Studi Kasus Diagnosis Pencitraan Gangguan Saluran Pencernaan Atas Anjing Schnauze

ABSTRAK
KHOLIS AFIDATUNNISA. Studi Kasus Diagnosis Pencitraan Gangguan Saluran
Pencernaan Atas Anjing Schnauzer. Dibimbing oleh DENI NOVIANA.
Studi kasus ini bertujuan mengetahui peran diagnosis pencitraan untuk
membantu menegakkan diagnosis pada kasus gangguan saluran pencernaan atas
anjing Schnauzer. Berdasarkan keterangan dari pemilik (anamnesa), anjing
mengalami muntah yang intermiten dan sesekali disertai darah yang sudah
berlangsung selama 1 tahun serta diduga anjing tersebut memakan benda asing.
Proses studi kasus yang dilakukan meliputi pemeriksaan fisik, pemeriksaan
hematologi dan kimia darah, radiografi, ultrasonografi, serta endoskopi. Hasil
pemeriksaan fisik menunjukkan adanya kondisi kekurusan dan anoreksia.
Pemeriksaan hematologi dan kimia darah menunjukkan adanya peningkatan
jumlah limfosit, hemoglobin (Hb), hematokrit (Hct), ureum, kreatinin, alanine
aminotransferase (ALT), dan alkaline phosphatase (ALP). Radiografi abdomen
menunjukkan tidak ada kelainan pada organ-organ di daerah abdomen.
Ultrasonografi abdomen menunjukkan adanya massa hyperechoic memanjang
yang menempel pada permukaan mukosa lambung. Massa tersebut membentuk
acoustic shadowing di bagian ventralnya. Acoustic shadowing pada lambung
dapat disebabkan oleh adanya akumulasi gas atau benda asing seperti tulang.
Endoskopi menunjukkan adanya ketidakteraturan mukosa lambung, busa cairan
empedu di lambung, serta ulkus, dan erosi lambung. Berdasarkan hasil
pemeriksaan endoskopi, hewan didiagnosis menderita gastritis kronis disertai
ulkus dan erosi lambung.
Kata kunci: anjing Schnauzer, diagnosis pencitraan, gangguan saluran pencernaan
atas

ABSTRACT
KHOLIS AFIDATUNNISA. Case Study Diagnostic Imaging of the Upper
Gastrointestinal Tract Disorders of Schnauzer. Supervised by DENI NOVIANA
The aim of this study was to learn the role of diagnostic imaging to define
the diagnose of the upper gastrointestinal tract disorder of the Schnauzer. The
information from the owner (anamneses) stated that the dog has been vomiting for
a year, sometimes containing blood. There might also be a possibility that it had
eaten a corpus alineum. This study case covered physical examination,
hematology and blood chemical analysis, radiography, ultrasonography, and
endoscopy performed. Physical examination showed weight loss and anorexia.
Hematology and blood chemical analysis showed an increase in lymphocyte,
haemoglobin (Hb), haemotocrit (Hct), ureum, creatinine, alanin aminotransferase
(ALT), and alkaline phosphatase (ALP). Abdominal radiograph showed no
abnormality in the abdominal organs. Abdominal ultrasonography showed a

hyperechoic mass on the stomach mucosal surface. The mass forms an acoustic
shadowing at the ventral. The acoustic shadowing in the stomach may be caused
by an accumulation of gas or foreign object such as bone. Endoscopy showed that
there was inconsistency of stomach mucosa surface, foamy bile fluid in the
stomach, ulcers, and erosion of the stomach mucosal surface. Based on the
endoscopy performed, the animal was clearly diagnosed with chronic gastritis
accompanied by stomach ulcer and erosion.
Keywords: Schnauzer, diagnostic imaging, upper gastrointestinal tract disorder

STUDI KASUS DIAGNOSIS PENCITRAAN GANGGUAN SALURAN
PENCERNAAN ATAS ANJING SCHNAUZER

KHOLIS AFIDATUNNISA

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Studi Kasus Diagnosis
Pencitraan Gangguan Saluran Pencernaan Atas Anjing Schnauzer adalah benar
karya saya dengan arahan dari dosen pembimbing dan belum diajukan dalam
bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang
berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari
penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di
bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.

Bogor, Desember 2012

Kholis Afidatunnisa
NIM B04080192

ABSTRAK
KHOLIS AFIDATUNNISA. Studi Kasus Diagnosis Pencitraan Gangguan Saluran
Pencernaan Atas Anjing Schnauzer. Dibimbing oleh DENI NOVIANA.
Studi kasus ini bertujuan mengetahui peran diagnosis pencitraan untuk
membantu menegakkan diagnosis pada kasus gangguan saluran pencernaan atas
anjing Schnauzer. Berdasarkan keterangan dari pemilik (anamnesa), anjing
mengalami muntah yang intermiten dan sesekali disertai darah yang sudah
berlangsung selama 1 tahun serta diduga anjing tersebut memakan benda asing.
Proses studi kasus yang dilakukan meliputi pemeriksaan fisik, pemeriksaan
hematologi dan kimia darah, radiografi, ultrasonografi, serta endoskopi. Hasil
pemeriksaan fisik menunjukkan adanya kondisi kekurusan dan anoreksia.
Pemeriksaan hematologi dan kimia darah menunjukkan adanya peningkatan
jumlah limfosit, hemoglobin (Hb), hematokrit (Hct), ureum, kreatinin, alanine
aminotransferase (ALT), dan alkaline phosphatase (ALP). Radiografi abdomen
menunjukkan tidak ada kelainan pada organ-organ di daerah abdomen.
Ultrasonografi abdomen menunjukkan adanya massa hyperechoic memanjang
yang menempel pada permukaan mukosa lambung. Massa tersebut membentuk
acoustic shadowing di bagian ventralnya. Acoustic shadowing pada lambung
dapat disebabkan oleh adanya akumulasi gas atau benda asing seperti tulang.
Endoskopi menunjukkan adanya ketidakteraturan mukosa lambung, busa cairan
empedu di lambung, serta ulkus, dan erosi lambung. Berdasarkan hasil
pemeriksaan endoskopi, hewan didiagnosis menderita gastritis kronis disertai
ulkus dan erosi lambung.
Kata kunci: anjing Schnauzer, diagnosis pencitraan, gangguan saluran pencernaan
atas

ABSTRACT
KHOLIS AFIDATUNNISA. Case Study Diagnostic Imaging of the Upper
Gastrointestinal Tract Disorders of Schnauzer. Supervised by DENI NOVIANA
The aim of this study was to learn the role of diagnostic imaging to define
the diagnose of the upper gastrointestinal tract disorder of the Schnauzer. The
information from the owner (anamneses) stated that the dog has been vomiting for
a year, sometimes containing blood. There might also be a possibility that it had
eaten a corpus alineum. This study case covered physical examination,
hematology and blood chemical analysis, radiography, ultrasonography, and
endoscopy performed. Physical examination showed weight loss and anorexia.
Hematology and blood chemical analysis showed an increase in lymphocyte,
haemoglobin (Hb), haemotocrit (Hct), ureum, creatinine, alanin aminotransferase
(ALT), and alkaline phosphatase (ALP). Abdominal radiograph showed no
abnormality in the abdominal organs. Abdominal ultrasonography showed a

hyperechoic mass on the stomach mucosal surface. The mass forms an acoustic
shadowing at the ventral. The acoustic shadowing in the stomach may be caused
by an accumulation of gas or foreign object such as bone. Endoscopy showed that
there was inconsistency of stomach mucosa surface, foamy bile fluid in the
stomach, ulcers, and erosion of the stomach mucosal surface. Based on the
endoscopy performed, the animal was clearly diagnosed with chronic gastritis
accompanied by stomach ulcer and erosion.
Keywords: Schnauzer, diagnostic imaging, upper gastrointestinal tract disorder

