INTELIGENSI Teori 31JAN2013Ti nggalkan k

INTELIGENSI (Teori)

31JAN2013 Tinggalkan komentar
by primasuci in Perkembangan Anak
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Inteligensi atau kecerdasan merupakan salah satu bagian terpenting dalam
proses pertumbuhan dan perkembangan seorang individu selama masa
hidupnya. Dengan inteligensi seseorang dapat menyesuaikan dirinya dengan
lingkungan pendidikan maupun masyarakat sekitar. Tingkat kecerdasan
seseorang biasanya di ukur dengan alat ukur psikologis sehingga nantinya
menghasilkan skor kecerdasan. Hasil dari pengukuran itu sendiri, yang pada
umumnya disebut dengan IQ (Intelligence Quotient). Lamanya masa kehamilan
hingga persalinan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi inteligensi.
Hal ini menentukan lengkap atau tidaknya dan sempurna atau tidaknya organorgan dalam individu dapat berkembang dengan baik. Proses kelahiran tepat
waktu maupun kelahiran prematur menjadi penentu kecerdasan seseorang
dengan segala proses perkembangan selanjutnya setelah bayi dilahirkan.
Para ahli mengatakan bahwa keberhasilan belajar dipengaruhi oleh banyak
faktor yang bersumber dari dalam diri (internal) maupun dari luar (eksternal)
individu. Faktor internal meliputi keadaan fisik secara umum. Sedangkan
psikologi meliputi variable kognitif termasuk di dalamnya adalah kemampuan
khusus (bakat) dan kemampuan umum (intelegensi). Variabel non kognitif
adalah minat, motivasi, dan variabel–variabel kepribadian. Faktor eskternal
meliputi aspek fisik dan sosial. Kondisi tempat belajar, sarana dan perlengkapan
belajar, materi pelajaran dan kondisi lingkungan belajar merupakan aspek fisik.
Sedangkan dukungan sosial dan pengaruh budaya termasuk aspek sosial.
Keberhasilan atau prestasi belajar ditentukan oleh interaksi berbagai faktor.
Peranan faktor penentu itu tidak selalu sama dan tetap. Besarnya kontribusi
salah satu faktor akan ditentukan oleh kehadiran faktor lain dan sangat bersifat
situasional, yaitu tidak dapat diprediksikan dengan cermat akibat keterlibatan
faktor lain yang sangat variatif. Inteligensia sebagi unsur kognitif dianggap
memegang peranan yang cukup penting. Bahkan kadang–kadang timbul
anggapan yang menempatkan inteligensia pada peranan yang melebihi proporsi
yang sebenarnya.
Sebagai calon pendidik maupun sebagai orang tua hendaknya kita mempelajari
tentang inteligensi. Inteligensi memberikan kontribusi yang besar terhadap
hasil belajar seseorang anak. Oleh karena itu penulis akan membahas tentang
inteligensi dalam makalah ini, untuk memahami hal-hal yang dapat digunakan

dan diterapkan di masyarakat atau lembaga pendidikan, khususnya bagi
mahasiswa yang membacanya.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah hakikat Intelligensi?
2. Bagaiman teori-teori Intelligensi?
3. Apakah Emotional Intelligence?
4. Apakah Spiritual Intelligence?
C. Tujuan
1. Menjelaskan hakikat Intelligensi.
2. Menjabarkan teori-teori Intelligensi.
3. Menjelaskan Emotional Intelligence.
4. Menjelaskan Spiritual Intelligence.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakikat Intelligensi
Inteligensi merupakan topik yang biasanya menarik perhatian para orang tua,
guru, dan para profesional. Akan tetapi, berbicara tentang hakikat inteligensi,
sampai saat ini belum ada definisi yang standart yang dapat mengungkapkan
arti inteligensi secara tepat.
Inteligensi bukan merupakan kata asli yang berasal dari bahasa Indonesia. Kata
inteligensi adalah kata yang berasal dari bahasa latin yaitu “ inteligensia “.
Sedangkan kata “ inteligensia “ itu sendiri berasal dari kata inter dan lego, inter
yang berarti diantara, sedangkan lego berarti memilih. Sehingga inteligensi
pada mulanya mempunyai pengertian kemampuan untuk memilih suatu
penalaran terhadap fakta atau kebenaran.
Inteligensi berasal dari kata Latin ‘intelligere’ yang berarti menghubungkan
atau menyatukan satu sama lain (to organize, to relate, to bind together).
Masyarakat umum mengenal inteligensi sebagai istilah yang menggambarkan
kecerdasan, kepintaran, ataupun kemampuan untuk memecahkan problem yang
dihadapi.
Untuk memperjelas pengertian inteligensi, maka penulis memaparkan beberapa
definisi inteligensi yang di kemukakan oleh beberapa ahli psikologi maupun
pendidik diantaranya :
a. Menurut Verman Inteligensi merupakan hasil interaksi antara faktor genetis
dan faktor lingkungan pra lahir maupun lingkungan pasca lahir: inteligensi
tidak tampak dari luar tetapi tercermin dalam tingkah laku individu baik dalam
bentuk tindakan-tindakan, ucapan-ucapan, maupun pikiran-pikiran sebagai
seorang yang inteligen atau seorang yang tidak inteligen.
b. Menurut Sperman berpendapat bahwa inteligensi merupakan suatu
kemampuan umum.
c. Menurut Binet mengemukakan bahwa inteligensi itu pasti ada karena

dampaknya tampak dalam kehidupan sehari-hari. Ia mendapatkan “jejak”
adanya individu-individu yang cerdas dan yang kurang cerdas. Seperti yang
dikemukakan oleh Binet bahwa usaha untuk mengetahui atau meneliti
inteligensi adalah ibarat seorang yang berburu ke hutan untuk mencari
binatang buruan yang tidak seorang pun pernah melihatnya. Tetapi seorang
yakin bahwa binatang buruan tersebut ada dan pasti akan muncul karena
ulahnya yang tampak dalam kehidupan sehari-hari dengan merusak kandangkandang ayam penduduk, tetapi tidak seorang pun dapat mendeskripsikannya
dengan jelas. Menurut binet bahwa inteligensi bukan merupakan kapasitas
tunggal, melainkan merupakan kemampuan yang kompleks.
d. Menurut Terman berpendapat bahwa individu yang cerdas adalah individu
yang dapat menggunakan kemampuannya untuk berfikir secara abstrak. Di sini
dibedakan adanya kecakapan yang berhubungan dengan lambang, dihubungkan
antar masalah dan cara mengatasi suatu masalah.
e. Menurut Freeman menggolongkan denifisi inteligensi menjadi tiga golongan
diantaranya :
1) Inteligensi sebagai kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap
lingkungannya.
2) Inteligensi sebagai kemampuan untuk belajar.
3) Inteligensi sebagai kemampuan untuk berfikir abstrak dalam arti dapat
mengenal dan menggunakan lambang-lambang secara efektif, baik yang berupa
symbol verbal maupun symbol bilangan.
f. Menurut Amthauer menemukan “jejak-jejak” inteligensi antara individu yang
satu dengan yang lainnya saling berlainan. Menurutnya inteligensi adalah suatu
aspek kepribadian yang merupakan bagian kehidupan individu sehari-hari,
sebagai aspek psikologis yang terdapat dalam diri individu. Inteligensi
merupakan sesuatu yang abstrak yang tidak tampak di luar.
g. Menurut Chaplin , mendefinisikan inteligensi sebagai, (a) kemampuan
menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan
efektif; (b) kemampuan menggunakan konsep abstrak secara efektif; dan (c)
kemampuan memahami pertalian-pertalian dan belajar dengan cepat sekali.
Ketiga perumusan ini sama sekali tidak terlepas satu sama lain ketiganya hanya
menekankan aspek-aspek yang berbeda dari prosesnya.
h. Menurut Woodworth , mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan umum
untuk memecahkan masalah-masalah intelektual atas dasar hasil belajar masa
lampau dan kemampuan untuk memahami dan mengerti hakekat hidup masa
kini.
i. Wechsler mendefinisikan inteligensi sebagai:
“Intelligence is the aggregate or global capacity of the individual to act
purposefully, to think rationally, and to deal effectively with this environment”.
Artinya, inteligensi merupakan suatu agregat atau kapasitas global dari individu

