IMPLIKASI HAK RECALL PARTAI POLITIK TERHADAP SISTEM KEDAULATAN RAKYAT

(1)

IMPLIKASI HAKRECALLPARTAI POLITIK TERHADAP SISTEM KEDAULATAN RAKYAT

(Skripsi)

Oleh

MALICIA EVENDIA

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG 2013


(2)

ABSTRAK

IMPLIKASI HAKRECALLPARTAI POLITIK TERHADAP SISTEM KEDAULATAN RAKYAT

Oleh

MALICIA EVENDIA

Penulisan skripsi ini bertujuan untuk mengetahui apakah pengaturan hak recall

partai politik sejalan dengan prinsip kedaulatan rakyat. Jenis penelitian ini adalah normatif dengan menggunakan pendekatan undang-undang (statute approach), pendekatan kasus (case approach) dan pendekatan historis (historical approach). Pengumpulan data dilakukan dengan cara studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan hak recall partai politik sebagaimana diatur dalam Pasal 213 ayat (2) huruf e Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 Tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD serta Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik, tidak sejalan dengan prinsip kedaulatan rakyat, bahkan menggeser kedaulatan rakyat menjadi kedaulatan partai. Dengan berbagai peraturan perundang-undangan tersebut, memberikan kewenangan yang besar kepada partai politik untuk mengingkari atau menegasikan hasil pilihan rakyat selaku pemegang kedaulatan demi kepentingan partai politik. Adanya hak recall

partai politik akan menjadikan anggota dewan lebih loyal kepada partai politik dibandingkan dengan rakyat.


(3)

ABSTRACT

THE IMPLICATIONS RECALL RIGHT OF POLITICAL PARTIES AGAINST THE SYSTEM OF POPULAR SOVEREIGNTY

By

MALICIA EVENDIA

This research aims to find out if the recall rights arrangements of political parties in line with the principle of popular sovereignty. This type of research is normative, using statute approach, case approach and historical approach. The data was collected by means of literature study. The results showed that setting recall right political parties as provided for in Article 213 paragraph (2) letter e Law Number 27 Year 2009 about the MPR, DPR, DPD and DPRD, and Article 16 paragraph (1) of Law Number 2 year 2008 about Political Parties, as changed with Act number 2 year 2011 about the Amendment Act Number 2 year 2008 about Political Parties, the arrangements of the recall right a political party in legislation, not in line with the principle of popular sovereignty, even shift the sovereignty of the people become sovereign party. With a variety of laws and regulations, gives great authority to a political party for deny or negate the results of the people’s choice as the holder of sovereignty in the interests of political parties. The presence of rights recall potical parties will make a council member more loyal to political party compared with the people.


(4)

IMPLIKASI HAKRECALLPARTAI POLITIK TERHADAP SISTEM KEDAULATAN RAKYAT

Oleh

MALICIA EVENDIA

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Strata Satu

Pada

Bagian Hukum Tata Negara

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG 2013


(5)

Judul Skripsi : IMPLIKASI HAKRECALLPARTAI POLITIK TERHADAP SISTEM KEDAULATAN RAKYAT

Nama Mahasiswa : MALICIA EVENDIA

No. Pokok Mahasiswa : 0912011190

Bagian : Hukum Tata Negara

Fakultas : Hukum

MENYETUJUI

1. Komisi Pembimbing

Armen Yasir, S.H., M.Hum. Muhtadi, S.H., M.H.

NIP. 196206221987031005 NIP. 197701242008121002

2. Ketua Bagian Hukum Tata Negara

Yulia Neta, S.H., M.H.


(6)

MENGESAHKAN

1. Tim Penguji

Ketua :Armen Yasir, S.H., M.Hum. ...

Sekretaris/anggota :Muhtadi, S.H., M.H. ...

Penguji Utama :Yulia Neta, S.H., M.H. ...

2. Dekan Fakultas Hukum

Dr. Heryandi, S.H., M.S.

NIP. 196211091987031003


(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bandar Lampung pada Tanggal 30 September 1991. Anak Ke-empat buah cinta dari pasangan Ayahanda Firman Effendi dan Ibunda Herna Wati. Jenjang Pendidikan penulis dimulai pada TK Aisyiah II Pringombo pada tahun 1995, dan selesai tahun 1997. Setelah itu dilanjutkan pada Sekolah Dasar Negeri 10 Pringombo diselesaikan tahun 2003. Kemudian, penulis melanjutkan jenjang pendidikannya di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Pringsewu selesai tahun 2006. Setelah itu melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) diselesaikan di SMA Negeri 1 Pringsewu pada tahun 2009.

Penulis diterima dan terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung Tahun 2009 melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Pada tahun 2012, Penulis mengikuti program pengabdian kepada masyarakat yaitu Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Gistang Kecamatan Blambangan Umpu Kabupaten Way Kanan selama 40 hari. Selama menjadi mahasiswa penulis juga aktif dalam kegiatan kemahasiswaan, diantaranya sebagai sekretaris Biro Usaha Mandiri (2010-2011) dan sekretaris Departemen Media Seni Informasi dan Olahraga (2011-2012) Forum Silahturahim & Studi Islam Fakultas Hukum (FOSSI FH). Sebagai Staf ahli Departemen Kesejahteraan


(8)

Mahasiswa (2010-2011), Staf ahli Kementerian Urusan Pemberdayaan Wanita (2011-2012) dan Staf ahli Kementerian Hukum Advokasi & Perundang-undangan (2012-2013) BEM U KBM Unila. Sebagai Bendahara Himpunan Mahasiswa Hukum Tata Negara (HIMA HTN) Masa Bakti 2011-2013, serta sebagai Anggota muda Pusat Studi Bantuan Hukum Fakultas Hukum (PSBH FH).

Dalam masa studinya, penulis juga pernah mengikuti berbagai pelatihan baik yang diselenggarakan didalam kampus maupun yang diselengarakan diluar kampus antara lain, Latihan Kepemimpinan Manajemen Islam Tingkat Dasar (LKMI-TD) pada tahun 2010, Self Development Program (SDP) pada tahun 2010, Pendidikan dan Pelatihan Anti Korupsi pada tahun 2011, Kongres Kebudayaan Pemuda Indonesia tahun 2012, Pelatihan Simulasi Rapat DPR RI pada tahun 2011, Pelatihan Advokasi mahasiswa hukum peduli keadilan tahun 2011, Pelatihan

Indonesia Leadership Camp pada tahun 2011 dan tahun 2012 dan berbagai pelatihan lainnya yang tidak dapat diuraikan satu-persatu.

Penulis juga pernah menorehkan beberapa prestasi, diantaranya sebagai Juara 1 Olimpiade Ekonomi se-Kabupaten Tanggamus tahun 2008, Juara I Try Out bidang IPS se-Kabupaten Tanggamus tahun 2009, Juara III Lomba Karya Tulis Ilmiah HMJ Manajemen FE Unila tahun 2011, Juara III Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiwa Trophy Bergilir Gubernur Lampung pada tahun 2012, Juara III Lomba Karya Tulis Mahasiswa Tingkat Universitas Lampung Tahun 2012, peserta 5 (lima) besar proposal social entrepreneur di kegiatan Indonesia Leadership Camp 2011, peserta 10 (sepuluh) besar Lomba Proposal Bisnis BEM


(9)

U KBM Unila, penerima dana hibah wirausaha Dikti pada Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) pada tahun 2011, serta menjadi Tim research Lomba Debat Konstitusi perwakilan Universitas Lampung oleh Mahkamah Konstitusi RI.

Penulis pernah mendapatkan kesempatan beasiswa diantaranya Beasiswa Prestasi Juara III Umum di SMP pada tahun 2005, Beasiswa Prestasi Juara I Umum Bidang IPS (2008) dan Juara III Umum Bidang IPS (2009) di SMA, Beasiswa Bantuan Masuk Universitas (BMU) tahun 2009, Beasiswa Bantuan Mahasiswa (BBM) tahun 2010, Beasiswa Bank Tabungan Negara (BTN) tahun 2011, Beasiswa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tahun 2011-2013.


(10)

MOTTO

... Dan penuhilah janji, karena janji itu pasti diminta

pertanggungjawabannya.

(QS. Al-Isra: 34)

Hai Daud, sesungguhnya engkau Kami jadikan khalifah

(penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan

(perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah

kamu mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan

engkau dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang

sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat,

karena mereka melupakan hari perhitungan.

(QS. Shaad: 26)

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan)

pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu

sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi

mereka.

(QS. An-Nisaa: 145)

Munafik itu, bila berkata-kata, dia berdusta. Bila diberi

amanah, dia khianat. Dan bila berjanji, dia mungkiri.

(HR. Bukhari dan Muslim)

Apabila suatu urusan dipercayakan kepada seseorang

yang bukan ahlinya, maka tunggulah waktu kehancurannya


(11)

PERSEMBAHAN

Dengan segala kerendahan hati kupersembahkan karya

kecilku ini kepada inspirasi terbesarku :

Ibunda Herna Wati dan ayahnda Firman Effendi

Terimakasih untuk semua kasih sayang dan

pengorbanannya serta setiap doa nya yang selalu

mengiringi setiap langkahku menuju keberhasilan

Kakak dan adik kandungku Marina Evendi, Febrima

Herlando, Indah Satria, Rajo Husen dan Ratu Indah (alm),

serta kakak iparku David, dan keponakanku Aprodavin

Fersalion yang kusayangi dan kubanggakan

Almamater Universitas Lampung

Tempat aku menimba Ilmu dan mendapatkan pengalaman

berharga yang menjadi sebagian jejak langkahku meraih


(12)

SANWACANA

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatu

Alhamdulillahirabbil ’alamin, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan sekalian alam yang maha kuasa atas bumi, langit dan seluruh isinya, serta hakim yang maha adil di hari akhir nanti, sebab hanya dengan kehendaknya maka penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam tak lupa semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa Rahmatan Lil’Aalaamiin, serta kepada dua malaikat yang setiap saat mencatat segala tingkah laku penulis, dengan sangat jujur dan tanpa lelah, Raqib

danAtid.

Perwujudan kedaulatan rakyat dilaksanakan melalui Pemilu secara langsung sebagai sarana bagi rakyat untuk memilih wakilnya. Anggota DPR dan DPRD selain dipilih, dapat juga diberhentikan dari jabatannya. Namun, ada yang menarik dari pengaturan mengenai pemberhentian wakil rakyat tersebut, yaitu adanya kewenangan yang besar kepada partai politik untuk dapat memberhentikan wakil rakyat melalui mekanisme recall, sehingga menurut penulis hal ini telah menimbulkan pergeseran kedaulatan rakyat menjadi kedaulatan partai politik. Ruang inilah yang berusaha dicari dan ditemukan solusinya. Akan tetapi, penulis menyadari masih terdapat kekurangan baik dari segi substansi maupun


(13)

penulisannya. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan skripsi ini.

