Status Perjanjian Internasional Dalam Kaitannya Dengan Kerjasama Sister City (Kota Bersaudara) yang Dibuat oleh Pemerintah Kota Medan dan Pemerintah Kota Ichikawa

(1)

STATUS PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM

KAITANNYA DENGAN KERJASAMA

SISTER CITY

(KOTA

BERSAUDARA) YANG DIBUAT OLEH PEMERINTAH KOTA

MEDAN DAN PEMERINTAH KOTA ICHIKAWA

S K R I P S I

Diajukan dalam Rangka Memenuhi dan Melengkapi Syarat-syarat

Untuk Mencapai Gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

Oleh :

KATHY CARISSA BANGUN 110200056

Departemen Hukum Internasional

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN


(2)

STATUS PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM

KAITANNYA DENGAN KERJASAMA

SISTER CITY

(KOTA

BERSAUDARA) YANG DIBUAT OLEH PEMERINTAH KOTA

MEDAN DAN PEMERINTAH KOTA ICHIKAWA

S K R I P S I

Diajukan dalam Rangka Memenuhi dan Melengkapi Syarat-Syarat untuk

Mencapai Gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

Oleh :

KATHY CARISSA BANGUN 110200056

Departemen Hukum Internasional

Diketahui/Disetujui oleh : Ketua Departemen Hukum Internasional

(Dr. Chairul Bariah, SH., M.Hum) NIP. 195612101986012001

Pembimbing I Pembimbing II

(Dr. Chairul Bariah, SH., M.Hum.) (Arif, S.H., M.H) NIP. 19562101986012001 NIP. 1964033019931002

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN


(3)

ABSTRAKSI

Kathy Carissa Bangun*) Dr. Chairul Bariah, S.H., M.Hum.**)

Arif, S.H., M.H. ***)

Melihat semakin maju dan berkembangnya kota-kota yang ada di seluruh negara di dunia, membuat Indonesia semakin terpacu pula dalam merintis “Kota Idaman” di setiap daerah di Indonesia. Hal ini pulalah yang menjadi pemacu untuk diadakannya kerjasama antar kota di Indonesia bahkan dengan kota-kota yang ada di luar Indonesia. Dengan hal ini, Indonesia akan menjadi lebih berkembang dan dapat turut serta memberi andil dalam pembangunan nasional ke arah globalisme yang diidam-idamkan.

Sister City bukanlah hal baru dalam hubungan bilateral antar negara di dunia. Sudah banyak bentuk-bentuk kerjasama Sister City yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah di Indonesia dengan kota-kota yang tersebar di seluruh dunia. Tidak terkecuali Kota Medan sendiri, yang dalam hal ini melakukan kerjasama dengan Kota Ichikawa di Jepang sejak tahun 1989. Selain menjelaskan mengenai apa itu Sister City secara mendalam, turut dijelaskan pula mengenai bagaimana bentuk perjanjian internasional yang dilakukan antara Pemerintah Kota Medan dan Pemerintah Kota Ichikawa Jepang.

Dalam proses penulisan ini, ada berbagai cara yang Penulis lakukan. Selain melakukan tinjauan langsung ke Kantor Walikota Medan, juga tinjauan kepustakaan mengenai Sister City serta kaitannya dengan Hukum Perjanjian Internasional guna mendapatkan data-data yang diperlukan untuk mendukung proses pembuatan skripsi ini.

Kesimpulannya adalah, Sister City merupakan salah satu cara terbaik dalam pelaksanaan kerjasama antar kota di seluruh dunia demi mencapai suatu target globalisasi yang baik. Dan juga dapat memberikan suatu pembelajaran bagi Pemerintah Indonesia dalam hal-hal yang mengacu pada pembangunan nasional. Saran dari penulis, kerjasama yang baik haruslah didasari dengan hal dan tujuan yang baik pula. Diharapkan setiap kerjasama yang terjalin antar Pemerintah Kota Medan dan Kota Ichikawa, Jepang, benar-benar merupakan suatu kerjasama yang bisa memberikan dampak positif bagi Indonesia dan Jepang pada umumnya dan khususnya untuk kedua kota tersebut.

Kata kunci : Perjanjian Internasional, Pemerintah Daerah, Sister City

*

Mahasiswa Fakultas Hukum USU 2011

**

Dosen Pembimbing I

***


(4)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim,

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada hadirat Allah SWT yang mana atas rahmat dan karunia-Nya yang telah memberikan kesehatan dan kesempatan kepada penulis untuk dapat mengerjakan dan menyelesaikan skripsi ini sehingga dapat menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU). Juga tidak lupa shalawat beriringan salam penulis hadiahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW yang selalu menjadi suri tauladan dan yang syafa’atnya selalu diharapkan seluruh umatnya.

Pada skripsi ini, penulis mengangkat judul mengenai “Status Perjanjian Internasional dalam Kaitannya dengan Kerjasama Sister City (Kota Bersaudara) yang Dibuat oleh Pemerintah Kota Medan dan Pemerintah Kota Ichikawa”. Dimana skripsi ini ditulis sebagai salah satu syarat akademis untuk menyelesaikan program studi sarjana hukum di Fakultas Hukum USU. Judul ini diangkat karena ketertarikan penulis mengenai Status Perjanjian Sister City (Kota Bersaudara) sebagai salah satu bagian dari pariwisata yang mempunyai hubungan antara pemerintah Indonesia dan pemerintah di luar Indonesia.

Dalam penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan serta dukungan dari berbagai pihak, dan dalam kesempatan ini izinkan penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :


(5)

1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, beserta seluruh jajaran pimpinan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Dr. Chairul Bariah, S.H., M.Hum., selaku Ketua Departemen Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang juga merupakan Dosen Pembimbing I yang sangat berjasa dan sudah banyak membantu baik itu dalam perkuliahan maupun dalam proses penyelesaian skripsi ini.

3. Bapak Arif, S.H., M.H., selaku Dosen Pembimbing II yang telah banyak berjasa dalam membantu Penulis menyelesaikan masa perkuliahan dengan meluangkan waktu, tenaga serta pikiran demi terselesaikannya penulisan skripsi serta memberi nasihat-nasihat dan jalan keluar selama proses perkuliahan Penulis dari kampus tercinta.

4. Seluruh dosen Departemen Hukum Internasional, Bapak Dr. Sutiarnoto, S.H., M.Hum. (Makasih Pak, atas segala ilmu, nasihat dan jalan keluar yang selalu bapak berikan), Bapak Deni Amsari Purba, S.H., L.LM. (Best lecturer I ever ha d. All I ca n sa y just tha nkyou so much, Sir!) dan kepada Bapak Dr. Jelly Leviza S.H., M.Hum. (Terimakasih, Pak!)

5. Seluruh dosen pengajar serta pegawai administrasi di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan dan telah membantu Penulis selama menjalani perkuliahan.

6. Terkhusus dan teristimewa untuk kedua orangtua tercinta, ayahanda Nelson Bangun dan ibunda Susanti yang telah membesarkan, merawat dengan penuh


(6)

cinta dan kasih sayang yang takkan bisa tergantikan. Terimakasih Ma, Pa untuk perhatian, dukungan, nasihat serta doa yang tak pernah putus sehingga mengantarkan penulis seperti sekarang ini. I love both of you with all my hea rt, Ma , Pa .. Buat adik-adikku tersayang, Nefertari Ferina Bangun, Trisha Dianita Bangun dan Rindy Artika Bangun, terimakasih untuk semangat dan doa kalian selama ini. (Kalian harus lebih dari kakak. Harus!) I love you all more tha n you know, for sure..

7. Special untuk seseorang yang selalu ada di sisi Penulis, motivator bagi Penulis, sosok yang selalu ada untuk mendengarkan keluh kesah Penulis, yang selalu memberi dukungan serta semangat dan selalu membuat Penulis jatuh hati, Syaid Mustafa Siregar (Thankyou for all the things you’ve done for me, Dut!)

8. Untuk Qintari Ayu Aninditha, “Psikolog Pribadi” yang selalu menemani dan setia mendengarkan curhatan Penulis sejak bangku sekolah dan teruntuk Mila Lailyana, “Penasihat Pribadi” yang selalu mengalah dalam perdebatan segala keadaan dan selalu ada dalam suka maupun duka (Akhirnya tamat juga kita, Tek! :’] Hahaha…)

9. Kepada sahabat-sahabat Penulis semasa kuliah yang tergabung dalam “Manman” Syahnaz Miyagi Munira (AgikPatsar), Nur Aqmarina (Nanahe), Cyndi Fransisca Ulina Hutagalung (Cibol), Calvin Benyamin Panjaitan (id line : Calvinpanjaitan), Fikri Rizki (PikiBo), Abdurrahman Harits’ Ketaren (Botak), Merico Sitorus (Idong), Michael Benhard Marhain Sipayung (Mek’), M. Fawzan Akmal Zaldy (Bletong) dan sahabat-sahabat Penulis semasa


(7)

sekolah yang tergabung dalam “Pocin” Ade Liany Putri, Hafiz Nurdiansyah, Posma Renato Simanjuntak, T. Omar Azfar Haqqani, Ary Okrizal Mazid, Abdul Hamid Amir Lubis, Abdul Razaak Harahap, Fahmi Alfiando, M. Agusto Safardin Pane, dan banyak lagi teman-teman luar biasa di luar sana yang tidak bisa Penulis sebutkan satu per satu.

10.Kepada keluarga besar ILSA (International La w Student Association) 2011 Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang sangat luar biasa memberikan kesan, especially untuk “Alumni Beijing” dan kepanitiaannya (Gonna miss you, guys!!)

11.Dan juga kepada teman-teman Penulis lainnya yang berada di dalam maupun di luar wilayah Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Akhir kata, dengan segala kerendahan hati Penulis menyadari bahwa penulisan ini masih jauh dari sempurna. Akan tetapi Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat dan berguna bagi setiap orang yang membacanya.

Medan, Februari 2015 Penulis,


(8)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAKSI ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... vi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ... 7

D. Keaslian Penulisan ... 8

E. Tinjauan Kepustakaan ... 10

F. Metode Penulisan ... 16

G. Sistematika Penulisan ... 18

BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM HUKUM INTERNASIONAL DAN HUKUM NASIONAL A. Perjanjian Internasional dan Hukum Internasional ... 20

B. Perjanjian Internasional dan Hukum Nasional ... 30

C. Hubungan antara Hukum Internasional dan Hukum Nasional .... 36

BAB III LATAR BELAKANG PERJANJIAN KERJASAMA SISTER CITY (KOTA BERSAUDARA) A. Pengertian Sister City (Kota Bersaudara) ... 39

B. Perkembangan Sister City (Kota Bersaudara) di Indonesia ... 44

C. Hubungan Kerjasama Sister City (Kota Bersaudara) antara Pemerintah Kota Medan dan Pemerintah Kota Ichikawa ... 52


(9)

BAB IV STATUS HUKUM PERJANJIAN INTERNASIONAL SISTER CITY (KOTA BERSAUDARA) YANG DIBUAT OLEH PEMERINTAH KOTA MEDAN DAN PEMERINTAH KOTA ICHIKAWA

A. Bentuk-bentuk Kerjasama antar Pemerintah Daerah yang Berbeda Negara ... 59 B. Mekanisme Pembuatan Perjanjian Internasional oleh Pemerintah

Daerah ... 66 C. Status Hukum Perjanjian Internasional Sister City (Kota

Bersaudara) yang Dibuat oleh Pemerintah Kota Medan dan Pemerintah Kota Ichikawa ... 77 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan ... 80 B. Saran ... 82 DAFTAR PUSTAKA ... 84


(10)

ABSTRAKSI

Kathy Carissa Bangun*) Dr. Chairul Bariah, S.H., M.Hum.**)

Arif, S.H., M.H. ***)

Melihat semakin maju dan berkembangnya kota-kota yang ada di seluruh negara di dunia, membuat Indonesia semakin terpacu pula dalam merintis “Kota Idaman” di setiap daerah di Indonesia. Hal ini pulalah yang menjadi pemacu untuk diadakannya kerjasama antar kota di Indonesia bahkan dengan kota-kota yang ada di luar Indonesia. Dengan hal ini, Indonesia akan menjadi lebih berkembang dan dapat turut serta memberi andil dalam pembangunan nasional ke arah globalisme yang diidam-idamkan.

