Karakteristik Penderita Retinoblastoma di RSUP Haji Adam Malik Medan Periode Januari 2011 – Desember 2013

Karakteristik Penderita Retinoblastoma di RSUP Haji Adam Malik Medan Periode Januari 2011-Desember 2013
Oleh: GOLDA ASINA MIRANDA
110100360
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2015
Universitas Sumatera Utara

2
ABSTRAK
Retinoblastoma (RB) adalah suatu penyakit keganasan pada lapisan retina mata, yaitu bagian mata yang paling peka terhadap cahaya. Penyakit RB dapat menyerang segala usia, tetapi umumnya menyerang anak dengan usia di bawah tiga tahun. Penyakit RB merupakan salah satu masalah kesehatan mata anak yang dapat jatuh pada kebutaan jika tidak didiagnosis secara dini. Di negara berkembang, terdapat tingkat pendidikan dan kondisi sosioekonomi yang rendah, serta kurang memadainya sarana kesehatan. Hal ini mengakibatkan tertundanya diagnosis dan penatalaksanaan RB yang optimal.
Penelitian ini mempunyai tujuan utama untuk mengetahui karakteristik pada penderita RB.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain penelitian cross sectional (potong lintang) dengan metode pengambilan sampel secara total sampling. Populasi dan sampel penelitian ini adalah seluruh pasien yang didiagnosis retinoblastoma di RSUP Haji Adam Malik Medan periode Januari 2011-Desember 2013 sebanyak 46 orang. Data yang diperoleh selanjutnya diolah dengan menggunakan program SPSS dan dituangkan dalam bentuk tabel dan grafik.
Dari penelitian ini, diperoleh hasil bahwa karakteristik RB memiliki frekuensi tertinggi pada sosiodemografi orang tua kelompok menengah sebanyak 31 orang (67,4%), sosiodemografi umur 3-5 tahun 22 orang (47,82%), jenis kelamin laki-laki (52,2%), status gizi kurang sebanyak 34 orang (73,9%), kasus unilateral sejumlah 41 kasus (89,1%), kasus ekstraokular sejumlah 38 kasus (82,6%), pada stadium IV dengan jumlah 41 kasus (89,1%), gejala klinis utama mata menonjol sejumlah 40 kasus (87%), onset tinggi (>1 tahun) sejumlah 36 kasus (78,2%), penatalaksanaan utama metode kemoterapi VCR, EPO, CPA dengan jumlah separuh sampel atau 23 kasus (50%), outcome hidup sejumlah 45 kasus (97,8%).
Hasil penelitian menunjukkan masih buruknya karakteristik klinis RB di RSUP H. Adam Malik Medan periode Januari 2011 – Desember 2013.
Kata Kunci : Retinoblastoma, Sosiodemografi, Ekstraokular, Kemoterapi
Universitas Sumatera Utara

3
ABSTRACT
Retinoblastoma (RB) is an eye cancer that begins in the retina – the sensitive lining on the inside of eye. The RB disease can attack all ages, but mostly common in children younger than three. The RB disease is one of children health’s problem producing blindness if misdiagnosed in early stages. In developing countries with low education, socioeconomy, and health facility, diagnosis and optimal treatment of RB is delayed.
This study mainly aims to determine the characteristic of RB patients. This study was an descriptive with cross sectional design with total sampling method. The population and sample were all patients who are diagnosed as retinoblastoma in RSUP Haji Adam Malik Medan period January 2011-December 2013 with 46 samples. The collected data will then be analyzed using SPSS and determined by table and charts. From this study, the result is characteristic RB has the highest frequency in parents sociodemography in middle group by 31 people (67,4%), children sociodemography: ages 3-5 are 22 people (47,82%), sex boys are 41 people (52,2%), poor nutrition status are 34 people (73,9%), unilateral cases are 41 people (89,1%), extraocular cases are 38 people (86,2%), clinical manifestations by eye protrution are 40 people (87%), high onset (>1 year) are 36 people (78,2%), treatment by chemotherapy with VCR, EPO, CPA are 23 people (50%), outcome by live are 45 people (97,8%). Study determines that RB characteristics are still decay in RSUP H. Adam Malik Medan period January 2011 – December 2013. Keywords : Retinoblastoma, Sociodemography, Extraocular, Chemoterapy
Universitas Sumatera Utara

4
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya melimpah-limpah sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah in
i. Karya tulis ilmiah ini disusun sebagai salah satu kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seorang dokter umum dan menjadi syarat kelulusan program Pendidikan Dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Karya tulis ilmiah ini berjudul “Karakteristik Penderita Retinoblastoma di RSUP Haji Adam Malik Medan Periode Januari 2011 – Desember 2013”. Dalam proses penyelesaian penelitian ini, penulis tentunya tak luput dari berbagai bantuan dari banyak pihak. Untuk itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD, KGEH, selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
2. dr. Aryani Atiyatul Amra, Sp.M (K), selaku dosen pembimbing penulis yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pemikirannya dalam membimbing dan mengarahkan penulis, mulai dari awal penyusunan penelitian, pelaksanaan di lapangan, hingga selesainya laporan hasil penelitian ini.
3. dr. Yuki Yunanda, M.Kes., dr. Megasari Sitorus, M.Kes, Sp.PA dan dr. Iman Helmi Effendi, Sp.OG selaku dosen penguji yang telah memberikan saran dan masukan yang membangun untuk penelitian ini.
4. Para staff ruang Rekam Medik Adam Malik yang telah bersedia membantu dalam proses pengambilan data.
Universitas Sumatera Utara

5
5. Orang tua penulis, Ayahanda Dr. dr. Gilbert Simanjuntak, Sp.M (K), dan Ibunda drg. Monica Hutabarat, M. Kes., serta ketiga adik penulis Indira Simanjuntak, Elizabeth Simanjuntak, dan Gabriel Simanjuntak yang senantiasa mendukung dan memberikan bantuan dalam penyelesaian karya tulis ilmiah ini.
6. Sahabat-sahabat penulis yang telah banyak membantu dalam dukungan, motivasi, dan masukan yang sangat membantu penulis dalam menyelesaikan laporan penelitian ini.
Penulis berharap semoga penelitian ini dapat memberikan sumbangsih bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya di bidang kedokteran.
Penulis menyadari bahwa laporan hasil penelitian ini masih belum sempurna, baik dari segi materi maupun tata cara penulisannya. Oleh sebab itu, dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan karya tulis ilmiah ini di kemudian hari.
Medan, Desember 2014
Penulis
Universitas Sumatera Utara

