hukum yang blum di sepakati para ulama

ISTIHSAN, ISTISHAB, DAN MASLAHAH MURSALAH
Oleh : Mushaddaq
1. A. Pendahuluan
Ilmu Ushul Fiqih merupakan salah satu intsrumen penting yang harus dipenuhi oleh siapapun yang ingin
melakukan mekanisme ijtihad dan istinbath hukum dalam Islam. Itulah sebabnya dalam pembahasan
kriteria seorang mujtahid, penguasaan akan ilmu ini dimasukkan sebagai salah satu syarat mutlaknya
untuk menjaga agar proses ijtihad dan istinbath tetap berada pada koridor yang semestinya. Meskipun
demikian, ada satu fakta yang tidak dapat dipungkiri bahwa penguasaan Ushul Fiqih tidaklah serta merta
menjamin kesatuan hasil ijtihad dan istinbath para mujtahid. Disamping faktor eksternal Ushul Fiqih itu
sendiri, seperti penentuan keshahihan suatu hadits misalnya, internal Ushul Fiqih sendiri pada sebagian
masalahnya mengalami perdebatan (ikhtilaf) di kalangan para Ushuliyyin. Inilah yang kemudian dikenal
dengan istilah al-Adillah (sebagian ahli Ushul menyebutnya: al-Ushul al-Mukhtalaf fiha, atau “Dalil-dalil
yang diperselisihkan penggunaannya” dalam penggalian dan penyimpulan hukum.
Mashadirul Ahkam (sumber-sumber hukum) ada yang disepakati ada yang tidak. Jelasnya, ada Mashadir
Ashliyah (sumber pokok) yaitu: Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya dan ada Mashadir Thabi’iyah (sumber
yang dipautkan kepada sumber-sumber pokok) yang disepakati oleh jumhur fuqaha yaitu: ijma dan qiyas.
Adapula yang di ikhtilafi oleh tokoh-tokoh ahli ijtihad sendiri yaitu: Istihsan, istishab, Maslahah
mursalah, Urf, Saddudzari’ah, dan madzhab sahabi.
Makalah ini akan menguraikan tentang hakikat Istihsan, Istishab, dan maslahah mursalah yang
mencakup pengertian, macam-macamnya, kehujjahannya, kaidah-kaidahnya, dan contoh-contoh produk
hukumnya.
B. Istihsan
1.
Pengertian Istihsan
Secara etimologi, istihsan berarti “menyatakan dan meyakini baiknya sesuatu” tidak ada perbedaan
pendapat dikalangan ulama Ushul Fiqih dalam mempergunakan lafal istihsan.[1] Adapun pengertian
istihsan menurut istilah, sebagaimana disebutkan oleh Abdul Wahab Khalaf [2]
‫هو عدول المجتهد عن قياس جلى الى مقتصنى قياس خفى او عن حكم كلى الى حكم استسنائي انقدع‬
‫فى اقله رجع لديه هذ العدول‬
“Istihsan adalah berpindahnya seorang mujtahid dari ketentuan qiyas jali (yang jelas) kepada
ketentuan qiyas Khafi (yang samar), atau ketentuan yang kulli (umum) kepada ketentuan yang
sifatnya istisna’i (pengecualian), karena menurut pandangan mujtahid itu adalah dalil (alasan)
yang lebih kuat yang menghendaki perpindahan tersebut.
Dari pengertian tersebut jelas bahwa istihsan ada dua, yaitu sebagai berikut:
1. Menguatkan Qiyas Khafi atas qiyas jali dengan dalil. Misalnya, menurut ulama Hanafiyah bahwa
wanita yang sedang haid boleh membaca Al-Qur’an berdasarkan istihsan, tetapi haram menurut
qiyas.

Qiyas: wanita yang sedang haid itu di qiyaskan kepada orang junub dengan illat sama-sama tidak
suci. Orang junub haram membaca Al-Qur’an, maka orang yang Haid haram membaca Al-Qur’an.

Istihsan : haid berbeda dengan junub karena haid waktunya lama. Oleh karena itu, wanita yang
sedang haid dibolehkan membaca Al-Qur’an, sebab bila tidak, maka haid yang panjang itu wanita tidak
memperoleh pahala ibadah apapun, sedang laki-laki dapat beribadah setiap saat.
1. Pengecualian sebagai hukum kulli dengan dalil. Misalnya, jual beli salam (pesanan) berdasarkan
istihsan diperbolehkan. Menurut dalil kulli, syariat melarang jual beli yang barangnya tidak ada
pada waktu akad. Alasan istihsan ialah manusia berhajat kepada akad seperti itu dan sudah
menjadi kebiasaan mereka.
Definisi istihsan Menurut imam Abu Al Hasan al Karkhi ialah penetapan hukum dari seorang mujtahid
terhadap suatu masalah yang menyimpang dari ketetapan hukum yang diterapkan pada masalah-masalah
yang serupa, karena ada alasan yang lebih kuat yang menghendaki dilakukannya penyimpanagan itu.
Definisi istihsan menurut Ibnul Araby ialah memilih meninggalkan dalil, mengambil ruksah dengan
hukum sebaliknya, karena dalil itu berlawanan dengan dalil yang lain pada sebagian kasus tertentu.

