Kuil Yasukuni Dan Hubungan Diplomatik Jepang Dan China Yasukuni Jinja Ya Chūgoku To Nihon No Gaikō Kankei

(1)

BAB II

TINJAUAN UMUM KUIL YASUKUNI DAN HUBUNGAN

DIPLOMATIK JEPANG DAN CHINA

2.1 Sejarah Kuil Yasukuni

Agama Shinto sebenarnya adalah sebuah kepercayaan kuno yang berasal dari animisme dan dinamisme. Layaknya suatu kepercayaan yang berakar dari animisme, Shinto sama sekali tidak memiliki ajaran khusus yang harus dipelajari. Shinto juga tidak memiliki kitab suci, simbol, kiblat dan juga nabi sebagai penemu atau penyebar agama pertama kali, jadi Shinto lahir dan berkembang secara alami di masyarakat. Tempat suci agama Shinto pada awalnya tidak memiliki bangunan. Mulai didirikan bangunan berupa kuil sebagai tempat penyembahan pada abab 6 akibat pengaruh dari agama Buddha yang mulai masuk.

Kuil kuno Ise dan kuil Izumo Taisha yang terletak di barat daya dan di timur laut kepulauan Jepang adalah beberapa dari kuil Shinto yang masih berdiri dan dilestarikan hingga sekarang. Kuil Shinto yang paling terkenal adalah Kuil Itsukushima yang terletak di Pulau Miyajima, tak jauh dari kota pelabuhan Hiroshima. Kuil ini merupakan salah satu tujuan turis paling populer di Jepang, baik turis lokal maupun asing, lantaran torii-nya yang mengambang di atas laut.


(2)

Pada masa Restorasi Meiji (1868-1912) Shinto akhirnya ditetapkan menjadi agama negara (Kokka Shinto). Penetapan ini menyatakan bahwa Kaisar adalah perwujudan Amaterasu Omikami (Dewa Matahari) sehingga Kaisar dianggap orang paling penting di seluruh Jepang. Tidak ada yang berani membantah titah Kaisar karena takut akan mengusik dewa. Pengesahan Kokka Shinto menjadi agama negara juga berdampak terhadap beberapa kuil Shinto di Jepang yang beralih fungsi menjadi Kuil Negara Utama Shinto.

Kuil Yasukuni merupakan salah satu dari puluhan memorial perang yang didirikan di seluruh Jepang sebagai bagian dari program Shinto Agama Negara dan menjadi Kuil Negara Utama Shinto di era Restorasi Meiji. Kuil Yasukuni terdapat di distrik Chiyoda, Tokyo. Distrik Chiyoda adalah salah satu dari 23 distrik Istimewa yang terdapat di Tokyo. Di tengah-tengah kota Chiyoda terdapat Istana Kekaisaran Tokyo. Chiyoda ini juga merupakan pusat pemerintahan dan birokrasi. Gedung Parlemen Jepang, Mahkamah Agung Jepang, Kantor Perdana Menteri Jepang, dan kantor-kantor kementerian berada di kota Chiyoda. Pusat elektronik terbesar di Jepang Akihabara juga terdapat di distrik Chiyoda.

Kuil Yasukuni adalah kuil yang dedikasi bagi para serdadu yang tewas dalam perang Boshin (1868-1869), yakni perang saudara di Jepang antara pasukan yang loyal kepada Tokugawa dan kekuatan yang ingin mengembalikan kekuasan tertinggi kembali ke tangan kaisar. Kuil-kuil jenis ini semula banyak terdapat di Jepang. Namun pada tahun 1879, Kaisar Jepang menetapkan Kuil Yasukuni sebagai kuil resmi dan utama bagi penghormatan arwah para tentara yang gugur di medan perang demi kekaisaran Jepang seiring dengan diubahnya nama Tōkyō Shōkonsha menjadi Yasukuni. Nama Yasukuni dipilih sendiri oleh Kaisar Meiji.


(3)

Nama Yasukuni dikutip oleh Kaisar Meiji dari sebuah kutipan dari era klasik teks Cina Zuo Zhuan yang secara harafia memiliki arti ‘menenangkan bangsa’ atau ‘mendamaikan negara’.

