Evaluation of Complete Ration Containing Mung Bean Sprouts Waste in Various Form of Feed on Sheep

EVALUASI RANSUM KOMPLIT YANG MENGANDUNG
LIMBAH TAOGE KACANG HIJAU DALAM BERBAGAI
BENTUK PAKAN PADA TERNAK DOMBA

NUR AFNI META FURNIATI

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

IPB 2012

NUR AFNI META FURNIATI

D152080061

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Evaluasi Ransum Komplit yang
Mengandung Limbah Taoge Kacang Hijau dalam Berbagai Bentuk Pakan pada
Ternak Domba adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan
belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber
informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak
diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam
Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Juni 2012

Nur Afni Meta Furniati
D152080061

ABSTRACT
NUR AFNI META FURNIATI. Evaluation of Complete Ration Containing Mung
Bean Sprouts Waste in Various Form of Feed on Sheep. Under direction of YULI
RETNANI and DWIERRA EVVYERNIE AMIRROENAS.
Mung bean sprouts waste is a waste of vegetables that are available in
traditional market everyday. Using of fresh mung bean sprouts waste had several
problems i.e., perishable and bulky. Its couse mung bean sprouts waste could not
be stored for long periods and had large space for storage. The aim of this study
was to assess the mung bean sprouts waste utilized in sheep ration. This study
used complete ration that consisted of nature grass, mung bean sprouts waste,
pollard, copra meal, molasses and urea. The study was divided into two
experiments, first experiment was to assessment the nutritional quality of
complete rations in vivo used sheeps. A complete randomized design with four
various form of complete ration and three sheeps as replication in each of
treatment was used in this experiment. Complete rations were given in fresh
condition (R1), mash form (R2), pellet form (R3) and wafer form (R4). The
parameters observed were feed consumption, body weight gain, feed efficiency,
digestibility of dry matter and organic matter. The result of this study showed that
digestibility of dry matter and organic matter do not significant differences. Feed
consumption of sheeps fed by complete ration in pellet form (R3) was higher
(P<0,05) than sheeps fed by fresh condition (R1) and mash form(R2). Body
weight gain and feed efficiency of sheeps fed by complete ration in pellet form
(R3) was higher (P<0,05) than other form. Second experiment was studied the
effect of storage time in various physical forms. A completely randomized
factorial design with 3 form of complete ration (mash, pellet and wafer) and 3
long time storage (0, 1 and 2 month) with three replications was used in this
experiment. The observed variables include observations of moisture content,
water activity and insect attack. The result of this study showed that moisture
content had interaction (P<0,05) between form of complete ration and time of
storage. Complete ration that storage for two month had water activity higher
(P<0,05) than 0 and 1 month of storage. Insect attack to complete ration in pellet
form that storage in one month was higher than other form in two month and same
long time storage. Complete ration containing mung bean sprouts waste in pellet
form that stored in one month had water content, water activity and insect attack
can be tolerance. Feed consumption, body weigh gain, feed efficiency of complete
ration containing mung bean sprouts waste in pellet form was higest.
Key word: mung bean sprouts waste, mash, pellet, wafer, sheep

RINGKASAN
NUR AFNI META FURNIATI. Evaluasi Ransum Komplit yang Mengandung
Limbah Taoge Kacang Hijau dalam Berbagai Bentuk Pakan pada Ternak Domba.
Dibimbing oleh YULI RETNANI dan DWIERRA EVVYERNIE AMIRROENAS
Peningkatan permintaan daging domba konsumsi harus diikuti dengan
peningkatan kualitas pakan yang diberikan pada ternak domba tersebut. Pakan
yang memiliki nilai nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan domba akan membantu
pencapaian hasil produksi yang optimal. Harga bahan pakan yang murah juga
perlu diperhatikan agar biaya produksi dalam pemeliharaan domba dapat
seminimal mungkin. Limbah taoge kacang hijau merupakan sampah pasar yang
sudah tidak dimanfaatkan lagi oleh manusia untuk dikonsumsi. Limbah taoge
kacang hijau ini bisa dimanfaatkan karena masih memiliki kandungan nutrisi yang
berguna bagi ternak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji penggunaan
ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau pada domba dan
lama penyimpanannya dalam berbagai bentuk pakan yaitu mash, pelet dan wafer.
Penelitian ini dibagi dalam dua tahap penelitian, yaitu tahap pertama
mengkaji kualitas nutrisi ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang
hijau pada ternak domba dan tahap kedua mempelajari pengaruh lama
penyimpanan ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau dalam
berbagai bentuk pakan. Tahap pertama menggunakan 12 ekor domba jantan lokal
yang sedang dalam masa pertumbuhan dengan bobot badan awal 10,10 -14,10 kg.
Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL)
dengan 4 perlakuan bentuk pakan dan 3 ulangan berupa ternak. Ransum komplit
yang diberikan mengandung limbah taoge kacang hijau dalam bentuk segar (R1),
mash (R2), pelet (R3) dan wafer (R4). Peubah yang diamati adalah konsumsi
bahan kering, kecernaan bahan kering dan bahan organik, pertambahan bobot
badan dan efisiensi penggunaan ransum. Penelitian tahap kedua menggunakan
rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial dengan 3 bentuk pakan (mash, pelet
dan wafer) dan 3 jenis lama penyimpanan (0,1 dan 2 bulan) dengan 3 ulangan.
Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dan
apabila terdapat perbedaan antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Duncan.
Hasil penelitian tahap pertama menunjukkan bahwa konsumsi bahan kering
tertinggi ditunjukkan oleh domba yang mengkonsumsi pelet (R3). Konsumsi
bahan kering dalam bentuk segar (R1) lebih rendah (P<0,05) dibandingkan
dengan konsumsi bahan kering pakan berbentuk pelet (R3) dan wafer (R4) namun
tidak berbeda nyata dengan konsumsi bahan kering pakan berbentuk mash (R2).
Ransum yang diberikan dalam bentuk segar (R1) memiliki nilai kecernaan bahan
kering yang paling tinggi sedangkan yang terendah diperlihatkan oleh domba
yang mendapatkan pakan berbentuk pelet (R3), tidak ada perbedaan yang nyata
antar perlakuan. Setiap bentuk pakan memberikan respon yang sama terhadap
kecernaan bahan kering. Kecernaan bahan organik juga tidak berbeda nyata antar
perlakuan.
Pertambahan bobot badan harian domba yang mengkonsumsi ransum
komplit berbentuk pelet (R3) nyata lebih tinggi (p<0,05) dibandingkan dengan
ransum segar (R1) dan ransum berbentuk mash (R2) namun tidak berbeda nyata
dengan ransum berbentuk wafer (R4). Ransum berbentuk mash (R2) memiliki

