PERANAN KOMUNIKASI ANTARPRIBADI GURU BIMBINGAN KONSELING (BK) TERHADAP KETAATAN SISWA (Studi Pada Kelas VIII SMPN 19 Bandar Lampung)

(1)

INTERPERSONAL COMMUNICATION TEACHER ROLE OF GUIDANCE COUNSELING (BK) TOWARD STUDENTS COMPLIANCE

(Studies in Class VIII SMPN 19 Bandar Lampung) By

Genta Loga Sandiwa ABSTRACT

Student difficulties in adjusting often found in schools in terms of their behavior, such as humility, aggressiv, seeking security in various forms of self-defense mechanism, breaking the rules, teachers oppose, fight, do not carry school work, isolate themselves and hard work together in a group situation. The aim of research to describe the role of interpersonal communication teacher Counseling (BK) against class VIII SMPN 19 Bandar Lampung. This study is a qualitative research method of interviews and documentation. Theory in this study using the viewpoint pragmatic theory that emphasizes the management and interaction in general freshness, quality-quality that determine the achievement of specific goals. In the role of interpersonal communication indicates that the role of counseling teachers (BK) visible from the guidance and counseling teacher effort to familiarize the student discipline in the move and shape the character of the students especially in terms of confidence, unity, interaction management, power of expression and orientation to others.

Keywords: Interpersonal Communication, Guidance Counseling Teacher, Obedience Students.


(2)

PERANAN KOMUNIKASI ANTARPRIBADI GURU BIMBINGAN KONSELING (BK) TERHADAP KETAATAN SISWA

(Studi Pada Kelas VIII SMPN 19 Bandar Lampung) Oleh

Genta Loga Sandiwa ABSTRAK

Kesulitan siswa dalam menyesuaikan diri sering dijumpai di sekolah yang ditampilkan dalam bentuk perilaku, seperti rendah hati, agresif, mencari rasa aman pada berbagai bentuk mekanisme pertahanan diri, melanggar tata tertib, menentang guru, berkelahi, tidak melaksanakan tugas sekolah, mengisolasi diri dan sulit bekerja sama dalam situasi kelompok. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan peranan komunikasi antarpribadi guru Bimbingan Konseling (BK) terhadap ketaatan siswa kelas VIII SMPN 19 Bandar Lampung. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode wawancara dan dokumentasi. Teori dalam penelitian ini menggunakan teori pragmatis dengan sudut pandang yang menekankan pada manajemen dan kesegaran interaksi secara umum, kualitas-kualitas yang menentukan pencapaian tujuan spesifik. Dalam peranan komunikasi antarpribadinya menunjukkan bahwa peranan guru Bimbingan Konseling (BK) terlihat dari upaya guru bimbingan dan konseling membiasakan siswa disiplin dalam beraktivitas dan membentuk karakter siswa tersebut terutama dari sisi kepercayaan diri, kebersatuan, manajemen interaksi, daya ekspresi dan orientasi kepada orang lain.

Kata Kunci: Komunikasi Antarpribadi, Guru Bimbingan Konseling, Ketaatan Siswa,Teori Pragmatis.


(3)

PERANAN KOMUNIKASI ANTARPRIBADI GURU BIMBINGAN KONSELING (BK) TERHADAP KETAATAN SISWA

(Studi Pada Kelas VIII SMPN 19 Bandar Lampung)

Oleh

Genta Loga Sandiwa

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar SARJANA ILMU KOMUNIKASI

Pada

Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG 2015


(4)

PERANAN KOMUNIKASI ANTARPRIBADI GURU BIMBINGAN KONSELING (BK) TERHADAP KETAATAN SISWA

(Studi Pada Kelas VIII SMPN 19 Bandar Lampung)

Skripsi

Oleh

Genta Loga Sandiwa

0546021054

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG 2015


(5)

DAFTAR ISI

Halaman

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Kegunaan Penelitian... 6

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Komunikasi dan Komunikasi Antarpribadi ... 7

B. Ketaatan Siswa ... 30

C. Kerangka Pikir ... 33

III. METODE PENELITIAN A. Tipe Penelitian ... 34

B. Pendekatan Penelitian ... 35

C. Fokus Penelitian ... 35

D. Informan ... 36

E. Teknik Pengumpulan Data ... 36

F. Teknik Analisis Data ... 38

IV. GAMBARAN UMUM DAN OBJEK PENELITIAN A. Gambaran Singkat SMPN 19 BandarLampung ... 40

B. Visi dan Misi SMPN 19 BandarLampung ... 40


(6)

D. Mekanisme Kerja Bimbingan dan Konseling di

SMP Negeri 19 Bandar Lampung ... 43 E. Objek Penelitian dan Peraturan Sekolah ... 47

V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Profil Informan ... 49 B. Hasil Penelitian ... 51

1. Hasil Wawancara dengan Kepala Sekolah dan Guru Mengenai Peranan komunikasi Antarpribadi Guru Bimbingan Konseling (BK) terhadap ketaataan siswa

kelas VIII SMPN 19 Bandar Lampung ... 51 2. Hasil Wawancara dengan siswa Mengenai Peranan

komunikasi Antarpribadi Guru Bimbingan Konseling (BK) terhadap ketaataan siswa kelas VIII SMPN 19

Bandar Lampung ... 67 3. Hasil Observasi Peran Komunikasi Antarpribadi

Guru Bimbingan Konseling (BK) terhadap ketaataan

siswa kelas VIII SMPN 19 Bandar Lampung ... 78 C. Pembahasan ... 84

1. Peranan Komunikasi Antarpribadi Guru Bimbingan Konseling (BK) terhadap Ketaataan Siswa Kelas VIII

SMPN 19 Bandar Lampung dikaji dari Kepercayaan Diri ... 86 2. Peranan Komunikasi Antarpribadi Guru Bimbingan

Konseling (BK) terhadap Ketaataan Siswa Kelas VIII

SMPN 19 Bandar Lampung dikaji dari Kebersatuan ... 98 3. Peranan Komunikasi Antarpribadi Guru Bimbingan Konseling

(BK) terhadap Ketaataan Siswa Kelas VIII SMPN 19

Bandar Lampung dikaji dari Manajemen Interaksi ... 102 4. Peranan Komunikasi Antarpribadi Guru Bimbingan

Konseling (BK) terhadap Ketaataan Siswa Kelas VIII SMPN 19 Bandar Lampung dikaji dari Manajemen

Daya Ekspresi... 109 5. Peranan Komunikasi Antarpribadi Guru Bimbingan

Konseling (BK) terhadap Ketaataan Siswa Kelas VIII SMPN 19 Bandar Lampung dikaji dari Orientasi kepada

orang lain ... 113 VI. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan ... 120 B. Saran ... 121


(7)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Lembar Wawancara Informan Lampiran 2. Dokumentasi Kegiatan Penelitian

Lampiran 3. Struktur organisasi SMPN 19 Bandar Lampung Lampiran 4. Peraturan SMPN 19 Bandar Lampung


(8)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Jenis Pelanggaran oleh Siswa SMP Negeri 19 Bandar Lampung ... 3 2. Hasil wawancara dengan informan Kepala Sekolah dan Guru BK tentang

kepercayaan diri ... 51 3. Hasil wawancara dengan informan Kepala Sekolah dan Guru BK tentang

kebersatuan ... 56 4. Hasil wawancara dengan informan Kepala Sekolah dan Guru BK tentang

manajemen interaksi... 59 5. Hasil wawancara dengan informan Kepala Sekolah dan Guru BK

tentang manajemen daya ekspresi ... 61 6. Hasil wawancara dengan informan Kepala Sekolah dan Guru BK tentang

Orientasi Kepada Orang Lain... 65 7. Hasil wawancara dengan informan Siswa tentang Kepercayaan Diri... 68 8. Hasil wawancara dengan informan Siswa tentang kebersatuan ... 71 9. Hasil wawancara dengan informan Siswa tentang

manajemen interaksi... 73 10. Hasil wawancara dengan informan Siswa tentang

manajemen daya ekspresi ... 74 11. Hasil wawancara dengan informan Siswa tentang

orientasi kepada orang lain... 76 12. Hasil Observasi Peranan komunikasi Antarpribadi Guru Bimbingan

Konseling (BK) terhadap Ketaataan Siswa Kelas VIII SMPN 19


(9)

(10)

(11)

(12)

MOTO

“Jadi Diri Sendiri, Cari Jati Diri,dan Dapatkan Hidup Yang Mandiri dan Optimis, Karena Hidup Terus Mengalir dan Kehidupan Terus Berputar Sesekali Liat Ke

Belakang Untuk Melanjutkan Perjalanan Yang Tiada Berujung”

(Genta Loga Sandiwa)

“Yakinlah adasesuatu yang menantimu selepas banyak kesabaran (yang kau jalani) yang

akan membuatmu terpana hingga kau lupa pedihnya rasa sakit”


(13)

PERSEMBAHAN

Dengan setulus hati kupersembahkan karya sederhanaku ini kepada orang-orang yang kusayangi serta menyayangiku :

ALLAH SWT

Yang selalu melindungiku dalam setiap masa-masa sulitku, yang memberikan anugerah dan kekuatan dalam menjalani kehidupan didunia hingga sampai masa yang dikehendakinya.

Kedua orang tuaku, Yudi Afrensi danYuanita Lusvina serta aying dan adik-adikku Rohanisa, Frengki Hasani, Deva Saganta, Nazwa, terimakasih atas doa kalian semua, serta kasih sayang kalian semua, yang tak henti-hentinya memberikan semangat dan pengorbanan yang tidak

mungkin terbalaskan.

Wak Uncu, Wak ajo, Kajut, unggang (almarhum), dan Kakekku dan Nenekku tersayang Hj. M. Hasan dan Hj. Hayuni

Seluruh sahabat dan teman-teman yang selalu memberikan semangat dan dukungan

Serta tak lupa kupersembahkan kepada Almamaterku tercinta Ilmu Komunikasi Universitas Lampung, semoga kelak berguna dikemudian hari.


(14)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Oku Timur, Provinsi Sumatra Selatan pada tanggal 26 Desember 1992. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, buah cinta dari pasangan Yudi Afrensi denganYuanita Lusvina. Penulis menyelesaikan pendidikan di TK Charitas 01 Oku Timur Sumatra Selatan pada tahun 1998, SD Charitas 01 Oku Timur Sumatra Selatan pada tahun 2004, SMP Al-Kautsar Bandar Lampung pada tahun 2007, Dan SMA Negeri 15 Bandar Lampung pada tahun 2010. Pada tahun 2010 penulis terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung melalui jalur Mandiri.

Semasa menjadi mahasiswa, Penulis cukup aktif dalam kegiatan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi Universitas Lampung sebagai anggota di bidang jurnalistik. Sebelum aktif dalam pengerjaan skripsi, penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) selama 30 haripadatahun 2013 di Radio Republik Indonesia (RRI). Penulis juga melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama 30 hari di Desa Pasir Sakti, Kabupaten Lampung Timur.