Konflik Keterangan Tahun Total

diabadikan

Perang Boshin dan restorasi Meiji

Perang saudara di Jepang

1867-1869

7.751

Pemberontakan Satsuma

Perang saudara 1877 6.971

Ekspedisi Taiwan 1874

Konflik dengan orang Paiwan (penduduk asli Taiwan)

1874 1.130

Insiden Imo Konflik dengan Tentara pemberontakan Joseon memperebutkan Korea

1882 Lebih dari 10

Perang Sino-Jepang Pertama

Konflik dengan Dinasti Qing memperebutkan korea 1894– 1895 13.619 Pemberontakan Boxer

Invasi Aliansi delapan negara ke China 1901 1.256

Perang Rusia-Jepang Konflik dengan kekaisaran Rusia mengenai Korea dan Manchuria

1904-1905

88.429

Perang Dunia I Konflik dengan kekaisaran Jerman mengenai Laut Tengah dan Shandong

1914– 1918

4.850

Pertempuran Qingshanli

Konflik dengan tentara pembebasan Korea 1920 11

Insiden Jinan Konflik dengan koumintang mengenai Jinan 1928 185 Insiden Mukden Awal kependudukan di Manchuria 1931–

1937

17.176

Perang Cina-Jepang Kedua

Konflik dengan China 1937–

1941


(4)

Di bawah ini daftar konflik dimana Jepang ikut serta, keterangan konflik secara kronologis dan jumlah korban tewas yang juga diabadikan sebagai Kami

2.2 Fungsi Kuil Yasukuni

Kuil Yasukuni adalah salah satu kuil peringatan perang di Jepang yang didirikan atas perintah kaisar. Kuil Yasukuni sendiri khusus didedikasikan bagi Kami para tentara atau mereka yang tewas dalam peperangan untuk membela Kekaisaran Jepang dalam perang Boshin (1868-1869), yakni perang saudara di Jepang antara pasukan yang loyal kepada Tokugawa dan kekuatan yang ingin mengembalikan kekuasan tertinggi ke tangan kaisar

Sesuai kepercayaan Shinto, Kami para tentara, atau mereka yang diabadikan di kuil Yasukuni, berkumpul di Kuil Yasukuni meski jasad atau abu mereka berada di tempat lain. Sehingga kompleks kuil Yasukuni bukannya berisikan makam atau abu para tentara tersebut. Kuil Yasukuni yang berdiri di atas tanah seluas 6.25 hektare atau sekitar tiga kali lapangan bola ini hanya berisikan kuil pemujaan dan bangunan serta patung-patung memorial.

Secara fisik, Kuil Yasukuni tak berbeda dibandingkan ribuan kuil Shinto lainnya yang ada di Jepang. Seperti layaknya kuil Shinto, Kuil Yasukuni juga memiliki gerbang khas di pintu masuk kompleks kuil, atau disebut torii. Khusus Yasukuni, torii di kuil ini adalah kuil torii yang terbesar seantero Jepang.

Perang Dunia II (Perang Pasifik, termasuk Perang Indochina Pertama)

Konflik dengan Sekutu Perang Dunia II dan keterlibatan dalam perang pasifik (termasuk penjahat perang kelas A,B & C dan korban kerja paksa Jepang di Uni soviet) juga konflik dengan Prancis

1941– 1945 1945-..

2.133.915


(5)

Tingginya mencapai 25 meter dan lebarnya 34 meter. Karena itulah disebut Daiichi Torii atau Great Gate.

Seperti halnya kuil-kuil pemujaan agama shinto, di dalam kompleks kuil Yasukuni juga terdapat bangunan aula pemujaan (haiden). Aula pemujaan (haiden) digunakan oleh pengunjung yang datang ke kuil Yasukuni untuk berdoa dan memberikan sesajen.

Dibelakang dari aula pemujaan (haiden) terdapat bangunan yang disebut dengan Kuil Utama (honden). Kuil Utama (honden) adalah tempat diabadikannya semua Kami dan dilakukannya ritual Shinto. Gedung ini biasanya tidak dibuka untuk umum. Dibelakang dari Kuil Utama (honden) juga masih terdapat sebuah bangunan kuil yang disebut Reijibo Hōanden. Di Gedung ini disimpan Register Jiwa Simbolis yaitu sebuah buku yang terbuat dari kertas Jepang yang mencatat semua Kami yang diabadikan dan dipuja di Kuil Yasukuni.

Selain dari ketiga bangunan kuil utama Yasukuni, di dalam kompleks kuil ini juga terdapat kuil kecil yang disebut Motomiya (元宮). Kuil kecil ini awalnya didirikan secara rahasia di Kyoto oleh simpatisan pendukung kekaisaran yang tewas pada minggu-minggu pertama perang saudara semasa Restorasi Meiji. Pada tahun 1931, kuil ini dipindahkan ke selatan kuil utama Yasukuni.

Berada persis di sebelah selatan Kuil Motomiya terdapat juga kuil Chinreisha. Kuil Chinreisha yang didirikan pada tahun 1965 ini berfungsi sebagai tempat untuk arwah korban perang yang tidak diabadikan di Kuil Utama (honden). Para korban yang dari tentara Tokugawa dan pasukan pemberontak yang tewas dalam Perang Boshin atau Pemberontakan Satsuma Rebellion dianggap musuh Kaisar.


