4 Hasil dan Pembahasan (2)

4.

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Gambaran Umum Kota Palu

4.1.1

Letak Geografis dan Administrasi Kota Palu
Palu adalah sebuah kota sekaligus merupakan ibu kota

provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Sampai dengan tahun 2014
terdapat 8 Kecamatan yaitu Kecamatan Tawaeli, Kecamatan Palu
Utara,

Kecamatan

Palu


Timur,

Kecamatan

Mantikulore,

Kecamatan Palu Barat, Kecamatan Ulujadi, Kecamatan Palu
Selatan dan Kecamatan Tatanga. Sedangkan secara geografis,
Kota Palu terletak antara 0º,36” ‐ 0º,56” Lintang Selatan dan
119º,45” ‐ 121º,1” Bujur Timur, tepat berada di bawah garis
Khatulistiwa dengan ketinggian 0 ‐ 700 meter dari permukaan
laut. Dimana Batas wilayah Kota Palu meliputi :
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Banawa
Kabupaten Donggala serta Teluk Palu;
b. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Parigi
Kabupaten Donggala;
c. Sebelah

Selatan


berbatasan

dengan

Kabupaten

Donggala, dan Kabupaten Parigi Moutong;
d. Sebelah Barat Berbatasan dengan Kecamatan Banawa
dan Kecamatan Marawola Kabupaten Donggala.
Untuk lebih jelasnya mengenai letak geografis dan
administrasi Kota Palu dapat dilihat pada peta administratif Kota
Palu sebagai berikut.

41

Gambar 6. Peta Administrasi Kota Palu
(Sumber : Laporan RDTR Kota Palu, 2015)
4.1.2 Topografi dan Kelerengan
Berdasarkan


keadaan

topografi

dan

kelerengannya,

wilayah Kota Palu dapat dibagi menjadi tiga zona ketinggian dan
kelerengan, yaitu:
a. Sebagian daerah dibagian sisi barat teluk dan dibagian
sisi timur teluk yang memanjang dari arah utara
keselatan merupakan dataran rendah/pantai dengan
ketinggian antara 0-100 meter diatas permukaan laut
(mdpl) dan memiliki kelerengan 0-15%.
b. Sebagian daerah dibagian sisi barat teluk dan dibagian
sisi timur teluk yang memanjang dari arah utara

42


keselatan

merupakan

daerah

perbukitan

dengan

ketinggian antara 100-500 meter diatas permukaan
laut (mdpl) dan memiliki kelerengan >15-25%.
c. Daerah pegunungan dengan ketinggian lebih dari 100
meter

diatas

permukaan

laut


(mdpl)

memiliki

kelerengan >25->40%.
Berdasarkan zona topografi tersebut maka diketahui bahwa
Kota Palu memiliki keadaan alam yang bervariasi. untuk
lebih jelasnya mengenai kondisi topografi Kota Palu dapat
dilihat pada gambar berikut :

Gambar 7. Peta Topografi Kota Palu
(Sumber : Laporan RDTR Kota Palu, 2015)
4.1.3

Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk di Kota Palu sampai pada tahun 2012

43


berdasarkan data Kota Palu dalam angka tahun 2012 yaitu
sebanyak 347.856 jiwa, dengan jumlah penduduk terbanyak
terdapat di Kecamatan Palu Timur sebanyak 67.385 jiwa, dan
terendah terdapat di Kecamatan Tawaeli sebanyak 19.105 jiwa,
dengan jumlah penduduk laki-laki 175.595 jiwa dan perempuan
sebanyak 172.261 jiwa.

4.2

Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan

Mantikulore,

Kota

Palu,

di Kelurahan Tondo, Kecamatan


Provinsi

Sulawesi

Tengah.

Adapun

spesifikasi terkait mengenai batas - batas penelitian pada lokasi
studi adalah sebagai berikut :
a. Sebelah Timur berbatasan dengan Lahan Kosong
Berbukit.
b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Lahan Kosong
Berbukit .
c. Sebelah Barat berbatasan dengan Jalan Ir. SoekarnoHatta, Ruko dan Gudang.
d. Sebelah Utara berbatasan dengan Bangunan Mapolda
Sulawesi Tengah.

