Pengaruh Komposisi Media Tanam dan Lama Perendaman Auksin Terhadap Pertumbuhan Bibit Tebu (Saccharum officinarumL.) Teknik Bud Chip

PENGARUH KOMPOSISI MEDIA TANAM DAN LAMA PERENDAMAN AUKSIN TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT TEBU (Saccharum officinarum L.) TEKNIK BUD CHIP SKRIPSI ERLIANDI 100301115
PROGRAMSTUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2014
Universitas Sumatera Utara

PENGARUH KOMPOSISI MEDIA TANAM DAN LAMA PERENDAMAN AUKSIN TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT TEBU (Saccharum officinarum L.) TEKNIK BUD CHIP
SKRIPSI
ERLIANDI 100301115 Skripsi sebagai salah satu syarat untukmemperoleh gelar sarjanadi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara
PROGRAMSTUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2014
Universitas Sumatera Utara

Judul:Pengaruh Komposisi Media Tanam dan Lama Perendaman Auksin

Terhadap Pertumbuhan Bibit Tebu (Saccharum officinarumL.) Teknik

Bud Chip

Nama

:Erliandi


NIM : 100301115

Program Studi :Agroteknologi

Disetujui oleh Komisi Pembimbing

Ir. Ratna Rosanty Lahay, M.P. Ir. Toga Simanungkalit, M.P.

Ketua

Anggota

Mengetahui,

Prof. Dr. Ir. T. Sabrina, M.Sc. Ketua Program Studi Agroteknologi

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT ERLIANDI: The Effectof Media Composition and Soaking Time of AuksintowardGrowth of Sugar cane (Saccharum officinarum L.) by Bud chip Technique,supervised by RATNA ROSANTY LAHAY and TOGA SIMANUNGKALIT.

Responses of media composition and soaking time of auksin toward thegrowth of sugar cane (Saccharum oficinarum L.) by bud chip technique have not been researched in north sumateraregion. Therefor, research has been conducted atexperimental field of Tanjung Jatti estate Binjai PTPN II(± 50-60 m asl.) in April – Juny 2014 using a randomized block design with two factors, the first i.e. media composition (50:50, 70:30, 30:70 (% top soil : % blotong compost) and the second i.e. soaking time of auksin(10, 20, and 30 minute). Observation variables measured were bud growth percentation, bud growth rate, plant height, leaf total, stem diameter, leaf area, shoot wet weight, root wet weight, shoot dry weight, root dry weight, seed solid, shoot and root ratio, seed quality index.
The results showed that 1 weeks after planting (WAP) of bud growth presentation, on 6 WAP of plant height, on 6 WAP of steam diameter, on 4 and 6 WAP of leaf total, on 8 WAP of leaf area, seed solid, shoot and root ratio, seed quality indexbe significantly differentby media composition. On 8 WAP of leaf area and shoot and root ratiobe significantly different soaking time of auksin. On2 WAP of leaf total be significantly different by the interaction of treatments. We recommend that auksin (atonik) should not be applicated by soaking, because its influence was not been optimal. Key words: Sugar cane, Bud Chip, Media, Auksin
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK ERLIANDI : Pengaruh Komposisi Mediia Tanam dan Lama Perendaman Auksin Terhadap Pertumbuhan Bibit Tebu (Saccharum officinarumL.) Teknik Bud Chip, dibimbing oleh RATNA ROSANTY LAHAY dan TOGA SIMANUNGKALIT.
Pertumbuhan bibit tebu teknik bud chip yang dipengaruhi oleh kombinasi komposisi media tanam dan lama perendaman auksinbelum ada diteliti di daerah Sumatera Utara. Untuk itu suatu penelitian telah dilakukan di lahan percobaan Kebun Tanjung Jatti BinjaiPTPN II (± 50-60 m dpl) pada April – Juni 2014 menggunakan rancangan acak kelompok dengan 2 faktor, pertama yaitu komposisi media tanam (50:50, 70:30, 30:70 (% top soil : % kompos blotong)) dan kedua yaitu lama perendaman auksin (10, 20, dan 30 menit). Peubah amatan yang diamati adalah kecepatan tumbuh tunas, persentase tumbuh tunas, tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, luas daun, bobot basah pucuk, bobot basah akar, bobot kering pucuk, bobot kering akar, kekokohan bibit, rasio pucuk akar (RPA), indeks mutu bibit (IMB).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase tumbuh tunas 1minggu setelah tanam (MST), tinggi tanaman 6 MST, diameter batang 6 MST, jumlah daun 4 dan 6 MST, luas daun 8 MST, kekokohan bibit, rasio pucuk akar, indeks mutu bibit berbeda nyata pada perlakuan komposisi media tanam. Luas daun 8 MST dan rasio pucuk akar berbeda nyata pada lama perendaman auksin. Hanya jumlah daun 2 MST yang berbeda nyata pada interaksi perlakuan. Sebaiknya auksin dengan merek dagang atonik tidak diaplikasikan dengan perendamankarna hasil perendaman tidak memberikan hasil maksimal.
Kata kunci: Tebu, Bud Chip, Media Tanam, Auksin
Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP ii
Penulis dilahirkan di Kota Langsa, Kabupaten Aceh Timur pada tanggal 02 April 1992 dari ayah Sumardi dan Ibu Ernawati. Penulis merupakan putra kedua dari empat bersaudara.
Tahun 2010 penulis lulus dari SMA Swasta Amanah Medan, KecamatanMedan Sunggal dan pada tahun yang sama masuk ke Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara melalui jalur Ujian Masuk Bersama (UMB). Penulis memilih Minat Budidaya Pertanian dan Perkebunan (BPP), Program Studi Agroteknologi.
Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif sebagai Seksi Komunikasi dan Informasi pada Organisasi Gabungan Mahasiswan Bidik Misi (GAMADIKSI). Penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di PT. Bakrie Sumatera Plantation Tbk. (BSP), Perkebunan Gurach Estate, Kecamatan Kisaran, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara dari tanggal 17 Juli sampai 15 Agustus 2013.
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkainii kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Komposisi Media Tanam dan Lama Perendaman Auksin Terhadap Pertumbuhan Bibit Tebu (Saccharum officinarumL.) Teknik Bud Chip”. Pada kesempatan ini penulis menghaturkan pernyataan terima kasih sebesar-besarnya kepada kedua orang tua penulis yang telah membesarkan, memelihara dan mendidik penulis selama ini. Penulis menyampaikan terima kasih kepada Ir. Ratna Rosanty Lahay, M.P. dan Ir. Toga Simanungkalit selaku ketua dan anggota komisi pembimbing sertaFreddy A.B. Siamtupang, SP selaku pembimbing lapangan yang telah membimbing dan memberikan berbagai masukan berharga kepada penulis dari mulai menetapkan judul, melakukan penelitian, sampai pada ujian akhir. Di samping itu, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada staf Riset dan Pengembangangan Tebu PTPN II Binjai atas perizinan penelitian dan fasilitas yang diberikan, karyawan PTPN II Kebun Tanjung Jatti Binjai Unit Pembibitan Tebu atas segala bantuan dalam kegiatan pelaksanaan penelitian dan, staf pengajar dan pegawai di Program Studi Agroekoteknologi, serta semua rekan mahasiswa yang tak dapat disebutkan satu per satu di sini yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat.
Medan, September 2014
Penulis
iv Universitas Sumatera Utara


DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK .................................................................................................
ABSTRACT ................................................................................................
RIWAYAT HIDUP ...................................................................................
KATA PENGANTAR ..............................................................................
DAFTAR TABEL .....................................................................................
DAFTAR GAMBAR ................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................
PENDAHULUAN
Latar Belakang .......................................................................................... 1 Tujuan Penelitian ...................................................................................... 2 Hipotesis Penelitian ................................................................................... 3 Kegunaan Penelitian ................................................................................. 3

i ii iii iv vii viii x

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman ........................................................................................ 4 Syarat Tumbuh .......................................................................................... 5
Iklim ...................................................................................................... 5 Tanah ..................................................................................................... 7 Teknik Bud Chip ........................................................................................ 8 Media Tanam ............................................................................................. 9 Top Soil...................................................................................................... 9 Kompos Blotong ................................................................................... 11 Auksin ........................................................................................................ 11


BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu .................................................................................... 13 Bahan dan Alat .......................................................................................... 13 Metode Penelitian ..................................................................................... 13 Pelaksanaan Penelitian .............................................................................. 15
Penyiapan Media Tanam ....................................................................... 15 Pembuatan Perlakuan Komposisi Media Tanam................................... 15 Pengisian Media Tanam ke Pot Tray .................................................... 15 Penyiapan Bibit Bud Chip ..................................................................... 16 Perlakuan Aplikasi Auksin Pada Bud Chip ........................................... 16 Penanaman Bibit Bud Chip di Pot Tray ................................................ 16 Pemeliharaan Tanaman ......................................................................... 17
Penyiraman ....................................................................................... 17 Penyiangan ........................................................................................ 17 Panen ................................................................................................ 17

v
Universitas Sumatera Utara

Peubah Amatan ......................................................................................... 17 Kecepatan Tumbuh Tunas (hari) ............................................................... 17
Persentase Tumbuh Tunas (%) .............................................................. 17 Tinggi Tanaman (cm) ................................................................................ 18 Diameter Batang (mm) .............................................................................. 18 Jumlah Daun (helai) ................................................................................... 18 Luas Daun (cm²)......................................................................................... 18 Bobot Basah Pucuk (g) ............................................................................. 18
Bobot Basah Akar (g) ........................................................................... 19 Bobot Kering Pucuk (g) ............................................................................. 19 Bobot Kering Akar (g) ............................................................................... 19
Kekokohan Bibit ................................................................................... 19 Rasio Pucuk Akar (RPA) ....................................................................... 19 Indeks Mutu Bibit (IMB) ........................................................................... 20
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil .......................................................................................................... 21 Kecepatan Tumbuh Tunas (hari) .......................................................... 21 Persentase Tumbuh Tunas (%).............................................................. 22 Tinggi Tanaman (cm)............................................................................ 24 Diameter Batang (mm) ......................................................................... 27 Jumlah Daun (helai) ............................................................................. 29 Luas Daun (cm²).................................................................................... 34 Bobot Basah Pucuk (g) .......................................................................... 36 Bobot Basah Akar (g) ........................................................................... 36 Bobot Kering Pucuk(g).......................................................................... 37 Bobot Kering Akar(g)............................................................................ 37 Kekokohan Bibit.................................................................................... 38 Rasio Pucuk Akar(RPA) ....................................................................... 39
Indeks Mutu Bibit(IMB) ........................................................................... 41 Pembahasan ............................................................................................... 42
Pertumbuhan Bibit Tebu Pada Perlakuan Komposisi Media Tanam .... 42 Pertumbuhan Bibit Tebu Pada Perlakuan Perendaman Auksin ............ 47 Pertumbuhan Bibit Tebu Pada Interaksi Perlakuan Komposisi Media Tanam dan Lama Perendaman Auksin.................................................. 48
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan ............................................................................................... 49 Saran .......................................................................................................... 49
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 50

LAMPIRAN .............................................................................................. 52
vi
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Nomor

Halaman

1. Rataan kecepatan tumbuh tunas bibit tebu 5 HST (hari) pada perlakuan komposisi media tanam dan lama perendaman auksin ........21

2. Rataan persentase tumbuh tunas bibit tebu 1,2 dan 3 MST (%) pada perlakuan komposisi media tanam dan lama perendaman auksin..................................................................................................... 22

3. Rataan tinggi tanaman tebu 2, 4 dan 6 MST (cm) pada perlakaun komposisi media tanam dan lama perendaman auksin .........................25

4. Rataan diameter batangtebu 2, 4 dan 6 MST (mm) pada perlakuan komposisi media tanam dan lama perendaman auksin.........27

5. Rataan jumlah daun tebu 2, 4 dan 6 MST (helai) pada perlakuan komposisi mediatanam dan lama perendaman auksin ..........................30


6. Rataan luas daun tebu 8 MST (cm²) pada perlakuan komposisi media tanam dan lama perendaman auksin...........................................34

7. Rataan bobot basah pucuk tebu 8 MST(g) pada perlakuan komposisi media tanam dan lama perendaman auksin .........................36

8. Rataan bobot basah akar tebu 8 MST (g) pada perlakuan komposisi media tanam dan lama perendaman auksin .........................36

9. Rataan bobot kering pucuk tebu 8 MST (g) pada perlakuan komposisi media tanam dan lama perendaman auksin .........................37

10. Rataan bobot kering akar tebu 8 MST(g) pada perlakuan komposisi media tanam dan lama perendaman auksin .........................37

11. Rataan kekokohan bibit tebu 6 MST pada perlakuan komposisi media tanam dan lama perendaman auksin...........................................

