REKONSEPTUALISASI SISTEM KEMARITIMAN MEL. pdf

ABSTRAK

Indonesia adalah salah satu negara maritim terbesar di dunia. Dengan segala potensi sumber daya alam yang melimpah seharusnya menjadikan masyarakatnya sejahtera. Namun ternyata negara ini belum mampu memberi kesejahteraan kepada rakyatnya. Berbagai persoalan seperti konflik penguasaan pulau oleh swasta, pengambilalihan wilayah-wilayah yang merupakan akses hidup masyarakat merupakan masalah utama ketidaksejahteraan di samping kebijakan-kebijakan pemerintah lainnya yang berdampak hilangnya sumber hidup masyarakat. Dengan luas laut terbesar di dunia seharusnya menjadikan Indonesia sebagai negara maritim yang ditakuti negara lain. Gagalnya sistem kemaritiman saat ini menjadi faktor utama tidak mampunya negara dalam memberi kesejahteraan kepada rakyatnya, terutama sistem kemaritiman yang menjangkau kesejahteraan dan keamanan bagi masyarakat pulau-pulau kecil dan terluar. Dari

92 pulau terluar Indonesia, dimana 12 pulau yang terluar yang berpenghuni ini banyak yang tidak memiliki fasilitas berupa sarana dan prasarana yang memadai bahkan ada yang tidak memiliki monumen sebagai tanda identitas pulau, selain masalah belum adanya listrik, pelabuhan untuk transportasi antarpulau dan lain sebagainya. Hal yang sama juga terjadi di wilayah pulau-pulau kecil sehingga kesejahteraan masyarakatnya jauh dari kata sejahtera. Masalah lain seperti kurangnya data dan informasi tentang pulau-pulau kecil, kurangnya keberpihakan pemerintah terhadap pengelolaan pulau-pulau kecil, pertahanan dan keamanan, terbatasnya sarana dan prasarana dasar, konflik kepentingan misalnya antara masyarakat adat dan pemerintah serta swasta juga menjadi masalah yang rentan saat ini, serta akibat dari pembangunan dan pemanfaatan sumberdaya alam yang mengakibatkan degradasi lingkungan hidup menjadi persoalan hidup masyarakat itu saat ini. Untuk itu rekonseptualisasi sistem kemaritiman melalui program pemanfaatan pulau-pulau kecil dan terluar demi mewujudkan walfere state sangat di perlukan. Solusi yang di tawarkan dalam rekonseptualisasi sistem kemaritiman guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat ialah inventarisasi semua pulau-pulau kecil dan segala potensi sumber daya alamnya. Pengadaan peta tunggal mengenai pulau-pulau kecil dan terluar di Indonesia, Pemanfaatan pulau kecil terluar di Indonesia sebagai benteng pertahanan keamanan. Pemanfaatan pulau-pulau kecil yang berada di inner sea, dan aksesibilitas antarpulau.

Kata kunci: walfere state, sistem kemaritiman, pulau-pulau kecil dan terlu

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia adalah Negara kepulauan (archipelago state) yang terdiri dari 17.504 pulau kecil yang memiliki berbagai sumber daya alam baik hayati maupun non hayati yang sejatinya dapat mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Hal ini diakui dalam deklarasi Juanda pada 13 Desember 1957 yang menyatakan kepada dunia bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah Negara Kesatuan

Republik Indonesia 1 . Dengan luas 5.193.250 km² (mencakup daratan dan lautan) 2 yang berada di iklim tropis, tentu saja Indonesia mempunyai sumberdaya alam yang sangat berlimpah. Sumber daya alam ini menurut Pasal 33 ayat (3)Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI Tahun 1945) yang berbunyi “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”, artinya bahwa negara harus menjadi fasilitator bagi warganya dalam rangka mengelola sumberdaya alamnya bagi kesejahteraan rakyat. Konsep dikuasai oleh negara bukan berarti di miliki namun di kelola sebesar-besarnya untuk kemakmuran. Sebagai archipelago state, keberadaan 17.504 pulau di Indonesia seharusnya dapat menjadi poros sistem kemaritiman serta dapat menjadi penopang perekonomian bagi penduduknya/masyarakatnya. Dan dalam pengelolaan sumber daya alamnya harus disesuaikan dengan karakteristik setiap pulau yang berbeda-beda ragam kekayaan alamnya yang tentu juga berbeda pula pola hidup dan budayanya dalam pengelolaan sumberdaya alam (misalnya budayasasi di Maluku, Panglima Laot di Aceh, Awiq-awiq di Lombok,

1 Anonim, Deklarasi Djuanda, https://id.wikipedia.org/wiki/Deklarasi_Djuanda, diakses pada 16 Maret 2016.

Negara Indonesia, http://www.invonesia.com/luas-wilayah-negara-indonesia.html, diakses pada 16 Maret 2016.

2 Anonim,

Luas

Wilayah

Mane’e di Sulawesi dsb.) terutama bagi masyarakat di pulau-pulau kecil Indonesia.

Sebagai negara Kesatuan dimana Pancasila menjadi landasan hidup bangsa maka prinsip dari penyelenggaraan pemerintah termasuk kewenangan dalam membentuk peraturan perundang-undangan haruslah berdasarkan prinsip dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang Pancasila dan ber- bhineka tunggal ika, sebagai landasan konseptual dan landasan filosofi bangsa serta sumber dari segala sumber hukum. Khusus terhadap berbagai peraturan perundang-undangan terhadap pengelolaan sumberdaya alam di wilayah laut pesisir dan pulau-pulau kecil dan terluar, pemerintah seharusnya menghormati perbedaan dari warga masyarakatnya yang beraneka ragam baik suku, bahasa, ruang hidup dan lainnya. Warga masyarakat ini adalah masyarakat hukum adat yang telah ada jauh sebelum negara ini ada sebagai negara yang bernama Indonesia. Sebagai konsekuensi dari negara Pancasila keberadaan masyarakat ini juga diakui dalam konstitusi kita yaitu Pasal 18 B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD NRI 1945). Konsekuensi mana harus dianggap sebagai perwujudan penghormatan kepada landasan filosofi dan nilai sejarah yang ada dan berakar dari bangsa Indonesia sendiri 3 . Masyarakat inilah yang merupakan pemilik hak dari sebagian

besar wilayah Indonesia termasuk di wilayah pulau-pulau kecil dan terluar. Namun pengelolaan sumber daya laut khususnya pulau-pulau kecil dan terluar yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar ternyata juga tidak mendatangkan kesejahteraan.

