Zakat dan Jaminan Sosial JAMINAN SOSIAL JAMINAN SOSIAL

ZAKAT DAN JAMINAN SOSIAL

Graha Agung Brahmana dan Rahmat Budiman
Mahasiswa Pascasarja Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor (MB-IPB),
Magister Manajemen Syariah, Angkatan EK18
A. Pendahuluan
Zakat merupakan salah satu dari rukun Islam1, sehingga menjadi bagian mutlak dari
keislaman seseorang. Dalam Al-Quran, kata “zakat” seringkali mengiringi kata
“shalat” yaitu sebanyak 82 kali2. Sebagai contoh adalah QS Al-Muzzammil [73]: 20
dan QS Al-Bayyinah [98]: 5 sebagai berikut:

...         …

Artinya: “… Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman
kepada Allah pinjaman yang baik …”

        

Artinya: “… Dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang
demikian Itulah agama yang lurus.”
Hal tersebut menunjukkan bahwa zakat dan shalat mempunyai hubungan yang sangat

erat dalam hal keutamaannya. Shalat dipandang sebagai seutama-utamanya ibadah
badaniah sedangkan zakat dipandang sebagai seutama-utamanya ibadah maliyah.

B. Pengertian Zakat
Definisi Zakat
Zakat berasal dari kata zaka – yazku – zaka an yang berarti suci, bersih, tumbuh,
berkembang, bertambah, dan berkah, namun sering diartikan menyucikan atau
membersihkan. Dalam QS Asy-Syams [91]: 9 disebutkan:

    

Artinya: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu”
1
2

Sebagian berpendapat bahwa zakat adalah rukun Islam yang ke-3 dan sebagian lagi berpendapat bahwa zakat adalah rukun Islam yang ke-4
Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah

1

Menurut terminologi syariat, zakat adalah kewajiban atas harta tertentu, untuk
kelompok tertentu, dan dalam waktu tertentu pula. Jadi, bisa diartikan bahwa zakat
adalah nama atau sebutan dari sesuatu (hak Allah Ta’ala) yang dikeluarkan seseorang
kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Dinamakan zakat karena di dalamnya
terkandung harapan untuk memperoleh berkah, membersihkan jiwa, dan memupuk
berbagai kebaikan3.
“Suci” dalam pengertian zakat tidak hanya sebatas pada hartanya, melainkan mencakup
pula orangnya sebagaimana QS At-Taubah [9]: 103 sebagai berikut:

              
   

Artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
membersihkan4 dan mensucikan5 mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya
doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar
lagi Maha mengetahui”.
Sementara itu, zakat diartikan sebagai “tumbuh dan berkembang” maksudnya adalah
bahwa zakat dapat menumbuhkembangkan materi dan jiwa baik buat Si Kaya (yang
membayar zakat) maupun Si Miskin (yang menerima zakat). Hal tersebut sebagaimana
QS Ar-Rum [30]: 38-39 sebagai berikut:

              
         

   

             

Artinya: “Maka berikanlah kepada Kerabat yang terdekat akan haknya, demikian
(pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih
baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka Itulah orang-orang
beruntung. Dan sesuatu Riba (tambahan) yang kamu berikan agar Dia bertambah
pada harta manusia, Maka Riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang
kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah,
Maka (yang berbuat demikian) Itulah orang-orang yang melipat gandakan
(pahalanya)”.
Dalam ayat lain, yaitu QS Al-Baqarah [2]: 261 Allah swt berfirman:

Al-Furqon Hasbi, 125 Masalah Zakat, 2008
Maksudnya: zakat itu membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda.
5 Maksudnya: zakat itu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan memperkembangkan harta benda mereka.
3
4

2

              

           

Artinya: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang
menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang
menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan
(ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi
Maha Mengetahui.”
Terdapat beberapa istilah yang berkaitan dengan zakat, antara lain:

1. Muzakki ialah pemilik harta yang telah mencapai batas terendah (nishab) yang
ditentukan dan telah sampai waktu wajib mengeluarkan zakat (haul).
2. Mustahiq ialah orang yang berhak menerima zakat.
3. Nishab adalah jumlah minimal harta yang wajib dikeluarkan zakatnya.
4. Haul adalah waktu wajib mengeluarkan zakat yang telah memenuhi nishab.
Dilihat dari segi jenisnya, zakat dibagi menjadi zakat fitri dan zakat maal yang akan
dijelaskan pada bagian lain.
Fungsi Zakat
Zakat merupakan ibadah maaliyyah ijtima’iyyah sekaligus sebagai pranata keagamaan
yang bertujuan untuk meningkatkan keadilan, kesejahteraan masyarakat, dan
penanggulangan kemiskinan. Adapun fungsi zakat (serta infak dan sedekah) mencakup:
1. Zakat bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan para mustahiq, terutama
golongan fakir dan miskin.
2. Zakat terkait dengan etos kerja sebagaimana QS Al-Mukiminun [23]: 1-4

             
      

Artinya: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orangorang yang khusyu' dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan
diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang
menunaikan zakat.”
3. Zakat terkait dengan etika bekerja dan berusaha, yakni hanya mencari rejeki yang
halal. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima
sedekah yang ada unsur tipu daya” (HR Muslim).

