ABSTRAK USAHA-USAHA PETANI MISKIN DALAM MENINGKATKAN PENDAPATANNYA (Studi di Desa Karta Kecamatan Tulang Bawang Udik Kabupaten Tulang Bawang Barat)

(1)

ABSTRAK

USAHA-USAHA PETANI MISKIN DALAM MENINGKATKAN PENDAPATANNYA

(Studi di Desa Karta Kecamatan Tulang Bawang Udik Kabupaten Tulang Bawang Barat)

OLEH BUDI ARYANTO

Masyarakat petani sebagai bagian dari masyarakat Indonesia sangat berperan dalam upaya memenuhi kebutuhan pangan nasional di Indonesia, namun masyarakat petani mayoritas kehidupanya masih berada di garis kemiskinan. Hal ini di karenakan keterbatasan modal usaha, bibit ungul, pupuk, pestisida dan ilmu pengetahuan yang sangat mereka butuhkan untuk mengolah dan merawat jenis pertanian yang mereka budidayakan, selain itu rusaknya sarana dan prasarana yang menunjang usaha mereka juga turut menambah kesulitan yang mereka hadapi.

Dalam penelitian ini permasalahan yang diteliti adalah usaha-usaha yang di lakukan para petani dalam mengatasi kesulitan yang mereka hadapai seperti modal usaha, keterbatasan ilmu pengetahuan dalam mengolah lahan dan merawat tanaman pertanian yang mereka budidayakan, serta upaya-upaya apa yang telah mereka lakukan untuk menjaga sarana dan prasarana yang sangat menunjang usaha pertanian yang mereka miliki agar kualitas pertanian mereka menjadi lebih baik sehingga perekonomian mereka bisa meningkat.

Dalam penelitian ini ada 5 orang informan yang dijadikan sumber informasi yang di butuhkan. Sedangkan metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif obyeknya adalah manusia atau gejala sesuatu yang dipengaruhi manusia, obyek itu diteliti dalam kondisi sebagaimana adanya dalam keadaan sewajarnya atau secara naturalistik(natural setting). Dalam proses penelitian

deskriptif kualitatif, data yang didapatkan berisi perilaku dan keadaan individu secara keseluruhan. Penelitian kualitatif menunjukkan pada prosedur penelitian yang

menghasilkan data kualitatif, ungkapan atau catatan orang itu sendiri juga tingkah lakunya. Penelitian ini diadakan dengan cara observasi dan juga wawancara terhadap para petani yang telah lama tinggal dan menetap di Desa Karta Kecamatan Tulang Bawang Udik Kabupaten Tulang Bawang Barat sebagai lokasi penelitian. Adapun teknis analisa data dalam penelitian ini melaluli reduksi data, display data (penyajian data) dan verifikasi data (menarik kesimpulan).


(2)

meningkatkan pendapatanya terlihat dari upaya mereka untuk mendapatkan modal usaha dengan cara menjalin kerja sama dengan pihak ke 3, serta pengolahan lahan dan perawatan tanaman pertanian sudah cukup baik hal ini terlihat dari tata cara yang mereka lakukan dalam pengoahan lahan dan perawatan tanaman pertanian milik mereka. Disini terlihat juga para petani selalu berusaha mencari informasi agar wawasan mereka bertambah, hal ini terlihat dari seringnya para petani mengikuti kegiatan penyuluhan-penyuluhan pertanian yang dilakukan oleh instansi terkait serta terjadinya pertukaran ilmu pengetahuan di antara petani itu sendiri. Sedangkan upaya mereka dalam melakukan perawatan sarana dan prasarana yang menunjang usaha pertanian mereka diwujudkan dengan cara selalu aktif mengikuti kegiatan gotong royong memperbaiki jalan, jembatan, bahkan saluran-saluran iri gasi serta membayar sumbangan yang jumlahya telah sama-sama mereka sepakati.


(3)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Petani

Pengertian petani dapat di definisikana sebagai pekerjan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya guna memenuhi kebutuhan hidup dengan mengunakan peralatan yang bersifat tradisional danmodern. Secara umum pengertian dari pertanian adalah suatu kegiatan manusia yang termasuk di dalamnya yaitu bercocok tanam, peternakan, perikanan dan juga kehutanan.Petani dalam pengertian yang luas mencakup semua usaha kegiatan yang melibatkan pemanfaatan makhluk hidup (termasuk tanaman, hewan, dan mikroba) untuk kepentingan manusia. Dalam arti sempit, petani juga diartikan sebagai kegiatan pemanfaatan sebidang lahan untuk membudidayakan jenis tanaman tertentu, terutama yang bersifat semusim.

(Sumber http://Arifsubarkah.wordpress.com/2010/01/02/Fungsi-kemiskinan Ciri-ciri Manusia Yang Hidup di Bawah Garis Kemiskinan.go.id)

Ada beberapa jenis petani yang ada di Indonesia: 1. Petani Gurem


(4)

Adalah petani kecil yang memiliki luas lahan 0,25 ha.Petani inimerupakan kelompok petani miskin yang memiliki sumber daya terbatas.

2. PetaniModern

Merupakan kelompok petani yang menggunakan teknologi dan memiliki orientasi keuntungan melalui pemanfaatan teknologi tersebut. Apabila petani memiliki lahan 0,25 ha tapi pemanfaatan teknologinya baik dapat juga dikatakan petanimodern.

3. Petani Primitif

Adalah petani-petani dahulu yang bergantung pada sumber daya dan kehidupan mereka berpindah-pindah.

Menurut Wahyudin (2005:39) Golongan petani di bagi menjadi tiga yaitu : 1. Petani Kaya : yakni petani yang memiliki luas lahan pertanian 2,5 ha lebih. 2. Petani Sedang : petani yang memiliki luas lahan pertanian 1 sampai 2,5 ha. 3. Petani Miskin : petani yang memiliki luas lahan pertanian kurang dari 1 ha.

Mengingat negara Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya sebagai petani maka memiliki beberapa bentuk pertanian diantaranya :

1. Sawah, sawah adalah suatu bentuk pertanian yang dilakukan di lahan basah dan memerlukan banyak air baik sawah irigasi, sawah lebak, sawah tadah hujan maupun sawah pasang surut.


(5)

9 2. Tegalan, tegalan adalah suatu daerah dengan lahan kering yang bergantung pada

pengairan air hujan, ditanami tanaman musiman atau tahunan dan terpisah dari lingkungan dalam sekitar rumah. Lahan tegalan tanahnya sulit untuk dibuat pengairan irigasi karena permukaan yang tidak rata. Pada saat musim kemarau lahan tegalan akan kering dan sulit untuk ditumbuhi tanaman pertanian. 3. Pekarangan, perkarangan adalah suatu lahan yang berada di lingkungan dalam

rumah yang dimanfaatkan untuk ditanami tanaman pertanian seperti sayuran dan kacang-kacangan.

4. Ladang Berpindah, ladang berpindah adalah suatu kegiatan pertanian yang dilakukan di banyak lahan hasil pembukaan hutan atau semak di mana setelah beberapa kali panen / ditanami, maka tanah sudah tidak subur sehingga perlu pindah ke lahan lain yang subur atau lahan yang sudah lama tidak digarap. 5. Tanaman Keras, tanaman keras adalah suatu jenis varietas pertanian yang jenis

pertanianya adalah tanaman-tanaman keras seperti karet, kelapa sawit dan coklat.

Menurut Mosher (1997:28), setiap petani memegang tiga peranan yaitu: 1. Petani Sebagai Juru Tani(Cultivator).

Yaitu seseorang yang mempunyai peranan memelihara tanaman dan hewan guna mendapatkan hasil-hasilnya yang berfaedah.

2. Petani Sebagai Pengelola(Manager).

Yakni segala kegiatan yang mencakup pikiran dan didorong oleh kemauan terutama pengambilan keputusan atau penetapan pemilihan dari alternatif-alternatif yang ada.


(6)

3. Petani sebagai manusia

Selain sebagai juru tani dan pengelola, petani adalah seorang manusia biasa. Petani adalah manusia yang menjadi anggota dalam kelompok masyarakat, jadi kehidupan petani tidak terlepas dari masyarakat sekitarnya.

Apabila kita lihat pengertian petani menurut Mosher tersebut maka titik tekanya adalah usaha taninya dan manusia sebagai anggota masyarakat. Ini menunjukkan bahwa sebagai petani, ia juga sebagai anggota yang tidak terlepas dari lingkungan sosialnya.

B. Pengertian Pendapatan Petani

Pendapatan atau penghasilan dapat dilihat dari mata pencaharian yang dilakukan oleh setiap rumah tangga. Bagi seorang petani, tanah merupakan salah satu unsur produksi yang sangat menentukan keberhasilan usaha tani, sekaligus merupakan sumber penghasilan petani. Selain dari hasil yang diusahakan petani juga memperoleh penghasilan bekerja disektor non usaha tani, seperti buruh, dagang, pengerajin, dan pekerjaan lain yang sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang mereka miliki. Pendapatan petani dapat di artikan sebagai, penghasilan yang diterima oleh seorang atau kelompok dari hasil mengarap lahan pertanian guna memenuhi kebutuhan hidupnya

Pendapatan adalah gambaran tentang posisi ekonomi keluarga dalam masyarakat. Sedangkan pendapatan keluarga merupakan jumlah seluruh pendapatan dan kekayaan


(7)

11 keluarga termasuk barang, hewan peliharaan, dipakai untuk membagi keluarga

kedalam tiga kelompok pendapatan yaitu : pendapatan rendah, pendapatan sedang dan pendapatan tinggi. (Sofian Efendi2001:24dalam

http://www.wordpers.com/Masalah Kemiskinan/makna.go.id). (Soemitro, 1979:13 dalam http://www.wordpers.com/Masalah

Kemiskinan/makna.go.id). Pendapatan adalah jumlah uang atau nilai uang selama tahun takwin diperoleh seseorang sebagai hasil usaha atau kerja barang tidak bergerak, harta bergerak dan hak atas bayaran berkala.

Sedangkan menurut kamus istilah ekonomi, pendapatan atauincomeialah : 1. Pendapatan berupa uang atauekuivalen/derajat dengan uang selama periode

tertentu.

2. Penghasilan seseorang seperti gaji, bunga, sewa,honorarium 3. Hasil atasinvestasi

4. Laba atau sisa pendapatan setelah dikurangi harga

Berdasarkan beberapa definisi pendapatan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pendapatan adalah sejumlah penghasilan yang diterima seseorang atau seluruhnya anggota keluarga baik yang berupa uang maupun barang selama beberapa waktu tertentu.

C. Pembagian Pengelolaan Pendapatan dalam Masyarkat Pendapatan masyarakat dapat dikelompokkan dalam tiga golongan :


(8)

1. Golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah di sebut berpenghasilan rendah, karena pendapatan yang di perolehnya masih belum mampu mencukupi hidup minimum.

2. Golongan masyarakat yang berpenghasilan normal disebut berpendapatan normal, karena pendapatan yang di perolehnya baru cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup primer pada tingkat kebudayaan masyarakat pada waktu itu.

3. Golongan masyarakat berpenghasilan tinggi, yang termasuk golongan ini adalah mereka yang berpenghasilan lebih dari minimum untuk hidup normal terutama dalam memenuhi kebutuhan hidup primer golongan ini sudah mengarahkan prefensi kebutuhan pada tingkat yang lebih tinggi. (Hifni Mugoddam. 1979:86 dalam http://www.scribd.com/doc/Faktor-Penyebab-Kemiskinan.go.id).

Persepsi manusia tentang kebutuhan hidup minimum yang diperlukan sangat

dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, adat istiadat dan sistem nilai yang di milikinya, hal ini menumbuhkan sikap hidup yang meletakan tingkat kebutuhan hidup pada tingkat yang tidak tinggi, sehingga pendapatan yang diperolehnya dapat memenuhi kebutuhan hidup yang memadai. Posisi seorang dalam lingkungan sosial bisa juga mempengaruhi ukuran bagi penetapan tinggi rendahnya pendapatan.

Dalam keadaan begini maka penduduk miskin dengan pendapatan yang lebih baik ditengah-tengah masyarakat yang miskin akan merasa dirinya berada pada tingkat yang lebih baik. Sungguhpun kebutuhan hidup minimum seperti makanan, pakaian dan perumahan belum memadai. Tetapi karena ia hidup ditengah masyarakat yang kaya dan berpendapatan tinggi, maka ia termasuk golongan masyarakat yang


(9)

13 berpendapatan rendah.Berdasarkan penggolongan pendapatan di atas maka dapat terlihat adanya stratifikasi dalam besarnya jumlah pendapatan masing-masing orang atau keluarga. Hal ini disebabkan karena pemilikan tanah pertanian. Modal usaha, dan kesempatan untuk memperoleh lapangan kerja baik di sektor pertanian maupun di luar sektor pertanian. (Chairul 2000:52 dalam http://www.scribd.com/doc/Faktor-Penyebab-Kemiskinan. go.id).

