Makalah kelainan sistem reproduksi 12345876542

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT atas limpahan
rahmat dan karunia-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul “Kelainan Sistem Reproduksi disebabkan Gangguan
Hormonal dan Ketidaknormalan ” ini dengan lancar. Penulisan makalah ini
bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah OBSTETRI &
GINEKOLOGI. Makalah ini ditulis dari hasil penyusunan data-data yang kami
peroleh dari beberapa buku dan situs blog di internet. Tak lupa kami
mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah OBSTETRI &
GINEKOLOGI atas bimbingan dan arahan dalam penulisan makalah ini,
sehingga dapat diselesaikan dengan semestinya.
Selanjutnya kami

menyadari bahwa makalah ini belum sepenuhnya

sempurna. Sehingga saya mengharapkan kritik serta saran yang membangun
guna menambah kualitas serta mutu dari makalah tersebut.kami berharap
semoga makalah ini dapat menambah ilmu dan wawasan kita semua.
Samarinda,

Oktober 2017

Penyusun

i

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………….……….i
DAFTAR ISI ……………………………………………….…………...ii
BAB I PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang ……………………………………….…………
1

B.

Rumusan Masalah …………………………………….……….2

C. Tujuan Penulisan………………………………………….…….2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian kelainan sistem reproduksi ………………..……..….3
B. Penyebab kelainan sistem reproduki……………………….……4
C. Macam-macam kelainan sistem reproduksi yang disebabkan oleh
hormon……….…………………………………………………..5
D. Macam-macam kelainan sistem reproduksi yang disebabkan oleh
ketidak normalan…………...……………………………………9
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ……………………………………………….………..15
B. Saran ……………………………………………………….…..…..15
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………..……..16

ii

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Vagina menghubungkan genetalia eksterna dengan genetalia
interna introitus vagina tertutup pada himen, suatu lipatan selaput
setempat. Pada koitus pertama himen robek di beberapa tempat dan
sisanya dinamakan karun kulae mirtiformes. Bentuk lain yang ditemukan
pada himen ialah himen kribriformis (menunjukkan beberapa lubang)
dan himen septus. Kadang-kadang himen tertutup sama sekali (himen
imperforatus). Besarnya lubang himen tidak menentukan apakah wanita
tersebut masih virgo atau tidak. Hal ini baik diketahui oleh kedokteran
atau kehakiman. Di Indonesia keutuhan selaput dara pada seorang gadis
masih dihargai sekali, maka selayaknya dokter memperhatikan hal ini.
Vagina berukuran di depan 6,5 dan di belakang 9,5 cm. Sumbunya
berjalan kira-kira sejajar dengan arah pinggir bawah simpisis ke
promontorium. Arah ini penting di ketahui jika memasukkan jari ke
dalam vagina pada pemeriksaan ginekologi.
Pada pertumbuhan janin dalam uterus 2/3 bagian atas vagina
berasal dari duktus milleri (asal dari endometrium). Sedangkan 2/3
bagian bawahnya dari lipatan-lipatan ektoderm. Hal ini penting diketahui
dalam menghadapi kelainan-kelainan bawaan.
Epitel vagina terdiri atas epitel skuamosa dalam beberapa lapisan.
Lapisan tidak mengandung kelenjar, akan tetapi dapat mengadakan
transudasi pada anak kecil epitel itu amat tipis, sehingga mudah terkena
infeksi.
Mukosa vagina berlipat-lipat horisontal, lipatan itu dinamakan
ruga. Ditengah-tengah bagian depan dan belakang ada bagian yang lebih
mengeras disebut kolumna rugarum. Ruga-ruga dapat dilihat pada 1/3
bagian distal vagina pada seorang virgo atau nailipara. Sedang pada
wanita multipara lipatan-lipatan ini sebagian besar hilang. Di bawah
epitel vagina terdapat jaringan ikat yang mengandung banyak pembuluh
darah. Dibawah jaringan ikat terdapat otot-otot yang serupa dengan
susunan otot usus.