Apalagi dengan jumlah penduduk 249,9 juta orang, semakin menambah presentasi kemiskinan negara ini, karena ternyata jumlah angka kemiskinan masyarakatnya sebagian besarnya juga adalah masyarakat pesisir yang identik dengan kemiskinan. Ketidakseriusan pemerintah dalam pengelolaan pulau-pulau

3 Revency Vania Rugebregt, Disertasi, 2016,Pengelolaan Sumber Daya Alam Laut Pesisir Oleh Pemerintah dan Implikasinya Terhadap Lingkungan Hidup Masyarakat Adat, Universitas

Hasanudin, hlm, 25 Hasanudin, hlm, 25

Kurangnya perhatian pemerintah diperparah dengan adanya konflik kepentingan dalam pemanfaatan sumberdaya alam baik antar pemerintah pusat dan daerah, pemerintah dan masyarakat adat, maupun masyarakat adat dengan pihak swasta yang ingin memanfaatkan sumberdaya alam demi keuntungan ekonomi semata. Baik terhadap sumberdaya alam hayati dan non hayati maupun terhadap pulau itu sendiri demi kepentingan Eco Tourism . Pihak swasta yang tidak seharusnya dapat memiliki pulau namun kenyataannya 60 pulau di kepulauan

seribu telah dimiliki oleh pihak swasta 4 .Selain kepemilikan lainnya demi kepentingan pemerintah, penguasaan wilayah pesisir oleh warga asing kebangsaan

Swiss di Paperu Maluku, menjadikan akses hidup masyarakat semakin sempit bahkan hilang. Selain pemilikan pulau oleh swasta, pengelolaan pulau-pulau kecil pun menjadi masalah. Reklamasi pantai di Makasar untuk kepentingan pembangunan menyebabkan beberapa pulau kecil menjadi berkurang wilayahnya seperti Pulau Samalona, Pulau Dutungan, Pulau Kahyangan, Pulau Cangke, Pulau Badik yang paling terluar dsb. Lepasnya kepemilikan pulau-pulau kecil oleh pemerintah dan dijadikan tempat pemukiman dan real estate tentu membawa dampak negatif bagi masyarakat. Selain akses terhadap laut menjadi hilang, kehidupan mereka pun ikut berubah dan dampak negatif bagi lingkungan hidup sekitar. Dampak negatif seperti rusaknya laut, berkurangnya ikan, naiknya permukaan air, bleaching terhadap terumbu karang semakin memperparah lingkungan hidup di mana masyarakat ini tinggal dan beraktivitas. Perebutan

4 Poskota News, Ahok: 60 Pulau di Kepulauan Seribu Milik Swasta. Ini Gila, http://poskotanews.com/2015/04/08/ahok-60-pulau-di-kepulauan-seribu-milik-swasta-ini-gila/,

diakses pada 16 Maret 2016.

pengelolaan sumberdaya alam seperti di Buru terhadap pertambagan emasnya, oleh pemerintah dan rakyat, 200 konsesi terhadap hutan di Kepulauan Aru atau Konflik Blok Masela di Maluku masih menjadi polemik bagi kesejahteraan masyarakat, karena pemerintah dan swasta saling memperebutkan sumberdaya alamnya dalam pengelolaan tanpa mempertimbangan keberadaan masyarakat adat sebagai pemilik hak.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah pemanfaatan Sumber Daya Laut khususnya di wilayah pulau-pulau kecil dan terluar di Indonesia selama ini?

2. Bagaimana rekonseptualisasi sistem kemaritiman melalui program pemanfaatan pulau-pulau terluar kecil dan terluar dapat mewujudkan Indonesia sebagai negara welfare state yang sesungguhnya?

1.3 Tujuan

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui kondisi pemanfaatan sumber daya laut di Indonesia selama ini.

2. Untuk menemukan solusi pemanfaatan sumber daya laut yang adil melalui pemanfaatan pulau-pulau kecil dan terluar di Indonesia.

1.4 Manfaat Penulisan

Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi Mahasiswa Untuk menambah ilmu pengetahuan serta dapat dijadikan bahan acuan bagi mahasiswa yang tertarik menulis lebih lanjut mengenai pemanfaatan sumber daya laut melalui pemanfaatan pulau-pulau kecil dan terluar di Indonesia.

2. Bagi Masyarakat Untuk menambah ilmu pengetahuan sehingga masyarakat mengetahui fakta-fakta mengenai kondisi pemanfaatan pulau-pulau kecil dan terluar serta menemukan solusi demi pemanfaatan sumber daya laut yang adil demi kesejahteraan Indonesia.

3. Bagi Pemerintah Untuk dapat dijadikan sebagai suatu sumbangan pikiran bagi pemerintah mengenai kondisi pemanfaatan pulau-pulau kecil dan terluar di Indonesia serta dapat menjadi solusi bagi pemerintah dalam menghadapi masalah tersebut.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Sistem Kemaritiman di Indonesia

Konsep berasal dari bahasa Inggris: concept yang berarti rencana atau rancangan 5 . Terkait dengan konsep mengenai sistem, maka konsep hukum adalah

suatu konsep kebijaksanaan hukum yang ditetapkan suatu masyarakat hukum yang berisi tentang budaya hukum yang dianutnya atau berisi formulasi nilai hukum yang dianutnya 6 .

Sistem merupakan suatu kebulatan atau kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian, dimana antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya saling terkait satu sama lain, tidak boleh terjadi konflik dan tidak boleh terjadi overlapping

(tumpang tindih) 7 .Sedangkan sistem dalam pandangan hukum secara umum merupakan suatu tatanan atau kesatuan yang utuh yang terdiri dari

bagian-bagian atau unsur-unsur yang saling berkaitan erat satu sama lain yaitu kaidah atau pernyataan tentang apa yang seharusnya, sehingga sistem hukum

merupakan sistem normatif 8 . Istilah maritim berasal dari bahasa Inggris yaitu maritime , yang berarti

navigasi, maritim atau bahari. Sedangkan kata maritim menurut KBBI online adalah ma-ri-tim berkenaan dengan laut; berhubungan dengan pelayaran dan perdagangan di laut. Dari istilah maritim tersebut lahir istilah negara maritim atau negara samudera. Disisi lain mengenai pengertian maritim yang berdasarkan

terminologi adalah mencakup ruang/wilayah permukaan laut, pelagik 9 dan

5 Seri Bahasa Indonesia, Semarang: Aneka Ilmu, hlm 569. 6 M.Marwan & Jimmy P, 2009, Kamus HUKUM Dictionary Of Law Complette Edition,

Surabaya: Reality Publisher, hlm 375. 7 Achmad Ali, 1997, Menang dalam Perkara Perdata, Ujungpandang: Ukhuwah Grafika,

hlm 9. 8 Ibid, hlm 569.