Sementara itu, ibnu anbary, ahli fiqih dari madhab Maliky memberi definisi istihsan bahwa istihsan
adalah memilih menggunakan maslahat juziyyah yang berlawanan dengan qiyas kully [3].Istihsan
merupakan sumber hukum yang banyak dalam terminology dan istinbath hukum oleh dua imam madhab,
yaitu imam Malik dan imam Abu Hanifah. Tapi pada dasarnya imam Abu Hanifah masih tetap
menggunakan dalil qiyas selama masih dipandang tepat [4].
Dari berbagai definisi diatas, dapat difahami bahwa pada hakikatnya istihsan itu adalah keterkaitan
dengan penerapan ketentuan hukum yang sudah jelas dasar dan kaidahnya secara umum baik dari nash,
ijma atau qiyas, tetapi ketentuan hukum yang sudah jelas ini tidak dapat diberlakukan dan harus dirubah
karena berhadapan dengan persoalan yang khusus dan spesifik.
Dengan demikian, Istihsan pada dasarnya adalah ketika seorang mujtahid lebih cenderung dan memilih
hukum tertentu dan meninggalkan hukum yang lain disebabkan satu hal yang dalam pandangannya lebih
menguatkan hukum kedua dari hukum yang pertama. Artinya, persoalan khusus yang seharusnya
tercakup ada ketentuan yang sudah jelas, tetapi karena tidak memungkinkan dan tidak tepat diterapkan,
maka harus berlaku ketentuan khusus sebagai pengecualian dari ketentuan umum atau ketentuan yang
sudah jelas.
2. Dasar Hukum Istihsan
para ulama yang mempertahankan istihsan mengambil dalil dari al-Qur’an dan Sunnah yang
menyebutkan kata istihsan dalam pengertian denotatif (lafal yang seakar dengan istihsan) seperti Firman
Allah Swt dalam surah Al-Zumar: 18
‫ واولئك هم اولو اللبابز‬. ‫اولئك الذين هدهم الله‬. ‫الذين يستمعون القول فيتبعون احسنه‬
Artinya: “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.
mereka Itulah orang-orang yang Telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang
mempunyai akal”. (QS. Az-Zumar: 18)
Ayat ini menurut mereka menegaskan bahwa pujian Allah bagi hambaNya yang memilih dan mengikuti
perkataan yang terbaik, dan pujian tentu tidak ditujukan kecuali untuk sesuatu yang disyariatkan oleh
Allah.
‫واتبعوا احسن ما انزل اليكم من ربكم‬
Artinya: “Dan turutlah (pimpinan) yang sebaik-baiknya yang telah diturunkan kepadamu dari
Tuhanmu”….(QS. Az-Zumar :55)
Menurut mereka, dalam ayat ini Allah memerintahkan kita untuk mengikuti yang terbaik, dan perintah
menunjukkan bahwa ia adalah wajib. Dan di sini tidak ada hal lain yang memalingkan perintah ini dari
hukum wajib. Maka ini menunjukkan bahwa Istihsan adalah hujjah.
Hadits Nabi saw:
‫م‬
‫م‬
‫ئ‬
‫سي ينئا فمههوم ه‬
‫سننا فمههوم ه‬
‫سي ي ن‬
‫عن ند م الل لهه م‬
‫ن م‬
‫مو م‬
‫عن ند م الل لهه م‬
‫ما مرأنوا م‬
‫ح م‬
‫ح م‬
‫م ن‬
‫ن وم م‬
‫سل ه ه‬
‫ما مرأىَ ال ن ه‬
‫فم م‬.
‫س ن‬
Artinya:“Apa yang dipandang kaum muslimin sebagai sesuatu yang baik, maka ia di sisi Allah
adalah baik dan apa-apa yang dipandang sesuatu yang buruk, maka disisi Allah adalah buruk
pula”.
Hadits ini menunjukkan bahwa apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin dengan akal-sehat mereka,
maka ia pun demikian di sisi Allah. Ini menunjukkan kehujjahan Istihsan.
Contoh istihsan macam pertama: Menurut Madzhab Hanafi: bila seorang mewaqafkan sebidang tanah
pertanian, maka termasuk yang diwaqafkannya itu hak pengairan, hak membuat saluran air di atas tanah
itu dan sebagainya. Hal ini ditetapkan berdasar istihsan. Menuryt qiyas jali hak-hak tersebut tidak
mungkin diperoleh, karena mengqiyaskan waqaf itu dengan jual beli. Pada jual beli yang penting ialah
pemindahan hak milik dari penjual kepada pembeli. Bila waqaf diqiyaskan kepada jual beli, berarti yang
penting ialah hak milik itu. Sedang menurut istihsan hak tersebut diperoleh dengan mengqiyaskan waqaf
itu kepada sewa-menyewa. Pada sewa-menyewa yang penting ialah pemindahan hak memperoleh
manfaat dari pemilik barang kepada penyewa barang. Demikian pula halnya dengan waqaf. Yang penting
pada waqaf ialah agar barang yang diwaqafkan itu dapat dimanfaatkan. Sebidang sawah hanya dapat
dimanfaatkan jika memperoleh pengairan yang baik. Jika waqaf itu diqiyaskan kepada jual beli (qiyas
jali), maka tujuan waqaf tidak akan tercapai, karena pada jual beli yang diutamakan pemindahan hak

milik. Karena itu perlu dicari ashalnya yang lain, yaitu sewa-menyewa. Kedua peristiwa ini ada
persamaan ‘illatnya yaitu mengutamakan manfaat barang atau harta, tetapi qiyasnya adalah qiyas khafi.
Karena ada suatu kepentingan, yaitu tercapainya tujuan waqaf, maka dilakukanlah perpindahan dari qiyas
jali kepada qiyas khafi, yang disebut istihsan.
Contoh lain adalah mengenai sisa minuman burung buas, seperti sisa burung elang burung gagak dan
sebagainya adalah suci dan halal diminum. Hal ini ditetapkan dengan istihsan. Menurut qiyas jali sisa
minuman binatang buas, seperti anjing dan burung-burung buas adalah haram diminum karena sisa
minuman yang telah bercampur dengan air liur binatang itu diqiyaskan kepada dagingnya. Binatang buas
itu langsung minum dengan mulutnya, sehingga air liurnya masuk ke tempat minumnya. Menurut qiyas
khafi bahwa burung buas itu berbeda mulutnya dengan mulut binatang huas. Mulut binatang buas terdiri
dari daging yang haram dimakan, sedang mulut burung buas merupakan paruh yang terdiri atas tulang
atau zat tanduk dan tulang atau zat tanduk bukan merupakan najis. Karena itu sisa minum burung buas itu
tidak bertemu dengan dagingnya yang haram dimakan, sebab diantara oleh paruhnya, demikian pula air
liurnya. Dalam hal ini keadaan yang tertentu yang ada pada burung buas yang membedakannya dengan
binatang buas. Berdasar keadaan inilah ditetapkan perpindahan dari qiyas jali kepada qiyas khafi, yang
disebut istihsan.
Contoh istihsan macam kedua: Syara’ melarang seseorang memperjualbelikan atau mengadakan
perjanjian tentang sesuatu barang yang belum ada wujudnya, pada saat jual beli dilakukan. Hal ini berlaku
untuk seluruh macam jual beli dan perjanjian yang disebut hukum kuIIi. Tetapi syara’ memberikan
rukhshah (keringanan) kepada pembelian barang dengan kontan tetapi barangnya itu akan dikirim
kemudian, sesuai dengan waktu yang telah dijanjikan, atau dengan pembelian secara pesanan (salam).
Keringanan yang demikian diperlukan untuk memudahkan lalu-lintas perdagangan dan perjanjian.
Pemberian rukhshah kepada salam itu merupakan pengecualian (istitana) dari hukum kulli dengan
menggunakan hukum juz-i, karena keadaan memerlukan dan telah merupakan adat kebiasaan dalam
masyarakat.
Yang berpegang dengan dalil istihsan ialah Madzhab Hanafi, menurut mereka istihsan sebenarnya
semacam qiyas, yaitu memenangkan qiyas khafi atas qiyas jali atau mengubah hukum yang telah
ditetapkan pada suatu peristiwa atau kejadian yang ditetapkan berdasar ketentuan umum kepada
ketentuan khusus karena ada suatu kepentingan yang membolehkannya. Menurut mereka jika dibolehkan
menetapkan hukum berdasarkan qiyas jali atau maslahat mursalah, tentulah melakukan istihsan karena
kedua hal itu pada hakekatnya adalah sama, hanya namanya saja yang berlainan. Disamping Madzhab
Hanafi, golongan lain yang menggunakan istihsan ialah sebagian Madzhab Maliki dan sebagian Madzhab
Hambali.
Yang menentang istihsan dan tidak menjadikannya sebagai dasar hujjah ialah Madzhab Syafi’i. Istihsan
menurut mereka adalah menetapkan hukum syara’ berdasarkan keinginan hawa nafsu. Imam Syafi’i
berkata: “Siapa yang berhujjah dengan istihsan berarti ia telah menetapkan sendiri hukum syara’
berdasarkan keinginan hawa nafsunya, sedang yang berhak menetapkan hukum syara’ hanyalah Allah
SWT.” Dalam buku Risalah Ushuliyah karangan beliau, dinyatakan: “Perumpamaan orang yang
melakukan istihsan adalah seperti orang yang melakukan shalat yang menghadap ke suatu arah yang
menurut istihsan bahwa arah itu adalah arah Ka’bah, tanpa ada dalil yang diciptakan pembuat syara’
untuk menentukan arah Ka’bah itu.”
Jika diperhatikan alasan-alasan yang dikemukakan kedua pendapat itu serta pengertian istihsan menurut
mereka masing-masing, akan jelas bahwa istihsan menurut pendapat Madzhab Hanafi berbeda dari
istihsan menurut pendapat Madzhab Syafi’i. Menurut Madzhab Hanafi istihsan itu semacam qiyas,
dilakukan karena ada suatu kepentingan, bukan berdasarkan hawa nafsu, sedang menurut Madzhab
Syafi’i, istihsan itu timbul karena rasa kurang enak, kemudian pindah kepada rasa yang lebih enak.
Seandainya istihsan itu diperbincangkan dengan baik, kemudian ditetapkan pengertian yang disepakati,
tentulah perbedaan pendapat itu dapat dikurangi. Karena itu asy-Syathibi dalam kitabnya Al-Muwâfaqât
menyatakan: “orang yang menetapkan hukum berdasarkan istihsan tidak boleh berdasarkan rasa dan
keinginannyya semata, akan tetapi haruslah berdasarkan hal-hal yang diketahui bahwa hukum itu sesuai
dengan tujuan Allah SWT menciptakan syara’ dan sesuai pula dengan kaidah-kaidah syara’ yang umum”.

