Potensi Sambiloto, Sirih Merah, dan Adas Terhadap Virus Avian Influenza H5N1: Kajian Histopatologi, Mortalitas, dan Performa Broiler yang Tidak Divaksin


 

ABSTRAK
SINTA MUTIA HARPA. Potensi Sambiloto, Sirih Merah, dan Adas Terhadap
Virus Avian Influenza H5N1: Kajian Histopatologi, Mortalitas, dan Performa
Broiler yang Tidak Divaksin. Dibimbing oleh AGUS SETIYONO dan MAWAR
SUBANGKIT.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh formulasi
ekstrak sambiloto, sirih merah, dan Adas dalam menghambat infeksi virus Avian
Influenza H5N1 pada broiler. Broiler dibagi menjadi 4 kelompok (kontrol, I, II,
dan III) yang masing-masing berisi 8 ekor. Kelompok I, II, dan III diberi
formulasi ekstrak tanaman obat (5%, 7.5%, dan 10%) sedangkan kontrol diberi
aquades. Semua kelompok diinfeksi dengan virus AI setelah pemberian ekstrak
tanaman obat. Dilakukan pengamatan pada tingkat kematian, performa,
histopatologi organ limfoterikular (limpa, timus, dan bursa Fabricius), dan titer
antibodi. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa 7.5% ekstrak tanaman obat
memiliki kemampuan yang lebih baik untuk menghambat kematian dan menekan
kerusakan organ limfoid dibandingkan dengan kelompok 5% dan 10%.
Kata kunci : Virus Avian Influenza H5N1, Broiler, Herbal, Organ Limfoid

ii 
 

ABSTRACT
SINTA MUTIA HARPA. Potency of Sambiloto, Sirih Merah, and Adas on Avian
Influenza Virus H5N1: Histopathology, Mortality, and Performans of Broiler were
Not Vaccinated. Supervised by AGUS SETIYONO and MAWAR SUBANGKIT.
The objective of this research was to study the effect of Sambiloto, Sirih
Merah, and Adas extract in inhibiting H5N1 avian influenza virus infection in
broiler. Broiler were devided into 4 groups, each consisted of 8 chicks. Groups I,
II, and III were given with herb extract (5%, 7.5%, and 10%) and control with
aquadest. All groups were challenged with AI virus after being treated with herb
extract. Observations were done for mortality, performans, histopathology of
lymphoid organs (spleen, thymus and bursa Fabricius) and antibody titer of the
chicken. The result of this study indicated that 7.5% herb extract better in its
ability to inhibit mortality and reduce the damage of lymphoid organ than other
treatments. Herb extract did not affect the performans of broiler.
Keyword : H5N1 Avian influenza virus, broiler, herbal, lymphoid organs

 
 

POT
TENSI SAM
MBILOTO
O, SIRIH MERAH, DAN AD
DAS
TERH
HADAP VIIRUS AVIIAN INFL
LUENZA H5N1: KAJIAN
HIST
TOPATOL
LOGI, MO
ORTALIT
TAS, DAN PERFOR
RMA
BROIILER YAN
NG TIDA
AK DIVAK
KSIN

SINTA M
MUTIA HARPA
H

FAKU
ULTAS KE
EDOKTERAN HEW
WAN
INS
STITUT PERTANIA
AN BOGO
OR
2012


 

ABSTRAK
SINTA MUTIA HARPA. Potensi Sambiloto, Sirih Merah, dan Adas Terhadap
Virus Avian Influenza H5N1: Kajian Histopatologi, Mortalitas, dan Performa
Broiler yang Tidak Divaksin. Dibimbing oleh AGUS SETIYONO dan MAWAR
SUBANGKIT.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh formulasi
ekstrak sambiloto, sirih merah, dan Adas dalam menghambat infeksi virus Avian
Influenza H5N1 pada broiler. Broiler dibagi menjadi 4 kelompok (kontrol, I, II,
dan III) yang masing-masing berisi 8 ekor. Kelompok I, II, dan III diberi
formulasi ekstrak tanaman obat (5%, 7.5%, dan 10%) sedangkan kontrol diberi
aquades. Semua kelompok diinfeksi dengan virus AI setelah pemberian ekstrak
tanaman obat. Dilakukan pengamatan pada tingkat kematian, performa,
histopatologi organ limfoterikular (limpa, timus, dan bursa Fabricius), dan titer
antibodi. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa 7.5% ekstrak tanaman obat
memiliki kemampuan yang lebih baik untuk menghambat kematian dan menekan
kerusakan organ limfoid dibandingkan dengan kelompok 5% dan 10%.
Kata kunci : Virus Avian Influenza H5N1, Broiler, Herbal, Organ Limfoid

ii 
 

ABSTRACT
SINTA MUTIA HARPA. Potency of Sambiloto, Sirih Merah, and Adas on Avian
Influenza Virus H5N1: Histopathology, Mortality, and Performans of Broiler were
Not Vaccinated. Supervised by AGUS SETIYONO and MAWAR SUBANGKIT.
The objective of this research was to study the effect of Sambiloto, Sirih
Merah, and Adas extract in inhibiting H5N1 avian influenza virus infection in
broiler. Broiler were devided into 4 groups, each consisted of 8 chicks. Groups I,
II, and III were given with herb extract (5%, 7.5%, and 10%) and control with
aquadest. All groups were challenged with AI virus after being treated with herb
extract. Observations were done for mortality, performans, histopathology of
lymphoid organs (spleen, thymus and bursa Fabricius) and antibody titer of the
chicken. The result of this study indicated that 7.5% herb extract better in its
ability to inhibit mortality and reduce the damage of lymphoid organ than other
treatments. Herb extract did not affect the performans of broiler.
Keyword : H5N1 Avian influenza virus, broiler, herbal, lymphoid organs

iii 
 

POTENSI SAMBILOTO, SIRIH MERAH, DAN ADAS
TERHADAP VIRUS AVIAN INFLUENZA H5N1: KAJIAN
HISTOPATOLOGI, MORTALITAS, DAN PERFORMA
BROILER YANG TIDAK DIVAKSIN

SINTA MUTIA HARPA

Skripsi
Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar
Sarjana Kedokteran Hewan pada
Fakultas Kedokteran Hewan

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

iv 
 

PERNYATAAN MENGENAI SUMBER SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi Potensi Sambiloto, Sirih Merah,
dan Adas Terhadap Virus Avian Influensa H5N1: Kajian Histopatologi, Mortalitas,
dan Performa Broiler yang Tidak Divaksin adalah karya saya dengan arahan dari
komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan
tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang
diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks
dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Bogor, Juli 2012

Sinta Mutia Harpa
NIM B04070093


 

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2012
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah, dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
yang wajar IPB
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB

ii 
 

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Skripsi

:

Potensi Sambiloto, Sirih Merah, dan Adas Terhadap
Virus Avian Influenza H5N1: Kajian Histopatologi,
Mortalitas, dan Performa Broiler yang Tidak
Divaksin

Penyusun

:

