OPTIMALISASI PARTISIPASI ORANG TUA DALAM PROGRAM PARENTING : Studi Deskriptif di PKBM Mitra Insani, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

(1)

OPTIMALISASI PARTISIPASI ORANG TUA DALAM PROGRAM

PARENTING

(Studi Deskriptif di PKBM Mitra Insani Kecamatan Lembang Kabupaten

Bandung Barat)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Luar Sekolah Konsentrasi Pendidikan Anak Usia Dini

Oleh : Novita Kostianissa

0900221

JURUSAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BANDUNG 2013


(2)

OPTIMALISASI PARTISIPASI

ORANG TUA DALAM PROGRAM

PARENTING

Oleh

Novita Kostianissa

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Ilmu Pendidikan

© Novita Kostianissa 2013 Universitas Pendidikan Indonesia

Agustus 2013

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhya atau sebagian, dengan dicetak ulang, difoto kopi, atau cara lainnya tanpa ijin dari penulis.


(3)

NOVITA KOSTIANISSA 0900221

OPTIMALISASI PARTISIPASI ORANG TUA DALAM PROGRAM PARENTING

(Studi Deskriptif di PKBM Mitra Insani Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat)

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH PEMBIMBING:

Pembimbing I

Prof. Dr. H. Ishak Abdulhak, M. Pd. NIP. 19490227 197703 1 002

Pembimbing II

Dr. Sardin, M.Si NIP. 19710817 199802 1 002

Mengetahui

Ketua Jurusan Pendidikan Luar Sekolah

Dr. Jajat S. Ardiwinata, M.Pd. NIP. 19590826 198603 1 003


(4)

OPTIMALISASI PARTISIPASI ORANG TUA DALAM PROGRAM

PARENTING

(Studi Deskriptif di PKBM Mitra Insani, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat)

ABSTRAK

Penelitian ini membahas mengenai optimalisasi partisipasi orang tua dalam program parenting. Penelitian ini dilatarbelakangi karena adanya temuan empiris yang menyatakan bahwa program parenting yang telah berlangsung saat ini belum berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Hal tersebut dibuktikan dengan masih minimnya partisipasi orang tua yang dapat menghadiri program parenting yang diselenggarakan di lembaga pendidikan. Alasannya karena kesibukan pekerjaan, urusan pribadi yang tidak dapat ditinggalkan, dan sebagainya. Maka dari itu, penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis bagaimana upaya salah satu lembaga pendidikan non formal yaitu PKBM Mitra Insani dalam mencapai optimalisasi partisipasi orang tua dalam program parenting.

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengumpulkan data dan informasi tentang; (1) strategi yang digunakan pihak penyelenggara program untuk mengoptimalisasikan partisipasi orang tua dalam program parenting, (2) bentuk program yang digunakan pihak penyelenggara program untuk mengoptimalisasikan partisipasi orang tua dalam program parenting, dan (3) hasil yang diperoleh dengan adanya optimalisasi partisipasi orang tua dalam program parenting.

Teori atau konsep yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya teori parenting dan teori partisipasi. Penelitian ini dilakukan di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Mitra Insani, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, melalui tiga tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan hasil penelitian.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian yang dijadikan sumber data berjumlah enam orang, terdiri dari Ketua PKBM Mitra Insani, tutor PAUD Kober dan mahasiswa praktikan PLP selaku pihak penyelenggara parenting, serta tiga orangtua peserta didik PAUD Kober. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan wawancara. Teknik analisis data yang ditempuh adalah reduksi data, penyajian data/display data, dan penarikan kesimpulan serta verifikasi.

Temuan hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) strategi yang digunakan pihak penyelenggara program untuk mengoptimalisasikan partisipasi orang tua dalam program parenting adalah strategi pembelajaran yang berpusat pada peserta parenting dengan pendekatan andragogi, (2) bentuk program yang digunakan pihak penyelenggara program untuk mengoptimalisasikan partisipasi orang tua adalah bentuk program yang sifatnya praktis dan mengutamakan aplikasi, (3) Hasil atau keluaran dengan adanya optimalisasi partisipasi orang tua dalam program parenting diperoleh baik dari pihak lembaga penyelenggara maupun pihak orang tua. Untuk hasil atau keluaran yang diperoleh pihak orang tua dapat dilihat dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kesimpulannya adalah dalam menyelenggarakan suatu program parenting yang dapat mengoptimalisasikan partisipasi orang tua harus memperhatikan strategi dan metode yang digunakan, dan hasil yang diperoleh baik pihak lembaga maupun orang tua.


(5)

OPTIMIZATION OF PARENT PARTICIPATION IN PARENTING PROGRAM (Study Descriptif at PKBM Mitra Insani, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung

Barat)

ABSTRACT

This study discusses the optimization of parental participation in parenting programs. This research is motivated because of the empirical findings stating that the parenting program that has been going on has not been run in accordance with the expected goals. This is evidenced by the lack of participation of parents to attend a parenting program held in educational institutions. The reason is because of busy work, personal matters that can not be abandoned, and so on. Therefore, this study was to describe and analyze how the efforts of one of non formal education is PKBM Mitra Insani in achieving optimization of parent participation in parenting programs.

The purpose of this study is to collect data and information on: (1) the strategies that used by program organizers to optimize the parent participation in parenting programs, (2) the form of the program that used by program organizers to optimize the parent participation in parenting programs, and (3) the results obtained with the optimization of parental participation in parenting programs.

Theories or concepts used in this study include parenting theory and the theory of participation. The research was conducted in the PKBM Mitra Insani, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, through three stages, namely planning, execution, and reporting of research results.. This study uses descriptive qualitative approach. Research subjects were used as data sources amounted six persons, consists chief of PKBM Mitra Insani, Kober’s tutor and student of PLP as the organizers parenting,and then three parents as well as early childhood learners Kober. Data collection techniques used were observation and interview. Data analysis technique implemented is data reduction, data display or display of data, and drawing conclusions and verification.

The findings of the research show that: (1) the strategies that used by program organizers to optimize the parent participation in parenting programs at PKBM Mitra Insani is centered learning strategies participants with andragogy approach, (2) the form of the program that used by program organizers to achieve the optimization of parental participation is a form of programs that are practical and give priority to applications, (3) The results or outputs with the optimization of parental participation in parenting programs obtained from both the providers and the parents. For obtain the results or output that the parents can be seen from the aspect of cognitive, affective, and psychomotor. The conclusion is in organize parenting program which can optimize parent participation must pay attention to strategies and method which used,and the results obtained for institute side and parents.


(6)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

UCAPAN TERIMA KASIH ... ii

ABSTRAK ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Penelitian ... 1

B. Identifikasi dan Perumusan Masalah ... 9

C. Tujuan Penelitian ... 10

D. Manfaat/Signifikansi Penelitian ... 10

E. Struktur Organisasi Skripsi ... 11

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 14

A. Parenting ... 14

1. Pengertian Parenting ... 14

2. Unsur yang Terlibat dalam Program Parenting ... 17

3. Manfaat Parenting ... 19

4. Tujuan Parenting ... 20

5. Strategi dan Metode Penyelenggaraan Program Parenting ... 21

6. Bentuk Program Parenting ... 22

7. Manajemen Program Parenting ... 24

B. Partisipasi ... 27

1. Pengertian Partisipasi ... 27

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Partisipasi ... 30

3. Faktor-faktor Penghambat Timbulnya Partisipasi ... 32

4. Tangga Partisipasi ... 32


(7)

6. Tahap-tahap Partisipasi ... 36

7. Tingkat Kesukarelaan Partisipasi ... 38

8. Indikator Hasil Partisipasi Orang Tua dalam Program Parenting ... 38

BAB III METODE PENELITIAN ... 40

A. Lokasi Penelitian dan Subjek Penelitian ... 40

B. Desain Penelitian ... 41

C. Metode Penelitian ... 43

D. Definisi Operasional ... 47

E. Instrumen Penelitian ... 48

F. Proses Pengembangan Instrumen ... 49

G. Teknik Pengumpulan Data ... 49

1. Wawancara ... 50

2. Observasi ... 51

3. Studi Dokumentasi ... 51

4. Studi Kepustakaan ... 51

5. Triangulasi Data ... 52

H. Analisis Data ... 53

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 56

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 56

B. Profil PKBM Mitra Insani ... 56

1. Visi dan Misi ... 57

2. Struktur Kepengurusan... 57

3. Daftar Tutor/Instruktur PKBM Mitra Insani ... 58

4. Sarana dan Prasarana ... 59

5. Daftar Peserta Didik PAUD Kelompok Bermain PKBM Mitra Insani ... 59

C. Deskripsi Hasil Penelitian ... 61

1. Identitas Informan ... 61


(8)

D. Pembahasan Hasil Penelitian ... 82

1. Strategi yang digunakan Pihak Penyelenggara Program untuk Mengoptimalisasikan Partisipasi Orang Tua dalam Program Parenting ... 83

2. Bentuk Program yang digunakan Pihak Penyelenggara Program untuk Mengoptimalisasikan Partisipasi Orang Tua dalam Program Parenting ... 89

3. Hasil atau keluaran yang diperoleh dengan Adanya Optimalisasi Partisipasi Orang Tua dalam Program Parenting ... 90

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 93

A. Kesimpulan ... 93

B. Saran ... 95

DAFTAR PUSTAKA ... 97


(9)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Tangga Partisipasi ... 32

Tabel 2.2 Tingkatan Partisipasi ... 33

Tabel 4.1 Daftar Tutor/Instruktur PKBM Mitra Insani ... 58

Tabel 4.2 Daftar Peserta Didik PAUD Kober Mitra Insani Tahun 2012/2013 ... 60


(10)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan itu berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Selain itu pendidikan juga bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Untuk mewujudkan fungsi dan tujuan tersebut, ada tiga jalur pendidikan pada jenjang dan jenis pendidikan teretentu, yang harus ditempuh atau dilalui masyarakat selaku peserta didik, yaitu pendidikan formal, nonformal, dan informal. Ketiga jalur pendidikan tersebut tidak dapat berdiri sendiri, ketiganya harus saling melengkapi satu sama lain, agar tujuan pendidikan yang diharapkan dapat tercapai sepenuhnya.

Pemerintah menciptakan sistem pengelolaan pendidikan melalui berbagai lembaga pendidikan formal yang disebut juga sekolah, namun sekolah hanyalah sebagai pembantu kelanjutan pendidikan dalam keluarga, sebab pendidikan yang pertama dan utama diperoleh anak dari keluarga.

Dengan kata lain, tidak hanya pendidikan formal dan nonformal saja yang harus diperhatikan, namun pendidikan keluarga atau informal harus diperhatikan juga karena sama pentingnya dalam mewujudkan tujuan pendidikan yang optimal. Keluarga adalah unit sosial terkecil di masyarakat yang terbentuk atas dasar komitmen untuk mewujudkan fungsi keluarga khususnya fungsi sosial dan fungsi pendidikan.

