Pengaruh Gliocladium virens dan Varietas Terhadap Perkembangan Penyakit Fusarium oxysporum f.sp lycopersici (Sacc) Pada Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum Smith) di Lapangan

PENGARUH Gliocladium virens DAN VARIETAS TERHADAP
PERKEMBANGAN PENYAKIT Fusarium oxysporum f.sp lycopersici (Sacc) PADA
TANAMAN TOMAT (Lycopersicum esculentum Smith) DI LAPANGAN

SKRIPSI

OLEH:
AFRIANDO FLORA KIRNANDO
060302030
HPT

DEPARTEMEN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

PENGARUH Gliocladium virens DAN VARIETAS TERHADAP
PERKEMBANGAN PENYAKIT Fusarium oxysporum f.sp lycopersici (Sacc) PADA
TANAMAN TOMAT (Lycopersicum esculentum Smith) DI LAPANGAN

SKRIPSI

OLEH:
AFRIANDO FLORA KIRNANDO
060302030
HPT

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Memperoleh Gelar Sarjana
di Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian
Universitas Sumatra Utara, Medan.

Disetujui oleh:
Komisi pembimbing

(Ir. Mukhtar Iskandar Pinem, MAgr)
Ketua

(Ir. Lahmuddin Lubis, MP)
Anggota

DEPARTEMEN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

Afriando Flora Kirnando, “The Gliocladium virens and variety effect to
the development of Fusarium oxysporum f.sp lycopersici (Sacc) disease in
tomato plants in the field”, supervisor by Mukhtar Iskandar Pinem and
Lahmuddin Lubis. Many control maesures have been done to suppress developing
of Fusarium oxysporum f.sp lycopersici (Sacc) but have not succesful, so that one
of alternative with biological control. Research aimed to The Gliocladium virens
and variety effect to the development of Fusarium oxysporum f.sp lycopersici
(Sacc) disease in tomato plants in the field. This research was held in field of
experimental garden (KPTB) Tongkoh Berastagi on 1340m on the sea surface.
The research used method of Randomized Block Design Factorial Metode with
two factors namely fungal factor antagonist (25, 37.5, 50 and 62.5 gr/polibag) and
factor variety (Citra, Sakura and Warani variety), with 15 combinations of
treatment and three replications.
The results showed that Gliocladium Factor diseases incidence of
Fusarium oxysporum f.sp lycopersici (Sacc) highest at G0 that without
Gliocladium virens that 13,63 % and the lowest G3 (Gliocladium 50 gr) and G4
(Gliocladium 65 gr) that 6,46%. And variety factor to the the diseases incidence
highest of Fusarium oxysporum f.sp lycopersici (Sacc) highest at V3 variety
(Warani Variety) that 14,23 % and the lowest at V2 (Sakura Variety) that 7,60%.
And interaction on GxV combination showed that the treatment doesn’t real
different .

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Afriando Flora Kirnando, “Pengaruh Gliocladium virens dan varietas
terhadap perkembangan penyakit Fusarium oxysporum f.sp lycopersici (Sacc)
pada tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Smith) di lapangan” dibawah
bimbingan Mukhtar Iskandar Pinem dan Lahmuddin Lubis. Berbagai cara
pengendalian yang telah dilakukan untuk menekan perkembangan Fusarium
oxysporum f.sp lycopersici (Sacc) pada tanaman Tomat namun belum
menunjukkan hasil yang memadai, sehingga alternatif pengendalian yang dapat
dilakukan untuk menekan populasi jamur ini yaitu dengan mengembangkan
pengendalian secara hayati. Penelitian yang bertujuan untuk menguji pengaruh
Gliocladium virens dan varietas terhadap perkembangan penyakit Fusarium
oxysporum f.sp lycopersici (Sacc) pada tanaman tomat (lycopersicum esculentum
Smith) di lapangan. Penelitian dilakukan di kebun percobaan tanaman buah
Berastagi dengan ketinggian tempat 1.340 m dpl. Penelitian ini menggunakan
Rancangan Acak Kelompok faktorial terdiri dari 2 faktor yakni faktor dosis
Gliocladium virens (25, 37.5, 50 and 62.5 gr/polibag dan faktor varietas kedelai
(Varietas Citra, Sakura and Warani), dengan 15 kombinasi perlakuan dan tiga
ulangan.
Hasil penelitian menunjukkan Faktor Dosis Gliocladium Persentase
serangan Fusarium oxysporum f.sp lycopersici (Sacc) tertinggi terdapat pada
perlakuan G0 yaitu tanpa menggunakan Gliocladium spp, sebesar 13,63 % dan
yang terendah G3 (Gliocladium 50 gr) dan G4 (Gliocladium 65 gr) sebesar 6,46%.
Dan Faktor varietas terhadap persentase serangan Fusarium oxysporum f.sp
lycopersici (Sacc) menunjukkan serangan tertinggi yaitu pada varietas V3
(Varietas Warani) yakni 14,23 % dan terendah pada V2 (Varietas Sakura) yaitu
7,60 %. Dan interaksi pada kombinasi GxV menunjukan kombinasi perlakuan
tidak berbeda nyata.

Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP

Afriando Flora Kirnando, lahir 24 January 1988 di Tebing Tinggi, putra
dari ayahanda Sukirno dan Ibunda Faridah Hanum Saragih. Penulis merupakan
anak kedua dari 4 (empat) bersaudara.
Pendidikan dan Pengalaman
1.

Tahun 2000 lulus dari SD Negeri 104212 Marendal II, Medan

2.

Tahun 2003 lulus dari SLTP Negeri 1 Patumbak

3.

Tahun 2006 lulus dari SMA negeri 3 Tebing Tinggi.

4.

Tahun 2006 diterima di Departemen Ilmu Hama dan Penyakit
Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan
melalui jalur SPMB.

5.

Sebagai

anggota IMAPTAN (Ikatan Mahasiswa Perlindungan

Tanaman) Departemen HPT-FP USU periode 2006-2011.
6.

Sebagai anggota HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Komisariat
Fakultas Pertanian USU Cabang Medan periode 2008 - 2011

7.

Sebagai

anggota

penganjian

KOMUS

(Komunikasi

Muslim)

Departemen HPT-FP USU periode 2006-2011
8.

Tahun

2008/2009

sebagai

asisten

Laboratorium

Mikrobiologi

Organisme Pengganggu Tanaman Departemen Ilmu Hama dan
Penyakit Tumbuhan FP USU.

Universitas Sumatera Utara

9.

Tahun 2008/2009 sebagai asisten Laboratorium Mikologi dan
Bakteriologi Departemen Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan FP
USU.

10.

Tahun 2009/2010 sebagai asisten Laboratorium Penyakit Penting
Tanaman Utama Perkebunan Departemen Ilmu Hama dan Penyakit
Tumbuhan FP USU.

11.

Tahun

2009/2010

sebagai

asisten

Laboratorium

Mikrobiologi

Pertanian Departemen Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan FP USU.
12.

