Buku Ajar Penelitian dan Pengembangan Ce

1 | PENELITIAN CERITA
A LIS
LISAN-LOKAL DAN PENGEMBANGAN SEKOLAH BERBU
BUDAYA LISAN

SEBUAH LAPORAN HAS
HASIL PENELITIAN | 2

A.

ISU PENGEM
MBANGAN GERAKAN LITERASI DAN
AN BUDAYA
LISAN LOKA
AL DI SEKOLAH

Gerakan Literasi
Lit
Sekolah (GLS) menyertai isu-isu
isu peningkatan
mutu pendidikan m
melalui program pengembangan kurikulu
ulum tahun 2013
dan kurikulum nasi
asional. Selain mewujudkan masyarakat “melek
“m
literasi”,
sekolah juga ditunt
ntut untuk dapat mencitrakan budaya da
dan penciri khas
sekolah sesuai den
engan ciri masyarakat di sekitarnya. Terkait
T
budaya
masyarakat di seki
ekitar sekolah, peneliti menyoroti permas
asalahan terkait
pelestarian folklore
re sastra lisan-lokal, khususnya di wilayah
ah sekitar lokasi
yang direncanakan
an menjadi subjek penelitian. Fakta dan
an permasalahan
GLS dan Budaya Sekolah.
Se

3 | PENELITIAN CERITA
A LIS
LISAN-LOKAL DAN PENGEMBANGAN SEKOLAH BERBU
BUDAYA LISAN

Wacana tent
entang Gerakan Literasi di Indonesia telah
tel
digulirkan
sejak 2015 oleh pem
emerintah, diawali oleh Gerakan Literasi
si Sekolah (GLS)
oleh Kementerian
an Pendidikan dan Kebudayaan.

Secara
Sec

simbolis,

Mendikbud Anies
es Baswedan meluncurkan GLS dengan
n tema “Bahasa
Penumbuh Budi Pekerti”
Pe
dengan menyerahkan buku paket
ket bacaan untuk
20 sekolah di DKII Jakarta sebagai bahan awal kegiatan literasi,
lit
Agustus
2015 lalu. Pengemb
bangan GLS didasarkan pada Permendikb
ikbud Nomor 21
Tahun 2015 tentan
tang Penumbuhan Budi pekerti (Litbang
ang Kemdikbud,
2015).
GLS adalah
hg
gerakan yang memperkuat gerakan penu
enumbuhan budi
pekerti sebagaiman
ana dituangkan dalam Peraturan Mente
nteri Pendidikan
dan Kebudayaan Nomor
N
23 Tahun 2015. Salah satu kegia
giatan di dalam
gerakan tersebut adalah
ad
kegiatan 15 menit membaca buku
ku nonpelajaran
sebelum waktu b
belajar dimulai. Kegiatan ini dilaksa
ksanakan untuk
menumbuhkan

m
minat

baca

peserta

didik

serta

meningkatkan

keterampilan mem
embaca agar pengetahuan dapat dikuasa
asai secara lebih
baik. (Dirjen Pend
ndidikan Dasar & Menengah Kemendikb
ikbud (1), 2016;
Dirjen Pendidikan
nD
Dasar dan Menengah Kemendikbud (2),
), 2015).
2
Salah satu jenis
je
GLS yang dapat dilaksanakan dii sekolah
s
adalah
menciptakan buday
aya membaca dalam kegiatan di sekolah.
ah. Penumbuhan
minat untuk mem
embaca pada siswa diamantkan pemer
erintah melalui
kementerian pendid
didikan dalam Permendikbud No.23 Tahun
hun 2015. Tujuan
umum dari amanat
at pembudayaan membaca ini adalah untu
ntuk membentuk
insan dan ekosistem
tem pendidikan dan kebudayaan yang berkarakter
be
dan
dilandasi selamatt gotong royong. Secara khusus tujuan
an program ini
adalah

agar

pes
eserta

didik

memiliki

menjadikannya keb
ebiasaan serta gaya hidup.

kegemaran

membaca
m

dan

SEBUAH LAPORAN HAS
HASIL PENELITIAN | 4

Penumbuhan
an minat baca salah satunya dapat dilaksa
ksanakan dengan
mencanangkan pro
rogram membaca 15 menit setiap hari di ssekolah. Satria
Darma, dalam sajia
jian Sosialisasi Bansos Guru SMA bertajuk
juk Penumbuhan
Budi Pekerti dan Pe
Pengembangan Literasi di Hotel Sunan Solo
So (12/8/2015)
menyebutkan bahw
ahwa selain mengembangkan budaya literasi
l
dalam
bentuk kegiatan m
membaca setiap sekolah juga dapat mengembangkan
me
kegiatan menulis (D
(Dharma, 2015).
Selain

peng
engembangan

budaya

literasi,

pemeri
erintah

melalui

Permendikbud 611 Th. 2014 tentang acuan konseptuall pengembangan
p
kondisi sosbud dan
da karakteristik satuan pendidikan menuntut
m
agar
sekolah mampu mengemban
me
amanah sebagai sebuah pusa
usat kebudayaan
(Dit.PSMA, 2015).
). Sebagai pusat kebudayaan, sekolah pe
perlu berinovasi
agar memiliki citr
itra penciri yang terlihat dari bentuk-b
bentuk budaya
sekolah. Salah satu
atunya adalah dengan mewujudkan GLS
LS sebagai ikon
budaya sekolah. Selain
Se
mewujudkan citra budaya khasnya
ya, sekolah juga
perlu untuk mewuj
ujudkan budaya masyarakat setempat seba
ebagai salah satu
ciri khasnya
Selain melak
laksanakan penyelenggaraan pendidikan
an sepenuhnya,
sekolah juga perlu
rlu untuk mewujudkan penciri dan bu
budaya sekolah
melalui konsep 3P (Penampilan, Pelayanan, dan Prestasi
asi) dan Budaya
Sekolah. Implement
entasi 3P adalah upaya untuk mewujudkan
an sekolah ideal.
Ini bukan merupak
akan hal baru di sekolah, tetapi kenyata
taannya saat ini
masih terdapat sekolah
s
yang belum memperhatikan
n hal tersebut
sebagaimana mestin
stinya. Bentuk budaya sekolah adalah salah
sal
satu aspek
yang turut mempen
pengaruhi citra sekolah di mata masyaraka
akat (Dit. PSMA,
2015).
Memanfaatka
tkan konsep pengembangan budaya sekolah
se
melalui
penampilan sekolah
lah, sekolah dapat menetapkan dan men
enampilkan diri

5 | PENELITIAN CERITA
A LIS
LISAN-LOKAL DAN PENGEMBANGAN SEKOLAH BERBU
BUDAYA LISAN

sebagai sebuah cagar
cag
budaya kesusastraan lisan-lokal.. Sesuai
S
dengan
potensi lokal dii daerahnya
d
masing-masing, sekolah menjadi
m
tempat
dimana setiap warg
arganya adalah penutur aktif segala jenis
nis kesusastraan
lisan di daerahnya.
Setiap sekol
olah di setiap daerah pasti memilikii b
berbagai jenis
kesusastraan lisan
nd
di daerahnya. Sekolah perlu memetakan
an dan merekan
setiap keberadaan
an mite, legenda dan dongeng diseki
ekitarnya untuk
kemudian dituturk
urkan dari generasi ke generasi di sek
ekolah tersebut.
Hingga pada akh
khirnya, tujuan utama kegiatan inii adalah
a
untuk
menjadikan setiap
pw
warga sekolah sebagai penutur aktif kesu
susastraan lisanlokal di daerahnya
ya sendiri. Dengan begitu, maka kesusastra
straan lisan-lokal
akan memiliki rum
mah tinggal dan pengasuhnya sendiri. Ko
Konsep ini logis
mengingat bentuk--bentuk sastra lisan hidup bergantung
ng pada tuturan
masyarakat pemilik
iliknya. Maka, cara paling efektif untuk melestarikannya
m
adalah dengan me
mendidik sebanyak mungkin penutur aktif
ak
yang siap
menyampaikan na
narasi-narasi cerita dari kesusastraan
n lisan-lokal di
daerahnya masing
ng-masing. Hal ini adalah bentuk citraa / penampilan
nonmaterial yang
g d
dimiliki sekolah dan akan menjadi pen
enciri khas dari
sekolah tersebut.
Tidak cukup
up hanya pada bentuk nonmaterial, sekol
kolah juga diberi
kesempatan untuk
uk menunjukkan diri sebagai sebuah
h cagar budaya
kesusastraan lisan--lokal dalam bentuk material. Dengan aadanya banyak
penutur kesusastr
straan lisan-lokal di sekolah, maka sekolah
s
dapat
mengimbanginya dengan menyediakan berbagai sumb
mber informasi
tertulis untuk mere
erekam kesusastraan lisan-lokal dalam bentuk
b
tulisan.
Berbagai media tuli
ulis dapat digunakan oleh sekolah seperti
rti dalam bentuk
majalah dinding, prasasti,
pr
atau penyediaan laman-laman digital
dig
yang siap

