Warga Negara dan Kewarganegaraana Indonesia

Warga Negara dan Kewarganegaraan
diposting oleh alhada-fisip11 pada 04 November 2012
di Makalah - 0 komentar

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
.......... Negara sebagai suatu entitas adalah abstrak. Yang tampak adalah unsur-unsur Negara
yang berupa rakyat, wilayah, dan pemerintah. Salah satu unsur Negara adalah rakyat. Rakyat
yang tinggal di wilayah Negara menjadi penduduk suatu Negara. Warga negara memiliki
hubungan dengan negaranya. Kedudukannya sebagai warga negara menciptakan hubungan
berupa peranan, hak , dan kewajiban yang bersifat timbal balik.
.......... Warga negara diartikan dengan orang-orang sebagai bagian dari suatu penduduk yang
menjadi unsur negara atau warga dari suatu negara yakni peserta dari suatu persekutuan yang
didirikan dengan kekuatan bersama. Setiap warga negara mempunyai hak dan kewajiban masingmasing yang harus dilakukannya. Segala sesuatu tentang hak dan kewajiban tersebut sudah
diatur oleh negara. Dan demi terwujudnya kesejahteraan setiap warga negara kita harus dapat
menyeimbangkan antara hak dan kewajiban.

.......... Namun sekarng ini banyak warga negara yang tidak bisa menyeimbangkan antara hak
dan kewajibannya. Misalnya: Para pejabat tinggi negara ini lebih banyak mendapatkan haknya
dibanding dengan kewajiban yang seharusnya mereka penuhi terhadap negara ini. Sebaliknya,
rakyat kecil yang awam dengan hal-hal mengenai hak dan kewajiban mereka dituntut untuk terus
melakukan kewajibannya namun diabaikan hak-hak yang seharusnya mereka dapatkan. Hal
inilah yang menyebabkan terjadinya konflik dimana-mana. Aparatur negara pun juga tidak
melaksanakan kewajibannya dengan benar. Selain kasus seperti itu, problematika
kewarganegaraan juga marak terjadi saat ini.
.......... Dengan fenomena tersebut, pemahaman yang baik mengenai hubungan antar warga
negara dengan Negara sangat penting untuk mengembangkan hubungan yang harmonis,
konstruktif, produktif, dan demokratis. Pada akhirnya pola hubungan yang baik antara warga
negara dapat mendukung kelangsungan hidup bernegara.

1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan warga negara dan kewarganegaraan?
2. Apa hak dan kewajiban warga negara menurut UUD 1945?
3. Seperti apa problema status kewarganegaraan dan ketidak seimbangan hak serta
kewajiban warga negara saat ini?

1.3 Tujuan
1. Menjelaskan pengertian warga negara dan kewarganegaraan.
2. Memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara.
3. Mengetahui seperti apa problema tentang kewarganegaraan saat ini.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Dasar Tentang Warga Negara

1. Pengertian Warga Negara
.......... Warga negara diartikan dengan orang-orang sebagai bagian dari suatu penduduk yang
menjadi unsur negara. Istilah warga negara lebih sesuai dengan kedudukannya sebagai orang
merdeka, karena warga negara mengandung arti peserta, anggota atau warrga dari suatu Negara,
yakni peserta dari suatu persekutuan yang didirikan dengan kekuatan bersama, atas dasar
tanggung jawab bersama untuk kepentingan bersama. Ada beberapa pengertian warga Negara
yaitu :
v AS hikam di dalam Ghazali (2004)
Mendefinisikan bahwa warga Negara merupakan terjemahan dari citizen artinya anggota dari
sebuah komunitas yang membentuk Negara itu sendiri.
v Koerniatmanto S
Mendefinisikan warga Negara dengan anggota Negara. Sebagai anggota Negara, seorang warga
Negara mempunyai kedudukan yang khusus terhadap negaranya. Ia mempunyai hubungan hak
dan kewajiban yang bersifat timbal balik terhadap negaranya.
v Dalam UUD 1945 pasal 26
Warga Negara adalah bangsa Indonesia asli dan bangsa lain yang disahkan undang-undang
sebagai warga Negara.
v Pasal 1 UU No. 24/1958
Warga Negara Republik Indonesia adalah orang-orang yang berdasarkan perundang-undangan
dan/ atau perjanjian-perjanjian dan/ atau peraturan yang berlaku sejak Proklamasi 17 Agustus
1945 sudah menjadi warga Negara Republik Indonesia.

.......... Penduduk suatu negara dapat dibagi atas warganegara dan bukan warga negara (orang
asing). Dalam hubungan dengan negara yang didiaminya, keduannya sangat berbeda, yakni:
1. Setiap warga negara memiliki hubungan yang tidak terputus dengan tanah airnya, dengan
UUD negaranya, walaupun misalnya yang bersangkutan berada di luar negeri, selama
yang bersangkutan tidak memutusakan hubungannya atau terikat oleh ketentuan hukum
Internasional, misalnya seorang yang kawin dengan orang perancis, maka ia otomatis
mengikuti kewarganegaraan suaminya.
2. Penduduk yang bukan warga negara(orang asing) hubungannya hanyalah selama yang
bersangkutanbertempat tinggal dalam wilayah negara tersebut.

2. Kewarganegaraan
.......... Kewarganegaraan (citizenship) artinya keanggotaan yang menunjukkan hubungan atau
ikatan antara negara dengan warga negara. Istilah kewarganegaraan diebdakan menjadi dua,
yaitu :
a. Kewarganegaraan dalam arti yuridis dan Sosiologis
1) Kewarganrgaraan dalam arti Yuridis ditandai dengan adanya ikata hukum antara warga
negara dengan negara yang menimbulkan akibat-akibat hukum tertentu. Tanda-tandanya
misalnya : akta kelahiran, surat pernyataan, bukti kewarganegaraan, dll.
2) Kewarganegaraan dalam arti Sosiologis tidak ditandai dengan ikatan hukum, tetapi ikatan
emosional, seperti : ikatan perasaan, ikatan keturunan, ikatan sejarah, ikatan tanah air, dll.
b. Kewarganegaraan dalam arti Formil dan Materiil
1) Kewarganegaraan dalam arti Formil menunjuk pada tempat kewarganegaraan.
2) Kewarganegaraan dalam arti Materiil menunjuk pada akibat hukum dari status
kewarganegaraan, yaitu adanya hak dan kewajiban warga negara.
.......... Kewarganegaraan seseorang mengakibatkan orang tersebut memiliki pertalian hukum
serta tunduk pada hukum negara yang bersangkutan. Orang yang sudah mempunyai
kewarganegaraan tidak jatuh pada kekuasaan atau kewenangan negara lain. Negara lain tidak
berhak memperlakukan kaidah-kaidah hukum pada orang yang bukan warga negaranya.

