PENGGUNAAN BAHAN AJAR LEAFLET DENGAN MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK SISTEM GERAK MANUSIA (Studi Quasi Eksperimen pada Siswa Kelas XI IPA1 SMA Negeri 1 Bukit Kemuning Semester Ganjil T

Padilah Fitriana Sari

ABSTRAK

PENGGUNAAN BAHAN AJAR LEAFLET DENGAN MODEL
PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP
AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA
MATERI POKOK SISTEM GERAK MANUSIA
(Studi Quasi Eksperimen pada Siswa Kelas XI IPA1 SMA Negeri 1 Bukit
Kemuning Semester Ganjil TP 2012/2013)

Oleh
PADILAH FITRIANA SARI

Hasil observasi kelas XI IPA SMA Negeri 1 Bukit Kemuning diketahui bahwa
pada kelas XI IPA semester ganjil tahun pelajaran 2011/2012 menunjukkan nilai
rata-rata penguasaan materi pokok pokok sistem gerak manusia masih rendah
terlihat dari rata-rata nilai siswa yakni 60,83 di bawah nilai ketuntasan belajar
65,0. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penggunaan bahan ajar
leaflet dengan model TPS terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi
pokok Sistem Gerak. Penelitian ini merupakan quasi eksperimen dengan desain
penelitian one group pretest posttest design. Sampel penelitian yaitu siswa kelas
XI IPA1 SMA Negeri 1 Bukit Kemuning.
Data penelitian ini berupa data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif
diperoleh dari nilai pretes dan postes, dianalisis secara statistik menggunakan uji-t
pada taraf kepercayaan 95% melalui bantuan program SPSS 17. Data kualitatif

ii

Padilah Fitriana Sari

berupa data aktivitas dan angket tanggapan siswa terhadap kemenarikan model
pembelajaran TPS, dianalisis secara deskriptif dalam bentuk presentase.
Hasil penelitian menunjukan terjadi peningkatan rata-rata antara nilai pretest dan
posttest, yaitu nilai rata-rata pretest sebesar 53,29 sedangkan nilai rata-rata
posttest sebesar 71,73. Aspek kognitif aplikasi (C3) memiliki nilai rata-rata lebih
tinggi dibandingkan aspek analisis (C4) yang hanya memiliki rata-rata sebesar
1,26. Selain itu juga terlihat bahwa rata-rata aktivitas siswa pada pertemuan
ketiga mengalami peningkatan sebanyak 5,88% dibandingkan dengan rata-rata
aktivitas siswa pada pertemuan pertama. Selain itu berdasarkan data angket
kemenarikan bahan ajar leaflet, seluruh siswa menyatakan bahwa bahan ajar
leaflet menarik (96,32%).
Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menggunakan
bahan ajar leaflet berpengaruh terhadap aktivitas belajar dan hasil belajar siswa
kelas XI IPA1 SMA Negeri 1 Bukit Kemuning materi pokok Sistem Gerak.

Kata kunci : Leaflet, Bahan Ajar, TPS, Aktivitas belajar, Hasil Belajar, Sistem
Gerak.

iii

PENGGUNAAN BAHAN AJAR LEAFLET DENGAN MODEL
PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP
AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA
MATERI POKOK SISTEM GERAK MANUSIA
(Studi Quasi Eksperimen pada Siswa Kelas XI IPA1 SMAN 1 Bukit
Kemuning Semester Ganjil TP 2012/2013)

(Skripsi)

Oleh
PADILAH FITRIANA SARI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2013

Judul Skripsi

: PENGGUNAAN BAHAN AJAR LEAFLET
DENGAN MODELPEMBELAJARAN
THINK PAIR SHARE ( (TPS) TERHADAP
AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR
SISWAPADA MATERI POKOK SISTEM
GERAK MANUSIA (Studi Quasi Eksperimen
pada Siswa Kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1
Bukit Kemuning Semester Ganjil Tahun
Pelajaran 2012/2013)

Nama Mahasiswa

: PADILAH FITRIANA SARI

Nomor Pokok Mahasiswa

: 0743024042

Program Studi

: Pendidikan Biologi

Jurusan

: Pendidikan MIPA

Fakultas

: Keguruan dan Ilmu Pendidikan

MENYETUJUI,
1.Komisi Pembimbing

Drs. Darlen Sikumbang, M.Biomed.
NIP 19571107 198603 1002

Rini Rita T Marpaung, S.Pd. M.Pd.
NIP 19770715 200604 2001

2. Ketua Jurusan Pendidikan MIPA

Dr. Caswita M.Si.
NIP 19671004 199303 1 004

v

MOTTO
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila
kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh
(urusan) yang lain”
( Q.S Al-Insyirah : 5-7 )
Ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka, namun terkadang kita melihat
dan menyesali pintu tertutup tersebut terlalu lama hingga kita tidak melihat
pintu lain yang telah terbuka.
( Alexander Graham Bell )

Lege, lege, relege, ora, labora et Eviense
( Baca, baca, baca lagi, berdoa, bekerja, dan engkau akan menemukan hasilnya.)

(Leonardo da Vinci)
Trying, pray, believe, be patient, and you will see the results
( Padilah Fitriana Sari)

viii

PERNYATAAN SKRIPSI MAHASISWA

Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama

: Padilah Fitriana Sari

NPM

: 0743024042

Program studi

: Pendidikan Biologi

Jurusan

:Pendidikan MIPA

Dengan ini menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang telah
diajukan memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi dan
sepengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis
atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah
ini dan disebut dalam daftar pustaka.

Bandarlampung,

Maret 2013

Yang Menyatakan

Padilah Fitriana Sari
NPM. 0743024042

Dengan menyebut nama Allah yang Maha pengasih lagi Maha penyayang

PERSEMBAHAN
Alhamdulillahi robbil ‘alamin, segala puji untuk Mu ya Rabb atas segala
kemudahan, limpahan rahmad dan karunia yang Engkau berikan selama ini.
Teriring doa, rasa syukur dan segala kerendahan hati.
Dengan segala cinta dan kasih sayang kupersembahkan karya sederhana ini
untuk orang-orang yang akan selalu berharga dalam hidupku:
 Papa Syamsul Arifin, S.Pd. dan Mama Marhana, S.Pd. yang sangat aku
cintai, yang telah lama menantikan keberhasilanku. Terima kasih atas
cinta dan kasih sayang serta doa yang tulus untuk keberhasilan ananda.
Semoga Allah SWT memberikan waktu kepada ananda untuk bisa selalu
membahagiakan kalian
 Adik-adikku tersayang Ihsan Kurniawan dan Wulanda arif , terima
kasih atas doa, semangat, cinta dan kasih sayang kalian
 Para pendidikku yang telah senantiasa mencurahkan ilmunya yang
sangat berguna bagiku
 Insan pilihan Allah SWT yang kelak akan menjadi imamku
Almamaterku tercinta Universitas Lampung....

ix

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bukit Kemuning pada tanggal 28 Oktober
1989, yang merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan
Bapak Syamsul Arifin, S.Pd., dan Ibu Marhana, S.Pd.