6
DAFTAR ISI
Halaman Persetujuan .....................................................................................................i Abstrak .............................................................................................................................ii Abstract........................................................................................................................... iii Kata Pengantar.............................................................................................................. iv Daftar Isi......................................................................................................................... v Daftar Gambar .............................................................................................................. vi Daftar Tabel ..................................................................................................................vii Daftar Singkatan .........................................................................................................viii
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang............................................................................................... 1 1.2. Rumusan Masalah ........................................................................................ 4 1.3. Tujuan Penelitian.......................................................................................... 4 1.4. Manfaat Penelitian........................................................................................ 4
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Retina ............................................................................................................ 6 2.1.1. Anatomi Retina .................................................................................. 6 2.1.2. Histologi Retina ................................................................................. 7 2.1.3. Fisiologi Retina.................................................................................. 8 2.1.4. Fisiologi Visual Pathway ................................................................ 10 2.2. Retinoblastoma ........................................................................................... 12 2.2.1. Definisi............................................................................................. 12 2.2.2. Etiologi............................................................................................. 12 2.2.3. Faktor Risiko ................................................................................... 13 2.2.4. Patogenesis....................................................................................... 14 2.2.5. Klasifikasi ........................................................................................ 15 2.2.6. Diagnosis.......................................................................................... 22 2.2.7. Penatalaksanaan............................................................................... 27
BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL .................... 31 3.1.KerangkaKonsep ......................................................................................... 31 3.2. Definisi Operasional................................................................................... 31
BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN.................................................................... 34 4.1. Desain Penelitian ........................................................................................ 34 4.2. Waktu dan Tempat Penelitian.................................................................... 34 4.3. Populasi dan Sampel Penelitian................................................................. 34 4.4. Teknik Pengumpulan Data......................................................................... 35
Universitas Sumatera Utara

7
4.5. Pengolahan dan Analisis Data ................................................................... 35
BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................ 36 5.1. Hasil Penelitian............................................................................................ 36
5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ............................................................ 36 5.1.2. Deskripsi Data Penelitian................................................................ 36 5.2. Pembahasan ................................................................................................. 46 5.2.1. Analisis Distribusi Karakteristik Pasien Retinoblastoma
Berdasarkan Sosiodemografi Orang Tua........................................ 46 5.2.2. Analisis Distribusi Karakteristik Pasien Retinoblastoma
Berdasarkan Sosiodemografi Anak ............................................... 46 5.2.3. Analisis Distribusi Karakteristik Pasien Retinoblastoma
Berdasarkan Status Gizi .................................................................. 47 5.2.4. Analisis Distribusi Karakteristik Pasien Retinoblastoma
Berdasarkan Klasifikasi Retinoblastoma ....................................... 47 5.2.5. Analisis Distribusi Karakteristik Pasien Retinoblastoma
Berdasarkan Tingkat Keparahan .................................................... 48 5.2.6. Analisis Distribusi Karakteristik Pasien Retinoblastoma
Berdasarkan Gejala Klinis .............................................................. 49 5.2.7. Analisis Distribusi Karakteristik Pasien Retinoblastoma
Berdasarkan Onset .......................................................................... 50 5.2.8. Analisis Distribusi Karakteristik Pasien Retinoblastoma
Berdasarkan Penatalaksanaan ......................................................... 50 5.2.9. Analisis Distribusi Karakteristik Pasien Retinoblastoma
Berdasarkan Outcome...................................................................... 51 5.2.10. Analisis Distribusi Karakteristik Pasien Retinoblastoma
Berdasarkan Status Sosial dengan Gejala Klinis ........................... 51
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN........................................................................ 53 6.1. Kesimpulan ......................................................................................... 53 6.2. Saran.................................................................................................... 55
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................... 57
Universitas Sumatera Utara

8
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1.Anatomi Retina ........................................................................................7 Gambar 2.2.Histologi Lapisan Retina.........................................................................8 Gambar 2.3.Fisiologi Lapisan Retina .......................................................................10 Gambar 2.4.Fisiologi Visual Pathway ......................................................................11 Gambar 2.5.Siklus sel normal: protein retinoblastoma (Rb) diaktivasi
melalui proses fosforilasi ......................................................................15 Gambar 2.6.Siklus sel patologis: proses inaktivasi protein Rb melalui proses hiperfosforilasi mengakibatkan replikasi sel tidak terkontrol ................................15 Gambar 2.7.Patogenesis mutasi pertama dan kedua gen Rb1 ................................ 17 Gambar 2.8.Patogenesis mutasi gen RB1 sel germinal
dan sel non-germinal (somatik).............................................................17 Gambar 2.9.Gejala Klinis Leukokoria (mata kiri) ...................................................23 Gambar 2.10.Gejala klinis proptosis pada eksofitik RB (mata kanan) ...................24 Gambar 2.11.Gambaran leukokoria pada pemeriksaan funduskopi .......................25 Gambar 2.12.CT scan orbital pada pasien RB dengan penyebaran intracranial ...26
Universitas Sumatera Utara

9
DAFTAR TABEL Halaman
Tabel 2.1. International Classification of Retinoblastoma.......................................... 22 Tabel 2.2. Strategi Penatalaksanaan RB berdasarkan International Classification of
Retinoblastoma ............................................................................................ 30 Tabel 5.1. Distribusi Angka Kejadian Sampel Berdasarkan Tahun............................ 37 Tabel 5.2. Distribusi Sampel Menurut Sosiodemografi Orang Tua ........................... 37 Tabel 5.3. Distribusi Sampel Menurut Faktor Sosiodemografi Anak ........................ 39 Tabel 5.4. Distribusi Sampel Menurut Usia dengan Jenis Kelamin ........................... 39 Tabel 5.5. Distribusi Sampel Menurut Status Gizi ..................................................... 40 Tabel 5.6. Distribusi Sampel Menurut Klasifikasi Retinoblastoma........................... 41 Tabel 5.7. Distribusi Sampel Menurut Tingkat Keparahan ......................................... 42 Tabel 5.7. Distribusi Sampel Menurut Tingkat Keparahan ........................................ 42 Tabel 5.9. Distribusi Sampel Menurut Onset ............................................................... 43 Tabel 5.10. Distribusi Sampel Menurut Penatalaksanaan ........................................... 43 Tabel 5.11. Distribusi Sampel Menurut Outcome........................................................ 44 Tabel 5.12. Distribusi Sampel Menurut Status Sosial dengan Gejala Klinis ............ 45
Universitas Sumatera Utara

CPA DD EPO MTX RB RB1 VCR

DAFTAR SINGKATAN
Carboplatin Diameter Diskus Etoposide Methoterexate Retinoblastoma Tumor Suppresor Gene Retinoblastoma Vincristine

