Analisis pengaruh pajak daerah, retribusi daerah, dan hasil badan usaha milik daerah terhadap pendapatan asli daerah Kota Tangerang (2003-2009)

ANALISIS PENGARUH PAJAK DAERAH, RETRIBUSI
DAERAH, DAN HASIL BADAN USAHA MILIK
DAERAH TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH
KOTA TANGERANG (2003 – 2009)

SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapatkan
Gelar Sarjana Ekonomi (SE)

Oleh :

AJUN EFFENDI
106084003594

JURUSAN ILMU EKONOMI DAN STUDI PEMBANGUNAN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2011

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama

: Ajun Effendi

NIM

: 106084003594

Jurusan

: Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan

Menyatakan bahwa skripsi ini adalah murni hasil karya sendiri. Apabila saya
mengutip dari karya orang lain, maka saya mencantumkan sembernya sesuai
dengan ketentuan yang berlaku. Saya bersedia dikenakan sanksi pembatalan
skripsi ini, apabila terbukti melakukan tindakan plagiat

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Penulis

Ajun Effendi
NIM : 106084003594

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

IDENTITAS PRIBADI
Nama

: Ajun Effendi

Tempat/Tanggal Lahir

: Tangerang / 18 Mei 1987

Alamat

: Jl.KH.Hambasri Rt 001/03 No.20
Ds.Karangtengah Pagedangan Tangerang
15820

Jenis Kelamin

: Laki-Laki

Agama

: Islam

No.Telpon

: 085694455787 / 02194961890

RIWAYAT PENDIDIKAN
TK

: TK Islam Matlahul Huda - Bogor

SDN

: SDN Pagedangan III - Tangerang

SLTP

: SLTPN 1 Parung Panjang - Bogor

SMA

: SMA Islamic Village Karawaci –
Tangerang

UNIVERSITAS

: UIN Syarif Hidayatullah – Jakarta

LATAR BELAKANG KELUARGA
Ayah

: H. Sutiyosono, SH

Ibu

: Hj. Siti Jubaedah

Alamat

: Ds.Karangtengah Pagedangan Tangerang

Anak ke-

: dua (2) dari dua bersaudara

ABSTRAK

Perkembangan Pendapatan Asli Daerah merupakan satu indikator penting
dalam pembangunan perekonomian daerah. Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pajak daerah, retribusi daerah, dan
hasil badan usaha milik daerah terhadap pendapatan asli daerah di kota Tangerang
dalam periode 2003:1 sampai 2009:4. Metode analisis yang digunakan adalah
metode regresi berganda OLS (Ordinary Least Square).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pajak daerah dan retribusi daerah
berpengaruh positif dan signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah, sedangkan
hasil Badan Usaha Milik Daerah tidak signifikan dan tidak berpengaruh terhadap
Pendapatan Asli Daerah Kota Tangerang. Hal ini diduga karena badan usaha milik
daerah yang ada di kota Tangerang jumlahnya sedikit, dan hasil badan usaha yang
ada lebih kecil dibanding dua varaibel yang lain.

Kata Kunci: PAD, Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Badan Usaha Milik Daerah

ABSTRACT

The development of original income of the region is to an important
factor in the regional economy. The development purpose of this study is to know
how the impact of regional tax, regional retribution, and result of regional state
enterprise into original of company with regional income in tangerang minificial
from 2003 until 2009. The Regression method used in analysing of the data is
Ordinary Least Square(OLS).
The result showed that the regional tax and regional retribution affect
positively and significant influence on original regional income, whereas the
regional company doesn’t significant and doesn’t affect with original regional
income tangerang city. This problem because there is just a small amount regional
company in tangerang city, and the result of the regional company which standing
are little than the other two variable which have been knowing.

Keywords : Original Government Income, Regional Tax , Regional Retribution,
Region State Enterprise

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat ALLAH SWT, yang telah
melimpahkan segala rahmat dan karunianya kepada penulis serta nikmat sehat
yang diberikan, sehingga pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan penyusunan
skrispi yang berjudul “ANALISIS PENGARUH PAJAK DAERAH, RETRIBUSI
DAERAH,

DAN

BADAN

USAHA

MILIK

DAERAH

TEHADAP

PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) KOTA TANGERANG (2003 – 2009)”.
Skripsi ini penulis selesaikan dengan usaha, bantuan, bimbingan dan
dorongan dari berbagai pihak. Maka dengan segala kerendahan hati penulis
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. ALLAH SWT. Terima kasih atas Karunia yang telah Kau berikan,
kesehatan, rejeki dan kasih sayang.
2. Kedua orang tuaku. Terima kasih yang tak terhingga kepada Mama dan
Papa tercinta atas kerja kerasnya dalam memberikan do’a, dukungan,
pengorbanan, kasih sayang dan perhatian yang telah diberikan kepada
penulis sepanjang masa. Juga kepada kakak sodara-sodara saya,
terimakasih atas dukungannya.
3. Almarhum papa, Bpk.H.Aminuddin, harapan papa agar saya menjadi
sarjana kini tercapai sudah.
4. Kepada Ketua Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Bpk
Lukman, M.Si, terima kasih telah memberikan ilmu yang bermanfaat
kepada penulis dan atas bantuannya selama ini.
5. Kepada Bapak Pheni Chalid, SF,MA, Ph.D selaku Dosen Pembimbing
Utama skripsi yang dengan sepenuh hati dan kesabaran telah bersedia
meluangkan waktu untuk memberikan petunjuk, bimbingan, nasehat, dan

arahannya desela jadwalnya yang sangat padat kepada penulis dalam
penyusunan skripsi ini.
6. Kepada Ibu Utami Baroroh, M.Si selaku Sekertaris Jurusan Ilmu Ekonomi
dan Studi Pembangunan dan Dosen Pembimbing II yang telah
memberikan bantuan baik waktu, saran, maupun ilmu yang bermanfaat
kepada penulis selama proses penulisan skripsi ini sehingga skripsi ini
dapat terselesaikan dengan baik.
7. Bapak Prof. Dr Abdul Hamid MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan
Bisnis
8. Seluruh Dosen, Staff, berserta Karyawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
9. Kepada Nita istri saya dan Keluarganya, Terimakasih atas bantuan doa
dan semangatnya
10. Pegawai Badan Kekayaan dan Keuangan Daerah (BKKD) Kota
Tangerang
11. Teman-teman seperjuangan penulis. Rekan-rekan Ekonomi Pembangunan
angkatan 2006 yang telah membantu penulis dalam penulisan ini yaitu:
Tunjung Hapsari, Iezzahra, Safitri, Maria, Verra, Zaka, Awank, dan
kawan-kawan lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu, penulis
ucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya, semoga ALLAH SWT
memberikan pahala yang setimpal.
12. Rekan-rekan Kerja di Pemerintahan Kota Tangerang Selatan DKPP yaitu:
ida, ika, apip, garry, isman, haris, resty, dan yang lainnya yang tidak
dapat disebutkan satu persatu, penulis ucapkan terimakasih atas do’a dan
dukungannya.
13. Kepada kekasih dan mantan-mantan saya yang “pernah” singgah dihati
ini.
14. Semua Pihak yang belum disebut diatas, terima kasih atas segala bantuan
dan do’a selama proses penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan skripsi
ini masih terdapat kekurangan, oleh karena itu, kritik dan saran yang

membangun sangat diharapkan untuk tercapainya penulisan skripsi yang
lebih baik lagi.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Jakarta,