3

4. Zakat terkait dengan aktualisasi potensi dana untuk membangun umat, seperti
membangun sarana pendidikan dan kesehatan, institusi ekonomi, dan lain-lain.
5. Zakat terkait dengan kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan sosial.
Kesediaan berzakat akan mencerdaskan untuk mencintai sesamanya, terutama
kaum dhu’afa.
6. Zakat akan mengakibatkan ketenangan, kebahagiaan, keamanan dan kesejahteraan
hidup sebagaimana QS At-Taubah [9]: 103.
7. Zakat terkait dengan upaya menumbuh-kembangkan harta yang dimiliki dengan
mengusahakannya dan memproduktifkannya.
8. Zakat akan menyebabkan orang semakin giat melaksanakan ibadah mahdlah seperti
sholat sebagaimana QS Al-Baqarah [2]: 43,

       

Artinya: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orangorang yang ruku’.”
9. Zakat mencerminkan semangat sharing economy. Semangat berbagi diyakini akan
menjadi solusi untuk mengatasi masalah ekonomi.
10. Zakat sangat berguna dalam mengatasi berbagai musibah yang terjadi khususnya
yang

disalurkan

melalui

amil

zakat

yang

amanah,

transparan,

dan

bertanggungjawab.
Hukum Zakat
Zakat diwajibkan atas setiap muslim yang merdeka, baligh, berakal, dan memiliki harta
benda dengan syarat-syarat tertentu (yang dijelaskan pada bagian lain). Allah swt. telah
memberikan peringatan keras terhadap orang yang tidak membayar zakat, tidak hanya
berupa hukuman yang sangat pedih di akhirat, tetapi juga hukuman di dunia.

           

          
       

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari
orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang
dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. dan
orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan

4

Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa
yang pedih.”(QS At-Taubah [9]: 34)

                 

              

 

Artinya: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah
berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi
mereka. sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. harta yang mereka
bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. dan kepunyaan Allahlah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. dan Allah mengetahui apa yang
kamu kerjakan.”(QS Ali Imran [3]: 180)
Adapun hukuman di dunia adalah sebagai berikut:
1. Orang yang tidak mengeluarkan zakat akan ditimpa kelaparan dan kemarau
panjang.

Artinya: “Golongan orang-orang yang tidak mengeluarkan zakat akan ditimpa
kelaparan dan kemarau panjang.” (HR Thabrani).

Artinya: “Tidaklah suatu kaum menolak zakat, melainkan Allah menahan hujan
dari merika.” (HR Ibnu Majah).
2. Jika zakat bercampur dengan kekayaan lain, kekayaan itu akan binasa.

Artinya: “Jika sedekah (baca: zakat) bercampur dengan kekayaan lain, kekayaan
itu akan binasa.” (HR Baihaqi)
3. Pembangkang zakat dapat dihukum dengan denda, bahkan dapat diperangi
sebagaimana dilakukan oleh Abu Bakar Shiddiq. Beliah pernah menyatakan,
“Demi Allah, saya akan memerangi siapa pun yang membeda-bedakan zakat dari
shalat.”
Perbedaan Zakat dengan Infak dan Shadaqah
Dilihat dari sisi umum dan khusus, ketiga istilah tersebut mempunyai perbedaan
makna, bahkan ada perbedaan status hukum masing-masing.
5

Pengertian zakat telah dibahas di atas. Adapun penjelasan infak dan sedekah adalah
sebagai berikut:
a. Infak berasal dari kata anfaqa yang berarti mengeluarkan sesuatu (harta) untuk
kepentingan orang lain. Menurut terminologi syariat, infak berarti memberikan atau
mengeluarkan sebagian penghasilan atau pendapatan untuk kepentingan yang
diajarkan Islam. Istilah lain yang sering digunakan adalah kata nafaqah atau
nafkah. Dalam QS Al Hadid [57]: 10 disebutkan:

             

              

            

Artinya: “Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan
Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi? tidak
sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum
penaklukan (Mekah). mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang
menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada
masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik, dan Allah mengetahui apa yang
kamu kerjakan.”
Pengertian infak lebih umum dari pada zakat karena setiap orang yang beriman
sangat dianjurkan untuk berinfak, baik mampu maupun tidak mampu. Infak tidak
ditentukan jenis barangnya, jumlahnya, dan sasaran khusus pendayagunaannya.
Oleh karena itu, tidak seperti zakat yang sudah ditentukan mustahiqnya, berinfak
boleh diberikan kepada siapapun, seperti kepada orang tua, saudara, dan anak
yatim. Infak mencakup harta zakat dan non-zakat. Infak ada yang wajib dan ada
yang sunnah. Infak wajib di antaranya adalah zakat, kafarat, dan nazar, sedangkan
infak sunnah di antaranya infak kepada fakir miskin sesama muslim, infak bencana
alam, dan infak kemanusiaan.
b. Sedekah berasal dari kata shadaqa yang berarti benar. Menurut terminologi syariat,
pengertian dan hukum sedekah sama dengan infak. Akan tetapi, sedekah mencakup

arti yang lebih luas dan menyangkut hal-hal yang bersifat non-material. Rasulullah
saw menjelaskan:
“Pada setiap pagi dianjurkan untuk setiap sendi kamu bersedekah. Setiap tasbih
adalah sedekah, setiap tahmid sedekah, setiap tahlil sedekah, setiap takbir sedekah,
amar ma’ruf sedekah, nahi munkar sedekah, dan untuk mencukupi itu semua
dengan rakaat shalat Dhuha.” (HR Muslim).
6

Contoh bentuk sedekah lainnya ialah berhubungan suami istri, berdakwah,
mendamaikan orang-orang yang berselisih, berkata baik, memberikan senyum
dengan ikhlas kepada setiap orang, membantu meringankan beban orang lain, dan
menahan diri untuk tidak berbuat kejahatan.

C. Zakat Fitri
Zakat fitri 6 adalah zakat yang wajib ditunaikan karena tidak lagi berpuasa sehabis
Ramadhan. Hukumnya wajib bagi setiap orang muslim, tanpa melihat faktor kecil atau
besar, laki-laki atau perempuan, merdeka atau hamba sahaya.

