S PAUD 1100390 Chapter1

(1)

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang

UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa tujuan pendidikan Nasional yaitu :

“Berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan menjadi warga Negara yang demokratis, serta bertanggung jawab. Tujuan pendidikan tersebut merupakan tujuan utama dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang lebih baik dari segi spiritual, kognitif, afektif, emosi, sosial, dan kemandirian yang merupakan wujud kepribadian bangsa yang berkarakter. Program ini menurut Departeman Pendidikan Nasional adalah suatu upaya pembinan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani serta rohani sejak berusia dini.”

Pendidikan Anak Usia Dini merupakan upaya yang yang terencana dan sistematis dilakukan oleh pendidik atau pengasuh anak usia 0-8 tahun dengan tujuan agar anak mampu mengembangkan potensi yang dimiliki secara optimal dan pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang sifatnya sangat mendasar.

Masa usia dini merupakan masa emas didalam perkembangan anak yang dikenal sebagai masa emas perkembangan (Golden age development), yang merupakan masa pertumbuhan cepat baik fisik maupun non fisik. Utamanya Juntika (2011, hlm. 25) berpendapat mengenai organ otak anak usia dini sebagai berikut:

“Organ otak yang berkembang pesat sampai 60% jika mendapat stimulasi yang tepat dari lingkungannya. Pada usia ini anak masih sangat rentan, yang apabila penanganannya tidak tepat justru dapat merugikan anak itu sendiri”.Pemberian pendidikan pada anak usia dini diakui sebagai periode yang sangat penting dalam membangun sumber daya manusia dan periode ini hanya datang sekali serta tidak dapat diulang lagi, sehingga stimulasi dini yang salah satunya adalah pendidikan mutlak diperlukan”.

Hal tersebut sudah diatur dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan nonformal diharapkan dapat membantu dan menunjang pendidikan formal dalam mencerdaskan peserta didik serta membantu


(2)

peserta didik dalam mengimplementasikan ilmu yang didapatkan di pendidikan formal.

Dalam jurnal Para ahli sepakat, tahun-tahun pertama kehidupan seseorang akan sangat mempengaruhi kehidupannya pada masa yang akan datang. Ahli psikologi dalam jurnal kegiatan pendidikan anak usia prasekolah, Bredecamp (1997) mengungkapkan bahwa:

“Nonformaleducation sebagai setiap kegiatan pendidikan yang diorganisasikan diluar sistem persekolahan yang mapan baik dilakukan secara terpisah atau sebagai bagian penting dari kegiatan yang lebih besar, dilakukan secara sengaja untuk melayani peserta didik tertentu guna mencapai tujuan belajarnya”.

Landasan konseptual yang mendasari pentingnya pendidikan anak usia dini adalah penemuan para ahli mengenai tumbuh kembang anak, khususnya di bidang

neuriscience dan psikologi”.

Menurut Wittrock, dalam Trisnamansyah (2003, hlm.19) ada tiga wilayah perkembangan otak yang mengalami peningkatan pesat pada usia dini, yaitu:

“Pertumbuhan serabut dendrite, kompleksitas hubungan sinapsis, dan pembagian sel saraf. Ketiga wilayah otak tersebut sangat penting untuk dikembangkan sejak usia dini, karena hanya pada usia inilah ketiga wilayah otak tersebut mengalami perkembangan secara maksimal”.

Pendidikan merupakan investasi yang paling utama bagi bangsa, apalagi bagi bangsa yang sedang berkembang. Pembangunan hanya dapat dilakukan oleh manusia yang dipersiapkan untuk itu melalui pendidikan. Pendidikan merupakan ujung tombak bagi kemajuan bangsa. Jika pendidikan suatu bangsa baik maka baik pulalah generasi penerusnya. Sementara itu, baik atau tidaknya pendidikan disuatu bangsa dapat dilihat dari pelaksanaan serta orientasi sistem pendidikan tersebut. Semakin jelas pendidikan itu, maka semakin tampak pula perkembangan dan kemajuan suatu bangsa.

