Perilaku Oviposisi Lalat Buah Bactrocera Papayae Drew & Hancock Dan B. Carambolae Drew & Hancock Pada Tingkat Kematangan Buah Jambu Biji (Psidium Guajava L.)

PERILAKU OVIPOSISI LALAT BUAH Bactrocera papayae
DREW & HANCOCK DAN B. carambolae DREW & HANCOCK
PADA TINGKAT KEMATANGAN BUAH JAMBU BIJI
(Psidium guajava L.)

NURUL NISA A AMIN

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Perilaku Oviposisi
Lalat Buah Bactrocera papayae Drew & Hancock dan B. carambolae Drew &
Hancock pada Tingkat Kematangan Buah Jambu Biji (Psidium guajava L.) adalah
benar karya saya dengan arahan dari dosen pembimbing dan belum diajukan
dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang

berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari
penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di
bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.

Bogor, September 2015
Nurul Nisa A Amin
NIM A34110032

ABSTRAK
NURUL NISA A AMIN. Perilaku Oviposisi Lalat Buah Bactrocera papayae
Drew & Hancock dan B. carambolae Drew & Hancock pada Tingkat Kematangan
Buah Jambu Biji (Psidium guajava L.). Dibimbing oleh ENDANG SRI RATNA.
Bactrocera papayae dan B. carambolae merupakan jenis lalat buah yang
dapat ditemukan di daerah tropis sebagai hama penting pada tanaman buahbuahan di antaranya jambu biji. Kerusakan buah terjadi akibat perilaku makan
larva yang menyebabkan gejala busuk buah, sehingga mengakibatkan penurunan
kualitas dan kuantitas produksi buah. Imago lalat buah berperilaku menyisipkan
telur pada bagian daging buah. Penelitian ini bertujuan mengamati preferensi
oviposisi B. carambolae dan B. papayae pada tingkat kematangan buah jambu

biji, menentukan lokasi oviposisi pada bagian permukaan buah, dan mengetahui
aktivitas oviposisi di laboratorium. Setiap 20 pasang imago lalat buah B.
carambolae dan B. papayae dilepaskan di dalam sebuah kurungan kasa yang
berisi buah jambu biji merah dengan 10 skala kematangan berbeda. Pengujian
preferensi lokasi oviposisi dilakukan dengan cara memaparkan bagian permukaan
buah yang terbuka, yaitu melalui penutupan sisi bagian buah lain oleh lapisan
parafilm terhadap imago lalat buah. Dua metode pemaparan yang digunakan,
yaitu choice dan no choice. Jumlah telur yang diletakkan pada setiap permukaan
buah dihitung setelah 24 jam waktu pemaparan. Aktivitas oviposisi lalat buah
diujikan pada tiga periode siang, sore dan malam. Hasil pengamatan menunjukkan
bahwa persentase oviposisi kedua lalat B. papayae dan B. carambolae tertinggi
terjadi pada skala tingkat kematangan 5-6 dengan rata-rata jumlah telur yang
diletakkan berkisar antara 20.9-27.5 butir/betina/5 hari. Perlakuan metode no
choice mengindikasikan bahwa 48% lalat buah memilih oviposisi pada bagian
pangkal buah. Hasil pemaparan metode choice, B. papayae lebih menyukai
oviposisi bagian pangkal dan tengah buah sebesar 35.4%-37.2%, sedangkan B.
carambolae dominan oviposisi pada pangkal buah sebesar 58.1%. Persentase
peletakan telur tertinggi 57.1%-66.9% dijumpai pada siang hari antara pukul
12:00 – 17:00.
Kata kunci: busuk buah, lokasi oviposisi, pemaparan, waktu oviposisi


ABSTRACT
NURUL NISA A AMIN. Oviposition Behaviours of Fruit Flies Bactrocera
papayae Drew & Hancock and B. carambolae Drew & Hancock on the Stage of
Ripening Fruit of Guava (Psidium guajava L.). Supervised by ENDANG SRI
RATNA.
Bactrocera papayae and B. carambolae are fruit flies that were found in the
tropical region as an important pests of the fruit plants, including guava.
Damaging fruits were caused by feeding behaviour of the larvae that cause rot
fruits symptons, so the quality and quantity of fruit yields become decrease. Adult
females usually inserted their eggs on the surface of fruit flash. The aim of this
experiment was to observe the oviposition preferences of B. carambolae and B.
papayae on the stage of ripening fruits, to determine the site of oviposition on the
fruit surfaces, and to recognize the activity of oviposition in the laboratory. Every
20 pairs of fruit flies B. carambolae dan B. papayae were released into an adult
cage contained 10 guava fruits which each has a different stage of maturity. The
treatment of oviposition preferences site was done by exposing the opening fruit
surface through covering the unwanted surface using thin parafilm into adult fruit
flies. Two methods of choice and no choice exposure were conducted. The
number of laid eggs on each fruit surface were counted after 24 hours of exposure

time. The oviposition activity was tested into three periods of time, such as
morning, day, and night. This results showed that the highest percentage of
oviposition of both flies B. papayae and B. carambolae occured on the stage of
ripening fruits at scale 5-6 with the average number of eggs laid was between
20.9-27.5 eggs/20 females/5 days. The treatment of no choice exposure indicated
that both flies prefer to oviposit their eggs on the proximal site of fruits that reach
48%. The results of choice exposure showed that B. papayae prefer to oviposit on
the proximal and medial site of fruits were 35.4%-37.2%, on the other hand B.
carambolae was dominantly oviposit on the proximal site was 58.1%. The high
percentage of oviposition was 57.1%-66.9% happened on the day time between
12:00 – 17:00.
Keywords: exposure, rotten fruits, site of oviposition, time of oviposition

©

Hak Cipta milik IPB, tahun 2015
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau

tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
yang wajar IPB.
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB.

PERILAKU OVIPOSISI LALAT BUAH Bactrocera papayae
DREW & HANCOCK DAN B. carambolae DREW & HANCOCK
PADA TINGKAT KEMATANGAN BUAH JAMBU BIJI
(Psidium guajava L.)