Artinya: “Rasulullah saw telah mewajibkan zakat fitri pada bulan Ramadhan atas
setiap orang muslim, yang merdeka, hamba sahaya, laki-laki, perempuan, anak-anak,
dan orang dewasa.” (HR Muslim).
Zakat fitri bertujuan membersihkan orang yang berpuasa dari kemungkinan pernah
terjerumus dalam kesia-siaan dan perkataan kotor, dan untuk menolong orang fakir dan
kaum papa. Dalam sebuah hadis, “Rasulullah saw mewajibkan zakat fitri guna
menyucikan orang puasa dari kesia-siaan dan perkataan kotor, dan sebagai makanan
orang puasa bagi orang-orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum shalat
(‘Id) maka menjadi zakat yang diterima, tapi jika menunaikannya setelah shalat, maka
menjadi sedekah biasa.”
Kewajiban zakat fitri jatuh kepada orang muslim yang merdeka, memiliki (makanan)
sebanyak 1 sha’ yang merupakan kelebihan dari makanan pokok dirinya dan
keluarganya untuk sehari semalam7. Orang tersebut wajib berzakat untuk dirinya dan
setiap orang yang menjadi tanggungan nafkahnya, termasuk istri, anak, dan pelayan
yang mengurus keperluan-keperluan mereka dan dinafkahinya.
Kadar wajib zakat fitri adlaah 1 sha’ 8 gandum, kurma, kismis, susu kering, beras,
jagung, atau sejenisnya yang termasuk makanan pokok. Abu Hanifah membolehkan
mengeluarkan nilainya. Menurutnya, jika yang dikeluarkan oleh muzakki adalah
gandum, maka cukup setengah sha’. Abu Sa’id Al-Khudri ra menyatakan,
Pada umumnya, orang menyebutnya zakat fitrah.
Ini merupakan pendapat Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad.Asy-Syaukani berkata, “Inilah pendapat yang benar”.Menurut mazhab Hanafi, harus disertai
dengan kepemilikan nishab.
8 1 sha’ = 4 mud. 1 mud = satu takaran dua telapak tangan orang dewasa normal. Menurut para ulama, selain mazhab Hanafi, 1 sha’ = 2,748 liter =
2,172 kg.
6
7

7

“Ketika masih bersama Rasulullah saw, kami mengeluarkan zakat fitri untuk semua
anak kecil, orang dewasa, orang merdeka, dan hamba sahaya, sebanyak 1 sha’
makanan, atau 1 sha’ susu kering, atau 1 sha’ gandum, atau 1 sha’ kurma, atau 1 sha’
kismis. Itulah takaran yang kami keluarkan hingga Mu’awiyah datang untuk
mengerjakan haji atau umrah.Ia berpidato di atas mimbar dan di antara yang
disampaikannya adalah. ‘Menurutku, 2 mud gandum Syam setara dengan 1 sha’
kurma’.Sejak saat itu banyak yang mengikuti pendapat Mu’awiyah, tetapi aku sendiri
tetap akan mengeluarkan sebesar takaran lama sepanjang hidupku”.
Ulama sepakat, zakat fitri wajib dikeluarkan di akhir bulan Ramadhan, namun mereka
berbeda pendapat tentang batas waktu wajib mengeluarkannya. Sebagian berpendapat
bahwa batas waktu wajib mengeluarkannya adalah ketika matahari terbenam pada
malam Idul Fitri, karena itulah saat berbuka (keluar) dari bulan Ramadhan, sedangkan
sebagian lagi berpendapat waktu wajib mengeluarkannya adalah saat fajar terbit di hari
Idul Fitri.
Kebanyakan fuqaha’ (jumhur) berpendapat boleh mendahulukan pembayaran zakat
fitri sehari atau dua hari sebelum hari raya. Ibnu Umar ra menyatakan, “Rasulullah saw
menyuruh kami mengeluarkan zakat fitir yakni diberikan sebelum orang-orang pergi
ke tempat shalat”. Nafi’ berkata, “Ibnu Umar biasa memberikan zakat tersebut
sebelum itu, sehari atau dua hari”.
Orang-orang yang berhak menerima zakat fitri sama dengan zakat maal, yaitu delapan
golongan (ashnaf). Hanya saja, golongan fakir lebih diutamakan, berdasarkan hadis
yang telah disebutkan sebelumnya, “Rasulullah saw mewajibkan zakat fitri guna
menyucikan orang puasa dari kesia-siaan dan perkataan kotor, dan sebagai makanan
bagi orang-orang miskin”. Begitu juga hadis yang diriwayatkan Baihaqi dan
Daruquthni dari Ibnu Umar ra, “Rasulullah saw mewajibkan zakat fitri seraya
bersabda, ‘Cukupilah (makanan) mereka hari ini’”.
D. Zakat Maal
Zakat harta (maal) adalah zakat yang wajib dikeluarkan dari harta seorang muslim
apabila sudah mencapai jumlah tertentu (nishab).
Syarat Harta Yang Wajib Dizakati
1. Harta yang dimiliki seseorang itu dikuasai secara sah, diperoleh dari usaha yang
halal, bekerja, warisan, atau pemberian yang sah (al-milk at-tam).

8

2. Harta

yang berkembang jika

diusahakan

atau

memiliki

potensi

untuk

dikembangkan, seperti harta perdagangan, pertanian, peternakan, dan usaha
bersama (an-nama’)9.
3. Telah mencapai nishab.
4. Telah mencapai kebutuhan pokok atau kebutuhan minimal yang diperlukan
seseorang dan keluarganya yang menjadi tanggungannya untuk kelangsungan
hidup.
5. Haul, maksudnya harta sekurang-kurangnya telah mencapai satu tahun Qamariyah
(uang dan barang dagangan). Akan tetapi, untuk tanaman, zakatnya dikeluarkan
pada saat panen sebagaimana QS Al-An’am [6]: 141.

          
           

            

Artinya: “Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang
tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya,
zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya).
Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila Dia berbuah, dan
tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir
miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan.Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang yang berlebih-lebihan”.