2.2 Asas Kewarganegaraan
.......... Sebagaimana dijelaskan di muka bahwa warga negara merupakan anggota sebuah negara
yang mempunyai tanggung jawab dan hubungan timbale balik terhadap negaranya. Seorang yang
diakui sebagai warga negara haruslah ditentukan berdasarkan ketentuan yang telah disepakati
dalam negara tersebut. Ketentuan itu menjadi asas atau pedoman untuk menentukan status
kewarganegaraan seseorang. Setiap negara mempunyai kebebasan dan kewenangan untuk
menetukan asas kewarganegaraan seseorang.
.......... Dalam menerapkan asas kewarganegaraan itu, dikenal dengan dua pedoman, yaitu asas
kewarganegaraan berdasarkan kelahiran dan asas kewarganegaraan berdasarkan perkawinan.
Asas kewarganegaraan berdasarkan kelahiran ada dua asas yaitu : ius soli (tempat kelahiran),
ius sanguinis (keturunan). Sedangkan berdasarkan perkawinan ada dua asas, yaitu : asas
kepastian hukum dan asas persamaan derajat.
1. Asas kewarganegaraan berdasarkan kelahiran

a. Asas Ius Soli (tempat kelahiran)
Istilah ini diambil dari bahsa Latin, yakni ius berarti hukum, pedomaan atau dalil, Soli berasal
dari kata solum berarti negeri, tanah atau dareah. Asas yang menyatakan bahwa
kewarganegaraan seseorang ditentukan dari tempat dimana orang tersebut lahir. Sebagai contoh,
jika sebuah negara menganut asas ius soli, maka seorang yang dilahirkan di negara tersebut
mendapat hak sebagai warga negara.
b. Asas Ius Sanguinis (keturunan)
Sanguinis berasal dari kata sanguis yang artinya darah. Asas ini menyatakan bahwa
kewarganegaraan seseorang ditentukan berdasarkan keturunan dari orang tersebut. Contohnya,
jika sebuah negara menganut asas ius sanguinis, maka seseorang yang dari orang tua yang
memiliki kewarganegaraan suatu negara misalkan saja Indonesia, maka anak tersebut berhak
mendapat status kewarganegaraan orang tuanya, yakni warga negara Indonesia.

2. Asas kewarganegaraan berdasarkan perkawinan
a. Asas persamaan hukum
Asas ini didasarkan pada pandangan bahwa suami istri adalah suatu ikatan yang tidak terpecah
sebagai inti dari masyarakat. Dalam menyelenggarakan kehidupan bersama, suami istri perlu
mencerminkan suatu kesatuan yang bulat termasuk dalam masalah kewarganegaraan.
Berdasarkan asas ini diusahakan status kewarganegaraan suami dan istri adalah sama dan satu.
b. Asas persamaan derajat
Asas ini berasumsi bahwa suatu perkawinan tidak menyebabkan perubahan status
kewarganegaraan suami atau istri. Keduanya memiliki hak yang sama untuk menentukan sendiri
kewarganegaraan. Jadi, mereka dapat berbeda kewarganegaraan seperti halnya sebelum
berkeluarga.

2.3 Unsur-Unsur yang Menentukan Kewarganegaraan
1. Unsur darah keturunan (Ius Sanguinis)
Kewarganegaraan dari orang tua yang menurunkannya menentukan kewarganegaraan seseorang,
artinya kalau anak dilahirkan dari orang tua yang berwarganegara Indonesia, ia dengan
sendirinya juga warga negara Indonesia.
Prinsip ini adalah prinsip asli yang telah berlaku sejak dahulu, yang diantaranya terbukti dalam
system kesukuan, dimana anak dari anggota sesuatu suku dengan sendirinya dianggap sebagai

anggota suku itu. Sekarang prinsip ini berlaku diantaranya di Inggris, Amerika, Perancis, Jepang,
dan juga Indonesia.
2. Unsur daerah tempat kelahiran (ius soli)
Daerah tempat seseorang dilahirkan menentukan kewarganegaraan. Misalnya, kalau orang
dilahirkan di dalam daerah hukum Indonesia, ia dengan sendirinya menjadi warga negara
Indonesia. Terkecuali anggota-anggota korps diplomatik dan anggota tentara asing yang masih
dalam ikatan dinas. Prinsip ini berlaku juga di Amerika, Inggris, Perancis, dan juga Indonesia.
Tetapi di jepang, prinsip ius soli ini tidak berlaku. Karena seseorang yang tidak dapat
membuktikan bahwa orang tuanya berkebangsaan Jepang, ia tidak dapat diakui sebagai warga
negara Jepang.
3. Unsur pewarganegaraan (Naturalisasi)
Walaupun tidak dapat memenuhi prinsip ius soli ataupun ius sanguinis, orang dapat juga
memperoleh kewarganrgaraan dengan jalan pewarganegaraan atau naturalisasi. Syarat-syarat dan
prosedur menurut kebutuhan yang dibawakan oleh kondisi dan situasi negara masing-masing.
.......... Dalam pewarganegaraan ini ada yang aktif ada pula yang pasif. Dalam pewarganegaran
aktif, sesseorang dapat menggunakan hak opsi untuk memilih atau mengajukan kehendak
menjadi warga negara dari suatu negara. Sedangkan dalam pewarganegaraan pasif, seseorang
yang tidak mau diwarganegarakan oleh sesuatu negara atau tidak mau diberi atau dijadikan
warga negara suatu negara, maka yang bersangkutan dapat menggunakan hak repudiasi, yaitu
hak untuk menolak pemberian kewarganegaraan tersebut.

2.4 Status Kewarganegaraan
.......... Dalam sistem kewarganegaraan di Indonesia, Kedudukan warga negara pada dasarnya
adalah sebagai pilar terwujudnya Negara. Sebagai sebuah negara yang berdaulat dan merdeka
Indonesia mempunyai kedudukan yang sama dengan negara lain di dunia, pada dasarnya
kedudukan warga negara bagi negara Indonesia diwujudkan dalam berbagai peraturan
perundang-undangan tentang kewarganegaraan, yaitu :
1. Dalam UUD 1945 pasal 26
2. Yang menjadi warga negara ialah orang-oran bangsa Indnesia asli dan orang-orang
bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara.
3. Penduduk ialah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat tinggal di
Indonesia.
1. UU No. 3 tahun 1946
.......... Sebagai pelaksanaan dari pasal 26 UUD 1945 diatas, Pemerintah Republik Indonesia
pada April 1946 dengan resmi telah mengundangkan UU No.3 Tahun 1946. Menurut UU ini

yang dimaksud dengan penduduk Negara adalah mereka yang telah bertempat tinggal di Tanah
Air kita selama satu tahun berturut-turut. Sedangkan yang dimaksud dengan Warga Negara ialah
mereka yang telah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a)

Penduduk asli dalam wilayah RI, termasuk anak-anak dari penduduk asli tersebut.

b)

Istri seorang Warganegara Indonesia.

c)

Keturunan dari seorang warganegara yang menikah dengan warganegara asing.

d)
Anak-anak yang lahir dalam daerah RI yang oleh orang tuanya tidak diakui dengan cara
yang sah.
e)

Anak-anak yang lahir dalam daerah Indonesia dan tidak diketahui siapa orang tuanya.

f)
Anak-anak yang lahir dalam waktu 300 hari setelah ayahnya yang mempunyai
kewarganegaraan Indonesia meninggal.
g)
Orang yang bukan penduduk asli yang paling akhir telah bertempat tinggal di Indonesia
selama 5 tahun berturut-turut, dan telah berumur 21 tahun dan telah menikah. Dalam hal ini
warga negara Indonesia, ia boleh menolak dengan keterangan bahwa ia adalah warga negara
negara dari negara lain.
h)

Masuk menjadi warga negara Indonesia dengan jelas pewarganegaraan (naturalisasi).