Maret 2011

Penulis

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN KOMPRE
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

i

ABSTRAK

ii

KATA PENGANTAR

iv

DAFTAR ISI

vii

DAFTAR TABEL

x

DAFTAR LAMPIRAN

xi

BAB I PENDAHULUAN

1

1.1. Latar Belakang

1

1.2. Perumusan Masalah

7

1.3. Tujuan Penelitian

8

1.4. Manfaat Penelitian

8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

10

2.1. Desentralisasi Daerah

10

2.1.1. Landasan Teori Transfer Pusat ke Daerah

15

2.2. Sumber Penerimaan Daerah

18

2.3. Pendapatan Asli Daerah

20

2.3.1. Sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD)

21

2.3.2. Komponen Pendapatan Asli Daerah

24

2.4. Studi Empiris

34

2.5. Kerangka Pemikiran

40

2.6. Hipotesa Penelitian

41

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

42

3.1. Ruang Lingkup Penelitian

42

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

43

3.3. Data dan Tehnik Pengumpulan data

43

3.4. Definisi Operasional

44

3.5. Variabel dan Pengukuran

45

3.6. Metode Analisa Data

46

3.6.1. Model Regresi Linier Berganda

46

3.6.2. Pemilihan Model Regresi

47

3.6.3. Pengujian Hipotesis

49

3.6.4. Uji Stasioneritas

51

3.6.5. Uji Derajat Integrasi

52

3.6.6. Metode Pengujian Asumsi Klasik

53

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1. Deskripsi dan Objek Penelitian
4.1.1. Pembentukan Kota Tangerang

56
56
56

4.2. Perkembangan dan Pembentukan Kota Tangerang
menurut jenis Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
4.3. Hasil Uji Analisis

58
67

4.3.1. Menentukan Model Ekonometrika

67

4.3.2. Uji Stasioneritas

68

4.3.3 Pengujian Asumsi Klasik

71

4.3.4 Analisis Regresi Berganda

76

4.3.5 Uji (F-test)

80

4.4. Pembahasan
BAB V PENUTUP

82
84

5.1 Kesimpulan

84

5.2 Saran

85

DAFTAR PUSTAKA

87

LAMPIRAN

90

DAFTAR TABEL

NO

KETERANGAN

HALAMAN

1.1

Tabel Sumber Pendapatan dan Realisasi

3

4.1

Tabel Perbandingan Dari Pajak Daerah Menurut Jenis Pajak

59

4.2

Tabel Perbandingan Dari Retribusi Daerah Menurut Jenis Retribusi 64

4.3

Tabel Hasil Uji Stasioner tingkat Level

67

4.4

Tabel Hasil Uji Stasioner tingkat First Different

69

4.5

Tabel Hasil Uji Stasioner tingkat First Different

70

4.6

Tabel Hasil Uji Normalitas

71

4.7

Tabel Hasil Uji Multikolinieritas

72

4.8

Tabel Hasil Regresi Linier Berganda

80

DAFTAR LAMPIRAN

NO

KETERANGAN

HALAMAN

1.

Lampiran Data Variabel Penelitian Yang Digunakan

90

2.

Lampiran Pendapatan Dari Pajak daerah Tahun 2005

91

3.

Lampiran Pendapatan Dari Pajak daerah Tahun 2006

92

4.

Lampiran Pendapatan Dari Pajak daerah Tahun 2007

93

5.

Lampiran Pendapatan Dari Pajak daerah Tahun 2008

94

6.

Lampiran Pendapatan Dari Pajak daerah Tahun 2009

95

7.

Lampiran Pendapatan Dari Retribusi Daerah Tahun 2005

96

8.

Lampiran Pendapatan Dari Retribusi Daerah Tahun 2006

101

9.

Lampiran Pendapatan Dari Retribusi Daerah Tahun 2007

106

10.

Lampiran Pendapatan Dari Retribusi Daerah Tahun 2008

111

11.

Lampiran Pendapatan Dari Retribusi Daerah Tahun 2009

116

12.

Lampiran Hasil Uji Stasioneritas

121

13.

Lampiran Hasil Analisis Regresi Berganda

130

14.

Lampiran Hasil Uji Normalitas

131

15.

Lampiran Hasil Uji Multikolinieritas

132

16.

Lampiran Hasil Uji Heteroskedastisitas

134

17.

Lampiran Hasil Uji Autokorelasi

135

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Pembangunan merupakan suatu proses kemajuan dan perbaikan guna
tercapainya tujuan yang diinginkan. Secara umum tujuan yang ingin di capai
adalah terciptanya peningkatan kesejahteraan masyarakat secara lebih adil dan
merata. Agar tujuan tersebut tercapai maka segenap potensi dan sumber daya
pembangunan yang ada harus dialokasikan secara efektif dan efisien demi
peningkatan produksi secara keseluruhan.
Perkembangan pembangunan suatu daerah sangat ditentukan oleh sumber
pendapatan daerah terutama untuk menutupi pembiayaan yang diperlukan
pemerintah daerah dalam melaksanakan tugasnya. Untuk itu diperlukan
kemampuan pemerintah daerah dalam mengatur perekonomian daerahnya untuk
membiayai seluruh kebutuhan dana pembangunan yang diperlukan. Masalah
umum yang dihadapi oleh pemerintah daerah adalah adanya kendala dalam
menghimpun dana yang berasal dari daerah itu sendiri, sehingga pembangunan
daerah cenderung tergantung pada sumbangan dan bantuan dari pemerintah pusat.
Menyadari bahwa ketergantungan tersebut kurang baik bagi kelanjutan
pelaksanaan pembangunan daerah, maka diharapkan pemerintah daerah menggali
semua sumber ekonomi yang dimiliki daerah masing-masing guna membiayai
pelaksanaan daerah itu sendiri. Hal ini didukung dengan dikeluarkannya UU
No.22 Tahun 1999 yang diperbaharui dengan UU No.33 tahun 2004 tentang

Pemerintah Daerah dan UU No.25 Tahun 1999 yang diperbaharui dengan UU
No.34 tahun 2004 tentang Pertimbangan Keuangan Antara Pusat dan Pemerintah
Daerah dimana dalam undang-undang tersebut pemerintah daerah dan diberikan
kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerahnya berdasarkan
aspirasi pemerintah daerah dan diberikan kewenangan untuk mengggali dan
memanfaatkan sumber keuangan daerah setempat sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.Salah satu sumber pembiayaan tersebut adalah Pendapatan
Asli Daerah (PAD). Pendapatan asli daerah merupakan tulang punggung
pembiayaan daerah ,oleh karenanya kemampuan melaksanakan ekonomi di ukur
dari besarnya konstribusi yang diberikan oleh pendapatan asli daerah terhadap
total APBD, semakin besar konstribusi yang dapat diberikan oleh pendapatan asli
daerah terhadap bantuan APBD berarti semakin kecil ketergantungan pemerintah
daerah terhadap bantuan pemerintah pusat sehingga otonomi daerah dapat
terwujud.
Pendapatan Asli Daerah merupakan penerimaan dari pungutan pajak
daerah, retribusi daerah, hasil dari perusahaan daerah, penerimaan dari dinas-dinas
dan penerimaaan lainya yang termasuk dalam pendapatan asli daerah yang
bersangkutan, dan merupakan pendapatan daerah yang sah. Semakin tinggi
peranan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam pendapatan daerah merupakan
cermin keberhasilan usaha-usaha atau tingkat kemampuan daerah dalam
pembiayaan penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan.