(15)

SANWACANA

Puji dan syukur Penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya proposal yang berjudul “Peranan Komunikasi Antarpribadi Guru Bimbingan Konseling (BK) Terhadap Ketaatan Siswa (Studi Pada SMPN 19 Kelas VIII Bandar Lampung) ” dapat diselesaikan. Skripsi ini dibuat sebagai persyaratan memperoleh gelar sarjana Ilmu Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Selama penulisan skripsi ini, penulis banyak memperoleh saran maupun kritikan yang bersifat membangun sekaligus merupakan sebuah pembelajaran baik dalam menambah ilmu pengetahuan maupun dalam kehidupan penulis sendiri. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada Ibu Dr. Tina Kartika, M.Si., selaku Dosen pembimbing dan Bapak Drs.Sarwoko, M.Si., selaku Dosen Pembahas, serta ucapan terimakasih kepada:

1. Bapak Drs. Agus Hadiawan, M.Si. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung.

2. Bapak Drs. A. Efendi, M.M. selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kerjasama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung. 3. Bapak Prof. Yulianto, M.S. selaku Wakil Dekan Bidang Umum dan

Keuangan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung.

4. Bapak Drs. Pairulsyah, M.H. selaku Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung.


(16)

5. Bapak Drs. Teguh Budi Raharjo, M.Si. Selaku Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung. 6. Bapak Drs. Sarwoko, M.Si. Selaku Dosen Pembahas yang telah memberikan

kritik dan saran kepada Penulis dalam penyelesaian skripsinya.

7. Ibu Dr. Tina Kartika, M.Si. Selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan masukannya demi kesempurnaan skripsi ini.

8. Seluruh Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung.

9. Teristimewa untuk kedua orang tuaku tercinta, Ayah Yudi Afrensi terimakasih untuk semua kebaikannya, yang tidak henti-hentinya memberikan motivasi dan do’a demi kelancaran penulis dalam menyelesaikan skripsi, semoga Allah SWT selalu memberikan kesehatan dan lindungannya. Terlebih lagi untuk ibu Yuanita Lusvina terimakasih sudah menjadi ibu dan ayah yang kuat, yang selalu bekerja keras untuk menjadikan penulis manusia yang berguna dan bermanfaat bagi orang lain, semoga Allah SWT memberikan penulis untuk dapat sedikit membalas apa yang telah di lakukan ibu dan ayah meskipun tidak akan bisa terbalaskan sepenuhnya.

10. Spesial untuk aying terimakasih untuksemuanya, do’a dan tak henti-hentinya memberikan semangat dan dukungannya. Serta telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi. Semoga cepat lulus dan cepat menyusul. Serta terimakasih juga untuk Reni Ledia yg sudah banyak membantu penulis dan selalu memberikan doa dan dukungannya.

11. Buat adik-adiku tersayang Rohanisa, Frenki Hasani, Deva saganta, Nazwa Salsabila Renita yang sangat berbeda sifat, wanajo saying kalian semoga


(17)

kalian kelak menjadi golongan orang yang sukses yang berguna bagi nusa dan bangsa.

12. Untuk wak ajo dan wak uncu terimakasih untuk semua saran dan motivasinya, dan telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi. Serta sepupuku Restu Bella Sarpta, M.Giatama Sarpta, Vinka Triyuni Sarpta, Feirus Calisa Sarpta, Buana Mutiara Santika, sukses buat kalian semua.

13. Untuk alm.mbah lanang semoga selalu diberikan kebahagiaan selalu disisiNya dan ditempatkan di surgaNya. Dan untuk mbah tino, serta seluruh keluarga besar M.Hasan bin Abu Bakar, terimakasih atas semua do’a yang tiada hentinya kalian berikan kepada penulis.

14. Untuk sahabat yang sudah penulis anggap bukan sekedar sahabat biasa tetapi sudah menjadi keluarga buat penulis Sandi Santi Yuri, Ricko Prima Suprayitno, Deni Agustian, Sigit Eko Prasetyo, Wahyu Tri Utomo, Jeki Fredi Mericury, Novan, dan Hendro Fabertison terimakasih telah banyak membantu, menghibur, dan selalu ada di saat susah maupun senang kalian sahabat terbaik bagi penulis, salam sayang dari penulis untuk kalian semua. 15. Untuk Unggang dan Kajut, serta keluarga besar Lebak Kajang Bik Astini, Bik

Eva, Om chan, Om dek, Bik dar, Kajut Ros, Unggang herman, alm.puyang, Ovi, Hera, Anggun, Rian, Dika, Aji, Noval, Ana, dan Reval terimakasih atas

do’a dan dukungannyayang diberikan.

16. Buat teman-teman kampus Imam, Adi, Umar, Dio, Aji, jeri, asep, Yudi kurniawan, Bima, Arya, dan Yudhi Ramadhoni. Semoga kita tetap bisa berkumpul terus dan sukses buat kita semua.


(18)

17. Dan untuk semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

Dalam menyusun Skripsi ini masih banyak kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan. Penulis berharap Skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Bandar Lampung, 24 Juni 2015

Genta Loga Sandiwa NPM.1016031097


(19)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Siswa dalam perkembangannya mempunyai kebutuhan yang kuat untuk berkomunikasi dan keinginan untuk mempunyai banyak teman, namun kadang-kadang untuk membangun hubungan antar teman itu sendiri tidak mudah, seseorang harus memiliki penerimaan diri yang baik agar tercipta suatu hubungan yang baik dan sehat.

Komunikasi interpersonal mempunyai dampak yang cukup besar bagi kehidupan siswa. Penelitian Packard (2004: 75)” Bila seseorang mengalami kegagalan dalam melakukan komunikasi interpersonal dengan orang lain ia akan menjadi agresif, senang berkhayal, ‘dingin’ sakit fisik dan mental, dan mengalami ‘flight syndrome’(ingin melarikan diri dari lingkungannya)”.

Siswa yang memiliki kesulitan dalam melakukan komunikasi interpersonal menurut Tedjasaputra (2005: 115) akan sulit menyesuaikan diri, seringkali marah, cenderung memaksakan kehendak, egois dan mau menang sendiri sehingga mudah terlibat dalam perselisihan.keterampilan komunikasi interpersonal pada siswa ini menjadi sangat penting karena dalam bergaul dengan teman sebayanya siswa seringkali dihadapkan dengan hal-hal yang membuatnya harus mampu menyatakan pendapat pribadinya tanpa disertai emosi, marah atau sikap kasar,


(20)

2

bahkan siswa harus bisa mencoba menetralisasi keadaan apabila terjadi suatu konflik. Bahkan suatu studi menyimpulkan bahwa kelemahan berkomunikasi akan menghambat personal seseorang (Slamet, 2005: 15).

Perkembangan remaja terjadi dalam konteks sosial yang meliputi keluarga, kelompok teman sebaya dan masyarakat temapat siswa itu hidup. Maka dalam proses perkembangnnya remaja akan selalu bersinggungan dengan situasi-situasi sosial yang tertentu saja mengharuskan remaja untuk melakukan penyesuaian diri. Dengan melakukan penyesuaian diri remaja dapat mengenal, memahami dan menerima dirinya sendiri serta lingkungan.

Kesulitan siswa dalam menyesuaikan diri sering dijumpai di sekolah yang ditampilkan dalam bentuk perilaku, seperti rendah hati, agresivitas, mencari rasa aman pada berbagai bentuk mekanisme pertahanan diri (seperti rasionalisasi, proyeksi, egosentris dan sebagainnya), melanggar tata tertib, menetang guru, berkelahi, tidak melaksanakan tugas sekolah, mengisolasi diri dan sulit bekerja sama dalam situasi kelompok. Seringkali permasalahan yang biasa dan dianggap wajar terjadi di sekolah-sekolah. Fenomena tersebut hampir selalu penulis temukan ketika melakukan praktek bimbingan dan konseling dibeberapa sekolah menengah.

Hasil pra survei yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 25 November 2014 di SMP Negeri 19 yang beralamat di Jalan Turi No. 1 Tanjung Senang Bandar Lampung, didapatkan jumlah siswa secara keseluruhan sebanyak 1.065 siswa. Hasil wawancara diperoleh bahwa peraturan yang ada di sekolah terdiri dari 8 peraturan yaitu: 1) Menggunakan seragam lengkap dan rapi, 2) Rambut harus


(21)

3

rapi, harus menggunakan sepatu model warior atau NB, 3) Kuku tidak boleh panjang, tali sepatu berwarna putih, 4) Tidak boleh bertato, tidak boleh membawa motor, 5) Siswa harus masuk sebelum bel berbunyi, tidak boleh terlambat, 6) Selama pelajaran berlangsung dan pada pergantian jam pelajaran siswa dilarang berada di luar kelas, 7) Tidak boleh membolos, 8) Tidak boleh minum minuman keras, 9) mengedarkan dan mengkonsumsi narkotika 10) membawa senjata tajam, 11) tidak boleh membawa HP dan 12) tidak boleh berkata kotor.

Hasil dengan wawancara didapatkan rata-rata yang melakukan pelanggaran adalah Kelas VIII, dimana dalam 1 minggu siswa yang bermasalah sebanyak 10 orang, pelanggaran yang sering dilakukan adalah membolos sebanyak 5 orang dan berkelahi sebanyak 5 orang. Selama 1 bulan jumlah siswa yang melanggar sebanyak 25 orang yaitu kelas VIII, seperti yang dijelaskan pada tabel berikut: Tabel 1. Jenis Pelanggaran oleh Siswa SMP Negeri 19 Bandar Lampung

No Jenis pelanggaran Jumlah siswa melanggar

1 Membolos 5

2 Merokok 4

3 Pencurian HP 1

4 Berbicara kotor 3

5 Berpakaian tidak rapi 2

6 Terlambat 3

7 Berkelahi 5

8 Rambut tidak rapi 2

Jumlah 25

Sumber: Data Siswa SMP Negeri 19 Bandar Lampung, Desember 2014

Jumlah guru Bimbingan Konseling (BK) di SMP Negeri 19 sebanyak 6 orang, dimana sebanyak 2 orang khusus menangani siswa kelas VII, 2 orang khusus menangani siswa kelas VIII dan 2 orang khusus menangani siswa kelas IX. Hasil wawancara dengan salah satu guru Bimbingan Konseling (BK) diperoleh data


(22)

4

bahwa kebanyakan siswa yang tidak taat dalam sekolah dengan pelanggaran yang dilakukan seperti pencurian HP dan berkelahi dilatarbelakangi oleh beberapa faktor seperti kurangnya perhatian orang tua, ajakan teman untuk membolos dan kurang sukanya siswa terhadap pelajaran yang diberikan. Cara yang digunakan oleh guru BK dalam membimbing siswa yang bermasalah adalah melalui tahapan pemberian teguran, nasihat dan pemanggilan orang tua siswa sebagai tahap lanjutan.

Komunikasi yang digunakan oleh guru BK adalah komunikasi dari sudut pandang pragmatis yaitu pendekatan yang menekankan pada manajemen dan kesegaran interaksi secara umum, kualitas-kualitas yang menentukan pencapaian tujuan spesifik (Devito, 2007: 147).