Sister City bukanlah hal baru dalam hubungan bilateral antar negara di dunia. Sudah banyak bentuk-bentuk kerjasama Sister City yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah di Indonesia dengan kota-kota yang tersebar di seluruh dunia. Tidak terkecuali Kota Medan sendiri, yang dalam hal ini melakukan kerjasama dengan Kota Ichikawa di Jepang sejak tahun 1989. Selain menjelaskan mengenai apa itu Sister City secara mendalam, turut dijelaskan pula mengenai bagaimana bentuk perjanjian internasional yang dilakukan antara Pemerintah Kota Medan dan Pemerintah Kota Ichikawa Jepang.

Dalam proses penulisan ini, ada berbagai cara yang Penulis lakukan. Selain melakukan tinjauan langsung ke Kantor Walikota Medan, juga tinjauan kepustakaan mengenai Sister City serta kaitannya dengan Hukum Perjanjian Internasional guna mendapatkan data-data yang diperlukan untuk mendukung proses pembuatan skripsi ini.

Kesimpulannya adalah, Sister City merupakan salah satu cara terbaik dalam pelaksanaan kerjasama antar kota di seluruh dunia demi mencapai suatu target globalisasi yang baik. Dan juga dapat memberikan suatu pembelajaran bagi Pemerintah Indonesia dalam hal-hal yang mengacu pada pembangunan nasional. Saran dari penulis, kerjasama yang baik haruslah didasari dengan hal dan tujuan yang baik pula. Diharapkan setiap kerjasama yang terjalin antar Pemerintah Kota Medan dan Kota Ichikawa, Jepang, benar-benar merupakan suatu kerjasama yang bisa memberikan dampak positif bagi Indonesia dan Jepang pada umumnya dan khususnya untuk kedua kota tersebut.

Kata kunci : Perjanjian Internasional, Pemerintah Daerah, Sister City

*

Mahasiswa Fakultas Hukum USU 2011

**

Dosen Pembimbing I

***


(11)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hubungan internasional merupakan suatu sistem hubungan antar negara yang berdaulat dalam pergaulan internasional yang menjadikan kegiatan diplomasi sebagai suatu elemen utama bagi suatu negara sebagai faktor penentu eksistensi sebuah negara dalam hubungan internasional. Diplomasi merupakan proses politik untuk memelihara kebijakan luar negeri suatu pemerintah dalam mempengaruhi kebijakan dan sikap pemerintah negara lain.1 Diplomasi kekinian juga tidak hanya menyangkut kegiatan politik saja tapi juga menjadi suatu senjata multi-dimensional yang digunakan dalam situasi dan lingkungan apapun dalam hubungan antar bangsa.2 Sehingga dapat dikatakan, hubungan internasional saat ini ditandai oleh aktivitas-aktivitas diplomasi yang sangat kompleks.

Dalam era globalisasi3 ini, interaksi dan intensitas hubungan antar negara menjadi semakin meningkat yang antara lain ditandai dengan dicapainya berbagai kesepakatan kerjasama baik yang bersifat regional, bilateral dan multirateral. Berbagai kesepakatan tersebut lazimnya dituangkan dalam bentuk perjanjian internasional yang meliputi berbagai bidang, baik itu politik, ekonomi,

1

Sumaryo Suryokusumo, Praktik Diplomasi, STIH IBLAM : Jakarta, 2004, hlm.1.

2

Ibid., hlm. 3.

3

Globalisasi secara literal dapat dipahami sebagai suatu proses fenomena lokal atau regional menjadi satu tataran global. Sheila L Croucher menulis pemahaman globalisasi dalam Globalization and Belonging : The Politics of Identity a Charging World, Rowman & Littlefield (2004), Pages 10, sebagai “a process of blending norm homogenization by which the people of the world are unified into a single society and function together. This process is a combination a economic, technological, sociocultural and political forces”.


(12)

perdagangan, hukum, pertahanan, sosial budaya dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, perjanjian internasional sebagai suatu dokumen hukum telah menjadi bagian dari keseharian kegiatan bangsa dan negara Indonesia. Sebagai catatan, berdasarkan data yang ada pada Treaty Room Kementerian Luar Negeri, saat ini tercatat sekitar 3596 (tiga ribu lima ratus sembilan puluh enam) perjanjian internasional antara Indonesia dengan negara lain termasuk dengan subjek hukum internasional lainnya.4

Meskipun demikian, disadari bahwa sekalipun Indonesia telah menjadi pihak dalam ribuan perjanjian internasional dan telah memiliki seperangkat perundang-undangan nasional yang mengatur atau merujuk pada dokumen perjanjian internasional, Indonesia masih belum memiliki politik dan sistem hukum nasioanl yang jelas tentang perjanjian internasional. Dalam kaitan ini, terdapat tiga permasalahan yang menjadi faktor utama yaitu pertama, adalah tentang pengertian atau definisi perjanjian internasional dalam perspektif hukum nasional yang masih belum baku. Kedua, adalah tentang status perjanjian internasional dalam hukum nasional. Ketiga adalah tentang konsep ratifikasi/pengesahan yang berkembang dan yang dikenal dalam hukum nasional.5

Masalah definisi perjanjian internasional dalam teori dan praktiknya menimbulkan ketidakseragaman konsepsional. Parameter untuk menentukan apakah suatu dokumen adalah perjanjian internasional sering luput dari perhatian sehingga acapkali menimbulkan kerancuan baik di kalangan akademisi maupun praktisi. Pandangan umum mengenai perjanjian internasional adalah seluruh

4

Eddy Pratomo, Hukum Per janjian Internasional (Pengertia n, Status Hukum dan Ratifikasi), PT. Alumni, Bandung, 2011, hlm. 1.


(13)

perjanjian yang bersifat lintas negara baik yang bersifat perjanjian publik maupun perjanjian perdata antar negara maupun antar perusahaan multinasional. Black’s La w Dictiona ry mendefinisikan kontrak sebagai6 “An a greement between two or more pa rties crea ting obliga tions tha t a re enforcable or otherwise recogniza ble a t la w.7 Sehingga definisi ini cukup mengarahkan opini bahwa perjanjian internasional adalah identik dengan kontrak.

Globalisasi menjadi alasan dan faktor utama bagi berbagai negara di dunia untuk saling bekerja sama. Hal ini didasarkan pada saling bergantung dan saling membutuhkannya tiap-tiap negara terhadap negara lain, baik itu dalam hal sumber daya alam, energi, informasi, teknologi maupun perdagangan. Hal ini kemudian lambat laun membawa globalisasi semacam yang dinamakan dengan penyatuan, yang semakin dekat antara negara-negara dan masyarakat-masyarakat di dunia yang disebabkan oleh pengurangan biaya transportasi dan komunikasi yang begitu besar, dan dapat meruntuhkan berbagai penghalang artifisial bagi arus barang, jasa, modal, pengetahuan dan (dalam jumlah yang sedikit) orang-orang di perbatasan.8

Proses globalisasi dan liberalisasi ekonomi yang sedang berlangsung dewasa ini telah mendorong peningkatan intensitas komunikasi dan interaksi antar

6

Bryan A. Garner (Editor). Black’s Law Dictionary Second Pocket Edition. West Group, 2011, hlm. 139.

7

Kontrak secara umum dapat juga diartikan sebagai : an agreement which binds the parties concerned. In other words, a contract is an agreement which is enforceable by law. To have an agreement, there must be an offer and an acceptance of that offer. Baca : Catherine Tay Swee Kian-Tang See Chim, Time Business : Contract Law, a laymans’s guide, Times Books International, Singapore-Kuala Lumpur, 2001, hlm. 19.

8

Stiglitz Joseph, 2003, Globalisasi dan Kegagalan Lembaga -lembaga Keuangan Internasional, PT. Ina Publikatama, Jakarta, hlm. 12. Dikutip oleh Jemmy Rumengan, “Perspektif Hukum dan Ekonomi atas Kerjasama Luar Negeri oleh Pemerintah Daerah”, Jurnal Hukum Internasional, Vol 6, No. 2, 2009, hlm. 237.


(14)

bangsa, termasuk antar kota/daerah dan masyarakat di negara yang berbeda. Dalam hal ini hubungan persahabatan dan saling pengertian antar bangsa-bangsa semakin dirasakan dalam mendukung kepentingan nasional. Keadaan tersebut sudah pasti memberi peluang yang baru dan luas kepada negara-negara yang mempunyai keunggulan komparatif dan kompetitif.9

Melihat semakin meluasnya peran yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada daerah untuk mendukung otonomi daerah, ini menjadikan daerah-daerah di Indonesia berlomba-lomba untuk menjalin kerjasama antar kota di seluruh dunia. Undang-undang otonomi daerah merupakan dasar hukum pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia atau dapat juga disebut payung hukum pelaksanaannya terhadap seluruh peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai pelaksanaan otonomi daerah di bawah undang-undang otonomi daerah seperti, Peraturan Pemerintah, Peraturan Daerah, Peraturan Bupati dan seterusnya.

Undang-undang otonomi daerah itu sendiri merupakan implementasi dari ketentuan yang tercantum dalam Undang-undang Dasar 1945 (UUD 1945) yang menyebutkan otonomi daerah sebagai bagian dari sistem tata negara Indonesia dan pelaksanaan pemerintahan di Indonesia. Ketentuan mengenai pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia tercantum dalam Pasal 18 ayat (2) Undang-undang Dasar 1945 yang menyebutkan bahwa :

“Pemerintahan da erah provinsi, daera h kabupa ten da n kota menga tur da n mengurus sendiri urusan pemerinta han menurut a sa s otonomi da n tuga s pemba ntua n.

9Damos Dumoli Agusman, Makalah “Kerjasama Sister City/Sister Province”

(Direktorat Perjanjian Ekonomi dan Sosial Budaya, Ditjen Hukum dan Perjanjian Internasional, Deplu, 2006).


(15)

Selanjutnya, Undang-undang Dasar 1945 memerintahkan pembentukan Undang-undang Otonomi Daerah untuk mengatur mengenai susunan dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerah, sebagaimana disebutkan dalam Undang-undang Dasar 1945 Pasal 18 ayat (7), bahwa “Susunan da n ta ta ca ra penyelengga ra an pemerinta ha n da era h dia tur da la m unda ng-unda ng.