9 Pelagik berasal dari bahasa Yunani pelagos yang berarti laut lepas.

mesopelagik 10 yang merupakan daerah subur di mana pada daerah ini terdapat kegiatan seperti pariwisata, lalu lintas, pelayaran dan jasa-jasa kelautan 11 .

Sejarah maritim di Indonesia bermula pada abad VII yang secara ekonomi telah dipersatukan oleh Kerajaan Sriwijaya degan menguasai lalu lintas perdagangan dari Barat dan Timur, dari Utara dan Selatan di Selat Malaka, Laut Cina Selatan dan Laut Jawa. Kemudian pada abad XIII konsep penyatuan Kepulauan Indonesia secara politik di bawah satu kekuasaan telah diletakkan oleh raja Kertanegara dari Kerajaan Singasari melalui semboyan Cakrawala Mandala Dwipantara . Semboyan ini kemudian diwujudkan Maha Patih Gaja Mada dari Kerajaan Majapahit.

Penyatuan Kepulauan Indonesia secara politik dan ekonomi tersebut dilajutkan selama masa penjajahan Belanda hingga Jepang. Oleh karena itu, ketika bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, maka yang dimaksud dengan bangsa dan negara adalah rakyat dan wilayah yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai penduduk dan pulau-pulau dari kepulauan Indonesia yang dikenal sebagai kekayaan alam Indonesia. Oleh karena itu, latar belakang alamnya yang bersifat oseanik menjadikan bangsa dan negara

Indonesia bercorak maritim 12 . Dalam membangun negara maritim, pemerintah harus memprioritaskan

pembangunan infrastruktur dan institusi kemaritiman, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya maupun pertahanan dan keamanan. Hal tersebut bertujuan agar semua fungsinya dapat mendukung terwujudnya perikemanusiaan masyarakat maritim. Untuk mencapai tujuannya diperlukan adanya konsep sistem

10 Mesopelagik adalah daerah dibawah epipelagik dengan kedalaman laut 200-1000 m. 11 Samsir, Makal

ah Wawasa Ke ariti a “Kebijaka Politik Dala Negara Mariti , http://www.slideshare.net/samsir07/kemaritiman-indonesia , diakses pada20 Maret 2016. 12 Wahyono S.K., 2009, Indonesia Negara Maritim, Jakarta;Teraju, hlm2.

yang mampu menjadi pilar demi terwujudnya kemaritiman di Indonesia. Berikut pilar-pilar penyangga negara maritim 13 :

a. sistem politik yang mampu menjamin keutuhan seluruh kepulauan Indonesia sebagai satu kesatuan wilayah negara, termasuk daerah perbatasan, daerah pedalaman, dan pulau-pulau terluar dan terpencil, dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945;

b. sistem ekonomi yang mampu mengembangkan perdagangan lewat laut di dalam dan ke luar negeri, pengangkutan laut yang dapat menghubungkan seluruh Kepulauan Indonesia, serta mendorong tumbuhnya usaha-usaha industri dan jasa maritim dalam arti luas, eksplorasi dan eksploitasi kekayaan laut dan dasar laut, untuk kemakmuran dan kesejahteraan yang merata bagi seluruh rakyat di seluruh kepulauan Indonesia;

c. sistem sosial dan budaya yang menjunjung tinggi harkat manusia, kemajemukan etnik, budaya dan agama, serta mampu menumbuhkan semangat cinta laut dengan tradisi dan perikehidupan masyarakat maritim yang menjadikan laut sebagai sumber kehidupan, penghubung dan pemersatu bangsa atas dasar Sumpah Pemuda 1928 dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika;

d. sistem pertahanan dan keamanan yang mampu menjamin tegaknya kedaulatan dan hukum serta kehadiran kekuatan laut secara berlanjut di seluruh wilayah laut kedaulatan dan laut jurisdiksi nasional, yang menjamin penguasaan atas seluruh Kepulauan Indonesia meliputi wilayah darat, laut, serta udara di atasnya, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote.

Pengembangan negara maritim di Indonesia berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945 karena dalam prikehidupan kebangsaan Indonesia Pancasila pada hakekatnya disusun secara serasi dan seimbang untuk mewadahi seluruh aspirasi bangsa Indonesia. Landasan konsepsionalnya adalah wawasan nusantara dan ketahanan nasonal. Dengan wawasan nusantara bangsa Indonesia memandang wilayah nusantara sebagai satu kesatuan politik, ekonomi, sosial budaya dan keamanan. Pada hakekatnya negara maritim Indonesia merupakan pengembangan dari konsepsi ketahahan nasional, maka konsepsi negara maritim Indonesia perlu

13 Ibid, hlm 7.

dijadikan pedoman dan rangsangan serta dorongan bagi bangsa kita dan upaya pemanfaatan dan pendayagunaan secara terpadu, terintegrasi dan berkelanjutan 14 .

2.2. Welfare State

Welfare State berasal dari bahasa Inggris yaitu welfare yang berarti kesejahteraan dan state yang berarti negara. Sedangkan Welfare State dalam Kamus Hukum merupakan fungsi negara yang bertujuan untuk memelihara kehidupan atau menciptakan syarat-syarat kehidupan sejahtera bagi anggota

masyarakat negara yang bersangkutan secara menyeluruh dan terus menerus 15 . Secara umum, suatu negara dapat digolongkan sebagai Negara Kesejahteraan jika

memiliki empat pilar: (1) social citizenship ; (2) full democracy ; (3) modern industrial relation system ; (4) right to education and the expansion of modern masseducation systems .

Menurut Masad negara kesejahteraan ( welfare state ) pada dasarnya mengacu pada peran aktif dalam mengelola dan mengorganisasi perekonomian yang didalamnya mencakup tanggung jawab negara untuk menjamin ketersediaan pelayanan kesejateraan warganya 16 . Negara kesejahteraan ( welfare state ) dapat

diartikan sebagai negara yang pemerintahannya menjamin terselenggaranya kesejahteraan rakyat. Perwujudan kesejahteraan rakyatnya harus didasarkan pada lima pilar kenegaraan, yaitu: demokrasi ( democracy ), penegakan hukum (rule of law), perlindungan Hak Asasi Manusia, keadilan sosial ( social juctice ) dan anti

diskriminasi 17 .

Ketahanan Nasional, http://pusjianmar-seskoal.tnial.mil.id/Portals/0/Konsep%20Negara%20Maritim%20Dan%20Keta hanan%20Nasional..pdf diakses pada 20 Maret 2016.

15 M.Marwan & Jimmy P, 2009, Kamus HUKUM Dictionary Of Law Complette Edition, Surabaya: Reality Publisher, hlm 646.

Kesejahteraan Rakyat, http://masadmasrur.blog.co.uk/2008/11/27/kewajiban-negara-terhadap-kesejahteraan-rakyat-5 119802/, diakses pada 18 Maret 2015.