Tabel 1.1
Sumber Pendapatan Kota Tangerang dan Realisasinya
Tahun 2005
JENIS PENDAPATAN

TARGET

REALISASI

%

Pajak Daerah

73.500.000.000

79.368.013.721

7,98

Retrusi Daerah

24.320.155.200

24.827.124.613

2,08

Bagian Laba BUMD

3.017.666.389

3.017.666.516

0,0001

Lain-Lain PAD yang sah

6.475.552.409

9.311.061.516

43,79

JUMLAH

107.313.373.998

116.523.842.800

8,58

Sumber: Bidang Keuangan dan Kekayaan Daerah (BKKD), 2006

Dari data tabel di atas dapat terlihat bahwa Sumber Pendapatan Kota
Tangerang dapat dihasilkan dari Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Bagian Laba
BUMD, dan Lain-lain PAD yang sah. Pajak Daerah pada tahun 2005 memiliki
target sebesar 73.500.000.000 dan realisasi sebesar 79.368.013.721, dan terlihat
dalam presentase sebesar 7,98%. Retribusi Daerah pada tahun 2005 memiliki
target sebesar 24.320.155.200 dan realisasi sebesar 24.827.124.613, dan terlihat
dalam presentase sebesar 2,08%. Bagian laba BUMD pada tahun 2005 memiliki
target sebesar 3.017.666.389 dan realisasi sebesar 3.017.666.516, dan terlihat
dalam presentase sebesar 0,0001%. Lain-lain PAD yang sah memiliki target
sebesar 6.475.552.409 dan realisasi sebesar 9.311.061.516, dan terlihat dalam

presentase sebesar 43,79%. Sehingga total keseluruhan Pendatapan Kota
Tangerang pada Tahun 2005 adalah total target sebesar 107.313.373.998 dan
realisasi sebesar 116.523.842.800, dan presentase sebesar 8,58%.
Pendapatan Asli Daerah merupakan salah satu sumber penerimaan di dalam
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) berdasarkan pada ketentuan
dalam UU No. 33 tahun 2004 dan UU No. 34 tahun 2004. Dengan otonomi ,
diharapkan

adanya

memperdayakan

peningkatan

masyarakat,

kapasitas

pemerintah

meningkatkan pelayanan dan

daerah

guna

kesejahteraan

masyarakat yang semakin baik, mengembangkan kehidupan demokrasi, keadilan
dan pemerataan serta memelihara hubungan yang serasi antara pusat dan daerah
serta antar darah. Keberhasilan pemerintah daerah dalam membangun
perekonomian wilayahnya tergantung pada kemampuan untuk memobilisasi
potensi yang ada pada masyarakat melalui peningkatan Pendapatan Asli Daerah.
Pendapatan Asli Daerah diharapkan menjadi penyangga utama dalam membiayai
kegiatan-kegiatan daerah, karena semakin banyak kebutuhan daerah yang dapat
dibiayai oleh Pendapatan Asli Daerah maka semakin tinggi kualitas otonominya
yang mengindikasinya semakin mandiri bidang keuangan daerahnya.
Dalam pelaksanaan otonomi daerah, sumber keuangan yang berasal dari
Pendapatan Asli Daerah lebih penting dibandingkan dari sumber-sumber yang
lain, karena pendapatan asli daerah dapat dipergunakan sesuai dengan prakarsa
dan inisiatif daerah sedangkan bentuk pemberian pemerintah (non PAD) sifatnya
lebih terikat. Dengan penggalian dan peningkatkan pendapatan asli daerah

diharapkan pemerintah daerah juga mampu meningkatkan kemampuannya dalam
penyelenggaraan urusan daerah.
Salah satu sektor yang memiliki kontribusi besar dari tahun ke tahun adalah
pajak daerah pajak daerah, yang salah satu sumbernya berasal dari pajak hotel
dan restoran. Bila kita lihat Kota Tangerang merupakan daerah singgah/transit
karena merupakan jalan alternatif menuju Ibu Kota DKI Jakarta dan Bandara
Internasional Soekarno-Hatta. Perkembangan jumlah hotel dan restoran ini
seharusnya menjadi potensi sangat bagus bagi peningkatan pendapatan asli daerah
dalam rangka mengurangi ketergantungan fiskal daerah. Hal ini terefleksi dalam
peningkatan dan stabilitas realisasi pajak hotel dan restoran ini dari tahun ke
tahun.
Berdasarkan undang-undang No. 34 Tahun 2000, tentang Pajak Daerah,
pajak atau pungutan yang dikenakan bagi pemilik rumah penginapan, rumah
makan, pembayaran hotel dan restoran. Secara umum pajak Hotel dan Restoran
merupakan pungutan atas pembayaran rumah makan dan rumah penginapan yang
terdiri dari hotel, losmen, wisma, dan restoran. Dengan demikian pajak hotel dan
restoran cukup potensial dalam menyumbang pendapatan asli daerah (PAD).
Dalam undang-undang No. 5 Tahun 1974 pengertian perusahaan daerah
untuk memperkembangkan perekonomian

daerah dan untuk menambah

penghasilan daerah. Dari kutipan diatas ada dua fungsi pokok perusahaan daerah.
Pertama, sebagai dinamisator perekonomian daerah yang berarti harus mampu
memberikan rangsangan bagi perkembangan perekonomian daerah. Kedua,

sebagai penghasilan pendapatan daerah. Ini berarti perusahaan daerah mampu
memberikan manfaat ekonomi sehingga terjadi keuntungan yang dapat disetorkan
ke kas daerah. Untuik dapat penyelenggaraan fungsi yang oftimal diperlukan
dukungan dana yang cukup besar guna untuk meningkatkan pendapatan asli
daerah (PAD) yang antara lain diperoleh dari berbagai jenis pajak daerah,
retribusi, hasil investasi dan kegiatan bisnis.
Kota Tangerang yang lahir pada tahun 1993 dengan Undang-undang No. 2
Tahun 1992, kini pertumbuhannya berkembang begitu pesat, pesatnya
pertumbuhan kota tangerang

karena wilayahnya yang berbatasan langsung

dengan DKI Jakarta yang terkait langsung dengan dinamika pembangunan
nasional yang terpusat di Jakarta, letak Kota Tangerang yang strategis mendorong
lahirnya intruksi presiden No. 13 tahun 1976, yang menetapkan

daerah ini

sebagai bagian dari wilayah pengembangan Jabodetabek yang dipersiapkan untuk
mengurangi ledakan penduduk DKI Jakarta, sebagai daerah penyangga Ibu
Kota,wilayah ini dipersiapkan untuk Kegiatan Industri dan Perdagangan,
pengembangan pusat pemukiman.
Dalam usaha menopang eksistensi otonomi daerah yang maju sejahtera,
berakhlakul karimah, mandiri, berkeadilan, kota Tangerang dihadapkan pada
suatu tantangan dalam mempersiapkan strategi dalam perencanaan pembangunan
yang akan di ambil. Untuk itu diperlikan suatu perencanaan yang tepat dengan
memperhatikan potensi yang dimilikinya terutama dalam mengidentifikasikan
keterkaitan antara sektor perdagangan, industri, hotel dan restoran dengan sektor
yang lainya. Kota Tangerang dengan keterbatasan sumber daya alam yang ada

mempunyai sektor-sektor yang berpotensi untuk di kembangkan, misalnya sektor
industri dan penyediaan sektor jasa.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis merasa perlu menganalisa
Pengaruh Pajak Daerah, Retribusi Daerah, dan Badan Usaha Milik Daerah
terhadap Pendapatan Asli Daerah di Kota Tangerang pada tahun 2003 sampai
dengan tahun 2009.

