Uji Ketahanan Beberapa klon IRR seri 400 Tanaman Karet (Havea brasiliensis) terhadap Isolat Corynesprora cassiicola dan toksin Cassiicolin. (Berk & Curt.) di Laboratorium

UJI KETAHANAN BEBERAPA KLON IRR SERI 400 TANAMAN KARET (Hevea brassiliensis Muell. Arg.) TERHADAP ISOLAT Corynespora cassiicola (Berk. & Curt.) DAN TOKSIN CASSIICOLIN DI LABORATORIUM
SKRIPSI
JEFFRI VAN HANSEN GURNING 060302024 HPT
DEPERTEMEN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011
Universitas Sumatera Utara

UJI KETAHANAN BEBERAPA KLON IRR SERI 400 TANAMAN KARET (Hevea brassiliensis Muell. Arg.) TERHADAP ISOLAT Corynespora cassiicola (Berk. & Curt.) DAN TOKSIN CASSIICOLIN DI LABORATORIUM
SKRIPSI
JEFFRI VAN HANSEN GURNING 060302024 HPT
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Di Departemen Hama Dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara Medan
Disetujui oleh: Komisi pembimbing

(Ir. Lahmuddin Lubis, MP) Ketua

(Ir. Mukhtar Iskandar Pinem, M.Agr) Anggota

DEPERTEMEN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

Universitas Sumatera Utara

2011 ABSTRACT
Jeffri Van Hansen Gurning, "Resistance Test of Some Clones IRR 400 series rubber plant (Hevea brassiliensis Muell. Arg.) Against Isolates Corynespora cassiicola (Berk. & Curt.) And Cassiicolin Toxin at the Laboratory.", Is under supervised by Ir. Lahmuddin Lubis, MP and Ir.Mukhtar Pinem Iskandar, M. Agr. This research aimed to know the resistance of some clones IRR 400 series rubber plants of spray Corynespora cassiicola spores and cossiicolin toxin in the laboratory. This research was done in the Laboratorium Proteksi Tanaman Balai Penelitian Sungai Putih Kec. Galang, Kabupaten Deli Serdang at an altitude of 80 m above sea level and runs from March to April 2011. This reseach use complete randomized design, this research use 18 treatments and 3 replication.
The research result showed the highest intensity of the attacks is K3 (IRR 404), K6 (IRR 407), K8 (IRR 411), K9 (IRR 412), K10 (IRR 414), K11 (IRR418), and K15 (IRR 423) amounting to 10.02%. While the lowest found on the K16 (RRIC 100) and K17 (BPM 1) is 3.60%. The highest is K9 (IRR 412) with 6:32% and the lowest found in K7 (IRR 409) is 3.82%. Based on the classification of these clones there are resistant clones are RRIC 100 BPM 1, which is rather resistant clones is the IRR 409 and PB 260, moderate clones IRR 402, IRR 420, IRR 422, which is rather susceptible clones are IRR 400, IRR 405, IRR 406, IRR 419 while the susceptible clones are IRR 404, IRR 407, IRR 411, IRR 412, IRR 414, IRR 418 and IRR 423.
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Jeffri Van Hansen Gurning, “ Uji Ketahanan Beberapa klon IRR seri 400 Tanaman Karet (Havea brasiliensis) terhadap Isolat Corynesprora cassiicola dan toksin Cassiicolin. (Berk & Curt.) di Laboratorium” dibawah bimbingan Ir. Lahmuddin Lubis, MP dan Ir. Mukhtar Iskansdar Pinem M. Agr. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui resistensi beberapa klon IRR 400 tanaman karet melalui semprot spora Corynespora cassiicola dan toksin Cassiicolin di laboratorium. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Proteksi Tanaman Balai Penelitian Sungai Putih Kec. Galang, Kabupaten Deli Serdang pada ketinggian 80 m diatas permukaan laut dan dilaksanakan mulai Maret sampai April 2011. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak lengkap. This research use 18 perlakuan dan 3 ulangan.
Penelitian ini menunjukkan intensitas serangan tertinggi adalah K3 (IR 404), K6 (IRR 407), K8 (IRR 411), K9 (IRR 412), K10 (IRR 414), K11 (IRR418), dan K15 (IRR 423) sebesar 10.02% sedangkan yang terendah adalah K16 (RRIC 100) dan K17 (BPM 1) sebesar 3.60%. Berdasarkan klasifikasi RRIC 100 dan BPM 1 adalah klon yang resiten, sedangkan IRR 409 dan PB 260 agak resisten, klon yang moderat adalah IRR 402, IRR 420, IRR 422, klon agak rentan adalah IRR 400, IRR 405, IRR 406, IRR 419. Sedangkan klon yang rentan adalah IRR 404, IRR 407, IRR 411, IRR 412, IRR 414, IRR 418 dan IRR 423.
Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP
Jeffri Van Hansen Gurning lahir pada tanggal 6 Juni 1988 di P. Siantar. Anak pertama dari empat bersaudara dari ayahanda T. Gurning dan Ibunda R. br Manurung.
Pendidikan yang telah ditempuh penulis adalah sebagai berikut:  Lulus dari Sekolah Dasar Methodist Berastagi pada tahun 2000  Lulus dari SLTP. Negeri 2 Berastagi Pada Tahun 2003.  Lulus dari SMA Negeri 1 Berastagi Pada Tahun 2006.  Pada tahun 2006 diterima di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera
Utara Medan, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan melalui jalur SPMP.  Penulis pernah aktif dalam organisasi kemahasiswaan yaitu:  Anggota IMAPTAN (Ikatan Mahasiswa Perlindungan Tanaman) tahun 2006-2011.  Asisten Hama Hutan pada tahun 2009  Asisten Dasar Perlindungan Hutan pada tahun 2009-2010.  Asisten Pestisida dan Teknik Aplikasi pada tahun 2011.  Penulis melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di PTPN 3, Kebun Bangun, Pematang Siantar pada tahun 2010.  Melaksanakan penelitian skripsi Balai Penelitian Sungai Putih Kec. Galang, Kabupaten Deli Serdang pada bulan Maret sampai April 2011.
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan Rahmat Nyalah penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini dengan tepat waktu.
Adapun judul dari skripsi saya adalah “UJI KETAHANAN BEBERAPA KLON IRR SERI 400 TANAMAN KARET (Hevea brassiliensis Muell. Arg.) TERHADAP ISOLAT Corynespora cassiicola (Berk. & Curt.) DAN TOKSIN CASSIICOLIN DI LABORATORIUM.” yang disusun sebagai salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana di Departemen Ilmu Hama Dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ir. Lahmuddin Lubis MP selaku ketua komisi pembimbing dan Bapak Ir. Mukhtar Iskandar Pinem, M.Agr selaku anggota komisi pembimbing yang telah banyak memberikasn saran dan arahan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi penelitian ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.
Medan, Juni 2011
Penulis
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
ABSTRACT ............................................................................................... i
ABSTRAK................................................................................................. ii
KATA PENGANTAR..............................................................................iii
DAFTAR ISI ............................................................................................ iv
DAFTAR GAMBAR................................................................................. v
DAFTAR TABEL .................................................................................... vi
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................... vii
PENDAHULUAN Latar Belakang .................................................................................. 1 Tujuan Penelitian............................................................................... 3 Hipotesis Penelitian ........................................................................... 3 Kegunaan Penelitian.......................................................................... 3
TINJAUAN PUSTAKA Biologi Penyakit................................................................................ 4 Gejala Serangan ................................................................................ 6 Factor-Faktor Yang Mempengaruhi Penyakit .................................... 8 Iklim/Cuaca ........................................................................... 8 Ketinggian Tempat................................................................. 9 Kesuburan Tanah ................................................................... 10 Pengendalian Penyakit....................................................................... 10 Klon Pembanding .............................................................................. 12
BAHAN DAN METODE Tempat Dan Waktu Penelitian ........................................................... 13 Bahan Dan Alat ................................................................................. 13 Metoda Penelitian.............................................................................. 14 Pelaksanaan Penelitian....................................................................... 15 Penyiapan Bahan Tanaman .................................................... 15 Isolasi Patogen C. cassiicola .................................................. 15 Penyiapan Spora Jamur .......................................................... 16 Pembuatan Media Perbanyakan Toksin.................................. 19 Pembuatan Toksin ................................................................. 20 Penentuan Konsentrasi Toksin ............................................... 21 Pelaksanaan Inokulasi............................................................ 22
Universitas Sumatera Utara

