PENGAWASAN OLEH BADAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAERAH (BPLHD) TERHADAP PENGELOLAAN PEMBUANGAN LIMBAH CAIR PT INDO LAMPUNG PERKASA KABUPATEN TULANG BAWANG

ABSTRAK
PENGAWASAN OLEH BADAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP
DAERAH (BPLHD) TERHADAP PENGELOLAAN PEMBUANGAN
LIMBAH CAIR PT INDO LAMPUNG PERKASA
KABUPATEN TULANG BAWANG
Oleh:
Eka Purnama Sari
Pengawasan terhadap pengelolaan limbah cair perusahaan yang dilakukan oleh Badan
Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLHD) Kabupaten Tulang Bawang belum optimal.
Hal ini disebabkan karena masih terjadinya pelanggaran pengelolaan limbah cair
perusahaan yang terjadi pada PT Indo Lampung Perkasa, dengan pelanggaran masih
terciumnya bau yang menyengat di area sekitar kolam pembuangan limbah.
Berdasarkan Pasal 3 Peraturan Bupati Kabupaten Tulang Bawang No. 44 Tahun 2011
menyatakan bahwa tugas pokok BPLHD adalah membantu bupati dalam
menyelenggarakan Pemerintah Daerah dibidang Pengelolaan Lingkungan Hidup
Daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan oleh bupati. Berdasarkan hal ini,
peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dalam bentuk skripsi dengan
permasalahan: a. Bagaimanakah pengawasan BPLHD terhadap Pengelolaan
Pembuangan Limbah cair PT Indo Lampung Perkasa Kabupaten Tulang Bawang?
b. Apakah Faktor penghambat pelaksanaan pengawasan bagi BPLHD terhadap
pengelolaan limbah cair PT Indo Lampung Perkasan Kabupaten Tulang Bawang?
Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif dan empiris.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data
sekunder dan dianalisis secara kualitatif.
Hasil penelitian menunjukan bahwa pengawasan dilakukan secara preventif dan
represif. Pengawasan secara preventif adalah melakukan kunjungan rutin ke
perusahaan dan mewajibkan perusahaan membuat laporan-laporan yang berkaitan
dengan pembuangan limbah cair serta menyerahkan laporan PROPER perusahaan.
Pengawasan secara represif dilakukan secara insidental dalam hal pengaduan/ laporan
dari masyarakat baik perorangan maupun kelompok (LSM). Faktor-faktor
penghambat bagi BPLHD yakni keterbatasan dana yang dianggarkan oleh Pemerintah
Kabupaten Tulang Bawang, kurangnya sarana dan prasarana yang memadai, serta
minimnya jumlah tenaga ahli/ Sumber Daya Manusia (SDM) khususnya di bidang
pengawasan lapangan, penaatan dan petugas pemeriksa.
Kata kunci : Pengawasan, pengelolaan limbah dan Perusahaan Industri (PT).

ABSTRACT

SUPERVISION BY ENVIRONMENTAL MANAGEMENT AGENCY
(EMA) FOR LIQUID WASTE DISPOSAL MANAGEMENT PT INDO
LAMPUNG PERKASA TULANG BAWANG DISTRICT
By
Eka Purnama Sari
Supervision of the liquid waste management company that conducted by
Environmental Management Agency (EMA) Tulang Bawang Regency is not
optimal. It is because there are violations of liquid waste management company
that happens to PT Indo Lampung Perkasa, namely a pungent smell in the area
around a pool of waste disposal.
Based on an article 3 of Tulang Bawang Regent Regulation No. 44, 2001 stated
that the main duty of BPLHD was help a regent to organize the local government
in Local Environmental Management sector which was based on regional policy
set by the governor. According to this, researcher was interested to research with
problems as follow: How is BPLHD’s supervision of Liquid Waste Disposal
Management PT Indo Lampung Perkasa Tulang Bawang and what is the
inhibiting factor for BPLHD of liquid waste management PT Indo Lampung
Perkasan Tulang Bawang. Research method used was normative juridical and
empirical approach. The data sources used in this study consisted of primary data
and secondary data and analyzed qualitatively.
The results of this research showed that the monitoring carried out in preventive
and repressive form. Preventive supervision was made regular visited to the
company and required company made reports relating to the waste disposal and
submit proper companies' reports. Repressive surveillance conducted incidental in
terms complaints / reports from the public, both individuals and groups (LSM).
Limiting factors for BPLHD was the limited funds budgeted by Tulang Bawang
Government, lack of adequate infrastructure, and inadequate number of experts /
Human Resources (HR), especially in the court supervision's sector, compliance
and inspectors.
Key Words: Supervision, waste management and industrial company (PT).

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Metro pada tanggal 14 September
1994, merupakan putri bungsu dari 3 bersaudara diantaranya
Mega Sari, dan Juanda Firlani, dari pasangan Bapak M.
Tohir dan Ibu Ema Sari.

Riwayat pendidikan penulis diawali dari pendidikan, pada Taman Kanak-Kanak
Yapindo PT SIL lulus tahun 2000; Sekolah Dasar Swasta Abadi Perkasa PT ILP
lulus pada tahun 2005, Sekolah Menengah Pertama Swasta Abadi Perkasa PT ILP
lulus pada tahun 2008, Sekolah Menengah Atas Swasta Sugar Group lulus pada
tahun 2011, kemudian pada tahun 2011 penulis diterima sebagai Mahasiswi
Fakultas Hukum Universitas Lampung dan pada tahun 2014 penulis mengikuti
Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Bumi Asih Kecamatan Palas Kabupaten
Lampung Selatan.

Selama menjadi mahasiswi penulis juga aktif di dunia kemahasiswaan baik di
internal dan eksternal kampus, di internal kampus penulis mengawali karirnya di
BEM FH sebagai Anggota BIM 2011-2012, dan UKMF Mahkamah sebagai
Anggota Biasa 2012-2013. Di eksternal kampus penulis aktif sebagai kader
Himpunan Mahasiswa Islam (HmI) diawali pada Basic Training LK I
Komisariat Hukum Unila pada tahun 2011.

di

PERSEMBAHAN

Dengan kerendahan hati dan puji syukur atas kehadirat Allah SWT
kupersembahkan skripsiku yang sederhana ini kepada :
Kedua orang tuaku tercinta, yang telah mendoakan, membesarkan, mendidik,
mendukung, memberi dorongan dan selalu menanti keberhasilanku.
Para dosen yang telah mendidikku.
Almamater tercinta.
Kanda, Yunda dan Adinda Himpunan Mahasiswa Islam (HmI) Cabang Bandar
Lampung Komisariat Hukum Universitas Lampung.
Untuk kakak-kakak ku terimakasih untuk semua motivasi, do’a dan harapan yang
selalu memberi kekuatan dan inspirasi di hati

MOTO

Demi waktu matahari sepenggalah naik, dan demi waktu malam apabila telah sunyi,
Tuhan-mu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, dan
sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan, Dan kelak Tuhan-mu pasti
Memberikan Karunia-Nya kepadamu, lalu(hati) kamu menjadi puas.
(Q.S ADL-Dluha:1-5).