Objek dalam penelitian ini adalah seluruh guru Bimbingan Konseling (BK) dan siswa di SMPN 19 Bandar Lampung. Alasan pengambilan SMPN 19 Bandar Lampung sebagai tempat penelitian adalah karena di SMPN 19 Bandar Lampung masih banyak pelanggaran-pelanggaran peraturan yang dilakukan oleh siswa bila dibandingkan dengan sekolah lain seperti SMAN 15 Bandar Lampung yang tidak jauh lokasinya dari SMP Negeri 19 Bandar Lampung, dimana siswa SMA sudah dianggap mampu dan lebih dewasa dalam bertindak sehingga pelanggaran yang dibuat juga lebih sedikit dibandingkan dengan siswa SMP, seperti yang dijelaskan pada tabel berikut:


(23)

5

Tabel 2. Jenis Pelanggaran oleh Siswa SMA Negeri 15 Bandar Lampung

No Jenis pelanggaran Jumlah siswa melanggar

1 Membolos 3

2 Merokok 5

3 Pencurian HP 0

4 Berbicara kotor 0

5 Berpakaian tidak rapi 0

6 Terlambat 2

7 Berkelahi 0

8 Rambut tidak rapi 0

Jumlah 10

Sumber: Data Siswa SMA Negeri 15 Bandar Lampung, Januari 2015

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul: Peranan komunikasi Antarpribadi Guru Bimbingan Konseling (BK) Terhadap Ketaatan Siswa (Studi Pada Kelas VIII SMPN 19 Bandar Lampung)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijabarkan di atas maka rumusan masalah penelitian adalah ”Bagaimana peranan komunikasi antarpribadi guru Bimbingan Konseling (BK) terhadap ketaatan siswa kelas VIII SMPN 19 Bandar Lampung?”

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peranan komunikasi antarpribadi guru Bimbingan Konseling (BK) terhadap ketaatan siswa kelas VIII SMPN 19 Bandar Lampung.


(24)

6

D. Kegunaan Penelitian 1. Secara Praktis

Bagi instansi terkait, hasil penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan pemikiran, masukan-masukan bagi guru di SMPN 19 Bandar Lampung dalam peranan komunikasi antarpribadi guru Bimbingan Konseling (BK) terhadap ketaatan siswa kelas VIII SMPN 19 Bandar Lampung.

2. Secara Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran, informasi, dan pengetahuan dalam khasanah Ilmu Komunikasi khususnya yang berkaitan dengan peranan komunikasi antarpribadi guru Bimbingan Konseling (BK) terhadap ketaatan siswa kelas VIII SMPN 19 Bandar Lampung.


(25)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Komunikasi dan Komunikasi Antarpribadi

1. Pengertian Komunikasi

Pengertian komunikasi secara etimologis berasal dari perkataan Latin “communicatio”. Istilah ini bersumber dari perkataan “communis” yang berarti sama. sama disini maksudnya sama makna atau sama arti. Komunikasi menurut Everett M,Rogers seperti yang dikutip Onong Uchjana Effendy adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka (Effendy, 2008:25).

Menurut Harnack dan Fest seperti yang dikutip Jalaluddin Rakhmat menganggap komunikasi sebagai “ proses interaksi di antara orang untuk tujuan integrasi intrapersonal dan interpersonal” (Rakhmat, 2008 :8).

Edwin Neuman juga seperti yang dikutip Jalaluddin Rakhmat mendefinisikan komunikasi sebagai “proses untuk mengubah kelompok manusia menjadi kelompok yang berfungsi” (Rakhmat, 2008 : 8).

Hakikat komunikasi adalah proses pernyataan antar manusia yang dinyatakan itu adalah pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya (Effendy, 2008:26).


(26)

8

Dalam “bahasa”komunikasi pernyataan dinamakan pesan (message), orang yang menyampaikan pesan disebut komunikator (communicator) sedangkan orang yang menerima pernyataan disebut komunikan (communicatee). Untuk tegasnya, komunikasi berarti proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan. Jadi analisis pesan komunikasi terdiri dari dua aspek, pertama isi pesan (the content of the message), kedua lambang (symbol).Konkretnya isi pesan itu adalah pikiran atau perasaan, lambang adalah bahasa.

Banyaknya disiplin ilmu yang telah memberi masukan terhadap perkembangan ilmu komunikasi, misalnya psikologi, sosiologi, antropologi, ilmu politik, ilmu manajemen, linguistik, dan sebagainya, menyebabkan banyaknya definisi tentang komunikasi yang telah dibuat oleh para pakar menurut bagian ilmunya. Carl I. Hovland (Widjaja, 2009: 26-27) mendefinisikan komunikasi sebagai suatu proses dimana seseorang memindahkan perangsang yang biasanya berupa lambang kata-kata untuk mengubah perilaku orang lain. Jadi, dengan demikian komunikasi itu adalah persamaan pendapat dan untuk kepentingan itu maka orang harus mempengaruhi orang lain dahulu sebelum orang lain itu berpendapat, bersikap, bertingkah laku yang sama dengan kita.

Salah satu definisi singkat dibuat oleh Harold D. Lasswell dalam Widjaja (2009: 30) bahwa cara yang tepat untuk menerangkan suatu tindakan komunikasi ialah menjawab pertanyaan “Siapa yang menyampaikan, apa yang disampaikan, melalui saluran apa, kepada siapa dan apa pengaruhnya”.

Paradigma Lasswel di atas menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan itu, yakni:


(27)

9

a. Komunikator (communicator, sender, source) adalah orang yang menyampaikan pesan atau informasi.

b. Pesan (message) adalah pernyataan yang didukung oleh lambang, bahsa, gambar dan sebagainya.

c. Media (channel, media) adalah sarana atau saluran yang mendukung pesan bila komunikan jauhyempatnya atua banyak jumlahnya, maka diperlukan media sebagai penyampai pesan.

d. Komunikan (communicant, communicate, receiver, recipient) adalah orang yang menerima pesan atau informasi yang disampaikan komunikator.

e. Efek (effect,impact, influence) adalah dampak sebagai pengaruh dari pesan. Jadi, berdasarkan paradigma Lasswell tersebut, komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu (Effendy, 2008: 10).

Dalam garis besarnya dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah penyampaian informasi dan pengertian dari seseorang kepada orang lain. Komunikasi akan dapat berhasil apabila sekiranya timbul saling pengertian, yaitu jika kedua belah pihak dapat memahaminya (Widjaja, 2009: 15).

Komunikasi merupakan penyampaian informasi dan pengertian dari seseorang kepadaorang lain, komunikasi akan berhasil jika adanya pengertian serta kedua belah pihak saling memahaminya. Dimana dapat disimpulkan bahwa komunikasi sangat penting sama halnya dengan bernafas. Kualitas komunikasi menentukan keharmonisan hubungan dengan sesame individu. Adapun bentuk dari komunikasi yaitu (Effendy, 2008: 7):


(28)

10

a. Komunikasi Personal (Personal Communication). Terdiri dari komunikasi intra personal (Intrapersonal Communication) dan komunikasi antar personal (Interpersonal Communication).

b. Komunikasi kelompok

1) Komunikasi kelompok kecil (small group communication), terdiri dari ceramah, forum, diskusi dan seminar.

2) Komunikasi kelompok besar (large group communication), terdiri dari kampanye.

3) Komunikasi Organisasi (Organization Communication). 4) Komunikasi Massa (Mass Communication).

Adapun proses komunikasi menurut Onong terbagi atas dua tahap, yakni secara primer dan secara sekunder (Effendy, 2008: 11).

a. Proses Komunikasi Secara Primer adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang sebagai media. Lambang ini umumnya bahasa tetapi dalam situasi komunikasi tertentu lambang-lambang yang digunakan dapat berupa gerak tubuh, gambar, warna dan sebagainya.

b. Proses Komunikasi Secara Sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama. Proses ini termasuk sambungan dari proses primer untuk menembus dimensi ruang dan waktu, dalam prosesnya komunikasi sekunder ini akan semakin efektif dan efisien karena didukung oleh teknologi komunikasi yang semakin canggih, yang ditopang oleh teknologi-teknologi lainnya.


(29)

11

2. Proses Komunikasi

Agar lebih jelas membahas mengenai proses komunikasi maka proses komunikasi dikategorikan dengan peninjauan dari dua perspektif.

a. Proses Komunikasi dalam Perspektif Psikologis

Proses komunikasi perspektif ini terjadi pada diri komunikator dan komunikan. Ketika seorang komunikator berniat akan menyampaikan suatu pesan kepada komunikan, maka dalam dirinya terjadi suatu proses. Komunikasi terdiri dari dua aspek yakni isi pesan dan lambang. Isi pesan umumnya adalah bahasa. Walter Lippman menyebut isi pesan itupicture in our head, sedangkan Walter Hagemann menamakannya das Bewustseininhalte. Proses ‘mengemas’ atau ‘membungkus’ pikiran dengan bahasa yang dilakukan komunikator itu dalam bahasa komunikasi dinamakanencoding.

Hasilencodingberupa pesan itu kemudian ia transmisikan atau dikirimkan kepada komunikan. Proses dalam diri komunikan disebutdecodingseolah-olah membuka kemasan atau bungkus pesan yang ia terima dari komunikator tadi. Isi bungkusan tadi adalah pikiran komunikator. Apabila komunikan mengerti isi pesan atau pikiran komunikator, maka komunikasi terjadi. Sebaliknya bilamana komunkan tidak mengerti, maka komunikasi pun tidak terjadi.

b. Proses Komunikasi dalam Perspektif Mekanistis

Proses ini berlangsung kertika komunikator mengoperkan atau melemparkan dengan lisan atau tulisan pesannya sampai ditangkap oleh komunikan.


(30)

12

Proses komunikasi dalam perspektif ini kompleks atau rumit, sebab bersifat situasional, bergantung pada situasi ketika komunikasi irtu berlangsung. Adakalanya komunikannya seorang, maka komunikasi dalam situasi seperti ini dinamakan komunikasi interpersonal atau komunikasi antar pribadi, kadang-kadang komunikannya sekelompok orang yang disebut dengan komunikasi kelompok; acapkali komunikannya tersebar dalam jumlah yang relatif amat banyak sehingga untuk menjangkaunya diperlukan suatu media atau sarana, maka komunikasi dalam situasi ini disebut komunikasi massa.

Untuk jelasnya proses komunikasi dalam perspektif mekanistis dapat diklasifikasikan menjadi:

1) Proses komunikasi secara primer

Proses komunikasi secara primer (prymari process) adalah proses penyampaian pikiran oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan lambang sebagai media atau salurannya.. Lambang ini umumnya bahasa, tetapi dalam situasi-situasi tertentu lambang-lambang yang dipergunakan dapat berupa kial (gesture) yakni gerak anggota tubuh, gambar, warna dan lain sebagainya.

2) Proses komunikasi secara sekunder

Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama. Komunikator menggunakan media kedua ini karena komunikan yang dijadikan sasaran komunikasinya jauh tempatnya atau banyak jumlahnya atau kedua-duanya. Kalau komunikan jauh menggunakan surat atau telepon, apabila banyak dipergunakan


(31)

13

pengeras suara, apabila jauh dan banyak maka pergunakan surat kabar, radio atau televisi. Komunikasi dalam proses secara sekunder ini semakin lama semakin efektif dan efisien karena didukung oleh teknologi komunikasi yang semakin canggih, yang ditopang pula oleh teknologi-teknologi lainnya yang bukan teknologi komunikasi.

3) Proses komunikasi secara linear

Istilah linear mengandung makna lurus. Jadi proses linera berarti perjalanan dari satu titik ke titik lain secara lurus. Dalam konteks komunikasi, proses linear adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan sebagai titik terminal. Komunikasi linear ini berlansung baik dalam situasi komunikasi tatap muka (face to face communication) maupun dalam situasi komunikasi bermedia (mediated communication). Proses komunikasi secara linear umumnya berlangsung pada komunikasi bermedia, kecuali komunikasi melalui media telepon. Komunikasi melalui telepon hampir tidak pernah berlangsung linear, melainkan dialogis, tanya jawab dalam bentuk percakapan.

