Perencanaan usahatani sayuran berkelanjutan berbasis kentang di DAS Siulak, kabupaten Kerinci, Jambi

PERENCANAAN USAHATANI SAYURAN BERKELANJUTAN
BERBASIS KENTANG DI DAS SIULAK,
KABUPATEN KERINCI JAMBI

HENNY H.

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI
DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi ”Perencanaan Usahatani
Sayuran Berkelanjutan Berbasis Kentang di DAS Siulak, Kabupaten Kerinci,
Jambi” adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum
diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber
informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak
diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam
daftar pustaka di bagian akhir disertasi ini.
Bogor, Februari 2012
Henny H
NIM. A262050011

ABSTRACT
HENNY H. Potato based sustainable vegetable farming systems planning in
Siulak Watershed, Kerinci District, Jambi.
Under advisory of KUKUH
MURTILAKSONO, NAIK SINUKABAN, and SURIA DARMA TARIGAN
Established agricultural practices in upland vegetable growing areas in Indonesia
are generally implementing up and down the slope cultivation with relatively high
rates of fertilizers and pesticides applications. Combined with high rainfall
intensity, these practices have contributed to high runoff and severe erosion and
in turn gradually decreased land productivity and farmers income, thus
unsustainable farming systems. The objectives of this research were : 1) to
identify and describe existing conditions of the potato based vegetable farming
systems, 2) to study soil conservation measures alternatives to control soil
erosion and obtain optimal net farm income, and 3) to design potato based
sustainable vegetable farming systems in Siulak Watershed, Kerinci District,
Jambi Province. Land biophysical and farmers characteristics as well as
agrotechnologies were identified through soil survey and farmers interview, while
alternatives of soil conservation measures were studied through soil erosion plot
experiments. Models of patato based sustainable vegetable farming system
were formulated by simulation using Universal of Soil Loss Equation (USLE)
model and multiple goal programming. Results of the research showed that up
and down the slope vegetable farming practices and inadequate of soil
conservation practices caused soil erosion rate of 39.25 - 229.14 ton/ha/year
which was higher than the local soil tolerable loss (24.09 - 20.89 ton/ha/year),
and net farm income was generally not enough to support life worthed living
(Rp 28 000 000/year). Planting on ridges across the slope, or ridges constructed
15 degrees across the slope, or in ridges down the slope with a mound
constructed across the slope in each 4.5 m distance and silt-pit, can be
considered as alternatives soil conservation methods for vegetable farming
systems. Potato based sustainable vegetable farming systems in Siulak
Watershed could be accomplished by improving the cultivation practices by
integrating the soil conservation methods (planting on ridges across the slope
and mulch, or ridges down the slope with a mound constructed across the slope,
mulch and silt-pit) into the existing systems. Potato based sustainable vegetable
farming systems with the cropping pattern of potato-cabbage-tomato and
recommended agrotechnologies performed the most optimum models in Siulak
Watershed, Kerinci District, Jambi; this system generated soil erosion about
10.59 - 18.82 ton/ha/year and the net farm income about Rp 40 714 558 Rp 52 745 652 per hectar per year on 0.44 ha farm area. Some farmers in Siulak
Watershed have started applicating the recommended agrotechnologies right
after the research was completed.
Keywods : potato, erosion, net farming income, life worthed living, ridges, mulch, silt-pit

RINGKASAN
HENNY H. Perencanaan Usahatani Sayuran Berkelanjutan Berbasis Kentang
di DAS Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi.
Dibimbing oleh KUKUH
MURTILAKSONO, NAIK SINUKABAN, dan SURIA DARMA TARIGAN.
Hulu DAS Merao di Kabupaten Kerinci berada di dataran tinggi vulkan
Gunung Kerinci dan sebagian dari hulu DAS Merao merupakan hutan kawasan
lindung Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS). Ketergantungan masyarakat di
hulu DAS terhadap lahan cukup tinggi karena usaha pertanian merupakan
sumber utama pendapatan sebagian besar masyarakat, terutama dari usahatani
sayuran dataran tinggi. Pengelolaan lahan umumnya dengan agroteknologi yang
tidak sesuai dengan karakteristik tanah dan kebutuhan tanaman. Daerah aliran
sungai (DAS) Siulak di hulu DAS Merao merupakan salah satu sentra produksi
sayuran dataran tinggi (terutama kentang) di Kabupaten Kerinci dan petani
menanam sayuran tersebut dengan guludan searah lereng. Hal ini akan
meningkatkan erosi dan mempercepat degradasi lahan akibat penurunan
kualitas tanah dan pada gilirannya menyebabkan lahan kritis, terganggunya
fungsi hidrologis DAS dan usahatani tidak berkelanjutan.
Kajian mengenai usahatani konservasi untuk membangun model usahatani
sayuran berkelanjutan berbasis kentang merupakan suatu langkah strategis,
penting dan perlu segera dilakukan di DAS Siulak. Usahatani tersebut sekaligus
sebagai upaya mengatasi perambahan dan alih fungsi hutan, mengembangkan
potensi lahan dan wilayah sebagai sentra produksi sayuran terutama kentang,
serta menekan dampak usahatani di DAS Siulak terhadap fungsi hidrologis DAS
dan fungsi Danau Kerinci. Alternatif model usahatani sayuran berkelanjutan
berbasis kentang di DAS Siulak adalah model usahatani sayuran berbasis
kentang yang harus memenuhi kebutuhan hidup layak (KHL) petani, sekaligus
mengendalikan erosi hingga lebih kecil atau sama dengan erosi yang dapat
ditoleransikan (Etol) melalui penerapan agroteknologi spesifik lokasi, sehingga
dapat diterima dan dikembangkan petani sesuai dengan sumberdaya yang
dimiliki. Teknik konservasi tanah yang diintegrasikan di dalam model usahatani
sayuran berbasis kentang di DAS Siulak dikaji melalui percobaan erosi petak
kecil.
Oleh karena itu penelitian bertujuan untuk :
1) mengkaji dan
mendeskripsikan kondisi existing usahatani di DAS Siulak, 2) mengkaji alternatif
teknik konservasi tanah yang dapat mengendalikan erosi dan memberikan
produktivitas sayuran yang optimal di DAS Siulak, dan 3) merancang model
usahatani sayuran berkelanjutan berbasis kentang di DAS Siulak.
Penelitian menggunakan Metode Survei (Survei Tanah dan Petani) untuk
mengumpulkan data biofisik lahan, karakteristik petani dan agroteknologi melalui
pengamatan dan/atau pengukuran langsung di lapangan dan analisis contoh
tanah di laboratorium serta wawancara dengan responden petani; dan Metode
Eksperimen di lapangan (Percobaan Erosi Petak Kecil) untuk mengumpulkan
data erosi dan produktivitas tanaman dari beberapa teknik konservasi tanah
alternatif. Alternatif model usahatani sayuran berkelanjutan berbasis kentang di
DAS Siulak di formulasi menggunakan Metode USLE dan analisis optimalisasi
menggunakan Multiple Goal Programming.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan lahan pertanian sayuran
berbasis kentang di DAS Siulak sesuai dengan kemampuan lahan, namun
diprediksi terjadi erosi (39.25 - 229.14 ton/ha/tahun) lebih besar dari Etol (24.09 20.89 ton/ha/tahun), dan pendapatan usahatani (Rp 3 367 866 - Rp 20 529 788
per tahun) lebih kecil dari KHL (Rp 28 000 000/tahun) (kecuali dengan lahan