Putuskanlah menjadi pribadi yang berbahagia, berfokuslah pada fikiran, sikap dan
tindakan yang membahagiakan lalu perhatikan apa yang terjadi.
-Mario Teguh-

SANWACANA

Assallamu’allaikum Wr.Wb.

Alhamdulillah, Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas
limpahan rahmat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi
ini, dengan judul “Pengawasan Oleh Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Daerah (BPLHD) Terhadap Pengelolaan Pembuangan Limbah Cair PT Indo
Lampung Perkasa Kabupaten Tulang Bawang”, dengan harapan agar hasil
penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi upaya pengembangan
hukum lingkungan di Indonesia pada umumnya.

Dalam menyelesaikan skripsi ini penulis telah banyak mendapat bantuan dari
beberapa pihak, yang penulis yakin bahwa tanpa bantuan tersebut skripsi ini tidak
akan terwujud. Penghargaan yang tinggi dan rasa terima kasih yang tak terhingga
penulis sampaikan kepada Bapak Dr. Muhammad Akib, S.H., M.Hum. selaku
dosen pembimbing I (satu) dan Bapak Elman Eddy Patra, S.H., M.H., selaku
dosen pembimbing II (dua) yang telah banyak meluangkan waktu, pikiran, serta
memberi dorongan semangat dan pengarahan kepada penulis dalam upaya
penyusunan skripsi ini. Selain itu Beliau telah membuka wawasan penulis dan
menambah pengetahuan yang sangat berharga.

Penghargaan dan terima kasih tak terhingga penulis sampaikan kepada :
1.

Bapak Prof. Dr. Hi. Heryandi, SH., MS., selaku Dekan Fakultas Hukum
Universitas Lampung beserta staf yang telah memberikan bantuan dan
kemudahan kepada Penulis selama mengikuti pendidikan.

2.

Ibu Upik Hamidah, S.H., M.H. Ketua Bagian Hukum Administrasi Negara
yang telah banyak membantu dalam proses penyelesaian skripsi ini.

3.

Bapak Prof. Dr. Muhammad Akib, S.H., M.Hum. pembimbing satu, yang
telah meluangkan waktu, pikiran, serta memberi dorongan semangat dan
pengarahan kepada penulis dalam upaya penyusunan skripsi ini.

4.

Bapak Elman Eddy Patra, S.H., M.H. pembimbing dua, yang telah
meluangkan waktu, pikiran, serta memberi dorongan semangat dan
pengarahan kepada penulis dalam upaya penyusunan skripsi ini.

5.

Ibu Sri Sulastuti, S.H., M.H., pembahas satu dan juga penguji utama yang
telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penulisan skripsi ini.

6.

Ibu Atik Yuniati, S.H., M.H., pembahas dua yang telah memberikan
bimbingan dan pengarahan dalam penulisan skripsi ini.

7.

Ibu Sri Sulastuti, S.H., M.H., dosen Pembimbing Akademik yang telah
memberikan bimbingan dan pengarahan selama penulis menjadi mahasiswa.

8.

Bapak Dr. Hamzah, S.H., M.H., Pembantu dekan III dan Bapak Rusmiadi
S.H., Kabag kemahasiswaan yang telah banyak memberi dorongan semangat
dan pengarahan selama penulis berproses di Lembaga Kemahasiswaan
Fakultas Hukum Universitas Lampung.

9.

Bapak dan Ibu dosen pada Fakultas Hukum Universitas Lampung yang telah
membimbing dan memberikan ilmunya yang semoga bermanfaat bagi
penulis.

10. Yang tercinta Ayahanda M. Tohir dan Ibunda Ema Sari., yang telah bersusah
payah mengasuh, mendidik dan membesarkan dengan penuh kasih sayang
dan kesederhanaan serta tidak bosan-bosannya mendoakan keberhasilan
penulis.
11. Kakak-kakak ku tersayang, Mega Sari dan Juanda Firlani yang selalu
mendukung dan mendoakan keberhasilan ku,
12. Buat “kamu” yang selalu mengisi keseharian dan hatiku, terimaksih atas
dukungan

yang

selalu

tiada

henti-hentinya

untuk

mendapingiku,

membantuku, menjadikanku tetap semangat, serta semua yang telah kamu
korbankan dan usahakan untukku dalam menyelesaikan skripsi ini.
13. Sahabat-sahabat sekalian angkatan Basic Traning LK 1, Prabu Dafa dan
maupun yang Basic Traning LK 1 diluar KHU saya ucapkan terima kasih
banyak telah aktif berproses serta membantu kinerja saya selama periode
pengurusan di KHU selama saya menjadi presedium.
14. Sahabat-sahabat seperjuangan selama di fakultas Dewi Yuliandari AS,
Amiliya Rahayu, Iis Priyatun, Abi Zuliyansyah, dan Aldi Setiawan. Dalam
menempuh syarat-syarat mendapat gelar sarjana.
15. Sahabat-sahabatku selama saya menjadi mahasiswa di Fakultas Hukum
Universitas Lampung dan di Hima HAN, Dewi Yuliandari, Iis Priatun,
Amiliya Rahayu, Ayu Kumala Sari, Dewi Sartika, Anisa Toriqi, Beni
Yulianto, Abi Zuliansyah, Mardotilah (ADO), Hendra Ari Saputra, ANDO,

Dika Permandi, Agus Hermawan, Ebi, Fitra Albazuri, Fima Agtha, dll terima
kasih banyak selama ini telah menjadi sahabat terbaik dalam berbagi keluh
kesah dalam susah dan senang.
16. Sahabat-sahabat penulis selama menjadi mahasiswi di Fakultas Hukum
UNILA Dian Aggraeni, Ellyzabet Berliana, Desy Dwi Katrin, Dian Tri
Puspita S, Eva Rohmania, dan Elsha Venca terimakasih telah menjadi sahabat
terbaik.
17. Teman-temanku tercinta di Kost Kinanti yaitu, Eka Purnama Sari, Anissa
Nurjanah, Ana, adik-adikku Flora Gamasika, Melisa Laraswati, Makcik,
Putri, Yuni, Ima dan Yoesis. Terimakasih banyak yang selalu mensuport ku
dalam menyelesaikan skripsi dengan memberikan kasih sayang dan
kepedulian yang luar biasa kepada ku.
18. Keluarga Besar Bapak Karnoko yang telah bersedia mengizinkan saya dan
teman-teman selama 40 hari tinggal dirumah keluarga beliau pada saat saya
Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Bumi Asih, Kecamatan Palas, Kabupaten
Lampung Selatan.
19. Sahabat- sahabatku Pada Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Bumi Asih yaitu
Fadilah Syakirah, Fajriyati Mutia, Felicia Rosari, Selvia, Kak Ekindo, Dian
Surida, Apin, Dina, Audi, Kak Egi, dan Kak Edi Suhendar selaku kordes.
Terima kasih banyak berkat KKN selama 40 hari bersama kalian saya
mendapatkan keluarga baru.
20. Serta semua pihak yang berada di luar kampus saya ucapkan terimaksih
banyak kepada Yuk Itak, Ibu Respita yang menjadi ibu kost dan pengganti
ibu di tanah rantau, Buyah Penyimbang, Tante Al yang selalu menjadi super

hero ketika keuangan mulai menipis, serta pihak yang berada dilingkungan
kampus.
21. Semua pihak dan rekan-rekan yang telah banyak membantu dalam
penyusunan dan penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu
persatu saya ucapkan terimakasih.