Tahun 2009/20010, 20010/20011 sebagai asisten Laboratorium
Bioteknologi Pertanian Departemen Ilmu Hama dan Penyakit
Tumbuhan FP USU.

13. Mengikuti Praktek Kerja Lapangan (PKL) di PT. Perkebunan
Nusantara III (PERSERO) Unit Kebun Rambutan, Tebing Tinggi dari
tanggal 21 Juni sampai 21 Juli 2010.
14.

Melaksanakan Penelitian di Kebun Percobaan Tanaman Buah Tongkoh
-Berastagi Kab. Tanah Karo, Sumatera Utara,

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat rahmat dan kasihNya sehingga penulis dapat menyelesaikan usulan
penelitian ini dengan baik.
Adapun judul dari skripsi ini adalah “PENGARUH Gliocladium virens
DAN VARIETAS TERHADAP PERKEMBANGAN PENYAKIT Fusarium
oxysporum f.sp lycopersici (Sacc) PADA TANAMAN TOMAT (Lycopersicum
esculentum Smith) DI LAPANGAN” disusun sebagai salah satu syarat untuk
dapat Memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatra Utara,
Medan
Pada

kesempatan

ini

penulis

mengucapkan terimakasih

kepada

Ir. Mukhtar Iskandar Pinem, MAgr dan Ir. Lahmuddin Lubis, MP sebagai komisi
pembimbing yang memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi
kesempurnaan skripsi ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
membantu. Semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan.

Medan, Juni 2011

Penulis

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

ABSTRACK ................................................................................................... i
ABSTRAK...................................................................................................... ii
RIWAYAT HIDUP ........................................................................................ iii
KATA PENGANTAR .................................................................................... v
DAFTAR ISI ................................................................................................. vi
DAFTAR TABEL .......................................................................................... viii
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... ix
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. x
PENDAHULUAN
Latar Belakang ..................................................................................... 1
Tujuan Penelitian ................................................................................. 4
Hipotesa Penelitian ............................................................................... 4
Kegunaan Penelitian ............................................................................. 5
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman ................................................................................... 6
Syarat Tumbuh ..................................................................................... 7
Tanah .......................................................................................... 7
Iklim ........................................................................................... 8
Biologi Penyakit Fusarium oxysporum f.sp lycopersici......................... 8
Gejala Penyakit .................................................................................... 10
Daur Hidup Penyakit ............................................................................ 12
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Penyakit ............... 13
Pengendalian Penyakit.......................................................................... 14
Gliocladium virens ............................................................................... 14
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Penelitian ............................................................... 18
Bahan dan Alat ..................................................................................... 18
Metodologi Penelitian .......................................................................... 18
Pelaksaan Penelitian
Penyediaan Sumber Inokulum
Fusarium oxysporum f.sp lycopersici ............................ 20
Gliocladium virens ........................................................ 21

Universitas Sumatera Utara

Perbanyakan Gliocladium virens ............................................... 21
Persiapan Benih ........................................................................ 22
Persiapan Tempat Penyemaian .................................................. 22
Penyemaian .............................................................................. 22
Persiapan Media Tanam ............................................................ 23
Inokulasi Fusarium oxysporum f.sp lycopersici ......................... 23
Penanaman ............................................................................... 24
Parameter Pengamatan ..................................................................................... 24
Persentase Serangan Fusarium oxysporum f.sp lycopersici ................... 24
Produksi Tomat .................................................................................... 24
HASIL DAN PEMBAHASAN
Persentase Serangan (%) ...................................................................... 25
Pengaruh Gliocladium virens Terhadap Persentase
Serangan (%) Fusarium oxysporum f.sp lycopersici (Sacc)
pada tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Smith) di
lapangan ................................................................................... 25
Pengaruh varietas Terhadap Persentase Serangan (%)
Fusarium oxysporum f.sp lycopersici (Sacc) pada tanaman
tomat (Lycopersicum esculentum Smith) di lapangan ................ 28
Pengaruh Gliocladium virens dan varietas Terhadap
Persentase Serangan (%) Fusarium oxysporum f.sp
lycopersici (Sacc) pada tanaman tomat (Lycopersicum
esculentum Smith) di lapangan.................................................. 30
Produksi ............................................................................................... 32
Pengaruh Gliocladium virens Terhadap Produksi tomat
(Lycopersicum esculentum Smith) di lapangan .......................... 32
Pengaruh varietas Terhadap Produksi tomat (Lycopersicum
esculentum Smith) di lapangan.................................................. 34
Pengaruh Gliocladium virens dan varietas Terhadap
Produksi tomat (Lycopersicum esculentum Smith) di
lapangan ................................................................................... 35
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan .......................................................................................... 37
Saran .................................................................................................... 37
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

No.

Tabel

Hlm

Tabel 1. Uji Beda Rataan Pengaruh Gliocladium virens Terhadap Persentase
Serangan (%) Fusarium oxysporum f.sp lycopersici (sacc) pada
tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Smith) di lapangan Pada
Pengamatan 7 hsa - 56 hsa ...................................................................25
Tabel 2. Uji Beda Rataan Pengaruh Varietas Terhadap Persentase Serangan
(%) Fusarium oxysporum f.sp lycopersici (Sacc) pada tanaman
tomat (Lycopersicum esculentum Smith) di lapangan Pada
Pengamatan 7 hsa - 56 hsa ...................................................................29
Tabel 3. Uji Beda Rataan Pengaruh Dosis Gliocladium virens Terhadap
Produksi pada tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Smith)
di lapangan ..........................................................................................32
Tabel 4.Uji Beda Rataan Pengaruh Varietas Terhadap Produksi pada
tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Smith) di lapangan .............34

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

No.

Gambar

Hlm

Gambar 1. Fusarium oxysporum f.sp lycopersici .............................................. 8
Gambar 2. Gejala Serangan Fusarium oxysporum f.sp lycopersici.................... 9
Gambar 3. Siklus Fusarium oxysporum ............................................................ 13
Gambar 4. Gliocladium virens ......................................................................... 15
Gambar 5. Grafik hubungan antara penggunaan Gliocladium virens
terhadap persentase serangan Fusarium oxysporum f.sp
lycopersici (Sacc) pada pengamatan7 hsa - 56 hsa .......................... 28
Gambar 6. Grafik hubungan antara pengaruh Varietas terhadap persentase
serangan Fusarium oxysporum f.sp lycopersici (Sacc) pada
pengamatan7 hsa - 56 hsa ............................................................... 30
Gambar 7. Grafik hubungan antara penggunaan Gliocladium virens
terhadap Produksi ........................................................................... 33
Gambar 8. Grafik hubungan antara pengaruh Varietas terhadap Produksi........ 35

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

No.

Lampiran

Hlm

1.