Penulis mengawali pendidikan formal di TK Dharma Wanita Bukit Kemuning.
Kemudian dilanjutkan pendidikan formal di SD Negeri 3 Bukit Kemuning
diselesaikan tahun 2001, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Negeri 1
Bukit Kemuning diselesaikan tahun 2004, Sekolah Menengah Atas (SMA)
Negeri 3 Kotabumi diselesaikan tahun 2007. Pada tahun 2007 penulis terdaftar
sebagai mahasiswi Jurusan Pendidikan MIPA Program Studi Pendidikan Biologi,
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung.
Selama menjadi mahasiswa, penulis pernah melaksanakan Program Pengalaman
Lapangan (PPL) di SMA Wijaya Bandar Lampung pada tahun 2011 dan
melakukan penelitian di SMA Negeri 1 Bukit Kemuning pada tahun 2012 untuk
meraih gelar sarjana pendidikan (S.Pd.).

vii

SANWACANA

Puji syukur pada Allah SWT, atas segala nikmat dan kehendak-Nya sehingga
skripsi ini dapat diselesaikan sebagai salah satu syarat dalam meraih gelar Sarjana
Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan MIPA,
FKIP Unila. Skripsi ini berjudul “Penggunaan Bahan Ajar Leaflet dengan Model
Pembelajaran Think Pair Share (TPS) Terhadap Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa
Pada Materi Pokok Sistem Gerak” (Studi Quasi Eksperimen pada Siswa Kelas XI
SMA Negeri 1 Bukit Kemuning Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2012/2013).

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari peranan
dan bantuan berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr. H. Bujang Rahman, M.Si., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung;
2. Dr. Caswita, M.Si., selaku Ketua Jurusan PMIPA FKIP Universitas Lampung;
3. Pramudiyanti, S.Pi., M.Si., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Biologi;
4. Drs. Darlen Sikumbang, M.Biomed., selaku Pembimbing Akademik sekaligus
Pembimbing I atas kesabaran, arahan dan waktu yang diluangkan untuk
membimbing penulis dalam penyusunan skripsi ini;
5. Rini Rita T Marpaung, S.Pd., M.Pd., selaku pembimbing II atas kesabaran,
bimbingan, arahan, dan masukannya kepada penulis;
6. Drs. Arwin Achmad, M.Si., selaku pembahas atas saran - saran perbaikan
serta arahan untuk membantu penulis dalam menyusun skripsi ini;

x

7. Seluruh dosen dan staf di Jurusan PMIPA FKIP Unila;
8. Dra. Sri Mastini selaku Kepala SMA Negeri 1 Bukit Kemuning dan
Tonifatul Hikmah, S.Pd selaku guru mitra yang telah memberikan izin
dan bantuan selama penelitian berlangsung serta siswa-siswi kelas XI
IPA 1 atas keceriaan dan kerjasamanya selama penelitian;
9. Teristimewa untuk Mama, Papa, dan adik-adikku atas kasih sayang, doa,
nasehat,motivasi serta dukungan yang telah diberikan;
10. Sahabat-sahabatku “QRAP QREW” tersayang Yulisa Wulandari, S.Pd.,
Melda Ariyanti, S.Pd., Martha Eka P, S.Pd., Fitriadi, S.Pd., Aditya Prayoga
S.Pd., Achmad FauziS.Pd., I Gusti Putu H, dan Feri Ardianto, sahabatsahabatku “PASELIN” tersayang Selvi Haryani, Amd.AK., dan Nina Eka
Putri Y, Amd., serta adik kecilku Yunita Elva Rizki, S.Pd., kakak-kakakku,
Bung Dedi Saputra, S.Pd., dan Uda Alvin Wijaya, S.H terima kasih atas
kebersamaan dan canda tawa kita selama ini serta dukungan disaat penulis
terpuruk. Semoga tali persaudaraan ini tetap terjaga selamanya;
11. Rekan-rekanku di BEDUC’07, kakak tingkatku angkatan 2005, 2006 serta
adik tingkatku angkatan 2008 yang tak dapat disebutkan satu persatu,
untuk motivasinya, semoga tali persaudaraan diantara kita tetap berlanjut;
12. Tedi Romansa, SE., terima kasih atas dukungan motivasi dan doanya;
13. Semua pihak yang membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini;
Semoga skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua; Amin.
Bandar Lampung,
Penulis

Padilah Fitriana Sari

xi

2013

1

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan ialah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala
lingkungan dan sepanjang hidup serta pendidikan dapat diartikan sebagai
pengajaran yang diselenggarakan di sekolah sebagai lembaga pendidikan
formal (Mudyahardjo, 2006:6). Hal ini senada dengan yang diungkapkan
oleh Syah (2003:10) bahwa pendidikan diartikan sebagai sebuah proses
dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan,
pemahaman dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan.
Dengan kata lain, pendidikan dapat dilakukan secara formal dengan
menggunakan metode-metode tertentu sehingga setiap orang dapat
memperoleh pengetahuan, pemahaman dan cara bertingkah laku sesuai
dengan kebutuhan.

Menurut Badan Nasional Pendidikan (BNSP), mata pelajaran Biologi
termasuk dalam salah satu cabang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang
umumnya memiliki peran penting dalam peningkatan mutu pendidikan.
Melihat pentingnya Ilmu Biologi dan peranannya tersebut, maka peningkatan
mutu pendidikan harus selalu diupayakan. Jadi, guru bertanggung jawab atas
tercapainya hasil belajar peserta didik. Menurut Sanjaya (2008:129) guru

2

dalam merancang persiapan mengajar perlu menyusun strategi pembelajaran
yang dirancang secara seksama, salah satunya sesuai dengan tujuan
pembelajaran untuk mencapai hasil belajar siswa yang optimal.
Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk ilmu
biologi membawa dampak pemilihan materi, metode dan media pembelajaran
sehingga sistem pembelajaran yang tepat agar dapat meningkatkan
pengetahuan peserta didik serta dapat bersaing dalam menanggapi
perkembangan sains tersebut. Dewasa ini pembelajaran sains masih
didominasi dengan metode ceramah dan kegiatan lebih berpusat pada guru.
Efektifitas peserta didik dapat dikatakan mendengarkan penjelasan guru dan
mencatat hal-hal yang dianggap penting. Guru menjelaskan sains hanya
sebatas produk dan sedikit proses. Salah satu penyebab yang menjadikan
alasan adalah padatnya materi yang harus dibahas dan diselesaikan
berdasarkan kurikilum berlaku (Anonim a), 2010:3).

Saat ini, perhatian pemerintah terhadap masalah pendidikan masih terasa
rendah. Gambaran ini tercermin dari beragamnya masalah pendidikan yang
terjadi. Hasil belajar siswa masih rendah, pengajar kurang profesional, dan
biaya pendidikan yang mahal (Muliani, 2009:1). Dampak dari pendidikan
yang buruk itu, pendidikan di negara ini kedepannya makin terpuruk dan
belum bisa bersaing dengan negara- negara berkembang lainnya. Dalam
pendidikan di sekolah, masalah yang sering dihadapi adalah dari segi proses
pembelajaran. Berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak
tergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai

3

siswa. Guru dituntut mampu meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah
terutama mengenai penguasaan materi pembelajaran siswa sesuai dengan
bidang studi yang diajarkan. Harapan yang tidak pernah sirna dan selalu guru
tuntut adalah bagaimana bahan pelajaran yang disampaikan guru dapat
dikuasai oleh siswa secara tuntas (Djamarah dan Zain, 2006:1).