pertambahan bobot badan harian paling rendah namun tidak berbeda nyata dengan
ransum berbentuk segar (R1). Efisiensi penggunaan ransum yang tertinggi dicapai
oleh ternak yang mendapat ransum komplit berbentuk pelet (R3) dengan nilai
sebesar 17,13% diikuti oleh ransum komplit berbentuk wafer (R4) yaitu 15,74%
dan ransum komplit berbentuk segar (R1) yaitu 15,06% dan ketiganya tidak
berbeda nyata. Ransum komplit berbentuk mash (R1) memiliki nilai efisiensi
penggunaan ransum lebih rendah (P<0,05) dibandingkan bentuk lainnya. Ransum
berbentuk pelet, wafer dan segar berturut-turut nyata lebih efisien (P<0,05) dalam
memanfaatkan pakan menjadi daging dibandingkan dengan domba yang
mengkonsumsi ransum komplit berbentuk mash (R2). Ransum komplit berbentuk
pelet (R3) menunjukkan konsumsi bahan kering, pertambahan bobot badan harian
dan efisiensi penggunaan pakan tertinggi dibandingkan dengan ransum komplit
bentuk lain.
Hasil penelitian tahap kedua menyatakan bahwa terjadi interaksi (P<0,01)
antara bentuk pakan dan lama penyimpanan terhadap kadar air. Ransum komplit
berbentuk wafer pada lama penyimpanan 0 bulan memiliki kadar air yang paling
rendah namun tidak berbeda nyata dengan ransum komplit berbentuk mash pada
lama penyimpanan 0 bulan. Ransum komplit berbentuk pelet pada lama
penyimpanan 0 dan 1 bulan tidak mengalami peningkatan kadar air yang nyata.
Nilai aktivitas air ransum komplit dua bulan mengalami peningkatan (P<0,05)
dibandingkan dengan lama penyimpanan satu bulan. Jumlah serangga pada
ransum komplit berbentuk mash pada lama penyimpanan dua bulan menyebabkan
terjadinya peningkatan jumlah serangga menjadi tingkat serangan berat (7 ekor
per kg bahan). Ransum komplit berbentuk pelet dengan lama peyimpanan satu
bulan memiliki tingkat serangan serangga kategori ringan, yaitu satu ekor per kg
ransum. Semakin lama penyimpanan menyebabkan terjadinya peningkatan kadar
air ransum penelitian, peningkatan aktivitas air yang tergambar dari pertumbuhan
kapang dan peningkatan jumlah seranggga. Ransum komplit mengandung limbah
taoge kacang hijau berbentuk pelet yang disimpan selama satu bulan memiliki
kadar air, aktivitas air dan jumlah serangga yang masih dapat ditolerir.
Kesimpulan dari kedua tahap penelitian adalah ransum komplit yang
mengandung limbah taoge kacang hijau berbentuk pelet memiliki tingkat
konsumsi bahan kering, pertambahan bobot badan dan efisiensi penggunaan
ransum yang lebih tinggi dibandingkan ransum komplit bentuk lainnya dan
ransum komplit berbentuk pelet dengan lama penyimpanan satu bulan
menunjukkan kualitas yang terbaik karena memiliki kadar air dan aktivitas air
rendah (tidak menunjukkan terjadinya pertumbuhan kapang) dan jumlah serangga
satu ekor per kilogram ransum (kategori serangan serangga ringan).
Kata kunci : limbah taoge kacang hijau, mash, pelet, wafer, domba.

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2012
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik dan
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
yang wajar IPB
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis
dalam bentuk apapun tanpa izin IPB

EVALUASI RANSUM KOMPLIT YANG MENGANDUNG
LIMBAH TAOGE KACANG HIJAU DALAM BERBAGAI
BENTUK PAKAN PADA TERNAK DOMBA

NUR AFNI META FURNIATI

Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains pada
Program Studi Ilmu Nutrisi dan Pakan

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis : Dr. Despal, S.Pt., M.Sc.Agr.

HALAMAN PENGESAHAN
Judul Tesis

:

Nama
NRP

:
:

Evaluasi Ransum Komplit yang Mengandung Limbah
Taoge Kacang Hijau dalam Berbagai Bentuk Pakan pada
Ternak Domba
Nur Afni Meta Furniati
D152080061

Disetujui
Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Yuli Retnani, M.Sc
Ketua

Dr. Ir. Dwierra Evvyernie A., MS., M.Sc
Anggota

Diketahui
Ketua Departemen
Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan

Dekan Sekolah Pascasarjana IPB

Dr. Ir. Idat Galih Permana, M.Sc.Agr

Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr

Tanggal Ujian: 12 Juni 2012

Tanggal Lulus:

PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala
karuniaNya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih
dalam penelitian ini adalah Evaluasi Ransum Komplit yang Mengandung Limbah
Taoge Kacang Hijau dalam Berbagai Bentuk Pakan pada Ternak Domba.
Penelitian ini dilaksanakan sejak bulan Juni 2011 sampai Maret 2012 di Dramaga
Bogor.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr. Ir. Yuli Retnani, M.Sc dan Dr. Ir.
Dwierra Evvyernie Amirroenas, MS., M.Sc selaku ketua dan anggota komisi
pembimbing atas waktu dan kesabaran yang diberikan selama proses penyelesaian
tugas akhir ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan untuk Dr. Despal,
S.Pt., M.Sc.Agr selaku penguji luar komisi pada ujian sidang tesis atas segala
saran yang diberikan demi kesempurnaan tesis ini. Ungkapan terima kasih penulis
kepada Dr. Ir Idat Galih Permana, M.Sc.Agr selaku Ketua Departemen Ilmu
Nutrisi dan Teknologi Pakan, Dr. Ir. Dwierra Evvyernie Amirroenas, MS. M.Sc
selaku Koordinator PS/mayor Ilmu Nutrisi dan Pakan (INP) dan seluruh staf
dosen Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Ungkapan terima kasih yang tulus kepada Ayahanda H. Furzal dan Ibunda
Hj. Hosniati, kedua adikku (Daud dan Fitri), suami tercinta Muhtar S.Pt dan
jagoan kami Akhdan Lathif Assyuja’i, bapak dan ibu mertua, om dan tante di
Depok atas segala doa, kasih sayang, dukungan, semangat dan kebersamaan yang
diberikan selama ini. Terimakasih juga kepada Bu Suci, Bu Tiur, Mbak Lina dan
Mbak Ruri atas kebersamaannya selama perkuliahan diprogram studi INP
angkatan 2008. Kak Adelina, Uni Simel Sowmen, Kak Yenni, Uni Dwi Sisriyeni,
Bu Irma, Mbak Anis, Sofi, Rovan, Febri serta rekan-rekan di Himpunan
mahasiswa muslim pascasarjana (HIMMPAS) dan dewan mahasiswa pascasarjana
IPB atas segala bantuan, kebersamaan dan motivasi yang selalu mengiringi dan
mengantarkan penulis pada penyelesaian perkuliahan ini.
Terima kasih juga penulis sampaikan untuk Mas Supri dan Bu ade atas
segala kemurahan hati dan bantuan terkait administrasi selama masa studi. Terima
kasih juga untuk sepupuku, Tia dan Putri, Pak Ateng, Pak Hadi, Mas Wardi,
Mbak Anis dan Mbak Dian atas bantuan selama penelitian dan juga untuk seluruh
keluarga besar di Bukittinggi, Depok dan Cirebon.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Juni 2012