> 0.5 ha). Guludan tanaman memotong lereng, atau miring 150 terhadap lereng,
atau guludan memotong lereng + rorak setiap jarak 4.5 m pada pertanaman
sayuran searah lereng dapat sebagai alternatif untuk mengendalikan erosi
hingga lebih kecil dari erosi yang dapat ditoleransikan dan memberikan
pendapatan usahatani lebih besar dari kebutuhan untuk hidup layak.
Model usahatani sayuran berkelanjutan berbasis kentang di DAS Siulak
adalah dengan agroteknologi berdasarkan pola tanam petani dan perbaikan
teknik budidaya tanaman serta integrasi teknik konservasi tanah : a) guludan
tanaman memotong lereng + mulsa penahan air (sisa tanaman 3 ton/ha/tahun
atau mulsa plastik) untuk lahan dengan kemiringan lereng 7 %; b) guludan
memotong lereng + mulsa penahan air (sisa tanaman 6 ton/ha/tahun atau mulsa
plastik) pada pertanaman sayuran dengan guludan searah lereng untuk lahan
dengan kemiringan lereng 14 %; dan c) guludan memotong lereng + mulsa
penahan air (sisa tanaman 6 ton/ha/tahun atau mulsa plastik) + rorak (1 m x
0.3 m x 0.4 m) pada pertanaman sayuran dengan guludan searah lereng untuk
lahan dengan kemiringan lereng 20 %.
Semua pola tanam petani (kentang-kubis-kentang, kentang-kubis-tomat,
kentang-kubis-rumput/ semak, kentang-rumput/semak-tomat dan kentang-cabe)
dengan perbaikan teknik budidaya dan integrasi teknik konservasi tanah dapat
sebagai agroteknologi untuk model usahatani sayuran berkelanjutan berbasis
kentang di DAS Siulak dengan prediksi erosi 6.87 - 11.73, 9.06 - 15.47, 12.21 20.85, dan 10.06 - 17.19 ton/ha/tahun masing-masing pada lahan dengan
kemiringan lereng 3, 7, 14, dan 20 persen (lebih kecil dari Etol), dan pendapatan
usahatani Rp 37 428 962 - Rp 52 824 571 per tahun dengan lahan 0.44 ha, dan
Rp 41 371 864 - Rp 98 445 793 per tahun dengan lahan 0.82 ha (lebih besar dari
KHL, kecuali dengan pola tanam kentang-kubis-kentang dan kentang-kubisrumput/semak pada lahan dengan kemiringan lereng 14 dan 20 persen dan pola
tanam kentang-kubis-tomat dan kentang-rumput/semak-tomat pada lahan
dengan kemiringan lereng 20 %). Model usahatani sayuran berkelanjutan
berbasis kentang yang optimal adalah dengan pola tanam kentang-kubis-tomat
pada lahan minimal 0.44 ha dengan ketercapaian target penurunan erosi 36.37 17.60 persen dan peningkatan pendapatan usahatani 88.66 - 45.41 persen.
Integrasi usaha ternak kambing (8 ekor induk betina + 1 ekor pejantan) dan sapi
perah (4 ekor sapi laktasi) pada usahatani sayuran berbasis kentang dengan
model usahatani sayuran berbasis kentang yang optimal pada lahan 0.12 ha
dapat meningkatkan pendapatan petani hingga memenuhi KHL, masing-masing
Rp 30 864 202 - Rp 28 709 646 dan Rp 35 413 702 - Rp 33 259 146 per tahun.
Teknik guludan memotong lereng atau miring terhadap lereng dan mulsa plastik
telah mulai diterapkan petani di DAS Siulak pada usahatani kentang dan cabe.
Berdasarkan hasil penelitian, maka membangun sistem pertanian
berkelanjutan di DAS Siulak dapat melalui penerapan model usahatani sayuran
berbasis kentang dengan pola tanam kentang-kubis-tomat, bibit kentang
berkualitas, aplikasi kapur/pupuk sesuai karakteristik tanah dan kebutuhan
tanaman serta mengitegrasikan : a) guludan tanaman memotong lereng + mulsa
sisa tanaman 3 ton/ha/tahun atau mulsa plastik untuk lahan dengan kemiringan
lereng 7 %; b) guludan memotong lereng + mulsa sisa tanaman 6 ton/ha/tahun
atau mulsa plastik pada pertanaman dengan guludan searah lereng untuk lahan
dengan kemiringan lereng 14 %; dan c) guludan memotong lereng + mulsa sisa
tanaman 6 ton/ha/tahun atau mulsa plastik + rorak (1 m x 0.3 m x 0.4 m) pada
pertanaman dengan guludan searah lereng untuk lahan dengan kemiringan
lereng 20 %. Usaha ternak kambing (8 ekor induk betina dan 1 ekor pejantan)
dapat sebagai usaha tambahan bagi petani dengan lahan 0.12 ha (< 0.25 ha)
untuk meningkatkan pendapatan keluarga hingga memenuhi KHL.

©Hak Cipta milik IPB, tahun 2012
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
yang wajar IPB.
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis
dalam bentuk apapun tanpa izin IPB

PERENCANAAN USAHATANI SAYURAN BERKELANJUTAN
BERBASIS KENTANG DI DAS SIULAK
KABUPATEN KERINCI JAMBI

HENNY H

Disertasi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor
pada
Program Studi Ilmu Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

Penguji Ujian Tertutup
1. Dr. Ir. Ai Dariah
2. Dr. Ir. Enni Dwi Wahjunie, M.Si.
Penguji Ujian Terbuka
1. Prof. Dr. Ir. Munif Ghulamahdi, M.S.
2. Dr. Ir. Yayat Hidayat, M.Si.

Judul Disertasi

:

Perencanaan Usahatani Sayuran Berkelanjutan Berbasis
Kentang di DAS Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi

Nama

:

Henny H

NIM

:

A262050011

Disetujui
Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Kukuh Murtilaksono, M.S.
Ketua

Dr. Ir. Suria Darma Tarigan, M.Sc.
Anggota

Prof. Dr. Ir. Naik Sinukaban, M.Sc.
Anggota

Mengetahui
Ketua Program Studi
Ilmu Pengelolaan DAS

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Suria Darma Tarigan, M.Sc.

Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr.

Tanggal Ujian : 27 Januari 2012

Tanggal Lulus : ……...............

PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat ALLAH Subhanahuwata’ala
atas rahmat dan karunia-NYA sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan
disertasi ini. Tema penelitian yang dilaksanakan sejak November 2008 ini adalah
pengembangan usahatani tanaman hortikultura sayuran dataran tinggi, dengan
judul ”Perencanaan Usahatani Sayuran Berkelanjutan Berbasis Kentang di DAS
Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi”.
Terima kasih penulis ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyelesaian penelitian dan penulisan disertasi ini :
1.
Prof. Dr. Ir. Kukuh Murtilaksono, M.S. selaku Ketua Komisi Pembimbing,
Prof. Dr. Ir. Naik Sinukaban, M.Sc. dan Dr. Ir. Suria Darma Tarigan, M.Sc.
selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah banyak memberikan arahan
dan nasehat serta motivasi kepada penulis dalam penyelesaian kuliah,
penelitian dan penulisan disertasi ini.
2
Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Dekan Sekolah Pascasarjana IPB
atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk menempuh program
doktor di Program Studi Ilmu Pengelolaan DAS, Sekolah Pascasarjana IPB
dan telah memberikan pelayanan serta fasilitas hingga penyelesaian studi
3.
Rektor Universitas Jambi dan Dekan Fakultas Pertanian, Universitas Jambi
yang telah memberikan izin kepada penulis untuk mengikuti program doktor
di Program Studi Ilmu Pengelolaan DAS, Sekolah Pascasarjana, IPB
4.
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional
yang telah memberikan beasiswa BPPS kepada penulis untuk mengikuti
program doktor pada Program Studi Ilmu DAS, Sekolah Pascasarjana IPB
5.
Prof. Dr. Ir. Sitanala Arsyad, M.Sc., Prof. Dr. Ir. Naik Sinukaban, M.Sc. dan
Prof. Ir. Rosyid, M.Sc. atas rekomendasi untuk penulis dapat menempuh
program doktor di sekolah Pascasarjana IPB
6.
Dr. Ir. Ai Dariah dan Dr. Ir. Enni Dwi Wahjunie, M.Si. selaku penguji luar
komisi pada ujian tertutup atas masukan dalam penyempurnaan disertasi ini
7.
Bapak dan Ibu Dosen Pengasuh Mata Kuliah di Sekolah Pascasarjana, IPB
atas ilmu dan bimbingan yang telah diberikan serta seluruh karyawan atas
segala bantuan dan pelayanan
8.
Prof. Dr. Ir. R. A. Muthalib, M.S. selaku Ketua Lembaga Penelitian
Universitas Jambi atas bantuan untuk pelaksanaan penelitian
9.
Bapak dan Ibu penanggung jawab serta laboran di Laboratorium Ilmu
Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB atas segala
bantuan dan pelayanan
10. Bapak Kepala Desa dan warga Desa Kebun Baru, Desa Sungai Lintang
dan Desa Sako Dua, Kecamatan Kayu Aro, serta Bapak Camat Kecamatan
Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi atas segala bantuan,
pelayanan dan fasilitas yang diberikan selama penelitian
11. Bapak dan Ibu di Balai Pengelolaan DAS Batanghari, Dinas Kehutanan
Propinsi Jambi atas segala bantuan dalam persiapan penelitian.
12. Ir. Aswandi, M.Si. selaku Ketua Pusat Studi Pengelolaan DAS, Universitas
Jambi atas segala bantuan yang diberikan dalam persiapan penelitian
13. Bapak Mardianus dan Ibu Epi Martalinda, serta Bapak Budi sekeluarga di
Desa Kebun Baru, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci atas segala
bantuan dan fasilitas selama penelitian di lapangan
14. Sugino, S.P. di Pusat Studi Pengelolaan DAS, Universitas Jambi dan
Supriono S.P, yang telah membantu persiapan dan pelaksanaan penelitian
hingga penyelesaian disertasi ini, serta Dede Achdiat S.P dan Riko S.P
yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian di lapangan

15. Ir. Neliyati, M.Si., Dr. Ir. Lavlinesia, M.Si., Dr. Ir. Andi Masnang Makkasau,
M.Si., dan Dr. Sunarti, S.P, M.P. yang telah memberi bantuan, motivasi dan
fasilitas selama perkuliahan hingga penyelesaian disertasi ini
16. Keluarga besar Papa H. Saharuddin Nurut dan Mama Hj. Ratnawilis serta
Ir. Susi Hartina, M.Si. di Sungai Penuh, Kerinci atas bantuan, fasilitas dan
motivasi selama penelitian di lapangan
17. Dr. Ir. Agustian, M.Sc. dan Dr. Ir. Yunalfatmawita, M.Sc. selaku Ketua dan
Anggota Dewan Redaksi Jurnal Solum di Universitas Andalas Padang dan
Dr. Sunarti, S.P., M.P selaku Ketua Dewan Redaksi Jurnal Hidrolitan, MKTI
Cabang Jambi atas fasilitas publikasi yang diberikan
18. Bapak dan ibu serta teman-teman di Sekolah Pascasarjana IPB dan
Program Studi Ilmu Pengelolaan DAS khususnya yang telah memberikan
bantuan, motivasi dan kebersamaan selama perkuliahan hingga
penyelesaian disertasi ini
19. Orang tua tercinta, Papa H. Husni Said dan Mama Hj. Nurbaiyah, terima
kasih tak terhingga dan penghormatan yang sebesar-besarnya atas cinta,
kasih sayang dan doa yang tak pernah putus bagi kebahagiaan dan
keberhasilan penulis, serta kakak-kakak dan adik-adik tersayang
20. Kepada semua pihak yang telah membantu dan tidak tersebutkan
namanya, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
Semoga ALLAH SWT memberikan penghargaan dan balasan atas semua
kebaikan yang telah diberikan dan semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, Februari 2012
Henny H

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bukittinggi pada tanggal 9 Oktober 1962 sebagai anak
keempat dari pasangan H. Husni Said dan Hj. Nurbaiyah. Pendidikan sarjana
ditempuh di Departemen Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas,
Padang dan lulus pada tahun 1986. Pada tahun 1991 penulis diterima sebagai
mahasiswa Program Magíster Sains di Program Sudi Ilmu Tanah, Fakultas
Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) dan menamatkannya pada tahun 1995.
Kesempatan untuk melanjutkan ke Program Doktor pada Program Studi Ilmu
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) di Sekolah Pascasarjana IPB diperoleh
pada tahun 2005.

Beasiswa Pendidikan Pascasarjana diperoleh dari BPPS

Dirjen Pendidikan Tinggi.
Penulis bekerja sebagai Dosen di Fakultas Pertanian, Universitas Jambi
sejak tahun 1988 dengan bidang penelitian konservasi tanah.

DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perumusan Masalah
Kerangka Pemikiran
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Lingkup Penelitian

Halaman
viii
x
xi
1
1
4
6
8
9
9

TINJAUAN PUSTAKA
Pengelolaan DAS
Aliran Permukaan
Erosi dan Selektivitas Erosi
Usaha Pertanian di Hulu DAS dan Dampaknya
Andisol, Karakteristik dan Permasalahannya
Usahatani Kentang Dataran Tinggi
Sistem Pertanian Berkelanjutan
Indikator Sistem Pertanian Berkelanjutan
Program Tujuan Ganda

10
10
11
13
16
18
20
26
27
30

METODOLOGI PENELITIAN
Tempat dan Waktu
Bahan dan Alat
Metode Penelitian dan Pengumpulan Data
Pelaksanaan Penelitian dan Analisis Data

34
34
34
34
35

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN
Letak Geografis dan Iklim
Bentuk Wilayah dan Pengunaan Lahan
Jenis, Sifat Fisika dan Kimia Tanah
Kependudukan dan Mata Pencaharian

47
47
47
48
50

HASIL DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Kondisi Existing Usahatani di DAS Siulak
Efektivitas Beberapa Teknik Konservasi Tanah pada Pertanaman
Kentang dan Kubis
Alternatif Model Usahatani Sayuran Berkelanjutan Berbasis
Kentang di DAS Siulak

