Gambaran Strategi Akulturas pada Mahasiswa Asing di Universitas Sumatera Utara

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. AKULTURASI

1. Defenisi Akulturasi

Akulturasi berbeda dengan enkulturasi, dimana akulturasi merupakan suatu proses yang dijalani individu sebagai respon terhadap perubahan konteks budaya. Budaya menurut Melville J. Herskovids (2000) merupakan sikap, perasaan, nilai, dan perilaku yang menjadi ciri dan menginformasikan masyarakat secara keseluruhan atau kelompok sosial di dalamnya.

Akulturasi Redfield (1936) adalah suatu fenomena yang merupakan hasil ketika suatu kelompok individu yang memiliki kebudayaan yang berdeda datang dan secara berkesinambungan melakukan kontak dari perjumpaan pertama, yang kemudian mengalami perubahan dalam pola budaya asli salah satu atau kedua kelompok tersebut.

Menurut Social Science Research Council (1954), akulturasi merupakan perubahan budaya yang diawali dengan bergabunganya dua atau lebih budaya yang berdiri sendiri. Perubahan akulturatif mungkin merupakan konsekuensi langsung dari perubahan budaya; mungkin disebabkan oleh faktor non-budaya, seperti ekologi atau modifikasi demografi yang disebabkan oleh budaya yang bertimpang tindih; mungkin juga terhambat, seperti penyesuaian internal terhadap penerimaan sifat-sifat atau pola asing; atau mungkin bentuk reaksi adaptasi dari model hidup secara tradisional.


(2)

Menurut Graves (1967), akulturasi merupakan suatu perubahan yang dialami oleh individu sebagai hasil dari terjadinya kontak dengan budaya lain, dan sebagai hasil dari keikutsertaan dalam proses akulturasi yang sedang dijalani oleh budaya atau kelompok etnisnya. Perubahan yang terjadi pada tingkatan ini terlihat pada identitas, nilai-nilai, dan perilaku.

Akulturasi menurut Organization for Migration (2004) merupakan adaptasi progresif seseorang, kelompok, atau kelas dari suatu budaya pada elemen-elemen budaya asing (ide, kata-kata, nilai, norma, perilaku).

Dari defenisi akulturasi diatas kita dapat mengidentifikasi beberapa elemen kunci seperti :

a Dibutuhkan kontak atau interaksi antar budaya secara berkesinambungan.

b Hasilnya merupakan sedikit perubahan pada fenomena budaya atau psikologis antara orang-orang yang saling berinteraksi tersebut, biasanya berlanjut pada generasi berikutnya.

c Dengan adanya dua aspek sebelumnya, kita dapat membedakan antara proses dan tahap; adanya aktivitas yang dinamis selama dan setelah kontak, dan adanya hasil secara jangka panjang dari proses yang relatif stabil; hasil akhirnya mungkin mencakup tidak hanya perubahan-perubahan pada fenomena yang ada, tetapi juga pada fenomena baru yang dihasilkan oleh proses interaksi budaya.


(3)

Berdasarkan beberapa defenisi akulturasi diatas maka dapat disimpulkan bahwa akulturasi merupakan suatu cara yang dilakukan sejak pertama kali melakukan kontak agar dapat beradaptasi dengan kebudayaan baru.

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Akulturasi

Menurut teori yang dikemukakan oleh Redfield (1936), terdapat 3 isu yang dapat diidentifikassi sebagai faktor yang mempengaruhi akulturasi, yaitu:

1. Kontak

Kontak merupakan hal yang penting dalam akulturasi dimana kontak merupakan “pertemuan” antara setidaknya dua kelompok budaya atau individu yang secara bersama-sama melakukan kontak secara “berkesinambungan” dan “langsung”. Akulturasi dapat dikatakan nyata apabila individu-individu atau kelompok melakukan “interaksi” pada tempat dan waktu yang sama, bukan melalui pengalaman orang kedua (misalnya pengalaman dari orang lain yang pernah mengalami kontak langsung dengan budaya lain) atau kontak secara tidak langsung (misalnya melalui surat menyurat dengan orang lain yang berbeda budaya).