STUDI KASUS DIAGNOSIS PENCITRAAN GANGGUAN SALURAN
PENCERNAAN ATAS ANJING SCHNAUZER

KHOLIS AFIDATUNNISA

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Kedokteran Hewan pada
Fakultas Kedokteran Hewan

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

Judul Skripsi : Studi Kasus Diagnosis Pencitraan Gangguan Saluran Pencernaan
Atas Anjing Schnauzer
Nama
: Kholis Afidatunnisa
NIM
: B04080192

Disetujui oleh

drh. Deni Noviana, Ph.D
Pembimbing

Diketahui oleh

drh. H. Agus Setiyono, MS, Ph.D, APVet (K)
Wakil Dekan

Tanggal Lulus:

PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karuniaNya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Judul yang dipilih dalam
studi kasus yang dilaksanakan pada bulan Februari 2012 adalah Studi Kasus
Diagnosis Pencitraan Gangguan Saluran Pencernaan Atas Anjing Schnauzer.
Terima kasih penulis ucapkan kepada drh. Deni Noviana, Ph.D selaku dosen
pembimbing skripsi atas ilmu, nasehat, kritik, saran, dan kesabarannya dalam
membimbing penulis, drh. Wahono Esthi, M.Si selaku dosen pembimbing
akademik, drh. M. Fakhrul Ulum, M.Si, drh. Devi Paramitha, dan staf Bagian
Bedah dan Radiologi yang telah banyak membantu terselesaikannya studi kasus
ini. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada drh. Niditita Puspitasari dan
drh. Siti Zaenab (My Vets Animal Clinic, Kemang, Jakarta Selatan) atas ijinnya
untuk melakukan studi kasus pada Dopy. Ungkapan terima kasih juga
disampaikan kepada orangtua dan seluruh keluarga atas doa dan kasih sayangnya.
Teman-teman sepenelitian (Hastin, Ruri, Pras, Ayip, Andi, Erli, Ajeng, Lyn, Rio)
dengan semangat serta kerjasamanya selama proses studi kasus dan penyusunan
skripsi serta kepada PT Karindo Alkestron yang telah membantu dalam hal
pengadaan mesin ultrasonografi dan endoskopi. Seluruh pihak yang tak dapat
disebutkan satu per satu namun tak mengurangi rasa terima kasih dan
penghargaan penulis.
Akhir kata penulis ucapkan semoga skripsi ini dapat berguna dan
bermanfaat bagi pihak yang berkepentingan.

Bogor, Desember 2012

Kholis Afidatunnisa

DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL

vi

DAFTAR GAMBAR

vi

PENDAHULUAN
Latar Belakang

1

Tujuan

1

Manfaat

1

TINJAUAN PUSTAKA
Tahapan Pemeriksaan

2

Anjing Schnauzer.

4

Kasus-kasus pada Saluran Pencernaan Anjing

5

BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat

6

Metodologi

6

HASIL DAN PEMBAHASAN
Sinyalemen, Anamnesa, dan Pemeriksaan Fisik

8

Pemeriksaan Hematologi dan Kimia Darah

10

Radiografi

12

Ultrasonografi

15

Endoskopi

18

Pengobatan

20

SIMPULAN DAN SARAN

21

DAFTAR PUSTAKA

21

RIWAYAT HIDUP

24

DAFTAR TABEL
1 Posisi Organ-organ Daerah Abdomen pada Pencitraan Radiograf
2 Hasil Pemeriksaan Fisik
3 Hasil Pemeriksaan Hematologi
4 Hasil Pemeriksaan Kimia Darah

3
9
10
11

DAFTAR GAMBAR
1
2
3
4
5

Gambar skematis zona-zona interpretasi radiologi
Sonogram lambung, duodenum, dan jejunum anjing normal
Gambaran endoskopi esofagus dan lambung anjing normal
Anjing kasus
Radiograf abdomen anjing kasus arah pandang laterolateral
6 Radiograf abdomen anjing kasus arah pandang ventrodorsal
7 Hasil sonogram organ hati
8 Hasil sonogram organ limpa
9 Hasil sonogram organ lambung dan duodenum
10 Hasil sonogram organ ginjal
11 Hasil sonogram organ vesika urinaria
12 Hasil endoskopi organ esofagus
13 Hasil endoskopi organ lambung
14 Hasil endoskopi lambung anjing kasus yang mengalami ulkus, erosi

3
4
4
8
12
14
15
15
16
17
17
18
19
20

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Seiring dengan meningkatnya populasi anjing di dunia, maka terjadi
peningkatan permasalahan kesehatan yang berkaitan dengan hewan ini. Beberapa
ras anjing yang terdapat di dunia di antaranya adalah Golden Retriever, German
Shepered, Poodle, Labrador, dan Schnauzer (Budiana 2003). Penyakit yang
umum terdapat pada anjing dapat berasal dari saluran pencernaan, saluran
respirasi, sistem sirkulasi, dan sistem urinari. Faktor yang dapat menyebabkan
gangguan pada masing-masing sistem tersebut sangat beragam. Pada saluran
pencernaan, faktor tersebut dapat berupa pola pemberian pakan maupun kelainan
pada hewan yang suka memakan benda asing (Birchard dan Sherding 2006).
Diagnosis penyakit dapat dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu
anamnesa, sinyalemen, dan pemeriksaan fisik. Tahapan ini bertujuan menemukan
kondisi-kondisi patologis seperti muntah, penurunan bobot badan, dan anoreksia.
Tahapan diagnosis penunjang diperlukan untuk membantu menegakkkan
diagnosis suatu kasus. Diagnosis penunjang dapat berupa pemeriksaan hematologi
dan kimia darah, radiografi, ultrasonografi (USG), serta endoskopi (Eldredge et
al. 2007). Pemeriksaan hematologi dan kimia darah bertujuan membantu dan
melengkapi data pemeriksaan fisik pasien agar dapat diperoleh keputusan
diagnosis yang tepat (Widodo et al. 2011). Radiografi digunakan untuk
mendapatkan gambaran organ yang mengalami kelainan seperti tumor lambung
dan adanya benda asing pada saluran pencernaan (Holstein et al. 2010).
Ultrasonogafi digunakan untuk mendapatkan pencitraan struktur internal dari
jaringan-jaringan lunak seperti lambung, usus, dan kolon (Noviana et al. 2012).
Endoskopi dapat digunakan untuk melihat bagian mukosa saluran pencernaan
sehingga apabila pemeriksaan hematologi dan kimia darah, radiografi serta
ultrasonografi belum mampu menegakkan diagnosis kasus saluran pencernaan,
maka perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan seperti endoskopi (Steiner et al. 2008).

Tujuan
Studi kasus ini bertujuan mengetahui peran diagnosis pencitraan berupa
radiografi, USG, dan endoskopi untuk membantu menegakkan diagnosis kasus
gangguan saluran pencernaan atas pada anjing Schnauzer.

Manfaat
Studi kasus ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai
gambaran kasus gangguan saluran pencernaan atas anjing Schnauzer yang
ditampilkan dalam metode diagnosis pencitraan berupa radiografi, USG, dan
endoskopi.

2

TINJAUAN PUSTAKA
Diagnosis klinis merupakan rangkaian pemeriksaan medis terhadap
kondisi fisik hewan hidup. Satu hal yang sangat khusus dalam diagnosis klinis
adalah rangkaian pemeriksaan fisik. Tahapan ini diakhiri diagnosis khusus yang
disebut terapi diagnosis (Widodo et al. 2011).