Karena terdapat perbedaan perolehan pendapatan antara masing-masing orang atau keluarga maka perlu di cari cara untuk mengukur dan mengetahui tingkat pendapatan petani miskin didesa berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti dalam tulisan ini hanya dibatasi dengan menitik beratkan pada masalah rendahnya pendapatan petani dan hal ini sesuai dengan permasalahan pokok yang diajukanyaitu“u saha-usaha apakah yang telah dilakukan oleh petani miskin di desa Karta untuk

meningkatkan pendapatannya serta adakah peningkatan pendapatan dari usaha yang dilakukanoleh petani miskin’’.Sedangkan jika kita berbicara tentang golongan masyarakat berpenghasilan rendah maka hal ini berkaitan erat dengan masalah kemiskinan. Salah satu ciri kemiskinan adalah rendahnya pendapatan, baik itu yang disebabkan karena rendahnya produktifitas maupun karena ketidak mampuan individu.

D. Definisi Kemiskinan

Kemiskinan dapat diartikan sebagai suatu keadan dimana seorang, keluarga atau angota masarakat tidak mempunyai kemanpuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara wajar sebagai mana angota lain pada umumnya (AbdulSyani 2002:190).


(10)

Menurut pendapat Mubiyanto. (2000:37). Kemiskinan adalah keadaan di mana nilai-nilai yang diperoleh seseorang secara sah tidak mencukupi untuk memenuhi

kebutuhan hidup dengan layak. Apabila dilihat dari kebijaksanaan umum, maka kemiskinan meliputi aspek primer yaitu miskin sumber daya produksi, miskin organisasi sosial politik dan miskin pengetahuan maupun keterampilan, sedangkan aspek sekunder menunjuk pada miskin jaringan sosial, miskin sumber keuangan dan miskin informasi, ukuran kemiskinan tersebut mewujudkan dari dalam bentuk kekurangan gizi, kekurangan air, perumahan yang kurang sehat, kesehatan buruk, pendidikan rendah dan tingkat pendapatan yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya

(Hadad 2003:144 dalam http://Arifsubarkah.wordpress.com/2010/01/02/Fungsi-kemiskinan dan Ciri-ciri Manusia Yang Hidup di Bawah Garis Kemiskinan.go.id). menunjukan bahwa kemiskinan berhubungan dengan kekurangan materi, rendahnya penghasilan dan adanya kebutuhan sosial.

1. Kekurangan materi. Kemiskinan mengambarkan adanya kelangkaan materi atau barang-barang yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti makanan, pakaian, dan perumahan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kesulitan yang dihadapi orang dalam memperoleh barang-barang yang bersifat kebutuhan dasar.

2. Kekurangan penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna “memadai“ di sini sering dikaitkan dengan standar atau garis kemiskinan yang berbeda-beda dari


(11)

15 satu negara ke negara lainya, bahkan dari satu komonitas ke komonitas lainya dalam satu negara.

3. Kesulitan memenuhi kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial,

ketergantungan, dan ketidak mampuan untuk berpatisipasi dalam masarakat. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan pelayanan sosial dan rendahnya aksesibilitas lembaga-lembaga pelayanan sosial seperti lembaga pendidikan, kesehatan, dan informasi.

Menurut Soejono. ( 2006 :42 ) ada beberapa faktor yang menyebabkan para petani hidup dan terperangkap di dalam garis kemiskinan diantaranya adalah :

1) Rusaknya sarana dan prasarana di daerah perdesaan. 2) Langkanya pestisida dan pupuk.

3) Para petani di daerah perdesaan masih banyak mengolah lahan pertanianya dengan peralatan yang masih tradisional.

4) Para petani kebanyakan tidak memiliki modal untuk biaya pengarapan lahan pertanian mereka.

5) Murahnya harga hasil pertanian pada saat musim panen tiba.

6) Kurangnya informasi-informasi yang mendukung guna meningkatkan mutu pertanian mereka.

7) Kebanyakan para petani di daerah perdesaan memiliki pendidikan yang rendah. 8) Masih langkanya bibit-bibit unggul yang tersedia di daerah perdesaan.

9) Langkanya teknologi yangmoderndi daerah perdesaan sehinga menyulitkan para petani dalam mengakses informasi.


(12)

10) Pemerintah tidak selalu membimbing para petani miskin agar pemerintahan mengetahui perkembangan dan permasalahan yang timbul.

(www.wordpers.com/masalah kemiskinan/makna/go.id)

Suharto (2009:16) menunjukan sembilan hal yang menandai kemiskinan, diantaranya adalah: 1. Ketidak mampuan memenuhi kebutuhan kosumsi dasar (pangan, sandang dan

papan).

2. Ketidak mampuan untuk berusaha karena cacat fisik maupun mental.

3. Ketidak mampuan dan ketidak beruntungan sosial ( anak terlantar, janda miskin, kelompok marjinal dan terpencil ).

4. Rendahnya kualitas sumber daya manusia ( buta huruf, rendahnya pendidikan dan keterampilan, sakit-sakitan )

5. Keterbatasan sumber daya alam ( tanah tidak subur, lokasi terpencil, ketiadaan infrastruktur jalan, listrik, air )

6. Kerentanan terhadap goncangan yang bersifat individual ( rendahnya pendapatan dan aset), maupun massal ( rendahnya modal sosial, ketiadaan fasilitas umum ). 7. Ketiadaan akses terhadap lapangan pekerjaan dan mata pencaharian yang

menandai serta berkesinambungan.

8. Ketiadaan akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainya ( kesehatan, pendidikan, sanitasi, air bersih dan transportasi ).

9. Ketiadaan jaminan masa depan ( karena tiadanya investasi untuk pendidikan dan keluarga ). atau tidak adanya perlindungan sosial dari negara dan masyarakat.


(13)

17 Menurut Suharto (2009:19) secara konseptual, kemiskinan bisa di akibatkan oleh empat faktor yaitu :

1. FaktorIndividual. Terkait dengan aspekpotologis,termasuk kondisi fisik dan psikologissi miskin. Orang miskin disebabkan oleh perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin itu sendiri dalam menghadapi kehidupanya. 2. Faktor Sosial. Kondisi-kondisi lingkungan sosial yang menjebak seseorang

menjadi miskin, misalnya diskriminasi berdasarkan usia, jender,etnisyang menyebabkan orang menjadi miskin.

3. Faktor Kultur. Kondisi atau kualitas budaya yang menyebabkan kemiskinan. Faktor ini secara khusus sering menunjukan pada konsep kemiskinankultural atau budaya kemiskinan yang menghubungkan kemiskinan dengan kebiasan hidup atau mentalitas.

4. FaktorStruktural. Menunjuk pada struktur atau system yang tidak adil, tidak sensitifesehinga menyebabkan seseorang atau sekelompok orang menjadi miskin.

Dengan mengunakanpersepektifyang lebih luas lagi (Davi Cox 2004:16 dalam Siti Chotijah, November 2005. Potret Kehidupan Buruh Bangunan di Kelurahan Jagabaya II. Skripsi Universitas Lampung), membagi kemiskinan kedalam beberapa dimensi : 1. Kemiskinan yang diakibatkan olehglobalisasi. Globalisasimelahirkan Negara

pemenang dan Negara kalah. Pemenang umumnya negara maju, sedangkan Negara-negara berkembang seringkali semakin terpingirkan oleh persaingan dan pasar bebas yang merupakan prasyarat globalisasi.


(14)

( kemiskinan akibat rendahnya pembangunan), dalam kemiskinan perdesan ( kemiskinan akibat peminggiran perdesaan dalam proses pembangunan),

kemsiskinan perkotaan (kemiskinan yang disebabkan oleh hakikat dan kecepatan pertumbuhan perkotaan).

3. Kemiskinan Sosial. Kemiskinan yang dialami oleh perempuan, anak-anak, dan kelompok minoritas akibat kondisi social yang tidak menguntungkan mereka, seperti biasjender, diskriminasiataueksploitasiekonomi.

4. KemiskinananKonsekuensial. Kemiskinan yang terjadi akibat kejadian-kejadian lain atau faktor-faktoreksternaldiluar simiskin, seperti konflik, bencana alam, kerusakan lingkungan, dan tinginya jumlah penduduk.

E. Ciri-ciri Kemiskinan

Apabila kita amati, mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1. Mereka umumnya tidak mempunyai faktor produksi sendiri seperti tanah yang cukup, modal dan keterampilan.

2. Mereka tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh aset produksi dengan kekuatan sendiri. Pendapatan tidak cukup untuk memperoleh tanah garapan atau modal usaha.

3. Tingkat pendidikan mereka rendah, tidak sampai tamat SD atau SLTP. Waktu mereka tersita habis untuk mencari nafkah sehingga tidak ada waktu untuk belajar.


(15)

19 5. Kebanyakan dari mereka yang hidup di kota, masih berusia muda dan tidak

mempunyai keterampilan dan pendidikan yang layak untuk bersaing di kota. Sehingga banyak dari mereka bekerja sebagai buruh kasar, pedagang musiman, tukang becak, pembantu rumah tangga. Beberapa dari mereka bahkan jadi pengangguran atau gelandangan.

6. Tidak memiliki faktor-faktor produksi sendiri seperti tanah, modal, ketrampilan. 7. Tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh asset produksi dengan kekuatan

sendiri, seperti untuk memperoleh tanah garapan ataua modal usaha.

Sumber http://arifsubarkah. wordpress.com/2010/01/02/fungsi-kemiskinan dan ciri-ciri manusia yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Sedangkan menurut Etang Sastraatmaja ( 2000:146 ) lima ketidak beruntungan kemiskinan, yaitu:

1. Rumah tangga miskin karena tidak mempunyai kekayaan, lahan garapan, makanan, uang dan juga ternak.

2. Jumlah tanggungan tidak sesuai dengan pencarian nafkah.

3. Tempat tinggalnya tersisih dari informasi dan fasilitas kehidupan.

4. Karena sedikit sekali yang mempunyai kemampuan untuk mengatasi kebutuhan yang mendesak.

5. Karena tidak berdaya dan lemah kedudukannya dalam hukum dan persaingan untuk memperoleh pekerjaan maupun menjual hasil-hasil produksi.


(16)

F. Usaha-usaha Untuk Mengatasi Petani Miskin

Menurut Entang Sastraatmaja ( 2000:52 ) Mengingat beraneka macam penyebab timbulnya masalah petani miskin, maka usaha untuk mengatasinya juga sangat sulit dan memerlukan penanganan yang cermat dan sungguh-sungguh. Karena betapa banyaknya usaha dan program yang dilakukan untuk mengatasi kemiskinan, tetapi belum tentu dapat dirasakan oleh masyarakat petani miskin. Yang lebih penting adalah setiap usaha harus diarahkan untuk kepentingan para petani, dan mampu meningkatkan pendapatan mereka, sehingga pada akhirnya akan mewujudkan suatu masyarkat adil dan makmur. Dikaitkan dengan usaha mengatasi kemiskinan, terutama petani miskin di pedesaan, usaha utama yang paling baik di tempuh adalah

menyadarkan dan memberitahu mereka bagaimana untuk memperbaiki hidup dan membangun diri, tanpa mengesampingkan pentignya bantuan dari pihak lain, baik bantuan yang menyangkut materi maupun berupa pengetahuan dan keterampilan. Karena pada dasarnya kemiskinan diderita bukan hanya bersumber dari ketidak mampuan diri, tetapi lingkungan sekitar atau masyarakat juga sering mempunyai peranan yang cukup besar. Oleh karena itu, tindakan yang ditempuh haruslah mencakup usaha pembangunan masyarakat yang lebih menekankan kepada terpenuhinya kebutuhan yang bersifat mendasar (kebutuhan pokok) seperti cukup pangan, gizi, kesehatan, pendidikan, serta perumahan yang layak. Berbagai usaha mengatasi kemiskinan telah banyak dilakukan hanya saja sampai sejauh mana tingkat keberhasilan menjadi persoalan belum terselesaikan.

Adapun beberapa langkah yang dilakukan para petani miskin untuk meningkatkan pendapatanya adalah :


(17)

21 1. Pengolahan Lahan dan Perawatan Tanaman Pertanian Dengan

Mengunakan Sistem Yang Baik

Pengolahan lahan dan perawatan tanaman pertanian harus mengunakan sistem dan tata cara pertanaian yang baik agar hasil panen pertanian bisa meningkat lebih baik, ini dikarenakan banyak para petani gagal panen karena kurangnya perawatan dari mulai pengolahan lahan sampai perawatan tanaman pertanian yang mereka tanam di kebun milik mereka, hal ini menyebabkan tanaman pertanian yang mereka

budidayakan tidak tumbuh subur dan mudah sekali terserang hama tumbuhan yang merusak tanaman pertanian milik petani.

