Pengaruh Pola Asuh terhadap Status Gizi Anak Balita di Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar

PENGARUH POLA ASUH TERHADAP STATUS GIZI ANAK BALITA DI KECAMATAN SUKAMAKMUR KABUPATEN ACEH BESAR
TESIS Oleh
ZULFADLI 087032014/IKM
PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2012
Universitas Sumatera Utara

THE INFLUENCE OF NURSING PATTERN ON THE NUTRITIONAL STATUS OF CHILDREN UNDER FIVE YEARS OLD IN SUKAMAKMUR SUBDISTRICT ACEH BESAR DISTRICT
THESIS
By ZULFADLI 087032014/IKM
MAGISTER OF COMMUNITY HEALTH SCIENCE STUDY PROGRAM FACULTY OF PUBLIC HEALTH
UNIVERSITY OF SUMATERA UTARA MEDAN 2012
Universitas Sumatera Utara

PENGARUH POLA ASUH TERHADAP STATUS GIZI ANAK BALITA DI KECAMATAN SUKAMAKMUR KABUPATEN ACEH BESAR
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Administrasi dan Kebijakan Gizi Masyarakat
pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara
OLEH
ZULFADLI 087032014/IKM
PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2012
Universitas Sumatera Utara

Judul Tesis
Nama Mahasiswa Nomor Induk Mahasiswa Program Studi Minat Studi

: PENGARUH POLA ASUH TERHADAP
STATUS GIZI ANAK BALITA DI
KECAMATAN SUKAMAKMUR KABUPATEN
ACEH BESAR : Zulfadli : 087032014 : S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat : Administrasi dan Kebijakan Gizi Masyarakat

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes) Ketua

(Dra. Jumirah, Apt, M.Kes) Anggota

Dekan

(Dr. Drs. Surya Utama, M.S)

Tanggal Lulus : 2 Februari 2012

Universitas Sumatera Utara

Telah diuji pada Tanggal : 2 Februari 2012

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua

: Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes

Anggota

: 1. Dra. Jumirah, Apt., M.Kes

2. Prof. Dr. Ir. Albiner Siagian, M.Si

3. Ernawati Nasution, S.K.M, M.Kes

Universitas Sumatera Utara

PERNYATAAN PENGARUH POLA ASUH TERHADAP STATUS GIZI ANAK BALITA
DI KECAMATAN SUKAMAKMUR KABUPATEN ACEH BESAR TESIS
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar sarjana di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, Maret 2012 Zulfadli
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Masalah gizi pada anak balita tidak semata-mata karena faktor ekonomi, tetapi pengetahuan ibu adalah salah satu faktor yang ikut memengaruhi terhadap pola asuh yang dilakukan ibu terhadap anak balita meliputi asuh makan dan asuh kesehatan. Berdasarkan data Sistem Pelaporan dan Pencatatan Terpadu Puskesmas (SP2TP) dari Puskesmas Sukamakmur tahun 2010, diketahui anak balita status gizi buruk sebesar 4,2% dan gizi kurang 8,4%.
Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis pengaruh pola asuh (asuh makan dan asuh kesehatan) terhadap status gizi anak Balita di Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar. Jenis penelitian adalah survei dengan tipe explanatory research. Populasi adalah seluruh ibu yang mempunyai anak balita berjumlah 369 orang. Sampel diambil menggunakan rumus Taro Yamane dan didapat sebanyak 79 orang. Pengumpulan data karakteristik, pola asuh makan menggunakan wawancara berpedoman pada kuesioner dan jenis makan serta kecukupan energi protein menggunakan formulir recall makanan anak balita 24 jam. Pola asuh kesehatan menggunakan wawancara berpedoman kepada kuesioner. Analisis data menggunakan uji regresi logistik berganda pada tingkat kemaknaan 95%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa status gizi anak balita (1-5 tahun) berdasarkan indeks BB/U diperoleh gizi kurang (55,7%). Pola asuh makan yang diterapkan ibu kepada anak balita berusia 1 sampai dengan 3 tahun baik (50,8%), berusia 4 sampai 5 tahun tidak baik (85%), Demikian juga pola kesehatan anak balita berusia 1 sampai dengan 3 tahun baik (52,5%), berusia 4 sampai 5 tahun tidak baik (70%). Ada pengaruh pola asuh (makan dan kesehatan) terhadap status gizi anak balita. Pola asuh makan lebih dominan memengaruhi status gizi anak balita.
Kesimpulan dari hasil penelitian bahwa pola asuh makan dan pola asuh kesehatan berpengaruh terhadap status gizi anak balita di Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar. Disarankan kepada Dinas Kesehatan Aceh Benar dan instansi terkait menggalakkan kembali program ASI Eksklusif dengan menggalakkan petugas kesehatan untuk memberikan penyuluhan secara kontinu tentang bahan atau jenis makanan yang bergizi, murah dan mudah diperoleh untuk anak balita. Diharapkan peranserta keluarga/masyarakat dalam mendukung program posyandu dan kadarzi sehingga menerapkan pengelolaan makan bergizi, pola hidup sehat, dan membawa anak balita ke posyandu/puskemsas untuk memeriksakan kesehatan setiap bulan dalam memantau pertumbuhannya.
Kata kunci : Pola Asuh, Status Gizi, Balita
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
Malnutrition in children under five years old is not merely due to economic factor but it is also influenced by their mothers’ knowledge about the nursing care of the children‘s meal and health. Based on the Integrated Recording and reporting System of Sukamakmur Health Center in 2010, it is found out that the number of children under five years old severe under nutrition was 4.2% and under nutrition was 8.4%.
The purpose of this explanatory survey study was to analyze the influence of nursing pattern (meal and health) on the nutritional status of children under five years old in Sukamakmur Subdistrict, Aceh Besar District. The populations of this study were all of the 369 mothers with children under five years old, and 79 of them were selected to be the samples for this study through Slovin formula. The data concerning characteristics, meal pattern and health pattern for this study were obtained through questionnaire-based interviews and the data concerning kind of food consumed and protein energy sufficiency were obtained through the forms of recall for the food consumed by the children under five years old within 24 hours. The data obtained were analyzed through multiple logistic regression tests at a 95%.
The result of this study showed that, based on the Body Weight/Age Index, the nutritional status of the children under five years old (1- 5 years old) was inadequate (55.7%). The eating pattern applied by the mothers to their children of 1 -3 years old was good (50.8%) and to those of 4 to 5 years old was poor (85%). The health pattern of the children of 1-3 years old was good (52.5%) and to those of 4 to 5 years old was poor (70%). Therefore, nursing care (meal and health) had influence on the nutritional status of the children under five years old. Eating pattern (nursing care) was more dominant in influencing the nutritional status of the children under five years old.
The conclusion drawn from the result of this study is that eating and health nursing patterns had influence on the nutritional status of the children under five years old in Sukamakmur Subdistrict, Aceh Besar District. The management of Aceh Besar District Health Service and related agencies are suggested to reactivate the Exclusive Breastfeeding Program by encouraging the health workers to continuously provide extensions about food that is accessible cheap and nutritious for children under five years old. The participation of family/community in support to the programs of posyandu and kadarzi so that implement the management of nutritious food, the pattern of healthy living, and taking the children under five years old to posyandu/puskesmas to have their health examined/checked every month to monitor their growth.
Keywords: Nursing Pattern, Nutritional Status, Children Under Five Years Old,
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberi rahmat dan hidayat-Nya sehingga dengan izin-Nya penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul ”Pengaruh Pola Asuh terhadap Status Gizi Anak Balita di Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar”.
Tesis ini merupakan salah satu persyaratan akademik untuk menyelesaikan pendidikan Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Administrasi dan Kebijakan Gizi Masyarakat pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Medan.
Dalam menyusun tesis ini, penulis mendapat bantuan, dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Rektor Universitas Sumatera Utara Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, D.T.M&H.,
M.Sc (CTM)., Sp.A, (K). 2. Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Dr. Drs. Surya
Utama, M.S atas kesempatan penulis menjadi mahasiswa Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. 3. Ketua Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si dan Sekretarisnya Dr. Ir. Evawany Aritonang, M.Si.
Universitas Sumatera Utara