Sinta Mutia Harpa

NRP

:

B04070093

Disetujui,
Pembimbing 1

Pembimbing 2

drh. H. Agus Setiyono, MS. PhD. APVet
NIP. 19630810 198803 1 004

drh. Mawar Subangkit
NIP. 19850522 201012 1 006

Diketahui
Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Hewan
Institut Pertanian Bogor

drh. H. Agus Setiyono, MS. PhD. APVet
NIP. 19630810 198803 1 004

Tanggal Lulus :

iii 
 

PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karuniaNya sehingga skripsi ini berhasil diselesaikan. Judul yang dipilih dalam penelitian
yang dilaksanakan sejak Juli 2010 ialah Potensi Sambiloto, Sirih Merah dan Adas
Terhadap Virus Avian Influenza H5N1: Kajian Histopatologi, Mortalitas, dan
Performa Broiler yang Tidak Divaksin. Penelitian ini merupakan bagian dari
kegiatan Kerjasama Kemitraan Penelitian Pertanian dengan Perguruan Tinggi
(KKP3T) antara Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor dan
Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian
Jakarta.
Terima kasih penulis ucapkan kepada drh. H. Agus Setiyono, MS. PhD.
APVet dan drh. Mawar Subangkit sebagai pembimbing. Di samping itu, ucapan
terimakasih penulis sampaikan kepada Pak Kasnadi, Pak Soleh, Pak Endang, dan
Bibi yang telah membantu di laboratorium histopatologi selama penelitian.
Terimakasih kepada teman seperjuangan dalam penelitian (Wyanda, Kak Masda,
Ita, dan Hazar).
Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada keluarga tercinta,
ayahanda H. Aang Panji, ibunda Hj. Amih Haryati, dan adinda Citra Zahra Harpa
atas dukungan, doa, serta nasihatnya. Terimakasih penulis ucapkan kepada
sahabat-sahabat Wisma Ayu Crew, Laskar Afkar, serta teman-teman Gianuzzi 44
dan Avenzoar 45 atas kebersamaannya.
Skripsi ini tidak luput dari kekurangan dan kesalahan oleh karena itu penulis
terbuka menerima kritik dan saran yang membangun guna penulisan selanjutnya.
Semoga skripsi ini bermanfaat.
Bogor, Juli 2012

Sinta Mutia Harpa

iv 
 

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Subang pada tanggal 13 Oktober 1989 dari ayah H.
Aang Panji dan ibu Hj. Amih Haryati serta adik Citra Zahra Harpa. Pendidikan
formal dimulai dengan SDN Neglasari Subang, SMPN 1 Subang, dan lulus
SMAN 1 Subang pada tahun 2007. Pada tahun yang sama penulis diterima
sebagai mahasiswa prog sarjana Institut Pertanian Bogor melalui Undangan
Saringan Masuk IPB (USMI), setahun kemudian penulis masuk ke Fakultas
Kedokteran Hewan IPB.
Selama mengikuti perkuliahan, penulis menjadi anggota Dewan Perwakilan
Mahasiswa (DPM), Dewan Keluarga Mushola An-Nahl (DKM An-Nahl),
Himpunan Minat dan Profesi Ruminansia (HIMPRO Ruminansia), Kesatuan Aksi
Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Organisasi Mahasiswa Daerah Subang
(OMDA), Tentor Biologi di bimbingan belajar Salemba Grup.


 

DAFTAR ISI
Halaman

DAFTAR TABEL .................................................................................................. iii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. iv
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................... v
PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
Latar Belakang ............................................................................................... 1
Tujuan ............................................................................................................ 3
Manfaat .......................................................................................................... 3
TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................................... 4
Virus Flu Burung ........................................................................................... 4
Ayam Broiler ................................................................................................. 5
Sirih Merah (Piper crocatum) ....................................................................... 7
Sambiloto (Andrographis paniculata Nees) .................................................. 8
Adas (Foeniculum vulgare) ......................................................................... 10
Limpa ........................................................................................................... 11
Bursa Fabricius ............................................................................................ 12
Timus ........................................................................................................... 12
METODOLOGI PENELITIAN ............................................................................ 15
Waktu dan Tempat Penelitian...................................................................... 15
Alat dan Bahan ............................................................................................ 15
Metode Penelitian ........................................................................................ 15
Ekstraksi Tanaman obat dan Pembuatan Formula ............................... 15
Pemeliharaan Hewan Coba ................................................................... 16
Uji Tantang Virus ................................................................................. 17
Pengamatan Histopatologi .................................................................... 17

ii 
 

Perhitungan Persentase Organ Limfoid ................................................ 17
Analisis Data......................................................................................... 18
HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................................. 20
Data Mortalitas ............................................................................................ 20
Data Bobot Badan ........................................................................................ 22
Pengamatan Histopatologi Organ Limforetikular ....................................... 23
Limpa .................................................................................................... 23
Bursa Fabricius ..................................................................................... 27
Timus .................................................................................................... 30
Pemeriksaan Serologis ................................................................................. 32
SIMPULAN DAN SARAN .................................................................................. 34
Simpulan ...................................................................................................... 34
Saran ............................................................................................................ 34
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 35
LAMPIRAN .......................................................................................................... 40 

iii 
 

DAFTAR TABEL
Halaman
1

2

3

4

5

6

Data Mortalitas ayam broiler yang diberi ekstrak tanaman obat
selama 21 hari setelah uji tantang virus AI H5N1/NGK/2003
dengan dosis 106 EID50/0.1 mL/ekor.............................................
Bobot badan ayam rata-rata (g) diukur per minggu yang diberi
ekstrak tanaman obat selama 21 hari dan diuji tantang virus AI
H5N1/NGK/2003 dengan dosis 106 EID50/0.1 mL/ekor..................
Persentase pulpa putih pada limpa ayam yang diberi ekstrak
tanaman obat selama 21 hari setelah uji tantang virus AI strain
H5N1/NGK/2003 dengan dosis 106 EID50/0.1 mL/ekor..................
Persentase Bursa Fabricius pada Ayam yang diberi ekstrak
tanaman obat selama 21 hari setelah uji tantang virus AI strain
H5N1/NGK/2003 dengan dosis 106 EID50/0.1 mL/ekor..................
Persentase Timus pada Ayam yang diberi ekstrak tanaman obat
selama 21 hari setelah uji tantang virus AI strain
H5N1/NGK/2003 dengan dosis 106 EID50/0.1 mL/ekor..................
Hasil uji serologis ayam broiler yang diberi ekstrak tanaman obat
selama 21 hari setelah uji tantang virus AI H5N1/NGK/2003
dengan dosis 106 EID50/0.1 mL/ekor..............................................