Penulis menyadari ini bukanlah hasil jerih payah sendiri akan tetapi berkat bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak baik moril maupun materiil sehingga penulisan skripsi ini dapat selesai. Oleh karena itu, di dalam kesempatan ini penulis menyampaikan rasa hormat dan ucapan rasa terima kasih yang tulus kepada :

Bapak Armen Yasir, S.H., M.Hum. selaku Pembimbing I (satu) yang telah banyak mengarahkan dalam perbaikan skripsi ini agar menjadi lebih baik. Bukan hanya di bidang akademik, melalui kebiasaan dan pemikirannya juga telah mengajarkan nilai-nilai moral kehidupan. Terima kasih atas segala bimbingan, waktu yang diluangkan dan pelajaran hidupnya sehingga menjadi inspirasi dan pedoman bagi penulis;

Bapak Muhtadi, S.H., M.H. selaku Sekretaris Bagian Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Lampung sekaligus Pembimbing II (dua) yang telah meluangkan waktu di tengah kesibukannya untuk memberikan coretan-coretan yang sangat membantu dalam perbaikan skripsi penulis, dan petuahnya yang tidak terlupakan yaitu agar selalu memperbanyak membaca buku. Terima kasih atas ilmu dan nasehat yang diberikan selama masa kuliah, sehingga membuat penulis jatuh cinta terhadap ilmu Hukum Tata Negara;


(14)

Bapak Dr. Heryandi, S.H., M.S. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Lampung, serta Bapak Tri Andrisman, S.H., M.H. yang sudah menjadi Pembimbing Akademik penulis;

Ibu Yulia Neta, S.H., M.H. selaku Pembantu Dekan II (dua) dan Ketua Bagian Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Lampung sekaligus Pembahas I (satu) atas kesediaannya dan kesabarannya untuk membantu, mengarahkan, dan memberi masukan agar terselesaikannya skripsi ini. Bapak Yusdiyanto, S.H., M.H. selaku pembahas II (dua) yang telah memberikan masukan dan kritik dalam penulisan skripsi ini, serta nasehatnya kepada penulis agar selalu bisa mengatur waktu dengan baik;

Bapak Rudy, S.H., LL.M., LL.D. yang telah meminjamkan banyak buku kepada penulis untuk penulisan skripsi ini, serta atas kesempatan yang diberikan sehingga penulis bisa mengimplementasikan ilmu penulis, “makasih banyak ya Pak Rudy, nasehat-nasehatnya selama ini sangat berguna.”

Bapak Prof. Dr. Sunarto DM, S.H., M.H. selaku Pembantu Rektor III (tiga) Universitas Lampung yang telah banyak membantu penulis dalam menjalani proses mencapai kesuksesan, serta atas kesempatannya menambah pengalaman penulis sehingga bisa membantu kegiatan kemahasiswaan di rektorat selama kurang lebih 5 (lima) semester;

Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Hukum, khususnya bagian Hukum Tata Negara Ibu Martha Riananda, S.H., M.H., Bapak M. Iwan Satriawan, S.H.,M.H., Bapak Ahmad Saleh, S.H., M.H., Bapak Zulkarnain Ridlwan, S.H., M.H., Bapak


(15)

Dr. Budiyono, S.H., M.H. terima kasih telah membantu mengajarkan begitu banyak ilmu dan wawasan baru kepada Penulis; Bapak Prof. Dr. I Gede Arya Bagus Wiranata, S.H., M.H. yang telah memberikan kesempatan kepada penulis mempublikasikan jurnal penulis ke dalam sebuah buku, sekaligus nasehatnya yang menjadi inspirasi penulis agar selalu terus menulis;

Pak Marji, Pak Pendi dan Pak Jarwo yang telah menjadi teman ngobrol ketika menunggu dosen dan membantu penulis menyelesaikan urusan administrasi;

Pak Muhidin, Pak Bambang, Pak Rino Arnold, Pak Destian, Pak Hartono, Pak Madi, Pak Qadar, Pak Doni, Pak Waldi, Pak Acong, Bu Taryati, Bu Eni, Bu Retno, Bu Ane, atas pengalaman hidup, canda dan motivasinya selama ini;

Teman-teman, adik-adik serta kakak-kakak Forum Silaturahim dan Studi Islam (FOSSI) FH Unila, yang telah menjadi keluarga kecil penulis selama kuliah, bisa menjadi bagian dari kalian sungguh pengalaman yang benar-benar berharga;

Cecunguk yang tersayang sekaligus sahabat tarbiyah, Winda Yunika, Cicha Deswari, Adenty Novalia, Uci Nawa Insani, Yenni Kustanti, terimakasih untuk kebersamaannya melewati sukaduka selama hampir 4 tahun ini, menjadi pundak-pundak yang begitu nyaman untuk disandarkan ketika beban dirasa tak tertahankan. Syukur kepada Allah SWT telah dipertemukan dengan kalian sejak beberapa tahun terakhir. Semoga kita semua bisa dipertemukan ditempat terbaik nantinya, entah itu di dunia ataupun diakhirat, you are my best friends;

Keluarga “Kesma Rangers” Kak Juandi, Kak Umam, Kak Yogi, Kak Kis, Kak Janwar, mba Mahfudziah, mba Melvin, mba Vicky, mba Anggun, Listi,


(16)

Chusna, Hanif, Desty, Nurul, Davina, Bella, terima kasih atas kebersamannya yang indah;

Keluarga HTN angkatan 2009, Sofyan Jailani, Muhammad Amin Putra, Riki Indra, Muhammad Yudho S, Zulqadri Anand, Mushab Rabbani, Nico Noviansyah, Reisa Malida, dan Dinarti Andarini, terima kasih telah menghabiskan sebagian waktu bersama, besar harapan silahturahim ini tak berujung, I am proud of you guys;

Kakak-kakak HTN, Muchtar Hadi Kusuma, S.H, Eko Primananda, S.H., Ahadi Fajrin Prasetya, S.H., Berry Pratama S, S.H., Ahmad Fauzi Furqon, S.H., Anggraini, S.H., Melvin Indriani, S.H., Yessi Siregar, S.H., serta adik-adik HTN, Retiana, Andi, Indah, Shinta, Echo, Yessi, terima kasih untuk semangat dan dukungan yang datang dengan cara kalian masing-masing. Semoga Allah menghadirkan banyak orang yang berarti dan bersedia membantu kalian seperti arti kalian bagi Penulis.

Untuk Ratih Mustika Rini, yang telah bersedia memberikan semangat, motivasi dan menjadi tempat curhat selama hampir 4 tahun, dimulai SMA ketika kita dipertemukan saat test IPDN, hingga sekarang saat kita sama-sama mengukir mimpi masing-masing,thanks dear;

Sahabat-sahabat terbaik Nurul Aliyah dan Isma Wati, untuk dukungan langsung dan tidak langsung yang kalian berikan. Ismail Saleh Marsuki, untuk pengalaman warna-warni sejak bersama-sama ikut Indonesia Leadership Camp


(17)

Resky Pradhana Romli, yang memiliki standar tinggi dalam meraih cita-cita.

Good luckuntuk setiap dari kita!

Dimas Prapanca, sebagai perantara Allah SWT yang telah banyak memberikan inspirasi kepada penulis untuk menjadi pribadi yang lebih baik, senang bisa mengenal kamu; Mba Tri Agus Fajar Dini, dan mba Alifah Zahroh, yang telah mengingatkan untuk selalu istiqomah, “Aku mencintai kalian karena Allah SWT”;

Rekan-Rekan KKN Desa Gistang Kab. Way Kanan, Roni, Danny, Selda, Ridho, Giri, mba Sari, Christine, Rizki, Panji, terima kasih atas doanya, pengalaman tak terlupakan selama 40 hari bersama kalian akan selalu ada, I am gonna miss you guys; Teman-teman Violet Class di Lembaga Bahasa Inggris Bandar Lampung, terima kasih atas tawa dan keceriaannya;

Kedua orang tua yang telah menjadi inspirasi terbesar penulis, Herna Wati (amak) dan Firman Effendi (abak), yang telah menjadi orangtua terhebat di dunia, meski tidak paham apa itu skripsi dan bagaimana proses pengerjaannya. “Terima kasih banyak ya amak dan abak, atas segala dukungannya selama ini. Maaf masih menjadi beban kalian, tapi percayalah selalu ada bagian diri ini yang tidak pernah berhenti berjuang untuk membahagiakan kalian. Abak sama amak memang lulusan SMA, tapi ajaran dan semangat yang kalian berikan telah mengantar Icha hingga sejauh ini, hingga membuat tulisan ini, hingga mencapai gelar Sarjana Hukum lulusan FH Unila. Gelar ini untuk kalian. Semoga abak dan amak selalu sehat sehingga kebanggaan untuk menjadi alasan di balik senyuman kalian akan terus ada.Amin.”


(18)

Uni Vina dan Kak David, atas segala support dan tempat tinggal yang begitu nyaman selama hampir 2 tahun terakhir, semoga Allah menggantikan segala kebaikan dengan syurga-Nya yang maha luas. Untuk Uda Ima, yang selalu mengirim uang setiap bulan sehingga bisa memenuhi kebutuhan penulis selama kuliah, dan yang selalu mengingatkan penulis bahwa ada beberapa orang yang selalu menunggu untuk dibuat bangga, terima kasih kakak terhebat. Indah Satria, kakak sekaligus sahabat yang bersedia mendengarkan curhat. Terimakasih untuk doa dan semangatnya. Adik tersayang, Rajo Husen dan Ratu Indah (alm), terima kasih telah menjadi inspirasi penulis untuk selalu berusaha menjadi kakak yang baik. Serta keponakan terkasih, Aprodavin Fersalion, atas candanya sehingga menjadi teman penghibur dikala penulis merasa penat. Besar harapan, bisa menjadi salah satu alasan kebahagiaan kalian.

Serta semua pihak yang terlibat yang tidak dapat disebutkan satu persatu, penulis mengucapkan terima kasih atas doa dan dukungannya dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga Allah SWT mencatat dan mengganti semuanya sebagai amal sholeh. Sangat penulis sadari bahwa berakhirnya masa studi ini adalah awal dari perjuangan panjang untuk menjalani kehidupan yang sesungguhnya. Sedikit harapan semoga karya kecil ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua.Amin

Bandar Lampung, Januari 2013 Penulis,


(19)

DAFTAR ISI

Halaman

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 9

C. Ruang Lingkup Penelitian ... 9

D. Tujuan Penelitian... 9

E. Kegunaan Penelitian ... 10

II. TINJAUAN PUSTAKA A.HakRecall... 11

B. Kedaulatan Rakyat... 15

C. Sistem Pemilu Indonesia ... 21

D. Partai Politik... 27

III. METODE PENELITIAN A.Jenis dan Tipe Penelitian... 39

B.Metode Pendekatan ... 39

C.Data dan Sumber Data... 40

D. Metode Pengumpulan Data ... 43


(20)

F. Analisis Data ... 44 E. Sistematika Penulisan ... 44

IV. PEMBAHASAN

A. Pengaturan dan Implementasi HakRecallPartai Politik ... 46 B. Pemilu sebagai Instrumen Kedaulatan rakyat ... 59 C. Pergeseran Kedaulatan Rakyat... 74

V. PENUTUP

A. Simpulan... 86 B. Saran... 87


(21)

DAFTAR TABEL

Halaman 1. Sistem Pemilu Sejak Tahun 19552004... 26 2. Pelaksanaan HakRecalldan Keterikatan dengan Pemilu... 70


(22)

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku-buku :

Asshiddiqie, Jimly, Format Kelembagaan Negara dan Pergeseran Kekuasaan dalam UUD 1945,(Yogyakarta: FH UII Press, 2005).

---, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara Indonesia, (Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah konstitusi, 2006).

---,Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi, (Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer, 2008).

---,Perihal Undang-Undang, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010). ---, Konstitusi dan Konstitusionalisme, (Jakarta: Konstitusi Press,

2005).

---, Kemerdekaan Berserikat Pembubaran Partai Politik dan Mahkamah Konstitusi, (Jakarta: Konstitusi Press, 2006).