1

Sebelah luar otot terdapat fosia (jaringan ikat) yang akan
berkurang elastisitasnya pada wanita yang lanjut usia. Disebelah depan
dinding vagina bagian bawah terdapat ureter sepanjang 2,5-4 cm. Bagian
atas vagina berbatasan dengan kandung kencing. Dinding belakang
vagina lebih panjang dan membentuk forniks posterior yang jauh lebih
luas daripada froniks anterior.
Umumnya dinding depan dan belakang vagina dekat mendekati.
Pada wanita yang telah melahirkan anak, pada kedua dinding vagina
sering ditemukan tempat yang kendor dan agak merosot. Pada seorang
virgo keadaan ini jarang ditemukan.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan pemaparan dari latar belakang diatas penulis menarik
rumusan masalah sebagai berikut :
1.

Bagaimana pemahaman mengenai kelainan sistem reproduksi

2.

Apa penyebab kelainan sistem reproduksi

3.

Apa saja macam-macam kelainan sistem reproduksi

C. TUJUAN PENULISAN
Tujuan saya membuat makalah ini adalah:
1.

Untuk memahami bagimana pemahaman mengenai pengertian
kelainan sistem reproduksi

2.

Untuk Mengetahui penyebab kelainan sistem reproduksi

3.

Untuk mengetahui macam-macam kelainan sistem reproduksi

2

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN KELAINAN SISTEM REPRODUKSI
1.

Kelainan Sistem Reproduksi Karena Gangguan Hormon
Kelainan sistem reproduksi karena gangguan hormone pada
wanita dapat menyebabkan berbagai masalah karena proses reproduksi
wanita dipengaruhi oleh hormon seperti estrogen, progesteron, dan
prolaktin. Hormon hormon pada wanita, Estrogen adalah hormon yang
berfungsi untuk perkembangan sifat seksual wanita. Hormon progesteron
berfungsi untuk persiapan hamil. Prolaktin merupakan hormon untuk
persiapan menyusui.
Selain ketiga hormon tersebut wanita juga memiliki hormon yang
berperan seperti sifat seksual pria. walaupun kadarnya rendah. yaitu
hormon androgen. Peranan hormon sangat penting bagi proses
reproduksi wanita sehingga jika mengami gangguan pada ketiga hormon
tersebut dapat menyebabkan beberapa gangguan pada fungsi tubuh
lainnya.
Terdapat beberapa jenis gangguan yang disebabkan oleh
gangguan hormon, diantaranya adalah gangguan perkembangan sel telur.
gangguan ovulasi, gangguan haid, gangguan reproduksi. keluarnya air
susu sebelum waktunya, dan munculnya sifat kelaki-lakian.

2.

Kelainan Sistem Reproduksi Karena Ketidaknormalan
Kelainan congenital system reproduksi dapat disebabkan oleh
faktor lingkungan, nutrisi,penyakit metabolik, infeksi virus, obat
teratogenik, dan lain-lain yang terjadi pada masa kehamilan. Banyak dari
kelainan tersebut tidak melibatkan ovarium atau genitalia eksterna
sehingga gejala tidak nampak sebelum menarche atau menikah. Kelainan
3

kongenital tersebut juga dapat disebabkan oleh kelainan kromosom
khususnya kromosom seks dan gangguan hormonal.