Penulis menyadari bahawa skripsi ini kurang sempurna, oleh karenanya kritik dan
saran apapun bentuknya penulis hargai guna melengkapi kekurangan-kekurangan
yang ada namun demikian penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat.
Semoga amal ibadahnya di terima oleh Allah SWT.

Wassallamu”allaikum Wr. Wb.

Bandar Lampung,
Penulis

Eka Purnama Sari

Februari 2015

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI................................................................................................ i
DAFTAR TABEL .......................................................................................ii
I. PENDAHULUAN ....................................................................................1
1.1 Latar Belakang .................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah dan Ruang Lingkup ...........................................7
1.2.1 Rumusan Masalah ....................................................................7
1.2.2 Ruang Lingkup .........................................................................8
1.3 Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian ....................................8
1.3.1 Tujuan Penelitian......................................................................8
1.3.2 Kegunaan Penelitian.................................................................8
II. TINJAUAN PUSTAKA........................................................................10
2.1 Pengertian Pengawasan...................................................................10
2.2 Pengawasan Lingkungan Hidup......................................................15
2.3 Kelembagaan Lingkungan Hidup Daerah.......................................22
2.4 Pengelolaan Pembuangan Limbah Cair ..........................................26
2.4.1 Pengertian Limbah ..................................................................26
2.4.2 Pengertian Limbah Cair ..........................................................28
2.4.3 Pengelolaan Pembuangan Limbah ..........................................29
III. METODE PENELITIAN ...................................................................32
3.1 Pendekatan Masalah........................................................................32
3.2 Jenis dan Sumber Data....................................................................33
3.2.1 Jenis Data ................................................................................33
3.2.2 Sumber Data ............................................................................33
3.3 Pengumpulan Data ..........................................................................35
3.4 Pengolahan Data .............................................................................36
3.5 Analisis Data ...................................................................................37
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN..................................38
4.1 Gambaran Umum Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Kabupaten Tulang Bawang............................................................38
4.1.1 Sejarah Kabupaten Tulang Bawang......................................38
4.1.2 Potensi Daerah Kabupaten Tulang Bawang .........................39

4.1.3 Tugas Pokok dan Fungsi Dari Badan Pengelolaan
Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Tulang Bawang ......42
4.1.4 Susunan Organisasi Badan Pengelolaan Lingkungan
Hidup Daerah Kabupaten Tulang Bawang...........................44
4.2 Pengawasan Terhadap Pengelolaan Limbah Cair PT Indo
Lampung Perkasa Kabupaten Tulang Bawang ..............................52
4.3 Faktor Penghambat Terhadap Pengelolaan Pembuangan Limbah
Cair PT Indo Lampung Perkasa Kabupaten Tulang Bawang ........70
V. PENUTUP ..............................................................................................75
5.1 Kesimpulan .....................................................................................75
5.2 Saran ...............................................................................................76
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel 1.Baku Mutu Air Limbah Industry Gula Dan Gula Rafinasi .............57

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Lingkungan hidup Indonesia merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang
tidak ternilai harganya, sehingga harus senantiasa dijaga, dikelola, dan
dikembangkan dengan baik agar dapat menjadi sumber penghidupan bagi manusia
dan mahluk lainnya demi meningkatkan kualitas hidup. Antara manusia dan
lingkungan sekitar tentu sangat berhubungan erat, karena manusia berinteraksi
dan saling mempengaruhi dengan alam dan lingkungannya dalam sebuah
hubungan timbal balik baik positif maupun negatif. Dengan demikian kesadaran
lingkungan hidup merupakan kesadaran yang lahir dari pemahaman tentang
hubungan manusia dengan lingkungannya.

Manusia merupakan satu kesatuan dengan lingkungan hidup dan memiliki peran
penting dalam keberhasilan pengelolaannya. Lingkungan hidup yang baik dan
sehat merupakan hak asasi setiap Warga Negara Indonesia dan Pembangunan
Ekonomi Nasional yang diselenggarakan berdasarkan prinsip pembangunan
berkelanjutan dan berwawasan lingkungan sebagaimana diamanatkan dalam Pasal
28H Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945).
Masalah lingkungan hidup semakin lama semakin besar, meluas, dan serius. Ibarat

2

bola salju yang selalu menggelinding, semakin lama semakin besar. Persoalanya
bukan hanya bersifat lokal atau trans lokal, tetapi regional, nasional, transnasional, dan global. Dampak-dampak yang terjadi terhadap lingkungan tidak
hanya terkait pada satu atau dua segi saja, tetapi kait mengait dengan sifat kualitas
lingkungannya yang memiliki multi mata rantai relasi yang saling mempengaruhi
secara subsistem. Kualitas lingkungan hidup yang semakin menurun telah
mengancam kelangsungan perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya
sehingga perlu dilakukan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang
sungguh-sungguh dan konsisten oleh semua pemangku kepentingan.

Untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan hukum
lingkungan yang begitu pesat, maka Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982
tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Lingkungan hidup (selanjutnya disebut UULH)
setelah berlaku lebih kurang selama 15 tahun, diperbaharui menjadi UndangUndang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
(selanjutnya disebut UUPLH) yang mengatur mengenai pengelolaan lingkungan
hidup yang berkesinambungan dan berkelanjutan. Selanjutnya UUPLH telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan
Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (selanjutnya disebut UUPPLH-2009).
UUPPLH-2009 tersebut sebagai undang-undang pokok yang mempunyai cirri-ciri
adanya penguatan tentang prinsip-prinsip perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup yang didasarkan pada tata kelola pemerintahan yang baik
karena setiap proses perumusan dan penerapan instrument pencegahan

3

pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup serta penanggulangan dan
penegakan hukum1.

Dalam Pasal 1 ayat (1) UUPPLH-2009, yang dimaksud dengan Lingkungan
Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk
hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri,
kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup
lain. Masalah utama dalam pengelolaan lingkungan hidup adalah adanya
pencemaran atau perusakan lingkungan hidup, oleh karena itu perlu dilakukan
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Menurut Pasal 1 ayat (14)
UUPPLH-2009 bahwa pencemaran lingkungan hidup adalah masuk atau
dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam
lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu
lingkungan hidup yang telah ditetapkan. Kemudian dalam Pasal 1 ayat (16)
UUPPLH-2009 yang dimaksud dengan perusakan lingkungan adalah tindakan
orang yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat
fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan hidup sehingga melampaui kriteria baku
kerusakan lingkungan hidup. Selanjutnya dalam Pasal 1 ayat (17) UUPPLH-2009
kerusakan lingkugan adalah perubahan langsung dan/atau tidak langsung terhadap
sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan hidup yang melampaui kriteria baku
kerusakan lingkungan hidup.