44


Gambar 7. Peta Administrasi Kota Palu dan Lokasi Studi
(Sumber : Laporan RDTR Kota Palu, 2015)

4.3

Analisis Porgram Ruang Laboratorium Forensik

4.3.1

Fungsi Laboratorium Forensik
Fungsi Laboratorium Forensik Polri adalah penyelenggara

segala usaha, pekerjaan, dan kegiatan operasionalisasi Forensik
Kriminalistik yang meliputi :
a. Pelaksanaan dukungan pemeriksaan teknis laboratoris
kriminalistik terhadap benda bukti (physical eviderce)
yang berasal dari suatu tindak pidana.

45


b. Pelaksanaan dukungan pemeriksaan teknis forensik
kriminalistik ditempat kejadian perkara (crime scene).
c. Pelaksanaan dukungan lainnya terhadap penggelaran
operasi Kepolisian.
Secara struktural tugas, peran, dan fungsi Laboratorium
Forensik

Polri

tersebut

diwadahi

dalam

5

(lima)

bidang


operasional yang pembagiannya didasarkan kepada aspek-aspek
ilmu kriminalistik/forensik yang disesuaikan dengan bidang
tugasnya, antara lain :
a. Bidang Kimia dan Biologi Forensik.
b. Bidang Fisika Forensik.
c. Bidang Balistik dan Metalurgi Forensik.
d. Bidang Dokumen dan Uang palsu Forensik.
e. Bidang Instrumen Forensik.
4.3.2

Pelaku Aktifitas
Pendekatan pelaku aktifitas di dasarkan pada jumlah

kebutuhan personal tiap ruang pada laboratorium, kebutuhan
administratif laboratorium, pendekatan teknis dan non-teknis.
a. Laboran
1) Terdapat 12 Unit dalam laboratorium forensik,
dimana setiap unitnya masing-masing memiliki 1
laboran;

2) Staf Ahli Senior Forensik setiap bidangnya.
b. Staf Administrasi
1) Kepala Laboratorium

46

2) Wakil Kepala Laboratorium
3) Kepala Tata Usaha
4) Kepala Urusan Administrasi
5) Staf Pembantu
c. Pelaksana Teknis
d. Pelaksana Non Teknis
Berdasarkan pendekatan pelaku di atas, maka tuntutan
ruang yang dibutuhkan adalah :
Tabel IV-1. Pelaku Aktifitas dan Kebutuhan Ruang
N
o.
1

Pelaku Aktifitas

Kebutuhan Ruang

Laboran

1. Ruang Laboratorium
2. Ruang Ganti
3.
Ruang
Administratif

Laboratorium
4. Ruang Referensi
2 Staff Administratif
1. Ruang Kerja Kepala Lab.
2. Ruang Kerja Wakil Kepala Lab.
3. Ruang Rapat dan Konferensi
4. Ruang Kepala Tata Usaha
5. Ruang Administrasi
6. Ruang Staff Pembantu
7. Ruang Kasat Setiap Unitnya
8. Ruang Kanit Setiap Unitnya
3 Pelaksana Teknis
1. Ruang Maintenance
4 Non-Teknis
1. Ruang Servis
2. Gudang
3. Cafe/ Kantin
4. Perpustakaan
Sumber : Analisis Penulis, 2015
4.3.3