1.2

Perumusan masalah
Permasalahan yang dihadapi pemerintahan daerah dalam mengurus rumah
tangganya dikarenakan terbatasnya dana pembangunan. Untuk meningkatkan
pembangunan daerah, diperlukan biaya yang harus digali dari sumber keuangan
sendiri. Keuangan daerah merupakan satu indikator untuk menilai kemampuan
daerah dalam mengurus rumah tangga sendiri. Hal ini sesuai dengan tujuan
pemberian otonomi daerah, yaitu agar daerah mampu mengurus daerahnya dan
berusaha melepaskan diri dari ketergantungan pada pemerintah pusat.
Berdasarkan keadaan tersebut menimbulkan pertanyaan yang dirumuskan dalam
permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimanakah pengaruh Pajak Daerah terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota
Tangerang ?
2. Bagaimanakah pengaruh Retribusi Daerah terhadap Pendapatan Asli Daerah
Kota Tangerang ?

3. Bagaimanakah pengaruh hasil Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) terhadap
Pendapatan Asli Daerah kota Tangerang ?
4. Apakah Pajak Daerah, retribusi daerah dan BUMD berpengaruh secara
signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Tangerang ?

1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka penelitian ingin mempunyai tujuan
sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana pengaruh Pajak Daerah
terhadap Pendapatan Asli Daerah kota Tangerang.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana pengaruh Retribusi
Daerah terhadap Pendapatan Asli Daerah kota Tangerang.
3. Untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana pengaruh hasil Badan
Usaha Milik Daerah (BUMD) terhadap Pendapatan Asli Daerah kota
Tangerang.

1.4

Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian tersebut adalah :
1.

Sebagai satu syarat untuk mencapai gelar sarjana strata satu pada
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta, serta untuk mengetahui seberapa timgkat
tingkat ilmu pengetahuan yang diperoleh selama menjadi menjadi
mahasiswa.

2.

Sebagai bahan masukan dan informasi bagi pembuat kebijakan
perintah

daerah

Kota

Tangerang

dalam

merencanakan

dan

mengambil keputusan untuk meningkatkan penerimaan Pendapatan
Asli Daerah.
3.

Sebagai bahan pustaka, informasi dan referensi bagi yang
memerlukan serta sebagai bahan rujukan bagi penelitian selanjutnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Desentralisasi Daerah
Menurut Undang-undang No. 32 tahun 2004 Pasal 1 ayat (7) menyebutkan
bahwa desentralisasi adalah penyerahan wewenang Pemerintah oleh Pemerintahan
kepada Daerah Otonom dan kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI). Hal ini berarti pengelolaan daerah lebih dititikberatkan kepada
kabupaten/kota,sedangkan propinsi adalah sebagai Daerah Otonom sekaligus
sebagai daerah administrasi yang melaksanakan kewenangan pemerintah pusat
yang didelegasikan kepada gubernur. Propinsi bukanlah merupakan daerah atasan
kabupaten/kota. Jadi antara daerah otonom propinsi dengan daerah otonom
kabupaten/kota tidak memiliki hubungan hirarki.
Sistem penyelenggaraan pemerintahan dalam Negara kesatuan dapat
dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu sebagai berikut :
1. Negara kesatuan dengan system sentralisasi, yaitu segala sesuatu dalam
Negara itu langsung dan diurus oleh pemerintah pusat, sedangkan daerahdaerah hanya tinggal melaksanakannya saja.
2. Negara kesatuan dengan system desentralisasi, yaitu daerah diberi
kesempatan dan kekuasaan untuk mengatur dan mengurus rumah
tangganya sendiri (otonomi daerah) yang dinamakan daerah otonom.

Desentralisasi adalah suatu istilah yang luas dan selalu menyangkut
persoalan kekuatan (power), biasanya dihubungkan dengan pendelegasian atau
penyerahan wewenang dari pemerintah pusat kepada pejabatnya di daerah atau
kepada lembaga-lembaga pemerintah di daerah untuk menjalankan urusan-urusan
pemerintahan

di daerah. “Dalam Encyclopedia of the Social Sciences,

desentralisasi adalah penyerahan wewenang dari tingkat pemerintahan yang lebih
tinggi kepada pemerintahan yang lebih rendah, baik yang menyangkut bidang
legislatif,

yudikatif, maupun administratif. Dalam ensiklopedia tersebut,

dikemukakan bahwa desentralisasi ada;ah kebalikan dari sentralisasi, tetapi jangan
dikacaukan dengan pengertian dekonsentrasi, sebab istilah ini secara umum lebih
diartikan sebagai pendelegasian dari atasan kepada bawahannya untuk melakukan
suatu tindakan atas nama atasannya tanpa melepaskan wewenang dan tanggung
jawabnya.”
Kewenangan daerah ini mencakup kewenangan dalam seluruh bidang
pemerintahan, kecuali kewenangan yang dikecualikan dalam Undang-undang
No.32 tahun 2004 ini, sebagaimana diatur dalam Pasal 10 ayat (3), yaitu
kewenangan dalam bidang politik luar negeri, pertahanan dan keamanan, yustisi
moneter dan fiskal moneter, dam agama.
Tujuan utama desentralisasi adalah :
1. Tujuan politik, yang ditujukan untuk menyalurkan partisipasi politik di
tingkat daerah untuk terwujudnya stabilitas politik nasional.

2. Tujuan

ekonomis,

yang

dimaksudkan

untuk

menjamin

bahwa

pembangunan akan dilaksanakan secara efektif dan efisien di daerahdaerah dalam rangka mewujudkan kesejahteraan sosial.
Menurut Machfud Sidik (2002:4) desentralisasi adalah suatu alat untuk
mencapai salah satu tujuan Negara, yaitu terutama memberikan pelayanan publik
yang lebih baik dan menciptakan proses pengambilan keputusan publik yang lebih
demokratis. Desentralisasi sendiri bukanlah suatu yang baik maupun yang buruk.
Hal pokok tentang desentralisasi pada dasarnya adalah apakah proses dan
implementasi desentralisasi tersebut berhasil atau gagal untuk meningkatkan
efesiensi dan kadar resforsifitas kebijakan publik pemerintah terhadap
kepentingan politis, ekonomi, dan sosial masyarakatnya. Kegagalan implementasi
desentralisasi ditunjukan dari kemunduran ekonomi, ketidakstabilan politik dan
merosotnya pelayanan publik di daerah yang bersangkutan. Sedangkan menurut
Kunarjo (2003) desentralisasi dapat dibagi menjadi 4 jenis sebagai berikut :
1. Desentralisasi politik (Political Decentralization)
Merupakan pemberian hak kepada warga Negara melalui perwakilan yang
dipilih suatu kekuasaan yang kuat untuk mengambil keputusan publik
tanpa persetujuan dari atasan.
2. Desentralisai administrativ (Adminiistrative Decentralization)
Merupakan

pelimpahan

wewenang

yang

dimaksudkan

untuk

mendistribusikan kewenagan, tanggung jawab dan sumber-sumber
keuangan untuk menyediakan pelayanan publik. Pelimpahan tanggung
jawab tersebut menyangkut perencanaan, pendanaan, dan manajemen

fungsi-fungsi

pemerintahan

pusat

kepada

aparatnya

didaerah.