10

Universitas Sumatera Utara

2
ABSTRAK
Retinoblastoma (RB) adalah suatu penyakit keganasan pada lapisan retina mata, yaitu bagian mata yang paling peka terhadap cahaya. Penyakit RB dapat menyerang segala usia, tetapi umumnya menyerang anak dengan usia di bawah tiga tahun. Penyakit RB merupakan salah satu masalah kesehatan mata anak yang dapat jatuh pada kebutaan jika tidak didiagnosis secara dini. Di negara berkembang, terdapat tingkat pendidikan dan kondisi sosioekonomi yang rendah, serta kurang memadainya sarana kesehatan. Hal ini mengakibatkan tertundanya diagnosis dan penatalaksanaan RB yang optimal.
Penelitian ini mempunyai tujuan utama untuk mengetahui karakteristik pada penderita RB.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain penelitian cross sectional (potong lintang) dengan metode pengambilan sampel secara total sampling. Populasi dan sampel penelitian ini adalah seluruh pasien yang didiagnosis retinoblastoma di RSUP Haji Adam Malik Medan periode Januari 2011-Desember 2013 sebanyak 46 orang. Data yang diperoleh selanjutnya diolah dengan menggunakan program SPSS dan dituangkan dalam bentuk tabel dan grafik.
Dari penelitian ini, diperoleh hasil bahwa karakteristik RB memiliki frekuensi tertinggi pada sosiodemografi orang tua kelompok menengah sebanyak 31 orang (67,4%), sosiodemografi umur 3-5 tahun 22 orang (47,82%), jenis kelamin laki-laki (52,2%), status gizi kurang sebanyak 34 orang (73,9%), kasus unilateral sejumlah 41 kasus (89,1%), kasus ekstraokular sejumlah 38 kasus (82,6%), pada stadium IV dengan jumlah 41 kasus (89,1%), gejala klinis utama mata menonjol sejumlah 40 kasus (87%), onset tinggi (>1 tahun) sejumlah 36 kasus (78,2%), penatalaksanaan utama metode kemoterapi VCR, EPO, CPA dengan jumlah separuh sampel atau 23 kasus (50%), outcome hidup sejumlah 45 kasus (97,8%).
Hasil penelitian menunjukkan masih buruknya karakteristik klinis RB di RSUP H. Adam Malik Medan periode Januari 2011 – Desember 2013.
Kata Kunci : Retinoblastoma, Sosiodemografi, Ekstraokular, Kemoterapi
Universitas Sumatera Utara

3
ABSTRACT
Retinoblastoma (RB) is an eye cancer that begins in the retina – the sensitive lining on the inside of eye. The RB disease can attack all ages, but mostly common in children younger than three. The RB disease is one of children health’s problem producing blindness if misdiagnosed in early stages. In developing countries with low education, socioeconomy, and health facility, diagnosis and optimal treatment of RB is delayed.
This study mainly aims to determine the characteristic of RB patients. This study was an descriptive with cross sectional design with total sampling method. The population and sample were all patients who are diagnosed as retinoblastoma in RSUP Haji Adam Malik Medan period January 2011-December 2013 with 46 samples. The collected data will then be analyzed using SPSS and determined by table and charts. From this study, the result is characteristic RB has the highest frequency in parents sociodemography in middle group by 31 people (67,4%), children sociodemography: ages 3-5 are 22 people (47,82%), sex boys are 41 people (52,2%), poor nutrition status are 34 people (73,9%), unilateral cases are 41 people (89,1%), extraocular cases are 38 people (86,2%), clinical manifestations by eye protrution are 40 people (87%), high onset (>1 year) are 36 people (78,2%), treatment by chemotherapy with VCR, EPO, CPA are 23 people (50%), outcome by live are 45 people (97,8%). Study determines that RB characteristics are still decay in RSUP H. Adam Malik Medan period January 2011 – December 2013. Keywords : Retinoblastoma, Sociodemography, Extraocular, Chemoterapy
Universitas Sumatera Utara

11
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Retinoblastoma (RB) adalah suatu penyakit keganasan pada lapisan retina
mata, yaitu bagian mata yang paling peka terhadap cahaya. Penyakit RB dapat menyerang segala usia, tetapi umumnya menyerang anak dengan usia di bawah 3 tahun (Radhakrishnan, V., dkk., AAO 2012). Penyakit RB umumnya merupakan penyakit kanker anak dan menempati urutan ketiga terbanyak di dunia setelah kanker darah (leukemia) dan kanker otak (Kaiser, dkk., 2014).
Masalah kesehatan mata secara global lebih banyak terpusat pada pencegahan dan penatalaksanaan yang tepat. World Health Organization (WHO) sejak tahun 18 Februari 1999 sudah mulai untuk menggalakkan program “The Right to Sight” untuk memberantas kebutaan pada anak dengan harapan pada tahun 2020 angka kebutaan anak menurun. Penyakit RB merupakan salah satu masalah kesehatan mata anak yang dapat jatuh pada kebutaan jika tidak didiagnosis secara dini. Di negara berkembang, terdapat tingkat pendidikan dan kondisi sosioekonomi yang rendah, serta kurang memadainya sarana kesehatan. Hal ini mengakibatkan tertundanya diagnosis dan penatalaksanaan RB yang optimal. Di negara maju, perawatan RB agar tidak jatuh ke dalam kondisi yang lebih buruk, merupakan prioritas utama (Rodriguez-Galindo, dkk., 2010).
Insidensi RB di dunia sebanyak 1 dalam 15.000-20.000 per angka kelahiran. Kanker ini menyerang secara unilateral dengan rata-rata umur saat didiagnosis adalah dua tahun, dalam 60% kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 15% terkait masalah keturunan. Sedangkan pada 40% kasus, RB menyerang secara bilateral dengan rata-rata umur saat didiagnosis adalah satu tahun (Aerts, dkk., 2006). Sekitar
Universitas Sumatera Utara

