Gambaran Kesederhanaan Dalam Novel Ayahku (Bukan) Pembohong Karya Tere Liye: Suatu Tinjauan Psikologi Sastra

(1)

BAB II

KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep

Dalam penelitian ini melibatkan beberapa konsep sebagai berikut: 2.1.1 Gambaran

Dalam KBBI (2007:329) Gambaran berarti lukisan. Dalam hal ini lukisan yang dimaksud bukan benda atau sesuatu yang kongkrit.Lukisan merupakan cerita atau uraian yang melukiskan sesuatu (hal atau kejadian) dengan kata-kata. Lebih lanjut defenisi gambaran dikemukakan Kusmiyati (dalam http:smartconsultingbandung.blogspot.co.id/2010/pengertian-ilustrasi-gambar.html?m=l: Diakses tanggal 15 September 2015, Pukul 21:45 WIB) yang mengatakan ”Gambaran berarti ilustarasi yang merupakan pelukisan suatu adegan atau alur cerita guna lebih menjelaskan suatu adegan.”

2.1.2 Kesederhanaan

Dalam KBBI (2007:1008) Kesederhanaan adalah hal (keadaan, sifat). Kesederhanaan kata dasarnya adalah sederhana, yang berarti bersahaja; tidak berlebih-lebihan. Rahmanto (t.t:2) menjelaskan,

“Kesederhanaan merupakan pola pikir dan pola hidup yang proporsional, tidak berlebihan dan mampu memprioritaskan


(2)

sesuatu yang lebih dibutuhkan.Kemampuan untuk ikhlas menerima yang ada, berusaha untuk berlaku adil dan bersyukur atas setiap rezeki yang diberikan dengan tetap menggunakannya pada hal-hal yang bermanfaat dan berarti.Kemampuan itulah yang memberikan manfaat dan menjadi energi dalam kehidupan kita.”

Hidayati (dala WIB) juga menjelaskan,

”Hidup sederhana tidak berarti hidup dalam kesengsaraan, kemiskinan, kemelaratan dan serba kekurangan dan secara psikologis, kesederhanaan bermanfaat dalam menyeimbangkan energi positif dan negatif dalam diri dan kehidupan kita.Energi syukur dan ikhlas dalam kesederhanaan merupakan nutrisi untuk mencapai kebahagiaan, sehingga hati kita senantiasa dipenuhi perasaan-perasaan positif dan pikiran pun lebih jernih dan tenang. Ketenangan psikis akan bersinergi dengan kematangan spiritual. Dalam tataran spiritual, kesederhanaan dapat memberikan energi untuk membuat kita fokus dalam menjalankan sesuatu.”

Kesederhanaan merupakan sikap yang menolak keterlaluan, dalam arti harus bersikap sewajarnya. Hamka (1984:152) mengatakan bahwa orang yang sederhana akan jujur, karena kejujuran itulah sederhana yang lurus. Adapun wujud-wujud kesederhanaan itu adalah:

1.Sederhana Niat dan Tujuan

Sederhana niat, sederhana tujuan, ialah tujuan manusia yang berakal, dalam arti tidak usah berniat hendak jadi raja, tidak perlu bercita-cita jadi orang berpangkat dengan gaji besar, yang perlu adalah meluruskan niat.Sebagai makhluk hidup, kita harus berjasa kepada kehidupan.


(3)

2.Sederhana Berpikir

Pikiran yang matang dapat membedakan yang gelap dan yang terang, dapat membuang jauh-jauh pendapat yang salah dan pendirian yang curang.Satu kegilaan yang menghilangkan sederhana ialah merasa kagum pada diri sendiri.Mempergunakan akal dengan seksama, adalah sadar bahwa kita datang ke dunia bukanlah untuk melihat-lihat dan menilik-nilik diri di depan kaca sambil membusungkan dada.

3.Sederhana Keperluan Hidup

Dapat makan dua kali sehari, pakaian dua kali berganti, rumah yang cukup udaranya untuk tempat diam, dapat menghisap udara dan bergerak, kita sudah dapat hidup. Hanya nafsulah yang meminta lebih dari itu, sehingga di dalam memenuhi keperluan hidup kerapkali manusia lupa akan kesederhanan, membeli sesuatu yang bahkan tidak diperlukan, hanya untuk memenuhi hasrat.

