BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Pengetahuan Keluarga tentang Perawatan Klien Halusinasi di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

  Manusia adalah mahluk sosial yang terus menerus membutuhkan orang lain disekitarnya. Salah satu kebutuhannya adalah kebutuhan sosial untuk melakukan interaksi sesama manusia. Kebutuhan sosial yang dimaksud adalah rasa dimiliki oleh orang lain, pengakuan dari orang lain, penghargaaan orang lain, serta pernyataan diri. Interaksi yang dilakukan tidak selamanya memberikan hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh individu sehingga mungkin terjadi suatu gangguan terhadap kemampuan individu untuk berinteraksi dengan orang lain. Kehidupan dan keadaan yang menekan terus menerus apabila tidak diwaspadai akan menimbulkan masalah baru yang lebih buruk, yaitu terjadinya penyimpangan jiwa kearah yang negatif (Purwaningsih & Karlina, 2010).

  Proses globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi informasi juga dapat memberi dampak terhadap nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat. Sementara tidak semua orang mempunyai kemampuan yang sama untuk menyesuaikan dengan berbagai perubahan tersebut. Akibatnya, gangguan jiwa saat ini telah menjadi masalah kesehatan yang cukup serius. Banyak orang yang tidak menyadari jika mereka mungkin mengalami masalah kesehatan jiwa, karena masalah kesehatan jiwa bukan hanya gangguan jiwa berat saja. Justru gejala seperti depresi dan cemas kurang dikenali masyarakat sebagai masalah kesehatan jiwa. Permasalahan hidup yang semakin berat dialami hampir oleh semua kalangan masyarakat mulai dari masalah rumah tangga, stress di tempat kerja, tingginya tingkat pengangguran, sampai sulitnya mencari makan. Situasi tersebut dapat mengakibatkan gangguan kesehatan jiwa seperti, depresi, halusinasi bahkan sampai kasus-kasus bunuh diri (Parandrawati, 2008).

  Gangguan jiwa adalah respon maladaptif dari lingkungan internal dan eksternal, dibuktikan melalui pikiran, perasaan dan perilaku yang tidak sesuai dengan norma lokal atau budaya setempat dan mengganggu fungsi sosial, pekerjaan dan atau fisik (Townsend, 2005 dalam Wiyati, Wahyuningsih, Widayanti, 2010). Pengertian ini menjelaskan klien dengan gangguan jiwa akan menunjukan perilaku yang tidak sesuai dengan norma masyarakat dimana perilaku tersebut mengganggu fungsi sosialnya. Masalah kesehatan terutama gangguan jiwa insidennya masih cukup tinggi. Data American Psychiatric Association (APA) tahun 1995 menyebutkan 1% penduduk dunia akan mengidap skizofrenia. Jumlah tiap tahun makin bertambah dan akan berdampak bagi keluarga dan masyarakat (Kaplan & Saddock, 2005 dalam Wiyati, Wahyuningsih, Widayanti, 2010).

  WHO atau World Health Organization (2002) menyebutkan bahwa prevalensi masalah kesehatan jiwa saat ini cukup tinggi, 25% dari penduduk dunia pernah menderita masalah kesehatan jiwa, 1% diantaranya adalah gangguan jiwa berat. Potensi seseorang mudah terserang gangguan jiwa memang tinggi, setiap saat 450 juta orang diseluruh dunia terkena dampak permasalahan jiwa, saraf, maupun perilaku (Hawari, 2007 dalam Riza, Jumaini, Arneliwati, 2012).

  Afganistan, selama 30 tahun periode konflik mayoritas keluarga disana kehilangan setidaknya satu anggota keluarga. Hampir separuh penduduk berusia di atas 15 tahun di negara tersebut menderita gangguan mental seperti depresi, halusinasi, kecemasan, atau stres pasca trauma. Sementara di negara-negara Afrika seperti Nigeria, seperempat pasien di pusat layanan kesehatan memiliki gejala gangguan jiwa dan diperkirakan hanya satu dari enam pasien yang terdiagnosa tersebut mendapatkan perawatan kesehatan yang memadai. Sedangkan di Ghana, pasien di klinik kesehatan mental dibiarkan kelaparan dan telanjang (Anonim, 2012).

  Indonesia mencatat peningkatan jumlah penderita gangguan jiwa cukup banyak, hal ini dikarenakan dari berbagai aspek misalnya keadaan ekonomi yang rendah, konflik yang sering terjadi, bencana dimana-mana (Direja, 2011). Riskesdas tahun 2007 menunjukkan sekitar 11,6% masyarakat Indonesia diatas usia 15 tahun mengalami gangguan jiwa ringan, seperti kecemasan dan depresi.

  Berdasarkan riset tersebut diketahui pula bahwa Jawa Barat menjadi provinsi dengan penderita gangguan jiwa ringan terbanyak, dan Jakarta untuk gangguan jiwa berat terbanyak seperti skizofrenia. Riskesdas juga menunjukkan bahwa sebanyak 25.000 orang pengidap gangguan jiwa mengalami pemasungan atau pengisolasian oleh keluarganya sendiri. Sedangkan 10 persen penderita skizofrenia berakhir dengan bunuh diri (Anonim, 2012).

  Berdasarkan data yang diperoleh dari medical record Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara tahun 2012, jumlah penderita gangguan jiwa yang dirawat jalan adalah 16.770 orang dan rawat inap berjumlah 1.783 orang. Data untuk 10 penyakit gangguan jiwa terbesar, skizofrenia menempati urutan pertama dengan persentase 13.423 orang (80%) untuk rawat jalan, dan 1.398 orang (78,4%) untuk rawat inap (Medical Record RSJD Provsu, 2012).

  Skizofrenia merupakan penyakit neurologis yang memengaruhi persepsi klien, cara berpikir, bahasa, emosi, dan perilaku sosialnya. Perubahan atau pergantian semua sensasi akan secara khusus mencolok pada tahap awal skizofrenia. Orang diliputi oleh membanjirnya sensasi-sensasi yang mereka rasakan, sebagaimana halnya jika penyaringan alamiah di otak tidak lagi bekerja. Bagi banyak orang, perubahan persepsi ini berkembang menjadi full-blown

  

hallucination (ledakan halusinasi) (Wiramihardja, 2007). Menurut Yosep (2011)

diperkirakan lebih dari 90% klien dengan skizofrenia mengalami halusinasi.