4) Proses komunikasi secara sirkular

Sirkular sebagai terjemahan dari kata circularsecara harfiah berarti bulat, bundar atau keliling sebagai lawan dari perkataan linear yang bermakna lurus. Dalam konteks komunikasi yang dimaksudkan dengan proses secara sirkular itu adalah terjadinya feedback atau umpan balik, yaitu terjadinya arus dari komunikan ke komunikator . Oleh karena itu adakalanya feedback tersebut mengalir dari komunikan ke komunikator itu adalah response atau tanggapan komunikan terhadap pesan yang ia terima dari komunikator.


(32)

14

Konsep umpan balik ini dalam proses komunikasi amat penting karena dengan terjadinya umpan balik komunikator mengetahui apakah komunikasinya itu berhasil atau gagal, dengan kata lain apakah umpan baliknya itu positif atau negatif. Bila positif ia patut gembira, sebaliknya jika negatif menjadi permasalahan, sehingga ia harus mengulangi lagi dengan perbaikan gaya komunikasinya sampai menimbulkan umpan balik positif (Effendy, 2008:28)

Komunikasi terjadi ketika seseorang mengirimkan ide atau perasaan kepada orang lain atau sekelompok orang. Efektivitasnya diukur dengan kesamaan antara pesan dikirim oleh guru dan pesan yang diterima oleh siswa. Unsur yang berperan dalam proses komunikasi adalah sumber (guru), simbol yang digunakan untuk mengirim pesan (kata-kata, tulisan, gambar, garis, bahasa tubuh), dan penerima.

Ketiga unsur ini saling terkait. Hubungan antara guru dan siswa bersifat dinamis dan tergantung bagaimana arus komunikas antara guru dan siswa. Pada saat guru menyampaikan pesan, siswa memberi umpan balik untuk menyesuaikan informasi yang diterimanya. Sebaiknya guru juga memberi umpan balik terhadap umpan balik yang siswa berikan sehingga memperkuat respon yang diinginkan.

3. Fungsi Komunikasi

Komunikasi sebagai ilmu dan seni, sudah tentu memiliki fungsi yang dapat dimanfaatkan oleh manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam terjadinya komunikasi tidak terlepas dari bentuk dan fungsi komunikasi, dimana komunikasi yang baik, tidak jauh dari fungsi yang mendukung keefektifan komunikasi.


(33)

15

Adapun fungsi-fungsi dari komunikasi adalah sebagai berikut: a. Menyampaikan informasi (To inform)

Komunikasi berfungsi dalam menyampaikan informasi, tidak hanya informasi tetapi juga pesan, ide, gagasan, opini maupun komentar. Sehingga masyarakat bisa mengetahui keadaan yang terjadi dimanapun.

b. Mendidik (To educate)

Komunikasi sebagai sarana informasi yang mendidik, menyebarluaskan kreativitas, tidak hanya sekedar memberi hiburan, tetapi juga memberi pendidikan untuk membuka wawasan dan kesempatan untuk memperoleh pendidikan secara luas, baik untuk pendidikan formal di sekolah maupun untuk di luar sekolah, serta memberikan berbagai informasi tidak lain agar masyarakat menjadi lebih baik lebih maju, dan lebih berkembang.

c. Menghibur (To entertain)

Komunikasi juga memberikan warna dalam kehidupan, tidak hanya informasi tetapi juga hiburan. Semua golongan menikmatinya sebagai alat hiburan dalam bersosialisasi. Menyampaikan informasi dalam lagu, lirik dan bunyi maupun gambar dan bahasa.

d. Mempengaruhi (To influence)

Komunikasi sebagai sarana untuk mempengaruhi khalayak untuk member motivasi, mendorong untuk mengikuti kemajuan orang lain melalui apa yang dilihat, dibaca dan didengar. Serta memperkenalkan nilai-nilaibaru untuk mengubah sikap dan perilaku kea rah yang baik dan modernisasi (Effendy, 2008: 15).


(34)

16

Bentuk komunikasi interpersonal antara guru dengan guru, guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa merupakan kondisi yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar mengajar yang efektif, karena setiapa orang diberi kesempatan untuk terlibat dalam pembelajaran. Sehingga timbul situasi sosial dan emosional yang menyenangkan pada tiap personal, baik guru maupun siswa dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Dalam menciptakan iklim komunikatif guru hendaknya memperlakukan siswa sebagai individu yang berbeda-beda, yang memerlukan pelayanan yang berbeda pula, karena siswa mempunyai karakteristik yang unik, memiliki kemampuan yang berbeda, minat yang berbeda, memerlukan kebebasan memilih yang sesuai dengan dirinya dan merupakan pribadi yang aktif. Untuk itulah kemampuan berkomunikasi guru dalam kegiatan pembelajaran sangat diperlukan.

4. Tujuan Komunikasi

Dalam berkomunikasi tidak hanya untuk memahami dan mengerti satu dan lainnya tetapi juga memiliki tujuan dalam berkomunikasi. Ada empat tujuan komunikasi (Effendy, 2008: 34) yaitu:

a. Perubahan sikap

Memberikan berbagai informasi pada masyarakat dengan tujuan agar masyarakat akan berubah sikapnya. Misalnya memberikan informasi mengenai bahaya menggunakan obat-obatan terlarang dan tujuannya adalah agar masyarakat tidak menggunakan obat-obatan terlarang.


(35)

17

b. Perubahan pendapat

Memberikan berbagai informasi pada masyarakat dengan tujuan agar masyarakat mau berubah pendapat dan persepsinya terhadap tujuan informasi yang disampaikan. Misalnya informasi mengenai kebijakan baru pemerintah yang biasanya selalu mendapat tantangan dari masyarakat maka harus disertai penyampaian informasi yang lengkap supaya pendapat masyarakat dapat terbentuk untuk mendukung kebijakan tersebut.

c. Perubahan perilaku

Memberikan berbagai informasi pada masyarakat dengan tujuan agar masyarakat akan berubah perilakunya. Misalnya informasi tentang kerugian dari tawuran agar siswa dan mahasiswa jangan ikut dalam kegiatan tawuran. d. Perubahan sosial

Memberikan berbagai informasi pada masyarakat, yang pada akhirnya bertujuan agar masyarakat mau mendukung dan ikut serta terhadap tujuan informasi yang disampaikan.

Guru harus senantiasa memiliki informasi terkini dan dapat meyakinkan siswa akan pentingnya materi yang disampaikannya. Guru juga harus menyadari bahwa efektivitas komunikasi tergantung pada pemahaman siswa dari simbol-simbol atau kata-kata yang digunakan. Penyampaian secara verbal misalnya isi dari pesan, pengaturan, dan pemilihan kata-kata. Sedangkan penyampaian secara non verbal misalnya ekspresi wajah, postur, dan gerakan tubuh. Sedangkan para verbal, mengacu pada bagaimana guru menyampaikan sesuatu dan bukan dari apa yang guru katakan, misalnya intonasi suara, jeda, tekanan, dan volume suara.


(36)

18

5. Komunikasi Antarpribadi

a. Pengertian Komunikasi Antarpribadi

Komunikasi antar pribadi seperti bernapas untuk kelangsungan hidup, dimana tidak dapat dielakkan. Komunikasi antar priabadi bersifat transaksional, dari sebuah hubungan manusia yang saling mempengaruhi satu dengan yang lain. Hubungan antarpribadi yang berkelanjutan dan terus menerus akan memberikan semangat, saling merespon tanpa adanya manipulasi, tidak hanya tentang menang atau kalah dalam beragumentasi melainkan tentang pengertian dan penerimaan (Beebe, 2008: 3-5).

Komunikasi antar pribadi mempengaruhi hubungan, jika hubungan dan komunikasi terjalin baik, maka akan terjadi jalinan yang panjang, dimana saling menghargai dan memberikan perhatian antara satu dengan yang lain. Para ahli teori komunikasi mendefinisikan komunikasi antarpribadi secara berbeda-beda, dan berikut ini adalah 3 sudut pandang definisi utama:

a. Berdasarkan Komponen

Komunikasi antarpribadi didefinisikan dengan mengamati komponen-komponen utamanya,yaitu mulai dari penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau sekelompok kecil orang, dengan berbagai dampak hingga peluang untuk memberikan umpan balik.

b. Berdasarkan Hubungan Diadik

Komunikasi antarpribadi adalah komunikais yang berlangsung diantara dua orang yang mempunyai hubungan yangmantap dan jelas. Sebagai contoh dapat dilihat pada contoh hubungan komunikasi antarpribadi antara ayah dengan anak,


(37)

19

pramuniaga dengan pelanggan, guru dengan siswa, dan lain-lain. Definisi ini disebut juga definisi diadik, yang menjelaskan bahwa selalu ada hubungan tertentu yang terjadi antara dua orang tertentu, bahkan pada hubungan persahabatan juga dapat dilihat hubungan antarpribadi yang terjalin antara dua sahabat.

c. Berdasarkan Pengembangan

Komunikasi antarpribadi dilihat sebagai akhir dari komunikasi yang bersifat tak pribadi menjadi komunikasi pribadi atau yang lebih intim. Ketiga definisi di atas membantu dalam menjelaskan yang dimaksud dengan komunikasi antarpribadi dan bagaimana komunikasi tersebut berkembang, serta bahwakomunikasi antarpribadi dapat berubah apabila mengalami suatu pengembangan (Devito, 2007: 231-232).

Dalam komunikasi antar pribadi tidak hanya tertuju pada pengertian melainkan ada fungsi yang dari komunikasi antarpribadi itu sendiri. Fungsi komunikasi adalah berusaha meningkatkan hubungan insani, menghindari dan mengatasi konflik pribadi, mengurangi ketidakpastian sesuatu, serta berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan orang lain (Cangara, 2007: 60).

Komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh guru selama mengajar diharapkan tidak hanya terfokus pada pelajaran semata, tetapi juga berpengaruh pada pengembangansoft skill mereka. Para guru harus bisa memahami siswa/siswinya, terutama mereka yang memasuki usia remaja yang rentan dengan berbagai macam pengaruh dari lingkungan. Dengan adanya komunikasi antarpribadi guru dengan siswa diharapkan dapat membentuk konsep diri yang telah ada sebelumnya


(38)

20

menjadi lebih baik. Selain itu, proses komunikasi seperti ini juga dibutuhkan dalam proses belajar mengajar, karena dalam komunikasi harus ada timbal balik (feedback) antara komunikator dengan komunikan. Begitu juga dengan pendidikan membutuhkan komunikasi yang baik, sehingga apa yang disampaikan, dalam hal ini materi pelajaran, oleh komunikator (guru) kepada komunikan (siswa) bisa dicerna oleh siswa dengan optimal, sehingga tujuan pendidikan yang ingin dicapai bisa terwujud. Tidak mungkin bila komunikasi dilakukan tidak baik maka hasilnya akan bagus.

b. Ciri-ciri Komunikasi Antarpribadi

Liliweri (2006:115) mengemukakan bahwa komunikasi antarpribadi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

1) Spontan dan terjadi sambil lalu saja (umumnya tatap muka). 2) Tidak mempunyai tujuan terlebih dahulu.

3) Terjadi secara kebetulan di antara peserta yang tidak mempunyai identitas yang belum tentu jelas.

4) Berakibat sesuatu yang disengaja maupun tidak disengaja. 5) Kerapkali berbalas-balasan.

6) Mempersyaratkan adanya hubungan paling sedikit dua orang, serta hubungan harus bebas, bervariasi, adanya keterpengaruhan.

7) Harus membuahkan hasil.