38

12. Rataan rasio pucuk akar tebu 8 MST pada perlakuan komposisi media tanam dan lama perendaman auksin...........................................39

13. Rataan indeks mutu bibittebu 8 MST pada perlakuan komposisi media tanam dan lama perendaman auksin.................................................. 41

vii
Universitas Sumatera Utara


DAFTAR GAMBAR

Nomor

Halaman

1. Top soil ............................................................................................... 9

2. Pertambahan persentase tumbuh tunas dari 1 sampai 3 MST pada komposisi media tanam ..................................................................... 23

3. Pertambahan persentase tumbuh tunas dari 1 sampai 3 MST pada lama perendaman auksin............................................................ 23

4. Hubungan antara komposisi media tanam dengan persentase tumbuh tunas 1 MST .......................................................................... 24

5. Pertambahan tinggi tanaman dari 2 sampai 6 MST pada komposisi media tanam ...................................................................... 25

6. Pertambahan tinggi tanaman dari 2 sampai 6 MST pada lama perendaman auksin ............................................................................. 26

7. Hubungan antara komposisi media tanam dengan tinggi tanaman 6 MST................................................................................................. 26


8. Pertambahan diameter batang dari 2 sampai 6 MST pada komposisi media tanam ...................................................................... 28

9. Pertambahan diameter batang dari 2 sampai 6 MST pada lama perendaman auksin ............................................................................. 28

10. Hubungan antara komposisi media tanam dengan diameter batang 6 MST ..................................................................................... 29

11. Pertambahan jumlah daun dari 2 sampai 6 MST pada komposisi media tanam ....................................................................................... 30

12. Pertambahan jumlah daun dari 2 sampai 6 MST pada lama perendaman auksin ........................................................................... 31

13. Hubungan antara lama perendaman auksin dengan komposisi media pada jumlah daun 2 MST......................................................... 32

14. Hubungan antara komposisi media tanam dengan jumlah daun 4 MST................................................................................................... 33

15. Hubungan antara komposisi media tanam dengan jumlah daun 6 MST................................................................................................. 33

viii

Universitas Sumatera Utara


16. Hubungan antara komposisi media tanam dengan luas daun 8 MST.................................................................................................... 35
17. Hubungan antara lama perendaman auksin dengan luas daun 8 MST ..........................................................................................................35 18. Hubungan antara komposisi media tanam dengan kekokohan
bibit 6 MST ..........................................................................................39 19. Hubungan antara komposisi media tanam dengan rasio pucuk
akar 8 MST...........................................................................................40 20. Hubungan antara lama perendaman auksin dengan rasio pucuk
akar8 MST............................................................................................41 21. Hubungan antara lama perendaman auksin dengan indeks mutu
bibit 8 MST ..........................................................................................42
ix
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