SEBUAH LAPORAN HAS
HASIL PENELITIAN | 6

diakses kapanpun
n dan
d oleh siapapun yang menginginkan informasi
in
cerita
tentang kesusastraa
raan lisan-lokal di sekitar sekolah yang bers
ersangkutan.
Usaha menci
nciptakan nuansa budaya kesusastraan lisa
lisan-lokal dalam
citra sekolah akan
n turut terbangun di mata masyarakat.. Dengan
D
begitu,
masyarakat akan
n lebih
l
mudah mengenal sekolah yang
g bersangkutan
dikarenakan adany
nya penciri khas dari sekolah tersebut,
t, yaitu adanya
sekolah cagar buda
daya kesusastraan lisan-lokal. Sekali mendayung,
me
dua
pulau terlampaui,
ui, sekaligus turut serta dalam usaha
ha melestarikan
kesusastraan lisan--lokal, sekolah memiliki ciri pencitraan
an khusus yang
mampu menarik m
minat siswa untuk datang dan turut bela
elajar di sekolah
tersebut.
Citra sekola
lah tentu menjadi salah satu tolak uku
kur masyarakat
untuk

menilai

k
keberhasilan

dan

inovasi

kreatif

sekolah
se

dalam

meningkatkan kuali
alitas proses pembelajarannya.
Dalam konte
nteks Sekolah, peneliti melihat adanya kes
esempatan yang
besar bagi siswaa di sekolah untuk dapat mengemban
angkan budaya
berliterasi

mereka
eka.

Sekolah

saat

ini

sedang

seca
ecara

bertahap

mengembangkan k
kualitasnya baru melalui pembangunan
an perpustakaan
sekolah. Pembangu
gunan perpustakaan ini diwujudkan setela
elah sebelumnya
mencoba untuk mengadu
m
kualitas dengan sekolah-seko
kolah lain yang
sedang merintis pe
pengembangan kualitas di bidang adiw
iwiyata. Dengan
gerakan yang cep
epat dan tepat, sekolah sedang berusah
saha memenuhi
tuntutan

standar
ar

terbaik

pelaksanaan

layanan

pen
endidikan

bagi

masyarakat di seki
ekitarnya. Maka selanjutnya, sekolah mengembangkan
me
konsep-konsep baru
aru untuk membangkitkan budaya dan citr
itra sekolah.
Usaha sekola
olah ini bukan tanpa alasan. Dari sudutt p
pandang yang
lebih luas, masya
syarakat dapat dikatakan mengalamii krisis literasi.
rendahnya budaya
ya literasi pada masyarakat dapat diliha
ihat dari jumlah

7 | PENELITIAN CERITA
A LIS
LISAN-LOKAL DAN PENGEMBANGAN SEKOLAH BERBU
BUDAYA LISAN

kunjungan pada p
perpustakaan umum. Di Kota Pasuru
uruan misalnya,
kunjungan masyara
arakat ke perpustakaan hanya 199/bulan
lan pada kurun
tahun 2013. Artinya
ya, hanya 0.10% dari seluruh populasi di tahun tersebut
(194.168 jiwa) yang
ng mengunjungi perpustakaan kota (BPS
S Kota
K
Pasuruan,
2015).
Dari pengam
amatan peneliti pada kondisi sekolah saat
saa ini, peneliti
menemukan bebera
erapa kekuatan dan permasalahan terkai
kait pelaksanaan
kegiatan berliterasi
asi di sekolah. Peneliti melihat bahwa siswa
si
memiliki
ketertarikan yang b
besar terhadap kegiatan berliterasi. Hall ini
in dapat dilihat
dengan keajegan be
beberapa siswa meramaikan perpustakaan
aan sekolah pada
saat-saat istirahatt dan
d jam bebas belajar. Meski masih belum
lum semua siswa
memiliki ketertarik
rikan terhadap kegiatan berliterasi di perp
erpustakaan, hal
ini merupakan awa
walan yang baik bagi sebuah sekolah yang
ng baru memiliki
bangunan perpusta
stakaan tersendiri. Memiliki bangunan
n perpustakaan
berarti siswa men
endapatkan banyak kesempatan untu
ntuk menikmati
kegiatan berliterasi.
si. Secara bertahap, sekolah mengupayakan
kan penambahan
kualitas dan kualit
alitas buku-buku yang tersedia, khususny
snya buku-buku
nonmapel yang ma
mampu membantu melepaskan siswa dar
ari dahaga akan
pengetahuan yang
g lluas di luar pelajaran yang diterimanyaa sehari-hari.
s

SEBUAH LAPORAN HAS
HASIL PENELITIAN | 8

9 | PENELITIAN CERITA
A LIS
LISAN-LOKAL DAN PENGEMBANGAN SEKOLAH BERBU
BUDAYA LISAN

B.

ISU FENOME
ENA MEMBACA DAN BERCERITA SA
SASTRA
LISAN-LOKA
KAL
Kegiatan meembaca nyaring atau membacakan pun telah
te
dilakukan

masyarakat sejak lama
la
dan telah menjadi bagian dari buda
daya keseharian.
Kita mungkin masih
sih ingat kegiatan membaca yang dilakuka
kan oleh banyak
orang tua sebelum
um tidur. Budaya bercerita dilakukan untuk
u
berbagai
tujuan. Di lingkung
ngan keluarga, kegiatan bercerita biasa dil
dilakukan untuk
mengantarkan tidu
idur anak-anak atau mengisi waktu lua
uang. Selain itu
kegiatan berceritaa juga seringkali menjadi wahana paraa orang
o
tua dan
pemuka agama untuk
un
menyampaikan ajaran-ajaran norm
ormatif budaya,
adat, dan keagamaa
aan.
Budaya berc
ercerita mulai ditinggalkan dengan adan
danya kemajuan
dunia digital. Buda
daya ini mulai luntur seiring kemajuan dun
dunia digital dan
modernisasi alatt komunikasi nirkabel.Dewasa ini mas
asyarakat lebih
memilih untuk be
berkomunikasi jarak jauh dan secara digital.
di
Bentukbentuk komunikasi
asi lisan dengan orang terdekat, terlebih
h untuk
u
sekadar
bercerita mulai dia
dianggap membosankan. Budaya bercerita
rita ditinggalkan
karena rendahnya
ya kesadaran masyarakat akan pentin
tingnya kontak
langsung dengan anak-anak
a
dalam lingkungan rumah ba
baik secara fisik
maupun lisan. Kon
ontak fisik dan lisan inilah yang akan
n menimbulkan
kedekatan secara batin
ba antara anak dan orang tua. Kedekat
atan inilah celah
orang tua untuk m
menanamkan karakter positif dan nilai-ni
nilai kehidupan
pada anak. Maka,
a, kegiatan
k
bercerita dengan konten karak
akter positif dan
nilai-nilai kehidupa
pan adalah salah satu hal penting yang harus
ha
dilakukan
dan efektif untuk mendidik
m
anak-anak dalam lingkup keluar
uarga.
Hilangnya kesadaran
k
akan hal ini menyebabkan bu
budaya bercerita
mulai ditinggalkan
an oleh sebagian besar keluarga. Ketika bu
budaya bercerita
mulai ditinggalkan
an, maka fungsinya pun akan turut hilan
ilang. Anak-anak