Tahapan Pemeriksaan
Sinyalemen, Anamnesa, dan Pemeriksaan fisik
Sinyalemen atau identitas diri dari seekor hewan merupakan ciri khusus
yang membedakan dari hewan lain. Sinyalemen pada anjing terdiri atas nama
hewan, jenis hewan, bangsa atau ras, jenis kelamin, umur, warna kulit, warna
rambut, berat badan, dan ciri-ciri khusus (Widodo et al. 2011). Anamnesa
merupakan keterangan kondisi hewan atau dapat juga berupa sejarah perjalanan
penyakit suatu hewan yang disampaikan oleh pemilik hewan (Birchard dan
Sherding 2006).
Secara umum pemeriksaan fisik terdiri atas inspeksi, palpasi, perkusi,
auskultasi, pengukuran suhu, frekuensi respirasi, dan frekuensi pulsus. Suhu tubuh
anjing normal dewasa berkisar antara 37.7-39.2 °C. Frekuensi respirasi normal
pada anjing berkisar 10-30 kali/menit (Eldredge et al. 2007). Frekuensi pulsus
pada anjing berkisar antara 80-160 kali/menit (Birchard dan Sherding 2006).
Diagnosis Penunjang
Pemeriksaan Hematologi dan Kimia Darah
Salah satu jenis diagnosis penunjang adalah pemeriksaan hematologi dan
kimia darah. Pemeriksaan hematologi dan kimia darah dilakukan dengan
mengamati parameter eritrosit, leukosit, dan kimia darah. Eritrosit memiliki peran
utama sebagai pembawa oksigen ke jaringan (Weiss dan Wardrop 2010).
Leukosit terdiri dari beberapa jenis benda darah yaitu neutrofil, limfosit,
monosit, eosinofil, dan basofil. Peningkatan produksi neutrofil mengindikasikan
adanya peradangan. Monosit memiliki fungsi utama dalam membatasi replikasi
mikroorganisme dalam sel sehingga merupakan kunci utama dalam melawan
serangan berbagai macam organisme (Harvey 2001). Eosinofil berperan
meningkatkan imunitas tubuh dalam melawan infeksi parasit seperti cacing.
Basofil berperan penting sebagai mediator reaksi hipersensitivitas (Weiss dan
Wardrop 2010).
Pemeriksaan kimia darah dilakukan terhadap beberapa parameter yaitu
alkaline phosphatase (ALP), alanine aminotransferase (ALT), ureum, kreatinin,
globulin, dan albumin. ALT merupakan serum yang dapat menjadi indikator
kondisi hati. Ureum yang terdapat dalam darah dapat menjadi indikator efisiensi
kerja ginjal dalam mengekskresikan urea melalui urin (Perry dan Margaret 2012).

3
Radiogafi
Radiografi merupakan suatu teknik diagnosis menggunakan sinar X.
Interpretasi radiografi dapat dilakukan berdasarkan interpretasi zona. Pada arah
pandang laterolateral terdapat 5 zona sedangkan pada arah ventrodorsal terdapat
4 zona (Thrall 2002). Posisi zona-zona tersebut ditampilkan pada Gambar 1.
B

A

Gambar 1 Zona-zona pada interpretasi radiograf. A: arah pandang laterolateral, B: arah
pandang ventrodorsal, L3: Os Lumbalis 3, 1: zona 1, 2: zona 2, 3: zona 3, 4:
zona 4, 5: zona 5 (Thrall 2002).

Berdasarkan posisi zona-zona tersebut pada arah pandang laterolateral
maupun ventrodorsal, organ-organ di daerah abdomen dapat dikelompokkan
menjadi beberapa zona. Organ-organ tersebut terdiri atas lambung, usus, ginjal,
limpa, hati, dan vesika urinaria. Posisi organ-organ daerah abdomen berdasarkan
zona interpretasi radiograf ditampilkan pada Tabel 1.
Tabel 1 Posisi organ-organ daerah abdomen pada pencitraan radiograf
Organ
Lambung
Usus halus
Usus besar
Ginjal kiri
Ginjal kanan
Hati
Limpa
VU

Posisi
Laterolateral (LL)
Ventrodorsal (VD)
Zona 1, 2
Zona 1, 2, 3
Zona 3
Zona 1, 3
Zona 3
Zona 3
Zona 3
Zona 3
Zona 1
Zona 1
Zona 1, 2
Zona 1, 2
Zona 3
Zona 2
Zona 5
Zona 4

Sumber: Thrall 2002

Ultrasonografi
Ultrasonografi (USG) merupakan teknik diagnosis pencitraan struktur
internal suatu organ atau jaringan yang dihasilkan akibat interaksi antara
gelombang suara berfrekuensi sangat tinggi (ultrasound) dengan jaringan, organ,
atau struktur lain yang terdapat pada tubuh hewan (Noviana et al. 2012).
Pemeriksaan ultrasonografi pada saluran gastrointestinal dapat digunakan untuk
mendeteksi adanya benda asing, peradangan, neoplasia, dan edema lambung
(Pennick dan d’Anjou 2008). Sonogram lambung dan duodenum normal pada
anjing disajikan pada Gambar 2.

4

B

A

Gambar 2 Sonogram anjing normal. A: lambung, B: duodenum dan jejunum, C: lambung
cardia, D: duodenum, J: jejunum (Pennick dan d’Anjou 2008).

Endoskopi
Endoskopi merupakan suatu teknik diagnosis menggunakan alat endoskop
untuk melihat mukosa saluran pencernaan. Esofagogastroskopi merupakan
pengambilan gambaran endoskopi pada daerah esofagus dan lambung.
Esofagogastroskopi dapat digunakan untuk mengambil sampel biopsi mukosa
esofagus, mendeteksi dan mengambil benda asing (corpus alineum), mendeteksi
adanya obstruksi lambung serta mengetahui penyebabnya, dan melihat letak
pendarahan pada esofagus dan lambung (Steiner et al. 2008). Gambar endoskopi
esofagus dan lambung anjing normal disajikan pada Gambar 3.

a

A

b

B

Gambar 3 Gambaran endoskopi esofagus dan lambung anjing normal. A: esofagus
thoracalis dengan kesan aorta, B: lambung distal, a: aorta, b: pylorus
lambung (Abdullah et al. 2012).

Anjing Schnauzer
Schnauzer merupakan salah satu ras anjing yang berasal dari negara Jerman.
Berdasarkan ukurannya, anjing Schnauzer dibagi menjadi tiga kelompok yaitu
ukuran besar, medium, dan kecil. Schnauzer medium memiliki karakteristik
ukuran tinggi badan antara 43.1-50.8 cm dengan kisaran bobot badan 12.3-16.8 kg
sedangkan Schnauzer ukuran besar (Giant Schnauzer) memiliki tinggi badan
berkisar antara 54.6-64.8 cm dengan bobot badan antara 29.5-35.4 kg. Schnauzer
mini memiliki ukuran tinggi badan 30.5-35.6 cm dengan bobot badan 5.9-6.8 kg
(CEE 2011).