Nur Afni Meta Furniati

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bukittinggi pada tanggal 3 Desember 1982 dari
pasangan Bapak H. Furzal dan Ibu Hj. Hosniati. Penulis adalah putri pertama dari
tiga bersaudara dan adik kandung bernama Daud Maulindo,S.Sos dan Fitri
Wahyuni, S.Si. Penulis telah menikah dengan Muhtar, S.Pt pada tanggal 25
September 2010 dan diamanahi seorang anak yang berumur 9 bulan bernama
Akhdan Lathif Assyuja’i.
Pendidikan SD penulis tempuh di SDN 01 Benteng Pasar Atas, Bukittinggi.
Tahun 1995 penulis melanjutkan sekolah ke MTsN 1 Bukittinggi dan lulus pada
tahun 1998. Penulis kemudian melanjutkan pendidikan ke SMU Negeri 2
Bukittinggi. Tahun 2001 penulis menyelesaikan masa studi tingkat SMU dan pada
tahun yang sama penulis diterima sebagai mahasiswa Jurusan Produksi Ternak,
Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Pendidikan sarjana penulis
selesaikan pada tahun 2006. Tahun 2008 penulis diterima di Sekolah Pascasarjana
Program Studi Ilmu Nutrisi dan Pakan IPB.
Selama mengikuti program S2, penulis aktif sebagai pengurus pada
Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana (HIMMPAS) dan Dewan Perwakilan
Mahasiswa Pascasarjana IPB (DEMA PASCASARJANA) periode 2009-2010.

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ……………………………………………………………. xiii
DAFTAR GAMBAR …………………………………………………………. xiv
DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………………….

xv

PENDAHULUAN …………………………………………………………….

1

Latar Belakang …………………………………………………….......
Tujuan .............................................................................................. …..

1
2

TINJAUAN PUSTAKA………………………………………………..…….
Limbah Taoge Kacang Hijau .................................................................
Bentuk-Bentuk Pakan ............................................................................
Mash ................................................................................................
Pelet ………………………………..…………………………….
Wafer ...............................................................................................
Penyimpanan Pakan ………………………………………………......
Evaluasi Kualitas Nutrisi Pakan pada Domba …………........................
Domba …………………………………………….......................
Konsumsi Ransum……………………………… ...........................
Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik ………..……........
Pertambahan Bobot Badan Harian …………………………….....
Efisiensi Penggunaan Ransum ………………………………......

3
3
4
4
5
7
8
11
11
12
12
13
13

MATERI DAN METODE .................................................................................. 14
Evaluasi Kualitas Nutrisi Ransum Komplit Mengandung Kulit
Kecambah Kacang Hijau pada Ternak Domba ……………….............
Waktu dan Lokasi Penelitian …………………………….........…
Materi Penelitian ………………………………....………………
Rancangan Percobaan ……………………………… .....................
Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Sifat Fisik Ransum Komplit
Mengandung Kulit Kecambah Kacang Hijau dalam Berbagai Bentuk
Pakan ...………………………………...……………………………...
Lokasi Penelitian …………………………………………….… ....
Prosedur Pengerjaan ……………………………………….……..
Kadar Air …………………………………….........................
Aktivitas Air …………………………………........................
Serangan Serangga ...................................................................
Rancangan Percobaan …………………………………………... ..

14
14
14
17

18
18 3.2.2 Materi Pe
19
20
20
20
21

HASIL PENELITIAN ……………………………………………………….

22

Evaluasi Kualitas Nutrisi Ransum Komplit Mengandung Kulit
Kecambah Kacang Hijau pada Ternak Domba …..…………..............

22

Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Sifat Fisik Ransum Komplit
Mengandung
Kulit
Kecambah
Kacang
Hijau
dalam
Berbagai Bentuk Pakan ……………………………………………….

24

PEMBAHASAN ………….………………………………………………..…. 29
Evaluasi Kualitas Nutrisi Ransum Komplit Mengandung Kulit
Kecambah Kacang Hijau pada Ternak Domba …..…...………............

29

Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Sifat Fisik Ransum Komplit
Mengandung
Kulit
Kecambah
Kacang
Hijau
dalam
Berbagai Bentuk Pakan …………………………………………….…

32

KESIMPULAN DAN SARAN ……………………………………………….

35

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………… 36
LAMPIRAN ……………………………………………..…………………... 39

xii

DAFTAR TABEL
Halaman
1

Komposisi nutrisi bahan pakan penyusun ransum komplit ....................

15

2

Susunan ransum komplit dan kandungan nutrisinya .............................

16

3

Performa domba yang mengkonsumsi ransum komplit mengandung
limbah taoge kacang hijau .....................................................................

4

Kadar air ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang
hijau selama penyimpanan (%) ...............................................................

5

6

23

26

Aktivitas air (Aw) ransum komplit mengandung limbah taoge kacang
hijau selama penyimpanan .....................................................................

27

Jumlah serangan serangga selama penyimpanan (ekor) ........................

27

DAFTAR GAMBAR
Halaman
1

Limbah taoge kacang hijau dari salah seorang pengrajin taoge di pasar
raya bogor ..............................................................................................

4

2

Ternak dan kandang percobaan...............................................................

14

3

Penimbangan bobot badan domba dan Pengumpulan feses domba .......

15

4

Diagram alur pengolahan bahan pakan penelitian. ................................

29

5

Ransum komplit dalam berbagai bentuk pakan ....................................

25

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1

Analisis sidik ragam konsumsi bahan kering..........................................

40

2

Analisis sidik ragam pertambahan bobot badan harian ..........................

40

3

Analisis sidik ragam efisiensi penggunaan ransum ................................

40

4

Analisis sidik ragam kecernaan bahan kering .........................................

40

5

Analisis sidik ragam kecernaan bahan organik .......................................

40

6

Analisis sidik ragam kadar air ransum komplit .....................................

40

7

Uji lanjut Duncan kadar air ransum komplit ..........................................

41

8

Analisis sidik ragam aktivitas air ransum komplit .................................

41

9

Limbah taoge kacang hijau .....................................................................