21

22

24

27

30

33

iv 
 

DAFTAR GAMBAR
Halaman
1
2
3
4

5

6

Tanaman Sirih Merah........................................................................
Tanaman Sambiloto...........................................................................
Tanaman Adas...................................................................................
Histopatologi Limpa yang diberi ekstrak tanaman obat selama 21
hari setelah uji tantang virus AI strain H5N1, Pewarnaan HE, A
(Kontrol, 5 hari pasca infeksi/p.i, diberi akuades), B (kelompok I,
5 hari p.i, tanaman obat 5%), C (kelompok II, 7 hari p.i, tanaman
obat 7.5%), D (kelompok III, 4 hari p.i, tanaman obat 10%)............
Histopatologi bursa Fabricius yang diberi ekstrak tanaman obat
selama 21 hari setelah uji tantang virus AI strain H5N1, Pewarnaan
HE, A (Kontrol, 5 hari p.i), diberi akuades), B (kelompok I, 5 hari
p.i, tanaman obat 5%), C (kelompok II, 7 hari p.i, tanaman obat
7.5%), D (kelompok III, 4 hari p.i, tanaman obat 10%)....................
Histopatologi Timus yang diberi ekstrak tanaman obat selama 21
hari setelah uji tantang virus AI strain H5N1, Pewarnaan HE, A
(Kontrol, 5 hari p.i), diberi akuades), B (kelompok I, 5 hari p.i,
tanaman obat 5%), C (kelompok II, 7 hari p.i, tanaman obat 7.5%),
D (kelompok III, 4 hari p.i, tanaman obat 10%)...............................

7
9
10

25

28

31


 

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1
2

Pembuatan Sediaan Histopatologi..................................................
Uji Statistik.....................................................................................

40
40


 

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Beberapa tahun terakhir, perhatian dunia kesehatan terpusat kepada semakin
merebaknya penularan Avian Influenza A (H5N1). Meningkatnya kasus infeksi
H5N1 yang menyebabkan kematian pada manusia sangat dikhawatirkan dapat
berkembang menjadi wabah pandemi yang berbahaya bagi manusia. Sejak lebih
dari satu abad yang lalu, beberapa subtipe dari virus influensa A telah menghantui
manusia. Berbagai variasi mutasi subtipe virus influensa A yang menyerang
manusia, telah menyebabkan pandemi. Kewaspadaan global terhadap wabah
pandemi flu burung mendapatkan perhatian yang serius (Radji 2006).
Globalisasi sangat berpengaruh terhadap penyebaran penyakit hewan
menular dari suatu wilayah ke wilayah yang lainnya. Penyebaran penyakit dapat
terjadi akibat terbawanya bibit penyebab penyakit melalui media pembawa. Media
pembawa dapat berupa komoditas hewan atau produk hewan yang dilalulintaskan
antarnegara, baik yang diperdagangkan lewat pengiriman maupun sebagai barang
bawaan. Globalisasi menyebabkan merebaknya wabah panzootik. Contoh wabah
panzootik adalah merebaknya penyakit Highly Pathogenic Avian Influenza
(HPAI), yang lebih dikenal dengan istilah penyakit flu burung. Tahun 2003–2004
silam menyebabkan kematian unggas hingga jutaan ekor. Akibatnya, kerugian
ekonomi yang cukup besar pun diderita para ternak dan pemerintah dibeberapa
belahan benua di dunia seperti Eropa, Amerika, dan Asia. Selain mengakibatkan
kerugian ekonomi, HPAI juga menyerang manusia (zoonosis) dan menyebabkan
kematian (Baraniah 2002).
Avian Influenza (AI) adalah penyakit yang menginfeksi burung, disebabkan
oleh virus influensa strain tipe A. Penyakit ini pertama kali diidentifikasi di Italia
lebih dari 100 tahun yang lalu, terjadi diseluruh dunia. Risiko AI umumnya sangat
rendah pada manusia karena biasanya virus ini tidak menginfeksi manusia. Barubaru ini, ada kasus AI yang menginfeksi manusia dari beberapa subtipe yang
dilaporkan sejak 1997. Virus AI tipe A dibagi menjadi beberapa subtipe,
penamaan didasarkan pada susunan dua buah protein pada permukaan virus, yaitu
Haemaglutinin (HA) dan Neuraminidase (NA), sampai saat ini telah diketahui 16
subtipe HA dan 9 subtipe NA (Saif 2006).


 

Penyakit flu burung atau flu unggas (AI) adalah suatu penyakit menular
yang disebabkan oleh virus influensa tipe A dan ditularkan oleh unggas. Penyakit
flu burung yang disebabkan oleh virus AI jenis H5N1 pada unggas
dikonfirmasikan telah terjadi di Republik Korea, Vietnam, Jepang, Thailand,
Kamboja, Taiwan, Laos, China, Indonesia dan Pakistan. Sumber virus diduga
berasal dari migrasi burung dan transportasi unggas yang terinfeksi.
Bulan Januari 2004, dilaporkan adanya kasus kematian ayam ternak yang
luar biasa (terutama di Bali, Botabek, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan
Barat dan Jawa Barat). Awalnya, kematian tersebut diduga karena virus Newcastle
Disease, namun konfirmasi terakhir oleh Departemen Pertanian disebabkan oleh
virus AI. Jumlah unggas yang mati akibat wabah penyakit flu burung di 10
provinsi di Indonesia sangat besar yaitu 3.842.275 ekor (4.77%) dan yang paling
tinggi jumlah kematiannya adalah provinsi Jawa Barat (1.541.427 ekor). Bulan
Juli 2005, penyakit flu burung telah merenggut tiga nyawa warga Tangerang
Banten, hal ini didasarkan pada hasil pemeriksaan laboratorium Badan Penelitian
dan Pengembangan Depkes Jakarta dan laboratorium rujukan WHO di Hongkong.
Wabah AI yang sangat patogen secara keseluruhan dapat mengakibatkan
kehancuran bagi industri ternak unggas, apalagi bagi peternak individual, di
wilayah yang terserang. Kerugian ekonomis biasanya hanya sebagian yang secara
langsung diakibatkan oleh kematian unggas yang terinfeksi H5N1. Berbagai upaya
yang dilakukan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut juga memerlukan biaya
yang besar. Bagi negara berkembang yang memerlukan unggas dan telur sebagai
sumber utama protein, dampak wabah ini terhadap keadaan gizi rakyatnya juga
sangat besar. Sekali wabah sudah meluas, pengendaliannya semakin sulit
dilakukan dan mungkin memerlukan waktu sampai bertahun-tahun (Mohamad
2007).
Hingga saat ini belum ada vaksin yang efektif untuk mencegah penyakit AI
pada manusia. Vaksin yang tersedia hanya untuk ternak. Meski demikian vaksin
influensa yang biasa dipakai untuk mencegah flu manusia dapat diberikan pada
orang dengan risiko tinggi (Kumala 2005).
Obat yang diberikan pada penderita dengan infeksi virus H5N1 adalah sama
dengan penderita infeksi virus influensa lain. Sayangnya kini strain H5N1 sudah