5
Kasus-Kasus pada Saluran Pencernaan Atas Anjing
Kasus pada saluran pencernaan atas anjing dapat berupa gangguan pada
esofagus, lambung, dan duodenum proksimal. Kasus pada esofagus dapat berupa
esofagitis. Esofagitis merupakan suatu kondisi adanya peradangan esofagus.
Esofagitis dapat disebabkan oleh benda asing atau gastroesophageal reflux (asam
lambung naik hingga mencapai esofagus) (Eldredge et al. 2007).
Kasus pada lambung dapat berupa ulkus, gastritis, hypertrophic
gastropathy, tumor lambung, dan gastric outflow obstruction. Ulkus lambung
dapat mengakibatkan terbentuknya cekungan pada dinding lambung. Penyebab
ulkus lambung yang umum pada anjing adalah gastritis kronis dan peningkatan
produksi asam lambung (Birchard dan Sherding 2006). Kasus lain yang dapat
terjadi pada lambung adalah gastritis kronis. Gastritis kronis merupakan penyebab
umum dari muntah kronis pada anjing maupun kucing. Penyebab umum dari
gastritis kronis adalah alergi mengkonsumsi obat secara berulang-ulang atau
memakan benda asing (Eldredge et al. 2007). Kasus lambung yang lain dapat
berupa hypertrophic gastropathy. Anjing yang menderita penyakit ini akan
terlihat sehat dengan muntah yang intermiten, anoreksia, penurunan bobot badan,
distensi abdomen yang berisi cairan atau pakan di lambung (Eldredge et al. 2007).
Kasus lain yang dapat menyerang lambung anjing adalah tumor lambung
dan gastric outflow obstruction. Tumor lambung sering menyerang anjing usia tua
(Tams et al. 2003). Anjing yang mengalami tumor lambung akan terlihat
mengalami anoreksia, anemia, penurunan bobot badan, hematemesis, dan melena
(Eldredge et al. 2007). Radiografi abdomen dapat menunjukkan adanya obstruksi,
penebalan dinding lambung maupun adanya massa (Tams et al. 2003). Gastric
outflow obstruction sering disebabkan oleh adanya abnormalitas mukosa maupun
lumen lambung. Hasil pemeriksaan fisik biasanya kurang memuaskan kecuali jika
terjadi distensi abdomen. Pemeriksaan radiografi abdomen biasanya menunjukkan
adanya pakan dan cairan yang memenuhi lambung setelah 12 jam pemberian
pakan. Secara normal, lambung akan mengalami pengosongan 8-10 jam setelah
makan (Eldredge et al. 2007).
Kasus yang dapat muncul pada duodenum anjing diantaranya adalah
inflammatory bowel disease (IBD) dan tumor usus. IBD dapat disebabkan oleh
infeksi bakteri (Pinney 2004). Gejala umum IBD yaitu muntah dengan frekuensi
yang intermiten, diare, penurunan bobot badan, dan penurunan nafsu makan
(Tams et al. 2003). Kontras radiografi akan sangat membantu dalam
mendiagnosis IBD (Eldredge et al. 2007).
Tumor usus dapat disebabkan oleh memakan bahan kimia yang bersifat
karsinogenik (Stone 2007). Pemeriksaan kontras radiografi seperti barium sulfat
akan membantu dalam menggambarkan bagian mukosa yang tidak teratur dan
penyempitan lumen. Radiografi thorax bertujuan mendeteksi tingkat metastasis.
Ultrasonografi abdomen berguna untuk mendeteksi dan mendefinisikan massa
yang ada di usus (Pinney 2004).

6

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat
Studi kasus dilakukan pada tanggal 04 Februari 2012 di My Vets Animal
Clinic, Kemang, Jakarta Selatan dan pada tanggal 08 Februari 2012 di Bagian
Bedah dan Radiologi, Departemen Klinik Reproduksi dan Patologi (KRP),
Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), Institut Pertanian Bogor (IPB).

Metodologi
Sinyalemen, Anamnesa, dan Pemeriksaan Fisik
Sinyalemen meliputi nama hewan, jenis hewan, bangsa atau ras, jenis
kelamin, umur, warna kulit dan rambut, berat badan serta ciri-ciri khusus.
Anamnesa dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada pemilik
seperti keluhan yang tampak, berapa lama gangguan tersebut telah terjadi,
pengobatan yang sudah diberikan, perubahan tingkah laku dari hewan, perubahan
dari kebiasaan atau lingkungan sekitar, dan perubahan pemberian pakan.
Pemeriksaan fisik yang dilakukan meliputi pemeriksaan keadaan umum, kulit dan
rambut, regio kepala dan leher, regio thorax, regio abdomen, alat perkemihan dan
kelamin serta alat gerak (Widodo et al. 2011).
Pemeriksaan Hematologi dan Kimia Darah
Pemeriksaan hematologi dan kimia darah bertujuan membantu dan
melengkapi data pemeriksaan fisik (Widodo et al. 2011). Tahapan pemeriksaan
ini diawali dengan melakukan handling hewan. Pengambilan darah dilakukan
pada vena femoralis yang terletak di kaki belakang. Tahapan selanjutnya adalah
pembendungan pada bagian proksimal vena femoralis menggunakan tourniquet.
Vena femoralis selanjutnya difiksir dan diusap menggunakan kapas beralkohol
pada daerah tersebut. Pengambilan darah dilakukan menggunakan syringe 5 mL.
Sampel darah yang telah terkumpul diamati terhadap parameter hematologi dan
kimia darahnya (Barsanti et al. 2004). Parameter hematologi yang diamati
meliputi jumlah leukosit, eritrosit, hemoglobin, hematokrit, trombosit, limfosit,
monosit, eosinofil, dan granulosit. Parameter kimia darah yang diamati meliputi
jumlah ureum, kreatinin, total protein, albumin, globulin, bilirubin, ALT, dan
ALP.
Pemeriksaan Radiografi
Pemeriksaan radiografi bertujuan mendapatkan pencitraan/gambaran organ
yang mengalami kelainan seperti kasus obstruksi usus dan tumor lambung
(Holstein et al. 2010). Pengambilan gambar radiografi abdomen dilakukan dengan
memosisikan hewan di atas kaset film dengan posisi right lateral recumbency lalu
dorsal recumbency. Pengukuran tebal tubuh hewan perlu dilakukan untuk
menetukan nilai Kilo Volt Peak (kVp). Tebal tubuh hewan saat posisi right lateral
recumbency sebesar 9.5 cm sedangkan pada saat posisi dorsal recumbency sebesar
14 cm. Pengambilan gambar radiografi dilakukan dengan menggunakan mesin