53
53

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Saran

86
86
87

DAFTAR PUSTAKA

88

LAMPIRAN

97

62
72

vii

DAFTAR TABEL
Halaman
1

2

3

4
5
6
7

8

9

10

11

12

13

Perkiraan pengurangan areal tanam sebagai dampak dari aplikas
teknik konservasi tanah pada lahan sayuran

24

Jenis, sumber dan kegunaan data untuk perencanaan usahatani
sayuran berkelanjutan berbasis kentang di DAS Siulak,
Kabupaten Kerinci, Jambi

35

Topografi, luas dan penyebaran SLP pada lahan usahatani
campuran di DAS Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi

37

Sifat fisika dan kimia tanah pada lahan pertanian sayuran
berbasis kentang di DAS Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi

49

Sebaran jumlah penduduk desa pada tahun 2009 di DAS Siulak,
Kabupaten Kerinci, Jambi

51

Sebaran responden petani berdasarkan luas kepemilikan lahan di
DAS Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi

56

Rata-rata skala luas lahan usahatani, hasil dan pendapatan serta
kelayakan finansial usahatani kentang, kubis, cabe dan tomat
oleh petani di DAS Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi

58

Pendapatan dan kelayakan usahatani sayuran dengan pola
tanam berbasis kentang oleh petani di DAS Siulak, Kabupaten
Kerinci, Jambi

60

Kemiringan lereng, kelas kemampuan lahan, agroteknologi,
produktivitas, prediksi erosi dan pendapatan usahatani dengan
pola tanam sayuran berbasis kentang oleh petani di DAS Siulak,
Kabupaten Kerinci, Jambi

61

Pengaruh teknik KTA terhadap aliran permukaan dan erosi pada
pertanaman kentang dan kubis pada Andisol Desa Kebun Baru di
DAS Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi

62

Pengaruh teknik KTA terhadap kapasitas infiltrasi pada
pertanaman kentang dan kubis pada Andisol Desa Kebun Baru di
DAS Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi

63

Pengaruh teknik KTA terhadap jumlah C-organik, N-total, P dan K
terbawa erosi pada pertanaman kentang dan kubis pada Andisol
Desa Kebun Baru di DAS Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi

65

Pengaruh teknik KTA terhadap kehilangan C-organik dan hara N,
P dan K setara pupuk kandang ayam, Urea, SP-36 dan KCl*)
pada 2 MT kentang dan 1 MT kubis pada Andisol Desa Kebun
Baru di DAS Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi

67

viii

14

15

16

17

18

19

20

21

Pengaruh teknik KTA terhadap populasi dan persentase tanaman
kentang yang mati pada Andisol Desa Kebun Baru di DAS Siulak,
Kabupaten Kerinci, Jambi

70

Pengaruh teknik KTA terhadap hasil kentang pada Andisol Desa
Kebun Baru di DAS Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi

71

Pengaruh teknik KTA terhadap produktivitas dan sisa tanaman
pada Andisol Desa Kebun Baru di DAS Siulak, Kabupaten
Kerinci, Jambi

71

Pengaruh teknik KTA terhadap total aliran permukaan, erosi dan
pendapatan serta BCR dan RCR pada 2 MT kentang dan 1 MT
kubis pada Andisol Desa Kebun Baru di DAS Siulak, Kabupaten
Kerinci, Jambi

72

Deskripsi agroteknologi alternatif dalam model usahatani sayuran
berkelanjutan berbasis kentang di DAS Siulak, Kabupaten
Kerinci, Jambi

74

Prediksi erosi, pendapatan, nilai BCR dan RCR usahatani dengan
agroteknologi alternatif pada lahan 0.12, 0.44 dan 0.82 hektar
dengan kemiringan lereng 3, 7, 14 dan 20 persen di DAS Siulak,
Kabupaten Kerinci, Jambi

78

Ketercapaian target penurunan erosi dan peningkatan
pendapatan dengan Agroteknologi B pada lahan 0.44 ha di DAS
Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi

79

Pendapatan petani dengan Agroteknologi B pada lahan 0.12 ha
dengan integrasi usaha ternak kambing dan usaha ternak sapi
perah di DAS Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi

82

ix

DAFTAR GAMBAR
1

2
3

4
5
6

7

8

9

10

11

12

13

Halaman
Kerangka pemikiran perencanaan usahatani sayuran berkelanjutan
berbasis kentang di DAS Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi
8
Diagram alir perencanaan usahatani sayuran berkelanjutan
berbasis kentang di DAS Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi

36

Curah hujan dan hari hujan bulanan di DAS Siulak, Kecamatan
Kayu Aro, Kabupaten Kerinci dari data Stasiun Klimatologi Kayu
Aro tahun 2000 - 2008

47

Sistem guludan tanaman sayuran searah lereng oleh petani di DAS
Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi

52

Prediksi erosi pada lahan pertanian campuran dengan pola tanam
sayuran berbasis kentang di DAS Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi

54

Sebaran responden petani berdasarkan komoditas dan pola tanam
yang dominan diusahakan petani di DAS Siulak, Kabupaten Kerinci,
Jambi

57

Pengaruh teknik KTA terhadap aliran permukaan (a) dan erosi (b)
pada 2 MT kentang dan 1 MT kubis pada Andisol Desa Kebun Baru
di DAS Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi

64

Pengaruh teknik KTA terhadap kehilangan C-organik dan hara N, P
dan K pada 2 MT kentang dan 1 MT kubis pada Andisol Desa
Kebun Baru di DAS Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi

66

Pengaruh teknik KTA terhadap intensitas serangan Phytophthora
sp dan Fusarium sp dan kadar air tanah pada pertanaman kentang
MT-1 pada Andisol Desa Kebun Baru di DAS Siulak, Kabupaten
Kerinci, Jambi

69

Pengaruh teknik KTA terhadap intensitas serangan Phytophthora
sp dan Fusarium sp dan kadar air tanah pada pertanaman kentang
MT-2 pada Andisol Desa Kebun Baru di DAS Siulak, Kabupaten
Kerinci, Jambi

69

Guludan tanaman kentang memotong lereng + mulsa plastik oleh
petani (Ketua KTNA Kabupaten Kerinci) di Desa Kebun Baru, hulu
DAS Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi

84

Guludan tanaman kentang memotong lereng tanpa mulsa plastik
oleh petani (Ketua KTNA Kabupaten Kerinci) di Desa Kebun Baru
di hHulu DAS Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi

84

Guludan tanaman cabe memotong lereng + mulsa plastik oleh
petani (Ketua KTNA Kabupaten Kerinci) di Desa Kebun Baru di
hHulu DAS Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi

85

x

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Kondisi air Sungai Siulak dan Outlet DAS Siulak di Kabupaten
Kerinci, Jambi

97

Lokasi penelitian DAS Siulak (hulu DAS Merao) di Kecamatan
Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi

98

Peta kemiringan lereng DAS Siulak (hulu DAS Merao) di
Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi

99

Peta penggunaan lahan DAS Siulak (hulu DAS Merao) di
Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi

100

Peta jenis tanah DAS Siulak (hulu DAS Merao) di Kecamatan
Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi

101

Peta satuan lahan pengamatan (SLP) di DAS Siulak (hulu DAS
Merao) di Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Propinsi
Jambi

102

Kriteria untuk Klasifikasi Kemampuan Lahan berdasarkan Sistem
Klasifikasi Kemampuan Lahan