Hasil observasi pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bukit Kemuning
menunjukkan bahwa penguasaan materi oleh siswa masih rendah. Hal ini
dapat terlihat dari prestasi belajar siswa yang rendah dibuktikan dengan ratarata nilai siswa pada mata pelajaran biologi materi pokok sistem gerak
manusia 60,83 di bawah nilai ketuntasan belajar 65,0. Hal ini mungkin
karena model pembelajaran yang digunakan guru masih terpaku pada proses
pembelajaran langsung yaitu guru menjelaskan materi pelajaran dan siswa
mendengarkan. Selain itu, rendahnya minat baca siswa terhadap buku teks
biologi yang diketahui dari data hasil wawancara. Hal ini didukung dengan
fakta bahwa siswa memiliki satu buku pegangan berupa LKS dan hanya
beberapa orang siswa yang mempunyai buku teks sebagai sumber belajarnya.
Selain itu buku teks biologi yang tersedia di perpustakaan sekolah hanya
terdapat satu sumber buku saja dan itupun masih jarang digunakan dengan
berbagai alasan. Untuk itu perlu adanya terobosan baru dalam
memvariasikan bahan ajar yang menarik sebagai salah satu alternatif sumber
belajar yang menjadi acuan siswa, dengan harapan dapat meningkatkan minat
baca siswa yang terlihat dari kemauan untuk membaca sumber-sumber belajar
dan akhirnya berdampak pada meningkatnya prestasi belajar siswa.

4

Berdasarkan permasalahan tersebut, salah satu upaya yang dapat dilakukan
untuk meningkatkan minat baca dan prestasi belajar siswa adalah dengan
penggunaan bahan ajar bentuk leaflet. Hasil penelitian Aini (2010 : 54)
menyimpulkan bahwa pembelajaran menggunakan bahan ajar leaflet
memiliki pengaruh terhadap peningkatan prestasi belajar pada materi pokok
Ekosistem yaitu sebesar 15,74.

Leaflet adalah salah satu bentuk bahan ajar cetak yang berisikan rangkuman
materi pelajaran yang diambil dari berbagai sumber. Sumber belajar
merupakan rangkuman materi baik buku maupun internet yang dijadikan satu
dalam bentuk leaflet ini, dengan dilengkapi gambar-gambar serta
menggunakan bahasa yang mudah dipahami.

Penggunaan bahan ajar leaflet ini dikombinasikan dengan suatu model
pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Arends (dalam
Trianto, 2009:81) menyatakan bahwa TPS merupakan suatu cara yang efektif
untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. TPS adalah salah satu tipe
model pembelajaran kooperatif yang pada pelaksanaannya mengutamakan
siswa dalam berbuat untuk menemukan sendiri konsep-konsep materi dalam
pembelajaran dengan jalan berfikir (Think), berpasangan (Pair), dan
mengemukakan pendapat (Share).

Pada pembelajaran kooperatif tipe TPS ini, siswa belajar dengan berpasangan
sehingga siswa memiliki kesempatan untuk bertukar pikiran dengan teman
sebaya (pasangannya). Dengan berfikir berpasangan maka siswa akan
terdorong untuk menemukan dan memahami konsep apabila mereka dapat

5

saling mendiskusikan masalah-masalah tersebut dengan pasangannya.

Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti menunjukkan
bahwa pembelajaran kooperatif memiliki dampak positif pada peningkatan
hasil belajar siswa. Hasil penelitian Pramudiyanti (2006 : 430)
menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar sebelum dan
sesudah menggunakan model TPS, yaitu meningkat sebesar 83,78%. Sejalan
dengan itu, Yulfisa (2007 : 35) menyimpulkan bahwa TPS mampu
meningkatkan presentase nilai rata-rata penguasaan konsep siswa dari siklus
1 ke siklus 2 sebesar 13,7% dan siklus 2 ke 3 sebesar 4,4

Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti memandang perlu diadakan
penelitian mengenai pengaruh penggunaan bahan ajar leaflet dengan model
pembelajaran cooperative tipe TPS terhadap hasil belajar siswa pada materi
pokok sistem gerak manusia kelas XI SMA Negeri 1 Bukit Kemuning T.P.
2012/2013.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimanakah pengaruh penggunaan bahan ajar leaflet dengan model
pembelajaran TPS terhadap aktivitas belajar siswa kelas XI SMA Negeri
1 Bukit Kemuning pada materi pokok Sistem Gerak Manusia?
2. Bagaimanakah pengaruh penggunaan bahan ajar leaflet dengan model
pembelajaran TPS terhadap hasil belajar siswa kelas XI SMA Negeri 1
Bukit Kemuning pada materi pokok Sistem Gerak Manusia?

6

C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui pengaruh penggunaan bahan ajar leaflet dengan model
pembelajaran TPS terhadap aktivitas belajar siswa kelas XI SMA Negeri
1 Bukit Kemuning pada materi pokok Sistem Gerak Manusia.
2. Mengetahui pengaruh penggunaan bahan ajar leaflet dengan model
pembelajaran TPS terhadap hasil belajar siswa kelas XI SMA Negeri 1
Bukit Kemuning pada materi pokok Sistem Gerak Manusia.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah :
1. Bagi peneliti, penelitian ini dapat menjadi suatu pengalaman belajar yang
menjadi bekal untuk menjadi calon guru yang profesional.
2. Bagi guru, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam
pengembangan pembelajaran biologi dengan suatu strategi yang tepat dan
sesuai untuk mengoptimalkan hasil belajar siswa.
3. Bagi siswa dapat mengoptimalkan penguasaan materi Biologi yang dapat
dilihat dari hasil belajar ranah kognitifnya.

7

E. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian yaitu :
1. Penelitian ini akan dilakukan pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bukit
Kemuning.
2. Aktivitas belajar adalah serangkaian belajar yang dilakukan oleh siswa
yang memiliki potensi dalam diri siswa itu sendiri. Menurut sardiman
(2003:98), aktivitas adalah kegiatan yang dilakukan oleh manusia karena
manusia memiliki jiwa sebagai sesuatu yang dinamis memiliki potensi dan
energi sendiri.
3. Prestasi belajar yang diamati dalam penelitian ini adalah hasil belajar
aspek kognitif siswa yang berupa nilai tes awal dan tes akhir pada materi
pokok Sistem Gerak.
4. Materi pembelajaran penelitian ini adalah sistem gerak manusia dengan
penyampaian materi yang dilakukan dengan menggunakan bahan ajar
leaflet. Leaflet adalah bahan cetak tertulis berupa lembaran yang dilipat
tapi tidak dimatikan/dijahit. Agar terlihat menarik biasanya leaflet
didesain secara cermat dilengkapi dengan ilustrasi dan menggunakan
bahasa yang sederhana, singkat serta mudah dipahami. Leaflet sebagai
bahan ajar juga harus memuat materi yang dapat menggiring siswa untuk
menguasai satu atau lebih KD (Setyono, 2005:19).
5. Penggunaan bahan ajar ini dikombinasikan dengan model pembelajaran
kooperatif tipe TPS. Arends (dalam Trianto, 2009:81) menyatakan bahwa
think-pair-share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi
suasana pola diskusi kelas. TPS adalah salah satu tipe model pembelajaran

8

kooperatif yang pada pelaksanaannya mengutamakan siswa dalam berbuat
untuk menemukan sendiri konsep-konsep materi dalam pembelajaran
dengan jalan berfikir (Think), berpasangan (Pair), dan mengemukakan
pendapat (Share).
6. Penelitian ini dibatasi hanya pada satu kompetensi dasar yaitu KD 3.1
Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan
yang dapat terjadi pada sistem gerak manusia.