NURUL NISA A AMIN

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Pertanian
pada
Departemen Proteksi Tanaman

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015

PRAKATA
Alhamdulillah puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT
yang telah melimpahkan segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis mampu
menyelesaikan tugas akhir yang berjudul “Perilaku Oviposisi Lalat Buah
Bactrocera papayae Drew & Hancock dan B. carambolae Drew & Hancock pada
Tingkat Kematangan Buah Jambu Biji (Psidium guajava L.)”. Penulisan tugas
akhir penelitian ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
Pertanian di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian
Bogor.
Terimakasih penulis sampaikan kepada Dra. Endang Sri Ratna, PhD, selaku
dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan, pengetahuan,
saran, arahan, dan masukan. Ucapan terimakasih juga disampaikan kepada Dr. Ir.
Suryo Wiyono, MscAgr, selaku dosen penguji tamu yang telah memberikan kritik
dan saran untuk menyempurnakan penulisan tugas akhir ini, serta kepada Dr. Ir. I
Wayan Winasa, MSc, selaku dosen pembimbing akademik. Terimakasih kepada
kedua orangtua yang selalu memberi dukungan dan doa yang mengiri setiap

langkah penulis dalam menempuh pendidikan di perguruan tinggi ini. Ucapan
terimakasih juga ditujukan kepada Dra. Murni Indarwatmi, MSi dari Pusat
Aplikasi Isotop dan Radiasi – Badan Tenaga Nuklir Nasional (PAIR-Batan) dan
Ir. Kemas Usman, MSi atas bantuan dan masukan yang diberikan. Terimakasih
kepada Ir. Djoko Prijono, MAgrSc selaku dosen, Agus Sudrajat selaku staff
laboran, Septian Riski SP, Fatku Shirot Prayogo SP, Ulfah Hafidzah, Dian
Haryati, Yohana Mendes SP, dan Ridwan Isnaeni SP, anggota laboratorium
Fisiologi dan Toksikologi Serangga IPB yang senantiasa memberikan bantuan dan
dukungan dalam penelitian. Terimakasih juga kepada teman-teman angkatan 48
Departemen Proteksi Tanaman yang tidak dapat disebutkan satu per satu serta
pihak lain yang turut membantu dalam penyelesaian tugas akhir ini.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan pada penulisan tugas akhir ini.
Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.

Bogor, September 2015
Nurul Nisa A Amin

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

DAFTAR GAMBAR
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu
Alat dan Bahan
Metode Penelitian
Pemeliharaan dan Perbanyakan Serangga Uji
Pengujian Preferensi Oviposisi Berdasarkan Tingkat
Kematangan Buah
Pengujian Preferensi Lokasi Oviposisi pada Bagian Buah
Pengujian Preferensi Waktu Oviposisi Lalat Buah
Analisis Data
HASIL DAN PEMBAHASAN
Preferensi Oviposisi Berdasarkan Tingkat Kematangan Buah
Preferensi Lokasi Oviposisi pada Bagian Buah
Preferensi Waktu Oviposisi Lalat Buah
SIMPULAN DAN SARAN

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP

viii
viii
1
1
2
2
3
3
3
3
3
5
7
7
8
9

9
10
12
13
14
16
22

DAFTAR TABEL
1 Tingkat kematangan buah jambu biji
2 Preferensi oviposisi Bactrocera papayae dan B. carambolae pada
sepuluh tingkat kematangan buah
3 Preferensi lokasi oviposisi B. papayae pada bagian buah jambu biji
4 Preferensi lokasi oviposisi B. carambolae pada bagian buah jambu biji
5 Preferensi waktu oviposisi B. papayae dan B. carambolae pada buah
jambu biji

6
9
11

11
12

DAFTAR GAMBAR

1
2
3
4
5
6

Komponen alat dan bahan pemeliharaan lalat buah
Ciri bagian tubuh lalat buah Bactrocera papayae dan B. carambolae
Kelompok buah jambu biji uji
Alat Penetrometer Controller Digital
Kurungan perlakuan pemaparan buah
Posisi peletakan jambu uji di dalam kurungan pemaparan dan
perlakuan pembungkusan buah

4
4
5
6
6
7

DAFTAR LAMPIRAN
1 Preferensi oviposisi Bactrocera papayae berdasarkan tingkat
kematangan buah
2 Preferensi oviposisi B. carambolae berdasarkan tingkat kematangan
buah
3 Preferensi lokasi oviposisi B. papayae pada bagian buah
4 Preferensi lokasi oviposisi B. carambolae pada bagian buah
5 Preferensi waktu oviposisi B. papayae dan B. carambolae pada buah
jambu biji

17
18
19
20
21

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Jambu biji merah (Psidium guajava L.) merupakan salah satu tanaman
hortikultura yang cukup terkenal di Indonesia. Tanaman jambu biji memiliki
potensi ekonomi yang tinggi karena berbagai keunggulan dan manfaatnya. Selain
memiliki rasa yang enak, jambu biji merah kaya antioksidan betakaroten, sehingga
bermanfaat bagi kesehatan (Puslitbanghor 2014). Jambu biji dapat dikonsumsi
dalam bentuk buah segar, tetapi dapat juga dikonsumsi dalam bentuk produk olahan
seperti jus, selai, jelly, dan sirup, sehingga berpotensi sebagai bahan baku industri
(Parimin 2007).
Jambu biji merupakan tanaman yang mudah dibudidayakan dan dapat
berproduksi sepanjang. Produksi jambu biji terbesar di Indonesia berasal dari
provinsi Jawa Barat. Produktivitas jambu biji dilaporkan mengalami penurunan
sejak tahun 2011. Produksi jambu biji sebesar 211 836 turun menjadi 208 151 ton
pada tahun 2012, dan 181 644 ton pada tahun 2013 (BPS 2015). Rendahnya
produktivitas jambu biji dapat disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah
serangan hama yang menimbulkan kerusakan buah, sehingga menurunkan kualitas
dan kuantitas hasil panen.
Menurut Kalshoven (1981), lalat buah termasuk ke dalam ordo Diptera,
famili Tephritidae. Lalat ini pada awalnya dikenal sebagai spesies Dacus dorsalis
Hendel, namun diidentifikasi lebih lanjut menjadi spesies Bactrocera dorsalis
kompleks, dan perkembangan lebih baru lagi dibedakan berdasarkan ciri
morfologinya menjadi beberapa spesies di antaranya B. papayae Drew & Hancock
dan B. carambolae Drew & Hancock (CABI 2007; Ginting 2009). Kedua spesies
tersebut merupakan hama utama yang sering menyebabkan buah busuk atau jatuh
sebelum waktunya, sehingga mengakibatkan kegagalan panen atau penurunan
kualitas buah. Lalat buah ini bersifat polifag dengan kisaran inang yang relatif luas.
Spesies B. carambolae merupakan hama utama pada buah belimbing, sedangkan B.
papayae diketahui menyerang buah pepaya dan mangga (Drew dan Romig 1996).
Namun, kedua spesies tersebut ditemukan sebagai hama dominan menyerang buah
jambu biji di wilayah Bogor (Larasati et al. 2013).
Buah jambu yang bergejala akibat serangan lalat buah biasanya ditandai
dengan adanya lubang kecil di bagian permukaan kulit buah yang hampir masak.
Kerusakan buah disebabkan oleh aktivitas larva (tempayak) lalat memakan daging
buah yang memicu terjadinya pembusukan. Apabila pembusukan tersebut meluas
seiring dengan masaknya buah, maka akhirnya buah jatuh ke tanah. Kerugian hasil
panen buah yang disebabkan oleh serangan lalat ini mencapai 30%-60% dan dapat
meningkat hingga 80% apabila tidak dilakukan upaya pengendalian hama (Sodiq
2004). Oleh karena itu, tindakan pengendalian sangat diperlukan agar dapat
mempertahankan produktivitas hasil panen. Pengendalian lalat buah secara fisik
umumnya dilakukan dengan pembungkusan buah menggunakan plastik, sebagai
upaya pencegahan lalat untuk meletakkan telur pada permukaan buah. Peletakan
telur (oviposisi) oleh lalat buah sangat berperan sebagai awal pemicu terjadinya
kerusakan buah. Oleh karena itu, informasi mengenai preferensi oviposisi pada
buah pada jambu biji diperlukan untuk meningkatkan efisiensi pengendalian lalat
buah.