7
Roentgen tipe mobile R-120H. Nilai kVp yang digunakan pada pengambilan
gambar radiografi yaitu sebesar 59 saat posisi right lateral recumbency dan pada
saat posisi dorsal recumbency sebesar 68 dengan nilai Milli Ampere Second
(mAs) pada kedua posisi sebesar 2. Tahapan selanjutnya adalah pemrosesan film
radiografi serta interpretasi radiograf. Interpretasi radiograf meliputi pengamatan
terhadap adanya perubahan lokasi, ukuran, radiopasitas (derajat absorbsi radiasi
sinar X oleh suatu organ), dan marginasi (batas luar/outline dari suatu organ)
(Thrall 2002).
Pemeriksaan Ultrasonografi
Ultrasonogafi (USG) digunakan untuk mendapatkan pencitraan struktur
internal dari jaringan-jaringan lunak seperti lambung, usus, dan kolon.
Ultrasonografi dilakukan dengan menentukan daerah orientasi dan pencukuran
rambut pada daerah tersebut. Selanjutnya hewan diposisikan secara dorsal
recumbency dan diberi gel akustik yang berfungsi memfasilitasi kontak yang
optimal antara kulit dan transduser. Pemeriksaan ultrasonografi dilakukan
menggunakan mesin ultrasonografi dua dimensi Sonodop tipe S-8X dan tranduser
dengan frekuensi 4.5-10 Mega Hertz (MHz) tipe konveks. Transduser diletakkan
di daerah abdomen dan dilakukan visualisasi USG dalam dua arah pengambilan
yaitu arah sagital dan transversal. Arah sagital berarti bahwa transduser dalam
posisi sejajar sumbu tubuh, sedangkan transversal berarti bahwa transduser dalam
posisi memotong sumbu tubuh. Pemeriksaan USG dilakukan pada organ lambung,
usus, hati, ginjal, limpa, dan vesika urinaria. Tahapan selanjutnya yaitu
interpretasi sonogram terhadap adanya perubahan ekhogenitas, ukuran, dan
tekstur (Noviana et al. 2012).
Pemeriksaan Endoskopi
Tahapan pemeriksaan selanjutnya adalah endoskopi. Endoskopi digunakan
untuk melihat bagian mukosa saluran pencernaan (Steiner et al. 2008). Tahapan
ini diawali dengan memuasakan hewan selama 12 jam. Pemuasaan hewan
bertujuan mendapatkan mukosa esofagus dan lambung yang bebas dari sisa-sisa
makanan saat dilakukan pemeriksaan endoskopi. Anaestesi umum diperlukan
untuk mempermudah proses endoskopi. Anaestesi umum didahului dengan
pemberian sediaan premedikasi atropin sulfat 0.025% dengan dosis 0.02-0.04
mg/kg BB secara subkutan pada saat 15 menit sebelum pemberian anastesi.
Anaestesi umum dilakukan dengan menggunakan ketamin 10% dengan dosis 8-12
mg/kg BB secara intramuscular dan dikombinasikan dengan sediaan sedasi
berupa xylazin 2% dengan dosis 1-2 mg/kg BB (Plumb 2005).
Endoskopi dilakukan pada hewan yang telah teranaestesi. dengan
memosisikan hewan secara left lateral recumbency dengan kepala sedikit
ditegakkan. Pemeriksaan endoskopi dilakukan menggunakan endoskop fleksibel
tipe Small Animal Gastroscope VET-G1580®. Laringoskop dimasukan ke mulut
hewan sebagai alat bantu untuk mempermudah masuknya ujung endoskop ke
dalam saluran pencernaan hewan. Ujung endoskop kemudian dimasukkan dengan
perlahan untuk mencapai faring hingga mencapai esofagus dan lambung serta
dilakukan pengamatan terhadap mukosa esofagus dan lambung (Steiner et al.
2008).

8

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil dari studi kasus disajikan berdasarkan tahapan pemeriksaan dan
pengobatan yang diberikan. Tahapan pemeriksaan yang dilakukan meliputi
sinyalemen, anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan hematologi dan kimia
darah, radiografi, ultrasonografi, endoskopi serta pengobatan yang diberikan.

Sinyalemen, Anamnesa, dan Pemeriksaan Fisik
Sinyalemen pada kasus ini adalah anjing Schnauzer jantan yang berumur 1
tahun 10 bulan dan memiliki bobot badan 6.5 kg. Anjng ini memiliki tinggi badan
48 cm. Menurut Columbia Electronic Encyclopedia (2011), anjing Schnauzer
yang memiliki tinggi badan antara 43.1-50.8 cm akan memiliki kisaran bobot
badan ideal sebesar 12.3-16.8 kg sehingga dapat dikatakan bahwa anjing ini
mengalami kekurusan. Kondisi anjing yang mengalami kekurusan dapat dilihat
pada Gambar 4.

Gambar 4 Anjing kasus yang mengalami kekurusan.

Gambar 4A merupakan gambar anjing kasus sedangkan Gambar 4B
merupakan kriteria penilaian body condition scoring (BCS) pada anjing.
Berdasarkan kriteria penilaian tersebut, anjing kasus termasuk dalam kriteria 3
yaitu dengan kondisi tulang rusuk dapat dengan mudah dipalpasi, processus os
vertebrae dapat terlihat, dan tulang pelvis terlihat menonjol. Kriteria normal BCS
pada anjing yaitu berada pada score 4-5 (NP 2002). Anjing kasus berada pada
score 3 sehingga dapat dikatakan bahwa anjing kasus mengalami kekurusan.
Selain itu berdasarkan keterangan dari pemilik, anjing diketahui mengalami
muntah intermiten dan sesekali disertai darah yang sudah berlangsung selama 1
tahun serta diduga anjing tersebut memakan benda asing. Muntah darah
mengindikasikan adanya pendarahan yang aktif antara mulut sampai usus halus,
namun penyebab yang paling umum adalah ulkus lambung (Eldredge et al. 2007).
Anjing ini menunjukkan respon yang baik terhadap terapi yang diberikan namun
respon tersebut hanya berlangsung sesaat.
Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik, anjing ini memiliki suhu badan
sebesar 38.4 °C, frekuensi napas sebesar 36 kali/menit, dan frekuensi nadi sebesar

9
140 kali/menit. Kondisi tersebut merupakan kondisi normal pada anjing (Eldredge
et al. 2007). Kondisi lain yang dialami oleh anjing ini adalah terdapat kelainan
pada regio abdomen. Kelainan tersebut terlihat berupa ukuran abdomen yang
mengecil dan simetris. Ukuran abdomen yang simetris akan terlihat ketika
dilakukan inspeksi. Abdomen yang mengecil dapat disebabkan oleh kondisi
hewan yang mengalami kekurusan. Hasil pemeriksaan fisik secara lengkap
disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2 Hasil Pemeriksaan Fisik Anjing Kasus
Parameter
Kesimetrisan Reaksi Sakit
Saat Palpasi
simetris
tidak ada
simetris
tidak ada
-

Regio

Ukuran

Bentuk

Kepala
Hidung
Mulut

normal
-

normal
normal
-

Lidah

normal

-

-

-

normal
normal
normal
mengecil
normal
normal

normal
normal
normal
normal
normal
normal

simetris
simetris
simetris
simetris
simetris
simetris

tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada
tidak ada

Telinga
Leher
Thorax
Abdomen
Anus
Testis
Alat Gerak

Kondisi
Mukosa
lembab
tidak ada
luka
rose,
utuh
bersih
-

Suara
auskultasi
normal
normal
-

Beberapa kondisi di atas bukan gejala klinis yang spesifik terhadap suatu
kasus, namun tanda-tanda yang muncul lebih mengarah kepada gangguan saluran
pencernaan seperti muntah darah, mengalami kekurusan, dan anoreksia (Tams et
al. 2003). Diferensial diagnosis yang dapat diambil berdasarkan anamnesa dan
hasil pemeriksaan fisik pada anjing ini yaitu esofagitis, ulkus lambung, gastritis
kronis, hypertrophic gastropathy, tumor lambung, gastric outflow obstruction,
inflammatory bowel disease (IBD), tumor usus, liver disease, dan renal disease.
Esofagitis merupakan salah satu kemungkinan diagnosis pada kasus ini.
Diagnosis ini diambil berdasarkan gejala klinis yang muncul berupa
penurunan bobot badan. Gejala tersebut merupakan gejala yang muncul pada
esofagitis tingkat lanjut (Birchard dan Sherding 2006). Pada kasus ini terdapat
gejala klinis berupa muntah darah dan penurunan bobot badan. Gejala klinis
tersebut merupakan gejala klinis kasus ulkus lambung, gastritis kronis,
hypertrophic gastropathy, tumor lambung, gastric outflow obstruction, IBD,
tumor lambung, liver disease, dan renal disease (Tams et al. 2003, Birchard dan
Sherding 2006, Eldredge et al. 2007).
Diferensial diagnosis di atas dapat menunjukkan kelainan pada beberapa
parameter hematologi dan kimia darah yang sama (Barsanti et al. 2004).
Pemeriksaan lanjutan berupa radiografi, ultrasonografi (USG), dan endoskopi
diperlukan untuk menegakkan diagnosis pada kasus ini. Pemeriksaan radiografi
dapat digunakan untuk mendiagnosis kasus tumor lambung, gastric outflow
obstruction, tumor usus, liver disease, dan renal disease (Thrall 2002).

