PENEGAKAN HUKUM MALPRAKTIK MELALUI PENDEKATAN MEDIASI PENAL ARINA

JOURNAL READING HUKUM
KESEHATAN
PENEGAKAN HUKUM MALPRAKTIK
MELALUI PENDEKATAN MEDIASI
PENAL
OLEH : DIARY ARINA QONITA
1610211137
PEMBIMBING : DR. NURTAKDIR KURNIA SETIAWAN, SP.S

STASE SARAF-RSUD AMBARAWA
PERIODE 17 APRIL-20 MEI 2018

PENDAHULUA
N
Kesehatan sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia
dan merupakan hak dasar sosial (the right to health care)
dan hak individu (the right of self determination) yang
harus diwujudkan dalam bentuk pemberian pelayanan
kesehatan yang aman, berkualitas dan terjangkau oleh
masyarakat.
Oleh karena itu setiap kegiatan dan upaya untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
harus dilaksanakan berazaskan perikemanusian,
keseimbangan, manfaat, perlindungan,
penghormatan terhadap hak dan kewajiban,
keadilan, gender dan non diskriminatif dan normanorma agama (Pasal 2 UU Nomor 36Tahun 2009
tentang Kesehatan)

Keselamatan
pasien

Pelayanan
Sistem Layanan
Kesehatan yang
medis yang baik
baik

Standart
Operating
Procedure
(SOP)

(solus aegroti
salus suprema
lex )
Layanan medik (kedokteran) adalah suatu sistem
yang kompleks dan rentan akan terjadinya
kecelakaan, sehingga harus dilakukan dengan penuh
hati-hati oleh orang-orang yang kompeten dan
memiliki kewenangan khusus untuk itu.

Harus memperhatikan
setiap
aspek
yang
menjadi
hak
pasien
agar tidak terjadi suatu
tindakan mallpraktik

Upaya meminimalkan tuntutan hukum terhadap rumah sakit
beserta stafnya pada dasarnya merupakan upaya mencegah
terjadinya preventable adverse events yang disebabkan oleh
medical errors, atau berarti seluruh upaya mengelola risiko dengan
berorientasikan kepada keselamatan pasien.
Tindakan medik yang dilakukan oleh dokter, pada dasarnya selalu
memiliki resiko. Ketidak berhasilan seorang dokter dalam
melakukan tindakan medik disebabkan oleh dua hal, pertama
yang disebabkan oleh overmacht ( keadaan memaksa ), kedua
yang disebabkan karena dokter melakukan tindakan medik yang
tidak sesuai dengan standar profesi medik (Anny Isfandyarie,2005
:24 -25)
Hal tersebut dapat menyebabkan konfik antara dokter dengan
pasien, sehingga dapat menyebabkan timbulnya sengketa, hal ini
mungkin disebabkan oleh perubahan pola hubungan antara dokter
dengan pasien (Hendrojono Soewono,2006: 25)

Mallpraktek

Mal :
Buruk

Praktik

Malpraktik berarti menjalankan
pekerjaan yang buruk kualitasnya,
tidak lege artis, tidak tepat
Malpraktik medik dapat diartikan sebagai
kelalaian atau kegagalan seorang dokter atau
tenaga medis untuk mempergunakan tingkat
keterampilan dan ilmu pengetahuan yang lazim
dipergunakan dalam mengobati pasien atau
orang cedera menurut ukuran di lingkungan yang

METODE
PENELITIAN

• Penelitian ini menggunakan pendekatan yang
bersifat yuridis normatif, Spesifkasi penelitian ini
adalah deskriptif analitis.

Hasil Penelitian dan
Pembahasan
Malpraktek
Etik
Jenis-Jenis
Malpraktik
Malpraktek
Yuridis

Malpraktek
Etik
Yang dimaksud dengan malpraktek etik adalah
tenaga kesehatan melakukan tindakan yang
bertentangan dengan etika profesinya sebagai
tenaga kesehatan

Etik Medik
(medical
ethics
Berhubungan
dengan) sikap para
dokter terhadap sejawatnya,
sikap dokter terhadap
pembantunya dan sikap dokter
terhadap masyarakat

Etik asuhan (ethics
of the medical care)
merupakan etik kedokteran dalam
kehidupan sehari-hari mengenai sikap
dan tindakan seorang dokter terhadap
penderita yang menjadi tanggung
jawabnya.

Malpraktek perdata terjadi apabila
terdapat hal-hal yang menyebabkan
tidak terpenuhinya isi perjanjian
(wanprestasi) didalam transaksi
terapeutik oleh tenaga kesehatan,
atau terjadinya perbuatan melanggar
hukum ( onrechtmatige daad ) ,
sehingga menimbulkan kerugian
kepada pasien

Wanprestasi (Pasal 1239
KUHPerdata).

Dalam hal ini dokter tidak memenuhi
kewajibannya yang timbul dari adanya
suatu perjanjian (tanggung jawab
kontraktual).