4. Ketua Komisi Pembimbing Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes dan Anggota Komisi Pembimbing Dra. Jumirah, Apt. M. Kes atas segala ketulusannya dalam menyediakan waktu untuk memberikan bimbingan, dorongan, saran dan perhatian selama proses proposal hingga penulisan tesis ini selesai.
5. Penguji Prof. Dr. Ir.Albiner Siagian, M.Si dan Anggota Komisi Penguji Ernawati Nasution, M.Kes yang telah banyak memberikan saran, bimbingan dan perhatian selama penulisan tesis.
6. Kepala Dinas Kabupaten Aceh Besar dan Camat Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar yang telah banyak membantu dan memberikan dukungan kepada penulis dalam rangka menyelesaikan pendidikan pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Medan.
7. Para dosen, staf administrator serta semua pihak yang terkait di lingkup Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Administrasi dan Kebijakan Gizi Masyarakat pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
8. Orangtua penulis, istri dan anak-anak tercinta serta keluarga besar yang telah memberikan dukungan moril serta doa dan motivasi selama penulis menjalani pendidikan.
9. Teman-teman seperjuangan di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara, atas bantuannya dan memberikan semangat dalam penyusunan tesis.
Universitas Sumatera Utara

Akhirnya saya menyadari segala keterbatasan yang ada. Untuk itu, saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan tesis ini, dengan harapan, semoga tesis ini bermanfaat bagi pengambil kebijakan di bidang kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Medan, Maret 2012 Penulis Zulfadli
Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP Zulfadli lahir pada tanggal 6 Juni 1969 di Aceh Besar Provinsi Aceh, beragama Islam, bertempat tinggal di Desa Lambirah Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar Provinsi Aceh. Menikah dengan Suryani pada tanggal 8 September 2000 dan dikarunia 2 orang putra dan 1 orang putri, yaitu Muhammad Rian Fazillah, Muhammad Alvin Syihaq dan Zulida Rahmah Pendidikan, SDN 2 Sibreh (1981), SMPN Sibreh (1984), SMA Swasta Mugayatsyah (1987), SPAG Banda Aceh (1990), Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Aceh Banda Aceh (2003). Bekerja sebagai staf gizi di Puskesmas Sulimum tahun 1992-2000), kemudian pindah ke Puskesmas Suka Makmur Kabupaten Aceh Besar sebagai Staf Gizi (2000sekarang).
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK. .................................................................................................. ABSTRACT .................................................................................................. KATA PENGANTAR................................................................................. RIWAYAT HIDUP ..................................................................................... DAFTAR ISI................................................................................................ DAFTAR TABEL ....................................................................................... DAFTAR GAMBAR................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ...............................................................................

BAB 1.

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ...................................................................... 1.2 Permasalahan ........................................................................ 1.3 Tujuan Penelitian ................................................................. 1.4 Hipotesis................................................................................ 1.5 Manfaat Penelitian ................................................................

BAB 2.

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Status Gizi .............................................................................
2.1.1 Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Status Gizi Anak Balita .........................................................................
2.1.2 Klasifikasi Status Gizi Anak Balita........................... 2.1.3 Pengukuran Status Gizi Anak Balita......................... 2.2 Kecukupan Gizi Anak Balita ................................................ 2.3 Konsep Pola Asuh ................................................................. 2.3.1 Asuh Makan .............................................................. 2.3.2 Asuh Kesehatan......................................................... 2.4 Landasan Teori...................................................................... 2.5 Kerangka Konsep .................................................................

BAB 3.

METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian...................................................................... 3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................ 3.3 Populasi dan Sampel ............................................................. 3.4 Metode Pengumpulan Data ...................................................
3.4.1 Data Primer ............................................................... 3.4.2 Data Sekunder ........................................................... 3.4.3 Uji Validitas dan Reliabilitas ....................................

i ii iii vi vii ix xi xii
1 9 9 9 9
11
12 14 16 19 20 22 27 28 29
30 30 30 31 31 32 32

Universitas Sumatera Utara

BAB 4.