Keluarga telah menjadi suatu lembaga pendidikan yang legal dan diakui oleh sistem perundang-undangan di Indonesia. Keluarga, khususnya orang tua memiliki


(11)

kewajiban, sebagaimana yang tercantum pada UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 (Pasal 7), yaitu bahwasannya setiap orang tua dari anak usia wajib belajar, berkewajiban memberikan pendidikan dasar kepada anaknya.

Memberikan pendidikan dasar kepada anak merupakan tanggung jawab utama bagi orang tua. Tidak benar jika ada yang mengatakan bahwa dalam mengasuh, membimbing atau mendidik anak adalah sesuatu yang alamiah, tidak perlu ada ilmu atau teori-teorinya secara mutlak. Seharusnya ketika seseorang menjadi orang tua, ia sudah siap dengan berbagai ilmu mengenai cara mendidik dan mengasuh anak, sehinggga nantinya anak tersebut dapat menjadi generasi penerus bangsa yang berkualitas dan berkarakter.

Pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral dan kehidupan. Peran keluarga dalam hal pendidikan bagi anak tetap penting dan tidak dapat tergantikan, sekalipun anak sudah dimasukkan ke dalam lembaga pendidikan formal maupun nonformal.

Dalam menghadapi kehidupan masyarakat yang makin global dan kompleks, peranan keluarga sangat diperlukan, karena apabila sejak awal kehidupan keluarga sudah dibina dengan baik dan harmonis, maka kehidupan yang terjadi dalam masyarakat akan menjadi baik pula. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sudjana (2001: 55) bahwa upaya pembinaan keluarga yang baik itu tergantung pada kearifan para anggota keluarga yang dewasa, terutama para orang tua, dan upaya yang paling efektif adalah melalui pendidikan.

Peranan orang tua bagi pendidikan anak adalah memberikan dasar pendidikan, sikap, dan keterampilan dasar, seperti pendidikan agama, budi pekerti, sopan santun, estetika, kasih sayang, rasa aman, dasar-dasar untuk mematuhi peraturan, dan menanamkan kebiasaan-kebiasaan.

Dapat dikatakan pula bahwa, keluarga merupakan unit pratama dan utama dalam mendidik dan membimbing anak, khususnya anak usia dini (0-6 tahun), karena pada usia ini merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak. Usia dini merupakan usia di mana anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat, maka dari itu usia dini seringkali disebut sebagai usia emas (golden age).


(12)

Melihat begitu pentingnya dan utamanya peran keluarga bagi pendidikan anak, perlu ada suatu wadah untuk peningkatan dan pemberdayaan keluarga yaitu melalui program pendidikan keorangtuaan, atau yang biasa dikenal dengan program parenting. Program tersebut ditujukan bagi keluarga, khususnya bagi para orang tua yang anaknya mendapatkan pelayanan di lembaga pendidikan. Program parenting dapat diselenggarakan di berbagai lembaga pendidikan formal maupun non formal, seperti lembaga PAUD, lembaga PKBM, lembaga kursus, lembaga bimbingan belajar dan sekolah-sekolah formal lainnya.

Program parenting merupakan program yang diberikan kepada orang tua untuk memberikan pengetahuan tentang pertumbuhan dan perkembangan anak agar orang tua dalam mengasuh anak-anaknya sesuai dengan masa pertumbuhan dan perkembangannya dan dapat memberikan pengasuhan yang baik dan benar. Program ini dibentuk untuk mengkolaborasikan dan menyesuaikan pengasuhan antara keluarga dan pendidik di lembaga pendidikan.

Dalam Juknis Orientasi Teknis Parenting tahun 2011, dijelaskan bahwa program parenting adalah program dukungan yang ditunjukan kepada para orang tua atau anggota keluarga yang lain agar semakin memiliki kemampuan dalam melaksanakan fungsi sosial dan pendidikan dalam hal mengasuh, merawat, melindungi, dan mendidik anaknya di rumah sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, sesuai dengan usia dan tahap perkembangannya.

Dengan diadakannya program parenting ini diharapkan orang tua dapat memahami dan dengan sukarela ikut terlibat (berpartisipasi) dalam kegiatan yang akan membantunya dalam memperoleh pemahaman untuk mendidik anak di lingkungan rumah yang bersinergi dengan kegiatan pembelajaran di lembaga pendidikan.

Program ini dibentuk karena pada kenyataannya masih banyak orang tua yang belum memahami betapa pentingnya keluarga bagi pendidikan anak. Mereka menganggap anaknya sudah cukup mendapatkan pendidikan hanya dengan dimasukkan ke dalam lembaga pendidikan formal maupun nonformal. Seringkali orang tua menaruh harapan yang sangat besar kepada lembaga pendidikan sehingga berapa pun biaya akan dikeluarkan demi pendidikan anak mereka.

Pola pikir orang tua yang beranggapan bahwa tanggung jawab pendidikan adalah sepenuhnya tanggung jawab suatu lembaga pendidikan merupakan suatu kekeliruan yang harus segera diluruskan, agar tanggung jawab tinggi muncul dalam keluarga sehingga keluarga dapat menjadi lembaga pendidikan yang berkualitas. Hal


(13)

ini sejalan dengan pemaparan Undang-undang No. 20 Tahun 2003 di atas, yang menyatakan bahwa keluarga menjadi salah satu lembaga pendidikan informal yang diakui dan dilindungi oleh negara.

Selain itu diperlukan kerja sama antara keluarga dengan pendidik di lembaga pendidikan formal maupun nonformal, agar terjadi kontinuitas antara pengasuhan dan pendidikan anak yang diberikan di rumah dengan di lembaga pendidikan yang bersangkutan. Untuk meningkatkan peran keluarga dalam pendidikan anak, diperlukan suatu wadah untuk meningkatkan dan memberdayakan program parenting, agar program yang diselenggarakan dapat berjalan optimal, sesuai dengan tujuan yang diharapkan, esensi kegiatan dapat tersampaikan dengan baik kepada keluarga, dan yang paling utama adalah pendidikan pada anak dapat berjalan secara holistik dan integratif.

Kendatipun pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan mengenai pentingnya program parenting, namun tetap saja kenyataannya, mayoritas orang tua masih bersikap acuh tak acuh terhadap berbagai program parenting yang diadakan di setiap lembaga pendidikan formal maupun non formal. Saat ini, banyak fakta yang menyebutkan bahwa program parenting yang kini tengah berlangsung di masyarakat belum berjalan sesuai dengan prosedur pelaksanaan program parenting yang ditetapkan.

Sebagai contoh, pengalaman penulis ketika melakukan praktek mengadakan program parenting mengenai membangun kelekatan (attachment) yang baik dengan anak, di Kelompok Bermain Laboratorium PG-PAUD UPI, jumlah orang tua yang hadir hanya 4 orang, dari jumlah keseluruhan peserta didik 7 orang. Alasan ketidakhadiran orang tua dalam program parenting tersebut beragam, mulai dari alasan kesibukan pekerjaan di kantor yang tidak dapat ditinggalkan, sampai pada alasan ada urusan pribadi yang tidak kalah pentingnya.

Selain itu fakta lain di lapangan juga menyebutkan bahwa program parenting yang ada saat ini belum berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Salah satu contoh adalah kesulitan yang dihadapi salah satu lembaga PAUD, Kober dan TK Padu Al-Kautsar Serang-Banten, yaitu kesibukan pekerjaan para orang tua peserta didik membuat pihak lembaga sulit melaksanakan program parenting dengan jumlah kehadiran orang tua mencapai 70%. Dengan kata lain, partisipasi orang tua dalam menghadiri program parenting saat ini masih terbilang minim.

Salah satu minimnya partisipasi orang tua dalam suatu program parenting dapat dilihat dari kasus di atas, yaitu dilihat dari jumlah presensi orang tua yang dapat hadir


(14)

dalam kegiatan tersebut, namun tingkat partisipasi tidak cukup hanya diukur dari jumlah kehadiran saja, karena kehadiran hanya termasuk ke dalam secara fisik, dan belum mencakup kedalam keterlibatan secara mental dan emosional.

Dengan kata lain, partisipasi itu merupakan kontribusi seseorang yang dilibatkan secara aktif mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi untuk membantu mencapai tujuan program yang telah ditetapkan. Pernyataan di atas sesuai dengan definisi partisipasi yang dikemukakan oleh Kafler, yaitu sebagai berikut;

Partisipasi adalah keikutsertaan seseorang dalam suatu kegiatan yang mencurahkan fisik maupun mental dan emosional, yang dimaksud dengan partisipasi fisik adalah partisipasi yang langsung ikut serta dalam kegiatan tersebut, sedangkan partisipasi mental dan emosional adalah partisipasi dengan memberikan saran, pemikiran, gagasan, dan aspek mental lain yang menunjang apa yang diharapkan (Subastian, 2012: 6).

Apabila dihubungkan dengan definisi partisipasi dari Kafler diatas, maka partisipasi orang tua dalam program parenting merupakan keikutsertaan orang tua dalam kegiatan parenting yang mencurahkan fisik (kehadiran) maupun mental dan emosional (saran, pemikiran, gagasan, dan aspek mental lainnya yang menunjang tujuan program parenting). Dari definisi tersebut, maka dapat dilihat bahwa partisipasi orang tua dalam suatu program parenting bukan hanya sekedar datang menghadiri kegiatan tersebut, namun dengan adanya keterlibatan dan keikutsertaan bermakna dari orang tua membuat tingkat partisipasi menjadi lebih optimal.

Partisipasi orang tua dalam suatu program parenting sangat penting diketahui, untuk dapat mengukur sejauh mana keberhasilan program parenting yang diselenggarakan. Apabila orang tua peserta didik dalam suatu lembaga pendidikan tidak dapat sama sekali berpartisipasi dalam program parenting maka akan terjadi ketidaksesuaian pengasuhan antara pendidik di lembaga pendidikan dengan pengasuhan orang tua di rumah.

Salah satu alasan diadakannya program parenting adalah agar terjadi kesinambungan pengasuhan antara keluarga dengan pendidik sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Dalam hal ini, kesinambungan pengasuhan dapat pula dikatakan sebagai konsistensi keluarga dan pendidik dalam mengasuh dan mendidik anak.

Selain itu ketika partisipasi orang tua dalam program parenting tidak optimal, atau dengan kata lain bentuk partisipasinya hanya sekedar menghadiri kegiatan saja, tidak berpartisipasi memberikan saran, pendapat, dan kritik yang membangun serta


(15)

dapat mendukung tercapainya tujuan program yang telah direncanakan, maka dapat dikatakan bahwa program parenting yang diadakan menjadi sia-sia, tidak bermakna dan berdampak positif pada diri keluarga yang mengikutinya.