4.Sederhana dalam Sukacita

Manusia berebut memenuhi kepuasan, berusaha menghibur diri melalui berbagai cara, namun rasa sukacita itu tidak kunjung diperoleh. Perasaan sukacita, gembira, bukanlah sifat lahir dan bukan pula dari kediaman.Kadang orang-orang kaya yang memakan berbagai makanan di dalamnya, dan tidur di atas kasur yang empuk lebih banyak mengeluh dari si miskin yang hanya tinggal di dalam sebuah gubuk dan yang


(4)

hanya tidur beralaskan tikar rombeng. Sebab itu maka perasaan sukacita bukan dari lahir atau dari kemewahan, melainkan dari batin.

5.Sederhana dalam Kegigihan Berusaha

Hidup sederhana adalah hidupnya orang gigih berusaha.Ia dapat meletakkan usahanya pada tempat sebagaimana mestinya.

6.Sederhana Mencari Nama

Sederhana mencari nama adalah ketika berbuat kebaikan ia tidak menyorakkan dan mengumandangkannya sampai membumbung ke langit untuk mendapatkan nama dan kemasyhuran.

2.1.3 Kepribadian

Semua manusia memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Dalam KBBI (2007:895) Kepribadian adalah ”Sifat hakiki yang tercermin pada sikap seseorang atau suatu bangsa yang membedakannya dengan orang atau bangsa lain.”

Dorland (dalam Sumarna, 2015:8) mendefinisikan, ”Kepribadian merupakan pola khas seseorang dalam berpikir, merasakan, dan berperilaku yang terlatif stabil dan dapat diperkirakan.”

Feist dan Gregory J. Feist (2010:4) mengatakan, ”Kepribadian adalah pola sifat dan karakteristik tertentu, yang relatif permanen dan memberikan, baik konsistensi maupun individualitas pada perilaku seseorang.”

Allport dkk (dalam Sujanto, 1980:94) secara singkat juga mendefinisikan kepribadian adalah organisasi dinamis dalam individu


(5)

sebagai sistem psychophysis yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap sekitar.

Sujanto dkk (1980:3) mengatakan sejak dahulu memang sudah disepakati bahwa pribadi tiap orang itu tumbuh atas dua kekuatan, yaitu kekuatan dari dalam dan kekuatan dari luar.Kekuatan dari dalam yang sudah dibawa sejak lahir, berwujud benih, bibit, atau sering juga disebut kemampuan-kemampuan dasar.”Adapun yang termasuk faktor dalam atau faktor pembawaan, ialah segala sesuatu yang telah dibawa oleh anak sejak lahir, baik yang bersifat kejiwaan maupun yang bersifat ketubuhan.Kejiwaan yang berwujud pikiran, perasaan, kemauan, fantasi, ingatan, dan sebagainya, yang dibawa sejak lahir, ikut menentukan pribadi seseorang.Kekuatan yang kedua yaitu faktor luar yang berasal dari lingkungan.Adapun yang termasuk faktor lingkungan ialah segala sesuatu yang ada di luar manusia, baik yang hidup maupun yang mati, misalnya jenis makanan pokok, pekerjaan orangtua, hasil-hasil budaya yang bersifat material maupun spiritual.”

2.1.4 Psikologi Sastra

Menurut Ratna (dalam Endraswara, 2008:91) ”Psikologi sastra adalah analisis teks dengan mempertimbangkan relevansi dan peranan studi psikologis.” Secara definitif, tujuan psikologi sastra adalah memahami aspek-aspek kejiwaan yang terkandung dalam suatu karya. Endraswara (2008:88) menjelaskan:


(6)

”Psikologi dan karya sastra memiliki hubungan fungsional, yakni sama-sama berguna untuk sarana mempelajari keadaan jiwa orang lain. Hanya perbedaannya, gejala kejiwaan yang ada di dalam karya sastra adalah gejala-gejala kejiwaan dari manusia-manusia imajiner, sedangkan dalam psikologi adalah manusia-manusia riil. Namun keduanya dapat saling melengkapi dan saling mengisi untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam terhadap kejiwaan manusia, karena terdapat kemungkinan apa yang tertangkap oleh sang pengarang tak mampu diamati oleh psikolog, atau sebaliknya.”

2.2 Landasan Teori

Psikologi berasal dari dua kata Yunani, yaitu psyche yang artinya jiwa dan logos artinya ilmu pengetahuan. Menurut Walgito (dalam Endraswara, 2008:93) ”Psikologi adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang objek studinya adalah manusia karena psyche atau psicho mengandung pengertian ”jiwa”. Dengan demikian, psikologi mengandung makna ”ilmu pengetahuan jiwa.” Walgito (dalam Wiyatmi, 2011:7) mengatakan, ”Psikologi merupakan suatu ilmu yang meneliti serta mempelajari tentang perilaku atau aktivitas-aktivitas yang dipandang sebagai manifestasi dari kehidupan psikis manusia.”