Budiardjo, Miriam, Dasar-Dasar Ilmu Politik, (Jakarta : PT Gramedia Pustaka, 2007).

Collin, P.H.,Dictionary Of Law: Third Edition, (London: Peter Collin Publishing, 2000)

Crowther, Jonathan (editor), Advanced Learner’s Dictionary (Oxford University Press, 1995).

Curzon, L.B., Dictionary Of Law: Fifth Edition, (Great Britain: Pitman Publishing, 1998)

Fahmi, Khairul, Pemilihan Umum dan Kedaulatan Rakyat, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2011)

Garner, Bryan A., Black’s Law Dictionary: Seventh Edition, (United Staties of America: West Group ST. Paul Minn, 2000)


(23)

Hadiatmodjo, Soewarno, Teori-Teori Politik Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangannya, (Jakarta: Bina cipta, 1981).

Hakim, Abdul Aziz, Negara Hukum dan Demokrasi di Indonesia, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011).

Hamid, Zulkifly, Pengantar Ilmu Politik, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2000).

Harmaily Ibrahim, dan Kusnardi, Pengantar Hukum Tata Negara Indonesia, (Jakarta: PSHTN FHUI, 1983).

HR, Ridwan, Hukum Administrasi Negara, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002).

Kansil, C.S.T. dan Christine S.T. Kansil, Hukum Tata Negara di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009).

Kansil, C.S.T., Hukum Tata Pemerintahan Indonesia, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1985).

Lailam, Tanto,Pengantar Ilmu Hukum Administrasi Negara, (Yogyakarta: Media Prudent, 2012).

Lipset, Seymour Martin, Pengantar untuk edisi bahasa Inggris, dalam Robert Michels, Partai Politik Kecenderungan Oligharki dalam Birokrasi, (Jakarata: Rajawali, 1984).

Mahendra, Yusril Ihza, Dinamika Tatanegara Indonesia: Kompilasi Aktual Masalah Konstitusi, DPR dan Sistem Kepartaian, (Jakarta: Gema Insani Press, 1996).

Martin, Elizabeth A., Oxford Dictionary of Law: Third Edition, (New York: Oxford University Press, 2000)

Marzuki, Peter Mahmud,Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana, 2010).

MD, Moh. Mahfud, Perdebatan Hukum Tata Negara (pasca amandemen konstitusi),(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010).

Muhammad, Abdulkadir, Hukum dan Penelitian Hukum, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2004).

Mukthie Fadjar , Abdul, Partai Politik dalam Perkembangan Ketatanegaraan Indonesia, (Malang: Setara Press, 2012)


(24)

Neta, Yulia, Ilmu Negara, (Bandar Lampung: Lembaga Penelitian Universitas Lampung, 2009).

Salang, Sebastian, et all, Menghindari Jeratan Hukum Bagi Anggota Dewan, (Jakarta: PT Penebar Swadaya, 2009).

Sanit, Arbi,Perwakilan Politik di Indonesia, (Jakarta: CV. Rajawali, 1985). Soekanto, Soejono, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: Penerbit Universitas

Indonesia, 2007).

Sugeng, Bob dan Christoph Schuck, Demokrasi di Indonesia Teori dan Praktik, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010).

Surbakti, Ramlan,Memahami Ilmu Politik, (Jakarta: PT Grasindo, 2000).

Thaib, Dahlan, Kedaulatan Rakyat Negara Hukum dan Konstitusi, (Jogjakarta: Liberty, 2000).

Tim Penyusun Kamus Pusat, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002).

Tricahyo, Ibnu, Reformasi Pemilu Menuju Pemisahan Pemilu Nasional dan Lokal, (Malang: In-Trans Publishing, 2009).

Wahjono, Padmo,Ilmu Negara, (Jakarta: Indo Hill Co, 1961).

B.PeraturanPerundang-undangan

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1966 tentang Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara dan Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong Menjelang Pemilihan Umum (LNRI Tahun 1966 Nomor 38, TLNRI 2813).

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1975 tentang Partai Politik dan Golongan Karya (LNRI Tahun 1975 Nomor 32, TLNRI Nomor 3062).

Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1969 tentang Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (LNRI Tahun 1969 Nomor 59, TLNRI Nomor 2915).


(25)

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik (LNRI Tahun 1999 Nomor 22, TLNRI Nomor 3809).

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1999 tentang Pemilihan Umum (LNRI Tahun 1999 Nomor 23, TLNRI Nomor 3810).

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1999 tentang Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (LNRI Tahun 1999 Nomor 24, TLNRI 3811). Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik (LNRI Tahun 2002

Nomor 138, TLNRI Nomor 4251).

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (LNRI Tahun 2003 Nomor 37, TLNRI Nomor 4277).

Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (LNRI Tahun 2003 Nomor 92, TLNRI Nomor 4310)

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (LNRI Tahun 2008 Nomor 51, TLNRI Nomor 4936).

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik (LNRI Tahun 2008 Nomor 2, TLNRI Nomor 4801), sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik (LNRI Tahun 2011 Nomor 8, TLNRI Nomor 5189).

Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. (LNRI Tahun 2009 Nomor 123, TLNRI Nomor 5043).

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. (LNRI Tahun 2012 Nomor 117, TLNRI Nomor 5316). Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia No. 008/PUU-IV/2006 Perihal

Pengujian UU No. 22 Tahun 2003 Tentang Susunan Dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD Serta UU No. 31 Tahun 2002 Tentang Partai Politik Terhadap UUD 1945.


(26)

Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia No.22-24/PUU-VI/2008 Perihal Pengujian UU No.10 Tahun 2008 Tentang Pemilihan Umum Terhadap UUD 1945.

Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia No.38/PUU-VIII/2010 Perihal Pengujian UU No.27 Tahun 2009 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

C. Jurnal

Neta, Yulia, Fungsi Partai Politik dalam Pemilihan Umum yang Demokratis,

(Jakarta: Pusat Kajian Konstitusi dan Peraturan Perundangundangan Fakultas Hukum Universitas Lampung, 2011).

Assiddiqie, Jimly, Partai Politik dan Pemilihan Umum sebagai Instrumen Demokrasi, dalam jurnal konstitusi Volume 3 Nomor 4 Desember 2006, (Jakarta: Mahkamah Konstitusi RI, 2006).

Shubhan, M. Hadi,Recall: Antara Hak Partai Politik dan Hak Berpolitik Anggota Parpol, dalam jurnal konstitusi Volume 3 Nomor 4 Desember 2006, (Jakarta: Mahkamah Konstitusi RI, 2006).

Salang, Sebastian, Parlemen: Antara Kepentingan Politik vs Aspirasi Rakyat, dalam jurnal konstitusi Volume 3 Nomor 4 Desember 2006, (Jakarta: Mahkamah Konstitusi RI, 2006).

D. Internet

http://appehutauruk.blogspot.com/2010/05/politik-dalam-teori.html diakses tanggal 6 mei 2012 pada pukul 0.20.

http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php diakses pada tanggal 2 juni pukul 17.30.

http://kamusbahasaindonesia.org/politik/mirip diakses pada tanggal 2 Juni 2012 pukul 10.31.

http://www.artikata.com/arti-330543-implikasi.html diakses pada tanggal 2 juni 2012 pukul 17.00.


(27)

http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia diakses pada tanggal 3 Januari 2013 pukul 20.50.

http://www.ipu.org/hr-e/162/ids10.htm diakses pada tanggal 2 Januari 2013 pukul 15.30.

http://id.wikipedia.org/wiki/Bacharuddin_Jusuf_Habibie diakses pada tanggal 1 Januari 2013 pukul 13.30.

http://www.rakyatmerdeka.co.id/news/2006/11/28/23278/Djoko-Edhi-Beberkan-diakses pada tanggal 15 Desember 2012 pukul 13.08.

http://www.abdulghoffar.com/2012/01/sesat-recall-partai.html diakses pada tanggal 27 November 2012 pukul 09.07.


(28)

I.PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia adalah negara yang menganut paham demokrasi. Dalam paham ini, rakyat memiliki kedudukan yang sangat penting, sebab kedaulatan berada di tangan rakyat. Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD Tahun 1945) menyatakan bahwa “Kedaulatan berada ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar”.

Kusnardi dan Harmaily Ibrahim mengemukakan, rakyatlah yang dianggap sebagai pemilik dan pemegang kekuasaan tertinggi dalam suatu negara.1 Sebagai pemilik dan pemegang kekuasaan, rakyat menentukan corak dan cara pemerintahan diselenggarakan, serta menentukan tujuan yang hendak dicapai negara.2 Dalam UUD Tahun 1945, kedaulatan rakyat dilaksanakan melalui sistem perwakilan (representation).3 Jimly Asshidiqie menyatakan bahwa kedaulatan rakyat dengan sistem perwakilan atau demokrasi biasa juga disebut sistem demokrasi perwakilan (representative democracy) atau demokrasi tidak langsung (indirect democracy).4

Dalam praktek ketatanegaraan pengisian lembaga perwakilan dilaksanakan melalui Pemilihan umum (Pemilu). Dengan demikian, Pemilu adalah salah satu instrumen mewujudkan kedaulatan

1

Kusnardi dan Harmaily Ibrahim,Pengantar Hukum Tata Negara Indonesia, (Jakarta: PSHTN FHUI, 1983), hlm. 328.

2

Jimly Asshidiqie,Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara Indonesia, (Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah konstitusi, 2006), hlm. 168.

3

Lihat Pasal 1 ayat (2) UUD Tahun 1945

4


(29)

rakyat yang bermaksud membentuk pemerintahan yang sah serta sarana mengartikulasi aspirasi dan kepentingan rakyat.5 Oleh karena itu dalam perkembangan negara modern, Pemilu menjadi tonggak demokrasi. Sedangkan esensi demokrasi secara universal adalah pemerintahan yang dipilih langsung atau tidak langsung melalui wakil-wakil rakyat yang duduk di dalam lembaga perwakilan, yang lebih lazim disebut parlemen. Alfred de Grazia dalam tulisannya mengenai Teori Perwakilan Politik mengemukakan bahwa perwakilan diartikan sebagai hubungan diantara dua pihak, yaitu wakil dengan terwakil dimana wakil memegang kewenangan untuk melakukan berbagai tindakan yang berkenaan dengan kesepakatan yang dibuatnya dengan terwakil.6

Perwujudan kedaulatan rakyat dilaksanakan melalui Pemilu secara langsung sebagai sarana bagi rakyat untuk memilih wakilnya. Dalam Pasal 22E UUD Tahun 1945 disebutkan bahwa Pemilihan umum diselenggarakan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Presiden dan wakil presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Selain itu dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah7 (UU Pemilu), menyatakan bahwa Pemilihan umum diselenggarakan untuk memilih anggota DPR, DPD, DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota. Pemilu untuk memilih anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota dilaksanakan dengan sistem proporsional terbuka.8 Melalui sistem proporsional terbuka rakyat tidak lagi hanya memilih tanda gambar partai namun langsung tertuju terhadap calon yang akan dipilih untuk duduk di parlemen. Dalam sistem

5

Ibnu Tricahyo, Reformasi Pemilu Menuju Pemisahan Pemilu Nasional dan Lokal, (Malang: In-Trans Publishing, 2009), hlm. 6.

6

Alfred de Grazia dalam Arbi Sanit,Perwakilan Politik di Indonesia, (Jakarta: CV. Rajawali, 1985), hlm. 1.

7

Lembaran Negara Republik Indonesia (LNRI) Tahun 2012 Nomor 117, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia (TLNRI) Nomor 5316.