Agar panen bisa menghsilkan hasil yang tinggi para petani harus mengawali proses pertanian mereka dengan baik dari mulai pengolahan lahan pertanian sampai dengan perawatan jenis tanaman yang mereka budi dayakan, selain itu para petani harus di dukung dengan adanya sarana dan prasarana yang sudah bersifat moderen, karena dengan sarana dan prasarana yang modern hasil kerjnya akan menjadi baik dan tidak memakan waktu yang lama, selai itu penanaman bibit harus mengunakan bibit ungul karena bibit ungul akan menghasilkan hasil yang lebih baik serta waktu panen akan lebih cepat, begitu pula dengan perawatan pertanian harus di rawat secara baik, tanaman pertanian harus di pupuk dengan rutin baik itu pupuk organik ataupun non organik, hal ini agar tanaman tidak kekurangan unsur-unsur hara yang di butuhkan untuk kesuburan pertumbuhan tanaman pertanian, selain itu pemberian dan

penyemprotan pestisida-pestisida yang bisa bermanfaat untuk menghidarkan tanaman pertanian dari hama tananman yang sewaktu-waktu bisa datang merusak tanaman pertanian


(18)

2. Selalu Berusaha Mencari Informasi Untuk Menambah Wawasan Tentang Tata Cara Bertani

Informasi sangatlah penting agar suatu permasalahan dapat mudah dalam

penyelesainya, agar permasalahan kemiskinan terhadap petani bisa terselesaikan maka harus ada upaya dan usaha dari para petani miskin itu sendiri untuk mencari ilmu-ilmu yang biasa mendukung usaha mereka dengan cara mencari informasi-inpormasi melalui media informasi yang ada ataupun dengan cara bertanya kepada para petani yang sudah berhasil atau para petugas dinas pertanian yang ada di wilayah mereka sehinga ilmu mereka tentang pertanian semakin bertambah serta dapat di gunakan dalam usaha pertanian yang mereka kelola.

3. Menjaga dan Merawat Fasilitas Sarana Dan Prasarana Yang Mendukung Sektor Pertanian.

Sarana dan prasarana adalah salah satu pasilitas yang sangat vital sekali dalam bidang pertanian, karena dengan fasilits sarana dan prasarana yang baik proses masyarakat dalam melakukan kegiatan sehari-hari sebagai petani bisa berjalan dengan baik, maka dari itu harus ada suatu upaya dari pada petani untuk menjaga dan merawat fasilitas-fasilitas yang sangat menunjang usaha pertaniam milik mereka karena ini adalah salah satu permasalahan yang sangat banyak di temukan.


(19)

23 4. Bekerjasama Dengan Pihak-pihak Lain Untuk Mendapatkan

Modal Usaha

kegiatan sehari-hari para petani miskin dalam upaya mencari penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidup yang meraka tanggung.

Penuntasan kemiskinan memang menjadi perrmasalahan yang sangat susah sekali untuk diselesaikan, untuk itu diperlukan suatu kerja sama yang terjalin baik diantara antara pemerintah dan para petani miskin degan cara memberikan program melalui kebijakan yang biasa membantu para petani miskin itu sendiri, hal ini bisa di

wujudkan oleh para petani itu sendiri dengan cara memberikan dukungan yang penuh terhadap seluruh program-program melalui kebijakan pemerintah dalam upaya meningkatkan pendapatan mereka.

Pemerintah atau pun swata member harus lebih maksimal memberikan kebijakan-kebijakan yang diwujudkan dalam bentuk program-progran khusus untuk membantu para petani miskin agar mutu pertanian mereka lebih baik, sehinga perekonomian para petani miskin ini bisa meningkat, sehingga mereka bisa hidup lebih sejahtera dan layak. Adapun bantuan-bantuan itu bisa berpa modal usaha, pupuk, pestisaida, sarana pertanian yang sudah modern bahkan pendidikan-pendidikan khusus di bidang pertanian sehinga mereka bisa bertani dan bercocok tanam dengan lebih baik.

Pemerintah memberikan bantuan-bantuan itu bisa di salurkan melalui instansi-instasi pemerintah yang terkait, dalam hal ini biasanya di salurkan melalui dinas pertanian yang ada di setiap kabupaten kota setiap propinsi, Akan tetapi semua usaha


(20)

maka dari itu para petani harus selau mendukung setiap program-program pemerintah karena tujuan dari kebijakan-kebijakan itu untuk menyejahterakan mereka sehinga mereka biasa hidup lebih layak

Berdasarkan uraian diatas, usaha-usaha yang dapat di lakukan untuk mengatasi kemiskinan dapatlah kiranya ditarik kesimpulan ke dalam beberapa usaha : 1. Pengolahan Lahan dan Perawatan Tanaman Pertanian Dengan Mengunakan

Sistem Yang Baik

2. Selalu Berusaha Mencari Informasi Untuk Menambah Wawasan Tentang Tata Cara Bertani

3. Menjaga dan Merawat Fasilitas Sarana Dan Prasarana Yang Mendukung Sektor Pertanian.

4. Bekerjasama Dengan Pihak-pihak Lain Untuk Mendapatkan Modal Usaha. Entang Sastraatmaja (2000:16)

H. Kerangka Pikir

Kemiskinan merupakan masalah sosial manusia yang telah ada sejak dahulu. Petani di desa Karta dikatakan miskin karena pendapatan mereka tidak mencukupi untuk kebutuhan pokok sehari-hari. Kebanyakan petani miskin tersebut memiliki lahan pertanian < 0,5 ha bahkan hanya membuka lahan pertanian orang lain dengan sistem bagi hasil. Masalah tersebut yang menyebabkan pendapatan petani miskin sangat rendah, hal ini dikarenakan banyak faktor-faktor yang tidak mendukung usaha mereka.


(21)

25 Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, petani juga harus berusaha keras

sehingga masalah tersebut terselesaikan sehingga berimbas pada meningkatnya pendapatan petani miskin. Adapun usaha-usaha mereka di antaranya adalah: 1. Pengolahan Lahan dan Perawatan Tanaman Pertanian Dengan Mengunakan

Sistem Yang Baik.

2. Selalu Berusaha Mencari Informasi Untuk Menambah Wawasan Tentang Tata Cara Bertani.

3. Menjaga dan Merawat Fasilitas Sarana Dan Prasarana Yang Mendukung Sektor Pertanian.

4. Bekerjasama Dengan Pihak-pihak Lain Untuk Mendapatkan Modal Usaha. Entang Sastraatmaja (2000:16)

Dengan melakukan usaha-usaha di atas maka permasalahan petani miskin di desa Kartaakan terselesaikan sehingga pendapatan petani miskinakan meningkat dan keadaan perekonomian dan kehidupan mereka akan lebih baik.


(22)

Bagan Kerangka Pikir Usaha-Usaha Petani Miskin Dalam Meningkatkan Pendapatannya.

Pengolahan Lahan dan Perawatan Tanaman Pertanian Dengan

Mengunakan Sistem Yang Baik.

Selalu Berusaha Mencari Informasi Untuk Menambah Wawasan Tentang Tata Cara Bertani.

Menjaga dan Merawat Sarana dan Prasarana yang Mendukung sektor Pertanian.

Bekerjasama Dengan pihak-pihak Lain Untuk Mendapatkan Modal Usaha.

Pendapatan Petani Miskin


(23)

BAB IV

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

A. Sejarah Singkat Desa Karta.

Berdasarkan sejarahnya Desa Karta Kecamatan Tulang Bawang Udik Kabupaten Tulang Bawang Barat adalah nama sebuah Desa yang terletak di tengah-tengah Kecamatan Tulang Bawang Udik, serta merupakan Desa Ibu Kota Kecamatan Tulang Bawang Udik dan Desa asli suku Lampung keturunan Buay Bulan. Yang sah diakui pada tahun 1812 dari Kwidanan Menggala Wilayah Sumatra Selatan. Namun Desa Karta sudah lama dikenal di desa sekeliling nya maupun warga masarakat Kecmatan Tulang Bawang Udik sendiri.

Desa Karta terdiri dari 11 Rukun Keluarga ( RK ) dan 37 Rukun Tetangga ( RT ) di antaranya RK 1 yang terbagi menjadi 4 RT , RK 3 terbagi menjadi 4 RT, RK 3 terbagi menjadi 4 RT, RK 5 terbagi menjadi 4 RT, RK 6 terbagi menjadi 3 RT, RK 7 terbagi menjadi 3 RT, RK 8 terbagi menjadi 4 RT, RK 9 Terbagi menjadi 3 RT, RK 10 terbagi menjadi 3 RT, RK 11 Terbagi menjadi 5 RT.


(24)

Di Desa Karta ini sudah beberapa kali terjadi pergantian kepala desa di antaranya adalah :

1. Radin Jimat Pada Tahun 1821 sampai dengan 1848 2. Raja Datuk Pada Tahun 1848 sampai dengan 1862 3. Minak Cucung Pada Tahun 1862 sampai dengan 1884 4. Minak Sesunan Pada Tahun 1884 sampai dengan 1907 5. ST. Sesunan Pada Tahun 1907 sampai dengan 1923 6. Minak Asli Pada Tahun 1923 sampai dengan 1936 7. ST. Junjungan Pada Tahun 1936 sampai dengan 1947 8. Nurhasan Pada Tahun 1947 sampai dengan 1952 9. M. Nasit MM Pada Tahun 1952 sampai dengan 1970 10. Sahmin ST. Saimbang Pada Tahun 1972 sampai dengan 1980 11. Muhamad Tayib Pada Tahun 1980 sampai dengan 1994 12. Dahsir Lambung Pada Tahun 1994 sampai dengan 2004 13. Turunan Mega Pada Tahun 2004 sampai dengan sekarang

( Sumber : Tokoh Masarakat dan Monografi Desa Tahun 2011 )

B. Batas Wilayah

Batas-batas wilayah Desa Karta Kecamatan Tulang Bawang Udik Kabupaten Tulang Bawang Barat adalah sebagai berikut :


(25)

35

2. Sebelah Timur Berbatasan dengan Desa Kangungan Ratu 3. Sebelah Selatan Berbatasan dengan Desa Karta Raharja 4. Sebelah Barat Berbatasan dengan Desa Muara Sungkai

Orbitasi dari Kecamatan, Kabupaten Dati II, Propinsi Dati I dapat dilihat dibawah ini: 1. Jarak dari Ibu Kota Kecamatan± 0 KM

2. Jarak dari Ibu Kota Kabupaten Dati II ± 10 KM 3. Jarak dari Ibu Kota Propinsi Dati I ± 120 KM

Dari jangkauan tersebut terlihat bahwa daerah penelitian ini salah satu desa dari ibu kota kecamatan, tidak terlalu jauh dari ibu kota kabupaten tingkat II ,namun sangat jauh dari ibu kota propinsi tingkat I.

C. Keadaan Alam

Desa Karta memiliki bentuk pemukiman berupa tanah daratan dan pengairan,

sebagian besar tanah pemukiman dan perkebunan masarakat seluas 94.34 Hektar dari luas keseluruhan 117.53 Hektar.


(26)

Tabel 1 Fasilitas Sosial Budaya Yang di Miliki Desa Karta

No Fasilitas Yang Dimiliki Luas Persentase %

1 Lahan Pertanian 8761 71.73

2 Perumahan 1256 10.77

3 Perkantoran 93 1,15

4 Lapangan Olahraga 128 1,61

5 Sesat Agung ( Rumah Adat ) 27 0,22

6 Rumah Ibadah 1. Masjid 2. Musola 3. Gereja 107 0 0 1,27 0 0

7 Sekolah 1. TK

2. SD 3. SLTP 4. SMU 32 56 78 50 0,28 0,45 0,77 0,42

8 Pasar 27 0,22

9 Jalan 207 2,87

10 Pemakaman Umum 52 0,44

11 Sarana Kesehatan 113 1,37

12 Pengairan 673 5,72

Jumlah 11753 100 %

Sumber : Data Monografi Desa Tahun 2011

Berdasarkan keterangan di atas maka dapat diketahui besar jumlah tanah yang ada di Desa Karta Kecamatan Tulang Bawang Udik Kabupaten Tulang Bawang Barat, dimana sebagian besar wilayah diperuntukan untuk lahan pertanian yaitu sebesar 71,73 % sedangkan sisanya diperuntukan untuk perkantoran 1.15 %, lapangan olahraga 1,61 %, sesat agung 0,22 %, rumah ibadah 1,27 %, sekolah 3,04%, jalan 2,87 %, pasar 0,22 %, dan sarana kesehatan1,37 %.


(27)

37

D. Kondisi Geografis Desa Karta

Letak Desa Karta Kecamatan Tulang Bawang Udik Kabupaten Tulang Bawang Barat apabila di lihat dari permukaan laut lebih kurang 480 M. Yang sebelumnya termasuk wilayah Kabupaten Tulang Bawang, sejak tahun 2009 dengan adanya pemekaran wilayah Kabupaten Tulang Bawang, Desa Karta Kecamatan Tulang Bawang Udik termasuk dalam wilayah Kabupaten Tulang Bawang Barat.

E. Keadan Penduduk Desa Karta.

Keadan penduduk Desa Karta akan di golongkan menurut umur, jenis kelamin, agama, tingkat pendidikan, dan mata pencaharian.