B. PENYEBAB KELAINAN SISTEM REPRODUKSI
Penyebab Kelainan Sistem Reproduksi Karena Gangguan
Hormon
Gangguan hormon dapat terjadi karena berbagai macam sebab di
antaranya adalah karena adanya gangguan atau kerusakan organ
reproduksi, disfungsi ovarium, polip, adenomiosis, kanker, gentik, diet
katat dan kegiatan fisik yang berlebihan, obat-obatan, alat kontrasepsi,
dan stres.
Gangguan atau kerusakan organ reproduksi, mungkin terjadi
kerusakan pada indung telur sehingga fungsinyapun akan terganggu dan
berpengaruh pada produksi estrogen don progesteron serta kadar follicle
stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH) dalarn tubuh
sehingga mempengaruhi indung telur dan perkembangan sel telur serta
ovulasi.Gangguan atau kerusakan ini dapat berupa adanya kista indung
telur, adenomiosis, tumor. dan kanker.
Disfungsi ovarium atau kegagalan fungsi ovarium sehingga tidak
terjasi proses pelepasan telur sehingga dapat menyebabkan ketidak
seimbangan hormon pada wanita sehingga terjadi haid mengalami
pendarahan yang berlebihan, kisa juga bisa menjadi salah satu
penyebabnya.

4

C. MACAM-MACAM

KELAINAN

SISTEM

REPRODUKSI

DISEBABKAN OLEH HORMON
1. Menstruasi
Menstruasi adalah pendarahan normal yang terjadi pada wanita
setiap bulannya. Kebanyakan periode menstruasi pada wanita terjadi
sekitar 4 sampai 6 hari. Masalah umum dari menstruasi biasanya adalah
telat nya periode menstruasi dan terjadinya dismenore.
Jika wanita memiliki siklus menstruasi yang tidak normal sudah
sepantasnya anda untuk berkonsultasi dengan dokter anda untuk
mengetahui bagaimana cara menghilangkan dismenore saat menstruasi
tersebut. Penyebab dari telat terjadinya menstruasi adalah hamil, stres,
dan konsumsi obat. Namun, jika anda negatif saat tes kehamilan maka
bisa

jadi

anda

terkena

gangguan hormon

tiroid di

mana

kelenjar tidroid mengalami kekurangan hormon.
2. Penyakit radang panggul
Rongga perut perempuan memiliki jalur langsung dari luar
melalui saluran reproduksi wanita. Bakteri dapat masuk melewati
vagina dan rahim dan melintasi tabung rahim yang membuka ke dalam
rongga perut. Radang panggul sering sekali menyebabkan rasa sakit
perut saat sedang bereaksi.
3. Endometriosis dan Adenomiosis
Endometriosis dan adenomiosis adalah
reproduksi
secara

wanita
tidak

yang disebabkan

dua penyakit

sistem

olehpertumbuhan endometrium

normal. Endometrium adalah jaringan yang

melapisi rahim atauuterus. Ketika

jaringan ini terbentuk di

bagian

lain dari sistem reproduksi seperti di luar rahim, indung telur atau tuba
falopi. Jika pertumbuhan terjadi ke dalam otot yang mengelilingi rahim,

5

hal

itu

disebut

Adenomiosis.

semua jaringan endometrium didorong
selesainya siklus

keluar dari

Karena
tubuh

menstruasi, pertumbuhan

dengan

yang

tidak

normal apat menyebabkan nyeri di perut atau panggul.
4. Vulvovaginitis
Vulvovaginitis adalah istilah yang diberikan pada infeksi jaringan
vulva atau vagina. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai alasan seperti
kebersihan yang buruk, penyakit menular seksual, virus, ragi dan bakteri.
Terjadinya

vagina

berbau

busuk,

iritasi

dan peradangan

di

sekitar vagina, dan kesulitan saat buang air kecildapat menunjukkan
adanya vulvovaginitis.
5. Kanker ovarium
Kanker ini dimulai dalam ovarium dan dapat menyebarkan dalam
pelvis dan perut. Beberapa tanda-tanda kanker ovarium seperti sembelit,
buang air kecil secara teratur, nyeri di daerah panggul, kehilangan berat
badan dan perut kembung. Kemungkinan terjadi lebih tinggi pada orang
yang memiliki riwayat keluargasindrom Lynch, payudara.
6. Disfungsi Seksual Wanita
Disfungsi seksual wanita, adalah salah satu penyakit sistem
reproduksi khas wanita, penyakit ini terjadi ketika seseorang gagal untuk
dirangsang selama hubungan seksual. Gejala lain yang menyertainya
mungkin