Uji Semprot Spora...................................................... 22 Uji Toksin Cassiicolin ................................................ 22 Parameter Pengamatan....................................................................... 22 I. Uji Semprot Spora ............................................................. 22 II.Uji Toksin Cassiicolin ........................................................ 24 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil.................................................................................................. 25 Intensitas Serangan C. casiicola pada Uji Semprot Spora....... 25 Klasifikasi Penilaian serangan C.cassiicola............................ 29 Pembahasan....................................................................................... 30 Intensitas Serangan C. casiicola pada Uji Semprot Spora....... 30 Uji Toksin Cassiicolin............................................................ 31 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ....................................................................................... 33 Saran ................................................................................................. 33 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

No Keterrangan
1. Miselium serangan murni C. cassiicola (Berk.& Curt.) Wei. 2. Gejala serangan murni C. cassiicola (Berk.& Curt.) Wei
yang terserang penyakit 3. Biakan murni C. cassiicola (Berk.& Curt.) Wei. 4. Haemocytometer 5. Histogram Intensitas serangan C. cassiicola (%) 2-8 hsi pada Uji
semprot spora

Hlm 5 7
16 17
27

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

No. Keterangan
1. Komposisi Pembuatan Media Perbanyakan Toksin
2. Uji Beda Rataan Serangan C. cassiicola (%) pada Perlakuan Uji Semprot Spora pada Waktu Pengamatan 8 hsi
. 3. Uji Beda Rataan pada Uji Toksin Cassiicolin . 4. Klasifikasi Penilaian Intensitas Serangan C.Cassiicola

Hlm 19 25
28 29

Universitas Sumatera Utara

2011 ABSTRACT
Jeffri Van Hansen Gurning, "Resistance Test of Some Clones IRR 400 series rubber plant (Hevea brassiliensis Muell. Arg.) Against Isolates Corynespora cassiicola (Berk. & Curt.) And Cassiicolin Toxin at the Laboratory.", Is under supervised by Ir. Lahmuddin Lubis, MP and Ir.Mukhtar Pinem Iskandar, M. Agr. This research aimed to know the resistance of some clones IRR 400 series rubber plants of spray Corynespora cassiicola spores and cossiicolin toxin in the laboratory. This research was done in the Laboratorium Proteksi Tanaman Balai Penelitian Sungai Putih Kec. Galang, Kabupaten Deli Serdang at an altitude of 80 m above sea level and runs from March to April 2011. This reseach use complete randomized design, this research use 18 treatments and 3 replication.
The research result showed the highest intensity of the attacks is K3 (IRR 404), K6 (IRR 407), K8 (IRR 411), K9 (IRR 412), K10 (IRR 414), K11 (IRR418), and K15 (IRR 423) amounting to 10.02%. While the lowest found on the K16 (RRIC 100) and K17 (BPM 1) is 3.60%. The highest is K9 (IRR 412) with 6:32% and the lowest found in K7 (IRR 409) is 3.82%. Based on the classification of these clones there are resistant clones are RRIC 100 BPM 1, which is rather resistant clones is the IRR 409 and PB 260, moderate clones IRR 402, IRR 420, IRR 422, which is rather susceptible clones are IRR 400, IRR 405, IRR 406, IRR 419 while the susceptible clones are IRR 404, IRR 407, IRR 411, IRR 412, IRR 414, IRR 418 and IRR 423.
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Jeffri Van Hansen Gurning, “ Uji Ketahanan Beberapa klon IRR seri 400 Tanaman Karet (Havea brasiliensis) terhadap Isolat Corynesprora cassiicola dan toksin Cassiicolin. (Berk & Curt.) di Laboratorium” dibawah bimbingan Ir. Lahmuddin Lubis, MP dan Ir. Mukhtar Iskansdar Pinem M. Agr. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui resistensi beberapa klon IRR 400 tanaman karet melalui semprot spora Corynespora cassiicola dan toksin Cassiicolin di laboratorium. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Proteksi Tanaman Balai Penelitian Sungai Putih Kec. Galang, Kabupaten Deli Serdang pada ketinggian 80 m diatas permukaan laut dan dilaksanakan mulai Maret sampai April 2011. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak lengkap. This research use 18 perlakuan dan 3 ulangan.
Penelitian ini menunjukkan intensitas serangan tertinggi adalah K3 (IR 404), K6 (IRR 407), K8 (IRR 411), K9 (IRR 412), K10 (IRR 414), K11 (IRR418), dan K15 (IRR 423) sebesar 10.02% sedangkan yang terendah adalah K16 (RRIC 100) dan K17 (BPM 1) sebesar 3.60%. Berdasarkan klasifikasi RRIC 100 dan BPM 1 adalah klon yang resiten, sedangkan IRR 409 dan PB 260 agak resisten, klon yang moderat adalah IRR 402, IRR 420, IRR 422, klon agak rentan adalah IRR 400, IRR 405, IRR 406, IRR 419. Sedangkan klon yang rentan adalah IRR 404, IRR 407, IRR 411, IRR 412, IRR 414, IRR 418 dan IRR 423.
Universitas Sumatera Utara

