Pemanfaatan Limbah Tanaman Brokoli untuk Pengendalian Penyakit Akar Gada (Plasmodiophora Brassicae Wor.) pada Tanaman Caisin

PEMANFAATAN LIMBAH TANAMAN BROKOLI UNTUK
PENGENDALIAN PENYAKIT AKAR GADA
(Plasmodiophora brassicae Wor.) PADA TANAMAN CAISIN

MEY FITRIYANI

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

ABSTRAK

MEY FITRIYANI. Pemanfaatan Limbah Tanaman Brokoli untuk Pengendalian
Penyakit Akar Gada (Plasmodiophora brassicae Wor.) pada Tanaman Caisin.
Dibimbing oleh ABDUL MUIN ADNAN.
Penelitian pemanfaatan limbah tanaman brokoli untuk pengendalian
penyakit akar gada yang disebabkan oleh Plasmodiophora brassicae pada
tanaman caisin telah dilakukan dalam percobaan pot di laboratorium Departemen
Proteksi Tanaman Faperta IPB kampus Dramaga dan percobaan plot mikro di
lahan Kebun Percobaan IPB Pasir Sarongge. Bahan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah tanah terinfestasi oleh P. brasicae dan cacahan limbah
tanaman brokoli berasal dari Kebun Percobaan IPB Pasir Sarongge Kecamatan
Pacet, Cianjur. Cacahan limbah brokoli dimasukkan ke dalam tanah, diaduk
merata, ditutup dengan lembaran plastik bening dan diinkubasikan selama 2
minggu. Untuk pengujian pot menggunakan cacahan limbah brokoli dengan
empat tingkat dosis termasuk kontrol, yaitu, 0.125, 0.25, 0.5, dan 0.0 kg (kontrol)
untuk setiap 5 liter tanah, sedangkan untuk pengujian lapangan menggunakan
kisaran dosis 0.25 kg, 0.5 kg, 1 kg, 2 kg dan 0 (kontrol) untuk tiap m2 lahan.
Hasil penelitian, baik dalam sekala pot maupun di lapangan menunjukkan bahwa
perlakuan limbah brokoli dapat menekan intensitas penyakit akar gada pada
tanaman caisin, dengan tingkat penekanan yang bervariasi menurut dosis. Pada
pengujian pot, intensitas penyakit pada tingkat dosis 0.125 kg/5 l tanah secara
nyata lebih rendah, sedangkan pada dosis yang lebih tinggi (0.5 dan 0.25 kg/5 l
tanah) cenderung lebih rendah dibandingkan dengan kontrol. Penekanan intensitas
penyakit diduga berkaitan erat dengan peran biofumigan yang terbentuk selama
proses dekomposisi limbah brokoli dan meningkatnya kepadatan mikroba pada
tanah yang diberi perlakuan limbah brokoli.
Kata kunci: Caisin, Akar gada, Limbah tanaman brokoli

PEMANFAATAN LIMBAH TANAMAN BROKOLI UNTUK
PENGENDALIAN PENYAKIT AKAR GADA
(Plasmodiophora brassicae Wor.) PADA TANAMAN CAISIN

MEY FITRIYANI

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
gelar Sarjana Pertanian
pada
Departemen Proteksi Tanaman

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

Judul Skripsi

: Pemanfaatan Limbah Tanaman Brokoli untuk Pengendalian
Penyakit Akar Gada (Plasmodiophora Brassicae Wor.) pada
Tanaman Caisin
Nama Mahasiswa : Mey Fitriyani
NIM
: A34070055

Menyetujui,
Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Abdul Muin Adnan, MS.
NIP. 19521111 198003 1 006

Mengetahui,
Ketua Departemen Proteksi Tanaman

Prof. Dr. Ir. Dadang, M.Sc
NIP. 19640204 199002 1 002

Tanggal Lulus :

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Pekalongan, Jawa Tengah pada tanggal 07 Mei 1989.
Penulis merupakan putri kedua dari dua bersaudara pasangan Bapak Susiono dan
Ibu Kasturah.
Penulis menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas di SMA Negeri 3
Pekalongan, pada tahun 2007. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan
studinya di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian
Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk Institut Pertanian Bogor (USMI).
Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif dalam beberapa organisasi
kemahasiswaan, yaitu Himpunan Mahasiswa Pekalongan (2007-2009), Himpunan
Mahasiswa Proteksi Tanaman (HIMASITA) pada divisi Fasilitas dan Properti
(2009-2010). Selain itu, penulis pernah menjadi asisten praktikum mata kuliah
Ilmu Penyakit Tumbuhan Dasar (2009) dan asisten praktikum mata kuliah Ilmu
Hama Tumbuhan Dasar (2011).

PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang
berjudul “Pemanfaatan Limbah Tanaman Brokoli untuk Pengendalian Penyakit
Akar Gada (Plasmodiophora brassicae Wor.) pada Tanaman Caisin”. Skripsi ini
disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana pertanian pada
Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan selesai tanpa bantuan dari
berbagai pihak. Oleh karena itu penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih
kepada :
1. Bapak, Ibu, dan keluarga tercinta yang selalu menjadi inspirasi dan selalu
memberikan doa, dukungan, dan semangat yang tak henti-hentinya kepada
penulis;
2. Dr. Ir. Abdul Muin Adnan, MS selaku dosen pembimbing yang telah
memberikan bimbingan, masukan, saran, dan kritik dalam penulisan tugas
akhir;
3. Dr. Ir. Idham Sakti Harahap, MSc selaku dosen penguji tamu yang telah
memberikan arahan dan saran yang bermanfaat;
4. Dr. Ir. Nina Maryana, Msi selaku dosen pembimbing akademik yang telah
memberikan bimbingan, masukan, dan saran kepada penulis.
5. Sahabat seperjuangan Proteksi Tanaman 44, khususnya kepada Triyastuti
P, Vishora Satyani, Tatit Sastrini dan Sani Nihlatussania, Anik Nurhayati,
dll;
6. Rekan kerja di Laboratorium Nematologi Tumbuhan, Bapak Gatot Heru
Bromo, Ka’ Yadi, Triyastuti P, M. Taher, Zalzilatul Hikmia, Miftah F, dan
Aminudi;
7. Sahabat-sahabat (Andi Inggryd Cheryana, Riska Nuridha Putri, dan Sulma
Mardiah Setiani);
8. Teman-teman IMAPEKA 44 (Amin, Nindi, Ririh, Nita, Ii, dll);
9. Teman-teman Wisma Bintang II;
10. Mahasiswa, dosen, staff, beserta laboran Departemen Proteksi Tanaman,
serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
untuk kedepannya. Akhir kata penulis serahkan skripsi ini semoga dapat
memberikan manfaat kepada pembaca.
Bogor, Januari 2012
Mey Fitriyani

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR TABEL ........................................................................................

vii

DAFTAR GAMBAR ...................................................................................

viii

PENDAHULUAN .......................................................................................

1

Latar Belakang ....................................................................................
Tujuan Penelitian .................................................................................
Manfaat Penelitian ...............................................................................

1
3
3

TINJAUAN PUSTAKA ..............................................................................

4

Penyakit Akar Gada ............................................................................
Tanaman Caisin ..................................................................................
Limbah Tanaman Brokoli ...................................................................

4
5
6

BAHAN DAN METODE ............................................................................