103

Kriteria kesesuaian lahan untuk kentang, kubis, cabe dan tomat

105

Data curah hujan tahun 2000-2008 di DAS Siulak, Kecamatan
Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi

109

Data temperatur dan kelembaban udara 2000-2008 DAS Siulak di
Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi

110

11

Nilai faktor pengelolaan tanaman (C) dalam persamaan USLE

111

12

Faktor teknik konservasi tanah (P) dan CP dalam persamaan
USLE

113

Kode struktur tanah dan permeabilitas profil tanah untuk
menentukan nilai faktor erodibilitas tanah dalam USLE

114

Kedalaman tanah minimum yang dapat diterima dan nilai faktor
penggunaan lahan dari beberapa jenis tanaman/penggunaan
lahan

114

Perlakuan teknik konservasi tanah dalam percobaan erosi petak
kecil pada Andisol Desa Kebun Baru, Kabupaten Kerinci, Jambi

116

Petak percobaan dengan bak penampung aliran permukaan dan
erosi dalam percobaan petak kecil di Desa Kebun Baru,
Kabupaten Kerinci, Jambi

117

1

2
3
4
5

6

7
8
9
10

13
14

15
16

xi

17

Kelas kemampuan dan kesesuaian lahan pertanian campuran di
DAS Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi untuk tanaman kentang,
kubis, cabe dan tomat

118

Prediksi erosi pada lahan usahatani sayuran dengan beberapa
pola tanam berbasis kentang di DAS Siulak, Kecamatan Kayu
Aro, Kabupaten Kerinci

119

Sarana produksi, hama dan penyakit tanaman serta
pengendaliannya pada usahatani kentang, kubis, cabe dan tomat
oleh petani di DAS Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi

120

Data curah hujan selama percobaan di Desa Kebun Baru, hulu
DAS Merao di Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Jambi

121

Aliran permukaan, erosi, produksi, biaya, pendapatan, BCR dan
RCR serta BEP usahatani kentang dan kubis dengan beberapa
sistem guludan pada Andisol Desa Kebun Baru di hulu DAS
Merao, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Jambi

122

Hasil analisis alternatif agroteknologi yang optimal untuk model
usahatani sayuran berkelanjutan berbasis kentang di DAS Siulak,
Kabupaten Kerinci, Jambi menggunakan Program Tujuan Ganda

123

23

Analisis usaha ternak kambing dan ternak sapi perah

128

24

Sifat kimia dan fisika tanah sebelum perlakuan pada percobaan
petak kecil di Andisol Desa Kebun Baru Kecamatan Kayu Aro,
Kabupaten Kerinci, Jambi

129

18

19

20

21

22

xii

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Hulu daerah aliran sungai (DAS) memiliki potensi strategis sebagai
kawasan pertanian produktif dalam pembangunan pertanian nasional dan telah
lama dimanfaatkan oleh petani setempat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
dan menopang ekonomi keluarga. Selain memberikan manfaat bagi petani, hulu
DAS juga berperan penting dalam menjaga fungsi lingkungan DAS dan
penyangga daerah di bawahnya. Namun lahan di hulu DAS umumnya peka
terhadap erosi dan degradasi lahan terutama bila pemanfaatannya tidak sesuai
dengan kaidah konservasi tanah dan air (KTA), karena merupakan lahan kering
yang sebagian besar berada pada topografi berombak, bergelombang hingga
berbukit dan bergunung dengan curah hujan umumnya tinggi.
Erosi menyebabkan kemunduran sifat fisika dan kimia tanah seperti
kehilangan unsur hara dan bahan organik, meningkatnya kepadatan tanah,
menurunnya kapasitas infiltrasi dan kemampuan tanah menahan air. Kondisi ini
akan menyebabkan menurunnya produktivitas tanah dan pengisian air tanah
yang pada gilirannya menyebabkan lahan kritis, kekeringan di musim kemarau
dan banjir di musim hujan. Kondisi tersebut merupakan permasalahan utama
pada sejumlah DAS di Indonesia yang menunjukkan telah rusaknya fungsi
hidrologis DAS, dan berarti kualitas DAS telah menurun hingga menjadi DAS
kritis dan prioritas untuk ditangani.

Pada tahun 2004 sejumlah 65 DAS di

Indonesia dikategorikan sebagai DAS Prioritas I atau Super Kritis (Ditjen
Sumberdaya Air 2004) dan pada tahun 2007 tercatat 26 773 245 ha lahan kritis
di luar kawasan hutan dan 51 033 636 ha di dalam kawasan hutan (Anwar 2007).
Daerah aliran sungai Siulak di hulu DAS Merao berada di dataran tinggi
vulkan Gunung Kerinci dan bagian dari daerah tangkapan Danau Kerinci di
Kabupaten Kerinci, termasuk zona barat (daerah atas/hulu) di dalam Rencana
Tata Ruang Wilayah (RTRW) Propinsi Jambi dan berfungsi sebagai penyangga
stabilitas ekosistem wilayah tengah dan bawah. Danau Kerinci yang merupakan
muara dari outlet DAS Merao dan 9 DAS lainnya mempunyai arti penting
terutama sebagai sumber air irigasi dan pemutar turbin Pembangkit Listrik
Tenaga Air (PLTA), pengembangan perikanan air tawar dan kawasan wisata air
(BP DAS Batanghari 2003).
Penggunaan lahan di hulu DAS Merao terdiri dari hutan, kebun teh dan
kayumanis, pertanian campuran dan pemukiman. Hutan di DAS Merao termasuk

kawasan lindung Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) (BP DAS Batanghari
2003). Namun sebagian kawasan TNKS telah terganggu oleh perambahan dan
perladangan yang masih berlangsung hingga saat ini. Lebih dari 200 000 ha
hutan hujan tropis TNKS telah habis akibat perambahan liar dan salah satu
kawasan paling marak adalah di hulu DAS Merao (Munir 2009).

Sedikitnya

25 619 ha lahan TNKS telah dijadikan areal perladangan dan usahatani sayuran
oleh sekitar 8 600 KK dari berbagai daerah di Kabupaten Kerinci (Sitepu 2010).
Perambahan paling marak terjadi di Kecamatan Kayu Aro yaitu seluas 5 900 ha
di kawasan sekitar kaki Gunung Kerinci yang meliputi Desa Kebun Baru, Desa
Gunung Labu, Desa Lempur, Desa Giri Mulyo dan Desa Rawa Ladeh Panjang.
Rusaknya hutan di kawasan ini meningkatkan erosi dan berdampak pada
kerusakan DAS, sungai dan danau karena sedimen akan masuk ke Sungai
Batang Siulak, kemudian ke Sungai Batang Merao dan selanjutnya bermuara ke
Danau Kerinci (Munir 2009).
Diprediksi 41.04 % lahan pertanian dan kawasan lindung yang telah dibuka
dan diusahakan di DAS Merao tererosi dengan tingkat bahaya erosi sedang
hingga sangat berat yakni 27 - 480 ton/ha/tahun, lebih besar dari erosi yang
dapat ditoleransikan (Etol, 11.25 - 41.6 ton/ha/tahun). Kemudian Debit Sungai
Batang Merao makin fluktuatif sejak tahun 2000 dan diprediksi rata-rata laju
sedimen ke Danau Kerinci 2 676 095.48 ton/tahun (BP DAS Batanghari 2003).
Saat ini Danau Kerinci merupakan salah satu dari 15 danau kritis di Indonesia
dengan kerusakan 40 - 50 persen hingga menjadi prioritas utama untuk
penanganan oleh Kementerian Lingkungan Hidup, dengan indikator kekritisan
adalah penurunan kapasitas air danau akibat pencemaran oleh sampah dan
tinggginya sedimentasi (Micom 2011).
Perambahan dan alih fungsi hutan TNKS menjadi lahan pertanian oleh
masyarakat di hulu DAS Merao merupakan indikasi tingginya ketergantungan
masyarakat terhadap lahan. Hal ini terkait dengan sumber utama pendapatan
sebagian besar masyarakat di hulu DAS Merao adalah usaha pertanian,
terutama usahatani sayuran dataran tinggi.