 

banyak yang resisten terhadap golongan amantadin dan rimantadin yang umum
dipakai untuk pengobatan influensa, tetapi masih sensitif terhadap oseltamivir dan
zanamivir (Kumala 2005).
Dalam penelitian ini akan dibahas mengenai pengaruh Sambiloto, Sirih
Merah, dan Adas terhadap potensi virus khususnya virus flu burung. WHO
merekomendasikan penggunaan obat tradisional termasuk herbal dalam
pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan, dan pengobatan penyakit. WHO
juga mendukung upaya-upaya dalam peningkatan keamanan dan khasiat dari obat
tradisional. Penggunaan obat tradisional secara umum dinilai lebih aman dari pada
penggunaan obat modern. Hal ini disebabkan karena obat tradisional memiliki
efek samping yang relatif lebih sedikit dari pada obat modern (WHO 2008).
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi Sambiloto (bagian
daunnya), Sirih Merah (bagian daunnya), dan Adas (bagian buahnya) terhadap
infeksi virus AI H5N1 pada ayam broiler yang tidak mendapat vaksinasi dengan
mengamati performa, mortalitas, dan gambaran histopatologi organ limforetikular
(limpa, timus, dan bursa Fabricius).
Manfaat
Memberikan informasi mengenai potensi Sambiloto (bagian daunnya), Sirih
Merah (bagian daunnya), dan Adas (bagian buahnya) terhadap infeksi virus AI
H5N1 pada ayam broiler yang tidak mendapat vaksinasi dengan mengamati
performa, mortalitas, dan gambaran histopatologi organ limforetikular yaitu
(limpa, timus, dan bursa Fabricius).


 

TINJAUAN PUSTAKA
Virus Flu Burung
Virus influensa adalah partikel berselubung berbentuk bundar atau bulat
panjang.

Virus

Orthomyxoviridae

influensa
(Mohamad

merupakan

nama

generik

dalam

keluarga

2007).

Menurut

Radji

(2006),

keluarga

Orthomyxoviridae terdiri dari dua genus influenzavirus A dan B, yang mempunyai
dua spesies, yaitu virus influensa A dan virus influensa B, dan genus
influenzavirus C, yang mempunyai satu spesies, yaitu virus influensa C. Menurut
Mohamad (2007), Virus influensa tipe A, B, dan C dibedakan berdasarkan
perbedaan sifat antigenik dari nucleoprotein dan matrix proteinnya. Virus tipe A
yang menyerang unggas memiliki antigen HA sebanyak 16 pasang yaitu H1-H16
dan 9 antigen NA, yaitu N1-N9 yang dapat berubah-rubah bentuk. Virus tipe A
paling ganas yaitu H5N1 yang juga terbukti dapat menular dari unggas ke manusia
ternyata juga dapat menular ke singa, harimau, dan kucing rumahan yang diberi
makan daging unggas mentah yang terkontaminasi virus tersebut.
Ciri virion dari virus influensa A adalah bulat dan berdiameter sekitar 100
nm. Genomnya terdiri dari 8 segmen yang mengkode 10 protein. Protein matriks
yang terbanyak adalah protein matriks (M1), tersusun dari banyak monomer kecil
serupa yang terkait dengan permukaan bagian dalam lapisan ganda lemak dari
amplop. Protein kecil lain yaitu protein matriks (M2) tersusun dari sejumLah kecil
cetakan dan menonjol sebagai pori-pori melewati membran, merupakan tempat
bekerjanya obat amantidin (Horimoto dan Kawaoka 2001).
Karakteristik virus ini berkapsul dan mengandung glikoprotein yang
merupakan antigen permukaan. Terdapat 2 jenis protein permukaan yaitu
Hemaglutinin

(HA)

dan

Neuraminidase

(NA).

Hemaglutinin

bersifat

mengaglutinasi sel darah merah dan berfungsi untuk melekat, menginvasi sel
hospes dan kemudian bereplikasi. Neuraminidase merupakan suatu enzim untuk
memecahkan ikatan partikel virus sehingga virus baru terlepas dan dapat
menginfeksi sel baru yang lain. Protein polimerase RNA-PB1, PB2, dan PA
berkaitan dengan ribonuklease nucleocapsid (NP). Protein NP dan matrix 1 (M1)
menentukan kekhasan spesies, yaitu protein ini membedakan antar virus influensa


 

A dan B, tetapi antibodi terhadap mereka tidak bersifat melindungi, walaupun
keduanya merangsang kekebalan diperantarai sel (Peiris et al. 2004).
Virus influensa pada unggas bereplikasi di saluran pencernaan (De jong MD
2005) dan pernafasan (Peiris et al. 2004), sehingga virus lebih mudah diisolasi di
kloaka. Infeksi oleh virus influensa yang virulen adalah terjadinya viremia yang
berlanjut dengan infeksi umum. Lesi berdarah dapat terjadi pada organ jeroan dan
juga pada jengger dari ayam dan kalkun. Influensa unggas sering menjadi lebih
serius dengan adanya infeksi virus atau bakteri sekunder oportunitis (Peiris et al.
2004).
Masa inkubasi dari virus influensa unggas beragam dari beberapa jam
sampai beberpa hari, tergantung kepada dosis virus, virulensi galur, dan spesies
inang. Infeksi virus influensa yang sangat virulen pada ayam dan kalkun ditandai
oleh mortalitas tingi dan tiba-tiba, terhentinya produksi telur, gejala gangguan
pernafasan, lakrimasi berlebihan, sinusitis, kebengkakan kepala dan muka,
kebiruan terutama tampak pada jengger, dan diare. Virus yang kurang virulen,
dapat menimbulkan kerugian besar khususnya pada kalkun. Menyebabkan
penurunan produksi telur, penyakit pernafasan, anoreksia, depresi, dan sinusitis.
Kadang-kadang hanya dari beberapa tanda-tanda itu yang tampak. Tanda klinis
dapat diperparah oleh infeksi sekunder (misalnya oleh penyakit Newcastle
Disease dan berbagai bakteri serta mikoplasma), penggunaan vaksin virus hidup,
atau cekaman lingkungan (ventilasi yang jelek dan populasi yang terlalu padat).
Pada itik piaraan, gejala yang paling kerap adalah sinusitis, dan kematian
meningkat (Peiris et al. 2004).
Ayam Broiler
Ayam peliharaan dewasa ini (Gallus domesticus) merupakan keturunan
ayam hutan. Kasus flu burung didapatkan pada ayam ras dan ayam lokal dengan
pemeliharaan intensif ataupun tidak. Unggas peka selain ayam yaitu: burung
puyuh, burung unta, dan kalkun. Unggas air dan burung liar menjadi sumber
penularan bagi unggas yang peka (Mohamad 2007).
Cikal bakal ayam broiler berasal dari persilangan antara jantan bangsa White
Cornish dari Inggris dan betina bangsa White Plymouth Rock dari Amerika. Strain
ayam broiller yang banyak dijual dan dipelihara di Indonesia antara lain: Cobb,


 