(6)

Sehingga mereka tidak diabadikan di Kuil Utama (honden) Yasukuni melainkan diabadikan di Kuil Chinreisha yang terdapat di dalam kompleks Kuil Yasukuni. Kuil Chinreisha didedikasikan untuk korban tewas dalam perang atau konflik di seluruh dunia, tanpa memandang kebangsaan.

Selain bangunan kuil pemujaan, di dalam kompleks kuil Yasukuni terdapat beberapa patung dan bangunan memorial perang. Beberapa monumen memorial yang terdapat di dalam kompleks Yasukuni antara lain

- Patung Janda Perang yang didedikasikan untuk menghormati para ibu yang membesarkan anak-anak mereka seorang diri akibat suami mereka tewas dalam perang.

- Patung Seekor Anjing, Seekor Kuda, dan Seekor Merpati Pos. Ketiga patung perunggu berukuran sebenarnya ini disumbangkan pada tiga kesempatan berbeda pada paruh pertama abad ke-20. Patung pertama yang disumbangkan adalah patung kuda yang diletakkan di Kuil Yasukuni pada tahun 1958 untuk menghormati kuda-kuda yang mati berjasa untuk tentara Jepang. Patung merpati pos dan bola dunia dimaksudkan untuk mengenang merpati pos yang mati berjasa untuk tentara. Patung terakhir, berupa patung seekor anjing, disumbangkan pada tahun 1992. Patung anjing ini untuk memperingati anjing gembala Jerman yang mati berjasa untuk tim anjing tentara Jepang.

- Patung penerbang Kamikaze adalah patung perunggu yang berwujud penerbang kamikaze yang didirikan di sebelah kiri pintu masuk Yūshūkan. Sebuah plakat kecil di samping kiri patung disumbangkan oleh Asosiasi


(7)

Memorial Perdamaian Tokk tai pada tahun 2005. Patung ini mendaftar 5.843 penerbang yang tewas melakukan serangan bunuh diri terhadap kapal-kapal angkatan laut Sekutu semasa Perang Dunia II.

- Patung mura Masujir yang merupakan karya Okuma Ujihiro pada tahun 1893. Patung ini adalah patung pertama gaya barat di Jepang. Dididirikan untuk mengenang mura Masujir , seorang tokoh militer yang dikenal sebagai "Bapak Tentara Jepang Modern”.

- Monumen Hakim Radha Binod Pal : Monumen ini didirikan di Kuil Yasukuni pada tahun 2005. Kuil ini menghormati hakim berkewarganegaraan India Radha Binod Pal yang berdinas untuk Pengadilan Militer Asia Timur Jauh. Hakim Radha Binod Pal adalah satu-satunya hakim yang menyatakan semua terdakwa penjahat perang Jepang tidak bersalah.

Di dalam Kompleks Kuil Yasukuni terdapat juga sebuah Yūshūkan. Museum ini dibangun pada tahun 1889. Di tempat ini disimpan beberapa peninggalan perang yang menunjukkan keberanian dan kemulian orang-orang yang meninggal dalam peperangan, seperti pesawat Fighter Zero yang digunakan para pilot kamikaze dalam melakukan aksi bunuh diri dengan cara menabrakan pesawat mereka ke kapal-kapal induk sekutu semasa Perang Dunia II.

Seperti halnya kuil Shinto lainnya, Kuil Yasukuni juga mengadakan banyak festival (matsuri) dalam satu tahun. Kegiatan rutin ini juga menjadi salah satu daya tarik para turis yang datang ke Kuil Yasukuni. Beberapa perayaam tahunan di Kuil Yasukuni :


(8)

1 Januari - Shinnensai (Festival Tahun Baru)

Februari 11 - Kenkoku Kinensai (National Foundation Day) HUT hari yang pertama di Jepang, Kaisar Jinmu dikatakan telah mendirikan bangsa Jepang.

Februari 17 - Kinensai (Spring Harvest Festival)

April 21-23 - Shunki Reitaisai (Festival Tahunan Musim Semi)

April 29 - Showasai (Showa Festival) ulang tahun Kaisar Showa

29 Juni - Gosoritsu Kinenbisai (Founding Day) Peringatan pendirian Yasukuni Jinja

13-16 Juli - Mitama Matsuri - Sebuah perayaan pertengahan musim panas roh para leluhur. Entri berjalan yang dihiasi dengan 40 kaki tembok tinggi dari 29.000 atau lebih lentera, dan ribuan pengunjung datang untuk memberikan

penghormatan kepada mereka yang kehilangan sanak keluarga dan teman-teman.