41

10 Penyimpanan ransum komplit ................................................................

42

11 Ransum komplit berbentuk pelet lama penyimpanan 2 bulan ................

42

12 Ransum komplit berbentuk wafer lama penyimpanan 2 bulan ...............

42

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Domba merupakan ternak yang banyak dipelihara oleh masyarakat
Indonesia. Sistem pemeliharan domba masih dilakukan secara tradisional dengan
pemberian pakan hanya berupa rumput lapang, dan sedikit sekali bahkan sama
sekali tidak disediakan pakan penguat. Penggunaan rumput lapang ini karena
ketersediaannya yang cukup mudah diperoleh disekitar peternakan.
Ternak yang dipelihara hendaknya mendapatkan pakan dengan kualitas
maupun kuantitas baik. Pakan berkualitas baik adalah pakan yang memiliki
kandungan nutrisi sesuai dengan yang dibutuhkan oleh ternak untuk memenuhi
kebutuhan hidup pokok yang tekait dengan aktifitas tubuh, metabolisme,
pengaturan suhu tubuh, pencernaan, dan bernafas serta untuk kebutuhan
berproduksi. Pakan dengan kuantitas baik maksudnya adalah pakan dengan
ketersediaan yang kontinyu sehingga dapat mencegah terjadinya fluktuasi
produksi dan agar tidak terjadi kesulitan penyediaan pakan sepanjang tahun.
Pemberian ransum yang berkualitas baik diharapkan dapat meningkatkan bobot
badan ternak sehingga pertumbuhan ternak dapat berlangsung secara optimal.
Indonesia merupakan negara tropis dimana ketersediaan hijauan termasuk
rumput lapang sangat variatif. Ketersediaan hijauan akan sangat berlimpah pada
musim hujan dan menipis pada musim kemarau. Pemberian konsentrat pada
ternak dapat melengkapi kebutuhan nutrisi domba, namun harga konsentrat yang
relatif mahal membuat peternak kesulitan untuk menyediakannya. Oleh karena itu
perlu dilakukan upaya mencari pakan alternatif yang potensial, murah dan mudah
diperoleh.
Limbah sayuran pasar merupakan salah satu alternatif yang dapat
dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Limbah pasar merupakan sisa sayuran yang
tidak terjual ataupun hasil penyiangan sayuran yang tidak dimanfaatkan lagi oleh
manusia. Limbah sayuran pasar dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak karena
telah dibuang oleh pedagang sayuran. Salah satu limbah sayuran pasar yang dapat
dimanfaatkan sebagai pakan ternak adalah limbah taoge kacang hijau. Limbah
taoge kacang hijau ini merupakan bagian dari taoge kacang hijau yang berwarna

2

hijau dan tidak dimanfaatkan sebagai sayuran oleh manusia sehingga berpotensi
mencemari lingkungan apabila tidak mendapat penanganan yang tepat.
Pemanfaatan limbah taoge kacang hijau dalam bentuk segar memiliki
beberapa kendala antara lain sifat bahan yang mudah busuk yang membuat limbah
ini tidak dapat disimpan dalam waktu lama. Sifat voluminous (bulky) pada limbah
ini juga menjadi kendala karena membutuhkan ruang yang luas untuk
penyimpanannya.
Pengolahan limbah taoge diharapkan dapat lebih mendayagunakan dan
meningkatkan nilai manfaat dari limbah tersebut sebagai pakan ternak serta
memungkinkan untuk disimpan dalam beberapa waktu sebagai stok persediaan
pakan ternak. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai
pemanfaatan limbah taoge kacang hijau sebagai bahan pakan dan lama
penyimpanannya dalam bentuk mash, pelet dan wafer sebagai bahan pakan dalam
ransum domba. Diharapkan pula peternak dapat menggunakan ransum tersebut
sebagai bahan pakan pengganti rumput pada pada masa paceklik (kemarau).
Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji penggunaan ransum
komplit mengandung limbah taoge kacang hijau dan lama penyimpanannya dalam
berbagai bentuk pakan yaitu mash, pelet dan wafer pada ternak domba.

3

TINJAUAN PUSTAKA
Limbah Taoge Kacang Hijau
Taoge adalah hasil perkecambahan dari kacang-kacangan seperti kacang
hijau dan kedelai. Limbah adalah sisa dari suatu produk yang sudah tidak
dimanfaatkan lagi oleh manusia. Limbah taoge kacang hijau terdiri dari kulit
taoge kacang hijau (berwarna hijau) dan pecahan-pecahan taoge kacang hijau
(berwarna putih) yang dipisahkan oleh pengrajin taoge untuk mendapatkan taoge
konsumsi yang akan dijual. Proses pemisahan taoge konsumsi dengan kulit taoge
ini ada dua cara yaitu dengan cara pencucian dan pengayakan. Proses pencucian
biasanya akan menyebabkan kulit taoge mengapung. Limbah taoge ini dapat kita
jumpai disekitar pabrik taoge dan biasanya limbah taoge yang didapat memiliki
kadar air yang relatif lebih tinggi. Cara kedua adalah dengan pengayakan, dan
biasanya proses ini dilakukan di pasar. Pedagang akan melakukan pengayan untuk
memisahkan taoge dengan kulitnya. Kulit taoge dan beberapa pecahan akar taoge
akan dibuang pedagang karena tidak dijual sehingga menjadi sampah pasar.
Limbah taoge yang dihasilkan pada proses ini cendrung memiliki kandungan air
yang lebih rendah. Limbah taoge kacang hijau yang digunakan pada penelitian ini
adalah yang diperoleh di pasar.
Penanganan yang tepat perlu dilakukan pada limbah taoge ini. Apabila
tidak ditangani dengan baik maka akan menjadi sampah pasar dan berpotensi
mencemari lingkungan. Limbah taoge kacang hijau memiliki potensi yang bagus
untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak mengingat produksi taoge kacang hijau
sebagai sayuran yang tidak mengenal musim. Selama masyarakat masih
mengkonsumsi taoge maka sepanjang itulah limbah taoge akan dihasilkan.
Limbah taoge kacang hijau merupakan salah satu limbah organik pasar yang
sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Pengeringan dengan
menggunakan sinar matahari hanya membutuhkan waktu rata-rata 2 hari, dengan
kadar air 65-70% (Saenab 2010).
Retnani et al. (2010) menyatakan bahwa domba ekor gemuk jantan yang
diberi wafer yang mengandung 50% rumput lapang dan 50% limbah sayuran
pasar dapat meningkatkan konsumsi bahan kering sebesar 19 % dan pertambahan
bobot badan harian sebesar 24 % (137,30 ± 6,92 gr/ekor/hari) dibandingkan

4

perlakuan yang tidak mengkonsumsi wafer limbah sayuran pasar. Hasil survey
Rahayu et al. (2010) di Kotamadya Bogor menunjukkan bahwa potensi limbah
taoge dari segi kuantitatif adalah sebesar 1,5 ton/hari. Hal ini mengindikasikan
bahwa limbah sayuran pasar dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak.