Wiyatmi (2011:7) mengemukakan, ”Dalam psikologi, perilaku atau aktivitas yang ada pada individu atau organisme dianggap tidak muncul dengan sendirinya, tetapi sebagai akibat dari adanya stimulus atau rangsang yang mengenai individu atau organisme itu.”

Hubungan antara psikologi dan sastra sangat berkaitan.Menurut Semi (dalam Endraswara, 2008:7) ”Karya sastra merupakan produk dari suatu keadaan kejiwaan dan pemikiran pengarang yang berada dalam situasi setengah sadar


(7)

(subconcius) setelah mendapat bentuk yang jelas dituangkan ke dalam bentuk tertentu secara sadar (concious) dalam bentuk penciptaan karya sastra.”

Psikologi sastra hadir untuk melengkapi pemahaman sastra. Tanpa kehadiran psikologi sastra dengan berbagai acuan kejiwaan, kemungkinan pemahaman sastra akan timpang. Daya tarik psikologi sastra adalah terletak pada aneka ungkapan jiwa.

Banyak hal unik dan menarik ketika mengkaji psikologi sastra. Menurut Semi dalam (Endraswara, 2008:12) ada beberapa kelebihan penggunaan psikologi sastra, yaitu:

(1) sangat sesuai untuk mengkaji secara mendalam aspek perwatakan, (2) dengan pendekatan ini dapat memberi umpan balik kepada penulis tentang masalah perwatakan yang dikembangkannya, dan (3) sangat membantu dalam menganalisis karya sastra surcalis, abstrak, dan absurd, dan akhirnya dapat membantu pembaca memahami karya-karya semacam itu.

Sigmund Freud merupakan tokoh pencetus ide psikologi sastra.Penelitian ini juga menggunakan teori psikoanalisis dari Freud.Dalam teori psikoanalisis, kepribadian dipandang sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga unsur atau sistem, yakni id, ego, dan superego. Meskipun ketiga sistem tersebut memiliki fungsi, kelengkapan, dinamisme dan mekanisme masing-masing, ketiga sistem kepribadian ini satu sama lain saling berkaitan serta membentuk suatu totalitas.

Koswara (1986:32) mengemukakan,

”Id (istilah Freud: das Es) adalah sistem kepribadian yang paling dasar, sistem yang di dalamnya terdapat naluri-naluri bawaan. Untuk dua sistem lainnya, id adalah sistem yang bertindak sebagai penyedia atau penyalur energi yang dibutuhkan oleh sistem-sistem tersebut untuk operasi-operasi atau kegiatan-kegiatan yang dilakukannya.


(8)

Freud (dalam Taniputera, 2005:44) mengatakan ”Id adalah sistem kepribadian bawaan atau yang paling asli dari manusia. Pada saat dilahirkan, seseorang hanya memiliki id saja.Unsur-unsur kepribadian ini merupakan tempat bersemayamnya naluri-naluri yang sifatnya buta dan tidak terkendali”.

Taniputera (2005:45) mengatakan ”Asas yang mengatur kerjanya id adalah asas kesenangan guna mencapai kepuasan atau kebahagiaan nurani. Seseorang bayi yang menangis keras-keras saat lapar atau saat merasa tidak nyaman adalah karena di dorong oleh id, bahwa dengan dia menangis maka ia bisa lepas dari ketidaknyamanannya untuk mencapai keinginannya.”

Sistem kepribadian yang kedua adalah Ego.Feist dan Gregory J. Feist (2010:32-33) menjelaskan, “Ego atau saya, adalah satu-satunya wilayah pikiran yang memiliki kontak dengan realita.Ego berkembang dari id semasa bayi dan menjadi satu-satunya sumber seseorang dalam berkomunikasi dengan dunia luar.Ego dikendalikan oleh prinsip kenyataan (reality principle).Sarwono (2000:156-157) juga mengatakan, ”Ego dapat pula dipandang sebagai aspek eksekutif kepribadian, karena ego mengontrol jalan yang ditempuh, memilih kebutuhan-kebutuhan yang dapat dipenuhi serta cara-cara memenuhinya.”

Koswara (1986:34) mengemukakan,

”Sekilas akan tampak bahwa antara id dan ego hampir selalu terjadi konflik atau pertentangan. Tetapi bagaimana pun, menurut Freud, ego dalam menjalankan fungsinya tidaklah ditujukan untuk menghambat pemuasan kebutuhan-kebutuhan atau naluri-naluri yang berasal dari id, melainkan justru bertindak sebagai perantara dari tuntutan-tuntutan naluriah organisme di satu pihak dengan keadaan lingkungan di pihak lain. Yang dihambat oleh ego adalah pengungkapan naluri-naluri yang tidak layak atau tidak bisa diterima oleh lingkungan. Jadi, fungsi yang paling dasar dari ego ini tidak lain sebagai pemelihara kelangsungan hidup individu.”