16 Masad Masrur,

17 Raihan Mahdy dkk, 2015, Reformulasi Kebijakan Dana Bagi Hasil Guna Mewujudkan Desentralisasi Fiskal Dalam Bingkai Negara Kesejahteraan, Semarang, hlm 14.

Menurut Bessant, Watts, Dalton dan Smith (2006), ide dasar Negara Kesejahteraan ( welfare state ) beranjak ketika Jeremy Bentham bergagasan bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menjamin the greatest happiness (atau welfare ) of the greatest number of their citizen . Bentham menggunakan istilah utility (kegunaan) untuk menjelaskan konsep kesejahteraan dan kebahagiaan. Bentham berpendapat bahwa sesuatu yang dapat menimbulkan kebahagiaan adalah sesuatu yang baik. Sebaliknya, sesuatu yang menimbulkan sakit adalah buruk. Menurutnya, segala aksi yang dilakukan pemerintah adalah mewakili kebahagiaan banyak orang. Oleh karena itu, negara memiliki kewajiban untuk memperjuangkan kesejateraan seluruh warganya.

Negara Indonesia sebagai negara kesejahteraan ( welfare state ) berarti terdapat tanggungjawab negara untuk mengembangkan kebijakan negara di berbagai bidang kesejahteraan serta meningkatkan kualitas pelayanan umum (public services) yang baik melalui penyediaan berbagai fasilitas yang diperlukan

oleh masyarakat 18 . Substansi Pasal 34 UUD NRI 1945 tentang Adanya ketentuan mengenai kesejahteraan sosial yang jauh lebih lengkap dibandingkan sebelum

perubahan merupakan bagian upaya mewujudkan kesejahteraan sosial. Menurut Habermas suatu negara modern harus dapat menjamin

kesejahteraan seluruh rakyat Kesejateraan sosial mencakup nilai-nilai yang telah menjadi pengetahuan umum sebagai syarat material minimum untuk hidup, jaminan penghidupan yang layak, perlindungan dan hak milik, jaminan untuk bertindak dengan bebas, dan segala kenikmatan yang diangan-angankan setiap orang dan segala perlindungan mengenai kepentingan kerohanian 19

18 Sekretariat Jenderal MPR-RI, 2012, Panduan Permasyarakatan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Dan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat

Republik Indonesia, Jakarta, hlm 199. 19 Ibid, hlm 14.

2.3. Pulau-pulau Kecil dan Terluar di Indonesia

Nusantara merupakan istilah yang dipakai untuk menggambarkan wilayah kepulauan, yang sekarang sebagian besar merupakan wilayah negara Indonesia. Secara konstitusional berkaitan dengan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagaimana tertuang dalam Pasal 25 A Undang-Undang Dasar NRI Tahun 1945, telah ditegaskan mengenai wilayah negara bahwa “Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang berciri Nusantara dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan Undang- Undang”. Mengenai wilayah negara telah ditetapkan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara yang merupakan pengejewantahan dari yang diamanatkan dalam pasal 25 A UUD NRI 1945.

Pokok-pokok kebijakan pengaturan persoalan pengaturan wilayah negara yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 mengenai asas-asas pokok pelaksanaan pengaturan wilayah meliputi: Asas Kedaulatan, Asas Kebangsaan, Asas Kenusantaraan, Asas Keadilan, Asas Keamanan, Asas Ketertiban, Asas Kerjasama, Asas Kemanfaatan,

Asas Pengayoman dan 20 . Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 juga mengatur mengenai tujuan dari

pengaturan wilayah negara adalah 21 :

a. menjamin keutuhan wilayah negara, kedaulatan negara, dan ketertiban di kawasan perbatasan demi kepentingan kesejahteraan segenap bangsa;

b. menegakkan kedaulatan dan hak-hak berdaulat; dan

c. mengatur pengelolaan dan pemanfaatan wilayah negara dan kawasan perbatasan, termasuk pengawasan batas-batasnya.

2.4 Kewenangan Pemerintah dalam Pengaturan dan Pengelolaan Wilayah Negara

Dalam rangka menjaga keutuhan wilayah negara, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan, perlu dilakukan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar. Oleh karena itu, Pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar

20 Lihat Pasal 2 Penjelasan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 Tentang Wilayah Negara.

21 Lihat Pasal 3 Undang-Undang Npmor 43 Tahun 2008 Tentang Wilayah Negara.

dengan salah satu pertimbangan yaitu pulau-pulau kecil terluar Indonesia memiliki nilai strategis sebagai titik dasar dari garis pangkal Kepulauan Indonesia dalam penetapan wilayah perairan di Indonesia, Zona Ekonomi Eksklusif

Indonesia, dan Landas Kontinen Indonesia 22 . Pengelolaan pulau-pulau kecil terluar dilakukan secara terpadu antara Pemerintah, dan Pemerintah Daerah.

Pengelolaan tersebut meliputi bidang-bidang 23 :

a. sumberdaya alam dan lingkungan hidup;

b. infrastruktur dan perhubungan;

c. pembinaan wilayah;

d. pertahanan dan keamanan;

e. ekonomi, sosial, dan budaya.

Kewenangan pemerintah dan pemerintah daerah dalam melakukan pengaturan pengelolaan dan pemanfaatan negara serta kawasan perbatasan 24 ,

dimana dalam pengelolaan dan pemanfaatan tersebut pemerintah berwenang: (1) menetapkan kebijakan pengelolaan dan pemanfaatan wilayah negara dan kawasan perbatasan; (2) mengadakan perundingan dengan negara lain mengenai penetapan batas wilayah negara sesuai dengan ketentuan tanda batas wilayah negara; (3) melakukan pendataan dan pemberian nama pulau dan kepulauan serta unsur geografis lainnya; (4) memberikan izin kepada penerbangan Internasional untuk melintasi wilayah udara teritorial pada jalur yang telah ditentukan dalam peraturan perundang-undangan; (5) melaksanakan pengawasan di zona tambahan yang diperlakukan untuk mencegah pelanggaran dan menghukum pelanggar peraturan perundang-undagan di bidang bea cukai, fiskal, imigrasi, atau saniter di dalam wilayah negara atau laut teritorial; (6) menetapkan wilayah udara yang dilarang dilintasi oleh penerbangan Internasional untuk pertahanan dan keamanan; (7) membuat dan memperbarui peta wilayah negara dan menyampaikannya kepada Dewan Perwakilan Rakyat sekurang-kurangya setiap 5 (lima) tahun sekali; dan (8)

22 Lihat Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Pulau-pulau Kecil dan Terluar.

23 Lihat Pasal 4 Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2005. 24 Lihat Pasal 9 Undang-Undang Npmor 43 Tahun 2008 Tentang Wilayah Negara.

menjaga keutuhan, kedaulatan dan keamanan wilayah negara serta kawasan perbatasan.

