Kurikulum pada Sistem Penyelenggaran Pen

KURIKULUM PADA SISTEM PENYELENGGARAAN
PENDIDIKAN DAN INTEGRASI BANGSA1
Oleh:
Robert Edy Sudarwan2
redysudarwan@gmail.com
(Abstrak)
Pendidikan tidak sekedar konsumsi, tetapi merupakan investasi produktif
dalam masyarakat. Kurikulum berfungsi bukan hanya mempersiapkan warga
negara untuk masa depan, tetapi terutama sebagai proses penyadaran individu
sebagai pendukung dan pembaharu pendidikan. Tidak ada sistem pendidikan
yang statis terutama dalam dunia terbuka pada abad ke-21. Hubungan antara
pendidikan dan kesejahteraan bangsa adalah dua muka dari sebuah mata uang.
Kondisi kebangsaan yang semakin dinamis dewasa ini membutuhkan adanya
aktor pendidikan yang kreatif dan produktif.
Kurikulum pendidikan nasional harus mengacu pada pengembangan
manusia Indonesia yang kongkret dalam budaya lokal yang pluralistis, menuju
Indonesia yang paripurna dalam tatanan kebudayaan dan persatuan Indonesia.
Kurikulum hendaknya menjadi sandaran proses pembentukan sosial capital bagi
terwujudnya manusia Indonesia yang demokratis dan toleran, melalui proses
pendidikan bipoler yang dinamis dan komplementer antara kutub individual
dalam kelokalannya dan kutub persatuan bangsa Indonesia.
Desentralisasi sistem pendidikan menyandang aspek sistemik dan sinergik,
yakni pengembangan akuntabilitas horizontal pendidikan
yang menuntut
partisipasi masyarakat lokal dalam manajemen dan semua tingkat dan jenis
pendidikannya. Kurikulum pendidikan hendaknya mengampu kondisi masyarakat
Indonesia yang multikultural pada budaya etnis. Namun, dengan kesepakatan
membentuk kesatuan Indonesia yang bhineka, identitas etnis perlu diangkat pada
tataran lebih tinggi guna mewujudkan kebudayaan Indonesia. Inilah pendidikan
pendidikan multikultural normatif yang diarahkan oleh nilai-nilai yang disepakati
bersama, yaitu nilai Pancasila dalam mewujudkan cita-cita bangsa.
Kata kunci: Kurikulum, Sistem Penyelenggara Pendidikan dan Integrasi Bangsa.

1

Makalah di sampaikan pada seminar nasional pendidikan di IKA UNY dalam rangka Dies
Natalis ke-49 UNY, 27 April 2013
2
Mahasiswa Pendidikan Matematika Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta,
Angkatan 2012

1

I. Latar Belakang
Pendidikan adalah investasi masa depan yang tidak dapat kita pungkiri
keberadaanya. Awal dari sebuah pembentukan anak bangsa, dari mulai sikap,
keilmuan dan segala aspek yang mendukung atas terciptanya sumberdaya manusia
yang berkualitas semua nyadi mulai dari pendidikan. Namun, gejala yang muncul
sering kita lihat betapa pendidikan hanya menjadi tempat lewat seseorang dalam
masa usianya, tanpa melihat secara mendalam apakah yang menjadi sebuah
tanggung jawab dan keharusan sebagai anak bangsa hingga sampai pada titik
menyadarinya.
Senada dengan kebutuhan pentingnya pendidikan, maka tidak dapat
dipungkiri bahwa pada realitanya pendidikan merupakan dasar pokok akan
terciptanya negara yang paripurna. Namun ramuan pendidikan tidak bisa tegak
berdiri sendiri, ruang pendidikan yang luas tentu akan tunduk pada ruang sistem
yang disetir oleh dimensi politik negeri. Dan yang menjadi soal adalah biasnya
sistem pendidikan yang tidak mengakomodir kepentingan hajat hidup rakyat
Indonesia.
Sudah sejak lama hingga dewasa ini kita menginginkan sebuah produk sistem
pendidikan yang paripurna. Berangkat dari kurikulum dan mekanisme pendidikan
yang secara berkala dievaluasi dan dirubah oleh pemegang kebijakan. Harapan
akan

terselesaikannya problem pendidikan dari hulu hingga hilir tentunya

menjadi semangat kita semua.