Tim pengembang kurikulum PG PAUD Dirjen PT, 2002 (dalam Hibana 2000, hlm 22) menyatakan bahwa:

“Sekolah merupakan lembaga publik yang mempunyai tugas untuk memberikan pelayanan kepada publik, khususnya pelayanan untuk peserta


(3)

didik yang menuntut pendidikan. Pendidikan merupakan usaha sadar agarmanusia mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran” Fungsi utama sekolah adalah pembinaan dan pengembangan semua potensi individu terutama pengembangan potensi fisik, intelektual dan moral setiap peserta didik. Maka sekolah harus dapat berfungsi sebagai tempat pendidikan formal untukm engembangkan semua potensi peserta didik sebagai sumber daya manusia. Sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Pendapat Sugandi (2005, hlm. 51) terkait dengan hal proses pendidikan yaitu: “Untuk menghasilkan ouput yang berkualitas tidak terjadi begitu saja dalam suatu lembaga pendidikan tetapi ini memerlukan suatu yang efektif dan efisien. Kualitas yang baik dalam suatu lembaga pendidikan ditentukan oleh suatu perencanaan yang baik dalam suatu manajemen. Oleh karena itu, dalam menentukan tujuan yang baik dalam suatu lembaga pendidikan supaya menghasilkan output yang berkualitas dibutuhkan pengelolaan manajemen yang baik”.

Dalam melaksanakan sesuatu dengan tertib, teratur dan terarah diperlukan adanya manajemen. Manajemen merupakan seni untuk melaksanakan pekerjaan melalui orang-orang. Berdasarkan kenyataan manajemen mencapai tujuan organisasi dengan cara mengatur orang lain. Dapat disimpulkan manajemen atau pengelolaan merupakan komponen integral dan tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan secara keseluruhan, tanpa manajemen tidak mungkin tujuan pendidikan dapat diwujudkan secara optimal, efektif dan efisien. Konsep tersebut berlaku disemua lembaga pendidikan atau institusi yang memerlukan manajemen yang efektif dan efisien. Maksud efektif dan efisien adalah berhasil guna dan berdaya guna. Artinya, bahwa manajemen yang berhasil mencapai tujuan dengan penghematan tenaga, waktu dan biaya. Sesuai dengan pendapat Fattah (2003,hlm.5) yang menyatakan proses pendidikan sebagai berikut:

“proses pendidikan yang baik memerlukan sarana dan prasarana atau fasilitas yang memadai, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam hal ini yang berkaitan langsung dengan proses pendidikan seperti gedung, ruang


(4)

belajar/kelas, alat-alat/media pendidikan, meja, kursi dan sebagainya. Sedangkan yang tidak berkaitan langsung seperti halaman, kebun, taman dan jalan menuju sekolah”.

Sarana dan prasarana sekolah harus memenuhi standar minimum dalam hal ini dapat dilihat dari PERMENDIKNAS No. 24 Tahun 2007 pasal 1 menyebutkan bahwa:

“Standar sarana dan prasarana untuk sekolah mencakup kriteria minimum sarana dan kriteria minimum prasarana. Penilaian untuk akreditasi sekolah berkenaan dengan sarana dan prasarana harus memenuhi standar sarana dan prasarana minimum”.

Sarana dan prasarana merupakan salah satu bagian dari manajemen yang ada di lembaga pendidikan, sarana dan prasarana mempunyai peran yang sangat penting dalam suatu organisasi, institusi ataupun lembaga pendidikan. Tanpa adanya sarana dan prasarana yang mendukung maka proses pendidikan tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Sarana dan prasarana sangat menunjang keberlangsungan kegiatan belajar mengajar hal ini didukung oleh pendapat Mulyasa (2004, hlm. 49) yang menyebutkan bahwa:

“sarana pendidikan merupakan peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dalam menunjang proses pendidikan. Khususnya proses belajar mengajar, seperti gedung, ruang kelas, meja, kursi, serta alat-alat dan media pengajaran. Adapun prasarana pendidikan ialah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan atau pengajaran, seperti halaman, kebun, taman, jalan menuju tempat belajar, tetapi jika dimanfaatkan secara langsung untuk proses belajar mengajar, tersebut merupakan sarana pendidikan”.