Desentralisasi administratif dapat dikelompokkan menjadi tiga bentuk,
yaitu :
1.)

Dekonsentrasi (Deconcentration) yaitu, pelimpahan wewenang dari
pemerintah pusat kepada pejabat yang berada dalam garis hiraki
dengan pemerintah pusat daerah.

2.)

Devolusi (Devolution) yaitu, pelimpahan wewenang kepada tingkat
pemerintahan yang lebih rendah dalam bidang keuangan atas tugas
pemerintahan, dan pihak pemerintahan mendapat discretion yang
tidak dikontrol oleh pemerintah pusat. Dekonsentrasi dan devolusi
dilihat dari sudut konsepsi pemikiran organisasi dikenal dengan
distributed institutional monopoli of admistrative decentralization.

3.)

Delegasi (Delegation or Institution Pliralism)
Wewenang untuk tugas tertentu kepada

organisasi yang berasal

diluar struktur birokrasi regular yang dikontrol secara tidak langsung
oleh pemerintah pusat. Pendelegasian wewenang ini biasanya diatur
dengan ketentuan perundang-undangan. Pihak
wewenang

mempunyai

penyelenggaraan

keleluasaan

yang menerima

(direction)

dalam

pendelegasian tersebut, walaupun wewenang

terakhir tetap pada pihak pemberi wewenang (sovereign outhority).
3. Desentralisasi fiskal
Merupakan komponen utama dari desentralisasi. Apabila pemerintah
daerah melaksanakan fungsinya secara efektif dan diberikan kebebasan

dalam pengambilan keputusan pengeluaran sektor publik, maka mereka
harus didukung sumber-sumber keuangan yang memadai baik yang berasal
dari pemerintah pusat ataupun dari daerah itu sendiri.
4. Desentralisasi Ekonomi (Economic Decentralization)
Desentralisasi ekonomi dalam pengambilan keputusan dibidang ekonomi
yang menitik beratkan pada upaya efesiensi dalam penyediaan barang
publik.
Prinsip pemberian ekonomi kepada pemerintah daerah pada dasarnya
adalah untuk membantu pemerintah pusat dalam penyelenggaraan
pemerintah daerah. Pada masa sekarang

titik berat otonomi daerah

diberikan kepada daerah tingkat II dan bukan daerah tingkat I atau desa.
Hal ini erat kaitanya dengan fungsi utama pemerintah daerah sebagai
penyedia pelayanan kepada masyarakat dan pelaksanaan pembangunan
disamping sebagai Pembina kesetabilan politik, sosial, ekonomi dan
kesatuan bangsa. Dengan adanya desentralisasi daerah pemerintah daerah
mempunyai beberapa keuntungan yaitu :
a. Dengan adanya desentralisasi, pemerintah daerah dapat lebih
mengetahui keinginan masyarakatnya.
b. Dengan desentralisasi diharapkan pembuatan keputusan lebih
efektif.
c. Daerah akan dapat melakukan pendekatan dengan cara yang
berbeda-beda dalam menggali potensi daerah yang ada.

2.1.1 Landasan Teori Transfer Pusat ke Daerah
Sistem transfer yang dipakai di Indonesia saat ini adalah hasil
evolusi sepanjang kurun waktu lebih dari 50 tahun. Sampai dengan tahun
1956, sistem subsidi yang dipakai adalah sistem shuit post, yaitu suatu
bentuk subsidi yang memberikan tunjangan sebesar selisih antara besarnya
rencana pengeluaran dan rencana penerimaan yang di ajukan daerah
kepada pusat. Akan tetapi dalam praktiknya, sebenarnya yang dijalankan
bukanlah sistem shuit post murni. Pemberian tunjangan kepada daerah
sangat tergantung kepada kebijaksanaan sepihak pemerintah pusat. Tahun
1956, pola hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah
mengalami perubahan , yaitu sejak Undang-Undang nomer 32 tahun 1956.
Berdasarkan Undang-Undang ini, secara konseptual pola hubungan antara
pemerintah pusat dan daerah diterjemahkan kedalam tiga hal utama, yaitu:
1. Penyerahan sumber pendapatan Negara kepada daerah
2. Pemberian bagian tertentu dari penerimaan berbagai pajak Negara
kepada daerah
3. Memberikan ganjaran, subsidi, sumbangan kepada daerah.
Pada tahun 1965, seiring dengan perubahan dalam dunia politik di
Indoneia, tidak terdapat lagi pola pembagian pajak Negara kepada daerah
yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pola ini digantikan dengan
suatu pola kebijakan memberikan subsidi kepada daerah yang didasarkan

kepada perhitungan besarnya jumlah pengeluaran gaji pegawai daerah
otonom atau yang disebut subsidi perimbangan keuangan.
Dikarenakan terdapatnya berbagai jenis transfer yang sebenarnya
tidak didasarkan pada suatu landasan hukum yang jelas, maka tahun 1972
dilakukan perubahan yaitu dengan mengembalikan kepada pola semula
dimana daerah akan dibantu sepenuhnya untuk memenuhi beban gaji
pegawai daerahnya, termasuk berbagai jenis tunjangan pegawai daerah
yang dikenal dengan pola Subsidi Daerah Otonom (SDO). Pada tahun
1972, selain Subsidi Daerah Otonomi terdapat transfer pusat ke daerah
atas dasar INPRES yang diberikan untuk membiayai kegiatan pemerintah
daerah. Untuk lebih jelasnya skema penerimaan bagi Negara yang berasal
dari pajak bumi dan bangunan (PBB), bea perolehan hak atas tanah dan
bangunan (BPHTP) dan penerimaan sumber daya alam.
Menurut Robert (2002) beberapa alasan perlunya dilakukan transfer
dana dari pusat ke daerah dengan sesuai dengan literatur ilmu ekonomi
publik dan keuangan Negara, yaitu :
1. Untuk mengatasi persoalan pertimbangan fiskal vertikal. Di
banyak Negara, pemerintah pusat menguasai sebagian besar
penerimaan

utama

Negara

yang

bersangkutan.

Jadi,

pemerintah daerah hanya menguasai sebagian kecil sumbersumber penerimaan Negara. Kekurangan sumber penerimaan
daerah relatif terhadap kewajibannya ini akan menyebabkan
dibutuhkanya transfer dana dari pemerintah pusat.

