Makalah konsep pada anak sakit pada sist

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Luasnya daerah permukaan saluran cerna (traktus GL) dan fungsi digestifnya
menunjukan betapa pentingnya makna pertukaran antara organisme manusia dengan lingkungan
nya. Kelainan inflamasi dan malabsorpsi akan mengganggu keutuhan fungsi traktus
gastrointestinal, di samping itu karena system dan sawar (barier) mukosa usus setelah bayi lahir
masih berada dalam proses menuju maturitas, maka usus bayi sangat rentan terhadap ancaman
infeksi. Diare menular akut dapat menyebabakan signifikan pada keseimbangan cairan serta
elektrolit pada bayi dan anak-anak.
Diare akut masih merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas anakanak di berbagai Negara yang sedang berkembang, setiap tahun di perkirakan lebih dari satu
milyar kasus diare di dunia dengan 3,3 juta kasus kematian sebagai akibatnya. Diare masih
merupakan penyebab penting kematian kepada anak-anak di Negara-negara berkembang.
Kombinasi paparan lingkungan yang patogenik, diet yang tidak memadai, malnutrisi menunjang
timbulnya kesakitan dan kematian karena diare.
Sedangkan demam tifoid dan paratifoid merupakan salah satu penyakit infeksi endemik
di Asia, Afrika, Amerika latin, Karibia, dan Ocenia, termasuk Indonesia. Penyakit ini tergolong
penyakit menular yang dapat menyerang banyak orang melalui makanan dan minuman yang
terkontaminasi. Insiden demam tifoid diseluruh dunia menurut data pada tahun 2002 sekitar 16
juta pertahun, 600.000 diantaranya menyebabkan kematian. Di Indonesia prevalensi 91% kasus
demam tifoid terjadi pada umur 3-19 tahun. Demam tifoid masih merupakan penyakit infeksi
tropik sistematik, bersifat endemis, dan masih merupakan problema kesehatan. Masyarkaat pada
negara-negara sedang berkembang di dunia, termasuk Indonesia. Di Indonesia penderita demam
tifoid cukup banyak diperkirakan 800/100.000 penduduk pertahun dan tersebar di mana-mana.
Demam typoid dapat ditemukan pada semua umur, tetapi yang paling sering pada anak besar,
umur 5-9 tahun dan laki-laki lebih banyak dari perempuan dengan perbandingan 2-3:1. Demam
tifoid merupakan penyakit infeksi sistematik yang disebabkan kuman batang gram negatif
salmonella typhi maupun salmonella para typhi A, B, C. Penyakit ini ditularkan melalui
makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh kuman tersebut, dikenal sebagai penularan
tinja-mulut (Fecaloral). Oleh karena itu penting kebiasaan untuk cara hidup bersih. (Ngastiyah,
2005)
Di Indonesia, demam tifoid masih merupakan penyakit endemis utama. Bila timbul
penyakit ini dapat menimbulkan kematian. Diagnosis awal amat penting untuk dapat ditegakkan
agar penyakit dapat diterapi dengan adekuat untuk mencegah timbulnya penyakit yang mungkin
terjadi. Masalah yang terjadi pada pasien demam tifoid diantaranya yaitu hipertermi dan dapat
terjadi penurunan kesadaran, nyeri pada ulu hati yang disebabkan karena proses inflamasi pada
usus, kekurangan volume cairan, gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan dan dapat terjadi
resiko infeksi.
Fenomena inilah yang menarik kami untuk mengadakan penyusunan makalah dengan
judul “Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Pencernaan Pada Anak Akibat Penyakit Diare

dan Demam Tifoid” dengan harapan karya ini dapat dipakai untuk mengetahui tentang diare
demam tifoid lebih lanjut.