Proses pendidikan memang memerlukan fasilitas atau peralatan, tetapi semua fasilitas atau peralatan harus diadakan sesuai dengan kebutuhan. Jika fasilitas itu sudah diadakan, itu harus dimanfaatkan melalui proses yang optimal. Dalam sistem pendidikan, proses sama pentingnya dengan masukan instrumental dan masukan lingkungan. Semuanya akan menjadi penentu dalam mencapai keluaran (output) dan hasil pendidikan (outcome). Terkait dengan hal diatas, manajemen sarana dan


(5)

prasarana mutlak harus diadakan dalam proses pendidikan. Manajemen sarana dan prasarana pendidikan bertugas mengatur dan menjaga sarana dan prasarana pendidikan agar dapat memberikan kontribusi secara optimal dan berarti pada jalannya proses pendidikan. Agar semua fasilitas dapat digunakan secara optimal dalam proses pendidikan, maka fasilitas tersebut hendaknya dikelola dengan baik. Kegiatan pengelolaan meliputi kegiatan perencanaan, pengadaan, pengawasan, penyimpanan, inventarisasi, dan penghapusan serta penataan.

Fasilitas belajar yang diharapkan guru dan murid akan sangat menunjang proses pembelajaran hal ini dipaparkan oleh Suparlan ( 2008 hlm. 26) menyatakan sebagai berikut:

“Manajemen sarana dan prasarana yang baik diharapkan dapat menciptakan kondisi yang menyenangkan baik bagi guru maupun murid untuk berada di sekolah. Disamping itu juga diharapkan tersedianya alat-alat atau fasilitas belajar yang memadai secara kuantitatif, kualitatif, dan relevan dengan kebutuhan serta dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan proses pendidikan dan pembelajaran, baik oleh guru sebagai pengajar, maupun murid-murid sebagai pelajar”.

Perkembangan zaman yang semakin maju, maka kualitas pendidikan perlu mendapat perhatian utama baik oleh pemerintah maupun orang tua atau masyarakat. Sekolah merupakan sebuah sistem yang memiliki tujuan. Berkaitan dengan upaya mewujudkan tujuan tersebut, seringkali masalah dapat muncul.

Masalah-masalah yang sering muncul menurut pendapat Murniati (2008 hlm. 32) sebagai berikut:

“Dapat dikelompokannya sesuai dengan tugas-tugas administratif yang menjadi tanggung jawab administrator sekolah, sehingga merupakan substansi tugas-tugas administratif kepala sekolah selaku administrator. Diantaranya adalah tugas-tugas yang dikelompokan menjadi substansi perlengkapan sekolah. Upaya peningkatan mutu pendidikan di sekolah perlu didukung kemampuan manajerial Kepala Sekolah. Kepala Sekolah hendaknya berupaya untuk mendayagunakan sumber-sumber, baik personal maupun material, secara efektif dan efisien guna menunjang tercapainya tujuan pendidikan di sekolah secara optimal”.


(6)

Manajemen sekolah akan efektif dan efisien apabila didukung oleh sumber daya manusia yang profesional untuk mengoperasikan sekolah, kurikulum yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan karakteristik siswa, kemampuan dan commitment

(tanggung jawab terhadap tugas) tenaga kependidikan yang handal, dan kesemuanya itu didukung sarana-prasarana yang memadai untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar, dana yang cukup untuk menggaji staf sesuai dengan fungsinya, serta partisipasi masyarakat yang tinggi. Salah satu pendapat yang mendukung hal-hal di atas adalah Mujahid (2012, hlm. 55) adalah sebagai berikut:

“Jika salah satu hal diatas tidak sesuai dengan yang diharapkan atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya, maka efektivitas dan efisiensi manajemen sekolah kurang optimal. Dengan demikian harus ada keseimbangan antara komponen-komponen di atas. Untuk mencapai keseimbangan tersebut, diperlukan pengelola yang mengerti dan memahami prinsip-prinsip dalam pegelolaan sarana prasarana sekolah untuk tercapainya tujuan pendidikan tertentu. Untuk memenuhi kualitas pendidikan tersebut ada beberapa faktor yang sangat mempengaruhi, yaitu salah satunya adalah sarana dan prasarana pendidikan. Selain itu sarana dan prasarana sekolah merupakan salah satu faktor penunjang keberhasilan pendidikan”.

Faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan pengelola sarana prasarana adalah karakteristik perkembangan siswa, keamanan, dan kesesuaian dengan kebutuhan siswa. Jika faktor tersebut tidak mendapat perhatian khusus maka sangat berdampak buruk pada tingkat perkembangan anak. Fenomena yang terdapat di lapangan tidak semua jenjang pendidikan formal memiliki sarana dan prasarana yang memadai seperti halnya tidak tersedianya media pembelajaran, dapur sekolah, permainan indor, permainan outdor yang kurang layak pakai serta kurangnya pemahan dari pihak sekolah untuk mengelolaan sarana dan prasarana yang sangat menujang pembelajaran anak di sekolah, tidak ada staf khusus yang mengelola sarana dan prasarana.

Jumlah kelas di RA AL-Mu’Min berjumlah 3 kelas. 2 kelas A dan 1 kelas B. Dengan jumlah murid keseluruhan 79 orang dan jumlah guru 6 orang. Terdapat hal yang menarik sehingga saya mengambil lokasi penelitian di Raudhatul athfal AL-Mu’min ini karena dalam pengadaan tanah beserta bangunan gedung Raudhatul


(7)

athfal banyak sekali terdapat kontribusi orang tua murid serta masyarakat sekitar dalam hal pengadaan tanah, dan bangunan karena asalnya RA ini adalah TPA yang satu atap dengan mesjid AL-Mu’min, dikarenakan mesjid akan direnovasi maka mengahruskan TPA untuk pindah lokasi terbih dahulu. Adanya bantuan dari warga yang meminjamkan rumahnya untuk dijadikan tempat pembelajaran. Dari situlah adanya ide pihak DKM mesjid AL-mu’min beserta warga bertekat untuk sementara sewa tanah dan bangunan. Biasanya orang tua tanpa diminta pihak sekolah mengadakan rapat 1 bulan sekali dan banyak yang membawa hasil mata pencaharian yang mayoritas sebagian besar petani sayuran, bunga dan pengusaha susu sapi dan mempunyai warung-warung makanan ringan. Orang tua yang membawa mata pencahariannya untuk dijual disekitaran RA dan hasilnya disisihkan sebagian penghasilan dari dagangan yang dijajakan orang tua murid dibayarkan tanah berdirinya Raudhatul Athfal AL-Mu’min. Hal ini berlanjut hingga beberapa tahun dari berita warga sekitar serta orang tua yang anaknya bersekolah di RA ini ikut serta berpartisipasi dalam pengadaan tanah. Namun banyak juga masalah yang saya temui dari hasil observasi di RA AL-Mu’Min sangat kurang sekali perhatian pihak sekolah dalam hal sarana dan prasarana.

Berikut ini saya paparkan kendala yang saya temui dalam hal sarana dan prasarana yang ada di RA AL-Mu’Min. diantaranya:

1. Perencanaan: keterbatasan anggaran atau dana, birokrasi bantuan pemerintah cukup rumit, kemampuan SDM dalam membuat sarana sendiri terbatas, bantuan dari pemerintah terbatas sehingga pengelola sarana dan prasarana pendidikan ditetapkan harus mengusahakan dengan cara lain, tidak ada petugas pendistribusian yang khusus menangani tentang pendistribusian barang sarana prasarana.

2. Pengadaan: kendala terkait pendanaan yang sulit sekali mendapat bantuan.

3. Inventarisasi: model dari buku inventarisasi masih dalam bentuk catatan tangan sehingga tidak membuat efisien pekerjaan sekolah, petugas inventaris merangkap sebagai pengajar.


(8)

4. Pemeliharaan: ada beberapa permainan outdoor yang belum memiliki pengaman dan tidak layak pakai sehingga perlu perhatian yang khusus.

5. Penghapusan: perusakan yang sering dilakukan oleh siswa, apabila barang merupakan barang milik pemerintah, proses penghapusannya pun cukup rumit karena harus sesuai dengan undang-undang tentang penghapusan sarana dan prasarana.