F. Kerangka Pikir

Berhasil atau tidaknya suatu proses pembelajaran didukung oleh beberapa
faktor antara lain media, metode dan pendekatan yang dilakukan oleh guru
selama proses pembelajaran. Guru bukan hanya berperan sebagai satusatunya sumber ilmu bagi siswa melainkan sebagai fasilitator yang
memfasilitasi siswa dalam mendapatkan ilmu pengetahuan. Peran guru
sebagai fasilitator sangat diperlukan, bagaimana upaya menciptakan
lingkungan belajar yang mampu mendorong siswa untuk senang dan bergairah
belajar. Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh guru adalah dengan
memvariasikan bahan ajar sebagai sumber belajar yang dapat menarik
perhatian siswa untuk membacanya.

Penggunaan leaflet sebagai bahan ajar diharapkan dapat membantu siswa
dalam memahami materi pelajaran. Leaflet ini disusun dari beberapa sumber
belajar dan dengan bahasa sederhana yang mudah dimengerti siswa serta
disisipkan ilustrasi yang mendukung materi pelajaran sehingga mampu

9

menarik minat baca siswa. Selain itu, penggunaan leaflet ini diduga sesuai
apabila dikombinasikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe TPS
dengan langkah-langkah yaitu berpikir, berpasangan, dan berbagi. Kombinasi
keduanya tercermin pada fase kedua yaitu menyampaikan materi pelajaran
kepada siswa yang dapat dilakukan dengan cara mendemonstrasikan atau
lewat bahan bacaan. Bahan bacaan yang dimaksud adalah leaflet yang telah
disiapkan oleh guru. Saling berdiskusi dengan teman kelompoknya juga akan
menambah pengetahuan siswa karena dalam proses diskusi tersebut terjadi
saling tukar pendapat dan gagasan yang muncul dari setiap siswa.

Pengalaman belajar ini diharapkan akan membuat siswa lebih termotivasi
untuk membangun pengetahuannya. Dan pada akhirnya bahan ajar leaflet ini
diharapkan dapat berdampak positif terhadap hasil belajar kognitif dan
aktivitas belajar siswa. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pengaruh
penggunaan bahan ajar leaflet. Sedangkan variabel terikat dalam penelitian ini
adalah hasil belajar dan aktivitas belajar siswa.
Y1
X
Y2
Keterangan: X : Penggunaan bahan ajar leaflet; Y1 : Aktivitas belajar siswa,
Y2 : Hasil belajar kognitif siswa
Gambar 1. Model teoritis hubungan antara variabel bebas dan terikat

10

G. Hipotesis penelitian

Hipotesis dalam penelitian ini adalah :
1. Ada pengaruh penggunaan bahan ajar leaflet dengan model pembelajaran
TPS terhadap aktivitas belajar siswa pada materi pokok Sistem Gerak
Manusia.
2. H0 : Tidak ada pengaruh signifikan penggunaan bahan ajar leaflet dengan
model pembelajaran TPS terhadap hasil belajar siswa pada materi
pokok Sistem Gerak Manusia.
H1 : Ada pengaruh signifikan penggunaan bahan ajar leaflet dengan
model pembelajaran TPS terhadap hasil belajar siswa pada
materipokok Sistem Gerak Manusia.

11

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Bahan Ajar

Bahan pelajaran adalah segala bentuk bahan yang dipergunakan untuk
membantu guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran berupa bahan
tertulis atau tidak tertulis. Bahan ajar atau teaching material terdiri dari
mengajar dan bahan. Jadi bahan ajar adalah bahan untuk mengajar ( Darkuni,
2010: 6 ). Tanpa bahan pelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan.
Karena itu, guru yang akan mengajar pasti memiliki dan menguasai bahan
pelajaran yang akan disampaikannya pada siswa (Djamarah dan Zain dan
Zain, 2006:43). Hal senada juga diungkapkan oleh Setyono (2005:10) bahwa
bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu
guru/instructor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Bahan yang
dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. Sudirman
(dalam Djamarah dan Zain, 2006: 43) juga mengungkapkan bahwa bahan
adalah salah satu sumber belajar bagi siswa. Bahan yang disebut sebagai
sumber belajar (pengajaran) ini adalah sesuatu yang membawa pesan untuk
tujuan pengajaran. Sedangkan menurut Rusman (2010: 17) subject content
adalah materi atau isi pokok bahasan, bersifat spesifik dan erat hubungannya
dengan tujuan (learning objectives) yang telah diterapkan. Jadi, bila kepada

12

siswa diajarkan fakta dan konsep, tentu tidak hanya berhenti sampai prinsip,
tetapi harus diadakan pula penerapan prinsip tersebut.

Bahan pelajaran merupakan bahan minimal yang harus dikuasai oleh siswa
untuk dapat mencapai kompetensi dasar yang telah dirumuskan. Oleh sebab
itu, bahan pelajaran terlebih dahulu harus dapat menarik perhatian siswa
untuk membacanya. Seperti yang diungkapkan oleh Arikunto (dalam
Djamarah dan Zain 2006:44) bahwa minat siswa akan bangkit bila suatu
bahan diajarkan sesuai dengan kebutuhan siswa. Maslow berkeyakinan
bahwa minat seseorang akan muncul bila sesuatu itu terkait dengan
kebutuhannya. Jadi, bahan pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa
akan memotivasi siswa dalam jangka waktu tertentu.

Menurut Darkuni (2010:7) bahwa bahan ajar adalah seperangkat materi yang
disusun secara sistematis sehingga tercipta lingkungan/suasana yang
memungkinkan siswa untuk belajar. Oleh karena itu bahan ajar paling tidak
mencakup antara lain:
1. Petunjuk belajar (bagi guru dan siswa); dengan demikian maka dalam
pembelajaran akanada acuan yang digunakan untuk mencapai kompetensi
dasar,
2. Kompetensi yang akan dicapai, ditentukan dalam kurikulum
3. Isi materi, yang sesuai dan selaras dengan kurikulum dan kompetensi
yangakan dasar dicapai
4. Informasi pendukung pembelajaran; misalnya petunjuk, acuan atau
wawasan yangrelevan dengan materi pembelajaran yang akan diajarkan

13

5. Latihan-latihan; yang berfungsi untuk melatih pemahaman dan penguasaan
konsep-konsep yang harus dikuasai dan sesuai dengan KD
6. Petunjuk Kerja (misalnya LKS); yang akan menentukan pencapaian
kompetensi
7. Evaluasi; yang digunakan sebagai acuan untuk menilai pencapaian
kompetensi oleh siswa, selain itu digunakan juga untuk menilai pencapaian
tujuan pembelajaran
8. Respon atau balikan terhadap evaluasi, agar didapat masukkan atau
informasi berbagai kelemahan (juga kelebihan) yang memerlukan
perbaikan atau peningkatan.
Oleh sebab itu, bahan pelajaran terlebih dahulu harus dapat menarik perhatian
siswa untuk membacanya.