2
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan membandingkan perilaku oviposisi B. papayae dan B.
carambolae pada tingkat kematangan buah tertentu, serta menentukan lokasi dan
kisaran waktu oviposisi yang tepat pada buah jambu biji.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dasar mengenai
perilaku oviposisi B. carambolae dan B. papayae untuk mendukung pengendalian
lalat buah pada tanaman jambu biji.

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi dan Toksikologi
Serangga, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian
Bogor. Penelitian dimulai dari bulan Januari hingga Agustus 2015.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan antara lain kurungan serangga, parafilm, cawan petri,
mikroskop stereo, termometer, higrometer, jarum serangga, oven, spons, alat tulis,
kamera, dan penetrometer controller digital PRECISION 2000 yang diperoleh dari
Laboratorium Analisis Pangan, Departemen Ilmu Teknologi Pangan, Fakultas
Teknologi Pertanian, IPB. Bahan yang digunakan pada penelitian ini antara lain
buah jambu biji merah, imago lalat buah spesies Bactrocera carambolae dan B.
papayae diperoleh dari Laboratorium Kelompok Pengendalian Hama, Bidang
Pertanian, Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi-Badan Tenaga Nuklir
Nasional (PATIR-BATAN), ragi roti, sekam gandum, serbuk gergaji, nipagin,
natrium bensoat, gula pasir, HCl, dan protein hidrolisat.
Metode Penelitian
Pemeliharaan dan Perbanyakan Serangga Uji
Imago lalat buah spesies B. carambolae dan B. papayae dipelihara di dalam
kurungan kasa berkerangka besi masing-masing berukuran 60 cm x 30 cm x
30 cm, yang dilengkapi pakan berupa campuran butiran gula dan protein hidrolisat
(4:1) dan sebagai sumber minuman diberikan air yang diserapkan pada spons
yang diletakkan di atas kurungan (Gambar 1a dan 1b). Pakan dan minuman
tersebut diganti setiap 2-3 hari. Pemeliharaan dilakukan di dalam ruangan pada
suhu berkisar antara 26 oC-28 oC dengan kelembaban 42%-56%. Saat imago
mendekati periode oviposisi, yaitu berumur antara 13-14 hari, sebuah tabung film
terbuat dari plastik, berbentuk silinder yang telah dilubangi permukaannya
disisipkan di dinding kurungan, sebagai media tempat bertelur. Di dalam tabung
tersebut diisi spons jenuh air yang berfungsi untuk menjaga kelembaban udara di
sekitar telur (Gambar 1c). Pemanenan massal telur dilakukan dengan membasuh
tabung yang permukaannya telah terlapisi sekumpulan telur oleh air mengalir.
Kemudian, telur yang berlepasan tersebut ditampung di atas saringan kawat yang
telah dilapisi kain kassa berwarna hitam (Gambar 1d). Seluruh telur yang
terkumpul ditebar secara merata di permukaan pakan buatan di atas sebuah wadah
plastik berukuran 6 cm x 20 cm x 30 cm hingga menetas dan larva berkembang
lebih lanjut pada pakan tersebut (Gambar 1e). Pakan buatan tersebut berisi bahan
adukan sekam gandum, ragi roti, gula pasir, nipagin, sodium bensoat dan air yang
diberi larutan HCl agar media pakan memiliki pH 3.5-4. Wadah pakan buatan
yang berisi larva yang telah berumur 7 hari atau telah mencapai instar akhir
ditumpuk di atas wadah yang lebih besar yang dialasi serbuk gergaji steril
(Gambar 1f). Perlakuan ini memberi kesempatan larva meloncat dan berpindah ke
dalam serbuk gergaji untuk berpupa. Setelah tujuh hari kemudian, pupa
dipisahkan dari serbuk gergaji dengan dilakukan pengayakan menggunakan

4
saringan kawat berukuran lubang (mesh) 2 mm (Gambar 1g). Pupa tersebut
dimasukkan kembali ke dalam kurungan kasa pemeliharaan imago seperti di atas
hingga keluar menjadi imago dan siap berkopulasi (Kuswadi 2011). Imago
berumur 13 hari diasumsikan telah kawin digunakan sebagai serangga uji. Spesies
lalat buah B. carambolae dan B. papayae dapat dibedakan dengan penanda
morfologi yang ditunjukkan pada Gambar 2.

c

b

a

e

d

f

g

Gambar 1 Komponen alat dan bahan pemeliharaan lalat buah: (a) kurungan
imago,(b) pakan campuran gula pasir dan protein hidrolisat,(c)
tabung media peneluran,(d) kumpulan telur hasil penyaringan,(e)
larva dalam pakan buatan,(f) wadah berisi serbuk gergaji,(g) pupa
hasil pemisahan dari serbuk gergaji

a

b

c

f
d

e

Gambar 2 Ciri bagian tubuh lalat buah B. papayae dan B. carambolae: (a)
imago, (b) abdomen, (c) sayap B. papayae, (d) imago, (e) abdomen,
(f) sayap B. carambolae (sumber: Ginting 2009).