2. Untuk mengatasi persoalan ketimpangan fiskal horizontal.
Pengalaman empirik menunjukan bahwa kemampuan daerah
untuk menghimpun pendapatannya sangat bervariasi. Ini
semua berimplikasi kepada besarnya basis pajak di daerah–
daerah yang bersangkutan. Disisi lain, daerah-daerah juga
sangat bervariasi dilihat dari kebutuhan belanja untuk
melaksanakan berbagai fungsi dan pelayanan publik. Hal ini
tercermin dari kesenjangan fiskal (fiscal gap)

yang

merupakan selisih dari kebutuhan fiskal (fiscal needs) dengan
kapasitas fiskal (fiscal capacity), yang selayaknya ditutup
oleh transfer dari pemerintah pusat.
3. Daerah memerlukan subsidi agar dapat mencapai standar
pelayanan minimum, peran distributif dari sektor publik akan
lebih efektif jika dijalankan oleh pemerintah pusat, maka
penerapan standar pelayanan minimum disetiap daerah akan
lebih bisa dijamin oleh pemerintah pusat.
4. Untuk stabilitas, permasalahan yang timbul dari menyebar
atau melimpahnya efek pelayanan public ( interjurisdictional
spill-over effect).
5. Untuk stabilitas, transfer dana dapat di tingkatkan

oleh

pemerintah ktika aktivitas perekonomian sedang lesu. Disaat
lain, bisa saja dana transfer ke daerah dikurangi manakala
perekonomian booming. Transfer untuk dana pembangunan

(capital grants) adalah merupakan instrument yang cocok
untuk

tujuan

ini.

Namun

kecermatan

dalam

mengkalkulasikan sangat dibutuhkan agar tindakan tersebut
tidak berakibat merusak atau bertentangan dengan alasan
sebelumya.

2.2 Sumber Penerimaan Daerah
Penyelenggaraan tugas daerah dalam rangka desentralisasi dibiayai atas
beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pada sisi penerimaan
dalam APBD termuat beberapa sumber penerimaan pemerintah daerah yaitu : sisa
anggaran tahun lalu, pendapatan asli daerah, dana perimbangan dan lain-lain
pendapatan daerah yang sah.
Penerimaan daerah dari sisi lebih perhitungan anggaran tahun yang lalu
adalah penerimaan anggaran tahun yang lalu dan telah dituangkan dalam APBD
namun tidak direalisasikan dengan baik karena penghematan dari belanja atau
adanya pos pengeluaran belanja yang tidak dilaksanakan.
Menurut UU No. 33 tahun 2004 tentang pertimbangan Keuangan Antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah menyebutkan bahwa dana
perimbangan adalah dana yang bersumber dari penerimaan Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara (APBN) yang dialokasikan kepada daerah untuk membiayai
kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Dana perimbangan
terdiri dari :

1) Bagian daerah dari penerimaan pajak bumi dan bangunan ; bea perolehan
hak atas tanah dan bangunan dan penerimaan dari sumber daya alam,
2) Dana Alokasi Umum dan
3) Dana Alokasi Khusus.
Dana Alokasi Umum (DAU) adalah dana yang berasal dari APBN yang
dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk
membiayai kebutuhan pengeluarannya dalam rangka pelaksanaan desentralisasi
(Zaini, 2005:16). DAU dimaksudkan sebagai pengganti dua transfer utama dari
pusat ke daerah yang selama ini dilakukan yaitu Subsidi Daerah Otonom (SDO)
dan Inpres. Jumlahnya ditetapkan sekurang-kurangnya 25 persen dari penerimaan
dalam negri dari APBN. Selanjutnya 10 persen dari dana tersebut akan
dialokasikan kepada propinsi dan sisanya 90 persen akan dialokasikan kepada
kabupaten/kota. DAU dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan
penyediaan jasa publik dengan memperhatikan potensi daerah, luas daerah,
keadaan geografi, jumlah penduduk dan tingkat pendapatan masyarakat di daerah.
Sehingga perbedaan antara daerah maju dan daerah yang belum berkembang
dapat diperkecil. Secara implisit DAU juga dimaksudkan untuk menetralisir
dampak ketimpangan antar daerah akibat bagi hasil sumber daya alam.
Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah dana yang berasal dari APBN yang
dialokasikan kepada daerah untuk membantu membiayai kebutuhan tertentu.
DAK dimaksudkan untuk membiayai yang tidak dapat diperkirakan dengan
menggunakan formula DAU dan kebutuhan yang merupakan prioritas nasional di
daerah. DAK bertujuan untuk membantu membiayai kebutuhan khusus daerah.

Adapun sumber pembiayaan DAK salah satunya berasal dari dana reboisasi
dengan pembagian 40 persen untuk daerah dan 60 persen untuk pusat (D.Siregar,
2005 : 24).
Undang-undang No. 34 tahun 2004 menetapkan bahwa pinjaman daerah
adalah sebagai salah satu sumber penerimaan daerah dalam rangka pelaksanaan
desentralisasi yang dicatat dan dikelola dalam APBD. Pinjaman daerah dapat
bersumber dari dalam dan luar negeri.
PAD merupakan sumber pendapatan asli daerah yang dijadikan sebagai
barometer bagi potensi ekonomi suatu daerah, sekaligus pencerminan efektivitas
dan efiensi aparat pemerintah daerah dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
Pemerintah daerah memerlukan sumber-sumber pembiayaan untuk mengurus
rumah tangganya sendiri, tetapi mengingat tidak semua pembiayaan dapat
diberikan kepada daerah maka daerah diwajibkan untuk menggali semua sumber
keuangan sendiri berdasarkan peraturan perundangan-undangan yang berlaku.

2.3 Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah pendapatan yang diperoleh daerah
yang

dipungut

berdasarkan

peraturan daerah

sesuai

dengan

peraturan

perundangan-undangan, yang bertujuan untuk memberikan hubungan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
Dalam upaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah, daerah dilarang
menetapkan peraturan daerah tentang pendapatan yang menyebabkan ekonomi
biaya tinggi adalah proses ekonomi di suatu daerah atau negara yang memerlukan

atau mengeluarkan biaya yang lebih tinggi dari seharusnya akibat adanya
pemberlakuan tarif yang lebih tinggi ataupun pungutan-pungutan liar yang
seharusnya tidak ada serta sebagai akibat ‘budaya korupsi’. Pemerintah Daerah
dilarang menetapkan peraturan daerah tentang pendapatan yang menghambat
mobilitas penduduk, lalu lintas barang dan jasa antar daerah, dan kegiatan impor
atau ekspor. Yang dimaksud adalah peraturan daerah yang mengatur pengenaan
pajak dan retribusi oleh daerah terhadap objek - objek yang telah dikenakan pajak
oleh pusat dan propinsi sehingga menyebabkan menurunnya daya saing daerah.
Dalam pasal 79 Undang-undang No.22 tahun 1999 dicantumkan bahwa
sumber pendapatan daerah terdiri atas :
a. Pendapatan asli daerah, yang terdiri lagi atas :
1. Hasil Pajak daerah
2. Hasil Retribusi daerah
3. Hasil Perusahaan milik daerah, pengelolaan kekayaan daerah
b. Dana Perimbangan
c Pinjaman daerah
d.