  Halusinasi adalah persepsi yang salah atau palsu tetapi tidak ada rangsang yang menimbulkannya (tidak ada objeknya) (Baihaqi, Sunardi, Akhlan, Heryati, 2007). Kira-kira 70% halusinasi yang dialami oleh pasien gangguan jiwa adalah halusinasi dengar/suara, 20% halusinasi penglihatan, dan 10% adalah halusinasi penghidu, pengecap, perabaan, senestetik, dan kinestetik (Purba, Wahyuni, Daulay, Nasution, 2012). Jadi meskipun bentuk halusinasi bervariasi tetapi sebagian besar halusinasi yang terjadi adalah halusinasi pendengaran.

  Halusinasi termasuk dalam penyakit yang statusnya sama dengan penyakit lain yang bisa diobati dan disembuhkan. Pada banyak kasus, pasien halusinasi secara medis dinyatakan sembuh dan dikembalikan kepada keluarganya, tetapi kebanyakan dalam beberapa bulan mengalami kekambuhan (Anonim, 2012).

  Kekambuhan kembali mantan penderita gangguan jiwa termasuk halusinasi sebagian besar disebabkan oleh kurangnya perhatian dari lingkungan dan bahkan keluarga sendiri sehingga berakibat pada lambatnya proses penyembuhan (Eniarti, 2012). Keluarga merupakan lingkungan sosial yang sangat dekat hubungannya dengan seseorang (Notosoedirdjo & Latipun, 2011). Keluarga menempati hal vital dalam penanganan pasien halusinasi di rumah. Hal ini mengingat keluarga adalah sistem pendukung terdekat dan 24 jam bersama-sama dengan pasien. Keluarga sangat menentukan apakah pasien akan kambuh atau tetap sehat. Keluarga yang mendukung pasien secara konsisten akan membuat pasien mampu mempertahankan program pengobatan secara optimal. Namun demikian jika keluarga tidak mampu merawat pasien, pasien akan kambuh bahkan untuk memulihkannya lagi akan sulit. Untuk itu keluarga perlu mengetahui cara merawat pasien halusinasi di rumah (Purba, Wahyuni, Daulay, Nasution, 2012).

  Pengetahuan adalah hasil mengingat suatu hal, termasuk mengingat kembali suatu kejadian yang pernah dialami baik secara sengaja maupun tidak disengaja dan ini terjadi setelah orang melakukan kontak atau pengamatan terhadap suatu objek tertentu (Mubarak, 2009). Adapun hal yang perlu diketahui keluarga dalam merawat klien halusinasi adalah yang pertama harus membina hubungan saling percaya dengan klien, kemudian mengkaji isi, waktu, frekuensi, dan situasi serta respons klien terhadap halusinasi. Pengkajian tersebut perlu agar keluarga dapat menentukan intervensi khusus pada waktu terjadinya halusinasi, dan menghindari situasi yang menyebabkan munculnya halusinasi. Selanjutnya keluarga dapat melatih klien mengontrol halusinasi dengan cara menghardik halusinasi, melatih bercakap-cakap dengan orang lain, melatih klien beraktivitas secara terjadwal dan melatih klien menggunakan obat secara teratur (Yosep, 2011).

  Menurut penelitian Nurdiana (2007) ditemukan bahwa salah satu faktor penyebab terjadinya kekambuhan penderita skizofrenia khususnya halusinasi adalah kurangnya peran serta keluarga dalam perawatan terhadap anggota keluarga yang menderita penyakit tersebut. Salah satu penyebabnya adalah karena keluarga yang tidak tahu cara menangani perilaku penderita di rumah.

  Menurut penelitian Riza, Jumaini, Arneliwati (2012) ditemukan salah satu faktor penyebab rendahnya pengetahuan keluarga tentang perawatan pasien halusinasi pendengaran karena sebagian besar keluarga tidak mampu menyerap informasi kesehatan yang diberikan oleh pelayanan kesehatan atau informasi yang tersedia seperti media cetak maupun elektronik. Hasil penelitian menunjukkan ada 66,7% keluarga yang memiliki pengetahuan rendah dalam merawat klien halusinasi, dan perilaku keluarga menunjukkan 66,7% berperilaku negatif dalam merawat klien halusinasi.

  Sementara menurut penelitian Yusnipah (2012), 55,7% keluarga memiliki pengetahuan yang tinggi dalam merawat klien halusinasi. Keluarga mengetahui tentang halusinasi, tanda dan gejala serta bagaimana merawat klien saat mengalami halusinasi di rumah. Namun mayoritas keluarga (65,4%) tidak mengetahui tentang efek samping obat bagi klien.

  Hasil wawancara peneliti pada studi pendahuluan tanggal 15 s/d 16 Mei 2013, dari 6 orang keluarga yang membawa pasien untuk berobat ke Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara, didapatkan 4 orang keluarga menyatakan bahwa pasien di rumah menunjukkan gejala halusinasi seperti bicara atau tertawa sendiri, marah-marah tanpa sebab, berbicara ngawur atau tidak jelas, berjalan hilir mudik kesana kemari dan tampak bingung. Sementara 2 orang keluarga yang lain mengatakan bahwa pasien hanya berdiam diri dikamar dan terkadang terlihat senyum-senyum sendiri. Ketika peneliti bertanya tentang pengetahuan keluarga dalam merawat klien halusinasi, mereka mengatakan tidak tahu harus melakukan apa untuk mengatasi masalah anggota keluarga yang mengalami halusinasi. Tindakan yang mereka lakukan hanya rutin menyuruh minum obat dan sesekali menyadarkan klien bahwa klien hanya berhalusinasi. 4 keluarga mengaku bahwa selain membawa berobat ke Poliklinik RSJD Provsu, keluarga juga membawa klien ke dukun (orang pintar) yang mereka anggap mampu menghilangkan halusinasi klien.

  Uraian di atas menunjukkan bahwa masih banyak keluarga yang belum mengerti tentang perawatan klien halusinasi. Padahal keluarga sangat berperan dalam merawat anggota keluarganya yang mengalami halusinasi. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti tentang Pengetahuan Keluarga tentang Perawatan Klien Halusinasi di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013.

1.2. Perumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat disimpulkan rumusan masalah sebagai berikut: “Bagaimana Pengetahuan Keluarga tentang Perawatan Klien Halusinasi di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013”.

  1.3. Pertanyaan Penelitian

  Bagaimana pengetahuan keluarga tentang perawatan klien halusinasi di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara?

  1.4. Tujuan Penelitian

  Untuk mengetahui Pengetahuan Keluarga tentang Perawatan Klien Halusinasi di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013.