Hubbard, Ross, Lohman, Avian, Arbor Acres, Hi-bro dan ISA Vedette. Strain
ayam broiler yang paling banyak dikembangkan di dunia yaitu strain Cobb,
karena galur ini memiliki keunggulan khusus dibanding galur lainnya.
Keunggulan tersebut diantaranya: memiliki pertumbuhan lebih cepat, daging dada
lebih banyak dan konversi ransum paling rendah (Hadi 2006).
Menurut Prambudi (2007), ayam broiler galur Cobb merupakan bagian dari
Broiler moderen dimana mampu berkembang dengan cepat (fast growth) sehingga
apabila kecukupan nutrisi untuk pembentukan otot dan tulang tidak terpenuhi
maka akan muncul gejala-gejala kelumpuhan atau leg problem.
Dewasa ini, terdapat banyak sekali ayam hasil perbaikan mutu genetis
sesuai dengan tujuan pemeliharaannya. Pengetahuan mengenai klasifikasi dan
pengenalan jenis diperlukan untuk memahami karakteristik masing-masing jenis
ayam. Klasifikasi adalah sistem pengelompokan jenis-jenis ternak berdasarkan
persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan karakteristik. Pada ternak ayam,
klasifikasi dapat digolongkan berdasarkan tiga cara, yaitu taksonomi zoologi,
buku standar The American Standar of Perfection, tujuan pemeliharaan atau tipe
ayam. Berdasarkan kondisi perkembangan peternakan ayam di Indonesia, ayam di
Indonesia dapat diklasifikasikan menjadi ayam ras dan ayam lokal (Suprijatna et
al. 2008).
Ayam yang digunakan dalam penelitian ini adalah ayam ras atau ayam
broiler strain Cobb. Ayam ras adalah jenis ayam dari luar negeri yang bersifat
unggul sesuai dengan tujuan pemeliharaan karena telah mengalami perbaikan
mutu genetis. Jenis ayam ini dua tipe, yaitu tipe pedaging dan tipe petelur. Ayam
broiler adalah ayam penghasil daging yang dipelihara sampai umur 6–7 minggu
dengan berat 1.5 – 2.0 kg dan konversi pakan 1.9–2.25. Performa ayam adalah
pencerminan dari keseluruhan aktivitas organ tubuh. Untuk mencapai performa
optimal, diperlukan manajemen pemeliharaan yang baik dari peternak sehingga
dan menghasilkan produksi maksimal (Suprijatna et al. 2008).


 

Sirih Merah (Piper crocatum)
Sirih Merah merupakan tanaman yang tumbuh menjalar. Batangnya bulat
berwarna hijau keunguan dan tidak berbunga. Daunnya bertangkai berbentuk
jantung dengan bagian atas meruncing, bertepi rata dan permukaannya mengkilap
atau tidak berbulu. Panjang daunnya bisa mencapai 15-20 cm. Warna daun bagian
atas hijau bercorak warna putih keabu-abuan. Bagian bawah daun berwarna merah
cerah. Daunnya berlendir, berasa sangat pahit dan beraroma wangi khas sirih.
Batangnya bersulur dan beruas dengan jarak buku 5-10 cm. Di setiap buku
tumbuh bakal akar (Sudewo 2005).

Gambar 2. Sirih merah (Sudewo 2005)
Taksonomi sambiloto berdasarkan ITIS (2011) adalah:
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Piperales

Famili

: Piperaceae

Genus

: Piper

Spesies

: Piper crocatum

Daun Sirih Merah mengandung senyawa fitokimia yakni alkaloid, saponin,
tanin dan flavonoid. Sirih Merah sejak dulu telah digunakan oleh masyarakat yang
berada di Pulau Jawa sebagai obat untuk meyembuhkan berbagai jenis penyakit
dan merupakan bagian dari acara adat (Balitro 2007).


 

Senyawa-senyawa kimia yang terkandung dalam Sirih Merah memiliki
khasiat sebagai berikut: Senyawa flavonoid dan polivenol berfungsi sebagai
antioksidan, antidiabetik, antikanker, antiseptik, dan antiflamasi. Senyawa
alkaloid pada sirih merah juga dapat dimanfaatkan sebagai penghambat
pertumbuhan sel-sel kanker.  Piperin terkandung dalam senyawa fitokimia
alkaloid. Khasiat dari piperin pada sirih merah adalah menurunkan suhu tubuh,
antiinflamasi, antidepresi, hepatoprotektif, dan antitumor. Piperin bisa berperan
sebagai imunomodulator dengan meningkatkan respon humoral (Pathak dan
Khandelwal 2006).

Sambiloto (Andrographis paniculata Nees)
Sambiloto dengan nama ilmiah Andrographis paniculata Nees adalah
tumbuhan semusim yang termasuk dalam suku Acanthaceae. Sambiloto
merupakan salah satu jenis tanaman herbal yang umumnya dikenal dengan
sebutan “king of bitters”, tumbuh secara luas di Asia Selatan, India, Srilanka,
Pakistan, Malaysia, banyak dibudidayakan di India, Cina, dan Thailand. Daun dan
akarnya telah dipakai berabad-abad yang lalu untuk pengobatan tradisional, dalam
cerita-cerita rakyat di Asia dan eropa, sambiloto banyak digunakan untuk
pengobatan penyakit atau suplemen kesehatan (Jarukamjorn dan Nemoto 2008).
Sambiloto merupakan herba tegak yang tumbuh secara alami di daerah
dataran rendah hingga ketinggian ± 1600 meter dpl. Habitat sambiloto ialah di
tempat terbuka seperti ladang, pinggir jalan, tebing, saluran atau sungai, semak
belukar, di bawah tegakan pohon jati atau bambu (Mahendra 2005). Menurut
Jarukamjon dan Nemoto (2008), sambiloto tumbuh tegak hingga ketinggian antara
30-100 cm di tempat teduh dan lembab dengan daun gundul dan bunga putih
dengan bintik ungu pada kelopak. Batangnya berwarna hijau gelap berbentuk
segiempat dengan alur memanjang.


 

Gambar 3. Sambiloto (dinkes.gorontalo.web.id).
Taksonomi sambiloto berdasarkan ITIS (2011) adalah:
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Tracheophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Scrophulariales

Famili

: Acanthaceae

Genus

: Andrographis

Spesies

: Andrographis paniculata Nees

Bagian tanaman sambiloto yang digunakan adalah daun. Daun sambiloto
mengandung saponin, flavonida, dan tanin. Berdasarkan penelitian, sambiloto
termasuk tanaman yang kaya dengan berbagai kandungan kimia, antara lain
deoxy-andro-grapholide, andrographolide (zat pahit), neoandro-grapholide, 14deoxy-11, 12 didehydroanrographolide, dan homoandrographolide. Flavonoid
dari akar mengandung polymethoxyflavone, andrographin, panicolin, monoomethylwithin, apigenin-7, 4-dimethyl ether, alkane, ketone, aldehyde, kalium,
kalsium, natrium, asam kresik, dan damar. Kandungan lain yaitu andrografolid
kurang dari 1%, kalmegin (zat amorf), dan hablur kuning yang memiliki rasa pahit
(Radhika et al. 2012).
Ketika dikonsumsi secara oral, andrografolid terakumulasi di organ
pencernaan. Studi farmakokinetik menjelaskan bahwa andrografolid diabsorpsi
cepat dalam sistem metabolisme tikus dan manusia, 90% dieliminasi dalam waktu
48 hari. Sepuluh metabolit dari andrografolid diubah sebagai sulfonate, campuran
sulfat ester, dan analog andrografolid, terisolasi dalam urin, feces, dan usus halus
tikus setelah diadministrasi secara oral. Sementara pada manusia, isolat metabolit

10 
 

andrografolid terdapat pada urin adalah sulfat, cystein s-conjugate, danconjugate
glucuronide (Jarukamjorn dan Nemoto 2008).
Sambiloto memiliki efek farmakologi seperti imunostimulan (meningkatkan
kekebalan

tubuh),

antibiotik,

antipiretik

(penurun

panas),

antiinflamasi,

hepatoprotektor, hipotensif, hipoglikemik, antibakteri, anti radang saluran
pernafasan, serta meradian jantung dan paru-paru (Mahendra 2005).