6. Tidak ada petugas khusus atau guru yang bertugas mengelola sarana dan prasarana di RA-AL Mu’Min.

Kendala-kendala tersebut sangat berpengaruh terhadap aspek perkembangan sosial emosi, motorik kognitif, bahasa anak serta tumbuh kembang anak akan terhambat karena sarana dan prasarana memiiki peran penting dalam mewujudkan pembelajaran yang diharapkan. Oleh karena itu manajemen sarana dan prasarana sangat penting dilaksanakan dengan baik dan benar, karena tanpa disadari anak sangat terkena dampak jika manajemen sarana dan prasarana tidak mendapat perhatian khusus dari pihak sekolah.

Dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Lunenburg (2010) yang berjudul “School Fasilities Management’’ dengan nama jurnal National forum of educational administration & supervision journal. Penelitian ini dengan penelitian Lunenburg (2010) memiliki persamaan dan perbedaan. Penelitian Lunenburg (2010) mengkaji tentang pentingnya manajemen sarana dan prasarana sekolah yang dilakukan oleh administrator. Dalam penelitiannya diketahui bahwa salah satu tanggung jawab utama dari administrator sekolah adalah mengelola sarana prasarana sekolah. Bangunan sekolah di seluruh bangsa sudah tua dan menjadi penghalang untuk belajar dan mengajar yang optimal. Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus tunggal. Penelitian ini mengkaji implementasi manajemen sarana dan prasarana yang dilakukan oleh pihak Raudhatul Athfal AL-Mu’min. Oleh karena itu peneliti ingin menelaah lebih jauh dan komprehensif sehingga peneliti mengangkat judul


(9)

penelitian yakni Implementasi Sarana dan Prasarana Pendidikan Anak Usia Dini di Raudhatul Athfal AL-Mu’Min Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas fokus penelitian adalah: bagaimana profil Pengelolaan Sarana dan Prasarana di RA AL-Mu’Min Kecamatan Parongpong. Penulis membatasi masalah kedalam beberapa rumusan, sebagai berikut:

1. Bagaimana perencanaan sarana dan prasarana Pendidikan Anak Usia Dini di RA Al-Mu’Min ?

2. Bagaimana pengadaan sarana dan prasarana Pendidikan Anak Usia Dini di RA Al-Mu’Min ?

3. Bagaimana pendayagunaan sarana dan prasarana Pendidikan Anak Usia Dini di RA Al-Mu’Min ?

4. Bagaimana pengawasan sarana dan prasarana Pendidikan Anak Usia Dini di RA Al-Mu’Min ?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui Perencanaan sarana dan prasarana Pendidikan Anak Usia Dini di RA Al-Mu’Min.

2. Untuk mengetahui Pengadaan Sarana dan Prasarana Pendidikan Anak Usia Dini di RA Al-Mu’Min.

3. Untuk mengetahui pendayagunaan Sarana dan PrasaranaPendidikan Anak Usia Dinidi RA Al-Mu’Min.

4. Untuk mengetahui pengawasan sarana dan Prasarana Pendidikan Anak Usia Dini di RA Al-Mu’Min.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Bagi peneliti


(10)

a. Memberikan gambaran nyata mengenai kendala pengelolaan sarana dan prasarana di RA Al-Mu’Min

b. Memberikan wawasan, pengalaman dan pemahaman pribadi mengenai perencanaan, pengadaan, pendayagunaan, evaluasi serta perbaikan dari pengelolaan sarana dan prasarana.

2. Bagi Peserta Didik

a. Dengan sarana dan prasarana yang memiliki standar dapat membantu anak dalam memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai dengan usianya.

b. Anak mendapatkan pendidikan yang selayaknya harus diberikan di sekolah

3. Bagi orang tua

a. Orang Tua Murid agar lebih aktif berpartisipasi dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan melalui pemberian ide, sarana dan prsarana maupun finansial sebagai upaya meningkatan mutu pendidikan

4. Bagi pihak sekolah

a. Kepala sekolah RA Al-Mu’Min Kabupaten Bandung diharapkan lebih mendukung kegiatan manajemen sarana dan prasarana, dengan cara membuat proses manajemen sarana dan prasarana yang efektif dan efisien serta menyiapkan tenaga-tenaga yang sesuai dengan manajemen sarana dan prasarana.

b. Kepala sekolah diharapkan memberi masukan yang lebih terkait dengan manajemen yang baik dalam setiap melaksanakan program kerja, karena dengan manajemen yang kurang matang mengakibatkan pelaksanaan program kerja tersebut kurang maksimal.