5
Pengujian Preferensi Oviposisi Berdasarkan Tingkat Kematangan Buah
Buah jambu biji merah (pink guava) yang diperoleh dari kebun petani dan
pasar di sekitar Bogor dipisahkan dan dikelompokkan berdasarkan ukuran, warna
serta perkiraan kematangan buah secara kualitatif yang berbeda (Gambar 3).
Setiap kelompok buah tersebut diukur tingkat kekerasannya secara kuantitatif
menggunakan alat Penetrometer Controller Digital, sehingga diperoleh 10
kelompok buah uji yang memiliki tingkat kekerasan skala 1 sampai 10 (Gambar 4
dan Tabel 1). Skala kekerasan buah yang tinggi ditunjukkan dengan semakin
pendeknya tingkat penetrasi jarum penetrometer pada permukaan daging buah.
Kesepuluh buah jambu tersebut dimasukkan ke dalam sebuah kurungan
pemaparan lalat dengan cara digantungkan menggunakan seutas benang yang
diikatkan pada atap kurungan (Gambar 5). Posisi peletakan buah ditentukan
secara acak pada setiap kurungan. Setiap 20 pasang imago lalat buah B.
carambolae dan B. papayae masing-masing berumur 13-14 hari (diperkirakan
telah berkopulasi dan matang organ reproduksinya serta siap untuk bertelur)
diambil dari stok perbanyakan lalat, kemudian dipindahkan ke dalam kurungan
yang telah berisi paparan jambu uji. Pemaparan diujikan dalam waktu 24 jam.
Perlakuan pemaparan tersebut diulang 10 kali. Setiap buah yang telah terpapar
lalat diamati dengan cara mengorek permukaan buah yang memiliki tanda bekas
lubang oviposisi di bawah mikroskop stereo. Jumlah telur yang teramati dihitung
dan dicatat. Persentase peneluran atau oviposisi untuk setiap pengujian dihitung
dengan rumus sebagai berikut:

Gambar 3 Kelompok buah jambu biji uji

6

a

b

Gambar 4 Alat Penetrometer Controller Digital: (a) alat penusuk dihubungkan
dengan mesin penera digital,(b) posisi penusukan permukaan daging
buah jambu.
Tabel 1 Tingkat kematangan buah jambu biji
Tekstur
Skala kekerasan
Kemampuan penetrasi jarum pada
kematangan buah
buah
permukaan buah (mm/150 g/5 detik)
Sangat lunak
1
>12
Lunak
2
11 – 12
Lunak
3
9 – 10
Agak Lunak
4
7–8
Sedang
5
6–7
Sedang
6
5–6
Agak keras
7
3–4
Keras
8
2–3
Keras
9
1–2
Sangat keras
10
0–1

Gambar 5 Kurungan perlakuan pemaparan buah

7
Pengujian Preferensi Lokasi Oviposisi Lalat pada Bagian Buah
Sediaan buah jambu biji merah dengan tingkat kematangan skala 5 pada
percobaan ini dipilih sebagai buah uji untuk menentukan pemilihan lokasi
peneluran. Buah jambu dicuci terlebih dahulu menggunakan air, kemudian
dikering anginkan. Sepuluh pasang imago lalat buah B. carambolae dan B.
papayae berumur 13-14 hari masing-masing diambil dari kurungan perbanyakan
dan diujikan dengan melepaskannya ke dalam sebuah kurungan berisi sebuah
jambu biji uji telah diberi perlakuan pembungkusan dalam posisi bergantung pada
atap kurungan (Gambar 6a). Pengujian pemaparan jambu terhadap imago lalat
dilakukan dengan dua metode tanpa pilihan (nochoice) dan memberikan pilihan
(no choice). Pada metode no choice, bagian permukaan buah tertentu dibungkus
dengan melilitkan lapisan parafilm, sehingga menyisakan bagian permukaan buah
yang terbuka tempat peletakkan telur lalat. Permukaan terbuka buah yang diujikan
terhadap lalat ada tiga bagian, yaitu bagian pangkal, tengah dan ujung buah
(Gambar 6b, 6c dan 6d). Sebaliknya pada metode choice, buah jambu biji utuh
dipaparkan pada lalat tanpa pembungkusan permukaan buah untuk tujuan
memberi keluasaan lalat dengan bebas oviposisi pada bagian permukaan buah
yang disukai (Gambar 6e). Pemaparan buah terhadap lalat masing-masing
diujikan selama 24 jam. Pengujian pemaparan ini dilakukan 10 ulangan. Jumlah
telur yang berada di dalam setiap buah terpapar diamati dan dihitung dengan cara
yang sama seperti di atas.

a

Gambar 6

b

c

d

e

Posisi peletakan jambu uji di dalam kurungan pemaparan dan
perlakuan pembungkusan buah: (a) buah bergantung pada kait
yang diikatkan pada atap kurungan; (b, c, d) lokasi permukaan
buah yang terbuka pada bagian pangkal, tengah dan ujung metode
no choice; (d) buah jambu uji pada metode choice.

Pengujian Preferensi Waktu Oviposisi
Potongan daging jambu biji berukuran luas 4 cm x 4 cm digunakan sebagai
media untuk bertelur lalat dimasukkan ke dalam sebuah kurungan dengan cara
digantungkan di atap kurungan sama seperti di atas. Setiap 10 pasang imago lalat
buah B. carambolae dan B. papayae berumur 13-14 hari masing-masing diambil
dari kurungan perbanyakan, dilepaskan ke dalam kurungan dan dibiarkan selama
5 jam pemaparan. Perlakuan pemaparan buah terhadap lalat tersebut dilakukan