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sejak berabad-abad lalu karet telah dikenal dan digunakan secara tradisional oleh penduduk asli di daerah asalnya, yakni Brasil, Amerika Selatan. Akan tetapi meskipun telah diketahui penggunaanya oleh Colombus dalam pelayarannya ke Amerika Selatan pada akhir abad ke-15 dan bahkan oleh penjelajah-penjelajah berikutnya pada abad ke-16, sampai saat itu karet masih belum menarik perhatian orang-orang Eropa (Setyamidjaja, 1993).
Penyakit Corynespora menyebabkan pengguguran daun yang terus menerus terutama jika patogen menyerang pada periode pembentukan daun muda setelah gugur daun alami. Pembentukan daun baru yang berulang-ulang menyebabkan mati pucuk terutama pada tanaman muda. Pada tanaman dewasa (telah disadap), pembentukan daun muda yang jelek yang disebabkan oleh penyakit gugur daun sering kali menyebabkan stress fisiologi, menyebabkan kehilangan hasil lateks sampai kematian (Achuo et al.,2001).
Penyakit gugur daun Corynespora (PGDC) pada tanaman karet disebabkan oleh cendawan Corynespora cassiicola (Berk. & Curt.) Wei. PGDC merupakan salah satu penyakit penting di Indonesia dan negara-negara produsen karet alam lainnya (Hadi, 2008).
PGDC dapat menyerang tanaman karet pada semua tingkatan umur, baik pada pembibitan, kebun entres maupun kebun produksi. Penyakit ini sangat merugikan karena menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan penurunan produksi. Pada kondisi agroklimat yang lebih basah, penyakit tersebut dapat
Universitas Sumatera Utara

menimbulkan kerugian yang yang lebih besar, karena dapat menimbulkan kematian pohon (Hadi, 2008).
C. cassiicola memproduksi banyak ras dan mampu hidup pada berbagai tumbuhan dan klon karet dan berbagai kondisi lingkungan. Dengan kemampuan tersebut patogen dapat mengakibatkan kerusakan berat atau mematahkan resistensi tanaman. Beberapa laporan menunjukkan bahwa selama 1980-1996, patogen tersebut telah mengakibatkan kerusakan pada 34 klon karet di perkebunan karet dunia termasuk Indonesia. Klon karet resisten yang ditanam sekarang ini diperkirakan akan mengalami kerusakan oleh ras patogen yang timbul di masa yang akan datang. Mengingat bahaya tersebut, telah dilakukan berbagai penelitian tentang virulensi ras patogen dan resistensi klon karet terhadap patogen tersebut di Indonesia (Situmorang dkk, 2001).
Di Indonesia penyakit gugur daun Corynespora pertama kali ditemukan pada tahun 1980 di kebun percobaan Sembawa, Propinsi Sumatera Selatan (Sinulingga dkk, 1996). C. cassiicola telah membentuk berbagai ras dengan patogenitas yang cukup bervariasi. Ras patogen ini terdiri dari tiga kelompok besar yaitu : 1. ras yang beradaptasi terhadap kondisi geografis, 2. ras yang beradaptasi terhadap tumbuhan inang selain karet dan, 3. ras yang beradaptasi dengan klon karet. Ras kelompok pertama dan ke tiga termasuk ras yang sangat penting dibandingkan dengan ras kelompok kedua yang biasanya tidak menular ke tanaman karet. Ras kelompok ketiga ini dapat digolongkan dalam 2 ras yaitu : a. ras yang menyerang klon yang sebelumnya telah rentan (klon kelompok pertama) dan, b. ras yang telah mulai menyerang klon yang sebelumnya tahan (klon kelompok kedua) (Situmorang dkk, 2009).
Universitas Sumatera Utara

Cassicolin adalah toksin yang inangnya selektif, dihasilkan oleh jamur C. Cassiicola (strain CCP). Penyebab gugur daun Corynespora, yang merupakan salah satu penyakit yang penting pada tanaman karet (Havea brasiliensis). Bekerja dengan cassiicolin yang telah dimurnikan dan dapat diamati dengan mikroskop elektron (Barthe et al, 2006).
Tujuan Penelitian Untuk mengetahui tingkat ketahanan klon IRR seri 400 tanaman karet
terhadap isolat Corynespora cassiicola dan toksin Cassiicolin.
Hipotesa Penelitian Klon tanaman karet yang berbeda mempunyai ketahanan yang berbeda
terhadap isolat Corynespora cassiicola dan toksin Cassiicolin. Kegunaan Penelitian
1. Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di departemen hama dan penyakit tumbuhan fakultas pertanian universitas sumatera utara, medan.
2. Sebagai bahan informasi tambahan bagi pihak-pihak yang membutuhkan.
Universitas Sumatera Utara

TINJAUAN PUSTAKA

Biologi Penyakit

Klasifikasi jamur Corynespora cassiicola menurut Alexopolus dan Mims

(1979) adalah sebagai berikut :

Divisi

: Eumycophyta

Sub Divisi

: Eumycotina

Kelas

: Deutromycetes

Ordo

: Coryneales

Famili

: Hipomycetes

Genus

: Corynespora

Spesies

: Corynespora cassiicola (Berk. & Curt.) Wei

Konidiofor C. cassiicola berwarna coklat, keluar dari permukaan bawah daun, dengan ujung membengkak. Konidium berwarna coklat, seperti gada atau silindris, ujungnya agak runcing, bersepta 2–14, dengan ukuran 40-120µm x 818µm. Dalam biakan murni bermacam-macam isolat C. Cassiicola dari tanaman karet mempunyai miselium yang beragam mofologinya (Semangun, 1999).
Jamur ini mempunyai benang-benang hifa berwarna hitam pucat, menghasilkan spora pada bagian bercak atau bagian yang hijau. Benang-benang hifa jamur dan sporanya kurang jelas terlihat pada permukaan daun tanpa alat pembesaran. Jamur tersebut mempunyai banyak tumbuhan inang seperti ketela pohon, akasia, angsana, beberapa rumputan pepaya dan lain-lain (Situmorang dkk, 2009).

Universitas Sumatera Utara

Gambar 1. Miselium serangan murni C. cassiicola (Berk.& Curt.) Wei.
Penyakit gugur daun Corynespora akhir-akhir ini muncul menjadi penyebab gugur daun yang mencolok, terutama pada klon introduksi. Pada klon yang ditanam di Sumatera Utara dan Timur, Corynespora menyebabkan gugur daun sepanjang tahun sehingga tanaman gundul dan pertumbuhannya terhambat. Klon lokal biasanya tahan terhadap penyakit ini, tetapi dikhawatirkan patogenitas akan meningkat sehingga pada akhirnya klon lokal pun akan terserang juga. Pada klon peka, Corynespora dapat menyerang daun muda maupun daun tua (Setyamidjaja, 1993).
C. cassiicola lebih menyukai daun yang masih muda sampai umur 4 minggu, meskipun daun tua dapat diinfeksinya. Apabila infeksi patogen berhasil pada saat tanaman membentuk daun muda dengan dukungan kondisi iklim/cuaca akan merupakan pemacu timbulnya epidemi pada bulan berikutnya. Pengguguran daun tanaman biasanya berlangsung 3-4 bulan setelah infeksi patogen.
Universitas Sumatera Utara