Jenis harta yang wajib dizakati antara lain sebagai berikut:
1. Emas dan Perak
Dalam QS At-Taubah [9]: 34 sebagaimana telah ditulis sebelumnya, Allah swt.
telah menyebutkan bahwa barang siapa yang menimbun emas dan perak dan tidak
menafkahkannya (dalam hal ini mengeluarkan zakatnya), maka Allah swt. akan
menghukum mereka dengan siksa yang amat pedih. Ayat ini menegaskan bahwa,
apabila seorang muslim mempunyai harta berupa emas dan perak, maka wajib
hukumnya untuk mengeluarkan zakatnya.

Imam Abu Hanifah sangat kuat berpegang pada syarat an-nama’ sehingga setiap tanaman apa saja yang menghasilkan dan bermanfaat wajib
dizakati, seperti cengkeh, kelapa, dan sayur mayur.

9

9

Adapun perhitungan nishab emas, perak dan uang yang wajib dizakati dan jumlah
zakat adalah sebagai berikut:
-

Emas: 85 gram emas murni atau 20 dinar.

-

Perak: 672 gram perak atau 200 dirham.

-

Uang tunai, tabungan, cek, saham, surat berharga, dan lain-lain, berpedoman
pada nishab emas dan perak.

Jumlah zakat yang harus dikeluarkan adalah 2,5%, sementara waktu pengeluaran
zakatnya adalah apabila harta sudah mencapai setahun (haul).
2. Hasil Pertanian.
Dalam QS Al-An’am [6]: 141 sebagaimana telah ditulis sebelumnya, Allah swt.
menjadikan bumi begitu subur dan menjadikan kebun-kebun yang menghasilkan
buah-buahan untuk kebutuhan pangan manusia. Allah swt. mewajibkan pula untuk
mengeluarkan hak orang lain dari hasil panen buah-buahan tersebut karena ada hak
yang tersimpan untuk orang-orang fakir miskin. Sehingga, barang siapa yang
mempunyai kebun yang subur dan menghasilkan buah yang banyak atas ijin Allah
swt., diwajibkan untuk mengeluarkan zakat sesuai dengan jumlah hasil panen yang
dihasilkan.
Secara tekstual, hasil pertanian yang diambil zakatnya pada masa Rasulullah saw
yaitu gandung, biji gandum olahan, kurma kering (tamr), dan anggur kering.
Namun demikian, menurut Abu Hanifah, zakat wajib dipungut dari setiap tanaman
yang tumbuh di atanah, tanpa membedakan jenis sayuran dengan yang lainnya,
dengan syarat bahwa tujuan menanamnya adalah memanfaatkan lahan dan
mengembangkan hasilnya. Abu Hanifah mengecualikan kayu bakar, kayu Parsi,
rerumputan, dan pohon yang tidak berbuah.
Zakat pertanian dikeluarkan pada saat panen dengan nishab 5 wasq 10 . Adapun
jumlah zakatnya adalah sebesar 10% apabila disiram air hujan/mata air/sungai atau
5% apabila pemeliharaannya menelan biaya pengairan seperti pakai pompa diesel,
dan lain-lain.
3. Aset Perdagangan
Dalam QS Al-Baqarah [2]: 267, Allah swt. berfirman:

10

yang setara dengan 652,8 kg atau 653 kg gabah kering atau 520 kg beras.

10

             

             
   

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian
dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan
dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu
menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya
melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah
Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”
Dalam ayat tersebut, Allah swt. memerintahkan orang-orang mukmin agar
mendermakan sebagian penghasilan mereka yang halal dan yang baik, serta
melarang mereka agar tidak mendermakan harta yang haram dan berkualitas
rendah. Adapun syarat-syaratnya apabila mengeluarkan zakat perdagangan adalah:
1. Berbentuk suatu usaha yang terikat dengan adanya jual beli.
2. Ada usaha untuk memperoleh untung atau laba.
3. Nishabnya berpedoman pada emas (85 gram) yang dihitung dari modal + laba,
sementara kadar zakat yang harus dikeluarkan sebanyak 2.5% nya
4. Hasil yang Dikeluarkan Dari Bumi (Barang Tambang)
Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda,

ُ‫از ْال ُخ ُمس‬
ِ ‫ َوفِى الرِّ َك‬، ‫َو ْال َم ْع ِد ُن ُجبَا ٌر‬
“Barang tambang (ma’dan) adalah harta yang terbuang-buang dan harta karun
(rikaz) dizakati sebesar 1/5 (20%)” (H.R Bukhari Muslim).
Berdasarkan hadis tersebut, barang tambang menurut ajaran agama Islam dan
sesuai dengan hadis Rasulullah saw adalah barang rikaz (harta karun). Harta rikaz
adalah segala sesuatu yang dihasilkan dari dalam bumi yang mempunyai harga
yang ternilai. Islam mewajibkan untuk mengeluarkan zakat sepertlima atau 20%
dari hasil pertambangan tersebut. Nishab dan kadar barang tambangnya
berpedoman pada nishab emas.
5. Binatang Ternak.
Dari Abu Dzar ra berkata:
“Pada suatu ketika saya kembali kepada Rasulullah, beliau bersabda, ‘Demi Zat
yang jiwaku di dalam kekuasaan-Nya. (Dalam riwayat lain disebutkan: ‘Demi Zat
yang tiada tuhan selain Dia.’ Atau, menyebutkan suatu sumpah yang senada
11