Gambar 1 Limbah Taoge Kacang Hijau dari salah seorang
pengrajin taoge di Pasar Raya Bogor
Bentuk-bentuk Pakan
Limbah taoge kacang hijau dalam bentuk segar memiliki beberapa kendala
untuk dimanfaatkan pada ternak. Kondisi segar yang memiliki kandungan air
cukup tinggi membuat limbah taoge kacang hijau ini tidak dapat disimpan lama
sehingga perlu dilakukan pengolahan agar dapat dimanfaatkan untuk ternak.
Pengolahan menjadi berbagai macam bentuk pakan yang tepat perlu dilakukan
untuk menjaga kandungan nutrisi dan dapat dimanfaatkan oleh ternak secara
sempurna. Tujuan lainnya adalah agar ransum komplit yang mengandung limbah
taoge kacang hijua dapat disimpan dalam jangka waktu tertentu sehingga dapat
diberikan pada ternak pada musim paceklik rumput. Beberapa pengolahan bentuk
ransum antara lain menjadi bentuk mash (tepung), pelet dan wafer.
Mash
Ransum komplit berbentuk mash yaitu ransum yang telah mengalami proses
penggilingan sehingga menjadi ukuran partikel yang kecil (tepung). Ransum
berbentuk mash harganya relatif lebih murah dibandingkan pakan bentuk olahan
lainnya karena tidak ada penambahan biaya untuk proses produksi lebih lanjut,
misalnya pencetakan pakan mash menjadi bentuk pelet atau wafer. Kelemahan
pakan berbentuk mash adalah mudah tercecer dan berdebu.

5

Pelet
Pelet adalah bentuk bahan makanan atau makanan yang dibentuk dengan
menekan dan memadatkannya melalui lubang cetakan secara mekanis (Hartadi et
al. 1997). Beberapa tahapan dalam pembuatan pelet diuraikan seperti berikut ini.
a. Pengolahan Pendahuluan
Ditujukan untuk pemecahan dan pemisahan bahan-bahan pencemar atau
kotoran dari bahan yang akan digunakan. Bahan pakan digiling hingga menjadi
bentuk tepung dan kemudian dilakukan pencampuran bahan pakan kedalam
formulasi ransum yang diinginkan juga dilakukan pada tahap ini.
b. Pencetakan.
Setelah semua bahan baku tercampur secara homogen, langkah selanjutnya
adalah mencetak campuran tadi menjadi bentuk pelet. Banyak jenis mesin yang
dapat digunakan, mulai mesin sederhana hingga mesin yang biasa digunakan pada
industri pakan. Mesin pencetakan sederhana bisa merupakan hasil modifikasi
gillingan daging yang diberi penggerak berupa motor listrik atau motor bakar.
Sistem kerja mesin cetak sederhana adalah dengan mendorong bahan pakan
campuran didalam sebuah tabung besi atau baja dengan menggunakan ulir (screw)
menuju cetakan (die) berupa pelat berbentuk lingkaran dengan lubang-lubang
berdiameter 2-3 mm, sehingga pakan akan keluar dari cetakan tersebut dalam
bentuk pelet. Kelemahan sistem ini adalah diperlukan tambahan air sebanyak 1020% kedalam campuran pakan, sehingga diperlukan pengeringan setelah
pencetakan tersebut. Penambahan air dimaksudkan untuk membuat campuran atau
adonan pakan menjadi lunak, sehingga bisa keluar melalui cetakan. Jika
dipaksakan tanpa menambahkan air ke dalam campuran, mesin akan macet.
Disamping itu, pelet yang keluar dari mesin pencetak biasanya kurang padat.
Proses condisioning juga terjadi dalam proses pembuatan pelet, dimana
campuran bahan pakan dipanaskan dengan air dengan tujuan untuk gelatinisasi.
Tujuan gelatinisasi yaitu agar terjadi pencetakan antar partikel bahan penyusun
sehingga penampakan pelet kompak, tekstur dan kekerasannya bagus. Gelatinisasi
merupakan rangkaian proses yang dimulai dari imbibisi air, pembengkakan
granula sampai granula pecah. Pecahnya granula pati disebabkan karena

6

pemanasan melebihi batas pengembangan granula. Penguapan dalam proses
pembuatan pakan berbentuk pelet bertujuan agar pakan menjadi steril, terbebas
dari kuman atau bibit penyakit serta menjadikan pati dari bahan baku yang ada
sebagai perekat. Penguapan dilakukan dengan bantuan steam boiler yang uapnya
diarahkan ke dalam campuran pakan. Penguapan dengan suhu terlalu tinggi dalam
waktu yang lama akan merusak atau setidaknya mengurangi kandungan beberapa
nutrisi dalam pakan, khususnya vitamin dan asam amino. Beberapa mesin cetak
pelet berkapasitas sedang dan besar mempunyai fasilitas penguapan ini. Jadi,
penguapan atau steaming tidak dilakukan pada saat pencampuran, tetapi pada saat
pencetakan.
c.

Pengeringan

Pengeringan pada intinya adalah mengeluarkan kandungan air di dalam pakan
menjadi kurang dari 14%. Proses pengeringan perlu dilakukan apabila pencetakan
dilakukan dengan mesin sederhana. Jika pencetakan dilakukan dengan mesin pelet
sistem kering, cukup dikering-anginkan saja hingga uap panasnya hilang,
sehingga pelet menjadi kering dan tidak mudah berubah kembali ke bentuk
tepung.
Proses pengeringan bisa dilakukan dengan penjemuran dibawah terik
matahari atau menggunakan mesin. Keduanya memiliki kelebihan dan
kekurangan. Penjemuran secara alami tentu sangat tergantung kepada cuaca,
higienitas atau kebersihan pakan harus dijaga dengan baik, jangan sampai
tercemar debu, kotoran dan gangguan hewan atau unggas yang dikhawatirkan
akan membawa bibit penyakit. Mesin pengering yang umum digunakan sangat
beragam, diantaranya oven pengering. Dalam oven pengering, pelet basah
disimpan dalam baki dan oven dipanaskan dengan bantuan kompor minyak tanah,
batu bara atau bahan bakar lainnya. Penyimpanan pelet dalam baki tidak boleh
terlalu tebal, supaya dihasilkan pengeringan yang merata dan harus sering dibalik
supaya tidak gosong. Yang perlu diperhatikan apabila menggunakan alat
pengering adalah suhu pemanasan tidak boleh lebih dari 800C. Pemanasan dengan
suhu yang terlalu tinggi akan merusak kandungan nutrisi pakan, serta membuat
pakan menjadi terlalu keras.