(39)

21

c. Tujuan Komunikasi Antarpribadi

Dalam kegiatan apapun komunikasi antarpribadi tidak hanya memiliki cirri tertentu, tetapi juga memiliki tujuan agar komunikasi antarpribadi tetap berjalan dengan baik. Adapun tujuan dari komunikasi antarpribadi adalah sebagai berikut: 1) Mengenal diri sendiri dan orang lain. Salah satu cara amengenal diri sendiri

adalah melelui komunikasi antarpribadi. Komunikasi antarpribadi memberikan kesempatan bagi kita untuk memperbincangkan diri kita sendiri, dengan membicarakan tentang diri kita sendiri pada orang lain. Kita akan mendapatkan perspektif baru tentang diri kita sendiri dan memahami lebih mendalam tentang sikap danperilaku kita. Pada kenyataannya, persepsi-persepsi diri kita sebagian besar merupakan hasil yang dari apa yang kita pelajari tentang diri kita sendiri dari orang lain melalui komunikasi antarpribadi.

2) Mengetahui dunia luar. Komunikasi antar pribadi juga memungkinkan kita untuk memahami lingkungan kita secara baik yakni tentang objek, kejadian-kejadian, dan orang lain. Banyak hal yang sering kita bicarakan melalui komunikasi antarpribadi mengenai hal-hal yang disajikan di media massa. 3) Menciptakan dan memelihara hubungan. Manusia diciptakan sebagai

makhluk sosial, hingga dalam kehidupan sehari-hari orang ingin menciptakan dan memelihara hubungan dekat dengan orang lain. Dengan demikian banyak waktu yang digunakan dalam komunikasi antarpribadi bertujuan untuk menciptakan dan memelihara hubungan sosial dengan orang lain. Hubungan demikian membantu mengurangi kesepian dan ketegangan serta membuat kita merasa lebih positif tentang diri kita sendiri.


(40)

22

4) Mengubah sikap dan perilaku. Dalam komunikasi antarpribadi sering kita berupaya mengubah sikap dan perilaku orang lain. Keinginan memilihsuatu cara tertentu, mencoba makanan baru, membaca buku, berfikir dalam cara tertentu, dan sebagainya. Singkatnya banyak yang kita gunakan untuk mempersuasikan orang lain melalui komunikasi antarpribadi.

5) Bermain dan mencari hiburan. Bermain mencakup semua kegiatan untuk memperoleh kesenangan. Pembicaraan-pembicaraan lain yang hampir sama merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memperoleh hiburan. Seringkali hal tersebut tidak dianggap penting, tapi sebenarnya komunikasi yang demikian perlu dilakukan, karena memberi suasana lepas dari keseriusan, ketegangan, kejenuhan, dan sebagainya.

6) Membantu orang lain. Kita sering memberikan berbagai nasihat dan saran pada teman-teman yang sedang menghadapi masalah atau suatu persoalan dan berusaha untuk menyelesaikannya. Hal ini memperlihatkan bahwa tujuan dari proses komunikasi antarpribadi adalah membantu orang lain (Cangara, 2007: 60).

Menurut Devito (2007: 259-268) komunikasi antarpribadi dapat menjadi efektif maupun sebaliknya, karena apabila terjadi suatu permasalahan dalam hubungan, diantaranya hubungan persahabatan, maka komunikasi antarpribadi menjadi tidak efektif. Berikut ini terdapat 3 sudut pandang yang membahas tentang karakteristik komunikasi antarpribadi yang efektif yaitu:

1) Sudut Pandang Humanistik

Sudut pandang yang menekankan pada keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, dan kesetaraan yang menciptakan interaksi yang bermakna, jujur,


(41)

23

dan memuaskan. Beberapa hal yang ditekankan dalam sudut pandang yang memiliki penjabaran yang luas, diantaranya:

a) Keterbukaan, yang memiliki pengertian bahwa dalam komunikasi antarpribadi yang efektif harus terbuka kepada orang yang diajak berinteraksi, kesediaan untuk mebuka diri, kesediaan untuk mengakui perasaan dan pikiran yang dimiliki dan mempertanggung jawabkannya. b) Empati, kemampuan seseorang untuk mengetahui apa yang sedang dialami

orang lain pada suatu saat tertentu, dari sudut pandang orang lain tersebut, dimana seseorang juga mampu untuk memahami motivasi dan pengalaman orang lain, perasaan, dan sikap mereka, serta harapan dan keinginan mereka untuk masa depannya.

c) Sikap mendukung, dalam hai ini merupakan pelengkap daripada kedua hal sebelumnya, karena komunikasi yang terbuka dan empati tidak dapat berlangsung dalam suasana tidak mendukung.

d) Sikap positif, komunikasi antarpribadi akan terbina apabila orang memilki sikap yang positif terhadap diri mereka sendiri, karena orang yang merasa positif dengan diri sendiri akan mengisyaratkan perasaan kepada orang lain, yang selanjutnya juga akan merefleksikan perasaan positif kepada lawan bicaranya, kemudian sifat positif juga dapat diwijudkan dengan memberikan suatu sikap dorongan dengan menunjukkan sikap menghargai keberadaan, pendapat, dan pentingnya orang lain, dimana perilakuini sangat bertentangan dengan sikap acuh.

e) Kesetaraan, memiliki pengertian bahwa kita menerima pihak lain atau mengakui dan menyadari bahwa kedua belah pihak sama-sama bernilai dan


(42)

24

berharga. Karena pada kesetaraan, suatu konflik akan lebih dapat dilihat sebagai upaya untuk memahami perbedaan yang pasti ada daripada sebagai kesempatan untuk menjatuhkan pihak lain (Devito, 2007: 259-268).

2) Sudut Pandang Pragmatis

Sudut pandang yang menekankan pada manajemen dan kesegaran interaksi secara umum, kualitas-kualitas yang menentukan pencapaian tujuan spesifik.

Ancangan pragmatis, keperilakuan atau sering dikatakan sebagai ancangan “keras” untuk efektifitas antarpribadi, adakalanya dinamai model kompetensi, memusatkan pada perilaku spesifik yang harus digunakan oleh komunikator untuk mendapat hasil yang diinginkan. Model ini menawarkan lima kualitas efektifitas: kepercayaan diri, kebersatuan, manajemen interaksi, daya pengungkapan dan orientasi ke pihak lain. (Spitzberg & Cupach, Spitzberg & Hecht, 1984 dalam Devito, 2007: 147).

Beberapa hal yang ditekankan dalam sudut pandang ini adalah sebagai berikut: a) Kepercayaan diri, komunikator yang efektif memiliki kepercayaan diri,

dimana hal itu dapat dilihat pada kemampuan untuk menghadirkan suasana nyaman pada saat berinteraksi diantara orang-orang yang merasa gelisah, pemalu atau khawatir.

Dapat diartikan keberanian individu untuk melakukan sesuatu hal yang menurut anggapannya benar atau sikap positif seorang individu yang memampukan dirinya untuk mengembangkan penilaian positif baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan/situasi yang dihadapinya. Hal ini bukan berarti bahwa individu tersebut mampu dan kompeten melakukan segala sesuatu seorang


(43)

25

diri, alias “sakti”. Rasa percaya diri yang tinggi sebenarnya hanya merujuk pada adanya beberapa aspek dari kehidupan individu tersebut dimana ia merasa memiliki kompetensi, yakin, mampu dan percaya bahwa dia bisa – karena didukung oleh pengalaman, potensi aktual, prestasi serta harapan yang realistik terhadap diri sendiri. Sedangkan orang yang kurang percaya diri sedapat mungkin akan cenderng menarik diri atau menghindari situasi komunikasi.

Komunikator yang efektif mempunyai kepercayaan diri yang sosial. Komunikator yang secara sosial memiliki kepercayaan diri bersikap santai, tidak kaku, fleksibel dalam suara dan gerak tubuh, tidak terpaku pada nada suara tertentu dan gerak tubuh tertentu, terkendali dan tidak gugup atau canggung. Sehingga perasaan cemas tidak dengan mudah dilihat orang.

b) Kebersatuan, mengacu pada penggabungan antara pembicara dan pendengar, dimana terciptanya rasa kebersamaan dan kesatuan yang mengisyaratkan minat dan perhatian untuk mau mendengarkan. Mengacu pada penggabungan antara pembicara dan pendengar sehingga tercipta rasa kebersamaan dan kesatuan. Komunukator yang memperlihatkan kebersatuan mengisyaratkan minat dan perhatian. Bahasa yang menunjukan kebersatuan umumnya ditanggapi lebih positif ketimbang bahasa yang tidak menunjukan kebersatuan. Kebersatuan menyatukan pembicara dan pendengar.

Secara nonverbal kita mengkomunikasikan kebersatuan dengan memelihara kontak mata yang patut, kedekatan fisik yang menggemakan kedekatan psikologis, serta sosok tubuh yang langsung dan terbuka. Ini meliputi gerakan tubuh yang dipusatkan pada orang yang anda ajak berinteraksi, tidak terlalu


(44)

26

banyak melihat kesana-kemari, tersenyum kepada orang itu, dan perilaku lain yang mengisyaratkan, "Saya berminat kepada anda."

Kebersatuan dikomunikasikan secara verbal dengan berbagai cara. Misalnya: a) Menyebut nama lawan bicara.

b) Menggunakan kata ganti yang mencakup baik pembicara maupun pendengar.

c) Memberikan umpan balik yang relevan.

d) Tunjukkanlah bahwa anda memusatkan perhatian pada kata-kata lawan bicara.

e) Kukuhkan, hargai, atau pujilah lawan bicara.

f) Sertakan referensi-diri ke dalam pemyataan yang bersifat evaluatif.

c) Manajemen interaksi, dalam melakukan komunikasi dapat mengendalikan interaksi untuk kepuasan kedua belah pihak, hingga tidak seorang pun merasa diabaikan atau merasa menjadi tokoh yang paling penting. Beberapa cara yang tepat untuk melakukannya adalah dengan menjaga peran sebagai pembicara dan pendengar melalui gerakan mata, ekspresi vokal, gerakan tubuh dan wajah yang sesuai dan juga dengan saling memberikan kesempatan untuk berbicara merupakan wujud dari manajemen interaksi.

Komunikator yang efektif mengendalikan interaksi untuk kepuasan kedua pihak. Dalam manalemen interaksi yang efektif, tidak seorangpun merasa diabaikan atau merasa menjadi tokoh penting. Masing-masing pihak berkontribusi dalam


(45)

27

keseluruhan komunikasi. Menjaga peran sebagai pembicara dan pendengar dan melalui gerakan mata, ekspresi vocal, serta gerakan tubuh dan wajah yang sesuai, saling memberikan kesempatan untuk berbicara merupakan keterampilan manajemen interaksi.

Manajemen interaksi yang efektif menyampaikan pesan-pesan verbal dan nonverbal yang saling bersesuaian dan saling memperkuat. Layak dikemukakan di sini bahwa wanita pada umumnya menggunakan ekspresi nonverbal yang lebih positif dan lebih menyenangkan ketimbang pria. Sebagai contoh, wanita lebih banyak tersenyum, lebih banyak mengangguk tanda setuju, dan lebih terbuka dalam mengungkapkan perasaan positif. Tetapi, ketika mengungkapkan perasaan marah atau kekuasaan yang dimiliki, banyak wanita yang tetap menggunakan isyarat-isyarat nonverbal positif ini, sehingga melemahkan ekspresi kemarahan atau kekuasaan tersebut. Hasilnya adalah bahwa wanita demikian seringkali canggung dalam memperlihatkan emosi negatif, dan lawan bicara karenanya kurang bisa mempercayai mereka atau merasa terancam oleh perilaku ini.

d) Daya ekspresi, mengacu pada kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang ingin disampaikan dengan aktif, bukan dengan menarik diri atau melemparkan tanggung jawab kepada orang lain. Mengacu pada keterampilan mengkomunikasikan keterlibatan tulus dalam interaksi pribadi, kita berperan serta dalam permainan dan tidak hanya sekedar menjadi penonton. Dalam situasi konflik daya ekspresi mencakup ikut berkelahi secara aktif menyatakan ketidaksetujuan, bukan berkelahi secara pasif, menarik diri atau melemparkan tanggungjawab kepada orang lain.