(9)

Sistem kepribadian yang ketiga adalah Superego.Taniputera (2005:45) mengatakan, ”Superego merupakan unsur moral atau hukum dari kepribadian manusia. Ia merupakan aspek moral dari seseorang yang menentukan benar dan salahnya perbuatan yang dilakukan”.

Superego adalah suatu sistem yang merupakan kebalikan dari id.Sistem ini sepenuhnya dibentuk oleh kebudayaan. Seorang anak pada waktu kecil mendapat pendidikan dari orangtua dan melalui pendidikan itulah ia mengetahui mana yang baik, mana yang buruk, mana yang boleh dilakukan dan mana yang dilarang, mana yang sesuai dengan norma masyarakat, mana yang melanggar norma. Pada waktu anak itu menjadi dewasa, segala norma-norma yang diperoleh melalui pendidikan itu menjadi pengisi dari sistem superego, sehingga superego berisi dorongan-dorongan untuk berbuat kebaikan, dorongan untuk mengikuti norma-norma masyarakat dan sebagainya.

Koswara (1986:34-35) mengemukakan, ”Superego (istilah Freud: das Ueberich) adalah sistem kepribadian berisikan nilai-nilai dan aturan-aturan yang sifatnya evaluatif (menyangkut baik-buruk). Menurut Freud, superego terbentuk melalui internalisasi nilai-nilai atau aturan-aturan oleh individu dari sejumlah figur yang berperan, berpengaruh, atau bararti bagi individu tersebut seperti orang tua dan guru.”

Feist dan Gregory J. Feist (2010:34) menjelaskan superego memiliki dua subsistem, suara hati (conscience) dan ego ideal. Freud tidak membedakan kedua fungsi ini secara jelas, tetapi secara umum, suara hati lahir dari pengalaman-pengalaman mendapatkan hukuman atas perilaku yang tidak pantas dan mengajari


(10)

kita tentang hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan, sedangkan ego ideal berkembang dari pengalaman mendapat imbalan atas perilaku yang tepat dan mengarahkan kita pada hal-hal yang sebaiknya dilakukan.”

2.3 Tinjauan Pustaka

Penelitian terhadap novel Ayahku (Bukan) Pembohong karya Tere Liye sudah pernah dilakukan oleh beberapa peneliti. Pertama, novel ini diteliti oleh Fepi Mariani (Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Padang) dalam jurnalnya yang berjudul ”Profil Ayah dalam Novel Ayahku(Bukan) Pembohong karya Tere Liye: Tinjauan Sosiologi Sastra.”

Mariani mencoba menerapkan teori sosiologi sastra dalam penelitiannya dan profil Ayah dengan objek penelitian Ayah dari tokoh utama dalam novel Ayahku (Bukan) Pembohong karya Tere Liye. Mariani mengatakan.profil yang dialami tokoh cerita dipengaruhi oleh hubungannya dengan tokoh lain dan dirinya sendiri dalam cerita tersebut. Sikap atau perilaku atau karakter tokoh dalam berbicara atau bertindak dan berinteraksi dengan orang lain disebut profil.

Berdasarkan hasil penelitian Mariani profil Ayah yang tergambar dalam novel Ayahku (Bukan) Pembohong adalah ayah sebagai orang tua, ayah sebagai suami, ayah sebagai mertua, ayah sebagai kakek, ayah sebagai teman, ayah sebagai pelindung, ayah sebagai guru, ayah sebagai pendongeng, dan semua itu dia perankan dengan sangat baik. Aspek nilai budaya dasar yang terdapat dalam novel Ayahku (Bukan) Pembohong adalah; pandangan hidup, tanggung jawab, cinta kasih, keadilan, kegelisahan, dan penderitaan.


(11)

Kedua diteliti oleh Maria Sulastri Jeharu (Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra, tanpa diketahui asal universitas) dengan artikel yang berjudul ”Konflik Batin Tokoh Utama Novel Ayahku (Bukan) Pembohong Karya Tere Liye. Jeharu menggunakan analisis psikologi sastra dengan teori struktur kepribadian dalam menganalisis artikelnya. Jeharu menjelaskan bahwa watak atau kepribadian tokoh Dam berhubungan erat dengan id, ego, dan superego, kecemasan (anxitas), serta pertahanan ego. Elemen ego Damyang merasa terancam karena kecemasan dari alam bawah sadar yang terkadang bertentangan dengan rasio, menimbulkan beragam perilaku psikologis dan konflik batin dalam dirinya kepada Ayah.