1. Penduduk Menurut Jenis Kelamin

Jumlah penduduk menurut jenis kelamin yang ada di Desa Karta Kecamatan Tulang Bawang Udik Kabupaten Tulang Bawang Barat dapat diperinci dalam tabel di bawah ini :

Tabel 2 : Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Desa Karta

No Jenis Kelamin Jumlah Persentase %

1 Laki-laki 5441 50,31

2 Perempuan 5375 49,69

Jumlah 10816 100 %


(28)

Dari tabel 2 dapat diketahui bahwa jumlah penduduk pria dan wanita di Desa Karta Kecamatan Tulang Bawang Udik tidak jauh berbeda. Hal ini di sebabkan karena jumlah kelahiran dan kematian pria dan wanita berada dalam taraf seimbang. 2. Penduduk Menurut Umur

Penduduk di Desa Karta Kecamatan Tulang Bawang Udik Kabupaten Tulang Bawang Barat mayoritas masyarakat Lampung , namun ada juga masyarakat Jawa yang dahulunya mengikuti program transmigrasi. Untuk mengetahuinya, berikut ini akan diuraikan jumlah penduduk menurut umur di Desa Karta Kecamatan Tulang Bawang Udik Kabupaten Tulang Bawang Barat adalah 10816 jiwa terdiri dari 2998 KK dengan perincian sebagai berikut

Tabel 3 : Komposisi Penduduk Menurut Umur di Desa Karta

No Golongan Umur ( Tahun ) Jumlah Jiwa Persentase

1 0–4 Tahun 854 7,90

2 5–9 Tahun 1763 16,30

3 10–14 Tahun 1645 15,20

4 15–19 Tahun 1780 16,46

5 20–23 Tahun 1569 14,51

6 24–54 Tahun 2400 22,19

7 55 TahunKeatas 805 7,44

Jumlah 10816 100 %


(29)

39

Komposisi penduduk menurut umur di Desa Karta Kecamatan Tulang Bawang Udik Kabupaten Tulang Bawang Barat berdasarkan data yang diperoleh adalah sebagai besar penduduk berusia 24-54 Tahun yang memiliki persentase 22,19% atau sebanyak 2400 jiwa, kemudian pada urutan kedua adalah penduduk berusia 15-19 tahun dengan persentase 16,46 % dan urutan ke tiga penduduk dengan usia 5-9 tahun dengan persentase 16,30 %.

3. Penduduk Menurut Agama

Jumlah penduduk menurut agama di Desa Karta Kecamatan Tulang Bawang Udik Kabupaten Tulang Bawang Barat akan diperinci sesuai dengan agama yang ada dan di akui di Indonesia yaitu sebagai berikut :

Tabel 4 : Komposisi Penduduk Menurut Agama di Desa Karta

No Agama / Kepercayaan Jumlah Jiwa Persentase%

1 Islam 10816 100

2 Kristen Protestan 0 0

3 Kristen Katolik 0 0

4 Budha 0 0

5 Hindu 0 0

Jumlah 10816 100 %

Sumber : Data Monografi Desa Tahun 2011.

Dari tabel di atas dapat di ketahui bahwa penduduk Desa Karta Kecamatan Tulang Bawang Udik Kabupaten Tulang Bawang Barat secara keseluruhan beragama Islam


(30)

yaitu 10816 jiwa (100 % ) sedangkan tidak ada penduduk yang memeluk agama lainya.

4. Penduduk Menurut Mata Pencaharian

Mata pencaharian penduduk Desa Karta Kecamatan Tulang Bawang Udik Kabupaten Tulang Bawang Barat terbagi dalam kelompok Pegawai Negri, TNI dan POLRI, Pedagang / Wiraswasta, Petani, Buruh, Nelayan, Pensiunan dan Tidak Bekerja yang perincian nya sebagai berikut :

Tabel 5 : Komposisi Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Desa Karta No Mata Pencaharian Jumlah Jiwa Persentase %

1 Pegawai Negri Sipil 1006 13,20

2 TNI dan POLRI 28 0,37

3 Wiraswasta / Pedagang 1687 22,13

4 Tani 3663 35,75

5 Buruh 1781 23,36

6 Nelayan 1206 16,53

7 Pensiunan 310 4,07

8 Tidak Bekerja 1072 14,06

Jumlah 10816 100 %

Sumber : Data Monografi Desa Tahun 2011

Komposisi penduduk menurut mata pencaharian di Desa Karta Kecamatan Tulang Bawang Udik Kabupaten Tulang Bawang Barat dari data yang di peroleh sebagian penduduk bekerja dibidang pertanian yaitu sebanyak 3663 jiwa, kemudian menyusul


(31)

41

sektor buruh sebanyak 1781 jiwa, selanjutnya adalah wiraswasta atau pedagang berjumlah 1687 jiwa. Pekerjaan sebagai petani ternyata banyak menyerap tenaga kerja karena jenis usaha ini sangat fleksibel dalam menarik pekerja dengan kata lain tidak begitu memerlukan keahlian khusus untuk memasukinya. Pekerjaan sebagai petani ini banyak menanam hasil bumi terutama singkong, karet, kelapa sawit dan padi.

5. Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan suatu masyarakat dapat mencerminkan tingkat kemajuan suatu daerah dan kualitas dari sumber daya manusia. Tingkat pendidikan pada masyarakat Desa Karta Kecamatan Tulang Bawang Udik Kabupaten Tulang Bawang Barat dapat dirinci sebagai berikut :

Tabel 6 Jumlah Penduduk Desa Karta Menurut Tingkat Pendidikan. No Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase %

1 Sarjana 557 5,21

2 Sarjana Muda 236 2.12

3 SLTA 1369 12,66

4 SMP 1984 18,34

5 SD 3688 34,10

6 Taman Kanak-kanak 742 6,87

7 Belum Sekolah 2088 19,30

8 Buta Huruf 152 1,40

Jumlah 10816 100 %


(32)

Berdasarkan dari tabel diatas dapat diketahui bahwa jumlah penduduk Desa Karta Kecamatan Tulang Bawang Udik Kabupaten Tulang Bawang Barat berdasarkan tingkat pendidikan adalah beraneka ragam dan yang terbanyak adalah mereka yang duduk dibangku SD yaitu sebanyak 34,10%, kemudian 19,30% mereka belum bersekolah, selanjutnya mereka yang masih duduk di bangku SMP yaitu 18,34%, kemudian mereka yang SLTA yaitu 12,66 % sementara tingkat taman kanak-kanak yaitu 6,87 % dan 5,21 % sedangkan mereka yang masih belum sekolah sebanyak 2,12 % mereka tingkat sarjana penuh 1,40 %.

F. Fasilitas Sosial Budaya

Sarana dan prasarana merupakan kelengkapan tersendiri bagi perangkat desa, selain itu keberadaan sarana dan prasarana dapat menunjang proses pembangunan.

Sarana dan prasarana yang terdapat di Desa Karta terdiri dari sarana ibadah, pendidikan, olah raga dan kesehatan yang terlibat dalam tabel-tabel berikut ini. 1. Fasilitas Pendidikan

Fasilitas pendidikan yang ada di Desa Karta terdiri dari Taman Kanak- kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, Madrasah serta Sekolah Menengah Umum. Hal tersebut dapat secara jelas pada tabel 7 berikut ini :


(33)

43

Tabel 7 Sarana Pendidikan di Desa Karta

No Jenis Sarana Pendidikan Jumlah

1 Taman Kanak-kanak 2

2 Sekolah Dasar 4

3 SLTP 2

4 SMU 2

5 Pondok Pesantren

-6 Madrasah 1

Jumlah 11

Sumber : Monografi Desa Tahun 2011

Pada tabel di atas dapat dilihat jenis sarana pendidikan yang terdapat di Desa Karta yang terdiri dari sarana pendidikan umum dan khusus. Hal itu berarti sarana

pendidikan yang ada cukup memadai bagi wilayah Desa Karta namun tidak semua penduduk mengunakan fasilitas yang ada di desa tersebut. Hal ini selain daya

tampung yang terbatas juga karena ada sebagian penduduk terutama orang tua yang mengutamakan kwalitas pada pendidikan yang lebih baik dan lengkap.

2. Fasilitas Peribadatan

Fasilitas peribadatan masyarakat yang ada di Desa Karta meliputi Masjid dan Musolla. Fasilitas tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 8 Sarana Ibadah di Desa Karta

No Jenis Sarana Jumlah

1 Masjid 11

2 Musolla 9

Jumlah 17


(34)

Pada tabel 8 dapat dilihat sarana ibadah . yang terdiri sarana rumah ibadah untuk umat islam. Hal ini dikarenakan oleh keseluruhan masyarakat Desa Karta memeluk agama islam.

3. Fasilitas Kesehatan

Sarana kesehatan juga sangat penting bagi kehidupan masyarakat kita karena kesehatan mencerminkan keberadaan dan kekuatan suatu bangsa, selain itu terdapat sebuah motto yang hidup di dalam masyarakat

“Dimana Tubuh Yang Sehat Terdapat Jiwa Yang Kuat “ . untukmengetahui jenis sarana kesehatan yang terdapat yang terdapat di Desa Karta dapat di lihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 9 Sarana Kesehatan di Desa Karta

No Jenis Sarana Jumlah

1 Puskesmas 1

2 Puskesmas Pembantu 1

3 Posyandu 11

4 Praktik Dokter 1

5 Praktik Bidan Desa 4

Jumlah 17

Sumber : Data Monografi Desa Tahun 2011

Jika dilihat dari sarana kesehatan yang ada, pemerintah telah berusaha untuk


(35)

45

puskesmas, puskesmas pembantu, posyandu, praktik dokter dan praktik bidan desa sehingga masyarakat dapat memanfaatkan sarana kesehatan tersebut dangan baik. 4. Fasilitas Olahraga

Ada fasilitas olah raga di Desa Karta dan fasilitas yang banyak dinikmati oleh masarakat adalah Sepak Bola dan Bulu Tangkis. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 10 Fasilitas Olah Raga Desa Karta

No Jenis Sarana Jumlah

1 Lapangan Sepak Bola 3

2 Lapangan Voli 5

3 Lapangan Bulu Tangkis 9

Jumlah 17

Sumber Data Monografi Desa Tahun 2011

Pada tabel 10 di atas di ketahui bahwa sarana olah raga masyarakat cukup tersedia dan fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat Desa karta.


(36)

G. Sruktur Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah

Gambaran pemerintahan Desa Karta Kecamatan Tulang Bawang Udik Kabupaten Tulang Bawang Barat.

Bagan Sruktur Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Desa Karta

KAUR KESRA KAUR PEMBANGUNAN KAUR PEMERINTAHAN SEKERTARIS KEPALA DESA BPK RK 01 RK 02 RK 03 RK 04 RK 05 RK 06 RK 07 RK 08 RK 09 RK 10 RK 11


(37)

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 5 informan yang diwawancarai di lapangan. Pada bab ini akan dipaparkan tentang hasil wawancara mendalam (Indeph Interview ) Dengan informan, yang telah terkumpul dan diolah secara sistematis serta menurut tata aturan yang diterapkan dalam metode penelitian. Oleh karena itu, terlebih dahulu akan diuraikan profil informan kemudian dilanjutkan dengan gambaran hasil

penelitian dan pembahasan tentang pemahaman informan sebagai berikut.

A. Profil Informan 1. Profil Informan I

Bapak Radin, laki-laki yang sudah berusia 47 tahun, lahir di Kota Bumi. Sudah menikah dengan Ibu Surani yang telah memiliki 2 orang anak, 1 anak perempuan dan 1 anak laki-laki. Beragama islam. Alamat Jalan Ratu Pengadilan Desa Karta SK/RT 08/04 No 28. Kecamatan Tulang Bawang Udik, Kabupaten Tulang Bawang Barat. Bapak Radin bekerja sebagai petani sudah 30 tahun, kini dia menekuni usaha pertanian kelapa sawit, dan memiliki lahan pertanian seluas 0,25 hektar. Dari hasil sebagai petani kelapa sawit bapak Radin sudah memiliki rumah yang permanen, anak yang pertama sudah bekerja dan yang kedua bersekolah di SMU Negri 01 Tulang


(38)

Bawang Udik serta memiliki kendaraan motor roda dua yang semuanya itu di dapat bapak Radin dari hasil pekerjaanya sebagai petani kelapa sawit

2. Profil Informan II

Bapak Sukran, laki-laki yang sudah berusia 42 tahun, lahir di Desa Karta. Sudah menikah dengan Ibu Darmi yang telah memiliki 5 orang anak diantarnya 2 orang anak perempuan dan 3 orang anak laki-laki. Beragama islam. Alamat. Jalan Ratu Pengadilan Desa Karta No 17 RK/RT 08/02. Kecamatan Tulang Bawang Udik, Kabupaten Tulang Bawang Barat. Bapak Sukran memiliki lahan pertanian seluas 0,35 hektar serta bekerja sebagai petani ubi kayu selama 17 tahun dan sebelumnya sebagai petani serabutan. Kini bapak Sukran telah merasa puas dengan hasil yang didapatnya dari usaha pertanian ubi kayu miliknya karna rumah yang di milikinya sudah

permanen, anak-anak kesemuanya bersekolah serta bapak sukran sudah memiliki kendaraan roda dua yang bisa dipergunakanya sebagai sarana transportasi untuk merawat kebun milik nya

3. Profil Informan III

Bapak Sobirin, laki-laki yang sudah berusia 40 tahun, lahir di Desa Karta . Sudah menikah dengan Ibu Maimunah yang telah memiliki 4 orang anak diantarnya 2 orang anak perempuan dan 2 orang anak laki-laki. Beragama islam. Beliau merupakan penduduk asli masyarakat Desa Karta karena beliau lahir di desa tersebut. Pak Sobirin bekerja sebagai petani sudah 30 tahun, kini dia menekuni usaha pertanian padi dan memiliki lahan pertanan seluas 0,25 hektar.