8
dalam tiga rentang waktu yang berbeda, yaitu pada pagi hari pukul 06:00-11:00,
siang hari pukul 12:00-17:00, dan malam hari pukul 08:00-23:00. Setiap
perlakuan diulang 10 kali. Jumlah telur yang diletakkan oleh imago diamati dan
dihitung melalui pembedahan buah terpapar dengan cara seperti di atas.
Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil pengujian preferensi oviposisi B. carambolae
dan B. papayae berupa jumlah telur ditabulasi menggunakan software Microsoft
Excel 2010 dan dianalisis dengan menggunakan program SAS 9.1.3. Rancangan
percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan
masing-masing 3 perlakuan pada pengujian preferensi oviposisi berdasarkan
bagian permukaan buah dan waktu oviposisi, serta perlakuan choice pada
pengujian preferensi oviposisi berdasarkan tingkat kematangan buah.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Preferensi Oviposisi Berdasarkan Tingkat Kematangan Buah
Hasil pengamatan preferensi oviposisi menunjukkan bahwa secara umum
lalat buah B. papayae dan B. papayae meletakkan telur pada buah jambu biji
menjelang matang dengan tingkat kekerasan sedang berkisar pada skala 5-6, yaitu
tidak terlalu keras dan tidak terlalu lunak (Tabel 2, Lampiran 1, dan Lampiran 2).
Dari sepuluh buah yang dipaparkan pada lalat B. papayae, persentase buah yang
diteluri paling tinggi ditemukan pada buah yang berwarna hijau kekuningan
dengan kematangan sedang pada skala kekerasan 5-6 dengan rata-rata jumlah
telur yang dihasilkan yaitu 20.9-27.6 butir/20 betina/5 hari. Peletakan telur mulai
dari skala 4 bertahap menurun seiring dengan meningkatnya kematangan buah
dan tingkat peneluran terendah dijumpai pada buah yang sangat matang yaitu
pada skala 1. Sebaliknya lalat tidak memilih bertelur pada buah yang masih
mentah, berwarna hijau tua, yaitu pada tingkat kekerasan skala 8-10. Keadaan
yang hampir sama terjadi pada perilaku peneluran B. carambolae. Preferensi
pemilihan tempat bertelur paling tinggi juga terjadi pada buah dengan kematangan
sedang, yaitu pada skala kekerasan berkisar 5 dan 6 dengan rata-rata jumlah telur
yang dihasilkan yaitu 21.6-26.1 butir/20 betina/5 hari. Lalat spesies tersebut juga
tidak memilih buah mentah pada tingkat kekerasan 8-10. Tingkat kematangan
buah dapat ditentukan berdasarkan beberapa karakteristik fisik buah, di antaranya
adalah ukuran, bentuk, warna, dan tingkat kekerasan buah. Kedua spesies lalat
buah cenderung memilih untuk meletakkan telur pada tingkat kekerasan skala 5
dan 6 atau pada tingkat kematangan buah sedang dengan warna kulit hijau pupus
agak kekuningan, hal ini diduga karena lapisan permukaan daging buah mulai
lunak sehingga dapat ditembus oleh ovipositornya. Persentase jumlah telur yang
dihasilkan imago lalat buah mengalami penurunan pada buah yang semakin
matang.
Tabel 2 Preferensi oviposisi B. papayae dan B. carambolae pada sepuluh tingkat
kematangan buah

a
b

SKBa

Jumlah telur B. papayae
( ± SE)b

Jumlah telur B. carambolae
( ± SE)b

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

5.7 ± 2.34 de
7.5 ± 1.71 de
12.1 ± 1.97 cd
16.2 ± 1.84 bc
26.1 ± 5.47 a
21.6 ± 4.21 ab
3.5 ± 0.72 e
0.0 ± 0.00 e
0.0 ± 0.00 e
0.0 ± 0.00 e

2.3 ± 1.2 de
9.2 ± 3.0 cd
16.6 ± 3.0 bc
20.0 ± 3.8 b
20.9 ± 4.0 ab
27.5 ± 4.4 a
3.8 ± 0.8 de
0.0 ± 0.0 e
0.0 ± 0.0 e
0.0 ± 0.0 e

SKB = Skala Kekerasan Buah
Angka rata-rata yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan hasil yang
berbeda nyata berdasarkan uji selang ganda Duncan α = 5 % (butir/20 betina/5 hari).

10
Menurut Lloyd (1996), lalat buah mencari makan dan tempat untuk
beroviposisi dengan menggunakan isyarat penciuman dan penglihatan. Komponen
volatil pada buah yang matang merupakan rangsangan yang mengundang imago
lalat buah untuk mendekat ke tanaman inang. Lalat buah mengenali lokasi buah
melalui bentuk, ukuran, warna, serta tekstur permukaan buah. Lalat buah tropis
akan memilih buah yang matang atau lunak dan memilih untuk meletakkan telur
pada permukaan buah yang kasar. Tingkat kekerasan buah jambu mengalami
penurunan seiring dengan bertambahnya waktu, hal ini mengindikasikan bahwa
pada buah tersebut mulai berlangsung proses pematangan buah dengan terjadinya
penguraian fisiologis berbagai komponen molekul di dalam jaringan buah
(Bhupiner et al. 2006).
Pemilihan oviposisi pada tingkat kematangan buah tertentu dilakukan oleh
imago antara lain diduga karena lalat dapat mengenali inangnya untuk tujuan
memenuhi kebutuhan makan serta mempertahankan kelangsungan hidup
keturunannya. Oleh karena itu, perilaku imago betina dalam menentukan inang
untuk oviposisi dipengaruhi oleh kandungan nutrisi dalam buah yang mengalami
perubahan selama proses pematangan. Menurut Allwood (1996) kandungan
nutrisi buah seperti asam amino, vitamin, gula, dan mineral sangat dibutuhkan
untuk pertumbuhan dan perkembangan larva serta alat reproduksi imago. Produksi
telur dan kemampuan telur menetas dapat menurun saat vitamin E, biotin, kolin
klorida, inositol, asam, dan riboflavin tidak terdapat dalam pakan. Lalat buah
dewasa membutuhkan sumber karbohidrat, air, dan protein, untuk mencapai
kematangan seksual. Beberapa jenis nutrisi tersebut diketahui terkandung dalam
buah jambu biji seperti gula, vitamin, asam, dan riboflavin. Kandungan nutrisi
dalam buah dapat meningkat seiring dengan pertumbuhan buah, namun pada
tingkat kematangan tertentu kadar nutrisi dalam buah cenderungan menurun (Ali
dan Lazan 1997). Indeks kematangan buah dapat ditentukan melalui ukuran buah,
kandungan air, atau kandungan kimia dalam buah seperti gula yang terkandung
dalam buah. Kandungan gula dalam buah cenderung meningkat selama proses
pematangan, dan kembali menurun pada umur penyimpanan buah tertentu.
Kandungan gula yang terdiri dari fruktosa, glukosa, dan sukrosa mengalami
peningkatan hingga hari ke-3 sampai ke-6 penyimpanan buah, dan kembali
menurun pada hari ke-9. Hal tersebut juga terjadi pada kandungan asam dalam
buah. Dengan demikian, lalat buah memilih untuk meletakkan telur pada tingkat
kematangan sedang yang diduga bahwa kadar nutrisi buah, dan waktu
pematangan buah saat itu mencapai optimal sesuai untuk kelangsungan hidup
larvanya yang kemudian menurun pada umur kematangan lanjut. Oleh karena itu,
lalat buah tidak memilih oviposisi pada buah yang terlalu matang.
Preferensi Lokasi Oviposisi pada Bagian Buah
Perilaku oviposisi lalat buah dipengaruhi oleh posisi bagian permukaan
buah dalam keadaan menggantung. Hasil pengamatan metode pemaparan choice
dengan pilihan, yaitu seluruh permukaan buah terbuka tanpa pembungkusan
menunjukkan bahwa sekitar 35.4%-37.2% lalat B. papayae memilih meletakkan
telur pada sepertiga bagian pangkal atau letaknya di permukaan atas dan tengah
buah dengan rata-rata jumlah telur yang dihasilkan sebesar 7.3-8.1 butir/betina/5
hari (Tabel 3 dan Lampiran 3). Berbeda halnya pada perlakuan pemaparan tanpa
pilihan no choice, hanya sebagian permukaan terbuka dan bagian lain tertutup