untuk dapat bertingkah laku secara terarah, berpikir secara rasional, serta
berhubungan secara efektif dengan lingkungannya.
Wechsler mengemukakan tiga alasan mengapa pernyataan di atas diajukan :
a. Hasil dari perilaku inteligen bukan hanya merupakan suatu fungsi dari
sejumlah kecakapan atau kualitas kecakapan tersebut, tapi juga tergantung
pada konfigurasi kecakaan-kecakapan tersebut (cara kecakapan kecakapan
tersebut dikombinasikan).
b. Ada faktor-faktor selain kecakapan intelektual, misalnya dorongan (drive) dan
hadiah (incentive), yang melebur dengan perilaku inteligen.
c. Karena tingkah laku inteligen mempersyaratkan berbagai derajat kecakapan
intelektual, maka kecakapankecakapan tertentu bisa saja memberikan
sumbangan yang kurang berarti terhadap perilaku sebagai suatu keseluruhan.
Berdasarkan definisi tersebut maka dapai disimpulkan bahwa Inteligensi
merupakan suatu kemampuan umum dan kompleks yang dimiliki individu dari
faktor genetis maupun lingkungan yang mempengaruhinya untuk dapat berfikir
secara abstrak, menyesuaikan diri belajar, memahami hakikat hidup dan
mengatasi suatu masalah secara terarah, rasional, dan efektif.
Inteligensi merupakan suatu fungsi, dalam arti faktor-faktor yang menentukan
inteligensi merupakan suatu fungsi secara keseluruhan. Faktor-faktor tersebut
meliputi pembawaan, kematangan dan pembentukan.
1. Faktor Pembawaan
Faktor pembawaaan merupakan faktor pertama yang berperan di dalam
inteligensi. Semua individu membawa sifat-sifat tertentu sejak lahir. Sifat-sifat
alami ini yang menentukan pembawaan kita. Contohnya, terdapat anak-anak
yang dengan susah payah dapat mengikuti pelajaran di bangku sekolah dasar
(SD), termasuk ada yang dengan sangat mudahnya dapat mencapai gelar di
universitas. Tetapi di sisi lain, betapapun giatnya mengikuti pelajaran-pelajaran
tambahan di luar sekolah sekalipun, namun ada anak-anak yang tidak sanggup
mengikuti pelajaran yang lebih tinggi dari SD. Artinya, mereka tidak memiliki
kesanggupan yang memadai untuk mengikuti pelajaran, berkaitan dengan
kekurangan faktor pembawaan.
2. Faktor Kematangan
Kematangan adalah pertumbuhan dari dalam. Faktor kematangan terkait
dengan bagaimana kesiapan individu untuk memecahkan masalah yang
dihadapinya. Contohnya, anak normal yang berusia 7 tahun, tidak akan
menjumpai kesulitan dengan hitungan 8+9. Tetapi saat dihadapkan pada
persoalan setingkat lebih sulit yang menyangkut persamaan seperti: 5+x=8, ia
kesulitan untuk menyelesaikannya. Bisakah kita langsung memberi label bahwa
anak tersebut bodoh? Tentu tidak!. Bahkan mungkin ia seorang anak yang
cerdas, hanya saja ia belum matang untuk membuat soal hitungan persamaan
semacam itu, karena hitungan semacam itu masih terlampau abstrak baginya.

Andaikata anak itu normal dan berusia sekitar ± 14 tahun, besar kemungkinan
hitungan itu tidak akan sulit diselesaikan.
3. Faktor Pembentukan
Faktor pembentukan, yakni perkembangan di bawah pengaruh keadaankeadaan dari luar. Misalnya, seorang anak normal yang berusia 14 tahun, pada
umumnya tidak akan menjumpai kesulitan dengan persoalan hitungan
sederhana. Akan tetapi, tidak setiap anak normal 14 tahun dapat membuat
hitungan seperti itu. Jika anak itu tinggal di sebuah dusun yang terpencil dan
tidak pernah bersekolah, ia akan sulit menyelesaikan hitungan tersebut,
sekalipun ia telah memiliki kematangan untuk hitungan tersebut. Jadi
pembentukan merupakan faktor yang sangat penting dalam inteligensi. Dan
dalam pembentukan, sekolah dan lingkungan memegang peranan yang sangat
penting.
B. Berbagai Teori Intelligensi
Penjelasan teori menunjukkan kepada tokoh-tokoh yang membahas tentang
teori inteligensi. Di antara para ahli yang dapat disebutkan di sini adalah dari
Spearman, Thurstone, Guildford, Cattel and Horn, Strenberg dan Gardner. Pada
dasarnya teori-teori tersebut dikembangkan berdasarkan dua pendekatan: (1)
teori yang dikembangkan oleh Spearman, Thurstone, Guildford, dan Cattel and
Horn, yaitu teori inteligensi yang menerapkan teknik statistik, yaitu anlisis
faktor; (2) teori yang dikembangkan oleh Stenberg dan Gardner, yaitu teori
berdasarkan proses penggunaan informasi dalam pemecahan masalah (Papalia
& Olds dalam Jamaris)
1. Teori Inteligensi Spearman
Charles Spearman ( 1863-1945) merupakan seorang ahli psikologi British.
Spearman (1927) telah menggunakan analisis statistik (analisis faktor) untuk
menentukan daerah korelasi di antara prestasi-prestasi dalam berbagai tugas.
Sekiranya prestasi dalam tugas-tugas tertentu mempunyai korelasi positif yang
tinggi, yang diwujudkannya dengan mencerminkan pengaruh faktor yang
mendasarinya. Dengan itu, beliau menyatakan bahawa kecerdasan adalah
keupayaan umum yang mendasari berbagai tingkah laku. Maksudnya,
kecerdasan mempunyai satu faktor dasar (umum) yang sama iaitu kecerdasan
umum ( g -general intelligence). Menurut beliau, individu yang cerdas dalam
sesuatu bidang akan turut cerdas dalam bidang-bidang yang lain. Dengan
menggunakan kaedah statistik korelasi, beliau mendapati bahwa terdapat
korelasi yang tinggi di antara aspek-aspek kecerdasan yang berkaitan. Ini
kerana, mengikut beliau terdapat kecerdasan umum yang mendasari korelasi
tersebut. Contohnya, sekiranya prestasi ujian perbendaharaan kata, ujian
bacaan, dan ujian tulisan adalah berkorelasi positif secara tinggi, maka
kesemua ini mencerminkan pengaruh faktor umum iaitu “keupayaan
perkataan”. Faktor dasar inilah yang beliau namakan sebagai kecerdasan umum