Lantas, yang menjadi soal adalah bagaimana

mekanisme pendidikan yang baik dan memiliki kontribusi nyata dalam tata nilai
guna mewujudkan manusia seutuhnya?

2

II.

Pembahasan

1. Kurikulum pendidikan
Pencapaian tujuan pendidikan nasional yang sesuai dengan Undang-undang
sisdiknas mestinya memiliki produk kurikulum yang cocok dalam pengembangan
proses belajar mengajar. Jika hal ini tidak berjalan sesuai dengan karasteristik
kebutuhan proses belajar mengajar maka tujuan untuk peningkatan mutu
pendidikan akan mengalami kegagalan. Tentunya semua itu tidak dapat lepas dari
kurikulum yang

mempunyai kedudukan sentral dalam keseluruhan kegiatan

pembelajaran, menentukan proses pelaksanaan dan hasil pendidikan.
Mengingat pentingnya peran kurikulum dalam pendidikan dan dalam
perkembangan pendidikan peserta didik, maka pengembangan kurikulum tidak
bisa dikerjakan asal jadi. Perancangan program pendidikan harus sesuai dengan
kebutuhan masyarakat dan diorientasikan pada pengembangan ilmu pengetahuan
yang berkesusuaian dengan masanya3. Oleh karena itu, diharapkan kurikulum
sekarang harus dirancang oleh guru bersama masyarakat pemakai.
Sudah terbukti berkali-kali bahwa pergantian kurikulum tidak dapat membawa
perubahan dalam peningkatan mutu pendidikan. Berbagai kegiatan ilmiah, baik
penataran guru, seminar dan pelatihan-pelatihan kurang memberikan hasil yang
memuaskan. Kiranya sudah waktunya dipikirkan bahwa memberi bekal
manajemen pengembangan kurikulum, teori belajar dan dasar-dasar manajemen
mutu terpadu bagi guru dan calon guru sangat diperlukan. Disinilah letak
pentingnaya LPTK yang mendidik calon guru dan yang akan menguji kompotensi
guru.
Guru saat ini dalam memandang kurikulum terlalu sempit sebab masih banyak
guru terlalu berpedoman pada silabus yang telah ditentukan, bukannya proses
pembelajaran demi penguasaan kompotensi yang dibutuhkan oleh peserta didik,
bahkan orientasi pembelajaran lebih didominasi oleh guru. Sehingga yang terjadi
3

H.A.R. Tilaar.2012. Kaleidoskop Pendidikan Nasional Indonesia.Kompas Gramedia: Jakarta.
Hlm. 853

3

adalah pencapaian target penyelesaian dengan domain kognitif semata. Cara
pandang ini akan cocok apabila tujuan akhirnya adalah memperoleh nilai lulus
dalam ujian nasional. Perlu diingat bahwa seorang siswa bukan hanya sekedar
domain kognitif yang ditingkatkan tetapi aspek sikap, psikomotornya harus pula
dikembangkan secara paralel.
Jika seorang guru memandang kurikulum dalam arti yang luas, akan menuntut
seorang guru untuk mampu berkreatifitas, mengaitkan perilakunya didepan kelas
dengan konteks pembelajaran yang menjadi pengalaman dan dibutuhkan oleh
peserta didik, sehingga orientasi pembelajaran berpusat pada peserta didik. Sejauh
ini terlalu banyak guru memandang kurikulum secara sempit sehingga tidak heran
capaian kurikulum yang diterapkan tidak mencapai target atau tujuan yang
dikendaki bahkan akan mengalami kegagalan.
Belajar dari pengalaman, lalu timbul pertanyaan yang perlu kita kembangkan
secara bersama, antara lain ; Materi kuliah apakah yang diberikan oleh LPTK
untuk mata kuliah kurikulum pendidikan dan teori balajar? Apakah dengan
adanya kebebasan guru untuk berkreatifitas dalam pengembangan kurikulum
pembelajarannnya akan membawa kearah peningkatan mutu pendidikan ?
bagaimana dengan budaya kerja guru-guru kita ? dan apakah sertifikasi juga
mengarah pada pembedahan wawasan guru tentang cara pandang kurikulum ?
beberapa pertanyaan ini menuntut seorang guru/calon guru untuk memiliki
manajemen pengembangan kurikulum yang baik.