Halaman

1. Data Pengamatan Kecepatan Tumbuh Tunas 5 HST (hari) .................. 52

2. Sidik Ragam Kecepatan Tumbuh Tunas 5 HST (hari) ......................... 52


3. Data Pengamatan Persentase Tumbuh Tunas 1 MST (%) ................... 53

4. Sidik Ragam Persentase Tumbuh Tunas 1 MST (%)............................ 53

5. Data Pengamatan Persentase Tumbuh Tunas 2 MST (%) .................... 54

6. Sidik Ragam Persentase Tumbuh Tunas 2 MST (%)............................ 54

7. Data Pengamatan Persentase Tumbuh Tunas 3 MST (%) .................... 55

8. Sidik Ragam Persentase Tumbuh Tunas 3 MST (%)............................ 55

9. Data Pengamatan Tinggi Bibit 2 MST (cm) ........................................ 56

10. Sidik Ragam Tinggi Bibit 2 MST (cm) .............................................. 56

11. Data Pengamatan Tinggi Bibit 4 MST (cm) ...................................... 57

12. Sidik Ragam Tinggi Bibit 4 MST (cm) ............................................. 57


13. Data Pengamatan Tinggi Bibit 6 MST (cm) ....................................... 58

14. Sidik Ragam Tinggi Bibit 6 MST (cm) ............................................. 58

15. Data Pengamatan Diameter Batang 2 MST (mm) ............................. 59

16. Sidik Ragam Diameter Batang 2 MST (mm) ..................................... 59

17. Data Pengamatan Diameter Batang 4 MST (mm) ............................. 60

18. Sidik Ragam Diameter Batang 4 MST (mm)...................................... 60

19. Data Pengamatan Diameter Batang 6 MST (mm) .............................. 61

20. Sidik RagamDiameter Batang 6 MST (mm) ...................................... 61

21. Data Pengamatan Jumlah Daun 2 MST (helai)................................... 62

22. Sidik Ragam Jumlah Daun 2 MST (helai) ......................................... 62

x
Universitas Sumatera Utara

23. Data Pengamatan Jumlah Daun 4 MST (helai)................................... 63 24. Sidik Ragam Jumlah Daun 4 MST (helai) ......................................... 63 25. Data Pengamatan Jumlah Daun 6 MST (helai)................................... 64 26. Sidik Ragam Jumlah Daun 6 MST (helai) ......................................... 64 27. Data Pengamatan Luas Daun Daun 8 MST (cm²)............................... 65 28. Sidik Ragam Luas Daun 8 MST (cm²) ............................................... 65 29. Data Pengamatan Bobot Basah Pucuk (g) .......................................... 66 30. Sidik Ragam Bobot Basah Pucuk (g) ................................................. 66 31. Data Pengamatan Bobot Basah Akar (g) ............................................ 67 32. Sidik Ragam Bobot Basah Akar (g).................................................... 67 33. Data Pengamatan Bobot Kering Pucuk (g) ......................................... 68 34. Sidik Ragam Bobot Kering Pucuk (g) ................................................ 68 35. Data Pengamatan Bobot Kering Akar (g) ........................................... 69 36. Sidik Ragam Bobot Kering Akar (g) .................................................. 69 37. Data Pengamatan Kekokohan Bibit 6 MST ....................................... 70 38. Sidik Ragam Kekokohan Bibit 6 MST ............................................. 70 39. Data Pengamatan Rasio Pucuk Akar 8 MST ..................................... 71 40. Sidik Ragam Rasio Pucuk Akar 8 MST ............................................. 71 41. Data Pengamatan Indeks Mutu Bibit ................................................. 72 42. Sidik Ragam Indeks Mutu Bibit ......................................................... 72 43.Deskripsi Tanaman Tebu Varietas BZ 134........................................... 73 44. Bagan Penelitian ................................................................................ 74 45. Foto Sampel Bibit ............................................................................... 75 46. Foto Lahan ......................................................................................... 76
xi
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT ERLIANDI: The Effectof Media Composition and Soaking Time of AuksintowardGrowth of Sugar cane (Saccharum officinarum L.) by Bud chip Technique,supervised by RATNA ROSANTY LAHAY and TOGA SIMANUNGKALIT.
Responses of media composition and soaking time of auksin toward thegrowth of sugar cane (Saccharum oficinarum L.) by bud chip technique have not been researched in north sumateraregion. Therefor, research has been conducted atexperimental field of Tanjung Jatti estate Binjai PTPN II(± 50-60 m asl.) in April – Juny 2014 using a randomized block design with two factors, the first i.e. media composition (50:50, 70:30, 30:70 (% top soil : % blotong compost) and the second i.e. soaking time of auksin(10, 20, and 30 minute). Observation variables measured were bud growth percentation, bud growth rate, plant height, leaf total, stem diameter, leaf area, shoot wet weight, root wet weight, shoot dry weight, root dry weight, seed solid, shoot and root ratio, seed quality index.
The results showed that 1 weeks after planting (WAP) of bud growth presentation, on 6 WAP of plant height, on 6 WAP of steam diameter, on 4 and 6 WAP of leaf total, on 8 WAP of leaf area, seed solid, shoot and root ratio, seed quality indexbe significantly differentby media composition. On 8 WAP of leaf area and shoot and root ratiobe significantly different soaking time of auksin. On2 WAP of leaf total be significantly different by the interaction of treatments. We recommend that auksin (atonik) should not be applicated by soaking, because its influence was not been optimal. Key words: Sugar cane, Bud Chip, Media, Auksin
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK ERLIANDI : Pengaruh Komposisi Mediia Tanam dan Lama Perendaman Auksin Terhadap Pertumbuhan Bibit Tebu (Saccharum officinarumL.) Teknik Bud Chip, dibimbing oleh RATNA ROSANTY LAHAY dan TOGA SIMANUNGKALIT.
Pertumbuhan bibit tebu teknik bud chip yang dipengaruhi oleh kombinasi komposisi media tanam dan lama perendaman auksinbelum ada diteliti di daerah Sumatera Utara. Untuk itu suatu penelitian telah dilakukan di lahan percobaan Kebun Tanjung Jatti BinjaiPTPN II (± 50-60 m dpl) pada April – Juni 2014 menggunakan rancangan acak kelompok dengan 2 faktor, pertama yaitu komposisi media tanam (50:50, 70:30, 30:70 (% top soil : % kompos blotong)) dan kedua yaitu lama perendaman auksin (10, 20, dan 30 menit). Peubah amatan yang diamati adalah kecepatan tumbuh tunas, persentase tumbuh tunas, tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, luas daun, bobot basah pucuk, bobot basah akar, bobot kering pucuk, bobot kering akar, kekokohan bibit, rasio pucuk akar (RPA), indeks mutu bibit (IMB).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase tumbuh tunas 1minggu setelah tanam (MST), tinggi tanaman 6 MST, diameter batang 6 MST, jumlah daun 4 dan 6 MST, luas daun 8 MST, kekokohan bibit, rasio pucuk akar, indeks mutu bibit berbeda nyata pada perlakuan komposisi media tanam. Luas daun 8 MST dan rasio pucuk akar berbeda nyata pada lama perendaman auksin. Hanya jumlah daun 2 MST yang berbeda nyata pada interaksi perlakuan. Sebaiknya auksin dengan merek dagang atonik tidak diaplikasikan dengan perendamankarna hasil perendaman tidak memberikan hasil maksimal.
Kata kunci: Tebu, Bud Chip, Media Tanam, Auksin
Universitas Sumatera Utara

PENDAHULUAN Latar Belakang
Tebu merupakan tanaman penghasil gula yang menjadi salah satu sumber karbohidrat. Tanaman ini sangat dibutuhkan sehingga kebutuhannya terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Namun peningkatan konsumsi gula belum dapat diimbangi oleh produksi gula dalam negeri. Dimana Kementerian Pertanian telah mencatat realisasi produksi gula selama 2013 mencapai 2,54 juta ton dari produksi tebu sebanyak 35,4 juta ton dengan areal 464.644 hektar, dibandingkan pada 2012 produksi gula mencapai 2,59 juta ton dari produksi tebu sebanyak 31,88 juta ton serta luas areal perkebunan 451.191 hektar. Penyebab rendahnya produksi gula dalam negeri salah satunya dapat dilihat dari permasalahandi lapangan, diantaranya penyiapan bibit dan kualitas bibit tebu. Selain penyiapan bibit, kualitas bibit yang digunakan juga mempengaruhi karena kualitas bibit merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan bagi keberhasilan budidaya tebu (Balai PenelitianTanaman Perkebunan dan Serat (BPTPS), 2014).
Selain permasalah dari sisi bibit, semakin sedikitnya ketersediaan lahan menyebabkan kebutuhan lahan untuk pembibitan juga semakin sulit. Dari beberapa problematika tersebut, maka diperlukan adanya teknologi penyiapan bibit dengan waktu yang singkat, efisiensi lahan dan bibit yang berkualitas. Adapun teknik pembibitan yang dapat menghasilkan bibit yang berkualitas tinggi serta hanya memerlukan penyiapan bibit yang lebih efisien terhadap penggunaan lahan yakni dengan teknik pembibitan bud chip. Bud chip adalah teknik pembibitan tebu secara vegetatif yang menggunakan bibit satu mata. Bibit yang di
Universitas Sumatera Utara