termasuk

hasrat

seksual

berkurang,

kesulitan

dalam

gairah, anorgasmia dan nyeri selama hubungan seksual.
7. Infertilitas wanita
Kesulitan untuk mendapatkan kehamilan, yang disebabkan oleh
kurangnya ovulasi. Dan sebab lainnya adalah penyakit sistem reproduksi
wanita lainnya. Gangguan ovulasi seperti penyimpangan dalam produksi
6

hormon atau masalah dalam akun ovarium untuk 25% dari kasus
infertilitas. Endometriosis, kerusakan pada saluran tuba, tuba uterine atau
leher rahim juga dapat menyebabkan infertilitas.
8. Sindrom Ovarium Polikistik
Sindrom

ini

terjadi

ketika ovarium memproduksi terlalu

banyak hormon, yaitu androgen.

Peningkatan kadar

hormon ini dapat menghambat

proses ovulasi dan menyebabkan kista

pada ovarium. Hal

dapatmenyebabkan infertilitas dengan

ini

juga

mempengaruhi pelepasan telur ovarium

pada siklus

menstruasi. Beberapagejala adalah rambut rontok, jerawat, nyeri di
daerah panggul, kulit

berminyak, dan

peningkatanpertumbuhan

rambut wajah atau tubuh.
9. Menopause
Monopause adalah situasi di mana wanita tidak bisa lagi hamil
secara alami karena tidak ada lagi periode menstruasi. Penyakit ini biasa
di alami jika seorang wanita sudah berusia 50 tahun lebih dan tidak ada
lagi telur di dalam ovarium nya serta menurun nya jumlah hormon
esterogen. Jika seorang wanita sudah memiliki penyakit monopause
maka wanita tersebut akan mengalami disfungsi seksual, dan ini terjadi
karena sudah berkurangnya jumlah hormon.
10. Myoma
Ini adalah tumor jinak yang tumbuh pada leher rahim dan korpus
uterus. Myoma ini merupakan tumor yang paling umum yang sering
terjadi pada wanita. Uterus Leiomioma biasanya terjadi pada wanita di
atas usia 35 tahun. Penyebabnya tidak diketahui, tetapi tingkat yang
berlebihan dari

estrogen

dan hormon

pertumbuhan

manusia mungkin memengaruhi pembentukan tumor dan lebih rentan

7

untuk merangsang elemen fibromuskular. Penyakit myoma ini biasanya
akan hilang pada wanita yang sudah mengalami monopause.
11. Menorrhagia
Menorrhagia adalah

pendarahan

berat

yang

membutuhkan

pembalut atau tampon yang lebih banyak dan sering daripada periode
menstruasi pada umumnya. Kadang-kadang perdarahan mungkin begitu
berat sehingga tidak dapat dikendalikan oleh pembalut atau tampon.
Menorrhagia mungkin berhubungan dengan nyeri menyeret di perut
bagian bawah. Menstruasi juga mungkin tidak teratur, sekitar 1 dari 20
wanita memiliki menorrhagia teratur. Hal ini lebih sering terjadi pada
wanita menjelang menopause.
12. Kanker rahim
Kanker rahim adalah sebuah tumor kanker yang tumbuh di
dinding rahim dan ini biasanya terjadi pada wanita yang sudah berusia
55 sampai 65 tahun. Kanker rahim adalah salah satu kanker yang paling
umum dari organ reproduksi wanita di Inggris, dengan sekitar 6.900
kasus baru di diagnosis pada tahun 2005. kanker rahim paling
berkembang di endometrium (lapisan rahim). Lebih jarang, kanker
terjadi pada dinding otot rahim.
13. Bartholinitis
Yaitu penyakit yang terjadi karena infeksi pada kelenjar
bartholintis yang terletak di sekitar vulva. Kelenjar bartholin adalah dua
kelenjar