11
oleh lapisan parafilm, lalat dominan memilih bagian permukaan pangkal buah
sebesar 48%, dengan rata-rata jumlah telur yang dihasilkan sebesar 15.2
butir/betina/5 hari. Sedikit berbeda pada perilaku spesies B. carambolae yang
menunjukkan bahwa pada kedua metode pemaparan no choice maupun choice,
lalat nyata lebih dominan memilih bagian permukaan pangkal buah sebesar 48.4%
dan 58.1%, dengan rata-rata jumlah telur yang dihasilkan berturut-turut sebesar 10
dan 4.8 butir/betina/5 hari (Tabel 4 dan Lampiran 4). Perilaku kedua spesies lalat
tersebut dalam meletakkan telurnya di daerah pangkal buah diduga karena posisi
bertengger saat oviposisi lebih memudahkan lalat untuk melakukannya dari pada
menggantung pada bagian permukaan ujung atau bawah buah. Bagian atas buah
lebih dipilih lalat buah untuk lokasi oviposisi diduga dapat disebabkan bagian atas
buah yang cenderung mendapat intensitas cahaya yang lebih banyak.
Tabel 3 Preferensi lokasi oviposisi B. papayae pada bagian buah jambu biji
Perlakuan

Rata-rata jumlah telur
(butir/betina/5 hari)

Pangkal
Tengah
Ujung

15.20
7.50
9.00

Persentase
oviposisi (%)

Rata-rata jumlah
telur
( ± SE)a

No Choice
48.00
23.64
28.36

15.23 ± 2.77 a
7.50 ± 1.80 b
9.00 ± 1.19 b

35.41
37.18
29.41

7.27 ± 1.20 a
8.09 ± 2.18 a
6.40 ± 1.59 a

Choice
Pangkal
Tengah
Ujung
a

7.30
8.10
6.40

Angka rata-rata yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan hasil yang
berbeda nyata berdasarkan uji selang ganda Duncan α = 5 %.

Tabel 4 Preferensi lokasi oviposisi B. carambolae pada bagian buah jambu biji
Perlakuan

Rata-rata jumlah telur
(butir/betina/5 hari)

Pangkal
Tengah
Ujung

10.0
5.70
4.90

Pangkal
Tengah
Ujung

4.80
1.70
1.80

Persentase
oviposisi (%)

Rata-rata jumlah
telur
( ± SE)a

No Choice
48.40
27.60
24.00

9.96 ± 1.76 a
5.68 ± 1.43 ab
4.94 ± 1.19 b

58.07
19.88
22.05

4.82 ± 1.16 a
1.65 ± 0.56 b
1.83 ± 0.59 b

Choice

a

Angka rata-rata yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan hasil yang
berbeda nyata berdasarkan uji selang ganda Duncan α = 5 %.

12
Betina yang telah kawin menunjukkan peningkatan aktivitas saat intensitas
cahaya meningkat, hal tersebut juga terjadi pada aktivitas oviposisi lalat buah
(Allwood 1996). Menurut Rattanapun et al. (2010), imago betina lalat buah B.
dorsalis paling banyak meletakkan telur pada bagian pangkal buah mangga, selain
itu kemunculan imago dari pupa yang berasal dari larva (telur) yang terdapat pada
bagian atas dan bawah buah lebih tinggi dibandingkan dari bagian lainnya. Pupa
dari bagian bawah buah yang berhasil menjadi imago hanya sebesar hampir 50%
dari jumlah imago yang dihasilkan pupa yang berasal dari bagian atas buah.
Preferensi Waktu Oviposisi
Kedua spesies lalat buah B. papayae dan B. carambolae menunjukkan
peningkatan aktivitas oviposisi pada siang hari, tampak dari jumlah telur yang
diletakkan jauh lebih besar dibandingkan waktu pagi dan malam (Tabel 5 dan
Lampiran 5). Hasil pengamatan perilaku oviposisi selama 5 jam periode
pemaparan menunjukkan bahwa persentase peneluran tertinggi oleh B. papayae
dan B. carambolae berturut-turut 57.1% dan 66.9% terjadi pada waktu siang hari
dengan rata-rata jumlah telur yang diletakkan sebanyak 7 dan 1 butir/betina/5 jam.
Usman (2015) melaporkan bahwa jumlah telur terbanyak diletakkan oleh lalat
buah B. carambolae terjadi pada waktu siang hari selama 12 jam pemaparan.
Menurut Allwood (1996), pada habitat aslinya di alam, lalat buah melakukan
aktivitas mencari makan pada waktu pagi hari dan melakukan kopulasi menjelang
senja saat intensitas cahaya mulai menurun. Lalat betina yang belum berkopulasi
biasanya lebih aktif pada sore hari, sedangkan lalat yang telah kawin
menunjukkan peningkatan aktivitas oviposisi saat intensitas cahaya meningkat.
Tabel 5 Preferensi waktu oviposisi B. papayae dan B. carambolae pada buah
jambu biji
Waktu

a

Rata-rata jumlah
telur
(butir/betina/5 jam)

Persentase
oviposisi (%)

Rata-rata jumlah
telur
( ± SE)a

Pagi
Siang
Malam

Bactrocera papayae
0.95
9.10
6.98
66.86
2.51
24.04

0.95 ± 0.17 b
6.98 ± 1.62 a
2.51 ± 0.33 b

Pagi
Siang
Malam

Bactrocera carambolae
0.37
12.21
1.73
57.10
0.93
30.69

0.37 ± 0.15 b
1.73 ± 0.36 a
0.93 ± 0.24 b

Angka yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan hasil yang berbeda
nyata berdasarkan uji selang ganda Duncan α = 5 %.