1.2 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari makalah ini kami bedakan menjadi tujuan umum dan tujuan khusus.
Untuk tujuan umum dari penyusunan makalah ini yaitu untuk memberikan pemahaman
mengenai gangguan system pencernaan pada anak dengan bahasan diare dan typoid, dan untuk
mengetahui bagaimana penerapan asuhan keperawatan terhadap anak dengan gangguan sistem
pencernaan diare dan demam Tifoid . Sedangkan tujuan khususnya yaitu:
1. Mengetahui mengenai pengertian, faktor-faktor penyebab, epidemiologi, etiologi,
pathogenesis, patofisiologi, gambaran klinis dan komplikasi yang terjadi pada penyakit diare
dan typoid.
2. Mengetahui pengkajian pada pasien dengan gangguan sitem pencernaan diare dan demam
tifoid, mengetahui cara menegakkan diagnosa keperawatan pada pasien dengan gangguan sitem
pencernaan diare dan demam tifoid, dapat mengetahui cara membuat rencana tindakan
keperawatan pada pasien dengan gangguan sitem pencernaan diare dan demam tifoid, dan dapat
mengetahui cara keperawatan dan mengevaluasi pasien dengan gangguan sistem pencernaan
diare dan demam tifoid.

1.3 Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan dari makalah yang kami susun adalah sebagai berikut:
1.
Manfaat pengetahuan
Menambah keragaman ilmu pengetahuan bagi dunia keperawatan umumnya, khususnya adalah
keperawatan anak.
2.
Manfaat pendidikan
Memberikan referensi tentang tingkat perkembangan anak dalam dunia pendidikan keperawatan
anak.
3.
Manfaat praktis
a.
Bagi profesi
Sebagai salah satu sumber literature dalam pengembangan bidang profesi keperawatan
khususnya tentang penyakit diare dan emam tifoid pada anak.
b.
Bagi orang tua
Memberikan masukan kepada orang tua khususnya ibu dalam mengasuh anak saat terserang
penyakit diare dan demam typhoid.
c.
Bagi peneliti
Menambah khasanah ilmu pengetahuan tentang proses keperawatan dan perkembangan anak.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Tinjauan Teoritis
Saluran cerna berperan dalam serangkaian proses : yakni proses ingesti makanan, proses
digesti makanan yang dibantu oleh getah pencernaan yang dihasilkan oleh kelenjar ludah, hati
dan pancreas. Hasil digesti berupa zat gizi akan diserap ( absorpsi ) ke dalam tubuh. Proses ini
berlangsung mulai dari mulut sampai ke rectum. Massa yang berupa bolus hasil campuran
makanan dan getah pencernaan di dorong / digerakan ke arah anus, sisa dari masa yang tidak
diserap akan dikeluarkan dari anus (defekasi) berupa tinja.
Gangguan pada saluran pencernaan pada bayi dan anak dapat disebabkan oleh kelainan
bawaan atau di dapat. Gangguan akibat kelainan yang di dapat disebabkan trauma atau adanya
infeksi baik pada saluran pencernaan atau di luar saluran cerna. Kelainan bawaan dapat terjadi
pada mulut, esophagus, pylorus, dan gangguan pasase di daerah duodenum, atresia rekti , dan
anus imperforate, penyakit hirschsprung, obstruksi biliaris, dan omfalokel. Sedangkan gangguan
akibat infeksi dapat disebabkan oleh jamur (Candida albicans); basil coli (Escherichia coli);
virus ; basil : Salmonella, Shigella, Vibrio cholerae dan parasit.
Berbagai gangguan saluran cerna yang sering terjadi pada anak diantaranya adalah diare
dan typhoid, penyakit tersebut dapat mempengaruhi fungsi saluran cerna dan reaksi pertahanan
tubuh yang bersifat akut akan mengakibatkan berbagai gejala dan komplikas sehingga akan
menstimulasi terjadinya perubahan-perubahan pada saluran pencernaan itu sendiri.
Diare dapat disebabkan oleh berbagai infeksi, selain penyebab lain seperti malabsorbsi. Penyakit
diare terutama pada bayi perlu mendapatkan tindakan secepatnya karena dapat membawa
bencana bila ditanggulangi terlambat. Makanan dan minuman yang terkontaminasi seperti
makanan basi dan beracun, merupakan salah satu faktor penyebab timbulnya penyakit diare,
sehingga penyakit ini dianggap sangat rentan terhadap anak-anak yang sedang melalui masa
pertumbuhan dan perkembangan. Komplikasi kehilangan yang akan ditimbulkan akibat diare
diantaranya adalah : dehidrasi ( ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonic, atau hipertonik ),
renjatan hipovolemik, hipokalemia ( dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah,
bradikardia, perubahan elektrokardiogram ), hipoglikemia, intoleransi sekunder akibat
kerusakan vili mukosa usus dan defisiensi enzim lactase, kejang, malnutrisi energy protein
( akibat muntah dan diare, jika lama atau kronik ).
Sama halnya dengan typhoid, Demam Tifoid adalah penyakit menular yang bersifat
akut, yang di tandai dengan bakteremia, perubahan pada system retikuloendotelial yang bersipat
difus, pembentukan mikroabses dan ulseri Nodus Payer di distar ileum. Kriteria demam tifoid
yaitu penyakit infeksi akut yang di sebabkan salmonella typhi, di tandai adanya demam 7 hari
atau lebih, gejala saluran pencernaan dan gangguan pada system saraf pusat (sakit kepala,
kejang dan gangguan kesadaran).