Pengguguran daun tanaman berlangsung lambat dan terus-menerus hingga tajuk tanaman menjadi tipis sepanjang tahun. Adakalanya tanaman membentuk daundaun yang baru namun dalam waktu 2-3 bulan kemudian akan gugur juga (Situmorang dkk, 1996).
Pada klon yang sangat rentan, serangan terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan tanaman meranggas atau mati. Sedangkan pada klon yang resisten, serangan Corynespora pada daun menimbulkan bercak kehitaman tetapi tidak berkembang, demikian juga warna daun di sekitar bercak tersebut tidak berubah dan daun tidak gugur (Rahayu dan Sujatno, 2007).
Gejala Serangan
Gejala serangan pada daun coklat masih belum tampak setelah daun menjadi hijau muda, gejala mulai terlihat bercak hitam kemudian berkembang seperti menyirip. Menjadi pucat, lemas, dan bagian ujungnya mati atau kering. Pada daun tua, bercak hitam tersebut dan sirip tampak lebih jelas seperti tulang ikan. Bercak ini meluas mengikuti urat daun dan kadang-kadang sebagian pusat bercak berwarna coklat atu kelabu, dan berlubang. Daun akhirnya menjadi kuning atau kemerahan kemudian gugur (Situmorang dkk, 2009).
Infeksi terutama terjadi pada daun muda yang umurnya kurang dari 4 minggu. Mula-mula pada daun terjadi bercak hitam, terutama pada tulang-tulang daun. Bercak berkembang mengikuti tulang-tulang daun dan meluas ke tulangtulang yang lebih halus, sehingga bercak tampak menyirip seperti tulang atau duri ikan. Pada tingkat lanjut, bercak semakin meluas, berbentuk bundar atau tidak
Universitas Sumatera Utara

teratur. Bagian tepi bercak berwarna coklat, dengan sirip berwarna coklat dan hitam. Bagian pusatnya mengering atau dapat berlubang. Di sekitar bercak biasanya terdapat daerah yang berwarna kuning (halo) yang agak lebar. Daun yang sakit menguning, menjadi coklat dan gugur (Rahayu, 2005).
Jamur juga dapat menginfeksi tunas muda dan tangkai daun yang menyebabkan matinya tunas dan terjadinya bercak coklat memanjang pada tangkai daun dengan kulit yang pecah. Tanaman-tanaman yang rentan dapat menjadi gundul, dengan banyak ranting dan cabang mati, pertumbuhannya terhambat, sehingga memasuki masa sadap (Rahayu,2005).
Gambar 2. Gejala serangan murni C. cassiicola (Berk.& Curt.) Wei. Penyakit gugur daun C. cassiicola selain menyerang daun muda juga
menyerang daun tua. Daun muda (flush) yang helaian daunnya baru membuka, berwarna merah tembaga atau hijau muda, apabila terserang Corynespora akan berubah menjadi kuning, menggulung, layu, dan gugur. Daun-daun akan terlepas
Universitas Sumatera Utara

dari tangkainya dan akibatnya tangkai itu sendiri gugur. Pada daun muda, serangan Corynespora tidak menimbulkan bercak yang nyata, tetapi tampak kuning merata di seluruh permukaan daun. Sedangkan daun tua atau hitam, tidak menyirip seperti tulang ikan (Rahayu dan Sujatno, 2007).
Toksin yang dibentuk oleh Corynespora menyebabkan perubahan warna yang meluas pada daun. Bahkan meskipun pada patogen hanya membentuk bercak yang kecil pada tulang daun, karena adanya toksin ini daun dapat menguning, menjadi coklat dan gugur. Tanaman-tanaman yang rentan dapat menjadi gundul, dengan banyak ranting dan cabang mati, pertumbuhannya terhambat, sehingga terlambat memasuki masa sadap (Semangun, 1999).
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penyakit
Iklim/Cuaca Kondisi iklim/cuaca yang sesuai pada saat terjadinya infeksi sangat
menentukan terjadinya epidemi. Kondisi lingkungan dengan kelembapan 96%100% atau adanya titik air, suhu 28-300C dan cahaya terang biasa ataupun gelap adalah kondisi sangat sesuai bagi perkecambahan konidia C. cassiicola. Bila kondisi yang demikian dicapai pada saat tanaman membentuk daun muda akan memudahkan terjadinya infeksi jamur dengan cepat dan dalam jumlah yang banyak. Hal ini merupakan salah satu faktor penting mendorong kemungkinan terjadinya pengguguran daun yang lebih berat atau epidemi pada bulan berikutnya (Situmorang dkk, 1996).
Universitas Sumatera Utara

Pengguguran daun yang berat atau epidemi C. cassiicola akan terjadi bila kondisi iklim/cuaca yang lembab mendukung dengan curah hujan yang relatif tidak terlalu tinggi dan merata sepanjang hari (Situmorang dkk, 1996).
Keadaan hujan merupakan faktor yang penting dalam mempengaruhi timbulnya serangan jamur yang berat atau epidemi. Di daerah dengan curah hujan yang rendah terjadi serangan yang lebih berat dibandingkan dengan daerah dengan curah hujan yang tinggi. Kemudian di daerah-daerah yang mempunyai curah hujan yang merata sepanjang tahun atau di daerah dengan batas musim hujan dan musim kering tidak begitu jelas, C. cassiicola menimbulkan kerusakan yang berat dan tanaman akan meranggas sepanjang tahun. Namun di daerah dengan batas musim hujan dan musim kemarau yang lebih jelas, serangan jamur juga terjadi namun tanaman tidak mengalami perangsangan sepanjang tahun (Situmorang dkk, 1996).
Ketinggian Tempat
Kebun-kebun yang terletak pada tempat yang lebih rendah dari 300 m di atas permukaan laut mendapat serangan jamur yang lebih berat, dibandingkan dengan kebun-kebun yang terletak di tempat yang lebih tinggi. Keadaan suhu yang lebih rendah pada tempat yang lebih tinggi tersebut diduga merupakan faktor penghambat bagi perkembangan jamur. Hal ini terlihat bercak-bercak hitam pada daun yang terserang terhambat perkembangannya dan bentuknya kurang lebih bundar dengan sirip-sirip hitam yang tidak begitu jelas pada tepi bercak (Situmorang dkk, 1996).
Universitas Sumatera Utara

Kesuburan Tanah
Kebun-kebun yang terletak pada lahan yang kurang subur atau tanpa diberi pupuk sehingga kondisi tanaman menjadi lemah, atau kebun yang dipupuk dengan nitrogen dalam dosis yang terlalu tinggi akan mengalami serangan C.cassiicola (Situmorang dkk, 1996).
Pengendalian Penyakit
Menanam klon karet yang tahan serangan penyakit ini pada daerah yang rawan serangan penyakit ini. Selain itu juga perlu diperhatikan pembatasan penanaman klon karet yang sama dalam skala luas untuk mencegah terjadinya serangan penyakit ini dalam skala luas. Pemilihan klon yang sesuai untuk suatu daerah juga merupakan salah satu cara pengelolaan penyakit ini (Rahayu, 2005).
Pengendalian dengan fungisida, fungisida yang dianjurkan adalah Carbendazim dan Chlorothalonil dosis 1 kg/ha/aplikasi sedangkan Prochloraz dosis 650 ml/ha/aplikasi. Penyemprotan dilakukan pada saat tanaman membentuk daun muda. Pengendalian dengan fungisida pada kebun yang tanaman telah menghasilkan memerlukan pengulangan aplikasi. Selain itu tingkat kesulitan menyemprot tanaman yang sudah tinggi dan biaya yang dikeluarkan tinggi maka penyemprotan pada kebun yang menghasilkan yang mengalami serangan dapat dianjurkan apabila dianggap masih memberikan hasil yang menguntungkan (Rahayu dan Sujatno, 2007).
Penyakit ini bisa ditekan penyebarannya dengan bahan kimia Mankozeb dan Tridemorf untuk tanaman yang belum menghasilkan, sedangkan untuk tanaman menghasilkan yang tingginya lebih dari 8 m dilakukan pengabutan
Universitas Sumatera Utara