dengan lafal di atas) Tiada seorang pun yang mempunyai unta, sapi, ataupun
kambing dan ia sudah berkewajiban mengeluarkan zakat, namun ia tidak
mengeluarkan zakatnya, melainkan nanti pada hari kiamat akan didatangkan apa
yang dimiliki itu dalam keadaan yang lebih besar dan gemuk dari yang ada
sewaktu di dunia. Lalu, binatang yang tidak dikeluarkan zakatnya itu menginjaknginjak orang tersebut dengan kuku-kuku kakinya dan menanduk dengan
tanduknya. Setiap kali yang terakhir telah melaluinya, maka dikembalikan
kepadanya yang pertama kalinya. Keadaan demikian ini terus berlangsung
sehingga diberi keputusan di antara semua manusia.” (HR Bukhari)
Selanjutnya, diriwayatkan dari Muadz bin Jabal ra, beliau berkata:
“Baginda Nabi saw telah mengutus aku ke Yaman dan beliau memerintahkan aku
dari setiap 30 ekor sapi, tabi`, atau tabiah11 (satu ekor sapi jantan atau betina yang
mencapai umur 2 tahun) dan dari 40 ekor sapi, satu ekor sapi musinnah12 (seekor
sapi betina yang umurnya mencapi 3 tahun). (HR. Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi,
Abwab az-Zakah. Bab Ma ja’a fi Zakah al-Baqari)
Dalam hadis lain, diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Abu Sa’id al-Khudri ra
Rasulullah saw bersabda:
“Tidaklah diwajibkan zakat untuk pemilik Unta di bawah 5 ekor.” (HR. Bukhari)
Perincian nishab dan zakatnya adalah sebagai berikut:
Jenis Binatang Ternak
Sapi, Kerbau, dan Kuda

Kambing/Domba

Ternak Unggas (ayam, bebek,
burung, dll) dan Perikanan
Unta

Nishab
30 ekor
40 ekor
60 ekor
70 ekor
40-120 ekor
121-200 ekor
201-399 ekor
400-499 ekor
500-599 ekor
Dst.
setara
dengan 85
gram emas
5-9 ekor
10-14 ekor
15-19 ekor
zakatnya
20-24 ekor
25-35 ekor
36-45 ekor
45-60 ekor
61-75 ekor
76-90 ekor
91-120 ekor

11
12

Zakat Yang Wajib Dikeluarkan
1 ekor berumur 1 - 2 tahun
1 ekor berumur 2 - 3 tahun
2 ekor berumur 1 -2 tahun
1 ekor berumur 1 -2 tahun dan 1 ekor berumur 2 - 3 tahun
1 ekor
2 ekor
3 ekor
4 ekor
5 ekor
2,5%

1 ekor kambing/domba. Kambing berumur 2 tahun atau lebih, atau
domba berumur satu tahun atau lebih.
2 ekor kambing/domba
3 ekor kambing/domba
4 ekor kambing/domba
1 ekor unta bintu Makhad, yaitu unta betina umur 1 tahun sempurna,
masuk tahun ke-2
1 ekor unta bintu Labun, yaitu unta betina umur 2 tahun, masuk tahun
ke-3.
1 ekor unta Hiqah, yaitu unta betina umur 3 tahun, masuk tahun ke-4.
1 ekor unta Jadz'ah, yaitu unta betina umur 4 tahun, masuk tahun ke-5
2 ekor unta bintu Labun, yaitu unta betina umur 2 tahun, masuk tahun
ke-3.
2 ekor unta Hiqah, yaitu unta betina umur 3 tahun sempurna, masuk
tahun ke-4.

Tabi` dan tabi’ah: sapi jantan atau betina yang mencapai umur 2 tahun
Musinnah: sapi betina yang umurnya mencapi 3 tahun)

12

6. Zakat Profesi
Terdapat perbedaan pemikiran mengenai zakat profesi. Sebagian ulama mengqiyas-kan zakat profesi dengan zakat emas dan perak, sehingga besarnya zakatnya
disamakan dengan zakat emas dan perak, yaitu sebesar 2,5% dengan nishab 85
gram emas atau 672 gram perak.
Sebagian ulama lainnya menganalogikan zakat profesi dengan zakat pertanian
dengan nishab 5 wasaq (setara dengan 653kg gabah kering atau 520kg beras) dan
dikeluarkan pada saat menerimanya. Karena dianalogikan dengan zakat pertanian,
maka bagi zakat profesi tidak ada ketentuan haul dan zakatnya dikeluarkan pada
saat menerimanya (umumnya sebulan sekali).

E. Mustahik Zakat
Dalam QS At-Taubah [9]: 60, Allah swt. berfirman:

          
              

Artinya: “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orangorang miskin, pengurus-pengurus zakat, para Mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk
(memerdekaan) budak, orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang
yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; Dan
Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
Berdasarkan ayat tersebut, terdapat 8 (delapan) golongan orang yang berhak menerima
zakat atau istilah lainnya mustahiq zakat, yaitu:
1. Faqir – adalah orang yang tidak mempunyai harta ataupun pekerjaan atau
mempunyai harta/pekerjaan namun hartanya atau hasil kerjanya tidak bisa
mencukupi keperluan hidup sehari-hari bahkan jika dinominalkan, harta yang
dihasilkan kurang dari setengahnya dari kebutuhan harian.
2. Miskin – Orang miskin sedikit lebih tinggi derajatnya dari pada faqir. Mereka bisa
mendapatkan penghasilan dari kerjanya lebih dari setengah kebutuhan harian,
namun tetap tidak bisa mencapai kebutuhan standar.
3. Amil – adalah para petugas yang diangkat oleh pemerintah untuk menghimpun
zakat dari orang-orang kaya. Mereka disebut juga para pemungut zakat (Al-Jubah).
Termasuk mereka juga adalah para penjaga harta, penggembala hewan zakat dan