Bagan Penelitian .................................................................................. 41

2

Data Persentase Serangan Fusarium oxysporum pada umur 7 HSA ...... 43

3

Data Persentase Serangan Fusarium oxysporum pada umur 14 HSA .... 45

4

Data Persentase Serangan Fusarium oxysporum pada umur 21 HSA .... 47

5

Data Persentase Serangan Fusarium oxysporum pada umur 28 HSA .... 49

6

Data Persentase Serangan Fusarium oxysporum pada umur 35 HSA .... 51

7

Data Persentase Serangan Fusarium oxysporum pada umur 42 HSA .... 54

8

Data Persentase Serangan Fusarium oxysporum pada umur 49 HSA .... 56

9

Data Persentase Serangan Fusarium oxysporum pada umur 56 HSA .... 59

10.

Data Pengamatan Produksi ................................................................. 62

11.

Data Curah Hujan................................................................................. ` 65

12.

Data Deskripsi Varietas ........................................................................ 71

13

Photo Penelitian ................................................................................... 74

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

Afriando Flora Kirnando, “The Gliocladium virens and variety effect to
the development of Fusarium oxysporum f.sp lycopersici (Sacc) disease in
tomato plants in the field”, supervisor by Mukhtar Iskandar Pinem and
Lahmuddin Lubis. Many control maesures have been done to suppress developing
of Fusarium oxysporum f.sp lycopersici (Sacc) but have not succesful, so that one
of alternative with biological control. Research aimed to The Gliocladium virens
and variety effect to the development of Fusarium oxysporum f.sp lycopersici
(Sacc) disease in tomato plants in the field. This research was held in field of
experimental garden (KPTB) Tongkoh Berastagi on 1340m on the sea surface.
The research used method of Randomized Block Design Factorial Metode with
two factors namely fungal factor antagonist (25, 37.5, 50 and 62.5 gr/polibag) and
factor variety (Citra, Sakura and Warani variety), with 15 combinations of
treatment and three replications.
The results showed that Gliocladium Factor diseases incidence of
Fusarium oxysporum f.sp lycopersici (Sacc) highest at G0 that without
Gliocladium virens that 13,63 % and the lowest G3 (Gliocladium 50 gr) and G4
(Gliocladium 65 gr) that 6,46%. And variety factor to the the diseases incidence
highest of Fusarium oxysporum f.sp lycopersici (Sacc) highest at V3 variety
(Warani Variety) that 14,23 % and the lowest at V2 (Sakura Variety) that 7,60%.
And interaction on GxV combination showed that the treatment doesn’t real
different .

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Afriando Flora Kirnando, “Pengaruh Gliocladium virens dan varietas
terhadap perkembangan penyakit Fusarium oxysporum f.sp lycopersici (Sacc)
pada tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Smith) di lapangan” dibawah
bimbingan Mukhtar Iskandar Pinem dan Lahmuddin Lubis. Berbagai cara
pengendalian yang telah dilakukan untuk menekan perkembangan Fusarium
oxysporum f.sp lycopersici (Sacc) pada tanaman Tomat namun belum
menunjukkan hasil yang memadai, sehingga alternatif pengendalian yang dapat
dilakukan untuk menekan populasi jamur ini yaitu dengan mengembangkan
pengendalian secara hayati. Penelitian yang bertujuan untuk menguji pengaruh
Gliocladium virens dan varietas terhadap perkembangan penyakit Fusarium
oxysporum f.sp lycopersici (Sacc) pada tanaman tomat (lycopersicum esculentum
Smith) di lapangan. Penelitian dilakukan di kebun percobaan tanaman buah
Berastagi dengan ketinggian tempat 1.340 m dpl. Penelitian ini menggunakan
Rancangan Acak Kelompok faktorial terdiri dari 2 faktor yakni faktor dosis
Gliocladium virens (25, 37.5, 50 and 62.5 gr/polibag dan faktor varietas kedelai
(Varietas Citra, Sakura and Warani), dengan 15 kombinasi perlakuan dan tiga
ulangan.
Hasil penelitian menunjukkan Faktor Dosis Gliocladium Persentase
serangan Fusarium oxysporum f.sp lycopersici (Sacc) tertinggi terdapat pada
perlakuan G0 yaitu tanpa menggunakan Gliocladium spp, sebesar 13,63 % dan
yang terendah G3 (Gliocladium 50 gr) dan G4 (Gliocladium 65 gr) sebesar 6,46%.
Dan Faktor varietas terhadap persentase serangan Fusarium oxysporum f.sp
lycopersici (Sacc) menunjukkan serangan tertinggi yaitu pada varietas V3
(Varietas Warani) yakni 14,23 % dan terendah pada V2 (Varietas Sakura) yaitu
7,60 %. Dan interaksi pada kombinasi GxV menunjukan kombinasi perlakuan
tidak berbeda nyata.

Universitas Sumatera Utara

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tomat (Lycopersicum esculentum Smith.) sudah tidak asing lagi bagi
masyarakat karena sebagai tanaman sayuran, tomat memegang peranan yang
penting dalam pemenuhan gizi masyarakat. Dalam buah tomat banyak
mengandung zat-zat yang berguna bagi tubuh manusia antara lain mengandung
vitamin C,vitamin A (karotien) dan mineral (Tugiyono 1995 dalam Hartati, 2000).
Tomat merupakan salah satu tanaman hortikultura yang penting di
Indonesia. Buahnya dapat dikonsumsi dengan berbagai cara, antara lain dimakan
secara langsung, diolah menjadi jus buah, sebagai pelengkap bumbu dapur dan
sebagainya. Tomat kaya akan vitamin C, vitamin A, zat besi (Fe) dan potassium
(Supriati & Siregar 2009). Tanaman ini dapat ditanam di berbagai daerah dengan
ketinggian tempat yang beragam, mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi.
Menurut BPS (2006) dari data Dirjen Bina Hortikultura, produksi tomat nasional
meningkat dari 594.022 ton pada tahun 2002 menjadi 629.743 ton pada tahun
2006 (Damayanti, 2010).
Setiap pertumbuhan tomat dihadapkan dengan kehilangan hasil akibat
serangan penyakit. Infeksi oleh jamur, bakteri, atau virus adalah penyebab yang
paling banyak dari kehilangan hasil tersebut., tetapi suhu dan kelembaban yang
rendah atau tinggi serta kekurangan mineral pada tanah juga menyebabkan
kerusakan pada tomat.. Gejala tersebut dapat berupa layu, bercak daun, atau busuk
dan pertumbuhan yang abnormal pada daun atau buah (Wheeler, 1953).