(39)

49

4. Profil Informan IV

Bapak Malik, laki-laki berusia 48 tahun, lahir di Desa Karta. Bapak Malik sudah menikahi seorang gadis yang telah menjadi istrinya yaitu Ibu Yuni, serta memiliki 3 orang anak diantarnya 1 orang anak perempuan dan 2 orang anak laki-laki. Memeluk agama islam. Beliau juga merupakan warga asli Desa Karta serta asal usul

keluarganya juga warga asli pribumi Desa Karta. Dia bekerja sebagai petani semenjak masih berusia 20 tahun kini dia menekuni usaha perkebunan karet luas lahan

pertanian yang dimilikinya adalah 0.50 hekter, dari hasil sebagai petani karet bapak Malik sudah berhasil membangun rumahnya walapun masih bata merah dan

menyekolahkan anak-anaknya. Yang pertama anaknya bersekolah di SMA Negri 01 Tulang Bawang Udik, yang ke dua bersekolah di SMP Negri 3 Karta serta yang Paling bungsu bersekolah di SD Negri 02 Karta.

5. Profil Informan V

Bapak Sarmanto, laki-laki yang sudah berusia 35 tahun, lahir di Desa Karta . Sudah menikah dengan ibu Warsiem yang telah memiliki 4 orang anak diantarnya 2 orang anak perempuan dan 2 orang anak laki-laki. Beragama islam. Beliau merupakan penduduk asli masyarakat Desa Karta karena beliau lahir di desa tersebut meskipun sejarah keluarganya merupakan keluarga pendatang dari pulau Jawa. Pak Sarmanto bekerja sebagai petani sudah 20 tahun, kini dia menekuni usaha perkebunan karet, serta lahan pertanian yang sudah di tanaminya dengan karet seluas 0.25 hektar.bapak Sarmanto bekerja sebagai petani karet kini merasa sangat bersyukur karena dia merasa perekonomianya lebih baik dari pada sebelunya , kini dia sudah memiliki rumah yang sudah cukup baik walawpun masih bertembokan geribik, anaknya yang


(40)

pertama bersekolah di SLTP Negri 3 Karta dan yang kedua serta ke tiga masih duduk di bangku SD, semua itu di dapatkan dari hasil perkebuan karet miliknya.

Tabel 11 Profil Informan

Profil Informan

Informan

I II III IV V

Status Perkawinan Kawin Kawin Kawin Kawin Kawin

Umur 47 Tahun 42 Tahun 40 Tahun 48 Tahun 35 Tahun Jumlah Anak 2 Orang 5 Orang 4 Orang 3 Orang 4 Orang

Pendidikan SD SD SMP SD SMP

Suku Jawa Jawa Lampung Lampung Jawa

Lama Bekerja 30 Tahun 17 Tahun 27 Tahun 28 Tahun 20 Tahun Luas Lahan Pertanian 0,25

Hektar

0,35 Hektar 0,25 Hektar 0,50 Hektar 0,25 Hektar Jenis Lahan Pertanian Kelapa

Sawit

Ubi Kayu Padi Karet Karet

Sumber : Data survey, Januari 2012

B. Hasil Penelitian 1. Informan I

Informan pertama adalah Bapak Radin yang biasa di sapa Pak Radin, ia adalah orang yang tergolong pekerja keras, supel, dan ramah pada usaianya yang sudah hampir setengah abad 47 tahun. Dari kecil beliau sudah terbiasa hidup mandiri dengan cara tidak pernah mengantungkan keinginanya terhadap orang tua. Pak Radin merupakan salah satu petani kelapa sawit di Desa Karta, yang mana perkebunan yang di rawat adalah kebun kelapa sawit miliknya sendiri.

“Dulu saya ngak kepengen jadi petani, tapi mau bagai mana lagi, orang saya gak ada keterampilan lain lagi selain tani. Ya saya jalanin aja pekerjaan saya sebagai petani. Gi mana mau milih pekerjaan lain orang saya sekolah cuman tamat sekolah dasar aja “


(41)

51

Bagi beliau pekerjaan itu amanah yang harus dijalankan dengan benar-benar tampa harus melihat seberapa besar tenaga yang akan dikeluarkan. Berdasarkan dari kegigihanya, beliau tidak pernah merasa keputus asaan. Lahir di Kota Bumi dengan keterbatasan ekonomi Bapak Radin pergi merantau ke Desa Karta untuk mencari pekerjaan, sehinga pada suatu ketika Bapak Radin bertemu dengan seorang gadis bernama Surani yang kini sudah menjadi istrinya. Bapak Radin dan Ibu Surani menikah pada tanggal 2 Oktober 1988, mereka menikah dengan umur suami 22 tahun, dan istri 20 tahun, yang tergolong masih belum cukup dewasa, pada saat itu Bapak Radin sudah bekerja sebagai petani dan Ibu Surani sebagai buruh tani, sejak tahun 2001 Ibu Surani dan Bapak Radin sudah mempunyai 2 anak yang kedua anaknya dudah bekerja dan masih bersekolah yaitu : Anak yang pertama sudah menyelesaikan pendidkanya di SMU Negri 01 Tulang Bawang Udik, Tulang Bawang Barat serta sudah bekerja di sebuah minimarket ( alfa mart ) yang ada di desa Karta dan yang kedua masih duduk dibangku Sekolah Dasar Negri 01 Desa Karta

Kecamatan Tulang Bawang Udik Kabupaten Tulang Bawang Barat.

Bapak Radin dan Ibu Surani hanya memiliki lahan pertanian seluas 0,25 hektar yang didapatkanya dari warisan orang tua Ibu Surani, sedangkan penghasilan yang di dapat Bapak Radin dan Ibu Surani sebagai petani dan buruh tani pada tahun 2000

perbulanya adalah Rp. 500.000, dengan gaji yang didapatnya itu hanya cukup untuk makan dan minum saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang lainya, sehinga Bapak Radin dan Ibu Surani harus mencari bagai mana caranya agar penghasilan merka bisa lebih baik.


(42)

“ Penghasilan saya dan istri pada kisaran tahu 2000 sebagi buruh tani harian lepas setiap bulanya itu cuman Rp. 500.000 itu juga cuman cukup untuk makan minum saja, sedangkan anak sudah mau mulai masuk sekolah. Sudah pasti akan membutuhkan beaya yang banyak, kalu saya ngak menmcari cara supaya penghasilan nambah, bisa-bisa anak saya gak sekolah nantinya. Saya ngak mau ngelihat anak saya ngak sekolah cukup saya aja yang jadi orang bodah “.

Mengigat akan semua kebutuhan yang semakin besar itu maka Bapak Radin dan Ibu Surani berusaha meningkatkan pendapatanya dengan cara ikut bergabung kedalam kelompok tani ( GAPOKTAN ) Tumpuan Hati, yang petaninya menanam kelapa sawit yang ada di Desa Karta, pada saat tergabung di dalam kelompok tani kelapa sawit ( GAPOKTAN ) Bapak Radin mendapatkan bantuan dari pemerintah bahkan swasta (perusahaan pengolahan miyak kelapa sawit ) berupa pinjaman modal usaha,bibit unggul, pupuk dan pestisida-pestisida yang sangat dia butuhkahkan bagi tanaman kelapa sawit yang akan ditanamnya di lahan pertanian seluas 0,25 hektar miliknya.

“ Saya ngikut kelompok tani agar saya bisa mendapatkan bantuan modal usaha, pupuk dan pestisida. Kalo ngak ngikut kelompok tani bagai mana saya bisa mengarap lahan pertanian yang saya miliki orang saya ngak ada modal buat ngegarapnya.Mana lahan pertanian itulah yang bisa saya andalkan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang makin banyak “.

Dengan memanfaatkan bantuan-bantuan yang dia dapat Bapak Radin dan Ibu Surani mulai mengolah lahan pertanianya dan membuat lubang-lubang yang nantinya akan dia tanaminya bibit unggul kelapa sawit dengan mutu yang terjamin baik, yang di dapatkanya dari batuan pemerintah, Bapak Radin mulai mengolah lahan pertanianya dengan terlebih dahulu menyemprot lahan pertanianya dengan pestisida agar rumput-rumput liar yang tumbuh mati, barula Bapak Radin muli melakukukan pengalian lubang dengan kedalaman 50 cm dan berjarak 4 M × 5 M untuk tempat menanam


(43)

53

bibit kelapa sawit yang akan di tanamnya. Setalah bibit kelapa sawit di tanam setiap rumpun batang kelapa sawit dipupuk lalu dilakukan penyemprotan hama daun tanaman selama 6 bulan sekali, setelah itu Bapak Radin melakukan penyemprotan rumput liar dan membersihka pelepah kelapa sawitnya setiap 3 bulan sekali, hal ini dilakukan agar tanaman kelapa sawit tumbuh subur sehinga batang kelapa sawit cepat membesar dan pada umur 5 tahu kelapa sawit miliknya bisa mulai berbuah sebab tanaman kelapa sawit berbuah idiealnya berumur 5 tahun.

“Sebelum bibit kelapa sawit ditanam buat dulu lubang nya, dalamnya kira-kira 40 cm dan jarak dari lubang kelubang 4 M × 4 M , lalu di isi pupuk kompos setalah itu baru bibit ditanam. Setelah bibit tumbuh baik setiap 6 bulan harus dipupuk.Setiap 3 bulah sekali di semprot rumput-rumput liar agar tanaman kelapa sawitnya bisa menyerap unsur-unsur tanah yang dia butuhkan, dan jangan lupa pelepah kelapa sawitnya harus di buang.Bila kegiatan ini di lakukan dengan rutin, saya yakin 5 tahun kebun kelapa sawitnya pasti udah mulai buahpasir “.

Bapak Radin mendapatkan cara merawat tanaman kelap sawit dari tetanganya sesama petani kelapa sawit yang telah lebih dahulu berhasil berkebun kelapa sawit, sehinga Bapak Radin tidak merasa ragu untuk mengikuti dan memperaktekanya di

perkebunan milik Bapak Radin. Dengan mengikuti saran dari tetangganya itu kebun kelapa sawit milik Bapak Radin sangat terawat dan terjaga dari hama-hama penyakit tanaman yang nantinya bisa merusak perkebunan milik nya.

“ Saya sering nanya-nanya sama teman-teman saya agar dapat solusi kalo kebun kelapa sawit saya terserang hama tanaman. Kolo teman saya tau bagai mana cara memberantasnya pasti mereka ngasih tau saya. Sehinga saya bisa langsung bisa memberantashama tanaman kelapa sawit di kebun miliksaya “. Bapak Radin dan Ibu Surani mengawali pekerjaan di kebun kelapa sawitnya nya sejak pukul 8 dini hari setelah anak-anak mereka pergi kesekolah lalu Ibu Surani menyelesaikan pekerjaanya sebagai ibu rumah tangga, mereka pergi ke kebun dengan


(44)

mengunakan sepedah ontel dan sesampainya di perkebunan, mereka langsung mengerjakan pekerjaan mereka sebagai mana layak petani kelapa sawit pada umumnya, hal ini dilakukan mereka sampai dengan pukul 4 sore hari. Apabila pekerjaan di kebun kelapa sawit milik mereka sudah selesai maka ke esokan harinya mereka akan bekerja di perkebunan milik petani yang lain denga cara menjual jasa mereka kepada petani lainya sebagai buruh tani dengan upah Rp. 20.000 setiap orang.

“Bapak brangkat keladang biasanya jam 8 pagi naik sepedah, sampek di kebon langsung kerja, pulangnya jam 4 sore. Kalo kerjaan dikebun milik bapak udah selesai semua, besoknya bapak ngikut orang-orang kerja di kebun tempat orang lain, Bapak biasa di bayar Rp. 20.000 seharinya “.

Setelah melakukan perawatan tanaman pertanian dengan baik kini kini tiba waktunya Bapak Radin dan Ibu Surani memetik hasil perkebunan kelapa sawit milik mereka, Bapak Radin dan Ibu Surani sudah bisa memulai pemanenan tahap awal kebun kelapa sawit milik mereka atau disebut dengan istilah buah pasir sehinga pendapatanya Bapak Radin dan Ibu Surani sekarang lebih meningkat dari pada sebeluya cuma berpenghasilan Rp. 500.000 kini telah bertambah menjadi Rp. 1200.000 perbulanya, pendapatan mereka akan terus meningkat seiring dengan makin bertambahnya umur kebun kelapa sawit milik mereka.