(G).
Analisis faktor adalah suatu bentuk teknik statistik yang digunakan untuk
menemukan hubungan yang ada diantara dua jenis variabel yang kelihatannya
ada hubungan. Dalam faktor analisis dapat diketahui korelasi di antara variabel
atau dua faktor. Hubungan tersebut dapat berbentuk; (1) hubungan positif, (2)
hubungan negatif, (3) tidak ada hubungan. Apabila hubungan diantara dua
faktor tersebut adalah positif dan negatif maka hubungan kedua faktor tersebut
sangat tinggi. Spearman menggunakan teknik ini untuk mengukur kemampuan
kognitif anak.
Charles Spearman adalah seorang ahli matematika berkebangsaan Inggris.
Pada tahun 1904, Speaman mengemukakan teori dua-faktor.
Faktor pertama seperti yang dikemukakan oleh Stern, yaitu kapasitas umum.
Hubungan teori Spearman dan Stern adalah digunakannya huruf yang sama.
Spearman menggunakan huruf g, sedangkan Stern menggunakan huruf G untuk
menggambarkan kemampuan umum inteligensi. Tetapi Spearman tidak seperti
Stern, yang hanya menggambarkan G sebagai satu faktor tunggal. Spearman
lebih jauh membahas bahwa inteligensi merupakan komposisi faktor umum (g)
yang mendasari fungsi-fungsi mental dan faktor-faktor khusus (s) yang
berhubungan dengan tugas-tugas dan situasi.
Dalam teori Spearman, orang berbeda karena tingkat faktor umum dan karena
faktor-faktor khusus yang terlibat dalam suatu tugas sehingga seseorang dapat
memiliki inteligensi yang lebih daripada orang lain. Hal ini mungkin disebabkan
karena seseorang tinggi di bidang g dan rendah di bidang s.
Dalam inteligensi faktor g adalah faktor yang berkaitan dengan intelligensi
umum, yang merupakan kapasitas intelligensi yang dibawa sejak lahir dan
mempengruhi seluruh kemampuan individu. Faktor spesifikasi berkaitan dengan
kemampuan khusus seperti, perbedaan skor dalam tes yang berbeda.
Ia mulai dengan g (kapasitas umum), kemudian menelitinya dengan metodemetode statistik. Akhirnya ia mengambil intinya s (inteligensi khusus) yang
tidak sama dengan inteligensi umum dalam berbagai hal. Dengan demikian
penyelidikan Spearman memisahkan faktor g dengan faktor-faktor s.
Pada gambar 2.1, s1 s2 dan s3 menunjukkan jenis inteligensi khusus yang
porsinya tidak sama dengan faktor umum. Porsi inteligensi yang sama dengan
faktor general ditunjukkan dengan adanya arsir berwarna abu-abu. Yang diarsir
dari s1 dan g lebih besar daripada yang diarsir di daerah s2 dan g. Perbedaan
ini sengaja dibuat untuk menunjukkan bahwa s2 lebih independen daripada s1
terhadap g.
Penalaran di atas menggambarkan bahwa setiap faktor s berbeda ruang
ukurannya. Hal ini berarti pula bahwa dalam diri 2 orang tidak akan pernah
sama ukuran dan kualitas faktor g maupun faktor-faktor s-nya. Berarti pula
dalam diri seseorang, jenis inteligensi khususnya tidak sama. Dua orang dapat

sama jumlah faktor snya, sedangkan ukuran atau ruang dan bentuk faktorfaktor s itu yang berbeda antara orang satu dengan orang lainnya.
Apabila diikhtisarkan, teori Spearman tentang teori perbedaan individual
adalah sebagai berikut:
a. Orang memiliki jumlah g (kapasitas general) yang berbeda.
b. Dalam diri seseorang, jumlah faktor-faktor s berbeda.
c. Orang memiliki perbedaan jumlah dan jenis faktor g dan s.
Spearman tidak memberikan nama tertentu terhadap faktor g dan faktor-faktor
s ini. Ia hanya menyebutkan bahwa faktor g adalah energy mental umum yang
dimiliki individu. Sedangkan faktor s merupakan pola syaraf atau mesin yang
bekerja melalui faktor g.
Namun demikian Spearman tidak menstabilisasikan ide-idenya. Sebagai
seorang yang ahli statistik, ia kemudian menyempurnakan teknik dan metode
korelasinya.
Teori ini merupakan hasil akhir pembahasan Spearman. Kita lihat dalam
gambar, bahwa s4 dan s5 memiliki “overlapping” (tumpangtindih). Daerah itu
membuat dua ide baru; daerah arsiran lebih hitam, sebagai tiga gabungan
faktor g, s4 dan s5 dan daerah lebih kelabu yang merupakan gabungan s4 dan
s5 saja. Spearman tidak pemah memberikan arti terhadap daerah yang diarsir
lebih hitam untuk faktor g, s4 dan s5 . Kita hanya dapat meraba-raba saja. Kita
hanya tahu bahwa hal ini merupakan salah satu kemajuan pembahasannya saja.
Dia hanya memberikan nama “faktor’ kelompok,” yang jumlahnya ada 5 daerah.
Dia memberikan namanama untuk masing-masing daerah: kemampuan verbal,
kemampuan numerikal, kemampuan mekanikal, perhatian, dan imaginasi.
Imaginasi ini disebut kecepatan mental. Pada akhirnya Spearman memberikan
nama dan tanda untuk 3 daerah non-intelektual itu. Nama-nama dan tandatanda tersebut adalah:
a. “perseveration” ( P ) atau ketabahan/keteguhan hati.
b. “oscillation” ( 0 )atau kegoncangan
c. “will factor” (W) atau keinginan.
Dengan demikian, kita lihat bahwa teori inteligensi telah mengalami kemajuan
dari teori “sesuatu yang tunggal” (Stern) yang mengungkapkan kemampuan
memecahkan masalah, menuju ke teori yang lebih kompleks (Spearman) yang
menunjukkan bahwa inteligensi kita berisi kemampuan umum dan 5
kemampuan khusus.
2. Teori Inteligensi Thurstone
Thurstone (1938) adalah orang Amerika yang bersama isterinya Thelma Gwinn
Thurstone, merupakan ahli di bidang psikologi statistik. Di samping sebagai ahli
psikologi, mereka adalah ahli statistik yang brilian.
Thurstone mengadakan analisa faktor yang berkaitan dengan inteligensi.
Thurnstone (1983) yang tidak sepakat dengan teori Spearman telah