SEBUAH LAPORAN HASIL
ASIL PENELITIAN | 10

akan memiliki “ke
kekaburan identitas sosial dan budaya”
a” pada dirinya
akibat tidak dapa
pat mengidentifikasi diri karena kuran
angnya pajanan
konsep mengenaii bu
budayanya.
Secara sosiop
iopsikologis dalam kehidupan keluarga anak-anak
an
tidak
memiliki kedekatan
tan baik secara fisik dan emosional dengan
an orang tuanya.
Selanjutnya, remaja
aja kehilangan kelekatan dengan orang tua
tua, menciptakan
kelekatan dengan o
orang lain di luar keluarga (yang mungki
kin negatif), dan
lambat laun akan
n m
merasa dirinya lepas dan perlu melepa
paskan diri dari
ikatan keluarga. Se
Selebihnya, remaja akan hidup dengan
an dunia diluar
secara bebas, tidak
k terkendali
t
dan terbatasi.
Selain masal
salah pada budaya bercerita yang sang
ngat diperlukan
dalam membangun
un budaya literasi, penulis juga menyoroti
oti permasalahan
cerita lisan-lokal yang
ya
terancam punah (Rokhmawan, 2016
016). Cerita lisan
yang dimaksud ad
adalah mite, legenda, dan dongeng (Bas
ascom W.,1965).
Selama ini, mungk
gkin anak-anak hanya banyak mengenal
al cerita tertentu
seperti cerita nusan
antara atau animasi yang telah dikenal lu
luas dan mudah
diakses melalui media
me
internet dan televisi. Kalaupun ada
da cerita lisan /
cerita rakyat, anak--anak lebih tahu tentang cerita nusantara
ara seperti Malin
Kundang daripada
da cerita lisan di daerahnya sendiri. Sastra
ra llisan-lokal saat
ini terancam pun
unah karena masyarakat sudah tidak
ak lagi sering
menuturkannya. Se
Selain itu, ketertarikan anak-anak terhadap
ap cerita ini pun
terkalahkan dengan
gan berbagai cerita lain yang dengan mudah
m
mereka
dapatkan dari telev
levisi, internet, atau buku bacaan modern
ern seperti novel
dan komik.
Dalam

kon
onteks

wilayah

lokal

di

Kota

Pasur
suruan,

peneliti

menemukan bebera
erapa bentuk sastra lisan seperti cerita
ta kiai (pemuka
agama Islam) dan
n beberapa
b
legenda dan dongeng lain yang
ng belum banyak
diketahui oleh mas
asyarakat di luar daerah ini. Cerita-cerita
ita lisan lokal ini

11 | PENELITIAN CERITA
TA LLISAN-LOKAL DAN PENGEMBANGAN SEKOLAH BERBU
ERBUDAYA LISAN

hidup secara lisa
isan dalam masyarakat, diujarkan da
dalam berbagai
kesempatan

seper
erti

acara

keagamaan,

haul

tokoh

agama

yang

bersangkutan, kegia
giatan mengaji sehari-hari, atau dalam keh
ehidupan seharihari masyarakat setempat.
set
Melalui cerita inilah masyaraka
kat secara turun
temurun memberik
rikan petuah amanah tersirat melalui isi cerita. Petuah
amanah inilah ya
yang pada gilirannya turut memban
angun kualitas
pemahaman genera
erasi ke generasi terhadap norma-normaa adat, kearifan
lokal, dan karakter
ter diri dan masyarakat yang baik. namu
mun sayangnya,
sekali lagi cerita-ce
cerita ini sedang mengalami krisis penutur,
pen
dimana
masyarakat tidak lagi
la memiliki komitmen untuk terus menu
nuturkannya.

Dengan adan
danya fakta dan permasalahan di atas,, peneliti
p
merasa
perlu adanya usaha
hausaha untuk turut mewujudkan gerakan
kan berliterasi di
UPT SDN Kebonsa
nsari Kota Pasuruan. Usaha-usaha ini pu
pula yang akan
menjadi jalan soluti
utif bagi usaha pelestarian cerita lisan-loka
okal yang selama
ini hanya hidup d
dalam kelisanan masyarakat di sekita
itarnya. Dengan
adanya berbagai peluang
pe
terkait pelaksanaan GLS di sekola
olah ini, peneliti
berniat melaksanak
nakan kegiatan menulis, membaca, dan
an membacakan
(berbicara / bercer
cerita) dalam satu paket program untu
tuk membentuk
budaya literasi da
dalam diri seluruh warga sekolah (sisw
iswa, guru, dan
karyawan).
Melalui ran
angkaian program kegiatan GLS inii pula peneliti
memunculkan ceri
erita lisan-lokal sebagai objek literasi.
i. Secara umum
pembudayaan berli
rliterasi berbasis cerita lisan-lokal ini dapa
pat mewujudkan
sebuah budaya sek
ekolah yang pada gilirannya akan menjad
jadi ikon penciri
penyelenggaraan pendidikan
pe
di UPT SDN Randusari Kotaa P
Pasuruan.
Memanfaatka
tkan konsep pengembangan budaya sekolah
se
melalui
penampilan sekolah
lah, sekolah dapat menetapkan dan men
enampilkan diri

SEBUAH LAPORAN HASIL
ASIL PENELITIAN | 12

sebagai sebuah cagar
cag
budaya kesusastraan lisan-lokal.. Sesuai
S
dengan
potensi lokal dii daerahnya
d
masing-masing, sekolah menjadi
m
tempat
dimana setiap warg
arganya adalah penutur aktif segala jenis
nis kesusastraan
lisan di daerahnya.
a. Setiap sekolah di setiap daerah pasti mem
emiliki berbagai
jenis kesusastraan
n lisan di daerahnya. Sekolah perlu memetakan
me
dan
merekan setiap ke
keberadaan mite, legenda dan dongeng
eng disekitarnya
untuk kemudian dit
dituturkan dari generasi ke generasi di sek
ekolah tersebut.
Penuturan ccerita tentunya dapat dilakukan mel
elalui program
pelaksanaan GLS
S melalui kegiatan mengumpulkan cerita,
ce
menulis,
membaca, dan me
membacakan cerita-cerita lisan-lokal tersebut.
ter
Untuk
mewujudkan ide-id
ide ini, peneliti tertarik untuk meneta
etapkan sebuah
penelitian bertajuk
k “Pengembangan

Budaya Literasi berbasi
asis Cerita LisanLokal sebagai Penci
nciri Budaya UPT SDN Kebonsari Kota Pasu
asuruan”

13 | PENELITIAN CERITA
TA LLISAN-LOKAL DAN PENGEMBANGAN SEKOLAH BERBU
ERBUDAYA LISAN

SEBUAH LAPORAN HASIL
ASIL PENELITIAN | 14

C.

SASTRA LISA
ISAN-LOKAL
Sebelum men
engenal budaya aksara (writing culture)
e) semua bangsa

di dunia hidup da
dalam budaya lisan (oral culture). Buda
daya lisan yang
dimaksud dalam tu
tulisan ini adalah bentuk folklore lisan atau
at dapat bula
dimaknai sebagaii kultur
k
tradisional (lore) yang dutunjukkan
kan / dituturkan
rakyat / orang-ora
rang (folk). Salah satu wujud budaya lisan
lis
itu adalah
prosa naratif lisan
an. Prosa lisan naratif ini dapat berup
upa cerita mite,
legenda, dan donge
geng (Bascom W. 1965, hal. 3-20; Dananjaja
jaja, 2002, hal. 50;
Bascom W. (., 1954).
19
Ketiganya dibedakan berdasarka
rkan perbedaan
karakteristiknya. Secara
Se
umum, persamaan ketiganya ada
adalah ketiganya
berbentuk prosa na
naratif lama / tradisional. Selebihnya, ketig
etiganya berbeda
dalam hal pembuka
uka cerita, waktu penceritaan, setting / la
latar waktu dan
tempat, sikap terha
hadap cerita (aptitude), karakter tokoh dan
da penokohan,
dan tingkat keperca
rcayaan masyarakat terhadap cerita.
Bentuk-bentu
ntuk sastra lisan di atas tersebar di seluru
uruh daerah dan
kebudayaan lokal
al di Indonesia sebagai bagian dari hasi
asil kebudayaan
dalam sebuah kole
olektif masyarakat, setiap kolektif pastii memiliki
m
sastra
lisannya sendiri. Sastra
Sa
lisan merupakan ekspresi lisan sebu
ebuah komunitas
budaya suatu kelo
elompok masyarakat atau kolektif yan
ang tersebar di
berbagai kelompok
ok suku bangsa yang bersifat pluralitas,
as, maka wujud,
bentuk, tema, dan
n fu
fungsinya pun berbeda-beda.
Jika kita mendalami
m
dari segi fungsi sosial sastra
stra lisan dalam
masyarakat suatu
u d
desa, maka wujud bentuk, tema, dan
n fungsinya
f
pun
akan khas dengan
an karakteristik masyarakat di desa ters
ersebut. Sebagai
contoh dalam masy
asyarakat dengan latar budaya santri, sast
astra lisan dalam
daerah ini banyak
k berwujud narasi yang bertema keagam
maan dan cerita
seputar tokoh-tokoh
koh agama. Fungsinya pun sangat khas.