2.5 Hak dan Kewajiban Warga Negara
Hak dan kewajiban warga negara tercantum dalam Pasal 27 sampai dengan pasal 34 UUD 1945.
v Hak warga negara


Hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak (Pasal 27 ayat 2 UUD 1945)

“Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusian”


Hak membela negara (Pasal 27 ayat 3 UUD 1945)

“Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan Negara”


Hak mengeluarkan pendapat (Pasal 28 UUD 1945)

“kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkang pikiran baik dengan tulisan dan tulisan
dan sebagainya ditetapkan dengan Undang-Undang”



Hak kemerdekaan untuk bebes memeluk agama (Pasal 29 ayat 2 UUD 1945)

“Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing
dan untuk beribadat menurut agama dan kepercaannya itu”


Hak ikut serta dalam pertahanan dan keamanan negara (Pasal 30 ayat 1 UUD 1945)

“tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan
Negara”


Hak untuk medapatkan pendidikan (Pasal 31 ayat 1 UUD 1945)

“setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”


Hak untuk mengembangkan dan memajukan kebudayaan nasional (Pasal 32 ayat 1 UUD
1945)

“Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan
menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya”



Hak ekonomi atau hak untuk mendapatkan kesejahteraan sosial (Pasal 33 UUD 1945)
Hak mendapat jaminan keadilan sosial (Pasal 34 UUD 1945)

v Kewajiban warga negara


Kewajiban mentaati hukum dan pemerintahan (Pasal 27 ayat 1 UUD 1945)

“segala warga negara bersamaan kedudukannya didalam hukum dan pemerintahan dan wajib
menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”


Kewajiban membela negara (Pasal 27 ayat 3 UUD 1945)

“Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan Negara”


Kewajiban dalam upaya pertahanan negara (Pasal 30 ayat 1 UUD 1945)

“tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan
Negara”



Setiap warga negara wajib membayar pajak dan retribusi yang telah ditetapkan oleh
pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Setiap warga negara wajib mentaati serta menjunjung tinggi dasar Negara

2.6 Masalah Kewarganegaraan dan Hak serta Kewajiban Warga Negara


Problem status kewarganegaraan

.......... Membicarakan status kewarganegaraan seseorang dalam sebuah negara, maka akan
dibahas beberapa persoalan yang berkenaan dengan seseorang yang dinyatakan sebagai warga
negara dalam sebuah negara. Jika diamati dan dianalisis, di antara penduduk sebuah negara, ada
diantara mereka yang bukan warga negara (orang asing) di negara tersebut. Dalam hal ini,
dikenal dengan sebutan apatride, bipatride dan multipletride.
.......... Apatride merupakan istilah untuk orang-orang yang tidak memiliki status
kewaryganegaraan. Sedangkan, Bipatride merupakan istilah yang digunakan untuk orang-orang
yang memiliki status kewarganegaraan rangkap atau istilah lain dikenal dengan dwikewarganegaraan. Sementara yang dimaksud dengan multipletride adalah istilah yang
digunakan untukmenyebutkan status kewarganegaraan seseorang yang memiliki dua atau lebih
status kewarganegaraan.
.......... Kasus orang-orang yang tidak memiliki status kewarganegaraan merupakan sesuatu yang
akan mempersulit orang tersebuut dalam konteks menjadi penduduk pada suatu negara. Mereka
akan dianggap sebagai orang asing, yang tentunya akan berlaku kententuan-ketentuan peraturan
atau perundang-undangan bagi orang asing, yang selain segala sesuatu kegiatannya akan
terbatasi, juga setiap tahunnya diharuskan membayar sejumlah uang pendaftaran sebagai orang
asing.
.......... Kasus kewarganegaraan dengan kelompok Bipatride, dalam realitas empiriknya,
merupakan kelompok status hukum yang tidak baik. Karena dapat mengacaukan keadaan
kependudukan di antara dua negara, karena itulah tiap negara dalam menghadapi masalah
Bipatride dengan tegas mengharuskan orang-orang yang terlibat untuk secara tegas memilih
salah satu diantara kedua kewarganegaraannya.
.......... Kondisi seseorang dengan status berdwikewarganegaraan, sering terjadi pada penduduk
yang tinggal di daerah perbatasan di antara dua negara. Dalam hal ini, diperlukan peraturan atau
ketentuan-ketentuan yang pasti tentang pembatasan serta wilayah territorial, sehingga penduduk
di daerah itu dapat meyakinkan dirinya termasuk ke dalam kewarganegaraan mana di antara dua
negara tersebut.


Pelaksanaan hak dan kewajiban saat ini

.......... Pada kenyataannya pelaksanaan hak dan kewajiban warga masyarakat tidak ada
keseimbangan. Dimana hak yang mereka peroleh tidak disesuaikan dengan kewajiban yang harus
mereka lakukan. Sebagai contoh: para pejabat tinggi negeri ini, mereka mendapatkan segala
haknya terkadang lebih pula namun mereka tidak dapat menyelesaikan kewajibannya terhadap
negara. Atau rakyat kecil yang tidak tahu apa-apa. Mereka melaksanakan perintah atasan
(kewajiban) namun hak mereka tidak diberikan sebagaimana mestinya. Hal seperti inilah yang
dimaksud dengan tidak seimbangnya hak dan kewajiban warga negara.

BAB III
PENUTUP

1. KESIMPULAN
.......... Syarat-syarat utama berdirinya suatu negara merdeka adalah harus ada wilayah tertentu,
ada rakyat yang tetap dan ada pemerintahan yang berdaulat. Ketiga syarat ini merupakan
kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Tidak mungkin suatu negara berdiri tanpa wilayah dan
rakyat yang tetap, namun bila negara itu tidak memiliki pemerintahan yang berdaulat secara
nasional, maka negara itu belum dapat dikatakan sebagai negara merdeka. Warga negara adalah
rakyat yang menetap di suatu wilayah dan rakyat tertentu dalam hubungannya dengan negara.
Dalam hubungan antara warga negara dan negara, warga negara memiliki kewajiban-kewajiban
terhadap negara dan sebaliknya warga negara juga mempunyai hak-hak yang diberikan dan
dilindungi oleh negara.
.......... Pada dasarnya hak dan kewajiban setiap warga negara itu sudah diatur dan ditetapkan
dalam undang-undang. Dan setiap warga negara wajib untuk melaksanakannya hak dan
kewajibannya dengan baik dan benar. Namun pada kenyataannya, semua itu sudah tidak
terlaksana dengan baik. Terjadi ketidakseimbangan antara hak yang diperoleh dan kewajiban
yang seharusnya dilakukan seseorang. Hal ini yang memicu terjadinya suatu konflik karena
dianggap tidak adanya keadilan di negara ini.
.......... Problem status kewarganegaraan juga sudah banyak terjadi. Ada banyak orang yang tidak
memiliki status kewarganegaraan yang nantinya akan mempersulit orang tersebut dalam menjadi
penduduk suatu negara. Di lain sisi ada orang yang memiliki dua status kewarganegaraan atau
bahkan lebih. Hal ini juga akan mengacaukan keadaan kependudukan di antara negara-negara
tersebut. Penetapan status kewarganegaraan ini sudah diatur di masing-masing negara, jadi setiap
orang dapat memiliki status kewarganegaraan sesuai asas yang berlaku di negara tersebut.
Dengan demikian tidak akan terjadi kekacauan dalam kependudukan suatu negara.
.......... Dengan sistem pemerintahan yang baik problem kewarganegaran tersebut akan dapat
teratasi. Setiap warga negara bertanggung jawab dengan baik atas hak serta kewajibannya maka
tidak akan terjadi ketimpangan atau ketidak seimbangan antar hak dan kewajiban. Selain itu taat
dengan peraturan dalam penentuan status kewarganegaraan akan dapat mengurangi adanya
problem status kewarganegaraan. Sehingga akan tercipta pemerintahan yang baik dalam negara
ini dan semua sistem pemerintahan akan berjalan dengan lancar.