menyelenggarakan 56 tes dengan hasil tidak ada faktor inteligensi umum.
Thurstone mengambil kesimpulan bahwa tidak ada faktor umum dalam
inteligensi. Inteligensi adalah sejumlah kemampuan mental yang bersifat
primer. Penelitiannya menunjukkan bahwa kemampuan mental dapat
dikelompokkan menjadi 7 faktor. Inteligensi dapat diukur dengan mengambil
sample ‘performance’ atau penampilan/prestasi individu melalui 7 bidang:
a. kemampuan di bidang angka, yaitu kecepatan dan ketepatan dalam
perhitungan aritmatika sederhana
b. kemampuan dalam kelancaran kata, yaitu kecepatan menyebutkan kata-kata
dalam kategori tertentu, misalnya menyebutkan nama makanan yang dimulai
dengan huruf s.
c. kemampuan dalam ingatan asosiatif, yaitu keterampilan dalam tugas-tugas
yang menuntut ingatan, misalnya belajar mengasosiasikan pasangan item-item
yang tidak berhubungan
d. kemampuan dalam penalaran induktif, yaitu kemampuan menemukan hukumhukum.
e. kemampuan dalam penguasaan ruang, yaitu memvisualisasikan bagaimana
objek tiga dimensi dapat tampak jika dirotasikan atau dipecah-pecahkan.
f. kemampuan dalam pemahaman verbal, yaitu kemampuan dalam jumlah kosa
kata, pemahaman bacaan, dan analogi verbal.
g. kemampuan dalam kecepatan perceptual, yaitu kemampuan dalam tugastugas klerikal sederhana, seperti memeriksa kesamaan dan perbedaan detail
visual.
Thurstone mengasumsikan bahwa kombinasi faktor-faktor itu muncul dalam
“performance” (penampilan/prestasi) pada berbagai tugas intelektual.
Konsepnya sampai kini masih digunakan da1am tes yang disebut tes
“Kemampuan Mental Primer.” Teori inteligensi Thurstone banyak disebut para
penulis sebagai teori “multi-faktor”.
a. Jumlah Kemampuan mental primer pada teori Thurstone.
b. Hubungan masing-masing kemampuan mental primer dengan kemampuan
mental primer lainnya.
c. Hubungan antara kemampuan mental primer dengan kemampuan mental
general (umum).
Ke-3 ide dasar tersebut akan dibahas satu persatu, untuk memperoleh
gambaran tentang teori inteligensi Thurstone.
Dalam penelitiannya tentang inteligensi, Thurstone menggunakan faktor
analisis dalam mengolah skor tes inteligensi dari sejumlah besar anak yang
berpartisipasi dalam tes tersebut. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa
ke tujuh kemmapuan mental tersebut berkorelatif positif antara satu dengan
yang lainnya. Dengan demikian, apabila seorang anak mendapatkan skor yang
tinggi pada verbal comprehension atau kemampuan dalam pemahaman bahasa

maka ia akan memperoleh skor yang tinggi pula dalam kemampuan mental
yang lainnya.
Ad.1. Jumlah Kemampuan Mental Primer.
Terdapat 7 Kemampuan mental yang terpisah-pisah; angka, penguasaan kata,
arti verbal, memori, penalaran, ruang dan kecepatan perseptual. Kecepatan
mental masing-masing tidak ditentukan secara aktual oleh Thurstone dalam
penelitiannya. Tetapi kemampuan ini dimasukkan karena ada hubungannya
dengan testing di masa-masa mendatang.
Berbeda dengan tes-tes yang biasa dilaksanakan dengan pelemparan dadu atau
kartu, Thurstone secara arbitrare menggunakan 60 sub-tes untuk ujian. Ujian
ini dilaksanakan, dengan teknik statistik yang disebutnya analisa faktor. Dengan
menggunakan metode ini, ia menyempurnakan 60 sub-tes itu menjadi 2. Tetapi
oleh para ahli psikologi 21 tes tersebut hanya 11 tes yang biasa digunakan
untuk mengukur kemampuan mental primer.
Ad 2. Hubungan Antar Kemampuan Mental Primer.
Masing-masing kemampuan mental telah digambarkan sedemikian rupa,
sehingga nampak kaitan antar masing-masing kemampuan mental primer
dengan kemampuan yang lain. Persilangan tersebut menunjukkan hubungan
satu, sama lain secara positif. Di dalamnya terdapat angka angka, yang
menunjukkan koefisien korelasi. Bukan tugas kita untuk mencari koefisien
korelasi tersebut. Koefisien korelasi ini menunjukkan koefisien korelasi antar
kemampuan mental yang saling berkaitan. Thurstone telah menguji koefisien
korelasi tersebut dengan caranya sendiri.
Ada 2 set kemampuan mental yang memiliki koefisien korelasi yang sama besar,
yaitu:
a. Penalaran dengan angka.
b. Penalaran dengan penguasaan kata.
Keduanya memiliki koefisien korelasi 0,54.
Dua kemampuan mental yang memiliki koefisien korelasi kecil adalah ruang dan
memori. Korelasi dari kedua kemampun mental tersebut hanya 0,14.
Kemampuan mental yang tidak memiliki korelasi sama sekali adalah kecepatan
perseptual, sebab Thurstone tidak menunjukkannya.
Ad 3. Hubungan antara Kemampuan-kemampuan Mental Primer dengan
Kemampuan Umum.
Semua kemampuan mental primer setelah berjalan horizontal, kemudian
berbelok turun sehingga memotong kemampuan lainnya, kemudian bergabung
dengan bidang yang luas yang memiliki tanda G (kemampuan mental umum).
Masuknya ke dalam daerah G memiliki kedalam kedalaman yang berbeda-beda.
Sebagai contoh, penalaran menancap paling dalam ke daerah G (0,84). Hal ini
berarti bahwa penalaran dengan kemampuan mental umum memiliki korelasi
yang paling tinggi. Korelasi terkecil dimiliki oleh kemampuan ruang dengan

kemampuan mental umum (0,33). Sedangkan yang tidak ada korelasi sama
sekali adalah kecepatan perseptual dengan kemampuan mental umum, karena
Thurstone tidak menunjukkannya.
Hasil korelasi pada gambar 4.5, tidak sama dengan hasil tes dari studi lainnya
dengan responden yang berbeda. Dalam memandang kemampuan mental umum
(G), Thurstone mempertanyakan; “Apakah faktor umum yang unik itu dapat
ditentukan?.” Pertanyaan ini menimbulkan kekhawatiran pada konsep
Spearman. Seperti telah kita ketahui bahwa Spearman mulai bahasannya
dengan premis sebuah faktor general. Kemudian Spearman mengembangkan
lebih lanjut bahwa faktor-faktor khusus dapat muncul di luar faktor general ini.
Sedangkan Thurstone berangkat dari faktor-faktor primer atau kemampuan
mental primer kemudian menuju pada kemampuan mental umum. Setidaktidaknya dua teori itu memiliki kesamaan. Perbedaan hanya terletak pada
sistem pendekatannya. Spearman dari umum ke khusus, sedangkan Thurstone
dari khusus ke umum.
Dalam teori Thurstone, kemampuan mental primer berkorelasi dengan faktor
general melalui masing- masing faktor primer. Setiap kemampuan mental
primer dipandang sebagai suatu kombinasi kemampuan mental independen
dengan suatu kemampuan mental general. Thurstone menganggap bahwa
interpretasi psikologis tentang kemampuan mental general itu hanyalah tentatif
belaka. Untuk memperjelas konsep Thurstone tentang inteligensi, berikut ini
dibahas khusus tentang Kemampuan Mental Primer.
3. Teori Inteligensi Guildford
J.P Guildford (1897-1987) merupakan pakar inteligensi utama dalamabad
modern. Teori inteligensi yang dikemukakan menekankan multiple cognitive
abilities atau kemampuan kognitif majemuk. Melalui penelitian yang dilakukan
ia menemukan tiga komponen inteligensi yaitu: (1) operasi inteligensi, (2) isi
inteligensi, (3) produk inteligensi (Woolfolck McCune Nicolich dalam Jamaris). ,
Operasi Inteligensi mencakup: kognitif, memori, berpikir divergen, berpikir
konvergen dan evaluasi. Isi inteligensi mencakup: figural, symbol, semantic, dan
perilaku. Produk inteligensi terdiri dari: unit, klas, relasi, system, transformasi,
dan implikasi.
Hidup berarti menghadapi masalah, dan memecahkan masalah berarti tumbuh
berkembang secara intelektual (J.P. Guilford) .P. Guilford mengemukakan bahwa
inteligensi dapat dilihat dari tiga kategori dasar atau “faces of intellect”, yaitu :
a. Operasi Mental (Proses Befikir)
1) Cognition (menyimpan informasi yang lama dan menemukan informasi yang
baru).
2) Memory Retention (ingatan yang berkaitan dengan kehidupan
seharihari). ///Memory Recording (ingatan yang segera).
3) Divergent Production (berfikir melebar atau banyak kemungkinan jawaban/