Ketentuan tersebut di atas menjadi payung hukum bagi pembentukan undang otonomi daerah di Indonesia, sementara undang-undang otonomi daerah menjadi dasar bagi pembentukan peraturan lain yang tingkatannya berada di bawah undang-undang menurut hierarki atau tata urutan peraturan perundang-undangan di Indonesia.

Otonomi daerah di Indonesia dilaksanakan segera setelah gerakan reformasi 1998, tepatnya pada tahun 1999. Pada tahap awal pelaksanaannya, otonomi daerah di Indonesia mulai diberlakukan berdasarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Setelah diberlakukannya undang-undang ini, terjadi perubahan yang besar terhadap struktur dan tata laksana pemerintahan di daerah-daerah di Indonesia.10

Maka dari itu, Sister City merupakan implementasi dari perluasan hak yang diberikan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dalam mengurus sendiri urusan pemerintahannya dalam arti tetap mengacu pada undang-undang yang berlaku di Indonesia.

Kota Medan dan Kota Ichikawa di Jepang merupakan salah satu dari beberapa bentuk kerjasama yang dijalin pemerintah daerah di Indonesia dengan

10


(16)

kota-kota yang ada di luar negeri. Dalam konteks Perjanjian Internasional, kedua pihak harus membuat sesuatu yang dapat mengikat keduanya. Misalnya, adanya Memora ndum of Understa nding (MoU)11 yang dibuat kedua pihak dalam menjalin kerjasama antar kota atau Sister City.

Ada berbagai informasi dan hal-hal yang bisa dijadikan suatu pembelajaran bagi setiap orang untuk lebih memahami bagaimana cara melakukan kerjasama internasional. Dengan melakukan diplomasi internasional seperti apakah suatu kerjasama Sister City ini dapat terjalin dan bagaimana cara Pemerintah Daerah membuat kerjasama Sister City ini apakah sudah sesuai dengan proses dan mekanisme yang ada di Indonesia.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka penting untuk meneliti bentuk serta status perjanjian internasional yang dibuat dalam kerangka kerjasama Sister City (Kota Bersaudara) antara pemerintah daerah dari negara yang berbeda.

B. Rumusan Masalah

Berkenaan dengan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaturan tentang perjanjian internasional dalam hukum internasional dan dalam hukum nasional ?

2. Bagaimana kesepakatan kerjasama Sister City (Kota Bersaudara) yang dibuat oleh Pemerintah Kota Medan dengan Pemerintah Kota Ichikawa ?

11

Memorandum of Understanding atau MoU adalah sebuah dokumen legal yang menjelaskan persetujuan antara dua belah pihak. MoU tidak seformal sebuah kontrak.


(17)

3. Bagaimana status perjanjian internasional dalam kerjasama Sister City (Kota Bersaudara) yang dibuat oleh Pemerintah Kota Medan dan Pemerintah Kota Ichikawa ?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan 1. Tujuan Penulisan

Tujuan pembahasan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut :

a. Untuk mengetahui pengaturan tentang perjanjian internasional dalam hukum internasional dan dalam hukum nasional.

b. Untuk mengetahui kesepakatan kerjasama Sister City (Kota Bersaudara) yang dibuat oleh Pemerintah Kota Medan dengan Pemerintah Kota Ichikawa.

c. Untuk mengetahui status hukum perjanjian internasional dalam kerjasama Sister City (Kota Bersaudara) yang dibuat oleh Pemerintah Kota Medan dan Pemerintah Kota Ichikawa.

2. Manfaat Penulisan

Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang positif baik dari segi teoritis maupun dari segi prakteknya. Secara teoritis, pembahasan terhadap masalah-masalah yang telah dirumuskan dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran serta pandangan mengenai konsep hukum internasional mengenai hukum perjanjian internasional. Selain itu, penulisan ini juga dapat dijadikan sebagai langkah awal untuk pengembangan serta penulisan yang lebih lanjut.


(18)

Secara praktis, pembahasan terhadap masalah dalam penulisan ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi Pemerintah Republik Indonesia (RI) dalam memahami norma-norma serta aspek-aspek hukum internasional dan hukum nasional yang terkait dengan perjanjian internasional dalam kaitannya dengan hubungan kerjasama Sister City (Kota Bersaudara) oleh Pemerintah Kota Medan dan Pemerintah Kota Ichikawa.

D. Keaslian Penulisan

Berdasarkan penelusuran kepustakaan khususnya di lingkungan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan, belum ada penulisan sebelumnya dengan judul “Status Perjanjian Internasional dalam Kaitannya dengan Kerjasama Sister City (Kota Bersaudara) yang Dibuat oleh Pemerintah Kota Medan dan Pemerintah Kota Ichikawa”.

Namun pernah ada penulisan dari mahasiswa/i Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dengan judul :

1. Saudara Sondang br. Simanjuntak, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, NIM : 830711247, Judul “Azas Reservasi dalam Perjanjian Internasional Wujud Kedaulatan Suatu Negara”. Dalam rumusan masalah : a. Dapatkah Negara yang mengadakan persyaratan menjadi peserta konvensi

dan tetap mempertahankan persyaratan jika persyaratannya tersebut tidak disetujui oleh satu atau lebih peserta konvensi ?


(19)

c. Bagaimana Negara mengajukan persyaratan dan hubungannya dengan kedaulatan ?

2. Saudara Indra R. Muswar, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, NIM : 930200105, Judul “Ratifikasi Perjanjian Internasional menurut Sistem Hukum Indonesia”. Dalam rumusan masalah :

a. Bagaimana pelaksanaan ratifikasi dan sistem yang diberlakukan di Indonesia?

b. Bagaimana penyusunan perundang-undangan dari ratifikasi perjanjian internasional tersebut ?

c. Bagaimana tata cara dan ketentuan ratifikasi perjanjian internasional yang dapat dipedomani ?

d. Peraturan-peraturan apa saja yang diperlakukan pemerintah Indonesia dalam melaksanakan ratifikasi perjanjian Internasional terutama yang berhubungan dengan kepentingan nasional Indonesia ?

3. Saudara Imran Rinaldin, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, NIM : 950221019, Judul “Kedudukan Perjanjian Internasional dan Kebiasaan Internasional sebagai Sumber Hukum Internasional”. Dalam rumusan masalah :

a. Apa segi positif dan negatif apabila ketentuan-ketentuan perjanjian internasional diberlakukan terhadap pohak ketiga yang bukan peserta perjanjian tersebut ?

b. Bagaimana peranan hukum kebiasaan terhadap hukum perjanjian internasional yang diatur dalam Konvensi Wina tahun 1969 ?


(20)

c. Secara praktis, kebiasaan-kebiasaan internasional dapat diterima menjadi hukum kebiasaan. Bagaimana bila suatu negara menolak diberlakukannya hukum kebiasaan tersebut ?

Dalam permasalahan beberapa penulisan sebagaimana yang telah disebutkan di atas, ternyata judul dan permasalahannya tidak ada yang serupa atau sama dengan yang ditulis saat ini. Oleh karena itu, penulisan ini adalah asli dan secara akademis dapat saya pertanggungjawabkan.

E. Tinjauan Kepustakaan

Dalam tinjauan kepustakaan, dikemukakan beberapa pengertian dan batasan-batasan yang menjadi sorotan dalam membuat studi kepustakaan. Hal ini tentunya akan sangat berguna untuk membantu melihat ruang lingkup penulisan agar tetap berada di dalam koridor topik yang diangkat dalam permasalahan yang telah disebutkan di atas dan akan dijelaskan secara bertahap sehingga memudahkan pembaca untuk dapat lebih memahami apa-apa saja yang dituangkan dalam skripsi di bawah ini.

Pada bagian ini, Penulis menggunakan landasan teori yang dapat mendukung kerangka pemikiran penulis tentang teori dan praktik yang selama ini dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dari proses pembuatan hingga pengesahan sebuah perjanjian internasional, baik yang bersifat bilateral, regional dan multilateral. Pembukaan UUD 1945 (amandemen) alinea keempat menyatakan bahwa tujuan pembentukan Negara Kesatuan republik Indonesia (NKRI) adalah : (i) melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, (ii)


(21)

mewujudkan kesejahteraan umum, (iii) mencerdaskan kehidupan bangsa, dan (iv) ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian dan keadilan sosial.12

Pada saat yang sama, dalam pelaksanaan hubungan antar negara yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia haruslah didasarkan pada Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara dan sumber dari segala sumber hukum.13 Hukum Nasional adalah peraturan hukum yang berlaku di suatu negara yang terdiri atas prinsip-prinsip serta peraturan yang harus ditaati oleh masyarakat pada suatu negara. Hukum Nasional merupakan sebuah sistem hukum yang dibentuk dari proses penemuan, pengembangan, penyesuaian dari beberapa sistem hukum yang telah ada.

Hukum Nasional di Indonesia adalah hukum yang terdiri atas campuran dari sistem hukum agama, hukum Eropa, dan hukum adat. Hukum Agama, itu karena mayoritas masyarakat Indonesia memeluk agama Islam, maka syari’at Islam lebih mendominasi terutama pada bidang kekeluargaan, perkawinan dan warisan. Sistem Hukum Nasional yang diikuti sebagian besar berbasis pada hukum Eropa kontinental baik itu hukum perdata maupn hukum pidana. Hukum Eropa yang diikuti khususnya dari Belanda itu karena di masa lampau Indonesia merupakan negara jajahan Belanda. Sistem Hukum Adat juga merupakan bagian dari hukum nasional, karena di Indonesia masih kental dengan aturan-aturan adat setempat dari masyarakat serta budaya yang ada di wilayah Indonesia.14

12

Undang-undang Dasar 1945 (Amandemen keempat), Bagian Pembukaan.

13

Eddy Pratomo, Op.Cit., hlm. 23.

14

http://temukanpengertian.blogspot.com/2013/08/pengertian-hukum-nasional.html diunduh tanggal 19 Februari 2015.


(22)

Romli Atmasasmita menyebutkan bahwa prinsip kedaulatan negara (state sovereignity) merupakan prinsip umum hukum internasional yang bersifat internasional.15 Hubungan internasional sebagaimana tersebut di atas, diatur dalam tatanan yang disebut sebagai hukum internasional. Hukum internasional yang dimaksud disini adalah hukum internasional publik atau persoalan yang melintasi batas negara (hubungan internasional) yang bukan bersifat perdata.

Hukum Internasional publik berbeda dengan Hukum Perdata Internasional. Hukum Perdata Internasional ialah keseluruhan kaedah dan asas hukum yang mengatur hubungan perdata yang melintasi batas negara atau hukum yang mengatur hubungan hukum perdata antara para pelaku hukum yang masing-masing tunduk pada hukum perdata (nasional) yang berlainan. Sedangkan Hukum Internasional adalah keseluruhan kaidah dan asas hukum yang mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi batas negara (hubungan internasional) yang bukan bersifat perdata.

Persamaannya adalah bahwa keduanya mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi batas negara (internasional). Perbedaannya adalah sifat hukum atau persoalan yang diaturnya (obyeknya).

Hukum Internasional adalah sekumpulan hukum (body of law) yang sebagian besar terdiri dari asas-asas dan karena itu biasanya ditaati dalam hubungan negara-negara satu sama lain (sesuai dengan definisi yang diberikan

15

Prinsip state sovereignity memiliki 3 (tiga) pengertian, yaitu : Equality of States, Territorial Intergrity dan Non-intervention (Pasal 4 UN Convention Against Transnational Organized Crime, Pasal 4 UN Convention Against Corruption, Pasal 1 UN Charter, Pasal 2 (2) ASEAN Charter).