8

Tempat dan Waktu ..............................................................................
Metode Penelitian ...............................................................................
Penyiapan Tanah Percobaan ......................................................
Penyiapan Limbah Brokoli .......................................................
Penyiapan Bibit Caisin ..............................................................
Uji Fitotoksisitas .......................................................................
Pengaruh Limbah Brokoli tehadap Penyakit Akar Gada
dalam Uji Pot .............................................................................
Pengaruh Limbah Brokoli terhadap Penyakit Akar Gada
di Lapangan ...............................................................................
Uji Efek Fumigan ......................................................................
Pengamatan Kepadatan Mikroba Tanah dengan Metode
Pencawanan ...............................................................................
Rancangan Percobaan dan Analisis Data ..................................

8
8
8
8
9
9

11
11

HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................................

12

Hasil ....................................................................................................
Pembahasan ........................................................................................

12
18

KESIMPULAN ............................................................................................

21

Kesimpulan .........................................................................................
Saran ...................................................................................................

21
21

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................

22

9
10
10

vii

DAFTAR TABEL
Halaman
1
2
3
4
5

Pengaruh limbah brokoli terhadap penyakit akar gada pada
pengujian pot di laboratorium ............................................................

12

Bobot tajuk tanaman dalam berbagai dosis limbah brokoli
dalam uji lapangan ............................................................................

13

Volume akar fungsional yang dihasilkan tanaman caisin dalam
empat tingkat dosis limbah brokoli dan kontrol di lapangan ...........

16

Pengaruh efek fumigan dari limbah brokoli dalam menekan
jumlah puru akibat penyakit akar gada .............................................

17

Pengaruh perlakuan limbah brokoli terhadap kepadatan
mikroba tanah ....................................................................................

17

DAFTAR GAMBAR
Halaman
1
2

Penyakit akar gada oleh Plasmodiophora brassicae pada
tanaman caisin ................................................................................
Tanaman caisin ...............................................................................

5
6

3

Limbah tanaman brokoli ................................................................

7

4

Pot untuk uji efek fumigan .............................................................

11

5

Bobot tajuk tanaman caisin dalam perlakuan empat tingkat
dosis limbah brokoli dan kontrol ...................................................
Performa akar caisin pada saat panen dengan perlakuan berbagai
dosis limbah brokoli dibandingkan dengan kontrol .......................

6

14
15

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Caisin [Brassica campestris L. var. chinesis (Rupr.) Olson] dikenal oleh
petani dengan sebutan sawi hijau atau sawi bakso, dewasa ini banyak
diperdagangkan. Di antara sayuran daun, caisin merupakan komoditas yang
memiliki nilai komersial dan digemari masyarakat Indonesia. Selain enak ditumis
caisin juga banyak dibutuhkan oleh pedagang mie bakso, mie ayam, dan capcai
atau masakan cina lainnya, sehingga permintaan pasar akan caisin cukup tinggi.
Konsumen menggunakan daun caisin baik sebagai bahan pokok maupun sebagai
pelengkap masakan tradisional dan masakan cina. Selain sebagai bahan pangan,
caisin dipercaya dapat menghilangkan rasa gatal di tenggorokan pada penderita
batuk, sebagai penyembuh sakit kepala dan mampu bekerja sebagai pembersih
darah (Haryanto et al. 2001).
Daya tarik bagi petani dalam mengusahakan tanaman caisin karena mudah
dibudidayakan, umur panennya singkat (hanya satu bulan setelah bibit berumur 3
minggu ditanam) dan mudah dipasarkan. Daya tarik lainnya dari sayuran ini
adalah harganya relatif stabil (Hapsari 2002). Konsumsi caisin diduga akan
mengalami peningkatan sesuai pertumbuhan jumlah penduduk, meningkatnya
daya beli masyarakat, kemudahan tanaman ini diperoleh di pasar, dan peningkatan
pengetahuan gizi masyarakat.
Berbagai faktor penghambat sering menurunkan produktivitas tanaman
caisin. Satu di antaranya adalah penyakit yang dapat menimbulkan kerusakan
cukup serius yang biasa menyerang hampir semua tanaman tergolong famili
Brassicaceae adalah penyakit akar gada yang disebabkan oleh Plasmodiophora
brassicae Wor. Kehilangan hasil akibat penyakit akar gada pada tanaman caisin
sekitar 5,42−64,81% (Hanudin dan Marwoto 2003).
Gejala khas penyakit ini terjadi pada akar, yaitu akarnya membesar dan
menyatu, seperti gada sehingga disebut penyakit akar gada. Performa tanaman
yang terserang secara keseluruhan menjadi kerdil dan warna daunnya menjadi

2
abu-abu dan layu pada siang hari yang kemudian segar kembali pada malam hari
(Agrios 2005).
Di Indonesia akar gada merupakan penyakit utama khususnya di Jawa Barat
dan Jawa Tengah. Selain di kedua provinsi tersebut, penyakit ini telah menyerang
famili Brassicaceae di Sumatra Utara dan Sulawesi Selatan. Kerugian yang
disebabkan patogen tersebut berkisar antara 50-100% (Sulastri 2010). Pada lahan
yang telah terinfestasi, patogen penyebab penyakit ini mampu bertahan dalam
bentuk spora rehat (resting spore) dalam waktu kurang lebih 20 tahun, walaupun
tidak ditanami kubis-kubisan selama kurun waktu tersebut (Anonim 2010)
Mengingat besarnya kerugian dan kerusakan yang ditimbulkan oleh
penyakit ini, berbagai cara pengendalian telah dilakukan oleh petani, namun
sampai saat ini hasilnya dirasakan masih belum efektif. Karena patogen ini sulit
dikendalikan dan mampu bertahan dalam bentuk spora rehat selama bertahuntahun, menjadi alasan bagi petani di daerah endemik enggan untuk menanam
caisin atau famili Brassicaceae lainnya. Pengendalian baru yang dapat digunakan
untuk mengendalikan penyakit akar gada adalah dengan memanfaatkan limbah
tanaman brokoli. Menurut Yulianti (2009) kubis-kubisan dikenal sebagai sumber
biofumigan karena mengandung glukosinolat (GSL). Jika keluar dari jaringan
tanaman, GSL akan terhidrolisis menjadi senyawa yang bersifat racun bagi hama
maupun patogen tanaman.
Tanaman famili Brassicaceae dapat dimanfaatkan sebagai tanaman penutup
tanah (cover crop) atau sumber pupuk hijau, sekaligus sebagai biofumigan
(Yulianti dan Supriadi 2008). Limbah tanaman brokoli sebagai salah jenis satu
tanaman dari famili Brassicaceae telah dilaporkan sebagai sumber biofumigasi
untuk mengendalikan Verticillium dahliae (Subbarao et al. 1999) dan
Pseudomonas marginalis (Charron dan Sam 2002). Daun brokoli yang merupakan
sisa panen biasanya digunakan untuk pakan ternak (kelinci, sapi, dan kambing),
sementara batangnya biasanya dibuang. Sisa panen tanaman brokoli yang tidak
dimanfaatkan diharapkan dapat dijadikan sebagai salah satu agens untuk
mengendalikan penyakit tanaman, termasuk penyakit akar gada pada tanaman

3
caisin,

sampai

pada

taraf

tanaman

tersebut

dapat

mempertahankan

produktivitasnya.