alternatif).
4) Convergent Production (berfikir memusat atau hanya satu kemungkinan
jawaban/alternatif).
5) Evaluation (mengambil keputusan tentang apakah suatu itu baik, akurat,
atau memadai).
b. Content (Isi yang Dipikirkan)
1) Visual (bentuk konkret atau gambaran).
2) Auditory.
3) Word Meaning (semantic).
4) Symbolic (informasi dalam bentuk lambang, kata-kata atau angka dan notasi
musik).
5) Behavioral (interaksi non verbal yang diperoleh melalui penginderaan,
ekspresi muka atau suara).
c. Product (Hasil Berfikir)
1) Unit (item tunggal informasi).
2) Kelas (kelompok item yang memiliki sifat-sifat yang sama).
3) Relasi (keterkaitan antar informasi).
4) Sistem (kompleksitas bagian saling berhubungan).
5) Transformasi (perubahan, modifikasi, atau redefinisi informasi.
6) Implikasi (informasi yang merupakan saran dari informasi item lain).
Salah satu teori inteligensi multifaktor telah dikemukakan oleh Guilford (1959).
Kemudian terus direvisi sampai tahun 1988. Ia menggunakan teknik “analisis
faktor” statistik untuk mengembangkan model berbentuk kubus yang ia sebut
sebagai model “struktur intelek” atau dalam bahasa Inggris disebut Structure of
Intellect (SOI). Ia membuat hipotesis untuk mengklasifikasikan komposisi
sistem kemampuan intelektual menurut “tiga dimensi”.
Sistem kemampuan intelek tersebut terdiri atas :
a. Material atau isi yang diproses
b. Proses atau operasi dari material
c. Bentuk atau produk informasi yang telah diproses
Model pemikiran Guilford tentang teori inteligensi mulitifaktor tersebut dapat
digambarkan sebagai berikut :
Gambar 2.4 Structure of Intellect (SOI)
Gambar 2.4 menunjukkan tiga jenis faktor intelek dalam bentuk model kubus.
Secara teoritis dari model itu meliputi kategori-kategori yang berbeda-beda (5
isi x 6 operasi x 6 produk) sehingga dapat ditemukan 180 sel dalam model ini
atau 180 kemampuan yang berbeda-beda. Model ini mengungkapkan bahwa
inteligensi individu tidak dapat diukur dengan alat yang hanya menghasilkan
skor tunggal.
Dimensi pertama, yaitu isi. Dimensi ini berisi 5 sub-kategori :
a. Isi visual/figural, yang menunjukkan objek-objek konkrit yang langsung

diterima (misalnya model-model, bagan, diagram dan sebagainya).
b. Isi simbolik, yang menunjukkan tulisan; huruf; angka; bentuk-bentuk
konvensional dan sebagainya.
c. Isi pendengaran, yang menunjukkan menerima stimulus auditory.
d. Isi semantic, yang menunjukkan arti ide-ide verbal/kata-kata.
e. Isi behavioral adalah inteligensi social, yang menunjukkan kemampuan untuk
menerima dan menginterpretasikan pikiran, perasaan, dan sikap orang lain.
Dimensi kedua yaitu operasi. Dimensi ini berisi 6 sub-kategori :
a. Kognisi yaitu pendalaman informasi
b. Memori retensi yaitu menahan informasi
c. Memori reproduksi yaitu proses pengutaraan kembali atau memproduksi
kembali informasi
d. Pemikiran konvergen yaitu proses menghasilkan jawaban yang tepat dan
benar dari informasi yang telahdiketahui dan diingat pada satu arah.
e. Pemikiran divergen yaitu proses pikiran terhadap arah yang berbeda-beda
dan beraneka ragam dari informasi yang telah ada.
f. Evaluasi yaitu proses pengambilan keputusan atas informasi yang diterima
Penerapan operasi mental ke dalam dimensi isi menghasilkan jenis produk
tertentu (dimensi ke-3 model Guilford). Dimensi produk dibagi ke dalam 6 subkategori :
a. Unit yaitu pekerjaan mental yang terpisah misalnya kata-kata atau imaginasi
khusus
b. Kelas atau kelompok-kelompok unit informasi yang ada pada karakteristik
umum
c. Relasi yang menunjukkan hubungan unit-unit informasi. Misalnya “lebih
tinggi daripada”, “lebih besar daripada”.
d. Sistem yang berupa penstrukturan informasi yang kompleks,
e. Transformasi menunjukkan perubahan informasi yang ada sebelumnya
menjadi informasi selanjutnya
f. Implikasi menunjukkan penunjukkan atau prediksi yang diperoleh dari
pengetahuan yang dimiliki sekarang dan diterapkan pada waktu yang akan
datang
Model Guilford memberikan suatu jalan untuk mengorganisasikan kemampuankemampuan dalam kurikulum. Dalam mengorganisasikan kurikulum sekolah
kita dapat menentukan kemampuan-kemampuan mana yang perlu mendapatkan
perhatian. Dalam bidang isi, misalnya kita menitikberatkan pada kemampuan
semantic dan kemampuan simbolik dengan keterampilan figural dan behavioral.
Dapat juga kita menekankan pada kognisi, memori dan pemikiran, konvergen
pada operasi bisa juga semua bidang operasi diambil. Sedangkan pada bidang
produk kita mengambil unit dan kelas. Ini hanya sebagai contoh. Tentu saja
pengambilan masing-masing sub kategori bergantung.