Selanjutnya fungsi Bahan Ajar antara lain:
1. Pedoman bagi Guru yang akan mengarahkan semua aktivitas dalam proses
pembelajaran, merupakan substansi kompetensi yang seharusnya diajarkan
2. Pedoman bagi Siswa yang akan mengarahkan semua aktivitas dalam
proses pembelajaran, merupakan substansi kompetensi yang seharusnya
dipelajari/dikuasainya.
3. Alat evaluasi pencapaian/penguasaan hasil pembelajaran.

Kemudian tujuan penyusunan bahan ajar adalah:
1. Menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan
mempertimbangkan kebutuhan siswa, yakni bahan ajar yang sesuai dengan
karakteristik dan setting atau lingkungan sosial siswa.

14

2. Membantu siswa dalam memperoleh alternatif bahan ajar di samping
buku-buku teks yang terkadang sulit diperoleh.
3. Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran.

Manfaat penyusunan bahan ajar
1. Diperoleh bahan ajar yang sesuai tuntutan kurikulum dan sesuai dengan
kebutuhan belajar siswa
2. Tidak lagi tergantung kepada buku teks (sulit untuk diperoleh)
3. Bahan ajar menjadi labih kaya karena dikembangkan dengan
menggunakan berbagai referensi,
4. Menambah khasanah pengetahuan dan pengalaman guru dalam menulis
bahan ajar
5. Bahan ajar akan mampu membangun komunikasi pembelajaran yang
efektif antara guru dengan siswa karena siswa akan merasa lebih percaya
kepada gurunya.

Prinsip penyusunan bahan ajar
1. Mudah untuk memahami yang sulit, dari yang kongkret ke abstrak
2. Pengulangan akan memperkuat pemahaman
3. Umpan balik memberikan penguatan
4. Memotivasi belajar siswa
5. Setahap demi setahap
6. Mengetahui hasil yang telah dicapai akan mendorong siswa untuk terus
mencapai tujuan

15

Lebih lanjut Djamarah dan Zain berpendapat bahwa biasanya aktivitas siswa
akan berkurang bila bahan pelajaran yang guru berikan tidak atau kurang
menarik perhatiannya, disebabkan cara mengajar yang mengabaikan prinsipprinsip mengajar, seperti apersepsi dan korelasi, dan lain-lain. Karena itu,
lebih baik menyampaikan bahan sesuai dengan perkembangan bahasa siswa
daripada menuruti kehendak pribadi. Ini perlu mendapat perhatian yang
serius, agar siswa tidak dirugikan oleh sikap dan tindakan guru yang keliru.
Dengan demikian, bahan pelajaran merupakan komponen yang tidak bisa
diabaikan dalam pengajaran, sebab bahan adalah inti dalam proses belajar
mengajar yang akan disampaikan kepada siswa.

Natalegawa (2010: 24) mengungkapkan bahwa berdasarkan teknologi yang
digunakan, bahan ajar dapat dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu
bahan cetak (printed) seperti antara lain handout, buku, modul, lembar kerja
siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto/gambar, model/maket. Bahan ajar
dengar (audio) seperti kaset, radio, piringan hitam, dan compact disk audio.
Bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti video compact disk, film.
Bahan ajar multimedia interaktif (interactive teaching material) seperti CAI
(Computer Assisted Instruction), compact disk (CD) multimedia pembelajarn
interaktif, dan bahan ajar berbasis web (web based learning materials)

Sebuah bahan ajar cetak paling tidak mencakup antara lain: Judul, Petunjuk
belajar (Petunjuk siswa/guru), Kompetensi yang akan dicapai, Informasi
pendukung, Latihan-latihan, Petunjuk kerja dapat berupa Lembar Kerja (LK)
dan Evaluasi. Tetapi dalam penyusunan bahan ajar terdapat perbedaan dalam

16

strukturnya antara bahan ajar yang satu dengan bahan ajar yang lain. Guna
mengetahui perbedaan-perbedaan yang dimaksud dapat dilihat pada matriks
berikut ini:
Tabel 1. Struktur bahan ajar
N
o.
1.
2.
3.
4.

Komponen

Ht

Bu

Ml

LKS

Bro

Lf

Wch

F/G
b

**
**

Mo/
M

**
**

Judul





 
Petunjuk belajar


KD/MP




 **
Informasi



 **

pendukung
5. Latihan


6. Tugas/ Langkah


**
**
kerja
7. Penilaian




 **
**
**
Ket: Ht: handout, Bu: Buku, Ml: Modul, LKS: Lembar Kegiatan Siswa, Bro: Brosur, Lf:
Leaflet, Wch: Wallchart, F/Gb: Foto/Gambar, Mo/M: Model/Maket (Setyono, 2005:27-28)

Bahan ajar cetak yang tersusun secara baik maka akan mendatangkan
beberapa keuntungan seperti yang dikemukakan oleh Ballstaedt (dalam
Setyono, 2005:16) yaitu:
1. Bahan tertulis biasanya menampilkan daftar isi, sehingga memudahkan
bagi seorang guru untuk menunjukkan kepada siswa bagian mana
yang sedang dipelajari.
2. Biaya untuk pengadaannya relatif sedikit
3. Bahan tertulis cepat digunakan dan dapat dipindah-pindah secara mudah
4. Susunannya menawarkan kemudahan secara luas dan kreativitas bagi
individu
5. Bahan tertulis relatif ringan dan dapat dibaca di mana saja
6. Bahan ajar yang baik akan dapat memotivasi pembaca untuk melakukan

17

aktivitas, seperti menandai, mencatat, membuat sketsa
7. Bahan tertulis dapat dinikmati sebagai sebuah dokumen yang bernilai besar
8. Pembaca dapat mengatur tempo secara mandiri.

B. Leaflet
“Leaflet adalah bahan cetak tertulis berupa lembaran yang dilipat tapi tidak
dimatikan/dijahit. Agar terlihat menarik biasanya leaflet didesain secara
cermat dilengkapi dengan ilustrasi dan menggunakan bahasa yang sederhana,
singkat serta mudah dipahami. Leaflet sebagai bahan ajar juga harus memuat
materi yang dapat menggiring peserta didik untuk menguasai satu atau lebih
KD” (Anonim, 2011:1).

Leaflet sebagai bahan ajar harus disusun secara sistematis, bahasa yang
mudah dimengerti dan menarik. Semua itu bertujuan untuk menarik minat
baca dan meningkakan motivasi belajar siswa. Sehingga Dalam
penyusunannya leaflet sebagai bahan ajar perlu mempertimbangkan hal-hal
antara lain sebagai berikut:
1. Substansi materi memiliki relevansi dengan kompetensi dasar atau materi
pokok yang harus dikuasai oleh siswa.
2. Materi memberikan informasi secara jelas dan lengkap tentang hal-hal
yang penting sebagai informasi.
3. Padat pengetahuan.
4. Kebenaran materi dapat dipertanggungjawabkan
5. Kalimat yang disajikan singkat, jelas.
6. Menarik siswa untuk membacanya baik penampilan maupun isi
materinya.
7. Dapat diambil dari berbagai museum, obyek wisata, instansi pemerintah,

18

swasta, atau hasil download dari internet.