(46)

28

Gerak-gerik tubuh mampu mengkomunikasikan keterlibatan. Kita mendemonstrasikan daya ekspresi dengan menggunakan variasi dalam kecepatan, nada, volume dan ritme suara untuk mengisyaratkan keterlibatan dan perhatian dan dengan membiarkan otot-otot wajah mencerminkan dan menggemakan keterlibatan ini. Menggunakan terlalu sedikit gerak-gerik mengisyaratkan ketiadaan minat. Terlalu banyak gerak-gerik dapat mengkomunikasikan ketidaknyamanan, kecanggungan dan kegugupan.

e) Orientasi kepada orang lain, dalam hal ini dimaksudkan untuk lebih menyesuaikan diri pada lawan bicara dan mengkomunikasikan perhatian dan minat terhadap apa yang dikatakan oleh lawan bicara. Mengacu pada kemampuan kita untuk menyesuaikan diri dengan lawan bicara selama perjumpaan antar pribadi. Orientasi ini mencakup pengkomunikasian perhatian dan minat terhadap apa yang dikatakan lawan bicara. Mengkomunikasikan orientasi kepada orang lain melalui verbal dan nonverbal. Komunikator yang berorientasi kepada lawan bicara melihat situasi dan interaksi dari sudut pandang lawan bicara dan menghargai perbedaan pandangan dari lawan bicara ini.

Begitu juga orang berorientasi pada lawan bicara mengkomunikasikan pengertian empatik dengan menggemakan perasaan pihak lain atau mengungkapkan pengalaman atau perasaan yang sama. Bentuk perwujudan empati, orang yang berorientasi pada lawan bicara mendengarkan dengan penuh perhatian dan memperlihatkan perhatian ini secara verbal dan nonverbal. Orientasi kepada lawan bicara memberikan umpan balik yang


(47)

29

cepat dan pantas yang menunjukan pemahaman mendalam tentang perasaan dan pikiran. (Devito, 2007: 259-268).

3) Sudut Pandang Pergaulan Sosial

Sudut pandang yang berdasarkan model ekonomi imbalan dan biaya. Suatu hubungan diasumsikan sebagai suatu kemitraan dimana imbalan dan biaya saling dipertukarkan (Devito, 2007: 259-268)

Komunikasi memiliki peranan yang sangat penting dalam proses belajar mengajar salah satunya yaitu mencapai tujuan pendidikan. Adanya komunikasi antara guru dan murid dalam pembelajaran sangatlah penting. Tanpa adanya komunikasi, proses belajar mengajar tidak akan bisa berjalan dengan baik. Bentuk komunikasi yang efektif untuk digunakan dalam kegiatan belajar mengajar adalah bentuk komunikasi antarpersonal. Karena dalam kedua proses tersebut dapat menghasilkan feedback (timbal balik) yang dimana dapat mengetahui apakah komunikasi dapat diterima dengan baik atau tidak. Selain itu kedua proses tersebut dapat memaksimalkan penyampaian informasi dari guru kepada siswanya, agar informasi yang diberikan oleh guru dapat diterima dan dicerna dengan baik oleh siswanya.


(48)

30

B. Ketaatan Siswa

1. Pengertian Kekepatuhanan

Kepatuhan mencakup setiap macam pengaruh yang ditunjukkan untuk membantu peserta didik agar ia dapat memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungannya dan juga penting tentang cara menyelesaikan tuntutan yang mungkin ingin ditunjukkan peserta didik terhadap lingkungannya (Yamin, 2011: 47).

Menurut Wikipedia (2006) mengemukakan kepatuhan merupakan bentuk pelatihan yang menghasilkan suatu karakter atau perilaku khusus yang menghasilkan perkembangan moral, fisik dan mental untuk tujuan tertentu.

2. Unsur-unsur Kepatuhan

Menurut Tulus Tu’u (2004:33) menyebutkan unsur – unsur Kepatuhan adalah sebagai berikut:

a. Mengikuti dan menaati peraturan, nilai dan hukum yang berlaku.

b. Pengikutan dan ketaatan tersebut terutama muncul karena adanyakesadaran diri bahwa hal itu berguna bagi kebaikan dan keberhasilan dirinya. Dapat juga muncul karena rasa takut, tekanan, paksaan dan dorongan dari luar dirinya. c. Sebagai alat pendidikan untuk mempengaruhi, mengubah, membina,dan

membentuk perilaku sesuai dengan nilai-nilai yang ditentukan atau diajarkan. d. Hukuman yang diberikan bagi yang melanggar ketentuan yang berlaku, dalam

rangka mendidik, melatih, mengendalikan dan memperbaiki tingkah laku. e. Peraturan-peraturaan yang berlaku sebagai pedoman dan ukuran perilaku.


(49)

31

3. Fungsi Kepatuhan

Kepatuhan sangat penting dan dibutuhkan oleh setiap siswa. Kepatuhanmenjadi prasyarat bagi pembentukan sikap, perilaku dan tata kehidupanberkepatuhan, yang akan mengantar seorang siswa sukses dalam belajardan kelak ketika bekerja.Berikut ini akan dibahas beberapa fungsi kepatuhan menurut Tulus Tu’u (2004:38) yaitu:

a. Menata Kehidupan Bersama. Fungsi kepatuhan adalah mengatur tata kehidupan manusia, dalamkelompok tertentu atau dalam masyarakat. Dengan begitu, hubunganantara individu satu dengan yang lain menjadi baik dan lancar.

b. Membangun KepribadianLingkungan yang berkepatuhan baik, sangat berpengaruh terhadap kepribadian seseorang. Apalagi seorang siswa yang sedang tumbuh kepribadiannya, tentu lingkungan sekolah yang tertib, teratur, tenang,tenteram, sangat berperan dalam membangun kepribadian yang baik. c. Melatih Kepribadian Sikap, perilaku dan pola kehidupan yang baik dan

berkepatuhan tidak terbentuk serta-merta dalam waktu singkat. Namun, terbentuk melalui satu proses yang membutuhkan waktu panjang. Salah satuproses untuk membentuk kepribadian tersebut dilakukan melalui latihan. d. Pemaksaan. Dari pendapat itu, kepatuhan dapat terjadi karena dorongan

kesadarandiri. Kepatuhan dengan motif kesadaran diri ini lebih baik dan kuat.Dengan melakukan kepatuhan dan ketaatan atas kesadaran diri, bermanfaat bagi kebaikan dan kemajuan diri. Sebaliknya, kepatuhan dapat pula terjadi karena adanya pemaksaan dantekanan dari luar.


(50)

32

e. Hukuman Tata tertib sekolah biasanya berisi hal-hal positif yang harusdilakukan oleh siswa. Sisi lainnya berisi sanksi atau hukuman bagiyang melanggar tata tertib tersebut. Ancaman sanksi/hukuman sangat penting karena dapat memberi dorongan dan kekuatan bagisiswa untuk menaati dan mematuhinya. Tanpa ancaman hukuman/sanksi, dorongan ketaatan dan kepatuhan dapat diperlemah. Motivasi untuk hidup mengikuti aturan yang berlaku menjadi lemah.

f. Menciptakan Lingkungan yang Kondusif. Kepatuhan sekolah berfungsi mendukung terlaksananya proses dan kegiatan pendidikan agar berjalan lancar. Ha1 itu dicapai dengan merancang peraturan sekolah, yakni peraturan bagi guru-guru, dan bagi para siswa, serta peraturan-peraturan lain yang dianggap perlu.Kemudian diimplementasikan secara konsisten dan konsekuen. Dengan demikian, sekolah menjadi lingkungan pendidikan yangaman, tenang, tenteram, tertib dan teratur. Lingkungan seperti ini adalah lingkungan yang kondusif bagi pendidikan.


(51)

33

C. Kerangka Pikir

Berdasarkan landasan teori di atas, maka dapat disusun kerangka pikir sebagai berikut:

Gambar 2.1 Kerangka Pikir

Guru Bimbingan Konseling (BK) melakukan komunikasi antarpribadi dengan pendekatan pragmatis 1. Kepercayaan diri

2. Kebersatuan

3. Manajemen interaksi 4. Daya ekspresi

5. Orientasi kepada orang lain

Ketaatan Siswa: 1. Menggunakan seragam lengkap dan rapi

2. Rambut harus rapi, harus menggunakan sepatu model warior atau NB

3. Kuku tidak boleh panjang, tali sepatu berwarna putih 4. Tidak boleh bertato, tidak boleh membawa motor 5. Siswa harus masuk sebelum bel berbunyi, tidak boleh

terlambat

6. Selama pelajaran berlangsung dan pada pergantian jam pelajaran siswa dilarang berada di luar kelas

7. Tidak boleh membolos

8. Tidak boleh minum minuman keras

9. Mengedarkan dan mengkonsumsi narkotika 10. Membawa senjata tajam

11. Tidak boleh membawa HP 12. Tidak boleh berkata kotor.

P rose s pe ruba h an pe ri la k u a ga r m enj adi t aa t Komunikasi antarpribadi 1. Berdasarkan Komponen

2. Berdasarkan Hubungan Diadik 3. Berdasarkan Pengembangan


(52)

III. METODE PENELITIAN

A. Tipe Penelitian

Penelitian ini menggunakan tipe penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain. Secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Lexy J, 2005: 15).

Penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan manusia dan kawasannya dan dalam peristilahannya.

Penelitian kualitiatif digunakan untuk meneliti objek dengan cara menuturkan, menafsirkan data yang ada, dan pelaksanaannya melalui pengumpulan, penyusunan, analisa dan interpretasi data yang diteliti pada masa sekarang. Tipe penelitian ini dianggap sangat relevan untuk dipakai karena menggambarkan keadaan objek yang ada pada masa sekarang secara kualitatif berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian.


(53)

35

Penelitian kualitatif dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran dan keterangan-keterangan secara jelas dan faktual tentang peranan komunikasi antarpribadi guru Bimbingan Konseling (BK) terhadap ketaataan siswa SMPN 19 Bandar Lampung.

B. Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian melalui pendekatan kualitatif dimana dalam penelitian yang telah dilakukan memiliki tujuan untuk menganalisis dan menggambarkan mengenai peranan komunikasi antarpribadi guru Bimbingan Konseling (BK) terhadap ketaataan siswa SMPN 19 Bandar Lampung.

Menurut Bogdan dan Taylor (2008: 27) mendefinisikan kualitatif adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tulisan/lisan dari orang lain/perilaku yang dapat diamati. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang berusaha melihat kebenaran-kebenaran atau membenarkan kebenaran, namun di dalam melihat kebenaran tersebut, tidak selalu dapat dan cukup didapat dengan melihat sesuatu yang nyata, akan tetapi kadangkala perlu pula melihat sesuatu yang bersifat tersembunyi, dan harus melacaknya lebih jauh ke balik sesuatu yang nyata tersebut.