(23)

Prof. Charles Cheney Hyde dalam bukunya “International Law”).16 Hukum Internasional terdapat beberapa bentuk perwujudan atau pola perkembangan yang khusus berlaku di suatu bagian dunia (region) tertentu :

Hukum Internasional Regional

Hukum Internasional yang berlaku/terbatas daerah lingkungan berlakunya, seperti Hukum Internasional Amerika/Amerika Latin, seperti konsep landasan kontinen (Continental Shelf) dan konsep perlindungan kekayaan hayati laut (Conserva tion of The Living Resources of The Sea ) yang mula-mula tumbuh di Benua Amerika sehingga menjadi Hukum Internasional Umum.

Hukum Internasional Khusus

Hukum Internasional dalam bentuk kaedah yang khusus berlaku bagi negara-negara tertentu seperti Konvensi Eropa mengenai HAM sebagai cerminan keadaan, kebutuhan, taraf perkembangan dan tingkat integritas yang berbeda-beda dari bagian masyarakat yang berlainan. Berberbeda-beda dengan regional yang tumbuh melalui proses hukum kebiasaan.

Hukum Internasional merupakan keseluruhan kaedah dan asas yang mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi batas negara antara :

a. Negara dengan negara

b. Negara dengan subyek hukum lain bukan negara atau subyek hukum bukan negara satu sama lain.17

16

Drs. C. S. T. Kansil, S.H., Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), hlm. 461.

17


(24)

Dalam konteks kemampuan melakukan hubungan internasional, diperlukan kemampuan agent diplomatic Indonesia dakam proses negosiasi suatu draft konvensi. Kemampuan itu sendiri tidak dilahirkan melainkan dipelajari dan dilaksanakan secara benar. Treaty, adalah perjanjian antara dua negara atau lebih untuk mengikatkan diri ke dalam suatu kepentingan bersama mengenai suatu objek tertentu. Perjanjian Internasional adalah perjanjian, dalam bentuk dan nama tertentu, yang diatur dalam hukum internasional yang dibuat secara tertulis serta menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik.18

Cara mengikatkan diri ke dalam suatu perjanjian internasional di setiap negara berbeda-beda sesuai dengan sistem hukum yang dianut suatu negara baik itu civil la w system19 atau common law system20. Bagi Indonesia yang menganut sistem hukum civil la w, pemberlakuan perjanjian internasional ke dalam sistem hukum nasional masih memerlukan proses ratifikasi21 DPR. Hal ini sesuai dengan ketentuan dalam UUD 1945 tentang sahnya suatu perjanjian internasional dan merujuk kepada Undang-undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional.

Dalam hal melakukan perjanjian internasional oleh pemerintah daerah suatu negara haruslah pula sesuai dengan hukum nasional dari negara tersebut. Seperti Indonesia misalnya, hak ini diberikan kepada pemerintah daerahnya

18

Indonesia, Undang-undang tentang Perjanjian Internasional, Undang-undang Nomor 24 Tahun 2000, LN No. 185 Tahun 2000, TLN No. 4012., ps. 1 angka (1).

19

Civil Law diartikan sebagai the body of law imposed by the state, as opposed to moral law. Bryan A Garner (Editor), Black’s Law Dictionary Second Pocket Edition, Op. Cit., hlm. 101.

20Common Law

diartikan sebagai the body of law derived from judicial decisions, rather than from the statutes or constitutions. Ibid., hlm. 114.

21

Ratifikasi dapat dimaknai sebagai confirmation and acceptance of a previous act, thereby making the act valid from the moment it was done. Ibid., hlm. 582.


(25)

sebagai hak otonomi daerah untuk bisa memperluas jaringan serta mengembangkan daerahnya. Pengertian Pemerintahan Daerah disini adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantun dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945.22 Pemerintah daerah adalah Gubernur, Bupati atau Walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.23

Salah satu contoh yang dari bentuk perjanjian internasional yang dibuat oleh pemerintah daerah yang akan Penulis bahas disini yaitu Sister City (Kota Bersaudara). Pengertian Sister City adalah konsep penggandengan dua kota yang berbeda lokasi dan administrasi politik dengan tujuan menjalin hubungan budaya dan kontak sosial antar penduduk. Kota bersaudara pada umumnya memiliki persamaan keadaan demografi dan masalah-masalah yang dihadapi. Konsep kota kembar bisa diumpamakan sebagai sahabat pena antara dua kota. Hubungan kota kembar sangat bermanfaat bagi program pertukaran pelajar dan kerjasama di bidang budaya dan perdagangan.24

Dan seperti yang diketahui pula, konsep kerjasama Sister City ini sudah berkembang di Indonesia dan sudah dilakukan oleh banyak daerah, termasuk Kota Medan sendiri. Dan disini penulis mengambil fokus membahas hubungan kerjasama Sister City antara Kota Medan dan Kota Ichikawa.

22

Indonesia, Undang-undang tentang Pemerintahan Daerah, Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, LN No. 125 Tahun 2004, TLN No. 4437, ps. 1 angka (2).

23

Ibid., ps. 1 angka (3).

24 Sumber : “Kota kembar” sebagaimana yang dimaksud dalam


(26)

F. Metode Penulisan

Metode penulisan yang digunakan adalah : 1. Jenis Penelitian

Penulisan ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan yuridis normatif. Metode deskriptif dimaksudkan untuk memaparkan status atas hukum perjanjian internasional, khususnya mengenai hubungan kerjasama Sister City (Kota Bersaudara) antara Pemerintah Kota Medan, Indonesia dengan Pemerintah Kota Ichikawa, Jepang. Sedangkan pendekatan yuridis normatif yang digunakan dalam penulisan ini yaitu penulisan mengenai norma hukum yang berhubungan dengan pokok masalah yang diteliti yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan25 di bidang hubungan luar negeri, perjanjian internasional dan pemerintahan daerah yang berlaku dan mengikat masyarakat dengan cara meneliti bahan pustaka.

2. Teknik Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder karena penulisan ini merupakan penelitian kepustakaan. Adapun data sekunder tersebut mencakup :

a. Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan yang mempunyai kekuatan mengikat, seperti norma-norma dasar, peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan.

Bahan hukum primer dalam penulisan ini, yaitu :

- Konvensi Wina Tahun 1969 tentang Hukum Perjanjian.

25

Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penulisan Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkatan, cet. VII, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 13.


(27)

- Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan perubahan-perubahannya.

- Undang-undang Nomor 1 Tahun 1982 tentang Pengesahan Konvensi Wina Tahun 1961 mengenai Hubungan Diplomatik dan Konvensi Wina Tahun 1963 mengenai Hubungan Konsuler.

- Undang-undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri.

- Undang-undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional.

- Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. - Peraturan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia No.

09/A/KP/XII/2006/01 tentang Panduan Umum Tata Cara Hubungan dan Kerjasama Luar Negeri oleh Pemerintah Daerah.

- Permendagri Nomor 3 Tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Kerjasama Pemerintah Daerah dengan Pihak Luar Negeri.

b. Bahan hukum sekunder, yaitu yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer dan isinya tidak mengikat. Bahan hukum sekunder yang digunakan disini adalah buku-buku, artikel, majalah, jurnal dan makalah dari berbagai seminar yang berhubungan yang membahas mengenai hukum internasional terutama yang terkait dengan perjanjian internasional dan mengenai kerjasama Sister City.

c. Bahan hukum tersier, yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder. Dalam


(28)

kajian ini, bahan hukum tersier ang digunakan yaitu Kamus Besar Bahasa Indonesia yang digunakan untuk menyamakan definisi dari istilah-istilah yang terkait.

Teknik pengumpulan data bagi penulisan ini dilakukan melalui studi kepustakaan dengan cara mengumpulkan bahan-bahan dari berbagai sumber yang terkait dengan penulisan ini, seperti buku-buku, jurnal ilmiah, surat kabar, majalah, kamus, ataupun artikel-artikel terkait dari internet.

G. Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan adalah sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN

Dalam bab ini, diuraikan latar belakang penulisan skripsi ini, rumusan masalah yang menjadi bahasan dalam penulisan skripsi ini, tujuan serta manfaat penulisan, keaslian penulisan, tinjauan kepustakaan dalam penulisan, metode penulisan yang digunakan dalam rangka pencarian data untuk penulisan skripsi ini serta bagaimana sistematika penulisan skripsi ini.

BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM HUKUM INTERNASIONAL DAN HUKUM NASIONAL Dalam bab ini, diuraikan permasalahan yang terkait dengan Perjanjian Internasional. Bab ini terbagi atas tiga subbab, yaitu subbab mengenai Perjanjian Internasional dalam Hukum Internasional, subbab mengenai Perjanjian Internasional berdasarkan Hukum Nasional di Indonesia dan subbab mengenai hubungan hukum internasional dengan hukum nasional di Indonesia.


(29)

BAB III LATAR BELAKANG PERJANJIAN KERJASAMA SISTER CITY (KOTA BERSAUDARA)

Dalam bab ini, diuraikan permasalahan yang terkait dengan Sister City (Kota Bersaudara) melalui pengertiannya, manfaat dan tujuan diadakannya Sister City (Kota Bersaudara), serta perkembangannya di Indonesia. Pada akhir bab ini juga akan dibahas bagaimana hubungan kerjasama Sister City (Kota Bersaudara) antara Pemerintah Kota Medan, Indonesia dan Pemerintah Kota Ichikawa, Jepang. BAB IV STATUS HUKUM PERJANJIAN INTERNASIONAL SISTER CITY (KOTA BERSAUDARA) YANG DIBUAT OLEH PEMERINTAH KOTA MEDAN DAN PEMERINTAH KOTA ICHIKAWA

Dalam bab ini, diuraikan mekanisme pembuatan perjanjian internasional oleh pemerintah daerah dan membahas tentang status hukum perjanjian internasional mengenai Sister City (Kota Bersaudara) yang dibuat oleh Pemerintah Kota Medan, Indonesia dan Pemerintah Kota Ichikawa, Jepang. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam bab ini, penulis mencoba untuk memberikan kesimpulan dari apa yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya. Kemudian penulis juga memberikan saran bagi pihak-pihak yang memerlukannya.


(30)

BAB II

TINJAUAN UMUM MENGENAI PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM HUKUM INTERNASIONAL DAN HUKUM NASIONAL

A. Perjanjian Internasional dan Hukum Internasional

Perjanjian internasional merupakan satu bagian yang sangatlah penting dalam hukum internasional. Hal ini timbul sebagai konsekuensi dari adanya hubungan antar negara-negara di dunia, yang berkembang pada era globalisasi ini sehingga mencakup hubungan antar negara dengan organisasi internasional, maupun antara organisasi internasional dengan organisasi internasional lainnya. Sekarang ini terdapat dua konvensi yang mengatur tentang perjanjian internasional, yaitu Konvensi Wina Tahun 1969 tentang Perjanjian Internasional yang dibuat antar negara (Vienna Convention on The Law of Treaties) dan Konvensi Wina Tahun 1986 tentang Perjanjian Internasional antara Negara dan Organisasi Internasional atau antar Organisasi Internasional (Vienna Convention on The La w of Trea ties between Sta tes a nd Interna tiona l Orga niza tions or between Interna tiona l Orga niza tions). Dalam tulisan ini yang akan digunakan adalah Konvensi Wina Tahun 1969 karena pembahasannya terkait dengan Perjanjian Internasional dengan negara sebagai subjek dari pembuat perjanjian internasional itu sendiri.