Guilford (1967) menolak teori faktor g dan faktor kelompok kemampuan
spesifik. Ia mengungkapkan teori kompleksitas inteligensi. Model Guilford
memiliki 2 efek yang menguntungkan :
a. Teori ini merupakan mata rantai studi inteligensi dengan menggunakan
pengetahuan tentang belajar, psikoliguistik, pikiran, konsep, dan sebagainya
sebagai pembagian tugas intelektual.
b. Teori ini meliputi bidang-bidang fungsi intelektual yang terlokalisasi dengan
sedikit sekali terwakili oleh testes inteligensi standar. Sebagai contoh, banyak
tes-tes inteligensi yang hanya mengukur pemikiran konvergen yang hanya
memiliki jawaban yang benar. Misalnya jika ada pertanyaan, “Apakah sesuatu
yang keras, berwarna merah, digunakan untuk bangunan dan tembok?”. Maka
hanya ada satu jawaban, “batu bata”. Jika pertanyaan itu dibalik dengan sistem
“divergen thinking”, maka pertanyaan dapat menjadi, “Bangunan apa yang
banyak menggunakan batu bata?”. Tentu jawabannya akan banyak dan akan
menciptakan proses yang kreatif.
4. Teori Inteligensi Cattel & Horn
R.B Cattel (1965) dan J.L. Horn (1987) mengemukakan dua dimensi inteligensi
yang disebut dengan istilah fluid intelligence (Gf) dan crystallized intelligence
(Gc). Fluid intelligence (Gf) berkaitan dengan kemampuan untuk
mengembangkan teknik pemecahan masalah yang baru dan berbeda dari teknik
sebelumnya. Fluid intelligence tentukan oleh perkembangan neurologis dan
relatif terbebas dari pengaruh pendidikan dan kebudayaan (Papalia & Olds,
dalam Jamaris).
Crystallized intelligence (Gc) berkaitan dengan kemampuan mengemukakan
pengalaman-pengalaman yang telah dipelajari sebelumnya dalam memecahkan
masalah yang dihadapi. Kemampuan ini mencakup kemampuan dalam
menggunakan informasi umum untuk mempertimbangkan sesuatu dan
memecahkan masalah. Oleh sebab itu, crystallized intelligence merupakan hasil
belajar yang dipengaruhi oleh pendidikan dan kebudayaan.
Teori kecerdasan yang agak baru yang berdasarkan kepada analisis faktor telah
dibentuk oleh John Horn dan Raymond Cattell(1963), mereka telah mengenal
pasti dua faktor kecerdasan . yaitu:
a. Kecerdasan bendalir. Kecerdasan bendalir mencerminkan kemampuan
berfikir, keupayaan ingatan, dan pemprosesan maklumat secara cepat. Horn
dan Cattell(1963) percaya bahawa kecerdasan bendalir adalah sebahagian
besarnya diwarisi, kurang dikesani oleh latihan, dan semakin menurun ketika
mengharungi zaman dewasa.
b. Kecerdasan berhablur: Kecerdasan berhablur pula adalah mencerminkan
pemerolehan kemahiran dan pengetahuan melalui pendidikan di sekolah dan
pengalaman harian. Horn dan Cattell(1963) percaya bahawa kecerdasan
berhablur meningkat atau tetap sama ketika berada di zaman dewasa akhir.

Walaupun kecerdasan bendalir semakin menurun ketika umur seseorang
semakin meningkat dewasa, namun ia boleh ditingkatkan melalui program
pendidikan yang khusus, dan program pendidikan juga boleh
mempertingkatkan lagi kecerdasan berhablur.
5. Teori Inteligensi Stenberg
Psychologist Robert Strenberg mendefinisikan inteligensi sebagai aktivitas
mental yang diarahkan pada kegiatan yang bertujuan untuk menyesuaikan diri,
memilih dan membentuk lingkungan yang sesuai dengan kehidupan individu
(Strenberg dalam Jamaris, 2010:122) . Inteligensi muncul dalam tiga bentuk
yaitu analitis, kreatif, dan praktis. Inteligensi analitis melibatkan kemampuan
menganalisis, menilai, mengevaluasi, membandingkan dan membedakan.
Inteligensi kreatif terdiri atas kemampuan untuk menciptakan, merancang,
menemukan, memulai, dan membayangkan. Inteligensi praktis berfokus pada
kemampuan untuk menggunakan, menerapkan, mengimplementasikan dan
mempraktikkan. Salah satu contoh dari kegiatan inteligensi atau kegiatan
mental adalah cara yang dilakukan dalam memecahkan masalah. Dalam hal ini,
individu yang sedang melakukan kegiatan dalam memecahkan masalah
menggunakan informasi yang telah diperolehnya untuk memecahkan masalah
yang dihadapnya.
Pada hakikatnya ia mendukung pendapat Gardner yang mendefinisikan
inteligensi dalam lingkup yang lebih luas dari general ability, akan tetapi, ia
berpendapat bahwa rumusan defenisi Gardner lebih cocok diterapkan untuk
mengetahui bakat seseorang. Teori inteligensi yang dikembangkan oleh
Strenberg dikenal dengan istilah Triarchic Theory of Intelligence yang terdiri
dari Componential Subtheory, Experiential Subtheory, dan Contextual
Subtheory.
1. Componential Subtheory
Componential Subtheory disebut juga dengan istilah Analytical Inteligence yang
berkaitan dengan kemampuan dalam memecahkan masalah. Seperti yang
dilakukan pada standard psychometric, analitycal inteligence dapat diukur
melalui pemecahan masalah seperti masalah akademik, misalnya: analogis dan
puzzle. Pemecahan masalah ini dilakukan berdasarkan operasi mental secara
bersamaan yang disebut metacomponents yaitu langkah- langkah yang
ditempuh dalam rangka pemecahan masalah dan keputusan yang diambil dalam
pemecahan masalah tersebut. Kegiatan ini membutuhkan proses kognitif
tingkat tinggi yang digunakan untuk menentukan langkah yang mana yang
paling tepat digunakan untuk memecahkan masalah sesuai dengan konteksnya
dan kemampuan dalam menggabungkan langkah-langkah yang dibutuhkan
serta pertimbangan tentang waktu yang dibutuhkan dalam setiap langkah
pemecahan masalah yang diambil dan kualitas hasil yang akan diperoleh
setelah langkah- langkah tersebut diterapkan. Analytical intelligence mencakup:

a) Metacomponents yang berfungsi mengontrol, memonitor dan mengevaluasi
proses kognitif. Ketiga aktivitas mental tersebut disebut executive functions
yang bekerja untuk mengatur dan mengorganisasi komponen pencapaian hasil
atau performance components.
b) Performance components yang berfungsi melaksanakan strategi yang telah
dibangun oleh metacomponents. Komponen ini merupakan operasi dasar yang
dalam operasinya selalu melibat kegiatan kognitif sehingga manusia mampu
memahami makna stimulus atau informasi yang ditangkap oleh pancaindera,
menyimpan informasi tersebut dalam bentuk ingatan jangka pendek (short term
memory), lalu melakukan perhitungan yang diikuti oleh pertimbangan yang
dilakukan dengan jalan membandingkannya dengan stimulus atau informasi
yang lain yang dilaksanakan dengan jalan memanggil kembali ingatan jangka
panjang (long term memory).
c) Knowledge acquisition components yaitu proses yang digunakan dalam
memperoleh dan menyimpan pengetahuan baru. Kemampuan ini membantu
manusia untuk mengingat hal- hal yang telah dipelajarinya atau dialaminya dan
mengklasifikasikan hal- hal tersebut sesuai dengan klasifikasinya di dalam
ingatan. Hasil dari proses tersebut dikenal dengan istilah schemata.
Contoh dari Inteligensi analitis yaitu Andi adalah anak yang mendapatkan skor
tinggi dalam tes inteligensi tradisional, seperti yang diusungkan oleh StanfordBinet. Selain itu Andi adalah anak pemikir analitis yang hebat. Inteligensi
analitis yang dimiliki Andi adalah seperti apakah inteligensi dalam konteks
tradisional dan apa yang biasanya dinilai oleh tes inteligensi. Dalam pandangan
Sternberg, inteligensi analitis terdiri atas beberapa komponen yaitu
kemampuan untuk mendapatkan atau menyimpan informasi, menyimpan atau
mendapatkan kembali informasi, mentransfer informasi, merencanakan,
membuat keputusan dan menyelesaikan masalah serta untuk menerjemahkan
pikiran menjadi perbuatan.
2. Experiential Subtheory
Experiential Subtheory atau Creative Inteligence adalah suatu kemampuan
yang mencakup pemahaman atau insights, synthesis dan kemampuan bereaksi
terhadap stimulus dan situasi yang sulit yang menuntut tindakan kreatif dan
innovatif. Creative Inteligence merefleksikan kemampuan manusia dalam
menghubungkan kemampuan internalnya, seperti schemata, motivasi dan
keuletan dengan realitas yang dihadapinya, sehingga ia mampu melakukan
adaptasi secara kreatif dan innovative terhadap lingkungan atau situasi baru
yang dihadapinya.
Sternberg meyakini bahwa semakin pintar individu maka semakin mudah bagi
individu tersebut untuk menghadapi situasi- situasi yang sulit dan secara kreatif
melakukan berbagai tindakan yang dibutuhkan. Experiential Subtheory
mencakup dua aspek yaitu novelty atau innovasi dan automatization atau