5. Bagi peneliti selanjutnya

Peneliti lain agar dilakukan penelitian pengembangan untuk mengetahui bentuk kegiatan pengelolaan sarana dan prasarana pada lembaga-lembaga


(11)

pendidikan lain, sehingga dapat dijadikan masukan baru bagi kelanjutan di masa yang akan datang.

E. Struktur Organisasi Skripsi

Bab I : Merupakan pendahuluan yang meliputi latar belakang, rumusan masalah tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan. Bab II : Merupakan pengembangan dari landasan teoritis yang berhubungan dengan permasalahan yang dikaji (kajian teori).

Bab III : Merupakan Metodologi penelitian. Pada bab ini penulis menjelaskan metodologi penelitian, teknik pengumpulan data, serta tahapan penelitian yang digunakan dalam penelitian.

Bab IV : Merupakan bab yang mengkaji tentang hasil penelitian dan menganilisis data yang telah diperoleh.

Bab V : Merupakan bab penutup yang berisi tentang simpulan dan saran dari hasil penelitian.


(1)

Manajemen sekolah akan efektif dan efisien apabila didukung oleh sumber daya manusia yang profesional untuk mengoperasikan sekolah, kurikulum yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan karakteristik siswa, kemampuan dan commitment (tanggung jawab terhadap tugas) tenaga kependidikan yang handal, dan kesemuanya itu didukung sarana-prasarana yang memadai untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar, dana yang cukup untuk menggaji staf sesuai dengan fungsinya, serta partisipasi masyarakat yang tinggi. Salah satu pendapat yang mendukung hal-hal di atas adalah Mujahid (2012, hlm. 55) adalah sebagai berikut:

“Jika salah satu hal diatas tidak sesuai dengan yang diharapkan atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya, maka efektivitas dan efisiensi manajemen sekolah kurang optimal. Dengan demikian harus ada keseimbangan antara komponen-komponen di atas. Untuk mencapai keseimbangan tersebut, diperlukan pengelola yang mengerti dan memahami prinsip-prinsip dalam pegelolaan sarana prasarana sekolah untuk tercapainya tujuan pendidikan tertentu. Untuk memenuhi kualitas pendidikan tersebut ada beberapa faktor yang sangat mempengaruhi, yaitu salah satunya adalah sarana dan prasarana pendidikan. Selain itu sarana dan prasarana sekolah merupakan salah satu faktor penunjang keberhasilan pendidikan”.

Faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan pengelola sarana prasarana adalah karakteristik perkembangan siswa, keamanan, dan kesesuaian dengan kebutuhan siswa. Jika faktor tersebut tidak mendapat perhatian khusus maka sangat berdampak buruk pada tingkat perkembangan anak. Fenomena yang terdapat di lapangan tidak semua jenjang pendidikan formal memiliki sarana dan prasarana yang memadai seperti halnya tidak tersedianya media pembelajaran, dapur sekolah, permainan indor, permainan outdor yang kurang layak pakai serta kurangnya pemahan dari pihak sekolah untuk mengelolaan sarana dan prasarana yang sangat menujang pembelajaran anak di sekolah, tidak ada staf khusus yang mengelola sarana dan prasarana.