  1.5. Manfaat Penelitian 1.5.1.

  Praktek Keperawatan Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai informasi tambahan bagi perawat tentang pengetahuan keluarga dalam merawat klien halusinasi sehingga perawat dapat lebih meningkatkan pendidikan kesehatan tentang perawatan klien halusinasi di rumah.

1.5.2. Pendidikan Keperawatan

  Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan dalam pengembangan mata kuliah keperawatan jiwa sehingga institusi pendidikan dapat mempersiapkan mahasiswa keperawatan untuk memberikan perhatian tidak hanya pada pasien tetapi juga pada keluarga sehingga keluarga dapat memberikan perawatan yang optimal pada pasien dirumah.

1.5.3. Penelitian Keperawatan

  Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai data tambahan bagi penelitian berikutnya yang terkait dengan pengetahuan keluarga dalam merawat klien halusinasi.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengetahuan

  2.1.1. Defenisi Pengetahuan adalah hasil mengingat suatu hal, termasuk mengingat kembali suatu kejadian yang pernah dialami baik secara sengaja maupun tidak disengaja dan ini terjadi setelah orang melakukan kontak atau pengamatan terhadap suatu objek tertentu (Mubarak, 2009).

  Pengetahuan adalah hasil tahu dari manusia, yang sekedar menjawab pertanyaan “what”, misalnya apa air, apa manusia, apa alam dan sebagainya (Notoatmodjo, 2010).

  Pengetahuan adalah hasil dari proses pembelajaran dengan melibatkan indra penglihatan, pendengaran, penciuman dan pengecap. Pengetahuan akan memberikan penguatan terhadap individu dalam setiap mengambil keputusan dan dalam berperilaku (Setiawati, 2008).

  2.1.2. Tingkat Pengetahuan Secara garis besarnya dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan yaitu: A.

  Tahu (know) Tahu diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu. Misalnya: tahu bahwa buah tomat banyak mengandung vitamin C, jamban adalah tempat membuang air besar, penyakit demam berdarah ditularkan oleh gigitan nyamuk

  

Aedes Agepti , dan sebagainya. Untuk mengetahui atau mengukur bahwa

  orang tahu sesuatu dapat menggunakan pertanyaan-pertanyaan, misalnya: apa tanda-tanda anak yang kurang gizi, apa penyebab penyakit TBC, bagaimana cara melakukan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk), dan sebagainya.

  B.

  Memahami (comprehension) Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut, tidak sekedar menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat menginterpretasikan secara benar tentang objek yang diketahui tersebut. Misalnya, orang yang memahami cara pemberantasan penyakit demam berdarah, bukan hanya sekedar menyebutkan 3M (mengubur, menutup, dan menguras), tetapi harus dapat menjelaskan mengapa harus menutup, menguras, dan sebagainya tempat-tempat penampungan air tersebut.

  C.

  Aplikasi (application) Aplikasi diartikan apabila orang yang yang telah memahami objek yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi yang lain. Misalnya, seseorang yang telah paham tentang proses perencanaan, ia harus dapat membuat perencanaan program kesehatan di tempat ia bekerja atau dimana saja. Orang yang telah paham metodologi penelitian, ia akan mudah membuat proposal penelitian di mana saja, dan seterusnya. D.

  Analisis (analysis) Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan/atau memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang itu sudah sampai pada tingkat analisis adalah apabila orang tersebut telah dapat membedakan, atau memisahkan, mengelompokkan, membuat diagram (bagan) terhadap pengetahuan atas objek tersebut. Misalnya, dapat membedakan antara nyamuk Aedes Agepty dengan nyamuk biasa, dapat membuat diagram (flow chart) siklus hidup cacing kremi, dan sebagainya.

  E.

  Sintesis (synthesis) Sintesis menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari komponen- komponen pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain, sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi- formulasi yang telah ada. Misalnya, dapat membuat atau meringkas dengan kata-kata atau kalimat sendiri tentang hal-hal yang telah dibaca atau didengar, dapat membuat kesimpulan tentang artikel yang telah dibaca.

  F.

  Evaluasi (evaluation) Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini dengan sendirinya didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku di masyarakat. Misalnya, seorang ibu dapat menilai atau menentukan seorang anak menderita malnutrisi atau tidak, seseorang dapat menilai manfaat ikut keluarga berencana, dan sebagainya (Notoadmodjo, 2005).

  2.1.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan: A.

  Pendidikan Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang kepada orang lain terhadap sesuatu hal agar mereka dapat memahami. Tidak dapat dipungkiri bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, maka semakin mudah pula mereka menerima informasi. Pada akhirnya, makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya, jika seseorang memiliki tingkat pendidikan yang rendah, maka akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap penerimaan, informasi, dan nilai-nilai yang baru diperkenalkan.

  B.

  Pekerjaan Lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang memperoleh pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun tidak langsung.

  C.

  Usia Dengan bertambahnya usia seseorang maka akan terjadi perubahan pada aspek fisik dan psikologis (mental). Petumbuhan fisik secara garis besar dapat dikategorikan menjadi empat, yaitu: perubahan ukuran, perubahan proporsi, hilangnya ciri-ciri lama, dan timbulnya ciri-ciri baru. Hal ini terjadi akibat pematangan fungsi organ. Pada aspek psikologis atau mental taraf berfikir seseorang semakin matang dan dewasa.

  D.

  Minat Minat adalah suatu kecenderungan atau keinginan yang tinggi terhadap sesuatu. Minat menjadikan seseorang untuk mencoba dan menekuni suatu hal dan pada akhirnya diperoleh pengetahuan yang lebih mendalam.

  E.

  Pengalaman Pengalaman adalah suatu kejadian yang pernah dialami seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Ada kecenderungan pengalaman yang kurang baik akan berusaha untuk dilupakan oleh seseorang. Namun, jika pengalaman terhadap objek tersebut menyenangkan, maka secara psikologis akan timbul kesan yang sangat mendalam dan membekas dalam emosi kejiwaannya, dan akhirnya dapat pula membentuk sikap positif dalam kehidupannya.

  F.

  Kebudayaan dan Lingkungan Sekitar Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita. Apabila dalam suatu wilayah mempunyai budaya untuk menjaga kebersihan lingkungan, maka sangat mungkin masyarakat sekitarnya mempunyai sikap untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan karena lingkungan sangat berpengaruh dalam pembentukan sikap pribadi atau sikap seseorang. G.