3. Pembagian Istihsan dan contoh produk hukumnya
Ulama Hanafiah membagi Istihsan kepada enam macam. Sebagaimana di jelaskan oleh al-Syatibi[5],
yaitu:
1. Istihsan bil an-Nash (Istihsan berdasarkan ayat atau hadits). Yaitu penyimpangan suatu ketentuan
hukum berdasarkan ketetapan qiyas kepada ketentuan hukum yang berlawanan dengan yang
ditetapkan berdasarkan nash al-kitab dan sunnah. Contoh: dalam masalah wasiat. Menurut
ketentuan umum wasiat itu tidak boleh, karena sifat pemindahan hak milik kepada orang yang
berwasiat ketika orang yang berwasiat tidak cakap lagi, yaitu setelah ia wafat. Tetapi, kaidah
umum ini di dikecualikan melalui firman Allah Swt dalam Surat An-Nisa ayat 11 yang artinya:
“setelah mengeluarkan wasiat yang ia buat atau hutang”. Contoh istihsan dengan sunnah
Rasulullah adalah dalam kasus orang yang makan dan minum karena lupa pada waktu ia sedang
berpuasa. Menurut kaidah umum (qiyas), puasa orang ini batal karena telah memasukan sesuatu
kedalam tenggorokannya dan tidak menahan puasanya sampai pada waktu berbuka. Akan tetapi
hukum ini dikecualikan oleh hadits Nabi Saw yang mengatakan: “Siapa yang makan atau minum
karena lupa ia tidak batal puasanya, karena hal itu merupakan rizki yang diturunkan Allah
kepadanya” (HR. At.Tirmidzi).
1. Istihsan bi al-Ijma (istihsan yang didasarkan kepada ijma).yaitu meninggalkan
keharusan menggunakan qiyas pada suatu persoalan karena ada ijma. Hal ini terjadi
karena ada fatwa mujtahid atas suatu peristiwa yang berlawanan dengan pokok atau
kaidah umum yang ditetapkan, atau para mujtahid bersikap diam dan tidak menolak apa
yang dilakukan manusia, yang sebetulnya berlawanan dengan dasar-dasar pokok yang
telah ditetapkan. [6] msalnya dalam kasus pemandian umum. Menurut kaidah umum, jasa
pemandian umum itu harus jelas, yaitu harus berapa lama seseorang harus mandi dan
berapa liter air yang dipakai. Akan tetapi, apabila hal itu dilakukan maka akan
menyulitkan bagi orang banyak. Oleh sebab itu, para ulama sepakat menyatakan bahwa
boleh menggunakan jasa pemandian umum sekalipun tanpa menentukan jumlah air dan
lamanya waktu yang dipakai.
2. Istihsan bi al-Qiyas al-Khafi (Istihsan berdasarkan qiyas yang tersembunyi). Yaitu
memalingkan suatu masalah dari ketentuan hukum qiyas yang jelas kepada ketentuan
qiyas yang samar, tetapi keberadaannya lebih kuat dan lebih tepat untuk diamalkan.
[7]misalnya, dalam wakaf lahan pertanian. Menurut qiyas jali, wakaf ini sama dengan
jual beli karena pemilik lahan telah menggugurkan hak miliknya dengan memindah
tangankan lahan tersebut. Oleh sebab itu, hak orang lain untuk melewati tanah tersebut
atau mengalirkan air ke lahan pertanian melalui tanah tersebut tidak termasuk ke dalam
akad wakaf itu, kecuali jika dinyatakan dalam akad. Dan menurut qiyas al-khafi wakaf itu
sama dengan akad sewa menyewa, karena maksud dari wakaf itu adalah memanfaatkan
lahan pertanian yang diwakafkan. Dengan sifat ini, maka seluruh hak melewati tanah
pertanian itu atau hak mengalirkan air diatas lahan pertanian tersebut termasuk kedalam
akad wakaf, sekalipun tidak dijelaskan dalam akad.
3. Istihsan bi al-maslahah (istihsan berdasarkan kemaslahatan). Misalnya kebolehan dokter
melihat aurat wanita dalam proses pengobatan. Menurut kaidah umum seseorang dilarang
melihat aurat orang lain. Tapi, dalam keadaan tertentu seseorang harus membuka bajunya
untuk di diagnosa penyakitnya. Maka, untuk kemaslahatanorang itu, maka menurut
kaidah istihsan seorang dokter dibolehkan melihat aurat wanita yang berobat kepadanya.
4. Istihsan bi al-Urf ( Istihsan berdasarkan adat kebiasaan yang berlaku umum). Yaitu
penyimpangan hukum yang berlawanan dengan ketentuan qiyas, karena adanya Urf yang
sudah dipraktikkan dan sudah dikenal dalam kehidupan masyarakat. Contohnya seperti
menyewa wanita untuk menyusukan bayi dengan menjamin kebutuhan makan, minum
dan pakaiannya.
5. Istihsan bi al-Dharurah (istihsan berdasarkan dharurah). Yaitu seorang mujtahid
meninggalkan keharusan pemberlakuan qiyas atas sesuatu masalah karena berhadapan