Intensitas pemanfaatan lahan

meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk dan kebutuhan
masyarakat,

sehingga

perubahan

kualitas

lahan

terutama

produktivitas tanah akibat erosi juga akan makin meningkat.

penurunan

Disamping itu

pengelolaan lahan oleh petani di hulu DAS Merao umumnya tidak sesuai dengan
karakteristik lahan, terutama petani melakukan usahatani sayuran (termasuk

2

kentang) dengan guludan tanaman searah lereng. Hal ini terutama terjadi di
Kecamatan Kayu Aro yang merupakan sentra produksi sayuran dataran tinggi di
Kabupaten Kerinci dan sudah mulai meluas ke lahan dengan kemiringan lebih
dari 40 % (BP DAS Batanghari 2003). Guludan tanaman searah lereng akan
mempercepat dan meningkatkan erosi yang berarti mempercepat degradasi
lahan akibat penurunan kualitas dan produktivitas tanah, dan pada gilirannya
menyebabkan lahan kritis dan usahatani tidak berkelanjutan.

Tahun 2006

tercatat 9 470.6 ha lahan kritis di Kecamatan Kayu Aro (19.32 % dari total luas
wilayah kecamatan) (Distanbun Kabupaten Kerinci 2007).
Kentang sebagai high value commodity dan sayuran unggulan nasional
(Saptana et al. 2005), juga merupakan komoditas hortikultura sayuran unggulan
Kabupaten Kerinci (Bappeda Kabupaten Kerinci 2004) dan secara nasional
Propinsi Jambi merupakan salah satu wilayah utama pengembangan kentang
dengan wilayah andalan Kabupaten Kerinci (Sumarno 2000).

Jambi,

Palembang, Lampung, Batam, Bengkulu, Jakarta, Singapura dan Malaysia
merupakan pasar sayuran asal Kabupaten Kerinci (Distanbun Kabupaten Kerinci
2006). Areal utama usahatani kentang dan sayuran lainnya di Kabupaten Kerinci
saat ini tersebar pada beberapa desa di Kecamatan Kayu Aro dan Kecamatan
Gunung Tujuh (pemekaran dari Kecamatan Kayu Aro sejak tahun 2006) (Dinas
Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Kerinci 2008).
Pengembangan usahatani kentang di Kabupaten Kerinci umumnya dan
Kecamatan Kayu Aro khususnya didukung oleh adanya Balai Benih Induk
Kentang (BBIK) di Desa Batang Sangir, Kecamatan Kayu Aro sejak tahun 2002
dan kebijakan pengembangan areal tanam dengan membuka lahan tidur oleh
pemerintah kabupaten sejak tahun 2003 (Edi 2004). Luas tanam dan luas panen
kentang di Kecamatan Kayu Aro pada tahun 2008 masing-masing 1 561 ha dan
1 581 ha dengan produksi 33 991 ton (50.47 % dari total produksi kentang
Kabupaten Kerinci). Namun pada tahun 2009 luas tanam kentang di Kecamatan
Kayu Aro berkurang menjadi 873 ha dan luas panen menjadi 930 ha dengan
produksi 25 110 ton (36.40 % dari total produksi kentang Kabupaten Kerinci)
(Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Kerinci 2009, 2010). Areal
usahatani kentang tersebar pada 23 dari 29 desa di Kecamatan Kayu Aro. Desa
Kebun Baru dan Desa Sungai Lintang yang berada dalam DAS Siulak
merupakan bagian dari areal utama usahatani kentang di Kecamatan Kayu Aro
(Edi et al. 2003; Adri et al. 2006).

3

Perumusan Masalah
Sumber utama pendapatan sebagian besar masyarakat di DAS Siulak
adalah dari usahatani sayuran dataran tinggi.

Petani umumnya menanam

kentang sebagai tanaman utama pada setiap musim tanam (April - Mei dan
September - Oktober) pada luas lahan 0.2 - 2.0 ha (rata-rata 0.83 ha), namun
kontinuitas produksi tidak ditopang oleh teknik budidaya yang dianjurkan (Sinaga
2005) dan upaya konservasi tanah. Penanaman sayuran (termasuk kentang)
dengan guludan searah lereng (BP DAS Batanghari 2003), tidak menggunakan
bibit kentang berkualitas, pemupukan tidak berimbang dan penggunaan pestisida
berlebihan (tidak sesuai anjuran) (Adri et al. 2006; Edi 2004; Nugroho et al. 2004;
Edi et al. 2003). Produktivitas kentang di Desa Kebun Baru 13.34 ton/ha (Edi
et al. 2003), 19.31 ton/ha menurut Nugroho et al. (2004), dan di Desa Sungai
Lintang 13.1 ton/ha (Adri et al. 2006). Dengan demikian dapat dinyatakan ratarata produktivitas kentang di DAS Siulak 15.25 ton/ha dan masih dalam rentang
rata-rata produktivitas kentang di Indonesia (10 - 40 ton/ha), namun lebih rendah
dibandingkan potensi yang dapat diperoleh (30 ton/ha) (Sunarjono 2007).
Rendahnya produktivitas kentang di DAS Siulak diduga disebabkan oleh
ketidaksesuaian agroteknologi dengan karakteristik tanah dan kebutuhan
tanaman terutama guludan tanaman searah lereng (BP DAS Batanghari 2003),
sehingga mempercepat proses erosi dan meningkatkan kehilangan topsoil yang
umumnya lebih subur dan pada gilirannya menurunkan produktivitas tanah. Data
erosi khusus pada lahan usahatani sayuran di hulu DAS Merao belum tersedia.
Namun indikasi terjadinya erosi pada lahan sayuran di DAS Siulak dapat dilihat
dari hasil pengamatan di lapangan (musim hujan, November 2008) yang
menunjukkan bahwa kondisi air Sungai Siulak keruh dan berwarna coklat
(indikasi tingginya kandungan sedimen) (Lampiran 1).

Diprediksi erosi pada

lahan pertanian campuran di hulu DAS Merao 60 - 180 ton/ha/tahun, lebih besar
dari Etol yang hanya 22.5 - 41.6 ton/ha/tahun (BP DAS Batanghari 2003).
Penggunaan bibit yang tidak berkualitas diduga juga penyebab rendahnya
produktivitas kentang di DAS Siulak. Beberapa hasil penelitian menunjukkan
bahwa petani di DAS Siulak (terutama di Desa Kebun Baru dan Desa Sungai
Lintang) menggunakan bibit hasil panen sendiri terus menerus (tidak jelas lagi
asal usulnya). Hal ini akan menyebabkan penurunan produktivitas dan kualitas
hasil panen dari pertanaman pertama ke pertanaman berikutnya (bibit telah
mengalami degenerasi) (Adri et al. 2006; Nugroho et al. 2004; Edi et al. 2003).