3.5 Variabel dan Definisi Operasional ..................................... 3.6 Metode Pengukuran .............................................................. 3.7 Metode Analisis Data............................................................
HASIL PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ..................................
4.1.1 Komposisi Penduduk ................................................ 4.2 Karakteristik Ibu ................................................................ 4.3 Karakteristik Balita ............................................................ 4.4 Jenis Makanan.................................................................... 4.5 Konsumsi Energi dan Protein Berdasarkan Umur ............. 4.6 Pola Asuh Makan Berdasarkan Umur Balita ..................... 4.7 Pola Asuh Kesehatan Berdasarkan Umur Balita................ 4.8 Status Gizi Balita ............................................................... 4.9 Hubungan Pola Asuh Makan dengan Status Gizi Balita di
Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar.............. 4.10 Hubungan Pola Asuh Kesehatan dengan Status Gizi Balita
di Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar ......... 4.11 Pola Asuh terhadap Status Gizi Anak Balita di Kecamatan
Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar.................................

BAB 5.

PEMBAHASAN 5.1 Pola Asuh Anak Balita di Kecamatan Sukamakmur
Kabupaten Aceh Besar....................................................... 5.1.1. Pengaruh Pola Asuh Makan terhadap Status Gizi
Anak Balita di Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar........................................... 5.1.2. Pengaruh Pola Asuh Kesehatan terhadap Status Gizi Anak Balita di Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar...........................................

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan .......................................................................... 6.2 Saran......................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................

LAMPIRAN.................................................................................................

34 35 37
38 38 39 40 41 42 43 44 44
45
46
46
49
49
50
55 56 57 60

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

No.

Judul

Halaman

2.1. Kebutuhan Zat Gizi Anak Balita berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG Rata-Rata Perhari).................................
2.2. Pola Pemberian Makanan Anak Balita Menu 1 ..........................
2.3. Pola Pemberian Makanan Anak Balita Menu 1I.........................
3.1. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Butir Instrumen Variabel Penelitian ....................................................................................
3.2 Baku Antropometri menurut Standar WHO 2005 ......................
4.1. Distribusi Karakteristik Ibu yang mempunyai Balita di Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar.......................
4.2. Distribusi Karakteristik Balita di Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar................................................................
4.3. Distribusi Jenis Makanan Sehari-hari Berdasarkan Umur Balita di Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar ..................
4.4. Distribusi Frekuensi Konsumsi Energi Berdasarkan Umur Balita di Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar ........
4.5. Distribusi Frekuensi Konsumsi Protein Berdasarkan Umur Balita di Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar ........
4.6. Distribusi Frekuensi Pola Asuh Makan Balita Berdasarkan Umur Balita di Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar............................................................................................
4.7. Distribusi Frekuensi Pola Asuh Kesehatan Balita Berdasarkan Umur Balita di Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar............................................................................................
4.8. Distribusi Frekuensi Status Gizi Balita Berdasarkan Umur Balita di Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar ........

20 26 26 33 35 40 41 42 42 43
44
44 45

Universitas Sumatera Utara

4.9. 4.10. 4.11.

Hubungan Pola Asuh Makan dengan Status Gizi Balita di Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar.......................
Hubungan Pola Asuh Kesehatan dengan Status Gizi Balita di Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar.......................
Hasil Uji Regresi Logistik Pola Asuh terhadap Status Gizi Anak Balita di Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar............................................................................................

45 46 47

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

No.

Judul

Halaman

2.1 Faktor Penyebab Gizi Kurang ....................................................

28

2.2 Kerangka Konsep Penelitian ......................................................

29

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

No.

Judul

Halaman

1. Surat Izin Penelitian dari Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat USU ..............................
2 Surat Telah Selesai Meneliti dari Puskesmas Sukamakmur ................ 3. Kuesioner Penelitian ............................................................................ 4. Pengolahan Data .................................................................................. 5. Master Data ..........................................................................................