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan limbah tanaman
brokoli sebagai agens pengendalian alternatif yang ramah lingkungan terhadap
penyakit akar gada pada tanaman caisin.

Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini ialah aplikasi limbah brokoli
dapat mengurangi kerugian ekonomi karena penurunan produksi akibat penyakit
akar gada sehingga hasil produksi tanaman caisin dapat meningkat. Selain itu,
penggunaan limbah brokoli dalam pengendalian penyakit tanaman dapat
mengurangi penggunaan pestisida sintetik yang selain mahal juga berpotensi
mencemari lingkungan dan produk pertanian.

TINJAUAN PUSTAKA

Penyakit Akar Gada
Penyakit akar gada (clubroot) yang disebabkan oleh Plasmodiophora
brassicae Wor. merupakan salah satu penyakit tular tanah yang sangat penting
pada tanaman kubis-kubisan (Brassica spp.) di seluruh dunia (Karling 1968;
Voorrips 1995 dalam Yulianti 2009). P. brassicae, dianggap sebagai pseudofungi
atau organisme menyerupai fungi, yang membentuk zoosporangium dan setiap
zoosporangium mengandung 4 atau 8 zoospora sekunder yang dapat terlepas
melalui lubang atau pori-pori pada dinding sel inang (Agrios 2005).
Tingkat produksi tanaman kubis-kubisan sering kali dipengaruhi oleh
serangan P. brassicae yang menyebabkan bengkak pada akar. Pembengkakan
pada jaringan akar dapat mengganggu fungsi akar seperti translokasi zat hara dan
air dari dalam tanah ke daun. Jika tanah sudah terinfestasi oleh P. brassicae maka
patogen tersebut akan selalu menjadi faktor pembatas dalam budi daya tanaman
famili Brassicaceae karena patogen ini mempunyai daya tahan yang tinggi
terhadap perubahan lingkungan dalam tanah (Cicu 2006).
Gejala pada bagian tanaman di atas permukaan tanah akibat infeksi patogen
ini seperti gangguan akar oleh penyebab lain. Pada siang hari yang terik atau pada
cuaca panas tanaman daun-daunnya menjadi layu, kemudian pulih kembali pada
malam hari, serta kelihatan normal dan segar pada pagi hari (Djatnika 1993).
Gejala khas terjadi pada akar, yaitu akar membesar secara tidak normal, terutama
pada bagian pangkalnya (Gambar 1). Akar yang membengkak akan makin besar
dan biasanya hancur sebelum akhir musim tanam karena serangan bakteri atau
cendawan tanah (Agrios 2005).

5

Gambar 1 Penyakit akar gada oleh Plasmodiophora brassicae pada tanaman caisin.
Penyakit akar gada telah menyebar ke berbagai sentra kubis dan tanaman
dari famili Brassicaceae lainnya (Widodo dan Suheri 1995). Penyebab penyakit
ini dapat terpencar di alam melalui tanah dengan berbagai cara atau perantara,
misalnya peralatan usaha tani, bibit pada saat pemindahan ke lapangan, hasil
panen, air permukaan, angin dan melalui pupuk kandang. Di Australia, patogen
ini menyebabkan kehilangan hasil sekitar 10% setiap tahun dengan kehilangan
pendapatan sebesar US$ 13 juta (Faggian et al. 1999). Di Indonesia, penyakit ini
menyebabkan kerusakan pada kubis-kubisan sekitar 88,60% (Widodo dan Suheri
1995) dan pada tanaman caisin sekitar 5,42−64,81% (Hanudin dan Marwoto
2003).
Berbagai upaya pengendalian telah dilakukan untuk mengendalikan penyakit
akar gada baik oleh petani maupun oleh para peneliti. Namun demikian sampai
saat ini belum ada cara pengendalian yang efektif walaupun dengan cara rotasi.
Oleh karena itu, pencarian alternatif pengendalian yang efektif, aman bagi
lingkungan, mudah diaplikasikan, dan ekonomis perlu diupayakan.

Tanaman Caisin
Caisin [Brassica campestris L. var. chinesis (Rupr.) Olson] merupakan jenis
tanaman sayuran yang tergolong dalam Famili Brassicaceae. Batangnya panjang,
tegap dan daunnya berwarna hijau. Daun-daun tanaman ini lebar dan bentuk
pipih. Tangkai daun berwarna putih atau hijau muda (Gambar 2).

6
Tanaman caisin dapat tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi.
Syarat penting untuk pertumbuhan tanaman ini adalah tanah gembur dan subur
dengan pH tanah antara 6-7. Selama masa pertumbuhannya caisin memerlukan
cukup air agar produksi yang dihasilkan maksimal.

Gambar 2 Tanaman caisin.
Caisin dikenal sebagai sayuran atau pelengkap makanan lain seperti bakso
dan mie yang digemari masyarakat. Selain sebagai bahan pangan, caisin dipercaya
dapat menghilangkan rasa gatal di tenggorokan pada penderita batuk. Caisin juga
berfungsi sebagai penyembuh sakit kepala dan mampu bekerja sebagai pembersih
darah (Haryanto et al. 2001).
Caisin merupakan salah satu komoditas sayuran daun yang memiliki nilai
komersial dan digemari masyarakat Indonesia. Petani tertarik untuk menanam
caisin karena masa panen sayuran daun ini singkat dan pangsa pasarnya luas.
Daya tarik lainnya adalah selain harganya relatif stabil, tanaman ini juga mudah
untuk dibudidayakan (Hapsari 2002).

Limbah Tanaman Brokoli
Tanaman kubis-kubisan (Brassicaceae) mengandung senyawa glukosinolat
(GSL) yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber biofumigan (Yulianti 2009).
Biofumigan adalah senyawa yang mudah menguap (volatil) yang berasal dari
alam dan bersifat biosida terhadap serangga dan patogen tanaman (Kirkegaard dan
Sarwar 1998).

7
Sampai saat ini, tanaman penghasil GSL yang paling banyak digunakan
adalah dari famili Brassicaceae. Di beberapa negara maju, tanaman-tanaman
tersebut digunakan sebagai tanaman rotasi dan sisa tanamannya digunakan
sebagai pupuk hijau. Dengan demikian, selain berperan sebagai sumber
biofumigan untuk menekan hama, patogen tular tanah dan gulma (Rosa dan
Rodriguez 1999), tanaman ini juga digunakan untuk menambah kandungan bahan
organik di dalam tanah. Pada saat sisa-sisa tanaman yang dihancurkan kemudian
dibenamkan, terjadi proses hidrolisis GSL dan terbentuk senyawa-senyawa yang
beracun.

Gambar 3 Limbah Tanaman Brokoli.

Limbah tanaman brokoli (Gambar 3) sebagai salah jenis satu tanaman dari
famili Brassicaceae telah dilaporkan sebagai sumber biofumigasi untuk
mengendalikan Verticillium dahliae (Subbarao et al. 1999) dan Pseudomonas
marginalis (Charron dan Sam 2002). Daun brokoli yang merupakan sisa panen
biasanya digunakan untuk pakan ternak (kelinci, sapi, dan kambing), sementara
batangnya biasanya dibuang. Sisa panen tanaman brokoli yang tidak dimanfaatkan
dapat dijadikan sebagai sumber biofumigan untuk mengendalikan penyakit
tanaman sehingga dapat menghemat biaya produksi pertanian.