2.2. Diare
2.2.1. Pengertian Diare
Diare ialah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3
kali pada anak, dengan konsistensi encer, dapat berwarna hijau, atau dapat pula bercampur
lender dan darah atau lender saja.
Diare merupakan gejala yang terjadi karena kelainan yang melibatkan fungsi
pencernaan, penyerapan, dan sekresi. Diare di sebabkan oleh transfortasi air dan elektrolit yang
abnormal dalam usus. Di dunia terdapat kurang lebih 500 juta anak yang menderita diare setiap
tahunnya, dan 20% dari seluruh kematian yang hidup di Negara berkembang berhubungan
dengan diare serta dehidrasi. Gangguan diare dapat melibatkan gangguan lambung dan usus
(gastroenteritis), usus halus (enteritis), kolon (colitis),atau kolon dan usus (entrokolitis). Diare
biasanya diklasifikasikan sebagai diare akut dan kronis.
Diare akut merupakan penyebab utama keadaan sakit pada anak-anak balita. Diare akut
di definisikan sebagai keadaan peningkatan dan perubahan tiba-tiba frekuensi defekasi yang
sering di sebab kab oleh agens infeksius dalam traktus GI. Keadaan ini dapat menyertai infeksi
saluran nafas atas (ISPA), atau sluran kemih (ISK), terapi antibiotic,atau pemberian obat
pencahar (laksativ). Diare kronis di definisikan sebagai keadaan meningkatnya frekuensi dan
kandungan air dalam feses dengan lamanya sakit lebih dari 14 hari. Kerap kali diare kronis
terjadi karena keadaan kronis seperti sindrom malabsorbsi, penyakit inflamasi usus,defisiensi
kekebalan, keracunan makanan,intoleransi laktosa atau diare nonspesifik yang kronis, atau
akibat dari penatalaksanaan diare akut yang tidak memadai.

2.2.2. Faktor-faktor Penyebab Diare
Penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa faktor diantaranya :
1.
Faktor infeksi
a. Infeksi enteral : Infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab utama diare
pada anak. Meliputi infeksi enternal sebagai berikut :
Infeksi enternal : Vibrio, E.Coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia,
Aeromonas, dan sebagainya.
Infeksi Virus : Enterovirus (Virus ECHO, coxsackie, Poliomyelitis), Adeno virus,
Rotavirus, Astrovirus, dan lain-lain .
Infeksi parasit : Cacing (Ascaris, Trihuris, okyuris, strongyloide) ; Protozoa (Entamoeba
histolytika, Giardian Lambli, Trichomonas hominis). Jamur (Candida Albicans).
b.
Infeksi parenteral : ialah infeksi di luar alat pencernaan makanan seperti : otitis
media akut (OMA), tonsilitas / tonsilofaringitis, bronkopneumonia, ensefalitis dan sebagainya.
Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur di bawah 2 tahun.

c.