Universitas Sumatera Utara

Di Indonesia penyakit layu sudah lama dikenal. Tetapi, pada umumnya
orang menduga bahwa penyakit ini hanya satu macam, yaitu yang disebabkan
oleh bakteri. Bahkan dalam laporan-laporan lama, penyakit layu sering disebut
sebagai ”penyakit bakteri”. Di negara-negara lain sudah lama diketahui bahwa
sebahagian dari penyakit layu pada tomat disebabkan oleh Fusarium. Di Indonesia
penyakit layu Fusarium baru mendapat perhatian pada tahun 1970-an
(Semangun, 1991).
Penyakit layu Vascular diinduksi dengan baik Fusarium oxysporum
Schlechtendahl or Verticillium alboatrum Reinke and G.D.W. Berthold terjadi di
seluruh dunia. Fusarium biasanya banyak di dalam tanah yang relatif hangat
(15°C- 22°C) di zona beriklim sedang dan di zona tropis, sedangkan Verticilium
patogen yang paling sering

ditemukan di tanah dingin (8°C- 14°C) di zona

beriklim sedang. salah satu bentuk atau lain dari jamur bisa menyerang hampir
semua tanaman tanaman, termasuk semak-semak dan pohon kayu. Fusarium,
misalnya, menyebabkan penyakit layu penting dalam berbagai tanaman seperti
tomat, pisang, mimosa dan kapas (Robert, 1975).
Teknologi pertanian, khususnya dalam pengendalian penyakit tanaman
akibat jamur patogen Fusarium sp. di Indonesia pada saat ini masih banyak
mengandalkan penggunaan fungisida sintetik. Penggunaan fungisida yang
tidak

bijaksana

dapat menimbulkan

masalah

pencemaran

lingkungan,

gangguan keseimbangan ekologis dan residu yang ditinggalkannya dapat bersifat
racun dan karsinogenik. Spesies jamur Fusarium sp. merugikan para petani
karena serangan jamur menyebabkan tanaman mengalami layu patologis yang
berakhir dengan kematian (Juanda, 2009).

Universitas Sumatera Utara

Saat ini diketahui pengendalian patogen di dalam tanah secara kimia
terbukti tidak efektif, oleh karena itu perlu dicari cara lain agar perkembangan
patogen dapat ditekan dan mudah dilakukan petani, antara lain adalah
menggunakan mikroba antagonis, pemupukan kalium, penanaman varietas yang
toleran atau pun melalui penyambungan menggunakan batang bawah yang tahan
terhadap layu Fusarium (Saragih dan Silalahi, 2006)
Pengendalian hayati adalah pemberian mikroba antagonis dan perlakuan
tertentu untuk meningkatkan aktivitas mikroba tanah seperti pemberian bahan
organik yang bertujuan agar mikroba antagonis menjadi tinggi aktivitasnya.
Mikroba antagonis adalah mikroba yang aktivitasnya berdampak negatif terhadap
kehidupan patogen (Abadi, 2003). Beberapa mikroba antagonis seperti
Trichoderma hamatum, T. viride, T. koningi, Gliocladium virens,

G. Roseum,

Penicillium janthinellum, Epicocum purpureum, Pythium nunn (jamur); Bacillus
subtilis, B. polymixa, Pseudomonas fluorescens. P. cepacia,
radiobacter

(bakteri)

dan

Agrobacterium

Streptomyces spp. (aktinomiset) adalah

agensia pengendali penyakit tanaman yang tidak asing lagi dalam dunia

‘pengendalian hayati’ (Aryantha, 2001).
Mikoparasit Gliocladium virens dalam penerapannya di lapang dapat
digabung dengan agensia pengendali lainnya. Mutan Gliocladium virens toleran
terhadap benomil pada konsentrasi 10 mg ml-1 yang diuji dengan radiasi
ultraviolet dan etil metansulfonat. Selain itu, penggabungan dengan pemataharian
tanah sebagai metode terpadu dalam pengendalian penyakit juga dilakukan. Hal

Universitas Sumatera Utara

ini dilakukan dalam pengendalian Corticium rolfsii pada tomat, dengan hasil
penekanan yang lebih besar bila dibandingkan dengan perlakuan tunggal
(Soesanto, 2008)
Sehubungan
keefektifan

jamur

dengan
antagonis

uraian

di

atas,

Gliocladium

virens

Fusarium oxysporum f.sp lycopersici

untuk
pada

mengetahui
penyakit

layu

maka perlu dilakukan penelitian lanjut

dalam menekan dan mengurangi penyakit layu Fusarium oxysporum f.sp
lycopersici pada tanaman tomat.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh Gliocladium virens dan
varietas terhadap perkembangan penyakit Fusarium oxysporum f.sp lycopersici
(Sacc) pada tanaman tomat (lycopersicum esculentum Smith) di lapangan Fakultas
Pertanian Universitas Sumatera Utara medan.

HIPOTESIS PENELITIAN

1. Pemberian Gliocladium virens dengan dosis yang berbeda mempengaruhi
efektifitasnya dalam mengendalikan serangan penyakit Layu Fusarium
oxysporum f.sp lycopersici pada tanaman tomat (Lycopersicum esculentum
Smith).
2. Penggunaan varietas yang berbeda mempunyai ketahanan yang berbedabeda terhadap serangan penyakit layu Fusarium oxysporum f.sp
lycopersici pada tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Smith).

Universitas Sumatera Utara

3. Terdapat Interaksi Gliocladium virens dan varietas yang berbeda dalam
mengendalikan serangan penyakit Layu Fusarium oxysporum f.sp
lycopersici pada tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Smith)

KEGUNAAN PENELITIAN

1. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Departemen
Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera
Utara, Medan.
2. Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

Universitas Sumatera Utara

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum Smith)

Menurut Anonimous (2004), tanaman tomat

dapat diklasifikasikan

sebagai berikut:
Kerajaan

: Plantae

Kelas

: Dicotyledoneae

Ordo

: Solanales

Famili

: Solanaceae

Genus

: Lycopersicum

Spesies

: Lycopersicum esculentum Smith.
Sebagaimana tanaman dikotil lainnya, tanaman tomat berakar tunggang

dengan akar samping yang menjalar ditanah (Anonimous, 2004). Berakar pencar,
namun

relatif

tidak

dalam,

akar

datarnya

halus

dan

cukup

tebal

(Rismunandar, 1995).
Batang tomat walaupun tidak sekeras tanaman tahunan, tetapi cukup kuat.
Warna batang hijau dan berbentuk persegi empat sampai bulat. Pada permukaan
batangnya ditumbuhi banyak rambut halus terutama di bagian yang berwarna
hijau. Diantara rambut-rambut tersebut biasanya terdapat rambut kelenjar. Pada
bagian buku-bukunya terjadi penebalan dan kadang-kadang pada buku bagian
bawah terdapat akar-akar pendek. Jika dibiarkan (tidak dipangkas), tanaman tomat
akan mempunyai banyak cabang yang menyebar rata (Anonimous, 2004).
Daun mudah dikenali karena mempunyai bentuk yang khas, yaitu
berbentuk oval, bergerigi dan mempunyai celah yang menyirip. Daunnya

Universitas Sumatera Utara

merupakan daun majemuk ganjil dengan jumlah daun antara 5-7. daunnya
berukuran sekitar 15-30 cm x 10-25 cm. Tangkai daun majemuk mempunyai
panjang sekitar 3-6 cm. Umumnya di antara pasangan daun yang besar terdapat 12 daun kecil. Daun majemuk tersusun spiral mengelilingi batangnya
(Anonimous, 2004).
Bunga tumbuh dari batang (cabang) yang masih muda, membentuk jurai
yang terdiri atas dua baris bunga. Tiap-tiap jurai terdiri dari 5 hingga 12 bunga.
Mahkota bunganya berwarna kuning muda, bentuk bakal buahnya ada yang bulatt
panjang, berbentuk bola atau jorong melintang (Rismunandar, 1995)
Buah Tomat yang masih muda biasanya terasa getir dan berbau tidak enak
karena mengandung lycopersicin yang berupa lendir dan dikeluarkan oleh 2-9
kantung lendir. Ketika buahnya semakin matang, lycopersicin lambat laun hilang
sendiri sehingga baunya hilang dan rasanya pun jadi enak, asam-asam manis.
Seiring dengan proses pematangan, warna buah yang tadinya hijau sedikit demi
sedikit berubah menjadi kuning. Dan ketika buahnya telah matang benar,
warnanya menjadi merah. Ukuran buahnya cukup bervaiasi, dari

yang

berdiameter 2-15 cm, tergantung dari varietasnya (Anonimous, 2004).
Biji tomat banyak, berbentuk bulat pipih, putih atau krem, kulit biji
berbulu (Anonimous, 2004).