2. SARAN
1. Sebagai warga negara yang baik, bisa mendahulukan kepentingan bersama dari pada
kepentingan individunya.
2. Bisa menyeimbangkan antara hak dan kewajibannya sebagai warga negara Indonesia.
3. Taat dalam melaksakan kewajibannya sebagai warga negara Indonesia.
4. Konsekuen dengan status kewarganegaraan yang disandang.
5. Kebijakan untuk hanya mempunyai satu kewarganegaraan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Azra, azyumardi. 2005. Pendidikan Kewargaan (Civic Education): Demokrasi, HAM
dan Masyarakat Madani. Jakarta: PRENADA MEDIA.
2. Winarno, dwi. 2006. Pendidikan Kewarganegaraan: Paradigma Baru. Jakarta: PT Bumi
Aksara.
3. Kaelan MS dan Achmad Zubaidi. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakartra:
Paradigma.
4. Ubaidillah, Ahmad, (et al). 2000. Pendidikan Kewarganegaraan:Demokrasi, HAM &
Masyarakat Madani. Jakarta: IAIN Jakarta Press.
5. Sukaya, Endang Zaelani, dkk. 2002. Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Perguruan
Tinggi. Yogyakarta: Paradigma.
6. https://iinaprilian.wordpress.com/2010/11/23/contoh-kasus-status-kewarganegaraananak-dalam-perkawinan-campuran/

GLOSARIUM

1. Apatride
2. Asas
berpendapat).

: Orang-orang yang tidak mempunyai suatu kewarganegaraan.
: Dasar (sesuatuu yang menjadi tumpuan berfikir atau

3. Bipatride
: Orang-orang yang mempunyai kewarganegaraan rangkap
atau dwi kewarganegaraan.
4. Formil

: Sesuai dengan peraturan yang sah.

5. Hak opsi
: Hak untuk memilih atau mengajukan kehendak menjadi
warga negara dari suatu negara.
6. Hak repudiasi
negara.

: Hak untuk menolak pemberian kewarganegaraan dari suatu

7. Ius sanguinus
seseorang.

: Unsur darah keturunan menentukan kewarganegaraan

8. Ius soli
: Unsur darah tempat kelahiran menentukan
kewarganegaraan seseorang.
9. Kewarganegaraan
sebagai warga negara.

: Hal yang berhubungan dengan warga negara; keanggotaan

10. Konstruktif

: Bersifat membina, memperbaiki, membangun.

11. Materiil

: Bersifat fisik atau kebendaan.

12. Naturalisasi
pewarganegaraan.

: Kewarganegaraan seseorang yang diperoleh melalui

13. Penduduk
wilayah tertentu.

: Semua orang yang pada suatu waktu mendiami suatu

14. Produktif

: Bersifat mampu menghasilkan dalam jumlah besar.

15. Warga negara
suatu negara tertentu.

: Seluruh individu yang mempunyai ikatan hukum dengan

16. Yuridis

: Menurut hukum; secara hukum.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Negara sebagai suatu identitas adalah abstrak. Yang tampak adalah unsur-unsur negara
yang berupa rakyat, wilayah, dan pemerintah. Salah satu unsur negara adalah rakyat. Rakyat
yang tinggal di wilayah negara menjadi penduduk negara yang bersangkutan. Warga negara
adalah bagian dari penduduk suatu negara. Warga negara memiliki hubungan dengan negaranya.
Kedudukannya sebagai warga negara menciptakan hubungan berupa peranan, hak, dan
kewajiban yang bersifat timbal balik.
Pemahaman yang baik mengenai hubungan antara warga negara dengan negara sangat
penting untuk mengembangkan hubungan yang harmonis, konstruktif, produktif, dan demokratis.
Pada akhirnya pola hubungan yang baik antara warga negara dengan negara dapat mendukung
kelangsungan hidup bernegara.
B. Rumusan Masalah
a. Apa pengertian warga negara dan kewarganegaraan?
b. Bagaimana kedudukan warga negara dalam negara?
c. Apa hak dan kewajiban warga negara?

C. Tujuan
a.

Tujuan Pokok:
Untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Kewarganegaraan.

b. Tujuan Dasar;
1. Untuk mengetahui pengertian warga negara dan kewarganegaraan
2. Untuk mengetahui kedudukan warga negara dalam negara
3. Untuk mengetahui hak dan kewajiban warga negara
D. Manfaat
a.

Mahasiswa dapat mengetahui pengertian warga negara dan kewarganegaraan

b. Mahasiswa dapat mengetahui kedudukan warga negara dalam negara
c.

Mahasiswa dapat mengetahui hak dan kewajiban warga negara
BAB II
PEMBAHASAN
HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA

A. PENGERTIAN WARGA NEGARA DAN KEWARGANEGARAAN
1. Warga Negara
Warga mengandung arti peserta, anggota atau warga dari suatu organisasi perkumpulan.
Warga negara artinya warga atau anggota dari suatu negara. Jadi, warga negara secara sederhana
diartikan sebagai anggota dari suatu negara.
Istilah warga negara merupakan terjemahan kata citizen (bahasa Inggris) yang
mempunyai arti sebagai berikut.
a.

Warga negara,

b. Petunjuk dari sebuah kota,
c.