2
gunakan berumur 6-7 bulan, murni (tidak tercampur dengan varietas lain), bebas dari hama penyakit dan tidak mengalami kerusakan fisik (Putriet al., 2013).
Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap hasil pembibitan dengan teknik bud chip adalah media tanam dan penggunaan zat pengatur tumbuh. Komposisi media tanam yang digunakan pada teknik ini terdiri dari tanah top soil dan kompos blotong. Tanah top soil digunakan karena dapat menyimpan persediaan air dan mempermudah perakaran bagi tanaman. sedangkan kompos blotong digunakan karena dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah serta dapat menyediakan unsur hara. Sedangkan penggunaan zat pengatur tumbuh (ZPT) bertujuan untuk merangsang tunas bibit maupun mempercepat sistem perakaran serta jika diaplikasikan dalam perendaman dengan konsentrasi yang tepat, diharapkan mampu merangsang pertumbuhan tunas atau akar dan dapat memecahkan masa dormansi pada tunas bibit tebu.
Diharapkan kombinasi dari komposisi media tanam dan lamanya perendaman ZPT tersebut dapat mengoptimalkan pertumbuhan bibit tebu dengan teknik bud chip. Penggunaan komposisi media tanam serta perlakuan bibit dengan perendaman ZPT yang tepat merupakan langkah awal yang sangat menentukan bagi keberhasilan budidaya tebu yang akhirnya akan mendorong peningkatan produktivitas gula. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ialah untuk mendapatkan interaksi perlakuan komposisi media tanam dan lama perendaman auksin serta mendapatkan komposisi media tanam dan lama perendaman auksin yang tepat untuk pertumbuhan bibit tebu (Saccharum officinarum L.)teknikbud chip.
Universitas Sumatera Utara

3 Hipotesis Penelitian
Adanya pengaruh nyata terhadap perlakuan komposisi media tanam dan lama perendaman auksin serta interaksi perlakuan terhadap pertumbuhan bibit tebu (Saccharum officinarum L.)teknik bud chip. Kegunaan Penelitian
Penelitian berguna untuk mendapatkan data penyusunan skripsi sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana pertanian di Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dan diharapkan dapat berguna untuk pihakpihak yang berkepentingan dalam pembibitan tebu teknik bud chip.
Universitas Sumatera Utara

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman
Menurut Chairunnisa (2005), sistematika tebudiuraikan sebagai berikut: Kingdom: Plantae; Divisio:Spermatophyta; Subdivisio: Angiospermae; Kelas: Monocotyledoneae; Ordo: Graminales; Famili: Graminae; Genus: Saccharum; Spesies: Saccharum officinarumL.
Akar tanaman tebu berakar serabut dan menjalar hingga ke permukaan tanah. Akar tebu dapat memanjang hingga 1,6 m, yang terdiri dari cabang atau anak akar yang banyak. Akar tanaman tebu termasuk akar serabut tidak panjang yang tumbuh dari cincin tunas anakan. Pada fase pertumbuhan batang, terbentuk pula akar dibagian yanglebih atas akibat pemberian tanah sebagai tempat tumbuh (Indrawanto, 2010).
Batang tanaman tebu berdiri lurus dan beruas-ruas yang dibatasi dengan buku-buku. Pada setiap buku terdapat mata tunas. Batang tanaman tebu berasal dari mata tunas yang berada dibawah tanah yang tumbuh keluar dan berkembang membentuk rumpun. Diameter batang antara 3-5 cm dengan tinggi batang antara 2-5 meter dan tidak bercabang(Indrawanto, 2010).
Daun tebu berbentuk busur panah seperti pita, berseling kanan dan kiri, berpelepah seperti daun jagung dan tak bertangkai. Tulang daun sejajar, ditengah berlekuk. Tepi daun kadang-kadang bergelombang serta berbulu kasar (Indrawanto, 2010).
Bunga tebu berupa malai dengan panjang antara 50-80 cm. Cabang bunga pada tahap pertama berupa karangan bunga dan pada tahap selanjutnya berupa tandan dengan dua bulir panjang 3-4 mm. Terdapat pula benangsari, putik dengan
Universitas Sumatera Utara

5
dua kepala putik dan bakal biji. Buah tebu seperti padi, memiliki satu biji dengan besar lembaga 1/3 panjang biji. Biji tebu dapat ditanam di kebun percobaan untuk mendapatkan jenis baru hasil persilangan yang lebih unggul (Indrawanto, 2010).
Fase perkecambahan pada pertumbuhan tanaman sangat tergantung pada ketersedian air dan makanan yang terdapat dalam bibit. Bibit dengan kualitas yang buruk, misalnya diperoleh dari umur bibit yang sudah tua yang kondisi distribusi air dan hara dalam jaringan lembaga tunas sudah berkurang akan menyulitkan terjadinya inisiasi tumbuh tunas. Meskipun pada awal perkecambahan, jumlah tunasberkorelasi dengan jumlah mata yang berinisiasi menjadi tunas, namun sesungguhnya pola pertumbuhan populasi tebu akan mengalami keseimbangan mencapai populasi optimal disebabkan antara masing-masing tunas akan terjadi persaingan terhadap faktor lingkungan tumbuh. Artinya pola pertumbuhan populasi tanaman pada periode pertunasan maksimal, akan diikuti penurunan populasi tanaman sampai mencapai pertumbuhan populasi batang optimal (Soedhono, 2009). Syarat Tumbuh Iklim
Pengaruh iklim terhadap pertumbuhan tebu dan rendemen gula sangat besar. Dalam masa pertumbuhan tanaman tebu membutuhkan banyak air, sedangkan saat masak tanaman tebu membutuhkan keadaan kering agar pertumbuhan terhenti. Apabila hujan tetap tinggi maka pertumbuhan akan terus terjadi dan tidak ada kesempatan untuk menjadi masak sehingga rendemen menjadi rendah (Indrawanto,2010).
Universitas Sumatera Utara