60 61 62 69 81

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Masalah gizi pada anak balita tidak semata-mata karena faktor ekonomi, tetapi pengetahuan ibu adalah salah satu faktor yang ikut memengaruhi terhadap pola asuh yang dilakukan ibu terhadap anak balita meliputi asuh makan dan asuh kesehatan. Berdasarkan data Sistem Pelaporan dan Pencatatan Terpadu Puskesmas (SP2TP) dari Puskesmas Sukamakmur tahun 2010, diketahui anak balita status gizi buruk sebesar 4,2% dan gizi kurang 8,4%.
Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis pengaruh pola asuh (asuh makan dan asuh kesehatan) terhadap status gizi anak Balita di Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar. Jenis penelitian adalah survei dengan tipe explanatory research. Populasi adalah seluruh ibu yang mempunyai anak balita berjumlah 369 orang. Sampel diambil menggunakan rumus Taro Yamane dan didapat sebanyak 79 orang. Pengumpulan data karakteristik, pola asuh makan menggunakan wawancara berpedoman pada kuesioner dan jenis makan serta kecukupan energi protein menggunakan formulir recall makanan anak balita 24 jam. Pola asuh kesehatan menggunakan wawancara berpedoman kepada kuesioner. Analisis data menggunakan uji regresi logistik berganda pada tingkat kemaknaan 95%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa status gizi anak balita (1-5 tahun) berdasarkan indeks BB/U diperoleh gizi kurang (55,7%). Pola asuh makan yang diterapkan ibu kepada anak balita berusia 1 sampai dengan 3 tahun baik (50,8%), berusia 4 sampai 5 tahun tidak baik (85%), Demikian juga pola kesehatan anak balita berusia 1 sampai dengan 3 tahun baik (52,5%), berusia 4 sampai 5 tahun tidak baik (70%). Ada pengaruh pola asuh (makan dan kesehatan) terhadap status gizi anak balita. Pola asuh makan lebih dominan memengaruhi status gizi anak balita.
Kesimpulan dari hasil penelitian bahwa pola asuh makan dan pola asuh kesehatan berpengaruh terhadap status gizi anak balita di Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar. Disarankan kepada Dinas Kesehatan Aceh Benar dan instansi terkait menggalakkan kembali program ASI Eksklusif dengan menggalakkan petugas kesehatan untuk memberikan penyuluhan secara kontinu tentang bahan atau jenis makanan yang bergizi, murah dan mudah diperoleh untuk anak balita. Diharapkan peranserta keluarga/masyarakat dalam mendukung program posyandu dan kadarzi sehingga menerapkan pengelolaan makan bergizi, pola hidup sehat, dan membawa anak balita ke posyandu/puskemsas untuk memeriksakan kesehatan setiap bulan dalam memantau pertumbuhannya.
Kata kunci : Pola Asuh, Status Gizi, Balita
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
Malnutrition in children under five years old is not merely due to economic factor but it is also influenced by their mothers’ knowledge about the nursing care of the children‘s meal and health. Based on the Integrated Recording and reporting System of Sukamakmur Health Center in 2010, it is found out that the number of children under five years old severe under nutrition was 4.2% and under nutrition was 8.4%.
The purpose of this explanatory survey study was to analyze the influence of nursing pattern (meal and health) on the nutritional status of children under five years old in Sukamakmur Subdistrict, Aceh Besar District. The populations of this study were all of the 369 mothers with children under five years old, and 79 of them were selected to be the samples for this study through Slovin formula. The data concerning characteristics, meal pattern and health pattern for this study were obtained through questionnaire-based interviews and the data concerning kind of food consumed and protein energy sufficiency were obtained through the forms of recall for the food consumed by the children under five years old within 24 hours. The data obtained were analyzed through multiple logistic regression tests at a 95%.
The result of this study showed that, based on the Body Weight/Age Index, the nutritional status of the children under five years old (1- 5 years old) was inadequate (55.7%). The eating pattern applied by the mothers to their children of 1 -3 years old was good (50.8%) and to those of 4 to 5 years old was poor (85%). The health pattern of the children of 1-3 years old was good (52.5%) and to those of 4 to 5 years old was poor (70%). Therefore, nursing care (meal and health) had influence on the nutritional status of the children under five years old. Eating pattern (nursing care) was more dominant in influencing the nutritional status of the children under five years old.
The conclusion drawn from the result of this study is that eating and health nursing patterns had influence on the nutritional status of the children under five years old in Sukamakmur Subdistrict, Aceh Besar District. The management of Aceh Besar District Health Service and related agencies are suggested to reactivate the Exclusive Breastfeeding Program by encouraging the health workers to continuously provide extensions about food that is accessible cheap and nutritious for children under five years old. The participation of family/community in support to the programs of posyandu and kadarzi so that implement the management of nutritious food, the pattern of healthy living, and taking the children under five years old to posyandu/puskesmas to have their health examined/checked every month to monitor their growth.
Keywords: Nursing Pattern, Nutritional Status, Children Under Five Years Old,
Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Keberhasilan pembangunan suatu bangsa berkaitan erat dengan kualitas
Sumber Daya Manusia (SDM) yang baik. Dalam menciptakan SDM yang bermutu, perlu ditata sejak dini, yaitu dengan memerhatikan kesehatan anak-anak, khususnya anak Balita. Derajat kesehatan yang tinggi dalam pembangunan ditujukan untuk mewujudkan manusia yang sehat, cerdas, dan produktif. Salah satu unsur penting dari kesehatan adalah masalah gizi. Gizi sangat penting bagi kehidupan. Kekurangan gizi pada anak dapat menimbulkan beberapa efek negatif seperti lambatnya pertumbuhan badan, rawan terhadap penyakit, menurunnya tingkat kecerdasan, dan terganggunya mental anak. Kekurangan gizi yang serius dapat menyebabkan kematian anak (Santoso, 2004).
Anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi karena pada masa seperti ini pada anak masih terjadi proses pertumbuhan dan perkembangan yang memerlukan zat-zat gizi dalam jumlah yang besar dan pada masa seperti ini kelangsungan serta kualitas hidup anak sangat tergantung pada ibu atau orangtuanya. Gambaran masalah kesehatan anak di Indonesia ditandai dengan masih tingginya angka kejadian penyakit dan gangguan gizi yang disertai dengan kondisi lingkungan fisik dan sosial yang belum optimal menunjang kesehatan. Menurut Foster dan Anderson (2006), pada 4 trilyun manusia di dunia, ratusan juta
Universitas Sumatera Utara

orang menderita gizi buruk dan kekurangan gizi. Masalah kekurangan gizi berasal dari ketidakmampuan negara-negara non industri untuk menghasilkan cukup makan dan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang berkembang. Demikian juga dengan pendapat Hendrickse (2000), mengungkapkan permasalahan terkait dengan gizi di daerah tropis Afrika, bahwa seseorang balita kenyataaan mendapatkan sedikit daging, ikan atau telur, minimnya protein yang dikonsumsi balita tidak dianggap penting, karena kurangnya pengertian tentang kebutuhan khusus bagi anak-anak akan makanan yang mengandung protein, dan dalam tiap kasus pantangan lokal mungkin memberi pembatasan terhadap konsumsi berbagai makanan tersebut oleh anak-anak.
Suharjo (2005), mengungkapkan bahwa balita adalah harapan bangsa. Penundaan pemberian perhatian, pemeliharaan gizi yang kurang tepat terhadap Balita akan menurunkan nilai potensi mereka sebagai sumber daya pembangunan masyarakat dan ekonomi nasional. Mereka memerlukan penggarapan sedini mungkin apabila potensi mereka ditingkatan untuk pembangunan bangsa di masa depan. Demikian juga dengan (Djaeni, 2000), bahwa anak balita sedang mengalami proses pertumbuhan yang sangat pesat, sehingga memerlukan zat-zat makan yang relatif lebih banyak dengan kualitas yang lebih tinggi. Hasil pertumbuhan menjadi dewasa, sangat tergantung dari kondisi gizi dan kesehatan sewaktu masa Balita.
Anak-anak umur 0 – 5 tahun di negara berkembang merupakan golongan yang paling rawan terhadap gizi. Kelompok yang paling rawan di sini adalah periode pasca penyapihan khususnya kurun umur 1–3 tahun. Anak-anak biasanya menderita bermacam-macam infeksi serta berada dalam status gizi rendah. Penyapihan yang
Universitas Sumatera Utara