Sesama warga negara, sesama penduduk, orang setanah air, dan

d. Bawahan atau kawula.
Menurut Hikam (dalam Winarno, 2006), “Warga negara sebagai terjemahan dari citizen
artinya adalah anggota dari suatu komunitas yang membentuk negara itu sendiri”. Sekarang ini

istilah warga negara lazim digunakan untuk menunjukkan hubungan yang sederajat antara warga
dengan negaranya.
Dengan memiliki status sebagai warga negara, orang memiliki hubungan dengan negara.
Hubungan itu nantinya tercermin dalam hak dan kewajiban. Seperti halnya kita sebagai anggota
sebuah organisasi, maka hubungan itu berwujud peranan, hak dan kewajiban secara timbal balik.
Rakyat lebih merupakan konsep politis. Rakyat menunjuk pada orang-orang yang berada di
bawah satu pemerintahan dan tunduk pada pemerintahan itu. Penduduk adalah orang-orang yang
bertempat tinggal di suatu wilayah negara dalam kurun waktu tertentu. Orang yang berada di
suatu wilayah negara dapat dibedakan menjadi penduduk dan nonpenduduk. Adapun penduduk
negara dapat dibedakan menjadi warga negara dan orang asing atau bukan warga negara. Untuk
lebih jelasnya, secara skematis dapat dilihat sebagai berikut.

Warga Negara

Penduduk

Orang Asing

2. Kewarganegaraan
Kewarganegaraan (citizenship) artinya keanggotaan yang menunjukkan hubungan atau
ikatan antara negara dengan warga negara. Istilah kewarganegaraan dibedakan menjadi dua,
yaitu sebagai berikut.

a. Kewarganegaraan dalam Arti Yuridis dan Sosiologis
1) Kewarganegaraan dalam arti yuridis ditandai dengan adanya ikatan hukum antara warga negara
dengan negara. Adanya ikatan hukum itu menimbulkan akibat-akibat hukum tertentu. Tanda dari
adanya ikatan hukum, misalnya akta kelahiran, surat pernyataan, bukti kewarganegaraan, dan
lain-lain.
2)

Kewarganegaraan dalam arti sosiologis, tidak ditandai dengan ikatan hukum, tetapi ikatan
emosional, seperti ikatan perasaan, keturunan, nasib, sejarah, dan ikatan tanah air. Dengan kata
lain, ikatan ini lahir dari penghayatan warga negara yang bersangkutan.

b. Kewarganegaraan dalam Arti Formil dan Materiil
1) Kewarganegaraan dalam arti formil menunjuk pada tempat kewarganegaraan. Dalam sistematika
hukum, masalah kewarganegaraan berada pada hukum publik.
2) Kewarganegaraan dalam arti materiil menunjuk pada akibat hukum dari status kewarganegaraan,
yaitu adanya hak dan kewajiban warga negara.
B. KEDUDUKAN WARGA NEGARA DALAM NEGARA
Sebagai anggota dari negara, warga negara memiliki hubungan atau ikatan dengan
negara. Hubungan antara warga negara dengan negara terwujud dalam bentuk hak dan kewajiban
antara keduanya. Warga negara memilki hak dan kewajiban terhadap negara. Sebaliknya, negara
memiliki hak dan kewajiban terhadap warga negaranya. Dengan istilah sebagai warga negara, ia
memiliki hubungan timbal balik yang sederajat dengan negaranya.
Hubungan dan kedudukan warga negara ini bersifat khusu, sebab hanya mereka yang
menjadi warga negaralah yang memiliki hubungan timbal balik dengan negaranya. Orang-orang
yang tinggal di wilayah negara, tetapi bukan warga negara dari negara itu tidak memiliki
hubungan timbal balik dengan negara tersebut.
1. Penentuan Warga Negara
Dalam menentukan kewarganegaraan seseorang, dikenal adanya asas kewarganegaraan
berdasarkan kelahiran dan asas kewarganegaraan berdasarkan perkawinan. Dalam penentuan
kewarganegaraan didasarkan pada sisi kelahiran dikenal dengan dua asas yaitu:
a)

Asas Ius Soli (Ius/hukum atau dalil, dan Soli/solum artinya negeri/tanah).
Asas yang menyatakan bahwa kewarganegaraan seseorang ditentukan dari tempat dimana orang
tersebut dilahirkan.

b)

Asas Ius Sanguinis (Sanguinis/sanguis artinya darah).
Asas yang menyatakan bahwa kewarganegaraan seseorang ditentukan berdasarkan keturunan
dari orang tersebut.
Berdasarkan pada aspek perkawinan yang mencakup asas kesatuan hukum dan asas
persamaan derajat, sebagai berikut.

1)

Asas persamaan hukum didasarkan pandangan bahwa suami istri adalah suatu ikatan yang tidak
terpecah sebagai inti dari masyarakat. Dalam menyelenggarakan kehidupan bersama, suami istri
perlu mencerminkan suatu kesatuan yang bulat termasuk dalam masalah kewarganegaraan.
Berdasarkan asas ini diusahakan status kewarganegaraan suami dan istri adalah sama dan satu.

2)

Asas persamaan derajat berasumsi bahwa suatu perkawinan tidak menyebabkan perubahan
status kewarganegaraan suami atau istri. Keduanya memiliki hak yang sama untuk menentukan
sendiri kewarganegaraan. Jadi, mereka dapat berbeda kewarganegaraan seperti halnya ketika
belum berkeluarga.
Negara memiliki wewenang untuk menentukan warga negara sesuai asas yang dianut
negara tersebut. Dengan adanya kedaulatan ini, pada dasarnya suatu negara tidak terikat oleh
negara lain dalam menentukan kewarganegaraan. Negara lain juga tidak boleh menentukan siapa
saja yang menjadi warga negara dari suatu negara.
Penentuan kewarganegaraan yang berbeda-beda oleh setiap negara dapat menciptakan
problem kewarganegaraan bagi seorang warga. Secara ringkas problem kewarganegaraan adalah
munculnya apatride dan bipatride. Apatride adalah istilah untuk orang-orang yang tidak
memiliki kewarganegaraan. Bipatride adalah istilah untuk orang-orang yang memiliki
kewarganegaraan rangkap (dua). Bahkan dapat muncul multipatride yaitu istilah untuk orangorang yang memiliki kewarganegaraan banyak (lebih dari dua).

2. Warga Negara Indonesia
Negara Indonesia telah menentukan siapa-siapa yang menjadi warga negara. Ketentuan
tersebut tercantum dalam Pasal 26 UUD 1945 sebagai berikut.
1)

Yang menjadi warga negara adalah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa
lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara.

2)

Penduduk adalah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat tinggal di Indonesia.

3)

Hal-hal mengenai warga negara dan penduduk diatur dengan undang-undang.
Berdasarkan hal di atas, orang yang dapat menjadi warga negara Indonesia adalah:

1)

Orang-orang bangsa Indonesia asli

2)

Orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang menjadi warga negara.
Berdasarkan Pasal 26 ayat (2) UUD 1945, penduduk negara Indonesia terdiri atas dua
yaitu warga negara dan orang asing. Ketentuan ini merupakan hal baru dan sebagai hasil
amandemen atas UUD 1945. Sebelumnya, penduduk Indonesia berdasarkan Indische
Staatregeling 1927 Pasal 163, dibagi tiga, yaitu:

1) Golongan Eropa, terdiri atas
a. Bangsa Belanda
b. Bukan bangsa Belanda tetapi dari Eropa
c. Orang bangsa lain yang hukum keluarganya sama dengan golongan Eropa.
2) Golongan Timur Asing, terdiri atas
a. Golongan Tionghoa
b. Golongan Timur Asing bukan Cina
3) Golongan Bumiputra atau Pribumi, terdiri atas
a. Orang Indonesia asli dan keturunannya
b. Orang lain yang menyesuaikan diri dengan pertama
Dengan adanya ketentuan baru mengenai penduduk Indonesia, diharapkan tidak ada lagi
pembedaan dan penamaan penduduk Indonesia atas golongan pribumi dan keturunan yang dapat
memicu konflik antarpenduduk Indonesia.
Orang-orang bangsa lain adalah orang-orang peranakan seperti peranakan Belanda,
Tionghoa, dan Arab yang bertempat tinggal di Indonesia, yang mengakui Indonesia sebagai
tumpah darahnya dan bersikap setia kepada negara Republik Indonesia.