Syarat Tumbuh

Tanah
Tomat dapat tumbuh baik pada tanah gembur, porous, kandungan bahan
organik tinggi dengan pH tanah 5 – 6 (Anonimous, 1993). Tanah yang

Universitas Sumatera Utara

dikehendaki adalah tanah bertekstur liat yang banyak mengandung pasir. Dan
akan lebih disukai bila tanah itu banyak mengandung humus, gembur, dan
berdrainase baik. Sedangkan keasaman tanah yang ideal untuk pertumbuhan tomat
adalah pada pH netral, yaitu sekitar 6 - 7 (Hanum, 2008).
Iklim
Tomat umumnya ditanam di dataran tinggi, beberapa varietas unggul baru
dapat ditanam di dataran rendah. Waktu tanam yang baik dua bulan sebelum
musim hujan berakhir (Anonimous, 1993). Tomat secara umum dapat ditanam di
dataran rendah, medium, dan tinggi tergantung varietasnya. Namun, kebanyakan
varietas tomat hasilnya lebih memuaskan apabila ditanam di dataran tinggi yang
sejuk dan kering sebab tomat tidak tahan panas terik dan hujan. Suhu optimal
untuk pertumbuhannya adalah 23°C pada siang hari dan 17°C pada malam hari
(Hanum, 2008).

Biologi Penyakit Fusarium oxysporum f.sp lycopersici

Adapun klasifikasi Fusarium oxysporum f.sp lycopersici pada Agrios
(1996), patogen penyebab penyakit layu Fusarium adalah sebagai berikut:
Kingdom

: Fungi

Divisio

: Ascomycota

Kelas

: Sordariomycetes

Ordo

: Hypocreales

Famili

: Nectriaceae

Genus

: Fusarium

Spesies

: Fusarium oxysporum f. sp. lycopersici

Universitas Sumatera Utara

Makrokonidia

Mikrokonidia

Gambar1. Fusarium oxysporum f.sp lycopersici
Sumber:
http://www.diark.org/diark/species_list?query=Fusarium%20oxysporum%20f.%2
0sp.%20lycopersici%204286
Spesies Fusarium menghasilkan tiga macam spora. Mikrokonidia bersel
tunggal, spora berbentuk bola yang panjangnya 6 - 15 μm dan diameternnya 3 - 5
μm. Makrokonidia berbentuk sabit, mempunyai 3 - 5 septa, berdinding tipis, dan
rata-rata panjangnya 30 - 50 μm dan diameternya 2 - 5 μm. Berdinding halus,
berbentuk bola, bersel tunggal disebut klamidospora yang dihasilkan pada
miselium tua dan rata-rata berdiameter 10 μm. Ketiga spora tersebut diproduksi
didalam tanah atau pada tanaman yang terinfeksi. Sesudah tanaman yang
terinfeksi mati, jamur dan spora-sporanya kembali kedalam tanah dan mereka
bertahan dalam tanah atau menginfeksi tanaman inang lain (Lucas et al., 1985).
Koloni pada media OA (Oat Agar) atau PDA (25
˚C) mencapai diameter
3,5 - 5,0 cm. Miselia aerial tampak jarang atau banyak seperti kapas, kemudian
menjadi seperti beludru, berwarna putih atau salem dan biasanya agak keunguan
yang tampak lebih kuat dekat permukaan medium. Sporodokia terbentuk hanya
pada beberapa strain. Sebaliknya koloni berwarna kekuningan hingga keunguan.

Universitas Sumatera Utara

Konidiofor

dapat

bercabang

dapat

tidak,

dan

membawa

monofialid

(Gandjar et al., 1999).

Gejala Penyakit

Fusarium menyebabkan layu pembuluh pada banyak tanaman sayuran,
bunga, buah, dan serat. Kebanyakan jenis-jenisnya yang penting termasuk
kompleks

Fusarium

oxysporum.

Ada

banyak

sekali

forma

khusus

(formae speciales, f.sp.), yang masing-masing mempunyai kisaran inang yang
terbatas dan seringkali memiliki sejumlah ras patogen (Shivas dan Beasley, 2005).
Tanaman muda di rumah kassa, dua gejala awal adalah tulang-tulang daun
memucat

dan tangkai merunduk. Di pertanaman penyakit bisa muncul pada

waktu kondisi yang menguntungkan. Daun menguning, pertama kali muncul pada
daun tua, biasanya daun sebelah bawah. selanjutnya daun layu dan mati, dan
gejala berlanjut ke daun muda. Satu persatu cabang-cabang mulai terinfeksi.
Dalam beberapa minggu penyakit berkembang cepat, pencoklatan pada berkas
pembuluh dapat dilihat pada pangkal batang. Keseluruhan tanaman akhirnya
terinfeksi, dan biasanya kejadian ini menjadikan layu keseluruhan pada tanaman,
hingga akhirnya mati , dan batang kering seperti kayu (Walker, 1952).

Universitas Sumatera Utara

A

B

Gambar2. A. Gejala Serangan Fusarium oxysporum f.sp lycopersici di Lapangan
B. Jaringan Pembuluh yang Mati
Sumber: http://www.broadinstitute.org/files/news/stories/full/Fusarium031810.jpg
Pada tanaman yang masih sangat muda penyakit dapat menyebabkan
matinya tanaman secara mendadak, karena pada pangkal terjadi kerusakan atau
kanker yang menggelang. Sedangkan pada tanaman dewasa yang terinfeksi sering
dapat bertahan terus dan membentuk buah, tetapi hasilnya sangat sedikit dan
buahnya pun kecil-kecil (Semangun, 1991).
Mikroorganisme dalam tanah dapat dipengaruhi oleh bermacam-macam
keadaan yang menarik. Pemberian pupuk melalui daun (foliar application) seperti
pemberian urea pada daun menyebabkan berkurang serangan yang disebabkan
oleh Fusarium. Beberapa penelitian melaporkan, pemberian urea dapat
menstimulir perkembangan Actinomycetes disekitar rizosfer tanaman. Pemberian
bahan organik yang mengandung kitin akan menyebabkan bakteri dan cendawan
tanah yang dapat menghasilkan enzim kitinase akan berkembang. Dinding sel
cendawan Fusarium, banyak mengandung kitin (Djafaruddin, 2000).