  Informasi Kemudahan untuk memperoleh suatu informasi dapat membantu mempercepat seseorang untuk memperoleh pengetahuan (Mubarak, 2009).

  2.1.4. Cara Memperoleh Pengetahuan Menurut Notoatmojo (2005) dari berbagai cara yang telah digunakan untuk memperoleh pengetahuan sepanjang sejarah, dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu: 1.

  Cara Tradisional untuk Memperoleh Pengetahuan Cara kuno atau tradisional dipakai orang untuk memperoleh kebenaran pengetahuan antara lain: A.

  Cara Coba Salah (Trial and Error) Cara coba salah ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam mencegah masalah dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil dicoba kemungkinan yang lain.

  B.

  Cara Kekuasaan (Otoriter) Sumber pengetahuan dapat berupa pemimpin masyarakat baik formal maupun informal, ahli agama, pemegang pemerintah, dan sebagainya.

  C.

  Berdasarkan Pengalaman Pribadi Pengalaman pribadi dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan.

  Hasil ini dilakukan dengan cara mengulangi kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lalu. D.

  Melalui Jalan Pikiran Sejalan dengan perkembangan kebudayaan umat manusia, cara berpikir manusia pun ikut berkembang. Dari sini manusia telah mampu menggunakan penalaran dalam memperoleh pengetahuannya. Dengan kata lain dalam memperoleh kebenaran pengetahuan manusia telah menggunakan jalan pemikirannya.

2. Cara Modern dalam Memperoleh Pengetahuan

  Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih sintesis, logis dan alamiah. Cara ini disebut metode penelitian ilmiah atau lebih popular disebut metode penelitian.

2.2. Keluarga

  2.2.1. Definisi Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul serta tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Dep.Kes RI, 1988 dalam Mubarak, 2011).

  Keluarga adalah salah satu kelompok atau kumpulan manusia yang hidup bersama sebagai satu kesatuan atau unit masyarakat terkecil dan biasanya selalu ada hubungan darah, ikatan perkawinan atau ikatan lainnya, tinggal bersama dalam satu rumah yang dipimpin oleh seorang kepala keluarga dan makan dalam satu periuk (Riadi, 2012).

  Keluarga selaku unit dasar memiliki pengaruh yang begitu kuat tehadap perkembangan seorang individu yang dapat menentukan berhasil atau tidaknya kehidupan individu tersebut. Keluarga memiliki pengaruh yang penting sekali terhadap pembentukan identitas seorang individu dan perasaan harga diri.

  Prioritas tertinggi keluarga biasanya adalah kesejahteraan anggota keluarganya (Tamher & Ekasari, 2009).

  2.2.2. Fungsi Keluarga Fungsi keluarga menurut Friedman (1986) adalah: 1.

  Fungsi Afektif Fungsi afektif adalah fungsi internal keluarga sebagai dasar kekuatan keluarga. Didalamnya terkait dengan saling mengasihi, saling mendukung dan saling menghargai antar anggota keluarga.

  2. Fungsi Sosialisasi Fungsi sosialisasi adalah fungsi yang mengembangkan proses interaksi dalam keluarga. Sosialisasi dimulai sejak lahir dan keluarga merupakan tempat individu untuk belajar bersosialisasi.

  3. Fungsi Reproduksi Fungsi reproduksi adalah fungsi keluarga untuk meneruskan kelangsungan keturunan dan menambah sumber daya manusia.

  4. Fungsi Ekonomi Fungsi ekonomi adalah fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarganya yaitu: sandang, pangan dan papan.

5. Fungsi Perawatan Kesehatan

  Fungsi perawatan kesehatan adalah fungsi keluarga untuk mencegah terjadinya masalah kesehatan dan merawat anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan (setiawati & Dermawan, 2008). Perawatan dapat dilakukan apabila keluarga memiliki kemampuan yang berkaitan dengan 5 tugas kesehatan keluarga yaitu; mengenal masalah kesehatan, mengambil keputusan yang tepat untuk mengatasi masalah kesehatan, merawat anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan, memodifikasi lingkungan dan mampu memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan secara tepat (Rasmun, 2009).

  2.2.3. Interaksi Keluarga dalam Rentang Sehat Sakit Interaksi antar anggota keluarga dalam kondisi sehat dan sakit juga mempengaruhi tingkat berfungsinya keluarga. Penyakit yang diderita salah satu anggota keluarga akan mempengaruhi seluruh anggota keluarga yang lainnya. Friedmen dengan mengadaptasi Doherti dan Sussman (1998) memberikan gambaran bahwa terdapat interaksi keluarga dengan rentang sehat sakit dalam bentuk upaya-upaya sebagai berikut: 1.

  Upaya keluarga dalam peningkatan (promosi) kesehatan Kegiatan peningkatan kesehatan atau lebih dikenal dengan promosi kesehatan bisa dimulai dalam keluarga, seperti halnya seorang ayah yang memberikan contoh dengan tidak merokok, minum-minuman keras tentunya gaya hidup tersebut akan diikuti oleh anak-anaknya, tetapi jika kondisi sebaliknya maka yang akan terjadi adalah meningkatnya angka kesakitan.

  2. Penaksiran keluarga terhadap gejala-gejala sakit Tahapan ini dimulai saat anggota keluarga mengeluhkan gejala-gejala penurunan kesadaran yang dialami, mencari tahu penyebabnya, dan ada tidaknya pengaruh bagi anggota keluarga yang lain. Sosial ekonomi juga sangat berpengaruh pada penaksiran gejala-gejala yang muncul. Masyarakat dengan tingkat ekonomi yang lemah akan merespon lambat mengingat kemampuan ekonominya.

  3. Pencarian perawatan Tahapan ini dimulai pada saat anggota keluarga merasakan sakit dan anggota keluarga lainnya mengetahui, maka dimulailah upaya mencari tahu kemana akan dirawat. Upaya ini dilakukan dengan mencari informasi kepada orang terdekat. Pada tahapan ini juga keluarga dituntut untuk mengambil keputusan dengan cepat kemana akan merawat anggota keluarga yang sakit. Kecepatan pengambilan keputusan ini ditentukan oleh respon keluarga terhadap kondisi sakit.

  4. Perolehan perawatan dan rujukan ke pelayanan kesehatan Tahapan ini dimulai saat kontak pertama anggota keluarga dengan pelayanan kesehatan atau pengobatan alternatif. Penentuan jenis pelayanan yang didatangi dipengaruhi oleh pengetahuan keluarga, pengalaman masa lalu dan sering kali ibu memberikan kontribusi yang banyak terhadap pengambilan keputusan tersebut.