3. Ketentuan Undang-Undang Mengenai Warga Negara Indonesia
Undang-undang yang mengatur tentang kewarganegaraan Indonesia dan ubdabg-undang
sebagai pelaksanaan dari pasal 26 UUD 1945 tersebut adalah Undang-Undang Nomor 62 Tahun
1958 yang diundangkan pada 11 Januari 1958.
Beberapa ketentuan yang diatur dalam undang-undang ini antara lain sebagai berikut.

a.

Tentang warga negara Indonesia, dinyatakan bahwa yang menjadi warga negara Indonesia
adalah sebagai berikut.

1)

Orang-orang yang berdasarkan perundang-undangan dan/atau perjanjian-perjanjian dan/atau
peraturan-peraturan yang berlaku sejak 17 Agustus 1945, sudah warga negara Republik
Indonesia.

2) Orang yang pada waktu lahirnya mempunyai hubungan hukum kekeluargaan dengan ayahnya,
seorang warga negara Republik Indonesia, dengan pengertian bahwa kewarganegaraan Republik
Indonesia trsebut dimulai sejak adanya hubungan hukum kekeluargaan ini diadakan sebelum
orang itu berumur 18 tahun atau sebelum ia kawin pada usia di bawah 18 tahun.
3) Anak yang lahir dalam 300 hari setelah ayahnya meninggal dunia, apabila ayah itu pada waktu
meninggal dunia, warga negara Republik Indonesia.
4)

Orang yang pada waktu lahirnya, ibunya warga negara Republik Indonesia, apabila ia pada
waktu itu tidak mempunyai hubungan hukum kekeluargaan dengan ayahnya.

5) Orang yang pada waktu lahirnya, ibunya warga negara Republik Indonesia, jika ayahnya tidak
mempunyai kewarganegaraan, atau selama tidak diketahui kewarganegaraan ayahnya.
6)

Orang yang lahir di dalam wilayah Republik Indonesia selama kedua orang tuanya tidak
diketahui.

7) Seorang anak yang diketemukan di dalam wilayah Republik Indonesia selama tidak diketahui
kedua orang tuanya.
8)

Orang yang lahir di dalam wilayah Republik Indonesia, jika kedua orang tuanya tidak
mempunyai kewarganegaraan atau selama kewarganegaraan kedua orang tuanya tidak diketahui.

9)

Orang yang lahir di dalam wilayah Republik Indonesia yang pada waktu lahirnya tidak
mendapat kewarganegaraan ayah atau ibunya dan selama ia tidak mendapat kewarganegaraan
ayah atau ibunya itu.

10) Orang yang memperoleh kewarganegaraan Republik Indonesia menurut aturan-aturan undangundang ini .
b. Tentang cara memperoleh kewarganegaraan Indonesia adalah sebagai berikut.
1) Karena kelahiran dengan prinsip asas ius sanguinis, dan dipakai asas ius soli untuk mencegah
terjadinya apatride.
2)

Karena pengangkatan anak, yaitu anak asing yang berumur liam tahun yang diangkat oleh
seorang warga negara Republik Indonesia, memperoleh kewarganegaraan Republik Indonesia

apabila pengangkatan itu dinyatakan sah oleh pengadilan negeri dari tempat tinggal orang yang
mengangkat anak itu. Pernyataan sah dari pengadilan negeri termaksud harus dimintakan oleh
orang yang mengangkat anak tersebut dalam satu tahun setelah engangkatan itu atau dalam satu
tahun setelah undang-undang ini mulai berlaku.
3)

Karena permohonan, yaitu anak diluar perkawinan dari seorang ibu warga negara Republik
Indonesia atau anak dari perkawinan sah, tetapi dalam perceraian oleh hakim, anak tersebut
diserahkan

pada

asuhan

ibunya

seorang

warga

negara

Republik

Indonesia,

yang

kewarganegaraannya turut ayahnya seorang asing, boleh mengajukan permohonan pada Menteri
Kehakiman untuk memperoleh kewarganegaraan Republik Indonesia tidak mempunyai
kewarganegaraan lain atau menyertakan pernyataan menanggalkan kewarganegaraan lain
menurut cara yang ditentukan oleh ketentuan hukum dari negara asalnya dan atau menurut cara
yang ditentukan oleh perjanjian penyelesaian dwikewarganegaraan antara Republik Indonesia
dan negara yang bersangkutan. Permohonan diatas harus diajukan dalam satu tahun sesudah
orang yang bersangkutan berumur 18 tahun kepada Menteri Kehakiman melalui pengadikan
negeri atau perwakilan Republik Indonesia dari tempat tinggalnya. Menteri Kehakiman
mengabulkan

atau

menolak

permohonan

itu

dengan

persetujuan

dewan

menteri.

Kewarganegaraan Republik Indonesia yang diperoleh atas permohonan itu mulai berlaku pada
hari tanggal keputusan Menteri Kehakiman.
4)

Karena naturalisasi (kewarganegaraan), yaitu kewarganegaraan Republik Indonesia karena
kewarganegaraan diperoleh dengan berlakunya keputusan Menteri Kehakiman yang memberikan
kewarganegaraan itu. Naturalisasi ada dua, yaitu naturalisasi biasa dan luar biasa.

5) Karena akibat perkawinan, yaitu seorang perempuan asing yang kawin dengan seorang warga
negara Republik Indonesia memperoleh kewarganegaraan Republik Indonesia, apabila dan pada
waktu ia dalam 1 tahun setelah perkawinannya berlangsung menyatakan keterangan untuk itu,
kecuali jika ia apabila memperoleh kewarganegaraan Republik Indonesia masih mempunyai
kewarganegaraan lain dalam hal mana keterangan itu tidak boleh dinyatakan.
6)

Karena turut ayah ibu, yaitu anak yang belum berumur 18 tahun dan belum kawin yang
mempunyai hubungan hukum kekeluargaan dengan ayahnya sebelum ayah itu memperoleh
kewarganegaraan Republik Indonesia, turut memperoleh kewarganegaraan Republik Indonesia
setelah ia bertempat tinggal dan berada di Indonesia. Keterangan tentang bertempat tinggal dan
berada di Indonesia itu tidak berlaku terhadap anak-anak yang karena ayahnya memperoleh

kewarganegaraan Republik Indonesia menjadi tanpa kewarganegaraan. Anak yang berumur 18
tahun dan belum kawin yang mempunyai hubungan hukum kekeluargaan dengan ayahnya
sebelum ayah itu memperoleh kewarganegaraan Republik Indonesia, turut memperoleh
kewarganegaraan Republik Indonesia setelah ia bertempat tinggal dan berada di Indonesia.
Keterangan tentang bertempat tinggal dan berada di Indonesia itu tidak berlaku terhadap anakanak yang karena ayahnya memperoleh kewarganegaraan Republik Indonesia menjadi tanpa
kewarganegaraan.
7) Karena pernyataan, yaitu seorang perempuan asing yang kawin dengan seorang warga negara
Republik Indonesia, apabila dan pada waktu ia dalam 1 tahun setelah perkawinannya
berlangsung menyatakan keterangan untuk itu, kecuali jika ia apabila memperoleh
kewarganegaraan Republik Indonesia masih mempunyai kewarganegaraan lain, dalam hal mana
keterangan itu tidak boleh dinyatakan.
c.