Faktor Malabsorbsi
Malabsorbsi karbohidrat disakarida ( intoleransi laktosa, maltose, dan sukrosa ),
monosakarida ( intoleransi glukosa, fruktosa, dan galaktosa ). Pada bayi dan anak yang
terpenting dan tersering adalah intoleransi laktosa.
Malabsorbsi lemak.
Malabsorbsi protein.
d.
Faktor makanan
Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan
e.
Faktor psikologis
Rasa takut dan cemas ( jarang, tetapi dapat terjadi pada anak yang lebih besar ).

2.2.3.

Epidemiologi

Diare ISPA dan penyakit-penyakit yang dapat di cegah dengan imunisasi merupakan tiga
penyebab utama kematian pada golongan umur balita. Berbagai factor memepengaruhi kejadian
diare diantaranya adalah factor lingkungan, gizi, kependudukan, pendidikan, keadaan social
ekonomi dan perilaku masyarakat.
Faktor lingkungan yang di maksud adalah kebersihan lingkungan dan perorangan seperti
kebersihan putting susu, kebersihan botol susu dan dot susu, maupun kebersihan air untuk
mengolah susu dan,makanan. Factor gizi misalnya adalah tidak di berikannya makanan
tambahan maskipun anak telah berusia 4-6 bulan, factor pendidikan yang utama adalah
pengetahuan Ibu tentang masalah kesehatan. Factor kependudukan menunjukan bahwa insidens
diare lebih tinggi pada penduduk perkotaan yang padat dan miskin atau kumuh. Sedangkan
factor perilaku orang tua dan masyarakat misalnya adalah kebiasaan ibu yang tidak mencuci
tangan sebelum menyiapkan makanan, setelah buang air besar atau membuang tinja anak.
Kesemua factor yang tersebut di atas terkait dengan factor ekonomi masing-masing keluarga.
2.2.4. Etiologi
Kebanyakan mikroorganisme pathogen penyebab diare disebarluaskan lewat jalur fekal
oral melalui makanan atau air yang terkontaminasi atau di tularkan antar manusia dengan kontak
yang erat. Kurang nya air bersih, tinggalnya berdesakan, hygiene yang buruk, kurang gizi dan
sanitasi yang jelek merupakan factor resiko utama, khususnya untuk terjangkit infeksi bakteri
atau parasit yang patogen. Peningkatan insidensi dan beratnya penyakit diare pada bayi juga
berhubungan dengan perubahan yang spesifik menurut usia pada kerentanan terhadap
mikroorganisme patogen. Sistem kekebalan bayi belum pernah terpajan dengan banyak
mikroorganisme patogen sehingga tidak mempunyai antibody pelindung yang di dapat.
Rotavirus merupakan agen yang paling penting yang menyebabkan penyakit diare
disertai dehidrasi pada anak-anak kecil di seluruh dunia. Infeksi rotavirus menyebabakan
sebagian perawatan di rumah sakit karena diare berat bagi anak-anak kecil dan merupakan
infeksi nosokomial yang signifikan oleh mikroorganisme patogen. Miroorgisme Giardia

Lamblia dan Cryptosporidium merupakan parasit yang paling banyak menimbulkan diare
infeksius akut. Pemakaian antibiotic juga berkaitan dengan diare. Antibiotik dapat mengubah
flora usus yang normal, dan penurunan jumlah bakteri kolon akan mengakibatkan absorpsi
karbohidrat yang berlebihan serta diare osmotic.