seukuran

kacang

dengan

saluran

yang

terbuka

ke

vulva. Kelenjar menghasilkan cairan yang melumasi daerah genital
selama hubungan seksual. Dalam bartholinitis, salah satu atau kedua
kelenjar terinfeksi. Dalam beberapa kasus, gangguan ini disebabkan
oleh bakteri dari kotoran memasuki kelenjar sebagai akibat dari
kebersihan yang buruk.
8

14. Peradangan vagina
Peradangan vagina atau yang sering di kenal dengan sariawan
pada vagina terjadi karena disebabkan oleh infeksi jamur candida yang
dapat terjadi secara alami di dalam vagina, tumbuh lebih cepat dari
biasanya. sariawan vagina tidak serius, tetapi dapat menyebabkan gatalgatal pada vulva dan vagina.
15. Keputihan
Keputihana adalah cairan yang keluar dari vagina pada wanita.
Dan keputihan itu sendiri terbagi menjadi dua, yaitu keputihan
fisiologis dan keputihan patalogis. Keputihan fisiologis biasanya terjadi
menjelang menstruasi atau setelah menstruasi bisa juga semasa subur
datang setiap bulan tetapi tidak dalam jangka waktu lama. Keputihan
patalogis biasanya terjadi karena infeksi atau bakteri yang berada dalam
atau sekitar vagina.

D. MACAM-MACAM

KELAINAN

SISTEM

REPRODUKSI

DISEBABKAN KETIDAK NORMALAN
1.

VULVA
A.

Himen Imperforata
Himen imperforate adalah selaput dara (hymen)
yang tidak mempunyai hiatus himenalis (lubang hymen).
Kelainan ini tidak nampak sebelum menarche. Penderita
akan mengeluh molimina menstrualia tiap bulan, tetapi
tidak diikuti menstruasi. Darah akan terkumpul di vagina
dan rongga rahim. Tampak hymen kebiruan karena
jendalan

darah

dan

dengan

melakukan

tampak

menonjol. Penanganan

himenektomi

dan

pemberian

9

antibiotika. Darah dari vagina dan rongga rahim
dilakukan drainase, penderita tidur posisi Fowler.
B.

Atresia labium minus
Disebabkan

karena

membran

urogenitalis

tidak

menghilang. Ostium uretra tetap ada demikian juga
dengan liang vagina. Koitus dapat dilakukan, kehamilan
dapat terjadi. Saat persalinan memerlukan sayatan kecil
untuk melahirkan kepala bayi. Pada umumnya bedah
rekonstruksi sederhana dapat menyelesaikan masalah ini.
C.

Hipertrofi labium minus
Kelainan

ini

tidak

berbahaya

dan

tidka

berpengaruh terhadap fertilitas. Masalah yang timbul
adalah masalah estetika. Tindakan rekonstruksi berupa
pengangkatan jaringan yang berlebihan akan cukup
mengatasi masalah tersebut.
D.

Duplikasi vulva
Sangat jarang ditemukan, bila terjadi biasanya
diikuti dengan kelainan congenital yang lain dan
seringkali bersifat lethal.

E.

Hipoplasi vulva
Bila kelainan ini terjadinya, seringkali disertai
dengan tidak berkembangnya organ reproduksi yang lain.
Tanda seksual sekunder juga tidak nampak.

F.

Kelainan perineum
Bila septum urogenitalis tidak terbentuk, maka
bayi tidak memiliki lubang anus atau anus bermuara
dalam sinus urogenital sehingga terdapat lubang untuk
keluar feces dan urine secara bersama-sama.
10

2.

VAGINA
A.