1

Syahrul Muhamad, Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012,
hlm. 2.

4

Dengan demikian pencemaran lingkungan hidup merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi kualitas kehidupan makhluk di sekitarnya, sehingga masalah
pencemaran lingkungan ini menjadi salah satu hal yang paling krusial. Hal ini
tidak terlepas dengan adanya kegiatan industri yang melibatkan penggunaan
bahan-bahan kimia yang berbahaya terutama dalam pembuangan limbah. Limbah
merupakan sisa dari suatu proses produksi industri maupun domestik yang
berdampak negatif bagi kehidupan masyarakat jika tidak dikelola dengan baik.
Salah satunya adalah limbah cair. Limbah cair merupakan limbah yang berwujud
cairan berupa air beserta bahan-bahan buangan lain yang tercampur (tersuspensi)
maupun terlarut dalam air. Limbah cair industri jika dibuanag ke lingkungan tanpa
melalui proses pengelolahan lebih lanjut, maka bahan-bahan yang terkandung di
dalamnya tidak dapat diurai oleh mikroorganisme di lingkungan pembuangannya.

Pengelolaan limbah cair industri haruslah sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan, akan tetapi masih saja ada pabrik industri yang lalai menerapkan
standar minimal pengelolaan limbahnya. Sesuai Pasal 13 UUPPLH-2009 bahwa
pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi
aspek

pencegahan,

penanggulangan

dan

pemulihan

dilaksanakan

oleh

pemerintah, pemerintah daerah, dan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan
sesuai dengan kewenangan, peran, dan tanggung

jawab masing-masing.

Pengawasan oleh pemerintah sangat diperlukan dalam hal ini. Pengelolaan limbah
cair industri yang kurang baik terjadi pula pada pabrik industri yang ada di
Kabupaten Tulang Bawang, yaitu PT. Indo Lampung Perkasa. Perusahan ini
adalah salah satu anak cabang dari Sugar Group Companice Lampung. PT. Indo
Lampung Perkasa bergerak dalam produksi gula. Pabrik ini merupakan pabrik

5

yang memproduksi tebu sebagai bahan mentah yang diolah dan menghasilkan
gula pasir sebagai produknya. Sebagai industri pengolahan, perusahaan ini pasti
memiliki limbah cair yang dikeluarkannya. Untuk itu limbah tersebut seharusnya
dikelola dengan baik agar tidak mencemarkan lingkungan hidup. Didalam
kenyataanya limbah cair yang dikeluarkan oleh PT ILP menghasilkan bau yang
cukup menyengat, walaupun bau ini akan terasa dan muncul saat masa produksi
gula saja. Bau yang ditimbulkan dari limbah cair ini dapat mempengaruhi
lingkungan di sekitarnya dan kesehatan warga yang berada di dekat kawasan
pembuangan limbah.

Oleh karena itu, kegiatan industri perlu memiliki penanganan dalam pengelolaan
dan pengawasan yang baik dan sesuai, dengan syarat pengelolaan pembuangan
limbah industri. Kabupaten Tulang Bawang melalui Badan Pengelolaaan
Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) memiliki peran yang sangat penting yaitu
sebagai lembaga pemerintah daerah yang memiliki fungsi pengawasan dan
bertindak tegas dalam pengelolaan pembuangan limbah yang dikeluarkan oleh
pabrik-pabrik industri. Pengawasan terhadap pengelolaan limbah cair merupakan
kewenangan dari BPLHD, sesuai dalam Pasal 3 Peraturan Bupati Tulang Bawang
No. 44 Tahun 2011 menyatakan bahwa tugas pokok BPLHD adalah membantu
Bupati dalam menyelenggarakan Pemerintahan Daerah di bidang Pengelolaan
Lingkungan Hidup Daerah berdasarkan kebijakan yang ditetepkan oleh Bupati.

BPLHD dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana disebutkan di atas,
berdasarkan Pasal 4 Peraturan Bupati Tulang Bawang No. 44 Tahun 2011
mempunyai fungsi sebagi berikut:

6

a.

penetapan kebijakan tingkat kabupaten;

b.

penetapan dan pelaksanaan KLHS tingkat kabupaten;

c.

penetapan da pelaksaan kebijakan mengenai RPPLH kabupaten;

d.

penetapan dan peleksanaan kebijakan mengenai Amdal dan UKL-UPL;

e.

penyelenggaraan inventarisasi sumber daya alam emisi gas rumah kaca pada
tingkat kabupaten;

f.

pengembangan dan pelaksanaan kerjasama dan kemitraan;

g.

pengembangan dan penerapan instrument lingkungan hidup;

h.

fasilitasi penyelesaian sengketa;

i.

pembinaan dan pengawasan ketaatan penanggungjawab usaha dan/atau
kegiatan terhadap ketentuan perizinan lingkungan dan peraturan perundangundangan;

j.

pelaksanaan standar pelayanan minimal;

k.

pelaksaan kebijakan mengenai tata cara pengakuan keberadaan masyarakat
hukum adat, kearifan local dan hak masyarakat hukum adat yang terkait
dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup pada tingkat
kabupaten;

l.

pengelolaan informasi lingkungan hidup tingkat kabupaten;

m. pengembangan dan pelaksanaan kebijakan sistem informasi lingkungan hidup
tingkat kabupaten;
n.

pelaksanaan pendidikan, pelatihan, pembinaan, dan penghargaan;

o.

penerbitan izin lingkungan pada tingkat kabupaten;

p.

penegakan hukum lingkungan pada tingkat kabupaten;

q.

pelaksanaan tugas lain sesuai dengan bidang tugasnya.

7

Pengawasan yang dilakukan oleh BPLHD Kabupaten Tulang Bawang terhadap
pengelolaan pembuangan limbah cair di Kabupaten Tulang Bawang telah
memiliki payung hukum yang jelas dan kuat baik tingkat pusat maupun daerah.
Peraturan perundang- undangan ditingkat pusat antara lain Undang-Undang No.
32 Tahun 2009

tentang Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup,

sedangkan peraturan ditingkat daerah Provinsi Lampung khususnya yaitu
Peraturan Gubernur Lampung No. 7 Tahun 2010 tentang Baku Mutu Air Limbah
Bagi Usaha Dan/Atau Kegiatan Di Provinsi Lampung.

Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti tertarik untuk mengadakan
penelitian degan judul “ Pengawasan Oleh Badan Pengelolaan Lingkungan
Hidup Daerah (BPLHD) Terhadap Pengelolaan Pembuangan Limbah Cair
PT. Indo Lampung Perkasa Kabupaten Tulang Bawang”

1.2 Rumusan Masalah dan Ruang Lingkup

1.2.1 Rumusan Masalah
Berdasarkan urian di atas dirumuskan beberapa permasalahan yang diangkat serta
dibahas dalam penulisan skripsi ini, yaitu:

1. Bagaimanakah pengawasan BPLHD terhadap pengelolaan Pembuangan
Limbah cair PT. Indo Lampung Perkasa Kabupaten Tulang Bawang?
2. Apakah faktor penghambat pelaksanaan pengawasan bagi BPLHD terhadap
Pengelolaan limbah cair PT. Indo Lampung Perkasa Kabupaten Tulang
Bawang?

8

1.2.2 Ruang Lingkup

Ruang lingkup penelitian ini adalah merupakan kajian dalam Hukum Administrasi
Negara yang mana membahas mengenai pengawasan BPLHD terhadap
pengelolaan pembuangan limbah cair PT. Indo Lampung Perkasa Kabupaten
Tulang Bawang. Penelitian ini dibatasi pada Badan Pengelola Lingkungan Hidup
Daerah Kabupaten Tulang Bawang dengan spesifikasi pada pengawasan
pengelolaan pembuangan limbah cair. Sedangkan ruang lingkup wilayah
penelitian adalah Kabupaten Tulang Bawang.

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1.3.1 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui dan memahami pengawasan BPLHD terhadap pengawasan
pengelolaan pembuangan limbah cair PT. Indo Lampung Perkasa Kabupaten
Tulang Bawang.
2. Untuk mengetahui dan memahami faktor penghambat pengawasan terhadap
pengelolaan limbah cair PT. Indo Lampung Perkasa Kabupaten Tulang
Bawang.

1.3.2 Kegunaan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang dibahas, kegunaan penelitian ini, yaitu :
a. Kegunaan teoritis, yaitu berguna sebagai upaya pengembangan wawasan di
bidang Ilmu Hukum Administrasi Negara, khususnya Hukum Lingkungan

9

yang berkaitan dengan bagaimana pengawasan BPLHD Kabupaten Tulang
Bawang dalam pengawasan pengelolaan pembuangan limbah cair.
b. Kegunaan praktis, yaitu menambah pengetahuan penulis dan pembaca
mengenai bagaimana pengawasan BPLHD Kabupaten Tulang Bawang dalam
mengawasi pengelolaan pembuangan limbah cair.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Pengawasan

Pengawasan merupakan suatu kegiatan yang sangat penting agar pekerjaan
maupun tugas yang dibebankan kepada aparat pelaksana terlaksana sesuai dengan
rencana yang ditetapkan1. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Sondang P Siagian
yang menyatakan pengawasan adalah suatu proses pengamatan daripada
pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar semua pekerjaan
yang sedang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan
sebelumnya.2

Menurut Sujamto pengawasan adalah segala usaha atau kegiatan untuk
mengetahui dan menilai kenyataan yang sebenarnya mengenai pelaksanaan tugas
atau kegiatan, apakah sesuai dengan semestinya atau tidak.

3

Pengertian

pengawasan tersebut menekankan pada suatu proses pengawasan berjalan
sistematis sesuai dengan tahap-tahap yang telah ditentukan.

1

Nurmayani, Hukum Administrasi Negara (Buku Ajar). Univaersitas Lampung; Bandar Lampung,
hlm. 81.
2
Siagian, Sondang. P. Administrasi Pembangunan. Gunung Agung: Jakarta. 2000. hlm 135.
3
Sujamto. Otonomi Daerah Yang Nyata dan Bertanggung Jawab Sinar Grafika: Jakarta. 1990,
hlm. 17.

11

Dalam kamus besar Indonesia istilah “Pengawasan berasal dari kata awas yang
artinya memperhatikan baik-baik, dalam arti melihat sesuatu dengan cermat dan
seksama, tidak ada lagi kegiatan kecuali memberi laporan berdasarkan kenyataan
yang sebenarnya dari apa yang di awasi”.4 Menurut seminar ICW pertanggal 30
Agustus 1970 mendefenisikan bahwa “ Pengawasan sebagai suatu kegiatan untuk
memperoleh kepastian apakah suatu pelaksaan pekerjaan / kegiatan itu
dilaksanakan sesuai dengan rencana, aturan-aturan dan tujuan yang telah di
tetapkan”.Jika memperhatikan lebih jauh, yang menjadi pokok permasalahan dari
pengawasan yang dimaksud adalah, suatu rencana yang telah di gariskan terlebih
dahulu apakah sudah di laksanakan sesuai dengan rencana semula dan apakah
tujuannya telah tercapai. Sebagai bahan perbandingan diambil beberapa pendapat
para sarjana di bawah ini antara lain:

Menurut Prayudi: “Pengawasan adalah suatu proses untuk menetapkan pekerjaan
apa yang dijalankan, dilaksanakan, atau diselenggarakan itu dengan apa yang
dikehendaki,

direncanakan

atau

diperhatikan”.5

Menurut

Saiful

Anwar,

pengawasan atau kontrol terhadap tindakan aparatur pemerintah diperlukan agar
pelaksanaan tugas yang telah ditetapkan dapat mencapai tujuan dan terhindar dari
penyimpangan-penyimpangan.

6

Menurut M. Manullang mengatakan bahwa :

“Pengawasan adalah suatu proses untuk menetapkan suatu pekerjaan apa yang

4

Sujanto, Beberapa Pengertian di Bidang Pengawasan, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1986, hlm 2.
Prayudi, Hukum Administrasi Negara, Jakarta : Ghalia Indonesia, 1981, hlm 80.
6
Saiful Anwar., Sendi-Sendi Hukum Administrasi Negara, Glora Madani Press, 2004, hal.127.
5

12

sudah dilaksanakan, menilainya dan mengoreksi bila perlu dengan maksud supaya
pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan rencana semula.” 7

Dilain pihak menurut Sarwoto yang dikutip oleh Sujamto memberikan batasan
”Pengawasan adalah kegiatan manager yang mengusahakan agar pekerjaanpekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana yang ditetapkan atau hasil yang
dikehendaki”

8

Menurut Harold Koonz,dkk, yang dikutip oleh John Salinderho

mengatakan bahwa pengawasan adalah pengukuran dan pembetulan terhadap
kegiatan para bawahan untuk menjamin bahwa apa yang terlaksana itu cocok
dengan rencana. Jadi pengawasan itu mengukur pelaksanaan dibandingkan dengan
cita-cita dan rencana, memperlihatkan dimana ada penyimpangan yang negatif
dan dengan menggerakkan tindakan-tindakan untuk memperbaiki penyimpanganpenyimpangan, membantu menjamin tercapainya rencana-rencana.9

Dari sejumlah fungsi manajemen, pengawasan merupakan salah satu fungsi yang
sangat penting dalam pencapaian tujuan manajemen itu sendiri. Fungsi
manajemen lainnya seperti perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan tidak
akan dapat berjalan dengan baik apabila fungsi pengawasan ini tidak dilakukan
dengan baik. Demikian pula halnya dengan fungsi evaluasi terhadap pencapaian
tujuan manajemen akan berhasil baik apabila fungsi pengawasan telah di lakukan
dengan baik.