2. Pengaruh timbal balik.

Berdasarkan teori Redfield pada kalimat “mengalami perubahan dalam pola budaya asli salah satu atau kedua kelompok tersebut” memuat maksud adanya pengaruh timbale balik dimana pada teorinya kedua kelompok saling mempengaruhi.


(4)

3. Perubahan

Perubahan merupakan salah satu aspek penting dalam kontak yang meliputi proses yang dinamis, dan hasil yang mungkin relatif stabil. Hal ini bermaksud bahwa mempelajari akulturasi kita dapat melihat prose situ sendiri, seperti bagaimana perubahan dapat terjadi (pertanyaan mengenai proses), apa yang berubah selama akukturasi (pertanyaan mengenai hasil).

3. Jenis-Jenis Akulturasi

Menurut Bogardus (1949), terdapat 3 jenis dari akulturasi, yaitu : 1. Blind acculturation

Akulturasi jenis ini terjadi ketika orang-orang dengan budaya yang berbedaa tinggal secara berdekatan satu sama lain dan pola-pola budaya dipelajari secara tidak sengaja.

2. Imposed acculturation

Akulturasi jenis ini terjadi ketika terdapat unsur pemaksaan pada posisi suatu budaya oleh budaya lain.

3. Democratic acculturation

Akulturasi jenis ini terjadi ketika representasi tiap budaya menghormati budaya lainnya


(5)

4. Kerangka Kerja Akulturasi

John W. Berry mengemukakan suatu bentuk kerangka kerja yang mendasari serta menghubungkan akulturasi pada tingkat kultural dan akulturasi pada tingkat psikologis (Figur 2.1).

Akulturasi pada tingkat kultural merupakan suatu bentuk akulturasi dimana perubahannya terjadi pada tingkat kelompok. Perubahan-perubahan tersebut terlihat baik secara fisik, biologis, politik, ekonomi, dan budaya (Berry, 1991).

Pada tingkat kultural (sebelah kiri) kita perlu memahami hal utama dari kedua kelompok budaya (A dan B) selama periode mereka melakukan kontak, sifat hubungan antar keduanya, dan hasil dari perubahan yang terjadi pada kedua kelompok tersebut. Budaya A Budaya B Kontak Perubahan Kultural Budaya A Budaya B Akulturasi Psikologis Adaptasi Individu pada Budaya A dan B

Perubahan Perilaku Stres Akulturasi Individu pada Budaya A dan B

Psikologis

Sosial-Budaya

Tingkatan Kultural/Kelompok Tingkatan Psikologis/Individual Kerangka Kerja Akulturasi (Gambar 2.1)


(6)

Akulturasi pada tingkat psikologis merupakan suatu bentuk akulturasi dimana perubahannya terjadi pada tingkat individu. Perubahan-perubahan tersebut mencakup perubahan perasaan, perilaku, dan kognitif (Ward, 2001).

Pada tingkat psikologis (sebelah kanan) kita harus mempertimbangkan perubahan psikologis pada individu didalam suatu kelompok, dan akhirnya adaptasi mereka terhadap situasi baru.

Perubahan tersebut dapat terlihat pada perubahan perilaku misalnya seperti perubahan gaya bicara, cara berpakaian, cara makan, dan pada identitas budayanya, atau jika terjadi suatu permasalahan maka akan menghasilkan stres akulturasi misalnya seperti ketidakpastian, kecemasan, depresi, bahkan psikopatologi (Al-Issa & Tousignant, 1997). Adaptasi utamanya dapat bersifat internal, psikologis, ataupun sosialbudaya, yang menghubungkan individu dengan yang lainnya pada kelompok yang baru.

5. Strategi-Strategi Akulturasi

Berry (1997) menyatakan sebuah teori yang berhubungan dengan kerangka kerja akulturasi, yaitu strategi akulturasi. Strategi-strategi ini terdiri dari komponen sikap dan perilaku yang ditunjukkan dalam pertemuan antar budaya dari hari ke hari. Konsep utama dari strategi akulturasi dapat diilustrasikan dengan melihat setiap komponen dalam kerangka pikir akulturasi (Figur 2.1).