Kebutuhan Ruang
Berdasarkan analisis fungsi laboratorium Forensik dan

tuntutan kebutuhan ruang dari pelaku aktifitas pada gedung

47

laboratorium, dapat diidentifikasi ruang utama pada laboratorium
forensik yaitu ruang administrasi dan unit-unit laboratorium.
Selanjutnya akan dianalisis ruang lain sebagai pendukung ruang
utama tersebut. Analisis yang dilakukan berdasarkan studi
behavorial, yang meliputi :
a. Observasi aktifitas pada fasilitas dengan fungsi yang
sama dilokasi penelitian.
b. Pengamatan

terhadap

aktifitas

yang

biasa

berlangsung pada fasilitas serupa secara umum.
c. Kecenderungan pola aktifitas yang berpotensi pada
pengembangan fungsi ruang.
4.3.3.1Unit Pelayanan Laboratorium Forensik
a. Unit Uang Palsu Forensik (Biddokupalfor),
b. Unit Metalurgi Forensik
c. Unit Fisika dan Komputer Forensik
d. Unit Kimia Forensik
e. Unit Narkotika, Psikotropika dan Obat Berbahaya
f.

Unit Fotografi Forensik

g. Unit Biologi dan Toksikologi Forensik
h. Unit Balistik Forensik
i.

Unit Dokumen Forensik

4.3.3.2Administratif
a. Ruang Kerja Kepala Laboratorium
b. Ruang Kerja Wakil Kepala Laboratorium
c. Ruang Rapat dan Konferensi
48

d.
e.
f.
g.
h.
i.

Ruang
Ruang
Ruang
Ruang
Ruang
Ruang

Kepala Tata Usaha
Administrasi
Staff Pembantu
Kasat (Kepala Satuan)
Kanit (Kepala Unit)
Penerimaan Barang Bukti

Selain ruang tersebut diatas, terdapat ruang pendukung
lainnya meliputi :
a. Entry/Main Hall, sebagai ruang pengantar sebelum
menuju ruang utama di dalam laboratorium.
b. Cafe/Kantin, merupakan fasilitas penunjang pengguna
laboratorium forensik.
c. Mekanikal dan Elektrikal,

merupakan ruang untuk

mengontrol utilitas bangunan secara keseluruhan.
d. Water and Sewage Treatment Plant, berfungsi sebagai
tempat treatment air yang akan disuplai ke dalam dan
luar bangunan.
e. Perparkiran, sebagai fasilitas yang dapat digunakan
oleh publik.
f. Musollah, sebagai tempat sholat 5 waktu bagi seluruh
staff dan jajarannya yang beragama islam.
g. Tempat wudhu untuk laki-laki dan perempuan terpisah.

4.3.4 Hubungan Ruang

49

Berdasarkan program ruang yang telah dijabarkan, maka
hubungan ruang laboratorium forensik adalah sebagai berikut :

S
umber : Analisis Penulis, 2015
4.3.5

Besaran Ruang

50

Analisis

besaran

ruang

pada

laboratorium

forensik,

digunakan untuk pendekatan terhadap kebutuhan luas minimum
ruangan.
4.3.5.1Unit Pelayanan Laboratorium
Tabel IV-2. Pendekatan Besaran Ruang Laboratorium
No
.
1

Ruang
Lab. Kimia
Umum
Luas = 98,8
m2

Pendekatan &
Keterangan
Laboratory Equipment
:
a. Workbench
b. Anti-Vibration
Bench
c. Demons Table
d. Flamable Liquid
Cabinet
e. Fume Cupboards
f. Instrument

Perhitungan
4 Laboratory
Module
12 m x 6m=72 m2
Personil :
4 org x 1 m2 = 4
m2
Sirkulasi 30
%=22,8 m2

(Laboratory Design
2

Instrumen
Kimia
Luas = 98,8
m2

Guide)
Laboratory Equipment
:
a. Workbench
b. Anti-Vibration
Bench
c. Demons Table
d. Flamable Liquid
Cabinet
e. Fume Cupboards
f. Instrument
(Laboratory Design

3

Locker (6
Unit)
Luas = 51.72
m2

Guide)
Storage locker cabinet
0.6m x 0.6m
=0.36m2/3 Org
(Locker.com)
1 m2/space

4 Laboratory
Module
12 m x 6 m =
72m2
Personil :
4 org x 1 m2 = 4
m2
Sirkulasi 30 % =
22,8 m2

Kapasitas 6 org
6 : 3 = 2 Locker
2 (1 + 0.36) =
2.72 m2
6 x 1 m2 = 6 m2

51

No

Ruang

.