Penelitian yang dilakukan oleh Jeharu menggunakan dua teori, yaitu teori struktural dan teori kepribadian. Teori struktural digunakan untuk mengkaji dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antara unsur bersangkutan, yang bertujuan memaparkan secermat mungkin fungsi dan keterkaitan antara berbagai unsur karya sastra yang secara bersama-sama menghasilkan makna yang menyeluruh.

Jeharu menuliskan bahwa, dalam novel Ayahku (Bukan) Pembohong pengarang melukiskan konflik batin antara ayah dan anaknya yang disebabkan oleh cerita dongeng.Dongeng tersebut secara tak sadar memengaruhi tingkah laku anaknya.Ketika anaknya menyadari cerita dongeng tersebut tidak masuk di akal, timbul kebencian terhadap ayahnya. Pengarang memberikan solusi dalam penyelesain konflik dengan cara menyuguhkan bagian yang menggambarkan rasa penyesalan anaknya mengenai cerita dongeng. Cerita dongeng ayahnya ternyata benar dan bukan kebohongan.Jeharu mengatakan dalam novel Ayahku (Bukan)


(12)

Pembohong ada tiga solusi yang dilakukan tokoh utama untuk mengatasi konflik batinnya, yaitu sublimasi, proyeksi, dan rasionalisasi.

Peneliti ketiga Mabruroh (Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Univesitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah) dalam skripsinya yang berjudul ”Karakter Ayah dalam Novel Ayahku (Bukan) Pembohong Karya Tere Liye dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Sastra di SMA.”

Mabruroh menguraikan karakteristik Ayah melalui 3 cara, yaitu karakteristik Ayah melalui tingkah laku, karakteristik Ayah melalui ekspresi wajah, dan karakteristik Ayah melalui motivasi yang melandasi. Karakteristik Ayah melalui tingkah laku bahwa ia begitu tegas, penuh kasih, penuh percaya diri, dan penuh tanggung jawab. Ayah sangat gemar bercerita tentang pertualangan masa mudanya. Sosoknya begitu menarik perhatian saat bercerita, begitu meyakinkan dengan intonasi suaranya.Ayah juga pribadi yang selalu menyempatkan diri untuk menemani dan mendukung aktivitas anaknya. Ayah berwatak teguh dalam memegang prinsip. Karakteristik Ayah melalui ekspresi wajah, Ayah memasang ekspresi wajah aneh dan cengiran jahil dengan memasang tangan tanda tanduk di kepala mengungkapkan watak Ayah yang riang gembira dan sedikit jahil, serta ekspresi wajah menahan amarah dan rasa ketakutan mengungkapkan wataknya yang mencoba untuk bersabar. Karakteristik Ayah melalui motivasi yang melandasi, Ayah yang ingin melindungi serta Ayah yang mengalah karena dilandasi oleh motivasi cintanya terhadap keluarga. Impilikasi novel Ayahku (Bukan) Pembohong pada pembelajaran di SMA sebagai salah satu cara untuk menambah minat baca siswa. Selain untuk mengetahui unsur-unsur


(13)

apasaja yang membangun peristiwa dalam novel Ayahku (Bukan) Pembohong, novel tersebut juga kaya akan nilai-nilai moral dan pesan-pesan yang dapat diambil dan di contoh dalam kehidupan.

Peneliti keempat oleh Nadia Agralana (Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Bung Hatta) dengan jurnal yang berjudul ”Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Novel Ayahku (Bukan) Pembohong Karya Tere Liye.”

Agralana menguraikan data yang ia temukan tentang nilai-nilai pendidikan karakter dalam novel Ayahku (Bukan)Pembohong Karya Tere Liye adalah jujur ditemukan sebanyak 2 data, disiplin, tanggung jawab, mandiri ditemukan data sebanyak 18 data, toleransi, cinta damai, demokratis, cinta tanah air, dan kesatuan ditemukan sebanyak 1 data, percaya diri, kerja keras, kreatif, dan semangat ke bangsaan ditemukan sebanyak 35 data, rasa ingin tahu, dan gemar membaca ditemukan sebanyak 23 data, menghargai prestasi, hormat dan santun di temukan sebanyak 10 data, baik dan rendah hati ditemukan sebanyak 21 data, kepemimpinan dan adil ditemukan sebanyak 3 data, dermawan, suka menolong, gotong royong, peduli sosial, peduli lingkungan ditemukan sebanyak 5 data bersahabat/komunikatif ditemukan sebanyak 3 data.