Lain-lain pendapatan daerah yang sah

2.3.1 Sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Untuk terus meningkatkan anggaran yang dapat digunakan untuk
membiayai kegiatanya, maka daerah Kabupaten / kota harus meningkatkan
sumber-sumber pendapatan asli daerahnya (PAD), yang antara lain berasal

dari, pajak daerah, retribusi daerah, laba Badan Usaha

Milik Daerah

(BUMD), penerimaan dari dinas-dinas,dan penerimaan lain-lain.
Perolehan dari pajak dan retribusi daerah biasanya penyumbang
terbesar dalam pendapatan asli daerah (PAD) bagi sebagian besar
Kabupaten/kota. Pos ini tetap potensial untuk ditingkatkan lagi, baik melalui
ekstensifikasi maupun intensifikasi, misalnya bisa dilakukan pada pajak
restoran dan hotel, pajak hiburan, pajak reklame, misalnya biasa dilakukan
dengan memanfaatkan perusahaan-perusahaan besar ataupun perguruan
tinggi – perguruan tinggi swasta untuk memasang reklame di tempat
strategis dan sekaligus menyediakan fasilitas umum, seperti tempat
penyebaran dan halte-halte didekat kampus atau perusahaan besar tersebut.
Untuk retribusi masih banyak yang belum dimanfaatkan atau
dicobakan secara intensif, seperti retribusi sampah, pencetakan kartu tanda
penduduk (KTP) baik yang tetap mmaupun sementara, retribusi terminal,
retribusi tempat khusus parkir, retribusi pasar grosir atau pertokoan, dan
sebagainya. Penerimaan berbagai jenis pajak dan retribusi ini akan
mengikuti perkembangan ekonomi masyarakat. Artinya, jika ekonomi
masyarakat meningkat, penerimaan ini juga meningkat. Pemungutan
retribusi tempat-tempat wisata berpotensi untuk ditingkatkan. Intensifikasi
ini bukan berarti harus memberikan pungutan mahal untuk setiap
pengunjung, sebab tarif retribusi yang tinggi justru akan mengurangi minat
masyarakat untuk datang ke obyek wisata tersebut, sehingga akan
menurunkan penerimaan pemerintah dari retribusi tersebut. BUMD yang

dimiliki oleh Pemerintah Daerah, misalnya, Bank Pasar dan Perusahaan Air
Minum (PAM), maka tidak terlalu banyak peluang selain melaksanakan
intensifikasi atas BUMD ini. Bank Pasar dapat memberikan konstribusi
pemasukan

cukup signifikan bagi pendapatan asli daerah (PAD) jika

dikelola secara efisien dan profesional. Sebagai lembaga kredit yang dekat
dengan nasabahnya, maka bank pasar ini dapat lebih memperluas
jangkauannya dengan semakin mendekatkan diri pada konsumen di setiap
pasar yang ada. Hal ini tidak berarti bahwa bank pasar ini dapat harus
membuka kantor di setiap pasar yang ada, karena akan menimbulkan infeksi
kalau pasarnya terlalu sempit atau terbatas, namun bias dengan mobile unit
atau membuka ‘lapak’ di pasar setiap pasar setiap pasaran. Yang lebih
penting lagi adalah adanya petugas pelaksanaan yang beroperasi di setiap
pasar untuk memberikan pelayanan kepada nasabahnya. Pola seperti ini
tidak semata-mata untuk mendapatkan laba bagi BUMD tersebut. Namun
lebih dari itu dimaksudkan untuk penyediaan lembaga kredit dan mobilisasi
dana yang “mudah, murah, prosedur sederhana dan cepat” bagi masyarakat
yang ingin menyimpan meminjam dananya, sehingga dapat lebih
mendorong perkembangan ekonomi masyarakat dan daerah.

2.3.2

Komponen Pendapatan Asli Daerah, terdiri dari :
a. Pajak Daerah
Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara (peralihan kekayaan
dari sektor pemerintahan) berdasarkan undang - undang (dapat di
paksakan) dengan tidak mendapatkan jasa timbal balik untuk membiayai
pengeluaran umum (publik). Secara umum pajak didefinisikan sebagai
pengalihan sumber- sumber ekonomi dari sektor swasta ke sektor
pemerintah, namun untuk lebih jelasnya ada dua pengertian pajak
menurut ahli. Menurut Mr.Dr N.J. Feldmann pajak adalah prestasi yang
dipaksakan sepihak oleh dan terutang kepada penguasa (menurut normanorma yang ditetapkan secara umum), tanpa adanya kontraprestasi, dan
semata-mata digunakan untuk menutup pengeluaran-pengeluaran umum
(Siti Resmi, 2000:1). Sedangkan menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro
pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara (peralihan kekayaan dari
secktor partikelir ke sektor pemerintah) berdasarkan undang-undang
(yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbale-balik yang
langsung dapat ditunjukkan, dan yang digunakan untuk menbiayai
pengeluaran umum publike uitgaven (Mardiasmo, 2000:1).
Berdasarkan Undang – Undang Dasar 1945 yang menempatkan
perpajakan sebagai salah satu perwujudan kewajiban kenegaraan,
ditegaskan bahwa penempatan beban kepada rakyat, seperti pajak dan
lain - lain harus ditetapkan dengan undang - undang. Pemungutan pajak
pada umumnya didasarkan pada peraturan tertentu, khusus di Indonesia

pemungutan pajak didasarkan pada pasal 23 ayat 2 UUD 1945 yang
menyatakan bahwa segala jenis pajak untuk keperluan negara harus
didasarkan pada undang-undang.
Pajak daerah sebagai salah satu pendapatan asli daerah diharapkan
menjadi salah satu sumber pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan
dan pembangunan daerah, untuk meningkatkan dan memeratakan
kesejahteraan

masyarakat.

Dengan

demikian

daerah

mampu

melaksanakan otonomi, mampu mengatur dan mengurus rumah
tangganya sendiri. Meskipun beberapa jenis pajak daerah sudah
ditetapkan dalam Undang-undang No.34 Tahun 2000, daerah kabupaten
atau kota diberi peluang dalam menggali potensi sumber-sumber
keuangannya dengan menetapkan jenis pajak selain yang telah
ditetapkan, sepanjang memenuhi Kriteria yang telah ditetapkan sesuai
dengan aspirasi masyarakat.
Menurut Undang-Undang No.18 tahun 1997 disebutkan bahwa
pajak daerah adalah, yang selanjutnya disebut pajak, yaitu iuran wajib
yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa
imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang digunakan untuk
membiayai penyelenggaraan pemerintah daerah dan pembangunan
daerah.
Pasal 2 ayat (1) dan (2) didalam Undang-Undang nomor 18 tahun
1999 disebutkan bahwa pajak daerah yaitu :

Jenis pajak daerah Tingkat I terdiri dari :
a. Pajak kendaraan bermotor
b. Bea balik nama kendaraan bermotor
c. Pajak bahan bakar kendaraan bermotor
Jenis pajak daerah Tingkat II terdiri dari :
a. Pajak hotel dan restoran
b. Pajak hiburan
c. Pajak reklame
d. Pajak penerangan jalan
e. Pajak pengambilan dan pengelolaan bahan galian golongan C
f. Pajak pemanfaatan air bawah tanah dan air permukaan
Selanjutnya pasal pemanfaatan ini 3 ayat (1) dicantumkan tarif pajak
paling tinggi dari masing – masing pajak sebagai berikut :
a. Pajak kendaraan bermotor 5%
b. Pajak balik nama kendaraan bermotor 10%
c. Pajak bahan bakar kendaraan bermotor 5%
d. Pajak hotel dan restoran 10%
e. Pajak hiburan 35%
f. Pajak reklame 25%
g. Pajak penerangan jalan 10%
h. Pajak pengambilan dan pengelolaan bahan galian golongan C
i.