dengan Tridemorf atau Calixin 750 dengan dosis 500 ml aplikasi, 3-4 kali dengan selang waktu seminggu (Anonimus, 2008). 1. Pembibitan jangan dibuat di tanah yang sangat berpasir, miskin, dan kurang dapat menahan air. 2. Harus diusahakan agar bibit tumbuh sebaik-baiknya dengan pemupukan yang seimbang. 3. Bibit dilindungi dengan fungisida. Untuk keperluan ini dapat dipakai fungisida tembaga seperti bubur Bordeaux atau Oksiclorida tembaga (Semangun, 1999).
Sifat virulensi C. Cassicola dipengaruhi oleh agresifitasnya (efiisensi penyakit dan pertumbuhan penyakit dan sporulasi) dan kemampuannya memproduksi toksin. Dengan agresifitas yang kuat patogen akan memproduksi jumlah toksin yang lebih banyak, sehingga cukup untuk membuat daun tanaman menjadi rusak atau mati, misalnya pada klon RRIC 103, PPN 2058, PPN 2444, dan PPN 2447. Sebaliknya, meskipun agrefitasnya kuat, tetap jika ditoktisitas toksinnya rendah tidak membuat daun tanamann rusak atau mati. Misalnya klon BPM 1 dan PR 260. Pengamatan dilapangan menunjukkan bahwa C. Cassicola mempunyai kemampuan yang tinggi berevolusi. Hal ini terlihat bahwa patogen mempunyai banyak ras yang virulensi yang sangat beragam. Ras patogen tersebut berbeda dari waktu ke waktu (Sujatno dkk,1998).
Sepuluh hari setelah inokulasi, suatu media cair czapek kultur Corynespora diultrafiltrasi diikuti dengan pembekuan kering atau tidak. Apabila tangkai dari suatu daun muda dicelupkan kedalam medium ini, suatu kelayuan daun akan terjadi dalam waktu 24-48 jam kemudian. Intensitas kelayuan diukur dengan menurunnya kadar air. Perlu dicatat bahwa biotest toksin pada daun Havea
Universitas Sumatera Utara

memerlukan sedikit pelukaan jaringan epidermisnya karena toksin tersebut tidak mampu menembus epidermis tanpa pelukaan sebelumnya yang disebabkan oleh enzym yang dihasilkan oleh jamur (Breton dan Auzac, 2001).
Klon Pembanding Klon RRIC 100 ketahanannya terhadap beberapa penyakit daun
(Colletotrichum, Corynespora, dan Oidium) cukup baik. Potensi produksi awal rendah dengan rata-rata produksi aktual 1567 kg/ha/th selama 8 tahun penyadapan, lateks bewarna putih. Pengembangannya dapat dilakukan pada daerah beriklim sedang (Woelan dkk,1999).
Klon BPM 1 mempunyai ketahanan yang cukup baik terhadap penyakit Corynespora, sedangkan terhadap Colletotrichum dan Oidium moderat. Potensi produksi awal mencapai rata-rata produksi aktual 1685 kg/ha/th selama 8 tahun penyadapan. Pengembangan yang sesuai untuk klon BPM 1 yaitu untuk daerah beriklim sedang sampai dengan kering (Woelan dkk,1999).
Klon PB 260 sensitif terhadap pra koagulasi, hal ini ditunjukkan oleh lateks yang cepat menggumpal setelah disadap sehingga aliran lateks terhenti. Saat ini Dinas Perkebunan dan Kehutanan membutuhkan konfirmasi apakah tanaman karet bisa dibudidayakan pada elevasi 850 m dpl (Wijaya dkk, 2009).
Universitas Sumatera Utara

BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Proteksi Tanaman Balai Penelitian Sungai Putih Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang pada ketinggian 80 m dpl dan berlangsung mulai bulan Maret sampai April 2011.
Bahan dan Alat
Adapun bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini antara lain klon karet IRR seri 400 yang terdiri dari klon IRR 400, IRR 402, IRR 404, IRR 405, IRR 406, IRR 407, IRR 409, IRR 411, IRR 412, IRR 414, IRR 418, IRR 419, IRR 420, IRR 422, IRR 423, dan klon pembanding RRIC 100, BPM 1, dan PB 260 sebagai objek penelitian, isolat C. cassiicola , , bahan-bahan kimia seperti alkohol 96%, chlorox 0,2 %, formalin 0,3%, aquadest steril, dan CSA (Czapek Solution Agar), PDA (Potato Dextrose Agar), etanol absolut.
Adapun alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain otoklaf untuk sterilisasi alat, backer glass, erlenmeyer, deck glass, gelas ukur, gunting, hand sprayer, hot plate, haemocytometer, inkubator, kotak penyinaran sinar ultra violet, kain muslin, kertas saring, lampu bunsen, mikroskop, petri dish, pinset, pisau, jarum inokulasi, jarum kait, pipet tetes, timbangan elektrik, corong plastik, kain katun, botol gepeng, filter milipore 0,45 mikron, gelas arloji, pH meter, botol vaksin.
Universitas Sumatera Utara

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non

faktorial terdiri dari 18 perlakuan dan 3 ulangan.

Klon IRR seri 400 yang digunakan terdiri dari 18 perlakuan yaitu 15

perlakuan klon uji dan 3 klon pembanding. Adapun klon yang digunakan yaitu:

K1 = IRR 404

K10 = IRR 415

K2 = IRR 406

K11 = IRR 417

K3 = IRR 407

K12 = IRR 418

K4 = IRR 408

K13 = IRR 419

K5 = IRR 409

K14 = IRR 420

K6 = IRR 410

K15 = IRR 423

K7 = IRR 411

K16 = RRIC 100*

K8 = IRR 412

K17 = BPM 1*

K9 = IRR 414

K18 = PB 260 *

Keterangan :

IRR = Indonesian Rubber Research

RRIC = Rubber Research Institute of Ceylon

BPM = Balai Penelitian Medan

PB = Perang Besar

* = Klon Pembanding

Jumlah perlakuan (t) = 18

(t-1) (r-1)≥15

(18-1) (r-1)≥15

17r ≥ 32

Universitas Sumatera Utara

r = 32/17 r = 1,88 Jumlah ulangan (r) = 3 Metode linier yang digunakan adalah : Yij = µ + σi + εij
Yij = Respon atau nilai pengamatan dari perlakuan ke i ulangan ke j µ = Nilai tengah umum σi = Pengaruh perlakuan ke i Eij = Pengaruh galat percobaan dari perlakuan ke i ulangan ke j .
Jika efek perlakuan nyata atau sangat nyata, maka dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT) (Bangun, 1990).
Pelaksanaan Penelitian
Penyiapan Bahan Tanaman Diambil daun karet yang rentan terhadap C. cassiicola (atau daun yang
sama dengan asal isolat) yang hijau payung kedua atau tua. Masukkan kedalam petri dish diameter 12 cm berisi kertas saring 1 lapis, beri air steril sampai lembab/basah. Kemudian di otoklaf pada suhu 121 oC dan tekanan 1 atm.
Isolasi Patogen C. cassiicola
Isolat jamur C.cassiicola asal dari klon GT1 diambil dari daun karet yang terserang jamur C.cassiicola.
Universitas Sumatera Utara