7

Wafer
Wafer ransum komplit merupakan suatu bentuk pakan yang memiliki
bentuk fisik kompak dan ringkas sehingga diharapkan dapat memudahkan dalam
hal penanganan dan transportasi, disamping itu memiliki kandungan nutrisi yang
lengkap dan menggunakan teknologi yang relatif sederhana sehingga mudah
diterapkan dan ekonomis (Trisyulianti 2003). Prinsip pembuatan wafer mengikuti
prinsip pembuatan papan partikel yang mengalami proses pemadatan dengan
tekanan dan pemanasan dalam suhu tertentu selama waktu yang tertentu pula.
Proses pembuatan wafer memerlukan perekat yang mempu mengikat
partikel-partikel bahan sehingga akan menghasilkan wafer yang kompak dan
padat sesuai dengan densitas yang diinginkan. Sutigno (1994) menyatakan bahwa
perekat adalah suatu bahan yang dapat menahan dua buah benda berdasarkan
ikatan permukaan. Ikatan permukaan tersebut bisa terjadi karena (a) masuknya
cairan perekat kedalam pori benda yang direkat kemudian mengeras (perekatan
mekanis) dan (b) gaya tarik menarik antar perekat dengan molekul benda yang
direkat (perekatan spesifik). Keberhasilan proses perekatan dipengaruhi oleh tiga
faktor yaitu bahan yang direkat, perekat dan kondisi pengempaan.
Bahan perekat yang biasa digunakan dalam pengolahan bahan makanan
ternak yang biasa digunakan antara lain adalah pati, terigu, tepung gaplek dan
molasses. Alat kempa panas merupakan alat yang digunakan dalam proses
pembuatan wafer. Jayusmar (2002) melaporkan bahwa metode pembuatan wafer
pada suhu pengempaan 120°C, tekanan 12 kg/cm2 dan dalam waktu pengempaan
10 menit akan menghasilkan wafer dengan penampilan menarik, susunan kompak
dan padat tetapi mudah hancur jika terkena air atau mudah hancur saat terkena
saliva ternak.
Keuntungan wafer menurut Trisyulianti (1998) adalah : (1) kualitas nutrisi
lengkap, (2) bahan baku bukan hanya dari hijauan makanan ternak seperti rumput
dan legum, tetapi juga dapat memanfaatkan limbah pertanian, perkebunan, atau
limbah pabrik pangan, (3) ketersediaannya berkesinambungan karena sifatnya
yang awet dapat bertahan cukup lama sehingga dapat mengantisipasi ketersediaan
pakan pada musim kemarau serta dapat dibuat pada saat musim hujan ketika hasil
hijauan makanan ternak dan produk pertanian melimpah, dan (4) ransum berbetuk

8

wafer lebih menguntungkan karena dapat mempermudah dalam penanganan,
pengawetan, transportasi, dapat disimpan lebih lama jika dibandingkan pakan
berbentuk segar. Pembuatan wafer ransum komplit akan memberikan nilai tambah
karena menggunakan teknologi yang sederhana dengan energi yang relatif sedikit.
Verma et al. (1996) melaporkan bahwa Compressed Compete Feed Blocks
(CCFB) mempunyai beberapa keunggulan yaitu dapat mengurangi bulk density,
lebih palatabel, memudahkan dalam penanganan, penyimpanan dan distribusi.
Selain itu pengolahan bahan makanan menjadi bentuk blok memungkinkan
penyimpanan pakan yang akan digunakan pada musim kemarau. Kelebihan
lainnya adalah teknologi pengolahannya mudah diadaptasi oleh negara-negara
berkembang.
Proses pembuatan wafer (Retnani 2010) adalah dengan beberapa langkah
sebagai berikut:
a.

Bahan baku sumber serat dicacah dengan ukuran 2 - 5 cm, kemudian dijemur
kering udara di bawah sinar matahari.

b.

Bahan baku konsentrat digiling menggunakan hammer mill hingga berukuran
mash (tepung).

c.

Campur bahan-bahan sesuai susunan ransum komplit.

d.

Ransum komplit dimasukkan ke dalam cetakan berbentuk persegi berukuran
20 x 20 x 1 cm.

e.

Setelah itu dilakukan pengempaan panas pada suhu 150°C dengan tekanan
200 - 300 kg/cm2 selama 20 menit.

f.

Pendinginan lembaran wafer dilakukan dengan menempatkan wafer di udara
terbuka selama minimal 24 jam sampai kadar air dan bobotnya konstan,
kemudian dimasukkan ke dalam karung.
Penyimpanan Pakan
Penyimpanan pakan adalah salah satu bentuk tindakan pengamanan yang

selalu terkait dengan waktu. Tujuan penyimpanan adalah untuk mempertahankan
dan menjaga komoditi

yang disimpan dengan

cara menghindari dan

menghilangkan berbagai faktor yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas
komoditi tersebut. Penyimpanan yang telalu lama akan menurunkan kualitas
pakan tersebut.

9

Selama proses penyimpanan sering terjadi kerusakan-kerusakan yang dapat
menurunkan kualitas pakan. Kerusakan yang terjadi diantaranya adalah kerusakan
kimiawi, biologis dan fisik. Kerusakan kimiawi merupakan akibat dari reaksireaksi kimia, kerusakan biologis adalah akibat serangan mikroorganisme dan
kerusakan fisik biasanya terkait dengan proses penanganan.
Pengamatan terhadap sifat fisik pakan bertujuan untuk mengetahui mutu
bahan pakan yang ada. Keefisienan suatu proses penanganan, pengolahan dan
penyimpanan dalam industri pakan tidak hanya membutuhkan informasi
mengenai komposisi kimia dan nilai nutrisi bahan saja tetapi juga menyangkut
sifat fisik, sehingga kerugian akibat kesalahan penanganan bahan pakan dapat
dihindari. Penyimpanan pakan ditujukan untuk membantu penyediaan pakan pada
musm paceklik. Beberapa sifat fisik yang diujikan pada penelitian ini adalah kadar
air, aktivitas air dan serangan serangga.
Kadar Air
Kadar air merupakan jumlah air yang terkandung dalam bahan pakan yang
dinyatakan dalam persen. Kadar air bahan pakan merupakan pengukuran jumlah
air total yang terkandung dalam bahan pakan, tanpa memperlihatkan kondisi atau
derajat keterikatan air (Syarief & Halid 1993). Hal ini akan berkaitan dengan
proses penyimpanan maupun penanganan bahan pakan berikutnya. Bahan pakan
dengan kadar air cukup tinggi tidak dapat disimpan lama di gudang karena akan
cepat mengalami perubahan fisik dan biologi. Perubahan biologi yang terjadi
diantaranya disebabkan oleh aktifitas mikroorganisme yang terdapat dalam bahan
pakan tersebut.
Kadar air dalam bahan pakan ikut menentukan kesegaran dan daya awet
bahan pakan tersebut. Kadar air yang tinggi dapat mengakibatkan mudahnya
bakteri, khamir (ragi) dan kapang (jamur) berkembang biak, sehingga akan terjadi
perubahan pada bahan pakan tersebut (Winarno 1997). Kadar air dalam bahan
pakan sangat mempengaruhi kualitas dan daya simpan bahan tersebut. Oleh
karena itu, penentuan kadar air sangat penting agar dalam proses pengolahan
maupun pendistribusian mendapat penanganan yang tepat.
Kandungan air dalam bahan pangan akan berubah-ubah sesuai dengan
lingkungannya, dan hal ini sangat erat hubungannya dengan daya awet bahan