10
Pemeriksaan USG dapat digunakan untuk mendiagnosis kasus tumor lambung,
tumor usus, liver disease, renal disease, cholestasis, IBD, dan hypertrophic
gastropathy (Penninck dan d’Anjou 2008). Pemeriksaan endoskopi dapat
digunakan untuk mendiagnosis kasus esofagitis, ulkus lambung, dan gastritis
kronis (Rawlings & Tams 2011).

Hasil Pemeriksaan Hematologi dan Kimia Darah
Proses pemeriksaan lanjutan dalam studi kasus ini adalah pemeriksaan
hematologi dan kimia darah. Hasil pemeriksaan hematologi dan kimia darah
disajikan pada Tabel 3 dan Tabel 4.
Tabel 3 Hasil Pemeriksaan Hematologi
Jenis Pemeriksaan
Leukosit (WBC)
Eritrosit (RBC)
Hemoglobin (Hb)
Hematokrit (Hct)
Mean Corpusculus Volume (MCV)
Mean Corpusculus Haemoglobin (MCH)
Mean
Corpuscular
Haemoglobin
Concentration (MCHC)
Trombosit
Limfosit
Monosit
Eosinofil
Granulosit
Limfosit
Monosit
Eosinofil
Granulosit
a

Hasil
Pemeriksaan
12.6
8.5
21.3
63.0
73.3
24.8
33.6

Nilai
Normal(a)
6-17
5.5-8.5
12-18
37-55
50-77
19.5-24.5
32-36

Unit
103/µL
106/µL
g/dL
%
fL
pg
g/dL

123
6.2
0.3
0.2
5.9
49.3
2.5
1.3
46.9

200-500
1-4.8
0.15-1.36
0.01-1.25
3.5-14
12-30
3-10
2-10
60-80

103/µL
103/µL
103/µL
103/µL
103/µL
%
%
%
%

Sumber: Barsanti et al. 2004.

Terdapat kelainan pada beberapa parameter hematologi yaitu hemoglobin
(Hb), hematokrit (Hct), limfosit. Nilai Hb anjing ini mengalami peningkatan dari
nilai normal. Nilai Hb pada anjing normal sebesar 12-18 g/dL sedangkan nilai Hb
anjing ini sebesar 21.3 g/dL. Nilai Hct anjing ini juga mengalami peningkatan dari
nilai normal. Nilai Hct pada anjing normal sebesar 37-55% sedangkan nilai Hct
anjing ini sebesar 63%. Menurut Andrews et al. (2003), kondisi meningkatnya
konsentrasi Hct dan Hb yang tidak diikuti dengan peningkatan jumlah eritrosit
disebut sebagai eritrositosis relatif. Kondisi ini dapat terjadi akibat adanya
penurunan volume plasma seperti pada kasus dehidrasi. Jumlah limfosit anjing ini
mengalami peningkatan dari nilai normal. Jumlah limfosit pada anjing normal
yaitu 1-4.8x103/µ L sedangkan jumlah limfosit anjing ini sebesar 6.2x103/µ L.

11
Meningkatnya jumlah limfosit (limfositosis) dapat terjadi pada kasus infeksi
kronis (Weiss dan Wardrop 2010).
Tabel 4 Hasil Pemeriksaan Kimia Darah
Jenis Pemeriksaan
Hasil Pemeriksaan
Ureum (BUN)
107.3
Kreatinin (Cr)
2.5
Total Protein (TP)
6.2
Albumin (A)
4.1
Globulin (G)
2.1
Billirubin total
0.3
ALT/SGPT
125
ALP
120
a
Sumber: Barsanti et al. 2004.

Nilai Normal(a)
10-20
1.0-2.0
5.4-7.5
2.6-4.0
2.1-3.7
0.07-0.61
8.2-57.3
10.6-100.7

Unit
mg/dL
mg/dL
g/dL
g/dL
g/dL
mg/dL
IU
IU

Terdapat beberapa parameter kimia darah yang mengalami kelainan yaitu
ureum, kreatinin, alanin aminotransferase (ALT), dan alkaline phosphatase
(ALP).Kadar ureum pada anjing ini juga mengalami peningkatan dari nilai normal.
Kadar ureum pada anjing normal yaitu 10-20 mg/dL sedangkan kadar ureum
anjing ini adalah 107.3 mg/dL. Kadar kreatinin pada anjing ini juga mengalami
peningkatan. Kadar kretainin pada anjing normal yaitu 1-2 mg/dL sedangkan
kadar kreatinin anjing ini adalah 2.5 mg/dL. Peningkatan kadar ureum dan
kreatinin dalam darah (azotemia) dapat berhubungan dengan gangguan prerenalis,
intrarenalis, atau postrenalis. Azotemia pre-renalis dapat terjadi pada kondisi
dehidrasi. Azotemia renalis dapat terjadi pada kondisi renal disease sedangkan
azotemia post-renalis dapat terjadi pada kasus urolithiasis. Jenis azotemia yang
berhubungan dengan hasil pemeriksaan fisik pada kasus ini adalah azotemia
prerenalis (Barsanti et al. 2004). Hal ini terkait dengan adanya gejala klinis berupa
muntah pada hewan ini sehingga menyebabkan munculnya dehidrasi (Eldredge et
al. 2007).
Nilai ALT dan ALP dari anjing ini juga mengalami peningkatan dari nilai
normal. Anjing normal memiliki nilai ALT berkisar antara 8.2-57.3 IU sedangkan
nilai ALT dari anjing ini adalah 125 IU. Nilai ALP dari anjing ini juga diatas nilai
normal yaitu sebesar 120 IU dengan nilai normal 10.6-100.7 IU. Peningkatan
konsentrasi ALT mengindikasikan terjadinya kerusakan hepatosit yang
berhubungan dengan kebocoran enzim dari sitoplasma hepatosit. Peningkatan
konsentrasi ALP berkaitan dengan gangguan aliran cairan empedu (cholestasis)
(Barsanti et al. 2004). Kondisi lain yang mampu meningkatkan konsentrasi ALP
adalah umur muda dan terapi kortikosteroid. Terapi kortikosteroid juga berperan
dalam meningkatkan konsentrasi ALT (Hasoya et al. 2009). Anjing yang
digunakan pada studi kasus ini berumur muda yaitu 1 tahun 10 bulan dan
mendapat terapi kortikosteroid.
Hasil pemeriksaan hematologi dan kimia darah menunjukkan beberapa
kondisi yang mungkin dialami oleh anjing ini yaitu infeksi kronis, dehidrasi,
kerusakan hepatosit, dan cholestasis. Diferensial diagnosis yang dapat diambil
berdasarkan hasil pemeriksaan hematologi dan kimia darah yaitu esofagitis, ulkus
lambung, gastritis kronis, hypertrophic gastropathy, tumor lambung, gastric

12
outflow obstruction, Inflammatory Bowel Disease (IBD), tumor usus, liver disease,
renal disease, dan cholestasis.
Berdasarkan hasil pemeriksaan kimia darah, salah satu kondisi yang
mungkin dialami oleh anjing ini adalah dehidrasi. Dehidrasi merupakan akibat
sekunder dari muntah (Andrews et al. 2003). Muntah merupakan salah satu gejala
klinis esofagitis, ulkus lambung, hypertrophic gastropathy, gastritis kronis,
gastric outflow obstruction, tumor lambung, IBD, dan tumor usus (Birchard dan
Sherding 2006 dan Eldredge et al. 2007). Hasil pemeriksaan kimia darah pada
anjing ini juga menunjukkan adanya peningkatan kadar ALT, ALP, kreatinin dan
ureum. Peningkatan kadar ALT dan ALP merupakan salah satu indikator
terjadinya liver disease (Pinney 2004). Peningkatan nilai ureum dan kreatinin
merupakan indikator adanya renal disease (Tams et al. 2003).