4

Rendahnya produktivitas kentang di DAS Siulak diduga juga akibat
tinggginya serangan penyakit terutama penyakit busuk daun dan batang oleh
Phytophthora sp, akibat penggunaan bibit yang telah terserang patogen tersebut
dan dipicu oleh kondisi cuaca di dataran tinggi yang umumnya bersuhu rendah
dan kelembaban tinggi. Patogen tersebut saat bibit di lapangan masih dalam
masa inkubasi dan jika disimpan untuk musim tanam berikutnya, maka jamur ini
akan berkembang di tempat penyimpanan (Purwantisari et al. 2008; Sunarjono
2007) dan selanjutnya menyebabkan berkembangnya penyakit tersebut pada
pertanaman berikutnya, dapat menurunkan produktivitas kentang hingga 90 %
(Purwantisari et al. 2008). Kondisi ini juga yang memicu petani menggunakan
pupuk dan pestisida berlebihan untuk memperoleh hasil yang optimal (Adri et al.
2006; Nugroho et al. 2004; Edi et al. 2003). Penggunaan pupuk dan pestisida
berlebihan akan meningkatkan biaya usahatani dan mengurangi pendapatan
serta potensial meningkatkan pencemaran tanah, air sungai dan danau. Data
BPS Kabupaten Kerinci (2009) menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan
masyarakat yang sebagian besar hidup dari sektor pertanian tersebut
Rp 1 024 841 per bulan.

Rendahnya pendapatan masyarakat (diduga tidak

dapat memenuhi kebutuhannya untuk hidup layak) juga dapat disebabkan oleh
keterbatasan lahan milik atau garapan. Hal ini ditunjukkan oleh berlangsungnya
perambahan dan alih fungsi hutan TNKS di hulu DAS menjadi areal perladangan
dan usahatani sayuran oleh sebagian masyarakat hingga saat ini.
Uraian di atas menunjukkan bahwa permasalahan usahatani di DAS Siulak
adalah : 1) guludan tanaman sayuran termasuk kentang searah lereng, dan
agroteknologi lainnya tidak sesuai dengan karakteristik tanah dan kebutuhan
tanaman untuk produktivitas optimal;

2) prediksi erosi pada lahan pertanian

campuran lebih besar dari erosi yang dapat ditoleransikan;

dan 3) rata-rata

produktivitas kentang dan pendapatan masyarakat masih tergolong rendah,
diduga lebih rendah dari pendapatan untuk pemenuhan kebutuhan hidup layak.
Kondisi ini menunjukkan bahwa di DAS Siulak telah dan sedang berlangsung
proses saling memiskinkan antara lahan dengan petani, dan menurut Sinukaban
(1999) merupakan kondisi yang umum di jumpai di hulu DAS.
Kerangka Pemikiran
Pendapatan petani atau produktivitas tanaman yang cukup tinggi akan
membuat petani bergairah atau termotivasi untuk meneruskan usahataninya dan
meningkatkan produktivitas. Sebaliknya jika pendapatan petani dari usahatani

5

tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup layak (KHL), maka cepat atau
lambat petani akan mencari usahatani lain atau mengganti usaha untuk dapat
memenuhi

kebutuhannya

tersebut

(Sinukaban

2007).

Produktivitas

dan

pendapatan yang tinggi dapat diperoleh melalui pemilihan jenis usahatani atau
komoditas dan agroteknologi yang sesuai dengan karakteristik lahan dan petani.
Pemilihan komoditas dan pengelolaan lahan yang tepat dapat meningkatkan
pendapatan, sehingga petani mempunyai modal yang cukup untuk memenuhi
kebutuhannya dan dapat melakukan kegiatan investasi termasuk agroteknologi
untuk meningkatkan produktivitas atau kualitas lahan (Adnyana 1999).
Agroteknologi merupakan suatu teknologi inovatif yang dirancang untuk
mencapai produksi pertanian yang lebih efisien dan menguntungkan (Parker
2002). Namun Sinukaban (1989) mengemukakan bahwa tidak ada agroteknologi
yang memungkinkan tanaman dapat tumbuh baik dan tidak ada teknik
konservasi tanah yang dapat mengendalikan erosi, jika kondisi tanahnya tidak
cocok untuk usaha pertanian yang dilakukan. Penggunaan tanah yang tepat
(cocok)

adalah

menggunakan

setiap

bidang

lahan

sesuai

dengan

kemampuannya untuk menjamin produktivitas yang lestari dan menguntungkan,
dan merupakan langkah pertama dalam menuju sistem budidaya tanaman yang
baik dan program konservasi tanah yang berhasil.
Berdasarkan karakteristik lahan dan persyaratan tumbuh tanaman sayuran
terutama kentang, maka teknik konservasi tanah pada usahatani sayuran bersifat
spesifik. Selain harus efektif mengendalikan aliran permukaan dan erosi, teknik
konservasi tanah yang diaplikasikan juga harus dapat menciptakan kondisi
drainase yang baik karena tanaman sayuran umumnya sangat sensitif terhadap
penyakit bila drainase tanah buruk, dan merupakan penyempurnaan atau
modifikasi sistem yang biasa dilakukan petani (Dariah dan Husen 2004). Oleh
karena itu perlu dikaji teknik KTA yang dapat diterima petani sayuran dataran
tinggi terutama kentang yang sesuai dengan agroekosistem setempat tanpa
mengabaikan kebiasaan petani, dan erosi dapat dikendalikan hingga batas yang
dapat ditoleransikan dan tidak menurunkan hasil (Kurnia et al. 2004).
Berdasarkan pemikiran di atas, maka permasalahan usahatani di DAS
Siulak diatasi dengan membangun model usahatani sayuran berkelanjutan yang
indikatornya pendapatan petani dapat memenuhi KHL, sekaligus mengendalikan
erosi hingga lebih kecil atau sama dengan Etol melalui penerapan agroteknologi
spesifik lokasi, sehingga dapat diterima dan diterapkan petani sesuai dengan

6

sumberdaya yang dimiliki.

Indikator tersebut sesuai dengan konsep sistem

pertanian konservasi (SPK) yang merupakan aplikasi paradigma pembangunan
pertanian berkelanjutan dengan tiga pilar atau dimensi keberlanjutan.
Sistem

pertanian

konservasi

merupakan

sistem

pertanian

yang

mengintegrasikan teknik konservasi tanah ke dalam sistem pertanian yang telah
ada dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani
sekaligus menekan erosi, sehingga sistem pertanian tersebut dapat berlanjut
secara terus menerus. Sistem pertanian konservasi dicirikan oleh : 1) produksi
pertanian dan pendapatan cukup tinggi, 2) agroteknologi yang diterapkan dapat
diterima dan diterapkan petani sesuai dengan kemampuannya secara terus
menerus, 3) komoditi yang diusahakan sesuai dengan kondisi biofisik daerah,
diterima petani dan laku di pasar, dan 4) erosi minimal sehingga produktivitas
lahan dapat terpelihara secara berkesinambungan (Sinukaban 2007).
Berdasarkan definisi dan ciri-ciri SPK, maka langkah-langkah yang harus
dilakukan untuk membangun usahatani sayuran berkelanjutan atau memperbaiki
usahatani sayuran yang sedang berjalan melalui konsep SPK adalah
inventarisasi keadaan biofisik lahan dan sosial ekonomi petani serta pengaruh
luar seperti pasar atau prospek pemasaran hasil.