Dalam menyusun sebuah Leaflet sebagai bahan ajar, leaflet paling tidak
memuat antara lain:


Judul diturunkan dari kompetensi dasar atau materi pokok sesuai dengan
besar kecilnya materi.



Kompetensi dasar/materi pokok yang akan dicapai, diturunkan dari
Kurikulum 2004.



Informasi pendukung dijelaskan secara jelas, padat, menarik,
memperhatikan penyajian kalimat yang disesuaikan dengan usia dan
pengalaman pembacanya. Untuk siswa SMA upayakan untuk membuat
kalimat yang tidak terlalu panjang, maksimal 25 kata perkalimat dan
dalam satu paragraf 3 – 7 kalimat.



Tugas-tugas dapat berupa tugas membaca buku tertentu yang terkait
dengan materi belajar dan membuat resumenya. Tugas dapat diberikan
secara individu atau kelompok dan ditulis dalam kertas lain.



Penilaian dapat dilakukan terhadap hasil karya dari tugas yang diberikan.



Gunakan berbagai sumber belajar yang dapat memperkaya materi
misalnya buku, majalah, internet, jurnal hasil penelitian (Setyono,
2005:38-39).

C. Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif (Cooperative lerning) merupakan pendekatan
pembelajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama

19

dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar
(Holubec dalam Nurhadi, 2004:60). Kerja sama dari masing-masing anggota
kelompok ini nantinya akan menimbulkan manfaat timbal balik yang
sedemikian rupa sehingga semua anggota kelompok memperoleh prestasi,
kegagalan maupun keberhasilan yang ditanggung bersama.

Anita Lie (dalam Isjoni, 2007: 16) menyebut cooperative learning dengan
istilah pembelajaran gotong-royong, yaitu sistem pembelajaran yang memberi
kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan siswa lain dalam tugastugas yang terstruktur. Lebih jauh dikatakan, cooperative learning hanya
berjalan kalau sudah terbentuk suatu kelompok atau suatu tim yang di
dalamnya siswa bekerja secara terarah untuk mencapai tujuan yang sudah
ditentukan dengan jumlah anggota kelompok pada umumnya terdiri dari 4-6
orang. Sedangkan menurut Djajadisastra (dalam Isjoni, 2007: 19)
mengemukakan bahwa metode belajar kelompok atau lazim disebut metode
gotong-royong, merupakan suatu metode mengajar dimana murid-murid
disusun dalam kelompok-kelompok pada waktu menerima pelajaran atau
mengerjakan soal-soal dan tugas-tugas.

Dalam proses pembelajaran, dikatakan menggunakan pembelajaran
kooperatif apabila memiliki ciri-ciri seperti yang disebutkan Isjoni (2007: 20)
yaitu: Setiap anggota memiliki peran, terjadi hubungan interaksi langsung di
antara siswa, setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan
juga teman-teman sekelompoknya, guru membantu mengembangkan
keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok, guru hanya berinteraksi

20

dengan kelompok saat diperlukan. Sedangkan Nurulhayati (dalam Rusman,
2010: 205) mengemukakan ada lima unsur dasar yang membedakan
pembelajaran kooperatif dengan kerja kelompok, yaitu: ketergantungan yang
positif, pertanggungjawaban individual, kemampuan bersosialisasi, tatap
muka, dan evaluasi proses kelompok. Ibrahim dalam Isjoni (2007: 27) juga
mengungkapkan pada dasarnya model pembelajaran kooperatif
dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran
penting, yaitu:
a. Hasil belajar akademik
Dalam belajar kooperatif meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga
memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya.
Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu
siswa memahami konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini telah
menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat
meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma
yang berhubungan dengan hasil belajar pembelajaran kooperatif dapat
memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok
atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.
b. Penerimaan terhadap perbedaan individu
Tujuan lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas
dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial,
kemampuan, dan ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi
peluang bagi siswa dari bebagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja

21

dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur
penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain.
c. Pengembangan keterampilan sosial
Tujuan penting ketiga pembelajaran koperatif adalah mengajarkan kepada
siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilanketerampilan sosial, penting dimiliki oleh siswa sebab saat ini banyak anak
muda masih kurang dalam keterampilan sosial.

Pembelajaran kooperatif memberikan peluang kepada siswa yang memiliki
latar belakang dan kondisi yang berbeda untuk saling bergantung satu sama
lain atas tugas-tugas bersama sehingga mereka belajar untuk mengahargai
rekan-rekan kelompoknya. Ahmadi (2005 : 63) menuliskankan bahwa :
“Keunggulan kooperatif adalah: (1) Melatih keterampilan intelektual, (2)
Siswa terlibat secara langsung, (3) Saling tukar menukar informasi, (4)
Melatih komunikasi dan keterampilan kerjasama. Kelemahan metode
kooperatif (1) Latar belakang pengetahuan kematangan harus sama, (2)
Menyita waktu lama, (3) Tergantung dengan kesiapan guru dalam
menyiapkan diskusi, (4) Menuntut kesanggupan guru untuk mengontrol
secara teliti keterlibatan siswa.”

Ibrahim (dalam Trianto 2007 : 49) menyatakan bahwa pembelajaran
kooperatif dilakukan melalui enam langkah/fase, seperti yang terlihat dalam
tabel 2.
Tabel 2. Enam fase model pembelajaran kooperatif
Langkah/Fase
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan
memotivasi siswa
Fase 2
Menyajikan informasi

Kegiatan Guru
Guru menyampaikan semua tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai pada
pembelajaran tersebut dan memotivasi
siswa belajar
Guru menyajikan informasi kepada siswa
lewat bahan bacaan

22

Fase 3
Mengorganisasikan siswa
dalam kelompokkelompok kooperatif

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana
cara membentuk kelompok belajar dan
membantu setiap kelompok belajar agar
melakukan transisi secara efisien

Fase 4
Membimbing kelompok
bekerja dan belajar

Guru membimbing kelompok-kelompok
belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
mereka

Fase 5
Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang
materi yang telah dipelajari / masingmasing kelompok mempresentasikan hasil
kerjanya
Guru mencari cara-cara untuk menghargai
baik upaya maupun hasil belajar individu
dan kelompok

Fase 6
Memberikan penghargaan

D. Think-Pair-Share (TPS)

Pembelajaran kooperatif memiliki berbagai tipe, salah satunya adalah tipe
Think-Pair-Share (TPS) atau berfikir, berpasangan, dan berbagi yang
dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. TPS adalah suatu
struktur yang dikembangkan pertama kali oleh Lyman di Universitas
Meryland pada tahun 1981 dan diadopsi oleh banyak penulis sebagai bagian
dari pembelajaran kooperatif. Sesuai dengan yang dikutip oleh Arends
(1997), menyatakan bahwa TPS merupakan suatu cara yang efektif untuk
membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Dengan asumsi bahwa semua
resitasi atau diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas
secara keseluruhan, dan prosedur yang digunakan dalam TPS dapat memberi
siswa lebih banyak waktu berfikir, untuk merespon dan saling membantu
(Trianto, 2009:82).