12
250-350 kasus baru RB di Amerika terdiagonosis setiap tahunnya, dimana sekitar 90% kasus muncul pada usia dibawah 5 tahun. Anak laki-laki dan perempuan dapat terkena tanpa dipengaruhi jenis kelamin (Kaiser, dkk., 2014).
Di negara-negara maju seperti Eropa, Amerika, dan Australia, RB dijumpai sebanyak 2-4%, sementara di negara berkembang RB dijumpai sebanyak 3%. Frekuensi di negara maju dan berkembang tersebut tidak jauh berbeda dengan frekuensi di Asia (Ajiki, dkk., 1994 dalam Yeole, dkk., 2001). Frekuensi di Asia, diwakili oleh Mumbai, India, pada periode 1986-1998, dari 10.000 kasus kanker yang terdeteksi, terdapat 211(0,2%) kasus keganasan mata. Dari 211 kasus tersebut, 147 diantaranya adalah kasus RB, dimana 145(98%) terjadi pada anak-anak (Yeole & Advani, 2002). Di Indonesia, diprediksi tiap tahun ada seratus penderita kanker baru dari 100.000 penduduk, sebanyak 2% di antaranya atau 4.100 kasus merupakan kanker anak. Angka ini terus meningkat karena kurangnya pemahaman orang tua mengenai penyakit kanker dan bahayanya (Edi, 2006 dalam Chandrayani, 2009). Penelitian di RSCM melaporkan bahwa leukemia merupakan jenis kanker yang terbanyak pada anak (30-40%), kemudian disusul tumor otak (10-15%), dan kanker mata/retinoblastoma (10-12%); sisanya kanker jenis lain seperti kanker getah bening, kanker saraf, dan kanker ginjal pada anak (Siswono, 2001 dalam Chandrayani, S., 2009). Sampai saat ini, belum ada data yang pasti mengenai insidensi RB di Indonesia. Data dari Hematologionkologi Anak RS Cipto Mangunkusumo memperlihatkan bahwa insidensi RB sebanyak 163 kasus selama periode 2000-2006 (Asih D., dkk., 2009).
Gejala-gejala dini pada RB sering tidak disadari hingga muncul manifestasi klinis awal berupa pupil memutih (leukokoria), strabismus, atau inflamasi (Vaughan & Asbury’s general ophthalmology, 2007). Manifestasi klinis lainnya dapat berupa rubeosis iris, hipopion, hifema, buftalmia, selulitis orbital, dan eksoftalmia. Manifestasi klinis tersebut masih terlalu umum sehingga diperlukan pemeriksaan
Universitas Sumatera Utara

13
funduskopi untuk mengetahui lebih jauh . Manifestasi klinis lebih lanjut dapat berupa tumor solid intraokuler atau ekstraokuler (Aerts, dkk., 2006).
Di negara-negara maju, dimana tingkat pendidikan yang tinggi, sarana kesehatan yang memadai, dan keadaan sosioekonomi yang baik, kasus RB dapat didiagnosis lebih awal dengan manifestasi klinis yang masih dalam tahap dini. Penelitian di beberapa negara, yaitu Amerika, Inggris, Swiss, dan Finlandia menemukan bahwa leukokoria terjadi pada 50-60%, strabismus baik esotropia maupun eksotropia 20-25%, dan tanda radang (mata merah atau pseudo orbital cellulities) 6-10% (Dharmawidiarini, dkk., 2010). Sedangkan di Afrika dan Asia Tenggara, seperti Indonesia, laporan kasus RB umumnya sudah mencapai manifestasi klinis tahap lanjut ekstrokuler sehingga memberikan prognosis yang buruk (Radhakrishnan, V., dkk., dalam AAO 2012) . Penelitian di RSUP H. Ada m Malik Medan, dari 40 kasus RB, keluhan terbanyak mata menonjol (proptosis) sebanyak 33 (54,1%) kasus pada unilateral dan 7 (11,4%) kasus pada bilateral. Sedangkan keluhan bintik putih (leukokoria) 13 (21,3%) kasus pada kelompok unilateral. Lama munculnya gejala 3,5 bulan untuk RB unilateral dan 2,1 bulan pada RB bilateral. Anak dengan RB bilateral akan berkembang cepat pada awal usia dibandingkan dengan RB unilateral (Rosdiana, 2011).
Faktor lain yang menjadi karakteristik penderita RB adalah status gizi. Di negara maju dengan keadaan sosioekonomi yang tinggi, anak-anak penderita RB datang dengan status gizi baik. Sedangkan di negara berkembang dengan status sosioekonomi rendah, anak-anak penderita RB datang dengan status gizi yang kurang baik. Hal ini akan mempengaruhi keberhasilan terapi dan prognosis dari RB.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk meneliti karakteristik pada pasien retinoblastoma di Indonesia, khususnya di provinsi Sumatera Utara, sebagai salah satu bentuk upaya dalam memperbaiki penanganan RB agar lebih optimal sehingga dapat menekan morbiditas serta mortalitas RB.
Universitas Sumatera Utara

14
1.2. Rumusan Masalah Bagaimana karakteristik pada penderita retinoblastoma di RSUP Haji Adam Malik periode Januari 2011-Desember 2013?
1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Mengetahui karakteristik pada penderita retinoblastoma di RSUP Haji Adam Malik Medan periode Januari 2011-Desember 2013. 1.3.2. Tujuan Khusus a. Mengetahui angka kejadian pasien retinoblastoma di RSUP Haji Adam Malik Medan periode Januari 2011-Desember 2013. b. Mengetahui karakteristik klinis pasien retinoblastoma di RSUP Haji Adam Malik Medan periode Januari 2011-Desember 2013. c. Mengetahui faktor-faktor sosiodemografi pasien retinoblastoma di RSUP Haji Adam Malik Medan periode Januari 2011-Desember 2013. d. Mengetahui outcome pasien retinoblastoma di RSUP Haji Adam Malik Medan periode Januari 2011-Desember 2013.
1.4. Manfaat Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat, diantaranya: a. Bagi RSUP Haji Adam Malik Medan Memberi informasi kepada praktisi medis tentang karakteristik pasien retinoblastoma sehingga praktisi medis akan lebih cermat dan waspada dalam menangani pasien retinoblastoma untuk mendapatkan outcome yang optimal.
Universitas Sumatera Utara

15
b. Bagi Orang Tua dan Pasien Retinoblastoma Memberi pengetahuan kepada orang tua dan pasien retinoblastoma tentang karakteristik penyakitnya sehingga orang tua dan pasien lebih waspada untuk mencari pengobatan segera.
c. Bagi Masyarakat dan Peneliti Lain Menjadi sumber informasi data epidemiologi untuk penelitian di masa mendatang.
d. Bagi Peneliti Menjadi sarana untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang telah diterima selama pembelajaran di perkuliahan dan pengalaman dalam bidang menulis dan meneliti.
Universitas Sumatera Utara