2. Guru dan Persoalannya
Beberapa hal terkait dengan persoalan guru atau pendidikan secara umum.
Guru seakan-akan merupakan penanggungjawab utama baik buruknya generasi
muda. Hal ini

dilakukan dengan memberikan iming-iming kata-kata

kesejahteraan yang bahkan bagi beberapa guru hal tersebut tidak pernah mereka
rasakan. Jangankan merasakan, karena hal tersebut merupakan angan-angan yang
jauh dari kenyataan. Di sisi lain, dengan kampanye peran guru berbanding lurus
dengan kesejahteraan.

Maka banyak pula guru-guru yang kadang orientasi

4

utamanya bukan dalam rangka mendidik akan tetapi dalam rangka memenuhi
kebutuhan dia dalam mendapatkan kesejahteraan.
Belum lagi kalau kita melihat output dari pendidikan saat ini yang sangat jauh
dari harapan untuk menjadi manusia-manusia berkualitas. Karena terbukti
sekarang banyak sekali orang pintar, pandai akan tetapi kepribadiannya cacat
karena dia seorang koruptor, mafia hukum. Tentunya dalam kitapun bertannya,
bagaimana sebenarnya peran guru dalam membentuk generasi muda yang
berkepribadian yang benar? Salahkah sistem pendidikan kita? Sehingga Output
pendidikan sangat jauh dari harapan?

3. Guru dan Pendidikan di Indonesia
Dunia Guru dan Pendidikan di Indonesia selalu menjadi sorotan masyarakat
terutama berkaitan dengan sistem penyelenggaraan pendidikan nasional.
Berulangnya hari pendidikan nasional maupun hari guru nasional rupanya tidak
merubah kondisi dunia pendidikan di Indonesia. Slogan-slogan yang dimunculkan
dalam peringatan-peringatan tersebut hanyalah sebuah kata-kata manis yang
berupa khayalan belaka yang tidak pernah dapat diwujudkan.
Tentunya kita merindukan sosok guru profesional yang menjadi nadi
kehidupan. Kepribadian dari seorang guru profesional adalah kepribadian yang
prima.4

Kepribadian yang tangguh dan bukan hadir sekedar mengajar dan

mengejar target silabus saja. Tapi lebih kepada mendidik dan membentuk peserta
didik untuk menjadi manusia seutuhnya.
Pendidikan yang baik tentu tidak dapat berdiri sendiri, semua tentu memiliki
bangunan yang dibentuk dari pondasi hingga atap. Adanya dua sisi yang saling
bersentuhan ini adalah sebuah keniscahyaan yang nyata.

Bahwa pendidikan

adalah upaya bersama yang terbentuk antara pengelola dan pelaksana. Begitupun
proses pendidikan di dalam suatu masyarakat madani merupakan suatu interaksi
antara pendidik dan peseta didik.5

Lihat David H.Maister, True Profesionalism, hlm. 16. Secara ektrem dikatan “profesionalizm is
predominantly an attude, not a sat of compe-tencies”.
55
H.A.R. Tilaar.2012. Kaleidoskop Pendidikan ....... (opcit). hlm 515