15 | PENELITIAN CERITA
TA LLISAN-LOKAL DAN PENGEMBANGAN SEKOLAH BERBU
ERBUDAYA LISAN

Sastra lisan
n llokal adalah jenis cerita rakyat atau folkl
lklore lisan yang
secara kolektif dut
ututurkan oleh suatu masyarakat dalam
m lingkup lokal
wilayahnya (dipert
ertentangkan dengan istilah “sastra lisan
san nusantara”).
Lokal wilayah dala
alam hal ini merujuk pada suatu komunit
nitas masyarakat
dengan batasan wil
wilayah dan budaya / etnis tertentu. Jenis
nis ini dibedakan
dari sastra lisan nu
nusantara yang dituturkan dalam cakup
upan yang lebih
luas (Rokhmawan,
n, 2016).
2
Prosa narati
atif lisan dipahami dan dimanfaatkan secara
se
beragam
dalam

perkemban
bangan

kebudayaan

masyarakat

pem
emiliknya.

Ada

masyarakat yang
g m
memanfaatkannya sebagai bahan pend
endidikan moral
anak-anak berupaa cerita pengantar tidur. Ada yang mem
emanfaatkannya
sebagai bahan pen
enulisan komik atau bahan pelajaran bah
bahasa/sastra di
sekolah. Namun, ada
ad pula yang menjadikannya inspirasi da
dalam penulisan
sastra serius. Dalam
lam bidang ilmu pengetahuan, prosa naratif
na
lisan, di
antaranya, dijadikan
kan objek kajian sastra, kebudayaan, antrop
ropologi, sejarah,
bahkan psikologi.
i. Apa yang disebutkan di atas menun
unjukkan, prosa
naratif lisan memi
miliki potensi luar biasa untuk dimanf
anfaatkan dalam
kehidupan masyar
arakat masa kini, serta dijadikan objek
ek dalam kajian
berbagai disiplin ilmu
ilm (Soedjijono, 2002 : 38).
Pada masan
sanya, mite, legenda, dan dongeng menjadi
me
bentuk
kesusastraan lisan
an-lokal yang sangat dihormati bahkan
kan disakralkan
keberadaannya. Masyarakat
M
membentuk kesepakatan
n kolektif atas
kepercayaan mere
ereka pada bentuk-bentuk hasil buda
daya lisan ini.
Pelanggaran keperc
ercayaan bahkan dianggap akan menyebab
abkan hal buruk
sehingga masyaraka
akat merasa perlu untuk menjaga kelestari
ariannya dengan
menuturkan cerita--cerita ini dari masa-ke-masa lintas gener
nerasi. Selain itu,
masyarakat percaya
aya bahwa setiap cerita banyak meningg
ggalkan petuah-

SEBUAH LAPORAN HASIL
ASIL PENELITIAN | 16

petuah, amanat,, d
dan ajaran moral serta kearifan bag
agi masyarakat
penuturnya.
Cerita lisan
an membawa masyarakat dalam angan
an-angan mistik
berbentuk kepercay
cayaan irasional yang biasa kita sebutt dengan
d
mitos.
Bukannya tanpa guna,
gu
mitos dapat dikatakan sebagai pan
andangan hidup
rakyat. Mitos jugaa d
digunakan sebagai pedoman dalam meng
engajarkan suatu
kebijaksanaan bagi
agi masyarakat yang memilikinya (Pan
anuti Sudjiman
dalam Lantini, 1996
96 : 224 ; Bacon dalam Danandjaya, 20022 : 50 ; Haviland,
1985 : 229). Kegiatan
tan bercerita memiliki fungsi sesuai denga
gan fungsi cerita
lisan yang dituturk
urkan. Setidaknya ada 8 fungsi bercerita
ta cerita lisan di
antaranya : 1) fung
ngsi propaganda, 2) fungsi proyeksi ideo
eologi / anganangan kolektif, 3) fungsi rekreatif, 4) fungsi didaktis / pendidikan,
p
5)
fungsi estetis, 6) fungsi
fun
moralitas pengesahan norma dan pranata
pr
sosial, 7)
fungsi moraltas pem
pemaksaan dan pengawasan norma dan
n pranata
p
sosial,
dan 8) fungsi reli
religius (Rokhmawan, 2016). Kepercayaa
aan pada mite,
legenda, dan donge
ngeng semacam ini adalah tanda kejayaan
aan kesusastraan
lisan-lokal dalam masyarakat.
m

17 | PENELITIAN CERITA
TA LLISAN-LOKAL DAN PENGEMBANGAN SEKOLAH BERBU
ERBUDAYA LISAN

SEBUAH LAPORAN HASIL
ASIL PENELITIAN | 18

D.

BUDAYA LIT
ITERASI DAN GERAKAN LITERASI SE
SEKOLAH
Wacana tent
entang Gerakan Literasi di Indonesia telah
tel
digulirkan

sejak 2015 oleh pem
emerintah, diawali oleh Gerakan Literasi
si Sekolah (GLS)
oleh Kementerian
an Pendidikan dan Kebudayaan.

Secara
Sec

simbolis,

Mendikbud Anies
es Baswedan meluncurkan GLS dengan
n tema “Bahasa
Penumbuh Budi Pekerti”
Pe
dengan menyerahkan buku paket
ket bacaan untuk
20 sekolah di DKII Jakarta sebagai bahan awal kegiatan literasi,
lit
Agustus
2015 lalu. Pengemb
bangan GLS didasarkan pada Permendikb
ikbud Nomor 21
Tahun 2015 tentan
tang Penumbuhan Budi pekerti (Litbang
ang Kemdikbud,
2015).
Literasi

adalah
ad

kemampuan

mengakses,

mem
emahami,

dan

menggunakan sesua
suatu secara cerdas melalui berbagai aktivi
ivitas, antara lain
membaca, melihat,
at, menyimak, menulis, dan/ atau berbic
bicara. GLS atau
Gerakan Literasii Sekolah
S
merupakan suatu usaha atau
u k
kegiatan yang
bersifat partisipatif
atif dengan melibatkan warga sekolah ((peserta didik,
guru, kepala sekol
olah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah,
se
Komite
Sekolah, orang tua/
a/wali murid peserta didik), akademisi,, penerbit,
p
media
massa, masyarakat
kat (tokoh masyarakat yang dapat mere
erepresentasikan
keteladanan, dunia
nia usaha, dll.), dan pemangku kepenting
tingan di bawah
koordinasi Direkto
ktorat

Jenderal Pendidikan Dasar

da
dan Menengah

Kementerian Pendi
ndidikan dan Kebudayaan. GLS adalah
h g
gerakan sosial
dengan dukungan
n kolaboratif berbagai elemen (Dirjen Pen
endidikan Dasar
& Menengah Kem
emendikbud (1), 2016; Dirjen Pendidika
ikan Dasar dan
Menengah Kemend
ndikbud (2), 2015).
GLS adalah
hg
gerakan yang memperkuat gerakan penu
enumbuhan budi
pekerti sebagaiman
ana dituangkan dalam Peraturan Mente
nteri Pendidikan
dan Kebudayaan Nomor
N
23 Tahun 2015. Salah satu kegia
giatan di dalam