Seperti pada hasil temuan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Vera Permana Sari (2012), dengan skripsinya yang berjudul “Upaya Tutor dalam Meningkatkan Pola Asuh yang Kreatif Bagi Orang Tua Melalui Program Parenting di Kober Bunda Ganesa Bandung”, secara garis besar mendeskripsikan bahwa partisipasi orang tua turut mempengaruhi hasil atau dampak dari program parenting yang dilaksanakan di Kober Bunda Ganesa Bandung. Orang tua yang tidak dapat berpartisipasi atau datang pada kegiatan parenting, karena alasan kesibukan pekerjaan, membuat informasi mengenai pola asuh yang disampaikan oleh tutor tidak dapat diketahui secara menyeluruh oleh seluruh orang tua peserta didik.

Sehingga dengan kata lain dampak dari program parenting yang diadakan di Kober Bunda Ganesa ini hanya dapat dirasakan oleh orang tua yang berpartisipasi di dalamnya, dan hanya orang tua yang ikut berpartisipasilah yang dapat menerapkan pola asuh yang kreatif dalam mengasuh dan mendidik anaknya.

Selain itu dalam kesimpulan penelitiannya, Vera Permana Sari menyatakan bahwa perlu dilibatkannya atau diikutsertakannya orang tua peserta didik dalam setiap proses perencanaan program parenting yang akan diselenggarakan, karena ketika orang tua dilibatkan secara langsung dalam proses perencanaan akan menimbulkan tanggung jwab dari dalam dirinya untuk berpartisipasi secara aktif terhadap program parenting tersebut. Sehingga secara tidak langsung akan meningkatkan tingkat partisipasi orang tua dalam program parenting.

Kemudian fakta empiris lainnya, penulis dapatkan dari hasil penelitian Lilis Kholilah (2012), seorang mahasiswi jurusan Pendidikan Luar Sekolah-UPI. Skripsinya yang berjudul “Partisipasi Orang Tua Warga Belajar dalam Program Pembuatan APE dari Bahan Daur Ulang di Kober Al-Amanah Desa/Keluarahan Padalarang Kabupaten Bandung Barat”, secara garis besar mendeskripsikan hasilnya sebagai berikut; pertama, hampir seluruh orang tua peserta didik Kober Al-Amanah diikutsertakan dalam kegiatan menyusun perencanaan program dan dalam proses pelaksanaan program, serta hanya sebagian orang tua yang melibatkan diri dalam pelaksanaan evaluasi program.


(16)

Kedua, motivasi orang tua untuk berperan aktif atau berpartisipasi dalam program pembuatan APE dari bahan daur ulang berdasarkan hasil penelitian disebabkan oleh kesadaran diri sendiri, keterpaksaan, dan faktor mengikuti teman dekatnya yang ingin datang.

Ketiga, faktor penghambat timbulnya partisipasi berdasarkan hasil penelitian disebabkan oleh kurangnya keyakinan akan pentingnya program, kurangnya pengetahuan dan keterampilan, serta merasa program tersebut bukan tanggung jawab dan tugas bersama.

Keempat, faktor pendorong timbulnya partisipasi berdasarkan hasil penelitian adalah ditimbulkan atas proporsi keberhasilan dan proporsi nilai, yang dimaksud dengan proporsi keberhasilan adalah semakin positif respon yang diterima, maka semakin sering tindakan tersebut dilakukan, sedangkan proporsi nilai adalah semakin bermakna hasil yang diterima, maka semakin sering tindakan tersebut diulangi.

Dengan demikian orang tua merasakan bahwa hasil yang diperoleh dalam mengikuti program membuat APE dari bahan daur ulang memiliki manfaat yang besar sehingga dapat berpengaruh terhadap motivasi untuk berperan aktif atau berpartisipasi dalam suatu kegiatan parenting.

Selain itu hasil penelitiannya juga menyatakan bahwa sebagian besar atau mayoritas motivasi partisipasi orang tua mengikuti program parenting tersebut adalah dikarenakan faktor „ikut-ikutan‟, atau dengan kata lain mereka datang menghadiri karena mengikuti teman dekatnya yang datang, bukan berasal dari kesadaran diri sendiri dan kebutuhan pribadi akan program tersebut. Namun motivasi ekstern yang berasal dari mengikuti temannya tersebut, menjadi faktor pendorong timbulnya partisipasi orang tua, yang kemudian dapat menimbulkan dampak positif bagi penyelenggaraan program parenting yaitu Program Pembuatan APE dari Bahan Daur Ulang di Kober Al-Amanah.

Dampak positif yang diperoleh para orang tua yang mengikuti pelatihan tersebut adalah mereka dapat mengetahui cara membuat alat permainan edukatif dari bahan daur ulang yang dikemas secara kreatif, sederhana, murah, aman, dan menarik bagi anak. Sedangkan dampak positif yang diperoleh lembaga PAUD yang menyelenggarakan (Kober Al-Amanah) adalah tersedianya APE daur ulang yang kreatif di lembaga dan dapat dipergunakan bagi warga belajar atau peserta didik di sana.


(17)

Berdasarkan hasil temuan penelitian di atas, diperoleh referensi empiris bahwa ada faktor pendorong dan faktor penghambat timbulnya partisipasi orang tua dalam suatu program parenting. Faktor pendorong dan faktor penghambat partisipasi dapat juga dikatakan sebagai motivasi seseorang untuk berpartisipasi. Permasalahannya adalah bagaimana cara mengoptimalkan faktor pendorongnya dan mencari solusi atas faktor penghambatnya, sehingga partisipasi orang tua dalam program parenting menjadi optimal dan tujuan program dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan.

Dilihat dari segi kompleksitas masalah, apabila permasalahan tersebut dibiarkan, maka akan menimbulkan dampak yang dapat menghambat tercapainya keberhasilan suatu program parenting, karena seperti yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa partisipasi orang tua dalam suatu program parenting memiliki peranan penting dalam menentukan keberhasilan program. Selain itu apabila partisipasi orang tua dalam program parenting tidak optimal, atau dengan kata lain tidak maksimal, maka akan membuat makna dan tujuan dari diadakannya program parenting tersebut menjadi tidak tersampaikan sepenuhnya.

Temuan empiris selanjutnya, penulis dapatkan dari salah satu lembaga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang berlokasi di Kampung Lebak Cihideung-Lembang, Kabupaten Bandung Barat yaitu PKBM Mitra Insani. PKBM ini menyelenggarakan program PAUD Kelompok Bermain (Kober) bagi peserta didik dengan kelompok usia 3-4 tahun. Kober Mitra Insani memberikan pelayanan program parenting bagi para orang tua peserta didik. Program parenting yang telah diselenggarakan antara lain penyuluhan mengenai pola asuh orang tua, pelatihan membuat APE daur ulang (recycle), dan program parenting “Mega Skill”.

Fakta yang ditemukan dari program parenting yang diselenggarakan adalah lebih besarnya partisipasi orang tua dalam kegiatan parenting yang sifatnya praktis seperti pelatihan membuat APE daur ulang (recycle), dibandingkan dengan kegiatan parenting yang sifatnya konseptual, seperti penyuluhan mengenai pola asuh. Hal ini menarik perhatian penulis untuk mendalami lebih jauh seperti apa optimalisasi partisipasi orang tua dalam program parenting.

Dengan adanya beberapa temuan empiris di atas, penulis tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana suatu lembaga pendidikan dapat mengoptimalisasikan partisipasi orang tua dalam setiap program parenting yang diselenggarakan lembaga pendidikan tersebut. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah


(18)

partisipasi orang tua dalam program parenting tersebut optimal sehingga memberikan dampak atau pengaruh yang positif bagi orang tua yang menghadiri dan terlibat aktif didalamnya. Adapun penelitian ini dilakukan di lembaga PKBM Mitra Insani, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, yang menyelenggarakan program parenting.

B. Identifikasi Masalah dan Perumusan Masalah

Dari hasil observasi yang dilakukan penulis ke lembaga PKBM Mitra Insani, penulis mengidentifikasi fakta-fakta yang mendukung terhadap permasalahan yang diajukan penulis mengenai optimalisasi partisipasi orang tua dalam program parenting di PKBM Mitra Insani, yaitu:

1. Kondisi status sosial ekonomi orang tua peserta didik mempengaruhi partisipasi orang tua dalam setiap program parenting yang diselenggarakan PKBM Mitra Insani. Sebagai contoh, kesibukan pekerjaan orang tua menjadi salah satu alasan mengapa orang tua tidak dapat menghadiri program parenting yang diselenggarakan.

2. Program parenting yang lebih diminati oleh mayoritas orang tua di PKBM Mitra Insani adalah program yang sifatnya praktis dibandingkan dengan program yang sifatnya kontekstual. Hal ini dibuktikan dari jumlah kehadiran orang tua dalam kegiatan pelatihan seputar parenting, seperti pelatihan membuat APE daur ulang lebih banyak daripada jumlah kehadiran orang tua pada kegiatan penyuluhan mengenai pola asuh.

3. Persentase kehadiran orang tua dalam pelatihan membuat APE daur ulang yang diadakan pada tahun 2013 mencapai 80%, sedangkan persentase kehadiran pada penyuluhan mengenai pola asuh hanya mencapai 50% dari jumlah keseluruhan peserta didik.

4. Adanya perubahan sikap pada diri orang tua yang berpartisipasi pada program parenting yang diselenggarakan. Salah satunya adalah dengan diadakannya pelatihan membuat APE daur ulang, orang tua menjadi lebih terampil dalam mengkreasikan barang bekas menjadi alat permainan yang edukatif bagi anak.


(19)

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka penulis membatasi dan merumuskan permasalahan yang akan diangkat dalam penelitian agar dalam penelitian ini tidak terjadi kerancuan. Adapun rumusan masalah yang diambil penulis adalah sebagai berikut:

“Bagaimanakah optimalisasi partisipasi orang tua dalam program parenting yang diadakan di PKBM Mitra Insani?”

Mengacu pada rumusan masalah di atas dan agar penelitian ini lebih efektif dan tepat sasaran, maka penulis menyusun pertanyaan penelitian yaitu sebagai berikut: 1. Bagaimana strategi yang digunakan pihak penyelenggara program untuk

mengoptimalisasikan partisipasi orang tua dalam program parenting?

2. Bagaimana bentuk program yang digunakan pihak penyelenggara program untuk mengoptimalisasikan partisipasi orang tua dalam program parenting?

3. Bagaimana hasil yang diperoleh dengan adanya optimalisasi partisipasi orang tua dalam program parenting?

C. Tujuan Penelitian

Mengacu pada rumusan masalah dan pertanyaan penelitian di atas, maka tujuan dari diadakannya penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mendeskripsikan dan menganalisis strategi yang digunakan pihak penyelenggara program untuk mengoptimalisasikan partisipasi orang tua dalam program parenting.