Setelah diuraikan tentang penelitian yang telah dilakukan terhadap novel Ayahku (Bukan)Pembohong Karya Tere Liye, beberapa penelitian sudah menyinggung dan membahas tentang karakter tokoh dalam novel, maka tampak bahwa novel tersebut dapat dipandang dan diteliti dengan sudut pandang yang berbeda-beda, dan dapat disimpulkan bahwa novel Ayahku


(14)

(Bukan)Pembohongmemiliki gambaran karakter-karakter yang sangat kuat, terutama pada karakter tokoh utama Ayah dan tokoh Dam. Jika peneliti-peneliti sebelumnya menganalisis karakter tokoh secara garis besar, maka pada kesempatan ini penulis mencoba mengkaji dengan fokus kepada kesederhanaan tokoh Ayah dan Dam yang tergambar dan diungkapkan oleh pengarang lewat perilaku tokoh sehari-hari yang digambarkan lewat dialog-dialog dalam novel tersebut, dengan menguraikan bagaimana mereka tetap bahagia dengan pilihan hidup sederhana kemudian meninjau kesederhanaan Ayah dan Dam tersebut melalui sudut pandang psikologi sastra dengan mempergunakan teori kepribadian psikoanalisis oleh Sigmun Freud.


(1)

Sistem kepribadian yang ketiga adalah Superego.Taniputera (2005:45) mengatakan, ”Superego merupakan unsur moral atau hukum dari kepribadian manusia. Ia merupakan aspek moral dari seseorang yang menentukan benar dan salahnya perbuatan yang dilakukan”.

Superego adalah suatu sistem yang merupakan kebalikan dari id.Sistem ini sepenuhnya dibentuk oleh kebudayaan. Seorang anak pada waktu kecil mendapat pendidikan dari orangtua dan melalui pendidikan itulah ia mengetahui mana yang baik, mana yang buruk, mana yang boleh dilakukan dan mana yang dilarang, mana yang sesuai dengan norma masyarakat, mana yang melanggar norma. Pada waktu anak itu menjadi dewasa, segala norma-norma yang diperoleh melalui pendidikan itu menjadi pengisi dari sistem superego, sehingga superego berisi dorongan-dorongan untuk berbuat kebaikan, dorongan untuk mengikuti norma-norma masyarakat dan sebagainya.

Koswara (1986:34-35) mengemukakan, ”Superego (istilah Freud: das Ueberich) adalah sistem kepribadian berisikan nilai-nilai dan aturan-aturan yang sifatnya evaluatif (menyangkut baik-buruk). Menurut Freud, superego terbentuk melalui internalisasi nilai-nilai atau aturan-aturan oleh individu dari sejumlah figur yang berperan, berpengaruh, atau bararti bagi individu tersebut seperti orang tua dan guru.”

Feist dan Gregory J. Feist (2010:34) menjelaskan superego memiliki dua subsistem, suara hati (conscience) dan ego ideal. Freud tidak membedakan kedua fungsi ini secara jelas, tetapi secara umum, suara hati lahir dari pengalaman-pengalaman mendapatkan hukuman atas perilaku yang tidak pantas dan mengajari


(2)

kita tentang hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan, sedangkan ego ideal berkembang dari pengalaman mendapat imbalan atas perilaku yang tepat dan mengarahkan kita pada hal-hal yang sebaiknya dilakukan.”

2.3 Tinjauan Pustaka

Penelitian terhadap novel Ayahku (Bukan) Pembohong karya Tere Liye sudah pernah dilakukan oleh beberapa peneliti. Pertama, novel ini diteliti oleh Fepi Mariani (Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Padang) dalam jurnalnya yang berjudul ”Profil Ayah dalam Novel Ayahku(Bukan) Pembohong karya Tere Liye: Tinjauan Sosiologi Sastra.”

Mariani mencoba menerapkan teori sosiologi sastra dalam penelitiannya dan profil Ayah dengan objek penelitian Ayah dari tokoh utama dalam novel Ayahku (Bukan) Pembohong karya Tere Liye. Mariani mengatakan.profil yang dialami tokoh cerita dipengaruhi oleh hubungannya dengan tokoh lain dan dirinya sendiri dalam cerita tersebut. Sikap atau perilaku atau karakter tokoh dalam berbicara atau bertindak dan berinteraksi dengan orang lain disebut profil.