Adanya kewenangan yang diberikan kepada pemerintah dan pemerintah daerah tersebut memberikan juga kewajiban untuk menetapkan biaya pembangunan kawasan perbatasan, dan dalam rangka menjalankan kewenangannya, pemerintah dapat menugasi pemerintah daerah untuk menjalankan kewenanganya dalam rangka tugas pembantuan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Konvensi PBB tentang Hukum Laut Internasional tahun 1982 (UNCLOS ’82) pasal 121 mendefinisikan pulau (Inggris: island ) sebagai "daratan yang terbentuk secara alami dan dikelilingi oleh air, dan selalu di atas muka air pada

saat pasang naik tertinggi" 25 . Ada empat syarat suatu daerah dapat dikategorikan sebagai pulau yaitu : (1) memiliki lahan daratan; (2) terbentuk secara alami bukan

lahan reklamasi; (3) dikelilingi oleh air baik air laut maupun air tawar; dan (4) selalu berada diatas air pada saat pasang naik tertinggi 26 . Sedangkan pulau-pulau

kecil didefinisikan berdasarkan dua kriteria utama yaitu luasan pulau dan jumlah penduduk yang menghuninya. Definisi pulau-pulau kecil yang dianut secara nasional sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 41 Tahun 2000 Jo Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 67 Tahun 2002 adalah pulau yang berukuran kurang atau sama dengan 10.000 km 2, dengan jumlah penduduk kurang atau sama dengan 200.000 jiwa. Di samping kriteria utama tersebut, beberapa karakteristik pulau-pulau kecil adalah secara ekologis terpisah dari pulau induknya ( mainland island ), memiliki batas fisik yang jelas dan terpencil dari habitat pulau induk, sehingga bersifat insular; mempunyai sejumlah besar jenis endemik dan keanekaragaman yang tipikal dan bernilai tinggi; tidak mampu mempengaruhi hidroklimat; memiliki daerah tangkapan air

25 Lihat Konvensi PBB tentang Hukum Laut Internasional Tahun 1982 (UNCLOS 82). 26 Anonim,

Daerah disebut Pulau, http://brainly.co.id/tugas/2636233, diakses pada 22 Maret 2016.

Empat

Syarat

Agar

Sebuah

( catchment area ) relatif kecil sehingga sebagian besar aliran air permukaan dan sedimen masuk ke laut serta dari segi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat

pulau-pulau kecil bersifat khas dibandingkan dengan pulau induknya 27 . Indonesia menduduki peringkat kedua dengan jumlah pulau terbanyak

yaitu 17.504 pulau. Terdiri dari pulau besar, pulau-pulau kecil dan pulau-pulau terluar atau perbatasan. Jumlah pulau besar ada 5 (lima), 92

pulau-pulau terluar di Indonesia 28 , sedangkan mengenai data resmi terkait daftar pulau-pulau terkecil di Indonesia masih belum dapat diakses.

Mengingat sisi terluar dari wilayah negara Indonesia atau dikenal dengan kawasan perbatasan Indonesia merupakan kawasan strategis dalam menjaga integritas wilayah negara, maka diperlukan juga pengaturan secara khusus. Pengaturan batas-batas wilayah negara, dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum mengenai ruang lingkup wilayah negara, kewenangan pengelolaan sumberdaya di wilayah negara, dan hak-hak berdaulat. Negara berkepentingan untuk ikut mengatur pengelolaan dan pemanfaatan di laut bebas dan dasar laut Internasional sesuai dengan hukum Intenasional. Pemanfaatan di laut bebas dan di dasar laut meluputi pengelolaan kekayaan alam, perlindungan lingkungan laut dan keselamatan navigasi. Pengelolaan wilayah negara dilakukan dengan pendekatan kesejahteraan, keamanan dan kelestarian lingkungan secara bersama-sama. Pendekatan kesejahteraan dalam arti upaya-upaya pengelolaan wilayah negara hendaknya memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di kawasan perbatasan.

dan Strategi, http://www.bappenas.go.id/index.php/pencarian/?s=pulau-pulau&csrf_token=,diakses pada 22 Maret 2016.

27 Kementrian

PPN/Bappenas,

Kebijakan

28 Sudirman Saad, 2014, Laut Masa Depan Kita, Jakarta, hlm 1.

BAB 3 METODE PENELITIAN

3.1 Tipe Penelitian

Tipe penelitian yang digunakan dalam penulisan karya tulis ini adalah normatif yang dipaparkan secara deskriptif untuk menunjukkan suatu kajian yang dapat dikembangkan dan diterapkan lebih lanjut.

3.2 Objek Tulisan

Objek Penulisan dalam karya tulis illmiah ini adalah Pulau-pulau Kecil dan Terluar di Indonesia.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Data yang diperoleh melalui studi literatur yaitu cara yang dipakai untuk menghimpun data-data atau sumber sumber yang berhubungan dengan topik yang diangkat dalam suatu penelitan. Studi literatur didapatkan dari berbagai sumber, jurnal, buku dokumntasi, internet dan pustaka.

3.4 Analisis Data

Setelah dilakukan pengambilan data dan informasi, semua hasil diseleksi untuk mengambil data dan informasi yang relevan dengan masalah yang dikaji. Kemudian dianalisis dan dievaluasi untuk menemukan hasil dan gambaran yang diharapkan.

BAB 4 PEMBAHASAN

4.1 Kondisi Perairan Laut di Indonesia Saat ini

Indonesia memiliki luas laut 7.900.000 km2, empat kali dari luas daratannya. Wilayah ini meliputi laut Teritorial, Laut Nusantara, dan Zone Ekonomi Ekslusif 29 .

Melalui Deklarasi Djuanda tanggal 13 Desember 1957 sebagaimana juga telah di singgung di atas, maka dilahirkan Wawasan Nusantara yaitu cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan bentuk geografinya berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD NRI Tahun 1945). Dalam deklarasi ini ditentukan bahwa batas perairan wilayah Indonesia adalah 12 mil laut dari garis dasar pantai sampai titik terluar. Garis dasar pantai adalah garis pantai rata-rata pada keadaan pasang surut.

Berbanding terbalik kiranya, negara kita dengan beberapa negara maju seperti Inggris dan Amerika yang sedari awal telah memanfaatkan wilayah perairannya, padahal dalam wilayah laut pedalaman terkandung banyak sumber daya alam. Beberapa negara maju telah melakukan pengeboran minyak di wilayah lepas pantai, sementara kita masih bergantung pada pengelolaan asing, yang jelas lebih banyak kekayaan laut kita itu dikirim ke luar negeri saja.