otomatisasi.
Contoh dari Creative Inteligence atau inteligensi kreatif yaitu Rina tidak
mendapatkan skor tes yang terbaik, tetapi mempunyai pikiran yang kreatif dan
berwawasan luas. Sternberg mengkategorikan jenis pemikiran Rina unggul
pada Inteligensi kreatif. Menurut Sternberg, orang- orang yang kreatif
mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan masalah baru dengan cepat,
tetapi mereka juga mempelajari cara menyelesaikan masalah serupa secara
otomatis, sehingga pikiran mereka bebas untuk menangani masalah- masalah
lain yang membutuhkan wawasan dan kreativitas.
3. Contextual Subtheory
Contextual Subtheory atau Practical Intelligence mencakup kemampuan
memahami dan memecahkan berbagai masalah yang dihadapi dalam kehidupan
sehari- hari. Kemampuan ini merefleksikan kemampuan manusia dalam
berhubungan dengan orang- orang di sekitarnya.
Practical Intelligence dapat dikatakan sebagai kecerdasan yang digunakan
dalam memecahkan masalah- masalah konkrit di dalam dunia nyata. Individu
yang memiliki kecerdasan ini mampu melakukan adaptasi. Oleh sebab itu
kecerdasan ini tidak hanya melibatkan inteligensi, akan tetapi, juga melibatkan
emosi dan sikap serta perilaku. Dengan demikian Practical Intelligence adalah
integrasi dari berbagai kemampuan seperti berikut ini.
1) Kemampuan beradaptasi dengan lingkungan agar dapat mencapai tujuan
yang telah ditetapkan.
2) Kemampuan dalam mengatur dan memodifikasi lingkungan dalam upaya
mencapai tujuan yang diharapkan.
3) Kemampuan dalam berpindah dari rencana yang satu kepada rencana yang
lain apabila rencana pertama tidak berjalan sesuai dengan harapan atau tujuan
yang akan dicapai.
Contoh dari Practical Intelligence atau inteligensi praktis yaitu Banu adalah
seorang anak yang mendapatkan skor rendah dalam tes IQ tradisional, tetapi
dengan cepat memahami masalah kehidupan nyata. Ia dengan mudah menyerap
pengetahuan tentang bagaimana dunia berjalan. Keahlian yang praktis dan
cerdas dari Banu adalah apa yang disebutkan oleh Sternberg dengan inteligensi
praktis. Inteligensi praktis mencakup kemampuan untuk keluar dari kesulitan
dan kepandaian khusus untuk bergaul dengan orang-orang. Sternberg
mendeskripsikan inteligensi praktis sebagai semua informasi penting tentang
cara untuk bertahan di dunia, yang tidak diajarkan untuk Anda di sekolah.
6. Teori Inteligensi Gardner
Teori inteligensi yang dikembangkan oleh Gardner dikenal dengan istilah
Multiple Intelligences. Teori ini dikembangkan berdasarkan keyakinan Gardner
bahwa inteligensi tidak hanya ditentukan oleh suatu factor yang dikenal dengan
general intelligence atau faktor g, akan tetapi terdiri dari sejumlah factor. Dari

pada memfokuskan perhatiannya pada kegiatan menganalisis skor tes
inteligensi, karena Gardner meyakini bahwa perhitungan secara angka tidak
akurat dijadikan pedoman untuk menentukan kemampuan manusia, oleh sebab
itu untuk memprediksi kemampuan manusia maka fokus perhatiannya dialihkan
dari angka kepada proses. Teori inteligensi yang akan dikembangkan berbasis
skill dan kemampuan dalam berbagai kelompok yang terdiri dari delapan
kelompok jenis inteligensi (Santrock, 2011:140) , yaitu:
a. Keahlian verbal yaitu kemampuan untuk berpikir dengan kata dan
menggunakan bahasa untuk mengekspresikan makna (penulis, wartawan,
pembicara).
b. Keahlian matematika yaitu kemampuan untuk menyelesaikan operasi
matematika (ilmuan, insinyur, akuntan).
c. Keahlian spasial yaitu kemampuan untuk berpikir tiga dimensi (arsitek,
perupa, dan pelaut).
d. Keahlian tubuh-kinestetik yaitu kemampuan untuk memanipulasi objek dan
cerdas dalam hal- hal fisik (ahli bedah, pengrajin, penari, atlet).
e. Keahlian music yaitu sensitive terhadap nada, melodi, irama, dan suara
(komposer, musisi dan pendengar yang sensitif).
f. Keahlian intrapersonal yaitu kemampuan untuk memahami diri sendiri dan
menata kehidupan dirinya secara efektif (teolog, prikolog).
g. Keahlian interpersonal yaitu kemampuan untuk memahami dan berinteraksi
secara efektif dengan orang lain (guru teladan, professional kesehatan mental).
h. Keahlian naturalis yaitu kemampuan untuk mengamati pola- pola di alam dan
memahami system alam dan system buatan manusia (petani, ahli botani, ahli
ekologi, ahli tanah).
Menurut (Landa dalam Santrock, 2011: 133) mengatakan bahwa pendekatan
multiple intelligences adalah cara terbaik untuk mengajar anak sebab anak
punya kemampuan yang berbeda-beda. Dia mengatakan bahwa peranannya
sebagai guru sekarang sangat berbeda dengan beberapa tahun lalu. Dia tak lagi
berdiri di depan kelas dan mengajari murid-muridnya. Kini dia lebih bertindak
sebagai fasilitator ketimbang sebagai pengatur pada saat murid belajar di
berbagai pusat belajar yang berhubungan dengan kecerdasan yang berbeda.
Murid berpartisipasi dalam kelompok belajar kooperatif di pusat tersebut. pusat
belajar itu menyediakan kesempatan bagi mereka untuk mengembangkan
inteligensi interpersonal mereka.
C. Pengukuran Potensi Inteligensi
Intelegensi tidak dapat di ukur seperti tinggi badan atau berat badan, karena
kecerdasan hanya dapat di ukur secara tidak langsung melalui tindakan cerdas
yang dilakukan seseorang dan melalui tes intelegensi secara tertulis.
Santrock (2009:152) mengemukakan bahwa tes kecerdasan yang dapat di
lakukan dalam bentuk tertulis adalah tes culture-fair. Tes culture-fair yaitu tes