23

Ada empat prinsip kerja dari TPS yang sesuai dengan pembelajaran
kooperatif. Empat prinsip kerja itu adalah sebagai berikut :
1.

Saling ketergantungan positif diantara siswa sehingga siswa mampu
belajar dari siswa lain.

2.

Tanggung jawab individual
Setiap siswa bertanggung jawab pada gagasan karena akan dipaparkan
pada pasangannya dan pada seluruh kelas.

3.

Partisipasi yang seimbang
Setiap siswa akan mempunyai kesempatan yang sama untuk berbagi
(mengemukakan pendapat) dengan pasangan dan pada seluruh kelas.

4.

Interaksi bersama
Semua siswa akan aktif dalam mengemukakan pendapat dan
mendengarkan sehingga menciptakan interaksi tingkat tinggi. Hal ini
akan menciptakan pembelajaran yang aktif jika dibandingkan dengan
cara Tanya jawab yang sudah biasa dilakukan oleh guru, dimana hanya
satu atau dua siwa saja yang aktif (Anonim b, 2010:1).

Prosedur pembelajaran yang digunakan dalam TPS ini dapat memberikan
lebih banyak waktu kepada siswa untuk berfikir, untuk merespon dan saling
membantu satu sama lain. TPS memiliki keunggulan dibanding dengan
metode tanya jawab, karena TPS mengedepankan aspek berfikir secara
mandiri, tanggung jawab terhadap kelompok, kerjasama dengan kelompok
kecil, dan dapat menghidupkan suasana kelas (Nurhadi dan Senduk,
2004:67).

24

Tahapan-tahapan dalam TPS dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Thinking (berfikir)
Guru mengajukan pertanyaan/permasalahan yang berkaitan dengan materi
yang baru dipelajari, kemudian memberi kesempatan kepada seluruh siswa
untuk memikirkan jawabannya secara mandiri dalam 1 menit;
2. Pairing (berpasangan)
Jawaban yang telah difikirkan secara mandiri, kemudian disampaikan
kepada pasangannya masing-masing (teman sebangkunya). Pada tahap
ini, siswa dapat menuangkan idenya, menambahkan gagasan, dan berbagi
jawaban dengan pasangan. Tahap ini berlangsung dalam 4 menit;
3. Sharing (berbagi)
Guru membimbing kelompok untuk menyampaikan hasil diskusi secara
bergantian. Sampai sekitar seperempat kelompok menyampaikan
pendapat. Pada tahap ini seluruh kelompok dapat mendengarkan pendapat
yang akan disampaikan oleh perwakilan tiap kelompok. Kelompok yang
menyampaikan pendapatnya harus bertanggung jawab atas jawaban dan
pendapat yang disampaikan. Pada akhir diskusi guru memberi tambahan
materi yang belum terungkapkan oleh kelompok diskusi (Nurhadi dan
Senduk, 2004:67).

TPS dapat mengoptimalisasikan partisipasi siswa. Siswa diberi kesempatan
untuk bekerja sendiri serta bekerjasama dengan orang lain. Waktu berfikir
akan memungkinkan siswa untuk mengembangkan jawaban. Siswa akan
dapat memberikan jawaban yang lebih panjang dan lebih berkaitan. Jawaban
yang dikemukakan juga telah difikirkan dan didiskusikan. Siswa akan lebih

25

berani mengambil resiko dan mengemukakan jawabannya di depan kelas dan
karena mereka telah “mencoba” dengan pasangannya. Proses pelaksanaan
TPS akan membatasi munculnya aktivitas siswa yang tidak relevan dengan
pembelajaran karena siswa harus mengemukakan pendapatnya, minimal pada
pasangannya (Lyman, 2002:3).

Menurut Trianto (2007:61), pembatasan waktu merupakan salah satu hal
yang dapat memotivasi siswa untuk dapat menyelesaikan tugas belajarnya.
Pembelajaran kooperatif tipe TPS juga dapat mengatur dan mengendalikan
kelas secara keseluruhan, serta memungkinkan siswa untuk mempunyai lebih
banyak waktu berfikir, untuk merespon dan saling membantu. Selain itu
dengan pembelajaran kooperatif tipe TPS, siswa dapat mempertimbangkan
apa yang telah dijelaskan dan dialaminya selama pembelajaran.

TPS pada akhirnya akan mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir
secara terstruktur dalam diskusi dan memberikan kesempatan bagi siswa
untuk bekerja sendiri maupun bekerjasama dengan rekannya melalui
keterampilan berkomunikasi.

E. Aktifitas Belajar

Aktivitas belajar adalah serangkaian belajar yang dilakukan oleh siswa yang
memiliki potensi dalam diri siswa itu sendiri. Menurut sardiman (2003:98),
aktivitas adalah kegiatan yang dilakukan oleh manusia karena manusia
memiliki jiwa sebagai sesuatu yang dinamis memiliki potensi dan energi
sendiri. Sedangkan Winkel (1983:48) mengemukakan bahwa “aktivitas

26

belajar adalah segala kegiatan belajar siswa yang menghasilkan suatu
perubahan khas yaitu hasil belajar yang akan nampak pada prestasi belajar
yang akan dicapai”.
Aktivitas belajar merupakan suatu kegiatan yang di dahului dengan
perencanaan dan didasari untuk mencapai tujuan belajar, yaitu perubahan
pengetahuan dan keterampilan yang ada pada diri siswa yang melakukan
kegiatan belajar.

Berikut ini adalah daftar macam-macam kegiatan siswa menurut Diendrich
(Sardiman, 2003:101) dan Whipple (Hamalik, 2002:173) sebagai berikut:
1. Visual activities yang termasuk didalamnya misal, membaca, melihat
gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, dan
mengamati orang lain bekerja atau bermain.
2. Oral Activities seperti, mengemukakan suatu fakta atau prinsip,
menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran,
mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi, dan interupsi.
3. Listening Activities meliputi, mendengarkan penyajian bahan,
mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu
permainan, mendengarkan radio.
4. Writing Activities meliputi, menulis cerita, menulis laporan, memeriksa
karangan, bahan-bahan kopi, membuat rangkuaman, mengerjakan tes dan
mengisi angket.

27

5. Mental Activities misalnya, merenungkan, mengingat, memecahkan
masalah, menganalisis factor-faktor, melihat hubungan-hubungan, dan
membuat keputusan.
6. Emosional Activities seperti, menaruh minat, merasa bosan, gembira,
bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.

F. Hasil Belajar

Hasil belajar adalah sesuatu yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti
kegiatan pembelajaran, berdasarkan kriteria tertentu dalam pengukuran
pencapaian tujuan pembelajaran itu sendiri. Dimyati dan Mujiono ( 2002: 3)
berpendapat bahwa:
“Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak
mengajar. Dari sisi guru tindakan mengajar diakhiri dengan proses evaluasi
belajar, sedangkan dari sisi siswa hasil belajar merupakan puncak proses
belajar”.