dengan kondisi dhorurat, dan mujtahid berpegang kepada ketentuan yang mengharuskan
untuk memenuhi hajat atau menolak terjadinya kemudharatan. Misalnya dalam kasus
sumur yang kemasukan najis. Menurut kaidah umum sumur tersebut sulit dibersihkan
dengan mengeluarkan seluruh air dari sumur tersebut, karena sumur yang sumbernya dari
mata air sulit dikeringkan. Akan tetapi ulama Hanafiah mengatakan bahwa dalam
keadaan seperti ini untuk menghilangkan najis tersebut cukup dengan memasukan
beberapa galon air kedalam sumur itu, karena keadaan dharurat menghendaki agar
orangtidak mendapatkan kesulitan untuk mendapatkan air untuk ibadah.
1. Ikhtilaf Para Ulama Tentang Istihsan
Menyikapi penggunaan Istihsan kemudian menjadi masalah yang diperselisihkan oleh para ulama. Dan
dalam hal ini, terdapat dua pandangan besar yang berbeda dalam menyikapi Istihsan sebagai salah satu
bagian metode ijtihad. Imam Abu Hanifah sebagai seorang yang menampilkan istihsan sebagai salah satu
dalil dalam istinbath hukum, mendapat serangan dan kritikan yang hebat dari lawan-lawan yang menolak
istihsan.[8] Berikut ini adalah penjelasan tentang kedua pendapat tersebut beserta dalilnya.
1. a.
Kelompok Yang Menerima Istihsan sebagai Dalil Hukum
Istihsan dapat digunakan sebagai bagian dari ijtihad dan hujjah. Pendapat ini dipegangi oleh Hanafiyah,
Malikiyah dan Hanabilah. Adapun yang menjadikan alasan bagi kelompok ini, bahwa istihsan sebagai
salah satu dalil hukum syara dan merupakan hujjah dalam istinbath hukum adaah:
1. Berdasarkan penelitian terhadap berbagai kasus dan penetapan hukumnya ternyata berlawanan
dengan ketentuan qiyas atau ketentuan umum, dimana kadang-kadang dalam penerapannya
terhadap sebagian kasus tersebut justru bisa menghilangkan kemaslahatan yang dibutuhkan oleh
manusia, karena kemaslahatan itu merupakan peristiwa khusus. Maka, sangat tepat jika membuka
jalan seseorang mujtahid untuk memalingkan suatu kasus yang seharusnya berdasarkan qiyas atau
ketentuan kulli kepada ketentuan hukum yang lain agar dapat merealisir maslahat dan menolak
mafsadat.[9]
2. Kelompok ini menggunakan dalil-dalil Al-Qur’an dalam mempertahankan istihsan sebagai
hujjah, yang mana ayat-ayat tersebut mengacu kepada mengangkat kesulitan dan kesempitan dari
umat manusia. Diantaranya adalah firman Allah Swt:
‫يريد بكم اليسر ول يريد بكم العسر‬
.Artinya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.
dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas
petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
1. Menggunakan dalil sunnah sebagai berikut:
‫رواه احمد ابن حنبل‬. ‫ما راه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن‬
Artinya: “Apa saja yang dipandang baik oleh umat Islam baik juga di sisi Allah “.(HR. Ahmad Ibn
Hanbal)
Menurut Madzhab Maliki, istihsan adalah salah satu metode istinbat (menyimpulkan) hukum yang diakui
diambil secara induktif (istiqro’i) dari sejumlah dalil secara keseluruhan (jumlah). Dengan demikian
orang yang menggunakan istihsan tidak berarti semata-mata mengunakan perasaannya dan keinginannya
yang subjektif, tetapi berdasarkan tujuan (maqosid) syara’. Karena apabila kias yang diamalkan maka
tujuan syarak dalam menurunkan hukum tidak akan tercapai. Misalnya, membuka aurat untuk keperluan
pengobatan dalam rangka mencari penyembuhan suatu penyakit, apabila kias yang diamalkan maka aurat
tidak boleh dibuka untuk keperluan pengobatan, maka upaya pengobatan tidak bisa dilakukan, dan ini
berarti menimbulkan kesulitan.
Selain itu Ia juga berpendapat bahwa al-istihsan adalah mengambil maslahah yang merupakan bagian
dalam dalil yang bersifat kully(menyeluruh) dengan mengutamakan al-istidlal al-mursal daripada qiyas.
Dari Ta’rif di atas, jelas bahwa al-istihsan lebih mementingkan maslahah juz’iyyah atau maslahah tertentu
dibandingkan dengan dalil kully atau dalil yang umum atau dalam kata lain sering dikatakan bahwa alistihsan adalah beralih dari satu qiyas ke qiyas yang lain yang dianggap lebih kuat dilihat dari tujuan
syari’at diturunkan. Tegasnya, al-istihsan selalu melihat dampak sesuatu ketentuan hukum, jangan sampai
membawa dampak merugikan tapi harus mendatangkan maslahah atau menghindari madarat, namun

bukan berarti istihsan adalah menetapkan hukum atas dasar ra’yu semata, melainkan berpindah dari satu
dalil ke dalil yang lebih kuat yang kandungannya berbeda. Dalil kedua ini dapat berwujud ijma’, ‘urf atau
al-maslahah al-mursalah.
1. b.
Kelompok Yang Menolak Istihsan Sebagai Dalil Hukum
Istihsan tidak dapat dijadikan sebagai hujjah dalam berijtihad. Pendapat ini dipegangi oleh Syafi’iyah dan
Zhahiriyah.Para pendukung pendapat ini melandaskan pendapatnya dengan dalil-dalil berikut:
1. Bahwa syariat Islam itu terdiri dari nash al-Qur’an, al-Sunnah atau apa yang dilandaskan pada
keduanya. Sementara Istihsan bukan salah dari hal tersebut. Karena itu ia sama sekali tidak diperlukan
dalam menetapkan sebuah hukum.
2.
Firman Allah:
‫ فان تنزعتم فى شيء فردوه الى الله‬.‫يا يها الذين امنوا اطيعوا الله واطيعوا الرسول واولى المر منكم‬
‫ ذلك خير واحسن تاويل‬.‫ان كنتم تؤمنون بالله واليوم الخر‬. ‫والرسول‬
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di
antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada
Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari
kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
Ayat ini menunjukkan kewajiban merujuk kepada Allah dan Rasul-Nya dalam menyelesaikan suatu
masalah, sementara Istihsan tidak termasuk dalam upaya merujuk kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan
demikian, ia tidak dapat diterima.
1. Jika seorang mujtahid dibenarkan untuk menyimpulkan hukum dengan akalnya atas dasar
Istihsan dalam masalah yang tidak memiliki dalil, maka tentu hal yang sama boleh dilakukan oleh
seorang awam yang boleh jadi lebih cerdas dari pada sang mujtahid. Dan hal ini tidak dikatakan
oleh siapapun, karena itu seorang mujtahid tidak dibenarkan melakukan Istihsan dengan
logikanya sendiri.
2. Istihsan adalah menetapkan hukum berdasar maslahah. Jika maslahah itu sesuai dalam nash
dibolehkan, tetapi maslahah yang dijadikan pedoman dalam istihsan adalan maslahah menurut
para ulama’.
3. Rosulullah SAW ketika menghukumi persoalan yang belum ada dalam al Qur’an tidak
menggunakan istihsan, melainkan menunggu turunnya wahyu.
4. Ibn Hazm (w. 456 H) mengatakan: “Para sahabat telah berijma’ untuk tidak menggunakan ra’yu,
termasuk di dalamnya Istihsan dan qiyas. Umar bin al-Khathab radhiyallahu ‘anhu mengatakan:
‘Jauhilah para pengguna ra’yu! Karena mereka adalah musuh-musuh Sunnah…’ ….”
Selain Imam Syafi’i kalangan ulama zhahiriyah juga menolak penggunaan qiyas secara prinsip, demikian
pula ulama syi’ah dan sebagian ulama kalam mu’tazilah karena mereka tidak menerima qiyas, maka
dengan sendrinya mereka pun menolak istihsan karena kedudukan istihsan dalam posisinya sebagai dalil
hukum adalah lebih rendah dari qiyas
Selain dari kalangan ulama zhahiriyah yang sependapat dengan imam syafi’i ada juga para ulama yang
menolak istihsan dengan alasan yang dituntut dari kaum muslimin untuk diikuti adalah hukum yang
ditetapkan Allah atau yang ditetapkan Rasul atau hukum yang di qiyaskan kepada hukum Allah dan
hukum Rasul itu. Sedangkan hukum yang ditetapkan berdasarkan apa yang di anggap baik oleh mujtahid
adalah hukum buatan manusia dan bukan hukum syar’i.[10]
Demikianlah dua pendapat para ulama dalam menyikapi hujjiyah Istihsan dalam Fiqih Islam beserta
beberapa dalil dan argumentasi mereka masing-masing. Lalu manakah yang paling kuat dari kedua
pendapat tersebut?
Jika kita mencermati pandangan dan dalil pendapat yang pertama, kita akan menemukan bahwa pada saat
mereka menetapkan Istihsan sebagai salah satu sumber hukum, hal itu tidak serta merta berarti mereka
membebaskan akal dan logika sang mujtahid untuk melakukannya tanpa batasan yang jelas. Setidaknya
ada 2 hal yang harus dipenuhi dalam proses Istihsan: ketiadaan nash yang sharih dalam masalah dan
adanya sandaran yang kuat atas Istihsan tersebut (sebagaimana akan dijelaskan dalam “Jenis-jenis
Istihsan).