Hasil Pemeriksaan Radiografi
Pemeriksaan radiografi pada anjing ini dilakukan dengan menempatkan
anjing pada posisi right lateral recumbency dan dorsal recumbency. Gambar 5A
dan 6A merupakan radiograf anjing kasus. Radiografi abdomen dilakukan
berdasarkan adanya gejala klinis pada kasus ini berupa muntah darah dan
mengalami kekurusan. Gejala klinis tersebut merupakan gejala klinis yang sering
muncul pada gangguan organ abdomen (Eldredge et al. 2007).
A
d
f

a

e

B

b
c

h

g

Gambar 5 Radiograf abdomen anjing kasus. A: radiograf arah pandang laterolateral, B:
zona-zona interpretasi radiograf arah pandang laterolateral (Thrall 2002),
a: lambung, b: usus, c: hati, d: ginjal kanan, e: ginjal kiri, f: paru-paru, g:
limpa, h: vesika urinaria, L3: Os Lumbalis 3, 1: zona 1, 2: zona 2, 3: zona 3,
4: zona 4, 5: zona 5.

Gambar 5A menunjukkan radiograf arah pandang laterolateral (LL)
anjing kasus. Organ regio abdomen anjing kasus yang dapat terlihat pada Gambar
5A yaitu lambung, usus, hati, ginjal, limpa, dan Vesika Urinaria (VU) sedangkan
esofagus tidak dapat terlihat. Hal ini dikarenakan esofagus memiliki opasitas yang
sama dengan jaringan lunak yang berada pada daerah sekitar leher dan
mediastinum (Tams et al. 2003).
Organ lambung pada Gambar 5A memiliki marginasi yang kurang jelas,
serta memiliki opasitas dan ukuran yang tidak mengalami kelainan. Adanya

13
marginasi yang kurang jelas dari organ ini dikarenakan posisi lambung yang
bertumpuk dengan organ hati. Opasitas dan ukuran organ lambung maupun usus
sangat bervariasi bergantung pada komponen yang terdapat pada organ tersebut
seperti pakan dan air (Farrow 2003). Pada arah pandang LL (Gambar 5A),
lambung berada pada zona 1 dan 2. Posisi tersebut merupakan posisi normal organ
lambung (Thrall 2002). Posisi tersebut ditentukan berdasarkan zona-zona
interpretasi radiograf yang terdapat pada Tabel 1.
Organ lain yang terlihat pada Gambar 5A adalah usus. Organ usus terlihat
memiliki marginasi yang jelas sehingga bentuk usus dapat terlihat secara jelas
yaitu berupa saluran berbentuk tubular serta memiliki ukuran yang terkesan tidak
mengalami kelainan. Organ usus memiliki opasitas yang sesuai dengan jaringan
usus yaitu pada beberapa segmen terlihat radiopaque dan pada segmen yang lain
terlihat radiolucent. Pada arah pandang LL (Gambar 5A), usus berada pada zona 3.
Hal ini merupakan hasil radiograf usus pada kondisi normal (Thrall 2002).
Organ hati pada Gambar 5A memiliki marginasi yang jelas pada bagian
kaudal sedangkan pada bagian lainnya memiliki marginasi yang kurang jelas
sehingga bentuk hati secara keseluruhan tidak dapat diinterpretasikan dengan baik.
Hal ini dikarenakan posisi radiograf organ hati yang menyatu (silhoutted) dengan
diafragma, lambung, dan ginjal (Tams et al. 2003). Organ hati terlihat memiliki
opasitas yang normal sebagai jaringan lunak. Pada arah pandang LL, hati berada
pada zona 1 dan 2. Hal ini merupakan posisi normal organ hati (Thrall 2002).
Organ lain yang dapat diinterpretasikan pada Gambar 5A adalah ginjal.
Pada Gambar 5A, ginjal kanan dan ginjal kiri kurang terlihat jelas. Hal ini
dikarenakan pada arah pandang LL, sebagian ginjal kanan akan tertutup oleh hati
sedangkan ginjal kiri memiliki posisi yang lebih bervariatif (Tams et al. 2003).
Ginjal kiri pada Gambar 5A berpindah ke arah ventral sehingga bertumpuk
dengan usus dan sulit untuk dilakukan interpretasi.
Limpa pada Gambar 5A terlihat tidak mengalami pembesaran ukuran,
memiliki opasitas yang normal sebagai jaringan lunak, dan berada pada zona 3.
Vesika Urinaria (VU) terlihat radiopaque dan berbentuk oval. Hal ini
menunjukkan bahwa VU sedang dalam keadaan penuh berisi urin. VU pada
gambar 5A terlihat memiliki marginasi yang jelas dengan kesan ukuran yang tidak
mengalami kelainan dan berada pada zona 5. Hasil radiograf limpa dan VU di atas
merupakan kondisi limpa dan VU yang normal (Farrow 2003).
Interpretasi pada regio thorax dilakukan terhadap adanya pertumbuhan
massa yang infiltratif. Regio thorax pada Gambar 5A tidak dapat terlihat secara
keseluruhan. Hal ini dikarenakan radiograf regio thorax yang terpotong pada saat
proses pengambilan gambar. Regio thorax dapat terlihat jelas pada radiograf arah
pandang ventrodorsal (VD). Radiograf arah pandang VD disajikan pada Gambar
6.

14
g

A

f

B

c
d

a h
e

b

Gambar 6 Radiograf abdomen anjing kasus. A: radiograf arah pandang ventrodorsal, B:
zona-zona interpretasi radiograf arah pandang ventrodorsal (Thrall 2002),
a: lambung, b: usus, c: hati, d: ginjal kanan, e: ginjal kiri, f: paru-paru, g:
jantung, h: limpa, i: vesika urinaria, L3: Os Lumbalis 3, 1: zona 1, 2: zona
2, 3: zona 3, 4: zona 4.

Gambar 6A menunjukkan radiograf arah pandang ventrodorsal (VD)
anjing kasus. Organ regio abdomen anjing kasus yang dapat terlihat pada Gambar
6A yaitu lambung, usus, hati, ginjal, limpa sedangkan vesika urinaria (VU) tidak
dapat terlihat jelas. Hal ini disebabkan pada arah pandang VD (Gambar 6A),
posisi VU dapat bertumpuk dengan usus, otot pelvis, tulang spina, dan tulang
pelvis (Thrall 2002).
Perbedaan interpretasi radiograf Gambar 5 dan 6 adalah pada posisi
masing-masing organ. Pada Gambar 6A, lambung berada pada zona 1, 2, dan 3,
sedangkan usus berada pada zona 1 dan 3. Organ lain yang dapat terlihat pada
Gambar 6A adalah hati, limpa, vesika urinaria (VU), dan ginjal. Hati berada pada
zona 1 dan 2, limpa berada pada zona 2, dan VU berada pada zona 5. Hal ini
merupakan posisi radiograf lambung, usus, hati, limpa, VU pada kondisi normal
(Thrall 2002).
Pada Gambar 6A, organ ginjal dapat terlihat secara jelas. Ginjal kiri dan
kanan pada Gambar 6A memiliki opasitas yang normal sebagai jaringan lunak
serta berada pada posisi normalnya yaitu ginjal kiri berada pada zona 3 sedangkan
ginjal kanan berada pada zona 1. Ginjal kiri dan kanan memiliki ukuran yang
tidak mengalami kelainan yaitu 2.5 kali panjang os lumbalis 2. Ukuran ginjal
normal pada anjing adalah memiliki panjang 2.5-3.5 kali panjang os lumbalis 2
(Thrall 2002). Regio lain yang dapat terlihat pada Gambar 6 adalah regio thorax.
Pada regio ini tidak terlihat suatu massa yang infiltratif seperti tumor.
Hasil pemeriksaan radiografi pada anjing ini menunjukkan lambung, usus,
hati, ginjal, limpa, dan vesika urinaria tidak mengalami kelainan. Beberapa
diferensial diagnosis pada kasus ini yang tidak sesuai dengan hasil pemeriksaan
radiografi yaitu tumor lambung, gastric outflow obstruction, dan tumor usus
(Thrall 2002). Terdapat beberapa diferensial diagnosis lain pada kasus ini yang
tidak mampu dikonfirmasi melalui pemeriksaan radiografi sehingga diperlukan
pemeriksaan lanjutan berupa USG untuk mendapatkan gambaran struktur internal
organ-organ abdomen.