Hasil belajar merupakan suatu puncak proses pembelajaran. Suatu proses
belajar mengajar dinyatakan berhasil jika memenuhi tujuan dari proses belajar
mengajar tersebut. Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan Djamarah
dan Zain (2006: 105) sebagai berikut:
1. “Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi
tinggi , baik secara individual maupun kelompok.
2. Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran yang telah dicapai, baik
secara individual maupun kelompok.”

Dengan berakhirnya suatu proses pembelajaran, maka siswa memperoleh
hasil belajar. Hasil belajar siswa merupakan suatu hal yang berkaitan dengan
kemampuan siswa dalam menyerap atau memahami suatu materi yang

28

disampaikan. Dengan kata lain, hasil belajar merupakan bukti adanya proses
belajar- mengajar antara guru dan siswa.

Hasil belajar dapat diketahui dengan adanya evaluasi hasil belajar. Seperti
yang diungkapkan oleh Devies (dalam Dimyati dan Mudjiono,2009:1)
evaluasi hasil belajar adalah sebagai kegiatan yang berupaya untuk
mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan yang
ditetapkan. Evaluasi hasil belajar memiliki sasaran berupa ranah-ranah yang
terkandung dalam tujuan. Ranah tujuan pendidikan berdasarkan hasil belajar
siswa secara umum dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yakni: ranah kognitif,
ranah afektif, dan ranah psikomotorik.

Aspek kognitif terdiri dari enam jenis perilaku yaitu sebagai berikut:
1. Remember, mencakup ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan
tersimpan dalam ingatan.
2. Understand, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna hal yang
dipelajari.
3. Apply, mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk
menghadapi masalah yang nyata dan baru.
4. Analyze, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagianbagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik.
5. Evaluate, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa
hal berdasarkan kriteria tertentu.

29

6. Create, mencakup kemampuan menbentuk suatu pola baru. Yang
dirangkum dalam Taksonomi Bloom (dalam Dimyati dan Mudjiono,
2002: 23-28)

30

III. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan di SMA N 1 Bukit Kemuning pada semester
ganjil tahun pelajaran 2012/2013, waktu penelitian pada bulan November
2012.

B. Populasi dan Sampel

1. Populasi
Sebagai populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI pada semester
ganjil di SMA N 1 Bukit Kemuning tahun pelajaran 2012/2013.
2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah kelas XI IPA1 yang dipilih berdasarkan
asumsi bahwa kelas tersebut memiliki hasil belajar terendah untuk materi
pokok Sistem Gerak Manusia pada tahun sebelumnya dibandingkan 4 kelas
IPA yang tersedia.

C. Faktor yang Diteliti

Faktor yang diteliti dalam penelitian ini adalah aktivitas belajar siswa yang
meliputi observasi terhadap kegiatan siswa saat proses pembelajaran dan hasil

31

belajar siswa yang meliputi nilai rata-rata tes awal dan tes akhir. Cara
mengukurnya adalah dengan soal tes awal yang diberikan pada awal
pertemuan pertama dan tes akhir yang diberikan pada akhir pertemuan ketiga
dengan batasan satu kompetensi dasar.

D. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian Quasi Experimental. Desain penelitian
yang diterapkan dalam penelitian ini adalah one group pretest posttest design.
Hasil dari nilai pretest dan nilai postest yang diberikan kemudian akan
dibandingkan. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah penggunaan bahan
ajar leaflet. Sedangkan variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar
siswa.

T1

X

T2

Keterangan : T1 = Tes awal; T2 = Tes akhir;
X = Penggunaan bahan ajar leaflet (modifikasi dari
Suryabrata, 2004: 102)
Gambar 2. Desain one group pretest posttest.

E. Pelaksanaan Penelitian

1. Tahap Perencanaan
a.

Menetapkan waktu penelitian

b.

Menetapkan rancangan pembelajaran yang akan diterapkan

c.

Menentukan kelas yang akan dijadikan sampel penelitian

d. Menyusun silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

32

e.

Membuat bahan ajar leaflet sebagai sumber belajar siswa yang akan di
uji ahli.

f.

Membuat LKS yang akan dikerjakan oleh siswa

g. Membuat lembar observasi untuk mengukur aktivitas siswa
h. Membuat soal tes awal dan tes akhir yang akan di uji ahli.
i.

2.

Membuat angket kemenarikan bahan ajar leaflet.

Tahap Pelaksanaan
Penelitian ini direncanakan sebanyak tiga kali pertemuan dengan langkahlangkah pembelajaran sebagai berikut:
a. Pendahuluan
1) Guru memberikan tes awal pada pertemuan pertama
2) Guru membacakan indikator dan tujuan pembelajaran
3) Guru memberikan apersepsi kepada siswa.
Pertemuan I: “Bergerak merupakan salah satu ciri makhluk hidup.
Pada manusia, kemampuan bergerak disebabkan oleh

Dokumen yang terkait

PENGGUNAAN BAHAN AJAR LEAFLET DENGAN MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK SISTEM GERAK MANUSIA (Studi Quasi Eksperimen pada Siswa Kelas XI IPA1 SMA Negeri 1 Bukit Kemuning Semester Ganjil T

46 267 59

PENGGUNAAN BAHAN AJAR LEAFLET DENGAN MODELPEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE ( (TPS) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWAPADA MATERI POKOK SISTEM GERAK MANUSIA (Studi Quasi Eksperimen pada Siswa Kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Bukit Kemuning Semester Ganjil

0 4 61

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI POKOK SISTEM PEREDARAN DARAH (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas XI Semester Ganjil SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampu

3 9 54

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI POKOK SISTEM PEREDARAN DARAH (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas XI Semester Ganjil SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampu

0 5 54

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PENCEMARAN LINGKUNGAN (Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas X Semester Genap SMA Negeri 12 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2012/2013)

0 2 49

PENGARUH PENGGUNAAN BAHAN AJAR LEAFLET TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA (Studi Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas VIII SMP Muhammadiyah 1 Gadingrejo Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2013/2014)

2 27 61

PENGARUH BAHAN AJAR LEAFLET TERHADAP PENGUASAAN MATERI DAN AKTIVITAS SISWA PADA MATERI POKOK SISTEM PERNAPASAN MANUSIA (Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas VIII Semester Ganjil SMP Negeri 28 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2013/2014)

0 7 50

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK KLASIFIKASI BENDA

0 12 49

PENGARUH PENGGUNAAN BAHAN AJAR LEAFLET TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK SISTEM PEREDARAN DARAH MANUSIA (Kuasi Eksperimen Pada Siswa Kelas VIII Semester Ganjil SMP Negeri 22 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2013/2014)

0 34 144

PERBANDINGAN MODEL NUMBER HEAD TOGETHER (NHT) DENGAN MODEL THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK SISTEM PERTAHANAN TUBUH (Studi Eksperimental pada Siswa Kelas XI Semester Genap SMA Negeri 2 Gadingrejo Kabupate

4 18 62

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

85 2205 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 567 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

30 488 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

12 318 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 437 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 700 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 613 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

11 390 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 573 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

27 698 23