19 | PENELITIAN CERITA
TA LLISAN-LOKAL DAN PENGEMBANGAN SEKOLAH BERBU
ERBUDAYA LISAN

gerakan tersebut adalah
ad
kegiatan 15 menit membaca buku
ku nonpelajaran
sebelum waktu b
belajar dimulai. Kegiatan ini dilaksa
ksanakan untuk
menumbuhkan

m
minat

baca

peserta

didik

serta

meningkatkan

keterampilan mem
embaca agar pengetahuan dapat dikuasa
asai secara lebih
baik. Materi bacaa berisi nilai-nilai budi pekerti, berupaa kearifan
k
lokal,
nasional, dan glob
lobal yang disampaikan sesuai tahap p
perkembangan
peserta didik. Ter
erobosan penting ini hendaknya melib
elibatkan semua
pemangku kepentin
tingan di bidang pendidikan, mulai dari
ri tingkat pusat,
provinsi, kabupaten
ten/kota, hingga satuan pendidikan. Peliba
libatan orang tua
peserta didik dan masyarakat
m
juga menjadi komponen penti
nting dalam GLS
(Dirjen Pendidikan
an Dasar & Menengah Kemendikbud (1),
(1) 2016; Dirjen
Pendidikan Dasarr dan
d Menengah Kemendikbud (2), 2015).
Dalam PIRL
RLS 2011 International Results in Readi
ading, Indonesia
menduduki peringk
ngkat ke-45 dari 48 negara peserta dengan
an skor 428 dari
skor rata-rata 5000 ((IEA, 2012). Sementara itu, uji literasi membaca
m
dalam
PISA 2009 menunju
njukkan peserta didik Indonesia beradaa p
pada peringkat
ke-57 dengan skor
or 396 (skor rata-rata OECD 493), sedangk
gkan PISA 2012
menunjukkan pese
eserta didik Indonesia berada pada peringkat
pe
ke-64
dengan skor 396 (s
(skor ratarata OECD 496) (OECD, 2013)
13). Sebanyak 65
negara berpartisipa
ipasi dalam PISA 2009 dan 2012. Data PIRLS
PIR
dan PISA,
khususnya dalam k
keterampilan memahami bacaan, menun
unjukkan bahwa
kompetensi pesert
erta didik Indonesia tergolong rendah
ah. Rendahnya
keterampilan terseb
sebut membuktikan bahwa proses pend
ndidikan belum
mengembangkan

kompetensi

dan

minat

peserta

didik
di

terhadap

pengetahuan. Prakt
ktik pendidikan yang dilaksanakan di seko
ekolah selama ini
juga memperlihatka
tkan bahwa sekolah belum berfungsi seba
ebagai organisasi
pembelajaran yang
ng menjadikan semua warganya sebag
agai pembelajar
sepanjang hayat.
t. Desain Induk Gerakan Literasi Se
Sekolah Untuk
mengembangkan se
sekolah sebagai organisasi pembelajaran
an, Kementerian

SEBUAH LAPORAN HASIL
ASIL PENELITIAN | 20

Pendidikan dan Kebudayaan
Ke
mengembangkan Gerakan Literasi
Li
Sekolah
(GLS). GLS adalah
lah upaya menyeluruh yang melibatkan
n semua warga
sekolah (guru, pes
eserta didik, orang tua/wali murid) dan masyarakat,
sebagai bagian dar
ari ekosistem pendidikan (Dirjen Pendid
didikan Dasar &
Menengah Kemend
ndikbud (1), 2016).
Salah satu jenis
je
GLS yang dapat dilaksanakan dii sekolah
s
adalah
menciptakan buday
aya membaca dalam kegiatan di sekolah.
ah. Penumbuhan
minat untuk mem
embaca pada siswa diamantkan pemer
erintah melalui
kementerian pendid
didikan dalam Permendikbud No.23 Tahun
hun 2015. Tujuan
umum dari amanat
at pembudayaan membaca ini adalah untu
ntuk membentuk
insan dan ekosistem
tem pendidikan dan kebudayaan yang berkarakter
be
dan
dilandasi selamatt gotong-royong.
go
Secara khus
usus tujuan program ini adalah agarr peserta didik
memiliki kegemara
ran membaca dan menjadikannya kebiasa
asaan serta gaya
hidup. Penumbuhan
han minat baca salah satunya dapat dilaksa
ksanakan dengan
mencanangkan pro
program membaca 15 menit setiap hari
har di sekolah.
Prinsip-prinsip keg
egiatan membaca 15 menit adalah 1) buk
bukan buku teks
pelajaran, 2) dimina
inati peserta didik, 3) tidak diikuti oleh tugas-tugas
tu
lain,
4) dilakukan pendek
dekatan sambil bermain dan menyenangka
kan, dan 5) tidak
diikuti kegiatan evaluasi
ev
yang mengarah pada kegiatan
n p
penilaian hasil
belajar. Kegiatan da
dapat dilakukan dengan melakukan kegi
giatan membaca
buku di kelas sebel
belum memulai rangkaian kegiatan pemb
belajaran. Buku
bacaan nonmapell d
dapat dipilih sendiri atau ditentukan sen
endiri oleh guru,
dan guru dapat m
menerapkan metode membaca dalam hati,
h
membaca
nyaring, atau kom
mbinasi keduanya. Membaca nyaring bi
biasa dilakukan
untuk melakukan
n kegiatan
k
membacakan atau bercerita unt
ntuk orang lain.
Dalam hal ini keg
kegiatan membaca nyaring bisa dilakuk
ukan guru atau

21 | PENELITIAN CERITA
TA LLISAN-LOKAL DAN PENGEMBANGAN SEKOLAH BERBU
ERBUDAYA LISAN

perwakilan siswaa untuk diperdengarkan pada siswa la
lain, yang juga
melakukan kegiatan
tan menyimak dan membaca dalam hati.
Satria Darma
ma, dalam sajian Sosialisasi Bansos Guru
ru SMA bertajuk
Penumbuhan Budi
di Pekerti dan Pengembangan Literasi di
d Hotel Sunan
Solo (12/8/2015)) m
menyebutkan bahwa selain mengemban
bangkan budaya
literasi dalam ben
ntuk kegiatan membaca setiap sekola
olah juga dapat
mengembangkan k
kegiatan menulis. Hal ini dikarenakan
kan menurutnya
sekolah juga perlu
lu mendorong siswa untuk berkarya, yan
ang dinamainya
kegiatan “One School
Sch
One Book”. Setiap sekolah haru
arus mendorong
siswanya untuk menulis
me
dan menghasilkan karya-karya ekspresi
ek
mereka.
Setiap siswa dihara
rapkan mampu dan memiliki kapabilitass untuk
u
berkarya
dan membuat kary
rya tulis, khsusunya dalam bentuk karya
rya sastra. Setiap
sekolah harus men
enerbitkan sebuah buku kumpulan karya
rya tulis terbaik
siswa setiap tahun
n yang
y
nantinya akan dapat dijadikan seba
ebagai portofolio
siswa maupun seko
kolah. Satria Darma memiliki optimistis yang
ya tinggi akan
hal ini dan kemam
mpuan siswa Indonesia untuk melakukan
annya (Dharma,
2015).

SEBUAH LAPORAN HASIL
ASIL PENELITIAN | 22

23 | PENELITIAN CERITA
TA LLISAN-LOKAL DAN PENGEMBANGAN SEKOLAH BERBU
ERBUDAYA LISAN

E.

PENCIRI BUD
UDAYA SEKOLAH DALAM SKEMA
PELAKSANA
AAN 3P
Selain

peng
engembangan

budaya

literasi,

pemeri
erintah

melalui

Permendikbud 611 Th. 2014 tentang acuan konseptuall p
pengembangan
kondisi sosbud dan
da karakteristik satuan pendidikan menuntut
m
agar
sekolah mampu mengemban
me
amanah sebagai sebuah pusa
sat kebudayaan
(Dit. PSMA, 2015).
5). Sebagai pusat kebudayaan, sekolah pe
perlu berinovasi
agar memiliki citr
itra penciri yang terlihat dari bentuk-b
bentuk budaya
sekolah. Salah satu
atunya adalah dengan mewujudkan GLS
LS sebagai ikon
budaya sekolah. Selain
Se
mewujudkan citra budaya khasnya
ya, sekolah juga
perlu untuk mewuj
ujudkan budaya masyarakat setempat seba
ebagai salah satu
ciri khasnya.
Penciri

bud
udaya

sekolah

adalah

salah

satu

konsep
k

dalam

pembentukan citra
ra sekolah. Untuk mendukung pencitraan
n positif sekolah
sebagai penyeleng
nggara pendidikan yang berkualitas,, sekolah
s
perlu
memiliki

penciri.
ri.