13

pencatat administrasi zakat. Mereka harus beragama Islam dan tidak boleh
tergolong orang-orang yang haram menerima zakat.
4. Mu’allaf – adalah orang yang sengaja didekati agar hatinya lunak dan mendukung
Islam atau guna meneguhkan hatinya karena keislamannya masih lemah, atau
menghentikan gangguannya terhadap kaum muslimin, atau memanfaatkan mereka
untuk melindungi kaum muslimin.
5. Ghorim – adalah mereka yang mempunyai utang dengan syarat utang tersebut
tidak dipakai untuk hal-hal yang haram dan mereka tak mampu membayarnya
dengan cara apapun, orang yang berutang demi membereskan suatu masalah di
antara golongan yang bertikai, atau orang yang berutang karena menjaminkan
sesuatu/menggadaikan.
6. Hamba Sahaya – adalah seseorang yang sedang menjalani tugas sebagai
pembantu/pelayan di bawah pengontrolan seorang majikan. Di dalam Islam, Islam
sangat menganjurkan kepada umatnya untuk memerdekakan para budak.
7. Sabilillah – adalah orang yang berperang di jalan Allah swt. dan tidak punya bekal
ketika berjihad.
8. Ibnu Sabil/Musafir – adalah mereka yang melakukan perjalanan dan kehabisan
bekal, maka mereka berhak mendapat zakat dengan syarat perjalanannya tidak
untuk maksiat.

F. Orang-orang yang Tidak Berhak Menerima Zakat
1. Keturunan Rasulullah S.A.W
Rasulullah S.A.W bersabda:
“Sesungguhnya sedekah (zakat) tidak boleh diberikan kepada keluarga Muhammad
karena ia adalah kotoran manusia.” (HR. Muslim)
“Zakat adalah kotoran harta manusia, tidak halal bagi Muhammad, tidak pula
untuk keluarga Muhammad saw.” (HR. Abu Daud)
2. Orang-orang kaya
Hadis Nabi saw: “Tidak ada hak zakat untuk orang kaya, maupun orang yang
masih kuat bekerja.” (HR. Nasa’i, Abu Daud, dan dishahihkan Al-Albani). Namun
demikian, ada pengecualian bagi orang – orang kaya yang dapat digolongkan untuk
berhak menerima zakat, yaitu:
“Orang yang berhak menerima zakat meskipun kaya, ada lima: Amil, muallaf,
orang yang berperang, orang yang kelilit utang karena mendamaikan sengketa,
dan Ibnu Sabil yang memiliki harta di kampungnya.” (Al-Mughni)
14

3. Kaum kafir
Ketika Nabi saw mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman, beliau meminta agar
Muadz mengajarkan tauhid, kemudian shalat, kemudian baru zakat. Beliau
bersabda:
“Ajarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka zakat harta
mereka. Diambilkan dari orang kaya mereka dan dikembalikan kepada orang
miskin mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Yang dimaksud ‘mereka’ dalam hadis di atas adalah masyarakat Yaman yang telah
masuk islam. Ibnul Mundzir menukil adanya kesepakatan ulama bahwa orang kafir
tidak boleh menerima zakat. Beliau menegaskan, “Para ulama sepakat bahwa orang
kafir dzimmi tidak berhak mendapatkan zakat sedikitpun dari harta kaum muslimin,
selama mereka mukim.” (Al-Ijma’).
4. Orang yang masih dalam tanggungan muzakki zakat
Zakat tidak boleh diberikan kepada orang yang wajib dinafkahi oleh muzakki
(wajib zakat). Seperti istri, anak dan seterusnya ke bawah atau orang tua dan
seterusnya ke atas. Zakat kepada anak atau orang tua yang tidak mampu, atau
kepada orang yang wajib dia nafkahi, akan menggugurkan kebutuhan nafkah
mereka. Sehingga ada sebagian manfaat zakat yang kembali kepada Muzakki.
5. Ahli fasik dan ahli bid’ah
Ada hadis Nabi saw:
“Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw menceritakan kasus zakat yang pernah
dialami orang muzakki yang soleh, Ada seseorang mengatakan, ‘Malam ini aku
akan membayar zakat.’ Dia keluar rumah dengan membawa harta zakatnya.
Kemudian dia berikan kepada wanita pelacur (karena tidak tahu). Pagi harinya,
masyarakat membicarakan, tadi malam ada zakat yang diberikan wanita pelacur.
Orang inipun bergumam: ‘Ya Allah, segala puji bagi-Mu. Zakatku jatuh ke tangan
pelacur.’ ‘Saya akan bayar zakat lagi.’ Ternyata malam itu dia memberikan
zakatnya kepada orang kaya. Pagi harinya, masyarakat membicarakan, tadi malam
ada zakat yang diberikan kepada orang kaya. Orang inipun bergumam: ‘Ya Allah,
segala puji bagi-Mu. Zakatku jatuh ke tangan orang kaya.’ ‘Saya akan zakat lagi.’
Malam itu, dia serahkan zakatnya kepada pencuri. Pagi harinya, masyarakat
membicarakan, tadi malam ada zakat yang diberikan kepada pencuri. Orang
inipun bergumam: ‘Ya Allah, segala puji bagi-Mu. Zakatku jatuh ke tangan
pelacur, orang kaya, dan pencuri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
6. Budak
Dalam hukum fikih, budak seutuhnya milik tuannya. Sehingga yang dilakukan
budak, harus atas izin tuannya. Termasuk harta yang dimiliki budak, harta ini
menjadi milik tuannya. Misal, seorang budak diberi suatu benda oleh orang lain,
15

benda ini menjadi milik tuannya. Sehingga, ketika dia mendapat zakat, sejatinya
zakat ini diberikan kepada tuannya. Sementara zakat tidak boleh diberikan kepada
orang yang mampu.
7. Anak yatim yang kaya raya
Dari delapan ashnaf, tidak disebutkan anak yatim. Yatim bukan kriteria orang yang
berhak menerima zakat, kecuali jika yatim ini miskin, karena tidak memiliki
warisan.