6
Tanaman tebu dapat tumbuh dengan baik didaerah dengan curah hujan berkisar antara 1.000 – 1.300 mm per tahun dengan sekurang-kurangnya 3 bulan kering. Distribusi curah hujan yang ideal untuk pertanaman tebu adalah pada periode pertumbuhan vegetatif diperlukan curah hujan yang tinggi (200 mm per bulan) selama 5-6 bulan. Periode selanjutnya selama 2 bulan dengan curah hujan 125 mm dan 4 – 5 bulan dengan curah hujan kurang dari 75 mm/bulan yang merupakan periode kering. Periode ini merupakan periode pertumbuhan generatif dan pemasakan tebu (Indrawanto, 2010).
Pengaruh suhu pada pertumbuhan dan pembentukan sukrosa pada tebu cukup tinggi. Suhu ideal bagi tanaman tebu berkisar antara 24º C–34º C dengan perbedaan suhu antara siang dan malam tidak lebih dari 10º C. Pembentukan sukrosa terjadi pada siang hari dan akan berjalan lebih optimal pada suhu 30º C. Sukrosa yang terbentuk akan disimpan pada batang dimulai dari ruas paling bawah pada malam hari. Prosespenyimpanan sukrosa ini paling efektif dan optimal pada suhu 15º C Tanaman tebu membutuhkan penyinaran 12-14 jam setiap harinya. Proses asimilasi akan terjadi secara optimal, apabila daun tanaman memperoleh radiasi penyinaran matahari secara penuh sehingga cuaca yang berawan pada siang hari akan mempengaruhi intensitas penyinaran dan berakibat pada menurunnya proses fotosintesa sehingga pertumbuhan terhambat (Indrawanto, 2010). Tanah
Struktur tanah yang baik untuk pertanaman tebu adalah tanah yang gembur sehingga aerasi udara dan perakaran berkembang sempurna, oleh karena itu upaya pemecahan bongkahan tanah atau agregat tanah menjadi partikel-partikel kecil
Universitas Sumatera Utara

7
akan memudahkan akar menerobos. Sedangkan tekstur tanah, yaitu perbandingan partikel - partikel tanah berupa lempung, debu dan liat, yang ideal bagi pertumbuhan tanaman tebu adalah tekstur tanah ringan sampai agak berat dengan kemampuan menahan air cukup dan porositas 30 %. Tanaman tebu menghendaki solum tanah minimal 50 cm dengan tidak ada lapisan kedap air dan permukaan air 40 cm. Sehingga pada lahan kering, apabila lapisan tanah atasnya tipis maka pengolahan tanah harus dalam. Demikian pula apabila ditemukan lapisan kedap air, lapisan ini harus dipecah agar sistem aerasi, air tanah dan perakaran tanaman berkembang dengan baik (Indrawanto, 2010).
Kesuburan tanah menentukan keberhasilan budidaya tebu, menyangkut aspek faktor pembatas fisik dan kimia tanah. Sifat fisik tanah yang menonjol adalah drainase / permeabilitas, tekstur dan ruang pori. Sedangkan sifat kimia tanah adalah kadar bahan organik, pH, ketersediaan hara esensial dan KTK tanah.. Kemasaman tanah (pH) yang terbaik untuk tanaman tebu adalah pada kisaran 6,0 – 7,0 namun masih dapat tumbuh pada kisaran pH 4,5 - 7,5. Kesuburan tanah (status hara), berdasarkan hasil penelitian P3GI untuk menentukan kesesuaian lahan bagi tanaman tebu dengan kriteria N total > 1,5, P2O5 tersedia > 75 ppm, K2O tersedia > 150 ppm dan kejenuhan Al > 4 bulan, masa tanam yang optimal pada akhir musim kemarau sampai awal musim hujan yaitu pertengahan Oktober sampai dengan masa tanam juga dapat pada akhir musim hujan sampai awal musim kemarau dengan kondisi tanah ringan. Pada daerah basah (bulan kering ≤ 2 bulan) masa tanam tebu terbaik pada awal musim kemarau (Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI), 2009).
Universitas Sumatera Utara

8
Teknik Bud Chip Teknik bud chipmerupakan pembibitan tebu berupa mata tunas yang
diambil dari bibit tebu. Cara ini sudah pernah dilaksanakan di P3GI Pasuruan, namun teknik ini belum menghasilkan pembibitan yang optimal. Bud chip yang dimaksud adalah bud chip Columbia, yang diadopsi dari Columbia hasil studi banding anggota DPRD Jatim tahun 2011(Budiarto, 2013).
Bud chip adalah teknologi percepatan pembibitan tebu dengan satu mata tunas yang diperoleh dengan menggunakan alat mesin bor berupa chisel mortisier (alat pemotong batang tebu). Pusat Penelitian Gula PTPN X telah mengadopsi teknologi pembibitan tebu ini dari columbia dengan menggunakan bud chip diharapkan akan dapat menghasilkan banyak anakan dengan pertumbuhan yang seragam (P3GI, 2014).
Kelebihan dari metode single bud chipyakni areal lahan untuk perbanyakan tebu lebih sedikit (efisiensi lahan), umur bibit siap tanam lebih pendek (sekitar 2-2,5 bulan), kualitas lebih tinggi (keseragaman dan vigornya), persentase tumbuh bibit dilapangan lebih tinggi, penggunaan bibit lebih efisien (menggunakan 1 mata tunas), jumlah anakan tebu lebih banyak dibandingkan dengan metode konvensional serta ketersediaan bibit lebih terjamin. Tetapi memiliki kelemahan dimana memerlukan tenaga kerja yang terampil, diperlukan alat bor bud chip dan penyesuaian bibit dari persemaian sebelum ditanam di lapangan (BPTPS, 2014). Media Tanam
Ada empat fungsi media tanam untuk mendukung pertumbuhan tanaman yang baik, yaitu sebagai tempat unsur hara, mampu memegang air yang tersedia
Universitas Sumatera Utara