Adas (Foeniculum vulgare)
Adas sering dijumpai sebagai tanaman pekarangan mulai dari dataran
rendah hingga ketinggian 1800 m dpl. Tinginya antara 0.5-3 m. Batangnya beralur
yang jika memar akan berbau harum. Pertumbuhan batangnya tegak. Daunnya
halus dengan susunan berbagai menyirip dan berseludang putih. Buah berusukrusuk sangat nyata dengan panjang 4-6 mm dan berbau harum. Perbanyakan
tanaman dapat dilakukan dengan biji atau pemisahan anakan (Mursito 2002).

Gambar 3. Tanaman adas dan biji tanaman adas (BBP2PT Surabaya).
Taksonomi adas berdasarkan ITIS (2011) adalah:
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Tracheophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Apiales

Famili

: Apiaceae

Genus

: Foeniculum

Spesies

: Foeniculum vulgare

Bagian tanaman yang dimanfaaatkan adalah buah yang telah masak.
Kandungan zat aktif adas adalah minyak atsiri (1-6%) yang terdiri dari anetol,

11 
 

fenkon, pinen, limonen, dipenten, felandrenmetil kavikol, anisaldehid, kandungan
lainnya adalah flavonoid dan minyak lemak (Maryani dan Kristiana 2004).
Menurut Mursito (2002), Kandungan minyak atsiri pada buah adas dapat
digunakan untuk menghambat pertumbuhan mikroba maupun memberikan aroma
harum. Aroma harum ini disebabkan oleh adanya kandungan limonen. Sementara
kandungan flavonoid dapat berkhasiat sebagai antiradang. Disamping itu, bahan
aktif dalam buah adas dapat membantu pengeluaran angin dari tubuh (karminatif),
memperlancar pengeluran air seni (diuretik), serta mengurangi batuk dan diare.

Limpa
Limpa adalah tempat utama respon imun terhadap imunogen dalam darah.
limpa merupakan organ limfoid sekunder. Limpa mengandung dua jenis jaringan
utama yaitu pulpa merah dan pulpa putih. Pulpa merah berperan dalam destruksi
eritrosit yang sudah tua, walaupun bagian ini juga mengandung makrofag,
trombosit, dan limfosit. Pulpa putih limpa adalah jaringan limfoid padat yang
tersusun mengelilingi arteriol sentral. Susunan arteriol sentral tersebut sering
disebut Periarteriolar Lymphoid Sheat (PALS). PALS mengandung daerahdaerah sel B dan sel T, yang tersusun membentuk folikel-folikel atau agregat sel
(Price dan Wilson 2006 ).
Aliran darah dari limpa datang melalui arteri lienalis, yang bercabangcabang secara progresif menjadi pembuluh-pembuluh yang lebih halus. Saat
terbagi menjadi arteriol, cabang-cabang tersebut mengalirkan isinya ke dalam
sinusoid-sinusoid vaskular yang kemudian mengalir ke sistem vena. Disain sistem
vaskular limpa yang seperti ini menghasilkan keterkaitan yang erat antara darah
dan jaringan limpa sehingga terjadi interaksi yang erat antara imunogenimunogen di dalam darah dan sel-sel sistem imun (Price dan Wilson 2006).
Setelah mengalir melalui jaringan kapiler limpa, pembuluh darah menyatu
kembali menjadi venula dan darah dialirkan ke hati melalui sistem aliran darah
portal hepatika. Sewaktu darah melewati limpa, makrofag yang terdapat disana
bekerja sebagai fagosit untuk membersihkan darah dari sel debris dan mencerna
mikroorganisme. Makrofag menyajikan potongan-potongan mikroorganisme yang

12 
 

telah dicerna oleh limfosit B dan T didekatnya, sehingga memicu respon imun
(Corwin 2009).
Bursa Fabricius
Bursa Fabricius adalah organ limfoid primer yang terdapat pada unggas,
tetapi tidak pada mamalia (Tabeekh dan Mayah 2009). Struktur bursa terdiri atas
sel limfoid yang dikelilingi jaringan epitel. Jaringan epitel ini membatasi suatu
kantung berongga yang dihubungkan dengan kloaka oleh suatu saluran. Di bagian
dalam kantong ini, terdapat lipatan besar epitel yang menjulur ke dalam lumen
dan pada lipatan tersebut banyak terdapat folikel sel limfoid (Olàh dan Vervelde
2008).
Setiap folikel limfoid terdiri atas korteks dan medula. Korteks mengandung
limfosit, sel plasma, dan makrofag. Pada pertemuan kortiko-medular terdapat
membran basal dan jaringan-jaringan kapiler yang bagian dalamnya adalah sel
epitelial. Sel epitelial medula ini sering menunjukan mitosis dan mengarah ke
tengah digantikan oleh limfosit dan limfoblas (Olàh dan Vervelde 2008).
Bursa Fabricius merupakan pusat kekebalan humoral yang menghasilkan sel
B. Sel B memiliki dua fungsi esensial yaitu berdiferensiasi menjadi sel plasma
dan merupakan salah satu kelompok Antigen Precenting Cell (APC) (Liu et al.
2012). Fase pertama pematangan sel B bersifat independen-antigen. Fase pertama
berlangsung di sumsum tulang, sel bakal mula-mula berkembang menjadi sel praB dan kemudian menjadi sel B yang memperlihatkan imunoglobulin M (igM) di
permukaannya. Baik IgM maupun IgD di permukaan sel B dapat merupakan
resetor epitop (Price dan Wilson 2006).
Fase kedua disebut fase dependen-antigen. Sel B berinteraksi dengan suatu
imunogen, menjadi aktif, dan menjadi sel plasma yang mampu menghasilkan
antibodi. Sel B yang bereaksi dengan imunogen akan merangsang sel untuk
berproliferasi dan membentuk suatu klona sel. Sel klona tersebut akan mengalami
pematangan menjadi sel plasma. Sel plasma akan mengeluarkan imunoglobulin
yang spesifik untuk imunogen yang pertama kali memicu perubahan ini (Price dan
Wilson 2006).