Berdasarkan hasil penelitian Mariani profil Ayah yang tergambar dalam novel Ayahku (Bukan) Pembohong adalah ayah sebagai orang tua, ayah sebagai suami, ayah sebagai mertua, ayah sebagai kakek, ayah sebagai teman, ayah sebagai pelindung, ayah sebagai guru, ayah sebagai pendongeng, dan semua itu dia perankan dengan sangat baik. Aspek nilai budaya dasar yang terdapat dalam novel Ayahku (Bukan) Pembohong adalah; pandangan hidup, tanggung jawab, cinta kasih, keadilan, kegelisahan, dan penderitaan.


(3)

Kedua diteliti oleh Maria Sulastri Jeharu (Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra, tanpa diketahui asal universitas) dengan artikel yang berjudul ”Konflik Batin Tokoh Utama Novel Ayahku (Bukan) Pembohong Karya Tere Liye. Jeharu menggunakan analisis psikologi sastra dengan teori struktur kepribadian dalam menganalisis artikelnya. Jeharu menjelaskan bahwa watak atau kepribadian tokoh Dam berhubungan erat dengan id, ego, dan superego, kecemasan (anxitas), serta pertahanan ego. Elemen ego Damyang merasa terancam karena kecemasan dari alam bawah sadar yang terkadang bertentangan dengan rasio, menimbulkan beragam perilaku psikologis dan konflik batin dalam dirinya kepada Ayah.

Penelitian yang dilakukan oleh Jeharu menggunakan dua teori, yaitu teori struktural dan teori kepribadian. Teori struktural digunakan untuk mengkaji dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antara unsur bersangkutan, yang bertujuan memaparkan secermat mungkin fungsi dan keterkaitan antara berbagai unsur karya sastra yang secara bersama-sama menghasilkan makna yang menyeluruh.

Jeharu menuliskan bahwa, dalam novel Ayahku (Bukan) Pembohong pengarang melukiskan konflik batin antara ayah dan anaknya yang disebabkan oleh cerita dongeng.Dongeng tersebut secara tak sadar memengaruhi tingkah laku anaknya.Ketika anaknya menyadari cerita dongeng tersebut tidak masuk di akal, timbul kebencian terhadap ayahnya. Pengarang memberikan solusi dalam penyelesain konflik dengan cara menyuguhkan bagian yang menggambarkan rasa penyesalan anaknya mengenai cerita dongeng. Cerita dongeng ayahnya ternyata benar dan bukan kebohongan.Jeharu mengatakan dalam novel Ayahku (Bukan)


(4)

Pembohong ada tiga solusi yang dilakukan tokoh utama untuk mengatasi konflik batinnya, yaitu sublimasi, proyeksi, dan rasionalisasi.

Peneliti ketiga Mabruroh (Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Univesitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah) dalam skripsinya yang berjudul ”Karakter Ayah dalam Novel Ayahku (Bukan) Pembohong Karya Tere Liye dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Sastra di SMA.”

Mabruroh menguraikan karakteristik Ayah melalui 3 cara, yaitu karakteristik Ayah melalui tingkah laku, karakteristik Ayah melalui ekspresi wajah, dan karakteristik Ayah melalui motivasi yang melandasi. Karakteristik Ayah melalui tingkah laku bahwa ia begitu tegas, penuh kasih, penuh percaya diri, dan penuh tanggung jawab. Ayah sangat gemar bercerita tentang pertualangan masa mudanya. Sosoknya begitu menarik perhatian saat bercerita, begitu meyakinkan dengan intonasi suaranya.Ayah juga pribadi yang selalu menyempatkan diri untuk menemani dan mendukung aktivitas anaknya. Ayah berwatak teguh dalam memegang prinsip. Karakteristik Ayah melalui ekspresi wajah, Ayah memasang ekspresi wajah aneh dan cengiran jahil dengan memasang tangan tanda tanduk di kepala mengungkapkan watak Ayah yang riang gembira dan sedikit jahil, serta ekspresi wajah menahan amarah dan rasa ketakutan mengungkapkan wataknya yang mencoba untuk bersabar. Karakteristik Ayah melalui motivasi yang melandasi, Ayah yang ingin melindungi serta Ayah yang mengalah karena dilandasi oleh motivasi cintanya terhadap keluarga. Impilikasi novel Ayahku (Bukan) Pembohong pada pembelajaran di SMA sebagai salah satu cara untuk menambah minat baca siswa. Selain untuk mengetahui unsur-unsur


(5)

apasaja yang membangun peristiwa dalam novel Ayahku (Bukan) Pembohong, novel tersebut juga kaya akan nilai-nilai moral dan pesan-pesan yang dapat diambil dan di contoh dalam kehidupan.

Peneliti keempat oleh Nadia Agralana (Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Bung Hatta) dengan jurnal yang berjudul ”Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Novel Ayahku (Bukan) Pembohong Karya Tere Liye.”