Untuk memahaminya, ada baiknya kita berangkat dari pengertiannya terlebih dahulu. Pengertian perjanjian internasional secara definitif sukar dilakukan sebagaimana juga yang dihadapi apabila mencari batasan mengenai


(31)

pengertian hukum itu sendiri. Terminologi treaty yang digunakan dalam Konvensi Wina 1969 menunjuk pada perjanjian internasional secara umum dan bukan hanya menunjuk pada definisi sempit dari treaty atau traktat sebagai jenis dari suatu perjanjian internasional.26 Merujuk pada Konvensi Wina 1969, pengertian perjanjian internasional sebagaimana yang dikemukakan oleh Ian Brownlie27 adalah :

Trea ty a s a n interna tiona l a greement concluded between sta tes in written form a nd governed by interna tiona l la w, whether embodied in a single instrument or in two or more rela ted instruments and wha t ever its pa rticula r designa tion.

Yang berarti perjanjian sebagai suatu persetujuan yang dibuat antar negara dalam bentuk tertulis dan diatur oleh hukum internasional, apakah dalam instrumen tunggal atau dua atau lebih instrumen yang berkaitan apapun nama yang diberikan padanya.

Pada kerangka teoritis Mochtar Kusumaatmadja merumuskan perjanjian internasional dengan rumusan yang lebih luas28, yaitu :

“Perjanjian Internasional adalah perjanjian yang diadakan antara anggota masyarakat bangsa-bangsa yang bertujuan untuk mengakibatkan akibat-akibat hukum tertentu dan karena itu untuk dapat dinamakan perjanjian internasional, perjanjian itu harus diadakan oleh subjek-subjek hukum internasional yang menjadi anggota masyarakat internasional”.

Berdasarkan pengertian di atas, terdapat beberapa kriteria dasar yang digunakan sebagai tolak ukur definisi dan ruang lingkup yang harus dipenuhi untuk dapat ditetapkan sebagai suatu perjanjian internasional, yaitu29 :

26

ILC Draft Articles with Commentaries, Sidang ke-18, 1966, Yearbook of The International Law Commission, Vol. III, hlm. 189; Public International Law, Edisi ke-3, Alina Kaczorowska, Old Bailey Press, 2005, hlm. 231.

27

Ian Brownlie, Principles of Public International Law, (Oxford University Press, 3rd edition, 1979), hlm. 602. Lihat pula pasal 2 (1) Konvensi Wina Tahun 1969.

28

Mochtar Kusumaatmadja, Pengantar Hukum Internasional, PT. Alumni, Bandung, 2003, hlm. 84.


(32)

a. a n interna tiona l a greement;

b. by subject of interna tiona l la w (termasuk entitas di luar negara); c. in wr itten form;

d. governed by interna tiona l la w (diatur dalam hukum internasional serta menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik);

e. wha tever form.

Berikut adalah penjelasan mengenai unsur atau kriteria dasar yang digunakan sebagai tolak ukur definisi dan ruang lingkup perjanjian internasional, yaitu :

a. An Interna tiona l Agreement

Bahwa suatu perjanjian internasional haruslah memiliki karakteristik internasional yang berarti perjanjian itu mengatur aspek-aspek hukum internasional atau permasalahan lintas negara.

Selain itu, unsur ini juga dipakai untuk menunjukkan bahwa definisi perjanjian internasional mencakup semua dan segala jenis perjanjian yang memiliki karakter internasional, terlepas dari apakah perjanjian itu disusun secara bilateral, multilateral, regional ataupun universal.

b. Subject of Interna tiona l La w

Bahwa perjanjian tersebut harus dibuat oleh negara dan/atau organisasi internasional sehingga tidak mencakup perjanjian yang sekalipun bersifat internasional namun dibuat oleh non-subjek hukum internasional.

29


(33)

Yang dimaksud dengan unsur ini adalah perjanjian internasional hanya dapat dibuat di antara subjek-subjek hukum tertentu, yaitu subjek hukum internasional. Subjek hukum internasional adalah :

1. Negara;

2. Organisasi Internasional; 3. Palang Merah Internasional; 4. Tahta Suci/Vatican;

5. Pemberontak/Belligerent. c. In Written Form

Seperti yang tertuang secara tegas dalam Konvensi Wina 1969 dan Konvensi Wina 1986, ruang lingkup perjanjian internasional dibatasi hanya pada perjanjian yang tertulis. Pembatasan tersebut dimaksudkan agar tidak ada akibat hukum yang tidak diinginkan oleh negara-negara peserta yang disebabkan oleh oral agreement seperti yang tertuang pada Pasal 3 Konvensi Wina 1969.30

d. Governed by Interna tiona l La w

Parameter tentang Governed by International Law merupakan elemen yang sering menimbulkan kerancuan dalam memahami perjanjian internasional. Dalam pembahasan tentang Konvensi Wina 1969, Komisi Hukum Internasional (Interna tiona l La w Committee) yang merancang konvensi tersebut merasakan

30

Pasal 3 Konvensi Wina 1969 menyatakan bahwa :

The fact that the present Convention does not apply to international agreements concluded between states and other subjects of international law or between such other subjects of international law, or to international agreements not in written form, shall not affect :

a. The legal force of such agreements;

b. The application to them of any of the rules set forth in the present Convention to which they would be subject under international law independently of the Convention;

c. The application of the Convention to the relations of States as between themselves under international law are also parties.


(34)

rumitnya pengertian “governed by interna tiona l la w”. Komisi ini mengatakan suatu dokumen disebut sebagai governed by international law jika sudah memenuhi dua elemen, yaitu :

1. Adanya maksud untuk menciptakan kewajiban dan hubungan hukum (Intended to crea te obliga tions a nd lega l rela tions).

There ma y be a greements whilst concluded between sta tes but crea te no obliga tions a nd lega l rela tions. They could be in the form of a Joint Sta tement, or MoU, depends on the subject-ma tter a nd the intention of the pa rties.

2. Tunduk pada rezim hukum internasional (Under international law).

There ma y be a greements between Sta tes but subject to the loca l la w of the one of the pa rties or by a priva te la w system/conflict of la w such a s a greements for the a cquisition of premises for a diploma tic mission or for some purely commercia l tra nsa ctions.

e. Wha tever Forms

Definisi perjanjian internasional lebih mengutamakan prosedur perjanjian daripada sekedar judul perjanjian internasional itu sendiri. Dengan kata lain, penamaan atau judul dari suatu perjanjian internasional bisa berbeda, tetapi pengaturannya tetap bersumber pada hukum perjanjian internasional sebagaimana yang dituangkan di dalam Konvensi Wina 1969.

Perjanjian internasional merupakan salah satu sumber hukum internasional sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 38 ayat (1) Statuta Mahkamah Internasional.31 Perjanjian internasional sebagai salah satu sumber hukum internasional yang paling penting mengandung pengertian sebagai perjanjian antara anggota masyarakat bangsa-bangsa yang bertujuan untuk mengadakan

31

Sumber-sumber hukum internasional terdiri dari : perjanjian internasional (international convention), kebiasaan internasional (international custom), prinsip-prinsip umum hukum yang diakui oleh negara-negara beradab (general principles of law recognized by civilized nations), keputusan pengadilan (judicial decisions) dan pendapat para ahli. Eddy Pratomo, Op.Cit., hlm. 41.


(35)

akibat-akibat tertentu. Apabila dijabarkan lebih lanjut, perjanjian internasional adalah perjanjian yang dibuat oleh dan diantara : (1) Negara dengan negara; (2) Negara dan kesatuan bukan negara; (3) Kesatuan bukan negara satu sama lain.

Perjanjian Internasional apabila dibandingkan dengan sumber hukum internasional lainnya menjadi sumber yang paling utama dan ini dapat terlihat dari Pasal 38 Statuta ICJ yang meletakkan perjanjian internasional pada urutan pertama. Hal ini menunjukkan bahwa perjanjian internasional menduduki posisi tertinggi dalam hierarki sumber hukum internasional. Selain itu, banyak sumber hukum internasional lain seperti kebiasaan internasional yang sudah dikodifikasikan ke dalam bentuk perjanjian internasional.

Seperti yang terlihat dari definisinya, suatu instrumen dapat dikategorikan sebagai perjanjian internasional tanpa bergantung pada nomenklatur atau penamaannya. Walaupun judul suatu perjanjian dapat beragam, pengelompokkan perjanjian internasional dalam nomenklatur tertentu dimaksudkan dan diupayakan untuk menunjukkan kesamaan materi yang diatur. Namun demikian, secara hukum perbedaan tersebut tidak relevan dan tidak harus mengurangi hak dan kewajiban para pihak yang tertuang dalam suatu perjanjian internasional. Berikut beberapa istilah Perjanjian Internasional yang sering digunakan32 :

1. Traktat (Treaty)

Traktat adalah bentuk perjanjian internasional yang mengatur hal-hal yang sangat penting yang mengikat negara secara menyeluruh yang pada umumnya bersifat multilateral. Meskipun demikian, kebiasaan

32


(36)

negara di masa lampau cenderung menggunakan istilah ini untuk perjanjian bilateral.

2. Konvensi (Convention)

Konvensi adalah bentuk perjanjian internasional yang mengatur hal-hal yang penting dan resmi yang bersifat multilateral. Konvensi biasanya bersifat la w making treaty dengan pengertian yang meletakkan norma-norma hukum bagi masyarakat internasional.

3. Persetujuan (Agreement)

Persetujuan adalah bentuk perjanjian internasional yang umumnya bersifat bilateral dengan substansi lebih kecil lingkupnya.

4. Piagam (Charter)

Istilah ini digunakan untuk instrumen internasional yang dijadikan sebagai dasar pembentukan suatu organisasi internasional.

5. Protokol (Protocol)

Protokol merupakan instrumen tunggal yang memberikan amandemen, turunan, atau pelengkap terhadap persetujuan internasional sebelumnya. 6. Memorandum Saling Pengertian (Memorandum of Understanding/MoU)

Perjanjian yang mengatur pelaksanaan teknik operasional suatu perjanjian induk. Jenis perjanjian ini umumnya dapat berlaku segera setelah penandatanganan tanpa memerlukan pengesahan.

7. Pertukaran Nota Diplomatik (Exchange of Notes)

Merupakan suatu pertukaran penyampaian atau pemberitahuan resmi posisi pemerintah masing-masing negara yang telah disetujui bersama mengenai suatu masalah tertentu.


(37)

8. Modus Vivendi

Istilah ini digunakan sebagai instrumen kesepakatan yang bersifat sementara dan informal.

9. Agreed Minutes atau Summary Records atau Record of Discussion

Istilah ini digunakan untuk suatu kesepakatan antara wakil-wakil lembaga pemerintah tentang hasil akhir atau hasil sementara (seperti draft suatu perjanjian bilateral) dari suatu pertemuan teknis.