Penyiapan Spora Jamur Diambil daun karet yang rentan terhadap C. cassiicola (atau daun yang
sama dengan asal isolat) yang hijau payung kedua atau tua. Masukkan kedalam petridish diameter 12 cm berisi kertas saring lapis, beri air steril sampai lembah/basah. Kemudian diotoklaf pada suhu 121 ºC. Inokulasikan 8 potong isolat murni C. cassiicola pada daun permukaan bawah dalam kondisi steril lalu inkubasikan dalam inkubator suhu 25 ºC selama 4 hari. Setelah itu balik daun dan letakkan isolat di bawah sinar Ultra Violet (UV) selama 3-4 hari. Buka sedikit tutup petridish supaya tidak lembab. Setelah terbentuk konidia, keringkan dulu 1 hari kemudian dikuas. Taruh di aquades dan dihitung jumlah konidianya dengan menggunakan haemocytometer kemudian larutan tersebut dapat digunakan untuk penyemprotan.
Gambar 3. Biakan murni C. cassiicola (Berk.& Curt.) Wei.
Universitas Sumatera Utara

Jumlah konidia C. cassiicola dapat dihitung dengan menggunakan alat hitung haemocytometer.
Gambar 4. Haemocytometer Sumber : http://www.fao.org/docrep/007/y5720e/y5720e08.htm Kotak A, B, C, D adalah contoh kotak yang akan dihitung jumlah konidianya. Adapun cara kerjanya adalah sebagai berikut : 1. Bersihkan permukaan kamar hitung dengan alir mengalir dan kemudian dikeringkan dengan tissue atau kain lembut. 2. Tempatkan gelas penutup diatas slide, kemudian dijepit dengan penjepit yang ada disebelah kanan – kiri. 3. Siapkan suspensi sel yang tersuspensi dalam cairan menyebar merata. 4. Ambil sedikit suspensi sel dengan dropping pipet dan teteskan sebanyak 2 tetes di tepi gelas penutup. Suspensi akan masuk ke kamar hitung dan
Universitas Sumatera Utara

mengisi seluruh ruangan yang ada pada bilik tesebut. Suspensi yang

berlebih akan terbuang kedalam parit pembuangan.

5. Biarkan selama 1 -2 menit, agar sel yang ada dalam bilik stabil.

6. Tempatkan haemocytometer pada meja mikroskop dan hitung jumlah sel

yang ada dengan rumus sebagai berikut :

Jumlah sel/mm =∑ (A+ B+C+D) x 2500

Hasil perhitungan konidia jamur C. cassiicola :

A : 6 Konidia

B : 2 Konidia

C : 4 konidia

D : 5 Konidia

Total : 17 Konidia

Jumlah konidia = ∑ (A+B+C+D) x 2500

= ∑ (6+2+4+5) x 2500 = 4.25. 104 konidia/ml Jadi untuk membuat kerapatan 4.104 konidia/ml digunakan rumus

pengenceran sebagai berikut :

V1 . N1

= V2 . N2

200 x 4.25.104 = V2 . 4,104

V2 = 212.5 ml

Jadi, penambahan aquadest sebagai pengencer untuk mendapatkan kerpatan 4.104 konidia/ml adalah 212.5 ml – 200 ml = 12,5 ml.

Universitas Sumatera Utara

Pembuatan Media Perbanyakan Toksin

® Czapek Solution Agar (CSA)

Tabel 1 : Komposisi Pembuatan Media Perbanyakan Toksin

BAHAN LARUTAN STOK

Komposisi

a. NaNO3 b. K2HPO4 (K2HPO4.3H2O) c. MgSO4. 7H2O (Magnesium sulfate) d. KCL (Potassium chloride) e. FeSO4. 7H2O (Iron II sulfate 7-hydrate)
Aquades

6 gr 2 gr 1 gr 1 gr 0.02 gr 100 ml

Komposisi bahan yang digunakan :

Larutan stok (a, b, c, d, e)

20 ml

Sukrroe

12 gr

Agar

6 gr

Aquades

980 ml

Cara pembuatan

1. Buat larutan stok, degan cara timbang setiap komponen (a, b, c, d, e) dan

masukkan kedalam aquades 100 ml satu persatu sambil distirer.

Masukkan yang paling sedikit ke yang banyak.

2. Masukkan larutan stok 20 ml ke dalam 980 ml aquades dan panaskan

sambil diaduk.

3. Setelah mendidih, angkat dan dinginkan

Universitas Sumatera Utara

4. Setelah dingin masukkan agar dan sucrose. Panaskan kembali selama ½ jam pada head 7,5
5. Tambahkan 15 ml HCL 0,2 N tetes demi tetes pada larutan saat dipanaskan (stirrer dan panas). Medium akan tetap cair pada pH 4, sedangkan pada pH 7 (tanpa penambahan HCL) membeku
6. Masukkan kedalam Erlenmeyer sebanyak 100 ml 7. Autoclave 1100C selama 20 menit.
Pembuatan Toksin • Medium yang digunakan yaitu zcapek agar yang telah disetrilkan. Medium yang baik akan tetap cair walaupun telah dingin. • Isolat dipotong dengan bor gabus dalam kondisi steril. • Inkubasi 3 potong isolat ke dalam masing-masing medium. (3 potong untuk 100 ml medium) • Inkubasi toksin di dalam wadah tertutup yang diberi aliran udara steril selama 10 hari. • Setelah 10 hari, toksin dari biakan disaring. Proses penyaringan melalui beberapa tahap. Tahap pertama corong plastik diberi alas kain katun putih dan kertas saring. Saring toksin dalam lamina air flow dantampung fitrat dalam botol gepeng. Tahap kedua pada ujung corong plastic diberi jarum suntik yang telah dipotong bagian atasnya. Kemudian gabungkan dengan filter milipore 0,45 mikron. Semua alat yang digunakan harus disterilkan terlebih dahulu dengan autoclave. Simpan toksin dalam frezer dan keluarkan jika akan digunakan.
Universitas Sumatera Utara

Penentuan Konsentrasi Toksin • Masukkan 10 ml toksin ke dalam 100 ml ethanol absolut dalam dalam erlenmayer (150 ml). Kocok dan biarkan mengendap 1 malam. • Setelah mengendap, larutan yang bagian atas di pipet atau dituangkan. • Endapan dituangkan ke gelas arloji yang sudah di timbang dan diketahui beratnya kemudian dimasukkan ke vakum untuk menguapkan etanol. Kemudian dimasukkan dalam oven dan panaskan dengan suhu 600C selama 1 malam. Setelah 1 malam keluarkan gelas arlojidari oven dan timbang. • Berat toksin = berat (toksin + wadah) – berat wadah (kosong) = 25, 46 gr – 25, 37 gr =0,09 • Untuk melakukan uji toksisitas toksin digunakan konsentrasi toksin yaitu 0,5 mg/ml. • Karena diperoleh dari 10 ml toksin, maka konsentrasinya adalah : 0.09 gr / 10 ml = 0,009 gr/ml = 9 ml/ml • Konsentrasi untuk pengujian adalah 0,5 mg/ml. Volume yang dibuat = 150 ml Maka (150 ml / 9) x 0,5 = 15 ml stok toksin (dilarutkan dalam 150 ml aquadest)
Universitas Sumatera Utara