8


(30)

proporsional terbuka, siapa yang meraih suara paling banyak dialah yang terpilih tanpa mempersoalkan nomor urut.

Proses rekrutmen keanggotaan lembaga perwakilan rakyat (DPR/DPRD) berbasis partai politik, sehingga tidak ada satupun anggota dewan yang tidak terikat pada suatu partai politik. Sebagaimana tercermin Pasal 67 dan Pasal 341 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah9 (UU MD3), menyatakan bahwa “DPR terdiri atas anggota partai politik peserta pemilihan umum yang dipilih melalui pemilihan umum” dan “DPRD kabupaten/kota terdiri atas anggota partai politik peserta pemilihan umum yang dipilih melalui pemilihan umum.” Selain itu dalam Pasal 22E ayat (3) UUD Tahun 1945 disebutkan bahwa “peserta pemilihan umum untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah partai politik.” Serta pada Pasal 7 UU Pemilu bahwa “Peserta Pemilu untuk memilih anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota adalah partai politik.”

Menurut UUD Tahun 1945, badan-badan perwakilan rakyat yang ada di Indonesia adalah : 1.) MPR, yang terdiri atas anggota DPR dan anggota DPD yang dipilih melalui pemilu. 2.) DPR, terdiri atas anggota partai politik peserta pemilu yang dipilih berdasarkan hasil

pemilihan umum, yang berkedudukan sebagai lembaga negara.

3.) DPRD, terdiri atas anggota partai politik peserta pemilu yang dipilih melalui pemilihan umum, yang berkedudukan sejajar dan menjadi mitra dari pemerintah daerah.10

9

LNRI Tahun 2009 Nomor 123, TLNRI Nomor 5043.

10

C.S.T. Kansil dan Christine S.T. Kansil, Hukum Tata Negara di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hlm. 172


(31)

Anggota DPR dan DPRD selain dipilih, dapat juga diberhentikan dari jabatannya. Ketentuan mengenai alasan pemberhentian antar waktu anggota lembaga perwakilan rakyat tersebut telah diatur dalam Pasal 213 ayat (1) dan (2) serta Pasal 383 ayat (1) dan (2) UU MD3. Pasal 213 ayat (1) menyatakan bahwa anggota DPR berhenti antarwaktu karena:

a. meninggal dunia;

b. mengundurkan diri; atau c. diberhentikan.

Pasal 213 ayat (2) UU MD3 menjelaskan lebih lanjut bahwa anggota DPR diberhentikan antarwaktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, apabila:

a. tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap sebagai anggota DPR selama 3 (tiga) bulan berturut-turut tanpa keterangan apa pun;

b. melanggar sumpah/janji jabatan dan kode etik DPR;

c. dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana dengan ancaman hukuman 5 (lima) tahun penjara atau lebih;

d. tidak menghadiri rapat paripurna dan/atau rapat alat kelengkapan DPR yang menjadi tugas dan kewajibannya sebanyak 6 (enam) kali berturut-turut tanpa alasan yang sah; e. diusulkan oleh partai politiknya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; f. tidak lagi memenuhi syarat sebagai calon anggota DPR sesuai dengan ketentuan

peraturan perundang-undangan mengenai pemilihan umum;

g. melanggar ketentuan larangan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini;

h. diberhentikan sebagai anggota partai politik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; atau

i. menjadi anggota partai politik lain.

Ketentuan mengenai pemberhentian antar waktu anggota DPR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 213 ayat (1) dan (2) berlaku secara mutatis mutandisterhadap pemberhentian antar waktu anggota DPRD.


(32)

Terdapat hal yang menarik dalam ketentuan pemberhentian antar waktu anggota DPR dan DPRD tersebut, yaitu terkait alasan diberhentikannya anggota DPR dan/atau DPRD dari jabatannya apabila diusulkan oleh partai politiknya dan diberhentikan sebagai anggota partai politik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.11 Lebih jelas pada Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik12 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Poltik13 (UU Partai Politik), disebutkan bahwa Anggota Partai Politik diberhentikan keanggotaannya dari Partai Politik apabila:

a. meninggal dunia;

b. mengundurkan diri secara tertulis; c. menjadi anggota Partai Politik lain; atau d. melanggar AD dan ART.

Pengaturan pemberhentian anggota partai politik yang telah diatur dalam undang-undang tersebut, secara tidak langsung memiliki pengaruh terhadap keberadaan anggotanya yang ada di parlemen. Pasal 16 ayat (3) UU Partai Politik, lebih lanjut menerangkan bahwa “Dalam hal anggota Partai Politik yang diberhentikan adalah anggota lembaga perwakilan rakyat, pemberhentian dari keanggotaan Partai Politik diikuti dengan pemberhentian dari keanggotaan di lembaga perwakilan rakyat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.”

Harun Al Rasyid mengemukakan bahwa Pemberhentian Antar Waktu atau yang biasa disebut

Recall adalah hak suatu partai politik untuk menarik kembali anggota parlemen yang terpilih

11

Lihat Pasal 383 ayat (2) huruf e UU MD3.

12

LNRI Tahun 2008 Nomor 2, TLNRI Nomor 4801.

13


(33)

melalui daftar calon yang diajukannya.14 Dalam hal ini makna dari kedaulatan rakyat menjadi semu karena seolah-olah ada Coup dari pimpinan partai yang merebut hak rakyat untuk melakukan recall menjadi hak partai. Senada dengan pendapat Harun Al Rasyid, jauh hari sebelum Indonesia memasuki era reformasi, Muhammad Hatta menyatakan bahwa hak recall

partai politik yang tidak dapat diganggu gugat itu hanya dikenal di negara-negara komunis, dengan pandangan bahwa partai adalah segala-galanya dan seolah-olah sebagai pihak yang berdaulat.15 Fungsi partai politik dalam pemilu adalah wahana rekruitmen politik yang menyeleksi calon-calon politikus untuk kemudian ”ditawarkan” kepada rakyat untuk dipilih. Setelah rakyat memilih orang tersebut sebagai wakil mereka di parlemen, maka partai politik tidak sepatutnya bertindak sewenang-wenang me-recallwakil rakyat tersebut.

Sejarah mencatat bahwa pada masa Orde Baru Pergantian Antar Waktu atau yang biasa disebut

recall menjadi alat efektif untuk menyingkirkan anggota dewan yang berseberangan dengan kepentingan penguasa. Dewasa ini recall menjadi alat efektif untuk menyingkirkan anggota dewan yang berseberangan dengan kepentingan pengurus partai politik, akibatnya eksistensi anggota dewan sangat tergantung oleh selera pengurus partai politik, sehingga menggeser orientasi anggota dewan menjadi penyalur kepentingan pengurus partai politik, padahal keberadaan anggota dewan karena dipilih oleh rakyat dalam suatu pemilihan umum yang bersifat langsung, bebas, jujur dan adil.

14

Risalah Sidang Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Perkara No. 008/PUUIV/2006 tentang Pengujian Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2003 Tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD Serta Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 Tentang Partai Politik Terhadap UUD 1945.

15

Yusril Ihza Mahendra,Dinamika Tatanegara Indonesia: Kompilasi Aktual Masalah Konstitusi, DPR dan Sistem Kepartaian, (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), hlm. 171.


(34)

Harun Al Rasyid mengutip pendapat Manual Luis Quezon, mantan Presiden Filipina yang mangatakan, tatkala seseorang dipilih menjadi anggota parlemen, maka dia mengatakan “my loyalty to my party ends when my loyalty to my country begins” yang artinya kesetiaan saya kepada partai berakhir ketika kesetiaan saya kepada tanah air dan bangsa berawal.16 Sehingga dalam pengaturan recall ini timbul pertanyaan bahwa rakyat yang memilih wakilnya secara langsung, namun mengapa partai politik yang kemudian berhak memberhentikannya di parlemen.

Anggota DPR dan DPRD sebagai wakil rakyat mempunyai 3 (tiga) fungsi dalam pelaksanaan tugasnya, yaitu fungsi legislasi, fungsi anggaran dan fungsi pengawasan.17 Fungsi tersebut merupakan fungsi yang dimiliki lembaga legislatif sebagai lembaga perwakilan. Namun, fungsi tersebut saat ini seperti menjadi artifisial belaka. Dimana seyogyanya fungsi tersebut dijalankan dalam kerangka representasi rakyat, namun kini telah bercampur dengan kepentingan-kepentingan politik semata. Padahal ketentuan mengenai fungsi yang dimiliki anggota DPR dan DPRD ini tidak dapat diartikan lain selain penegasan atas alasan dasar (sui generis), yaitu perwakilan rakyat.18Artinya DPR dan DPRD tidak dibenarkan menjalankan fungsi-fungsinya itu untuk tujuan lain dari perwakilan rakyat.

Dari hal di atas, muncul sebuah permasalahan bahwasannya Partai Politik mampu menggeser kedaulatan rakyat menjadi kedaulatan Partai Politik melalui pemberhentian anggota partai politiknya yang berada di DPR dan/atau DPRD. Berdasarkan permasalahan tersebut, muncul

16

Risalah Sidang Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia dalam Perkara No.008/PUU-IV/2006...,Op. Cit.

17

Lihat Pasal 350 UU MD3

18

Sebastian Salang,et all,Menghindari Jeratan Hukum Bagi Anggota Dewan, (Jakarta: PT Penebar Swadaya, 2009), hlm. 206.


(35)

sebuah pertanyaan mendasar yang memerlukan penelitian mendalam yaitu apakah pengaturan hakrecallpartai politik sejalan dengan prinsip kedaulatan rakyat ?

B. Rumusan Permasalahan

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka peneliti dapat merumuskan permasalahan, yaitu apakah pengaturan hak recall partai politik sejalan dengan prinsip kedaulatan rakyat ?

C. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup dari penelitian dibatasi pada kajian Hukum Tata Negara (HTN) dengan spesifikasi pada pengaturan hakrecallpartai politik terhadap prinsip kedaulatan rakyat.

D. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui pengaturan hakrecallpartai politik sejalan atau tidak dengan prinsip kedaulatan rakyat.


(36)

Adapun yang menjadi kegunaan penelitian adalah : 1. Kegunaan Teoritis

Kegunaan teoritis adalah untuk memberikan sumbangan pemikiran dan pengembangan pengetahuan ilmu hukum yaitu HTN khususnya dalam memahami hakrecallpartai politik.

2. Kegunaan Praktis

Kegunaan praktis dalam penelitian ini adalah :

a. Untuk menjadi panduan bagi pengambil kebijakan agar mengatur hak recall dalam pengaturan perundang-undangan yang sejalan dengan prinsip kedaulatan rakyat.

b. Sebagai salah satu syarat akademik bagi peneliti untuk menyelesaikan Strata Satu pada Fakultas Hukum Universitas Lampung.


(37)

II.TINJAUAN PUSTAKA

A. HakRecall

Hak menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sesuatu hal yang benar, milik, kepunyaan, kewenangan, kekuasaan untuk berbuat sesuatu.1 Maka dapat diartikan bahwa hak adalah kekuasaan yang benar untuk menuntut sesuatu. Recall secara etimologi adalah penarikan kembali. Sedangkan,recallmenurutDictionary of Lawterbagi menjadi 2 (dua) , yaitu:

1. SebagaiNoun,memiliki arti:

a. Asking someone to come back; MPs are asking for the recall of parliament to debate the crisis; after his recall, the ambassador was interviewed at the airport.

b. US system of ending the term of office af an elected offcial early, following a popular vote.2

2. SebagaiVerb,pengertianrecallantara lain yaitu:

a. To ask someone to come back; MPs are asking for parliament to be grecalled to debate the financial crisis; the witness was recalled to the witness box; to recall an ambassador = to ask an ambassador to return to his country (usually as a way of breaking off diplomatic relations).

b. To remember; the witness could not recall having seen the papers.3

DalamBlack’s Law Dictionaryjuga terdapat definisi mengenairecallyaitu :

1. Removal of a public official from office by popular vote.

1

Tim Penyusun Kamus Pusat, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002). hlm. 427.