Penciri

sekolah

adalah

sesuatu

yang
y

mampu

membedakan suatu
atu sekolah dengan sekolah lain secara pos
ositif. Penciri ini
khususnya haruss digali
d
sesuai dengan kekayaan budayaa masyarakat di
sekitar sekolah. Penciri
Pe
yang secara ajeg terlaksana dala
alam kehidupan
masyarakat sekolah
lah pada gilirannya diharapkan untuk dapa
apat membudaya
di lingkungan seko
ekolah. Penciri budaya sekolah haruslah
h b
bersifat positif
bagi masyarakat sekolah
se
khususnya mendukung kegiatan
an pembelajaran.
Rangkaian penciri
ri budaya inilah yang pada gilirannya menjadi
m
bagian
dari bentuk penam
mpilan sekolah dalam konsep pelaksanaa
aan Penampilan,
Pelayanan, dan Pres
restasi / 3P sekolah (Dit. PSMA, 2015).
Selain melak
laksanakan penyelenggaraan pendidikan
an sepenuhnya,
sekolah juga perlu
rlu untuk mewujudkan penciri dan bu
budaya sekolah
melalui konsep 3P (Penampilan, Pelayanan, dan Prestasi
asi) dan Budaya

SEBUAH LAPORAN HASIL
ASIL PENELITIAN | 24

Sekolah. Implement
entasi 3P adalah upaya untuk mewujudkan
an sekolah ideal.
Ini bukan merupak
akan hal baru di sekolah, tetapi kenyata
taannya saat ini
masih terdapat ssekolah yang belum memperhatikan
n hal tersebut
sebagaimana mestin
stinya. Bentuk budaya sekolah adalah salah
sal
satu aspek
yang turut mempen
pengaruhi citra sekolah di mata masyaraka
akat (Dit. PSMA,
2015).
Penampilan
n fisik sekolah adalah segala sesuatu yang
ng berhubungan
dengan penampilan
ilan dalam dan luar sekolah yang mudah
dah diamati dan
dinilai secara langsu
gsung, serta dapat menimbulkan respon atau
a
tanggapan
tertentu dari oran
ang lain atau lingkungan sekelilingnya
ya. Penampilan
sekolah yang langsu
gsung dapat diamati, antara lain lingkunga
gan yang bersih,
aman, nyaman, ind
indah, rapi, dan rindang. Sekolah yang
g bersih berarti
sekolah yang “kea
eadaan lingkungannya bebas sampah , tidak
t
tercemar
kotoran”, bebas asap
asa rokok, dan seluruh warganya mener
erapkan budaya
5S (senyum, sapa,, salam,
sa
sopan dan santun).
Penampilan
n sekolah merupakan cerminan citra diri
iri sekolah yang
dinilai secara lang
ngsung oleh masyarakat yang harus dibenahi
d
terus
menerus oleh selur
luruh warga sekolah. Penampilan dapatt menjadi
m
modal
utama bagi sekola
olah sebagai nilai jual di masyarakat dan
da orang tua.
Penampilan juga m
menjadi satu bagian penting terkait membentuk
me
dan
meningkatkan citra
tra profesional serta memberi rasa kepercay
cayaan diri yang
tinggi bagi seluruh
ruh warga sekolah untuk mengekspresik
sikan potensinya
masing-masing (Dit
Dit. PSMA, 2015). Dengan adanya paparan
ran ini maka kita
dapat menyimpulka
lkan bahwa penampilan sekolah dapat dibedakan
dib
dalam
fisik material sepert
erti sarana dan prasarana sekolah, dan fisik
fisi nonmaterial
seperti perilaku sisw
iswa.
Memanfaatka
tkan konsep pengembangan budaya sekolah
se
melalui
penampilan sekolah
lah, sekolah dapat menetapkan dan men
enampilkan diri

25 | PENELITIAN CERITA
TA LLISAN-LOKAL DAN PENGEMBANGAN SEKOLAH BERBU
ERBUDAYA LISAN

sebagai sebuah cagar
cag
budaya kesusastraan lisan-lokal.. Sesuai
S
dengan
potensi lokal di dae
aerahnya asing-masing, sekolah menjadii tempat
t
dimana
setiap warganya adalah
ad
penutur aktif segala jenis kesusas
sastraan lisan di
daerahnya. Setiap
p ssekolah di setiap daerah pasti memiliki
iki berbagai jenis
kesusastraan lisan
nd
di daerahnya. Sekolah perlu memetakan
an dan merekan
setiap keberadaan
an mite, legenda dan dongeng diseki
ekitarnya untuk
kemudian dituturk
urkan dari generasi ke generasi di sek
ekolah tersebut.
Hingga pada akh
khirnya, tujuan utama kegiatan inii aadalah untuk
menjadikan setiap
pw
warga sekolah sebagai penutur aktif kesu
susastraan lisanlokal di daerahnya
ya sendiri. Dengan begitu, maka kesusastra
straan lisan-lokal
akan memiliki ruma
mah tinggal dan pengasuhnya sendiri.
Konsep ini
ni logis mengingat bentuk-bentuk sastra
stra lisan hidup
bergantung padaa tuturan masyarakat pemiliknya. Maka
aka, cara paling
efektif untuk meelestarikannya adalah dengan mendid
didik sebanyak
mungkin penuturr aaktif yang siap menyampaikan narasi-na
narasi cerita dari
kesusastraan lisan--lokal di daerahnya masing-masing. Hal
H ini adalah
bentuk citra / pena
enampilan nonmaterial yang dimiliki seko
ekolah dan akan
menjadi penciri kha
has dari sekolah tersbebut.
Tidak cukup
up hanya pada bentuk nonmaterial, sekol
kolah juga diberi
kesempatan untuk
uk menunjukkan diri sebagai sebuah
h cagar budaya
kesusastraan lisan--lokal dalam bentuk material. Dengan aadanya banyak
penutur kesusastr
straan lisan-lokal di sekolah, maka sekolah
s
dapat
mengimbanginya dengan menyediakan berbagai sumb
mber informasi
tertulis untuk mere
erekam kesusastraan lisan-lokal dalam bentuk
b
tulisan.
Berbagai media tuli
ulis dapat digunakan oleh sekolah seperti
rti dalam bentuk
majalah dinding, pr
prasasti, atau penyediaan laman-laman digital
dig
yang siap
diakses kapanpun
n dan
d oleh siapapun yang menginginkan informasi
in
cerita
tentang kesusastraa
raan lisan-lokal di sekitar sekolah yang bers
ersangkutan.

SEBUAH LAPORAN HASIL
ASIL PENELITIAN | 26

27 | PENELITIAN CERITA
TA LLISAN-LOKAL DAN PENGEMBANGAN SEKOLAH BERBU
ERBUDAYA LISAN

F.

PENELITIAN
N CERITA LISAN-LOKAL DAN PENGE
GEMBANGAN
BUDAYA LIT
ITERASI DI SEKOLAH

Tahap-tahap Peneli
elitian
Untuk menc
ncapai target luaran penelitian yang tela
telah ditetapkan,
peneliti menetapka
kan empat tahapan secara umum dalam
m penelitian ini,
yaitu tahap penelu
lusuran cerita lisan-lokal, penyusunan buku
bu
kumpulan
cerita pendek, pela
elaksanaan gerakan literasi sekolah, dan pelaksanaan
budaya sekolah. Selanjutnya
Se
tahapan diakhiri dengan keg
egiatan evaluasi
dan diseminasi ha
hasil penelitian. Tahap penelitian secara
ra umum dapat
dipahami dari baga
gan berikut :

Sedangkan secara
s
khusus, setiap tahapan di atas mencakup
m
subtahapan. Tahap penelurusan
pe
cerita dapat diterjemahkan
kan secara jelas
melalui gambaran
nb
bagan berikut :

SEBUAH LAPORAN HASIL
ASIL PENELITIAN | 28

Penyusunan
an buku kumpulan cerita

mencakup
up sub-tahapan

menulis yang dapa
pat diterjemahkan secara jelas melalui ga
gambaran bagan
berikut :

Pelaksanaan
an gerakan literasi sekolah (GLS) untuk
uk mewujudkan
budaya literasi di UPT SDN Randusari Kota Pasuruan
n mengaju
m
pada
bentuk-bentuk, konteks,
ko
dan latar pelaksanaan kegiata
iatan berliterasi.
Kegiatan berliterasi
asi digarapkan dapat dilakukan di setiap
p ttempat di area
sekolah. GLS dilaku
kukan dengan langkah-langkah berikut :