16
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Retina 2.1.1. Anatomi Retina
Retina adalah bagian mata yang sensitif terhadap cahaya yang terletak di segmen posterior mata. Retina merupakan struktur yang terorganisasi memberikan informasi visual ditransmisikan melalui nervus optikus ke korteks visual. Retina berkembang dari cawan optikus eksterna yang mengalami invaginasi mulai dari akhir empat minggu usia janin (Vaughan & Asbury’s general ophthalmology, 2007).
Bola mata orang dewasa memiliki diameter sekitar 22 mm - 24,2 mm (diameter dari depan ke belakang). Bola mata anak ketika lahir berdiameter 16,5 mm kemudian mencapai pertumbuhannya secara maksimal sampai umur 7-8 tahun. Dari ukuran tersebut, retina menempati dua pertiga sampai tiga perempat bagian posterior dalam bola mata. Total area retina 1.100 mm2. Retina melapisi bagian posterior mata, dengan pengecualian bagian nervus optikus, dan memanjang secara sirkumferensial anterior 360 derajat pada ora serrate. Tebal retina rata-rata 250 µm, paling tebal pada area makula dengan ketebalan 400 µm, menipis pada fovea dengan ukuran 150 µm, dan lebih tipis lagi pada ora serrata dengan ketebalan 80 µm (Vaughan & Asburry’s general ophthalmology, 2007).
Retina mendapatkan vaskularisasi dari arteri oftalmika (cabang pertama dari arteri karotis interna kanan dan kiri) dan arteri siliaris (berjalan bersama nervus optikus). Arteri siliaris memberikan vaskularisasi pada lapisan luar dan tengah, termasuk lapisan pleksiform luar, lapisan fotoreseptor, lapisan inti luar, dan lapisan epitel pigmen.
Universitas Sumatera Utara

17
Gambar 2.1. Anatomi Retina Sumber: Netter, F., 2006
2.1.2. Histologi Retina Permukaan luar retina berhubungan dengan koroid, sedangkan permukaan
dalamnya berhubungan dengan badan vitreous. Retina memiliki 10 lapisan, yang terdiri dari (dari luar ke dalam):
1. epitel pigmen 2. batang dan kerucut 3. membran limitans eksterna 4. lapisan inti luar 5. lapisan pleksiform luar 6. lapisan inti dalam 7. lapisan pleksiform dalam 8. lapisan sel ganglion 9. lapisan serat saraf
Universitas Sumatera Utara

10. membran limitans interna ( Mescher, A.L., 2010)

18

Gambar 2.2. Histologi Lapisan Retina Sumber: ( Mescher, A.L., 2010)
2.1.3. Fisiologi Retina Retina adalah bagian mata yang paling kompleks dan paling sensitif terhadap
cahaya. Retina memiliki lapisan fotoreseptor berisi sel batang dan kerucut yang memiliki peran dalam menangkap stimulus cahaya lalu mentransmisikan impuls melalui nervus optikus ke korteks visual bagian oksipital (Vaughan & Asburry’s general ophthalmology, 2007).
Fotoreseptor tersusun rapi pada bagian terluar avaskuler retina dan banyak terjadi perubahan biokimia untuk proses melihat. Komposisi sel kerucut lebih banyak pada bagian makula (fovea) dan sedikit pada bagian perifer, sedangkan sel batang densitasnya tinggi pada bagian perifer dan sedikit pada bagian makula (fovea). Sel kerucut berfungsi untuk melihat warna dan saat siang hari sehingga fovea
Universitas Sumatera Utara

19
bertanggung jawab pada penglihatan warna dan cahaya banyak. Sel batang, mengandung pigmen fotosensitif rhodopsin, berfungsi untuk melihat warna hitamputih dan saat malam hari sehingga bagian perifer bertanggung jawab untuk penglihatan gelap pada malam hari (Dahl, A., 2013).
Retina juga memiliki lapisan neural yang terdiri dari sel bipolar, sel ganglion, sel horizontal, dan sel amakrin. Sel bipolar tersebar di retina dan bertugas menghubungkan sel fotoreseptor (postsinaps sel batang dan kerucut) dan sel ganglion. Sel ganglion memberikan akson yang akan bergabung dengan serabut nervus optikus ke otak. Sel horizontal terletak pada lapisan pleksiform luar dan berfungsi sebagai interkoneksi sel bipolar dengan sel bipolar lainnya. Sel amakrin terletak pada lapisan pleksiform dalam dan berfungsi sebagai penghubung sel bipolar dengan sel ganglion (Dahl, A., 2013).
Selain itu, retina juga memiliki sel glia atau sel pendukung yang terdiri dari sel Muller, astrosit, dan sel mikroglia. Sel Muller terletak pada lapisan inti dalam dan memberikan ketebalan ireguler yang memanjang sampai ke lapisan pleksiform luar. Sel astrosit tertutup rapat pada lapisan serabut saraf retina. Sel mikroglia berasal dari lapisan mesodermal dan bukan merupakan sel neuroglia (Sherwood, L., 2010).
Universitas Sumatera Utara

20
Gambar 2.3. Fisiologi Lapisan Retina Sumber: Sherwood, L., 2010
2.1.4. Fisiologi Visual Pathway Pada saat fotopigmen rodopsin menyerap cahaya foton, 11- cis retinal
mengalami isomerisasi menjadi all–trans retinal (terkadang bisa menjadi all-trans retinol) kemudian membebaskan dan mengaktifkan sejumlah opsin. Opsin yang bebas kemudian berperan dalam mengkatalisasi aktivasi transdusin dari G-protein. Transdusin mengkatalisasi aktivasi dari enzim fosfodiesterase (PDE). PDE menghidrolisis cGMP menjadi GMP dan melepaskannya. Keadaan cGMP yang menurun merangsang penutupan dari kanal natrium sehingga membran mengalami hiperpolarisasi dan neurotransmitter tidak bisa keluar. Hal ini menyebabkan kanal kalsium tertutup dan pengeluaran inhibitory neurotransmitter jadi menurun. Sel bipolar mengalami kenaikan aksi potensial yang diikuti oleh sel ganglion. Impuls ini kemudian dihantarkan ke korteks visual bagian oksipital (area 17 dan 18) dan dipersepsikan sebagai informasi visual (Ganong, W.F., 2005).
Universitas Sumatera Utara