BENTUK PELANGGARAN DALAM
WANPRESTASI SEBAGAI BERIKUT :

Malpraktek pidana terjadi apabila
pasien meninggal dunia at au
mengalami cacat akibat tenaga
kesehatan kurang hati-hati

Penegakan Hukum Malpraktik Melalui
Pendekatan Mediasi Penal
Di Indonesia
penyelesaian
sengketa

Lembaga
Penyelesaian
Sengketa Medik

Independent
• -Lembaga Penyelesaian Sengketa Medik merupakan salah satu lembaga yang
dibentuk oleh Undang-Undang, dan anggotanya terdiri dari sarjana hukum,
akademisi hukum kesehatan, praktisi dan perwakilan profesi kedokteran
(Ikatan Dokter Indonesia dan Konsil Kedokteran).
• -Lembaga ini yang dapat dikontrol / diawasi secara langsung , adanya
pembiayaan/ pendanaan yang rutin, keputusannya bersifat fnal dan bisa
langsung dieksekusi.
• -Hal yang diperhatikan adalah penunjukan anggota dan advisor, pengalaman
seorang advisor diperlukan untuk dapat menerangkan posisi atau kedudukan
masing-masing pihak dalam sengketa tersebut

5 TAHAP MINI TRIAL

KESIMPULAN
• Penegakan Hukum

Malpraktik Melalui Pendekatan Mediasi Penal
yaitu menggunakan persidangan mini / minitrial adalah proses
untuk menyelesaikan sengketa, meskipun menggunakan pihak
ketiga (advisor) tetapi prosedur / mekanisme persidangan
merupakan bentuk perundingan / musyawarah langsung antara
pihak-pihak yang bersengketa, dan hasilnya merupakan
kesepakatan kedua belah pihak.

• Model penyelesaian sengketa melalui mini trial ini mempunyai
implikasi yang diharapkan sebagai Mampu menjawab kebutuhan
dinamisasi dalam praktik penyelesaian sengketa medik dalam
pelayanan kesehatan yait sarana alternatif penyelesaian sengketa
yang lebih praktis, lebih dipercaya,prosedurnya cepat, murah
biaya, prosedurnya rahasia / confdential, kesepakatan yang lebih
baik daripada hasil yang diperoleh dengan cara penyelesaian

SARAN
• Dalam proses penyelesaian sengketa medik yang terjadi antara
penyedia layanan medik / dokter dan pasien / keluarganya
harus dilakukan pendekatan ilmu kedokteran / kesehatan dan
ilmu hokum secara proposional dan persuasif, pendekatan
kepentingan
antara
kedua
belah
pihak
melalui
penyampaianinformasi maupun cara penyampaian yang lebih
komunikatif.
• Diperlukan peran Pemerintah ,insitusi pelayanan kesehatan
terkait dan / atau masyarakat untuk mengawasi keberadaan
Lembaga Penyelesaian Sengketa Medik ini agar mampu
menjalankan tugas secara jujur, transparan, tidak memihak dan
adil.

• Adami Chazawi. 2007. Malpraktik Kedokteran Tinjauan Norma Dan Doktrin Hukum,
Malang: Bayu
• MediaPublishing.
• Anny Isfandyarie. 2005. Malpraktek Dan Resiko Medik Dalam Kajian Hukum Pidana.
Jakarta: Prestasi
• Pustaka.
• Azwar. 2002. Sang Dokter. Bekasi: Megapoin.
• Bambang Sutiyoso. 2008. Hukum Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.
Yogyakarta: Gama
• Media.
• Eisenberg. 1976. Private Ordering Trough Negotation : Dispute Settlement and Rule
making , 89 Harv.L.
• Fifth UN Congres, Report,1976,hal 4.Lihat dalam Nyoman Serikat Putra Jaya, 2008,
Beberapa Pemikiran
• Subekti, 1985, Hukum Perjanjian, Penerbit PT Intermasa
• Veronika Komalasari. 1989.Hukum dan Etika Dalam Pratek Dokter. Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan.
• Artikel Jurnal:
• Bambang Tri Bawono, 2011, Kebijakan Hukum Pidana Dalam Upaya

• ke Arah Pengembangan Hukum Pidana, Bandung:Citra Aditya Bakti.
• Fisher, Roger and William Ury. 1991. Getting to Yes ; Negotiating an Agreement Without Giving In ,
• London : Business Book , Ltd
• Gary Goodfaster. 1995. Tinjauan Terhadap Penyelesaian Sengketa. Seri Dasar-Dasar Hukum Ekonomi
• 2, Arbitrase di Indonesia, Jakarta: Ghalia Indonesia.
• Gatot Soemartono. 2006. Arbitrase dan Mediasi di Indonesia. Jakarta :Gramedia Pustaka Utama.
• G. . Peter Hoefnagels. 1996. The Other Side of Criminology. Holland : Kluwer-Deventer Holland.
• Huijbers. 1982. Filsafat Hukum. Yogyakarta: Kanisius.
• Mertokusumo, Sudikno. 1986. Mengenal Hukum ; Suatu Pengantar. Yogyakarta: Liberty.
• Saftri Hariyani. 2005. Sengketa Medik Alternatif Penyelesaian Perselsihan Antara Dokter dengan
• Pasien. Jakarta: Diadit Media.

•TERIMAKASI
H

Dokumen yang terkait

Dokumen baru