Septum vagina
Septum

sagital

dapat

ditemukan

sehingga

membagi vagina seakan menjadi 2 ruangan kanankiri. Seringkali hal ini ditemukan juga dengan kelainan
pada uterus karena adanya gangguan fusi pada duktus
mulleri. Kelainan ini biasanya tidak menimbulkan
keluhan, menstruasi dapat terjadi normal. Saat hubungan
seksual dapat terjadi dyspareuni. Masalah dapat terjadi
saat

persalinan,

karena

septum

tersebut

dapat

menghambat penurunan kepala. Tindakan septektomi
dapat mengatasi masalah tersebut.
B.

Aplasia dan atresia vagina
Pada aplasia vagina, terjadi fusi dari duktus
mulleri, tetapi tidak terjadi kanalisasi atau tidak
berkembang sehingga vagina tidak terbentuk. Seringkali
terdpat uterus yang rudimenter. Ovarium juga seringkasi
hipoplasi atau hanya berupa jaringan seperti pita atau
polikistik sehingga tidak menghasilkan folikel dan
estrogen. Pada aplasia vagina, hanya terdapat cekungan di
introitus vagina. Keadaan ini seringkali tidak disadari atau
baru disadari saat hubungan seksual atau saat konsultasi
karena terjadi infertilitas. Tindakan vaginoplasti dapat
mengatasi masalah seksual, besar dan panjang vagina
dapat disesuaikan. Tindakan ini dilakukan saat penderita
akan menikah sehingga vagina yang dibuat dapat “dilatih”
sehingga tidak menyempit lagi.
11

C.

Kista vagina
Terdapat dua macam kista kongenital yaitu kista dari sisa
epitel duktus mulleri dan kista dari sisa duktus gardner
(kista Gardner) yang terletak pada bagian anterolateral
vagina. TIndakan yang dapat dilakukan adalah ekstirpasi
kista.

3.

UTERUS DAN TUBA FALOPI
A.

Gagal pembentukan
Bila satu duktus tidak terbentuk,akan terjadi uterus
unikornis dengan satu tuba, satu ovarium dan satu ginjal
sedangkan vagina san serviks normal.
Bila kedua duktus tidak terbentuk, maka tidak
terdapat uterus, tuba dan vagina 2/3 bagian atas, sengakan
vagina 1/3 bagian bawah tetap terbentuk. Ovarium dapat
terbentuk sehingga tanda seks sekunder normal tetapi
terjadi amenorea.
Tidak terbentuknya serviks tetapi uterus terbentuk
merupakan kelainan yang amat jarang dijumpai, keadaan
ini

disebut

mengalami

ginatresia
gejala

servikalis.
molimina

Penderita

akan

mestrualia

dan

kriptomenorea. Darah menstruasi akan tertimbun dalam
rongga uterus menimbulkan rasa nyeri. Tindakan bedah
rekonstruksi dengan memasang pipet polietilen dari
rongga uterus ke vagina dan pemberian antibiotic akan
dapat mengatasi masalah ini. Pipet tersebut diambil
setelah ada epitelisasi sehingga tetap terbentuk “jalan”
dari dalam uterus ke vagina.

12

B.

Gangguan fungsi
i.

Uterus dengan 2 bagian simetris

1. Satu uterus dengan 2 ruangan dalam rongga uterus
yang dipisahkan oleh sekat menyeluruh (uterus septus)
atau sebagian (uterus subseptus).
2. Dua uterus yang masing-masing memiliki rongga
uterus atau 1 rongga uterus dengan 2 puncak uterus.
a.
didelphys)

Uterus

bikornis

bikollis

(uterus

Dua uterus terpisah, disertai dengan 2
vagina atau satu vagina yang terbagi oleh
sekat vagina menjadi 2 bagian.
b.

Uterus bikornis unikolli
Uterus dnegna 1 serviks, dengan 2 fundus
masing-masing dengan rongga uterus, 1
tuba dan 1 ovarium.

c.