Terakhir, aspek yang penting juga diperhatikan dengan semakin maraknya industri di Indonesia jelas menimbulkan dampak buruk bagi keselamatan laut kita yakni pencemaran laut. Laut biasanya menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Karena kadar karbondioksida atmosfer meningkat, lautan menjadi lebih asam.

4.1.1 Kondisi Pulau-Pulau Terluar

29 Desember2005 Presiden Republik IndonesiaSusilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2005. Di Peraturan Presiden

29 Helena Rihm, 2013, Luas Laut di Indonesia, Jurnal sosial-ekonomi, At Available https://www.coursehero.com/file/8584620/uraian-bantuan-berpola-hibah-sosial-ekonomi/,

diakses pada 16 Maret 2016.

tersebut ditegaskan bahwa ada sebanyak 92 pulau terluar di wilayah Indonesia berbatasan langsung dengan negara tetangga di antaranya: Malaysia (22), Vietnam (2), Filipina (11), Palau (7), Australia (23), Timor Leste (10), India (13), Singapura (4) dan Papua Nugini (1). Ke-92 pulau tersebut tersebar di 18 provinsi Indonesia yaitu Nanggroe Aceh Darussalam (6), Sumatera Utara (3), Kepulauan Riau (20), Sumatera Barat (2), Bengkulu (2), Lampung (1), Banten (1), Jawa Barat (1), Jawa Tengah (1), Jawa Timur (3), Nusa Tenggara Barat (1), Nusa Tenggara Timur (5), Kalimantan Timur (4), Sulawesi Tengah (3), Sulawesi Utara (11), Maluku Utara (1), Maluku (18), Papua (6) dan Papua Barat (3). Masih hangat diingatan kita, kasus Sipadan dan Ligitan berhasil diklaim dan menjadi milik Malaysia. Karena Malaysia lebih dominan melakukan eksplorasi, dan pemanfaatat terhadap pulau tersebut. Padahal dalam demografi, atau peta yang dimiliki di zaman Hindia Belanda, pulau Sipadan dan Ligitan adalah bagaian dari area milik Hindia Belanda. Artinya wilayah Sipadan dan Ligitan dari bukti otentik sudah merupakan wilayah Indonesia. Belum adanya kesepakatan tentang batas maritim antara Indonesia dengan Filipina di Perairan Utara dan Selatan Pulau Miangas, juga menjadi salah satu isu yang harus dicermati. Forum RI-Filipina yakni Joint Border Committee (JBC) dan Joint Commission for Bilateral Cooperation (JCBC) yang memiliki agenda sidang secara berkala, dapat dioptimalkan menjembatani permasalahan perbatasan kedua negara secara bilateral. Hasil pendataan Departemen Dalam Negeri, dari 17.504 pulau di seluruh wilayah NKRI baru 7.870 pulau yang telah

memiliki nama. Sebanyak 9.634 atau 55 % belum bernama 30 . Mencermati kondisi nyata yang ada di lapangan, dalam rangka inventarisasi pulau-pulau dan

menyatakan eksistensi kedaulatan Republik Indonesia di pulau-pulau tersebut perlu ditempuh upaya pemberian nama pulau mengacu pada Standardization of Geographical Name ” wilayah pulau-pulau tersebut dibangun pos pengamanan, infrastruktur, tanda batas, komunikasi dan fasilitas umum lainnya yang dibutuhkan

Jurnal Hukum, At Availablehttp://www.negarahukum.com/hukum/masalah-pulau-pulau-terluar-kondisi-dan-perair an-kita.html, diakses pada 17 Maret 2016.

Di Indonesia, Di Indonesia,

Terluar. Adapun tujuan dari pengelolaan pulau-pulau kecil terluar tertuang dalam Pasal 2 yaitu (1) menjaga keutuhan wilayah Negera Kesatuan Republik Indonesia, keamanan nasional, pertahanan negara dan bangsa serta menciptakan stabilitas kawasan. (2) memanfaatkan sumber daya alam dalam rangka pembangunan yang berkelanjutan dan, (3) memberdayakan masyarakat dalam rangka peningkatan kesejahteraan.

PERBATASAN LAUT

Sumber : Dinas Pembangunan Hukum Angkatan Laut 1988 -1999 Microsoft and/or supplier. Allright Reserved

Gambar diatas adalah gambar batas wilayah laut Indonesia yang berbatasan dengan beberapa negara tetangga. Dimana pada wilayah perbatasan tersebut banyak sekali potensi sumber daya alam, namun secara geografis juga berpengaruh pada kehidupan ekonomi, kependudukan, ideologi, politik, sosial, keamanan negara. Yang akibat dari rentan kendali ataupun ketidakpedulian pemerintah terhadap wilayah perbatasan tersebut muncul berbagai permasalahan krusial yang sering terjadi. Seperti misalnya saja Indonesia baru saja kehilangan 2 pulau yaitu Sipadan dan Ligitan hanya karena masalah administrasi belaka. Kemudian yang pernah heboh di berbagai media yaitu Karang Unarang. Belum lagi kasus Pulau Nipah, Pulau Marore, Pulau Miangas, dan Pulau Marampit serta Pulau Fanildo, Brass, dan

31 Ibid.

Fanni yang juga masih bergejolak. Semua ini terjadi karena tidak ada perhatian dari pemerintah terhadap pulau-pulau tersebut.

P. NIPAH

KONDISI : • MEMILIKI MENARA SUAR • BERBATASAN DENGAN SINGAPURA

• TIDAK BERPENDUDUK & NYARIS TENGGELAM

Sumber : Dinas Pembangunan Hukum Angkatan Laut 1988 -1999 Microsoft and/or supplier. Allright Reserved

Gambar diatas adalah Pulau Nipah yang berbatasan dengan Singapura, dimana keadaaannya tidak berpenduduk dan nyaris tenggelam. Pulau ini dulu memiliki daratan yang luas namun akibat proyek reklamasi yang di lakukan oleh Negara Singapura yang menyebabkan luas daratan Singapura bertambah sebanyak 12 km sehingga pulau ini terancam akan hilang.

P. MARORE, MIANGAS & MARAMPIT

KONDISI : • BERPENDUDUK (BERINTERAKSI DENGAN

PENDUDUK PHILIPINA) • ADA MENARA SUAR (KECUALI P. MARAMPIT) • BERBATASAN DENGAN PHILIPINA

Sumber : Dinas Pembangunan Hukum Angkatan Laut 1988 -1999 Microsoft and/or supplier. Allright Reserved

Kemudian Pulau Marore, Miangas dan Marampit, dimana masyarakat lebih berinteraksi dengan penduduk Philipina. Karena tidak adanya perhatian negara.