“ Alhamdulillah sekarang ini kebun kelapa sawit saya sudah mulai berbuah. Saya bersyukur pendapatan saya tiap bulan menjadi lebih baik tadinya pendapatan saya cuman Rp. 500.000 sekarang sudah menjadi Rp. 1200.000 setiap bulanya saya merasa cukup untuk kebutuhan hidup saya selama ini “. Bapak Radin dan petani-patani yang lainya secara rutin melakukan kegiatan gotong royong memperbaiki jalan yang menuju kebun kelapa sawit milik mereka 1 kali dalam 2 minggu hal ini agar tidak menjaga agar jalan tidak mengalami kerusakan dengan cara menimbun kembali jalan-jalan yang sudah berlubang. Dengan


(45)

55

melakukan perawatan jalan yang menuju kebun mereka secara rutin, Bapak Radin bersama para petani lainya tidak merasa sulit ketika memanen hasil perkebunan kelapa sawit milik mereka sehinga mereka dapat melakukan pemanenan kelapa sawit secara tepat waktu tampa harus terkendala oleh rusaknya jalan-jalan yang menuju kebun mereka.

“ Kalo ngak petani yang ngrawat jalan siapa lagi mas..? orang yang banyak ngunain jalan peladangan itu petani, kalo jalanya rusak kan jadi repot petaninya mau ngluarin hasil panen kelapa sawit, mobilnya ngak bisa lewat jadi kita petani yang rugi ”.

2. Informan II

Informan yang ke dua adalah Bapak Sukran laki-laki yang berusia 42 tahun, orang-orang disekitarnya memangil beliau dengan pangilan Pak Sukran,beliau adalah petani ubi kayu. Pak Sukran merupakan sosok lelaki yang gigih dalam bekerja untuk

memenuhi kebuthan hidup agar dia dan keluarganya bisa bertahan hidup.Pak Sukran mempunyai seorang istri yang bernama Ibu Darmi, Bapak Sukran dan Ibu Darmi menikah pada tahun 1985 tepatnya pada tanggal 12 september 1985 yang pada awalnya mereka bertepat tingal dengan ikut orang tua dari bapak Sukran, mereka menikah pada usia Bapak Sukran berumur 25 tahun dan ibu Darmi 23 tahun, semenjak menikah kedua pasangan ini telah dikaruniai lima orang anak. Bapak Sukran dan ibu Darmi kini milik pribadi mereka yang di bangun dari hasil sebagai petani yang beralamat di Jalan Ratu Pengadilan Desa Karta No 17 RK/RT 08/02. Pada mulanya Bapak Sukran dan ibu Darmi hanya bekerja sebagai petani buruh harian lepas yang bekerja di kebun orang lain dengan pendapatan Rp. 12.000


(46)

anak-anak mereka sudah bersekolah, anak yang pertama dan ke dua bersekolah di SMP Negri 3 Desa Karta Kelas 3 dan 1, anak ke tiga dan ke empat bersekolah di Sekolah Dasar Negri 02 Desa Karta Kelas 4 dan 1 seterusya yang ke lima masih berumur 5 tahun. sedangkan dengan pendapatan sekecil itu hanya cukup untuk kebutuhan hidup sehari-hari saja sehinga mereka harus berusaha untuk meningkatkan pendapatan agar kebutuhan-kebutuhan hidup yang semakin tinggi itu biasa tercukupi.

“ Dulu saya kerjanya sebagai buruh harian lepas di kebun milik tetanga dengan gaji Rp. 12.000 setiap harinya, lama-lama anak-anak udah pada sekolah dengan upah seperti itu pasi tidak cukup buat memenuhi kebutuhan hidup, jadi saya berpikir harus cari usaha biar bisa jadi lebih baik

prekonomian saya “.

Suatu ketika Bapak Sukran dan Ibu Darmi diberi kepercayaan oleh salah satu keluarganya untuk mengarap lahan pertanianya ubi kayu ( singkong ) seluas 0,35 hektar milik keluarganya itu secara cuma-cuma, maka ketika itulah Bapak Sukran dan Ibu Darmi bertekat besar untuk mengarap lahan pertanian ubi kayu itu dengan baik sehinga dapat meningkatkan pendapatan mereka dengan cara bekerja keras mengolah lahan dan menjaga tanaman ubi kayu yang akan mereka tanam di lahan pertanian ubi kayu secara gratis itu, namun dalam usaha mengolah dan merawat tanaman ubi kayu mereka banyak mendapatkan kendala-kendala seperti, keterbatasan modal usaha, langkanya bibit unggul serta pupuk bahkan pestisida sehinga menyebabkan Bapak Sukran dan Ibu Darmi mengalami gagalan panen, tetapi hal ini tidak membuat Bapak Sukran dan Ibu Darmi menjadi merasa kapok untuk mencari jalan keluarnya, mereka tetap berusaha mencari solusi agar mereka bisa terlepas dari permasalah yang mereka hadapi itu.


(47)

57

“ Waktu modal saya masih sedikit, saya mengarap lahan perkebunan singkonya dengaan sekedarnya saja. Ngak pernah saya pupuk, rumputnya banyak yang tumbuh jadi kebun singkong saya batang nya kecil-kecil karena ngak subur.Waktu saya panen kadang-kadang modal saja ngak pulang “. Pada suatu hari Bapak Sukran datang bertamu kerumah tetanga yang sama-sama berperofesi sebagai petani ubi kayu, Bapak Sukran mendapat berita dari tetanganya itu bahwa ada salah satu perusahaan milik suwasta yang produknya berupa tepung tapioka berbahan dasarnya dari ubi kayu akan memberikan bantuan.

berupa pupuk, dan pestisida dengan perjanjian bahwa bantuan itu dilunasi ketika musim panen tiba, serta keuntungan dari hasil panen akan di bagi sepertiganya buat perusahaan, selain itu hasil panen perkebunan singkong milik para petani yang mendapatkan bantuan harus di jual kepada perusahaan dengan harga yang sesuai dengan harga normal pada saat waktu panen tiba.

Bapak Sukran beserta tetanganya itu berusaha mecari kebenaran tentang berita itu dengan cara mendatangi perusahan milik swasta itu untuk menanyakan kebenaran berita itu, setelah mendapat keterangan dan informasi dari perusahanan tepung tapioka, ternyata berita itu memang benar adanya, setelah itu mereka langsung mendaptar sebagai petani yang menerima bantuan itu lalu mengabarkan informasi itu kepada para petani yang lain agar mereka bisa mengetahui dan mendapatkan bantuan yang sama.

Selain modal, pupuk dan pestida perusahan juga memberikan bantuan sarana transportasi ketika waktu panen tiba. Bapak Sukran banyak mendapatkan ilmu tata cara bertani ubi kayu yang baik dari keluarga dan rekan-rekanya sesama petani


(48)

sebagai modal pengetahuanya untuk menjadi petani ubi kayu yang nantinya akan dia budidayakan di lahan pertanian miliknya.

“ Saya mendapatkan informasi dari kawan, bahwa pabrik BTJ ( Bumi Tapioka Jaya ) mau ngasih pinjaman modal usaha, pupuk dan pestisida dengan cara keuntungan di bagi tiga dengan perusahaan. Langsung saja kawan saya itu saya ajak untuk menanyakan langsung ke pada pihak perusahaan, ternyata memang benar saya sama teman saya itu langsung mendaptar sebagai orang yang menerima bantuan itu. Sewaktu saya ronda malam saya ceritakan dengan teman-teman yang lainya, akhirnya banyak dari mereka yang mendaptar dan menerima bantuan itu “.

Setelah bapak Sukran dan tetanga nya itu mendapatkan modal mulailah mereka mengolah lahan pertanian ubi kayu mereka dengan cara menaburi lahan pertanianya dengan pupuk kandang ( pupuk non organi ), setelah di taburi pupuk kandang secara merata lahan kemudian mereka bajak dengan teraktor yang di sewa mereka dari salah satu warga setelah pembajakan selesai mulailah lahan perkebunan ubi kayu itu di tanami dengan bibit ubi kayu jenis TAILAND II yang terlebih dahulu bibit di potong sepanjang 15 cm dan di tanam di lahan dengan jarak tanam 50 cm × 50 cm, alasan Bapak Sukran memilih jenis singkong ini karena singkong jenis ini pada umur 6 bulan sudah siap untuk dipanen jadi dalam 1 tahun bapak Sukran bisa melakukan pemanenan sebanyak 2 kali, setelah bibit di tanan usia tanaman singkong berumur 1 bulan Bapak Sukran membersihkan rumput-rumpit liar yang tumbuh di kebun ubi kayu milikya dengan cara di cangkul, setelah usia tanaman berumur 45 hari barulah pemupukan di laksanakan, pupuk yang di gunakan Bapak Sukran berjenis Urea sebanyak 100 kg, NPK sebanyak 25 kg, dan KCL sebanyak 25 kg. ubi kayu berumur 2,5 bulan kebun dilakukan penyemprot rumput-rumput liar yang merusak tanaman, setelah tanaman singkong berumur 5 bulan di semprot dengan pestisida bertujuan


(49)

59

agar rumput-rumput liar yang tumbuh kembali menjadi mati, ketika umur tanaman ubi kayu mencapai 6 bulan tinggal Bapak Sukran menungu wuktu yang tepat untuk melakukan pemanenan perkebunan ubi kayu miliknya.

“ Singkong jenis Tailand II itu umurnya cepat cuman 6 bulan sudah bisa di panen, cara ngurusnya juga gak berbeda dengan jenis singkong yang lainya, kalo luas ladang pertanianya milik saya 0,35 hektar dipupuk mengunakan pupuk jenis Urea sebanyak 100 kg, NPK sebanyak 25 kg, dan KCL sebanyak 25 kg. Singkong berumur 2,5 dan 5 bulan di semprot dengan pestisida biar rumput-rumput liar yang tumbuh menjadi mati, setelah itu kita tinggal menunguwaktu panen “.

Semenjak itulah Bapak Sukran merasa tidak terlalu terbebani masalah modal dan bagai mana bertani yang baik dalam usahanya mengelola kebunya ubi kayu sehinga mutu tanaman yang dimilikiya jauh lebih baik dari pada sebelumnya hal ini terbukti hasil panen Bapak Sukran dari lahan pertanian 0,35 hektar yang sebelumnya 10 ton menjadi 15 ton dan setelah Bapak Sukran mengembalikan bantuan serta keuntungan dibagi sepertiganya untuk perusahan Bapak Sukran masih mendapatkan uang sebanyak Rp. 8300.000 dalam satu kali masa panen ubi kayu tiba sehinga lahan pertanian yang tadinya Bapak Sukran hanya menumpang kini telah dibelinya dari si pemilik tanah.

“ Dulunya setiap saya panen singkong itu ngak pernah lebih dar 10 ton, tapi setalah saya melakukan perawatan dengan cara yang baik panen singkong saya naik menjadi 15 ton, sehinga setiap saya panen mendapatkan uang Rp. 8300.000 uang itu saya suruh istri saya untuk menabungkanya di bank, syukur alhamdullilah tadinya tanah yang saya tanami singkong skarang sudah saya beli dari yang punya “.

Dengan meningkatnya pendapatan bapak Sukran mengakibatkan semakin membaiknya perekonomian keluarganya sehinga bapak sukran bisa membangun rumahya yang tadinya bertembokan geribik kini sedah menjadi bata merah, selain itu


(50)

bapak Sukran tidak kesulitan lagi dalam mencari kebutuhan sehari-hari dan beaya anak nya sekolah seperti dahulu

Selain dari masalah modal, masalah sarana dan prasarana juga sangat penting dalam meningkatkan mutu pertanian di suatu daerah, untuk merawat sarana dan prasarana maka Bapak Sukran dan seluruh masarakat yang memiliki lahan pertanian melakukan kegiatan gotong royong setiap akhir bulan dan diwajibkan untuk membayar

sumbangan sebesar Rp. 10.000 dan gotong royong setiap setengah bulanya.

“ Gotong royong setiap bulan itu sama membayar uang salar jalan itu sudah jadi kewajiban buat ngrawat jalan, kalo ngak di rawat jalanya rusak, akhirnya kita juga yang merasa kesulitan “.

3. Informan III.

Informan yang ke tiga adalah Bapak Sobirin yang akrab di pangil orang-orang dengan panggilan Pak Birin. Beliau bekerja sebagai petani padi yang dikenal dengan

keuletanya dalam bekerja di areal persawahan, Pak Sobirin menikahi seorang wanita dari suku Lampung yang memilik nama Maimunah. Bapak Sobirin dan Ibu

Maimunah sepasang suami istri yang menikah masih berumur muda dan tidak memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, Bapak Sobirin hanya lulusan SMP dan Ibu Maimunah hanya lulusan SD saja, pada waktu menikah Bapak Sobirin berumur 15 tahun sedangkan Ibu Maimumah berumur 14 tahun, dan mereka bersama-sama belum mempunyai pekerjaan tetap hanya sebagai buruh tani harian lepas, awal mula

menikah Bapak Sobirin dan Ibu Maimunah bertempat tinggal bersama orang tua dari Ibu Maimunah.