Dalam kehidupan sehari-hari baik kalangan masyarakat maupun di lingkungan
perusahaan swasta maupun pemerintahan makna pengawasan ini agaknya tidak
7

M.Manullang, Dasar-Dasar Manajemen, Jakarta : Ghalia Indonesia , 1995, hlm.18
Sujanto, Op.Cit, hlm.13.
9
Jhon Salindeho, Tata Laksana Dalam Manajemen, Jakarta : Sinar Grafika, 1998, hlm.39.
8

13

terlalu sulit untuk dipahami. Untuk memberi batasan tentang pengawasan ini
masih sulit untuk diberikan. Bagi para ahli manajemen, tidak mudah untuk
memberikan defenisi tentang pengawasan, karena masing-masing memberikan
defenisi tersendiri sesuai dengan bidang yang dipelajari oleh ahli tersebut Dari
beberapa defenisi yang dikemukakan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1) Pengawasan adalah merupakan proses kegiatan yang terus-menerus di
laksanakan untuk mengetahui pekerjaan apa yang sudah dilaksanakan,
kemudian diadakan penilaian serta mengoreksi apakah pelaksanaannya sesuai
dengan semestinya atau tidak.
2) Selain itu pengawasan adalah suatu penilaian yang merupakan suatu proses
pengukuran dan pembandingan dari hasil-hasil pekerjaan yang nyata telah
dicapai dengan hasil-hasil yang seharusnya dicapai. dengan kata lain, hasil
pengawasan harus dapat menunjukkan sampai di mana terdapat kecocokan atau
ketidakcocokan serta mengevaluasi sebab-sebabnya.

Jika diterjemahkan begitu saja istilah controlling dari bahasa Inggris, maka
pengertiannya lebih luas dari pengawasan yaitu dapat diartikan sebagai
pengendalian, padahal kedua istilah ini berbeda karena dalam pengendalian
terdapat unsur korektif. Istilah pengendalian berasal dari kata kendali yang berarti
mengekang atau ada yang mengendalikan. Jadi berbeda dengan istilah
pengawasan, produk langsung kegiatan pengawasan adalah untuk mengetahui
sedangkan kegiatan pengendalian adalah langsung memberikan arah kepada objek
yang dikendalikan.

14

Dalam pengendalian kewenangan untuk mengadakan tindakan korektif itu sudah
terkandung di dalamnya, sedangkan dalam pengertian pengawasan tindakan
korektif itu merupakan proses lanjutan. Pengendalian adalah pengawasan
ditambah tindakan korektif. Sedangkan pengawasan adalah pengendalian tanpa
tindakan korektif. Namun sekarang ini pengawasan telah mencakup kegiatan
pengendalian, pemeriksaan, dan penilaian terhadap kegiatan.

Apabila dikaitkan dengan akuntabilitas publik, pengawasan merupakan salah satu
cara untuk membangun dan menjaga legitimasi warga masyarakat terhadap
kinerja pemerintahan dengan menciptakan dengan menciptakan suatu sistem
pengawasan yang efektif, baik pengawasan intern (internal control) maupun
pengawasan eksternt (external control) serta mendorong adanya pengawasan
masyarakat (social control). Sasaran pengawasan adalah temuan yang
menyenangkan terjadinya penyimpangan atas rencana atau target.

Tindakan yang dapat dilakukan dalam pengawasan adalah:
a. mengarahkan atau merekomendasikan perbaikan;
b. menyarankan agar ditekan adanya pemborosan; dan
c. mengoptimalkan pekerjaan untuk mencapai sasaran rencana.

Fungsi pengawasan adalah suatu kegiatan yang dijalankan oleh pimpinan ataupun
suatu badan dalam mengamati, membandingkan tugas atau pekerjaan yang
dibedakan kepada aparat pelaksanaan dengan standar yang telah ditetapkan guna

15

mempertebal

rasa

tanggungjawab

untuk

mencegah

penyimpangan

dan

memperbaiki kesalahan dalam pelaksanaan pekerjaan.10

Hakekatnya setiap kebijaksanaan yang dilakukan oleh pimpinan suatu badan
mempunyai fungsi tertentu yang diharapkan dapat terlaksan, sejalan dengan
tujuan kebijaksanaan tersebut. Demikian pula halnya dengan pelaksanaan
pengawasan pada suatu lingkungan kerja atau suatu organisasi tertentu.
Pengawasan yang dilaksanakan mempunyai fungsi sesuai dengan tujuannya.
Mengenai hal ini, Soerwarno Handayanigrat menyatakan emapat hal yang terkait
dengan fungsi pengawasan, yaitu:
a. mempertebal rasa tanggung jawab terhadap pejabat yang diserahi tugas dan
wewenang dalam melaksanakan pekerjaannya;
b. mendidik para pejebat agar mereka melaksanakan pekerjaan sesuai dengan
prosedur yang telah ditentukan;
c. untuk mencegah terjadinya penyimpangan, kelaian, dan kelemahan agar tidak
terjadi kerugian yang tidak diinginkan;
d. untuk memperbaiki kesalahan dan penyelewengan agar pelaksanaan pekerjaan
tidak mengalami hambatan-hambatan dan pemborosan.11

2.2 Pengawasan Lingkungan Hidup

Wewenang pemerintah dalam pengelolaan lingkungan secara konstitusional
bertumpu pada ketentuan Pasal 33 ayat (3) dan (4) Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 ( UUD1945). Implementasi dari ketentuan Pasal
10

Nurmayani. Hukum Administrasi Daerah ( Buku Ajaran) . Universitas Lampung: Bandar
Lampung. 2009, hlm. 82.
11
Ibid.

16

33 ayat (3) dan (4) UUD 1945 adalah diaturnya tugas dan wewenang pemerintah
dan pemerintah daerah dalam pengelolaan lingkungan hidup dan Sumber Daya
Alam (SDA). Tugas dan wewenang di bidang pengelolaan dan perlindungan
lingkungan hidup diatur dalam Pasal 63 UUPLH-2009, sementara di bidang SDA
diatur dalam UU sektor masing-masing, seperti dalam UU pertambangan Mineral
dan Batu Bara, UU Panas Bumi, dan UU Sumber Daya Air.12

Tugas dan wewenang pemerintah dalam pengelolaan dan perlindungan
lingkungan hidup menurut Pasal 63 ayat (1) UUPPLH-2009 meliputi:
a. menetapkan kebijakan nasional;
b. menetapkan norma, standar, prosedur, dan criteria;
c. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai RPPLH nasional;
d. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai LKHS;
e. menetapakan dan melaksanakan kebijakan mengenai Amdal dan UKL-UPL;
f. menyelenggarakan inventarisasi SDA nasional dan emisi gas rumah kaca;
g. mengembangkan standar kerja sama;
h. mengoordinasikan dan melaksanakan pengendalian pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan hidup;
i. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai SDA hayati dan non
hayati, keanekaragaman hayati, sumber daya genetik, dan keamanan hayati
produk rekayasa genetik;
j. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai pengendalian dampak
perubahan iklim dan perlindungan lapisan ozon;

12

Muhammad Akib. Hukum Lingkungan Prespektif Gobal dan Nasional. Jakarta; PT RajaGrafindo
Persada, 2014. hlm: 93.