G. Jaminan Sosial
Allah swt berfirman dalam QS Adz-Dzariyaat [51]: 19,

     

Artinya: “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta
dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.”
Ayat tersebut menegaskan bahwa dari harta yang kita miliki terdapat sebagiannya yang
menjadi hak dan harus kita berikan kepada orang miskin. Dalam ayat yang lain yaitu
QS Al-Ma’uun [107]: 1-7, Allah swt memberikan peringatan kepada orang yang
menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin yang

disebut sebagai orang yang mendustakan agama. Begitu pun, Allah swt akan
memberikan kecelakaan bagi orang yang enggan membayar zakat.

            
     

  

  

      

Artinya: “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang
menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi Makan orang miskin. Maka
kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari
shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang
berguna13.”
Kesejahteraan masyarakat dewasa ini mendapatkan tekanan dari gelombang globalisasi
dan demokratisasi yang menyentuh ruang kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Globalisasi memunculkan dominasi negara-negara maju terhadap negara berkembang,
dan di tingkat negara berkembang sendiri terjadi disparitas yang semakin melebar
13

Sebagian mufassirin mengartikan: enggan membayar zakat.

16

antara sektor ekonomi modern dengan sektor informal dan tradisional. Implikasinya,
muncul kesenjangan ekonomi yang semakin tajam antara kelompok masyarakat yang
berpenghasilan tinggi dengan berpenghasilan rendah. Sementara itu demokratisasi telah
memunculkan tatanan sosial yang mengedepankan rasionalitas dibanding ikatan sosial
dan moral. Konsekuensinya, ikatan sosial yang sebelumnya kuat menjadi melemah.
Kondisi tersebut membawa dampak yang signifikan terhadap permasalahan
kesejahteraan,

terutama

munculnya

kesenjangan

kesejahteraan

antarkelompok

masyarakat. Di satu sisi terdapat kelompok masyarakat yang mampu mengikuti
tuntutan globalisasi dan demokratisasi, mempunyai kapasitas diri untuk bersaing
sekaligus memperoleh kesejahteraan secara optimal. Namun di sisi lain terdapat
kelompok masyarakat yang jauh tertinggal di belakang dalam pemenuhan
kesejahteraan mereka. Mereka adalah kelompok masyarakat yang tidak mampu
bersaing di pasar bebas, serta tidak memiliki kapasitas untuk menyesuaikan diri dengan
kondisi baru yang dihadapinya. Kelompok masyarakat tersebut adalah mereka yang
berada dalam kondisi kemiskinan, dengan keadaan sosial ekonomi rendah
dibandingkan kelompok masyarakat yang lain.
Berbagai temuan di lapangan menunjukkan bahwa negara telah gagal dalam
menyelenggarakan jaminan sosial sebagai salah satu strategi untuk mengatasi masalah
kesejahteraan masyarakat, terutama bagi mereka yang hidup di bawah garis
kemiskinan. Kendati berbagai macam program jaminan sosial telah diluncurkan, mulai
dari Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), beras untuk rakyat miskin (Raskin)
sampai dengan Bantuan Langsung Tunai (BLT), kesemuanya tidak mampu
menunjukkan perubahan yang berarti terhadap kondisi kesejahteraan masyarakat
miskin. Meski berbagai indikator kesejahteraan menunjukkan perubahan ke arah yang
lebih baik, namun realitas di lapangan memperlihatkan bahwa disparitas kondisi
kesejahteraan masyarakat semakin lebar. Semakin banyak kelompok masyarakat yang
tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, termasuk juga kesulitan untuk
mengakses pelayanan pendidikan, kesehatan dan ketenagakerjaan yang menjadi faktor
penting yang berpengaruh terhadap kesejahteraan.
Faktor utama kegagalan negara di dalam menjalankan tugasnya menjaga kesejahteraan
masyarakat melalui jaminan sosial adalah distribusi program jaminan sosial yang tidak
tepat sasaran serta pendekatan dan strategi yang digunakan negara di dalam
menyelenggarakan jaminan sosial cenderung bersifat formal, terstruktur, dan
mengabaikan nilai-nilai sosial yang hidup di dalam masyarakat.
17

Guna memenuhi kebutuhan akan kesejahteraan masyarakat, perlu dibangun sebuah
mekanisme jaminan sosial di dalamnya, dengan bersandar pada nilai-nilai yang ada
antara lain nilai agama. Dalam konteks ini adalah optimalisasi penghimpunan dan
penyaluran zakat oleh organisasi pengelola zakat (BAZ dan LAZ) yang amanah,
profesional, transparan, dan akuntabel. Sektor zakat (termasuk sektor voluntary yaitu
infak, sedekah, dan wakaf) merupakan salah satu pilar dalam sistem ekonomi Islam di
samping sektor riil dan sektor moneter. Jaminan sosial berbasis zakat bertujuan untuk
memfasilitasi rakyat yang fakir dan miskin untuk memiliki akses yang selebar-lebarnya
terhadap sektor finansial yang bersumber dari zakat dan dana sosial lainnya seperti
infak, sedekah, dan wakaf tunai.14
Riset IRTI-IDB tahun 2009 menyebutkan bahwa potensi zakat di Indonesia mencapai
2% dari Gross Domestic Product (GDP) yang secara nominal bisa mencapai Rp100
triliun. Riset tersebut dilakukan kembali pada tahun 2011 oleh BAZNAS, FEM IPB,
dan IDB dengan hasil bahwa potensi zakat Indonesia sangat besar yaitu bisa mencapai
Rp217 triliun atau sebesar 3,14% dari GDP. Jika potensi zakat tersebut berhasil
dihimpun dan disalurkan kepada 28,28 juta orang miskin di Indonesia15, maka setiap
orang miskin akan menerima zakat sekitar Rp7,6 juta. Nominal rupiah tersebut tentu
cukup besar untuk dijadikan modal usaha, memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari,
dan menciptakan kesejahteraan sosial. Bukan tidak mungkin, kondisi perekonomian
seperti telah terjadi pada masa Nabi Muhammad saw dan Umar bin Abdul Azis dapat
terulang kembali jika kita dapat memaksimalkan potensi zakat (termasuk infak dan
sedekah) di Indonesia.
Untuk mewujudkan harapan tersebut, Indonesia telah memiliki Undang-undang (UU)
No. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat 16 , menggantikan UU No. 38 Tahun
1999.