Tentang kehilangan kewarganegaraan, dinyatakan bahwa kewarganegaraan Republik Indonesia
hilang karena hal berikut.

1) Memperoleh kewarganegaraan lain karena kemauannya sendiri, dalam pengertian bahwa jikalau
orang yang bersangkutan pada waktu memperoleh kewarganegaraan lain itu berada di dalam
wilayah Republik Indonesia, kewarganegaraan Republik Indonesianya baru dianggap hilang
apabila Menteri Kehakiman dengan persetujuan dewan menteri atas kehendak sendiri atau atas
permohonan orang yang bersangkutan menyatakannya hilang.
2)

Tidak menolak atau melepaskan kewarganegaraan lain sedangkan orang yang bersangkutan
mendapatkan kesempatan untuk itu.

3)

Diakui oleh orang asing sebagai anaknya, jika orang yang bersangkutan belum berumur 18
tahun dan belum kawin dan dengan kehilangan kewarganegaraan Republik Indonesia tidak
menjadi tanpa kewarganegaraan.

4) Anak yang diangkat dengan sah oleh orang asing sebagai anaknya, jika anak yang bersangkutan
belum berumur 5 tahun dan dengan kehilangan k kewarganegaraan Republik Indonesia tidak
menjadi tanpa kewarganegaraan.
5)

Dinyatakan hilang oleh Menteri Kehakiman dengan persetujuan dewan menteri atas
permohonan orang yang bersangkutan, jika ia telah berumur 21 tahun, bertempat tinggal di luar
negeri, dan dengan dinyatakan hilang kewarganegaraan Republik Indonesianya tidak menjadi
tanpa kewarganegaraan.

6) Masuk dalam dinas tentara asing tanpa izin terlebih dahulu dari Menteri Kehakiman.
7) Tanpa izin terlebih dahul dari Menteri Kehakiman masuk dalam dinas negara asing atau dinas
suatu organisasi antarnegara yang tidak dimasuki oleh Republik Indonesia sebagai anggota, jika
jabatan dinas negara yang dipangkunya menurut peraturan Republik Indonesia hanya dapat
dipangku oleh warga negara atau jabatan dalam dinas organisasi antarnegara tersebut
memerlukan sumpah atau janji jabatan.
8) Mengangkat sumpah atau menyatakan janji setia kepada negara asing atau bagian daripadanya.
9)

Dengan tidak diwajibkan, turut serta dalam pemilihan sesuatu yang bersifat ketatanegaraan
untuk suatu negara asing; mempunyai paspor atau surat yang bersifat paspor dari negara asing
atas namanya yang masih berlaku.

10) Lain dari untuk dinas negara, selama 5 tahun berturut-turut bertempat tinggal di luar negeri
dengan tidak menyatakan keinginannya untuk tetap menjadi warga negara sebelum waktu itu
lampau dan seterusnya tiap-tiap dua tahun; keinginan itu harus dinyatakan kepada Perwakilan
Republik Indonesia
C. HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA INDONESIA
1. Wujud Hubungan Warga Negara dengan Negara
Wujud hubungan antara warga negara dengan negara pada umumnya berupa peranan
(role). Peranan pada dasarnya adalah tugas apa yang dilakukan sesuai dengan status yang
dimiliki dalam hal ini sebagai warga negara. Secara teori, status warga negara meliputi status
pasif, aktif, negatif, dan positif. Peranan warga negara juga meliputi peranan yang pasif, aktif,
negatif, dan positif. (dalam Winarno, 2006)
Peranan pasif adalah kepatuhan warga negara terhadap peraturan perundang-undangan
yang berlaku. Peranan aktif merupakan aktivitas warga negara untuk terlibat (berpartisipasi) serta
ambil bagian dalam kehidupan bernegara, terutama dalam mempengaruhi keputusan publik.
Peranan positif merupakan aktivitas arga negara untuk meminta pelayanan dari negara untuk
memenuhi kebutuhan hidup. Peranan negatif merupakan aktivitas warga negara untuk menolak
campur tangan negara dalam persoalan pribadi.
2. Hak dan Kewajiban Warga Negara Indonesia
Hak dan kewajiban warga negara tercantum dalam pasal 27 sampai dengan pasal 34
UUD 1945. Beberapa hak dan kewajiban tersebut antara lain sebagai berikut.

1) Hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. Pasal 27 ayat (2) UUD 1945 berbunyi “Tiaptiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.”
Pasal ini menunjukkan asas keadilan sosial dan kerakyatan.
2) Hak membela negara. Pasal 27 ayat (2) UUD 1945 berbunyi “Setiap warga negara berhak dan
wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara.”
3)

Hak berpendapat. Pasal 28 UUD 1945, yaitu Kemerdekaan berserikat dan berkumpul,
mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undangundang.

4) Hak kemerdekaan memeluk agama. Pasal 29 ayat (1) dan (2) UUD 1945.
Ayat (1) berbunyi bahwa: “Negara berdasarkan atas Keruhanan Yang Maha Esa”
Ayat (2) berbunyi : “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk
agamanya dan kepercayaannya itu.”
5)

Pasal 30 ayat (1) UUD 1945 tentang hak dan kewajiban dalam membela negara. “Tiap-tiap
warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dn keamanan negara.”

6)

Pasal 31 ayat (1) dan (2) UUD 1945 tentang hak untuk mendapatkan pengajaran. Ayat (1)
menerangkan bahwa tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran. Sedangkan dalam
ayat (2) dijelaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem
pengajaran nasional yang diatur dengan UUD 1945.

7)

Hak untuk mengembangkan dan memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Pasal 32 UUD
1945 ayat (1) menyatakan bahwa negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah
peradaban

dunia

dengan

menjamin

kebebasan

masyarakat

dalam

memelihara

dan

mengembangkan nilai-nilai budayanya.
8) Hak ekonomi atau hak untuk mendapatkan kesejahteraan sosial. Pasal 33 ayat (1), (2), (3), (4),
dan (5). UUD 1945 berbunyi :
(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar asas kekeluargaan.
(2) Cabang-cabang produksi yang enting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak
dikuasai oleh negara.
(3) Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.