17

k. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai B3, limbah, serta limbah
B3;
l. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai perlindungan lingkungan
laut;
m. menetapkan dan meleksanakan kebijakan mengenai pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan hidup lintas batas Negara;
n. melakukan pembinaan dan pengawasan ketaatan penanggung jawab usaha
dan/atau kegiatan terhadap ketentuan perizinan lingkungan dan peraturan
perundang-undangan;
o. melakukan pembinaan dan pengawasan ketaatan penanggung jawab usaha
dan/atau kegiatan terhadap ketentuan perizinan lingkungan dan peraturan
perundang-undangan;
p. mengembangkan dan menerapkan instrument lingkungan hidup;
q. mengoordinasikan dan memfasilitasi kerja sama dan penyelesaian perselisihan
antara daerah serta penyelesaian sengketa;
r. mengembangkan dan melaksanakan kebijakan pengelolaan pengaduan
masyarakat;
s. menetapkan standar pelayanan minimal;
t. menetapkan kebijakan mengenai tata cara pengakuan keberadaan masyarakat
hukum adat, kearifan lokal, dan hak masyarakat hukum adat yang terkait
dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup;
u. mengelola informasi lingkungan hidup nasional;
v. mengoordinasikan, mengembangkan, dan menyosialisasikan pemanfaatan
teknologi ramah lingkungan hidup;

18

w. memberikan pendidikan, pelatihan, pembinaan dan penghargaan;
x. mengembangkan sarana dan standar laboratorium lingkungan hidup;
y. menertibkan izin lingkungan;
z. menetapkan wilayah ekoregion; dan
aa.melakukan penegakan hukum lingkungan hidup.

Tugas dan wewenang pemerintah provinsi dalam perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup menurut Pasal 63 ayat (2) UUPPLH-2009 meliputi:
a. menetapkan kebijakan tingkat provinsi;
b. menetapkan dan melaksanakan KLHS tingkat provinsi;
c. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai RPPLH provinsi;
d. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai Amdal dan UKL-UPL;
e. menyelenggarakan inventarisasi SDA dan emisi gas rumah kaca pada tingkat
provinsi;
f. mengembangkan dan melaksanakan kerjasama dan kemitraan;
g. mengoordinasikan dan melaksanakan pengendalian pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan hidup lintas kabupaten/kota;
h. melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan,
peraturan daerah, dan peraturan kepala daerah kabupaten/kota;
i. melakukan pembinaan dan pengawasan ketaatan penanggung jawab usaha
dan/atau kegiatan terhadap ketentuan perizininan lingkungan dan peraturan
perundang-undangan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup;
j. mengembangkan dan menerapkan instrument lingkungan hidup;

19

k. mengoordinasikan dan memfasilitasi kerja sama dan penyelesaiian perselisihan
antarakabupaten/anatarkota secara penyelesaian sengketa;
l. melakukan pembinaan, bantuan teknis, dan pengawasan kepada kabupaten/kota
di bidang program dan kegiatan;
m. melaksanakan standar pelayanan minimal;
n. menetapkan kebijakan mengenai tata cara pengakuan keberadaan masyarakat
hukum adat, kearifan lokal, dan hak masyarakat hukum adat yang terkait
dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup pada tingkat provinsi;
o. mengelola informasi lingkungan hidup tingkat provinsi;
p. mengembangkan dan menyosialisasikan pemanfaatan teknologi ramah
lingkungan hidup;
q. memberikan pendidikan, pelatihan, pembinaan dan penghargaan;
r. menertibkan izin lingkungan pada tingkat provinsi; dan
s. melakukan penegakan hukum lingkungan hidup pada tingkat provinsi.

Selanjutnya tugas dan wewenang pemerintah kabupaten/kota dalam perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup menurut Pasal 63 ayat (3) UUPPLH-2009
meliputi:
a. menetapkan kebijakan tingkat kabupaten/kota;
b. menetapkan dan melaksanakan KLHS tingkat kabupaten/kota;
c. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai RPPLH kabupaten/kota;
d. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai Amdal dan UKL-UPL;
e. menyelenggarakan inventarisasi SDA dan emisi gas rumah kaca pada tingkat
kabupaten/kota;
f. mengembangkan dan melaksanakan kerjasama dan kemitraan;

20

g. mengembangkan dan menetapkan instrument lingkungan hidup;
h. memfasilitasi penyelesaian sengketa;
i. melakukan pembinaan dan pengawasan ketaatan penanggung jawab usaha
dan/atau kegiatan terhadap ketentuan perizininan lingkungan dan peraturan
perundang-undangan;
j. melaksanakan standar pelayanan minimal;
k. melaksanakan kebijakan mengenai tata cara pengakuan keberadaan masyarakat
hukum adat, kearifan lokal, dan hak masyarakat hukum adat yang terkait
dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup pada tingkat
kabupaten/kota;
l. mengelola informasi lingkungan hidup tingkat kabupaten/kota;
m. mengembangkan dan melaksanakan kebijakan sistem informasi lingkungan
hidup pada tingkat kabupaten/kota;
n. memberikan pendidikan, pelatihan, pembinaan dan penghargaan;
o. menertibkan izin lingkungan pada tingkat kabupaten/kota; dan
p. melakukan penegakan hukum lingkungan hidup pada tingkat kabupaten/kota.

Secara teoritik, pembagian tugas dan wewenang tersebut sebenarnya menganut
pola ultraviresdoctrine, yaitu pembagian secara rinci13. Hal ini sama dengan pola
yang digunakan dalam UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan PP
No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah,
Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/kota.

13

Lihat Muhamad Akib, “Politik Hukum Lingkungan Hidup Dalam Prespektif Otonomi Daerah
Menuju Pengaturan Hukum Yang Berorientasi Keberlanjutan Ekologi”, Desertasi, (Semarang:
Program Doktor Ilmu Hukum Undip, 2011), hlm. 341-342.

21

UUPPLH-2009 telah mengatur pembagian wewenang pengawasan antara menteri
Lingkungan Hidup dengan Gubernur dan Bupati/Walikota. Dalam undang-undang
ini ditegaskan bahwa menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya wajib melakukan pengawasan terhadap ketaatan penanggung
jawab usaha dan/atau kegiatan atas ketentuan perlindungan dan pengelolalaan
lingkungan serta ketaatan terhadap izin lingkungan.