Secara garis besar, bentuk-bentuk utama dari perjanjian internasional dapat dibedakan menjadi33 :

1. Perjanjian internasional yang dibuat oleh kepala negara. Dalam hal ini, perjanjian internasional dirancang sebagai suatu perjanjian antara pemegang kedaulatan dan kepala-kepala negara;

2. Perjanjian internasional yang dibuat antar pemerintah. Biasanya dipakai untuk perjanjian-perjanjian khusus dan non-politis;

3. Perjanjian internasional yang dibuat antar negara (inter-states). Perjanjian ini dibuat secara tegas atau implisit sebagai suatu perjanjian antar negara-negara;

4. Suatu perjanjian dapat dirundingkan dan ditandatangani di antara menteri negara terkait, umumnya Menteri Luar Negeri negara masing-masing; 5. Dapat berupa perjanjian antar departemen, yang dibentuk antara

wakil-wakil departemen pemerintah khusus.

33

J.G. Starke. Pengantar Hukum Internasional Jilid 2 (An Introduction to International Law), diterjemahkan oleh Bambang Iriana, cet. kedua, (Jakarta: Sinar Grafika, 1992), hlm. 585.


(38)

Perjanjian internasional ditinjau dari segi jumlah negara pesertanya dibedakan menjadi Perjanjian Internasional Bilateral yang hanya terdiri dari dua pihak atau dua negara saja serta Perjanjian Internasional Multilateral yang jumlah pesertanya lebih dari dua negara peserta.

Suatu penggolongan yang lebih penting dalam rangka pembahasan perjanjian internasional sebagai sumber hukum formal ialah penggolongan isi perjanjian multilateral dalam treaty contract (traite-contract) dan la w making trea ties (tra ite-lois).34 Dengan treaty contract dimaksudkan perjanjian dalam hukum perdata, hanya mengakibatkan hak dan kewajiban antara para pihak yang mengadakan perjanjian itu. Contoh treaty contract demikian misalnya perjanjian mengenai dwi-kewarganegaraan, perjanjian perbatasan, perjanjian perdagangan, perjanjian pemberantasan penyelundupan. Dengan law making treaties atau traite-lois dimaksudkan perjanjian yang meletakkan ketentuan atau kaidah hukum bagi masyarakat internasional sebagai keseluruhan. Contoh perjanjian demikian ialah Konvensi Tahun 1949 mengenai Perlindungan Korban Perang, Konvensi Tahun 1958 mengenai Hukum Laut, Konvensi Vienna Tahun 1961 mengenai Hubungan Diplomatik.35

Mengutip pendapat Ketut Mandra36, yang mengatakan bahwa peranan atau fungsi perjanjian internasional dalam pembentukan dan perkembangan hukum internasional dapat diperinci atau digolongkan ke dalam tiga macam, yakni :

34

Pembedaan ini diikuti juga oleh para sarjana hukum Inggris dan Amerika. Misalnya J.G. Starke, Introduction to International Law, 1967. Lihat, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja S.H. LLM., Pengantar Hukum Internasional, Buku I - Bagian Umum, Bandung, 1977, hlm. 86.

35

Mochtar Kusumaatmadja dan Etty R. Agoes, Pengantar Hukum Internasional, Bandung: PT Alumni, 2003, hlm. 122.

36

I Ketut Mandra, Peranan Traktat dalam Pembentukan dan Perkembangan Hukum Internasional, Pro Justicia, No. Ke-16, 1981, hlm. 16.


(39)

a. Merumuskan atau menyatakan (declare) atau menguatkan kembali (confirm/resta te) aturan-aturan hukum internasional yang sudah ada (the existing rules of interna tiona l la w);

b. Merubah dan/atau menyempurnakan (modify) ataupun menghapuskan (a bolish) kaidah-kaidah hukum internasional yang sudah ada untuk mengatur tindakan-tindakan yang akan datang (for regulating future conducts);

c. Membentuk kaidah-kaidah hukum internasional yang baru sama sekali, yang belum ada sebelumnya.

Dalam melakukan perjanjian, suatu negara harus melaksanakan tahap-tahap pembuatan perjanjian internasional. Tahapan pembuatan pejanjian internasional tersebut terdiri dari :

1. Perundingan (Negotiation)

Pada tahap ini pihak-pihak akan mempertimbangkan terlebih dahulu materi yang hendak dicantumkan dalam naskah perjanjian. Materi tersebut dapat ditinjau dari sudut pandang politik, ekonomi maupun keamanan dan juga mempertimbangkan akibat-akibat yang akan muncul setelah perjanjian disahkan. Perundingan dilakukan oleh wakil-wakil negara yang diutus oleh negara-negara peserta berdasarkan mandat tertentu. Wakil-wakil negara melakukan perundingan terhadap masalah yang harus diselesaikan. Perundingan dilakukan oleh kepala negara, menteri luar negeri ataupun duta besar. Berdasarkan Pasal 7 Konvensi Wina 1969, negara juga dapat menunjuk seseorang untuk dapat mewakili negara tersebut dalam melakukan tahapan


(40)

pembuatan perjanjian dengan membuat Surat Kuasa Penuh (Full Power). Apabila perundingan mencapai kesepakatan maka perundingan tersebut meningkat pada tahap penandatanganan.

2. Penandatanganan (Signature)

Penandatanganan perjanjian internasional yang telah disepakati oleh kedua negara biasanya ditandatangani oleh kepala negara, kepala pemerintahan atau menteri luar negeri. Tahap penandatanganan diakhiri dengan penerimaan naskah (adoption of the text) dan pengesahan (authentication of the text). Apabila konferensi tidak menentukan cara pengesahan maka pengesahan dapat dilakukan dengan penandatanganan, penandatanganan sementara atau pembubuhan paraf. Dengan menandatangani suatu naskah perjanjian, berarti suatu negara telah menyetujui untuk mengikatkan diri pada suatu perjanjian. 3. Pengesahan (Ratification)

Meskipun delegasi suatu negara telah menandatangani suatu perjanjian internasional, tidak berarti bahwa negara tersebut secara otomatis terikat pada perjanjian itu. Negara tersebut baru terikat pada materi/isi perjanjian setelah naskah tersebut diratifikasi.

B. Perjanjian Internasional dan Hukum Nasional

Dua perkembangan pesat dewasa ini telah membuat sistem Indonesia menggeliat. Pertama adalah perkembangan internal yaitu reformasi ketatanegaraan Indonesia yang ditandai dengan proses demokratisasi dalam bidang hukum untuk menuju suatu sistem hukum modern, dan kedua adalah


(41)

faktor eksternal yaitu globalisasi yang memaksa kehadiran instrumen asing seperti perjanjian internasional di dalam sistem hukum yang sedang bereformasi.37

Di kalangan pakar hukum Indonesia sendiri, persoalan yang lebih teknis-yuridis juga belum mencapai titik kesepakatan. Apakah berlakunya perjanjian internasional di level internasional secara otomatis menjadikannya berlaku di hukum nasional ? Pro dan kontra terhadap pertanyaan ini semakin mengemuka di perdebatan publik antara para pakar hukum dari berbagai bidang. Kementerian Luar Negeri yang paling terkena dampak akibat ketidakseragaman pemahaman publik tentang perjanjian internasional telah berusaha mempertemukan berbagai kelompok pakar dari berbagai disiplin ilmu hukum tata negara dan hukum internasional di dalam rangkaian Focussed Group Discussion (FGD)38, guna memetakan kecenderungan pemikiran yang mungkin dapat dijadikan referensi. Diskusi ini setidaknya berhasil menginventarisasi berbagai pemikiran yang hidup di kalangan pakar hukum tentang bagaimana mereka memandang status perjanjian internasional dalam hukum nasional.

Pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional antara Pemerintah Republik Indonesia dan pemerintah negara-negara lain, organisasi internasional dan subjek hukum internasional lain adalah suatu perbuatan hukum yang sangat penting karena mengikat negara pada bidang-bidang tertentu, dan oleh sebab itu pembuatan dan pengesahan suatu perjanjian internasional harus dilakukan dengan

37

Makalah disampaikan oleh Dr. iur. Damos Dumoli Agusman, SH, MA pada seminar “Status Perjanjian Internasional menurut Pandangan Mahkamah Konstitusi RI – Kajia n Kritis terhadap Keputusan MK tentang Piagam ASEAN”, di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 2014, hlm. 1.

38

Sejak tahun 2006, Kementerian Luar Negeri menggelar rangkaian Focussed Group Discussion (FGD) yang dihadiri oleh pakar hukum tata Negara dan hukum internasional guna membahas tentang status perjanjian internasional dalam sistem hukum nasional, yaitu di FH Universitas Andalas, FH UI, FH Unair dan FH Unpad. Ibid., hlm. 3.


(42)

dasar-dasar yang jelas dan kuat, dengan menggunakan instrumen perundang-undangan yang jelas pula.

Pada konteks Konvensi Wina 1969, pengertian perjanjian internasional yang dimaksud dalam Pasal 11 UUD 1945 sebelum perubahan hanya melihat perjanjian internasional terbatas sebagai perjanjian antara subjek hukum internasional negara dengan negara. Dengan demikian, rumusan awal dari UUD 1945 tersebut tidak mencakup perjanjian internasional antara negara dan organisasi internasional serta perjanjian antara organisasi internasional dengan organisasi internasional.39

Hukum, doktrin dan praktik Indonesia tentang status perjanjian internasional dalam hukum nasional Republik Indonesia belum berkembang dan acap kali menimbulkan persoalan praktis dalam tataran implementasi perjanjian internasional di dalam kerangka ketidakjelasan. Ini merupakan akibat dari ketiadaan hukum maupun doktrin pada sistem hukum Indonesia tentang hubungan hukum internasional dan hukum nasional. Berbagai kebingungan mencuat dalam dunia praktik dalam menjawab tentang status perjanjian internasional dalam sistem hukum Republik Indonesia.40

Menurut Damos Dumoli Agusman, dalam tataran praktis, di kalangan pemerintah dan opini publik berkembang berbagai alur pemikiran yang dapat dipetakan sebagai berikut :

39

Rumusan Pasal 11 UUD 1945 sebelum amandemen dan ayat (1) pasal tersebut setelah amandemen kiranya equivalent dengan pengertian Perjanjian Internasional berdasarkan Pasal 2 ayat (1) Konvensi Wina 1969.

40

Damos Dumoli Agusman, Hukum Perjanjian Internasional : Kajian Teori dan Praktik Indonesia, Bandung: Refika Aditama, 2010, hlm. 95.


(43)

1. Alur pemikiran yang menempatkan perjanjian internasional yang telah disahkan (diratifikasi) sebagai bagian dari hukum nasional.

2. Alur pemikiran yang mengharuskan adanya legislasi nasional tersendiri untuk mengimplementasikan suatu perjanjian internasional yang telah disahkan.

Istilah perjanjian internasional dalam UUD 1945 baru muncul setelah dilakukannya amandemen ketiga terhadap UUD 1945 pada tahun 2001 yang menambahkan dua ayat baru pada Pasal 11 UUD 1945 dan menjadikan rumusan lama Pasal 11 UUD 1945 sebagai ayat pertama. Rumusan lengkap Pasal 11 UUD 1945 adalah sebagai berikut41 :

1. Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain; 2. Presiden dalam membuat Perjanjian Internasional lainnya yang

menimbulkan akibat yang luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara, dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan Undang-undang harus dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat;

3. Ketentuan lebih lanjut tentang Perjanjian Internasional diatur dengan Undang-undang.

Perumusan Pasal 11 UUD 1945 sebagaimana tersebut di atas, rumusan ayat (2) dan ayat (3) berupaya memberi penjelasan bahwa perjanjian internasional tidak hanya diartikan sebagai perjanjian dengan negara lain, tetapi perjanjian internasional dalam pemahaman perjanjian internasional yang diakui dalam hukum internasional.