Pada tingkat budaya, kedua kelompok yang melakukan kontak biasanya bertujuan untuk menggabungkan kedua budaya yang ada. Tujuan dari


(7)

menggabungkan budaya tersebut juga mempengaruhi strategi yang akan digunakan.

Pada tingkat individu, perubahan perilaku dan fenomena stres akulturasi dilihat sebagai suatu fungsi yang digunakan oleh anggota kelompok untuk penetapan strategi yang akan digunakan.

Untuk lebih jelasnya berikut ringkasan empat bentuk identifikasi strategi akulturasi yang dinyatakan oleh Berry (1997), yang ditandai dengan HC (Home Culture atau Kebudayaan asli) dan DC (Dominan culture atau kebudayaan yang dominan):

a. Integrasi

Integrasi terjadi ketika individu memiliki ketertarikan untuk mempertahankan budaya aslinya (HC) dan pada saat yang sama mengingkinkan adanya interaksi sehari-hari dengan kelompok lain (DC). b. Asimilasi

Asimilasi terjadi ketika individu tidak ingin mempertahankan budaya asli (HC) dan mencari interaksi sehari-hari dengan budaya lainnya (DC). c. Separasi

Separasi terjadi ketika individu menetapkan nilai-nilai untuk mempertahankan budaya asli (HC) dan pada saat yang sama berharap untuk menghindari interaksi dengan orang lain (DC).

d. Marginalisasi

Marginalisai terjadi ketika individu hanya memiliki sedikit kemungkinan atau keinginan untuk mempertahankan budaya asslinya (HC) dan disaat


(8)

yang bersamaan memiliki sedikit keinginan untuk membina hubungan dengan orang lain (DC).

Untuk lebih mempermudah, berikut merupakan matriks strategi akulturasi menurut John Berry.

Cultural Maintenance

Ya Tidak

Ya Integrasi (akulturasi) Asimilasi

Tidak Separasi Marginalisasi

Strategi Akulturasi (Tabel 2.1)

Strategi-strategi tersebut terdiri dari 2 komponen, yaitu sikap (pilihan individu untuk berakulturasi) dan perilaku (aktifitas atau kegiatan nyata yang dilakukan individu). Strategi mana yang akan digunakan individu bergantung pada faktor-faktor tersebut dan terdapat beberapa konsekuensi dari strategi-strategi tersebut.

6. Aspek-Aspek Akulturasi

Akulturasi dapat dinilai dengan mengukur aspek-aspek akulturasi. Berry pada tahun 2006 menyatakan bahwa aspek-aspek akulturasi tersebut mencakup :

a. Cultural Maintenance

Cultural Maintenance merupakan perilaku individu dalam mempertahankan budaya dan identitas dari daerah asalnya. Perilaku tersebut dapat tampak dalam kegiatan yang dilakukan sehari-hari,

C o n ta c t & P a rt ic ip a ti o n


(9)

misalnya saja dalam berkomunikasi (penggunaan bahasa), penggunaan pakaian, penggunaan lambang-lambang budaya, dan lain sebagainya. b. Contact and Participation

Contact and Participation merupakan tindakan individu untuk melakukan kontak dan berpartisipasi dengan kelompok mayoritas bersama dengan kelompok budaya lainnya. Perilaku-perilaku dalam beradaptasi terhadap budaya yang berbeda mencakup peran dari status kelompok, identifikasi, pertemanan (friendships), dan penilaian ideologi (Verkuyten,2005).

Perilaku pertemanan (friendships) merupakan salah satu cara dalam melakukan kontak dengan anggota kelompok lain yang dapat meningkatkan persepsi dan evaluasi dari kelompok lain. Pertemanan (friendships) dapat meningkatkan emosi positif yang mengarah pada perilaku yang lebih baik dari kelompok lain.