  5. Respon akut terhadap penyakit oleh klien dan keluarga Tahapan ini ditandai dengan terjadinya perubahan peran pada anggota keluarga yang sakit, misalnya saja peran ibu yang sedang sakit akan digantikan oleh ayah terutama saat anak-anaknya masih kecil. Contoh lain jika ayah sakit maka dengan langsung ibu mengambil alih peran dan tanggung jawabnya.

  6. Adaptasi terhadap penyakit dan penyembuhan Tahap adaptasi adalah tahapan dimana keluarga memerlukan bantuan dari tenaga kesehatan dalam menentukan koping keluarga terhadap sakitnya (Setiawati & Dermawan, 2008).

  2.2.4. Keterlibatan Keluarga dalam Mencegah Klien Kambuh Keluarga merupakan unit yang paling dekat dengan klien dan merupakan

  “perawat utama” bagi klien. Keluarga berperan dalam menentukan cara atau asuhan yang diperlukan klien di rumah. Keberhasilan perawat dirumah sakit dapat sia-sia jika tidak diteruskan di rumah karena dapat mengakibatkan klien harus dirawat kembali (kambuh). Peran serta keluarga sejak awal asuhan di RS akan meningkatkan kemampuan keluarga merawat klien di rumah sehingga kemungkinan dapat dicegah.

  Pentingnya peran serta keluarga dalam klien gangguan jiwa dapat dipandang dari berbagai segi. Pertama, keluarga merupakan tempat dimana individu memulai hubungan interpersonal dengan lingkungannya. Keluarga merupakan “institusi” pendidikan utama bagi individu untuk belajar dan mengembangkan nilai, keyakinan, sikap, dan perilaku. Individu menguji coba perilakunya di dalam keluarga, dan umpan balik keluarga memengaruhi individu dalam mengadopsi perilaku tertentu. Semua ini merupakan persiapan individu untuk berperan di masyarakat. Jika keluarga dipandang sebagai suatu sistem, maka gangguan yang terjadi pada salah satu anggota dapat memengaruhi seluruh sistem, sebaliknya disfungsi keluarga merupakan salah satu penyebab gangguan pada anggota. Pelayanan kesehatan jiwa yang ada merupakan fasilitas yang membantu klien dan keluarga dalam mengembangkan kemampuan mencegah terjadinya masalah, menanggulangi berbagai masalah, dan mempertahankan keadaan adaptif. Salah satu faktor penyebab kambuh gangguan jiwa adalah keluarga yang tidak tahu cara menangani perilaku klien di rumah. Menurut Sullinger (1988), klien dengan diagnosis skizofrenia diperkirakan akan kambuh 50% pada tahun pertama, 70% pada tahun kedua, dan 100% pada tahun kelima setelah pulang dari rumah sakit karena perlakuan yang salah selama di rumah atau di masyarakat (Nasir & Muhith, 2011).

  2.2.5. Manfaat Peran Keluarga 1.

  Bagi klien: a.

  Mempercepat proses penyembuhan melalui dinamika kelompok b.

  Memperbaiki hubungan interpersonal klien dengan setiap anggota keluarga c.

  Menurunkan angka kekambuhan 2. Bagi keluarga a.

  Memperbaiki fungsi dan struktur keluarga b.

  Keluarga mampu meningkatkan pengertian terhadap klien sehingga keluarga lebih dapat menerima, toleran, dan menghargai klien sebagai manusia c. Keluarga dapat meningkatkan kemampuan dalam membantu klien dalam proses rehabilitasi (Shalehuddin, 2013).

2.3. Halusinasi

  2.3.1. Defenisi Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan eksternal (dunia luar). Klien memberi persepsi atau pendapat tentang lingkungan tanpa ada objek atau rangsangan yang nyata. Sebagai contoh klien mengatakan mendengar suara padahal tidak ada orang yang berbicara (Kusumawati & Hartono, 2010).

  Halusinasi adalah persepsi yang salah atau palsu tetapi tidak ada rangsang yang menimbulkannya (tidak ada objeknya). Misalnya, merasa melihat ada orang yang akan memukul, padahal tidak ada seorang pun disekitarnya. Sekalipun tidak nyata, tetapi bagi penderita gangguan jiwa, halusinasi dirasakan sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh (Baihaqi, Sunardi, Akhlan, Heryati, 2007).

  Halusinasi merupakan persepsi sensori yang salah atau pengalaman persepsi yang tidak terjadi dalam realitas (Videbeck, 2008).

  Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa pada individu yang ditandai dengan perubahan sensori persepsi; merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan perabaan atau penghiduan. Pasien merasakan stimulus yang sebenarnya tidak ada (Keliat & Akemat, 2009).

2.3.2. Klasifikasi Halusinasi

  Ketakutan pada objek yang dilihat Halusinasi penghidu (olfactory- smeeling odors ) a.

  Mengusap, menggaruk- garuk meraba-raba permukaan kulit. Terlihat menggerak- gerakkan badan seperti merasakan sesuatu rabaan.

  a.

  Merasakan sesuatu dipermukaan kulit, merasakan sangat panas atau dingin, merasakan tersengat aliran listrik.

  b.

  Klien mengatakan ada sesuatu yang menggerayangi tubuh seperti tangan, binatang kecil, makhluk halus.

  Halusinasi perabaan (tactile-feeling bodily sensations ) a.

  Ekspresi wajah seperti mencium sesuatu dengan gerakan cuping hidung, mengarahkan hidung pada tempat tertentu.

  Tipe halusinasi ini sering menyertai klien demensia, kejang atau penyakit serebrovaskular a.

  Klien sering mengatakan mencium bau sesuatu c.

  Mencium sesuatu seperti bau mayat, darah, bayi, feses, atau bau masakan, farfum yang menyenangkan b.

Tabel 2.1 Klasifikasi Halusinasi Jenis Halusinasi Data Subjektif Data Objektif

  Halusinasi dengar (Auditory- hearing voices or sounds ) a.

  Tatapan mata pada tempat tertentu b.

  Melihat seseorang yang sudah meninggal, melihat makhluk tertentu, melihat bayangan, hantu atau sesuatu yang menakutkan, cahaya. Monster yang memasuki perawat a.

  Menutup telinga e. Mulut komat-kamit f. Ada gerakan tangan Halusinasi penglihatan (visual-seeing persons or things ) a.

  Marah-marah tanpa sebab d.

  Bicara atau tertawa sendiri c.