8

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan dari bulan Februari sampai bulan September 2011
di Laboratorium Nematologi Tumbuhan, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas
Pertanian, Institut pertanian Bogor dan di kebun percobaan IPB Pasir Sarongge
Kecamatan Pacet Cianjur.
Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah limbah tanaman
brokoli yang berasal dari daerah Cipanas, tanah yang terinfestasi P. brassicae,
benih caisin, media Potato Dextrose Agar (PDA), dan media Natrium Agar (NA).

Metode
Penyiapan Tanah Percobaan
Tanah diperoleh dari kebun percobaan IPB Pasir Sarongge Kecamatan Pacet
Cianjur yang merupakan daerah endemis penyakit akar gada yang disebabkan
oleh P. brassicae. Tanah sebanyak lima karung diambil dari lahan yang
dilaporkan selalu terjadi serangan penyakit akar gada bila ditanami tanaman famili
Brassicaceae. Tanah yang telah terinfestasi P. brassicae kemudian digunakan
sebagai media tanam dalam penelitian ini.

Penyiapan Limbah Brokoli
Limbah tanaman brokoli diperoleh dari sisa panen di daerah Pacet, Cianjur.
Limbah tanaman dicacah dengan ukuran ± 1 cm, kemudian dibenamkan ke dalam
tanah dan diinkubasi selama 2 minggu. Dosis limbah brokoli yang digunakan
berdasarkan bobot yang umum digunakan oleh petani dalam aplikasi penggunaan
pupuk hijau di lapang yaitu 0.5 kg per lubang tanam (volume lubang tanam ± 5
liter).

9
Penyiapan Bibit Caisin
Caisin yang digunakan dalam penelitian ini adalah varietas yang biasa
ditanam oleh petani yang benihnya diperoleh dari kios pertanian di Cipanas,
Cianjur. Benih disemai terlebih dahulu dengan menggunakan media tanam berupa
tanah steril. Pembibitan caisin dilakukan sampai tanaman berumur 2-3 minggu
setelah semai. Bibit caisin yang telah berumur 2-3 minggu siap digunakan untuk
pengujian selanjutnya.

Uji Fitotoksisitas
Uji fitotoksisitas dilakukan untuk mengetahui masa inkubasi yang paling
aman dari limbah tanaman brokoli yang telah diaplikasikan ke dalam tanah
terhadap tanaman caisin yang diuji. Limbah tanaman brokoli yang telah
diaplikasikan ke dalam tanah dimasukkan ke dalam pot kapasitas volume 40 ml.
Setiap pot ditanami 2 bibit caisin umur 3 minggu setelah semai. Limbah tanaman
brokoli diaplikasikan dalam kisaran dosis 0.125 kg, 0.25 kg, 0.5 kg dan 0.0 kg
(kontrol, tanpa limbah brokoli). Setiap perlakuan terdiri dari enam ulangan dan
setiap ulangan terdiri dari tiga pot percobaan. Tanah yang telah diberi perlakuan
diinkubasikan selama 2 dan 3 minggu dalam wadah plastik yang kemudian
ditutup dengan plastik wrapping. Pengamatan dilakukan terhadap persentase
kematian tanaman caisin pada minggu ke-1 sampai dengan minggu ke-3 setelah
bibit ditanam.

Pengaruh Limbah Brokoli terhadap Penyakit Akar Gada dalam Uji Pot
Pengujian dilakukan dalam pot-pot percobaan, masing-masing berisi 200 ml
tanah yang telah diberi perlakuan limbah brokoli dengan kisaran dosis 0.125 kg,
0.25 kg, 0.5 kg dan 0.0 kg (kontrol) untuk tiap 5 liter tanah. Bibit caisin berumur 2
minggu yang telah disiapkan ditanam dalam pot-pot yang telah diberi perlakuan
limbah brokoli. Masing-masing perlakuan terdiri dari 6 ulangan dan masingmasing ulangan terdiri atas 3 pot percobaan. Pengamatan dilakukan pada tanaman
berumur satu bulan setelah bibit ditanam, terhadap jumlah puru dan bobot akar.

10
Pengaruh Limbah Brokoli terhadap Penyakit Akar Gada di Lapangan
Pengujian dilakukan pada petak-petak perlakuan, masing-masing berukuran
±1 m². Tanah pada tiap petak-petak diberi perlakuan cacahan limbah brokoli
dengan dosis 0.25 kg, 0.5 kg, 1 kg, 2 kg dan 0.0 kg (kontrol) untuk setiap m2.
Cacahan limbah brokoli diaduk dengan tanah kemudian ditutup dengan lembaran
plastik transparan dan diinkubasi selama 2 minggu. Bibit caisin berumur dua
minggu ditanam pada petak-petak tanah yang telah diberi perlakuan limbah
brokoli. Pengamatan dilakukan tiga kali pada 6, 7, dan 8 minggu setelah tanam
(MST) terhadap bobot tajuk sereta performa dan volume akar fungsional tiga
contoh tanaman untuk setiap petak perlakuan dan kontrol. Akar fungsional pada
masing-masing tanaman contoh dipotong dengan gunting. Volume akar
fungsional diukur dengan menggunakan gelas ukur yang diisi air. Akar fungsional
tanaman caisin dimasukkan ke dalam gelas ukur kemudian dilihat penambahan
volume yang terjadi. Volume air awal pada gelas ukur dikurangi volume air
setelah akar fungsional dari tanaman caisin dimasukkan dalam gelas sama dengan
volume akar fungsional.

Uji Efek Fumigan
Pengujian efek fumigan dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya
peran biofumigan dari limbah brokoli dalam menekan penyakit akar gada.
Pengujian dilakukan dalam pot dengan volume 40 ml yang telah dimodifikasi,
yaitu disekat bagian tengahnya dengan plastik kedap air dan udara (Gambar 4).
Tiap sisi pot diisi 20 ml tanah sebagai medium tumbuh tanam. Satu sisi diisi tanah
yang terinfestasi patogen akar gada dan satu sisi yang lainnya diisi tanah yang
telah diberi perlakuan limbah brokoli dengan dosis 0.125 kg, 0.25 kg, 0.5 kg dan
0.0 kg (kontrol) untuk tiap 5 liter tanah kemudian pot ditutup dengan plastik
transparan dan diinkubasi selama dua minggu. Bibit caisin berumur dua minggu
ditanam pada tanah yang tidak diberi perlakuan limbah brokoli. Masing-masing
perlakuan terdiri dari enam ulangan dan masing-masing ulangan terdiri dari tiga
pot percobaan. Pengamatan terhadap tingkat keparahan penyakit akar gada
dilakukan pada minggu ke-4 setelah bibit ditanam. Tanaman dicabut tanpa

11
merusak akarnya, kemudian dicuci dan diamati. Pengamatan dilakukan terhadap
jumlah puru tiap tanaman.

Gambar 4 Pot untuk uji efek biofumigan.

Pengamatan Kepadatan Mikroba Tanah dengan Metode Pencawanan
Kepadatan mikroba dalam tanah medium tanam yang digunakan dalam
penelitian ini diduga dengan cara penumbuhan koloni dengan metode pencawanan
dalam media biakan PDA untuk cendawan dan NA untuk bakteri. Tanah yang
telah diberi perlakuan limbah brokoli dan kontrol diambil sebanyak 10 gram
kemudian diencerkan dalam air steril sebanyak 90 ml. Selanjutnya dilakukan
pengenceran bertingkat dari 10-1 sampai 10-6. Pengenceran 10-4 sampai 10-6 tanah
dengan perlakuan limbah brokoli dan kontrol diambil sebanyak 0.1 ml dan disebar
dalam cawan petri dengan media PDA untuk cendawan dan NA untuk bakteri.
Pengamatan dilakukan terhadap jumlah koloni bakteri dan cendawan yang
tumbuh pada 24 jam, 48 jam, dan 72 jam.