Negara di satu sisi masih menjadi subjek hukum yang utama namun di sisi lain peningkatan peran subjek-subjek bukan negara tidak dapat dipungkiri telah memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan hukum internasional.

41


(44)

Sebagai bukti atas hal tersebut, bisa dilihat definisi hukum internasional yang diberikan oleh Mochtar Kusumaatmadja42 yang menyatakan bahwa :

“Hukum internasional adalah keseluruhan kaidah dan asas yang mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi batas negara antara :

1). Negara dengan negara;

2). Negara dengan subjek hukum lain bukan negara atau subjek hukum bukan negara satu sama lain.”

Definisi di atas memperlihatkan bahwa hukum internasional bukan hanya dapat dibentuk oleh negara namun juga dapat dibuat oleh subjek-subjek yang bukan negara.

Indonesia sebagai negara hukum juga memiliki sebuah peraturan perundang-undangan yang secara khusus mengatur mengenai Perjanjian Internasional dalam rangka mendukung penyelenggaran hubungan luar negeri yang lebih terarah, terpadu dan berlandaskan kepastian hukum yang lebih kuat yaitu Undang-undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional, yang mana memberikan definisi tersendiri untuk perjanjian internasional, yaitu “Perjanjian Internasional adalah perjanjian, dalam bentuk dan nama tertentu, yang diatur dalam hukum internasional yang dibuat secara tertulis serta menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik”.43

Undang-undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri juga memberikan definisi Perjanjian Internasional, yaitu :

“Perjanjian Internasional adalah perjanjian yang dalam bentuk dan sebutan apapun, yang diatur oleh hukum internasional dan dibuat secara tertulis oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan satu atau lebih negara, organisasi

42

Mochtar Kusumaatmadja, Pengantar Hukum Internasiona l, Bandung: Bina Cipta, 1997, hlm. 3.

43

Indonesia, Undang-undang tentang Perjanjian Internasional, Undang-undang Nomor 24 Tahun 2000 LN No. 185 Tahun 2000, TLN 4012, Pasal 1 ayat 1.


(45)

internasional atau subjek internasional lainnya, serta menimbulkan hak dan kewajiban pada Pemerintah Republik Indonesia yang bersifat hukum publik”.44

Kedua perangkat hukum dimaksud merupakan landasan hukum yang mengikat bagi pemerintah pusat dan pelaku hubungan luar negeri lainnya termasuk unsur-unsur daerah dalam melaksanakan hubungan luar negeri. Setelah lahirnya Undang-undang Nomor 24 Tahun 2000, praktik di Indonesia telah menunjukkan konsistensi praktik, elemen-elemen perjanjian internasional sebagaimana dimaksud Konvensi Wina telah dipenuhi. Namun, praktik pembuatan perjanjian internasional di Indonesia masih menyisakan kesulitan tentang pembedaan yang berkaitan dengan Governed by International La w, sehingga semua dokumen sepanjang dibuat Pemerintah RI dengan subjek hukum internasional dianggap sebagai perjanjian internasional sekalipun perjanjian itu tunduk pada hukum nasional seperti loan agreements atau perjanjian pinjaman.45

Dalam tatanan teoritis maupun praktik-praktik termasuk Indonesia, ditemukan pula jenis perjanjian yang bersifat administratif yang dibuat antara lembaga pemerintah/negara Indonesia dengan lembaga pemerintah/negara asing misalnya perjanjian antara Kementerian Indonesia dengan Kementerian negara sahabat, termasuk perjanjian antara Pemerintah Daerah seperti MoU Sister City/Sister Province. Perjanjian ini (pada umumnya dalam bentuk MoU) masih menimbulkan kontraversi terkait statusnya sebagai suatu perjanjian internasional (trea ty).46

44

Indonesia, Undang-undang tentang Hubungan Luar Negeri, Undang-undang Nomor 37 Tahun 1999 LN No. 156 Tahun 1999, TLN 3882, Pasal 1 ayat 3.

45

Eddy Pratomo, Op.Cit., hlm. 94.

46

Ko Swan Sik, Beberapa Aspek Kenisbian dan Kesamaran Per janjian Internasional, Jurnal Hukum Internasional, LPHI FH UI, Vol. 3, No. 4, Juli 2006, hlm. 484-485.


(46)

C. Hubungan antara Hukum Internasional dan Hukum Nasional

Kedudukan hukum internasional sebagai salah satu bagian dari hukum secara keseluruhan tidak dapat dipungkiri. Dengan demikian, hukum internasional sebagai suatu hukum yang berlaku efektif dapat berperan dalam kenyataan hidup dan memiliki keterikatan atau hubungan dengan bidang hukum lainnya.

Perkembangan hukum internasional yang cepat dewasa ini merupakan konsekuensi dari hubungan internasional yang intensif dan luas antar bangsa telah melahirkan berbagai macam norma hukum internasional dalam format perjanjian internasional seperti traktat, konvensi dan perjanjian internasional lainnya. Sementara itu, keberadaan hukum kebiasaan internasional (customa ry interna tiona l la w) menjadi semakin penting mengingat semakin luas upaya untuk mengkodifikasi dan mengunifikasi hukum kebiasaan internasional ke dalam bentuk perjanjian internasional. Keadaan ini menumbuhkan positivisme baru di ranah hukum internasional dan negara sebagai subjek hukum internasional perlu untuk memperhatikan perkembangan tersebut. Dengan perkembangan ini, masyarakat internasional masih merupakan subjek hukum internasional yang utama. Namun, tentunya hal yang perlu diperhatikan adalah peran dan status negara sebagai subjek hukum internasional mengalami penipisan pengaruh.

Indonesia sebagai subjek hukum internasional perlu juga memperhatikan perkembangan tersebut dengan baik, mengingat baik secara langsung maupun tidak langsung, norma baru hukum internasional yang menyangkut kepentingan bersama dan diwujudkan dalam perjanjian internasional akan sulit untuk dihindarkan.


(47)

Hubungan yang terpenting adalah dengan ketentuan hukum yang berlaku dalam lingkup nasional yang mengatur kehidupan manusia dalam negaranya masing-masing, yang disebut dengan Hukum Nasional.

The problem of rela tionship between interna tiona l la w a nd municipa l la w ha s become the subject of much dera te with the prota gonist of va rious being much influenced by a desire to strengthen either municipa l la w or a

state’s sovereignity or a world community.47

Rebecca M.M. Wallace mengemukakan bahwa persoalan mengenai hubungan antara hukum internasional dengan hukum nasional adalah perluasan dimana pengadilan nasional akan memberikan pengakuan dalam sistem hukum setempat terhadap hukum internasional yang bertentangan atau tidak bertentangan dengan hukum nasional.

Secara teoritis, persoalannya berakar dari ketidakjelasan aliran yang dianut oleh hukum Indonesia tentang hubungan hukum internasional dan hukum nasional. Di negara maju, aliran ini telah dicerminkan dalam constitutional provisions atau undang-undang nasional yang secara tegas membuat kaidah tentang apa status hukum internasional dalam hukum nasionalnya. Sistem hukum di Indonesia sayangnya masih belum memberi perhatian pada permasalahan ini, sehingga jangankan suatu constitutional legal provision, wacana publik ke arah pembentukan politik hukum tentang persoalan ini juga belum dimulai.48

Dalam teorinya, terdapat beberapa pilihan politik hukum, yaitu : • Aliran Dualisme

Menempatkan hukum internasional sebagai sistem hukum yang terpisah dari hukum nasional, dalam hal ini tidak terdapat hubungan hierarki antara kedua

47

Werner Levi, Contemporary International Law: A Concise Introduction 2nd Ed, Westview Press, Boulder-Colorado, 1991, hlm. 22.

48


(48)

sistem hukum ini. Konsekuensi dari aliran ini adalah diperlukannya lembaga

hukum “transformasi” untuk mengkonversikan hukum internasional ke dalam

hukum nasional berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk prosedur konversi ini. Pengikatan-pengikatan diri suatu negara ke suatu perjanjian (misalnya melalui ratifikasi) harus dilanjutkan dengan proses transformasi melalui pembuatan legislasi nasional. Dengan dikonversikannya kaidah hukum internasional ini ke dalam hukum nasional, maka kaidah tersebut akan berubah karakter menjadi produk hukum nasional serta tunduk dan masuk pada tata urutan perundang-undangan nasional. Karena sistem yang terpisah maka tidak dimungkinkan adanya konflik di antara kedua hukum ini.

• Aliran Monisme

Menempatkan hukum internasional dan hukum nasional sebagai bagian dari satu kesatuan sistem hukum. Hukum internasional berlaku dalam ruang lingkup hukum nasional tanpa harus melalui proses transformasi. Pengikat diri suatu negara kepada suatu perjanjian (misalnya dengan ratifikasi) merupakan inkorporasi perjanjian tersebut ke dalam hukum nasional dan tidak dibutuhkan legislasi nasional yang sama untuk memberlakukannya dalam hukum nasional. Kalaupun ada legislasi nasional yang mengatur masalah yang sama, maka legislasi yang dimaksud hanya merupakan implementasi dari kaidah hukum internasional. Dalam hal ini, hukum internasional yang berlaku dalam sistem hukum nasional akan tetap pada karakternya sebagai hukum internasional. Mengingat ini merupakan kesatuan sistem maka terdapat kemungkinan adanya konflik antara hukum nasional dan hukum internasional.


(49)

BAB III

LATAR BELAKANG PERJANJIAN KERJASAMA SISTER CITY (KOTA BERSAUDARA)

A. Pengertian Sister City (Kota Bersaudara)

Sister City sering juga disebut Twining City atau dalam bahasa Indonesia disebut Kota Bersaudara atau Kota Kembar, dimana kerjasama antar kota bersifat luas, disepakati secara resmi dan bersifat jangka panjang. Pengertian seperti itu lebih disukai oleh kota-kota di Amerika Serikat yang tergabung dalam Sister Cities Interna tiona l/SCI yang berpusat di Washington D.C.

Oleh karena itu, istilah Sister City lebih banyak digunakan di Amerika Serikat (USA) dan kota-kota aliansinya. SCI didirikan pada 1956 sebagai bagian dari The Na tiona l Lea gue of Cities yang kemudian memisahkan diri menjadi semacam NGO atau korporasi non-profit pada 1967.

Sedangkan Twining City lebih banyak digunakan oleh negara-negara Eropa yang tergabung dalam Council of Europea n Municipa lities a nd Regions/CEMR di bawah Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) dan aliansinya. CEMR tersebut didirikan sejak 1951 untuk mempromosikan kerjasama antar kota dan komunitas Eropa sebagai driving force untuk pertumbuhan dan pembangunan. Sister City49 pada mulanya dilakukan oleh kota-kota di Benua Amerika dengan negara lain di luar Amerika. Kerjasama yang dilakukan pertama kali oleh

49

Sister city adalah suatu konsep penggandengan dua kota yang berbeda lokasi dan administrasi politik dengan tujuan menjalin hubungan budaya dan kontak sosial antar penduduk


(1)

Sister City yang dilakukan pemerintah daerah dengan kota-kota di berbagai negara di seluruh dunia. Ada pokok-pokok kerjasama yang terjalin antara Pemerintah Daerah Kota Medan dan Kota Ichikawa Jepang yang memiliki asas manfaat satu sama lain dan kerjasama ini sudah lama terjalin sejak tahun 1989 hingga saat ini.