Dan jika kita kembali mencermati pandangan dan argumentasi ulama yang menolak Istihsan, kita dapat
melihat bahwa yang mendorong mereka menolaknya adalah karena kehati-hatian dan kekhawatiran
mereka jika seorang mujtahid terjebak dalam penolakan terhadap nash dan lebih memilih hasil olahan
logikanya sendiri. Dan kekhawatiran ini telah terjawab dengan penjelasan sebelumnya, yaitu bahwa
Istihsan sendiri mempunyai batasan yang harus diikuti. Dengan kata lain, para pendukung pendapat kedua
ini sebenarnya hanya menolak Istihsan yang hanya dilandasi oleh logika semata, tanpa dikuatkan oleh
dalil yang lebih kuat.
1. C. Istishab
2. 1.
Pengertian Istishab
‫ست ل ف‬
Istishab menurut etimologi berasal dari kata istishaba dalam sighat istif’al (‫ل‬
‫ف ع‬
‫ )ا ل ف‬yang bermakna:
‫عاَ ل‬
‫ه‬
‫ص ع‬
‫ص ع‬
‫ا ل ف‬. Kalau kata ‫ه‬
‫ ا ل ف‬diartikan
‫حب ع ف‬
‫ست ل ف‬
‫حب ع ف‬
‫ست ل ف‬
‫معرارر ُال ص‬
‫ ال ص‬diartikan dengan sahabat atau teman dan ‫معرارر‬
selalu atau terus menerus, maka istishab secara lughawi artinya selalu menemani atau selalu menyertai.
Atau diartikan dengan minta bersahabat, atau membandingkan sesuatu dan mendekatkannya, atau
pengakuan adanya perhubungan atau mencari sesuatu yang ada hubunganny [11].Dan disebutkan juga
bahwa istishab berasal dari kata shuhbah artinya “menemani atau menyerta”, dalam artian menurut
kebersamaan atau “terus menerusnya bersama”.sebagaimana yang dikatakan oleh para ahli bahasa dengan
mengatakan:
‫ف ع‬
‫شي فعئاَ ُ ع‬
‫م ُ ع‬
‫ل ُ ع‬
‫كر ل‬
1. ‫حعبه‬
ْ‫ي ء‬
‫ص ع‬
‫ق ف‬
‫ء ُعلعز ع‬
‫د ُا ل ف‬
‫ست ل ف‬
‫ش ف‬
Artinya: “Segala sesuatu yang menetapi pada sesuatu, maka ia menemani atau menyertainya”.
Dari pengertian yang lain, menurut bahasa perkataan Istishab diambil dari perkataan “Istishhabtu maa
kaana fil maadhi,” artinya “saya membawa serta apa yang telah ada waktu yang lampau sampai sekarang.
Menurut Istilah Usul, Istishhab ialah melanjutkan berlakunya hukum yang telah ada dan yang telah
ditetapkan karena sesuatu dalil, sampai ada dalil lain yang mengubah kedudukan hukum tersebut. Atau
dengan perkataan lain; Istishhab ialah menganggap hukum sesuatu soal yang telah ada menyertai tetap
soal tersebut, sampai ada dalil yang memutuskan adanya penyertaan tersebut. Kalau sesuatu dalil syara`
menetapkan adanya sesuatu hukum pada sesuatu waktu yang telah lewat dan menetapkan pula berlakunya
untuk seterusnya, maka hukum tersebut tetap berlaku, tanpa diragukan lagi. Seperti firman Allah:
“Jangan kamu terima persaksian mereka selamanya.”. Akan tetapi kalau dalil tersebut hanya menetapkan
adanya hukum saja, pada waktu yang telah lampau, tanpa menyinggung-nyinggung tetap berlakunya,
maka apakah hukum tersebut dianggap telah berlaku atau tidak?.Sedang menurut istilah ditemukan
beberapa redaksi dari para ahli yang mendefinisikannya, diantaranya adalah:
Imam al- Asnawy:
‫ن‬
‫ء ُ ع‬
‫ة ُ ع‬
‫ععباَعر ة‬
‫ه ُ ل‬
‫ن ُالصثاَلنىِ ُب لعناَ ء‬
‫مءرا ُ ل‬
‫ب ُ ل‬
‫وت ل ل‬
‫و ع‬
‫اع ص‬
‫ن ُفال ر‬
‫حاَ ع‬
‫ص ع‬
‫ن ُا فلل ف‬
‫فىِ ُالصز ع‬
‫فىِ ُالصز ع‬
‫ن ُا ع ف‬
‫ست ل ف‬
‫ماَ ل‬
‫ععلىِ ُث رب ر ف‬
‫ماَ ل‬
‫م ُي رث فب لت ر ف‬
‫حك ف ل‬
‫ع ل‬
‫ع‬
‫ر‬
‫غلير‬
‫ح ُللت ص ع‬
‫صل ر‬
‫و ر‬
‫ل ُل ل ع‬
‫ولد ُ ع‬
‫ماَي ع ف‬
‫ج ف‬
‫م ُ ر‬
‫و ل‬
‫ال ص‬
‫عد ع ل‬
“Istishab adalah melanjutkan berlakunya hukum yang sudah ada dan sudah ditetapkan ketetapan
hukumnya, lantaran sesuatu dalil sampai ditemukan dalil lain yang mengubah ketentuan hukum tersebut
Istishab diartikan Hasby Ash-Shiddiqy dengan:
‫ماَ ُ ع‬
‫ماَ ُ ع‬
‫ر ُ)لاعت ل ع‬
‫ا لب ف ع‬
ُ ‫ن‬
‫م ُا فرلم ع‬
‫ن ُ ع‬
‫ن ُ ع‬
‫قاَ ر‬
‫عل عي ف ل‬
‫كاَ ع‬
‫كاَ ع‬
‫قاَ ر‬
‫ه ُللن ف ع‬
‫ععلىِ ُ ع‬
‫ء ُ ع‬
‫و ل‬
‫د ُك ع ف‬
‫غي ي ل‬
‫دا ل‬
‫ف‬
‫ع‬
‫ف‬
‫ال ص‬
‫ر‬
‫ئ ُ ل‬
‫حاَ ل‬
‫ماَ ل‬
‫و ُال ع‬
‫فىِ ُال ع‬
‫ش ل‬
‫ض ل‬
‫ضىِ ُا ل‬
(ُ ‫ل‬
‫ه ُ ل‬
‫وت ل ل‬
‫فىِ ُفال ع‬
‫ج ر‬
‫ب ُظع ص‬
‫و ل‬
‫حاَ ل‬
‫ن ُث رب ر ف‬
‫ير ف‬
‫ف‬
‫ع‬
‫ف‬
‫ل‬
َ‫ا‬
‫ب‬
‫ق‬
‫ت‬
‫س‬
‫ل‬
‫ا‬
‫و‬
‫ا‬
‫ل‬
‫ل‬
‫ع‬
‫ل ل ف‬
‫ل‬
“Mengekalkan apa yang telah ada atas keadaan yang telah ada, karena tidak ada yang mengubah
hukum, atau karena sesuatu hal yang belum diyakini.
Dari pengertian yang lain juga disebutkan, istishab berasal dari bahasa Arab ialah: pengakuan adanya
perhubungan. Sedangkan dari kalangan ulama` (ahli) ushul fiqih Istishab menurut istilah adalah
menetapkan hukum atas sesuatu berdasarkan keadaan sebelumnya, sehingga ada dalil yang menunjukkan
atas perubahan keadaan tersebut. Atau menetapkan hukum yang telah tetap pada masa yang lalu dan
masih tetap pada keadaannya itu, sehingga ada dalil yang menunjukkan atas perubahannya. Adapun
definisi Istishab menurut Al Ghazali adalah berpegang pada dalil akal atau syara`, bukan didasarkan
karena tidak mengetahui adanya dalil, tetapi setelah dilakukan pembahasan dan penelitian cermat,