Pelaksanaan
an GLS sebagi bentuk budaya sekolah yang
yan selanjutnya
menjadi penciri citr
itra sekolah dalam ranah penampilan meng
engacu pada halhal fiskal dan reka
kayasa sosial terhadap perilaku warga sekolah.
se
Hal-hal
fiskal yang mewu
wujudkan budaya sekolah adalah ada
danya berbagai
infrastruktur berbas
basis literasi seperti majalah dinding. Seda
dangkan bentuk
rekayasa sosial terh
erhadap perilaku warga sekolah dapat dila
ilakukan dengan
melakukan activity
ity puchasing (sosialisasi dan pembekalan
n pengetahuan

29 | PENELITIAN CERITA
TA LLISAN-LOKAL DAN PENGEMBANGAN SEKOLAH BERBU
ERBUDAYA LISAN

dan keterampilan te
tentang kegiatan berliterasi), role modellin
lling (pemeranan
teladan), habituate
te (pembiasaan), monitoring (pemantaua
uan), evaluating
(penilaian), dan upgrading
up
activity (meningkatan aktivitas
tas). Kegiatan ini
adalah whole shc
shchool programme (program menyelu
eluruh sekolah).
Dengan begitu, b
budaya ini tidak akan berhenti, melainkan
me
tetap
dilaksanakan sebag
agai budaya yang diturunkan dari genera
erasi ke generasi
oleh setiap warga se
sekolah.

Lokasi dan Subjek
ek Penelitian
Penelitian

rencananya
r

dilakukan

di

UPT

SDN
SD

Randusari

Kelurahan Randusa
usari Kecamatan Gadingrejo Kota Pasurua
ruan. Sedangkan
penelitian terhada
dap sumber-sumber cerita lisan-lokall dibatasi
d
pada
wilayah Kecamatan
tan Gadingrejo - Kota Pasuruan sesuai
ai dengan lokasi
sekolah. Subjek penelitian
pe
pengembangan GLS dan budaya
bu
sekolah
adalah seluruh warga
w
beserta instansi sekolah. Seda
dangkan subjek
penelitian cerita lisan-lokal
lisa
adalah seluruh warga Kecamat
atan Gadingrejo
termasuk di dalamn
mnya adalah warga sekolah.
Model dan Metode
de Penelitian
Penelitian ini
in menggunakang model pendekatan
n Research and
Development (R&D
&D, Penelitian dan Pengembangan). Mod
odel ini dipilih

SEBUAH LAPORAN HASIL
ASIL PENELITIAN | 30

karena penelitian dilakukan
d
untuk mengembangkan sebua
uah produk baik
fiskal maupun reka
kayasa sosial. Model pendekatan R&D dalam
da
penelitian
ini menggunakan model
m
4-D yang disarankan oleh Thiagar
garajan, Semmel,
dan

Semmel

(1974).
(19

Model

4-D

digunakan

untu
ntuk

penelitian

pengembangan per
perangkat pembelajaran. Model ini terdir
diri atas 4 tahap
metodik yaitu defin
efine, design, develop, dan disseminate.. Dalam
D
bahasan
Indonesia, modell ini
i dapat diadaptasi dalam 4-P, yaitu
tu pendefinisian,
perancangan, penge
gembangan, dan penyebar luasan.
Pendefinisian
ian dimaksudkan sebagai langkah dalam
am menjabarkan
kasus-kasus, analisi
lisis kebutuhan, peluang, dan solusi terkait
ait latar belakang
penelitian. Selanjut
jutnya perancangan dilakukan untuk m
merancang dan
mengancang progra
gram dan produk penelitian yang akan dilakukan.
dila
Tahap
pengembangan dim
imaksudkan sebagai tahap pelaksanaan
n atas
a
rancangan
dan ancangan pen
enelitian dan produk yang akan dihasil
asilkan. Terakhir
adalah tahap pen
enyebarluasan atau publikasi hasil p
penelitian dan
pengembangan. Ad
Adapun penafsiran dan identifikasi atass hasil
h
penelitian
pengembangan ini
ni d
disajikan dalam bentuk deskriptif kualita
litatif.
Terkait setia
tiap langkah penelitian yang memilikii lluaran / hasil
berbeda-beda

pen
eneliti

menerapkan

beberapa

metode
de

riset

dalam

penelitian ini. Unt
ntuk menggali sumber-sumber informas
asi cerita lisanlokal, peneliti men
enetapkan langkah penelitian di antarany
nya : penetapan
cerita, penetapan
n narasumber, wawancara, perekaman
an, transkripsi,
transliterasi, pemba
bandingan data, penyelarasan cerita, dan
an menyusunan
cerita utuh . Hasil
sil akhir dari metode penelitian folklore li
lisan ini adalah
bentuk transkripsi
si lengkap setiap cerita rakyat lisan-loka
kal. Selanjutnya
transkripsi inilai yang
ya
dikembangkan dalam bentuk produ
duk buku cerita
pendek.

31 | PENELITIAN CERITA
TA LLISAN-LOKAL DAN PENGEMBANGAN SEKOLAH BERBU
ERBUDAYA LISAN

Untuk mere
erekayasa sosial terkait budaya berlit
rliterasi, penulis
menggunakan
determining

me
metode

social

(pene
enetapan

analysis

masalah),

(analisis

desingning

sosi
osial),
social
ial

problem

engineering

(mendesain rekaya
yasa sosial), observation (observasi), d
dan conclution
(penyimpulan). Set
Setiap tahap metodik ini dilakukan dalam
dal
lingkaran
siklus yang berkel
kelanjutan dan dilakukan secara kontinu
inu hingga hasil
rekayasa yang dihar
harapkan dapat tercapai. Metode di atas dilakukan
di
untuk
menciptakan adany
anya rekayasa sosial yang merujuk pad
ada manipulasi
masyarakat baik dalam
d
kelompok maupun individuall d
dengan tujuan
memperkenalkan,,

memahamkan,

menanamk
kan,

dan

menginternalisasika
ikan suatu perilaku yang menjadi tujua
juan perekayasa.
Manipulasi ini dih
iharapkan mampu mengubah masyaraka
akat baik secara
psikis melalui peru
erubahan pemikiran (aptitude) dan perub
ubahan perilaku
(attitude) (CERT-UK
UK, 2015; Hadnagy, 2011; Osterloo, -).

Data, Teknik Pengu
gumpulan dan Analisis Data
Pengumpula
lan data dalam penelitian ini dilakukan secara
se
kualitatif
dengan teknik yan
ang disesuaikan dengan jenis data. Data
ta penelitian ini
terdiri atas : 1) data
dat transkripsi cerita lisan lokal, 2) data
ata obervasi dan
evaluasi pelaksanaa
naan GLM, dan 3) data observasi dan evaluasi
ev
penciri

SEBUAH LAPORAN HASIL
ASIL PENELITIAN | 32

budaya dan penam
ampilan sekolah. Untuk mendapatkan dat
data-data di atas
maka

penulis

m
melakukan

pengumpulan

data

denga
ngan

observasi,

wawancara, dan evaluasi
ev
dan identifikasi. Observasi dilak
ilakukan dengan
instrumen

pengam
amatan.

Wawancara

dilakukan

denga
ngan

instrumen

panduan wawanca
cara terstruktur. Evaluasi dilakukan deng
engan instrumen
borang penilaian y
yang dilengkapi dengan indikator eval
valuasi terhadap
perkembangan pela
elaksanaan rekayasa sosial. Dari indikator
tor inilah peneliti
akan dapat meng
ngidentifikasi problematika dan prakti
ktik baik pada
pelaksanaan rekaya
yasa sosial.
Desain Produk dan
an Rekayasa Sosial
Luaran pene
enelitian ini adalah transkrip cerita lisa
isan-lokal, buku
kumpulan cerita p
pendek, rangakaian kegiatan gerakan lit
literasi sekolah,
dan rangkaian prog
ogram penciri budaya sekolah. Untuk itu
up
peneliti merasa
perlu menentukan
n desain
d
luaran penelitian tersebut.
Transkrip cerita lisan
lisa lokal
Dari seluruh
ruh ceria lisan lokal yang diperoleh me
melalui kegiatan
penelusuran denga
ngan jalan wawncara kepada beberapa
pa narasumber,
penulis mendapatk
tkan hasil wawancara berupa rekaman cerita
cer lisan lokal.
Peneliti menargetk
etkan lebih dari 10 cerita rakyat lisan
san lokal dapat
dikumpulkan. Bent
ntuk bentuk cerita yang dapat dikategorik
rikan cerita lisan
lokal adalah cerit
rita mite, dongeng, dan legenda. Has
asil wawancara
mungkin masih dalam
da
bentuk lisan bahasa setempat (Jaw
(Jawa/ Madura).
Oleh karenanya penulis
pen
akan menuliskan kembali teks dala
alam bentuk tulis
(transkripsi), untuk
tuk selanjutnya diterjjemahkan kembali
li dalam bentuk
bahasa Indonesiaa ((transliterasi). Dengan begitu produk transkrip
t
akan
menggunakan bah
ahasa Indonesia dan berisi cerita lengkap
len
berikut
keterangan judul,
l, sumber cerita, lokasi ditemukannya
ya cerita, tema,