Pajak pemanfaatan air bawah tanah dan air permukaan 20%

Tarif pajak daerah untuk tingkat I diatur dengan peraturan
pemerintah dan penetapanya seragam diseluruh Indonesia. Sedang untuk
daerah Tingkat II, selanjutnya ditetapkan oleh peraturan daerah masingmasing dan peraturan daerah tentang pajak tidak dapat berlaku surut.
Memperhatikan sumber pendapatan asli daerah sebagaimana tersebut
diatas, terlihat sangat bervariasi.
Sedangkan menurut Siagian (1998) pajak daerah didefisinikan
sebagai pajak negara yang diserahkan kepada daerah dan dinyatakan
sebagai pajak daerah dengan undang – undang. Dari kedua pendapat
tersebut dapat disimpulkan bahwa pajak daerah adalah pajak Negara
yang diserahkan kepada daerah untuk dipungut berdasarkan peraturan
perundang – undangan yang dipergunakan guna membiayai pengeluaran
daerah sebagai badan hukum publik.

b. Retribusi Daerah
Retribusi adalah pungutan yang dilakukan oleh pemerintah
sehubungan dengan adanya suatu fasilitas jasa yang diberikan oleh
pemerintah kepada pembayarannya. Objek retribusi adalah berbagai jenis
jasa tertentu yang menurut pertimbangan sosial ekonomi layak dijadikan
objek retribusi.
Fisher (1996 : 174) mendefinisikan retribusi sebagai harga yang
dibebankan oleh pemerintah untuk jasa yang spesifik (specific services)
atau perlakuan khusus (privileges) dan digunakan untuk membiayai

sebagian atau semua atas jasa yang disediakan dan terus meningkat sejak
beberapa decade yang lalu. Retribusi daerah adalah pungutan daerah
sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus
disediakan atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan
orang pribadi atau badan. Jadi, dalam hal retribusi daerah balas jasa dari
adanya retribusi daerah tersebut langsung dapat ditunjuk. Misalnya
retribusi jalan, karena kendaraan tertentu memang melalui jalan di mana
retribusi jalan tersebut dipungut. Juga retribusi pasar dibayar karena ada
penggunaan ruangan pasar tertentu oleh si pembayar retribusi itu.
Demikian juga, retribusi parker karena ada pemakaian ruangan tertentu
oleh si pemakai tempat parker (Suparmoko, 2002:85).
Selanjutnya menurut UU N0. 34 Tahun 2000 dan menurut PP No.
66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah menyebutkan retribusi daerah
yang selanjutnya disebut dengan retribusi adalah pungutan daerah
sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian ijin tertentu yang khusus
disediakan atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan
orang pribadi atau badan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
retribusi daerah adalah pungutan yang dilakukan oleh pemerintah daerah
sebagai kontra prestasi yang telah diberikan oleh pemerintah daerah
terhadap mereka yang telah menikmati dan pelaksanaannya didasrakan
atas peraturan yang berlaku.Oleh karena itu, dalam terdapat pelaksanaan
pelayanan secara ekonomis, di mana pelaksanaan langsung dapat tunjuk
pada seseorang atau badan yang telah menikmati pelayanan Dalam arti

masing-masing yang berkepentingan sendiri diserahkan, apakah ia akan
menggunakan jasa dari daerah atau tidak, dan apabila ia akan
mempergunakan maka ia harus membayar retribusi menurut atau
berdasar peraturan daerah yang bersangkutan.
Menurut Rochmat Sumitra (2000:1) dan Erlita Dewi (2002:1)
mengatakan bahwa retribusi adalah pembayaran kepada Negara yang
dilakukan kepada mereka yang menggunakan jasa-jasa negara, artinya
retribusi daerah sebagai pembayaran atas pemakaian jasa atau karena
mendapat pekerjaan usaha atau milik daerah bagi yang berkepentingan
atau jasa yang diberikan oleh daerah, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Oleh karena itu setiap pungutan yang dilakukan oleh
pemerintah daerah senantiasa berdasarkan prestasi dan jasa yang
diberikan kepada masyarakat, sehingga keluasaan retribusi daerah
terletak pada

yang dapat dinikmati oleh masyarakat. Jadi

sangat berhubungan

erat dengan jasa layanan

retribusi

yang diberikan

pemerintah kepada yang membutuhkan.
Di

dalam

UU

No.34

Tahun

2000,

Retribusi

daerah

dikelopokkan menjadi tiga macam, yaitu:
1. Retribusi Jasa Umum
Retribusi jasa umu merupakan suatu retribusi yang tidak bersifat jasa
usaha ataupun retribusi perizinan tertentu, di mana penarikannya
merupakan

wewenang

daerah

dalam

rangka

pelaksanaan

desentralisasi. Dengan adanya retribusi ini diharapkan memberikan

manfaat khusus bagi orang/pribadi atau badan yang diharuskan
membayar retribusi, di samping untuk melayani kepentingan dan
kemanfaatan umum serta nantinya diharapkan akan memungkinkan
suatu kualitas pelayanan yang lebih baik.
Jenis-jenis Retribusi Jasa Umum adalah:
a. Retribusi Pelayanan Kesehatan
b. Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan
c. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan
Akte Catatan Sipil
d. Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat
e. Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum
f. Retribusi Pelayanan Pasar
g. Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor
h. Retrubusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran
i. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta
j. Retribusi Pengujain Kapal Perikanan

2. Retribusi Jasa Usaha
Sifat Retribusi Jasa Usaha bukan pajak dan bukan retribusi jasa
umum atau retribusi perizinan tertentu. Jasa yang bersangkutan
merupakan jasa yang bersifat komersial yang seyogyanya disediakan
oleh swasta tetapi belum memadai atau terdapatnya harta yang
dimiliki/dikuasai daerah yang belum dimanfaatkan secara penuh oleh

pemerintah daerah. Adapun jenis dari jenis retribusi jasa usaha ini
meliputi:
a. Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah
b. Retribusi Pasar Grosir dan/atau Prtokoan
c. Retribusi Tempat Pelelangan
d. Retribusi Terminal
e. Retribusi Tempat Khusus parker
f. Retribusi Tempat Penginapan/Pesanggarahan/Villa
g. Retribusi Penyedotan Kakus
h. Retribusi Rumah Potong hewan
i. Retribusi Pelayanan Pelabuhan Kapal
j. Retribusi Tempat Rekreasi dan Olah raga
k. Retribusi Penyebrangan di Atas air
l. Retribusi Pengolahan Limbah Cair

3. Retribusi Perizinan Tertentu
Obyek Retribusi Perizinan

Dokumen yang terkait

Dokumen baru