yang menghindari tes budaya, tes tersebut telah di kembangkan dalam dua
jenis yang bebas bias budaya. Yang pertama mencakup pertanyaan yang di
kenal orang-orang dari semua latar belakang sosial ekonomi dan etnis. Misalnya
pertanyaan untuk orang-orang yang memiliki pendidikan yang tinggi akan
berbeda dengan orang yang belum berpendidikan tinggi.
Pengukuran terhadap inteligensi dikembangkan pada pertengahan abad ke
Sembilan belas. Tes inteligensi pertama dikembangkan oleh sepasang dokter
asal Perancis, salah seorang diantara mereka memfokuskan tes tersebut pada
kemampuan verbal. Selanjutnya, Francis Golton (1883), seorang ahli biologi
kebangsaan Inggris, mengembangkan teori yang dilandasi keyakinannya bahwa
inteligensi merupakan factor yang dibawa sejak lahir dan diturunkan. Ia
memfokuskan tes inteligensinya pada kemampuan dalam sensory discrimination
(diskriminasi pancaindera). Oleh sebab itu, untuk mengukur diskriminasi visual
maka digunakan garis yang didesain sedemikian rupa sehingga seolah-olah di
antara dua garis ada yang lebih panjang, akan tetapi, pada hakikatnya tidak.
Untuk mengukur diskriminasi pendengaran diukur melalui kemampuan individu
dalam mendengar suatu dalam pitch (tingkat kekerasan suara) yang berbeda.
Untuk mengukur diskriminasi kinestetik, individu yang dites diminta
mengangkat sejumlah beban (Papalia dalam Jamaris, 2010:131).
Tes inteligensi yang sering digunakan diklasifikasikan menjadi dua bagian yaitu
tes individual dan tes kelompok. Adapun tes inteligensi yang mengukur secara
individual yaitu Binet-Simon Intelligence Scale, Stanford- Binet Intelligence
Scale dan Wechsler Intelligence Scale. Kemudian tes inteligensi yang mengukur
secara kelompok yaitu Lorge-Thorndike Intelligence Test, Kuhlman-Anderson
Intelligence Tests, dan Otis Lennon School Mental Abilities Tests.
1. Tes Inteligensi untuk Individu
Psikolog Ribert J. Sternberg, mengingat bahwa ia merasa takut untuk mengikuti
tes IQ ketika masih anak-anak. Ia mengatakan bahwa ia benar- benar terdiam
ketika tiba saatnya untuk mengikuti tes semacam itu. Bahkan sebagai orang
dewasa, Sternberg ingat akan hinaan terhadap dirinya karena mengikuti tes IQ
dengan anak kelas lima, sedangkan ia berada di kelas enam. Sternberg
akhirnya mengatasi rasa gelisahnya tentang tes IQ. Ia tidak hanya mulai
mengerjakan dengan baik, tetapi pada usia 13 tahun ia membuat tes IQ-nya
sendiri dan mulai menggunakannya untuk menilai teman- teman sekelas sampai
kepala sekolah mengetahuinya dan memarahi dirinya. Sternberg menjadi begitu
terpesona oleh inteligensi sehingga ia mempelajarinya seumur hidupnya.
2. Binet-Simon Intelligence Scale
Pada 1904, Departemen Pendiidkan Prancis meminta psikolog Alfred Binet
untuk membuat sebuah metode untuk mengidentifikasi anak- anak yang tidak
mampu belajar di sekolah. Petugas sekolah ingin mengurangi keramaian
dengan menempatkan beberapa siswa yang tidak mendapatkan manfaat dari

pengajaran kelas biasa ke sekolah khusus. Binet dan siswanya, Teophile Simon,
mengembangkan sebuah pengujian inteligensi untuk memenuhi permintaan ini.
Tes ini disebut 1905 Scale. Tes ini terdiri atas 30 pertanyaan, yang berkisar dari
kemampuan untuk menyentuh telinga seseorang sampai kemampuan untuk
menggambar rancangan dari ingatan dan mendefinisikan konsep- konsep
abstrak . Tes ini pada mulanya ditujukan untuk mengetahui anak- anak mental
retardasi di antara anak- anak non mental retardasi di kelas, agar anak-anak
tersebut dapat berkembang secara optimal. Tes inteligensi yang dikembangkan
oleh Binet dan Simon menekankan pada keterampilan verbal yang memiliki
tingkat kesulitan yang teratur. Apabila seorang anak dapat menyelesaikan butir
tes sebanyak 80-90 % dari tes yang diperuntukkan kelompok usianya misalnya
untuk usia tiga tahun, maka ia dapat dinyatakan memiliki inteligensi sama
dengan usianya atau kemampuan mental atau mental age yang normal.
Selanjutnya, tes Binet menyimpulkan apabila skor tes seorang berada di bawah
kemampuan kelompok seusianya maka anak tersebut dapat dinyatakan sebagai
anak yang memiliki kemampuan mental di bawah normal .
Pada perkembangan selanjutnya, istilah mental age diganti dengan istilah IQ
(intelligence quotient) yang dinyatakan dalam bentuk angka. IQ adalah rasio
dari mental age (MA) seorang individu dan choronological age atau usia
kronologisnya yang dikalikan dengan 100, seperti di bawah ini.
Operasi rumus tersebut dapat diuraikan dalam penjelasan berikut ini.
a) Seorang anak berusia (CA) 10 tahun yang memperoleh skor tes inteligensi
setingkat dengan anak usia 10 tahun maka ia memiliki IQ 100 = Normal
b) Seorang anak berusia (CA) 10 tahun yang memperoleh skor tes inteligensi
setingkat dengan anak usia 8 tahun maka ia memiliki IQ 80 = di bawah normal
c) Seorang anak berusia (CA) 10 tahun yang memperoleh skor tes inteligensi
setingkat dengan anak usia 12 tahun maka ia memiliki IQ 120 = di atas normal
(Jamaris, 2010).
Berikut adalah klasifikasi IQ menurut Binet:
Klasifikasi IQ
Genius 140 ke atas
Sangat Cerdas 130 – 139
Cerdas (Superior) 120 – 129
Di atas rata- rata 110 – 119
Rata- rata 99 – 109
Di bawah rata- rata 80 – 79
Garis bawah (bodoh) 70 – 79
Moron (lemah pikir) 50 – 69
Imbisil, Idiot 49 ke bawah
3. Stanford – Binet Intelligence Test
Pada tahun 1916, Lewis Terman merevisi Binet-Simon Intelligence Scale agar

bisa digunakan di USA. Revisi tersebut dilakukan di Stanford University. Oleh
sebab itu tes inteligensi yang telah direvisi tersebut dikenal dengan istilah
Stanford–Binet Intelligence Scale. Dalam pelaksanaannya tes ini
diadministrasikan secara individual dan dikenal dengan istilah intelligences
quotient atau IQ yang merupakan rasio antara mental age (MA) dan
chronological age (CA). Selanjutnya, the Stanford Binet pada saat ini dipakai
untuk menghitung skor inteligensi yang terkenal dengan istilah the standard
age score, yang dalam pelaksanaannya menggunakan ide Galton tentang
distribusi normal dari karakteristik inteligensi manusia.
Dengan menguji sejumlah besar orang dengan usia yang berbeda dan dari latar
belakang yang berbeda, peneliti menemukan bahwa skor- skor dalam tes
Stanford-Binet diperkirakan berdistribusi normal. Distribusi normal adalah
distribusi simetr

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

INTELIGENSI Teori 31JAN2013Ti nggalkan k