21
Gambar 2.4. Fisiolgi Visual Pathway Sumber: Medscape, 2013
Universitas Sumatera Utara

22
2.2. Retinoblastoma
2.2.1. Definisi
Retinoblastoma (RB) adalah suatu penyakit keganasan pada lapisan retina mata, yaitu bagian mata yang paling peka terhadap cahaya. Penyakit RB dapat menyerang segala usia, tetapi umumnya menyerang anak dengan usia di bawah 3 tahun (Radhakrishnan, V., dkk., AAO 2012).
2.2.2. Etiologi
Retinoblastoma merupakan penyakit keganasan pertama yang dapat diidentifikasi melalui genetik. Penyakit RB terjadi akibat mutasi pada kedua buah alel gen RB1 yang terletak pada kromosom 13q14 (Etter & Bansal dalam AAO, 2005). Mutasi tersebut dapat berupa perubahan jumlah regio kromosom 13q14 (delesi, translokasi), perubahan nukleotida (substitusi, delesi, insersi, dan duplikasi), delesi ekson (tunggal atau jamak); Loss of Heterozigosity (LOH), atau CpG islands hypermethylation pada regio promoter gen RB1 (Joseph & Kumaramanickavel, 2007). Ketidakstabilan gen akibat mutasi tersebut menyebabkan perkembangan progresif lebih lanjut dari sel retina menjadi RB malignan. Progesifitas tersebut disebabkan oleh hilangnya kedua buah alel gen RB1 pada retina yang diikuti dengan perubahan jumlah sel onkogen, seperti MYCN (2p24.3), E2F3 dan DEK (6p22), KLF14 (7q32), dan MDM4 (1q32), juga tumor-suppressor gene CDH11(16q21) dan p75NTR (17q21) (Kandalam, M., dkk., 2010).
Teori lain menyatakan bahwa ditemukannya keberadaan Human Papilloma Virus (HPV) menyebabkan inaktivasi dari nuclear phosphoprotein (pRB) dari gen RB1 oleh onkoprotein HPV-E7 (Orjuela, M.A., 2012). Beberapa strain HPV, seperti HPV 16, 18, 6a, 33, 11, 31, 35, 51, telah ditemukan pada jaringan tumor pasien RB. Akan tetapi, keberadaan HPV sebagai agen penyebab berkembangnya RB masih belum diketahui pasti (Kandalam, M., dkk., 2010).
Universitas Sumatera Utara

23
2.2.3. Faktor risiko Faktor risiko RB dapat berupa mutasi gen RB1 yang menyebabkan sel
retinoblas membelah tidak terkontrol sehingga membentuk tumor. Mutasi ini dapat terjadi secara sporadic (didapat) yang bisa terjadi kapan saja selama hidupnya atau inherited (diwariskan) dari orang tua ke anak. Faktor risiko berikutnya adalah riwayat keluarga. Anak dengan orang tua yang mempunyai riwayat RB bilateral mempunyai risiko 45%, sedangkan anak dengan orang tua yang mempunyai riwayat RB unilateral mempunyai risiko 7,5% untuk mengalami RB. Anak dengan riwayat saudara kandung yang mengalami RB bilateral mempunyai risiko 5-7%, sedangkan untuk RB unilateral mempunyai risiko 1%. Anak dengan saudara kandung yang mengalami RB unilateral atau bilateral, disertai dengan riwayat orang tua yang juga mengalami RB, memiliki risiko 45% untuk mendapatkan RB (Canadian Cancer Society, 2014).
Faktor risiko selanjutnya adalah status gizi anak. Status gizi anak menentukan diagnosis tingkat keparahan dan penatalaksanaan RB. Penelitian sebelumnya oleh Selvi di RSUP H.Adam Malik periode 1999-2003, dari total 32 pasien, dijumpai ada 13 (40,6%) pasien RB dengan malnutrisi berat, 9 (28,1%) pasien RB dengan malnutrisi sedang, dan 2 (6,3%) pasien dengan malnutrisi ringan, dan hanya 8 (25%) pasien RB dengan status gizi normal (Nafianti, 2006). Kurangnya asupan folat selama kehamilan juga diprediksi berperan dalam faktor risiko RB, terutama RB unilateral, pada negara berkembang (Orjuela, M.A., dkk., 2012).
Selain itu, di negara berkembang, terdapat tingkat pendidikan dan kondisi sosioekonomi yang rendah, serta kurang memadainya sarana kesehatan. Hal ini mengakibatkan tertundanya diagnosis dan penatalaksanaan RB yang optimal. Hal ini turut berperan dalam meningkatkan risiko RB dan dapat memperparah kondisi anak (Rodriguez-Galindo, dkk., 2010).
Universitas Sumatera Utara

24
2.2.4. Patogenesis Sel normal memiliki suatu mekanisme gen pengaturan yang melindunginya
dari sel onkogen, yaitu tumor-suppressor genes. Ketika gen ini diinaktivasi, sinyal genetik yang normalnya menghambat proliferasi sel dirusak sehingga menyebabkan pertumbuhan yang tidak normal dari sel. Gen p53 dan gen retinoblastoma (RB) merupakan contoh dari tumor-suppressor genes (Porth C., 2010). a) Teori mutasi gen RB1
RB1 mengkode protein Rb, dimana fungsinya adalah sebagai tumorsuppressor oncogene, dengan cara mengontrol siklus sel melalui interaksi kompleks dengan beberapa enzim kinase. Pada keadaan absennya stimulus mitogenik, tugas RB1 adalah menghambat siklus sel dalam proses transkripsi gen yang diperlukan untuk masuk fase S (Porth C., 2010).
Fungsi RB1 dapat dirusak dengan ekspresi berlebih dari cyclin-D atau hilangnya p16INK4A (Kandalam, M., dkk., 2010). Cyclin-D adalah protein regulator, berikatan dengan enzim cyclin dependent kinases (CDKs), berfungsi untuk mengontrol titik transisi siklus sel melalui proses fosforilasi dan defosforilasi. Pada kasus RB, checkpoint dari fase G1 ke S, berfungsi untuk cek DNA apakah sudah direplikasi dengan sempurna, mengalami hiperfosforilasi. Keadaan hiperfosforilasi tersebut dapat dipicu oleh virus yang mengubah protein regulator, seperti adenovirus EIA, siman virus 40 (SV40), dan HPV-7. Akibatnya, replikasi DNA menjadi tidak terkontrol dan hasil replikasi tersebut tidak sempurna (Othman I.S., 2012).
Universitas Sumatera Utara

25
Gambar 2.5. Siklus sel normal: protein retinoblastoma (Rb) diaktivasi melalui proses fosforilasi Sumber: Othman I.S., 2012
Gambar 2.6. Siklus sel patologis: proses inaktivasi protein Rb melalui proses hiperfosforilasi mengakibatkan replikasi sel tidak terkontrol Sumber: Othman I.S., 2012
Universitas Sumatera Utara

26
Penyakit RB dapat muncul dalam dua bentuk mutasi genetik, yaitu mutasi sporadic (didapat) dan mutasi herediter (riwayat keluarga) (Yeole & Advani, 2001). Postulasi Knudson (1971) menyatakan bahwa RB terjadi karena dua buah bentuk mutasi, yaitu dari sel germinal dan non-germinal (sel somatik) (Aerts, dkk., 2006). Baik mutasi sel germinal maupun sel non germinal (sel somatik) terjadi akibat mutasi pada kedua buah alel gen RB1 yang terletak pada kromosom 13q14 (D’Elia, dkk., 2013).
Individu normal mempunyai dua buah gen RB (RB,RB). Pada kasus herediter (60% kasus), gen RB mengalami dua bentuk mutasi. Mutasi pertama adalah mutasi hemizigot sel germinal (RB,rb), diikuti dengan mutasi kedua yaitu mutasi sel non germinal (sel somatik) homozigot (rb,rb) yang menjadi dasar pembentukan RB bilateral. Pada kasus sporadic (40% kasus), mutasi pertama dan kedua adalah mutasi sel non germinal (sel somatik) yang mengakibatkan RB unilateral dan unifokal (Othman, I.S., 2012). Pasien dengan unilateral atau bilateral RB terkadang mempunyai kelainan tambahan berupa tumor neuroblastik intrakranial (biasanya pada kelenjar pineal), biasa dikenal dengan trilateral retinoblastoma syndrome (TRB). Kelainan kromosom yang menyebabkan berkembangnya TRB adalah delesi besar dari kromosom 13q14 (D’Elia, dkk., 2013).
Universitas Sumatera Utara