4.1.2 Kondisi Pulau Pulau Kecil

Kondisi saat ini pihak swasta yang tidak seharusnya dapat memiliki pulau kenyataannya 60 pulau di Kepulauan Seribu telah dimiliki oleh pihak swasta 32 .

Selain data dari judicial review Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007. Selain pemilikan pulau oleh swasta, pengelolaan sumber daya alam di pulau-pulau kecil pun menjadi masalah, antara lain:

(1). Belum Jelasnya Definisi Operasional Pulau-pulau Kecil

Definisi pulau-pulau kecil di Indonesia saat ini masih mengacu pada definisi internasional yang pendekatannya pada negara benua, sehingga apabila diterapkan di Indonesia yang notabene merupakan negara kepulauan menjadi tidak efisien karena pulau-pulau di Indonesia luasannya sangat kecil bila dibandingkan dengan pulau-pulau yang berada di negara benua. Hal ini menjadi permasalahan tersendiri bagi pembangunan pulau-pulau kecil di Indonesia. Apabila mengikuti definisi yang ada, maka pilihan kegiatan-kegiatan yang boleh dilakukan di kawasan pulau-pulau kecil sangat terbatas, yang tentu saja akan mengakibatkan pengelolaan pulau-pulau kecil di Indonesia menjadi lambat.

(2). Kurangnya Data dan Informasi tentang Pulau-pulau Kecil

Data dan Informasi tentang pulau-pulau kecil di Indonesia masih sangat terbatas, yang bisa diakses hanya data pulau terluar sedangkan data pulau-pulau kecil tidak ada transparansi mengenai datanya. Sebagai contoh, pulau-pulau kecil di Indonesia masih banyak yang belum bernama dari 17.504 baru 7.870 yang

bernama 33 , hal ini menjadi masalah tersendiri dalam kegiatan identifikasi dan inventarisasi pulau-pulau kecil. Lebih jauh lagi akan menghambat pada proses

perencanaan dan pembangunan pulau-pulau kecil di Indonesia. Permasalahan lain dalam pembangunan kelautan dan perikanan di Indonesia adalah belum jelasnya jumlah pulau dan panjang garis pantai, yang sangat berpengaruh dalam

32 Poskota News, Ahok: 60 Pulau di Kepulauan Seribu Milik Swasta. Ini Gila, http://poskotanews.com/2015/04/08/ahok-60-pulau-di-kepulauan-seribu-milik-swasta-ini-gila/,

diakses pada 17 Maret 2016. 33 Ibid.

perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan sektor kelautan dan perikanan.

(3). Kurangnya Keberpihakan Pemerintah terhadap Pengelolaan Pulau-pulau Kecil

Orientasi pembangunan pada masa lalu lebih difokuskan pada wilayah daratan ( mainland ) dan belum diarahkan ke wilayah laut dan pulau-pulau kecil meski telah terdapat Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, namun masih rendahnya kesadaran, komitmen dan political will dari pemerintah dalam mengelola pulau-pulau kecil inilah yang menjadi hambatan utama dalam pengelolaan potensi pulau-pulau kecil. Sementara potensi kekayaan pulau-pulau kecil mencapai US$ 60.578.651.400/tahun yang bersumber dari sektor perikanan, wisata bahari, minyak bumi dan transportasi laut. Semestinya seluruh warga kepulauan saat ini

sudah memiliki tingkat kesejahteraan yang tinggi 34 .

(4). Pertahanan dan Keamanan

Pulau kecil di perbatasan masih menyisakan permasalahan di bidang pertahanan dan keamanan. Hal ini disebabkan antara lain oleh belum terselesaikannya permasalahan penetapan sebagian perbatasan maritim dengan negara tetangga, banyaknya pulau-pulau perbatasan yang tidak berpenghuni dari

92 pulau terluar hanya 12 yang berpenghuni 35 , sangat terbatasnya sarana dan prasarana fisik serta rendahnya kesejahteraan masyarakat lokal. Kondisi tersebut

menimbulkan kekhawatiran adanya okupasi negara lain dan memicu berkembangnya permasalahan yang sangat kompleks, tidak saja berkaitan dengan bagaimana upaya memeratakan hasil pembangunan, tetapi juga aspek pertahanan keamanan dan ancaman terhadap keutuhan NKRI.

34 Andi Chairil Ichsan , 2015, terbengkalainya pulau pulau kecil di Indonesia, Artikel, At Available http://fwi.or.id/publikasi/nasib-pulau-pulau-kecil-di-tanah-air/, diakses pada 17 Maret

2016. 35 Alamendah, 2010, Jumlah Pulau terluar di Indonesia dan berapa yang sudah

bernama,

At Availablehttp://alamendah.org/2010/04/21/daftar-pulau-terluar-indonesia/, diakses pada 17 Maret 2016.

makalah,

(5). Disparitas Perkembangan Sosial Ekonomi

Letak dan posisi geografis pulau-pulau kecil yang sedemikian rupa menyebabkan timbulnya disparitas perkembangan sosial ekonomi dan persebaran penduduk antara pulau-pulau besar yang menjadi pusat pertumbuhan wilayah dengan pulau-pulau kecil di sekitarnya.

(6). Terbatasnya Sarana dan Prasarana Dasar

Pulau-pulau kecil sulit dijangkau oleh akses perhubungan karena letaknya yang terisolir dan jauh dari pulau induk. Terbatasnya sarana dan prasarana seperti jalan, pelabuhan, sekolah, rumah sakit, pasar, listrik, media informasi dan komunikasi menyebabkan tingkat pendidikan (kualitas sumber daya manusia), tingkat kesehatan, tingkat kesejahteraan dan pendapatan masyarakat pulau-pulau kecil rendah. Aksebilitas keterjangkauan antar pulau pun masih terhambat, hal ini diakibatkan kurangnya transportasi yang menghubugkan antar pulau. Padahal terdapat 270 kapal penyeberangan yang dimiliki, terlebih hal ini sebagai

implementasi dari tol laut program pemerintah 36 .

(7). Konflik Kepentingan

Pengelolaan pulau-pulau kecil akan berdampak pada lingkungan, baik positif maupun negatif sehingga harus diupayakan agar dampak negatif dapat diminimalkan dengan mengikuti pedoman-pedoman dan peraturan-peraturan yang dibuat. Di samping itu, pengelolaan pulau-pulau kecil dapat menimbulkan konflik budaya melalui industri wisata yang cenderung bertentangan dengan kebudayaan lokal; dan menyebabkan terbatasnya atau tidak adanya akses masyarakat terutama pulau-pulau kecil yang telah dikelola oleh investor. Selain itu juga terjadi pertentangan antara masyarakat adat dengan pemerintah terkait pengelolaan pulau- pulau kecil.