Universitas Sumatera Utara

Daur Hidup Penyakit

Fusarium oxysporum f.sp lycopersici merupakan patogen tular tanah dan
dapat bertahan di tanah hingga sepuluh tahun. Patogen masuk kedalam tanaman
melalui akar dan kemudian menyebar ke seluruh tanaman oleh sistem vaskular.
Penyebaran patogen adalah melalui biji, pacang tomat, tanah, dan terinfeksi dari
tanaman transplanting atau tanah yang terikut dari tanaman transplanting. Patogen
dapat disebarkan jarak jauh melalui benih dan tanaman transplanting. Lokal
penyebarluasan adalah dengan transplantasi, pancang tomat, angin dan ditularkan
melalui air tanah, dan mesin pertanian (Wong, 2003).
Jamur menjadi mudah tumbuh di berbagai jenis tanah, seperti sisa tanah
dapat hampir tanpa batas. Elliott di Arkansas dijelaskan transmisi patogen dengan
benih, begitu pula Kendrick di California. Samson et al. di Indiana menemukan
jarang terjadi pada biji yang diekstraksi dari tanaman yang terinfeksi. Yang berarti
distribusi dengan luas adalah dengan transplantasi, sementara penyebaran lokal
adalah dengan transplantasi, tanah yang terbawa angin, permukaan air drainase,
tanah terbawa air, dan perlakuan (Walker, 1952)
F. oxysporum merupakan jamur yang mampu bertahan lama dalam tanah
sebagai klamidospora, yang terdapat banyak dalam akar sakit. Jamur mengadakan
infeksi melalui akar. Adanya luka pada akar akan meningkatkan infeksi. Setelah
masuk ke dalam akar, jamur berkembang sepanjang akar menuju ke batang dan di
sini jamur berkembang secara meluas dalam jaringan pembuluh sebelum masuk
ke dalam batang palsu. Pada tingkat infeksi lanjut, miselium dapat meluas dari
jaringan pembuluh ke parenkim. Jamur membentuk banyak spora dalam jaringan
tanaman (Semangun, 1991).

Universitas Sumatera Utara

Gambar 3. Siklus Fusarium oxysporum
Sumber: http://agricolasonline.es/Proyecto/ciclo/Fusarium.html

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Penyakit
Menurut Clayton (1923) penyakit berkembang pada suhu tanah 21 - 33 ˚C.
Suhu optimumnya adalah 28˚C. Sedangkan kelembaban tanah yang membantu
tanaman, ternyata juga membantu perkembangan penyakit. Seperti kebanyakan
Fusarium, penyebab penyakit ini dapat hidup pada pH tanah yang luas variasinya.
Penyakit akan lebih berat bila tanah mengandung banyak nitrogen tetapi miskin
akan kalium (Semangun, 1991).

Universitas Sumatera Utara

Pengendalian Penyakit

1.

Dengan penanaman jenis tomat yang tahan. Disini jenis tomat yang tahan
terhadap layu Fusarium sagat terbatas, antara lain adalah Ohio MR 9 dan
Walter.

2.

Pencelupan akar dengan benomyl 1.000 ppm memberikan hasil yang baik.

3.

Penggunaan mulsa plastik untuk meningkatkan suhu tanah untuk
mengendalikan penyakit dengan meningkatkan suhu tanah dengan mulsa
plastik memberikan banyak harapan, namun masih memerlukan banyak
penelitian untuk dapat dianjurkan dalam praktek

(Semangun, 1991)
Pengendalian diupayakan dengan menjaga agar sirkulasi udara di sekitar
pertanaman tetap lancar. Air hendaknya diusahakan jangan sampai tergenang.
Untuk pencegahan semprotkan fungisida Difolatan 4F seminggu sekali dengan
konsentrasi 2cc/l (Rismunandar, 1995)
Oleh karena itu, adanya organisme yang mengandung enzim kitinase
menyebabkan dan fusarium akan tertekan sehingga sukar didegradasi karena
dinding selnya dilapisi oleh protein dan lipid, yang menghalangi aktivitas enzim
hidrolitik (Sivan dan Chet, 1989).

Gliocladium virens

Jamur Gliocladium virens menghasilkan antibiotika antijamur, yaitu
gliotoksin, gliovirin, viridian dan antibiotika tak menguap, yang aktif
mengendalikan heterobasidion annosum, Pythium ultimum, Rhizoctonia solani
dan beberapa jamur pathogen lain (Soesanto, 2008).

Universitas Sumatera Utara

Genus Gliocladium sering digambarkan sebagai mitra dari Penicillium
dengan konidia berlendir. Koloni tumbuh cepat, seperti berbulu halus di tekstur,
putih pada awalnya, kadang-kadang merah muda, menjadi hijau pucat hingga
hijau tua dengan sporulasi. Paling khas dari genus ini adalah tegak, konidiofor
penicilate sering padat dengan fialid yang berlendir, hialin bersel satu untuk hijau,
konidia berdinding halus di kepala atau kolom. Meskipun, beberapa konidiofor
penicilate selalu hadir, spesies Gliocladium juga dapat menghasilkan konidiofor
percabangan verticillate yang dapat membingungkan antara Verticillium atau
Trichoderma (Anonimous, 2010).

Gambar 4. Gliocladium virens
Sumber:
(http://www.mycology.adelaide.edu.au/Fungal_Descriptions/Hyphomycetes_%28
hyaline%29/Gliocladium/).
Jamur ini mempunyai stadium bentuk teleo, yaitu Hypocrea sublutea Doi.
Jamur Gliocladium virens sering disalah identifikasikan sebagai Trichoderma
viride. Koloni tumbuh sangat cepat dan mencapai diameter 5-8 cm dalam waktu
lima ari pada suhu 20°C di media Oat Meal (OA). Perbedaannya dengan
Trichoderma viride hádala fialidanya seperti tertekan dan memunculkan satu tetes
besar konidium berwarna hijau, yang membentuk massa lendir, pada setiap