diketahui tidak ada dalil yang mengubah hukum yang telah ada. Atau tetap berpegang kepada hukum
yang telah ada dari suatu peristiwa atau kejadian sampai ada dalil yang mengubah hukum tersebut, atau
menyatakan tetapnya hukum pada masa yang lalu, sampai ada dalil yang mengubah ketetapan hukum itu.
Menurut Ibnu Qayyim, istishab adalah menyatakan tetap berlakunya hukum yang telah ada dari suatu
peristiwa, atau menyatakan belum adanya hukum suatu peristiwa yang belum pernah ditetapkan
hukumnya. Menurut Asy Syatibi, istishab adalah segala ketetapan yang telah ditetapkan pada masa yang
lampau dinyatakan tetap berlaku hukumnya pada masa sekarang.
Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat ditarik sebuah ikhtisar bahwa istishab adalah:
1. Segala hukum yang telah ditetapkan pada masa lampau, dinyatakan tetap berlaku pada masa
sekarang, kecuali kalau telah ada yang mengubahnya. Contohnya adalah sebagai berikut:
Seseorang yang mulanya ada wudhu, kemudian datang was-was dalam hatinya, bahwa boleh jadi
dia telah mengeluarkan angin yang membatalkan wudhunya. Dalam kondisi begini, hendaklah ia
menetapkan hukum semula, yaitu ada wudhu. Dan was-was yang datang belakangan itu, tidak
boleh mengubah hukum yang semula.
2. Segala hukum yang ada pada masa sekarang, tentu telah ditetapkan pada masa yang lalu
Contohnya adalah sebagai berikut: Telah terjadi perkawinan antara laki-laki A dengan perempuan B,
kemudian mereka berpisah dan berada di tempat berjauhan selama 15 tahun. Karena telah lama berpisah
itu, maka B ingin kawin dengan laki-laki C. Karena dalam hal ini B belum dapat kawin dengan C karena
ia telah terikat tali perkawinan dengan A dan belum ada perubahan hukum tali perkawinan walaupun
mereka telah lama berpisah. [12]
1. 2.
Macam-macam Istishab
Para ulama ushul Fiqih mengemukakan bahwa istishab itu ada lima macam. [13]Yaitu:
1. Istishab hukm al- ibahah al ashliyah. Maksudnya, menetapkan hukum sesuatu yang bermanfaat
bagi manusia adalah boleh, selama belum ada dalil yang menunjukkan keharamannya.
Contohnya: seluruh pepohonan yang ada dihutan merupakan milik bersama manusia dan masingmasing berhak menebang dan mengambil manfaatkan pohon dan buahnya, sampai pada bukti
yang menunjukkan bahwa hutan itu telah menjadi milik orang.
2. Istishab Al-Bara`at Al Ashliyat. Yaitu kontinuitas hukum dasar ketiadaan berdasarkan
argumentasi rasio dalam konteks hukum-hukum syar’i. Maksudnya memberlakukan kelanjutan
status ketiadaan dengan adanya peniadaan yang dibuat oleh akal lantaran tidak adanya dalil syar’i
yang menjelaskannya. Dalam objektivitasnya, istishab tersebut bereferensi kepada hukum akal
dalam hukum ibadah atau baraatul ashliyah (kemurnian menurut aslinya). Akal menetapkan
bahwa dasar hukum pada segala yang diwajibkan adalah dapat diwajibkan sesuatu, kecuali
apabila datang dalil yang tegas mewajibkannya. Contoh: hukum wudhu seseorang dianggap
berlangsung terus sampai adanya penyebab yang membatalkannya.
3. Istishab Al-‘Umumi. Istishab terhadap dalil yang bersifat umum sebelum datangnya dalil yang
mengkhususkannya dan istishab dengan nash selama tidak ada dalil yang naskh (yang membatalkannya). Suatu nash yang umum mencakup segala yang dapat dicakup olehnya sehingga datang
suatu nash lain yang menghilangkan tenaga pencakupannya itu dengan jalan takhsish. Atau
sesuatu hukum yang umum, tidaklah dikecualikan sesuatupun daripadanya, melainkan dengan
ada suatu dalil yang khusus. Contohnya: kewajiban puasa di Bulan Ramadhan yang berlaku bagi
umat sebelum Islam, tetap wajib wajib bagi umat Islam (QS.Al-Baqarah : 183) selama tidak ada
nash lain yang membatalkannya.
1. Istishab An-Nashshi (Istishab Maqlub/Pembalikan). Yaitu istishab pada kondisi sekarang
dalam menentukan status hukum pada masa lampau, sebab istishab pada bentuk-bentuk
sebelumnya, merupakan penetatapan sesuatu pada masa kedua berdasarkan ketetapannya
pada masa pertama lantaran tidak ditemukannya dalil secara spesifik. Urgensinya, dalam
suatu dalil (nash) terus-menerus berlaku sehingga di-nasakh-kan oleh sesuatu nash, yang
lain. Contoh: kasus adanya seseorang yang sedang dihadapkan pertanyaan, apakah
Muhammad kemarin berada di tempat ini?, padahal kemarin ia benar-benar melihat
Muhammad disini. Maka ia jawab, benar ia berada disini kemarin.