(8). Degradasi Lingkungan Hidup

Pemanfaatan sumber daya yang berlebih dan tidak ramah lingkungan yang disebabkan oleh lemahnya penegakan hukum, belum adanya kebijakan yang

36 Bambang Priharto, 2015, Pengembangan Tol Laut Dalam RPJMN 2015-2019 Dan Implementasi 2015, Badan Perencana Pembangunan Nasional, Hlm 76.

terintegrasi lintas sektor di pusat dan daerah serta rendahnya kesejahteraan masyarakat telah berdampak pada meningkatnya kerusakan lingkungan hidup. Diperkirakan diantara tahun 1990-2100 akan terjadi kenaikan rata-rata suhu global sekitar 1,4 sampai 5,8 derajat celsius. Akibatnya akan terjadi kenaikan rata-rata

permukaan air laut disebabkan mencairnya gunung-gunung es di kutub 37 . Banyak kawasan di dunia akan terendam air laut. Akan terjadi perubahan iklim global.

Hujan dan banjir akan meningkat. Wabah beberapa penyakit akan meningkat pula. Produksi tumbuhan pangan pun terganggu. Pendek kata akan terjadi pengaruh besar bagi keberlangsungan hidup manusia. Para peneliti dan ilmuwan yang bergerak di bidang lingkungan sudah sangat ngeri membayangkan bencana besar yang akan melanda umat manusia. Yang jadi masalah, kesadaran akan permasalahan lingkungan ini belum merata di tengah umat manusia. Ini akan lebih jelas lagi kalau melihat tingkat kesadaran masyakat di negara berkembang. Jangankan masyarakat umum, di kalangan pemimpin pun kesadaran masalah lingkungan ini masih belum merata.

37 Muthiah humairah, Kerusakan Lingkungan hidup di laut, Artikel, At Availablehttps://humairahworld.wordpress.com/2011/02/12/isu-lingkungan/, diakses pada 8 Maret 2016.

4.2 Rekonseptualisasi Sistem Kemaritiman Melalui Program Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil Dan Terluar

Konsep pengelolaan sumber daya alam di bidang kemaritiman dalam hal ini pengelolaan pulau-pulau terluar dan terkecil dibutuhkan demi memaksimalkan pemanfaatan sumber daya laut. Solusi dari berbagai aspek dibutuhkan demi tewujudnya tujuan untuk mensejahterakan masyarakat dengan jumlah pulau yang sangat banyak ini.

1. Pengadaan peta tunggal mengenai pulau-pulau kecil dan terluar di Indonesia

Data mengenai pulau-pulau di Indonesia belum lengkap bahkan sebagian besar pulau-pulau kecil belum mempunyai nama. Hal ini akan menjadi penghambat kelancaran perencanaan pembangunan dan berbagai permasalahan lainnya. Pemerintah perlu mengadakan inventarisasi pulau-pulau yang berada di wilayah perairan Indonesia. Pelaksanaan inventarisasi pulau memang tidak mudah, tentu saja membutuhkan waktu yang lama dan dana besar yang harus dikeluarkan oleh pemerintah. Hal ini menjadi investasi demi kesejahteraan bangsa Indonesia melalui sumber daya laut kedepannya. Proses inventarisasi pulau harus dilaksanakan dengan transparan serta melibatkan elemen masyarakat. Hasil dari proses inventarisasi nantinya akan menjadi peta tunggal yang dapat menjadi acuan untuk sumber data. Peta tunggal ini kemudian akan digunakan untuk perencanaan pembangunan di Indonesia. Peta tunggal juga akan dipublikasikan demi asas good governance yang dapat diakses oleh masyarakat agar menaruh kepercayaan kepada pemerintah. Mengenai peta tunggal juga akan dilengkapi dengan informasi lainnya, seperti potensi sumber daya alam dan karakteristik setiap pulau. Peta tunggal juga menjadi pusat informasi pemetaan sumber daya alam terkhususnya sumber daya laut di Indonesia. Hal ini akan membuat Indonesia benar-benar merdeka dalam bidang sumber daya alam. Jumlah hasil sumber daya laut yang telah dioptimalkan dan berasal dari 17.504 pulau tentu saja Data mengenai pulau-pulau di Indonesia belum lengkap bahkan sebagian besar pulau-pulau kecil belum mempunyai nama. Hal ini akan menjadi penghambat kelancaran perencanaan pembangunan dan berbagai permasalahan lainnya. Pemerintah perlu mengadakan inventarisasi pulau-pulau yang berada di wilayah perairan Indonesia. Pelaksanaan inventarisasi pulau memang tidak mudah, tentu saja membutuhkan waktu yang lama dan dana besar yang harus dikeluarkan oleh pemerintah. Hal ini menjadi investasi demi kesejahteraan bangsa Indonesia melalui sumber daya laut kedepannya. Proses inventarisasi pulau harus dilaksanakan dengan transparan serta melibatkan elemen masyarakat. Hasil dari proses inventarisasi nantinya akan menjadi peta tunggal yang dapat menjadi acuan untuk sumber data. Peta tunggal ini kemudian akan digunakan untuk perencanaan pembangunan di Indonesia. Peta tunggal juga akan dipublikasikan demi asas good governance yang dapat diakses oleh masyarakat agar menaruh kepercayaan kepada pemerintah. Mengenai peta tunggal juga akan dilengkapi dengan informasi lainnya, seperti potensi sumber daya alam dan karakteristik setiap pulau. Peta tunggal juga menjadi pusat informasi pemetaan sumber daya alam terkhususnya sumber daya laut di Indonesia. Hal ini akan membuat Indonesia benar-benar merdeka dalam bidang sumber daya alam. Jumlah hasil sumber daya laut yang telah dioptimalkan dan berasal dari 17.504 pulau tentu saja

2. Pemanfaatan pulau kecil terluar di Indonesia sebagai benteng pertahanan keamanan

Di Indonesia sudah ada Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas), tetapi Satgas Pamntas hanya menduduki 12 pulau terluar dari 92

pulau terluar yang ada di Indonesia 38 . Hal ini berarti masih ada 80 pulau terluar di Indonesia yang tidak diduduki oleh TNI.

Semua pulau terluar di Indonesia harus diduduki oleh TNI dan didirkan monument hal ini sebagai salah satu bentuk active occupation 39 yang dapat meminimalisir diklaimnya Pulau Indonesia oleh negara lain. Hal ini juga disarankan oleh Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Moeldoko yang mengusulkan kepada Presiden Joko Widodo untuk menunjukkan eksistensi dan kedaulatan negara terhadap puluhan pulau terluar Indonesia

yang saat ini berbatasan dengan negara lain 40 .


Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

85 2227 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 575 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

30 494 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

12 319 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 440 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 708 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 623 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

11 397 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 579 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

27 707 23