2. Untuk mendeskripsikan dan menganalisis bentuk program yang digunakan pihak penyelenggara program untuk mengoptimalisasikan partisipasi orang tua dalam program parenting.

3. Untuk mendeskripsikan dan menganalisis hasil yang diperoleh dengan adanya optimalisasi partisipasi orang tua dalam program parenting.

D. Manfaat/Signifikansi Penelitian

Dari tujuan penelitian di atas, maka adapun manfaat/signifikasi penelitian ini dilihat dari dua aspek yaitu sebagai berikut:


(20)

a. Memperoleh gambaran dan deskripsi mengenai faktor-faktor yang mendukung tercapainya optimalisasi partisipasi orang tua dalam suatu program parenting, yaitu dilihat dari segi pendekatan atau strategi, bentuk program, dan hasil yang diperoleh. b. Memberikan kontribusi dalam keilmuan pendidikan anak usia dini, khususnya mengenai penyelenggaraan program parenting yang dapat mencapai partisipasi orang tua yang optimal, sehingga dapat dijadikan referensi baru dalam penyelenggaraan parenting yang kreatif, inovatif, dan bermakna.

2. Manfaat/signifikasi secara praktis:

a. Ditemukannya strategi yang dapat digunakan berbagai pihak penyelenggara program parenting untuk mengoptimalisasikan partisipasi orang tua, sehingga program parenting yang diselenggarakan benar-benar bermakna.

b. Ditemukannya cara yang dapat digunakan berbagai pihak penyelenggara program parenting untuk mengoptimalkan faktor pendorong partisipasi dan ditemukannya solusi atas faktor penghambat partisipasi orang tua dalam setiap program parenting. c. Dapat dijadikan sebagai bahan kajian bagi pihak yang berminat untuk meneliti lebih

lanjut terhadap aspek yang sama dengan kajian yang berbeda. E. Struktur Organisasi Skripsi

Adapun struktur organisasi skripsi pada penelitian yang akan dilakukan oleh penulis adalah sebagai berikut :

Bab I Pendahuluan, berisi uraian tentang pendahuluan skripsi, yang meliputi:

1. Latar belakang penelitian, menjelaskan alasan mengapa masalah ini diteliti, alasan rasional penelitian berdasarkan fakta-fakta dan data-data penelitian sebelumnya. 2. Identifikasi dan perumusan masalah, menjelaskan identifikasi variabel penelitian,

rumusan masalah yang dikaitkan antara variabel satu dengan lainnya.

3. Tujuan penelitian, menjelaskan tentang keinginan yang ingin dicapai dalam penelitian ini secara operasional.

4. Manfaat penelitian, menjelaskan manfaat yang diharapkan muncul setelah penelitian dilaksanakan secara teoritis dan praktis.

5. Struktur organisasi skripsi, menjelaskan mengenai rincian tentang urutan penulisan dari setiap bab mulai dari Bab I sebagai pendahuluan hingga Bab V sebagai bab terakhir yang berupa kesimpulan dan saran.


(21)

Bab II Kajian Pustaka, menjelaskan landasan teoritik dalam menyusun pertanyaan penelitian dan tujuan penelitian, yang meliputi:

1. Parenting, menjelaskan tentang pentingnya program parenting, dan menguraikan tentang konsep dasar lainnya yang meliputi; Pengertian Parenting, Unsur yang Terlibat dalam Program Parenting, Manfaat Parenting, Tujuan Parenting, Strategi dan Metode Penyelenggaraan Program Parenting, Bentuk Program Parenting, dan Manjemen Program Parenting.

2. Partisipasi, menjelaskan tentang konsep-konsep dasar partisipasi yang meliputi; Pengertian Partisipasi, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Partisipasi, Faktor-faktor Penghambat Timbulnya Partisipasi, Tipologi Partisipasi, Tahap-tahap Partisipasi, dan Tingkat Kesukarelaan Partisipasi.

Bab III Metode Penelitian, menjelaskan penjabaran yang rinci mengenai metode penelitian dengan berbagai komponen, yang meliputi:

1. Lokasi dan subyek penelitian 2. Desain penelitian

3. Metode penelitian 4. Definisi operasional 5. Instrumen penelitian

6. Proses pengembangan instrumen 7. Teknik pengumpulan data 8. Analisis data

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan, menjelaskan pengolahan atau analisis data untuk menghasilkan temuan berkaitan dengan masalah penelitian, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, serta berisi tentang pembahasan dan analisis temuan. didalamnya. Bab ini juga merupakan inti dari penelitian yang telah dilakukan terhadap permasalahan yang melatarbelakangi penelitian beserta analisis data yang sesuai dengan metode penelitian, yang meliputi dua komponen utama yaitu analisis data dan pembahasan. Adapun struktur yang lebih rincinya adalah sebagai berikut:

1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 2. Profil PKBM Mitra Insani

3. Deskripsi Hasil Penelitian 4. Pembahasan Hasil Penelitian


(22)

Bab V Kesimpulan dan Saran, menyajikan penafsiran dan pemaknaan terhadap hasil temuan penelitian serta rekomendasi pada pihak-pihak yang relevan dengan penelitian yang penulis lakukan. Isi bab ini meliputi:

1. Kesimpulan 2. Saran


(23)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Subjek Penelitian 1. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian merupakan area dimana penulis menemukan masalah terkait optimalisasi partisipasi orang tua dalam program parenting yang didasari dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh penulis. Sebagaimana yang dipaparkan dalam latar belakang penelitian, maka penelitian ini dilakukan di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Mitra Insani yang berlokasi di Jalan Pasir Ipis Kampung Lebak Cihideung RT 03/17 Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Lokasi penelitian tersebut merupakan tempat penelitian yang diharapkan mampu memberikan informasi mengenai rumusan masalah yang diangkat penulis dalam penelitian ini, yaitu optimalisasi partisipasi orang tua dalam program parenting yang diselenggarakan di PKBM Mitra Insani.

2. Subjek Penelitian

Suharsimi Arikunto (Sembiring, 2012: 12) memberi batasan subjek penelitian itu sebagai benda, hal atau orang tempat data untuk variabel penelitian melekat, dan yang dipermasalahkan. Dalam sebuah penelitian, subjek penelitian memiliki peran yang sangat strategis karena pada subjek penelitian, itulah data tentang variabel yang penelitian akan amati.

Pada penelitian kualitatif, subjek penelitian disebut dengan istilah informan, yaitu orang memberi informasi tentang data yang diinginkan peneliti berkaitan dengan penelitian yang sedang dilaksanakannya. Dalam menentukan informan sebagai subjek penelitian, penulis menggunakan teknik purposive atau dengan kata lain berdasarkan pada kriteria populasi penelitian (Sembiring, 2012: 12).

Dalam penelitian ini, informan yang diteliti adalah terdiri dari informan utama atau kunci dan informan triangulan. Dalam hal ini yang menjadi informan utama adalah pengelola PKBM Mitra Insani dan tutor PAUD Kober Mitra Insani. Sedangkan yang menjadi informan triangulan adalah salah satu praktikan mahasiswa PLP jurusan PLS UPI (lokasi labsite di PKBM Mitra Insani) tahun 2013 yang menjadi penanggung


(24)

jawab program parenting yang diselenggarakan. Sedangkan yang menjadi informan triangulan adalah para orang tua peserta didik PAUD Kober Mitra Insani yang ikut berpartisipasi dalam setiap program parenting yang diselenggarakan. Informan tersebut dipilih penulis, karena semua informan tersebut memiliki kriteria yang sama, yaitu sama-sama terlibat dalam manajemen baik dari proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program parenting di PKBM Mitra Insani.

Jumlah subjek penelitian terdiri dari enam orang informan, yang terdiri dari satu orang pengelola PKBM Mitra Insani, satu orang tutor PAUD Kober Mitra Insani, satu orang mahasiswa praktikan PLP tahun 2013 selaku penanggung jawab dan pengelola program parenting yang diadakan, dan tiga orang tua peserta didik Kober PKBM Mitra Insani. Tiga orang tua peserta didik tersebut dipilih karena mereka menghadiri dan ikut berpartisipasi dalam setiap pertemuan program parenting yang diselenggarakan di PKBM Mitra Insani.

Jumlah sumber data penelitian yang sedikit didasarkan kepada pertimbangan bahwa penelitian kualitatif lebih mementingkan informasi yang banyak daripada banyaknya jumlah informan. Oleh karena itu, maka penetapan subjek penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik purposive atau sesuai dengan tujuan atau kriteria populasi penelitian.

B. Desain Penelitian

Untuk menerapkan metode ilmiah dalam praktik penelitian, maka diperlukan suatu desain penelitian, yang sesuai dengan kondisi, seimbang dengan dalam dangkalnya penelitian yang akan dikerjakan (Nazir, 2005: 84). Pengertian desain penelitian menurut Nazir (2005: 84) adalah semua proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian. Dalam pengertian yang lebih sempit, desain penelitian hanya mengenai pengumpulan dan analisis data saja.

Desain penelitian yang dirancang penulis dalam penelitian ini termasuk ke dalam jenis desain penelitian kualitatif, oleh karena itu, desainnya bersifat umum dan fleksibel, sehingga terbuka kemungkinan untuk perbaikan atau modifikasi di lapangan. Dengan kata lain. desain ini hanya digunakan sebagai asumsi dan rujukan untuk melakukan penelitan.


(25)

Desain penelitian ini terdiri dari empat tahapan pelaksanaan penelitian, dan keempat tahapan tersebut sesuai dengan tahapan penelitian yang dikemukakan oleh Moleong (2004: 85), yaitu:

1. Tahap Pra Lapangan

Tahap pra lapangan terdiri dari tujuh kegiatan, yaitu menyusun rancangan penelitian, memilih lapangan penelitian untuk melihat apakah terdapat kesesuaian antara teori dengan kenyataan yang ada di lapangan, mengurus perizinan untuk pelaksanaan penelitian, menjelajahi dan menilai keadaan lapangan atau orientasi lapangan, memilih dan memanfaatkan informan berkenaan dengan kepentingan informasi yang dibutuhkan pada penelitian, menyiapkan perlengkapan penelitian, dan terakhir persoalan etika penelitian.

Pada tahap ini, penulis juga mengadakan survei pendahuluan yakni dengan mencari subjek penelitian sebagai informan. Selama proses survei ini peneliti melakukan penjajagan lapangan (field study) terhadap latar belakang penelitian, mencari data dan informasi tentang pelaksanaan program parenting di PKBM Mitra Insani.

2. Tahap Pekerjaan Lapangan

Tahapan pekerjaan lapangan atau pelaksanaan studi adalah kegiatan yang dilakukan oleh peneliti di lokasi penelitian, yaitu memahami latar penelitian dan mempersiapkan diri, memasuki lapangan, dan berperan serta sambil mengumpulkan data mengenai partisipasi orang tua dalam program parenting melalui teknik-teknik yang telah ditetapkan sesuai dengan prosedur penelitian dan kondisi lapangan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan observasi, dengan sumber informan atau subjek penelitian yaitu pihak penyelenggara program parenting dan orang tua yang berpartisipasi dalam setiap pertemuan program parenting.