Analisis Data
Pengujian pengaruh limbah brokoli dan uji efek fumigan disusun dalam
rancangan acak lengkap. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan sidik
ragam (ANOVA) dengan program SAS 9.1 for Windows. Selanjutnya dilakukan
pembandingan nilai tengah antar perlakuan dengan uji selang berganda Duncan
pada taraf nyata 5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
Uji Fitotoksisitas
Hasil uji fitotoksisitas menunjukkan bahwa perlakuan limbah brokoli dalam
masa inkubasi 2 dan 3 minggu tidak bersifat fitotoksik pada tanaman caisin.
Hingga pada pengamatan minggu ke-3 (3 minggu setelah tanam), tidak ditemukan
satupun tanaman yang mati atau mengalami gangguan pertumbuhan. Oleh karena
itu, masa inkubasi dalam pengujian selanjutnya dilakukan selama 2 minggu.

Pengaruh Limbah Brokoli terhadap Penyakit Akar Gada dalam Pengujian
Pot
Hasil pengujian menunjukkan bahwa intensitas penyakit akar gada
berdasarkan jumlah puru/gram akar dengan perlakuan limbah brokoli pada tingkat
dosis 0.125 kg/5 l tanah secara nyata lebih rendah dibandingkan dengan kontrol,
dengan tingkat keefektifan mencapai 46.91 %, sementara itu pada dosis yang
lebih tinggi, yaitu 0.5 kg dan 0.25 kg/5 l tanah walaupun tidak berbeda nyata,
masing-masing cenderung lebih kecil dibandingkan dengan kontrol, dengan
tingkat keefektifan berturut-turut 13.15 dan 9.40 % (Tabel 1).

Tabel 1 Pengaruh limbah brokoli terhadap penyakit akar gada pada pengujian pot
di laboratorium
Perlakuan Limbah
(kg/5 l tanah)
0.5

1)

Jumlah Puru
(per gram akar)
85.71ab 1)

Keefektifan
Pengendalian (%) 2)
13.15

0.25

89.41ab

9.40

0.125

52.39b

46.91

Kontrol

98.69a

-

Angka selajur yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji Duncan
(Alpha = 0.05)
2)
Keefektifan relatif terhadap kontrol

13
Pengaruh Limbah Brokoli terhadap Penyakit Akar Gada dalam Pengujian
Lapangan
Hasil pengujian lapangan menunjukkan bahwa, jika dibandingkan dengan
kontrol, perlakuan limbah brokoli dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman
caisin dengan bobot tajuk yang bervariasi menurut dosis yamg diaplikasikan
(Tabel 2; Gambar 5). Bobot tajuk pada semua semua tingkat dosis yang
diaplikasikan (0.25 – 2.0 kg/m2) secara nyata lebih tinggi sejak 7 MST hingga 8
MST. Namun demikian, tingkat dosis yang lebih tinggi tidak selalu diiringi oleh
bobot tajuk yang lebih tinggi pula. Hasil panen yang dilakukan pada 8 MST,
menunjukkan bahwa dosis 1.0 kg/m2 menghasilkan bobot tajuk yang paling
tinggi, yaitu 803.33 gram, kemudian diikuti dosis 0.25, 0.5 dan 2.0 kg/m2 tanah,
berturut-turut 308.33, 336.67, dan 203.3 gram.

Tabel 2 Bobot tajuk tanaman dalam berbagai dosis limbah brokoli dalam uji
lapangan
Perlakuan Limbah
Brokoli (kg/m2)
2.0

1)

2)

Bobot Tajuk (g) pada n-MST 1)
6
7
8
203.30a
366.67cd
423.33b

Peningkatan
Bobot (%) 2)
71.62

1.0

495.00a

823.33a

856.67a

247.29

0.5

336.67a

603.33b

736.67a

225.67

0.25

308.33a

550.00bc

803.33a

198.65

Kontrol

160.00a

243.33d

246.67b

-

Angka selajur yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji Duncan
(Alpha = 0.05). MST= minggu setelah tanam.
Peningkatan bobot relatif terhadap kontrol pada 8MST.

14

Gambar 5 Bobot tajuk tanaman caisin dalam perlakuan empat tingkat dosis
limbah brokoli dan kontrol. MST: minggu setelah tanam, 0: dosis 0.0
kg/m2 lahan, 0.25: dosis 0.25 kg/m2 lahan, 0.5: dosis 0.5 kg/m2 lahan,
1: dosis 1.0 kg/m2 lahan, 2: dosis 2.0 kg/m2 lahan.
Perlakuan limbah brokoli terhadap bobot tajuk baru menunjukkan perbedaan
nyata dengan kontrol pada 7 MST dan 8 MST. Pada 7 MST hampir semua
tingkat dosis yang diuji menunjukkan bobot tajuk yang lebih tinggi dibandingkan
kontrol kecuali dosis 2.0 kg/m2 lahan. Sementara itu, pada 8 MST hanya tiga
tingkat dosis, yaitu 0.25, 0,5 dan 1.0 yang secara nyata lebih tinggi dibandingkan
dengan kontrol, sedangkan pada dosis 2.0 kg/m2 lahan tidak berbeda nyata dengan
kontrol.
Tingginya tingkat dosis limbah brokoli yang diaplikasikan tidak selalu
diiringi oleh tingginya bobot tajuk yang dihasilkan tanaman caisin. Berdasarkan
hasil pengujian, ternyata perlakuan limbah brokoli mampu meningkatkan bobot
tajuk terutama dengan kisaran dosis yang tidak terlalu tinggi, yaitu 0.25 – 1.0
kg/m2 lahan, dengan peningkatan bobot 198.65 – 247.29 %. Sementara itu dengan
dosis yang lebih tinggi, 2.0 kg/m2 lahan memberikan pengaruh yang tidak berbeda
nyata dengan kontrol.
Limbah brokoli juga berpengaruh terhadap performa akar caisin. Tanaman
yang ditanam pada petak yang diberi perlakuan dengan semua kisaran dosis yang

15
diuji, yaitu 0.25, 0.5, 1.0 dan 2.0 kg/m2 perkembangan akarnya lebih baik
dibandingkan dengan control (0.0 kg/m2). Walaupun masih menunjukkan gejala
penyakit akar gada, akar tanaman caisin yang ditanam pada petak yang diberi
limbah brokoli masih menghasilkan akar fungsional, sedangkan tanaman caisin
yang ditanam pada petak kontrol hampir tidak menghasilkan akar fungsional
(Gambar 6).