15
Hasil Pemeriksaan Ultrasonografi
Pemeriksaan ultrasonografi (USG) pada anjing ini dilakukan pada organ
lambung, usus, hati, ginjal, limpa, dan vesika urinaria. Pemeriksaan pada organorgan tersebut berkaitan dengan hasil pemeriksaan radiografi. Hasil pemeriksaan
radiografi tidak menunjukkan kelainan pada organ yang spesifik sehingga masih
diperlukan tahapan pemeriksaan menyeluruh pada organ-organ abdomen. Hasil
pemeriksaan USG disajikan pada Gambar 7-11.
A

B

a

Gambar 7 Sonogram organ hati anjing kasus. A: sonogram organ hati, B: posisi probe
secara sagital untuk pencitraan organ hati (Noviana et al. 2012), CLL: central
liver lobus/ hati bagian tengah, DIAF: diafragma, CAR: lambung cardia, a:
vena porta.

Gambar 7A menunjukkan sonogram hati dengan posisi probe sagital
(Gambar 7B). Sonogram hati terlihat memiliki tekstur homogen, hypoechoic, dan
memiliki ukuran yang tidak mengalami kelainan. Dinding pembuluh darah vena
porta terlihat hyperechoic serta memiliki permukaan rata. Dinding kantung
empedu terlihat tipis hyperechoic, memiliki permukaan dalam yang rata serta
berisi cairan empedu hitam yang terlihat anechoic. Hal ini merupakan kondisi
sonogram hati, vena porta, dan kantung empedu yang normal (Bates 2004).
A

B

a

Gambar 8 Sonogram limpa anjing kasus. A: Sonogram limpa, B: Posisi probe secara
sagital untuk pencitraan organ limpa (Noviana et al. 2012), a: usus.

Gambar 8A memperlihatkan sonogram limpa anjing kasus dengan posisi
probe sagital (Gambar 8B). Pemasangan probe sagital menghasilkan sonogram
berupa kapsula limpa yang terlihat berupa lapisan tipis hyperechoic dan memiliki
permukaan rata. Limpa terkesan tidak mengalami kelainan ukuran. Bagian
badan/corpus limpa terlihat memanjang di bagian kiri lateral hewan, memiliki
tekstur homogen hypo-hyperechoic, dan terkesan tidak ada kelainan ukuran. Hal
ini merupakan kondisi normal limpa (Penninck dan d’Anjou 2008).

16

A

B
a

b
1cm

C

D
f
c
e

d

Gambar 9 Sonogram organ lambung dan duodenum anjing kasus. A: sonogram organ
lambung, B: posisi probe secara transversal untuk pencitraan organ lambung
(Noviana et al. 2012), C: sonogram organ duodenum, D: posisi probe secara
sagital untuk pencitraan organ duodenum (Noviana et al. 2012), a: lambung,
b: hati, c: duodenum sagital, d: duodenum transversal, e: kolon, f: limpa.

Gambar 9A memperlihatkan sonogram organ lambung dengan posisi
probe transversal (Gambar 9B). Gambar 9A menunjukkan ukuran lambung yang
tidak mengalami kelainan namun pada lambung terlihat bentukan hyperechoic
memanjang dan terkesan menempel pada permukaan mukosa lambung. Massa
tersebut membentuk acoustic shadowing di bagian ventralnya. Menurut Bates
(2004), acoustic shadowing bisa dibentuk oleh adanya susunan antara jaringan
dengan gas atau jaringan dengan benda asing yang memiliki konsistensi keras
seperti tulang.
Gambar 9C memperlihatkan sonogram organ duodenum dengan posisi
probe sagital (Gambar 9D). Gambar 9C memperlihatkan duodenum yang terdiri
atas lapisan mukosa yang terlihat hypoechoic, lapisan submukosa terlihat
hyperechoic, lapisan muskularis mukosa terlihat hypoechoic, dan lapisan serosa
terlihat tipis hyperechoic. Hal ini merupakan kondisi normal duodenum (Penninck
dan d’Anjou 2008).

17
A

B
b

a

c

C

D
a
b
c

Gambar 10 Sonogran ginjal anjing kasus. A: Sonogram organ ginjal kiri, B: Posisi probe
secara sagital untuk pencitraan organ ginjal kiri (Noviana et al. 2012), C:
Sonogram organ ginjal kanan, D: Posisi probe secara sagital untuk
pencitraan organ ginjal kanan (Noviana et al. 2012), a: korteks, b: medula, c:
kapsula.

Gambar 10A dan 10C memperlihatkan sonogram ginjal kiri dan kanan
dengan posisi probe sagital (Gambar 10B dan 10D). Secara umum ginjal terdiri
atas bagian kapsula, korteks, dan medula. Gambar 10A dan 10C menunjukkan
kapsula ginjal yang terlihat berbentuk lapisan tipis hyperechoic dan memiliki
permukaan yang rata. Bagian korteks ginjal terlihat memiliki tekstur homogen
hypoechoic dan bagian medula memiliki tekstur homogen anechoic–hypoechoic.
Batas antara korteks dan medula pada sonogram ginjal ini terlihat jelas. Hal ini
merupakan kondisi normal ginjal (Mannion 2006). Pemeriksaan ultrasonografi
juga dapat digunakan untuk mengetahui ukuran ginjal. Ginjal kiri memiliki
ukuran panjang 3.8 cm sedangkan ginjal kanan memiliki panjang 4.1 cm. Menurut
Bates (2004), anjing dengan bobot badan 5-9 kg memiliki panjang normal ginjal
yang berkisar antara 3.2-5.2 cm. Anjing yang digunakan dalam studi kasus ini
memiliki bobot badan sebesar 6.5 kg, sehingga ukuran ginjal kanan maupun kiri
anjing ini tergolong normal.
A

B

Gambar 11 Sonogram vesika urinaria anjing kasus. A: Sonogram vesika urinaria, B:
Posisi probe secara sagital untuk pencitraan organ vesika urinaria (Noviana
et al. 2012).

18
Gambar 11A memperlihatkan sonogram vesika urinaria dengan posisi
probe sagital (Gambar 11B). Berdasarkan Gambar 11A, vesika urinaria (VU)
memiliki ketebalan dinding 1 mm. Ketebalan dinding VU normal pada anjing
berkisar antara 1-3 mm (Pennick dan d’Anjou 2008). Sonogram VU dengan posisi
probe sagital memperlihatkan VU memiliki dinding hyperechoic yang di
dalamnya terdapat cairan hitam anechoic homogen dan terkesan tidak mengalami
kelainan ukuran. Hal ini merupakan kondisi normal VU (Mannion 2006).
Hasil pemeriksaan ultrasonografi pada anjing ini menunjukkan tidak
terdapat kel

Dokumen yang terkait

Studi Kasus Diagnosis Pencitraan Gangguan Saluran Pencernaan Atas Anjing Schnauze