2.2.5. Patogenesis
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah :
1.
Gangguan osmotic
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan
osmotic dalam rongga usus meninggi sehinggaterjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam
rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya
sehingga diare.
2.
Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu ( misalnya toksin ) pada dinding usus akan terjadi peningkatan
sekresi, air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya timbul diare karena terdapat
peningkatan isi rongga usus.
3.
Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu ( misalnya toksin ) pada dinding usus akan terjadi peningkatan
sekresi, air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya timbul diare karena terdapat
peningkatan isi rongga usus.
4.
Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan
sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri
tumbuh berlebihan selanjutnya timbul diare pula.
2.2.6. Patofisiologi
Sebagai akibat diare baik akut maupun kronik akan terjadi :
1.
Kehilangan air dan elektrolit (terjadi dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan
keseimbangan asam basa (asidosis metabolic, hipokalemia)
2.
Gangguan gizi akibat kelaparan (masukan kurangt, pengeluaran bertambah).
3.
Hipoglikemia
4.
Gangguan sirkulasi darah.
2.2.7. Gambaran Klinis
Mul-mula pasien cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan
berkurang atau tak ada, kemudian timbul diare. Tinja cair, mungkin disertai lendir atau lendir
darah. Warna tinja makin lama berubah kehijau – hijauan karena bercampur dengan cairan
empedu. Anus dan daerah sekitarnya timbul lecet karena sering defekasi dan tinja makin lama
makin asam sebagai akibat makin banyak asam laktat yang berasal dari laktosa yang tidak

diabsorbsi oleh usus selama diare. Gejala muntah dapat timbul sebelum atau sesudah diare dan
dapat disebabkan karena lambung turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam
basa dan elektrolit. Bila pasien telah banyak kehilangan cairan dan elektrolit, gejala dehidrasi
mulai nampak, yaitu berat badan turun, turgor berkurang, mata dan ubun-ubun besar menjadi
cekung ( pada bayi , selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering.
2.2.8. Komplikasi kehilangan akibat diare
1.
Dehidrasi ( ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonic, atau hipertonik ).
2.
Renjatan hipovolemik.
3.
Hipokalemia ( dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah, bradikardia, perubahan
elektrokardiogram ).
4.
Hipoglikemia.
5.
Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defisiensi enzim lactase.
6.
Kejang,
7.
Malnutrisi energy protein ( akibat muntah dan diare, jika lama atau kronik ).
2.3. Tifoid
2.3.1. Pengertian
Demam tifoid ialah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan
dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada pencernaan dan gangguan
kesadaran. Penyebab penyakit ini adalah Shalmonella typhosa, basil gram negative yang
bergerak dengan bulu getar, tidak berspora.
2.3.2. Faktor – faktor penyebab tifoid
Manusia merupakan satu-satu nya sumber penularan alami salmonella tyfhi, melalui
kontak langsung atau tidak langsung dengan seorang penderita demam typoid atau karier kronis.
Transmisi kuman terutama dengan cara menelan makan atau air yang tercemar tinja manusia.
Epidemi demam typoid yang berasal dari sumber air yang tercemar merupakan masalah yang
paling utama. Transmisi secara kongenital dapat terjadi secara transplasental dari seorang ibu
yang mengalami bakteriemia kepada bayi dalam kandungan, atau tertular pada saat di lahirkan
oleh seorang ibu yang merupakan karier typoid dengan rute fekal oral. Seorang yang telah
terinfeksi salmonella typhi dapat karier kronis dan mengekresikan mikro organis selama
beberapa tahun.
2.3.3. Epidemiologi
Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang dijumpai secara luas di daerah tropis dan
subtropics terutama di daerah dengan kualitas sumber air yang tidak memadai dengan standar
hygiene dan sanitasi yang rendah. Beberapa hal yang mempercepat terjadinya penyebaran
demam tifoid di Negara sedang berkembang adalah urbanisasi, kepadatan penduduk, sumber air