27
Gambar 2.7. Patogenesis mutasi pertama dan kedua gen RB1 Sumber: Porth, C., 2010
Gambar 2.8. Patogenesis mutasi gen RB1 sel germinal dan sel nongerminal (somatik)
Sumber: Yeole & Advani, 2001
Universitas Sumatera Utara

28
b) Teori p53 Protein 53 (p53) merupakan tumor-suppressor gene yang berfungsi dalam
mengontrol siklus sel atau apoptosis. Dalam keadaan stress, sel akan mengalami kerusakan DNA atau jatuh dalam keadaan onkogenik (Kandalam, M., dkk., 2010). Pada kasus RB, gen p53 diinaktivasi oleh amplifikasi murine double minute-4 (MDMX) sehingga ini menjadi dasar pemikiran para ahli untuk membuat tata laksana kemoterapeutik RB (Laurie, dkk., 2006 dalam Kandalam, M., dkk., 2010). c) Teori radikal bebas
Reactive oxide species seperti radikal bebas superoksida (O2-) dan hidrogen peroksida (H2O2) memberikan peran penting terhadap inisiasi dan progresi dari karsinogenesis. Reactive oxide species yang bergabung bersama reactive nitrogen species secara endogen atau eksogen dinamakan ”oxidative and nitrossative stress”, kemudian hasilnya berupa agen vasoaktif nitrit oksida (NO). Agen vasoaktif NO disintesis dari asam amino L-Arginin oleh enzim nitrit oksida sintase (NOS), berfungsi sebagai vasodilator (Kandalam, M., dkk., 2010).
Telah ditemukan tiga bentuk isoform dari enzim NOS yang mengkode tiga gen berbeda. Dua diantara isoform NOS adalah endotelial dependen kalsium dan tipe neural (eNOS dan nNOS); bentuk isoform lainnya induksi (iNOS) dan aksinya tidak dependen kalsium (Kandalam, M., dkk., 2010). Telah ditemukan ekspresi gen eNOS dan iNOS pada jaringan tumor RB. Ekspresi gen eNOS ditemukan pada RB stadium awal maupun stadium invasif, sedangkan ekspresi gen iNOS lebih banyak ditemukan pada RB stadium invasif ( Krishnakumar, dkk., 2005).
2.2.5. Klasifikasi Penyakit RB dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuk mutasi genetik,
lateralisasi, dan arah perkembangannya (Jijelava, dkk., 2013).
Universitas Sumatera Utara

29
Berdasarkan bentuk mutasi genetik, RB dapat diklasifikasikan menjadi: a) Mutasi sporadic (didapat)
Bentuk mutasi sporadic (didapat) terjadi karena mutasi pertama dan kedua dari sel non germinal (sel somatik) gen RB1. Mutasi sporadic memiliki prevalensi dunia sebanyak 40% (Yeole & Advani, 2001). b) Mutasi herediter (riwayat keluarga)
Bentuk mutasi herediter terjadi karena dua buah sel mengalami mutasi, yaitu mutasi pertama pada sel germinal kemudian diikuti mutasi kedua pada sel non germinal (sel somatik) pada gen RB1. Mutasi herediter memiliki prevalensi dunia sebanyak 60% (Yeole, Advani, 2001). Berdasarkan lateralisasi, RB dapat diklasifikasikan menjadi: a) Unilateral
Penyakit RB unilateral menyerang satu mata dengan prevalensi dunia sekitar 60% (Aerts, dkk., 2006). b) Bilateral
Penyakit RB bilateral menyerang kedua mata dengan prevalensi dunia sekitar 40% (Aerts, dkk. 2006)
Berdasarkan arah perkembangannya, RB dapat diklasifikasikan menjadi (National Cancer Institute of Spain, 2013): a) Intraokular RB (endophytic)
Intraokular RB terlokalisasi hanya di dalam mata mencakup retina atau bisa memanjang sampai melibatkan koroid, badan siliar, anterior chamber, dan nervus optikus. Intraokular RB tidak menyebar sampai jaringan-jaringan di sekitar mata atau tubuh.
Universitas Sumatera Utara

30
b) Ekstraokular RB (exophytic)
Ekstraokular RB, dikenal dengan proses metastasis, merupakan perluasan intraokular RB sampai diluar mata. Ekstraokular RB dapat menyebar sampai ke jaringan sekitar mata (orbital RB), atau menyebar lebih jauh lagi sampai ke sistem saraf pusat, sumsum tulang, atau nodus limfatikus (metastasis RB).
c) Gabungan intraokular dan ekstraokular RB (mixed endophytic-exophytic)
Pada kasus RB, klasifikasi tingkat keparahan yang lazim digunakan adalah klasifikasi menurut Reese-Ellsworth (Othman I.S., 2012) dan klasifikasi internasional retinoblastoma (International classification of retinoblastoma) (Saxena & Kaur, 2011).
1) Klasifikasi Reese-Ellsworth (National Cancer Institute of Spain, 2013) Grup I A: tumor soliter, lebih kecil dari 4 diameter diskus (DD), terletak pada atau di belakang ekuator. I B: tumor multipel, lebih besar dari 4 DD, terletak pada atau di belakang ekuator. II A: tumor soliter, 4 sampai 10 DD, terletak pada atau di belakang ekuator. II B: tumor multipel, 4 sampai 10 DD, terletak di belakang ekuator. III A: lesi anterior sampai ekuator. III B: tumor soliter, lebih besar dari 10 DD, terletak di belakang ekuator. IV A: tumor multipel, beberapa berukuran lebih besar dari 10 DD. IV B: ditemukan lesi yang memanjang dari anterior sampai ora serrata. V A: tumor massif yang melibatkan setengah atau lebih retina V B: tumor menyebar hingga vitreous.
Universitas Sumatera Utara