4

5

Pendekatan &
Keterangan
(Studi gerak)

Zat Kimia
Luas = 9 m2

3 m x 3m = 9 m
(Laboratory Design

Instrumen

Guide)
Laboratory Equipment

Khusus
Luas = 52 m2

2

:
a. Workbench
b. Demons Table
c. Fume Cupboards
d. Instrument
(Laboratory Design

Penyidikan
(6 Unit)
Luas = 58.14
m2

7

Gudang
Barang Bukti

8

(6 Unit)
Luas = 90 m2
Lab. Biologi
Umum
Luas = 52 m2

Sirkulasi 30
%=2.62 m2
1 x 9 m2

2 laboratory
module :
6 m x 6 m = 36
m2
Personil :
4 org x 1 m2 = 4
m2
Sirkulasi 30 % =

Guide)
6

Perhitungan

Modul 1 m /org
(Neufert Architect
2

Data)
Office Desk :
0.6 x 0.8 m = 0.48 m2
0.5 x 0.5 m = 0.25 m2
Standard cabinet :
0.5 x 2 m = 1 m2
(Neufert Architect

12 m2
Kapasitas 4 org :
1 m2 x 4 org = 4
m2
Furniture 2 unit :
2 x 1.73 m2 =
3.46 m2
Sirkulasi 30 % =
2.23 m2

Data)
15 m2/Org
(Studi Ruang)

1 x 15 m2

Laboratory Equipment

2 Laboratory

:
a. Workbench
b. Demons Table
c. Fume Cupboards
d. Instrument

Module
6 m x 6 m = 36

(Laboratory Design
Guide)

m2
Personil :
4 org x 1 m2 = 4
m2
Sirkulasi 30 % =

52

No
.
9

Pendekatan &

Ruang

Keterangan

Instrumen

Laboratory Equipment

Biologi &

:
e. Workbench
f. Demons Table
g. Fume Cupboards
h. Instrument
(Laboratory Design

Toksologi
Luas = 52 m2

Guide)
10

Lab. Fisika

Laboratory Equipment

Umum
Luas = 48.6

:
a. Desktop Computer
b. Work Table

m2

Space Needed :

Perhitungan
12 m2
2 laboratory
module :
6 m x 6 m = 36
m2
Personil :
4 org x 1 m2 = 4
m2
Sirkulasi 30 % =
12 m2
Kapasitas 10 Unit
Komputer :
10 x 2 m2 = 20 m2
Personil :
13 Org x 1 m2 =

1 m x 2 m = 2 m2

13 m2
Space Between

(Laboratory Design

Presentation

Guide)

stage and

Presentation Stage :

screen :
1 m x 4 m = 4 m2
Sirkulasi

a. Screen Display
b. Work Table
0.6 m x 0.8 m = 0.48

30%=11.1 m2

m2
(Neufert Architect
11

Instrumen
Fisika
Luas = 52 m2

Data)
Laboratory Equipment
:
a. Workbench
b. Demons Table
c. Fume Cupboards
d. Instrument
(Laboratory Design
Guide)

2 laboratory
module :
6 m x 6 m = 36
m2
Personil :
4 org x 1 m2 = 4
m2
Sirkulasi 30 % =

53

No

Ruang

.

