif di Jawa barat
mencapai 100 ribu hektar. Alih fungsi lahan pertanian produktif di Jawa Barat adalah yang

terbesar di Indonesia. “Setiap tahunnya alih fungsi lahan pertanian produktif bisa mencapai
100 ribu hektar,” kata Ono, di Jakarta.
Meskipun tidak menyebutkan data pasti seberapa berapa besar alih fungsi lahan pertanian
produktif yang terjadi di Jawa Barat, Ono berasumsi ini terjadi karena angka pembangunan di
Jawa Barat merupakan tertinggi di Indonesia, dan tentu lahan yang digunakan untuk
membangun, baik industri, maupun perumahan tersebut mengambil dari lahan pertanian
produktif, karena sebelumnya hampir seluruh lahan yang ada di Jawa Barat dikelola dan
ditanami oleh masyarakat sebagai lahan pertanian, dan sebagian besar profesi masyarakat di
Jawa Barat adalah petani. Sehingga, sampai Jawa Barat dikenal sebagai daerah lumbung
pangan nasional.
“Karena angka pembangunan di Jabar tertinggi dibandingkan daerah daerah lainnya di
Indonesia,” ungkap Ono.
Ono menyadari hal ini, karena hingga kini belum ada undang-undang yang mengatur lahan
pertanian berkelanjutan. Keberadaan undang-undang tersebut sebenarnya bisa menghindari
alih fungsi lahan pertanian produktif. Karenanya dirinya mendesak pemerintah daerah,
termasuk pemerintah di tingkat kabupaten, segera membuat peraturan daerah atau perda
terkait lahan pertanian berkelanjutan tersebut. “Agar pasokan pangan bisa tetap terjaga,” kata
Ono.
Senada dengan Ono, Kepala Badan Karantina Kementerian Pertanian, Banun Harpini
mengakui hal yang sama. Banun mengakui, untuk perluasan lahan pertanian di Jabar ini
cukup sulit, karena lahannya terbatas.
Hal ini terkait permintaan Menteri Pertanian yang menginginkan penambahan luas areal
tanaman padi, di Jawa Barat. Penambahan areal itu antara lain seluas 200 hektare di
Tasikmalaya da 75 hektare di Sumedang.
Meski begitu, Banun optimisi, pihaknya akan terus berupaya meningkatkan produktivitas
gabah untuk menjaga ketahanan pangan. Ia menyampaikan, hingga Agustus 2016, rata rata
produktivitas di Jawa Barat sebanyak 6,3 ton gabah per hektar. “Di Kabupaten Cirebon ini
malah lebih tinggi, bisa mencapai 6,6 ton gabah per hektar,” pungkas Banun.

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

alih fungsi lahan pertanian