10

pangan tersebut. Hal ini merupakan pertimbangan utama dalam pengolahan dan
pengelolaan pasca olah bahan pangan (Purnomo 1995).
Aktivitas Air
Aktivitas air atau water activity (Aw) adalah jumlah air bebas yang
terkandung dalam bahan pakan yang dapat digunakan oleh mikroba untuk
pertumbuhannya, semakin tinggi nilai Aw suatu bahan maka akan semakin tinggi
pula kemungkinan tumbuhnya jasad renik pada bahan tersebut (Syarif & Halid
1993). Istilah aktivitas air digunakan untuk menjabarkan air yang tidak terikat
atau air bebas dalam suatu sistem yang dapat menunjang reaksi biologis dan
kimiawi. Semakin tinggi aktivitas air suatu bahan maka semakin tinggi pula
kemungkinan tumbuhnya mikroba dalam bahan tersebut.
Aktivitas air merupakan salah satu faktor yang paling penting dalam
menentukan kualitas dan keamanan suatu bahan pakan. Aktivitas air
mempengaruhi umur simpan, tekstur, rasa dan bau pakan. Aktivitas air mungkin
menjadi faktor paling penting dalam mengendalikan pembusukan. Dengan
mengukur aktivitas air, akan memungkinkan kita memprediksi mikroorganisme
yang akan berpotensi menyebabkan pembusukan.
Aw dinyatakan dalam angka 0,1-1 yang sebanding dengan kelembaban 0100%. Makin kecil angka Aw maka makin sedikit pula air bebas yang tersedia
dan makin sulit pula suatu jasad renik untuk tumbuh kembang. Winarno (1997)
menyatakan bahwa berbagai mikroorganisme mempunyai nilai A w minimum agar
dapat tumbuh dengan baik. Purnomo (1995) melaporkan bahwa masing-masing
jenis

mikroorganisme

membutuhkan

jumlah

air

yang

berbeda

untuk

pertumbuhannya. Bakteri umumnya dapat tumbuh dan berkembang biak pada
nilai Aw tinggi (0,91), khamir (ragi) dapat tumbuh dan berkembang biak pada
nilai Aw 0,87 – 0,91 sedangkan jamur (kapang) lebih rendah lagi yaitu pada nilai
Aw 0,81-0,87.
Serangan Serangga
Serangga hama gudang merupakan salah satu penyebab kerusakan yang
terbesar pada komoditas pakan yang disimpan. Serangga ini hidup dan
berkembang biak di dalam gudang penyimpanan baik sebagai hama primer,

11

maupun hama sekunder pemakan kapang (jamur) pada berbagai jenis komoditas
pakan dan bahkan ada yang hidup sebagai predator. Syarief dan Halid (1993)
melaporkan bahwa serangga hama gudang yang penting tergolong kedalam 3 ordo
yaitu 1) Coleoptera (kumbang) dengan cirri khas sayap depannya mengalami
pengerasan

seperti

tanduk

(disebut

elytra).

Serangga

ini

mengalami

metamorphosis sempurna 2) Lepidoptera (moth=ngengat) mempunyai sayap
depan dan belahan yang mempunyai cirri-ciri khas yang biasanya digunakan
untuk membedakan spesies satu dengan yang lainnya. Serangga ini juga
mengalami metamorphosis sempurna 3) Psocoptera (Psocid) dengan cirri khas
sering tidak bersayap, antena panjang dengan ruas yang banyak, ukuran badan
sangat kecil dan transparan. Seringkali salah diidentifikasikan sebagai tungau
(mite) dan mengalami metamorphosis tidak sempurna. Serangga yang merupakan
hama gudang ini akan menyebabkan kehilangan hasil selama produk dalam
penyimpanan. Kehilangan hasil yang disebabkan oleh hama gudang dapat
mencapai 10 – 15% dari isi gudang.
Evaluasi Kualitas Nutrisi Pakan pada Domba
Domba
Ternak domba telah terdistribusi di berbagai pulau dan provinsi di seluruh
wilayah Indonesia. Luasnya penyebaran populasi komoditas domba tersebut
membuktikan bahwa berbagai wilayah di tanah air memiliki tingkat kecocokan
yang baik untuk pengembangan, baik kecocokan dari segi vegetasi, topografi,
klimat, dan bahkan dari sisi sosial-budaya daerah setempat.
Direktorat

Jendral

Peternakan

(2009)

menyebutkan

bahwa

angka

pemotongan domba di Indonesia pada tahun 2009 adalah sejumlah 1.643.830 ekor
atau sekitar 15,61% dari total populasi yang ada (10.471.991 ekor), namun hal
tersebut tidak ditunjang dengan peningkatan populasi domba dari tahun 2008 ke
2009 yang hanya sebesar 8,28%. Apabila keadaan ini dibiarkan terus menerus
maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi kelangkaan ternak domba pada
beberapa tahun mendatang.
Tomaszewska et al. (1993) melaporkan bahwa terdapat tiga jenis domba
yang dikenal di Indonesia: domba Jawa Ekor Kurus (JEK), domba Jawa Ekor
Gemuk (JEG) dan domba Sumatera Ekor Kurus (SEK). Domba Jawa Ekor Tipis

12

merupakan domba yang banyak terdapat di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Domba
ini termasuk golongan domba kecil, dengan berat potong sekitar 20 – 30 kg.
Warna bulu putih dan biasanya memiliki bercak hitam di sekeliling matanya.
Ekornya tidak menunjukkan adanya desposisi lemak. Domba jantan memiliki
tanduk melingkar, sedangkan yang betina biasanya tidak bertanduk. Bulunya
berupa wol yang kasar.
Konsumsi Ransum
Konsumsi adalah jumlah ransum yang dimakan oleh ternak yang akan
digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup pokok dan produksi. Aktivitas
konsumsi meliputi proses mencari pakan, mengenal dan mendekati pakan, proses
bekerjanya indra ternak terhadap pakan, proses memilih pakan dan proses
menghentikan makan (Tillman et al. 1999). Tingkat konsumsi (Voluntary Feed
Intake/VFI) adalah jumlah makanan yang terkonsumsi oleh ternak bila bahan
makanan tersebut diberikan secara ad libitum (Parakkasi 1999). Jumlah pakan
yang dikonsumsi menentukan jumlah zat-zat makanan yang tersedia bagi ternak
dan selanjutnya akan mempengaruhi tingkat produktivitas ternak tersebut. Namun
yang menetukan konsumsi pakan pada ternak ruminansia sangatlah beragam,
antara lain sifat pakan, kondisi fisiologis ternak (umur, bobot badan, jenis
kelamin, dan faktor genetik) serta lingkungan tempat ternak tersebut dipelihara.
Jumlah bahan kering pakan yang dapat dikonsumsi oleh seekor ternak
selama satu hari perlu diketahui. Konsumsi bahan kering tergantung dari hijauan
saja yang diberikan atau dicampur konsentrat. Konsumsi bahan kering
berdasarkan bobot badan ternak pada ruminansia kecil menurut Devendra dan
Burns (1994) 3-5%, NRC (1985) 3%. Peterson (2005) 3,5-5% namun pada
umumnya adalah 3-4% dari berat badan.
Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik
Kecernaan adalah bagian zat makanan yang tidak dieksresikan dalam feses.
Menurut Anggorodi (1990) bahwa pada dasarnya tingkat kecernaan adalah suatu
upaya untuk mengetahui banyaknya zat makanan yang diserap oleh saluran
pencernaan. Bagian yang dapat dicerna adalah selisih antara zat-zat makanan
dikonsumsi dengan yang dikeluarkan bersama feses dan bila bagian tertentu