31
2) International Classification of Retinoblastoma (National Cancer Institute of Spain, 2013) Grup A: tumor kecil intraretinal jauh dari foveola dan diskus  Tumor ≤ 3mm berada di retina, dan  Tumor berada ≥ 3mm dari foveola dan 1,5mm dari diskus optikus Grup B: tumor diskret pada retina  Semua tumor yang berada di retina bukan grup A  Tumor terkait cairan subretinal berukuran ≤ 3mm tanpa bercak subretinal Grup C: kelainan lokal tumor diskret dengan bercak minimal subretinal atau vitreous  Tumor diskret  Ditemukannya cairan subretinal tanpa bercak pada seperempat retina  Bercak vitreous lokal yang muncul dekat tumor diskret  Bercak subretinal lokal ≤ 3mm (2 DD) dari tumor
Grup D: kelainan tumor difus dengan bercak vitreous atau subretinal signifikan  Tumor difus atau massif  Ditemukannya cairan subretinal tanpa bercak, melibatkan retina lepas menyeluruh  Kelainan difus atau masif vitreous termasuk tumor avaskuler  Bercak difus subretinal termasuk plak subretinal atau nodul tumor
Grup E: ditemukannya satu atau lebih kriteria prognosis buruk  Tumor mencapai lensa
Universitas Sumatera Utara

32
 Tumor anterior atau vitreous anterior melibatkan badan siliar atau segmen anterior
 Retinoblastoma infiltratif difus  Glaukoma neovaskuler  Media opak dari perdarahan  Nekrosis tumor dengan asepsis selulitis orbital  Phitisis bulbi
Tabel 2.1. International Classification of Retinoblastoma Sumber: National Cancer Institute of Spain, 2013
2.2.6. Diagnosis a) Gejala Klinis
Temuan klinis terbanyak di dunia saat didiagnosis adalah leukokoria (90%) dan strabismus (35%) (Othman, I.S., 2012). Akan tetapi, temuan klinis tersebut memiliki perbedaan berdasarkan faktor sosiodemografi suatu negara. Penelitian di beberapa negara maju, yaitu Amerika, Inggris, Swiss, dan Finlandia menemukan bahwa leukokoria terjadi pada 50-60%, strabismus baik esotropia maupun eksotropia
Universitas Sumatera Utara

33
20-25%, dan tanda radang (mata merah atau pseudo orbital cellulities) 6-10% (Dharmawidiarini, dkk., 2010).
Penelitian di RS Cipto Mangunkusumo, dari 64 pasien RB baru, leukokoria ditemui sebanyak 19 pasien (30%), leukokoria disertai proptosis sebanyak 41 pasien ( 64%), buftalmos 2 pasien (3%), dan mata merah 2 pasien (3%) (Asih, dkk., 2009). Penelitian di Sumatera Utara, di RSUP H. Adam Malik Medan, dari total 61 pasien (53 unilateral dan 8 bilateral), gejala klinis terbanyak adalah proptosis yang ditemui sebanyak 40 kasus (54,1% pada unilateral RB dan 11,4% pada bilateral RB) (Rosdiana N., 2011). Berdasarkan penelitian-penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa gejala klinis di Indonesia lebih banyak ditemukan proptosis dibandingkan leukokoria.
Gejala klinis lainnya dapat berupa rubeosis iris, hipopion, hifema, buftalmia, selulitis orbital, dan eksoftalmia. Gejala klinis lebih lanjut dapat berupa tumor solid intraokuler atau ekstraokuler. Namun, gejala klinis demikian jarang dikeluhkan pasien atau pengasuh maupun didiagnosis oleh dokter (Aerts, dkk., 2006).
Gambar 2.9. Gejala Klinis Leukokoria (mata kiri) Sumber: Reddy & Honavar, 2008
Universitas Sumatera Utara

34
Gambar 2.10. Gejala klinis proptosis pada eksofitik RB (mata kanan) Sumber: Reddy & Honavar, 2008
b) Pemeriksaan Fisik 1) Pemeriksaan Tajam Penglihatan (Visus)
Tajam penglihatan pada kasus RB umumnya sangat menurun dan tergantung tingkat keparahannya. Pemeriksaan ini dilakukan untuk menentukan tingkat keparahan dan tata laksana yang tepat. Penulis belum menemukan jurnal mengenai tajam penglihatan awal sebelum dilakukan intervensi dan tata laksana (Ilyas & Yulianti, 2011). 2) Pemeriksaan Funduskopi
Pemeriksaan funduskopi bertujuan untuk melihat gambaran normal atau tidak normal pada bagian dalam mata atau fundus okuli. Gambaran funduskopi pasien RB bermacam-macam tergantung pada tingkat keparahannya. Stadium awal dengan keluhan leukokoria menghasilkan gambaran funduskopi berupa daerah retina yang tampak memutih. Gambaran lainnya dapat berupa neovaskularisasi, hifema, hipopion, atau depresi sklera (Lin & O’brien, 2009).
Universitas Sumatera Utara

35
Gambar 2.11. Gambaran leukokoria pada pemeriksaan funduskopi Sumber: Reddy & Honavar, 2008
3) Pemeriksaan Tekanan Bola Mata Pemeriksaan tekanan bola mata bertujuan untuk menilai perubahan pada
tekanan bola mata dengan alat tonometer (Ilyas & Yulianti, 2011). Terkadang pasien RB datang dalam stadium berat dengan komplikasi berupa glaukoma sehingga pengukuran tekanan bola mata penting untuk diagnosis awal (Lin & O’brien, 2009). c) Pemeriksaan Penunjang 1) Ultrasound
Ultrasound menggunakan gelombang suara kemudian diubah menjadi gambar jaringan pada tubuh, seperti jaringan di dalam maupun di sekitar mata (American Cancer Society, 2013). Ultrasound juga digunakan untuk mendeteksi temuan-temuan di bagian posterior mata berupa massa, lesi kalsifikasi intraokular, dan sebagainya (Parulekar, 2010). 2) Computed Tomography (CT) scan
Pemeriksaan CT scan merupakan tes sinar X yang berfungsi menghasilkan gambar jaringan tubuh dengan potongan melintang. Tes ini dapat memberi keterangan mengenai ukuran massa RB dan bagaimana penyebarannya di dalam dan
Universitas Sumatera Utara

36
sekitar mata (American Cancer Society, 2013). Akan tetapi, CT scan mempunyai kelemahan radiasi tinggi sehingga sebisa mungkin dihindari (Parulekar, 2010).
Gambar 2.12. CT scan orbital pada pasien RB dengan penyeberan intrakranial Sumber: Pandey, A.N., 2013
3) Magnetic Resonance Imaging (MRI) Pemeriksaan MRI menggunakan magnet untuk menghasilkan potongan
gambar jaringan yang lebih spesifik dibandingkan CT scan. Tes MRI sangat berguna jika ada kecurigaan metastasis ekstraokular (se

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Karakteristik Penderita Retinoblastoma di RSUP Haji Adam Malik Medan Periode Januari 2011 – Desember 2013