2

P.H.Collin,Dictionary Of Law: Third Edition, (London: Peter Collin Publishing, 2000), hlm. 306.

3


(38)

2. A manufacturer’s request to consumers for the return of defective products for repair of replacement.

3. Revocation of a judgment for factual or legal reasons.4

Pemaknaan recall dalam Black’s Law Dictionary tersebut dibagi menjadi 3 (tiga) makna, yaitu penghapusan seorang pejabat publik dari kantor dengan suara rakyat, sebuah permintaan produsen untuk konsumen untuk mengembalikan produk yang rusak untuk perbaikan penggantian, dan pencabutan keputusan untuk alasan faktual atau hukum. Selain definisi recall, terdapat Recall Election yang memiliki definisi adalah an election in which voters have the opportunity to remove a public official from office,5 yang artinya yaitu pemilu di mana pemilih memiliki kesempatan untuk menghapus pejabat publik dari kantor.

Elizabeth A. Martin dalam Oxford Dictionary of Law mendefinisikan Recall yaitu The further examination of a witness after his evidence has been completed. The judge may permit the recall of a witness even after the close of a party’s case to allow (evidence in rebuttal).6 Senada dengan Elizabeth, L.B. Curzon dalam Dictionary of Law mengartikan recall sebagai Recall of Witnessyang memiliki definisi yaituThe judge has a discretionary power to allow the recall of a witness after the close af a party’s case to allow evidence in rebuttal.7

Definisi yang sama terdapat juga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia On line, yang menyebutkanrecallyaitu :

4

Bryan A.Garner,Black’s Law Dictionary: Seventh Edition, (United Staties of America: West Group ST. Paul Minn, 2000), hlm. 1019.

5

Ibid., hlm. 423.

6

Elizabeth A. Martin,Oxford Dictionary of Law: Third Edition, (New York: Oxford University Press, 2000), hlm. 329

7


(39)

a. To call back; to summon to return; as, to recall troops; to recall an ambassador.

b. To revoke; to annul by a subsequent act; to take back; to withdraw; as, to recall words, or a decree.

c. To call back to mind; to revive in memory; to recollect; to remember; as, to recall bygone days.8

Selain itu, definisirecalldapat ditemukan di Kamus Pertanyaan secaraonline yang mengartikan

recall sebagai kata benda yang berarti penarikan kembali (of on envoy) atau ingatan, kemudian sebagai kata keterangan memiliki arti menarik kembali (an envoy), mengingat, atau menimbulkan.9

Peter Salim dalam The Contemporary English-Indonesia, memberikan arti recall yakni mengingat, memanggil kembali, menarik kembali atau membatalkan. Sementara, dalam kamus politik karangan BN Marbun, recall diartikan sebagai suatu proses penarikan kembali atau penggantian anggota DPR oleh induk organisasinya, yaitu Partai Politik.10

Denny Indrayana mengungkapkan bahwa recall adalah mekanisme untuk memberhentikan anggota parlemen sebelum habis masa jabatannya.11 Hal yang senada, J.J.A. Thamassen juga menyatakan bahwa Recall Recht: het recht van een politieke partij om een via haar kandidaten lijst gekozen parlementslid terug te reopen. Dengan demikian,recallmerupakan hak suatu partai

8

http://arti-kata.com/131745/Recall.html diakses pada tanggal 16 Januari 2013 pukul 01.41.

9

http://kamus.pertanyaan.com/recalldiakses pada tanggal 16 Januari 2013 pukul 01.46.

10

www.hukumonline.com.Mempertanyakan Hegemoni Recall Anggota DPRD Di Tangan Partai Politik, 22 Januari 2007, Diakses Tanggal 14 Januari 2013 Pukul 21.18.

11

Putusan Mahkamah Konstitusi No. 008/PUU-IV/2006 Perihal Pengujian Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2003 Tentang Susunan Dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD Serta Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 Tentang Partai PolitikTerhadap UUD 1945


(40)

politik untuk menarik kembali anggota parlemen yang terpilih melalui daftar calon yang diajukannya.12

Berdasarkan beberapa pengertianrecall tersebut, dapat diartikan hak recall partai politik adalah suatu penarikan kembali atau pemberhentian dalam masa jabatan terhadap anggota parlemen (DPR/DPRD) oleh partai politiknya. Perlu dikemukakan bahwa yang dimaksud recall dalam penelitian ini yaiturecalloleh partai politik. Karenarecallsebenarnya tidak saja dapat dilakukan oleh partai politik tetapi bisa juga oleh Badan Kehormatan DPR.

Recall dalam UU MD3 disebut sebagai pemberhentian/penggantian antarwaktu (pemberhentian dalam masa jabatannya), sebagaimana diatur dalam Bagian Pemberhentian Antar Waktu, Pergantian Antar Waktu, dan Pemberhentian Sementara anggota DPR dan DPRD kabupaten/kota yang diatur dalam Pasal 213 ayat (1) dan (2) serta Pasal 383 ayat (1) dan (2) UU MD3.

B. Kedaulatan Rakyat

Kedaulatan, bahasa Latinnya supremus, bahasa Inggrisnya sovereignty, bahasa Italianya disebut

sovranita yang berarti tertinggi. Kedaulatan dalam bahasa Arab daulah, daulat yang artinya kekuasaan. Kedaulatan dari berbagai bahasa itu dapat diartikan sebagai wewenang satu kesatuan politik.13 Jadi kedaulatan adalah sebagai kekuasaan yang tertinggi dalam suatu negara atau

12

J.J.A. Thamassen (red),Democratie, Theorie en Praktijk, Alphen aan den Rijn, Brussel, Samson Uitgeverij, 1981, hlm. 156, dikutip dari Putusan Mahkamah Konstitusi No. 008/PUU-IV/2006...ibid.

13

Jimly Asshidiqie, Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi, (Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer, 2008), hlm.158.


(41)

kesatuan yang tidak terletak dibawah kekuasaaan lain. Selain itu kedaulatan dapat juga diartikan adalah kekuasaan tertinggi dalam sebuah negara yang bersifat:

1. Permanen (abadi); artinya kedaulatan itu bersifat tetap dan akan ada selama suatu negara masih berdiri.

2. Asli; artinya kedaulatan itu tidak berasal dari kekuasaan lain yang lebih tinggi.

3. Bulat (mutlak); artinya tidak terbagi-bagi, dimana hanya satu kekuasaan yang tertinggi dalam suatu negara.

4. Tidak terbatas; artinya kedaulatan itu tidak dibatasi (tanpa batas) oleh siapa pun.14

Konsepsi kedaulatan menurut Jack H. Nagel terdapat dua hal penting, yaitu lingkup kekuasaan (scope of power) yang menyangkut soal aktivitas atau kegiatan yang tercakup dalam fungsi kedaulatan, dan jangkauan kekuasaaan (domain power), berkaitan dengan siapa yang menjadi subyek dan pemegang kedaulatan (souvereign).15 Senada dengan Jack H. Nagel, Padmo Wahjono mendefinisikan kedaulatan sebagai hak kekuasaan mutlak, tertinggi, tak terbatas, tak terbendung dan tanpa terkecuali.16

Adapun Jimly Asshidiqie berpandangan bahwa unsur-unsursovereigntymeliputi: (i) kekuasaan

(ii) bersifat terkuat dan terbesar (superior) (iii) bersifat tertinggi (supreme)

(iv) pemegangnya berada pada kedudukan pemberi perintah

(v) bersifat merdeka dan tidak tergantung kepada kekuasaan orang atau badan lain

(vi) mengandung kewenangan (otoritas) untuk mengambil keputusan terakhir dan tertinggi.17

Sistem pemerintahan yang menganut teori kedaulatan rakyat, yakni kekuasaan pemerintah dipegang dan dijalankan oleh lembaga-lembaga negara yang terbentuk dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat (demokrasi). Karena rakyatlah yang pada dasarnya memiliki kekuasaan maka

14

Ibid.

15

Tanto Lailam,Pengantar Ilmu Hukum Administrasi Negara, (Yogyakarta: Media Prudent, 2012), hlm. 5.

16

Padmo Wahjono,Ilmu Negara, (Jakarta: Indo Hill Co, 1961), hlm. 153.

17


(42)

pelaksanaan tugas dan tanggungjawabnya pun harus dipertanggungjawabkan kepada rakyat melalui mekanisme dan tata cara yang telah diatur di dalam undang-undang. Dalam teori ini, negara memperoleh kekuasaan dari rakyatnya dan bukan dari Tuhan atau dari Raja.18

Terdapat korelasi yang jelas antara negara hukum yang bertumpu pada konstitusi dan peraturan perundang-undangan, dengan kedaulatan rakyat, yang dijalankan melalui sistem demokrasi. Dalam sistem demokrasi, penyelenggaraan negara itu harus bertumpu pada partisipasi dan kepentingan rakyat. J.B.J.M Ten Berge menyebutkan prinsip-prinsip demokrasi, antara lain yaitu:

1.) Perwakilan Politik, kekuasaan politik tertinggi dalam suatu negara dan dalam masyarakat diputuskan oleh badan perwakilan, yang dipilih melalui pemilihan umum.

2.) Pertanggungjawaban politik, organ-organ pemerintahan dalam menjalankan fungsinya sedikit banyak tergantung secara politik yaitu kepada lembaga perwakilan.

3.) Pemencaran kewenangan, konsentrasi kekuasaan dalam masyarakat pada satu organ pemerintahan adalah kesewenang-wenangan. Oleh karena itu, kewenangan badan-badan publik itu harus dipencarkan pada organ-organ yang berbeda.

4.) Pengawasan dan kontrol, penyelenggaraan pemerintahan harus dapat dikontrol. 5.) Kejujuran dan keterbukaan pemerintahan untuk umum.

6.) Rakyat diberi kemungkinan untuk mengajukan keberatan.19

Doktrin kedaulatan rakyat pada pokoknya merupakan dasar bagi konsep negara demokrasi di zaman modern, misalnya terkait dengan pengambilan keputusan, bahwa rakyat mempunyai otoritas tertinggi untuk menetapkan berlaku tidaknya suatu ketentuan hukum dan mempunyai otoritas tertinggi untuk menjalankan dan mengawasi pelaksanaan ketentuan hukum itu. Namun seiring perkembangan konsep demokrasi sebagai jelmaan kedaulatan rakyat, maka lahirlah

18

Yulia Neta,Ilmu Negara, (Bandar Lampung: Lembaga Penelitian Universitas Lampung, 2009) hlm. 35.

19


(43)

konsep perwakilan (representative government), sehingga aparatus lembaga negara merupakan perwakilan rakyat yang berfungsi mengurusi roda negara.20

Teori kedaulatan rakyat lahir pada saat terjadinya revousi di Prancis yang menentang kekuasaan raja yang mutlak dan berusaha menghancurkannya, mengambil alih pengertian kedaulatan itu seluruhnya dan memproklamirkan kedaulatan tersebut kepada rakyat, dan dari sinilah mulai dikembangkan ajaran kedaulatan rakyat tersebut.