Uterus arkuatus
Terdapat sekungan pada pundus dengan
subseptus.

ii.

Uterus dengan 2 bagian tidak simetris
Terjadi akibat satu duktus mulleri berkembanga

sedangkan yang satu lagi tidak berkembang, sehingga
terjadi hemiuterus yang berkembang normal sedangkan
yang lain rudimenter. Bagian yang rudimenter seringkali
tidak berhubungan dengan rongga uterus yang terbentuk.

13

Bila endometrium dari bagian yang rudimenter berfungsi
maka dapat terjadi timbunan darah.
Seperempat wanita dengan kelainan uterus kembar
tidak akan mengalami gangguan, dapat hamil dan
melahirkan secara normal. Gangguan yang mungkin
timbul

adalah

dismenorea,

menoragia,

metroragia,

dispareunia dan infertilitas. Tindakan korektif (operasi)
dapat dilakukan untuk mengatasi kelaian uterus tersebut.
Diagnosis

dapat

ditegakkan

berdasarkan

pemeriksaan ginekologi yang teliti dan mengguna
pemeriksaan radiologis berupa histerisalfingograf (HSG).
Bila terdapat kelainan uterus, kelainan traktus urinarius
harus diteliti. Pielografi intravena dapat dilakukan untuk
mengetahui kelainan pada traktus urinarius.
4.

OVARIUM
Keadaan tidak adanya ovarium baik bilateral maupun
unilateral dengan oragan reproduksi lainnya normal adalah
keadaan yang sangat jarang ditemui.

5.

SISTEM GENITAL DAN SISTEM TRAKTUS
URINARIUS
Dua system ini saat pertumbuhan embriologi memiliki
hubungan yang dekat sehingga dapat terjadi kelainan bersamaan
pada kedua system ini, misalnya kloaka persisten, ekstrofi
kandung

kemih

sehingga

mendorong

vagina

ke

daerah

suprapubik dan klitoris yang terbagi 2.

14

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Kelainan sistem reproduksi karena gangguan hormone pada
wanita dapat menyebabkan berbagai masalah karena proses reproduksi
wanita dipengaruhi oleh hormon seperti estrogen, progesteron, dan
prolaktin. Hormon hormon pada wanita, Estrogen adalah hormon yang
berfungsi untuk perkembangan sifat seksual wanita. Hormon progesteron
berfungsi untuk persiapan hamil. Prolaktin merupakan hormon untuk
persiapan menyusui.
Kelainan congenital system reproduksi dapat disebabkan oleh
faktor lingkungan, nutrisi,penyakit metabolik, infeksi virus, obat
teratogenik, dan lain-lain yang terjadi pada masa kehamilan. Banyak dari
kelainan tersebut tidak melibatkan ovarium atau genitalia eksterna
sehingga gejala tidak nampak sebelum menarche atau menikah. Kelainan
kongenital tersebut juga dapat disebabkan oleh kelainan kromosom
khususnya kromosom seks dan gangguan hormonal.

B. SARAN
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi
pokok bahasan dalam makalh ini, tentunya masih banyak kekurangan dan
kelemahannya, karena terbatasnya pengetahuan dan kekurangan atau
referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.

15

Kami sekelompok berharap para pembaca bisa memberikan kritik
dan saran yang membangun kepada kelompok kami demi sempurnanya
makalah ini.
Semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan penulis
khususnya dan pembaca umumnya mengenai kelainan uterus.
DAFTAR PUSTAKA
Yatim, Wildan,Dr.1994.Reproduksi dan
Embriologi.Bandung.Tarsito
Wibowo,Daniel S.2005. Anatomi Tubuh
Manusia.Jakarta.PT Grsindo
http://id.wikipedia.org/wiki/Hormon
http://members.tripod.com/layananeb
ook/hotmon.htm

16

Dokumen yang terkait

Dokumen baru