Pendekatan &
Keterangan

12

Shooting Box
25 m /ruang
2
Luas = 25 m
(Studi Ruang)
Sumber : Analisis Penulis, 2015
2

Perhitungan
12 m2
1 x 25 m2

4.3.5.2Ruang Administratif
Tabel IV-3. Pendekatan Besaran Ruang Administratif
No
.
1

Ruang
Admin. Staff
Office
Luas = 65,4
m2

Pendekatan &
Keterangan
Office Employee :
4,50 m2
Secretary : 6,70 m2
Depart. Manager : 9,3

Perhitungan
Office Employee :
8 Org
8 x 4.50 = 36 m2

m2
Director : 13.40 m2
(Neufert Architect
2

Laboratory
Staff office
Luas = 98,8
m2

3

Rapat
Luas = 46,45
m

4

2

Ka. Satuan
Luas = 13,5

Data)
Design Teach.
Planing :
16.00 m2/Org
(Neufert Architect
Data)
Standar Ruang Rapat
Kapasitas 15 Orang
500 sq. ft = 46,45 m2
(Time-Saver

Kapasitas 6 Org :
6 x 16,00 m2 = 96
m2

1 x 46,45 = 46,45
m2

Standards)
Office Employee : 4,50

Office Employee :

m2
(Neufert Architect

3 Org
3 x 4.50 = 13,5

Data)

m2

54

No
.
5

6

7

Ruang

Pendekatan &

Perhitungan

Keterangan
Office Employee : 4,50

Office Employee :

m2
(Neufert Architect

3 Org
3 x 4.50 = 13,5

Penerimaan

Data)
Office Employee : 4,50

m2
Office Employee :

BB.
Luas = 18 m2

m2
(Neufert Architect

4 Org
4 x 4.50 = 18 m2

Ka. Unit
Luas = 13,5

Toilet (8 Unit)
Luas =
107.36 m

2

Data)
Toilet room (Closet +
Space)
1.2 m x 0.9 m = 1.08
m2
1 Urinal/2 Org
0.6 m x 0.6 m = 0.36
m2
1 Wastafel = 1 WC
0.6 m x 0.6 m = 0.36

Kapasitas 3 Org
3 x 1 m 2 = 3 m2
Sirkulasi 30 % =
1.58 m2
Jumlah Toilet = 2
Unit
Pria & Wanita

m2
(Time-Saver
Standards)
Sumber : Analisis Penulis, 2015
4.3.5.3Ruang Penunjang
Tabel IV-4. Pendekatan Besaran Ruang Penunjang
No
.
1

Ruang
Cafe
Luas = 44.9
m

2

Pendekatan &

Perhitungan

Keterangan
Dining Table Set :

Kapasitas 50

a. Dining table
b. 4 seat

org/hr :
50 : 4 seat = 12.5

Space requirments :

= 13 dining table
13x2.125 m2=

2.125 m2
Standard Pantry :
0.60 x 50 org/hr = 30

27.6 m2
Sirkulasi
30%=17.3 m2
55

No

Pendekatan &

Ruang

.

Keterangan

Perhitungan

m2
(Neufert Architect
2

3

Mekanikal &

Data)
Ruang mekanikal &

Elektrikal
Luas = 120

Elektrikal
(Studi Ruang)

m2
Perparkiran
Luas = 287

Vehicle volume

m2

4

predict. :
100 Unit / hari
Ukuran 1 Mobil :
4.70 x 1.75 = 8.22 m2
Ukuran 1 Motor :
2.20 x 0.70 = 1.54 m2
(Neufert Architect

Musollah
Luas = 54,6

Data)
1 orang :
0.8 m x 1.5 m = 1.2

m2

m2

1 x 120 m2

Perbandingan :
80 % Motor – 20
% Mobil
Motor :
80 x 1.54 m2
Mobil :
20 x 8.22 m2

Kapasitas 35 org
35 x 1.2 m2 = 42
m2
Sirkulasi
30%=12.6 m2

Sumber : Analisis Penulis, 2015
4.3.5.4Rekapitulasi Luas Bangunan Laboratorium
Tabel IV-5. Rekapitulasi Luas Bangunan Laboratorium Forensik
No
.
1
2
3

Ruang

Unit Pelayanan Laboratorium
Ruang Administratif
Ruang Penunjang
Total
Sumber : Analisis Penulis, 2015
4.4

Luas
688 m2
369 m2
452 m2
1509 m2

Konsep Desain Arsitektur Neo-Vernacular

56

Neo-Vernacular adalah suatu penerapan elemen arsitektur
yang telah ada, baik fisik (bentuk, konstruksi) maupun non fisik
(konsep, filosopi, tata ruang) dengan tujuan melestarikan unsurunsur lokal yang telah terbentuk secara empiris oleh sebuah
tradisi yang kemudian sedikit atau banyaknya mangalami
pembaruan menuju
maju

tanpa

suatu

karya

mengesampingkan

yang

lebih

nilai-nilai

modern

atau

tradisi setempat.