Jumlah kelas di RA AL-Mu’Min berjumlah 3 kelas. 2 kelas A dan 1 kelas B. Dengan jumlah murid keseluruhan 79 orang dan jumlah guru 6 orang. Terdapat hal yang menarik sehingga saya mengambil lokasi penelitian di Raudhatul athfal AL-Mu’min ini karena dalam pengadaan tanah beserta bangunan gedung Raudhatul


(2)

athfal banyak sekali terdapat kontribusi orang tua murid serta masyarakat sekitar dalam hal pengadaan tanah, dan bangunan karena asalnya RA ini adalah TPA yang satu atap dengan mesjid AL-Mu’min, dikarenakan mesjid akan direnovasi maka mengahruskan TPA untuk pindah lokasi terbih dahulu. Adanya bantuan dari warga yang meminjamkan rumahnya untuk dijadikan tempat pembelajaran. Dari situlah adanya ide pihak DKM mesjid AL-mu’min beserta warga bertekat untuk sementara sewa tanah dan bangunan. Biasanya orang tua tanpa diminta pihak sekolah mengadakan rapat 1 bulan sekali dan banyak yang membawa hasil mata pencaharian yang mayoritas sebagian besar petani sayuran, bunga dan pengusaha susu sapi dan mempunyai warung-warung makanan ringan. Orang tua yang membawa mata pencahariannya untuk dijual disekitaran RA dan hasilnya disisihkan sebagian penghasilan dari dagangan yang dijajakan orang tua murid dibayarkan tanah berdirinya Raudhatul Athfal AL-Mu’min. Hal ini berlanjut hingga beberapa tahun dari berita warga sekitar serta orang tua yang anaknya bersekolah di RA ini ikut serta berpartisipasi dalam pengadaan tanah. Namun banyak juga masalah yang saya temui dari hasil observasi di RA AL-Mu’Min sangat kurang sekali perhatian pihak sekolah dalam hal sarana dan prasarana.

Berikut ini saya paparkan kendala yang saya temui dalam hal sarana dan prasarana yang ada di RA AL-Mu’Min. diantaranya:

1. Perencanaan: keterbatasan anggaran atau dana, birokrasi bantuan pemerintah cukup rumit, kemampuan SDM dalam membuat sarana sendiri terbatas, bantuan dari pemerintah terbatas sehingga pengelola sarana dan prasarana pendidikan ditetapkan harus mengusahakan dengan cara lain, tidak ada petugas pendistribusian yang khusus menangani tentang pendistribusian barang sarana prasarana.

2. Pengadaan: kendala terkait pendanaan yang sulit sekali mendapat bantuan.

3. Inventarisasi: model dari buku inventarisasi masih dalam bentuk catatan tangan sehingga tidak membuat efisien pekerjaan sekolah, petugas inventaris merangkap


(3)

4. Pemeliharaan: ada beberapa permainan outdoor yang belum memiliki pengaman dan tidak layak pakai sehingga perlu perhatian yang khusus.

5. Penghapusan: perusakan yang sering dilakukan oleh siswa, apabila barang merupakan barang milik pemerintah, proses penghapusannya pun cukup rumit karena harus sesuai dengan undang-undang tentang penghapusan sarana dan prasarana.

6. Tidak ada petugas khusus atau guru yang bertugas mengelola sarana dan prasarana di RA-AL Mu’Min.

Kendala-kendala tersebut sangat berpengaruh terhadap aspek perkembangan sosial emosi, motorik kognitif, bahasa anak serta tumbuh kembang anak akan terhambat karena sarana dan prasarana memiiki peran penting dalam mewujudkan pembelajaran yang diharapkan. Oleh karena itu manajemen sarana dan prasarana sangat penting dilaksanakan dengan baik dan benar, karena tanpa disadari anak sangat terkena dampak jika manajemen sarana dan prasarana tidak mendapat perhatian khusus dari pihak sekolah.

Dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Lunenburg (2010) yang berjudul “School Fasilities Management’’ dengan nama jurnal National forum of educational administration & supervision journal. Penelitian ini dengan penelitian Lunenburg (2010) memiliki persamaan dan perbedaan. Penelitian Lunenburg (2010) mengkaji tentang pentingnya manajemen sarana dan prasarana sekolah yang dilakukan oleh administrator. Dalam penelitiannya diketahui bahwa salah satu tanggung jawab utama dari administrator sekolah adalah mengelola sarana prasarana sekolah. Bangunan sekolah di seluruh bangsa sudah tua dan menjadi penghalang untuk belajar dan mengajar yang optimal. Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus tunggal. Penelitian ini mengkaji implementasi manajemen sarana dan prasarana yang dilakukan oleh pihak Raudhatul Athfal AL-Mu’min. Oleh karena itu peneliti ingin menelaah lebih jauh dan komprehensif sehingga peneliti mengangkat judul