Gambar 6 Performa akar caisin pada saat panen dengan perlakuan berbagai dosis
limbah brokoli dibandingkan dengan kontrol (angka 1, 2 dan 3
menunjukkan ulangan).
Pemberian limbah tanaman brokoli pada tanah yang terifestasi P. brassicae
membuat tanaman caisin masih mampu menghasilkan akar fungsional walaupun
terserang penyakit akar gada. Pada 6 MST perlakuan dengan dosis 0.25, 0.5, 1.0,
dan 2.0 kg/m2 menunjukkan hasil yang bebeda nyata dengan kontrol (Tabel 3).
Tanaman caisin yang ditanam pada petak tanpa perlakuan limbah brokoli tidak

16
mampu menghasilkan akar fungsional yang berguna untuk menyerap air dan
unsur hara yang dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhan. Perlakuan dengan dosis
0.25, 0.5 dan 1.0 kg/m2 mampu menghasilkan akar fungsional yang tidak berbeda
nyata satu sama lain. Perlakuan dosis 2.0 kg/m2 menghasilkan volume akar
fungsional yang lebih kecil dan berbeda nyata dengan perlakuan 0.25, 0.5, 1
kg/m2, akan tetapi pada dosis 2 kg/m2 masih lebih baik dari kontrol dalam
menghasilkan akar fungsional pada tanaman caisin.

Tabel 3 Volume akar fungsional yang dihasilkan tanaman caisin dalam empat
tingkat dosis limbah brokoli dan kontrol di lapangan
Perlakuan Limbah
Brokoli (kg/m2)
2.0
1.0

2.67ab

0.5

4.33a

0.25

3.33ab

Kontrol
1)

Volume Akar
Fungsional (ml)
2.00b1)

0.00c

Angka selajur yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji Duncan
(Alpha = 0.05). MST= minggu setelah tanam.

Uji Efek Fumigan
Hasil pengujian menunjukkan bahwa perlakuan limbah brokoli meberikan
efek fumigan yang dapat menekan serangan P. brassicae. Diduga terjadi aliran
gas yang dihasilkan limbah brokoli pada masa inkubasi dari tanah yang diberi
perlakuan limbah brokoli ke tanah tanpa perlakuan. Gas yang dihasilkan limbah
brokoli inilah yang diduga dapat menekan keparahan penyakit akar gada pada
tanah tanpa perlakuan limbah brokoli. Jumlah puru pada perlakuan limbah brokoli
dengan dosis 0.5 kg/5 l secara nyata lebih kecil dibandingkan dengan kontrol,
dengan tingkat keefektifan 39.64 %. Sementara itu, pada dosis 0.25 kg/5 l dan
0.125 kg/5 l cenderung dapat menekan penyakit akar gada walaupun tidak
berbeda nyata dengan kontrol (Tabel 4).

17
Tabel 4 Pengaruh efek fumigan dari limbah brokoli dalam menekan jumlah puru
akibat penyakit akar gada
Kefektifan (%) 2)

Perlakuan Limbah
Brokoli (kg/5 l tanah)
0.5

Jumlah Puru
2.02b1)

39.64

0.25

2.83ab

15.48

0.125

2.55ab

24.04

Kontrol

3.35a

-

1)
2)

Angka selajur yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji Duncan
(Alpha = 0.05)
Keefektifan relatif terhadap kontrol

Kepadatan Mikroba Tanah
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa jumlah mikroba tanah pada
perlakuan limbah tanaman brokoli lebih banyak dibandingkan dengan kontrol.
Jumlah koloni bakteri dalam tanah perlakuan lebih banyak dibandingkan dengan
tanah kontrol sejak masa inkubasi 24-72 jam, sedangkan untuk cendawan
terdeteksi hanya pada masa inkubasi 72 jam (Tabel 5).
Pengaruh limbah brokoli yang digunakan diduga erat kaitannya dengan
jumlah mikroba yang dihasilkan pada saat proses dekomposisi. Aktifitas mikroba
tanah yang meningkat akibat perlakuan limbah brokoli dapat menekan
perkembangan penyakit akar gada.
Tabel 5 Pengaruh perlakuan limbah brokoli terhadap kepadatan mikroba tanah
Waktu
pengamatan
24 jam
K
48 jam

72 jam

Jumlah bakteri
(106 cfu/ml*)
3

Jumlah Cendawan
(104 cfu/ml*)
0

LB

5.33

0

K

5

0

LB

11.67

0

K

5

0

LB

11.67

3

Perlakuan 1)

Keterangan:
1)
K=kontrol, LB=limbah brokoli.
2)
*cfu = coloni forming unit

18
Pembahasan
Hasil penelitian ini mengungkap beberapa fakta tentang limbah brokoli
dalam menekan perkembangan penyakit akar gada. Satu di antaranya yaitu limbah
tanaman brokoli yang dibenamkan dalam tanah dan diinkubasi selama 2 minggu
tidak bersifat fitotoksik terhadap tanaman caisin. Limbah brokoli pada dosis 0.5
kg/5 l tanah tidak menimbulkan gangguan pertumbuhan tanaman caisin.
Limbah brokoli mampu menekan perkembangan penyakit akar gada pada
percobaan skala pot di laboratorium. Penekanan penyakit akar gada paling tinggi
terjadi pada dosis 0.125 kg/5 l tanah dengan presentase keefektifan mencapai
46.91 %. Pada pengujian skala pot keefektifan penekanan penyakit akar gada
menurun seiring dengan meningkatnya dosis limbah brokoli yang diaplikasikan.
Perlakuan limbah brokoli dengan dosis tinggi kurang efektif dalam menekan
perkembangan penyakit akar gada. Tanah yang diaplikasi dengan dosis limbah
brokoli yang terlalu tinggi diduga berpengaruh menurunkan aktifitas mikroba
tanah karena terjadi kompetisi. Hal ini akan mengakibatkan terjadinya kompetisi
antar mikroba tanah sehingga pada dosis tinggi kemampuan limbah brokoli dalam
menekan perkembangan penyakit menurun.
Hasil pengujian di lapangan mengungkapkan bahwa pemberian limbah
brokoli pada tanah terinfestasi P. brassicae dapat meningkatkan bobot tajuk
tanaman caisin. Limbah brokoli sebagai bahan organik yang diaplikasikan pada
tanah dapat memberi nutrisi tambahan bagi tanaman. Selain itu limbah brokoli
seperti halnya dengan limbah tanaman lainnya merupakan nutrisi yang sangat
penting bagi pertumbuhan berbagai jenis mikroba tanah, yang beberapa atau
banyak di antaranya merupakan musuh alamiah dari P. brassicae.

Dua

mekanisme ini tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya dalam pertumbuhan
tanaman. Limbah brokoli sebagai nutrisi tambahan bagi tanaman dan mikroba,
mikroba sebagai musuh alamiah atau penghasil senyawa yang berpengaruh
negatif terhadap patogen tanaman termasuk P. brassicae.
Penyakit akar gada menyebabkan bengkak pada akar yang dapat
mengganggu fungsi akar dalam penyerapan air dan unsur hara. Akibatnya
tanaman tidak mampu menghasilkan akar fungsional yang dibutuhkan untuk