13 
 

Timus
Timus adalah organ yang memiliki banyak pembuluh darah dan pembuluh
limfatik yang mengalirkan isinya ke kelenjar-kelenjar getah bening mediastinum.
Timus memiliki korteks di sebelah luar dan medula di sebelah dalam. Korteks
mengandung banyak timosit. Timosit adalah limfosit T atau sel T yang datang
dari sumsum tulang melalui aliran darah dan berada dalam berbagai stadium
perkembangan. Medula lebih jarang diisi oleh sel, pada medula terdapat badan
hassall, yaitu kelompok-kelompok sel epitel yang tersususn rapat sebagai tempat
degenerasi sel (Price dan Wilson 2006).
Menurut Price dan Wilson (2006), timus pada hewan umur muda, bersifat
sangat aktif yang secara normal mengalami involusi menjelang pubertas dan
bertambahnya umur. Proses involusi ditandai dengan berkurangnya secara
bertahap limfosit terutama didaerah korteks, pembesaran dari sel-sel epitel
retikuler dan parenkim diganti oleh sel-sel lemak. Timus pada hewan dewasa
terdiri dari jalur-jalur tipis parenkim dimana banyak sel-sel retikuler epitel
membesar yang dikelilingi jaringan lemak.
Peran sel T dapat dibagi menjadi dua fungsi utama yaitu fungi regulator dan
fungsi efektor. Fungsi regulator dilakukan oleh sel T helper, dikenal sebagai sel
Cluster of Differentiation 4 (CD4). Sel-sel CD4 mengeluarkan molekul yang
dikenal dengan sitokin untuk melaksanakan fungsi regulatornya. Sitokin dari sel
CD4 mengendalikan proses imun seperti pembentukan imunoglobulin oleh sel B,
pengaktifan sel T lain, dan pengaktifan makrofag. Fungsi efektor dilakukan oleh
sel T sitotoksik, dikenal sebagai sel CD8. Sel CD8 mampu mematikan sel yang
terinfeksi oleh virus, sel tumor, dan jaringan transplantasi dengan menyuntikan zat
kimia yang disebut perforin (Perez et al. 2012).
Saat mencapai timus, sel-sel T imatur tidak memiliki reseptor pengikat
epitop dan protein CD4 atau CD8. Peran reseptor epitop di sel T imatur adalah
mengikat epitop antigenik. Peran sel CD4 dan CD8 pada sel T matang adalah
untuk menstabilkan interaksi antara sel T dan sel lain. Dengan demikian, sel T
matang yang meninggalkan timus memiliki reseptor untuk mengikat suatu epitop
dan protein CD4, dikenal sebagai sel T penolong atau protein sel T CD8, dikenal
sebagai sel T sitotoksik (Price dan Wilson 2006).

14 
 

Sel-sel CD4 terdapat di medula timus, tonsil, dan darah. Sel CD4 memiliki
empat fungsi utama yaitu fungsi regulatorik yang mengaitkan sistem monositmakrofag ke sistem limfoid, berinteraksi dengan Antigen Precenting Cell (APC)
untuk mengendalikan pembentukan imunoglobulin, menghasilkan sitokin-sitokin
yang memungkinkan sel CD4 dan CD8 tumbuh, dan berkembang menjadi sel
pengingat.

Sel-sel

CD8

melakukan

dua

fungsi

efektor

utama

yaitu

hipersensitivitas tipe lambat dan sitotoksitas. Hipersensitivitas tipe lambat terjadi
saat imunogen organisme intrasel seperti fungi atau miobakteri menimbulkan
suatu respon alergi (Sharma 2012).

15 
 

METODOLOGI PENELITIAN

Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2010-April 2011 di Kandang
Hewan Laboratorium dan Laboratorium Histopatologi, Departemen Klinik,
Reproduksi, dan Patologi FKH IPB. Ekstraksi tanaman obat dilakukan di
Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balitro). Uji tantang
virus AI dilakukan di laboratorium Biosafety Level 3 (BSL3) milik PT. Vaksindo
Satwa Nusantara, Cicadas, Gunung Putri, Bogor.

Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah timbangan digital, tabung
steril, penggiling, gelas ukur, corong pisah, sentrifus, labu penyuling, inkubator,
vorteks, penangas air, tabung erlenmeyer, blender, kapas, tissue, tabung
kromatografi, dan tabung destruksi.
Bahan yang digunakan adalah Day Old Chick (DOC), Virus strain
H5N1/NGK/2003, tanaman Sambiloto, Adas, Sirih Merah, metanol, etanol, aseton
dingin, etil asetat, kloroform, akuades, hematoksilin dan eosin.

Metode Penelitian
Ekstraksi Tanaman obat dan Pembuatan Formula
Pembuatan ekstrak tanaman obat dan formula dari tanaman Sirih Merah,
Adas, dan Sambiloto telah dilakukan di laboratorium Balai Penelitian Tanaman
Obat dan Aromatik (Balitro) Bogor, dari mulai penyediaan bahan baku maupun
ekstraksinya.
Proses ekstraksi tanaman terstandar dan pembuatan formula, terlebih dahulu
dilakukan pemanenan pada bagian tanaman yang akan dimanfaatkan. Sirih Merah
dan Sambiloto diambil daunnya, sedangkan Adas yang dipanen adalah buahnya.
Bagian tanaman yang telah diambil kemudian diekstrak dan setiap ekstrak dari

16 
 

tiga jenis bagian itu kemudian dicampur sesuai dengan kadar masing-masing
bahan aktif yaitu andrografolid, anetol, dan piperin. Konsentrasi bahan aktif yang
dipakai dalam pembuatan formula yaitu 5%, 7.5%, dan 10%.
Pemeliharaan Hewan Coba
Sebanyak 32 ekor ayam day old chick (DOC) pedaging strain Cobb
dipelihara di kandang percobaan Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Bobot badan
rata-rata adalah 38 g, dibagi dalam 4 kelompok yang masing-masing kelompok
berjumlah 8 ekor DOC dengan pemberian pakan dan minum ad libitum. Pada hari
pertama, ayam diadaptasikan dengan pemberian air gula selama 3 jam,
selanjutnya setiap kelompok ayam selain kontrol diberikan ekstrak tanaman obat
dari umur 7 hari sampai umur 28 hari. Tujuan diberikannya tanaman obat pada
umur 7-28 hari agar tanaman obat bisa di metabolisme secara optimal di dalam
tubuh. Aplikasi tanaman obat dengan cara dicekok. Komposisi formula ekstrak
tanaman obat, yaitu sebagai berikut :
Formula A : ekstrak etanol tanaman obat dengan konsentrasi andrografolid,
piperin, dan anetol masing-masing setara 5.0% dalam formula
Formula B

: ekstrak etanol tanaman obat dengan konsentrasi andrografolid,
piperin, dan anetol masing-masing setara 7.5% dalam formula

Formula C

: ekstrak etanol tanaman obat dengan konsentrasi andrografolid,
piperin, dan anetol masing-masing setara 10% dalam formula

Komposisi gabungan dari tanaman obat di atas diharapkan bisa bekerja
secara sinergis. Pemberian pakan, penggantian air minum, dan pengukuran suhu
dilakukan pada pagi dan sore hari. Pemberian Vaksin Newcastle Disease (ND)
pada umur 4 hari dan pemberian vaksin Infectious Bursal Disease (IBD) pada
umur 14 hari. Vaksin AI diberikan pada minggu ke-3 secara intranasal dengan
dosis 106 EID50/0.1 mL/ekor. Ekstrak tanaman obat diberikan lagi selama satu
minggu pasca vaksinasi lalu dilanjutkan dengan pemberian air minum biasa
selama satu minggu atau hingga uji tantang dengan virus AI H5N1 pada umur lima
minggu. Pada tahap akhir pemeliharaan, ayam dibawa ke fasilitas Biosafety Level
3 (BSL 3) milik PT. Vaksindo Satwa Nusantara di Cicadas, Gunung Putri, Bogor
untuk uji tantang dengan virus AI.