Teori kedaulatan rakyat adalah ajaran yang menentukan bahwa sumber kekuasaan tertinggi atau kedaulatan dalam suatu negara berada ditangan rakyat.21 Dengan demikian segala aturan dan kekuasaan yang dijalankan oleh negara tidak boleh bertentangan dengan kehendak rakyat. Menurut teori ini adalah rakyat yang berdaulat, berkuasa untuk menentukan bagaimana ia diperintah dan dalam rangka mencapai tujuan negara.

John Locke mengemukakan pemikiran tentang kedaulatan rakyat dalam negara sebagai kekuasaan tertinggi, kekuasaan absolut dalam suatu negara tidak memungkinkan seseorang merdeka dalam mendapatkan haknya. Segalanya tergantung pada sang penguasa yang absolut itu. Menurut Locke, dalam negara yang berdaulat hanya kepada rakyat, setiap orang masih dapat mengemukakan tuntutannya dan meminta perhatian dan tuntutan kepada negara terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh negara, negara hanya bagian dari masyarakat, dan didirikan oleh kehendak rakyat, dan dalam negara ini kekuasaan tertinggi adalah ditangan rakyat.

20

Tanto Lailam,...Op. Cit,hlm. 9.

21


(44)

Dengan landasan kedaulatan rakyat inilah John Locke membagi kekuasaan menjadi tiga bagian yaitu eksekutif, yudikatif dan federatif atau pembuat perjanjian.22

Rousseau, menyatakan kedaulatan rakyat diwujudkan berupa pernyataan kehendak. Kehendak rakyat tersebut disampaikan dalam 2 (dua) cara; yaitu kehendak rakyat seluruhnya disebut

Volunte De Tous, dan kedua kehendak sebagian rakyat disebut Volunte Generale. Pertama (volunte de tous) hanya digunakan oleh rakyat pada saat negara dibentuk, yaitu melalui suatu perjanjian sosial. Sedangkan kedua (volunte generale) digunakan setelah negara berdiri dengan cara melalui sistem suara terbanyak. Kedaulatan rakyat diartikan Rousseau sebagai pengambilan keputusan dengan suara terbanyak (meerderheids dictatuur).23

Bagir Manan dengan mengutip pendapat Moh. Hatta tentang kedaulatan rakyat mengemukakan: “kedaulatan rakyat berarti, bahwa kekuasaan untuk mengatur pemerintahan dan negara ada pada rakyat, rakyat yang berdaulat, berkuasa untuk menentukan cara bagaimana ia harus diperintah. Tetapi putusan rakyat yang menjadi peraturan pemerintah bagi orang semuanya ialah keputusan yang ditetapkan dengan cara mufakat dalam suatu perundingan yang teratur bentuk dan jalannya. Bukan keputusan yang sekonyong-konyong diambil dengan cara sendiri saja, dengan menyerukan bersama-sama “mufakat”. Disini tidak ada permusyawaratan terlebih dahulu, sebab itu bukanlah keputusan menurut kedaulatan rakyat.”24

Sebelum amandemen UUD Tahun 1945, Pasal 1 ayat (2) UUD Tahun 1945 menyebutkan bahwa kedaulatan adalah ditangan rakyat, dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. Kemudian dengan adanya amandemen UUD Tahun 1945, kini MPR bukan lagi suatu badan yang paling tinggi yang tidak terbatas kekuasaannya dalam memegang kedaulatan rakyat.

22

Dahlan Thaib,Kedaulatan Rakyat Negara Hukum dan Konstitusi, (Yogyakarta: Liberty, 2000), hlm. 7.

23

Abdul Aziz Hakim,...Op. Cit, hlm. 184.

24


(45)

MPR yang pada awalnya dipahami sebagai pemegang mandat sepenuhnya dari rakyat, bergeser kearah pemahaman bahwa MPR tidak lagi sebagai pemegang mandat tunggal yang tertinggi, melainkan mandat itu dilaksanakan berdasarkan Undang-Undang Dasar. Dengan ada perubahan itu, pusat perhatian harus diarahkan kepada upaya memahami perwujudan prinsip kedaulatan rakyat itu dalam tiga cabang kekuasaan utama, yaitu parlemen yang terdiri atas Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah, lembaga kepresidenan yang juga mandat langsung karena dipilih secara langsung oleh rakyat, dan secara tidak langsung pada lembaga kekuasaan kehakiman (Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi), ditambah lembaga tinggi lainnya, yaitu Badan Pemeriksa Keuangan.25

Indonesia merupakan negara yang berkedaulatan rakyat sesuai Pasal 1 ayat (2) amandemen ketiga UUD Tahun 1945. Dengan menyandang prinsip kedaulatan rakyat inilah mengantarkan Indonesia untuk menganut sistem demokrasi sebagai metode awal penyelenggaraan negara. Dalam negara demokrasi rakyat merupakan pemegang kekuasaan tertinggi. Artinya rakyat mempunyai kekuatan untuk membangun atau meruntuhkan suatu visi bernegara.26 Selain itu ditegaskan dalam Pembukaan UUD Tahun 1945 alinea ke 4, bahwa:

“Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat...”

25

Jimly Asshiddiqie,Format Kelembagaan Negara dan Pergeseran Kekuasaan dalam UUD 1945,(Yogyakarta: FH UII Press, 2005), hlm. 15

26


(46)

Aliran mandat kedaulatan yang dimiliki oleh rakyat mengalir langsung dan periodik kepada lembaga-lembaga perwakilan rakyat melalui proses pemilihan umum yang langsung, umum, bebas, dan rahasia yang diselenggarakan secara jujur dan berkeadilan.27Namun, meskipun aliran mandat tersebut berlangsung secara periodik melalui pemilihan umum, tidak berarti bahwa kedaulatan rakyat itu sepenuhnya diserahkan seperti yang dapat dipahami dari teori perjanjian masyarakat (contract sociale) yang dikembangkan oleh Thomas Hobbes, dan yang dikembangkan kemudian oleh John Locke ataupun Rousseau.28Kontrak sosial yang melahirkan negara tidak dengan sendiri menghilangkan hak-hak individu rakyat untuk berperanserta dalam pengambilan keputusan kenegaraan. Jaminan konstitusional mengenai hak asasi manusia masih tetap membuktikan bahwa kepemilikan kedaulatan yang sah tetaplah berada di tangan rakyat.

Ide kedaulatan rakyat itu tetap harus dijamin bahwa rakyatlah yang sesungguhnya pemilik negara dengan segala kewenangannya untuk menjalankan semua fungsi kekuasaan negara, baik di bidang legislatif, eksekutif maupun yudikatif. Rakyatlah sesungguhnya segala kegiatan ditujukan dan diperuntukkannya segala manfaat yang didapat dari adanya dan berfungsinya kegiatan bernegara itu, hanya saja konsep kedaulatan ini dilakukan melalui prosedur perwakilan rakyat.29

C. Sistem Pemilu Indonesia

Perwujudan kedaulatan rakyat dilaksanakan melalui Pemilu secara langsung sebagai sarana bagi rakyat untuk memilih wakilnya yang akan menjalankan fungsi melakukan pengawasan,

27

Lihat Pasal 2 UU Pemilu.

28

Lihat Padmo Wahjono,Op.Cit.,hlm. 84.

29


(47)

menyalurkan aspirasi politik rakyat, membuat undang-undang sebagai landasan bagi semua pihak di Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam menjalankan fungsi masing-masing, serta merumuskan anggaran pendapatan dan belanja untuk membiayai pelaksanaan fungsi-fungsi tersebut.30

Dalam ilmu politik dikenal bermacam-macam sistem pemilihan umum dengan berbagai variasinya, akan tetapi umumnya berkisar pada dua prinsip pokok, yaitu:

a. Single-member constituency(satu daerah pemilihan memilih satu wakil; biasanya disebut Sistem Distrik)

b. Multi-member constituency (satu daerah pemilihan memilih beberapa wakil; biasanya dinamakan Sistem perwakilan berimbang atau Sistem Proporsional).31

Selain itu, ada beberapa varian sistem pemilu seperti Block Vote (BV), Alternative Vote (AV), Sistem Dua Putaran atau two-Round System (TRS), Sistem Paralel, Limited Vote (LV), Single Non-Transferable Vote (SNTV), Mixed Member Proportional (MMP), dan Single Transferable Vote (STV).32 Tiga yang pertama lebih dekat ke sistem distrik, sedangkan yang lain lebih dekat ke sistem proporsional atau semi proporsional.

Sistem distrik merupakan sistem pemilihan yang paling tua dan didasarkan atas kesatuan geografis. Setiap kesatuan geografis (yang biasanya disebut “distrik” karena kecilnya daerah yang tercakup) memperoleh satu kursi dalam parlemen.33 Untuk keperluan itu negara dibagi

30

Penjelasan dalam UU Pemilu

31

Miriam Budiarjo,Dasar-Dasar Ilmu Politik, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2007), hlm. 461.

32

Ibid.

33


(48)

dalam sejumlah besar distrik pemilihannya (kecil) yang kira-kira sama jumlah penduduknya. Dalam sistem distrik, satu distrik menjadi bagian dari suatu wilayah, satu distrik hanya berhak atas satu kursi, dan kontestan yang memperoleh suara terbanyak menjadi pemenang tunggal. Hal ini dinamakan the first past the post (FPTP). Pemenang tunggal meraih satu kursi tersebut. Hal ini terjadi sekalipun selisih suara dengan partai lain hanya kecil saja. Suara yang tadinya mendukung kontestan lain dianggap hilang (wasted) dan tidak dapat membantu partainya untuk menambah jumlah suara partainya di distrik lain.

Dalam sistem proporsional, satu wilayah dianggap sebagai satu kesatuan, dan dalam wilayah itu jumlah kursi dibagi sesuai jumlah suara yang diperoleh oleh para kontestan secara nasional tanpa menghiraukan distribusi suara itu.34

Keunggulan sistem distrik menurut Miriam Budiarjo adalah:

1. Sistem ini lebih mendorong ke arah integrasi partai-partai politik karena kursi yang diperebutkan dalam setiap distrik pemilihan hanya satu. Hal ini akan mendorong partai-partai untuk menyisihkan perbedaan-perbedaan yang ada dan mengadakan kerja sama, sekurang-kurangnya menjelang pemilu, antara lain melaluistembus accord.

2. Fragmentasi partai dan kecenderungan membentuk partai baru dapat dibendung; malahan sistem ini bisa mendorong ke arah penyederhanaan partai secara alami dan tanpa paksaan. Maurice Duverger berpendapat bahwa dalam negara seperti Inggris dan Amerika, sistem ini telah menunjang bertahannya sistem dwi-partai.

3. Oleh karena kecilnya distrik, maka wakil yang terpilih dapat dikenal oleh komunitasnya, sehingga hubungan dengan konstituen lebih erat. Dengan demikian si wakil akan lebih cenderung untuk memperjuangkan kepentingan distriknya. Lagipula kedudukannya terhadap pimpinan partainya akan lebih independen, karena faktor kepribadian seseorang merupakan faktor penting dalam kemenangannya dan kemenangan partai. Sekalipun demikian, ia tidak lepas sama sekali dari disiplin partai, sebab dukungan serta fasilitas partai diperlukannya baik untuk nominasi maupun kampanye.

4. Bagi partai besar sistem ini menguntungkan karena melaluidistortion effectdapat meraih suara dari pemilih-pemilih lain, sehingga memperoleh kedudukan mayoritas. Dengan demikian partai pemenang sedikit banyak dapat mengendalikan parlemen.