Universitas Sumatera Utara

gulungan. Konidiumnya berbentuk bulat pendek, berdinding halus, agar besar, dan
kebanyakan berukuran (4,5-6) x (3,5-4) μm (Soesanto, 2008).
Pada pengendalian hayati, perkecambahan konidia atau klamidospora
akan memudahkan agensia hayati seperti G. virens untuk menyerang miselium
F. oxysporum. G. virens juga dapat menghambat penyebab penyakit lainnya
seperti Rhizoctonia spp., Phytium spp., Sclerotium rolsfii penyebab damping off
dan penyebab penyakit akar, diduga enzimnya beta glucanase. G. virens mampu
menekan Sclerotium rolsfii sampai 85% secara in-vitro. G. virens dapat
mengeluarkan antibiotik gliotoksin, glioviridin, dan viridin yang bersifat
fungistatik. Gliotoksin dapat menghambat cendawan dan bakteri, sedangkan
viridin dapat menghambat cendawan. G. virens dapat tumbuh baik pada substrat
organik, media kering, dan kondisi asam sampai sedikit basa (Winarsih, 2007).
Konidia Gliocladium yang diaplikasikan ke tanah, akan tumbuh dan
konidianya berkecambah di sekitar perakaran tanaman. Laju pertumbuhan cepat
akibat rangsangan jamur patogen dalam waktu yang singkat sekitar 7 hari di
daerah perakaran tanaman. Gliocladium spp yang bersifat mikoparasit akan
menekan populasi jamur patogen yang sebelumnya mendominasi. Interaksi
diawali dengan melilitkan hifanya pada jamur patogen yang akan membentuk
struktur seperti kait yang disebut haustorium dan memarasit jamur patogen.
Bersamaan dengan penusukan hifa, jamur mikoparasit ini mengeluarkan enzim
seperti enzim kutinase dan β-1-3 glukanase yang akan menghancurkan dinding sel
jamur patogen. Akibatnya, hifa jamur patogen akan rusak, protoplasmanya keluar
dan jamur akan mati. Secara bersamaan pula terjadi mekanisme antibiosis,
keluarnya senyawa anti jamur golongan peptaibol dan senyawa furanon oleh

Universitas Sumatera Utara

Gliocladium spp. yang dapat menghambat pertumbuhan spora dan hifa jamur
patogen (Mehrotra, 1980).
Kemasan Gliocladium dengan merek GL-21 pertama kali terdaftar
sebagai fungisida pada tahun 1990 oleh WR Grace & Co (Columbia, MD) untuk
mengendalikan penyakit damping-off, terutama yang disebabkan oleh Pythium
dan Rhizoctonia sp. G. virens memiliki potensi besar sebagai agen pengendalian
biologi untuk patogen tanah (Mahar, 2009).
Pemberian G. virens berpengaruh nyata dalam menghambat pertumbuhan
F.o. f.sp. passiflora terhadap perlakuan tanpa pemberian G. virens. Penghambatan
pertumbuhan F.o. f.sp. passiflora oleh G. virens relatif lebih rendah dibandingkan
kontrol.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase serangan tertinggi

30,07% pada perlakuan kontrol (GO) tidak berbeda nyata dengan perlakuan G1
(dosis 25 gram/15 gr tanah) yaitu 28,50%, dan berbeda sangat nyata terhadap
perlakuan G3 (dosis 50 gram/15 gr tanah) dan 5,34 % dan G4 (dosis 62,5 gram/15
gr tanah) yaitu 2,12% sebagai persentase serangan terendah (Simanjuntak, 2010).
Pengendalian

penyakit

secara

hayati

tidak

dimaksudkan

untuk

memusnahkan suatu patogen dari suatu tempat, tetapi hanya mengurangi jumlah
dan kemampuan patogen tersebut

dalam menimbulkan suatu penyakit

(Pinem, 2001).

Universitas Sumatera Utara

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan tanaman buah Berastagi
dengan ketinggian tempat 1.340 m dpl. Pelaksanaan dimulai bulan Desember
2010 sampai Juni 2011.

Bahan dan Alat

Adapun bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih tomat,
varietas Sakura, Citra, dan varietas Warani, Pupuk Kandang Ayam, Pupuk Urea,
pupuk NPK , top soil, air, polibag, aquadest, Gliocladium virens, jamur Fusarium
oxysporum f.sp lycopersici, PDA, clorox, dan jagung giling.
Adapun alat yang digunakan adalah cangkul, pisau, timbangan,
erlenmeyer, petridish, gelas ukur, mikroskop, pipet tetes, jarum inokulasi,
inkubator, meteran, objek glass, pinset, bunsen, alumunium foil, cling wrap,
selotip, autoclave, kukusan tanah, ayakan, handsprayer, alat tulis, bambu, tali,
polibag, gunting, dan lain-lain.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial yang
terdiri dari 2 faktor, yaitu:
1. Faktor 1 adalah banyaknya Gliocladium virens
G0 = Kontrol
G1 = Gliocladium virens dalam media jagung sebanyak 25 gr/15 kg tanah

Universitas Sumatera Utara

G2 = Gliocladium virens dalam media jagung sebanyak 37.5 gr/15 kg tanah
G3 = Gliocladium virens dalam media jagung sebanyak 50 gr/15 kg tanah
G4 = Gliocladium virens dalam media jagung sebanyak 62.5 gr/15 kg tanah
2. faktor 2 adalah varietas, yaitu:
V1 = Varietas Citra
V2 = Varietas Sakura
V3 = Varietas Warani
Adapun kombinasi perlakuan dari penelitian ini adalah:
G0 V1

G1 V1

G2 V1

G3 V1

G4 V1

G0 V2

G1 V2

G2 V2

G3 V2

G4 V2

G0 V3

G1 V3

G2 V3

G3 V3

G4 V3

Kombinasi perlakuan = 15
Ulangan sebanyak 3 kali, diperoleh dari:
(t-1) (r-1) > 15
(15-1) (r-1) > 15
14r – 14> 15
r> 29/11
r ≥ 2.636
r=3
Model linier dari rancangan yang digunakan adalah :
Yijk = µ + αi + βj + (αβ)ij + Σijk
Keterangan:
Yijk

: nilai pengamatan pada suatu percobaan yang memperoleh perlakuan
taraf ke-i dari factor i dan taraf ke j

Universitas Sumatera Utara

µ

: rata-rata

αi

: pengaruh dari factor A dari taraf ke-i

βj

: pengaruh dari factor A dari taraf ke-j

(αβ)ij : intraksi dari factor A dari taraf ke-i dengan dari factor B dari taraf
Σijk

ke-j

: efek error dari factor A dari taraf ke-i dengan dari factor B dari taraf
Ke-j

(Bangun, 1991).
Jika hasil analisa menunjukkan nilai nyata dilanjutkan dengan uji jarak
Berganda Duncan (DMRT) (Bangun, 1991).
Jumlah perlakuan

= 15 perlakuan

Jumlah ulangan

= 3 ulangan

Jumlah polibag per perlakuan

= 4 polibag

Jumlah tanaman per polibag

= 1 tanaman

Jumlah seluruh perlakuan

= 45 perlakuan

Jumlah sampel yang diamati

= 4 tanaman per perlakuan

Jumlah tanaman seluruhnya

= 180 tanaman

Jarak antar perlakuan

= 50 cm

Jarak antar polibag

= 40 x 40 cm

Pelaksanaan Penelitian

1. Penyediaan Sumber Inokulum

a. Fusarium oxysporum f.sp lycopersici
Sumber

inokulasi

diambil

dari

tanaman

tomat

yang

terserang

F.o f.sp lycopersici. Akar dan pangkal batang tanaman yang terinfeksi dibersihkan

Universitas Sumatera Utara

dengan air mengalir, dipotong-potong (0,5 cm), disterilkan dengan Clorox 1%
selama 3 menit dan dibilas dengan aquadest 2-3 kali. Selanjutnya potongan akar
diberikan di atas kertas steril dan ditanam dalam media PDA. Biakan disimpan
dalam inkubattor pada temperature ruang selama 3 hari.
Miselium F.o f.sp lycopersici yang tumbuh, diisolasi kembali hingga
diperoleh biakan murni.
b. Gliocladium virens
Isolat G. virens yang digunakan diperoleh dari Balai Kebun Percobaan
Tanaman Buah Berastagi (BKPTBB). Isolat G. virens kemudian disegarkan
kembali pada media PDA.