Outgroup friendships atau pertemanan dengan kelompok lain akan menurunkan tingkat prasangka, meningkatkan rasa simpati, dan meningkatkan kepedulian terhadap situasi dan masalah yang dihadapi oleh kelompok budaya lain.


(10)

B. MAHASISWA ASING ASAL MALAYSIA

Berry (2006) menyatakan bahwa mahasiswa asing merupakan orang-orang yang melakukan migrasi dan menetap disuatu tempat untuk sementara waktu dan dengan tujuan tertentu. Orang-orang yang melakukan migrasi seperti itu disebut sebagai sojourners

Mahasiswa asing asal Malaysia memiliki latar belakang budaya yang berbeda, berasal dari suku Melayu, India, dan Cina dengan kebiasaan dan nilai-nilai yang beragam.

Mahasiswa asing asal Malaysia bersuku Melayu merupakan bagian dari masyarakat Melayu. Menurut Verma (2000) masyarakat Melayu sangat menekankan perilaku yang baik, toleransi, dan kekeluargaan. Mayoritas siswa suku Melayu bersekolah di sekolah umum dimana sekolah umum merupakan sekolah campuran dari berbagai suku yang ada di Malaysia.

Mahasiswa asing asal Malaysia bersuku Cina merupakan bagian dari masyarakat Cina yang minimal menguasai satu dialek bahasa Cina. Suku Cina biasanya berbahasa Hokkien, Hakka, dan Kanton dalam setting formal maupun informal, sedangkan bahasa Mandarin sebagai bahasa standar Cina digunakan dalam setting public dan sebagai medium bahasa pengantar dalam sekolah khusus Cina. Suku Cina juga cenderung menggunakan bahasa Cina daripada bahasa Melayu (Verma, 2000). Suku cina merupakan suku yang lebih tertutup dibandingkan kategori suku lainnya di Malaysia (Daniels, 2003).

Mahasiswa asing asal Malaysia yang bersuku Tamil merupakan bagian dari masyarakat India yang sangat menekankan pada penggunaan bahasa Tamil


(11)

baik lisan maupun tulisan untuk melestarikan kebudayaan (Tsui & James, 2005). Menurut Verma (2000), mayoritas masyarakat suku Tamil di Malaysia menyekolahkan anaknya di sekolah khusus India dan masarakat suku Tamil sangat menghargai hubungan keluarga, mempertahankan nilai-nilai dan tradisis kebudayaan mereka, terbuka, dan sangat peduli dengan lingkungan.

C. GAMBARAN STRATEGI AKULTURASI PADA MAHASISWA ASING DI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Dalam menjalani rutinitasnya sebagai mahasiswa asing, mereka pastinya mengalami berbagai hambatan, terutama hambatan dalam masalah budaya. Perbedaan antara budaya yang dikenal individu dengan budaya asing dapat menyebabkan individu sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Individu mungkin menghadapi cara berpakaian, cuaca, makanan, bahasa, orang-orang, sekolah dan nilai-nilai yang berbeda (Kingsley dan Dakhari, 2006).

Dari hasil wawancara dengan beberapa mahasiswa asing tersebut dapat dilihat bahwa mereka merasa takut karena jauh dari orang tua, lalu lintas kota Medan yang ribut dan tidak teratur, dan banyaknya pengemis yang meminta-minta di persimpangan jalan. Mereka menganggap beberapa hal di kota Medan berbeda dengan negara asal mereka, Malaysia, hal-hal itu misalnya saja makanan. Perbedaan dalam hal makanan yang mereka rasakan adalah mereka tidak biasa mengkonsumsi masakan Minang, sulit menemukan makanan ala India, pilihan makanan yang minim, dan makanan di kota Medan dianggap terlalu pedas.


(12)

Menurut peraturan Rektor Universitas Sumatera Utara, mahasiswa asing asal Malaysia diharuskan untuk menempuh pendidikan dengan waktu paling sedikit 6 tahun untuk mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi (Buku Kurikulum Pendidikan Perguruan Tinggi Negeri Universitas Sumatera Utara, 2007). Waktu yang cukup lama itu menuntut mereka untuk dapat melakukan strategi adaptasi yang efektif. Akulturasi dapat menjadi salah satu cara untuk melakukan pertukaran budaya yang dapat membantu usaha mahasiswa asing untuk berbaur dengan masyarakat lokal. . Hal ini dikuatkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wardani (2007) mengenai akulturasi mahasiswa pribumi pada universitas mayoritas mahasiswa etnis tionghua.