baik dianjurkan sampai anak berumur 2 tahun kemudian ketergantungan anak terhadap ASI sedikit demi sedikit akan berkurang. Hal ini berakibat masukan zat gizi hanya mengandalkan dari makanan yang diberikan. Makanan yang kurang gizi mengakibatkan kecukupan zat gizi anak tidak terpenuhi sehingga mudah terkena gizi kurang. Kekurangan gizi pada anak balita dipengaruhi oleh ketidakcukupan konsumsi makanan dengan setiap faktor yang memengaruhi dari kesehatan anak itu sendiri (Suhardjo, 2003).
Departemen Kesehatan (2006), menyebutkan bahwa pada tahun 2005 terdapat sekitar 19,24 % anak balita gizi kurang, 8,8 % anak dalam tingkat gizi anak mengalami gizi buruk. Persentase angka tersebut mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Gizi buruk atau gizi kurang yang dialami oleh anak akan membawa dampak yang negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangannya. Menurut Falah (2006), anak-anak dengan status gizi kurang atau buruk, tidak akan tumbuh dan berkembang dengan baik. Selain berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan anak, status gizi juga berpengaruh pada kecerdasan anak yang cenderumg memilki tingkat kecerdasan lebih rendah.
Nancy dan Arifin (2005), mengemukakan konsekuensi dari gizi buruk adalah loss generation, karena gizi buruk bukan hanya menjadi stigma yang ditakuti, hal ini tentu saja terkait dengan dampak terhadap sosial ekonomi keluarga maupun negara. Gizi kurang berpotensi menjadi penyebab kemiskinan melalui rendahnya kualitas sumber daya manusia dan produktivitas. Tidak heran jika gizi buruk tidak dikelola
Universitas Sumatera Utara

dengan baik, pada fase akutnya akan mengancam jiwa dan secara jangka panjang akan menjadi ancaman hilangnya sebuah generasi penerus bangsa.
Masalah gizi dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling memengaruhi secara kompleks. Ditingkat rumah tangga, keadaan gizi dipengaruhi oleh kemampuan rumah tangga dalam menyediakan pangan, baik jumlah maupun jenisnya yang cukup dan pola asuh yang dipengaruhi oleh faktor pendidikan, perilaku dan keadaan kesehatan rumah tangga. Salah satu penyebab timbulnya gizi kurang pada anak balita adalah akibat pola asuh anak yang kurang memadai (Soekirman, 2000).
Timbulnya masalah gizi pada anak balita tidak semata-mata karena faktor ekonomi, tetapi pengetahuan ibu salah satu faktor yang ikut memengaruhi terhadap pola asuh yang dilakukan ibu terhadap anak balita, meliputi asuh makan, asuh diri maupun asuh kesehatan. Pola asuh tersebut akan memengaruhi status gizi anak balita. Menurut Suhardjo (2003), pengetahuan gizi dipengaruhi oleh berbagai faktor, disamping pendidikan yang pernah dijalani, faktor lingkungan sosial dan frekuensi kontak dengan media massa juga memengaruhi pengetahuan gizi. Salah satu sebab gangguan gizi adalah kurangnya pengetahuan gizi atau kemauan untuk menerapkan informasi tentang gizi dalam kehidupan sehari-hari
Sesuai dengan kerangka konsep UNICEF (1998), bahwa masalah kurang gizi terjadi karena penyebab langsung, penyebab tidak langsung dan pokok masalah di masyarakat. Pengetahuan gizi dan kesehatan ibu merupakan pokok permasalahan di masyarakat yang dapat menyebabkan terjadinya kurang gizi. Kurangnya pengetahuan
Universitas Sumatera Utara

tentang gizi, kesehatan, sanitasi dan air bersih/pelayanan kesehatan dasar dan tidak cukupnya persediaan pangan maka akan memengaruhi pola asuh anak.
Peran ibu dalam pertumbuhan dan perkembangan anak sangatlah dominan untuk mengasuh dan mendidik anak agar tumbuh dan berkembang menjadi anak yang berkualitas. Pola asuh yang diterapkan oleh ibu dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan anak khususnya status gizi anak. Widayani (2001), menemukan korelasi yang positif antara pola asuh ibu dengan status gizi anaknya. Proses mengasuh dan mendidik anak memerlukan waktu yang cukup, walaupun saat ini berkembang bahwa pola pengasuhan itu yang terpenting adalah kualitasnya, tetapi tetap saja diperlukan kuantitas dalam hal ini waktu kebersamaan ibu dengan anaknya. Jelas sudah bahwa seorang ibu mempunyai peranan penting dalam mengasuh menentukan status gizi yang baik bagi anak-anaknya sehingga anak tersebut dapat tumbuh dan berkembang menjadi insan yang berkualitas.
Santoso (2005), menyatakan bahwa pengasuhan merupakan faktor yang sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan dan perkembangan anak berusia di bawah lima tahun. Masa anak usia 1-5 tahun (balita) adalah masa dimana anak masih sangat membutuhkan suplai makanan dan gizi dalam jumlah yang cukup dan memadai. Kekurangan gizi pada dapat menimbulkan gangguan tumbuh kembang secara fisik, mental, sosial dan intelektual yang sifatnya menetap dan terus dibawa sampai anak menjadi dewasa. Pada masa ini juga, anak masih benar-benar tergantung pada perawatan dan pengasuhan oleh ibunya. Pengasuhan kesehatan dan makanan pada tahun pertama kehidupan sangatlah penting untuk perkembangan anak. Secara lebih
Universitas Sumatera Utara