SIMPULAN DAN SARAN
Lalat buah spesies Bactrocera papaye dan B. carambolae memilih oviposisi
pada buah yang memiliki tingkat kematangan sedang pada skala kekerasan buah
antara 5 dan 6. Perilaku oviposisi tertinggi terjadi di bagian pangkal atau
permukaan atas buah pada waktu siang hari mulai pukul 12:00-17:00.
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi dasar dalam
melakukan pengendalian lalat buah di lapang. Tindakan pengendalian untuk
mencegah kerugian yang ditimbulkan oleh hama lalat buah pada jambu biji dapat
dilakukan sebelum buah mulai matang, Metode pengendalian mekanis terhadap
serangan lalat buah dapat dilakukan melalui pembungkusan buah dengan
memprioritaskan penutupan permukaan buah bagian pangkal. Pengetahuan
tentang perilaku lalat yang lebih aktif pada waktu siang hari dapat digunakan
untuk menentukan teknis dan strategi pengendalian yang disesuaikan dengan
kondisi lingkungan siang hari dalam upaya menurunkan populasi imago.

DAFTAR PUSTAKA
Ali ZM, Lazan H. 1997. Guava. Di dalam: Mitra SK, editor. Post Harvest
Physiology and Storage of Tropical and Subtropical Fruit. Wallingford
(UK): CAB International. hlm 145 – 160.
Allwood AJ. 1996. Biology and ecology: prerequisites for understanding and
managing fruit flies (Diptera: Tephritidae). Di dalam: Allwood AJ, editor.
Proceeding of Management of Fruit Flies in the Pacific No.76; 1996 Okt
28-31; Nadi, Fiji. Canberra (AU): Australian Centre for International
Agricultural Research. hlm 95-101.
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2015. Produksi tanaman buah-buahan [Internet].
[diunduh 2015 Mar 25]. Tersedia pada: http://www.bps.go.id.
Bhupinder K, Nirmaljit K, Tejinder S, Harinder K, Gursharan K. 2006. Absolute
growth and growth rate of winter crop guava cv. sardar of different
maturities during the ontogeny. Di dalam: Trivedi PC, editor. Advances in
Plant Physiology. New Delhi (IN): IK International Publishing House. Hlm
174-184.
[CAB International] Commonwealth Agricultural Bureau International. 2007.
Crop Protection Compendium (CD-Rom). Wallingford (UK): CAB
International.
Drew RAI, Romig MC. 1996. Tephritidae in the Pacific and Southeast Asia. Di
dalam : Allwood AJ, editor. Proceeding of Management of Fruit Flies in the
Pacific No.76; 1996 Okt 28-31; Nadi, Fiji. Canberra (AU): Australian
Centre for International Agricultural Research. hlm 46-53.
Ginting R. 2009. Studi keanekaragaman lalat buah (Diptera: Tephritidae) di
Jakarta, Depok, dan Bogor sebagai bahan kajian penyusunan analisis risiko
hama [tesis]. Bogor (ID): Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Kalshoven LGE. 1981. The Pests of Crops in Indonesia. Lan PA van der,
penerjemah. Jakarta (ID): Ichtiar Baru-van Hoeve. Terjemahan dari: De
Plagen van de Cultuurgewassen in Indonesie.
Kuswadi AN. 2011. Kerusakan morfologis dan histologis organ reproduksi lalat
buah Bactrocera carambolae (Drew & Hancock) (Diptera: Tephritidae)
jantan yang dimandulkan dengan iradiasi gamma. J Batan. 7(1):1-9.
Larasati A, Hidayat P, Buchori D. 2013. Keanekaragaman dan persebaran lalat
buah Tribe Dacini (Diptera: Tephritidae) di Kabupaten Bogor dan
sekitarnya. J Entomol Indones. 10(2):51-59. DOI: 10.5994/jei.10.2.51.
Lloyd A. 1996. Application of bacteria to laboratory rearing of fruit flies. Di
dalam: Allwood AJ, editor. Proceeding of Management of Fruit Flies in the
Pacific No.76; 1996 Okt 28-31; Nadi, Fiji. Canberra (AU): Australian
Centre for International Agricultural Research. hlm 161-163.
Parimin. 2007. Budidaya Jambu Biji dan Ragam Pemanfaatannya. Jakarta (ID):
Penebar Swadaya.
[Puslitbanghor] Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura. 2014. Hasilhasil penelitian tanaman buah-buahan untuk bioindustri [Internet]. [diunduh
2015 Mar 25]. Tersedia pada: http:// hortikultura.litbang.pertanian.go.id.
Ratttanapun W, Amornsak W, Clarke AR. 2010. Is a mango just a mango?
Testing within-fruit oviposition site choice and larval performance of highly

polyphagous fruit fly. Arthropod-Plant Interaction. 4(1):35-44. DOI:
10.1007/s11829-009-9083-6.
Sodiq M. 2004. Kehidupan lalat buah pada tanaman sayuran dan buah-buahan. Di
dalam: Sodiq M, editor. Prosiding Lokakarya Masalah Kritis Pengendalian
Layu Pisang, Nematoda Sista Kuning pada Kentang dan Lalat Buah; 2004
Jun 14-16; Jakarta, Indonesia. Jakarta (ID): Pusat Penelitian dan
Pengembangan Hortikultura. hlm 13-20.
Usman K. 2015. Keefektifan iradiasi sinar gamma terhadap Bactrocera
carambolae (Drew & Hancock) in vitro dan in vivo [tesis]. Bogor (ID):
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian.