17-20 Oktober - Shuki Reitaisai (Festival Tahunan musim gugur)

November 3 - Meijisai (Kaisar Meiji's Birthday)

November 23 - Niinamesai (Festival Buah Pertama)

Desember 23 - Tenno gotanshin Hoshukusai (Birthday of current Tenno)

Pertama, 11 dan hari ke 21 setiap bulan - Tukinamisai


(9)

2.3 Perkembangan Hubungan Diplomatik Jepang dengan China

China dipercaya sudah didiami oleh manusia sekitar 1,7 juta tahun yang lalu. Peradaban China berawal dari berbagai negara kota di sepanjang lembah Sungai Kuning pada zaman Neolitikum. Dinasti Xia (2100 SM-1600 SM) adalah dinasti yang menjadi awal peradaban dinasti kuno di China. Kebudayaan China memiliki usia yang sudah sangat tua. Peradaban China dipercaya lebih tua dan lebih maju dari peradaban Mesopotamia dan Mesir Kuno. Walaupun kebudayaan bangsa China sudah ada sejak lama tetapi masyarakat China masih terus menjaga hingga sekarang ini. Karena kebudayaan yang sudah tua tersebut tetap terjaga sehingga tidak mengherankan apabila kebudayaan China merasuk dan mempengaruhi negara-negara di sekitarnya termasuk Jepang.

China dan Jepang adalah negara serumpun di daerah Asia Timur. Selain memiliki ras manusia yang sama, beberapa kebudayaan Jepang memiliki kemiripan dengan kebudayaan China. Kemiripan ini dikarenakan masyarakat Jepang yang melakukan akulturasi kebudayaan antara kebudayaan China dan kebudayaan asli Jepang. Kemajuan yang dialami Jepang selama masa prasejarah tidak lepas dari orang-orang Tairiku (China) yang datang melancong ke Jepang.

Hubungan kerjasama antara Jepang dan China sudah berlangsung dari abab ke 3 masehi yaitu di zaman Yayoi di Jepang. Jepang mengalami lompatan kebudayaan akibat masuk teknologi pertanian yang dibawa oleh pendatang dari


(10)

Tairiku (China). Beberapa sarjana beranggapan nenek moyang masyarakat bangsa Jepang sekarang ini adalah merupakan perpaduan antara pendatang dari Tairiku (China) dan masyarakat asli yang sudah lebih dahulu tinggal di Jepang. Pada zaman Jomon, masyarakat Jepang yang hanya mengenal peralatan dari batu dan tanah liat sudah mulai diperkenalkan mengunakan peralatan dari logam yang dibawa oleh pendatang dari China.

Memasuki masa Yayoi masyarakat Jepang sudah dikenalkan dengan peralatan-peralatan pertanian. Pada zaman Yayoi adalah fase perkembangan dari zaman Jomon dimana masyarakat Jepang mulai meninggalkan peralatan dari batu dan tanah liat dan mulai menggunakan teknologi yang terbuat dari logam. Pada zaman Yayoi segala pembuatan alat-alat yang terbuat dari tanah liat seperti keramik sudah sangat halus dikarenakan teknologi yang masuk dari daratan China.

Dengan masuknya para pendatang yang datang dari China mengakibatkan terjadinya perubahan pola kehidupan masyarakat Jepang, dengan mulai dikenal masyarakat pertanian. Masyarakat Jepang yang hidup dengan berburu pada zaman Jomon sudah mulai meninggalkannya dan beralih kepada pertanian karena hasil pertanian cukup untuk memenuhi kehidupan kelompok yang hidup dalam jumlah yang banyak dan hasil dari pertanian seperti padi dapat di simpan dalam waktu yang lebih lama.

Karena pertanian dapat menjamin pendapatan yang tetap sehingga masyarakat dapat tinggal bersama dalam skala yang relatif besar dibandingkan masyarakat berburu. Hal ini juga mengakibatkan munculnya strata sosial dalam masyarakat tersebut. Perkembangan ini melahirkan adanya orang kaya dan orang


(11)

miskin, orang berkuasa dan orang tidak berkuasa. Kemudian juga memunculkan status Tuan atau Raja dan dipihak lain muncul status pekerja dan budak. Stara sosial seperti diatas tidak akan ditemui di dalam masyarakat berburu.