9 bagi tanaman, dapat melakukan pertukaran udara antara akar dan atmosfer di atas media dan harus dapat menyokong pertumbuhan tanaman (Fahmi, 2013).
Media tanam yang baik adalah media yang mampu menyediakan air dan unsur hara dalam jumlah cukup bagi pertumbuhan tanaman. Hal ini dapat ditemukan pada tanah dengan tata udara yang baik, mempunyai agregat mantap, kemampuan menahan air yang baik dan ruang untuk perakaran yang cukup (Fahmi, 2013).
Berbagai jenis media tanam dapat kita gunakan, tetapi pada prinsipnya kita menggunakan media tanam yang mampu menyediakan nutrisi, air, dan oksigen bagi tanaman. Penggunaan media yang tepat akan memberikan pertumbuhan yang optimal bagi tanaman (Fahmi, 2013). Top Soil
Top soil adalah lapisan tanah bagian atas. Istilah ini lazim digunakan di dunia pertanian. Di bidang pertanian, topsoil mempunyai peranan yang sangat penting karena di lapisan itu terkonsentrasi kegiatan-kegiatan mikroorganisme yang secara alami mendekomposisi serasah pada permukaan tanah yang pada akhirnya akan meningkatkan kesuburan tanah.
Top Soil
Gambar 1. Top Soil(Andy, 2009)
Universitas Sumatera Utara

10
Bahan organik umumnya ditemukan di permukaan tanah, dengan jumlah yang tidak besar (sekitar 3 – 5 %), namun pengaruhnya terhadap sifat-sifat tanah sangat besar. Adapun pengaruhnya terhadap sifat-sifat tanah dan akibat terhadap pertumbuhan tanaman adalah :
- Sebagai granulator (memperbaiki struktur tanah) - Sumber unsur hara N, P, S, unsur mikro dan lainnya - Menambah kemampuan tanah untuk menahan air - Menambah kemampuan tanah untuk menahan unsur hara (kapasitas tukar
kation tanah menjadi tinggi) - Sumber energi bagi mikroorganisme. (Rosdianti, 2009).
Keberadaan bahan organik di dalam tanah ditunjukkan oleh lapisan berwarna gelap atau hitam, biasanya pada lapisan atas setebal 10-15 cm. Jumlah dan ketebalan lapisan ini bergantung pada proses yang terjadi seperti pelapukan, penambahan, mineralisasi, erosi, pembongkaran dan pencucian (leaching), serta pengaruh lingkungan seperti drainase, kelembapan, suhu, ketinggian tempat, dan keadaan geologi (Suhardjoet al., 1993). Kompos Blotong
Pemberian blotong berpengaruh terhadap berat tanah, karna dapat membentuk agregat tanah, sehingga butiran tanah dapat menahan air lebih banyak. Dimana unsur yang diperlukan tanaman akan lebih tersedia bagi pertumbuhan tanaman dan juga merupakan sumber C-organik yang penting dalam pembentukan humus tanah (Sitepu danLubis, 1997).
Universitas Sumatera Utara

11
Kompos dari blotong umumnya mengandung hara N, P2O5 dan K2O masing-masing sekitar 1-1,5%, 1,5-2,0% dan 0,6-1,0%. Kompsos ini dapat memperbaiki sifat fisik tanah di areal perkebunan tebu, khususnya meningkatkan kapasitas menahan air, menurunkan penguapan air tanah. Secara umum bentuk dari blotong berupa serpihan serat-serat tebu yang mempunyai komposisi humus, N-total, C/N, P2O5, K2O, CaO dan MgO, cukup baik untuk dijadikan bahan pupuk organic (Sinaga dan Susanto, 2010).
Blotong ternyata cukup efektif menekan laju penguapan air tanah. Sifat higroskopisnya mampu mengikat air hujan dalam jumlah banyak. Menurut Baharsyah (2007) salah satu alternatif memanen air hujan dan menyiasati kekeringan yakni dengan memanfaatkan kompos blotong. Sifat higroskopis limbah tebu/pabrik gula yang disebabkan kandungan niranya membuat lahan mampu mengikat air hujan lebih banyak. Dengan begitu pembenamanya kedalam tanah diharapkan dapat menyerap air hujan lebih banyak sehingga kelembaban tanah dapat terjaga lebih lama. Auksin
Salah satu alternatif tindakan dalam peningkatan produksi dapat dilakukan melalui teknologi konvensional dan inkonvensional. Salah satu teknologi inkonvensional yang belum dijalankan secara intensif adalah penggunaan zat pengatur tumbuh. Menurut Manurung (1985) dalam Siahaan (2006), kemampuan zat pengatur tumbuh dikaitkan dengan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, maka dapat dapat diusahakan adalah agar perubahan atau modifikasi tersebut terarah pada perbaikan hasil kuantitatif maupun kualitatif.
Universitas Sumatera Utara

12

Auksin adalah agent yang dapat mengendalikan untuk mencegah

terjadinya absisi. IAA yang dihasilkan helaian daun bergerak ke bawah melalui

petiolus dan menghambat terjadinya absisi. Tetapi kemampuan petiolus

mentransport IAA secara normal dikontrol oleh umur daun sehingga

kemampuannya dalam mentransport IAA dapat menurun dan dapat mengalami

penghambatan (Siahaan, 2006)

Auksin dengan merek dagang atonik merupakan zat pengatur tumbuh

tanaman berbentuk larutan dalam air, berwarna coklat, berbau khas. Atonik

berfungsi untuk merangsang pertumbuhan akar supaya lebih banyak,

mengaktifkan penyerapan unsur hara, meningkatkan keluarnya kuncup,

pembuahan serta memperbaiki kualitas hasil panen dengan susunan nitro aromatik

dan kandunga bahan aktifnya sebagai berikut:

- Nitro orto nitrofenol

0,2%

- Natrium para nitrofenol 0,3%

- Natrium 5 nitroquaiacolat 0,1%

- Natrium 2,4 dinitrofenol 0,05%

- Air pelarut

99,35%

(Mandiri, 1994).

Atonik bekerja secara biokimia, langsung meresap kedaun, akar dan

kuncup bunga dan mempengaruhi peroses aliran plasma sel dan memberikan

kekuatan vital untuk mempergiat pertumbuhan. Atonik mempunyai efek

tersendiri, menyempurnakan proses penyerbukan sehingga memastikan terjadinya

biji (Heddy, 1996).