(4)

penelitian yakni Implementasi Sarana dan Prasarana Pendidikan Anak Usia Dini di Raudhatul Athfal AL-Mu’Min Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas fokus penelitian adalah: bagaimana profil Pengelolaan Sarana dan Prasarana di RA AL-Mu’Min Kecamatan Parongpong. Penulis membatasi masalah kedalam beberapa rumusan, sebagai berikut:

1. Bagaimana perencanaan sarana dan prasarana Pendidikan Anak Usia Dini di RA Al-Mu’Min ?

2. Bagaimana pengadaan sarana dan prasarana Pendidikan Anak Usia Dini di RA Al-Mu’Min ?

3. Bagaimana pendayagunaan sarana dan prasarana Pendidikan Anak Usia Dini di RA Al-Mu’Min ?

4. Bagaimana pengawasan sarana dan prasarana Pendidikan Anak Usia Dini di RA Al-Mu’Min ?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui Perencanaan sarana dan prasarana Pendidikan Anak Usia Dini di RA Al-Mu’Min.

2. Untuk mengetahui Pengadaan Sarana dan Prasarana Pendidikan Anak Usia Dini di RA Al-Mu’Min.

3. Untuk mengetahui pendayagunaan Sarana dan PrasaranaPendidikan Anak Usia Dinidi RA Al-Mu’Min.

4. Untuk mengetahui pengawasan sarana dan Prasarana Pendidikan Anak Usia Dini di RA Al-Mu’Min.

D. Manfaat Penelitian


(5)

a. Memberikan gambaran nyata mengenai kendala pengelolaan sarana dan prasarana di RA Al-Mu’Min

b. Memberikan wawasan, pengalaman dan pemahaman pribadi mengenai perencanaan, pengadaan, pendayagunaan, evaluasi serta perbaikan dari pengelolaan sarana dan prasarana.

2. Bagi Peserta Didik

a. Dengan sarana dan prasarana yang memiliki standar dapat membantu anak dalam memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai dengan usianya.

b. Anak mendapatkan pendidikan yang selayaknya harus diberikan di sekolah

3. Bagi orang tua

a. Orang Tua Murid agar lebih aktif berpartisipasi dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan melalui pemberian ide, sarana dan prsarana maupun finansial sebagai upaya meningkatan mutu pendidikan

4. Bagi pihak sekolah

a. Kepala sekolah RA Al-Mu’Min Kabupaten Bandung diharapkan lebih mendukung kegiatan manajemen sarana dan prasarana, dengan cara membuat proses manajemen sarana dan prasarana yang efektif dan efisien serta menyiapkan tenaga-tenaga yang sesuai dengan manajemen sarana dan prasarana.

b. Kepala sekolah diharapkan memberi masukan yang lebih terkait dengan manajemen yang baik dalam setiap melaksanakan program kerja, karena dengan manajemen yang kurang matang mengakibatkan pelaksanaan program kerja tersebut kurang maksimal.

5. Bagi peneliti selanjutnya

Peneliti lain agar dilakukan penelitian pengembangan untuk mengetahui bentuk kegiatan pengelolaan sarana dan prasarana pada lembaga-lembaga


(6)

pendidikan lain, sehingga dapat dijadikan masukan baru bagi kelanjutan di masa yang akan datang.

E. Struktur Organisasi Skripsi

Bab I : Merupakan pendahuluan yang meliputi latar belakang, rumusan masalah tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan. Bab II : Merupakan pengembangan dari landasan teoritis yang berhubungan dengan permasalahan yang dikaji (kajian teori).

Bab III : Merupakan Metodologi penelitian. Pada bab ini penulis menjelaskan metodologi penelitian, teknik pengumpulan data, serta tahapan penelitian yang digunakan dalam penelitian.

Bab IV : Merupakan bab yang mengkaji tentang hasil penelitian dan menganilisis data yang telah diperoleh.

Bab V : Merupakan bab penutup yang berisi tentang simpulan dan saran dari hasil penelitian.