4

5

Menjadi guru profesional adalah sebuah keharusan yang tidak dapat ditawar.
Upaya sitem yang membentuk bagaimana guru-guru di negeri ini menjadi
profesioanal pun menjadi perdebatan. Dimulai dari bagaimana meningkatkan
kesejahteraan guru, hingga pada bagaimana dibentuknya sistem-sistem pelatihan
dan pengayaan guru untuk menjadi yang diharapkan. Terlepas dari hal tersebut
diatas, Momon Sudannan mengatakan bahwa;

barang siapa yang tidak

profesional tidak akan survive karena tidak dapat berkompetisi dengan orang
yang lebih kompeten atau jenis profesi lain yang lebih kompetitif.6
Adapun terkait dengan kualitas pendidikan, sesungguhnya kualitas pendidikan
sangat ditentukan pada manajemen penyelenggaraan pendidikan. Pendidikan pada
jaman kolonial hanya diberikan kepada para penguasa serta kaum feodal saja,
sementara itu pendidikan rakyat hanya sampai di sekolah-sekolah kelas 2 atau
ongko loro. Standar yang dipakai untuk mengukur kualitas pendidikan rakyat
pada waktu itu diragukan, karena sebagian besar rakyat tidak memperoleh
pendidikan secara layak. Kondisi seperti ini berkembang hingga masa orde lama,
pendidikan dimasuki oleh politik praktis atau mulai dijadikan kendaraan politik
sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan Orde Lama.
Sedangkan pada masa Reformasi, bidang pendidikan bukan lagi tanggung
jawab pemerintah pusat tetapi diserahkan kepada pemerintah daerah sebagaimana
diatur dalam Undang-Undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah,
hanya beberapa fungsi saja yang tetap berada di tangan pemerintah pusat.
Perubahan dari sistem sentralisasi ke desentralisasi telah membawa konsekuensikonsekuensi yang jauh di dalam penyelenggaraan pendidikan nasional.

4. Membangun Sistem Pendidikan yang Ideal
Fakta-fakta kebobrokan dalam sistem penyelenggaraan pendidikan saat ini
sudah menjalar kemana-mana. Sistem penyelenggaraan pendidikan yang
berorientasi pada masyarakat sangat dirindu untuk dapat diwujudkan. Dengan

Lihat tulisan momond Sudannan,”Sakaratulmautnya ideologi keguruan, Kompas, 5 Februari
1998

6

6

jalan membuat aturan yang benar, bukan aturan dan ketentuan yang dibuat-buat
berdasarkan kepentingan sesaat.
Sistem penyelenggaraan pendidikan secara garis besar hanya meliputi dua hal,
yaitu berkaitan dengan sistem pengelolaan administrasi pemenuhan pendidikan
dan substansi kurikulum pendidikan. Dua hal inilah yang menjadi persoalan
utama dalam membangun dunia pendidikan saat ini.
Pertama, membangun sistem pengelolaan administrasi dan penegakan dalam
pemenuhan hak pendidikan. Hal ini berkaitan dengan tanggung jawab untuk
memenuhi kebutuhan pendidikan bagi masyarakat. Pendidikan merupakan hak
bagi masyarakat, dengan arti bahwa masyarakat berhak untuk menanyakan dan
menuntut hak yang seharusnya diperoleh dalam dunia pendidikan. Sedangkan
kewajiban negara untuk memenuhinya adalah usaha negara dalam mewujudkan
dan melaksanakan kewajiban terhadap pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat
yang salah satunya adalah kebutuhan pendidikan.
Sudah menjadi sebuah keharusan, bahwa keberadaan pemimpin dan
jajarannya adalah untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat

dalam

memenuhi kebutuhan pendidikan. Pemenuhan kebutuhan pokok oleh negara ini
adalah merupakan pelaksanaan dari hukum syara’, yang harus disertai dengan
metode pelaksanaan dan metode penegakannya. Ketika syara’ sudah menetapkan
bahwa pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat wajib bagi negara, maka negara
harus sudah memikirkan bagaimana pemenuhan kebutuhan itu berkaitan dengan
anggaran, sarana prasarana dengan sumber-sumber yang jelas, bukan hanya
sekedar manis dalam aturan saja.
Kedua, substansi kurikulum pendidikan. Substansi kurikulum pendidikan pada
dasarnya bertujuan untuk membentuk kepribadian yang benar bagi anak didik dan
membangun keahlian/ketrampilan yang dapat digunakan dalam menjalani
kehidupannya kelak. Dua tujuan inilah yang harus menjadi simpul dalam
kurikulum sebuah sistem pendidikan. Sedangkan keahlian dan ketrampilan
merupakan kebutuhan untuk memberikan bekal skill bagi anak didik agar dapat
mendukung kemandirian dalam menjalani kehidupan di dunia.