(Yulianto Sumalyo dalam Josep Rengkung, 2011 : 62).

4.4.1 Tapak
4.4.1.1

Analisis Tapak Laboratorium Forensik

Menurut Snyder dan Catanese (1975), analisis tapak
berisikan pertimbangan sistematis dari tiga faktor utama, yaitu :
a. Konteks Spasial (Spatial Context)
Mempertimbangkan
natural

(iklim,

keadaan

topografi,

tapak

vegetasi)

yang

bersifat

dan

buatan

(bangunan yang berada pada site)
b. Konteks Perilaku (Behavior Context)
Mempertimbangkan

kecenderungan

aktifitas

sosial

ekonomi serta sirkulasi pada tapak dan sekitarnya,

57

dengan

peraturan

publik

yang

mempengaruhi

perencanaan.
c. Konteks Persepsi (Perceptual Context)
Mempertimbangkan

keadaan

visual

yang

mempengaruhi kegunaan ruang dan persepsi terhadap
tapak.
Ketiga konteks tersebut akan menjadi acuan untuk
menganalisis tapak bangunan Laboratorium Forensik.
4.4.1.2

Kondisi Tapak Laboratorium Forensik

a. Konteks Spasial (Spatial Context)
1) Iklim Mikro
Berdasarkan data dari situs resmi BMKG dan BPBD
Kota Palu, Kondisi iklim regional kota Palu dapat
dijabarkan sebagai berikut :
a) Kota Palu memiliki dua musim, yaitu musim
panas dan musim hujan. Musim panas terjadi
antara bulan April – September, sedangkan
musim hujan terjadi pada bulan Oktober –
Maret;
b) Suhu udara berkisar antara 24°C – 34°C;
c) Kelembapan udara rata-rata mencapai 50 – 90
%;

58

d) Kecepatan angin rata-rata pada tapak berkisar
20 Km/jam;
e) Curah hujan Kota Palu berdasarkan Keppres no.
32 /1990 termasuk dalam klasifikasi sedang,
yaitu antara 21-50 mm/hari.
Tabel 4.4

Kriteria Tingkat Kesesuaian Tapak Menurut Curah
Hujan

CURAH HUJAN

KLASIFIKASI

DAYA DUKUNG

< 13,6

Sangat rendah

Sangat baik

13,6 – 20,7

Rendah

Baik

20,7 – 27,7

Sedang

Kurang baik

27,7 – 34,8

Tinggi

Tidak baik

> 34,8

Sangat tinggi

(mm/hari)

Sangat tidak
baik

Sumber : Kriteria Keppres. No. 32/ 1990
Berdasarkan hasil identifikasi data iklim mikro pada tapak,
yang perlu mendapat perhatian khusus yaitu intensitas suhu
yang cukup tinggi dan kecepatan angin. Hal ini dapat diantisipasi
dengan beberapa alternatif seperti mengatur orientasi bangunan
dan menata perletakan bukaan ventilasi.
2) Vegetasi
Kondisi vegetasi yang berada ditapak didominasi
oleh semak belukar yang tidak mendukung keberadaan
Laboratorium Forensik, sehingga diperlukan penanaman
dan penataan vegetasi baru yang berfungsi sebagai
peneduh,

estetika,

dan

mampu

mendukung

keberlangsungan ekositem pada tapak.
59

a) Peneduh
Pohon dengan karakter peneduh seperti pohon
trambesi diletakkan pada area seperti parkiran
dan ruang tunggu eksterior.