Kententuan mengenai pengawasan lingkungan ini ditegaskan dalam pasal 71
UUPPLH-2009. Pasal 71 UUPPLH-2009 ayat :
1) Pemerintah melalui menteri, gubernur, bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya wajib melakukan pengawasan terhadap ketaatan penanggung
jawab usaha dan/atau kegiatan atas ketentuan yang ditetapkan dalamperaturan
perundang-undangan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup.
2) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota dapat mendelegasikan kewenangannya
dalam melakukan pengawasan kepada pejabat/instansi teknis yang bertanggung
jawab di bidang perlindungan danpengelolaan lingkungan hidup.
3) Dalam melaksanakan pengawasan, Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
menetapkan pejabatpengawas lingkungan hidup yang merupakan pejabat
fungsional.

Kemudian di dalam Peraturan Daerah Kabupaten Tulang Bawang No 12 Tahun
2004 tentang Pengendalian Pencemaran Air dan Pajak Pembangunan Limbah cair
Ke Media Lingkungan, Pasal 5 dalam rangka pengawasan dan pengendalian

22

pencemaran air, Dinas Pengendalian Lingkungan Pertambangan dan Energi
mempunyai fungsi membantu bupati dalam hal:
a. penyusunan daftar kriteria bakun mutu air, baku mutu limbah cair, dan
pengelolaan air sesuai dengan peruntukannya;
b. penilaian terhadap kinerja instansi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) dari
masing-masing industri dalam memenuhi baku mutu limbah cair, sebagai salah
satu syarat untuk mendapatkan izin;
c. menampung laporan pengaduan dan keberatan dari masyarakat terhadap
peristiwa terjadinya pencemaran air;
d. penyusunan rencana penanggulangan terhadap terjadinya pencemaran air.

Dengan demikian pengawasan merupakan wewenang yang diberikan kepada
gubernur, bupati/walikota. Dalam pengawasannya dapat didelegasikan kepada
pejabat atau instansi teknis yang bertanggungjawab dibidang lingkungan hidup
(BPLHD). Dari sisi hukum administrasi, pengawasaan merupakan tugas utama
dari pejabat yang berwenang. Pejabat yang berwenang member izin bertanggung
jawab dalam melakukan pengawasan terhadap izin yang diberikan.

2.3 Kelembagaan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Daerah

Pada tahun 1980-an hingga 1994-an, kelembagaan lingkungan di daerah berada
pada Sekertariat Daerah. Sejak berlakunya Kepres No. 77 Tahun 1994 tentang
Badan Pengendalian Dampak Lingkungan, di daerah “dapat” dibentuk Bapedal
Daerah. Pembentukan Bapedal Daerah baru diwajibkan sejak berlakunya Instruksi
Menteri Dalam Negeri No.11 Tahun 1997. Dengan dibentuknya Bapedal daerah

23

maka tugas, fungsi, dan aparatur Biro Bina Lingkungan Hidup pada Sekretariat
Daerah Kabupaten/Kota diintegrasikan ke dalam Bapedal Daerah.14

Pada tahun 1999 untuk merespons tuntutan daerah agar diwujudkannya
desentralilasi yang nyata dan luas pemerintah telah mengundangkan UndangUndang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Oleh sebab itu,
Perlu diuraikan bagaimana pola kewenangan pengelolaan lingkungan hidup diera
setelah keluarnya Undang-Undang nomor 22 Tahun 1999 kemudian dicabut
dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2003 yang merupakan dasar hukum
motonomi pada masa sekarang. Dengan dikeluarkannya PP No. 8 Tahun 2003
tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah, ini mengatur jumlah kelembagaan
di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Untuk tingkat provinsi jumlah dinas
maksimal adalah 10 (sepuluh) kecuali DKI Jakarat 14 (empat belas). Untuk
tingkat kabupaten/kota jumlah dinas maksimal 8 (delapan).

Selain dinas, di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota terdapat lembaga teknisi.
Untuk tingkat provinsi, lembaga teknisi menjalankan “tugas tertentu” yang
meliputi bidang penelitian dan pengembangan, perencanaan, pengawasan,
pendidikan

dan

pelatihan,

perpustakaan,

kearsipan

dan

dokumentasi,

kependudukan dan pelayanan kesehatan. Lembaga teknis ini dapat berbentuk
Badan, Kantor, dan Rumah Skit untuk tingkat kabupaten/kota, lembaga teknis
melaksanakan “tugas tertentu” yang meliputi bidang penelitian dan pelatihan,

14

Muhammad Akib, Hukum Lingkungan Perspektif Global dan Nasional, Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 2014, hlm 102.

24

perpustakaan, kearsipan dan dokumentasi, kependudukan dan pelayanan
kesehatan. Lembaga teknis ini dapat berbentuk Badan, Kantor dan Rumah Sakit.15

Bentuk dan nama kelembagaan lingkungan sangat beragam. Ada yang bernama
Bapedal Daerah, Badan atau Kantor Pengelolaan Lingkungan Daerah, bahkan ada
yang berbentuk Dinas dengan nama Dinas Lingkungan Hidup. Dengan berlakunya
PP No. 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah dan Surat Edaran
Bersama Menteri Dalam Negeridan MENLH No. 061/163/SJ/2008 dan SE01/MENLH/2008, maka kelembagaan lingkungan daerah berbentuk Badan atau
Kantor. Meskipun demikian, maka kelembagaan lingkungan tetap masih beragam.
Di Provinsi Lampung misalnya, bernama “Badan Pengelolaan dan Pengendalian
Lingkungan”, di kabupaten Tanggamus bernama “ Badan Pengelolaan
Lingkungan Hidup dan Kebersihan”, di Kabupaten Lampung Timur bernama
“Badan Lingkungan Hidup”, dan di Kabupaten Tulang Bawang bernama “Badan
Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD)”.16

Berdasarkan Keputusan Kepala Bapedal No. 25 Tahun 2001 tentang “Organisasi
dan Tata Kerja Badan Pengendalian Dampak Lingkungan” mengenai kedudukan
tugas, fungsi dan kewenangan diatur dalam Pasal 1 samapai dengan Pasal 4.
Kedudukan Bapedal menurut Pasal 1 Keputusan Kepala Bapedal No. 25 Tahun
2001 meliputi:

15

Takdir Rahmadi, Hukum Lingkungan Di Indonesia, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.. 2012.
hlm. 84.
16
Muhamad Akib, Politik Hukum...., Op., Cit., hlm 426.

25

1) Badan pengendalian dampak lingkungan, selanjutnya dalam keputusan ini
disebut Bapedal, adalah lembaga Pemerintah Non Departement yang berada di
bawah dan bertanggung jawa

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

69 1648 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 427 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

27 387 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

8 239 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 349 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 495 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 441 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 281 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

13 449 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 520 23