7

Beberapa hal inilah yang seharusnya diperhatikan oleh negara berkaitan
dengan penyelenggaraan pendidikan. Dunia pendidikan jangan sampai dijadikan
sebagai kelinci percobaan dalam setiap kebijakan-kebijakannya, karena rakyatlah
yang pasti akan menderita. Membangun sistem penyelenggaraan pendidikan yang
baik dan benar hanya dapat diwujudkan dengan sistem yang telah teruji, terbukti
dan hanya berpihak kepada kepentingan rakyat.

5. Politik Kebijakan Pendidikan
Keputusan politik suatu negara merupakan suatu kebijakan publik (public
policy). Wujud paling kongkrit dari kebijakan publik dari negara adalah peraturan
pemerintah, keputusan menteri, keputusan presiden, undang-undang, dan lain-lain.
Dalam proses pembuatan kebijakan publik, proses -proses politik sangat
kental mewarnainya. Mulai dari pemunculan issu, kemudian berkembang menjadi
debat publik melalui media massa serta forum-forum terbatas, lalu ditangkap
aspirasinya oleh partai politik untuk diartikulasikan dan dibahas dalam lembaga
legislatif, sehingga menjadi kebijakan publik.
Hal di atas menandakan bahwa kebijakan-kebijakan publik terlahir melalui
proses-proses politik yang tidak sederhana. Bahkan sering terjadi, di dalam proses
–proses politik tersebut muncul konflik-konflik politik antar beragam kepentingan
yang tidak bisa dipertemukan. Biasanya konflik-konflik tersebut akan reda
manakala berbagai kepentingan yang ada telah terjadi titik temu.
Masalah pendidikan adalah salah satu masalah yang bersifat universal. Semua
manusia tanpa kecuali sangat berkepentingan terhadap pendidikan. Bagi anak dan
remaja, pendidikan merupakan suatu hak yang harus diterima baik melalui
sekolah (school education) maupun luar sekolah (out of school education). Bagi
orang tua anak, pendidikan merupakan kewajiban yang harus diberikan kepada
anaknya dalam wujud pelayanan, bimbingan, dan hal-hal lain yang mendukung
pemuasan hak anak. Bagi orang dewasa, pendidikan juga merupakan hak, dalam
arti hak untuk menjalani pendidikan sepanjang hayat. Dengan demikian, masalah
–masalah kehidupan yang menyangkut dunia pendidikan merupakan masalah
yang bersifat publik.

8

Bagi masyarakat kelompok marginal seperti golongan miskin maupun kaum
pedalaman akan mengalami kesulitan dalam memperoleh kesempatan pendidikan
secara memadahi. Mereka memiliki keterbatasan dalam mencari layanan
pendidikan yang bermutu dan mudah dijangkau secara geografis. Sehingga yang
terjadi, kelompok miskin dan kaum pedalaman ini hanya memperoleh layanan
pendidikan yang kurang bermutu dan kurang terjangkau dari segi geografis.
Dalam konteks ini, termasuk dalam kelompok masyarakat marginal adalah
golongan perempuan. Banyak perempuan di banyak daerah, mengalami
pembatasan -pembatasan. Tidak hanya pada jaman Kartini perempuan sering
hanya diidentikkan dengan masalah dapur, sumur,dan kasur (hanya menenak nasi,
mencuci, dan sebaga i teman tidur).
Pada jaman modern sekalipun, perempuan sering dilecehkan dan dikekang
dalam banyak segi termasuk dalam memperoleh kesetaraan pendidikan.
Sedangkan masyarakat yang masuk lapisan menengah dan lapisan atas, banyak
diuntungkan untuk memperoleh dan memilih layanan pendidikan yang disukai.
Mereka bisa ‘membeli’ lembaga pendidikan yang disukai untuk dimasuki,
termasuk pada lembaga-lembaga pendidikan