Agralana menguraikan data yang ia temukan tentang nilai-nilai pendidikan karakter dalam novel Ayahku (Bukan)Pembohong Karya Tere Liye adalah jujur ditemukan sebanyak 2 data, disiplin, tanggung jawab, mandiri ditemukan data sebanyak 18 data, toleransi, cinta damai, demokratis, cinta tanah air, dan kesatuan ditemukan sebanyak 1 data, percaya diri, kerja keras, kreatif, dan semangat ke bangsaan ditemukan sebanyak 35 data, rasa ingin tahu, dan gemar membaca ditemukan sebanyak 23 data, menghargai prestasi, hormat dan santun di temukan sebanyak 10 data, baik dan rendah hati ditemukan sebanyak 21 data, kepemimpinan dan adil ditemukan sebanyak 3 data, dermawan, suka menolong, gotong royong, peduli sosial, peduli lingkungan ditemukan sebanyak 5 data bersahabat/komunikatif ditemukan sebanyak 3 data.

Setelah diuraikan tentang penelitian yang telah dilakukan terhadap novel Ayahku (Bukan)Pembohong Karya Tere Liye, beberapa penelitian sudah menyinggung dan membahas tentang karakter tokoh dalam novel, maka tampak bahwa novel tersebut dapat dipandang dan diteliti dengan sudut pandang yang berbeda-beda, dan dapat disimpulkan bahwa novel Ayahku


(6)

(Bukan)Pembohongmemiliki gambaran karakter-karakter yang sangat kuat, terutama pada karakter tokoh utama Ayah dan tokoh Dam. Jika peneliti-peneliti sebelumnya menganalisis karakter tokoh secara garis besar, maka pada kesempatan ini penulis mencoba mengkaji dengan fokus kepada kesederhanaan tokoh Ayah dan Dam yang tergambar dan diungkapkan oleh pengarang lewat perilaku tokoh sehari-hari yang digambarkan lewat dialog-dialog dalam novel tersebut, dengan menguraikan bagaimana mereka tetap bahagia dengan pilihan hidup sederhana kemudian meninjau kesederhanaan Ayah dan Dam tersebut melalui sudut pandang psikologi sastra dengan mempergunakan teori kepribadian psikoanalisis oleh Sigmun Freud.


Dokumen yang terkait

Gambaran Kesederhanaan Dalam Novel Ayahku (Bukan) Pembohong Karya Tere Liye: Suatu Tinjauan Psikologi Sastra

12 92 67

Karakter Ayah dalam novel Ayahku (Bukan) Pembohong Karya Tere-Liye dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA

1 19 113

Karakter Ayah dalam Novel Ayahku (Bukan) Pembohong Karya Tere-Liye dan implikasinya terhadap pembelajaran sastra di SMA

4 45 113

ASPEK MOTIVASI DALAM NOVEL AYAHKU (BUKAN) PEMBOHONG KARYA TERE LIYE: TINJAUAN PSIKOLOGI SASTRA DAN Aspek Motivasi Dalam Novel Ayahku (Bukan) Pembohong Karya Tere Liye: Tinjauan Psikologi Sastra Dan Implementasinya Sebagai Bahan Ajar Sastra Di SMA.

0 2 14

ASPEK MOTIVASI DALAM NOVEL AYAHKU (BUKAN) PEMBOHONG KARYA TERE LIYE: TINJAUAN PSIKOLOGI SASTRA DAN Aspek Motivasi Dalam Novel Ayahku (Bukan) Pembohong Karya Tere Liye: Tinjauan Psikologi Sastra Dan Implementasinya Sebagai Bahan Ajar Sastra Di SMA.

0 1 17

Gambaran Kesederhanaan Dalam Novel Ayahku (Bukan) Pembohong Karya Tere Liye: Suatu Tinjauan Psikologi Sastra

0 0 9

Gambaran Kesederhanaan Dalam Novel Ayahku (Bukan) Pembohong Karya Tere Liye: Suatu Tinjauan Psikologi Sastra

0 0 1

Gambaran Kesederhanaan Dalam Novel Ayahku (Bukan) Pembohong Karya Tere Liye: Suatu Tinjauan Psikologi Sastra

0 1 6

Gambaran Kesederhanaan Dalam Novel Ayahku (Bukan) Pembohong Karya Tere Liye: Suatu Tinjauan Psikologi Sastra

0 0 3

Gambaran Kesederhanaan Dalam Novel Ayahku (Bukan) Pembohong Karya Tere Liye: Suatu Tinjauan Psikologi Sastra

0 1 3