Universitas Sumatera Utara

BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Pembibitan Tebu Kebun Tanjung Jatti Binjai
PTPN IIdengan ketinggian tempat ± 50-60 meter diatas permukaan laut. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Juni 2014. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan antara lain bibit tebubud chip varietas BZ 134, top soil, kompos blotong, atonik, nordox56 WP, plastik transparan dan bahan pendukung lainya.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pot tray, chisel mortisier (alat pemotongmata tebu), alat steam media tanam, ayakan 20 mesh, meteran,jangka sorong, oven, kameradan alat pendukung lainya. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial, terdiri dari 2 faktor : Faktor I : Media tanam (M) berdasarkanvolume komposisi top soil : kompos
blotong yang terdiri dari 3 taraf, yaitu : M1: 50% : 50% M2: 70% : 30% M3: 30% : 70% Faktor II: Lama perendaman auksin (T) dengan konsentrasi 2 ml/L air yang terdiri dari 3 taraf, yaitu: T1 : 10 menit T2 : 20 menit T3 : 30 menit
Universitas Sumatera Utara

14

Adapun kombinasi perlakuan sebagai berikut :

M1T1

M1T2

M1T3

M2T1

M2T2

M2T3

M3T1 Varietas Tebu

M3T2

M3T3 : BZ 134

Jumlah Ulangan

:3

Jumlah Satuan Percobaan

: 27

Jumlah Tanaman per Plot

: 120 Tanaman

Jumlah Sampel Tanaman per Plot

: 64 Tanaman

Jumlah Sampel Seluruhnya

: 1728 Tanaman

Jumlah Tanaman Seluruhnya

: 3240 Tanaman

Jarak Antar Ulangan

: 60 cm

Jarak Antar Perlakuan

: 20 cm

Data hasil penelitian dianalisis dengan sidik ragam model linier sebagai berikut:

Yijk = µ + ρi+ αj + βk + (αβjk) + εijk

Dimana :

Yijk= hasil pengamatan blok ke-i yang mendapat perlakuan komposisi media tanam pada taraf ke-j dan lama perendaman auksin pada taraf ke-k

µ = nilai tengah perlakuan

ρi = pengaruh blok ke-i

αj = pengaruh perlakuan komposisi media tanam pada taraf ke-j

βk =pengaruh lama perendaman auksin pada taraf ke-k

(αβ)jk = pengaruh interaksi antar komposisi media tanam pada taraf ke-j dan lama perendaman auksin pada taraf ke-k

Εijk = galat percobaan blok ke-i dengan perlakuan komposisi media tanam pada taraf ke-j dan lama perendaman auksinpada taraf ke-k.

Universitas Sumatera Utara

15
Data pengamatan yang diperoleh dianalis menggunakan analisis ragam (uji F) pada taraf 5%. Apabila terdapat beda nyata (F hitung > F tabel 5%), maka akan dilanjutkan dengan uji jarak berganda duncan (UJGD) pada taraf 5% (Hanafiah, 2002). Pelaksanaan Penelitian Penyiapan Media Tanam
Media tanam terdiri dari tanah top soil dan kompos blotong, kemudian media tanam dibersihkan dan dipisahkan dari kotoran lain seperti akar gulma, kayu, dedaunan, batu dan sampah lainya. Media tanam top soil dan kompos blotong diayak hingga halus dengan menggunakan ayakan 20 mesh. Pembuatan Perlakuan Komposisi Media Tanam
Media tanam dicampurkan berdasarkan volume komposisi media tanam sesuai perlakuan masing - masing dengan menggunakan ember sesuai volume media tanam.Masing-masing komposisi media tanam dimasukan ke dalam tong yang berbeda untuk disterilisasikan dengan suhu 100ºC dengan waktu ± 2 jam. Media tanam yang telah disterilisasi, dibiarkan selama satu hari hingga suhu menurun. Pengisian Media Tanam ke Pot tray
Pengisian media tanam ke pot tray dilakukan sedikit demi sedikit sambil diguncangkan perlahan-lahan agar tanah tersebut padat dan tidak terjadi adanya rongga-rongga udara yang besar di dalam pot tray. Pengisian media ini dilakukan sampai 3/4 dari volume pot tray. Kemudian disiram dengan air, apabila permukaan media turun maka diisi kembali hingga permukaan media berada ¼ dari volume dibawah permukaan pot tray. Kemudian pot tray diberi alas
Universitas Sumatera Utara

16
menggunakan plastik transparan agar penyebaran akar tidak menembus lubang bawah sehingga pertumbuhan seragam. Penyiapan Bibit Budchip
Ditebang bibit tebu varietas BZ 134 bakal budchipyang berumur 7 bulan kemudian dikupas daun yang telah mengering dan disortir agar didapatkan mata tunas yang baik. Dipotong 3 bagian bakal bibit yakni bagian atas, tengah dan bawah dimana digunakan 10 mata dalam 1 tanaman dari bagian atas dan tengah sebagai bakal bibit. Bakal bibit kemudian dipotong dengan alat bor yakni chisel mortisieruntuk membuat bibit bud chip yang menghasilkan bibit dengan 1 mata tunas. Bibit bud chip kemudian direndam dengan fungisida Nordox 56 WP dengan konsentrasi 2 gr/L air selama 10 menit dengan menggunakan ember sebagai wadah perendaman. Perlakuan Aplikasi Auksin Pada Bud chip
Aplikasi auksin dengan konsentrasi 2 ml/L air berdasarkan lamanya perendaman masing- masing dengan menggunakan 3 ember sebagai wadah perendaman auksin dimana tiap 1 ember sebagi perlakuan masing-masing perendaman. Penanaman Bibit Bud chip di Pot tray
Sebelum penanaman, media tanam disiram dengan air. Kemudian bibit bud chip ditanam dalam pot tray dengan cara ditekan secara perlahan-lahan hingga mata tunas sampai kepermukaan tanah dengan arah mata tunas mengarah ke atas kemudian permukaan mata tunas dipadatkan kembali dengan tanah tipis.
Universitas Sumatera Utara

17
Pemeliharaan Tanaman Penyiraman
Penyiraman dilakukan 2 kali sehari yakni pada pagi dan sore hari atau tergantung kepada keadaan cuaca. Penyiangan
Penyiangan dilakukan didalam pot tray dan disekitar pembibitan secara manual. Interval penyiangan ini disesuaikan dengan keadaan gulma di pembibitan. Panen
Pemanenanbibit tebu dilakukan 8 minggu setelahtanam (MST)dengan kriteriabibit layak dipaindahkan ke l