Pelaksanaan Inokulasi
I. Uji Semprot Spora Diambil daun karet yang rentan terhadap C. cassiicola (atau daun yang
sama dengan asal isolat) yang hijau payung kedua atau tua. Selanjutnya daun diinokulasikan dengan cara disemprotkan dengan suspensi konidia C. cassiicola dengan kerapatan 4.104 konidia/ml selama 1 – 2 menit. Kemudian daun diletakkan di dalam petridish yang telah dilapisi kertas saring yang terlebih dahulu dilembabkan dengan aquadest steril. Satu cawan petri di letakkan 1 helai daun. Kemudian petridish inokulasi ditutup lalu inkubasikan dalam inkubator suhu 25 oC selama 8 hari.
II. Uji Toksin Cassiicolin Daun karet muda (berumur 10-14 hari) dicelupkan dalam air selama 24
jam. Daun kemudian ditimbang dan kemudian dicelupkan dalam larutan toksin dengan konsentrasi 0,5 mg/ml selama 24 jam.
Parameter Pengamatan
Uji Semprot Spora Daun yang telah diinokulasi dengan suspensi C. cassiicola diamati
2 hari sekali sebanyak 4 kali pengamatan (pada hari ke 2, 4, 6 dan 8 hari setelah inokulasi). Pengamatan dilakukan dengan membandingkan antara luas bercak yang timbul dengan luas daun secara visual. Besarnya intensitas serangan penyakit dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Universitas Sumatera Utara

Σ (ni x vj) I = x 100%
NxZ

Keterangan : I : Intensitas Serangan ni : Jumlah daun ke i pada skala serangan (v) ke j vj : Skala dari tiap kategori serangan N : Jumlah seluruh daun yang diamati Z : Skala serangan tertinggi

Daun yang terserang dibagi dalam 5 kategori (skala serangan) yaitu :

Skala 0

: Tidak terdapat bercak

Skala 1

: Terdapat becak < ¼ bagian

Skala 2

: Terdapat bercak < ½ bagian

Skala 3

: Terdapat bercak > ½ - ¾ bagian

Skala 4

: Terdapat bercak > ¾ bagian

(Pawirosoemardjo, 1999)

Universitas Sumatera Utara

Klasifikasi penilaian intensitas serangan C. cassiicola disajikan pada tabel

berikut :

Resisten

0 – 20 %

Agak resisten

21 – 40 %

Moderat

41 – 60 %

Agak rentan

61 – 80 %

Rentan

81 – 100 %

(Pawirosoemardjo, 1999)

Uji Toksin Cassiicolin Daun karet muda yang telah dicelupkan dalam air selama 24 jam
kemudian ditimbang dan kemudian dicelupkan ke dalam larutan toksin selama 24 jam setelah itu ditimbang kembali.
Pengaruh toksin diamati dengan rumus berikut:
Berat sesudah perlakuan – berat sebelum perlakuan X = x 100%
Berat sebelum perlakuan

Korelasi Antara Uji Semprot Spora (X) Terhadap Uji Toksin Cassiicolin (Y) Untuk menganalisis data yang di peroleh, digunakan metode dengan
analisis kuantitatif korelasi. Penelitian ini mencari sebab dan akibat dalam suatu gejala dan mencari hubungan diantara berbagai faktor. Variabel yang diduga sebagai penyebab atau pendahulu dari variabel yang lain disebut variabel bebas ( X ). Variabel yang diduga sebagai akibat atau yang dipengaruhi oleh variabel yang mendahuluinya disebut variabel tidak bebas ( Y ).

Universitas Sumatera Utara

Pemeriksaan korelasi antara variabel X dan variabel Y digunakan koefisien korelasi rank Spearman`s sebagai berikut:
6.∑ D 2
rs = 1 − N (N 2 −1) keterangan: rs = Koefisien korelasi rank Spearman`s N = Jumlah perlakuan
∑ D2 = Jumlah perbedaan rangking pada setiap pasangan yang telah dikuadratkan (Soepeno, 2002).
Untuk menguji apakah korelasi tersebut signifikan atau tidak, maka dilakukan uji signifikan dengan uji statistik-t, sebagai berikut:
t = rs n − 2 1 − rs2
Keterangan: t = Nilai t hitung rs = Koefisien Korelasi n = Jumlah perlakuan Untuk menguji apakah korelasi tersebut signifikan atau tidak, maka dilakukan uji signifikan dengan uji statistik-t untuk tingkat signifikan = 0,5 (tingkat kepercayaan 95%), dengan ketentuan sebagai berikut: thitung > ttabel atau thitung < − ttabel : Ha diterima dan Ho ditolak thitung < ttabel atau thitung > − ttabel : Ho diterima dan Ha ditolak (Adiningsih, 2001).
Universitas Sumatera Utara

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Intensitas Serangan Corynespora cassiola pada Uji Semprot Spora

Data pengamatan intensitas serangan pada uji semprot spora dapat dilihat

pada lampiran 2. Pengambilan data dilakukan pada 2 hsi, 4 hsi , 6 hsi dan 8 hsi.

Dari hasil analisa sidik ragam dapat dilihat bahwa perlakuan dengan aplikasi

semprot spora menunjukkan hasil yang sangat nyata. Untuk menetahui hasil yang

berbeda sangat nyata dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Uji Beda Rataan Intensitas Serangan Corynespora Cassiola (%) pada Perlakuan Uji Semprot Spora (K) pada waktu pengamatan 8 hsi

Perlakuan

2HSI

4HSI

6HSI

8HSI

K1 (IRR 400)

0.71

3.60

5.74 D

8.08 B

K2 (IRR 402)

0.71

2.15

5.74 D

7.63 C

K3 (IRR404)

0.71

2.15

7.11 C

10.02 A

K4 (IRR 405)

0.71

5.05

6.42 C

8.61 B

K5 (IRR 406)

0.71

3.60

5.74 D

8.61 B

K6 (IRR 407)

2.15

5.74

9.58 A

10.02 A

K7 (IRR 409)

0.71

3.60

5.05 D

5.05 D

K8 (IRR 411)

0.71

3.60

8.16 B

10.02 A

K9 (IRR 412)

0.71

2.15

6.72 C

10.02 A

K10 (IRR 414)

0.71

0.71

6.42 C

10.02 A

K11 (IRR418)

0.71

5.05

7.11 C

10.02 A

K12 (IRR419)

0.71

3.57

5.74 D

8.08 B

K13 (IRR 420)

0.71

5.05

5.74 D

7.63 C

K14 (IRR 422)

0.71

2.15

5.05 D

7.63 C

K15 (IRR 423)

0.71

3.60

7.63 B

10.02 A

K16 (RRIC 100)

0.71

0.71

2.15 E

3.60 E

K17 (BPM 1)

0.71

0.71

2.15 E

3.60 E

K18 (PB 260)

0.71

2.15

5.05 D

5.74 D

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama berbeda sangat nyata pada taraf 0.01 menurut Uji Jarak Duncan