Tidak hanya memuncul masyarakat pertanian, teknologi yang dibawa oleh para masyarakat Tairiku juga memunculkan masyarakat nelayan. Masyarakat Jepang juga memilih menjadi nelayan dan meninggalkan berburu karena laut juga menjanjikan suatu penghidupan yang sama baiknya dengan pertanian. Jepang yang memiliki luas laut yang lebih luas dari pada daratan membuat masyarakat Jepang mulai melirik hasil-hasil laut. Masyarakat Jepang melihat potensi yang sangat menjanjikan dari laut seperti ikan, rumput-rumput lain yang bisa dikomsumsi dan jenis-jenis kerang dan mutiara yang bisa digunakan sebagai perhiasan.

Pada pertengahan abad ke 4 hingga 6 di daerah Yamato atau daerah Nara muncul penguasa besar yang hampir menguasai seluruh Jepang. Pemerintahan itu disebut Yamato Chotei dan rajanya disebut dengan Tenno. Pada abad 5 kerajaan Yamato Chotei mulai membuka hubungan diplomatik antara Jepang dengan pemerintahan daratan China dan Kudara (Korea). Sehingga mulai masuk ke Jepang teknologi perkayuan, pengolahan benang sutra dan juga mulai masuk agama Budha, Konfuchu, Taoisme dan ilmu pengetahuan lainnya yang menjadi dasar ilmu pengetahuan di Jepang.

Jepang juga meniru sistem pemerintahan China. Nakatomi Nokamatari adalah tokoh yang memulai sistem pemerintahan seperti kekaisaran China dengan membuat reformasi Taika dan membuat undang-undang Taihounoritsuryou.


(12)

Dalam Taihounoritsuryou ditetapkan pemikiran kochikomin yaitu bahwa tanah dan warga adalah dibawah kekuasaan pemerintahan pusat. Kemudian para keluarga bangsawan menjadi pengawai pemerintahan pusat yang bertugas di daerah maupun di pusat. Dengan adanya undang-undang Taihounoritsuryou menjadi bukti masyarakat Jepang sudah mengenal tulisan. (Situmorang.2009:11-12)

Huruf China dan bahasa Cina dibawa oleh seorang sarjana Korea yang bernama Wani sebagai perantara lalu orang Jepang mengadopsi tulisan dari Cina tersebut. Pada awalnya Wani mengajarkan tentang huruf Cina di Jepang, tetapi dalam perkembangannya Wani juga mengajarkan bahasa Cina di Jepang karena banyak yang mempelajari dan memang belum ada sistem penulisan di Jepang. Jepang menggunakan tulisan Cina tersebut dengan menggunakan dua cara, yaitu cara fonetis dan cara ideografis. Dalam cara fonetis orang Jepang menulis dan membaca kata-kata Jepang yang ditulis oleh huruf Cina dan dengan bunyi yang sama namun dengan ucapan Jepang, pada awalnya terjadi kekacauan karena masih sulit berdaptasi dengan orang Jepang namun lama-kelamaan mengalami perkembangan ke arah yang sempurna karena tiap kata Jepang dapat dituliskan dengan baik.

Bahasa dan tulisan yang berasal dari Cina ini dijadikan bahasa dan tulisan resmi di Jepang pada masa itu. Huruf yang dipakai masa itu adalah huruf kanji dengan tulisan Manyogana, yaitu tulisan huruf kanji dengan struktur tulisan bahasa China. Hingga pada abad ke 9 lahirlah huruf Jepang yang disebut dengan Katakana dan Hiragana. Dengan ditemukan huruf katakana dan hiragana ini


(13)

mendorong kemajuan dan kemampuan membaca dan menulis di kalangan masyarakat Jepang.

Hubungan yang baik terus berlanjut antara kaisar Jepang dan Dinasti Tang yang berkuasa di China di abad 9. Jepang mulai mengirim utusan-utusannya untuk belajar ke China agar ilmu yang mereka dapat di China dapat dibagikan dan diterapkan di Jepang. Bukti lain hubungan baik antara kekaisaran Jepang dan Kekaisaran China adalah saat Kekaisaran Mongol dibawah kekuasaan Kubilai Khan melakukan Invasi ke Jepang. Tentara Kerajaan Mongol yang sebagian juga adalah pasukan China mengalami kekalahan oleh pasukan Samurai Kaisar Jepang. Atas perintah Kaisar Jepang untuk membebaskan pasukan-pasukan Tang (China) karena Kaisar Jepang memiliki hubungan baik dengan Dinasti Tang di China. Sedangkan tentara Mongol semuanya dihukum penggal. Hubungan baik antara Jepang dan China membuat kebudayaan China dapat bebas masuk ke Jepang. Masyarakat Jepang mulai menikmati kebudayaan dari China khususnya masyarakat golongan atas atau bangsawan.