3. Tahap Analisis Data

Proses analisis data dimulai dengan menganalisis dan menelaah seluruh data yang telah dikumpulkan dari berbagai sumber dan subjek penelitian, baik itu data primer maupun data sekunder, yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dan pencarian dokumen-dokumen pendukung (studi dokumentasi dan kepustakaan). Data yang telah terkumpul tersebut diolah sesuai dengan kaidah pengolahan data yang relevan dengan metode deskriptif dan pendekatan penelitian kualitatif.


(26)

Penelitian laporan hasil penelitian tidak terlepas dari keseluruhan tahapan kegiatan dan unsur-unsur penelitian. Pada tahap ini, pengumpulan dan analisa data dilakukan secara terus menerus selama proses penelitian sampai data yang diperlukan terkumpul seluruhnya. Pengolahan data sebagai laporan awal dilakukan setelah dibandingkannya data empirik dengan kajian teoritik, sedangkan pengolahan data sebagai laporan akhir dilakukan setelah data yang diperlukan lengkap terkumpul. C. Metode Penelitian

Metode penelitian membicarakan tentang bagaimana prosedur dan teknik yang digunakan untuk melakukan suatu penelitian. Metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Menurut Nazir (2005: 54) metode deskriptif adalah “suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, atau suatu kelas peristiwa pada masa sekarang”. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, factual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki (Nazir, 2005: 54).

Whitney (Nazir, 2005: 54) mengemukakan bahwa “metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat”. Metode penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan-hubungan, kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan, serta proses-proses yang sedang berlansung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena (Nazir, 2005: 54).

Nazir (2005: 55) menjelaskan lebih lanjut bahwa secara harfiah, pengertian metode deskriptif adalah “metode penelitian untuk membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian, sehingga metode ini berkehendak mengadakan akumulasi data dasar belaka”.

Dalam metode penelitian deskriptif, peneliti tidak hanya memberikan gambaran terhadap fenomena-fenomena saja, tetapi juga menerangkan hubungan, membuat prediksi serta mendapatkan makna dan implikasi dari suatu masalah yang ingin dipecahkan. Dengan kata lain, dalam metode deskriptif, peneliti berusaha memotret peristiwa dan kejadian yang menjadi pusat perhatiannya, kemudian menggambarkan atau melukiskannya sebagaimana adanya.


(27)

Metode deskriptif memiliki tiga kriteria khusus, sebagaimana yang dikemukakan Nazir (2005: 62), yaitu:

Pertama, prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value); kedua, fakta-fakta atapun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status; dan ketiga, sifat penelitian adalah ex post facto, karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel, dan peneliti tidak mengadakan peraturan atau manipulasi terhadap variabel, dengan kata lain variabel dilihat sebagaimana adanya.

Metode deskriptif dipilih penulis karena penulis ingin mendeskripsikan dan menganalisis lebih lanjut mengenai fenomena program parenting yang ada saat ini secara sistematis, faktual, dan akurat. Selain itu, dengan digunakannya metode deskriptif dalam penelitian ini dapat dijadikan sebagai pemecahan praktis terkait permasalahan optimalisasi partisipasi orang tua dalam program parenting.

Sudjana (2001: 65) mengemukaka langkah-langkah pelaksanaan penggunaan metode penelitian deskriptif secara garis besarnya adalah sebagai berikut:

1. Perumusan masalah

Langkah pertama adalah merumuskan masalah yang terkait dengan variabel yang akan diteliti yang terjadi pada saat ini, dengan kata lain perumusan masalah mengandung variabel-variabel yang menjadi kajian dalam studi ini. Masalah penelitian dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya yang kemudian dijabarkan menjadi pertanyaan-pertanyaan penelitian.

2. Menentukan jenis data yang diperlukan.

Dalam hal ini peneliti perlu menetapkan data apa yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan atau masalah yang telah dirumuskan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa penelitian deskriptif memusatkan perhatian kepada masalah aktual yang terjadi pada saat berlangsungnya penelitian. Oleh karena itu, data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data kualitatif.

3. Menentukan prosedur pengumpulan data

Setelah informasi yang sangat diperlukan sebagai data mentah pada penelitian ini ditetapkan dengan seksama dan purposif. Langkah berikutnya yaitu menentukan cara-cara pengumpulan data. Ada dua unsur penelitian yang diperlukan, yakni instrument atau alat pengumpul data dan sumber data atau sampel, yakni dari mana informasi itu sebaiknya diperoleh. Dalam penelitian ini alat pengumpul data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi.


(28)

4. Menentukan prosedur pengolahan informasi atau data

Data dan informasi yang telah diperoleh dengan instrument yang dipilih dari sumber data atau subjek penelitian tertentu masih merupakan informasi atau data kasar. Informasi dan data tersebut perlu diolah agar dapat dijadikan bahan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Mengingat sifat dan tujuan penelitian deskriptif, maka jenis pengolahan data yang digunakan adalah statistika deskriptif seperti teknik persen, kuartil, modus, median, mean, simpangan baku, korelasi, dan lain-lain. Prosedur yang dilakukan antara lain dimulai dari pemeriksaan data, lalu klasifikasi data, selanjutnya tabulasi data berdasarkan klasifikasi yang dibuat, setelah itu menghitung frekuensi jawaban atau data, lalu perhitungan lebih lanjut sesuai dengan teknik statistika yang dipilih, kemudian memvisualisasikan data, dan terakhir menafsirkan data sesuai dengan pertanyaan penelitian.

5. Menarik kesimpulan penelitian

Berdasarkan hasil pengolahan data, peneliti menyimpulkan hasil penelitian deskriptif dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian dan mensintesiskan semua jawaban tersebut dalam satu kesimpulan yang merangkum permasalahan-permasalahan secara keseluruhan.

Dengan digunakannya metode deskriptif, maka penulis menetapkan pendekatan kualitatif sebagai pendekatan penelitian agar terjadi kesesuaian dalam menjawab permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini. Menurut Sudjana (Malihah, 2012: 4), yang dimaksud dengan pendekatan penelitian kualitatif adalah:

Penelitian yang memerlukan pemahaman secara mendalam dan menyeluruh untuk menghasilkan kesimpulan penelitian dalam konteks waktu dan situasi tertentu, tidak memmengutamakan kuatifikasi, menggunakan konstruktivis, naturalistik, interpretative, postpositivistik, dengan penghayatan terhadap interaksi antar konsep yang sedang dikaji secara empirik.

Pengertian Sudjana diatas, sama halnya dengan pernyataan Moleong (2004: 131), yang mengemukakan bahwa pendekatan kualitatif adalah:

Data yang dikumpulkan bukan berupa angka-angka, melainkan data tersebut berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, dokumen pribadi, catatan memo, dan dokumen resmi lainnya. Sehingga yang menjadi tujuan dari penelitian kualitatif ini adalah ingin menggambarkan realita empirik di balik fenomena secara mendalam, rinci dan tuntas. Oleh karena itu penggunaan pendekatan kualitatif dalam makalah ini adalah dengan mencocokkan antara realita empirik (lapangan) dengan teori yang berlaku dengan menggunakan metode deskriptif.


(29)

Keirl dan Miller (Moleong, 2004) mengemukakan bahwa yang dimaksud pendekatan kualitatif yaitu „tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia pada kawasannya sendiri, dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan peristilahannya‟.

Dari pengertian diatas dapat dianalisis bahwa pendekatan kualitatif adalah pendekatan yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, di mana peneliti adalah sebagai instrument kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara gabungan, analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.

Adapun ciri-ciri penelitian kualitatif menurut Moleong (2004: 19), adalah sebagai berikut; sumber data ialah situasi yang wajar; peneliti sebagai instrument penelitian; sangat deskriptif; mementingkan proses maupun produk; mencari makna di belakang kelakuan sehingga dapat memahami masalah atau situasi; mengutamakan data langsung; dilakukan triangulasi; menonjolkan rincian kontekstual; subjek yang diteliti dipandang berkedudukan sama dengan peneliti; mengutamakan perspektif emik; melakukan verifikasi; menggunakan sampling yang purposif; menggunakan audit trial; adanya partisipasi tanpa mengganggu subjek penelitian; mengadakan analisis sejak awal; dan desain penelitian tampil dalam proses penelitian.

Penelitian kualitatif secara umum dapat digunakan untuk penelitian tentang kehidupan masyarakat, sejarah, tingkah laku, fungsionalisasi organisasi, aktivitas sosial, dan lain-lain. Salah satu alasan menggunakan pendekatan kualitatif adalah pengalaman para peneliti dimana pendekatan penelitian ini dapat digunakan untuk menemukan dan memahami apa yang tersembunyi dibalik fenomena yang kadangkala merupakan sesuatu yang sulit untuk dipahami secara memuaskan.

Penulis memilih pendekatan kualitatif sebagai pendekatan penelitian atas dasar pertimbangan kelebihan pendekatan ini, sebagaimana yang dikemukakan oleh Moleong (2004: 138) yaitu sebagai berikut:

1. Pendekatan kualitatif lebih mudah digunakan apabila berhadapan dengan kenyataan ganda.

2. Pendekatan kualitatif secara tidak langsung menghubungkan antara peneliti dan responden.

3. Pendekatan kualitatif lebih peka dan dapat menyesuaikan diri dengan manajemen yang berpengaruh terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.


(30)

Alasan penggunaan kualitatif juga didasari oleh pemikiran bahwa pendekatan tersebut memiliki kesesuaian dengan fokus penelitian penulis yang pada hakikatnya ingin melakukan eksplorasi pada objek penelitian atau memperoleh gambaran secara mendalam. Oleh karena itu penulis memilih pendekatan kualitatif sebagai pendekatan penelitian yang tepat untuk menjawab permasalahan mengenai fenomena program parenting yang terjadi pada saat ini, dengan memfokuskan penelitiannya pada kajian optimalisasi partisipasi orang tua dalam program parenting di PKBM Mitra Insani.

D. Definisi Operasional

Definisi operasional merupakan gambaran umum tentang istilah-istilah yang terdapat dalam judul penelitian yang akan diteliti dalam penelitian ini. Adapun definisi operasional yang akan dijelaskan penulis berikut ini, meliputi pengertian optimalisasi, partisipasi, orang tua, dan program parenting. Berikut ini akan dijelaskan masing-masing definisi keempat variabel tersebut:

1. Optimalisasi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) dijelaskan bahwa optimalisasi adalah suatu proses, cara atau perbuatan untuk menjadikan sesuatu paling baik dan paling tinggi. Dari definisi di atas, dapat dikatakan pula bahwa optimalisasi adalah suatu tindakan untuk memperoleh hasil yang terbaik dengan meminimalkan upaya yang diperlukan atau memaksimalkan manfaat yang diinginkan.

Optimalisasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu upaya maksimal dari pihak para orang tua yang ikut berpartisipasi dalam setiap program parenting yang diselenggarakan di PKBM Mitra Insani, baik dari segi proses maupun dari segi hasilnya.

2. Partisipasi

Kafler mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan partisipasi adalah keikutsertaan seseorang dalam suatu kegiatan yang mencurahkan fisik maupun mental dan emosional, yang dimaksud dengan partisipasi fisik adalah partisipasi yang langsung ikut serta dalam kegiatan tersebut, sedangkan partisipasi mental dan emosional adalah partisipasi dengan memberikan saran, pemikiran, gagasan, dan aspek mental lain yang menunjang apa yang diharapkan (Subastian, 2012: 6).


(31)

Dari definisi tersebut, maka yang dimaksud partisipasi dalam penelitian ini adalah partisipasi orang tua dalam suatu program parenting yang bukan hanya sekedar datang menghadiri kegiatan tersebut, namun dengan adanya keterlibatan dan keikutsertaan bermakna dari orang tua dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi membuat tingkat partisipasi menjadi lebih optimal.

3. Orang Tua

Menurut Miami (Munir, 2010), orang tua adalah pria dan wanita yang terikat dalam perkawinan dan siap sedia untuk memikul tanggung jawab sebagai ayah dan ibu dari anak-anak yang dilahirkannya. Dalam penelitian ini, orang tua yang dimaksud adalah orang tua peserta didik PAUD Kober PKBM Mitra Insani yang ikut berpartisipasi dalam tiga pertemuan program parenting yang diselenggarakan.

4. Program Parenting

Program parenting adalah proram yang diberikan kepada para orang tua dalam memberikan pengetahuan tentang pertumbuhan dan perkembangan anak agar orang tua dalam mengasuh anak-anaknya sesuai dengan masa pertumbuhan dan perkembangannya serta dapat memberikan pengasuhan yang baik dan benar (Permana, 2012: 5). Dalam penelitian ini program parenting adalah program parenting yang diselenggarakan PKBM Mitra Insani, yaitu diantaranya program Penyuluhan tentang Pola Asuh Orang Tua, Pelatihan Membuat APE Daur Ulang, dan program “Mega Skills”.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan semua alat yang digunakan untuk mengumpulkan, memeriksa, menyelidiki suatu masalah, atau mengumpulkan, mengolah, menganalisa dan menyajikan data-data secara sistematis serta objektif dengan tujuan memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis. Instrumen merupakan hal yang sangat penting di dalam kegiatan penelitian. Hal ini karena perolehan suatu informasi atau data relevan atau tidaknya, tergantung pada alat ukur tersebut. Oleh karena itu, alat ukur penelitian harus memiliki validitas dan reliabilitas yang memadai

Instrumen penelitian dirancang untuk satu tujuan penelitian dan tidak akan bisa digunakan pada penelitian lain. Kekhasan setiap obyek penelitian membuat seorang peneliti harus merancang sendiri instrumen yang akan digunakannya. Dalam penelitian


(32)

ini, penulis selaku peneliti menjadi instrumen utama penelitian atau merupakan alat pengumpul data utama, karena penulis yang melakukan segala sesuatu hal dari seluruh proses penelitian baik dalam perencanaan, melaksanakan pengumpulan data, menganalisis, menafsirkan data dan melaporkan hasil penelitiannya. Pernyataan tersebut sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Moleong (2004: 121) bahwa, “dalam penelitian kualitatif peneliti bertindak sebagai instrument utama”.

Peneliti sebagai instrument penelitian dapat memahami makna interaksi antar manusia, membaca gerak muka, memahami perasaan dan nilai yang terkandung dibalik ucapan atau perbuatan subjek penelitian, sehingga meskipun digunakan alat perekam, peneliti tetap memegang peranan utama sebagai alat penelitian. Dalam pelaksanaan penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrument utama dan terjun langsung ke lapangan untuk mengumpulkan data mengenai optimalisasi partisipasi orang tua dalam setaip program parenting yang diselenggarakan di PKBM Mitra Insani, dalam kondisi yang sesungguhnya (real atau factual).

F. Proses Pengembangan Instrumen

Proses pengembangan instrumen melalui beragam tahapan yang dimulai dari studi pendahuluan untuk memperkuat referensi dalam memperoleh justifikasi masalah dengan mengupayakan pelebaran konsep variabel yang diangkat, setelah itu melakukan konsultasi dengan para pembimbing berulang-ulang untuk memperjelas arah penelitian yang seharusnya, kemudian melakukan kajian lapangan kembali untuk penyesuaian instrument dan terakhir adalah pemantapan instrument berdasarkan kajian analisis instrument sedari awal.

G. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam proses penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Teknik pengumpulan data yang diperlukan disini adalah teknik pengumpulan data mana yang paling tepat, sehingga benar-benar didapat data yang valid dan reliable.

Terdapat dua hal utama yang mempengaruhi kualitas data hasil penelitian yaitu, kualitas instrumen penelitian dan kualitas pengumpulan data. Kualitas instrumen penelitian berkenaan dengan validitas dan reliabilitas instrumen dan kualitas pengumpulan data berkenaan dengan ketepatan cara-cara yang digunakan untuk


(33)

mengumpulkan data. Oleh karena itu instrumen yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya, belum tentu dapat menghasilkan data yang valid atau reliabel, apabila instrumen tersebut tidak digunakan secara tepat dalam pengumpulan datanya.

Dalam penelitian ini, untuk memperoleh informasi yang akurat dan lengkap, maka dilakukan penggalian data ke subjek penelitian, yaitu pengelola PKBM Mitra Insani, tutor PAUD Kober PKBM Mitra Insani, satu orang mahasiswa praktikan PLP tahun 2013 selaku penanggung jawab program parenting yang diadakan, dan tiga orang tua peserta didik Kober PKBM Mitra Insani melalui wawancara, observasi, studi dokumentasi, dan studi kepustakaan. Dalam hal ini juga dilakukan triangulasi data dengan cara mengkonfirmasi kebenaran informasi yang diperoleh tersebut ke pihak-pihak yang terkait sehingga informasi yang diperoleh menjadi utuh.

1. Wawancara

Pada hakikatnya wawancara merupakan kegiatan untuk memperoleh informasi secara mendalam tentang permasalahan yang diangkat dalam penelitian. Menurut Miles dan Huberman (1984) ada beberapa tahapan yang harus diperhatikan dalam melakukan wawancara, yaitu:

a. The setting, peneliti perlu mengetahui kondisi lapangan penelitian yang sebenarnya untuk membantu dalam merencanakan pengambilan data. Hal-hal yang perlu diketahui untuk menunjang pelaksanaan pengambilan data meliputi tempat pengambilan data, waktu dan lamanya wawancara, serta biaya yang dibutuhkan. b. The actors, mendapatkan data tentang karakteristik calon partisipan. Di dalamnya

termasuk situasi yang lebih disukai partisipan, kalimat pembuka, pembicaraan pendahuluan dan sikap peneliti dalam melakukan pendekatan.

c. The events, menyusun protokol wawancara. Setidaknya, terdapat dua jenis wawancara, yakni; pertama. wawancara mendalam (in-depth interview), di mana peneliti menggali informasi secara mendalam dengan cara terlibat langsung dengan kehidupan informan dan bertanya jawab secara bebas tanpa pedoman pertanyaan yang disiapkan sebelumnya sehingga suasananya hidup, dan dilakukan berkali-kali. Kedua. wawancara terarah (guided interview) di mana peneliti menanyakan kepada informan hal-hal yang telah disiapkan sebelumnya. Berbeda dengan wawancara mendalam, wawancara terarah memiliki kelemahan, yakni suasana tidak hidup, karena peneliti terikat dengan pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya. Sering terjadi pewawancara atau peneliti lebih memperhatikan daftar pertanyaan yang diajukan daripada bertatap muka dengan informan, sehingga suasana terasa kaku.

Dengan memperhatikan tahapan wawancara tersebut, penulis menyusun pedoman wawancara yang sifatnya fleksibel dan dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Hal tersebut dilakukan penulis, mengingat metode penelitian yang


(34)

digunakan penulis adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, dengan tujuan mendapatkan hasil penelitian secara mendalam.

Wawancara yang dilakukan penulis dalam mengumpulkan data penelitian adalah wawancara mendalam (in-depth interview) secara langsung (face to face). Wawancara dilakukan penulis dari tanggal 10 Juli – 19 Agustus 2013, dengan sumber informan, yang meliputi satu orang pengelola PKBM Mitra Insani, satu orang tutor PAUD Kober PKBM Mitra Insani, satu orang mahasiswi jurusan PLS UPI (praktikan PLP tahun 2013, unit kerja PKBM Mitra Insani) selaku penanggung jawab dan pengelola program parenting, dan tiga orang tua peserta didik PAUD Kober PKBM Mitra Insani yang selalu berpartisipasi dalam setiap program parenting yang diadakan 2. Observasi

Observasi atau pengamatan merupakan suatu teknik atau mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung. Observasi dapat dilakukan secara partisipatif maupun non partisipatif. Dalam observasi partisipatif atau participatory observation, peneliti ikut serta dalam kegiatan yang sedang berlangsung sebagai peserta program kegiatan. Dalam observasi non partisipatif peneliti tidak ikut dalam kegiatan, karena posisi peneliti hanya cukup mengamati kegiatan dengan lebih seksama. Pada penelitian ini yang menjadi objek observasi adalah hasil atau dampak yang diperoleh pihak terkait yaitu pihak orang tua dan pihak penyelenggara program dengan adanya optimalisasi partisipasi dalam program parenting.

3. Studi Dokumentasi

Studi dokumentasi menurut Syaodih (2005: 221) adalah “suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis, gambar maupun elektronik”. Dokumen-dokumen yang dihimpun dipilih sesuai dengan tujuan dan fokus masalah. Dokumen tersebut diurutkan sesuai dengan sejarah kelahiram, kekuatan dan kesesuaian isinya dengan tujuan pengkajian. Isinya dianalisis, dibandingkan yang satu dengan yang lain, dan dipadukan sehingga membentuk satu hasil kajian yang sistematis, terpadu dan utuh.

Dalam penelitian ini, dihimpun berbagai dokumen yang terkait dengan strategi dan bentuk program yang digunakan untuk mencapai optimalisasi penyelenggaraan program parenting, serta hasil (output) yang diperoleh dengan adanya optimalisasi partisipasi orang tua dalam program parenting.


(35)

4. Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan ini digunakan terutama dalam menemukan konsep, landasan teoritis, maupun landasan operasional penelitian untuk menjawab permasalahan penelitian yang diangkat oleh penulis. Selain itu studi, kepustakaan ini juga dilakukan untuk mendapatkan informasi yang terkait dengan manajemen program parenting dan pentingnya partisipasi orang tua dalam suatu program parenting.