19
pertumbuhannya. Pada pengujian di lapangan tanaman yang ditanam pada tanah
yang diberi limbah brokoli masih mampu menghasilkan akar fungsional
sedangkan tanaman yang ditanam pada tanah tanpa limbah brokoli tidak mampu
menghasilkan akar fungsional. Perlakuan tanah dengan limbah brokoli secara
nyata berpengaruh meningkatkan pertumbuhan akar fungsional tanaman caisin,
jika dibandingkan dengan kontrol.
Yulianti (2009) melaporkan bahwa tanaman famili kubis-kubisan dapat
dimanfaatkan sebagai alternatif pengendalian patogen tular tanah. Tanaman
Brassicaceae akan menghasilkan senyawa glukosinolat (GSL) ketika dibenamkan
dalam tanah. GSL merupakan salah satu jenis senyawa biofumigan yang
dihasilkan tanaman. Tanaman kubis-kubisan memiliki kandungan GSL yang
paling tinggi dibandingkan dengan tanaman lainnya (Rosa dan Rodriguez 1999).
Mekanisme yang terjadi pada saat tanaman Brassicaceae dibenamkan dalam tanah
adalah pelepasan senyawa GSL dari jaringan tanaman yang kemudian diikuti
dengan hidrolisis yang menghasilkan senyawa beracun. Hidrolisis GSL pada masa
inkubasi 5-10 hari akan menghasilkan isotiosianat (ITS) yang bersifat bakterisidal
dan fungisidal (Yulianti 2009). Diduga mekanisme ini yang ikut berperan dalam
penekan intensitas penyakit akar gada dalam penelitian ini.
Hasil uji pengaruh efek fumigan pada pot yang disekat menunjukkan bahwa
ada pengaruh penekanan intensitas penyakit akar gada melalui gas yang berdifusi
ke tanah yang tidak diberi limbah brokoli. Menurut Istiyanto (2009) biofumigasi
merupakan proses yang dapat menekan hama dan penyakit dalam tanah yang
dilepaskan oleh jenis-jenis tanaman Brassicaceae yang terdekomposisi dalam
tanah. Yulianti (2009) mengungkapkan bahwa untuk mencapai tahap bakterisidal
ataupun fungisidal, diperlukan konsentrasi ITS yang cukup tinggi. Dalam
penelitian ini konsentrasi biofumigans yang dihasilkan tidak diketahui (diukur).
Namun demikian, diyakini bahwa pada dosis 0.5 kg/5 l tanah menghasilkan
konsentrasi biofumigan yang lebih tinggi dibandingkan tingkat konsentrasi yang
lebih rendah (0.125 dan 0.25 kg/5 l tanah).

20
Pengaruh limbah brokoli dalam penelitian ini diduga erat kaitannya dengan
jumlah mikroba yang dihasilkan pada saat proses dekomposisi. Aktifitas mikroba
tanah yang meningkat akibat perlakuan limbah brokoli dapat menekan
perkembangan penyakit akar gada. Smolinska (2000) melaporkan bahwa populasi
bakteri dan cendawan dalam tanah meningkat setelah diberi sisa tanaman kubis
dan mampu menurunkan jumlah inokulum Sclerotium cepivorum dan Fusarium
oxysporum. Jumlah cendawan yang terdeteksi pada tanah yang diberi perlakuan
limbah brokoli hanya 3x104 cfu/ml. Jumlah ini relatif sedikit bila dibandingkan
dengan jumlah bakteri yang terdeteksi yaitu mencapai 11.6x106 cfu/ml.
Menjelaskan bagaimana mekanisme yang terjadi atas penekanan penyakit
akar gada hingga tanaman caisin dalam penelitian ini mampu menghasilkan bobot
tajuk yang lebih tinggi dibanding kontrol adalah suatu hal yang sulit, karena
banyak faktor yang diduga terlibat. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah
limbah brokoli sebagai sumber nutrisi tanaman, sebagai sumber nutrisi mikroba
tanah yang antagonis terhadap patogen akar gada, serta sebagai penghasil fumigan
yang mampu mengganggu perkembangan patogen dan penyakit akar gada.
Tingkat keefektifan pengendalian limbah brokoli terhadap penyakit akar
gada hasil penelitian ini tidak tergolong sangat efektif. Namun demikian, cara
pengendalian ini sangat penting sebagai salah satu elemen pengendalian untuk
menanggulangi penyakit akar gada, tentunya harus dikombinasikan dengan
elemen-elemen pengendalian yang lainnya dalam rangka pengelolaan kesehatan
tanaman.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Limbah tanaman brokoli dapat menekan perkembangan penyakit akar gada
pada tanaman caisin, baik pada percobaan pot maupun percobaan lapangan.
Mekanisme penekanan diduga berkaitan erat dengan berlimpahnya mikroba tanah
yang didominasi oleh bakteri. Selain itu, kontribusi fumigan yang dihasilkan
selama proses dekomposisi limbah tanaman brokoli juga mempunyai peran dalam
penekanan penyakit tersebut. Pemberian limbah brokoli dalam dosis optimal ke
dalam tanah dapat meningkatkan produktivitas tanaman caisin.

Saran
Perlu dilakukan pengujian lebih lanjut untuk mendapatkan dosis dan masa
inkubasi limbah brokoli yang optimal dalam menekan perkembangan penyakit
akar gada tanpa menimbulkan gangguan pada pertumbuhan tanaman caisin. Selain
itu perlu juga dilakukan inventarisasi dan uji keefektifan berbagai jenis mikroba
(bakteri dan cendawan) yang mungkin terlibat dalam penekanan terhadap penyakit
akar gada melalui mekanisme antagonistik.

DAFTAR PUSTAKA
Agrios GN. 2005. Plant Pathology. 5th ed. New York: Academic Press.
Anonim. 2010. Penyakit akar gada keluarga kubis. Departemen Pertanian.
www.indopetani.com [2 November 2011].
Charron CS and Sams CE. 2002. Impact of glucosinolate content in brocolli
(Brassica oleraceae) on growth of Pseudomonas marginalis a causal agent
of bacterial soft rot. Plant Dis. 86: 629-632.
Cicu. 2006. Penyakit akar gada (Plasmodiophora brassicae Wor.) pada kubiskubisan dan upaya pengendaliannya. Jurnal Litbang Pertanian. 25(1): 1621.
Djatnika I. 1993. Penyakit-penyakit tanaman kubis dan cara pengendalian. Dalam:
Permadi, A. H. & Sastrosiswojo (Penyunting). Kubis. Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian, Balai Penelitian Tanaman Hortikultura. Lembang.
Hal: 53-56.
Faggian R, Bulman SR, Lawrie AC, and Porter IJ. 1999. Specific polymerase
chain reaction primers for the detection of Plasmodiophora brassicae in soil
and water. Phytopathology 89: 392−397.
Hanudin dan Marwoto B. 20003. Pengendalian penyakit layu bakteri dan akar
gada pada tanaman tomat dan caisin menggunakan Pseudomonas
fluorescens. Jurnal Hortikultura. 13(1): 58−66.
Hapsari B. 2002. Sayuran Genjah Bergelimang Rupiah. Trubus 33(396) : 30-31.
Haryanto E, Suhartini T, dan Rahayu E. 2001. Sawi dan Selada. Penebar
Swadaya. Jakarta. 117 p.
Istiyanto E, Suparyo. 2009. Biofumigasi menekan layu bakteri kentang dan akar
gada kubis.
Lembaga Pengembangan Teknologi Perdesaan (LPTP)
Surakarta.
Kirkegaard J and Sarwar M. 1998. Biofumigation potential of brassicas. Plant Soil
201: 71-89.
Rosa EAS and Rodriguez PMF. 1999. Towards more sustainable agriculture
system: The effect of glucosinolates on the control of soilborne diseases. J.
Hort. Sci. Biotechnol 74: 667-674.
Smolinska U. 2000. Survival of Sclerotium cepivorum sclerotia and Fusarium
oxysporum chlamydospores in soil amended with cruciferous residues.
J.Phytopathol 148: 343-349.
Subbarao KV and Hubbard JC. 1999. Evaluation of broccoli residue
incorporation into field soil for Verticillium wilt control in cauliflower.
Plant Dis. 83: 124-129.
Widodo and Suheri. 1995. Suppression of clubroot disease of cabbage by soil
solarization. Buletin Hama Penyakit Tumbuhan 8(2): 49−55.