  Mengarahkan telinga pada sumber suara b.

  a.

  Mendengar suara yang mengancam diri klien atau orang lain atau suara lain yang membahayakan.

  Mendengar seseorang yang sudah meninggal e.

  Mendengar suara atau bunyi c. Mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap d.

  Mendengar suara menyuruh melakukan sesuatu yang berbahaya b.

  Menunjuk kearah tertentu c.

  Jenis Data Subjektif Data Objektif Halusinasi Halusinasi a.

  a. Klien seperti sedang merasakan Seperti mengecap

Pengecapan makanan tertentu, rasa tertentu atau sesuatu. Gerakan

  

(Gustatory- mengunyah sesuatu. menguyah, meludah

experiencing atau muntah tastes ) Cenesthetic & a.

  a. Klien terlihat menatap Klien dapat melaporkan bahwa Kinestetic fungsi tubuhnya tidak dapat tubuhnya sendiri dan

hallucinations terdeteksi misalnya tidak adanya terlihat merasakan

denyutan di otak, atau sensasi sesuatu yang aneh pembentukan urine dalam tentang tubuhnya. tubuhnya, perasaan tubuhnya melayang di atas bumi.

  (Yosep, 2011).

2.3.3. Proses Terjadinya Halusinasi

  Bentuk gangguan persepsi sensori yang paling sering terjadi pada klien dengan gangguan jiwa adalah halusinasi pendengaran dan penglihatan. Bentuk halusinasi ini dapat berupa suara-suara dan gambaran-gambaran. Tetapi paling sering berupa kata-kata yang tersusun dalam bentuk kalimat yang mempengaruhi tingkah laku klien, sehingga klien menghasilkan respons tertentu seperti: bicara sendiri, bertengkar atau respons lain yang membahayakan. Bisa juga klien bersikap mendengarkan suara halusinasi tersebut dengan mendengarkan penuh perhatian pada orang lain yang tidak bicara atau pada benda mati.

  Halusinasi pendengaran dan penglihatan merupakan suatu tanda mayor dari gangguan schizoprenia dan satu syarat diagnostik minor untuk metankolia involusi, psikosa mania depresif dan syndroma otak organik (Purba, Wahyuni, Daulay, Nasution, 2012).

2.3.4. Faktor Penyebab Halusinasi a.

  Faktor Predisposisi 1.

  Faktor Perkembangan Tugas perkembangan klien yang terganggu misalnya rendahnya kontrol dan kehangatan keluarga menyebabkan klien tidak mampu mandiri sejak kecil, mudah frustasi, hilang percaya diri dan lebih rentan terhadap stress.

  2. Faktor Sosiokultural Seseorang yang merasa tidak diterima lingkungannya sejak bayi (unwanted child) akan merasa disingkirkan, kesepian, dan tidak percaya pada lingkungannya.

  3. Faktor Biokimia Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Adanya stress yang berlebihan dialami seseorang maka didalam tubuh akan dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik neurokimia seperti Buffofenon dan Dimetytranferase (DMP). Akibat stress berkepanjangan menyebabkan teraktivasinya neurotransmitter otak. Misalnya terjadi ketidakseimbangan acetylcholine dan dopamine.

  4. Faktor Psikologis Tipe kepribadian lemah dan tidak bertanggung jawab mudah terjerumus pada penyalahgunaan zat adiktif. Hal ini berpengaruh pada ketidakmampuan klien dalam mengambil keputusan yang tepat demi masa depannya. Klien lebih memilih kesenangan sesaat dan lari dari alam nyata menuju alam hayal.

5. Faktor Genetik dan Pola Asuh

  Penelitian menunjukkan bahwa anak sehat yang diasuh oleh orangtua skizofrenia cenderung mengalami skizofrenia. Hasil studi menunjukkan bahwa faktor keluarga menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit ini (Yosep, 2011).

  Kebanyakan penelitian genetika berfokus pada keluarga terdekat, seperti orang tua, saudara kandung, dan anak cucu untuk melihat apakah skizofrenia diwariskan atau diturunkan secara genetik. Hanya sedikit penelitian yang memfokuskan pada kerabat yang lebih jauh.

  Penelitian yang paling penting memusatkan pada penelitian anak kembar yang menunjukkan bahwa kembar identik berisiko mengalami gangguan ini sebesar 50%, sedangkan kembar praternal berisiko hanya 15%. Penelitian penting lain menunjukkan bahwa anak-anak yang memiliki satu orang tua biologis penderita skizofrenia memiliki risiko 15% dan angka ini meningkat sampai 35% jika kedua orang tua biologis menderita skizofrenia. Anak-anak yang memiliki orang tua biologis dengan riwayat skizofrenia tetapi diadopsi pada saat lahir oleh keluarga tanpa riwayat skizofrenia masih memiliki risiko genetik dari orang tua biologis mereka. Semua penelitian ini menunjukkan bahwa ada risiko genetik atau kecenderungan skizofrenia, tetapi ini bukan satu-satunya faktor. Kembar identik memiliki risiko 50% walaupun gen mereka identik 100% (Cancro & Lehman, 2000 dalam Videbeck, 2008).

6. Faktor Ekonomi dan Pendidikan

  Menurut penelitian Erlina, Soewadi, Pramono (2010), status ekonomi rendah mempunyai risiko 6,00 kali untuk mengalami gangguan jiwa skizofrenia dibandingkan status ekonomi tinggi. Pada analisis multivariabel, status ekonomi rendah berisiko 7,4 kali untuk menderita ganguan jiwa skizofrenia dibanding dengan status ekonomi tinggi dengan OR=7,482 (95%IK;2,852-19,657) dengan p=0,000.

  Artinya kelompok ekonomi rendah kemungkinan mempunyai risiko 7,48 kali lebih besar mengalami kejadian skizofrenia dibandingkan kelompok ekonomi tinggi. Menurut Werner et al. dalam Erlina, Soewadi, Pramono (2010), yang melakukan penelitian di Israel mengatakan orang yang dilahirkan mempunyai orangtua yang berstatus sosio ekonomi dan didaerah miskin berhubungan dengan dengan peningkatan risiko skizofrenia (OR1.39 (95%CI;1.10– 1.78),p<0,00.

  Status ekonomi rendah sangat mempengaruhi kehidupan seseorang. Beberapa ahli tidak mempertimbangkan kemiskinan (status ekonomi rendah) sebagai faktor risiko, tetapi faktor yang menyertainya bertanggung jawab atas timbulnya gangguan kesehatan.