LAMPIRAN

17

Lampiran 1 Preferensi oviposisi Bactrocera papayae berdasarkan tingkat kematangan buah jambu biji
Skala tingkat
kematangan buah
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Total

1
13
6
8
11
31
7
0
0
0
0
76

Jumlah telur yang diletakkan (butir/20 betina)
2
3
4
5
6
7
8
9
16
8
18
0
2
0
0
0
19
7
14
4
2 10
4
3
27 12
17
6 12 14
9
7
27 15
26 12 14 15 18 13
69 33
30 21 25 11 16 17
18 11
14 21 26 40 49 14
0
3
5
4
3
4
6
7
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
3
5
4
3
4
6
7
176 89 124 68 84 94 102 61

10
0
5
9
11
8
16
3
0
0
3
52

Rata-rata jumlah telur
(butir/20 betina/5 hari)
5.7
7.4
12.1
16.2
26.1
21.6
3.5
0.0
0.0
0.0

Persentase
oviposisi (%)
6.16
7.99
13.07
17.49
28.19
23.33
3.78
0.00
0.00
0.00

Lampiran 2 Preferensi oviposisi Bactrocera carambolae berdasarkan tingkat kematangan buah jambu biji
Skala tingkat
kemantangan buah
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Total

1
4
19
21
23
38
15
0
0
0
0
120

Jumlah telur yang diletakkan (butir/20 betina)
2
3
4
5
6
7
8
9
12
0
0
3
0
0
4
0
31
3
11 10
7
5
3
0
39 19
22 10
12 16
7
8
46 17
35 19
13 11
9
8
47
8
26 21
16 14 11 12
49 13
21 24
52 16 32 20
0
7
4
5
3
7
2
6
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
224 67 119 92
103 69 68 54

10
0
3
12
19
16
33
4
0
0
0
87

Rata-rata jumlah telur
(butir/20 betina/5 hari)
2.3
9.2
16.6
20
20.9
27.5
3.8
0.0
0.0
0.0

Persentase
oviposisi (%)
2.29
9.17
16.55
19.94
20.84
27.42
3.79
0.00
0.00
0.00

18

19

Lampiran 3 Preferensi lokasi oviposisi B. papayae pada bagian buah jambu biji
Jumlah telur yang diletakkan (butir/betina)
Perlakuan
1

Pangkal
Tengah
Ujung
Pangkal
Tengah
Ujung

7.1
2.1
5.8
6.0
3.9
3.6

2

11.0
3.6
5.1
8.2
5.4
2.9

3

10.5
3.4
7.9
4.0
2.0
2.8

4

5

6

7

8

9

10

9.5
3.9
7.0

No choice
7.9
2.1
7.3

7.1
5.0
6.2

24.3
13.1
11.2

29.6
18.0
12.4

18.5
11.2
9.8

26.8
12.6
17.3

4.8
3.2
3.4

Choice
9.9
5.2
8.1

3.3
4.1
3.0

9.1
22.1
19.2

4.3
17.0
5.4

15.9
13.4
9.1

7.2
4.6
6.5

Lampiran 4 Preferensi lokasi oviposisi B. carambolae pada bagian buah jambu biji
Jumlah telur yang diletakkan (butir/betina)
Perlakuan
1

Pangkal
Tengah
Ujung
Pangkal
Tengah
Ujung

9.6
0.8
2.4
4.3
0.9
1.1

2

3.6
3.2
1.7
5.4
0.3
1.3

3

10.7
2.2
2.8
2.2
0.3
0.8

4

5

6

7

8

9

10

5.0
3.7
1.4

No choice
4.7
1.5
3.4

6.2
2.7
4.3

11.6
7.9
5.4

14.3
10.9
4.9

11.9
11.0
10.2

22.0
12.9
12.9

3.2
0.5
1.5

Choice
0.3
0.0
0.0

1.4
1.5
1.1

8.6
5.0
4.6

4.9
1.0
1.8

5.1
2.7
0.3

12.8
4.3
5.8

20

21

Lampiran 5 Preferensi waktu oviposisi B. papayae dan B. carambolae pada buah jambu biji
Jumlah telur yang diletakkan (butir/betina)
Waktu
1

2

3

4

Pagi
Siang
Malam

0.00
0.80
0.50

0.00
3.60
1.30

0.20
2.90
0.60

Pagi
Siang
Malam

0.07
0.28
0.22

0.12
1.40
0.43

0.02
0.23
0.14

5

6

7

8

9

10

Bacrocera papayae
0.30
0.70
0.60
0.50
1.10
3.40
0.60
0.00
1.90

0.00
1.60
2.40

1.50
1.60
0.20

0.20
1.00
0.70

0.20
0.80
1.10

Bactrocera carambolae
0.17
0.04
0.10
1.41
0.17
0.84
0.40
0.09
0.18

0.09
0.91
0.21

0.05
0.44
0.16

0.18
0.13
0.35

0.11
1.17
0.33

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Maros pada tanggal 23 Maret 1993 sebagai anak kedua
dari dua bersaudara, dari pasangan Bapak Made Amin, BA dan Ibu Hj. Gamariah,
SE. Pendidikan sekolah menengah ditempuh di SMA Negeri 1 Maros pada
program IPA dan lulus pada tahun 2011. Pada tahun yang sama penulis
melanjutkan pendidikan sarjana di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas
Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur SNMPTN Undangan.
Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif mengikuti berbagai kegiatan dan
kepanitiaan pada Himpunan Mahasiswa Proteksi Tanaman (HIMASITA),
termasuk menjadi anggota pengurus di Divisi Eksternal Informasi pada tahun
2013 dan menjadi kepala divisi pada tahun 2014, serta pernah menjadi
Penanggung Jawab Kelompok (PJK) pengenalan Departemen PTN tahun 2013
dan Ketua Divisi Publikasi Dekorasi dan Dokumentasi (PDD) pada beberapa
program kerja kepengurusan HIMASITA. Penulis pernah mengikuti kepanitian
dalam acara Mahakarya Fakultas Pertanian sebagai anggota divisi PDD. Penulis
juga aktif mengikuti kepengurusan OMDA (Organisasi Mahasiswa Daerah) Ikatan
Kekeluargaan Mahasiswa/Pelajar Sulawesi Selatan-Barat (IKAMI SULSELBAR) sebagai penanggung jawab (Dara) angkatan 48. Penulis pernah menjadi
asisten praktikum untuk mata kuliah Pestisida dalam Proteksi Tanaman pada
tahun 2015. Penulis juga pernah mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa
DIKTI bidang Penelitian pada tahun 2012 dengan judul “Potensi Penggunaan
Kitosan untuk Mengendalikan Penyakit Antraknosa dan Meningkatkan Daya
Simpan Buah Pepaya” dan pada tahun 2014 dalam bidang pengabdian masyarakat
dengan judul “Pottoys; Pot Tanaman Berbentuk Mainan Anak Berbahan Dasar
Barang Bekas Sebagai Media Kreativitas untuk Meningkatkan Budaya Bercocok
Tanam bagi Anak-Anak Desa Cibanteng Bogor”.