(sekolah dan universitas) yang

dikenal ‘favorite’.
Fenomena dualistik di atas menunjukkan adanya masalah berkaitan dengan
kesenjangan pendidikan antara kelas dan kelompok sosial atas dengan kelompok
sosial bawah, antara desa dengan kota, antara laki -laki dengan perempuan, antara
pusat dan daerah. Pada satu pihak ada kelompok masyarakat yang diuntungkan,
sedangkan di pihak lain ada golongan yang kurang diuntungkan.
Persoalan lain dalam dunia pendidikan adalah menyangkut kendala pluralisme
yang amat kompleks dari masyarakat Indonesia. Sehingga, sejak tanggal 1 Januari
2001 Indonesia telah melakukan terobosan dengan melaksanakan otonomi daerah
untuk masing -masing Daerah Tingkat II. Konsekwensi dari teroboson tersebut
adalah beberapa segi dari pengelolaan pendidikan juga mengalami otonomi
daerah. Hal ini secara positif bisa mendekatkan problem pendidikan terhadap
kondisi multikultural bangsa Indonesia.

9

6. Pendidikan Multikultural, langkah upaya perbaikan
Multikultural di Indonesia bersifat normatif. Multikutural normatif adalah
petunjuk tentang berbagai kepentingan yang membimbing pada pengakuan yang
lebih tinggi mengenai kebangsaan dan identitas kelompok yang berbeda di dalam
masyarakat. Multikultural normatif di Indonesia pertama kali diamanatkan dalam
UUD 1945. Ketentuan di dalam UU menyatakan bahwa rakyat dan bangsa
Indonesia mencakupi berbagai kelompok etnis. Mereka telah berbagi komitmen
dalam membangun bangsa Indonesia.
Di dalam pendidikan multikultural terletak tanggung jawab besar untuk
pendidikan nasional. Tanpa pendidikan yang difokuskan pada pengembangan
perspektif multikultural dalam kehidupan adalah tidak mungkin untuk
menciptakan keberadaan aneka ragam budaya di masa depan dalam masyarakat
Indonesia. Multikultural hanya dapat disikapi melalui pendidikan nasional.
Ada tiga tantangan besar dalam melaksanakan pendidikan multikultural di
Indonesia, yaitu:
1. Agama, suku bangsa dan tradisi
Agama secara aktual merupakan ikatan yang terpenting dalam kehidupan
orang Indonesia sebagai suatu bangsa. Bagaimanapun juga hal itu akan menjadi
perusak kekuatan masyarakat yang harmonis ketika hal itu digunakan sebagai
senjata politik atau fasilitas individu-individu atau kelompok ekonomi. Di dalam
kasus ini, agama terkait pada etnis atau tradisi kehidupan dari sebuah masyarakat.
Masing-masing individu telah menggunakan prinsip agama untuk menuntun
dirinya dalam kehidupan di masyarakat, tetapi tidak berbagi pengertian dari
keyakinan agamanya pada pihak lain. Hal ini hanya dapat dilakukan melalui
pendidikan multikultural untuk mencapai tujuan dan prinsip seseorang dalam
menghargai agama.
2. Kepercayaan
Unsur yang penting dalam kehidupan bersama adalah kepercayaan. Dalam
masyarakat yang plural selalu memikirkan resiko terhadap berbagai perbedaan.

10

Munculnya resiko dari kecurigaan/ketakutan atau ketidakpercayaan terhadap yang
lain dapat juga timbul ketika tidak ada komunikasi di dalam masyarakat/plural.

3. Toleransi
Toleransi merupakan bentuk tertinggi, bahwa kita dapat mencapai keyakinan.
Toleransi dapat menjadi kenyataan ketika kita mengasumsikan adanya perbedaan.
Keyakinan adalah sesuatu yang dapat diubah. Sehingga dalam toleransi, tidak
harus selalu mempertahankan keyakinannya.
Untuk mencapai tujuan sebagai manusia Indonesia yang demokratis dan dapat
hidup di Indonesia diperlukan pendidikan multikultural.
Pendekatan dalam pendidikan multikultural meliputi:
a.

Pengajaran yang yang menitikberatkan perbedaaan secara kultural agar di
kalangan mereka terjadi perubahan kultural yang natural.

b.