minum, dan standar hygiene industry pengolahan makanan yang masih rendah titik menurut
pang, selain karena meningktnya urbanisasi, demam tifoid masih terus menjadi masalah karena
beberapa factor lain yaitu, penyediaan air bersih yang kurang memadai, adanya strain yang
resisten terhadap antibiotic, masalah pada identifikasi dan penatalaksanaan karier, keterlambatan
mambuat diagnosis yang pasti, pathogenesis dan factor virulensi. Demam tifoid disebakan
oleh Salmonella Thypi yang dapat bertahan hidup lama di lingkungan kering dan beku, peka
erhadap proses klorinasi dan pateurisasi pada suhu 630 C.
2.3.4. Etiologi
Etiologi demam tifoid adalah salmonella typhi yang berhasil di isolasi pertama kali dari
seorang pasien demam typhoid oleh Geffkey di Jerman pada tahun 1884.mikroorganisme ini
merupakan bakteri gram negative yang motil, bersifat aerob dan tidak membentuk
spora.salmonella typhi dapat tumbuh dalam semua media, pada media yang selektif bakteri ini
memfermentasi glukosa dan manosa,tetapi tidak dapat mempermentasikan laktosa.
Bakteri ini mempunyai beberapa komponen antigen yaitu :
1.
Antigen dinding sel (O) yang merupakan lipop[olisakarida dan berifat sfesifik group.
2.
Antigen flagella (H) yang merupakan komponen protein berada dalam flagella dan
bersifat
spesifik spesies.
3.
Antigen virulen (Vi) merupakan polisakarida dan berada di kapsul yang melindungi
seluruh permukaan sel.
4.
Outer Membrane protein (OMP), Antigen OMP S. typhi merupakan bagian dari dinding
terluar yang terletak di luar membran sitoplasma dan lapisan peptidoglikan yang membatasi sel
dengan lingkungan sekitarnya.OMP berfungsi sebagai barier fisik yang mengendalikan zat dan
cairan kedalam membrane sitoplasma.
Salmonella thypi hanya dapat hidup pada tubuh manusia. sumber penularan berasal dari tinja
dan urine karier, dari penderita pada fase akut dan penderita dalam fase penyembuhan.
2.3.5. Patogenesis
Infeksi terjadi pada saluran pencernaan. Basil diserap di usus halus, melalui pembuluh
limfe halus masuk ke dalam peredaran darah sampai di organ organ terutama hati dan limpa.
Basil yang tidak dihancurkan berkembang biak dalam dalam hati dan limpa sehingga organorgan tersebut akan membesar disertai nyeri pada perabaan. Kemudian basil masuk kembali ke
dalam darah (bakteremia) dan menyebar ke seluruh tubuh terutama ke dalam kelenjar limfoid
usus halus menimbulkan tukak berbentuk lonjong pada mukosa di atas plak penyeri. Tukak
tersebut dapat menyebabkan pendarahan dan perforasi usus. Gejala demam disebabkan oleh
endotoksin, sedangkan gejala pada saluran pencernaan disebabkan oleh kelainan pada usus.
2.3.6. Patofisiologi
Umumnya prognosis tifus abdominalis tidak begitu berbahaya, asal pasien cepat berobat.
Mortalitas pada pasien yang dirawat ialah 6%. Prognosis menjadi berbahaya jika terdapat
gambaran klinis yang berat seperti :

a.
b.
c.

Demam tinggi ( hiperpireksia ) atau febris kontinua.
Kesadaran sangat menurun ( sopor, koma atau delirium )
Terdapat komplikasi yang berat, misalnya dehidrasi dan asidosis perforasi.

2.3.7. Gambaran Klinis
Gambaran klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan dari pada orang dewasa.
Masa tunas 10-20 hari. Yang tersingkat 4 hari jika infeksi terjadi melalui makanan, sedangkan
jika melalui minuman yang terlama 30 hari. Selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala
prodromal, yaitu perassaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing tidak bersemangat dan
nafsu makan kurang.
Gambaran klinis yang biasa ditemukan ialah :
1.
Demam
Pada kasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu, bersifat febris remiten dan suhu tidak
tinggi sekali. Selama minggu pertama, suhu tubuh berangsur-angsur naik setiap hari, biasanya
menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari. Dalam minggu kedua
pasien terus berada dalam keadaan demam, pada minggu ketiga suhu berangsung turun dan
normal kembali pada akhir minggu ketiga.
2.
Gangguan pada saluran pencernaan.
Pada mulut terdapat nafas berbau tidak seda, bibir kering dan pecah-pecah ( ragaden ). Lidah
tertutup selaput putih kotor ( coated tongue ), ujung dan tepinya kemerahan, jarang disertai
tremor. Pada abdomen dapat ditemukan keadaan perut kembung ( meteorismus ). Hati dan limpa
membesar disertai nyeri pada perabaan. Biasanya sering terjadi konstipasi tetapi juga dapat diare
atau normal.
3.
Gangguan Kesadaran
Umunya kesadaran pasien menurun walaupun tidak dalam yaitu apatis sampai somnolen., jarang
terjadi sopor, koma atau gelisah ( kecuali penyakit berat dan terlambat mendapatkan
pengobatan ).
2.3.8. Komplikasi
Pada usus halus, umumnya jarang terjadi tetapi bila terjadi sering fatal.
a.
Pendarahan usus
Bila sedikit hanya ditemukan jika dilakukan pemeriksaan tinja dengan benzidin. Jika
pendarahan banyak dapat terjadi melena, dapat disertai nyeri perut dengan tanda – tanda
renjatan.
b.
Perforasi usus
Perforasi yang tidak disertai peritonitis hanya dapat ditemukan bila terdapat udara di rongga
peritoneum, yaitu pekak hati menghilang dan terdapat udara diantara hati dan diafragma pada
foto rontgen abdomen yang dibuat dalam keadaan tegak.