Proses akulturasi ini mengikuti kerangka kerja akulturasi oleh Berry (Gambar 2.1). Dalam hal ini budaya mahasiswa asing (Malaysia) dan budaya masyarakat lokal (Medan) mengalami kontak, kontak terjadi saat menjalankan perkuliahan di Universitas Sumatera Utara. Kontak tersebut menimbulkan perubahan kultural dimana budaya mahasiswa asing membaur dengan budaya masyarakat lokal.

Perubahan kultural pada individu-individu dalam kedua budaya tersebut dapat menyebabkan terjadinya perubahan perilaku ataupun timbulnya stres akulturasi. Jika perubahan perilaku berhasil maka individu-individu tersebut dikatakan dapat beradaptasi dengan kebudayaan baru disekitar mereka.

Akulturasi tersebut dapat dilakukan dengan beberapa strategi, seperti yang dinyatakan oleh Berry (1992) bahwa terdapat 4 jenis strategi akulturasi yaitu asimilasi, integrasi, separasi, dan marginalisasi.


(13)

Jika mahasiswa asing tersebut menggunakan strategi integrasi maka perilaku yang mungkin muncul misalnya ketika mahasiswa asing tetap menggunakan bahasa negara mereka ketika berkomunikasi dengan teman-teman sesamanya dan menggunakan bahasa Indonesia ketika berkomunikasi dengan teman-teman Indonesia.

Jika mahasiswa asing tersebut menggunakan strategi asimilasi maka perilaku yang mungkin muncul misalnya ketika mahasiswa asing sama sekali tidak lagi mau menggunakan bahasa negara asal mereka, bahkan mereka tidak mau lagi mengkonsumsi makanan khas negara mereka. Mereka lebih memilih untuk menggunakan bahasa Indonesia dan mengkonsumsi makanan khas Medan.

Jika mahasiswa asing tersebut menggunakan strategi separasi maka perilaku yang mungkin muncul misalnya ketika mahasiswa asing menolak untuk menggunakan bahasa Indonesia, tidak mau mengkonsumsi makanan khas Indonesia, dan bahkan tidak mau berpakaian sesuai dengan adat kebiasaan masyarakat Medan. Mereka tetap mempertahankan adat budaya negara asal mereka.

Jika mahasiswa asing tersebut menggunakan strategi marginalisasi maka perilaku yang mungkin muncul misalnya ketika mahasiswa asing tidak menggunakan bahasa, tidak mengkonsumsi, tidak menggunakan pakaian dari kedua budaya yang ada, baik budaya negara asalnya ataupun budaya di kota Medan.


(14)

Berry (2006) menyatakan bahwa strategi-strategi akulturasi teresebut dilakukan sebagai usaha untuk beradaptasi terhadap budaya baru dan untuk menghindari terjadinya stres akulturasi.

Stres akulturasi menurut Al-Issa & Tousignant (dalam Berry, 1997) dapat menimbulkan perasaan bingung, cemas, depresi, bahkan psikopatologis. Berdasarkan penelitian dari Lucia Tri Ediana P.J. (2009) mengenai culture shock pada mahasiswa perantauan, menjelaskan bahwa culture shock dapat menimbulkan depresi dan depresi tersebut dapat menjadi salah satu penyebab mahasiswa tidak lagi ingin melanjutkan pendidikannya.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat dikatakan bahwa mahasiswa asing asal Malaysia di Universita Sumatera Utara melakukan akulturasi untuk beradaptasi dengan masyarakat lokal di kota Medan dalam usaha untuk menghindari terjadinya stres akulturasi.