Memasuki akhir abad ke 9 Pada zaman Heian berkembang berbagai macam kebudayaan lokal. Pengaruh budaya China surut sejalan dengan dengan kemunduran dinasti Tang di China. Atas usul dari Sugawara no Michinaze, pengiriman utusan resmi ke Cina pun dihentikan. Pengiriman terakhir utusan Jepang ke Dinasti Tang berlangsung pada tahun 838. Pemerintahan Jepang yang dipimpin keshogunan fokus mengembangkan kebudayaan lokal. Para Shogun yang berkuasa di Jepang menginginkan kebudayaan lokal lebih berkembang di Jepang daripada kebudayaan pendatang seperti kebudayaan China. Keshogunan Tokugawa di zaman Edo hingga membuat kebijakan isolasi atau menutup diri.


(14)

Kebijakan isolasi ini bertujuan untuk menutup segala bentuk kebudayaan dari luar Jepang dan lebih mengembangkan kebudayaan asli. Pada zaman Edo dianggap sebagai zaman pembentukan budaya Jepang secara universal.

Memasuki abad 10 hingga abad 20 hubungan yang terjadi antara Jepang dan China lebih kepada konflik dan peperangan. Puncaknya saat Jepang menjajah China di Abad 20 dan dimulainya invasi Jepang ke seluruh Asia Pasifik. Potensi yang dimiliki sumber daya alam China ingin dimanfaatkan Jepang untuk keuntungan bagi Jepang sendiri dimana di saat yang bersamaan Jepang sedang berusaha menguasai dunia. China menjadi tempat yang strategis untuk tempat industri Jepang.

Kebangkitan Jepang di akhir abad ke-19 terlihat sebagai sebuah penghinaan oleh China. Kemarahan China terhadap Jepang dan munculnya gerakan anti-Jepang memuncak disaat anti-Jepang memulai imperialismenya dan mulai menjajah China pada abad 20. China merasa sudah dikhianati oleh Jepang dikarenakan ajaran konfusianisme yang telah diekspor China ke negara-negara di luar China termasuk Jepang yang menjadi akar kesamaan budaya, seharusnya dapat menerima kepemimpinan China dan menjadikan China sebagai Bapak atas bangsa-bangsa yang menerima kebudayaan China termasuk Jepang. Tetapi kemajuan yang dialami Jepang dan penjajahan yang dilakukan Jepang terhadap China selama Perang Dunia II membuat perseteruan terus memanas antara China dan Jepang. Perseteruan di Perang Dunia II juga terbawa hingga sekarang membuat kaum muda di China dan Jepang hari-hari ini lebih bersikap saling bermusuhan antara satu dengan yang lain dibandingkan leluhur mereka bahkan sesudah perang selesai.


(1)

2.3 Perkembangan Hubungan Diplomatik Jepang dengan China

China dipercaya sudah didiami oleh manusia sekitar 1,7 juta tahun yang lalu. Peradaban China berawal dari berbagai negara kota di sepanjang lembah Sungai Kuning pada zaman Neolitikum. Dinasti Xia (2100 SM-1600 SM) adalah dinasti yang menjadi awal peradaban dinasti kuno di China. Kebudayaan China memiliki usia yang sudah sangat tua. Peradaban China dipercaya lebih tua dan lebih maju dari peradaban Mesopotamia dan Mesir Kuno. Walaupun kebudayaan bangsa China sudah ada sejak lama tetapi masyarakat China masih terus menjaga hingga sekarang ini. Karena kebudayaan yang sudah tua tersebut tetap terjaga sehingga tidak mengherankan apabila kebudayaan China merasuk dan mempengaruhi negara-negara di sekitarnya termasuk Jepang.

China dan Jepang adalah negara serumpun di daerah Asia Timur. Selain memiliki ras manusia yang sama, beberapa kebudayaan Jepang memiliki kemiripan dengan kebudayaan China. Kemiripan ini dikarenakan masyarakat Jepang yang melakukan akulturasi kebudayaan antara kebudayaan China dan kebudayaan asli Jepang. Kemajuan yang dialami Jepang selama masa prasejarah tidak lepas dari orang-orang Tairiku (China) yang datang melancong ke Jepang.

Hubungan kerjasama antara Jepang dan China sudah berlangsung dari abab ke 3 masehi yaitu di zaman Yayoi di Jepang. Jepang mengalami lompatan kebudayaan akibat masuk teknologi pertanian yang dibawa oleh pendatang dari


(2)

Tairiku (China). Beberapa sarjana beranggapan nenek moyang masyarakat bangsa Jepang sekarang ini adalah merupakan perpaduan antara pendatang dari Tairiku (China) dan masyarakat asli yang sudah lebih dahulu tinggal di Jepang. Pada zaman Jomon, masyarakat Jepang yang hanya mengenal peralatan dari batu dan tanah liat sudah mulai diperkenalkan mengunakan peralatan dari logam yang dibawa oleh pendatang dari China.