c.
Peritonitis
Biasanya menyertai perforasi tetapi terdapat terjadi tanpa perforasi usus. Ditemukan gejala
abdomen akut, yaitu nyeri perut yang hebat, dinding abdomen tegang ( defence musculair ).
Komplikasi di luar usus, terjadi karena lokalisasi peradangan akibat sepsis ( bakteremia ), yaitu
meningitis, kolesistitis, ensefalopati, dll. Terjadi karena infeksi sekunde, yaitu
bronkopneumonia.

BAB III
PENUTUP
1.1.

Kesimpulan
Makna pertukaran antara organisme manusia dengan lingkungan nya. Kelainan inflamasi
dan malabsorpsi akan mengganggu keutuhan fungsi traktus gastrointestinal, di samping itu
karena system dan sawar (barier) mukosa usus setelah bayi lahir masih berada dalam proses
menuju maturitas, maka usus bayi sangat rentan terhadap ancaman infeksi.
Diare ialah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali
pada anak, dengan konsistensi encer, dapat berwarna hijau, atau dapat pula bercampur lender
dan darah atau lender saja.
Sedangkan demam tifoid ialah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran
pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada pencernaan dan
gangguan kesadaran.
Kedua penyakit ini dapat menyebar dengan mudah melalui kontak langsung maupun
tidak langsung. Tranmisi kuman dapat melalui cara menelan makanan atau minuman yang
sudah tercemar sehingga transmisi atau penyebaran kuman ini sangat rentan terjadi pada anakanak, maka tak heran ketika data departemen kesehatan RI, menyebutkan bahwa angka
kesakitan diare di Indonesia saat ini adalah 230-330 per 1000 penduduk untuk semua golongan
umur balita. Anka kematian diare golongan umur balita adalah sekitar 4 per 1000 balita.
Sedangkan pada kasus deman tifoid prevalensi terdapat 91% kasus demam tifoid terjadi pada
umur 3-19 tahun.
Hal ini terjadi hampir 85 % dikarenakan kurang pedulinya masyarakat terhadap
lingkungan yang bersih dan gaya hidup sehat, diantaranya paparan lingkungan yang patogenik,
diet yang tidak memadai, dan malnutrisi yang menunjang penyebab timbulnya suatu penyakit.

1.2

Saran
Diharapkan makalah ini bisa memerikan masukan bagi rekan- rekan mahasiswa calon
perawat, sebagai bekal terutama ketika melakukan praktik atau bekerja pada ruang perawatan
anak, sehinga kami menyarankan agar teman-teman perawat membaca dan memahami isi
makalah ini sehinga menjadi bekalkan bila menghadapi kasus yang kami bahas ini.

DAFTAR PUSTAKA

Wong, Dona L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. ECG. Jakarta
Donna, Medical Surgical Nursing, WB Saunders, 1991
Brunner / Suddarth, Medical Surgical Nursing, JB Lippincot Company, Philadelphia, 1984
Donna L.Wong, dkk.2002.Buku Ajar Leperawatan Pediatrik.Ed.6.Jakarta;EGC

Dokumen yang terkait

Dokumen baru