(51)

61

Setelah beberapa tahum menikah mereka dikarunia empat orang anak. Anak pertama bersekolah di SMA Negri 01 Tulang Bawang Udik duduk di kelas 1, anak kedua dan ketiga bersekolah di SMP Negri 03 Karta duduk dikelas 2 dan 1, anak yang ke empat duduk di bangku Sekolah Dasar SD Negri 01 Karta kelas2.Mengingat anak-anaknya bersekolah mengakibatkan kebutuhan hidup sehari-hari mereka semakin bertambah sedangkan pendapatan mereka hanya pas-pasan saja, hal ini mengharuskan Bapak Sobirin dan Ibu Maimunah dituntut harus bisa mencukupi kebutuhan hidup yang merupakan tangung jawab mereka sebagai orang tua.

“ Anak saya 4 orang, semuanya sudah bersekolah kalo saya tidak bisa mencari cara untuk memperbaiki ekonomi keluarga saya bisa-bisa anak-anak pada putus sekolah semua, zaman bapak ngak sekolah jadi petani apa lagi zaman sekarang, nantinya mau jadi apa mereka bisa-bisa nyari berasa aja gak bisa“. Suatu ketika Bapak Sobirin mendapatkan sebidang tanah lahan persawahan yang luasnya hanya 0,25 hektar dari bapak mertuanya sebagai warisan untuk istrinya Ibu Maimunah, sedangkan untuk mengarap lahan persawahan itu Bapak Sobirin menemui beberapa kendala terutama modal usaha untuk mengarap lahan persawahan milik mereka itu, sehinga Bapak Sobirin hanya mengarap lahan persawahanya dengan hanya bermodalkan tenaga dan uang sekedarnya saja yang di peroleh Bapak Sobirin dari usahanya menjadi buruh tani di perkebunan orang lain, sehingga penghasilan yang diperoleh dari hasilnya mengarap lahan persawahanya sangat sedikit, ini di karenakan mutu tanaman padi Bapak Sobirin tidak berkualitas dikaranakan

kurangnya pemupukan dan perawatan tanamanya sehinga tanaman padi milik Bapak Sobirin mudah terserang hama tanaman selalu mudah merusak tanaman padi


(52)

8 pagi hinga pukul 5 sore dan biasanya Ibu Maimunah menyusul setelah anak-anak mereka berangkat sekolah, biasanya pada pukul 1 siang anak-anak mereka menyusul ke sawah dengan membawakan makan siang buat Bapak Sobirin dan Ibu Maimunah sekalian mereka membantu bekerja di kebun milik mereka itu.

“ Bapak berangkat kesawah seperti biasanya jam 8 pagi, biasanya siang-siang istri saya nyusul ke sawah sambil membawa makan siang buat saya sekalian dia ngebantu saya berkerja mengurus sawah. Sampai jam 5 sore saya dengan istri pulang kerumah dengan mengunakan sepedah “.

Pada suatu hari Bapak Sobirin di tawari pinjaman modal oleh tetanganya utuk merawat areal persawahan milik nya itu, dengan sistem bagi hasil dengan perundingan keuntungn dari hasil panen di bagi dua setelah modal dari proses pertanian lebih dahulu di bayar setelah pemanenan tiba. Bapak Sobirin tidak

menyianyiakan kesempatan baik itu diapun menyetujui tawaran tetanganya itu, selain modal usaha Bapak Sobirin banyak sekali mendapatkan informasi dan tata cara mengolah serta merawat tanaman padinya dari tetangga dan rekan-rekanya sesama petani yang ada di sekitar desanya.hinga mutu tanaman pertanianya semakin membaik setiap panen tiba dengan pendapatan hasil gabahnya semakin meningkat.

“ Untung dulu adatetangga yang mau minjamin Bapak modal buat ngegarap sawah,. Bapak seneng banget di pinjamin modal sehinga Bapak langsung mengarap persawahan Bapak dengan baik. Selain minjamin bapak modal buat ngerap sawah dia juga ngebimbing Bapak bagai mana caranya bercocok tanam padi di sawah, jadi Bapak dapet ilmu dan Bapak praktekan di tanaman padi yang Bapak tanam di sawahsehingga sawah Bapak bisa sangat terawat dan hasil panenya sangat memuaskan hati Bapak “.

Setelah Bapak Sobirin menerima modal dari tetanganya Bapak Sobirin langsung mengolah lahan pertanianya dengan cara membajak dan mengaru lahan


(53)

63

biasa di sewa oleh para petani di desanya , kemudian Bapak Sobirin menanami areal persawahan miliknya itu dengan cara meminta bantuan dengan para petani yang lainya(sambatan). Bapak Sobirin menanami areal persawahanya dengan

mengunakan bibit padi jenis pandan wangi yang terlebih dahulu sudah disemaikanya, setelah bibit padi berumur 15 hari. Bapak Sobirin mulai memupuk serta merawat tanaman padinya dengan pupuk lalu penyemprotan mengunakan pestisida yang di belinya dari toko pertanian yang ada di sekitar desa Bapak Sobirin, namun dalam membeli pupuk dan pestisida Bapak Sobirin harus mengeluarkan uang cukup banyak, ini dikarenakan mahalnya harga pupuk dan pestisida yang di gunakan bahkan tak jarang Bapak Sobirin harus pulang dengan tangan kosong karena kelangkaan pupuk dan pestisida di toko-toko alat pertanian, ini dikarenakan ulah para penimbun yang ingin mencari keuntungan sendiri.

“ Sekarang ini nyari pupuk sama pestisida itu susah banget, ditoko-toko daerah sekitar sini itu sangat langka, kalaupun ada juga harganya sangat mahal sekali, alasan tokonya si barang lagi belum dikirim dari Jakarta. Bapak sering pulang nga dapet pestisidanya sehinga Bapak pesen sama saudara Bapak yang ada di Metro agar bisa dapat buat ngerawat tanaman padi bapak di sawah”. Perawatan tanaman padi di sawah secar rutin dilakukan agar tanaman padi milik Bapak Sobirin tumbuh subur serta terhindar dari hama-hama tanaman yang bisa merusak tanaman padi, kegiatan ini dilakukan Bapak Sobirin hinga musim panen tiba. Dengan melakukan cara bertani seperti itu Bapak Sobirin merasa lebih di untungkan karena setiap panen tiba Bapak Sobirini memperoleh 2,5 ton padi, pada hal sebelum Bapak Sobirin mengunakan metode seperti ini Bapak Sobirin setiap panen tiba tidak pernan lebih dari 1 ton gabah


(54)

Dengan memperoleh 2,5 ton padi setiap panen tiba Bapak Sobirin memperoleh penghasilan bersih Rp. 2500.000 setelah Bapak mengembalikan modal dan membagi keutungan dengan sang tetanganya yang telah membantu dia sebelumnya,. Sekarang ini Bapak Sobirin tidak pernah lagi meminjam modal dari tetanganya itu, Bapak Sobirin telah mempunyai modal sendiri dengan demikian penghasilan Bapak Sobirin menjadi lebih tinggi karena Bapak Sobirin tidak berbagi keuntungan lagi dengan sang pemilik modal.

“ Setelah Bapak merawat tanaman padi di sawah dengan baik hasilnya lumayan bagus ini terbukti hasil panen padi Bapak jauh meningkat dari sebelunya cuman 1 ton gabah sekarang ini telah mencapai 2,5 ton setiap panenya. Itu kalau Bapak jual semua Bapak memperoleh penghasilan Rp. 2500.000 bersih sudah mengembalikan pinjaman sama berbagi keuntungan dengan orang yang meminjamkan modalnya sama Bapak”.

Agar para petani tidak mendapatkan kesulitan menyangkut rusaknya sarana umum dalam usaha pertanian mereka, Bapak Sobirin dan para petani padi lainya mengaku melaksanakan kegiatan bergotong royong secara rutin setiap setengah bulan sekali sebagai upaya mereka untuk merawat pasilitas-pasilitas yang sangat penting dalam menunjang usaha pertanian milik mereka seperti jalan, bendungan, dan irigasi, karena mereka sadar kalau tidak dirawat maka pasilitas-pasilitas yang sangat mendukung usaha mereka ini akan cepet rusak.

Adapun kegiatan gotong royong itu biasanya nenutup lubang-lubang badan jalan dan jembatan serta perbaikan irigasi dan saluran pembuangan air yang ada, selain itu kegiatan gotong royong ini para petani di wajibkan untuk membayar sumbangan sebesar Rp. 10.000 yang sama-sama disepakati untuk beaea perawatan jalan dan kosumsi para petani sewaktu melakukan kegiatan gotong royang.


(55)

65

“ Kalau ngak di dibetulin jalan ma jembatanya mudah jebol, lubangnya

tambah gedek, terus kalo udah seperti itu kan yang susah petani sendiri mas… air nya ngak bisa lancar masuk ke sawah dan bisa-bisa truk yang mau

ngangkut hasil panenya nga mau masuk “

Pada tahun 2000 setiap tanggal 1 Bapak Sobirin dan para petani lain berkumpu di balai desa untuk mengikuti penyuluhan yang dilakukan dinas pertanian kabupaten Tulang Bawag Barat, disini mereka banyak mendapatkan ilmu dalam usahanya merawat dan mengolah lahan pertanianya selain itu mereka biasa bertukar pikiran untuk mencari solusi tentang setiap permasalah yang mereka temui di perkebunan milik mereka, sehinga permasalahan-permasalahan itu bisa terselesaikan. Dengan aktif mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut, Bapak Sobirin merasa terbantu dalam upayanya merawat dan menjaga tanaman padi yang dia tanam di sawah milikya, sehinga pendapatan nya sekarang semakin meningkat dan kebutahan hidup keluarga nya yang semakin meningkat bisa terpenuhi.

“Pada tahun 2000 dulu setiap tanggal 1 itu ada petugas pertanian yang datang ke desa, jadi petani di suruh berkumpul di balai desa oleh Bapak Kepala Desa untuk mengikuti kegiatan penyuluhan pertania, itu sangat bagus sekali Bapak banyak mendapatkan pengetahau dari petugas penyuluhan, sehinga bapak jadikan modal pengetahuan dalam usaha pertanian sawah yang bapak garap. Selain itu jaga kalo tanaman padi di sawah terserang hama penyakit kita bisa tanyakan kepada mereka bagai mana cara memberantas hama itu kalo harus pakek pestisida kita bisa tanya apa jenis pestisida yang bagus untuk

memberantasnyan”. 4. Informan IV

Informan yang berikutnya adalah Bapak Malik, biasa di pangil Pak Malik. Pak Malik adalah seorang petani karet di Desa Karta, Pak Malik sudah menikah dengan Ibu Yuni,mereka menikah pada tahun 1990, pada usia yang cukup dewasa serta cukup mapan menikah. Pada saat itu Bapak Malik bekerja sebagai petani dan buruh tani


(56)

yang hasilnya cuma untuk memenuhi kebutuhan mereka berdua saja, itu dilakukanya setiap hari saja dan hasilnya adalah Rp.15.000–Rp. 20.000.

“ Waktu masih baru menikah Saya dan istri saya masih ngak ada pekerjaan, kerjaan kita cuman buruh tani harian lepas, yang kerjaanya selalu berpindah-pindah dari lahan perkebunan orang satu ke perkebunan orang lainya,

penghasilanya itu bermacam-macam, kalo kita bawa makan sendiri upahnya Rp. 20.000 kalo yang ngasih makan orang yang punyalahn pertanian upahnya Rp. 15.000 yang Rp. 5.000 itu dipotong buat beaea makan kita “.

Tahun demi tahun telah mereka lewati hingga kini mereka telah memiliki 3 orang anak yang telah bersekolah, anak pertama bersekolah di SMA Negri 01 Tulang Bawang Udik duduk dikelas 2, yang kedua bersekolah di SMP Negri 03 Karta duduk di kelas 1, anak ke 3 bersekolah di SD Negri 02 Karta duduk di kelas 4, kebutuhan hidup mereka semakin banyak dari sebelumnya sehinga pada akhirnya Bapak Malik dan Ibu Yuni memutuskan untuk lebih bisa bekerja secara maksimal guna memenuhi kebutuhan hidup mereka. Bapak Malik dan Ibu Yuni memiliki lahan pertanian dengan luas 0,25 hektar yang dibeli mereka dari hasil menjual sepeda motor milik Bapak Malik dengan harga Rp. 11.000.000 pada tahun 1998, akan tetapi dalam upaya pengolahan areal dan perawatan tanaman pertanianya, Bapak Malik banyak sekali menemui permasalahan sehinga lahan pertanian yang di miliki Bapak Malik tidak bisa memberikan penghasilan yang maksimal, bahkan tidak jarang Bapak Malik merugi setelah panen tiba hinga membuat modal usaha Bapak Malik semakin sedikit.

“ Pada tahun 1998lahan pertanian punya saya itu saya beli Rp. 11.000.000 dari hasil saya jual motor. Lalu lahan pertanian itu saya garap, karna modal saya ngak cukup jadi tanamanya itu tunbuhnya ngak subur, sehinga hama-hama tanaman itu mudah betul menyerang tanaman, akhirya tanamanya banyak yang mati sehingga Bapak malah rugi terus setiap panen tiba, akhirnya lama-lama modal buat usaha bapak habis sia-sia saja “.