13

dinyatakan sebagai persentase terhadap konsumsi maka disebut koefisien cerna
(McDowell 1992). Pengukuran kecernaan adalah suatu usaha untuk menentukan
jumlah zat makanan dari suatu bahan pakan yang diserap oleh saluran pencernaan.
Bagian yang dicerna adalah selisih antara zat makanan yang dikandung dalam
bahan pakan yang dimakan dan zat yang terkandung dalam feses (Ella 1996).
Peterson (2005) menyatakan bahwa tinggi rendahnya daya cerna dipengaruhi oleh
jenis ternak, umur hewan, jenis bahan pakan, dan susunan kimianya. Banyak
metode-metode yang digunakan dalam mengukur kecernaan suatu bahan pakan,
diantaranya adalah collected method, marker method, in sacco, in vivo dan in
vitro.
Pertambahan Bobot Badan Harian
Pertambahan bobot badan adalah salah satu kriteria yang dapat digunakan
untuk mengevaluasi kualitas bahan pakan ternak, karena pertumbuhan yang
diperoleh dari suatu percobaan merupakan salah satu indikasi pemanfaatan zat-zat
makanan dari pakan yang diberikan. Dari data pertambahan bobot badan harian
akan diketahui nilai suatu bahan pakan ternak (Church & Pond 1995).
Efisiensi Penggunaan Ransum
Efisiensi penggunaan ransum erat kaitannya dengan konsumsi ransum dan
produksi (pertambahan bobot badan). Efisiensi penggunaan ransum adalah rasio
antara pertambahan bobot badan dengan jumlah ransum yang dikonsumsi.
Efisiensi penggunaan ransum mengukur efisiensi hewan dalam mengubah bahan
pakan menjadi produk, dalam hal ini adalah daging domba.

14

METODE PENELITIAN
Penelitian ini dibagi menjadi dua percobaan yaitu 1) Percobaan mengenai
evaluasi kualitas nutrisi ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang
hijau pada ternak domba dan 2) Percobaan mengenai pengaruh lama penyimpanan
ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau dalam berbagai
bentuk pakan.
Tahap 1) Evaluasi Kualitas Nutrisi Ransum Komplit yang Mengandung
Limbah Taoge Kacang Hijau pada Ternak Domba
Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2011 - Maret 2012. Evaluasi
kualitas nutrisi ransum komplit mengandung limbah taoge kacang hijau pada
ternak domba ini dilakukan di laboratorium lapang blok A, Departemen Ilmu
Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Materi Penelitian
Ternak yang akan digunakan adalah domba jantan lokal berjumlah 12 ekor
yang dalam masa pertumbuhan dengan bobot badan awal 10,0 – 14,10 kg.
Peralatan yang digunakan adalah kandang individu yang memiliki tempat pakan
dan tempat minum terpisah serta timbangan untuk mengukur berat domba dan
ransum yang diberikan pada ternak.

Gambar 2 Ternak dan Kandang Percobaan
Konsumsi domba berdasarkan bahan kering adalah sebanyak 3 % dari bobot
badan (NRC 1985), sehingga dalam penelitian ini ransum yang diberikan adalah
sebanyak 5% dari bobot badan domba. Sebelum dilakukan pengumpulan data,
ternak diberikan obat cacing dan diberi pakan perlakuan selama 7 hari untuk

15

adaptasi terhadap pakan baru. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian pakan
perlakuan selama tiga minggu untuk mengetahui pertambahan bobot badan dan
jumlah konsumsi pakan pada ternak domba. Diakhir penelitian, selama 7 hari
dilakukan pengumpulan feses untuk memperoleh data kecernaan bahan kering dan
kecernaan bahan organik pakan.

Gambar 3 Penimbangan bobot badab dan Pengumpulan feses domba
Bahan pakan yang digunakan adalah rumput lapang, limbah taoge kacang
hijau serta, molases, urea, bungkil kelapa dan pollar yang diolah menjadi bentuk
berbagai bentuk pakan. Kandungan bahan pakan penyusun ransum komplit tersaji
pada Tabel 1.
Tabel 1 Komposisi nutrisi bahan pakan penyusun ransum komplit (berdasarkan
100% BK)
Bahan Pakan
Rumput Lapang 1)
Limbah taoge kacang hijau 1)
Pollard 2)
Urea3)
Bungkil Kelapa 2)
Molasses 2)

Abu

PK

SK
LK
100 % BK
10,92 14,94 38,63 0,94
2,72 14,55 42,73 1,58
4,88 18,72 7,67 52,33
0,00 288,00 0,00 0,00
6,40 21,63 12,09 10,23
10,39 5,19
10,00 0,26

Keterangan :
1)

Analisa Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan

2)

Hartadi 1997

3)

Tillman et.al 1990

4)

Sutardi 1980
Hasil perhitungan (Hartadi 1997)

5)

Beta-N
34,58
38,42
16,40
0,00
49,65
74,16

TDN
58.09 4)
75.32 5)
86,05
0,00
84,88
53,25

16

Ransum pada penelitian ini terdiri dari hijauan dan konsentrat dengan
perbandingan 70:30. Susunan ransum komplit yang akan dipergunakan pada
penelitian ini terlihat seperti pada Tabel 2.
Tabel 2. Susunan ransum komplit dan kandungan nutrisinya
Bahan Pakan

Ransum Komplit
Perlakuan
%

1. Komposisi ransum
Rumput lapang
Limbah taoge kacang hijau
Pollard
Urea
Bungkil kelapa
Molases
Total
2. Kandungan Nutrisi Ransum komplit ( 100% BK)*)
Abu
Protein kasar
Serat kasar
Lemak kasar
Beta-N
TDN
*)

35,0
35,0
17,0
0,5
8,5
4,0
100
6,4
16,7
31,1
10,5
35,3
70,7

Berdasarkan perhitungan Tabel 1

Ransum yang diberikan adalah:
R1: Ransum dalam bentuk segar
R2: Ransum Komplit dalam bentuk mash
R3: Ransum Komplit dalam bentuk pelet
R4: Ransum Komplit dalam bentuk wafer
Peubah yang diukur adalah:
a.

Konsumsi bahan kering ransum
Rataan konsumsi bahan ke

Dokumen yang terkait

Dokumen baru