Memperhatikan pentingnya interaksi antar sesama dengan mengarahkan
atau mendorong siswa memiliki perasaan positif, mengembangkan
konsep diri, mengembangkan toleransi dan mau menerima orang lain.

c.

Menciptakan arena belajar dalam satu kelompok budaya.

d.

Pendidikan multikultural dilakukan sebagai upaya mendorong persamaan
struktur sosial dan pluralisme kultural dengan pemerataan kekuasaan
antar kelompok.

e.

Pendidikan multikultural sekaligus sebagai upaya rekontruksi sosial agar
terjadi persamaan struktur sosial dan pluralisme kultural dengan tujuan
menyiapkan agar setiap warga negara aktif mengusahakan persamaan
struktur sosial.

Meskipun pendidikan multikultural itu penting dan Indonesia adalah negara
yang multikultural, tetapi pola pendidikan di Indonesia belum memakai
pendidikan multikultural. Pola pendidikan di Indonesia selama ini memilih cara

11

penyeragaman dengan standar kultural Indonesia yaitu kultur yang dibawa oleh
birokrasi yang dikendalikan elit pemerintah yang harus dilaksanakan dan
dipatuhinya. Kebijakan pendidikan harus selalu dilegimitasi oleh perundangundangan yang sudah memiliki kekuatan legal.
III. Kesimpulan
Kurikulum adalah

bagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses

pembentukan karakter bangsa.

Kunci paradikma dalam pembentukan nalar

individu para generasi penerus bangsa tidak lain adalah

melalui proses

pendidikan. Proses pendidikan yang baik adalah harga mati yang tidak bisa di
tawar dalam pencapaianya.
Pencapaian kurikulum yang baik tentu tidak dapat di pisahkan dari bagaimana
sistem dan mekanisme proses yang berjalan. Sistem diatur oleh kebijakan, dan
kebijakan yang muncul tentu tidak terlepas dari bingkai politik yang memayungi.
Dan dengan poliltik yang santun serta berorientasi pada kemaslahatan publik
maka tujuan dari cita – cita guna mencerdaskan kehidupan bangsa akan dapat
terwujud.
Pada ahirnya, harapan didalam mencapai desentralisasi sistem pendidikan
tidak bermuara pada sisi politis kebijakan daerah, adanya desentralisasi ini
hendaknya menjadi pengembangan akuntabilitas horizontal pendidikan yang
menuntut partisipasi masyarakat lokal dalam manajemen dan semua tingkat dan
jenis pendidikannya.

Kurikulum pendidikan hendaknya mengampu kondisi

masyarakat Indonesia yang multikultural pada budaya etnis. Namun, dengan
kesepakatan membentuk kesatuan Indonesia yang bineka, identitas etnis perlu
diangkat pada tataran lebih tinggi guna mewujudkan kebudayaan Indonesia.

12

Daftar Pustaka
A.Ahmadi. 1987. Pendidikan dari Masa ke Masa. Bandung: Armico.Karl
Mannheim. 1991. Ideology and Utopia: An Introduction to The Sociology of
Knowledge (Diterjemahkan: Idelogi dan Utopia: Menyingkap Kaitan Pikiran
dan Politik).Yogyakarta: Kanisius.
H.A.R. Tilaar.2012. Kaleidoskop Pendidikan Nasional Indonesia.Kompas
Gramedia: Jakarta.
Musa Asy’arie. 2004.

Pendidikan Multikultural dan Konflik Bangsa.1-2.

www.kompas.co.id
Nezar Patria dan Andi Arief. 1999. Antonio Gramsci: Negara dan Hegemoni.
Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
Rasiyo. 2005. Kebijakan Desentralisasi Manajemen Pendidikan Pada Era
Otonomi Daerah. Surabaya: Program Doktor Ilmu Administrasi, Universitas
17 Agustus 1945.
Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Yudi Latif dan IS Ibrahim. 1996. “Bahasa dan kekuasaan: Politik Wacana di
Panggung Orde Baru”. Bandung: Mizan.

13

Dokumen yang terkait

Dokumen baru