Universitas Sumatera Utara

Dari data pengamatan 2 hsi (hari setelah inokulasi) pada tabel 2 diperoleh bahwa intensitas serangan belum menunjukkan perbedaan yang mencolok. Pada tabel dapat dilihat bahwa yang tertinggi terdapat pada perlakuan K6(IRR 407) sebesar 2,15 dan perlakuan lainnya sama sebesar 0,71%
Dari pengamatan 4 hsi pada tabel 2 dapat dilihat bahwa intensitas serangan mulai meningkat dan berbeda antar perlakuan. Intesitas serangan tertinggi terdapat pada perlakuan K6(IRR 407) sebesar 5,74% dan intesitas serangan terendah terdapat pada perlakuan K10 (IRR 414),K16(RRIC 100), dan K17(BPM 1).
Dari pengamatan 6 hsi pada tabel 2 dapat dilihat bahwa intensitas serangan K6 (IRR 407) sangat berbeda nyata dengan perlakuan K1(IRR 400), K2(IRR 42), K3(IRR 404), K4(IRR 405), K5 (IRR 406), K7(IRR 409), K8(IRR 411), K9(IRR 412), K10(IRR 414), K11(IRR418), K12(IRR 419), K13(IRR 420), K14(IRR 422), K15(IRR 423), K16(RRIC 100), K17(BPM 1), dan K18(PB 260).
Dari data pengamatan 8 hsi pada tabel 1 diperoleh bahwa perlakuan K3(IRR 404) berbeda sangat nyata dengan K1(IRR 400), K4(IRR 405), K5 (IRR 406),K12(IRR 419), K13(IRR 420), K2(IRR 42), K14(IRR 422), K7(IRR 409), K18(PB 260), K16(RRIC 100), K17(BPM 1), namun tidak berbeda nyata dengan K6(IRR 407), K8(IRR 411), K9(IRR 412), K10(IRR 414), K11(IRR418), dan K15(IRR 423). Intensitas serangan terendah terdapat pada K16(RRIC 100) dan K17(BPM 1) sebesar 3,60% dan yang tertinggi terdapat pada K3(IRR 404), K6(IRR 407), K8(IRR 411), K9(IRR 412), K10(IRR 414), K11(IRR418), dan K15(IRR 423) sebesar 10,02%.
Universitas Sumatera Utara

Intensitas SErangan (%) Corynespora cassicola

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada histogram intensitas serangan C. cassiicola(%).
12,00 10,00 8,00 6,00 2HSI
4HSI 4,00 6HSI
8HSI 2,00 0,00
K1 K2 K3 K4 K5 K6 K7 K8 K9 K10 K11 K12 K13 K14 K15 K16 K17 K18 Perlakuan
. Gambar 5 : Histogram Intensitas serangan C. cassiicola (%) 2-8 hsi pada Uji
semprot spora terhadap klon karet Uji Toksin Cassiicolin
Data pengamatan Uji Toksin Cassiicolin dapat dilihat pada lampiran 3. Dari hasil analisa sidik ragam dapat dilihat bahwa hasil uji toksin sangat berbeda nyata. Untuk mengetahui hasil sidik ragam dapat dilihat pada tabel 3.
Universitas Sumatera Utara

Tabel 3.Uji Beda Rataan pada Uji Toksin Cassiicolin

Perlakuan
K1(IRR 400) K2(IRR 402) K3(IRR404) K4(IRR 405) K5(IRR 406) K6(IRR 407) K7(IRR 409) K8(IRR 411) K9(IRR 412) K10(IRR 414) K11(IRR418) K12(IRR419) K13(IRR 420) K14(IRR 422) K15(IRR 423) K16(RRIC 100)* K17(BPM 1)* K18(PB 260)*

Rataan 5.50 C 4.56 F 6.01 B 5.40 D 5.01 E 6.08 A 3.82 G 6.08 A 6.32 A 5.91 B 6.22 A 4.96 E 4.93 E 4.77 E 5.78 B 2.36 H 2.15 H 3.84 G

Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama berbeda sangat nyata pada taraf 0.01 menurut Uji Jarak Duncan.

Dari tabel 3. dapat dilihat bahwa pada rataan uji toksin diperoleh bahwa perlakuan K9(IRR 412) berbeda sangat nyata dengan K10(IRR 414), K15(IRR423), K1(IRR 400), K4(IRR 405), K5(IRR406), K12(IRR419), K13(IRR420), K14(IRR), K2(IRR402), K7(IRR 409), K18(PB 260), K16(RRIC 100), dan K17(BPM 1), namun tidak berbeda nyata dengan K6(IRR 407), K8(IRR 411), K11(IRR 418). Hasil uji toksin tertinggi terdapat pada K9(IRR 412) sebesar 6.32 dan terendah terdapat pada K7(IRR 409) sebesar 3.82%.

Universitas Sumatera Utara

Klasifikasi Penilaian Intensitas Serangan C.cassiicola Berdasarkan data intensitas serangan C.cassiicola dapat dilihat bahwa
klasifikasi kerentanan klon yang diujikan dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4. Klasifikasi Penilaian Intensitas Serangan C.Cassiicola

Klasifikasi Resisten Agak Resisten Moderat
Agak Rentan
Rentan

Klon
RRIC 100 BPM 1 IRR 409 PB 260 IRR 402 IRR 420 IRR 422 IRR 400 IRR 405 IRR 406 IRR 419 IRR 404 IRR 407 IRR 411 IRR 412 IRR 414 IRR 418 IRR 423

Berdasarkan Pawirosoemardjo (1999) bahwa klasifikasi penilaian intensitas serangan C. Cassiicola terbagi atas resisten (0-20%), agak resisten (2140%), moderat (41-60%), agak rentan (61-80%) dan rentan (81-100%). Maka pada tabel 3. dapat dilihat bahwa klasifikasi klon karet yang resisten adalah klon RRIC 100 dan klon BPM 1,sedangkan klon yang rentan adalah klon IRR 404, IRR 407, IRR 411, IRR 412, IRR 414, IRR 418 dan IRR 423.

Universitas Sumatera Utara

Korelasi Antara Uji Semprot Spora (X) Terhadap Uji Toksin Cassiicolin (Y)

Hasil analisis antara uji semprot spora (x) terhadap uji toksin cassiicolin

(y) dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Hasil Uji Semprot Spora (X) Terhadap Uji Toksin Cassiicolin (Y)

Hubungan Antar Variabel

Koefisien Korelasi

Nilai

Uji Semprot Spora (X) Terhadap Uji Toksin Cassiicolin (Y)

rxy

0.954*

*Korelasi sifnifikan pada taraf 0.05

Hubungan antara uji semprot spora (x) terhadap uji toksin cassiicolin (y)

didasarkan atas hipotesis operasional sebagai berikut:

Ha : Terdapat hubungan yang signifikan antara uji semprot spora terhadap

uji toksin cassiicolin

Ho : Tidak terdapat hubungan yang signifikan uji semprot spora terhadap

uji toksin cassiicolin

Universitas Sumatera Utara

Pembahasan Intensitas Serangan Corynespora cassiola pada Uji Semprot Spora
Pada pengamatan Intensitas serangan C.cassiicola pada uji semprot spora (tabel 2) dapat dilihat bahwa intensitas serangan terendah terdapat pada K16(RRIC

Dokumen yang terkait

Dokumen baru