Pengelolaan

zakat

meliputi

kegiatan

perencanaan,

pelaksanaan,

dan

pengoordinasian dalam pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat.
Dengan pengelolaan zakat tersebut, diharapkan dapat meningkatkan efektivitas,
efisiensi, dan manfaat zakat untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan
penggulangan kemiskinan. Sebagai pelaksana atas pengelolaan zakat secara nasional,
pemerintah membentuk Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) yang merupakan
lembaga pemerintah nonstruktural yang bersifat mandiri dan bertanggung jawab
Dr. Ahmad Mukhlis Yusuf, The Role of Zakat as Financial Safety Net Instrument in Indonesia
Badan Pusat Statistik (BPS), Maret 2014
16 Sebagai aturan pelaksanaan atas UU tersebut, telah diterbitkan Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 2014 dan Inpres No.3 Tahun 2014 tentang
Optimalisasi Pengumpulan Zakat di Kementerian/Lembaga, Sekretariat Jenderal Lembaga Negara, Sekretariat Jenderal Komisi Negara, Pemerintah
Daerah, Badan Usaha Milik Negara, dan Badan Usaha Milik Daerah Melalui Badan Amil Zakat Nasional

14

15

18

kepada Presiden melalui Menteri Agama. Untuk membantu BAZNAS dalam
pelaksanaan pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat, masyarakat
dapat membentuk Lembaga Amil Zakat (LAZ).

H. Pengelolaan Zakat Di Singapura dan Malaysia: Sebuah Perbandingan
Pengelolaan zakat, infak, sedekah dan wakaf di Singapura tak satupun dikelola
perorangan, semua dikelola secara korporat. Jumlah muslim di Singapura sekitar 500
ribu jiwa, alias 15% dari total penduduk. Pembayar zakat rutin berjumlah 170 ribu
orang. Di luar zakat, dihimpun juga sedekah untuk pendidikan madrasah dan
pembangunan masjid. Di samping melalui rekening bank, pembayaran dapat dilakukan
di 28 masjid di seluruh Singapura. Tahun 2003, total penghimpunan zakat, infak dan
sedekah (ZIS) berjumlah S$13 juta. Dari jumlah tersebut disalurkan untuk semua
mustahik sekitar S$12,3 juta. Tahun 2004 meningkat jadi S$14,5 juta. Dari laporan
Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS), hak amil tahun 2004 tercatat S$1,5 juta, alias
Rp8,9 miliar.
Dari awal hingga pengelolaan itu sukses, pemerintah Singapura tak tergoda ikut
campur. Banyak pekerjaan yang harus dikerjakan pemerintah daripada ikut-ikutan
mengurusi ZIS dan wakaf yang terbukti telah mampu dikelola warganya. Dana ZIS
merupakan sumbangan warga muslim yang langsung membantu menangani
kemiskinan dan kebodohan. Pemerintah Singapura pun sadar bahwa sesuatu yang telah
berjalan baik tak perlu diutak-atik. Jika memang manfaatnya besar dan tidak
mengganggu stabilitas negara, mengapa harus diatur lagi dengan peraturan dan undangundang. Cara pandang pemerintah seperti ini memperlihatkan kualitasnya. Bahwa
birokrasi di Singapura berjalan profesional dilandasi karakter entrepreneur yang kuat.
Birokrasi demikian tak gegabah menghakimi dan menempatkan pihak yang berhasil
mengelola ZIS dan wakaf sebagai pesaing.
Selain minimnya campur tangan negara, komunitas muslim di Singapura telah
menjelmakan dirinya sebagai civil society yang aktif. Ismail Ibrahim dan Elinah
Abdullah mengungkapkan sebagai berikut :
The Malay / muslim community in Singapore has kept faith with the Singapore state,
with its promise of good education, equal opportunities based on merit and better
living conditions. Although faced with the prospect of economic, political and social
difficulties in the early 1960s, Malay/ Muslims who were generally located in the rural
areas has demonstrated high level of community activism. This was evidenced by the
proliferation of mutual help organization in the area of communal life, education,
religious learning, and social and welfare programmes. These traditional
19

organizations such as the khairat or mutual-help organizations, and the madrasah or
religious schools were founded on community ties and religious obligations that
mobilized especially the better educated and more successful members of the
community to improve its general well-being…in the areas of social and welfare
programmes, badan khairat were formed to assist the poor, orphans and the
disadvantaged.
Sementara itu di Malaysia, dalam hal zakat, pemerintah Malaysia ternyata mendukung
penghimpunan zakat yang dilakukan oleh murni swasta. Posisi pemerintah sendiri
hanya fasilitator dan penanggung jawab. Menariknya lagi, pemerintah (saat itu di
bawah Perdana Menteri Mahathir Mohammad) tak menempatkan zakat sebagai
komponen penting dalam membasmi kemiskinan. Dalam wilayah penyelenggaraan,
pengelolaan zakat di Malaysia ditempatkan dalam Majelis Agama Islam (MAI).
Koordinasi MAI ada dalam kementerian non departemen. Peran dan fungsi menteri non
departemen membuat lembaga strategis yang bertanggung jawab langsung pada
Perdana Menteri. Dari kementerian MAI ini, lahir terobosan yang amat inovatif yaitu
Pusat Pungutan Zakat (PPZ) dan Tabung Haji (TH). Karena hanya ada di Malaysia, dua
lembaga itu kini jadi rujukan beberapa negara di luar Malaysia.
Tabung Haji di Malaysia ba

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Zakat dan Jaminan Sosial JAMINAN SOSIAL JAMINAN SOSIAL