5. Triangulasi Data

Penulis menggunakan triangulasi sebagai teknik untuk mengecek keabsahan data. Dimana dalam pengertiannya triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dalam membandingkan hasil wawancara terhadap objek penelitian (Moloeng, 2004: 330). Triangulasi ini selain digunakan untuk mengecek kebenaran data juga dilakukan untuk memperkaya data. Triangulasi menjadi penting karena dapat meningkatkan kedalaman pemahaman peneliti baik mengenai fenomena yang diteliti maupun konteks di mana fenomena itu muncul.

Triangulasi juga dapat berguna untuk menyelidiki validitas tafsiran peneliti terhadap data, karena itu triangulasi bersifat reflektif. Denkin (dalam Moloeng, 2004), membedakan empat macam triangulasi diantaranya dengan memanfaatkan penggunaan sumber data, metode, penyidik dan teori. Dari keempat macam triangulasi tersebut, penulis hanya menggunakan triangulasi metode dan sumber data.

Triangulasi metode dilakukan dengan cara membandingkan informasi atau data dengan cara yang berdeda. Sebagaimana dikenal, dalam penelitian kualitatif peneliti menggunakan metode wawancara dan obervasi. Untuk memperoleh kebenaran informasi yang handal dan gambaran yang utuh mengenai informasi tertentu, peneliti bisa menggunakan metode wawancara bebas dan wawancara terstruktur. Atau, peneliti menggunakan wawancara dan obervasi untuk mengecek kebenarannya. Selain itu, peneliti juga bisa menggunakan informan yang berbeda untuk mengecek kebenaran informasi tersebut. Melalui berbagai perspektif atau pandangan diharapkan diperoleh hasil yang mendekati kebenaran.

Triangulasi dengan sumber artinya membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif. Adapun untuk mencapai kepercayaan itu, maka ditempuh langkah sebagai berikut :


(36)

a. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.

b. Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi.

c. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu.

d. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan masyarakat dari berbagai kelas.

e. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.

Dalam penelitian ini, yang menjadi sumber data adalah subjek penelitian dan data pendukung lainnya, yang meliputi; pihak penyelenggara program parenting yaitu pengelola PKBM Mitra Insani (Ketua PKBM), satu orang tutor PAUD Kober PKBM Mitra Insani, satu orang mahasiswa praktikan PLP tahun 2013 selaku penanggung jawab program parenting yang diadakan, dan tiga orang tua peserta didik Kober PKBM Mitra Insani. Sumber data tersebut dapat dijadikan sebagai dasar untuk melakukan triangulasi, sehingga jawaban pertanyaan penelitian valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

H. Analisis Data

Analisa data dalam penelitian kualitatif bersifat induktif dan berkelanjutan yang tujuan akhirnya menghasilkan pengertian-pengertian, konsep-konsep dan pembangunan suatu teori baru, contoh dari model analisa kualitatif ialah analisa domain, analisa taksonomi, analisa komponensial, analisa tema kultural, dan analisa komparasi konstan (grounded theory research).

Berkenaan dengan pengolahan dan analisis data, Moleong (2004: 248), menjelaskan bahwa, analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisir data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintetiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, serta memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.

Pengolahan dan analisis data dalam penelitian ini mencakup langkah-langkah sebagai berikut:


(37)

Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dokumentasi yang dicatat dalam catatan lapangan yang terdiri atas catatan deskriptif yang merupakan catatan tentang apa yang dilihat, diamati, disaksikan, didengar, dan dialami sendiri oleh peneliti. Pengumpulan data ini menyangkut semua hal yang berkaitan dengan proses pelaksanaan program parenting, dan bagaimana partisipasi orang tua dalam mengikuti program parenting tersebut, baik dilihat dari segi motivasi berpartisipasinya, dan bentuk partisipasinya.

Catatan deskriptif ini merupakan data alami dari lapangan, tanpa adanya komentar dan tafsiran dari peneliti tentang fenomena yang dijumpai. Sedangkan catatan reflektif merupakan catatan yang berisi kesan, komentar, pendapat, gagasan atau ide, dan tafsiran peneliti tentang fenomena yang dijumpai.

2. Reduksi Data

Reduksi data adalah proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan atau menyingkat data dalam bentuk uraian laporan terperinci dan sistematis, menonjolkan pokok-pokok yang penting agar lebih mudah dikendalikan, lebih mudah digolongkan, membuang yang tidak perlu, yang akan memberikan gambaran menjadi lebih terarah tentang hasil pengamatan dan juga mempermudah peneliti untuk mencari kembali data itu apabila diperlukan. Proses reduksi data ini dilakukan secara terus menerus selama penelitian berlangsung.

3. Penyajian Data

Penyajian data merupakan upaya untuk menyajikan data guna melihat gambaran keseluruhan data atau bagian-bagian tertentu dari penelitian. Penyajian data yang sering digunakan dalam penelitian kualitatif adalah dalam bentuk teks naratif dari catatan lapangan.

Agar peneliti tidak tergelincir dalam pengambilan kesimpulan yang terlihat memihak dan tidak berdasar, maka peneliti akan mengadakan koding data, klasifikasi data, serta memberikan penggolongan kembali sesuai fokus masalahnya berdasarkan pertanyaan penelitian yang diajukan dan pedoman wawancara untuk pihak penyelenggara program parenting dan para orang tua peserta didik Kober PKBM Mitra Insani yang ikut berpartisipasi pada program parenting.

4. Penarikan Kesimpulan dan verifikasi

Kesimpulan dan verifikasi adalah upaya untuk mencari makna terhadap data yang dikumpulkan dengan mencari pola, tema, hubungan, persamaan, hal-hal yang


(38)

sering timbul dan sebagainya. Pada awalnya kesimpulan sementara masih sangat kabur, namun kemudian dengan bertambahnya data maka kesimpulan akan lebih mantap dan kokoh serta dapat dipertanggungjawabkan, dan kesimpulan yang ada senantiasa diverifikasi selama penelitian berlangsung.

Hal tersebut didukung pula melalui peninjauan ulang terhadap catatan lapangan dan hasil wawancara mendalam (in-depth interview) dengan orang-orang yang terlibat dalam penelitian Optimalisasi Partisipasi Orang Tua dalam Program Parenting, untuk menempatkan temuan yang dihasilkan dari penelitian lapangan.


(1)

2. Bentuk Program yang digunakan Pihak Penyelenggara Program untuk Mengoptimalisasikan Partisipasi Orang Tua dalam Program Parenting

Selain pengggunaan strategi yang tepat, pihak penyelenggara parenting juga perlu memperhatikan bentuk program yang akan digunakan pada program parenting yang akan dilaksanakan untuk mencapai partisipasi orang tua yang optimal. Bentuk program yang sifatnya praktis dan mengutamakan aplikasi adalah bentuk program yang digunakan pihak penyelenggara parenting di PKBM Mitra Insani yang dapat mencapai optimalisasi partisipasi orang tua. Bentuk program yang sifatnya praktis, atau mengutamakan aplikasi artinya kurikulum atau isi programnya lebih menekankan pada pemilikan keterampilan yang bermanfaat bagi kehidupan peserta parenting dan lingkungannya. Dengan kata lain, isi kurikulum dalam bentuk program yang sifatnya praktis lebih difokuskan agar para peserta program memiliki suatu keterampilan yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga memiliki kebermanfaatan bagi dirinya dan lingkungannya.

Bentuk program parenting yang telah diterapkan di PKBM Mitra Insani adalah penyuluhan, pelatihan, dan program “Mega Skills”. Dari ketiga bentuk program parenting tersebut, bentuk program yang dapat mengoptimalisasikan partisipasi orang tua dalam program parenting adalah pelatihan, yaitu pada program “Pelatihan Membuat APE Daur Ulang”. Bentuk program pelatihan digunakan pihak penyelenggara karena atas dasar hasil identifikasi kebutuhan para orang tua yang menginginkan alat permainan yang edukatif untuk anaknya namun permainnya tetap aman, murah, dan mudah dibuat. Selain karena programnya dibuat berdasarkan kebutuhan, penyampaian metode demonstrasi yang menarik dari narasumber membuat orang tua menjadi lebih mudah memahami tujuan parenting yang ingin dicapai, dan manfaat dari parenting dengan bentuk program pelatihan juga dapat dirasakan secara langsung bagi orang tua yang mengikuti, lembaga, dan para peserta didik.

3. Hasil atau keluaran yang diperoleh dengan Adanya Optimalisasi Partisipasi Orang Tua dalam Program Parenting

Hasil atau keluaran dengan adanya optimalisasi partisipasi orang tua dalam program parenting diperoleh baik dari pihak lembaga penyelenggara maupun pihak orang tua. Hasil atau keluaran (output) program parenting bagi pihak lembaga penyelenggara dengan adanya optimalisasi partisipasi orang tua dalam program


(2)

parenting adalah dapat dijadikan sebagai bukti bahwa program parenting yang diselenggarakan PKBM Mitra Insani berkualitas dan diminati oleh para orang tua peserta didik, karena bisa membuat orang tua berpartisipasi secara optimal didalamnya. Sedangkan yang menjadi indikator hasil adanya optimalisasi partisipasi orang tua dalam program parenting bagi pihak orang tua itu meliputi dua indikator, yaitu indikator pertama adalah kuantitas jumlah peserta parenting yang mampu memahami materi parenting yang disampaikan oleh narasumber, dan indikator kedua yaitu kualitas peserta parenting dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Hasil atau keluaran (output) bagi pihak orang tua dengan adanya optimalisasi partisipasi orang tua dalam program parenting dari segi afektif adalah perubahan dalam hal memperhatikan seluruh aspek perkembangan anak, khususnya aspek sosial emosional pada anak menjadi lebih diperhatikan. Hasil atau keluaran (output) bagi pihak orang tua dari segi kognitif adalah diperolehnya pengetahuan baru seputar pengasuhan yang tepat sesuai dengan tahapan perkembangan anak, sehingga informasi tersebut dapat langsung diterapkan pada anak dengan harapan menimbulkan dampak perubahan yang positif dalam diri anak. Sedangkan hasil atau keluaran (output) bagi pihak orang tua dari segi psikomotorik adalah adanya perubahan yang signifikan dalam hal keterampilan membuat APE daur ulang dan adanya perubahan dalam hal mengasuh dan mendidik anak. Hal ini terbukti dari pernyataan informan, yang menyatakan perubahan penerapan pola asuh dari yang sifatnya permissive menjadi pola asuh yang demokratis.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah penulis lakukan, dapat dikemukakan beberapa hal yang dapat dijadikan masukan dan bahan pertimbangan bagi beberapa pohak terkait yang berhubungan dengan Optimalisasi Partisipasi Orang Tua dalam Program Parenting adalah sebagai berikut:

1. Saran bagi Lembaga PKBM Mitra Insani

Lembaga PKBM Mitra Insani merupakan salah satu lembaga pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program parenting dengan sangat baik karena program parenting yang diselenggarakan dapat mencapai partisipasi orang tua yang optimal didalamnya. Walaupun sudah terselenggara dengan baik, namun tetap terdapat beberapa kelemahan yang perlu segera dicari solusinya agar kelemahan tersebut


(3)

nantinya tidak menganggu pelaksanaan parenting di waktu yang akan datang. Kelemahan tersebut adalah belum adanya kepengurusan panitia yang terstuktur dengan baku, sehingga akan mengakibatkan kurangnya tanggung jawab dalam melaksanakan job desk. Seharusnya pihak lembaga PKBM Mitra Insani segera membentuk kengurusan panitia khusus untuk penyelenggaraan program parenting agar pembagian jobdesk juga menjadi merata dan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, sehingga kinerja para panitia tersebut menjadi jelas dan lebih optimal. Tentunya pembentukan kepengurusan panitia khusus penyelenggaraan parenting akan berdampak positif pada manajemen atau pengelolaan programnya.