b) Estetika
Vegetasi

yang

mendukung

bersifat

keindahan

estetik
bangunan

berfungsi
dengan

mengatur tata letaknya, seperti : Pohon Palem
Sadeng (Livistonia Rotundifolia) diletakkan di
pinggir

entrance,

Bunga

Cendrawasih

(phyllanthus myrtifolius) diletakkan pada pot
memanjang

sebagai penekanan batas antar

ruang luar bangunan, serta perpaduan antara
bunga pucuk merah, nanas merah, dan lili paris
umbi untuk menciptakan irama pada ruang luar
bangunan Laboratorium Forensik.

3) Topografi
Kondisi topografi pada tapak cukup berpariatif
sehingga membutuhkan pengolahan kontur untuk
menciptakan

kenyamanan

dan

keindahan

pada

tapak bangunan.

60

Gambar. Peta Kondisi Topografi Tapak
(Sumber : Olahan data dari Google Earth & CAD
oleh Penulis, 2015)

b. Konteks Perilaku
1) Akses Menuju Tapak
Akses

menuju

mengidentifikasi

tapak

potensi

dipertimbangkan
jalur

jalan

yang

dengan
berada

disekitar tapak. Tapak dilalui oleh Jl. Ir. Soekarno-Hatta
dengan karakteristik 2 arah yaitu kearah utara dan
selatan.

Hal

ini

sangat

memungkinkan

untuk

menempatkan akses masuk dan keluar tapak pada sisi
barat tapak yang terhubung langsung ke jalan utama
sehingga

memudahkan

akses

baik

pengguna

kendaraan maupun pejalan kaki.
61

Gambar. Kondisi arah Jalur Jalan disekitar Tapak
(Sumber : Olahan data dari Google Earth & CAD
oleh Penulis, 2015)

2) Lalu Lintas Pada Kawasan
Tapak dilalui oleh Jl. Sokarno-Hatta yang termasuk
kategori jalan arteri yaitu jalur penghubung antar
provinsi dan menjadi jalan utama menuju kampus
universitas

tadulako

sehingga

arus

kendaraan

62

terpantau

padat pada jam-jam tertentu yaitu pada

waktu pagi hari pada pukul 08.00-10.00 dan sore hari
pada pukul 15.00-17.00. Hal ini dapat diatasi agar
pengguna dan pengunjung Laboratorium Forensik
tetap nyaman pada jam padat dengan menggunakan
tanda rambu lalu lintas seperti lampu satu warna
untuk memberikan peringatan kepada pengguna jalan
agar menurunkan kecepatan.

c. Konteks Persepsi (Perceptual Context)
1) View dari Tapak
Mengarah ke barat, view langsung menuju teluk
Palu, dan perbukitan di sebelah timur tapak. Kedua
view

tersebut

dapat

dimanfaatkan

potensinya

sehingga menjadi satu kesatuan (Unity) tapak dan
bangunan laboratorium.
2) Sequence Image
a) Arah Utara ke Selatan
Rangkaian menuju lokasi dari arah utara menuju
tapak
b) Arah Selatan ke Utara
Rangkaian menuju lokasi dari arah selatan menuju
tapak

63

4.4.1.3

Konsep Tapak

Laboratorium merupakan fasilitas semi publik sehingga
perlu beberapa pertimbangan yaitu :
a. Mudah dalam pencapaian ke lokasi;
b. Harus dapa memberikan identitas tersendiri terhadap
kawasan ataupun bangunan yang ada disekitarnya;
c. Kategori level A untuk tingkat kebakaran, letak tapak
diberi jarak ± 100 m dari jalan utama;
d. Memberikan jarak aman terhadap area sekitar jika
sewaktu-waktu terjadi kebocoran zat kimia berbahaya.

64

Gambar. Perletakan Laboratorium Forensik
(Sumber : Olahan data dari Google Earth & CAD
oleh Penulis, 2015)

4.4.1.4
4.4.2

65