(4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip
kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta
menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.
9) Hak mendapatkan jaminan keadilan sosial. Dalam pasal 34 UUD 1945 dijelaskan bahwa fakir
miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.
Kewajiban warga negara terhadap negara Indonesia antara lain :
a.

Kewajiban menaati hukum dan pemerintahan. Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 yaitu segala warga
negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib mnjunjung
hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.

b.

Kewajiban membela negara. Pasal 27 ayat (3) UUD 1945 yang menyatakan Setiap warga
negara berhak dan wajib ikut serta dalam uapaya pembelaan negara.

c.

Kewajiban dalam upaya pertahanan negara. Pasal 30 ayat (1) UUD 1945 menyatakan Tiap-tiap
warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara.
Disamping adanya hak dan kewajiban warga negara terhadap negara, dalam UUD 1945
perubahan pertama telah dicantumkan adanya hak asasi manusia. Ketentuan mengenai hak asasi
manusia ini merupakan langkah maju dari bangsa Indonesia untuk menuju kehidupan
konstitusional yang demokratis. Ketentuan mengenai hak asasi manusia tertuang pada pasal 28A
sampai J UUD 1945. Dalam ketentuan tersebut juga dinyatakan adanya kewajiban dasar
manusia.
Selain itu ditentukan pula hak dan kewajiban yang dimiliki negara terhadap warga
negara. Hak dan kewajiban negara terhadap warga negara pada dasarnya merupakan kewajiban
dan hak warga negara terhadap negara. Beberapa ketentuan tersebut, antara lain sebagai berikut.

a.

Hak negara untuk ditaati hukum dan pemerintahan

b. Hak negara untuk dibela.
c.

Hak negara untuk menguasai bumi, air, dan kekayaan untuk kepentingan rakyat.

d. Kewajiban negara untuk menjamin sistem hukum yang adil.
e.

Kewajiban negara untuk menjamin hak asasi warga negara.

f.

Kewajiban negara untuk mengembangkan sistem pendidikan nasional untuk rakyat.

g. Kewajiban negara memberi jaminan sosial.
h. Kewajiban negara memberi kebebasan beribadah.
Selain adanya hak dan kewajiban warga negara di dalam UUD 1945, tercantum pula
adanya hak asasi manusia. Hak asasi manusia perlu dibedakan dengan hak warga negara. Hak
warga negara merupakan hak yang ditentukan dalam suatu konstitusi negara. Munculnya hak ini
adalah karena adanya ketentuan undang-undang dan berlaku bagi orang yang berstatus sebagai
warga negara. Bisa terjadi hak dan kewajiban warga negara Indonesia berbeda dengan hak warga
negara Malaysia oleh karena ketentuan undang-undang yang berbeda. Adapun hak asasi manusia
umumnya merupakan hak-hak yang sifatnya mendasar yang melekat dengan keberadaannya
sebagai manusia. Hak asasi manusia tidak diberikan oleh negara, tetapi justru harus dijamin
keberadaannya oleh negara.
Ketentuan lebih lanjut mengenai berbagai hak dan kewajiban warga negara dalam
hubungannya dengan negara tertuang dalam berbagai peraturan perundang-undangan sebagai
penjabaran atas UUD 1945. Misalkan dengan undang-undang.
Contoh:
-

Hak dan kewajiban warga negara di bidang pendidikan :

1. UU No. 20 Tahun 2003 tentang SPN;
2. UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
-

Hak dan kewajiban warga negara di bidang pertahanan :

1. UU No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara
-

Hak dan kewajiban warga negara di bidang politik terdapat dalam :

1.

Undang-Undang No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat di Muka
Umum;

2. Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers;
3. Undang-Undang No. 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik;
4. Undang-Undang No. 12 Tahun 2003 tentang pemilihan anggota DPR, DPD, dan DPRD;
5. Undang-Undang No. 23 Tahun 2003 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden; dan lainlain.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Jadi sebagai warga Negara kita mempunyai hak dan kewajiban yang harus kita terima
dan kita tunaikan sesuai dengan kewarganegaraan kita. Hak yang seharusnya kita terima salah

satunya yaitu mendapat perlakuan yang sama di depan hukum. Kewajiban yang harus kita
tunaikan adalah salah satunya dengan ikut serta dalam kehidupan bernegara.
B. SARAN
Saran yang ingin disampaikan kepada pembaca adalah agar pembaca dapat mengetahui
hak dan kewajiban warga negara serta mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.Selain
itu, juga mengetahui kedudukan warga negara dalam negara. Demi kesempurnaan penulisan
makalah ini, dimengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca.

DAFTAR PUSTAKA
Winarno. 2006. Paradigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: PT Bumi Aksara.g

Kirimkan Ini lewat Email


Dokumen yang terkait

Keanekaragaman Makrofauna Tanah Daerah Pertanian Apel Semi Organik dan Pertanian Apel Non Organik Kecamatan Bumiaji Kota Batu sebagai Bahan Ajar Biologi SMA

24 202 36

FREKUENSI KEMUNCULAN TOKOH KARAKTER ANTAGONIS DAN PROTAGONIS PADA SINETRON (Analisis Isi Pada Sinetron Munajah Cinta di RCTI dan Sinetron Cinta Fitri di SCTV)

27 197 2

ANALISIS SISTEM PENGENDALIAN INTERN DALAM PROSES PEMBERIAN KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) (StudiKasusPada PT. Bank Rakyat Indonesia Unit Oro-Oro Dowo Malang)

158 669 25

Analisis Sistem Pengendalian Mutu dan Perencanaan Penugasan Audit pada Kantor Akuntan Publik. (Suatu Studi Kasus pada Kantor Akuntan Publik Jamaludin, Aria, Sukimto dan Rekan)

136 598 18

DOMESTIFIKASI PEREMPUAN DALAM IKLAN Studi Semiotika pada Iklan "Mama Suka", "Mama Lemon", dan "BuKrim"

130 598 21

Representasi Nasionalisme Melalui Karya Fotografi (Analisis Semiotik pada Buku "Ketika Indonesia Dipertanyakan")

53 301 50

KONSTRUKSI MEDIA TENTANG KETERLIBATAN POLITISI PARTAI DEMOKRAT ANAS URBANINGRUM PADA KASUS KORUPSI PROYEK PEMBANGUNAN KOMPLEK OLAHRAGA DI BUKIT HAMBALANG (Analisis Wacana Koran Harian Pagi Surya edisi 9-12, 16, 18 dan 23 Februari 2013 )

64 455 20

PENERAPAN MEDIA LITERASI DI KALANGAN JURNALIS KAMPUS (Studi pada Jurnalis Unit Aktivitas Pers Kampus Mahasiswa (UKPM) Kavling 10, Koran Bestari, dan Unit Kegitan Pers Mahasiswa (UKPM) Civitas)

104 421 24

Pencerahan dan Pemberdayaan (Enlightening & Empowering)

0 52 2

KEABSAHAN STATUS PERNIKAHAN SUAMI ATAU ISTRI YANG MURTAD (Studi Komparatif Ulama Klasik dan Kontemporer)

4 94 24

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

69 1659 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 432 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

27 393 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

8 241 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 352 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 504 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 445 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 285 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

13 455 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 524 23