C. Fokus Penelitian

Penelitian ini akan memfokuskan pada:

1. Peranan komunikasi antarpribadi guru Bimbingan Konseling (BK) SMPN 19 Bandar Lampung


(54)

36

D. Informan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan secara purposive, maka informan yang dilibatkan adalah informan dengan kriteria sebagai berikut: 1. Sebagai subjek penelitian adalah guru Bimbingan Konseling (BK) SMPN

19 Bandar Lampung sebanyak 6 orang

2. Siswa SMPN 19 Bandar Lampung sebanyak 10 orang yang melanggar peraturan sekolah yaitu wajib masuk pelajaran selama 6 hari, tidak boleh terlambat masuk sekolah, menggunakan pakaian seragam yang rapi, tidak memboleh merokok dan membawa senjata tajam. Pelanggaran yang paling sering dilakukan siswa adalah membolos dan tidak tertib dalam proses belajar mengajar.

3. Kepala SMPN 19 Bandar Lampung

Adapun penentuan informan dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik purposivedimana informan dipilih secara sengaja berdasarkan kriteria-kriteria ditentukan dan ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian.

E. Teknik Pengumpulan Data

Menurut Hadari (2008: 48), untuk memperoleh data dalam penelitian ini, maka digunakan teknik pengumpulan data melalui:

1. Dokumentasi

Dokumentasi yaitu suatu teknik pengumpulan data yang digunakan dalam rangka pengumpulan data sekunder seperti data tentang gambaran peranan komunikasi antarpribadi guru Bimbingan Konseling (BK) terhadap ketaatan siswa SMPN 19 Bandar Lampung.


(55)

37

2. Wawancara

Teknik wawancara digunakan untuk mengungkap keterangan dari responden dengan menggunakan wawancara mendalam (indeepth interview). Sebelum wawancara dimulai, peneliti menceritakan terlebih dahulu pokok-pokok penelitian, kemudian subyek penelitian dibiarkan bercerita tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan peranan komunikasi antarpribadi guru Bimbingan Konseling (BK) terhadap ketaatan siswa SMPN 19 Bandar Lampung. Wawancara dilakukan peneliti pada guru Bimbingan Konseling (BK) dan siswa SMPN 19 Bandar Lampung

3. Observasi

Digunakan peneliti dalam rangka pengamatan pada peranan komunikasi antarpribadi guru Bimbingan Konseling (BK) terhadap ketaatan siswa, yaitu peranan komunikasi antarpribadi guru Bimbingan Konseling (BK) terhadap ketaatan siswa. Pembentukan ketaatan siswa, yaitu pembentukan konsep diri dan sifat siswa yang ditimbulkan dari komunikasi yang terjalin dengan orang tua yang meliputi persepsi individu akan sifat dan kemampuannya, interaksi dengan orang lain dan lingkungan, nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman dan objek, tujuan serta keinginannya sesuai dengan tujuan penelitian yaitu peranan komunikasi antarpribadi guru Bimbingan Konseling (BK) terhadap ketaatan siswa SMPN 19 Bandar Lampung.


(56)

38

F. Teknik Analisis Data

Penelitian yang akan dilakukan yaitu bersifat kualitatif yaitu menurut Arikunto (2006:48), bahwa penelitian kualitatif adalah data yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat-kalimat yang dipisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan. Dengan analisis kualitatif ini diharapkan dapat menjawab dan memecahkan masalah dengan melakukan pemahaman dan pendalaman secarah menyeluruh dan utuh dari objek yang akan diteliti guna mendapatkan kesimpulan sesuai sesuai dengan kondisi.

1. Reduksi Data

Diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, mengabstrakan, dan transpormasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Dimana setelah penulis memperoleh data maka data yang penulis peroleh itu harus lebih dulu dikaji kelayakannya, dengan memilih data mana yang benar-benar dibutuhkan dalam penelitian ini.

2. Display (Penyajian Data)

Penyajian data dibatasi sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dalam penelitian ini penulis menyajikan data yang dibutuhkan dengan menarik kesimpulan dan tindakan dalam penyajian data.

3. Verifikasi (Menarik Kesimpulan)

Kesimpulan selama penelitian berlangsung makna-makna yang muncul dari data yang diuji kebenaranya, kekokohannya dan kecocokannya yang


(57)

39

jelas kebenaranya dan kegunaannya. Setelah seluruh data yang penulis peroleh, penulis harus benar-benar menguji kebenaranya untuk mendapatkan kesimpulan yang jelas dari data-data itu, sehingga diperoleh kesimpulan yang jelas kebenarannya dan kegunaannya.


(58)

IV. GAMBARAN UMUM DAN OBJEK PENELITIAN

A. Gambaran Singkat SMPN 19 Bandar Lampung

SMP Negeri 19 Bandar Lampung merupakan salah satu SMP milik pemerintah yang beralamat di Jl. Turi Raya No. 1 Kecamatan TanjungSenang Bandar Lampung. Saat ini sekolah tersebut memiliki nomor statistik sekolah (NSS) dengan tipe sekolah “A” . SMPN 19 Bandar Lampung adalah Sekolah Standar Nasional.

SMP Negeri 19 Bandar Lampung Lahir pada tanggal 23 Desember 1985 di Kecamatan Kedaton waktu itu dengan nama SMP Negeri 2 Kedaton, kemudian diganti SLTP Negeri 19 Bandar Lampung.Sekolah kami pernah mendapat juara Lomba Wawasan wiyata mandala tingkat Nasional tahun 1991-1992.

Kondisi guru di SMP Negeri 19 Bandar Lampung terdiri dari 24 orang guru yang terdiri dari 17 orang guru tetap dan 7 orang guru honor sekolah. Sedangkan kondisi siswa SMP Negeri 19 Bandar Lampung pada tahun pelajaran 2015/2016 berjumlah 201 orang.

B. Visi dan Misi SMPN 19 Bandar Lampung

Visi SMPN 19 Bandar Lampung dirumuskan dengan kalimat: “Unggul Dan Berkarakter” dengan indikator :


(59)

41

a. Maju dalam peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta keimanan dan ketakwaan.

b. Unggul dalam peningkatan pencapaian kompetensi kelulusan. c. Unggul dalam memperoleh nilai UN.

d. Meningkatkan profesionalisme pendidik dan tenaga pendidik. e. Maju dalam peningkatan prestasi kegiatan ekstrakurikuler.

f. Memiliki fasilitas sekolah yang lengkap untuk menunjang peningkatan prestasi akademis dan non akademis.

g. Mendapatkan kepercayaan yang tinggi dari masyarakat.

Visi ini akan menjiwai warga sekolah kami untuk selalu mewujudkannya setiap saat dan berkelanjutan dalam mencapai tujuan sekolah. Visi tersebut mencerminkan profil dan cita-cita sekolah yang:

a. Berorientasi ke depan dengan memperhatikan potensi kekinian b. Sesuai dengan norma dan harapan masyarakat

c. Ingin mencapai keunggulan

d. Mendorong semangat dan komitmen seluruh warga sekolah e. Mendorong adanya perubahan ke arah yang lebih baik f. Mengarahkan langkah-langkah strategis (misi) sekolah

Misi SMPN 19 Bandar Lampung: ”disiplin kerja yang tinggi dalam mewujudkan manajemen berbasis sekolah, kerjasama yang harmonis, dan pelayanan prima di segala bidang


(60)

42

C. Organisasi Pelayanan Bimbingan dan Konseling

Struktur organisasi BK yaitu suatu susunan/ bagan dalam organisasi untuk memberikan pelayanan-pelayanan kepada klien yang terdapat pada Bimbingan Konseling. Berikut adalah struktur organisasi BK di SMP Negeri 19 Bandar Lampung

Keterangan:

a. Kepala sekolah sebagai koordinator bimbingan dan konseling adalah penanggung jawab langsung serta pemegang kebijakan dalam pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah.


(61)

43

b. Kepala sekolah dalam melaksanakan teknis bimbingan dan konseling di sekolah dapat mengadakan kerjasama dengan pihak dari Komite Sekolah. c. Guru Pembimbing atau konselor dalam melaksanakan tugasnya dapat

mengadakan kerjasama dengan staf guru mata pelajaran dalam kegiatan perencanaan dan pelaksanaan program layanan bimbingan. Dan penentuan kebijakan dalam pelaksanaan program layanan bimbingan sepenuhnya menjadi tanggung jawab kepala sekolah

D. Mekanisme Kerja Bimbingan dan Konseling di SMP Negeri 19 Bandar Lampung

Mekanisme kerja administrasi Bimbingan Konseling adalah suatu pola kerja administrasi dalam Bimbingan Konseling yang dilaksanakan di sekolah agar pelaksanaan pelayanan BK di sekolah tersebut dapat berjalan secara teratur dan mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Di SMP Negeri 19 Bandar Lampung pelaksanaan mekanisme kerja bimbingan dan konseling dimulai dari guru mata pelajaran kemudian kepada wali kelas dan baru kepada guru bimbingan dan konseling kemudian kepala sekolah jika masalah yang dihadapi siswa dirasa sudah sangat urgent. Akan tetapi mekanisme tersebut tidak selamanya di ikuti. Terkadang guru mata pelajaran langsung kepada guru bimbingan dan konseling tanpa melalui wali kelas. Kerja sama antara guru mata pelajaran, wali kelas, dan guru bimbingan dan konseling yaitu :

1. Guru mata pelajaran a. Daftar nilai

Membantu memberikan informasi tentang data siswa yang berhubungan dengan daftar nilai siswa. Guru bimbingan dan konseling diberikancopy filedata nilai siswa perkelas.


(62)

44

b. Catatan observasi siswa

Dalam penerapannya observasi dikelas dilakukan oleh guru mata pelajaran pada saat jam pelajaran dan penyampaiannya tidak tertulis melainkan hanya secara lisan.

2. Wali Kelas

Wali kelas membantu mengkoordinasi memberikan informasi dan kelengkapan data yang meliputi:

a. Daftar nilai

Selain dari guru mata pelajaran, wali kelas juga membantu memberikan informasi tentang daftar nilai siswa secara keseluruhan.

b. Laporan observasi siswa

Laporan observasi diberikan kepada guru bimbingan dan konseling secara lisan bukan tertulis.

c. Catatan anekdot

Wali kelas juga memiliki catatan anekdot atau catatan kejadian siswanya baik yang bermasalah maupun siswa yang berprestasi. Hasil yang disampaikan kepada guru bimbingan dan konseling juga berbentuk lisan.

d. Home visit

Home visit ini dilakukan oleh wali kelas bersama-sama dengan guru bimbingan dan konseling. Home visit dilakukan apabila orang tua siswa sudah diberikan surat panggilan tiga kali dan tidak pernah hadir.


(63)

45

3. Guru bimbingan dan konseling

Di samping bertugas memberikan layanan informasi kepada siswa juga sebagai sumber data yang meliputi:

a. Kartu akademis

Kartu akademis ini berupa daftar nilai siswa. Kartu akademis ini diperoleh dari guru mata pelajaran, wali kelas, dan file dari bagian tata usaha.

b. Catatan konseling

Catatan konseling ini adalah catatan yang berisi hasil konseling yang telah dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling.

c. Buku pribadi/map pribadi

Buku pribadi / map pribadi ini berisi data pribadi seluruh siswa dan juga kejadian-kejadian / kasus yang pernah dilakukan oleh siswa.

d. Data psikotes

Data psiko tes ini adalah hasil dari tes psikologi yang telah dilakukan oleh pihak terkait. Dalam hal ini guru bimbingan dan konseling mempunyai salinan hasilnya.

e. Laporan bulanan kegiatan bimbingan dan konseling

Laporan kepada kepala sekolah mengenai kegiatan bimbingan dan konseling ini tidak dilakukan pada tiap bulan akan tetapi pada tiap akhir semester.

f. Catatan konferensi kasus

Konferensi kasus ini dilakukan apabila masalah yang dihadapi siswa sangat urgent. Konferensi kasus ini melibatkan kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan pihak terkait yang terlibat. Konferensi kasus yang pernah dilakukan adalah kasus pencurian.