34


(49)

5. Lebih mudah bagi suatu partai untuk mencapai kedudukan mayoritas dalam parlemen, sehingga tidak perlu diadakan koalisi dengan partai lain. Hal ini mendukung stabilitas nasional.

6. Sistem ini sederhana dan murah untuk diselenggarakan.35

Adapun kelemahan sistem distrik adalah :

1. Sistem ini kurang memperhatikan kepentingan partai-partai kecil dan golongan minoritas, apalagi jika golongan-golongan ini terpencar dalam berbagai distrik.

2. Sistem ini kurang representatif dalam arti bahwa partai yang calonnya kalah dalam suatu distrik kehilangan suara yang telah mendukungnya. Hal ini berarti bahwa ada sejumlah suara yang tidak diperhitungkan sama sekali, atau terbuang sia-sia. Dan jika banyak partai mengadu kekuatan, maka jumlah suara yang hilang dapat mencapai jumlah yang besar. Hal ini akan dianggap tidak adil terhadap partai dan golongan yang dirugikan. 3. Sistem distrik dianggap kurang efektif dalam masyarakat yang plural karena terbagi

dalam kelompok etnis, religius, dan tribal, sehingga menimbulkan anggapan bahwa suatu kebudayaan nasional yang terpadu secara ideologis dan etnis mungkin merupakan prasyarat bagi suksesnya sistem ini.

4. Ada kemungkinan si wakil cenderung untuk lebih memperhatikan kepentingan distrik serta warga distriknya, daripada kepentingan nasional.36

Seperti hal nya sistem distrik, sistem proporsional juga memiliki keunggulan dan kelebihan. Miriam Budiarjo menguraikan keunggulan sistem proporsional, antara lain:

1. Sistem proporsional dianggap representatif, karena jumlah kursi partai dalam parlemen sesuai dengan jumlah suara masyarakat yang diperoleh dalam pemilihan umum.

2. Sistem proporsional dianggap lebih demokratis dalam arti lebihegalitariankarena praktis tanpa ada distorsi, yaitu kesenjangan antara suara nasional dan jumlah kursi dalam parlemen, tanpa suara yang hilang atau wasted. Akibatnya, semua golongan dalam masyarakat, termasuk yang kecilpun memperolah peluang untuk menampilkan wakilnya dalam parlemen. Rasa keadilan (sense of justice) masyarakat sedikit banyak terpenuhi.37

Adapun yang menjadi kelemahan sistem proporsional yaitu :

1. Sistem ini kurang mendorong partai-partai untuk berintegrasi atau bekerjasama satu sama lain dan memanfaatkan persamaan-persamaan yang ada, tetapi sebaliknya cenderung mempertajam perbedaan-perbedaan. Sistem ini umumnya dianggap berakibat menambah jumlah partai. 35 Ibid. 36 Ibid. 37 Ibid.


(50)

2. Sistem ini mempermudah fragmentasi partai. Jika timbul konflik dalam suatu partai, anggotanya cenderung memisahkan diri dan mendirikan partai baru, dengan perhitungan bahwa ada peluang bagi partai baru itu untuk memperoleh beberapa kursi dalam parlemen melalui pemilihan umum. Jadi, kurang menggalang kekompakan dalam tubuh partai.

3. Sistem proporsional memberikan kedudukan yang kuat pada pimpinan partai melalui sistem daftar karena pimpinan partai menentukan daftar calon.

4. Wakil yang terpilih kemungkinan renggang ikatannya dengan konstituen. Pertama, karena wilayahnya lebih besar sehingga sukar dikenal banyak orang. Kedua, karena peran partaidalam meraih kemenangan lebih besar ketimbang kepribadian seseorang. Dengan demikian si wakil akan lebih terdorong untuk memperhatikan kepentingan partai serta masalah-masalah umum ketimbang kepentingan distrik serta warganya.

5. Karena banyaknya partai yang bersaing, sulit bagi suatu partai untuk meraih mayoritas (50%+satu) dalam parlemen, yang diperlukan untuk membentuk pemerintahan. Partai yang terbesar terpaksa berkoalisi dengan beberapa partai lain untuk memperoleh mayoritas. Koalisi semacam ini jika diselenggarakan dalam sistem parlementer sering tidak lama umurnya, dan hal ini tidak membina stabilitas politik. Dalam sistem presidensial perubahan dalam komposisi di parlemen tidak terlalu mempengaruhi masa jabatan eksekutif.38

Sistem Pemilu yang pernah dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 1955 sampai tahun 2004 sebagaimana terdapat dalam tabel 1, yaitu :39

Tabel 1.

Sistem Pemilu Sejak Tahun 1955 - 2004

No. Tahun Sistem Pemilihan Umum

1. 1955 Menggunakan sistem proporsional. Jumlah anggota DPR ditetapkan berdasarkan imbangan jumlah penduduk. Tiap 300.000 penduduk diwakili 1 anggota DPR. Menggunakan stelsel daftar mengikat dan stelsel daftar bebas. Pemilih dapat memberikan suaranya kepada calon yang ada didalam daftar (ini merupakan ciri dari sistem distrik) dan bisa juga diberikan kepada partai. Suara yang diberikan kepada calon akan diperhitungkan sebagai perolehan suara calon yang bersangkutan, sedangkan yang diberikan kepada partai, oleh partai akan diberikan calon sesuai nomor urut. Seseorang secara perorangan, tanpa melalui partai juga dapat menjadi peserta pemilihan umum.

38

Ibid.

39


(51)

Calon yang terpilih adalah yang memperoleh suara sesuai BPPD (Bilangan Pembagi Pemilih daftar). Apabila tidak ada calon yang memperoleh suara sesuai BPPD, suara yang diberikan kepada partai akan menentukan. Calon dengan nomor urut teratas akan diberi oleh suara partai, namun prioritas diberikan kepada calon yang memperoleh suara melampaui setengah BPPD.

Kursi yang tidak habis dalam pembagian di daerah pemilihan akan dibagi di tingkat pusat dengan menjumlahkan sisa-sisa suara dari daerah-daerah pemilihan yang tidak terkonvensi menjadi kursi. 2. 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997, 1999.

Menggunakan sistem proporsional terbuka dengan stelsel daftar. Pemilih memberikan suara hanya kepada partai, dan partai akan memberikan suaranya kepada calon dengan nomor urut teratas. Suara akan diberikan kepada urutan berikutnya bila calon dengan nomor urut teratas sudah kebagian suara cukup untuk kuota 1 kursi. Untuk pemilihan umum anggota DPR daerah, pemilihannya adalah wilayah provinsi; sedangkan untuk DPRD I, daerah pemilihannya adalah satu satu provinsi yang bersangkutan; dan untuk DPRD II daerah pemilihannya wilayah Dati II yang bersangkutan. Namun ada sedikit warna sistem distrik di dalamnya, karena setiap kabupaten diberi jatah 1 kursi anggota DPR untuk mewakili daerah tersebut. Pada pemilihan umum tahun-tahun ini setiap anggota DPR mewakili 400.000 penduduk. 3. 2004 Ada satu lembaga baru didalam lembaga legislatif, yaitu DPD

(Dewan Perwakilan Daerah). Untuk pemilihan umum anggota DPD digunakan sistem distrik tetapi dengan wakil banyak (4 kursi untuk setiap provinsi). Daerah pemilihannya adalah wilayah provinsi. Pesertanya adalah individu. Karena setiap provinsi atau daerah pemilihan mempunyai jatah 4 kursi, dan suara dari kontestan yang kalah tidak bisa dipindahkan atau dialihkan (non transferable vote) maka sistem yang digunakan disini dapat disebut sistem distrik dengan wakil banyak (block vote).

Untuk pemilihan anggota DPR dan DPRD digunakan sistem proporsional dengan stelsel daftar terbuka, sehingga pemilih dapat memberikan suaranya secara langsung kepada calon yang dipilih. Dalam hal ini pemilih memberikan suaranya kepada partai, calon yang berada pada urutan teratas mempunyai peluang besar untuk terpilih karena suara pemilih yang diberikan kepada partai menjadi hak calon yang berada di urutan teratas. Jadi, ada kemiripan sistem yang digunakan dalam pemilihan umum anggota DPR dan DPRD pada pemilihan umum 2004 dengan pemilihan umum 1955. Bedanya, pada pemilihan umum 1955 ada prioritas untuk memberikan suara partai kepada calon yang memperoleh suara lebih dari setengah BPPD.


(52)

Ada warna sistem distrik dalam penghitungan perolehan kursi DPR dan DPRD pada pemilihan umum 2004, yaitu suatu perolehan suatu partai di sebuah daerah pemilihan yang tidak cukup untuk satu BPP (Bilangan Pembagi Pemilih) tidak bisa ditambahkan ke perolehan partai didaerah pemilihan lain, misanya untuk ditambahkan agar cukup untuk satu. Ini adalah sistem distrik bukan sistem proporsional.

Sumber : Data diolah

D. Partai Politik

Masyarakat dapat menyalurkan aspirasinya melalui partai politik, karena partai politik merupakan penghubung antara masyarakat dengan penguasa. Partai politik juga merupakan wadah masyarakat untuk dapat berpartisipasi langsung dalam proses politik. Masyarakat dapat memilih dan dipilih untuk memegang kekuasaan politik melalui partai politik.

Sebelum menelusuri pemahaman partai politik, terlebih dahulu akan dijelaskan pengertian dasar yang terkait dengan konsep tersebut yaitu partai dan politik. Menurut Miriam Budiardjo, Politik adalah bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistim politik (atau negara) yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari sistim itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu.40 Berdasarkan definisi tersebut, dapat dikemukakan politik merupakan kegiatan-kegiatan yang terjadi dalam suatu negara dalam mencapai dan melaksanakan tujuan yang telah dibuat. Kegiatan tersebut menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari suatu negara dan melaksanakan tujuan-tujuan tersebut.

40


(53)

Politik menurut Joyce Mitchell adalah pengambilan keputusan kolektif atau pembuatan kebijaksanaan umum untuk masyarakat seluruhnya (Politics is collective decisionmaking or the making of public policies for an entire society).41 Maksud definisi di atas dapat diartikan bahwa pengambilan keputusan oleh badan hukum tertentu secara kolektif (pembuatan keputusan bersama) untuk kepentingan masyarakat. Tidak jauh berbeda dengan Joyce Mitchell, Karl W. Deutsch mendefinisikan politik adalah pengambilan keputusan melalui sarana umum. Maksud dari definisi ini, politik merupakan pengambilan keputusan yang dilakukan suatu negara melalui sarana umum, sarana umum yaitu menyangkut tindakan umum atau nilai nilai.42

Politik menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, yaitu:

(1) pengetahuan mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan seperti tentang sistem pemerintahan dan dasar pemerintahan;

(2) segala urusan dan tindakan (kebijakan) mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lain;

(3) cara bertindak (dalam menghadapi atau menangani suatu masalah) atau kebijaksanaan.43

Adapun pengertian Partai menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah sekelompok orang yang seasas, sehaluan terutama dibidang politik.44 Maka dapat dimaknakan bahwa partai merupakan sekelompok orang yang memiliki pandangan yang sama, seasas, sehaluan. Pada umumnya kesamaan ini terjadi dalam bidang politik yang disebut dengan nama partai politik.

41

http://appehutauruk.blogspot.com/2010/05/politik-dalam-teori.htmldiakses tanggal 6 Mei 2012 pada pukul 0.20.

42

Ibid.

43

http://kamusbahasaindonesia.org/politik/miripdiakses pada tanggal 2 Juni 2012 pukul 10.31

44


(54)

Partai politik merupakan keharusan dalam kehidupan politik modern yang demokratis. Sebagai suatu organisasi, partai politik secara ideal dimaksudkan untuk mengaktifkan dan memobilisasi rakyat, mewakili kepentingan tertentu, memberikan jalan kompromi bagi pendapat yang saling bersaing, serta menyediakan secara maksimal kepemimpinan politik secara sah (legitimate) dan damai.45

Miriam Budiardjo mendefinisi partai politik sebagai suatu kelompok yang terorganisasi yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi nilai-nilai dan cita-cita sama. Tujuan kelompok ini adalah untuk memperoleh kekuasaan politik (biasanya) dengan cara konstitusional untuk melaksanakan kebijaksanaan mereka.46 Berdasarkan definisi tersebut partai politik pada umumnya terwujud berdasarkan persamaan kehendak atau cita-cita yang akan dicapai bersama. Kehadiran partai politik dalam kegiatan partisipasi politik memberi warna tersendiri, hal ini berdasar pada fungsi yang melekat pada partai politik tersebut.

Definisi yang sama diungkapkan oleh Mac Iver, yang mengungkapkan bahwa partai politik adalah “suatu kumpulan terorganisasi untuk menyokong suatu prinsip atau kebijaksanaan (policy) yang oleh perkumpulan itu diusahakan dengan cara-cara sesuai dengan konstitusi atau undang-undang agar menjadi penentu cara melakukan pemerintahan.”47

Berbeda halnya dengan pendapat Mac Iver, Sigmund Neumann berpendapat bahwa partai politik adalah:

45

Abdul Mukthie Fadjar, Partai Politik dalam Perkembangan Ketatanegaraan Indonesia, (Malang: Setara Press, 2012), hlm. 13

46

Miriam Budiarjo,...Op.Cit,.hlm. 16.

47


(55)

“Organisasi artikulatif yang terdiri dari pelaku-pelaku politik yang aktif dalam masyarakat, yaitu mereka yang memusatkan perhatiannya pada pengendalian kekuasaan pemerintahan dan yang bersaing untuk memperoleh dukungan rakyat, dengan beberapa kelompok lain yang mempunyai pandangan yang berbeda-beda.”48

Pendapat Sigmund Neumann tersebut menekankan bahwa partai politik merupakan organisasi penghubung antara para pelaku politik aktif dalam masyarakat dengan pemerintah. Dalam mewujudkan hal itu para pelaku politik aktif dalam masyarakat tersebut berkompetisi dengan kelompok-kelompok lain yang memiliki pandangan yang berbeda. Masyarakat yang dimaksud tersebut berasal dari golongan yang tidak tentu, yaitu masyarakat dari berbagai kalangan dan berbagai profesi.

Senada dengan Sigmund Neumann, Carl J. Friedrich mengartikan partai politik sebagai a group of human beings, stably organizet with the objective of securing or maintaining for its leaders the control of a government, with the further objective of giving to members of the party, through such control ideal and material benefits and advantages.49 Sekelompok manusia yang terorganisir secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasaan terhadap pemerintahan bagi pimpinan partainya dan, berdasarkan penguasaan ini memberikan kepada anggota partainya kemanfaatan yang bersifat idiil maupun materil. Menurut pengertian di atas partai politik merupakan sekelompok manusia yang terorganisir yang memiliki tujuan untuk mempertahankan kekuasaan di dalam pemerintahan, dengan cara menduduki pimpinan-pimpinan partainya, sehingga masing-masing anggota partai tidak akan memperoleh kemanfaatan yang bersifat idiil maupun materil.

48

Abdul Mukthie Fadjar,Partai Politik dalam... Op.Cit.,hlm. 14

49


(1)

h. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

i. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

j. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

3. Bahan hukum tersier yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, antara lain Kamus Hukum, Oxford, Dictionary of Law,Black’s Law Dictionary, dan Kamus Besar Bahasa Indonesia.9

D. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan melalui Studi Kepustakaan (library research) dengan cara membaca, mengutip, mencatat, dan memahami berbagai literatur yang terkait dengan objek penelitian baik berupa bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier.

E. Metode Pengolahan Data

9


(2)

Pengolahan data dilakukan dengan cara :

1. Identifikasi, identifikasi data yaitu mencari dan menetapkan data yang berhubungan dengan implikasi hakrecallpartai politik.

2. Pemeriksaan data (editing), yaitu data yang diperoleh, diperiksa untuk mengetahui apakah masih terdapat kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan serta apakah data tersebut telah sesuai dengan permasalahan yang dibahas.

3. Seleksi data, yaitu memeriksa secara keseluruhan data untuk menghindari kekurangan dan kesalahan data yang berhubungan dengan permasalahan

4. Klarifikasi data, pengelompokan data yang telah dievaluasi menurut bahasannya masing-masing dan telah dianalisis agar sesuai dengan permasalahannya.

5. Penyusunan data, yaitu menyusun data yang telah diperiksa secara sistematis sesuai dengan urutannya sehingga pembahasan lebih mudah dipahami

F. Analisis Data

Data yang telah diolah kemudian dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif, yaitu dengan cara menguraikan data dalam bentuk kalimat yang tersusun secara sistematis. Kemudian, sarana atau alat untuk menganalisis data yaitu menggunakan interpretasi gramatikal, interpretasi sistematis. Interpretasi gramatikal dilakukan dengan cara menguraikan makna kata atau istilah menurut bahasa, susunan kata atau bunyinya. Interpretasi sistematis dilakukan dengan menafsirkan peraturan perundangan dihubungkan dengan peraturan hukum atau undang-undang lain atau dengan keseluruhan sistem hukum, dan Interprestasi secara historis dilakukan


(3)

dengna menafsirkan undang-undang dengan cara meninjau latar belakang sejarah dari pembentukan atau terjadinya peraturan undang-undang yang bersangkutan. Terhadap data yang dianalisis tersebut, maka tergambar jelas mengenai permasalahan yang ada, selanjutnya ditarik suatu kesimpulan dan diajukan saran.

G. Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN, akan menguraikan latar belakang penelitian yang menyangkut pengaturan recall dalam sistem kedaulatan rakyat, rumusan permasalahan, ruang lingkup penelitian, tujuan penelitian, serta kegunaan penelitian ;

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, yang terdiri dari subpokok bahasan hak recall, kedaulatan rakyat, sistem pemilu Indonesia, serta subpokok bahasan partai politik ;

BAB III METODE PENELITIAN, yang terdiri dari subbab jenis dan tipe penelitian, metode pendekatan, data dan sumber data, metode pengumpulan data, metode pengolahan data, analisis data, dan diakhiri dengan sistematika penulisan ;

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN, Di dalamnya menguraikan materi muatan yang terdiri dari subbab pengaturan dan implementasi hak recall partai politik, pemilu sebagai instrumen kedaulatan rakyat, serta pergeseran kedaulatan rakyat ;


(4)

BAB V PENUTUP, terdiri dari kesimpulan hasil penelitian dan saran-saran yang diajukan sebagai masukan agar memperbaiki pengaturanrecall yang selaras dengan sistem kedaulatan rakyat di Indonesia.


(5)

V. PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah peneliti paparkan di dalam Pembahasan, dapat disimpulkan bahwa pengaturan hakrecall partai politik sebagaimana diatur dalam Pasal 213 ayat (2) huruf e, huruf h Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD serta Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik, adalah tidak sejalan dengan prinsip kedaulatan rakyat.

Beberapa hal yang menjadi pertimbangan penulis dalam hal ini yaitu: pertama, sejarah mencatat bahwa adanya aturan recall bermula dengan maksud untuk membungkam anggota dewan yang kritis dan berseberangan dengan kepentingan pemerintah dan partai politik, sampai saat ini recall dijadikan alat untuk memberhentikan anggota dewan yang membelot dari kebijakan partai politik. Kedua, recall yang dilakukan partai politik berarti mengingkari atau menegasi hasil pilihan rakyat selaku pemegang kedaulatan demi kepentingan partai politik. Ketiga, pengaturan recall memberikan kewenangan yang besar kepada partai politik sehingga bisa menimbulkan oligarki, dan menjadikan anggota dewan lebih loyal kepada partai politik dibandingkan dengan rakyat yang seharusnya ia wakili.


(6)

2

B. Saran

Setelah melakukan penelitian, identifikasi permasalahan dan dasar hukum kemudian menganalisa, maka saran yang dapat disampaikan adalah pengaturan recallpartai politik dalam peraturan perundang-undangan sebaiknya dihapuskan, hal ini untuk menghilangkan dasar kewenangan partai politik dalam mengendalikan anggotanya yang ada di parlemen, sehingga ketika hak recall

partai politik tersebut dihapuskan maka tidak ada lagi “hantu” recall yang membuat wakil rakyat lebih tunduk terhadap partai politik dibandingkan dengan rakyat, sebagai pemilik kedaulatan. Disamping itu, perlu dibuatnya regulasi terkait mekanisme recall dengan memberikan ruang bagi konstituen sebagai pemegang kedaulatan.


Dokumen yang terkait

Hak Recall Partai Politik Terhadap Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Dalam Korelasinya Dengan Pelaksanaan Teori Kedaulatan Rakyat.

8 114 110

TINJAUAN YURIDIS HAK RECALL OLEH PARTAI POLITIK DALAM SISTEM PEMILU PROPORSIONAL TERBUKA TINJAUAN YURIDIS HAK RECALL OLEH PARTAI POLITIK DALAM SISTEM PEMILU PROPORSIONAL TERBUKA.

0 2 17

SKRIPSI TINJAUAN YURIDIS HAK RECALL OLEH PARTAI POLITIK TINJAUAN YURIDIS HAK RECALL OLEH PARTAI POLITIK DALAM SISTEM PEMILU PROPORSIONAL TERBUKA.

0 3 15

PENDAHULUAN TINJAUAN YURIDIS HAK RECALL OLEH PARTAI POLITIK DALAM SISTEM PEMILU PROPORSIONAL TERBUKA.

0 6 26

RECALL PARTAI POLITIK TERHADAP ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT INDONESIA DALAM KORELASINYA DENGAN TEORI KEDAULATAN RAKYAT DAN PELAKSANAAN TEORI KEDAULATAN HUKUM.

0 2 15

RECALL PARTAI POLITIK TERHADAP ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT INDONESIA DALAM KORELASINYA DENGAN TEORI KEDAULATAN RAKYAT DAN PELAKSANAAN TEORI KEDAULATAN HUKUM. - Repositori Universitas Andalas

0 2 11

RECALL PARTAI POLITIK TERHADAP ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT INDONESIA DALAM KORELASINYA DENGAN TEORI KEDAULATAN RAKYAT DAN PELAKSANAAN TEORI KEDAULATAN HUKUM. - Repositori Universitas Andalas

0 0 1

RECALL PARTAI POLITIK TERHADAP ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT INDONESIA DALAM KORELASINYA DENGAN TEORI KEDAULATAN RAKYAT DAN PELAKSANAAN TEORI KEDAULATAN HUKUM. - Repositori Universitas Andalas

0 0 2

RECALL PARTAI POLITIK TERHADAP ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT INDONESIA DALAM KORELASINYA DENGAN TEORI KEDAULATAN RAKYAT DAN PELAKSANAAN TEORI KEDAULATAN HUKUM. - Repositori Universitas Andalas

0 0 1

Hak Recall Partai Politik dalam Sistem P

0 0 17