17 
 

Uji Tantang Virus
Ayam dibawa ke fasilitas Biosafety Level 3 (BSL 3) milik PT. Vaksindo
Satwa Nusantara di Cicadas, Gunung Putri, Bogor untuk uji tantang dengan virus
AI strain H5N1/NGK/2003 intranasal dengan dosis 106 EID50/0.1 mL/ekor. Selama
tujuh hari setelah uji tantang, ayam diamati kematiannya, untuk memperoleh dan
melihat data kematian ayam pasca tantang AI H5N1. Ayam yang masih tersisa
pada hari terakhir pengamatan, dieutanasi dengan cara emboli udara secara
intracardial.
Pengamatan Histopatologi
Setelah dilakukan uji tantang virus H5N1 di BSL3, ayam yang mati
dinekropsi dan diambil organ limfoidnya untuk pembuatan sediaan histopatologi
pada gelas objek dan dilakukan pewarnaan Haematoxyline Eosin (HE).
Pengamatan histopatologi organ limpa, bursa Fabricius, dan timus dilakukan
dengan menggunakan mikroskop cahaya, perbesaran 40 X 10 (40 kali objektif dan
10 kali okuler) pada 20 kali lapangan pandang. Evaluasi terhadap perubahan
mikroskopis masing-masing organ dilakukan dengan mengamati perubahan lesio.
Perubahan lesio tersebut bisa dijadikan sebagai data pendukung terhadap hasil
penghitungan persentase organ limfoid, dari evaluasi tersebut dapat dilihat dan
dibandingkan organ yang persentase sel limfoidnya kecil menunjukkan tingkat
perubahan lesio yang parah atau sebaliknya. Preparat organ yang dievaluasi
adalah limpa, timus, dan bursa Fabricius dari kelompok perlakuan kontrol negatif,
kelompok I, II, dan III.
Perhitungan Persentase Organ Limfoid
Penghitungan persentase organ limfoid yaitu limpa, bursa Fabricius, dan
timus dilakukan dengan menggunakan mikroskop cahaya dan dilakukan pada
bagian yang fungsional pada tiap-tiap organ. Analisis histopatologi dilakukan
dengan menggunakan software macbiophotonics imageJ®. Bagian yang
fungsional pada limpa adalah pulpa putih, pada bursa Fabricius adalah folikel
limfoid, sedangkan pada timus adalah bagian korteks. Persentase organ limfoid
limpa diketahui dengan cara menghitung persentase pulpa putihnya, dihitung

18 
 

dengan cara mengukur luas pulpa putih yang nantinya dibandingkan dengan
jumlah sel limfoid. Pulpa putih yang diambil sebanyak 5 bagian secara acak yang
diharapkan mewakili seluruh bagian limpa.
Persentase organ limfoid bursa Fabricius diketahui dengan cara menghitung
luas plika dan luas setiap folikel limfoid, lalu dibandingkan dan dikali 100%,
maka diperoleh persentase bursa Fabricius, diambil dua buah plika dari setiap
kelompok yang bisa mewakili seluruh bagian organ.
Persentase organ limfoid timus diketahui dengan cara menghitung luas
lobus dibandingkan dengan luas korteks lalu dikali 100% agar diperoleh
persentase dari timus, diambil 3 buah lobus timus yang diharapkan bisa mewakili
persentase organ timus pada setiap kelompok.
Analisis Data
Data kematian dan performa broiler dianalisis secara deskriptif. Evaluasi
data histopatologi organ limfoid dianalisa secara statistik menggunakan analisis
sidik ragam atau dengan nama lain analysis of variant (ANOVA) digunakan
untuk membandingkan perbedaan masing-masing individu dalam satu kelompok,
dan dilanjutkan dengan uji Duncan untuk melihat perbedaan antar kelompok
perlakuan.

20 
 

HASIL DAN PEMBAHASAN
Data Mortalitas
Virus H5N1 yang sangat patogen atau yang lebih dikenal dengan virus flu
burung, menyebabkan penyebaran penyakit secara cepat di antara unggas serta
dapat menular ke manusia dengan dampak mortalitas yang sangat tinggi
(Widyasari 2005). Tingkat mortalitas dapat diketahui dengan salah satu metode
yaitu melalui data klinis. Data klinis dapat dilihat pada Tabel 1, data yang
diperoleh menyajikan hasil yang menunjukkan keadaan mortalitas pada berbagai
kelompok perlakuan ayam. Tabel 1 menunjukkan hasil dari uji tantang virus
Avian Influenza (AI) strain H5N1/NGK/2003 secara intranasal dengan dosis 106
EID50/0.1 mL per ekor. Parameter yang dihitung dalam data klinis adalah
persentase hewan hidup dan koefisien kekebalan.
Persentase hewan hidup adalah jumlah ayam yang tersisa pada hari
terakhir dari jumlah total ayam di hari pertama. Persentase hewan hidup diperoleh
dengan cara membandingkan hewan yang tersisa pada hari terakhir dengan total
ayam pada hari pertama dikali 100%. Semakin tinggi persentase hewan hidup
pada suatu kelompok, maka semakin bagus daya tahan tubuh hewan tersebut
terhadap uji tantang virus H5N1. Untuk menguatkan data kematian, maka perlu
juga dihitung koefisien kekebalan. Koefisien kekebalan adalah suatu ketetapan
yang bisa menjadi faktor untuk melihat apakah daya tahan tubuh ayam tersebut
kebal terhadap infeksi atau sebaliknya. Cara perhitungan koefisien kekebalan
adalah dengan menggunakan metode skoring. Metode skoring dilakukan dengan
mengalikan jumlah ayam yang tersisa dengan faktor pengali tiap hari. Mulai hari
pertama hingga hari terakhir faktor pengali akan berlipat dua kali, misalnya ayam
yang hidup pada hari pertama

Dokumen yang terkait

Potensi Sambiloto, Sirih Merah, dan Adas Terhadap Virus Avian Influenza H5N1: Kajian Histopatologi, Mortalitas, dan Performa Broiler yang Tidak Divaksin