  Menurut Graham dalam Erlina, Soewadi, Pramono (2010), keluarga adalah faktor perantara yang paling penting. Ketika kehidupan keluarga dipengaruhi oleh penyebab lingkungan (rumah yang kecil, tidak adanya waktu dan rasa aman) maka hal ini merupakan beban bagi orangtua yang akibatnya akan mempengaruhi kesehatan anak. Kemiskinan ditandai dengan oleh sedikitnya dukungan, sedikitnya keselamatan, tidak adanya ruang sehingga terlalu sesak, tidak adanya kebebasan pribadi, ketidakpastian dalam masalah ekonomi yang akhirnya mungkin menimbulkan risiko kesehatan bagi keluarga.

  Sementara dari segi pendidikan menurut penelitian Fakhari et al dalam Erlina, Soewadi, Pramono (2010), dengan hasil yang ditemukan ada hubungan yang bermakna antara tidak punya pendidikan atau tidak tamat SD dengan timbulnya gangguan jiwa (p<0,001).

  b.

  Faktor Presipitasi 1.

  Biologis Stressor biologis yang berhubungan dengan respons neurobiologik yang maladaptif termasuk gangguan dalam putaran umpan balik otak yang mengatur proses informasi dan adanya abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi rangsangan.

2. Pemicu Gejala

  Pemicu atau stimulus yang sering menimbulkan episode baru suatu penyakit yang biasanya terdapat pada respons neurobiologis yang maladaptif berhubungan dengan kesehatan, lingkungan, sikap dan perilaku individu. a.

  Kesehatan, seperti gizi buruk, kurang tidur, keletihan, infeksi, obat Sistem Saraf Pusat, gangguan proses informasi, kurang olahraga, alam perasaan abnormal dan cemas.

  b.

  Lingkungan, seperti lingkungan penuh kritik, gangguan dalam hubungan interpersonal, masalah perumahan, stress, kemiskinan, tekanan terhadap penampilan, perubahan dalam kehidupan dan pola aktivitas sehari-hari, kesepian (kurang dukungan) dan tekanan pekerjaan (Trimeilia, 2011) 3. Perilaku

  Respons klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan, perasaan tidak aman, gelisah, dan bingung, perilaku merusak diri, kurang perhatian, tidak mampu mengambil keputusan serta tidak dapat membedakan keadaan nyata dan tidak nyata. Menurut Rawlins dan Heacock (1993) memecahkan masalah halusinasi berlandaskan atas hakikat keberadaan seorang individu sebagai makhluk yang dibangun atas dasar unsur-unsur bio-psiko-sosio-spiritual sehingga halusinasi dalam dilihat dari lima dimensi yaitu: a)

  Dimensi Fisik Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik seperti kelelahan yang luar biasa, penggunaan obat-obatan, demam hingga delirium, intoksikasi alkohol dan kesulitan untuk tidur dalam waktu yang lama. b) Dimensi Emosional

  Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar problem yang tidak dapat diatasi merupakan penyebab halusinasi itu terjadi. Isi dari halusinasi dapat berupa perintah memaksa dan menakutkan. Klien tidak sanggup lagi menentang perintah tersebut hingga dengan kondisi tersebut klien berbuat sesuatu terhadap ketakutan tersebut.

  c) Dimensi Intelektual

  Dalam dimensi intelektual ini menerangkan bahwa individu dengan halusinasi akan memperlihatkan adanya penurunan fungsi ego. Pada awalnya halusinasi merupakan usaha dari ego sendiri untuk melawan impuls yang menekan, namun merupakan suatu hal yang menimbulkan kewaspadaan yang dapat mengambil seluruh perhatian klien dan tak jarang akan mengontrol semua perilaku klien.

  d) Dimensi Sosial

  Klien mengalami gangguan interaksi sosial dalam fase awal dan

  comforting, klien menganggap bahwa hidup bersosialisasi di

  dunia nyata sangat membahayakan. Klien asyik dengan halusinasinya, seolah-olah ia merupakan tempat untuk memenuhi akan interaksi sosial, kontrol diri dan haga diri yang tidak didapatkan dalam dunia nyata. Isi halusinasi dijadikan sistem kontrol oleh individu tersebut, sehingga jika perintah halusinasi berupa ancaman, dirinya atau orang lain individu cenderung untuk itu. Oleh karena itu, aspek penting dalam melaksanakan intervensi keperawatan klien dengan mengupayakan suatu proses interaksi yang menimbulkan pengalaman interpersonal yang memuaskan, serta mengusahakan klien tidak menyendiri sehingga klien selalu berinteraksi dengan lingkungannya dan halusinasi tidak berlangsung.

  e) Dimensi Spiritual

  Secara spiritual klien halusinasi mulai dengan kehampaan hidup, rutinitas tidak bemakna, hilangnya aktivitas ibadah dan jarang berupaya secara spiritual untuk menyucikan diri. Irama sirkardiannya terganggu, karena ia sering tidur larut malam dan bangun sangat siang. Saat terbangun merasa hampa dan tidak jelas tujuan hidupnya. Ia sering memaki takdir tetapi lemah dalam upaya menjemput rejeki, menyalahkan lingkungan dan orang lain yang menyebabkan takdirnya memburuk (Yosep, 2011).

  2.3.5. Tahapan Halusinasi Gangguan persepsi yang utama pada pasien skizoprenia adalah halusinasi, sehingga halusinasi menjadi bagian hidup klien. Biasanya dirangsang oleh kecemasan, gangguan harga diri, kritis diri, atau mengingkari rangsangan terhadap kenyataan. Halusinasi pendengaran adalah paling utama pada pasien skizoprenia, suara-suara biasanya berasal dari tuhan, setan, tiruan atau relatif.

Tabel 2.2 Tahapan, Karakteristik dan Perilaku Klien Tahap Karakteristik Perilaku Klien

  Ada empat tahapan halusinasi, karakteristik dan perilaku yang ditampilkan.