(15)

D. KERANGKA BERPIKIR

Melanjutkan Kuliah

Indonesia

USU Malaysia

Tamil Melayu Cina

Mengalami Perbedaan Budaya

Bahasa Makanan Pakaian

Akulturasi

Separasi Integrasi Marginalisasi Asimilasi


(1)

B. MAHASISWA ASING ASAL MALAYSIA

Berry (2006) menyatakan bahwa mahasiswa asing merupakan orang-orang yang melakukan migrasi dan menetap disuatu tempat untuk sementara waktu dan dengan tujuan tertentu. Orang-orang yang melakukan migrasi seperti itu disebut sebagai sojourners

Mahasiswa asing asal Malaysia memiliki latar belakang budaya yang berbeda, berasal dari suku Melayu, India, dan Cina dengan kebiasaan dan nilai-nilai yang beragam.

Mahasiswa asing asal Malaysia bersuku Melayu merupakan bagian dari masyarakat Melayu. Menurut Verma (2000) masyarakat Melayu sangat menekankan perilaku yang baik, toleransi, dan kekeluargaan. Mayoritas siswa suku Melayu bersekolah di sekolah umum dimana sekolah umum merupakan sekolah campuran dari berbagai suku yang ada di Malaysia.

Mahasiswa asing asal Malaysia bersuku Cina merupakan bagian dari masyarakat Cina yang minimal menguasai satu dialek bahasa Cina. Suku Cina biasanya berbahasa Hokkien, Hakka, dan Kanton dalam setting formal maupun informal, sedangkan bahasa Mandarin sebagai bahasa standar Cina digunakan dalam setting public dan sebagai medium bahasa pengantar dalam sekolah khusus Cina. Suku Cina juga cenderung menggunakan bahasa Cina daripada bahasa Melayu (Verma, 2000). Suku cina merupakan suku yang lebih tertutup dibandingkan kategori suku lainnya di Malaysia (Daniels, 2003).


(2)

baik lisan maupun tulisan untuk melestarikan kebudayaan (Tsui & James, 2005). Menurut Verma (2000), mayoritas masyarakat suku Tamil di Malaysia menyekolahkan anaknya di sekolah khusus India dan masarakat suku Tamil sangat menghargai hubungan keluarga, mempertahankan nilai-nilai dan tradisis kebudayaan mereka, terbuka, dan sangat peduli dengan lingkungan.

C. GAMBARAN STRATEGI AKULTURASI PADA MAHASISWA ASING DI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Dalam menjalani rutinitasnya sebagai mahasiswa asing, mereka pastinya mengalami berbagai hambatan, terutama hambatan dalam masalah budaya. Perbedaan antara budaya yang dikenal individu dengan budaya asing dapat menyebabkan individu sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Individu mungkin menghadapi cara berpakaian, cuaca, makanan, bahasa, orang-orang, sekolah dan nilai-nilai yang berbeda (Kingsley dan Dakhari, 2006).

Dari hasil wawancara dengan beberapa mahasiswa asing tersebut dapat dilihat bahwa mereka merasa takut karena jauh dari orang tua, lalu lintas kota Medan yang ribut dan tidak teratur, dan banyaknya pengemis yang meminta-minta di persimpangan jalan. Mereka menganggap beberapa hal di kota Medan berbeda dengan negara asal mereka, Malaysia, hal-hal itu misalnya saja makanan. Perbedaan dalam hal makanan yang mereka rasakan adalah mereka tidak biasa mengkonsumsi masakan Minang, sulit menemukan makanan ala India, pilihan makanan yang minim, dan makanan di kota Medan dianggap terlalu pedas.


(3)

Menurut peraturan Rektor Universitas Sumatera Utara, mahasiswa asing asal Malaysia diharuskan untuk menempuh pendidikan dengan waktu paling sedikit 6 tahun untuk mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi (Buku Kurikulum Pendidikan Perguruan Tinggi Negeri Universitas Sumatera Utara, 2007). Waktu yang cukup lama itu menuntut mereka untuk dapat melakukan strategi adaptasi yang efektif. Akulturasi dapat menjadi salah satu cara untuk melakukan pertukaran budaya yang dapat membantu usaha mahasiswa asing untuk berbaur dengan masyarakat lokal. . Hal ini dikuatkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wardani (2007) mengenai akulturasi mahasiswa pribumi pada universitas mayoritas mahasiswa etnis tionghua.