2. Saran bagi Keluarga

Setiap keluarga khususnya para orang tua memiliki tanggung jawab yang utama dan pertama dalam hal mengasuh dan mendidik anak, sekalipun anak sudah dimasukkan dalam suatu lembaga pendidikan, namun tetap saja orang tua tidak bisa lepas tanggung jawab. Orang tua dan anggota keluarga lainnya harus mampu menciptakan kesinambungan dan konsistensi dalam hal mengasuh dan mendidik anak, khususnya nak usia dini yang masih dalam usia kritis atau golden age. Dengan kata lain, ketika anak di rumah, orang tua perlu memperhatikan dan meneruskan pengasuhan dan pendidikan yang dilakukan di lembaga pendidikan formal maupun non formal.

Kesinambungan serta konsistensi pengasuhan dan pendidikan tersebut dapat diwujudkan apabila orang tua dapat berpartisipasi dalam program parenting yang diselenggarakan di lembaga pendidikan tempat anaknya menuntut ilmu. Walaupun orang tua memiliki kesibukan pekerjaan yang padat, namun seharusnya orang tua tetap menyempatkan waktunya untuk turut berpartisipasi di dalam program parenting, karena melalui parenting orang tua dan lembaga pendidikan dapat menciptakan suatu pengasuhan dan pendidikan yang konsisten, sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, sesuai dengan usia dan tahap perkembangannya.

Partisipasi orang tua dapat dimulai dari tingkat partisipasi yang paling kecil yaitu dengan berpartisipasi secara fisik, atau dengan kata lain ikut datang menghadiri setiap program parenting yang diselenggarakan. Dari berpartisipasi secara fisik, diharapkan orang tua tersebut menjadi semakin termotivasi dan peduli untuk turut serta dalam kegiatan parenting, sehingga nantinya tidak hanya berpartisipasi dalam pelaksanaannya saja, namun dapat berpartisipasi dari proses perencanaaan dan evaluasi.


(4)

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku:

Irene, S. (2011). Desentralisasi dan Partisipasi Masyarakat dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Kamil, Mustofa. (2007). Mengembangkan Pendidikan Nonformal melalui PKBM di Indonesia (Sebuah Pembelajaran dari Kominkan di Jepang). Tsukuba: Criced University of Tsukuba

Moleong, Lexy. (2004). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya

Nasution, Z. (2009). Solidaritas Sosial dan Partisipasi Masyarakat Desa Transisi: Suatu Tinjauan Sosiologis. Malang: Ummi Press

Nazir, Mohamad. (2005). Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia

Notoatmodjo, Soekidjo. (2007). Kesehatan Masyarakat: Ilmu dan Seni. Jakarta: Rineka Cipta Sudjana, D. (2001). Pendidikan Luar Sekolah: Wawasan, Sejarah, Perkembangan, Falsafah dan

Teori Pendukung Asas. Bandung: Falah Production

Sudjana, D. (2010). Manajemen Program Pendidikan: untuk Pendidikan Nonformal dan Pengembangan Sumber Daya Manusia . Bandung: Falah Production

Sudjana, S. (2001). Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah, Makalah, Skripsi, Tesis, Disertasi. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Syaodih, Nana. (2005). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya

Sumber Selain dari Jurnal dan Buku:

Kementrian Pendidikan Nasional. (2011). Petunjuk Teknis Orientasi Teknis Peningkatan Pemahaman Program Penguatan PAUD Berbasis Keluarga (Parenting). Jakarta: Kemendiknas

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. (2012). Model Pelaksanaan Program Pendidikan Keorangtuaan di Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Kemendikbud

Kholilah, Lilis. (2012). Partisipasi Orang Tua Warga Belajar dalam Program Pembuatan APE dari Bahan Daur Ulang di Kober Al-Amanah Desa/Keluarahan Padalarang Kabupaten Bandung Barat. Skripsi Sarjana pada UPI Bandung: tidak diterbitkan


(5)

Permana, Vera. (2012). Upaya Tutor dalam Meningkatkan Pola Asuh yang Kreatif Bagi Orang Tua Melalui Program Parenting di Kober Bunda Ganesa Bandung. Skripsi Sarjana pada UPI Bandung: tidak diterbitkan

Subastian, Andi (2012). Hubungan Tingkat Partisipasi Mahasiswa dalam Aktivitas Organisasi Kemahasiswaan dengan Self Efficacy Mahasiswa di UPI. Skripsi Sarjana pada UPI Bandung: tidak diterbitkan

Sukmana, C. (2009). Partisipasi dan Persepsi Tokoh Masyarakat terhadap Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) As-Shodiq Desa Pagerwangi Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat. Skripsi Sarjana pada UPI Bandung: tidak diterbitkan

Sutanto. (2008). Partisipasi Masyarakat dalam Pelestarian Sungai Cikapundung melalui Pengelolaan Sampah oleh Ibu-ibu Kelurahan Tamansari Kota Bandung. Skripsi Sarjana pada UPI Bandung: tidak diterbitkan

Undang-Undang Dasar No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Sumber dari Internet:

Alvita, O. (2009). Konsep Pengasuhan (Parenting). [Online]. Tersedia: http://okvina.wordpress.com. [1 April 2013]

KBBI. (2008). Optimalisasi. [Online]. Tersedia: http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php. [29 Maret 2013]

Mahmudisiwi. (2012). Memahami Konsep Partisipasi. [Online]. Tersedia: http://mahmudisiwi.staff.ipb.ac.id/2012/03/08/memahami-konsep-partisipasi/. [29 Maret 2013]

Malihah, Elly. (2012). Metodologi Penelitian Kualitatif. [Online]. Tersedia:

http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/M_K_D_U/196604251992032-ELLY_MALIHAH/Dasar_Met_Penelt_Sos_%26_pend,_Elly_malihah,SPS/BAB_VIII.pd f. [27 Juni 2013]

Norhayati, Atik. (2011). Definisi Partisipasi. [Online]. Tersedia: http://www.majalahpendidikan.com/2011/05/definisi-partisipasi.html. [30 Maret 2013] Putri, Dani Septi. (2010). Penerapan Prinsip Andragogi dalam Proses Pembelajaran Bahasa

China Bagi Pelayan Restoran di Orient Restaurant Surakarta. [Online]. Tersedia: http://eprints.uns.ac.id/333/1/166820209201012211.pdf. [1 Juli 2013]


(6)

Turindra, Azis. (2009). Pengertian Partisipasi. [Online]. Tersedia: http://turindraatp.blogspot.com/2009/06/pengertian-partisipasi.html. [30 Maret 2013] Sudrajat, Akhmad. (2008). Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, dan Model Pembelajaran.

[Online]. Tersedia: http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/09/12/pendekatan-strategi-metode-teknik-dan-model-pembelajaran/. [2 April 2013]

Sembiring, Rahmayani. (2012). Subjek Penelitian. [Online]. Tersedia: http://rahmayanisembiring.blogspot.com/2012/12/subjek-penelitian.html. [1 Mei2013]


Dokumen yang terkait

Partisipasi Masyarakat Pedesaan Dalam Program Paket C di PKBM Baiturrahman Kecamatan Wonokerto Kabupaten Pekalongan

0 4 151

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MENDUKUNG KEBERHASILAN POS PEMBERDAYAAN KELUARGA FLAMBOYAN DI DESA KAYUAMBON KECAMATAN LEMBANG KABUPATEN BANDUNG BARAT.

1 1 36

IMPLEMENTASI PROGRAM PARENTING UNTUK MENINGKATKAN KAPASITAS PENGASUHAN ORANG TUA DI KOBER BUNGA NUSANTARA : Studi Deskriptif pada Kober PKBM Jayagiri Kecamatan Lembang.

4 12 31

PARTISIPASI ORANG TUA DALAM PENYELENGGARAAN PROGRAM PAUD DI POS PAUD. (STUDI DESKRIPTIF DI POS PAUD MELATI 03 JAYAGIRI LEMBANG.

0 4 36

PERAN KADER BINA KELUARGA BALITA (BKB) DALAM OPTIMALISASI FUNGSI EDUKASI KELUARGA PADA ORANG TUA BKB : Studi Deskriptif Di BKB Amarilis Mengenai Penyuluhan Pola Asuh Dalam Keluarga Di Dusun Tegal Mantri Kelurahan Lembang Kabupaten Bandung Barat.

0 2 49

PERAN KADER BINA KELUARGA BALITA (BKB) DALAM OPTIMALISASI FUNGSI EDUKASI KELUARGA PADA ORANG TUA BKB : Studi Deskriptif Di BKB Amarilis Mengenai Penyuluhan Pola Asuh Dalam Keluarga Di Dusun Tegal Mantri Kelurahan Lembang Kabupaten Bandung Barat.

0 1 49

PERANAN ORANG TUA DALAM MENINGKATKAN KEBERHASILAN PROGRAM PAUD PADA PKBM AZ-ZAHRA KELURAHAN TAMAN SARI KECAMATAN BANDUNG WETAN KOTA BANDUNG.

0 7 52

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROGRAM KEWIRAUSAHAAN DI PKBM BINA TERAMPIL MANDIRI KABUPATEN BANDUNG BARAT - repository UPI S PLS 1105414 Title

0 0 3

OPTIMALISASI PARTISIPASI ORANG TUA DALAM PROGRAM PARENTING DI PAUD WISANA BANDUNG - repository UPI S PLS 1102801 Title

0 0 4

IMPLEMENTASI PROGRAM PARENTING UNTUK MENINGKATKAN KAPASITAS PENGASUHAN ORANG TUA DI KOBER BUNGA NUSANTARA : Studi Deskriptif pada Kober PKBM Jayagiri Kecamatan Lembang - repository UPI S PLS 1001378 Title

0 0 3