B. Saran

Dari pembahasan di atas, dapat diajukan beberapa saran yang mungkin dapat dipergunakan, diantaranya :

1. Perkembangan hukum internasional dalam bidang perjanjian dan kerjasama internasional memang sudah memiliki dasar hukum internasional yang kuat. Lebih baik lagi dalam penalaran dan pengertiannya dalam berbagai negara harus disamakan maksud dan tujuannya. Karena penalaran bagi setiap negara terhadap suatu perjanjian internasional bisa berbeda-beda. Bisa saja terkendala masalah bahasa atau masalah teori pemaparan yang kurang signifikan. 2. Otonomi daerah memang merupakan suatu bentuk kesuksesan

pemerintah dalam memberikan kekuasaan penuh bagi pemerintah daerah untuk mengatur pemerintah dengan tetap melihat pada Undang-undang Dasar Tahun 1945. Akan tetapi, seharusnya pemerintah pusat melakukan pantauan khusus mengenai kebijakan yang dinilai dapat


(2)

3. Meninjau dari segi konsep perjanjian bilateral yang telah banyak dilakukan Indonesia selama ini, kita juga harus membuat pengaturan tersendiri mengenai akibat hukum yang terjadi apabila perjanjian ini dapat merugikan Indonesia dan tidak sesuai dengan kesepakatan awal. Ini merupakan hal yang selalu menjadi masalah bagi Indonesia ketika perjanjian awal kesepakatan kerjasama bilateral yang dilakukan mengalami masalah di saat mendatang.

4. Sister City khususnya antara Pemerintah Daerah Kota Medan dengan Kota Ichikawa dinilai baik dan sudah sesuai dengan prosedur dan kerjasama yang sudah berlangsung. Dilihat dari durasi waktu yang cukup lama sejak tahun 1989 hingga saat ini. Dimana kedua kota ini dapat menjalin hubungan yang sangat baik dan akan menjadi suatu contoh yang sangat baik juga dalam menjalankan kerjasama antar kota di dunia lainnya ke depan.


(3)

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Agusman, Damos Dumoli. 2010. Hukum Per janjian Internasional : Ka jian Teori da n Pra ktik Indonesia . Bandung: Refika Aditama.

Catherine Tay Swee Kian-Tang See Chim. 2001. Time Business : Contract Law, a

Laymans’s Guide. Singapura-Kuala Lumpur: Times Books

International.

J.G. Starke. 1992. Pengantar Hukum Internasional Jilid 2 (An Introduction to Interna tiona l La w), diterjemahkan oleh Bambang Iriana, cet. kedua. Jakarta: Sinar Grafika.

Joseph, Stiglitz. 2003. Globalisasi dan Kegagalan Lembaga -Lembaga Keuangan Interna siona l. Jakarta: PT. Ina Publikatama.

Kansil, C. S. T. 1989. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia . Jakarta: Balai Pustaka.

Kusumaatmadja, Mochtar. 1977. Pengantar Hukum Internasiona l. Bandung: Bina Cipta.

--- 1977. Pengantar Hukum Internasional, Buku I - Ba gia n Umum. Bandung: PT. Alumni.

--- 2003. Pengantar Hukum Internasional, Bandung: PT. Alumni.

--- dan Agoes, Etty R. 2003. Pengantar Hukum Interna siona l. Bandung: PT Alumni.

Levi, Werner. 1991. Contemporary International Law : A Concise Introduction 2nd Ed. Boulder-Colorado: Westview Press.

Mandra, I Ketut. 1981. Peranan Traktat dalam Pembentukan dan Perkembangan Hukum Interna siona l, Pro Justicia, No. ke-16.


(4)

Republik Indonesia, Departemen Luar Negeri. 2003. Panduan Umum Tata Cara Hubunga n Lua r Negeri oleh Pemerinta h Da era h. DPESB Deplu. Rowman & Littlefield. 2004. Globalization and Belonging : The Politics of

Identity a Cha rging World.

Soekanto, Soerjono dan Mamudji, Sri. 2004. Penulisan Hukum Normatif Suatu Tinja ua n Singka ta n, cet. VII. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Suryokusumo, Sumaryo. 2004. Praktik Diplomasi. Jakarta: STIH IBLAM.

Internet

Andi Oetomo, “Pengelolaan Perkotaan Lewat Skema Sister City” (Kelompok Keahlian Pengelolaan Pembangunan dan Pengembangan Kebijakan Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi Bandung).

http://penataanruang.pu.go.id/bulletin/upload/data_artikel/edisi3i.p df, diakses 02 Februari 2015.

Erawanriswandi (2013). Paradiplomasi, Sister City dan Peranannya bagi Kota Medan.

https://onepoenya.wordpress.com/2013/11/28/paradiplomasi-sister-city-dan-peranannya-bagi-kota-medan/, diakses pada 02 Februari 2015.

Wikipedia (2014). Kota Kembar. http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_kembar, diakses 10 Oktober 2014.

www.bangda.kemendagri.go.id/webbangda/buletin/buletin_mei_20 13/files/res/pages/page_0028 .swf, diakses 01 Februari 2015. http://otonomidaerah.com/uu-otonomi-daerah/, diakses 02 Februari 2015.

http://www.jakartapress.com/www.php/news/id/10232/Jakarta-Beijing-Lanjutkan-Kerja-Sama-Sister-City.jpg, diakses pada tanggal 3 Februari 2015. http://kerjasama.surabaya.go.id/file/SEATTLE-AMERIKA.pdf, diakses pada

tanggal 3 Februari 2015 pemkomedan.go.id


(5)

Jurnal dan Makalah

Adam Macinnis (2014). What is a Sister City ?, Pro Quest Documents, Washington.

Agustinus Supriyanto & Andi Sandi ATT (2001). Pengembangan Potensi Provinsi Da era h Istimewa Yogya ka rta mela lui Ker ja sa ma Sister Province, Mimbar Hukum Universitas Gajah Mada.

Damos Dumoli Agusman (2006). Makalah “Ker ja sa ma Sister City/Sister Province” (Direktorat Perjanjian Ekonomi dan Sosial Budaya, Ditjen Hukum dan Perjanjian Internasional, Deplu).

--- (2014). Makalah pada seminar “Status Perjanjian Interna siona l menurut Pa nda nga n Ma hka ma h Konstitusi RI Ka jia n Kritis terha da p Keputusa n MK tenta ng Pia ga m ASEAN”, FH USU.

Harza Sandityo (2011). Tinjauan Hukum atas Perjanjian Internasional yang Dibua t oleh Pemerinta h Daera h (Studi Ka sus : Per ja njia n Ker ja sa ma Sister City/Sister Province), Jurnal Hukum, FH UI. Ian Brownlie (1979). Principles of Public International Law, (Oxford University

Press, 3rd edition).

ILC Draft Articles with Commentaries (2005). Sidang ke-18, 1966, Yearbook of The International La w Commission, Vol. III, hlm. 189; Public Interna tiona l La w, Edisi ke-3, Alina Kaczorowska, Old Bailey Press.

Jemmy Rumengan (2009). “Perspektif Hukum dan Ekonomi atas Kerjasama Luar Negeri oleh Pemerintah Daerah”, Jurnal Hukum Internasional, Vol 6, No. 2.

Ko Swan Sik. (2006). Beberapa Aspek Kenisbian dan Kesamaran Perjanjian Interna siona l, Jurnal Hukum Internasional, LPHI FH UI, Vol. 3, No. 4.

Riska Mareba Meliala (2008). Tinjauan Hukum Ekonomi terhadap Ker jasama Ekonomi Interna siona l di Bidang Pena na ma n Moda l ya ng Dila kuka n oleh Pemerinta h Da erah, Jurnal Hukum Ekonomi, FH USU.


(6)

disampaikan pada Lokakarya “Aktualisasi Tata Cara Hubungan Luar

Negeri oleh Pemerintah Daerah”.

Kamus

Bryan A. Garner (Editor). Black’s Law Dictionary Second Pocket Edition. West Group, 2011.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Konvensi dan Peraturan Perundang-undangan Vienna Convention on The Law of Treaties, 1969

Republik Indonesia, Peraturan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia No. 09/A/KP/XII/2006/01 tentang Panduan Umum Tata Cara Hubungan dan Kerjasama Luar Negeri oleh Pemerintah Daerah Republik Indonesia, Permendagri No. 3 Tahun 2008 tentang Pedoman

Pelaksanaan Kerjasama Pemerintah Daerah dengan Pihak Luar Negeri

Republik Indonesia, Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Perubahannya

Republik Indonesia, Undang-undang No. 1 Tahun 1982 tentang Pengesahan Konvensi Wina Tahun 1961 mengenai Hubungan Diplomatik dan Konvensi Wina Tahun 1963 mengenai Hubungan Konsuler

Repubik Indonesia, Undang-undang No. 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri

Republik Indonesia, Undang-undang No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional

Republik Indonesia, Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah


Dokumen yang terkait

Status Perjanjian Internasional dalam Kaitannya dengan Kerjasama Sister City (Kota Bersaudara) yang Dibuat oleh Pemerintah Kota Medan dan Pemerintah Kota Ichikawa

11 141 97

Kewenangan pemerintah kota Bandung dalam menjalankan kerjasama sister city dengan Kota Braunschweig 2000-2012

0 8 1

Kewenangan pemerintah kota Bandung dalam menjalankan kerjasama sister city dengan Kota Braunschweig 2000-2012

0 2 1

ASPEK ASPEK HUKUM PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM PERJANJIAN KOTA BERSAUDARA (SISTER CITY) ANTARA PEMERINTAH KOTA SURAKARTA REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH KOTA MONTANA REPUBLIK BULGARIA

2 18 118

Kerjasama Kota Kembar Pemerintah Kota Medan Dengan Pemerintah Kota Penang Dalam Hubungan Diplomatik Menurut Perspektif Hukum Internasional

0 13 96

Status Perjanjian Internasional Dalam Kaitannya Dengan Kerjasama Sister City (Kota Bersaudara) yang Dibuat oleh Pemerintah Kota Medan dan Pemerintah Kota Ichikawa

0 0 9

Status Perjanjian Internasional Dalam Kaitannya Dengan Kerjasama Sister City (Kota Bersaudara) yang Dibuat oleh Pemerintah Kota Medan dan Pemerintah Kota Ichikawa

0 0 1

Status Perjanjian Internasional Dalam Kaitannya Dengan Kerjasama Sister City (Kota Bersaudara) yang Dibuat oleh Pemerintah Kota Medan dan Pemerintah Kota Ichikawa

0 1 19

Status Perjanjian Internasional Dalam Kaitannya Dengan Kerjasama Sister City (Kota Bersaudara) yang Dibuat oleh Pemerintah Kota Medan dan Pemerintah Kota Ichikawa

0 0 19

Status Perjanjian Internasional Dalam Kaitannya Dengan Kerjasama Sister City (Kota Bersaudara) yang Dibuat oleh Pemerintah Kota Medan dan Pemerintah Kota Ichikawa

0 0 4