23
Yulianti T. 2009. Biofumigasi: Alternatif baru dalam mengendalikan penyakit
tanaman. Warta penelitian dan perkembangan pertanian 31: 4-5.
. 2009. Biofumigan untuk mengendalikan patogen tular tanah yang
ramah lingkungan. Pengembangan Inovasi Pertanian 2(3): 154-170.
, Supriadi. 2008. Biofumigasi untuk pengendalian patogen tular tanah
penyebab penyakit tanaman yang ramah lingkungan. Prespekftif 7: 20-34.

PEMANFAATAN LIMBAH TANAMAN BROKOLI UNTUK
PENGENDALIAN PENYAKIT AKAR GADA
(Plasmodiophora brassicae Wor.) PADA TANAMAN CAISIN

MEY FITRIYANI

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

ABSTRAK

MEY FITRIYANI. Pemanfaatan Limbah Tanaman Brokoli untuk Pengendalian
Penyakit Akar Gada (Plasmodiophora brassicae Wor.) pada Tanaman Caisin.
Dibimbing oleh ABDUL MUIN ADNAN.
Penelitian pemanfaatan limbah tanaman brokoli untuk pengendalian
penyakit akar gada yang disebabkan oleh Plasmodiophora brassicae pada
tanaman caisin telah dilakukan dalam percobaan pot di laboratorium Departemen
Proteksi Tanaman Faperta IPB kampus Dramaga dan percobaan plot mikro di
lahan Kebun Percobaan IPB Pasir Sarongge. Bahan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah tanah terinfestasi oleh P. brasicae dan cacahan limbah
tanaman brokoli berasal dari Kebun Percobaan IPB Pasir Sarongge Kecamatan
Pacet, Cianjur. Cacahan limbah brokoli dimasukkan ke dalam tanah, diaduk
merata, ditutup dengan lembaran plastik bening dan diinkubasikan selama 2
minggu. Untuk pengujian pot menggunakan cacahan limbah brokoli dengan
empat tingkat dosis termasuk kontrol, yaitu, 0.125, 0.25, 0.5, dan 0.0 kg (kontrol)
untuk setiap 5 liter tanah, sedangkan untuk pengujian lapangan menggunakan
kisaran dosis 0.25 kg, 0.5 kg, 1 kg, 2 kg dan 0 (kontrol) untuk tiap m2 lahan.
Hasil penelitian, baik dalam sekala pot maupun di lapangan menunjukkan bahwa
perlakuan limbah brokoli dapat menekan intensitas penyakit akar gada pada
tanaman caisin, dengan tingkat penekanan yang bervariasi menurut dosis. Pada
pengujian pot, intensitas penyakit pada tingkat dosis 0.125 kg/5 l tanah secara
nyata lebih rendah, sedangkan pada dosis yang lebih tinggi (0.5 dan 0.25 kg/5 l
tanah) cenderung lebih rendah dibandingkan dengan kontrol. Penekanan intensitas
penyakit diduga berkaitan erat dengan peran biofumigan yang terbentuk selama
proses dekomposisi limbah brokoli dan meningkatnya kepadatan mikroba pada
tanah yang diberi perlakuan limbah brokoli.
Kata kunci: Caisin, Akar gada, Limbah tanaman brokoli

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Caisin [Brassica campestris L. var. chinesis (Rupr.) Olson] dikenal oleh
petani dengan sebutan sawi hijau atau sawi bakso, dewasa ini banyak
diperdagangkan. Di antara sayuran daun, caisin merupakan komoditas yang
memiliki nilai komersial dan digemari masyarakat Indonesia. Selain enak ditumis
caisin juga banyak dibutuhkan oleh pedagang mie bakso, mie ayam, dan capcai
atau masakan cina lainnya, sehingga permintaan pasar akan caisin cukup tinggi.
Konsumen menggunakan daun caisin baik sebagai bahan pokok maupun sebagai
pelengkap masakan tradisional dan masakan cina. Selain sebagai bahan pangan,
caisin dipercaya dapat menghilangkan rasa gatal di tenggorokan pada penderita
batuk, sebagai penyembuh sakit kepala dan mampu bekerja sebagai pembersih
darah (Haryanto et al. 2001).
Daya tarik bagi petani dalam mengusahakan tanaman caisin karena mudah
dibudidayakan, umur panennya singkat (hanya satu bulan setelah bibit berumur 3
minggu ditanam) dan mudah dipasarkan. Daya tarik lainnya dari sayuran ini
adalah harganya relatif stabil (Hapsari 2002). Konsumsi caisin diduga akan
mengalami peningkatan sesuai pertumbuhan jumlah penduduk, meningkatnya
daya beli masyarakat, kemudahan tanaman ini diperoleh di pasar, dan peningkatan
pengetahuan gizi masyarakat.
Berbagai faktor penghambat sering menurunkan produktivitas tanaman
caisin. Satu di antaranya adalah penyakit yang dapat menimbulkan kerusakan
cukup serius yang biasa menyerang hampir semua tanaman tergolong famili
Brassicaceae adalah penyakit akar gada yang disebabkan oleh Plasmodiophora
brassicae Wor. Kehilangan hasil akibat penyakit akar gada pada tanaman caisin
sekitar 5,42−64,81% (Hanudin dan Marwoto 2003).
Gejala khas penyakit ini terjadi pada akar, yaitu akarnya membesar dan
menyatu, seperti gada sehingga disebut penyakit akar gada. Performa tanaman
yang terserang secara keseluruhan menjadi kerdil dan warna daunnya menjadi

2
abu-abu dan layu pada siang hari yang kemudian segar kembali pada malam hari
(Agrios 2005).
Di Indonesia akar gada merupakan penyakit utama khususnya di Jawa Barat
dan Jawa Tengah. Selain di kedua provinsi tersebut, penyakit ini telah menyerang
famili Brassicaceae di Sumatra Utara dan Sulawesi Selatan. Kerugian yang
disebabkan patogen tersebut berkisar antara 50-100% (Sulastri 2010). Pada lahan
yang telah terinfestasi, patogen penyebab penyakit ini mampu bertahan dalam
bentuk spora rehat (resting spore) dalam waktu kurang lebih 20 tahun, walaupun
tidak ditanami kubis-kubisan selama kurun waktu tersebut (Anonim 2010)
Mengingat besarnya kerugian dan kerusakan yang ditimbulkan oleh
penyakit ini, berbagai cara pengendalian telah dilakukan oleh petani, namun
sampai saat ini hasilnya dirasakan masih belum efektif. Karena patogen ini sulit
dikendalikan dan mampu bertahan dalam bentuk spora rehat selama bertahuntahun, menjadi alasan bagi petani di daerah endemik enggan untuk menanam
caisin atau fa

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Pemanfaatan Limbah Tanaman Brokoli untuk Pengendalian Penyakit Akar Gada (Plasmodiophora Brassicae Wor.) pada Tanaman Caisin