Perbanyakan Gliocladium virens

Perbanyakan G. virens dilakukan dengan menggunakan media jagung.
Jagung ditimbang sebanyak 25, 37,5, 50, dan 62,5gr dan dicuci bersih, selanjutnya
diautoclave selama 30 menit pada suhu 121°C. Jagung yang telah di autoclave
kemudian didiamkan selama 1 hari. Kemudian diinokulasikan biakan murni pada
media jagung 2-3 cork borer. Diaduk hingga rata kemudian disusun di dalam
inkubator. Diinkubasikan pada suhu kamar. Setelah 10–15 hari jamur siap untuk
diaplikasikan.
(Syahnen, 2006).

Universitas Sumatera Utara

Persiapan Benih

Benih tomat yang digunakan adalah benih yang didapat dari toko pertanian
dengan berbagai varietas yaitu varietas Citra, Varietas Sakura dan Varietas
Warani.
Persiapan Tempat Penyemaian

Tempat penyemaian benih tomat berupa kotak kayu dengan ukuran lebar
50-60 cm, lebar 30-40 cm dan tinggi 25-30 cm tetapi disesuaikan dengan lokasi
dan kebutuhan bibit. Kotak semai tersebut diisi dengan medium semai yang
berupa campuran tanah, dan pupuk kandang setinggi 12cm dengan perbandingan
1: 1, kemudian dipadatkan sedikit demi sedikit.

Penyemaian

Benih yang sudah dipersiapkan dapat langsung disemai pada tempat
penyemaian yang telah disediakan. Biji yang telah tersebar itu kemudian ditutup
dengan Pupuk Kandang Ayam, lalu disiram. Untuk menghindarkan kerusakan
akibat kekeringan atau hujan, petakan ditutup dengan jerami kering atau atap.
Seminggu kemudian pada semaian sudah mulai tampak daun pertama, lalu
dipindahkan kedalam bumbun yang dibuat dari daun pisang/polibag yang
berdiameter 5 cm dan tinggi 5 cm. Besar kecilnya bumbun dapat diatur sesuai
dengan rencana penanaman. Dalam pelaksanaan membumbun, semai hendaknya
diusahakan

jangan

sampai

akar

pancarnya

melengkung

atau

sengaja

dilengkungkan

Universitas Sumatera Utara

Persiapan Media Tanam

Tanah top soil dan Pupuk Kandang Ayam yang akan digunakan 3:1 diayak
terlebih dahulu. Media campuran tersebut disterilkan dengan menggunakan uap
panas untuk membunuh mikroorganisme pada media tanam. Sterilisasi dilakukan
dengan menggunakan drum pengkukus pada suhu 1200 C dan tekanan 1,2 atm
selama ± 1 jam. Media yang telah dipanaskan dikeluarkan dari kukusan, lalu
dikering-anginkan di atas plastik di ruangan tertutup sampai dingin. Kemudian
media tanam tersebut diberi pupuk, kemudian diaduk rata. Hal ini bertujuan agar
unsur hara yang diberikan merata pada masing-masing polibag.

Inokulasi Fusarium oxysporum

Biakan dari F. oxysporum diberi aquades steril sebanyak 10 ml, kemudian
miselium dari media PDA dikikis dengan menggunakan jarum oase sehingga
bagian permukaan atas dari media terlepas. Lalu dishaker selama 15 menit dengan
kecepatan 100-150 rpm agar media tercampur dengan larutan air. Setelah itu,
suspensi disaring dengan kertas saring. Suspensi diambil 1 ml dan diteteskan di
atas Haemocytometer dengan menggunakan pipet tetes. Dibiarkan ruangan
Haemocytometer dipenuhi oleh suspensi jamur. Setelah merata dihitung jumlah
konidia pada setiap kotak contoh yang berisi 16 kotak kecil, lalu dihitung
kerapatan jamur. Kemudian suspensi tersebut diencerkan sehingga diperoleh
konidia yang diinginkan yaitu 106 konidia/liter air.
Suspensi tersebut diambil sebanyak 10 ml dan dicampurkan dengan 1 liter
air, sehingga diperoleh konsentrasi yang siap diaplikasikan yaitu 10 ml suspensi

Universitas Sumatera Utara

F. oxysporum/liter air. Inokulasi F. oxysporum dilakukan dengan cara dituang
merata ke sekeliling pangkal batang.

Penanaman

Bibit tomat yang telah disemai ditanam ke dalam polibag dengan
menggunakan tugal kecil. Bibit ditanam 1 bibit/polibag, dilakukan pada sore hari.

Parameter Pengamatan

1. Persentase Serangan Fusarium oxysporum fs.p lycopersici (Sacc)
Pengamatan terhadap persentase serangan dilakukan pada saat tanaman
berumur 10 hari sampai tanaman berumur 63 hari setelah tanam. Pengamatan
dilakukan satu kali seminggu, yaitu dengan menghitung jumlah tanaman yang
layu pada setiap perlakuan, dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
a
PS =

x 100%
N

Dimana,
PS = persentase serangan
a = Jumlah tanaman yang terserang/perlakuan
N = Jumlah tanaman/perlakuan
(Moekasan et al., 2000).

Produksi Tomat (gr/plot)
Produksi dicatat berat pada saat panen dengan kriteria panen pada umur
tanaman 60 – 65 hari setelah pindah tanam. Pemanenan dilakukan sebanyak 8 kali
dengan selang 7 hari sekali.

Universitas Sumatera Utara

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian pengaruh Gliocladium virens dan varietas terhadap
perkembangan penyakit Fusarium oxysporum f.sp lycopersici (Sacc) pada
tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Smith) di lapangan adalah sebagai
berikut :

1.

Persentase Serangan (%)

a. Pengaruh Gliocladium virens

terhadap persentase serangan (%)

Fusarium oxysporum f.sp lycopersici (Sacc) pada tanaman tomat
(Lycopersicum esculentum Smith) di lapangan
Data pengamatan persentase serangan Fusarium oxysporum f.sp
lycopersicum

pada setiap pengamatan mulai 7 - 56 hsa dapat dilihat pada

lampiran 2 - 9. Pengaruh G.virens

terhadap persentase serangan (%) pada

pengamatan 7 hsa- 56 hsa

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Pengaruh Gliocladium virens dan Varietas Terhadap Perkembangan Penyakit Fusarium oxysporum f.sp lycopersici (Sacc) Pada Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum Smith) di Lapangan