(57)

67

Suatu ketika, Bapak Malik diberikan kepercayaan oleh tetanganya untuk merawat dan menyadap perkebunan karet (ngederes) milik tetanganya dengan kesepakatan hasil di bagi dua setiap menjual hasil panen dari perkebunan karet yang Bapak Malik deres, semenjak itu lah Bapak Malik mulai menyisikan pendapatanya dengan cara

menabung, sehinga tabungan Bapak Malik cukup untuk mengolah lahan pertanian yang tidak pernah lagi dirawatnya akibat kehabisan modal untuk usaha. Karena dia merasa bekerja sebagai penderes karet adalah suatu pekerjaan disektor pertanian yang tidak terlalu menguras tenaga yang cukup banyak selain itu juga perkebunan karet umurnya bisa bertahan lama, maka Bapak Malik dan Ibu Yuni memutuskan untuk menanam lahan pertanian milik mereka itu dengan tanaman karet.

“ Awalnya bapak di suruh tetanga bapak ngrawat dan menyadap kebun karet milik tetanga, dengan perundinga setiap bapak menjual hasil dari nyadap karet itu seper tiganya punya bapak, berawal dari situ bapak mulai menabung di bank sedikikit-demi sedikit sehinga tabungan bapak cukup untuk mengarap lahan pertanian bapak kembali, karena bapak merasa memanam karet itu lebih mudah perawatan dan umur tanamanya bisa bertahan lama. Akhirnya bapak dan istri bapak memutuskan untuk menanami lahan tanaman bapak dengan bibit tanaman karet, selain itu juga bapak bekerja di kebun karet milik tetangga bapak jadi bapak sudah tau tata cara merawat kebun karet sehingga pengalalaman di bidang perkebunan karet itu bapak praktekan di kebun karet milik bapak “.

Setelah Bapak Malik dan Ibu Yuni mendpatkan keputusan yang bulat mulailah Bapak Malik dan Ibu Yuni mengolah lahan pertanian mereka, dengan menyewa traktor milik salah satu warga desa untukmelejer lahan pertanian. Kemudian pengalian lubang dengan kedalaman 35 cm dan jarak dari lubang ke lubang 4 M × 4 M sebagai tempat penanaman bibit di siapkan, Bapak Malik menanam lahan pertanian karetnya dengan mengunakan bibit karet jenis REM PB 7 dengan melakukan pemupukan 1 kali selama 4 bulan, penyemprotan rumput liar selama 3 bulan sekali secara teratur.


(58)

Bapak Malik mengaku mendapatkan bibit, pupuk dan pestisida yang digunakanya itu dari bantuan pemerintah melalui program Petani Pelasma yang disalurkan lewat kelompok petani karet yang dia ikuti, Bapak Malik mendapatkan cara pengolahan dan perawatan perkebunan seperti itu dari kerabat, rekan-rekan nya sesama petani karet dan penyuluhan-penyuluhan oleh pemerintan yang selalu aktif dia ikuti.

Setelah 6 tahun usia kebun karetnya kini Bapak Malik sudah tidak bekerja dengan tetanganya lagi, dia sudah bekerja (ngederes) perkebunanya karet miliknya sendiri.

“ Awalnya bapak dulu ngikut program pemerintan yang namanya Petani Plasma, dari situ bapak mendapatkan bantuan modal berupa bibit karet jenis REM PB 7, pupuk dan pestisida-pestisida yang di butuhkan buat merawat tanaman karet. Setelah bapak mendapatkan bantuan itu, langsung aja lahan pertanian bapak olah dengan cara mengali dan memberikan pupuk kandang lubang tempat menanam bibit, setelah semuanya lubang siap baru penaman bibit dilakukan, setelah bibit tumbuh, pada umur 4 bulan tanaman kita pupuk dan disemprot rumput-rumput liarnya biar tanamn nya subur sehinga cepet besar hal ini dilakukan sampek sekarang, walaupun kebun karet bapak sudah besar dan Bapak sudah mendapatkan penghasil dari kebun karet itu “.

Bapak Malik mengaku dari 0,25 hektar kebun karetnya bisa menghasilkan 5 kilo getah karet yang yang biasa dijualnya pada penampung-penampung getah karet yang ada di desanya dengan harga perkilonya Rp. 8000 jadi penghasilan Bapak Malik setiap harinya adalah Rp. 40.000 dengan pendapatan itu Bapak Malik dan Ibu Yuni merasa kebutuhan hidup mereka sudah bisa tercukupi, hal ini terbukti dengan meningkatnya perekonomian keluarga mereka dari sebelumnya. ,dari hasil sebagai petani karet bapak Malik sudah berhasil membangun rumahnya walapun masih bata merah dan menyekolahkan anak-anaknya. Yang pertama anaknya bersekolah di SMA Negri 01 Tulang Bawang Udik, yang ke dua bersekolah di SMP Negri 3 Karta serta yang Paling bungsu bersekolah di SD Negri 02 Karta.


(1)

4 Ditinjau dari letaknya secara geografis Desa Karta pada saat ini dapat dikatakan kurang menguntungkan, hal ini disebabkan oleh banyak faktor diantaranya sarana dan prasarana transportasi menuju daerah ini belum memadai karena jalan menuju desa ini masih banyak yang rusak serta berlubang sehinga pada waktu musim hujan sulit untuk dilalui, terisolasinya daerah ini dari pusat perdagangan sehingga harga-harga hasil bumi cenderung rendah. Menurut data desa, 43% masyarakat desa Karta hanya memiliki lahan < 0,5 ha sehingga kondisi ekonomi masyarakat dapat di katakan miskin. Gambaran keadaan yang di sebutkan diatas secara langsung maupun tidak langsung mencerminkan rendahnya pendapatan masyarakat di desa ini, terutama para petani. Adapun petani didesa ini kebanyakan petani yang menggarap lahan kering, dan bercocok tanam singkong, karet, kelapa sawit, jagung, dan padi gogo, serta tanaman tahunan lainnya yang mengandalkan pengairan tadah hujan, karena belum ada pengairan teknis di daerah ini. Bertitik tolak dari uraian pada latar belakang masalah terlihat bahwa kemiskinan di pedesaan sangat memprihatinkan, serta bagaimana cara meningkatkan pendapatan petani miskin masih menjadi masalah penting dalam strategi pembangunan nasional.

Kenyataan seperti di atas mendorong peneliti untuk mengadakan penelitian dengan judulUsaha-Usaha Petani Miskin Dalam Meningkatkan Pendapatannya (Studi

di Desa Karta Kecamatan Tulang Bawang Udik Kabupaten Tulang Bawang Barat).”


(2)

5

B. Rumusan Masalah

Berkaitan dengan masalah diatas, maka permasalahan yang akan diteliti adalah : Usaha-usaha apakah yang telah dilakukan oleh petani miskin di desa Karta untuk meningkatkan pendapatannya.

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk : Mengetahui usaha-usaha yang telah dilakukan oleh petani miskin di Desa Karta untuk meningkatkan pendapatannya.

D. Kegunaan Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian yang ingin dicapai, maka penelitian ini diharapkan mempunyai kegunaan sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis

Sebagai bahan pengembangan ilmu pengetahuan sosial, khususnya ilmu yang mempelajari tentang petani miskin sebagai bagian dari kajian sosiologi 2. Kegunaan Praktis

a. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sumber penelitian lebih mendalam dalam ruang lingkup yang luas dan juga di harapkan dapat bermanfaat bagi peneliti untuk menambah wawasan serta pengalaman mengenai usaha-usaha petani miskin dalam meningkatkan pendapatannya.

b. Hasil penelitian ini di harapkan dapat memberikan masukan pada civitas akademi unila


(3)

6 c. Hasil penelitian ini khususnya yang berada di daerah Desa Karta Kecamatan

Tulang Bawang Udik Kabupaten Tulang Bawang Barat dan sekitarny bisa di jadikan gambaran dalam upaya membenahi tingkat pendapatan masyarakat petani miskin. Serta memberikan masukan kepada instansi pemerintah dan suasta yang terkait agar bisa memberikan dukungan terhadap usaha-usaha petani miskin dalam meningkatkan pendapatannya.


(4)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa :

1. Karya tulis saya, Tesis / Skripsi / Tugas Akhir ini, adalah asli dan belum pernah diajukan untuk mendapatkan gelar akademik ( Magister / Sarjana / Ahli Madya ). Baik di Universitas Lampung maupun diperguruan tinggi lain 2. Karya tulis ini murni gagasan, rumusan dan penelitian saya sendiri, tanpa

bantuan pihak lain, kecuali arahan Tim Pebimbing dan Penguji.

3. Dalam karya tulis ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah di tulis atau dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan jelas di

cantumkansebagai acuan dalam naskah dengan disebut nama pengarang dan dicantumkan dalam daftar pustaka

4. Pernyataan ini aya buat dengan sesungguhnya dan apa bila dikemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidak benaran dalam pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar yang telah diperoleh karna karya tulis ini, serta sanksi lainya dengan norma yang berlaku di Universita Lampung.

Bandar Lampung 27 Februari 2012 Yang membuat pernyataan.

Budi Aryanto NPM 0346011004


(5)

PEDOMAN WAWACARA ( Indepenth Interview )

Judul Penelitian : Usaha-usaha Petani Miskin Dalam Menigkatkan Pendapatanya

Fokus penelitian : Bagaima Usaha-usaha Petani Miskin Untuk Meningkatkan Pendapatanya

I. Latar belakang sosial budaya dan identitas informan. Riwayat hidup informan :

 Nama :

 Tempat dan tanggal lahir :

 Alamat :

 Jumlah anggota keluarga :  Pendidikan terakhir :

 Agama :

II. DAFTAR PERTANYAAN

1. Bagaimana awal pertama kali bapak memilih bekerja sabagai petani ? 2. Hal-hal apa sajakah yang mendorong bapak untuk menjadi petani ? 3. Sudah berapa lama bapak bekerja sebagai seorang petani ?

4. Berapa luas lahan pertanian yang bapak punya ?

5. Dari makah asal mula bapak memiliki lahan pertanian itu ? 6. Berapa jumlah angota keluarga bapak ?

7. Apakah bapak juga bekerja sebagai buruh tani ?

8. Berapakah jumlah luas lahan pertanian yang bapak garap ? 9. Apakah lahan pertanian yang bapak garap milik pribadi ?

10. Dari mana asal bapak memperoleh lahan pertanian yang bapak miliki ? 11. Jenis tanaman apa yang bapak tanam di lahan pertanian bapak ?

12. Kendala-kendala apa saja yang bapak temui dalam usaha bapak menggolah lahan pertanian dan merawat tanaman yang bapak tanam ?

13. Bagai mana cara bapak memberantas hama penyakit yang menyerang tanaman pertanian yang bapak tanam di kebun ?

14. Dari mana bapak memperoleh modal,pupuk dan pestisida yang bapak gunakan dalam upaya bapak mengolah dan merawat tanaman yang bapak tanam dilahan pertanian bapak ?


(6)

15. Apakah bapak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah atau pihak suwasta melalui program-program yang ada di desa bapak ?

16. Program-program itu berasal dari pemerintah atau suwasta ?

17. Jenis bantuan apa saja yang telah bapak terima dari pemerintah dan suwasta selama ini ?

18. Apakah bapak merasa sangat terbantu dengan adanya program-program tersebut ?

19. Dari mana bapak biasa mengetahui informasi bantuan-bantuan yang bapak terima ?

20. Apakah bapak pernah merasa dirugikan setelah bapak menerima dan mengikuti program-program yang telah ada tersebut ?

21. Dari mana bapak bisa mengetahui ilmu tata cara bertani dan cara pengolahanlahan sertamerawat lahan pertanian yang bapak peraktekan selama ini ?

22. Apakah bapak pernah berbagi informasi dan ilmu tentang cara bertani dengan sesamq petani yang ada di desa bapak ?

23. Apakah bapak mengunakan system teradisional atau modern dalam

mengaraplahan pertanian dan merawat tanaman yang bapak budidayakan ? 24. Berapa kali bapak melakukan pemupukan dan pengunaan pestisida dalam 1

kali panen ?

25. Dukungan seperti apa yang dilakukan para petani untuk mendukung terhadap program-perogram yang telah di berikan pemerintah atau suwasta yang ada selama ini ?

26. Sarana-sarana apakah yang yang telah di berikan pemerintah untuk petani di desa bapak ini ?

27. Apakah sarana-sarana yang telah diberikan pemerintah sangat mendukung para petani yang ada di desa bapak ini ?

28. Usaha-usaha dan langkah-langkah apa yang dilakukan bapak dan para petani untuk merawat sarana dan prasana yang telaha da di desa bapak ? 29. Apakah perawatan-perawatan sarana dan prasarana itu selalu rutin

dilaksanakan ?

30. Berapa kali bapak panen dalam 1 tahun ?

31. Di manakah bapak menjual hasil panen perkebunan bapak ?