  Tahap I

  • Memberi rasa nyaman, tingkat ansietas sedang secara umum, halusinasi merupakan suatu kesenangan.
  • Mengalami ansietas, kesepian, rasa bersalah dan ketakutan.
  • Tersenyum, tertawa sendiri
  • Menggerakkan bibir tanpa suara
  • Mencoba berfokus pada pikiran yang dapat menghilangkan ansietas
  • Pergerakkan mata yang cepat
  • Respon verbal yang lambat
  • Fikiran dan pengalaman sensori masih ada dalam kontol kesadaran, nonpsikotik.
  • Diam dan berkonsentrasi Tahap II
  • Menyalahkan - Tingkat kecemasan berat secara umum halusinasi menyebabkan perasaan antipati
  • Pengalaman sensori menakutkan
  • Terjadi peningkatan denyut jantung, pernafasan dan tekanan darah
  • Merasa dilecehkan oleh pengalaman sensori tersebut
  • Perhatian dengan lingkungan berkurang
  • Mulai merasa kehilangan kontrol
  • Konsentrasi terhadap pengalaman sensori kerja
  • Menarik diri dari orang lain non psikotik
  • Kehilangan kemampuan membedakan halusinasi dengan realitas Tahap III
  • Mengontrol - Tingkat kecemasan berat
  • Klien menyerah dan menerima pengalaman sensori (halusinasi)
  • Perintah halusinasi ditaati
  • Sulit berhubungan dengan orang lain
  • Pengalaman halusinasi tidak dapat ditolak lagi
  • Isi halusinasi menjadi atraktif
  • Perhatian terhadap lingkungan berkurang hanya beberapa detik
  • Kesepian bila pengalaman sensori berakhir psikotik
  • Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat, tremor dan berkeringat Tahap IV
  • Klien sudah dikuasai oleh halusinasi
  • Perilaku panik
  • Resiko tinggi mencederai
  • Agitasi atau kataton
  • Klien panik Pengalaman sensori mungkin menakutkan jika individu tidak mengikuti perintah halusinasi, bisa berlangsung dalam beberapa jam atau hari apabila tidak ada intervensi terapeutik.
  • Tidak mampu berespon terhadap lingkungan (Erlinafsiah, 2010).

  2.3.6. Penatalaksanaan Medis pada Halusinasi Penatalaksanaan klien skizoprenia adalah dengan pemberian obat-obatan dan tindakan lain, yaitu : a. Psikofarmakologis

  Gejala halusinasi sebagai salah satu gejala psikotik/skizofrenia biasanya diatasi dengan menggunakan obat-obatan anti psikotik antara lain golongan

  butirofenon: Haloperidol, Haldol, Serenace, Ludomer.

  Pada kondisi akut biasanya diberikan dalam bentuk injeksi 3 x 5 mg via im. Pemberian injeksi biasanya cukup 3 x 24 jam. Setelahnya klien biasanya diberikan obat per oral 3 x 1,5 mg atau 3 x 5 mg. Golongan fenotiazine:

  Chlorpromazine/Largactile/Promactile. Biasanya diberikan per oral.

  Kondisi akut biasanya diberikan 3 x 100 mg. Apabila kondisi sudah stabil dosis dapat dikurangi 1 x 100 mg pada malam hari saja (Yosep, 2011).

  b. Terapi kejang listrik/electro compulsive therapy (ECT) Menurut Riyadi & Purwanto (2009), ECT adalah suatu tindakan terapi dengan menggunakan aliran listrik dan menimbulkan kejang pada penderita baik tonik maupun klonik. Tindakan ini adalah bentuk terapi pada klien dengan mengalirkan alur listrik melalui elektroda yang ditempelkan pada pelipis klien untuk membangkitkan kejang grandmall. Indikasi terapi kejang listrik adalah klien depresi pada psikosa manik depresi, klien skizofrenia super katatonik dan gaduh gelisah katatonik. ECT lebih efektif dari antidepresan untuk klien depresi dengan gejala psikotik (waham, paranoid dan gejala vegetatif), berikan antidepresan saja (imipramin 200-300 mg/hari selama 4 minggu) namun jika tidak ada perbaikan perlu dipertimbangkan tindakan ECT. Mania (gangguan bipolar manik) juga dapat dilakukan ECT, terutama jika litium karbonat tidak berhasil. Pada klien depresi memerlukan waktu 6-12 kali terapi untuk mencapai perbaikan, sedangkan pada mania dan katatonik membutuhkan waktu lebih lama yaitu antara 10-20 kali terapi secara rutin. Terapi ini dilakukan dengan frekuensi 2-3 hari sekali. Jika efektif, perubahan perilaku mulai kelihatan setelah 2-6 terapi.

  2.3.7. Penatalaksanaan Keperawatan pada Halusinasi

  1. Terapi Generalis pada Klien Halusinasi Menurut Keliat & Akemat (2009), tindakan keperawatan pada klien halusinasi adalah sebagai berikut: 1)

  Mengkaji isi, waktu, frekuensi, situasi pencetus, dan respons klien terhadap halusinasi (mengenal halusinasi) Mengkaji halusinasi dapat dilakukan dengan mengobservasi perilaku klien dan menanyakan secara verbal apa yang sedang dialami oleh klien. Kemudian perawat juga perlu mengkaji waktu, frekuensi, dan situasi munculnya halusinasi yang dialami oleh klien. Hal ini dilakukan untuk menentukan intervensi khusus pada waktu terjadinya halusinasi, menghindari situasi yang menyebabkan munculnya halusinasinya.

Dokumen yang terkait

Gambaran Pengetahuan Perawat Tentang Discharge Planning Pada Pasien Halusinasi di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sumatera Utara

18 171 101

Pengetahuan Keluarga tentang Perawatan Klien Halusinasi di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013

0 35 105

Hubungan Pelaksanaan Intervensi Keperawatan Dengan Pengendalian Diri Klien Halusinasi Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Tahun 2012

1 53 73

Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kepatuhan Pasien Minum Obat di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Medan

14 109 73

Hubungan Pengetahuan Keluarga tentang Perilaku Kekerasan dengan Kesiapan Keluarga dalam Merawat Pasien di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Medan

18 157 71

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang - Pengaruh Pemberdayaan Keluarga Melalui Edukasi Terhadap Kemampuan Merawat Pasien Gangguan Jiwa di Kota Medan pada Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013

0 0 11

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Pengaruh Kepatuhan Pengobatan dan Koping Keluarga terhadap Pencegahan Kekambuhan Penderita Skozofrenia Paranoid di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Tahun 2014

0 0 11

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Ruangan Terhadap Kinerja Perawat Pelaksana di Rumah Sakit Provinsi Sumatera Utara

0 2 8

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang - Hubungan Tingkat Pengetahuan Perawat Dengan Penerapan Strategi Pelaksanaan Pada Pasien Halusinasi Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Propinsi Sumatera Utara Medan

0 0 9

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengetahuan - Pengetahuan Keluarga tentang Perawatan Klien Halusinasi di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013

0 1 39