33 | PENELITIAN CERITA
TA LLISAN-LOKAL DAN PENGEMBANGAN SEKOLAH BERBU
ERBUDAYA LISAN

amanat, bentuk sit
situs yang menyertai cerita, dan foto narasumber
na
dan
situs cerita.
Buku kumpulan ceri
cerita pendek
Produk buku
ku cerita pendek dikembangkan dari cerita-cerita
cer
lisan
lokal yang telah d
diperoleh pada luaran penelitian sebelu
elumnya. Cerita
pendek yang dikem
kembangkan adalah cerita ber-genre cerit
rita anak. Cerita
anak dikembangka
kan sesuai dengan gaya dan tingkat berbahasa
be
anak.
Selain itu cerita juga
ju
dilengkapi dengan ilustrasi-ilustra
trasi pendukung
sesuai isi cerita.. S
Selanjutnya buku-buku didistribusikan
n ke kelas dan
peerpustakaan untu
ntuk disimpan pada rak buku dan siap
ap untuk dibaca
siswa. Berikut conto
ntoh bentuk buku cerita pendek yang dikem
kembangkan :
Cover depan belakang
ng (sampul buku)

Cover dalam (untukk ssetiap cerita)

SEBUAH LAPORAN HASIL
ASIL PENELITIAN | 34

Isi cerita

seriap akhir cerita
Cover dalam, pada ser
(berisi ringkasan dan
an informasi terkait situs atau cerita)

Salah satu karakter ce
cerita yang dikembangkan bernama Mbah Dac
acin

35 | PENELITIAN CERITA
TA LLISAN-LOKAL DAN PENGEMBANGAN SEKOLAH BERBU
ERBUDAYA LISAN

Program Sekolah B
Berbudaya lisan
Gerakan Lite
iterasi Sekolah (GLS) yang telah umum
m dikonversikan
menjadi SBL (Sekol
kolah Berbudaya Lisan). BLS dalam penelit
elitian ini adalah
seperangkat kegiata
iatan yang dilakukan untuk membiasakan
kan siswa dalam
melalukan kegiatan
tan berliterasi. Kegiatan berliterasi yang
g dituju adalah
kegiatan membaca,
ca, bercerita, dan menyimak cerita, meman
anfaatkan buku
ckumpulan ceritaa yang
y
telah diproduksi sebelumnya. Oleh
Ol
karenanya,
GLS yang dilaksan
sanakan utamanya diarahkan untuk berli
erliterasi dengan
basis cerita lisan-lok
lokal. Meski begitu, kegiatan GLS ini tidak
ak pula menutup
kemungkinan agar
ar siswa berliterasi dengan topik-topik wac
acana yang lain.
Logo Program Seko
ekolah Berbudaya Lisan

Untuk mend
ndukung perwujudan program dibuatlah
lah logo sekolah
berbudaya lisan. Logo
Lo SBL mengadopsi logi Program Cagar
gar Budaya yang
dicanangkan oleh
h Kemdikbud pada Program Sistem Registrasi
Re
Cagar
Budaya.

Program
ram

ini

dapat

dilihat

dalam

situs

Web

http://cagarbudaya
aya.kemdikbud.go.id. Harapan peneliti
iti adalah agar
program ini tidak
kh
hanya berguna bagi pengembangan kegia
giatan berliterasi

SEBUAH LAPORAN HASIL
ASIL PENELITIAN | 36

melainkan juga mendukung
me
program pelestarian budaya
ya lokal di Kota
Pasuruan.
Program GL
LS dilakukan dengan melaksanakan bebe
eberapa kegiatan
berikut :
1) Mempers
ersiapkan bahan bacaan / wacana sebagai
seb
sumber
literasi,, utamanya
u
cerita lisan-lokal yang telah
ah dikumpulkan
sebagaii li
literasi wajib (bagi seluruh warga sekolah)
ah).
2) Melakuka
kan pelatihan bercerita bagi guru dan ka
karyawan untuk
melaksan
anakan kegiatan bercerita lisan mengguna
nakan buku teks
yang

tersedia.
te

Pelatihan

diarahkan

untuk
k

memberikan

sosialisasi
asi kegiatan, pemahaman fungsi dan tujuan
tu
kegiatan,
dan cara
ara bercerita dengan teknik membaca
ca tekstual dan
dramatik.
tik. Melalui kegiatan ini pula otoritas sekola
olah membentuk
perangka
kat

personil

yang

bertugas

sebag
agai

pengelola

pelaksana
anaan SBL, utamanya beranggotakan guru
gu
di bidang
bahasa dan
d
budaya. Tugas pengelola pelaksa
sanaan SBL ini
adalah merencanakan
m
dan memantau perkem
kembangan dan
keterlaksa
ksanaan SBL di sekolah. Target GLS bagi
b
guru dan
karyawan
an adalah penguasaan guru dan ka
karyawan pada
minimal
al 2—5 cerita per-tahun

untuk dihafalka
lkan dan secara

konsisten
en diceritakan pada siswa dalam berbaga
agai kesempatan.
Target ini dapat ditingkatkan secara kondisional
al dari tahun-ketahun.
3) Otoritass sekolah dan pengelola SBL melakukan
kan perencanaan
dan penja
njadwalan pelaksanaan program SBL.
4) Melakuka
kan kegiatan berliterasi di kelas. Kegia
iatan dilakukan
secara bertahap
be
dengan urutan 4 kegiatan d
di bawah ini.
Kegiatan
an setelah kegiatan terakhir dilakukan,, m
maka kegiatan

37 | PENELITIAN CERITA
TA LLISAN-LOKAL DAN PENGEMBANGAN SEKOLAH BERBU
ERBUDAYA LISAN

berliteras
asi dapat dilanjutkan mulai dari awal den
engan jenis-jenis
wacanaa yang
y
berbeda / bervariasi :
5) Melakuka
kan kegiatan berliterasi di kelas dengan
an guru sebagai
pencerita.
ita. Kegiatan ini dilakukan pada pagi harii saat
s
mengawali
kegiatan
n pembelajaran. Kegiatan ini dilakukan
an dalam 4 hari
belajar ber
be turut-turut. Selain di pagi hari di dala
alam kelas, guru
kelas jug
uga bisa melakukan kegiatan ini setelah
ah pembelajaran
dan di luar
lua kelas (halaman atau taman di lingkung
ngan sekolah).
6) Melakuka
kan kegiatan membaca di kelas dengan
n memberi
m
siswa
kesempat
atan untuk melakukan kegiatan “15 men
enit membaca”.
Kegiatan
an ini dilakukan setiap pagi selama 4 ha
hari belajar ber
turut-turu
urut.
7) Melakuka
kan kegiatan berliterasi di kelas den
engan memberi
kesempat
atan siswa yang memiliki kemampuan,
n, kemauan, dan
keberania
nian untuk bercerita di depan kelas un
untuk bercerita
dengan teknik
t
dramatik (bercerita sambil berek
rekspresi) sesuai
dengan teks
te yang telah dipahaminya. Dalam keg
egiatan ini siswa
yang ber
ercerita dibebaskan untuk memilih ceri
erita yang akan
disajikann
annya di depan kelas. Kegiatan ini dilakuk
ukan setiap pagi
dengan alokasi
a
waktu 15 menit (1 pencerita/ hari)
ha selama 2-4
hari berr turut-turut.
tu
Setiap siswa diharapkan pern
ernah melakukan
kegiatan
n bercerita
b
ini.
8) Otoritass sseko

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Buku Ajar Penelitian dan Pengembangan Ce