Proses akulturasi ini mengikuti kerangka kerja akulturasi oleh Berry (Gambar 2.1). Dalam hal ini budaya mahasiswa asing (Malaysia) dan budaya masyarakat lokal (Medan) mengalami kontak, kontak terjadi saat menjalankan perkuliahan di Universitas Sumatera Utara. Kontak tersebut menimbulkan perubahan kultural dimana budaya mahasiswa asing membaur dengan budaya masyarakat lokal.

Perubahan kultural pada individu-individu dalam kedua budaya tersebut dapat menyebabkan terjadinya perubahan perilaku ataupun timbulnya stres akulturasi. Jika perubahan perilaku berhasil maka individu-individu tersebut dikatakan dapat beradaptasi dengan kebudayaan baru disekitar mereka.

Akulturasi tersebut dapat dilakukan dengan beberapa strategi, seperti yang dinyatakan oleh Berry (1992) bahwa terdapat 4 jenis strategi akulturasi yaitu


(4)

Jika mahasiswa asing tersebut menggunakan strategi integrasi maka perilaku yang mungkin muncul misalnya ketika mahasiswa asing tetap menggunakan bahasa negara mereka ketika berkomunikasi dengan teman-teman sesamanya dan menggunakan bahasa Indonesia ketika berkomunikasi dengan teman-teman Indonesia.

Jika mahasiswa asing tersebut menggunakan strategi asimilasi maka perilaku yang mungkin muncul misalnya ketika mahasiswa asing sama sekali tidak lagi mau menggunakan bahasa negara asal mereka, bahkan mereka tidak mau lagi mengkonsumsi makanan khas negara mereka. Mereka lebih memilih untuk menggunakan bahasa Indonesia dan mengkonsumsi makanan khas Medan.

Jika mahasiswa asing tersebut menggunakan strategi separasi maka perilaku yang mungkin muncul misalnya ketika mahasiswa asing menolak untuk menggunakan bahasa Indonesia, tidak mau mengkonsumsi makanan khas Indonesia, dan bahkan tidak mau berpakaian sesuai dengan adat kebiasaan masyarakat Medan. Mereka tetap mempertahankan adat budaya negara asal mereka.

Jika mahasiswa asing tersebut menggunakan strategi marginalisasi maka perilaku yang mungkin muncul misalnya ketika mahasiswa asing tidak menggunakan bahasa, tidak mengkonsumsi, tidak menggunakan pakaian dari kedua budaya yang ada, baik budaya negara asalnya ataupun budaya di kota Medan.


(5)

Berry (2006) menyatakan bahwa strategi-strategi akulturasi teresebut dilakukan sebagai usaha untuk beradaptasi terhadap budaya baru dan untuk menghindari terjadinya stres akulturasi.

Stres akulturasi menurut Al-Issa & Tousignant (dalam Berry, 1997) dapat menimbulkan perasaan bingung, cemas, depresi, bahkan psikopatologis. Berdasarkan penelitian dari Lucia Tri Ediana P.J. (2009) mengenai culture shock pada mahasiswa perantauan, menjelaskan bahwa culture shock dapat menimbulkan depresi dan depresi tersebut dapat menjadi salah satu penyebab mahasiswa tidak lagi ingin melanjutkan pendidikannya.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat dikatakan bahwa mahasiswa asing asal Malaysia di Universita Sumatera Utara melakukan akulturasi untuk beradaptasi dengan masyarakat lokal di kota Medan dalam usaha untuk menghindari terjadinya stres akulturasi.


(6)

D. KERANGKA BERPIKIR

Melanjutkan Kuliah

Indonesia

USU Malaysia

Tamil Melayu Cina

Mengalami Perbedaan Budaya

Bahasa Makanan Pakaian

Akulturasi

Separasi Integrasi Marginalisasi Asimilasi