2. Istishab Al-Washfi Ats-Tsabiti. Sesuatu yang telah diyakini adanya, atau tidak adanya
masa yang telah lalu, tetaplah hukum demikian sehingga diyakini ada perubahannya.
Disebut pula dengan istishabul madhi bilhali yakni menetapkan hukum yang telah lalu
sampai kepada masa sekarang. Yaitu istishab terhadap hukum yang dihasilkan dari ijma’
dalam kasus yang dalam perkembangannya memicu terjadinya perselisihan pendapat.
Contoh: Kasus orang yang bertayamum, dalam pertengahan shalat melihat air. Menurut
ijma’ ditetapkan shalatnya tidak batal, keabsahan shalat itu ditentukan sebelum melihat
air. Hal ini menunjukkan pula pada keberlanjutan ketetapan hukum, sampai ditemukan
adanya dalil yang menunjukkan batalnya penetapan tersebut.
1. Kedudukan Istishab Sebagai Sumber Hukum Islam
Para Ulama Ushul Fiqih berbeda pendapat tentang kehujjahan Istishab ketika tidak ada dalil syara’ yang
menjelaskan suatu kasus yang dihadapi.[14]
Pertama, menurut mayoritas mutakallimin (ahli kalam), istishab tidak bisa dijadikan dalil. Karena hukum
yang ditetapkan pada masa lampau menghendaki adanya dalil. Demikian juga untuk menetapkan hukum
yang sama pada masa sekarang dan yang akan datang. Istishab bukanlah dalil, karenanya menetapkan
hukum yang ada pada masa lampau berlangsung terus untuk masa yang akan datang, berarti menetapkan
suatu hukum tanpa dalil. Hal ini sama sekali tidak dibolehkan dalam syara’.
Kedua, menurut mayoritas ulama Hanafiah, khususnya mutaakhirin, istishab bisa dijadikan hujjah untuk
menetapkan hukum yang telah ada sebelumnya dan menganggap hukum itu tetap berlaku pada masa yang
akan datang, tetapi tidak bisa menetapkan hukum yang akan ada. Alasan mereka seorang mujtahid dalam
meneliti hukum suatu masalah yang sudah ada, mempunyai gambaran bahwa hukumnya sudah ada atau
sudah di batalkan. Akan tetapi ia tidak mengetahui atau tidak menemukan dalil yang menyatakan bahwa
hukum itu sudah dibatalkan. Dalam kaitan ini, mujtahid tersebut harus berpegang kepada hukum yang
sudah ada, karena ia tidak mengetahui adanya dalil yang membatalkan hukum itu. Namun penetapan ini
hanya berlaku pada kasus yang sudah ada hukumnya dan tidak berlaku bagi kasus yang akan ditetapkan
hukumnya. Artinya, stishab hanya bisa dijadikan hujjah untuk mempertahankan hukum yang sudah ada,
selama tidak ada dalil yang membatalkan hukum itu, tetapi tidak berlaku untuk menetapkan hak yang
baru muncul.
Ketiga, ulama Malikiyah, Syafi’iyyah, Hanabilah, zhahiriyah dan syiah berpendapat bahwa istishab bisa
dijadikan hujjah secara mutlak untuk menetapkan hukum yang sudah ada, selama belum ada dalil yang
mengubahnya. Alasannya adalah, sesuatu yang telah ditetapkan pada masa lalu, selama tidak ada dalil
yang mengubahnya, baik secara qath’i maupun zhanni, maka semestinya hukum yang telah ditetapkan itu
berlaku terus, karena di duga keras belum ada perubahan. Alasan yang menunjukkan berlakunya
berlakunya syari’at di zaman Rasulullah Saw sampai hari kiamat adalah menduga keras berlakunya
syariat itu sampai sekarang, tanpa ada dalil yang menasakh-kannya.
1. 4.
Kaidah-kaidah Istishab
Para ulama fiqih menetapkan beberapa kaidah umum yang didasarkan kepada istishab, diantaranya
adalah:
1. ‫الصال بقاء ما كان على ما كان حتى يثبت ما يغيره‬
Maksudnya, pada dasarnya seluruh hukum yang sudah ada dianggap berlaku terus sampai ditemukan dalil
yang menunjukkan hukum itu tidak berlaku lagi. Contohnya: adalah kasus orang yang hilang diatas.
1. ‫الصال فى الشياء الباحة‬
Maksudnya, pada dasarnya dalam hal-hal yang sifatnya bermanfaat bagi manusia hukumnya adalah boleh
dimanfaatkan. Melalui kaidah ini, maka seluruh akad dianggap sah, selama tidak ada dalil yang
menunjukkan hukumnya batal; sebagaimana juga pada sesuatu yang tidak ada dalil syara’yang
melarangnya, maka hukumnya adalah boleh.
1. ‫اليقين ليزال بالسك‬
Maksudnya, suatu keyakinan tidak bisa dibatalkan oleh sesuatu yang diragukan. Melalui kaidah ini, maka
seseorang yang telah berwudu, apabila merasa ragu akan wudunya itu apakah telah batal atau belum,
maka ia harus berpegang kepada keyakinanya bahwa ia telah berwudu, dan wudunya tetap sah. Tetapi
ulama Malikiyah melakukan pengecualian dalam masalah shalat. Menurutnya apabila keraguan tersebut

berkaitan dengan shalat, maka kaidah ini tidak berlaku. Oleh sebab itu, apabila seseorang ragu dalam
masalah wudunya, maka ia wajib berwudu kembali.
1. ‫الصال فى الذ مة البراءة من التكاليف والحقوق‬
Maksudnya, pada dasarnya seseorang tidak dibebani tanggung jawab sebelum adanya dalil yang
menetapkan tanggung jawab seseorang. Oleh sebab itu, seseorang tergugat dalam kasus apapun tidak bisa
dinyatakan bersalah sebelum adanya pembuktian yang kuat dan meyakinkan bahwa ia bersalah.[15]
1. D. Maslahah Mursalah
1. 1.
Pengertian Maslahah Mursalah
Kata mashlahah memiliki dua arti,[16] yaitu: maslahah berarti manfa’at baik secara timbangan kata yaitu
sebagai masdar, maupun secara makna dan Maslahah fi’il (kata kerja) yang mengandung ash-Shalah yang
bermakna an-naf’u. Dengan demikian, mashlahah jika melihat arti ini merupakan lawan kata dari
mafsadah. Maslahat kadang-kadang disebut pula dengan ( ‫ ) الستصلحا‬yang berarti mencari yang baik (
‫)طلب الصالحا‬.
Menurut istilah ulama ushul ada bermacam-macam ta`rif yang diberikan di antaranya: Imam Ar-Razi
mendefinisikan mashlahah[17] yaitu perbuatan yang bermanfaat yang telah ditujukan oleh syari’ (Allah)
kepada hamba-Nya demi memelihara dan menjaga agamanya, jiwanya, akalnya, keturunannya dan harta
bendanya. Imam Al-Ghazali [18] mendefinisikan sebagai berikut: Maslahah pada dasarnya ialah meraih
manfaat dan menolak madarat. Selanjutnya is menegaskan maksud dari statemen di atas bahwa
maksudnya adalah menjaga maqasid as-syari’ah yang lima, yaitu agama, jiwa, akal, nasab, dan harta.
Selanjutnya ia menegaskan, setiap perkara yang ada salah satu unsur dari maqashid as-syari’ah maka ia
disebut mashlahah. Sebaliknya jika tidak ada salah satu unsur dari maqashid as-syari’ah, maka ia
merupakan mafsadat, sedang mencegahnya adalah mashlahah.
Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka dapat ditarik kesimpuan bahwa mashlahah mursalah
merupakan suatu metode ijtihad dalam rangka menggali hukum (istinbath) Islam, namun tidak
berdasarkan pada nash tertentu, namun berdasarkan kepada pendekatan maksud diturunkannya hukum
syara’ (maqashid as-syari’ah). Kemaslahatan yang menjadi tujuan syara’ bukan kemaslahatan yang
semata-mata berdasarkan keinginan dan hawa nafsu saja. Sebab tujuan pensyari’atan hukum tidak lain
adalah untuk merealisasikan kemaslahatan manusia dalam segala aspek kehidupan dunia agar terhindar
dari berbagai bentuk kerusakan. Penetapan hukum Islam melalui pendekatan masqashid asy-syari’ah
merupakan salah satu bentuk pendekatan dalam menetapkan hukum syara’ selain melalui pendekatan
kebahasaan yang sering digunakan oleh para ulama. Jika dibandingkan dengan penetapan hukum Islam
melalui pendekatan masqashid asy-syari’ah dengan penetapan hukum Islam melalui pendekatan kaidah
kebahasaan, maka pendekatan melalui maqashid asy-syari’ah dapat membuat hukum Islam lebih
fleksibel, luwes karena pendekatan ini akan menghasilkan hukum Islam yang bersifat kontekstual.
Sedangkan pengembangan hukum Islam melalui kaidah kebahasaan akan menghilangkan jiwa
fleksibilitas hukum Islam. Hukum Islam akan kaku (prigid) sekaligus akan kehilangan nuansa
kontekstualnya.[19]
1. 2.
Syarat-syarat Maslahah Mursalah
Golongan yang mengakui kehujjahan maslahah mursalah dalam pembentukan hukum (Islam) telah
mensyaratkan sejumlah syarat tertentu yang dipenuhi, sehingga maslahah tidak bercampur dengan hawa
nafsu, tujuan, dan keinginan yang merusakkan manusia dan agama. Sehingga seseorang tidak menjadikan
keinginannya sebagai ilhamnya dan menjadikan syahwatnya sebagai syari`atnya. Syarat-syarat itu adalah
sebagai berikut:
1. Maslahah itu harus hakikat, bukan dugaan, Ahlul hilli wal aqdi dan mereka yang mempunyai
disiplin ilmu tertentu memandang bahwa pembentukan hukum itu harus didasarkan pada
maslahah hakikiyah yang dapat menarik manfaat untuk manusia dan dapat menolak bahaya dari
mereka. Maka maslahah-maslahah yang bersifat dugaan, sebagaimana yang dipandang sebagian
orang dalam sebagian syari`at, tidaklah diperlukan, seperti dalih mashlahah yang dikatakan dalam
soal larangan bagi suami untuk menalak isterinya, dan memberikan hak talak tersebut kepada
hakim saja dalam semua keadaan. Sesungguhnya pembentukan hukum semacam ini menurut
pandangan kami tidak mengandung terdapat maslahah. Bahkan hal itu dapat mengakibatkan