Memasuki masa Yayoi masyarakat Jepang sudah dikenalkan dengan peralatan-peralatan pertanian. Pada zaman Yayoi adalah fase perkembangan dari zaman Jomon dimana masyarakat Jepang mulai meninggalkan peralatan dari batu dan tanah liat dan mulai menggunakan teknologi yang terbuat dari logam. Pada zaman Yayoi segala pembuatan alat-alat yang terbuat dari tanah liat seperti keramik sudah sangat halus dikarenakan teknologi yang masuk dari daratan China.

Dengan masuknya para pendatang yang datang dari China mengakibatkan terjadinya perubahan pola kehidupan masyarakat Jepang, dengan mulai dikenal masyarakat pertanian. Masyarakat Jepang yang hidup dengan berburu pada zaman Jomon sudah mulai meninggalkannya dan beralih kepada pertanian karena hasil pertanian cukup untuk memenuhi kehidupan kelompok yang hidup dalam jumlah yang banyak dan hasil dari pertanian seperti padi dapat di simpan dalam waktu yang lebih lama.

Karena pertanian dapat menjamin pendapatan yang tetap sehingga masyarakat dapat tinggal bersama dalam skala yang relatif besar dibandingkan masyarakat berburu. Hal ini juga mengakibatkan munculnya strata sosial dalam masyarakat tersebut. Perkembangan ini melahirkan adanya orang kaya dan orang


(3)

miskin, orang berkuasa dan orang tidak berkuasa. Kemudian juga memunculkan status Tuan atau Raja dan dipihak lain muncul status pekerja dan budak. Stara sosial seperti diatas tidak akan ditemui di dalam masyarakat berburu.

Tidak hanya memuncul masyarakat pertanian, teknologi yang dibawa oleh para masyarakat Tairiku juga memunculkan masyarakat nelayan. Masyarakat Jepang juga memilih menjadi nelayan dan meninggalkan berburu karena laut juga menjanjikan suatu penghidupan yang sama baiknya dengan pertanian. Jepang yang memiliki luas laut yang lebih luas dari pada daratan membuat masyarakat Jepang mulai melirik hasil-hasil laut. Masyarakat Jepang melihat potensi yang sangat menjanjikan dari laut seperti ikan, rumput-rumput lain yang bisa dikomsumsi dan jenis-jenis kerang dan mutiara yang bisa digunakan sebagai perhiasan.

Pada pertengahan abad ke 4 hingga 6 di daerah Yamato atau daerah Nara muncul penguasa besar yang hampir menguasai seluruh Jepang. Pemerintahan itu disebut Yamato Chotei dan rajanya disebut dengan Tenno. Pada abad 5 kerajaan Yamato Chotei mulai membuka hubungan diplomatik antara Jepang dengan pemerintahan daratan China dan Kudara (Korea). Sehingga mulai masuk ke Jepang teknologi perkayuan, pengolahan benang sutra dan juga mulai masuk agama Budha, Konfuchu, Taoisme dan ilmu pengetahuan lainnya yang menjadi dasar ilmu pengetahuan di Jepang.

Jepang juga meniru sistem pemerintahan China. Nakatomi Nokamatari adalah tokoh yang memulai sistem pemerintahan seperti kekaisaran China dengan membuat reformasi Taika dan membuat undang-undang Taihounoritsuryou.


(4)

Dalam Taihounoritsuryou ditetapkan pemikiran kochikomin yaitu bahwa tanah dan warga adalah dibawah kekuasaan pemerintahan pusat. Kemudian para keluarga bangsawan menjadi pengawai pemerintahan pusat yang bertugas di daerah maupun di pusat. Dengan adanya undang-undang Taihounoritsuryou menjadi bukti masyarakat Jepang sudah mengenal tulisan. (Situmorang.2009:11-12)

Huruf China dan bahasa Cina dibawa oleh seorang sarjana Korea yang bernama Wani sebagai perantara lalu orang Jepang mengadopsi tulisan dari Cina tersebut. Pada awalnya Wani mengajarkan tentang huruf Cina di Jepang, tetapi dalam perkembangannya Wani juga mengajarkan bahasa Cina di Jepang karena banyak yang mempelajari dan memang belum ada sistem penulisan di Jepang. Jepang menggunakan tulisan Cina tersebut dengan menggunakan dua cara, yaitu cara fonetis dan cara ideografis. Dalam cara fonetis orang Jepang menulis dan membaca kata-kata Jepang yang ditulis oleh huruf Cina dan dengan bunyi yang sama namun dengan ucapan Jepang, pada awalnya terjadi kekacauan karena masih sulit berdaptasi dengan orang Jepang namun lama-kelamaan mengalami perkembangan ke arah yang sempurna karena tiap kata Jepang dapat dituliskan dengan baik.