spesifik, kekurangan gizi dapat menyebabkan keterlambatan pertumbuhan badan, lebih penting lagi keterlambatan perkembangan otak dan dapat pula terjadinya penurunan atau rendahnya daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi.
Hasil penelitian Yulia (2008), mengungkapkan bahwa pola asuh makan dan kesehatan berhubungan positif dengan status gizi anak balita indeks BB/U ( r = 0,253 ; P < 0,05). Pola asuh makan berhubungan dengan tingkat kecukupan energi anak balita ( r = 0,257 ; P < 0,05). Status kesehatan berhubungan negatif dengan status gizi anak balita (r = - 0,710 ; P < 0,01). Faktor-faktor yang berpengaruh nyata terhadap status gizi anak balita dengan indeks BB/U, TB/U dan BB/TB adalah lama sakit infeksi yang diderita oleh anak balita. Faktor lain yang berpengaruh nyata terhadap status gizi adalah tingkat kecukupan energi anak balita. Tingkat kecukupan energi anak balita mempunyai nilai beta negatif, hal ini kemungkinan disebabkan oleh tingginya lama sakit infeksi yang diderita. Kemungkinan lain adalah pengambilan data konsumsi yang dilakukan dalam satu waktu dan metode recall yang hanya dilakukan 2 x 24 jam di Kebun Malabar PTPN VIII. Desa Banjarsari Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat.
Hasil penelitian Ariga (2006), mengungkapkan bahwa status gizi anak berdasarkan indeks BB/U, yaitu gizi baik sebesar 59,86%, gizi kurang sebesar 25,85% dan gizi buruk 13,60% serta gizi lebih 0,68%. Gambaran pola asuh meliputi perhatian/dukungan untuk wanita sebesar 86,39% kategori baik, praktek pemberian makan sebesar 59,18% kategori baik, rangsangan psikosial dan praktek hygiene dan sanitasi lingkungan sebesar 78,23% kategori baik dan perawatan keluarga sedang
Universitas Sumatera Utara

sakit sebesar 61,23% kategori baik. Pola asuh, yaitu praktek pemberian makan berhubungan dengan status gizi di Kabupaten Bener Meriah.
Hasil penelitian Yusrizal (2008), mengungkapkan bahwa faktor sosial ekonomi masyarakat (tingkat pendidikan, jenis pekerjaan) dan faktor budaya masyarakat (tingkat pengetahuan, pola makan anak balita) berpengaruh terhadap status gizi anak balita. Variabel pengetahuan merupakan variabel yang sangat berpengaruh dan paling dominan pengaruhnya terhadap status gizi anak balita di wilayah Pesisir Kabupaten Bireuen. Demikian juga dengan hasil penelitian Emiralda (2006), di wilayah kerja Puskesmas Montasik Kecamatan Aceh Besar Kabupaten Aceh Besar menyimpulkan bahwa jenis makanan yang diberikan dan frekuensi makan berpengaruh terhadap kekurangan gizi anak balita.
Prevalensi gizi buruk di Indonesia adalah 5,4% dan gizi kurang yaitu 13,0% atau 18,4% untuk gizi kurang dan gizi buruk. Dibandingkan dengan target pembangunan gizi di Indonesia adalah menurunkan gizi kurang pada tahun 2010 sekurang-kurangnya menjadi 50% dari prevalensi tahun 2005, yaitu sebesar 19,4% (Bappenas, 2009), maka tahun 2010 seharusnya angka gizi kurang sebesar 9,7%. Dengan demikian tingkat pencapaian program penanggulangan gizi kurang masih perlu ditingkatkan.
Prevalensi balita sangat kurus di Provinsi Aceh sebesar 6,3 persen, kurus sebesar 7,9 persen dan kurus + sangat kurus 14,2 persen (Riskesdas, 2010). Status gizi anak balita di Kabupaten Aceh Besar yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Besar dengan rincian status gizi buruk sebesar 5,5% dan gizi kurang
Universitas Sumatera Utara

9,6%, hal ini menunjukkan persentase anak balita dengan status gizi buruk dan gizi kurang memberikan kontribusi terbesar dari total persentase gizi di Provinsi Aceh (Dinkes Kabupaten Aceh Besar, 2010).
Berdasarkan data Sistem Pelaporan dan Pencatatan Terpadu Puskesmas (SP2TP) dari Puskesmas Sukamakmur tahun 2010, diketahui anak balita status gizi buruk sebesar 4,2% dan gizi kurang 8,4%. Data tersebut menunjukkan persentase anak balita dengan status gizi buruk dan gizi kurang memberikan kontribusi terbesar dari total persentase gizi di Kabupaten Aceh Besar (Puskesmas Sukamakmur, 2010).
Survey awal yang dilakukan peneliti melalui wawancara langsung terhadap 10 ibu yang memiliki anak balita ditemukan melalui KMS status anak balita dengan kriteria dibawah garis merah (10%), hal ini menunjukkan gambaran bahwa ibu-ibu pada umumnya cenderung tidak mengetahui cara pengolahan pangan untuk anak balitanya (12%), kurang mengetahui perawatan kesehatan bagi anak balita yang sakit (27%), kurang memperhatikan kebersihan anak balita (20%), kebersihan makanan yang diberikan kepada anak balita dan kebersihan lingkungan rumah (38%). Berdasarkan latar belakang, survei awal dan beberapa penelitian terdahulu, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang ”Pengaruh Pola Asuh terhadap Status Gizi Anak Balita di Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar”.
Universitas Sumatera Utara

1.2. Permasalahan Berdasarkan uraian di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam
penelitian ini adalah bagaimana pengaruh pola asuh (asuh makan dan asuh kesehatan) terhadap status gizi anak Balita di Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar?
1.3. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh pola asuh (asuh
makan dan asuh kesehatan) terhadap status gizi anak Balita di Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar.
1.4. Hipotesis Ada pengaruh pola asuh (asuh makan dan asuh kesehatan) terhadap status gizi
anak balita di Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar.
1.5. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan bermanfaat :
1. Sebagai masukan bagi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Besar dalam menyusun kebijakan pengelolaan program perbaikan gizi serta merencanakan program penanggulangan masalah gizi anak Balita.
2. Sebagai masukan bagi puskesmas di Kecamatan Sukamakur dalam peningkatan program perbaikan gizi sebagai upaya penanggulangan masalah status gizi anak balita.
Universitas Sumatera Utara