rusaknya rumah tangga dan masyarakat, hubungan suami dengan isterinya ditegakkan di atas
suatu dasar paksaan undang-undang, tetapi bukan atas dasar keikhlasan, kasih sayang, dan cintamencintai.
2. Maslahah harus bersifat umum dan menyeluruh, tidak khusus untuk orang tertentu dan tidak
khusus untuk beberapa orang dalam jumlah sedikit. Imam-Ghazali memberi contoh tentang
maslahah yang bersifat menyeluruh ini dengan suatu contoh: orang kafir telah membentengi diri
dengan sejumlah orang dari kaum muslimin. Apabila kaum muslimin dilarang membunuh mereka
demi memelihara kehidupan orang Islam yang membentengi mereka, maka orang kafir akan
menang, dan mereka akan memusnahkan kaum muslimin seluruhnya. Dan apabila kaum
muslimin memerangi orang islam yang membentengi orang kafir maka tertolaklah bahaya ini dari
seluruh orang Islam yang membentengi orang kafir tersebut. Demi memlihara kemaslahatan
kaum muslimin seluruhnya dengan cara melawan atau memusnahkan musuh-musuh mereka.
3. Maslahah itu harus sejalan dengan tujuan hukum-hukum yang dituju oleh syari`.Maslahah
tersebut harus dari jenis maslahah yang telah didatangkan oleh Syari`. Seandainya tidak ada dalil
tertentu yang mengakuinya, maka maslahah tersebut tidak sejalan dengan apa yang telah
dituju oleh Islam.
4. Macam-macam Maslahah Mursalah
Maslahat dari segi pembagiannya dapat dibedakan kepada dua macam, yaitu dilihat dari
segi tingkatan dan eksistensinya. Dari segi tingkatan kepada tiga bagian,[20] yaitu:
a. Maslahah dharuriyah (Primer).
Maslahah dharuriyah adalah perkara – perkara yang menjadi tempat tegaknya kehidupan manusia,
yang bila ditinggalkan, maka rusaklah kehidupan manusia, timbullah fitnah, dan kehancuran yang
hebat. Perkara-perkara ini dapat dikembalikan kepada lima perkara, yang merupakan perkara pokok
yang harus dipelihara, yaitu:
1) Jaminan keselamatan jiwa (al-muhafadzah alan-nafs)
2) Jaminan keselamatan akal (al-muhafadzhoh alal-aql)
3) Jaminan keselamatan keluarga dan keturunan (al-muhafadzoh alan-nasl)
4) Jaminan keselamatan harta benda (al-muhafadzoh alal-maal)
5) Jaminan keselamatan agama/kepercayaan (al-muhafadzoh alad-diin)
Kemaslahatan dalam taraf ini mencakup lima prinsip dasar universal dari pensyari’atan atau disebut
juga dengan konsep maqosidus syar’i. Jika hal ini tidak terwujud maka tatakehidupan akan timpang
kebahagiaan akhirat tak tercapai bahkan siksaan akan mengancam. Oleh karena itu kelima macam
maslahat ini harus dipelihara dan dilindungi.
b. Maslahah Hajjiyah (Sekunder).
Maslahah hajjiyah ialah, semua bentuk perbuatan dan tindakan yang tidak terkait dengan dasar yang lain
(yang ada pada maslahah dharuriyah) yang dibutuhkan oleh masyarakat tetap juga terwujud, tetapi dapat
menghindarkan kesulitan dan menghilangkan kesempitan. Hajjiyah ini tidak rusak dan terancam,
tetapi hanya menimbulkan kepicikan dan kesempitan, dan hajjiyah ini berlaku dalam lapangan ibadah,
adat, muamalat, dan dan bidang jinayat. Termasuk kategori hajjiyat dalam perkara mubah ialah
diperbolehkannya sejumlah bentuk transaksi yang dibutuhkan oleh manusia dalam bermu’amalah,
seperti akad muzaro’ah, musaqoh, salam maupun murobahah. Contoh lain dalam hal ibadah ialah
bolehnya berbuka puasa bagi musafir, dan orang Termasuk dalam hal hajjiyah ini, memelihara
kemerdekaan pribadi, kemerdekaan beragama. Sebab dengan adanya kemerdekaan pribadi dan
kemerdekaan beragama, luaslah gerak langkah
hidup manusia. Melarang / mengharamkan rampasan dan penodongan termasuk juga dalam
hajjiyah.
c. Maslahah tahsiniyah atau kamaliyat (Pelengkap/tersier)
Maslahah tahsiniyah ialah mempergunakan semua yang layak dan pantas
yang

dib
enarkan oleh adat kebiasaan yang baik dan dicakup oleh bagian mahasinul akhlak.
Kemaslahatan ini lebih mengacu pada keindahan saja ( ‫ )زينة للحياة‬sifatnya hanya untuk kebaikan dan
kesempurnaan. Sekiranya tidak dapat diwujudkan atau dicapai oleh manusia tidaklah sampai
menyulitkan atau merusak tatanan kehidupan mereka, tetapi ia dipandang penting dan
dibutuhkan. Tahsiniyah juga masuk dalam lapanganan ibadah, adat, muamalah, dan bidang uqubah.
Lapangan ibadah misalnya kewajiban bersuci dari najis, menutup aurat, memakai pakaian yang
baik-baik ketika akan shalat mendekatkan diri kepada Allah melalui amalan-amalan sunah, seperti shalat
sunah, puasa sunah, bersedekah dan lain-lain.
Lapangan adat, seperti menjaga adat makan, minum, memilih makanan-makanan yang baik-baik dari
yang tiak baik/bernajis. Dalam lapangan muamalah, misalnya larangan menjual benda – benda yang
bernajis, tidak memberikan sesuatu kepada orang lain melebihi dari kebutuhannya. Dalam
lapangaan uqubat, misalnya dilarang berbuat curang dalam timbangan ketika berjual beli, dalam
peperangan tidak boleh membunuh wanita, anak-anak, pendeta, dan orang-orang yang sudah lanjut
usia.
Di antara contoh tahsiniyat yang berkaitan dengan harta ialah diharamkannya memalsu barang.
Perbuatan ini tidak menyentuh secara langsung harta itu sendiri (eksistensinya), tetapi menyangkut
kesempurnaanya. Hal itu berlawanan kepentingan dengan keinginan membelanjakan harta secara terang
dan jelas. Jelaslah bahwa dalam hal itu tidak membuat cacat terhadap pokok harta (ashul mal), akan
tetapi berbenturan dengan kepentingan orang yang membelanjakan hartanya, yang mungkin
masih bisa dihindari dangan jalan ihtiyath. Seperti juga contoh pensyari ‘atan thoharoh
sebelum shalat, anjuran berpakaian dan berpenampilan rapih pengharaman makanan-makanan
yang tidak baik dan hal-hal serupa lainnya.
Dilihat dari segi eksistensi atau wujudnya para ulama ushul, juga membagi mashlaha

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

hukum yang blum di sepakati para ulama