Bahasa dan tulisan yang berasal dari Cina ini dijadikan bahasa dan tulisan resmi di Jepang pada masa itu. Huruf yang dipakai masa itu adalah huruf kanji dengan tulisan Manyogana, yaitu tulisan huruf kanji dengan struktur tulisan bahasa China. Hingga pada abad ke 9 lahirlah huruf Jepang yang disebut dengan Katakana dan Hiragana. Dengan ditemukan huruf katakana dan hiragana ini


(5)

mendorong kemajuan dan kemampuan membaca dan menulis di kalangan masyarakat Jepang.

Hubungan yang baik terus berlanjut antara kaisar Jepang dan Dinasti Tang yang berkuasa di China di abad 9. Jepang mulai mengirim utusan-utusannya untuk belajar ke China agar ilmu yang mereka dapat di China dapat dibagikan dan diterapkan di Jepang. Bukti lain hubungan baik antara kekaisaran Jepang dan Kekaisaran China adalah saat Kekaisaran Mongol dibawah kekuasaan Kubilai Khan melakukan Invasi ke Jepang. Tentara Kerajaan Mongol yang sebagian juga adalah pasukan China mengalami kekalahan oleh pasukan Samurai Kaisar Jepang. Atas perintah Kaisar Jepang untuk membebaskan pasukan-pasukan Tang (China) karena Kaisar Jepang memiliki hubungan baik dengan Dinasti Tang di China. Sedangkan tentara Mongol semuanya dihukum penggal. Hubungan baik antara Jepang dan China membuat kebudayaan China dapat bebas masuk ke Jepang. Masyarakat Jepang mulai menikmati kebudayaan dari China khususnya masyarakat golongan atas atau bangsawan.

Memasuki akhir abad ke 9 Pada zaman Heian berkembang berbagai macam kebudayaan lokal. Pengaruh budaya China surut sejalan dengan dengan kemunduran dinasti Tang di China. Atas usul dari Sugawara no Michinaze, pengiriman utusan resmi ke Cina pun dihentikan. Pengiriman terakhir utusan Jepang ke Dinasti Tang berlangsung pada tahun 838. Pemerintahan Jepang yang dipimpin keshogunan fokus mengembangkan kebudayaan lokal. Para Shogun yang berkuasa di Jepang menginginkan kebudayaan lokal lebih berkembang di Jepang daripada kebudayaan pendatang seperti kebudayaan China. Keshogunan


(6)

Kebijakan isolasi ini bertujuan untuk menutup segala bentuk kebudayaan dari luar Jepang dan lebih mengembangkan kebudayaan asli. Pada zaman Edo dianggap sebagai zaman pembentukan budaya Jepang secara universal.

Memasuki abad 10 hingga abad 20 hubungan yang terjadi antara Jepang dan China lebih kepada konflik dan peperangan. Puncaknya saat Jepang menjajah China di Abad 20 dan dimulainya invasi Jepang ke seluruh Asia Pasifik. Potensi yang dimiliki sumber daya alam China ingin dimanfaatkan Jepang untuk keuntungan bagi Jepang sendiri dimana di saat yang bersamaan Jepang sedang berusaha menguasai dunia. China menjadi tempat yang strategis untuk tempat industri Jepang.

Kebangkitan Jepang di akhir abad ke-19 terlihat sebagai sebuah penghinaan oleh China. Kemarahan China terhadap Jepang dan munculnya gerakan anti-Jepang memuncak disaat anti-Jepang memulai imperialismenya dan mulai menjajah China pada abad 20. China merasa sudah dikhianati oleh Jepang dikarenakan ajaran konfusianisme yang telah diekspor China ke negara-negara di luar China termasuk Jepang yang menjadi akar kesamaan budaya, seharusnya dapat menerima kepemimpinan China dan menjadikan China sebagai Bapak atas bangsa-bangsa yang menerima kebudayaan China termasuk Jepang. Tetapi kemajuan yang dialami Jepang dan penjajahan yang dilakukan Jepang terhadap China selama Perang Dunia II membuat perseteruan terus memanas antara China dan Jepang. Perseteruan di Perang Dunia II juga terbawa hingga sekarang membuat kaum muda di China dan Jepang hari-hari ini lebih bersikap saling bermusuhan antara satu dengan yang lain dibandingkan leluhur mereka bahkan sesudah perang selesai.