Selanjutnya membangun

usahatani berkelanjutan berbasis komoditi unggulan daerah akan lebih
menguntungkan, karena sejalan dengan arah kebijakan pembangunan daerah.
Oleh karena itu membangun model usahatani sayuran berkelanjutan berbasis
kentang di DAS Siulak merupakan langkah strategis, penting dan perlu segera
dilakukan.

Penerapan

dan

pengembangan

model

usahatani

sayuran

berkelanjutan tersebut dapat diharapkan sekaligus sebagai upaya untuk
mengatasi atau mengurangi perambahan dan alih fungsi hutan TNKS,
mengembangkan potensi lahan dan wilayah sebagai sentra produksi sayuran,
serta menekan dampak usahatani di DAS Siulak terhadap fungsi hidrologis DAS
dan fungsi Danau Kerinci.
Berlandaskan

pemikiran di

atas,

maka

model

usahatani

sayuran

berkelanjutan berbasis kentang di DAS Siulak dirancang melalui suatu kajian
komprehensif yang mengintegrasikan aspek biofisik lahan, sosial-ekonomi petani
dan agroteknologi berdasarkan kondisi existing usahatani di DAS Siulak dan
alternatif teknik KTA spesifik lokasi dari percobaan erosi petak kecil (Gambar 1).
Pemilihan agroteknologi optimal yang dapat mengendalikan erosi hingga batas
Etol sekaligus memberikan pendapatan petani yang dapat memenuhi KHL

7

sesuai dengan sumberdaya yang dimiliki petani mennnggunakan metode sistem
yaitu multiple goal programming (analisis sistem multikriteria).

Multiple goal

programming atau program tujuan ganda merupakan salah satu metode yang
dapat digunakan untuk pengambilan keputusan yang mengakomodasi lebih dari
satu tujuan secara simultan (Mulyono 1991; Nasendi dan Anwar 1985).

DAS Siulak
Salah satu sentra produksi kentang di Kabupaten Kerinci
Produktivitas kentang (15.25 ton/ha) dan
pendapatan petani (Rp 1 024 841/bulan) rendah
Erosi (60 - 180 ton/ha/tahun) > Etol (22.5 - 41.6 ton/ha/tahun)

Karakteritik lahan,
petani dan agroteknologi

Teknik KTA untuk
usahatani sayuran

Sistem Pertanian Konservasi

Komoditi
unggulan, laku
dipasar

Agroteknologi
acceptable dan
replicable

Produktivitas usahatani dan pendapatan
petani > KHL

Erosi
mimimal
(< Etol)

Usahatani Sayuran Berkelanjutan
Berbasis Kentang

Gambar 1 Kerangka pemikiran perencanaan usahatani sayuran berkelanjutan
berbasis kentang di DAS Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi

Tujuan Penelitian
Penelitian bertujuan untuk :

1) mengkaji dan mendeskripsikan kondisi

existing usahatani di DAS Siulak, 2) mengkaji alternatif teknik konservasi tanah
yang dapat mengendalikan erosi dan memberikan produktivitas sayuran yang
optimal di DAS Siulak, dan 3) merancang model usahatani sayuran berkelanjutan
berbasis kentang di DAS Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi.

8

Manfaat Penelitian
Secara umum hasil penelitian diharapkan bermanfaat sebagai bahan
pertimbangan

dalam

perencanaan

pengembangan

usahatani

sayuran

berkelanjutan dan pelestarian sumberdaya di DAS Siulak, Kabupaten Kerinci,
Jambi serta memperbaiki dan memelihara fungsi hidrologis DAS dan Danau
Kerinci. Secara spesifik hasil penelitian diharapkan bermanfaat : 1) sebagai
pertimbangan bagi petani atau pengguna lahan di DAS Siulak untuk
meningkatkan

produktivitas

usahatani

sayuran

dan

pendapatan

secara

berkelanjutan, 2) sebagai tambahan referensi dalam perencanaan program
pengelolaan lahan dan DAS berkelanjutan, dan 3) bagi pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya kajian mengenai pengelolaan
lahan dan pertanian berkelanjutan di hulu DAS
Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian mencakup kajian : a) kondisi existing usahatani (biofisik lahan,
petani, agroteknologi), b) alternatif teknik konservasi tanah untuk usahatani
sayuran yang dapat mengendalikan erosi dan memberikan produktivitas yang
optimal, dan c) alternatif model usahatani sayuran berkelanjutan berbasis
kentang di DAS Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi.
Novelty Penelitian
Novelty atau kebaruan penelitian adalah metode penyusunan alternatif
model usahatani sayuran berkelanjutan berbasis kentang di DAS Siulak,
Kabupaten Kerinci, Jambi yang menggunakan variabel pendapatan petani harus
sama atau lebih besar dari kebutuhan hidup layak (pendapatan petani > KHL)
yang terdiri atas kebutuhan fisik minimal dan kebutuhan hidup tambahan
(pendidikan dan sosial, kesehatan dan rekreasi, asuransi dan tabungan), sebagai
indikator keberlanjutan dimensi ekonomi.

9

TINJAUAN PUSTAKA
Pengelolaan DAS
Daerah aliran sungai (DAS) didefinisikan sebagai suatu hamparan wilayah
yang dibatasi oleh pemisah alam (punggung bukit) yang menerima dan
mengumpulkan air hujan, sedimen dan unsur hara serta mengalirkannya melalui
sungai utama dan keluar pada satu titik outlet (Kartodihardjo et al. 2004).
Pengertian fundamental DAS meliputi satu unit sistem alamiah yang terbentuk
melalui proses input dan output yang di dalamnya terdapat beberapa subsistem
(biofisik, sosial, ekonomi, kelembagaan) untuk tujuan fungsi perlindungan dan
fungsi produksi (Pasaribu 1998).
Definisi dan pengertian fundamental DAS menunjukkan bahwa DAS terdiri
dari wilayah yang lebih tinggi (hulu) dan wilayah yang lebih rendah (hilir). Hulu
DAS merupakan bagian penting karena mempunyai fungsi perlindungan
terhadap keseluruhan DAS, terutama fungsi tata air dan mempunyai keterkaitan
biogeofisik dengan bagian hilir (Asdak 2002). Definisi DAS juga menunjukkan
bahwa input dari suatu DAS adalah air hujan dan komponen outputnya terdiri dari
debit aliran, muatan sedimen termasuk unsur hara di dalamnya, polusi, produksi
dan kesejahteraan; sedangkan komponen utama DAS seperti vegetasi, tanah
dan air/sungai berperan sebagai processor. Setiap ada input pada DAS, maka
proses yang telah dan sedang berlangsung dapat dievaluasi melalui output dari
sistem DAS tersebut (Kartodihardjo et al

Dokumen yang terkait

Perencanaan usahatani sayuran berkelanjutan berbasis kentang di DAS Siulak, kabupaten Kerinci, Jambi