(64)

46

g. Notula rapat

Guru bimbingan dan konseling tidak memiliki notula rapat karena notula rapat biasanya bergabung menjadi satu dengan sekolah.

4. Kepala Sekolah

Kepala sekolah bertanggung jawab dalam penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Hal yang perlu diketahui oleh kepala sekolah adalah :

a. Laporan kegiatan bimbingan dan konseling b. Catatan konferensi kasus.

Terdapat 9 satuan layanan dalam Bimbiningan Konseling (BK) di SMP Negeri 19 Bandar Lampung, yaitu:

a. Layanan orientasi, yakni layanan yang membantu peserta didik untuk mengenal dan memahami keadaan dan situasi yang ada di lingkungan sekolah yang baru dimasukinya.

b. Layanan mediasi, yakni layanan yang dilaksanakan oleh konselor terhadap dua pihak atau lebih yang sedang mengalami keadaan tidak harmonis.

c. Layanan informasi, yakni layanan berupa pemberian pemahaman kepada siswa tentang berbagai hal yang diperlukan untuk menjalani tugas dan kegiatan disekolah.

d. Layanan bimbingan kelompok, yakni layanan yang diberikan kepada sekelompok siswa baik ada ataupun tidak.

e. Layanan konsultasi, yakni layanan yang memungkinkan seseorang memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi atau permasalahan orang lain.


(65)

47

f. Layanan konseling kelompok, yakni layanan bimbingan dan konseling yang diberikan kepada sekelompok individu.

g. Layanan penempatan dan penyaluran, yakni usaha-usaha membantu siswa merencanakan masa depannya selama masih di sekolah dan madrasah dan sesudah tamat, memilih program studi lanjutan sebagai persiapan untuk kelak memangku jabatan tertentu.

h. Layanan penguasaan konten, yakni layanan konseling yang memungkinkan klien mengembangkan diri berkenaan dengan sikap dan kebiasaan belajar yang baik.

i. Layanan konseling perorangan, yakni bentuk layanan tatap muka khusus antara klien dengan konselor dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi yang dialami klien.

E. Objek Penelitian dan Peraturan Sekolah

1. Objek Penelitian

Objek dalam penelitian ini adalah: a. Informan I

Nama : Hj. Sri Chairattini, S. Pd Umur : 45 tahun

Pendidikan : S1

Jabatan : Kepala SMP Negeri 19 Bandar Lampung b. Informan II

Nama : Astina Guswani,S.Pd Umur : 38 tahun


(66)

48

Pendidikan : S1 Jabatan : Guru BK c. Informan II

Nama : Ibu Yeni Farida, S.Pd Umur : 34 tahun

Pendidikan : S1 Jabatan : Guru BK

d. 10 orang siswa sebagai informan kunci (key informan)

2. Peraturan Sekolah

Peraturan yang ditetapkan di SMP Negeri 19 Bandar Lampung, yaitu: a. Menggunakan seragam lengkap dan rapi

b. Rambut harus rapi, harus menggunakan sepatu model warior atau NB c. Kuku tidak boleh panjang, tali sepatu berwarna putih

d. Tidak boleh bertato, tidak boleh membawa motor

e. Siswa harus masuk sebelum bel berbunyi, tidak boleh terlambat

f. Selama pelajaran berlangsung dan pada pergantian jam pelajaran siswa dilarang berada di luar kelas

g. Tidak boleh membolos

h. Tidak boleh minum minuman keras

i. Mengedarkan dan mengkonsumsi narkotika j. Membawa senjata tajam

k. Tidak boleh membawa HP l. Tidak boleh berkata kotor.


(1)

48

Pendidikan : S1 Jabatan : Guru BK c. Informan II

Nama : Ibu Yeni Farida, S.Pd

Umur : 34 tahun

Pendidikan : S1 Jabatan : Guru BK

d. 10 orang siswa sebagai informan kunci (key informan)

2. Peraturan Sekolah

Peraturan yang ditetapkan di SMP Negeri 19 Bandar Lampung, yaitu: a. Menggunakan seragam lengkap dan rapi

b. Rambut harus rapi, harus menggunakan sepatu model warior atau NB c. Kuku tidak boleh panjang, tali sepatu berwarna putih

d. Tidak boleh bertato, tidak boleh membawa motor

e. Siswa harus masuk sebelum bel berbunyi, tidak boleh terlambat

f. Selama pelajaran berlangsung dan pada pergantian jam pelajaran siswa dilarang berada di luar kelas

g. Tidak boleh membolos

h. Tidak boleh minum minuman keras

i. Mengedarkan dan mengkonsumsi narkotika j. Membawa senjata tajam

k. Tidak boleh membawa HP l. Tidak boleh berkata kotor.


(2)

VI. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat diambil simpulan sebagai berikut:

1. Peranan komunikasi antarpribadi guru Bimbingan Konseling (BK) terhadap ketaatan siswa kelas VIII SMPN 19 Bandar Lampung, terlihat dari upaya guru bimbingan dan konseling membiasakan siswa disiplin dalam beraktivitas dimulai dengan memberikan keteladanan, dan membangun kesepakatan nilai keunggulan untuk membentuk karakter siswa tersebut terutama dari sisi kepercayaan diri, kebersatuan, manajemen interaksi, daya ekspresi dan orientasi kepada orang lain yang lebih baik setelah dilakukan komunikasi antarpribadi guru Bimbingan Konseling (BK), dari kelima aspek tersebut aspek yang paling dominan adalah orientasi kepada orang lain dimana pada aspek ini siswa lebih memperhatikan ucapan dan nasehat yang diberikan oleh guru kepada siswa.

2. Bentuk kenakalan siswa di SMP Negeri 19 Bandar Lampung yaitu pelanggaran terhadap peraturan tata tertib sekolah, pelanggaran terhadap kegiatan belajar mengajar, pelanggaran terhadap ketenteraman sekolah, dan pelanggaran terhadap etika pergaulan dengan warga sekolah.


(3)

121

3. Upaya sekolah dalam menanggulangi kenakalan siswa di SMP Negeri 19 Bandar Lampung melalui komunikasi antar pribadi dengan guru BK adalah dilaksanakan dalam bentuk program tahunan sekolah berbasis karakter yang meliputi: (a) aspek pembinaan dan (b) aspek pencegahan kenakalan siswa. Penekanan program kegiatan ini adalah pada pengenalan dan pengamalan/penerapan nilai-nilai karakter yang diharapkan melalui intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. Secara teknis pelaksanaan program sekolah berbasis karakter ini dikoordinir dan dievaluasi oleh BK sekolah yang bersangkutan.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka dapat diberikan bebrapa saran antara lain 1. Bagi sekolah, perlu peningkatan dan berkelanjutan tentang program

sekolah berbasis karakter baik yang bersifat intrakurikuler maupun ekstrakurikuler sehingga dapat mengembangkan potensi diri yang dimiliki siswa dalam rangka membantu proses tugas perkembangan nilai-nilai, sikap, moral dan perilaku yang diharapkan. Untuk itu perlu upaya peningkatan pembentukan karakter siswa melalui pendidikan karakter yang terintegrasi ke dalam setiap materi mata pelajaran sesuai dengan kurikulum sekolah (KTSP).

2. Bagi Guru, hendaknya perlu memahami aspek-aspek psikis dan kepribadian siswa secara teliti dan objektif, sehingga dengan demikian dapat dicegah kemungkinan kecenderungan munculnya perilaku menyimpang atau kenakalan di kalangan siswa, dan memudahkan guru dalam memberikan


(4)

122

pendidikan dan pengajaran karakter kepada siswa sesuai dengan tugas perkembangan usianya. Terlebih lagi bagi guru BK dapatnya berperan aktif dalam menumbuh kembangkan nilai-nilai karakter siswa dengan melakukan pembiasaan (habituasi) dalam bentuk perilaku terutama bagi siswa yang masih sering membolos dalam kegiatan belajar dan perilaku merokok yang masih sering ditemukan.

3. Bagi orang tua siswa, hendaknya perlu proaktif dan menjalin kerjasama yang baik melalui komunikasi yang intensif kepada pihak sekolah dan guru termasuk guru BK, sehingga setiap permasalahan yang muncul pada diri siswa dalam hal ini putra-putrinya dapat ditanggulangi secara dini. Dengan demikian siswa bersangkutan tidak mengalami kesulitan proses pendidikannya di sekolah.


(5)

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S., 2008, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Edisi Revisi 5, 342 h), Rineka Cipta, Jakarta

Beebe, Steven & Redmond, Mark, 2008. Interpersonal Communication. USA: Pearson Education.

Dayakisni, T. & Hudaniah.2006.Psikologi Sosial. Penerbit Erlangga. Jakarta Dessler, G. 2007. Human Resource Management (Seventh Edition). London:

Prince Hall International Inc.

Dessler, G. 2010. Manajemen Sumber Daya Manusia. London: Prince Hall International Inc.

Devito, Joseph. A. 2007. Communicology: An Introductio to The Study of Communication. Harper & Row, Publishing, New York-London.

Devito, Joseph. A. 2007.Komunikasi Antarmanusia. Kuliah Dasar. Edisi Kelima. Profesional Book. Jakarta.

Harold D. Lasswell, 2009 Structure an Function of Communication in Society” dalam. Wilbur Schramm. (Ed)

Hurlock, 2007. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Masa Balai Pustaka. Jakarta.

Koentjoro. 2004. Psikologi Keluarga: Peran Ayah Menuju Coparenting. Citra Media. Yogyakarta

Liliweri, Alo. 2006. Makna Budaya Dalam Komunikasi Antar budaya. Yogyakarta: LkiS.

M. Hariwijaya, 2008. Panduan Mendidik dan Membentuk Watak Anak. Luna Publisher. Jakarta.

Mulyana, Deddy. 2008.Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar.Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Mulyana, Deddy; Rakhmat, Jalaluddin. 2008. Komunikasi Antarbudaya, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.


(6)

Mulyana, Deddy. 2008, Metode Penelitian Kualitatif Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya.Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Nasir, Mohammad. 2009.Metode Penelitian. PT. Ghalia Indonesia. Jakarta. Poewadarminta, 2005.Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta. Sarwono, Sarlito,2006.Psikologi Perkembangan. PT. Ghalia Indonesia. Jakarta. Sobur, Alex. 2006.Anak Masa Depan. Bandung: Angkasa.

Sobur, Alex. 2010.Komunikasi Orang Tua dan Anak. Bandung: Angkasa Soedjatmiko. N.A.2010. Antara Anak dan Keluarga. Surabaya: Rama Press Soegeng Prijodarminto. 2004. Disiplin Kiat Menuju Sukses. Jakarta: Pradiya

Paramita.

Stewart dan Sylvia, 2004. Human Communication (Prinsip-Prinsip Dasar). Penerjemah Deddy Mulyana. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sugiyono, 2004. Statistik Untuk Penelitian. CV Alfa Beta. Bandung.

Uchjana Effendi, Onong, M.A. 2008. Dinamika Komunikasi, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.