3. Sebagai masukan bagi tenaga pengelola Program Gizi Puskesmas di Kecamatan Sukamakur dalam menyusun rencana kerja untuk penanggulangan masalah status gizi anak balita.
Universitas Sumatera Utara

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Status Gizi Menurut Soekirman (2000), status gizi berarti keadaan fisik seseorang atau
sekelompok orang yang ditentukan dengan salah satu atau kombinasi dari ukuranukuran gizi tertentu. Sedangkan Supariasa (2002), satus gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu atau perwujudan dari nutrisi dalam bentuk variabel tertentu dan merupakan indeks yang statis dan agregatif sifatnya kurang peka untuk melihat terjadinya perubahan dalam waktu yang pendek misalnya dalam sebulan.
Menurut Suharjo (2003), status gizi adalah keadaan kesehatan individu atau kelompok yang ditentukan oleh derajat kebutuhan fisik dan energi serta zat gizi lainnya yang diperoleh dari pangan, makanan dan fisiknya dapat diukur secara antropometri.
Menurut Depkes RI (2002), status gizi merupakan tanda-tanda penampilan seseorang akibat keseimbangan antara pemasukan dan penggunaan zat gizi yang berasal dari pangan yang dikonsumsi pada suatu saat didasarkan pada kategori dan indikator yang digunakan.
Universitas Sumatera Utara

2.1.1. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Status Gizi Anak Balita Menurut UNICEF (1998), akar masalah faktor penyebab gizi kurang adalah
Krisis ekonomi, politik dan sosial. Hal tersebut menyebabkan terjadinya berbagai masalah pokok dalam masyarakat, seperti: (a) pengangguran, inflasi, kurang pangan dan kemiskinan, (b) kurang pemberdayaan wanita dan keluarga, kurang pemanfaatan sumber daya masyarakat serta (c) kurang pendidikan, pengetahuan dan ketrampilan. Masalah-masalah pokok pada masyarakat menyebabkan 3 (tiga) hal sebagai penyebab tidak langsung kurang gizi, yaitu (1) tidak cukup persediaan pangan, (2) pola asuh anak tidak memadai, dan (3) sanitasi dan air bersih, pelayanan kesehatan dasar tidak memadai. Timbulnya ketiga masalah tersebut mengakibatkan makanan tidak seimbang serta menimbulkan penyakit infeksi sebagai penyebab langsung kurang gizi.
Status gizi terutama ditentukan oleh ketersediaan zat-zat gizi pada tingkat sel dalam jumlah cukup dan dalam kombinasi yang tepat yang diperlukan tubuh untuk tumbuh, berkembang dan berfungsi normal. Pada prinsipnya status gizi ditentukan oleh dua hal yaitu asupan zat-zat gizi yang berasal dari makanan yang diperlukan tubuh dan peran faktor yang menentukan besarnya kebutuhan, penyerapan dan penggunaan zat-zat gizi tersebut. Terhadap 2 faktor tersebut, pola konsumsi dan aktivitas berperan.
Pola konsumsi pangan merupakan hasil budaya masyarakat yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan faktor manusia itu sendiri, seperti kebiasaan makan, pendapatan keluarga, pengetahuan gizi dan lain sebagainya. Sedangkan asupan zat-
Universitas Sumatera Utara

zat gizi dari makanan kedalam tubuh dipengaruhi oleh berat ringannya aktivitas atau pekerjaan seseorang.
Menurut Suhardjo (2003) faktor-faktor yang memengaruhi status gizi adalah : (1) faktor pertanian yang meliputi seluruh usaha pertanian mulai dari penanaman sampai dengan produksi dan pemasaran; (2) faktor ekonomi yaitu besarnya pendapatan keluarga yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga; (3) faktor sosial budaya meliputi kebiasaan makan, anggapan terhadap suatu makanan yang berkaitan dengan agama dan kepercayaan tertentu,kesukaan terhadap jenis makanan tertentu; (4) faktor fisiologi yaitu metabolisme zat gizi dan pemanfaatannya oleh tubuh, keadaan kesehatan seseorang, adanya keadaan tertentu misalnya hamil dan menyusui; dan (5) faktor infeksi yaitu adanya suatu penyakit infeksi dalam tubuh.
Selain faktor-faktor diatas faktor lain yang berpengaruh terhadap status gizi adalah besar keluarga, pengetahuan gizi dan tingkat pendidikan seseorang (Suhardjo, 2003). Besar keluarga meliputi banyaknya jumlah individu dalam sebuah keluarga, pembagian makan dalam keluarga dan jarak kelahiran anak.
Pengetahuan gizi akan berpengaruh terhadap pola konsumsi pangan seharihari dalam menyediakan kebutuhan pangan, sedangkan tingkat pendidikan seseorang akan memengaruhi daya nalar seseorang dalam interpretasi terhadap suatu hal.
Pada dasarnya status gizi ditentukan oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang berperan dalam penilaian status gizi adalah asupan zat-zat makanan kedalam tubuh, penyerapan dan penggunaan zat gizi, aktivitas yang dilakukan sehari-hari dan pola konsumsi sehari-hari. Faktor eksternal yang
Universitas Sumatera Utara

memengaruhi penilaian status gizi adalah faktor sosial budaya seperti kebiasaan makan dan larangan mengkonsumsi bahan makanan tertentu, faktor ekonomi seperti pendapatan keluarga, pengetahuan tentang gizi, ketersediaan bahan makanan, pelayanan kesehatan setempat, pemeliharaan kesehatan dan besar keluarga. 2.1.2. Klasifikasi Status Gizi Anak Balita
Status gizi anak balita memberikan refleksi tentang keadaan gizinya sebagai akibat dari keseimbangan konsumsi, penyerapan dan penggunaan zat gizi yang pada akhirnya memengaruhi keadaan tubuh anak balita tersebut. Hal ini sesuai dengan pengertian bahwa status gizi adalam keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat gizi (Almatsier, 2002).
Status gizi anak balita diklasifikasikan menjadi empat yaitu status gizi lebih status gizi baik, status gizi kurang dan buruk. a. Gizi Lebih
Orang yang kelebihan berat badan biasanya dikarenakan kelebihan jaringan lemak yang tidak aktif tersebut. Kategori berat badan lebih (gizi lebih) menurut WHO NCHS (2002) yaitu > +2 SD. Tetapi masih banyak pendapat di masyarakat yang mengira bahwa anak yang gemuk adalah sehat, sehingga banyak ibu yang merasa bangga kalau anaknya gemuk, dan disatu pihak ada ibu yang kecewa kalau melihat anaknya tidak segemuk anak tetangganya (Supariasa, 2002).
Untuk diagnosis obesitas harus ditemukan gejala klinis obesitas dan didukung dengan pemeriksaan antropometri yang jauh diatas normal. Pemeriksaan ini yang sering digunakan adalah berat badan terhadap tinggi badan, berat badan terhadap
Universitas Sumatera Utara

umur dan tebalnya lipatan kulit. Bentuk muka anak yang status gizi lebih atau obesitas tidak proporsional, yaitu hidung dan mulut relatif kecil, dagu ganda, dan biasanya anak lebih cepat mencapai masa pubertas (Supariasa, 2002). b. Gizi Baik
Status gizi baik yaitu keadaan dimana asupan zat gizi sesuai dengan adanya penggunaan untuk aktivitas tubuh. Hal ini diwujudkan dengan adanya keselarasan antara, tinggi badan terhadap umur, berat badan terhadap umur dan tinggi badan terhadap berat badan. Menurut Sediaoetama (2000), tingkat gizi sesuai dengan tingkat konsumsi yang menyebabkan tercapainya kesehatan gizi sesuai dengan tingkat konsumsi yang menyebabkan tercapainya kesehatan tersebut. Tingkat kesehatan gizi yang baik ialah kesehatan gizi optimum. Dalam kondisi ini jaringan penuh oleh semua zat gizi tersebut. Tubuh terbebas dari penyakit dan mempunyai daya tahan setinggi-tingginya.
Anak yang status gizi baik dapat tumbuh dan kembang secara normal dengan bertambahnya usia. Tumbuh atau pertumbuhan berkaitan dengan masalah perubahan dalam hal besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa diukur dengan ukuran berat, panjang, umur tulang dan keseimbangan metabolik. Sedangkan perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam stuktur dan fungsi tubuh yang komplek dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan (Supariasa, 2002).
Universitas Sumatera Utara

c. Gizi Kurang dan Gizi Buruk Status gizi kurang terjadi karena tubuh kekurangan satu atau beberapa macam
zat gizi yang diperlukan. Hal yang menyebabkan status gizi kurang karena kekurangan zat gizi yang dikonsumsi atau mungkin mutunya rendah. Gizi kurang pada dasarnya adalah gangguan pada beberapa segi kesejahteraan perorangan atau masyarakat yang disebabkan oleh tidak terpenuhinya kebutuhan akan zat gizi yang diperoleh dari makanan. Kurang gizi banyak menimpa anak khususnya anak balita yang berusia dibawah lima tahun karena merupakan golongan yang rentan serta pada fase ini kebutuhan tubuh akan zat gizi meningkat karena selain untuk tumbuh juga untuk perkembangan sehingga apabila anak kurang gizi dapat menimbulkan berbagai penyakit (Supariasa, 2002). 2.1.3. Pengukuran Status Gizi Anak Balita
Pengukuran atau penilaian status gizi anak balita dimaksudkan untuk mengetahui apakah anak balita tersebut mempunyai status gizi kurang, baik atau lebih. Pengukuran status gizi anak balita tersebut bertujuan untuk mengetahui sejauh mana keseimbangan antara zat gizi yang masuk dalam tubuh dengan zat gizi yang digunakan oleh tubuh, sehingga tercipta kondisi fisik yang optimal.
Ada berbagai cara dalam mengukur atau menilai status gizi seseorang yaitu melalui penilaian status gizi secara langsung yang dibagi dalam empat penilaian yaitu antropometri., klinis, biokimia, biofisik. Kedua adalah penilaian status gizi secara tidak langsung dibagi dalam tiga cara yaitu survey konsumsi pangan, statistik vital dan faktor ekologi
Universitas Sumatera Utara

Menurut Supariasa (2002), dewasa ini dalam program gizi masyarakat, pemantauan status gizi anak balita mengunakan metode antropometri sebagai cara untuk menilai status gizi. Mengingat keterbatasan waktu, tenaga dan biaya, maka dalam penelitian ini peneliti mengunakan penilaian status gizi dengan cara pemeriksaaan fisik yang disebut antropometri ini. antropometri sebagai indikator pengukuran parameter.
Adapun keunggulan antropometri adalah alatnya mudah didapat dan mudah digunakan, pengukuran dapat dilakukan berulang-ulang dengan mudah dan obyektif, pengukuran bukan hanya dilakukan dengan tenaga khusus professional, juga oleh tenaga lain setelah dilatih untuk itu, biayanya relatif murah, hasilnya mudah disimpulkan, dan diakui kebenarannya. Sedangkan kelemahan antropometri adalah tidak sensitif untuk mendeteksi status gizi dalam waktu singkat, faktor diluar gizi (penyakit, genetik, dan penurunan penggunaan energi) dapat menurunkan spesifikasi dan sensitifitas pengukuran antropometri. Kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran (Supariasa, 2002).
Cara yang dipakai untuk mengetahui status gizi balita adalah dengan cara antropometri yaitu pengukuran berat badan dikaitkan dengan umur dan klasifikasi dengan standart baku WHO NCHS (2002). Adapun keunggulan pengukurannya adalah lebih mudah dan lebih cepat dimengerti oleh masyarakat umum, baik untuk pengukuran status gizi akut dan kronis, Berat badan dapat berfluktuasi, sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan kecil, Dapat mendeteksi kegemukan. Sedangkan kelemahan antropometri adalah: D

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Pengaruh Pola Asuh terhadap Status Gizi Anak Balita di Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar